i
ii Dasar-Dasar Perilaku Kelompok Perilaku Organisasi Kelompok 7
iii
iv Dasar-Dasar Perilaku Kelompok KATA PENGANTAR Puji Syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala berkah dan rahmat nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan buku dengan judul “Dasar-Dasar Perilaku Kelompok”. Buku ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai “Dasar-Dasar Perilaku Kelompok” bagi mahasiswa. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan buku ini masih terdapat kekurangan, penulis berharap buku ini dapat bermanfaat sebagai pengembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi para pembaca. Samarinda, 19 September 2023 Penyusun
v Dasar-Dasar Perilaku Kelompok DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.......................................................... iv DAFTAR ISI ......................................................................... v BAB 1..................................................................................... 2 DEFINISI DAN ..................................................................... 2 KARAKTERISTIK KELOMPOK ...................................... 2 A. Definisi Kelompok ....................................................... 2 B. Ciri-ciri Kelompok ....................................................... 3 C. Karakteristik Kelompok ............................................... 4 BAB 2..................................................................................... 8 PEMBENTUKAN KELOMPOK......................................... 8 A. Bentuk Kelompok ........................................................ 8 B. Jenis Kelompok............................................................ 9 BAB 3................................................................................... 14 PERAN DALAM KELOMPOK......................................... 14 A. Definisi Peran Kelompok ........................................... 14 B. Komponen Peran Kelompok....................................... 15 BAB 4................................................................................... 20 NORMA KELOMPOK ...................................................... 20
vi A. Definisi Norma Kelompok.......................................... 20 B. Penjelasan Mengenai Norma Kelompok ..................... 21 BAB 5................................................................................... 26 STATUS DAN PERINGKAT............................................. 26 A. Penjelasan Dan Karakteristik Status............................ 26 B. Komponen Status ....................................................... 27 BAB 6................................................................................... 32 KOHESIVITAS KELOMPOK .......................................... 32 A. Pengertian Kohesivitas Kelompok .............................. 32 B. Aspek-Aspek Kohesivitas Kelompok.......................... 35 C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kohesivitas Kelompok.......................................................................... 37 D. Ciri-Ciri Kohesivitas Kelompok ................................. 39 E. Dimensi Kohesivitas Kelompok ................................. 41 F. Cara Meningkatkan Kohesivitas Kelompok ................ 42 BAB 7................................................................................... 44 DINAMIKA KONFLIK...................................................... 44 A. Definisi Konflik ......................................................... 44 B. Penyebab Timbulnya Konflik ..................................... 45 C. Tahapan Dinamika Konflik ........................................ 46 D. Dampak Konflik di Dalam Organisasi ........................ 48 E. Mengatasi Konflik...................................................... 51 BAB 8................................................................................... 56
vii KEPEMIMPINAN DALAM KELOMPOK ...................... 56 A. Penjelasan Mengenai Kepemimpinan ......................... 56 B. Teori-Teori Kepemimpinan ........................................ 57 C. Tugas-Tugas Pemimpin Kelompok............................. 58 D. Gaya-Gaya Kepemimpinan Kelompok ....................... 58 E. Fungsi Pemimpin Kelompok ...................................... 59 BAB 9................................................................................... 62 PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELOMPOK ............... 62 A. Penjelasan Mengenai Pengambilan Keputusan............ 62 B. Pendekatan Pengambilan Keputusan........................... 64 C. Tahapan Pengambilan Keputusan Kelompok .............. 67 BAB 10................................................................................. 72 EFEK SOSIAL.................................................................... 72 DAFTAR PUSTAKA.......................................................... 75
1 Definisi Dan Karakteristik Kelompok BAB 1 DEFINISI DAN KARAKTERISTIK KELOMPOK
2 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok BAB 1 DEFINISI DAN KARAKTERISTIK KELOMPOK A. Definisi Kelompok elompok adalah dua orang atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama dan berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, saling mengenal, dan menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompok. Kelompok menurut (Nazsir, 2008) adalah dua orang atau lebih yang memelihara interaksi fisik dan psikologis secara konstan selama jangka waktu tertentu. Menurut (Zulkarnain, 2013), kelompok juga diartikan sebagai sekelompok individu yang mengejar tujuan yang sama, yang bertemu langsung atau tidak langsung dan melakukan proses interaksi satu sama lain sehingga membentuk kelompok tertentu. K
3 Definisi Dan Karakteristik Kelompok Beberapa komponen yang dapat dipelajari sebagai ciriciri kelompok antara lain: (1) Karakteristik kelompok dalam organisasi, (2) Perilaku dalam kelompok, (3) Perbedaan peran kelompok, dan (4) Pengambilan keputusan kelompok Berbeda dengan (Robbins, 2003) analisis karakteristik kelompok melalui komponen-komponen antara lain: (1) Landasan Perilaku Kelompok, (2) Pemahaman Kerja kelompok, (3) Komunikasi, (4) Metode dasar kepemimpinan, (5) Isu-isu kepemimpinan kontemporer, (6) Kekuasaan dan politik, dan (7) In- konflik kelompok dan negosiasi B. Ciri-ciri Kelompok Ciri-ciri kelompok sosial Kelompok sosial mempunyai beberapa
4 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok ciri yang membedakannya dengan kelompok lain, yaitu: Antar anggota terjadi interaksi, yaitu hubungan timbal balik yang berlangsung secara teratur dan terus menerus antar anggota kelompok. Adanya interdependensi yaitu ketergantungan antar anggota tim untuk mencapai suatu tujuan bersama. Terdapat persepsi yaitu pengakuan dan penghargaan terhadap keanggotaan dan identitas kelompok. Adanya kesamaan yaitu adanya persamaan atau kesepakatan mengenai nilai, norma, tujuan dan kepentingan kelompok. Adanya rasa memiliki, khususnya rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap kelompok. Adanya struktur, yaitu adanya suatu susunan atau organisasi yang mengatur peran, kedudukan, dan hubungan antar anggota kelompok. Adanya sistem dan proses yang berkembang, yaitu adanya mekanisme atau aturan yang mengatur aktivitas, komunikasi, dan dinamika kelompok. C. Karakteristik Kelompok (1). Struktur Dalam setiap kelompok, ada beberapa jenis struktur
5 Definisi Dan Karakteristik Kelompok organisasi dibedakan berdasarkan berbagai faktor seperti keahlian, dinamika, kekuasaan, dan status. Setiap anggota mengambil posisi dalam kelompok. Model hubungan item membentuk struktur pengelompokan. Anggota tim menilai setiap posisi berdasarkan prestise, status, dan minat mereka dalam kelompok. Dalam banyak hal, terdapat jenis negara tertentu yang berbeda menurut posisi dan struktur kelompok hierarki. Status dalam kelompok formal seringkali didasarkan pada posisi dalam organisasi formal, sedangkan dalam kelompok informal, status dapat didasarkan pada sesuatu yang berhubungan dengan kelompok tersebut. Anggota mengharapkan setiap pemegang jabatan menunjukkan perilaku tertentu. Seperangkat perilaku yang diharapkan terkait dengan suatu posisi dalam struktur yang sesuai dengan peran orang yang memegang posisi tersebut. (2). Hirarki Negara Bagian dan kedudukannya sangat mirip sehingga istilah-istilah tersebut sering digunakan secara bergantian. Pemberian status pada jabatan-jabatan khusus pada umumnya merupakan konsekuensi dari ciri-ciri tertentu yang
6 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok membedakan suatu jabatan dengan jabatan lainnya. Dalam beberapa kasus, seseorang memperoleh status karena faktorfaktor tertentu seperti senioritas, usia atau tugas. Misalnya, seorang teknisi tertentu mungkin dianggap lebih kompeten dan dihargai oleh sekelompok teknisi. Jadi, pemberian status mungkin tidak ada hubungannya dengan hierarki status formal. (3). Peran Setiap posisi dalam struktur kelompok dikaitkan dengan peran yang terdiri dari berbagai perilaku yang diharapkan dari orang yang memegang posisi tersebut. Direktur pelayanan keperawatan di rumah sakit bertanggung jawab menyelenggarakan dan mengendalikan pelayanan keperawatan. Direktur juga harus membantu mempersiapkan dan mengelola anggaran departemen. (4). Kohesi dan Kesuksesan Konsep kohesi penting untuk dipahami kelompok-kelompok dalam suatu organisasi. Derajat kekompakan dalam suatu kelompok dapat berdampak positif atau negatif, bergantung pada derajat keselarasan antara tujuan kelompok dan tujuan formal organisasi.
7 Pembentukan Kelompok BAB 2 PEMBENTUKAN KELOMPOK
8 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok BAB 2 PEMBENTUKAN KELOMPOK A. Bentuk Kelompok entuk kelompok menurut (Koendjaraningrat, 1990) dalam (Soekanto, 2009), kelompok adalah suatu komunitas kecil yang berinteraksi antar anggotanya dan secara tetap diatur oleh adat istiadat dan sistem norma tertentu, serta perasaan diri anggotanya. Kelompok-kelompok yang berukuran besar, satu sama lain selalu berinteraksi atau menjalin hubungan yang erat dan sering untuk mencapai tujuan bersama, dan hubungan diantara mereka bersifat seperti suatu struktur (Saleh, 2012). Adanya struktur kelompok menunjukkan bahwa hubungan-hubungan yang terjalin dalam kelompok diwarnai oleh peran, fungsi dan tugas masing-masing anggota kelompok, sehingga mempengaruhi aktivitas para anggota untuk mencapai tujuan kelompok. B
9 Pembentukan Kelompok B. Jenis Kelompok Jenis kelompok dapat diklasifikasikan menurut beberapa kriteria baik. Secara umum menurut Syarbaini (2004, p. 24), jenis kelompok dibedakan menjadi 5, sebagai berikut (1). Primary group dan Secondary group Kelompok primer adalah kelompok yang mempunyai hubungan lebih banyak secara mendalam antar individu sehingga dapat saling mengenal berdekatan karena sering terjadi interaksi langsung. Kelompok kedua adalah kelompok besar biasanya mencakup banyak anggota kelompok yang tidak mempunyai hubungan dekat karena hanya bersifat sementara karena didasari keuntungan bersama. (2). Gemeinschaft dan Gesellschaft Gemeinschaft merupakan kelompok yang gaya hidupnya berdasarkan ikatan batin bersifat alamiah dan abadi, sedangkan gesellschaft artinya kelompok dibentuk oleh hubungan eksternal yang terjadi seiring berjalannya waktu yang pendek.
10 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok (3). Formal group dan informal group Kelompok formal adalah kelompok yang dibentuk dengan sengaja dan mempunyai struktur organisasi serta tertulis larangan di dalamnya, jika aturan ini tidak dipatuhi maka akan dikenakan sanksi. Sedangkan kelompok informal adalah kelompok yang dibentuk demi eksistensi pertemuan secara rutin dan tanpa paksaan karena lebih bersifat kekeluargaan. (4). Membership dan reference group Keanggotaan adalah suatu kelompok yang terbentuk karena individu-individu memilih bergabunglah dengan grup secara sukarela dan terbukti secara fisik, sedangkan kelompok referensi adalah kelompok dengan aturan-aturan tersebut menjadi acuan bagi individu untuk membentuknya seolah-olah dia adalah bagian dari suatu kelompok. (5). In-group dan Out-group In-group adalah kelompok di mana individu secara sukarela merasa diikutsertakan dalam kelompok dan menjadi bagian darinya. Sedangkan out-group, yaitu individu yang menjadi
11 Pembentukan Kelompok anggota suatu kelompok tetapi bukan merasa menjadi bagian dari kelompok karena keterpaksaan. Dalam mempelajari perilaku individu dalam suatu kelompok, para ahli ilmu sosial, psikologi, dan komunikasi telah menemukan sejumlah ciri, pola, dan jenis hubungan yang dominan. Berikut beberapa bentuk dan jenis kelompok yang ada berdasarkan ciri-ciri yang menyertainya: 1. Berdasarkan Ukuran Kelompok 2. Berdasarkan Struktur 3. Berdasarkan Kemampuan Berubah 4. Berdasarkan Fungsi 5. Berdasarkan Hubungan 6. Berdasarkan Identitas Diri 7. Berdasarkan Keanggotaan Kelompok 8. Berdasarkan Pemecahan Masalah 9. Berdasarkan Model Interaksi
12 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok
13 Peran Dalam Kelompok BAB 3 PERAN DALAM KELOMPOK
14 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok BAB 3 PERAN DALAM KELOMPOK A. Definisi Peran Kelompok enurut Zulkarnain (2013:15), kelompok yang efektif mempunyai tiga fungsi peran utama, yaitu: bekerja menuju tujuan, mencapai tujuan, dan mengembangkan serta mengubah pencapaian tujuan. Demikian pula, Johnson dalam Zulkarnain menawarkan panduan dalam membangun tim yang efektif: (a). Tujuan kelompok harus jelas, dapat dicapai dan saling terkait sehingga menciptakan saling ketergantungan yang positif dan menimbulkan komitmen tingkat tinggi dari setiap anggota. (b). Komunikasi dua arah terjalin dengan baik (c). Manajemen dan partisipasi didistribusikan secara merata di antara anggota dan kelompok (d). Metode yang menentukan waktu dan sumber daya yang tersedia, ukuran dan pentingnya keputusan yang akan M
15 Peran Dalam Kelompok (e). Anggota menyelesaikan konflik menggunakan negosiasi dan jalan tengah untuk menyelesaikan konflik secara konstruktif. Peran kelompok merupakan bagian penting yang menjadi landasan perilaku kelompok. Peran ini mengacu pada fungsi atau tanggung jawab yang dilakukan individu dalam suatu kelompok. Setiap anggota suatu kelompok biasanya mempunyai peran spesifik yang dijalankannya, dan peran tersebut dapat berbeda-beda menurut jenis kelompok, tujuan kelompok, dan konteksnya. B. Komponen Peran Kelompok Ada dua komponen yang sangat berperan penting dalam kelompok, yaitu: (1). Kemampuan: Ada hubungan antara kemampuan intelektual dan kinerja tim. Dasar perilaku kelompok dan pemahaman kerja kelompok. (2). Kepribadian: merupakan hubungan antara karakter dan budaya yang baik serta kreativitas, semangat dan kesatuan.
16 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai peran kelompok: (1). Pemimpin: Pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab dalam memimpin, mengambil keputusan, dan memimpin suatu kelompok. Pemimpin bertanggung jawab atas berjalannya suatu kelompok. Keputusan diambil oleh pimpinan setelah berdiskusi dengan anggotanya. Keputusan berdasarkan suara terbanyak dan pengambilan keputusan dilakukan dengan meminta seluruh anggota untuk menyetujui atau tidak menyetujui suatu hal yang sedang di diskusikan. (2). Koordinator: Koordinator adalah orang yang bertanggung jawab mengatur dan mengkoordinasikan kegiatan anggota kelompok. Mereka memastikan bahwa semua tugas dan tanggung jawab dilaksanakan dengan baik. (3). Panitera: Panitera adalah orang yang bertanggung jawab untuk berbagi catatan dan dokumen dalam grup. Mereka dapat merekam rapat, mengatur jadwal, atau mencatat kemajuan proyek.
17 Peran Dalam Kelompok (4). Inovator: Inovator adalah individu yang memberikan ide-ide baru, solusi kreatif atau ide-ide segar untuk memecahkan masalah atau mengembangkan proyek dalam kelompok. (5). Kritikus: Kritikus adalah orang yang memberikan umpan balik kritis terhadap ide, keputusan atau tindakan dalam suatu kelompok. Mereka membantu memastikan bahwa kelompok tidak setuju begitu saja tanpa berpikir. (6). Pendukung: Pendukung adalah anggota kelompok yang memberikan dukungan emosional kepada anggota lainnya. Mereka dapat menjadi pendengar yang baik, menyemangati dan membantu anggota kelompok yang berada dalam kesulitan. (7). Pelaksana: Pelaksana adalah orang yang bertanggung jawab melaksanakan tugas tertentu atau melaksanakan rencana yang dikembangkan oleh kelompok. (8). Mediator: Mediator adalah orang yang berperan dalam menyelesaikan konflik atau perselisihan antar anggota kelompok. Mereka mencoba mencapai kesepakatan dan menengahi perselisihan.
18 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok (9). Peneliti: Peneliti adalah orang yang mencari informasi tambahan, melakukan penelitian atau mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk mendukung keputusan kelompok. Penting untuk diingat bahwa dalam kelompok, individu mungkin mempunyai lebih dari satu peran, dan peran tersebut dapat berubah seiring berjalannya waktu dan sesuai dengan kebutuhan kelompok. Keseimbangan peran dalam suatu kelompok dapat mempengaruhi efektivitas dan efisiensi kelompok secara signifikan.
19 Norma Kelompok BAB 4 NORMA KELOMPOK
20 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok BAB 4 NORMA KELOMPOK A. Definisi Norma Kelompok orma kelompok adalah aturan atau harapan informal yang memandu perilaku anggota kelompok. Normanorma ini berperan penting dalam membentuk budaya dan dinamika kelompok. Norma kelompok adalah aturan atau standar perilaku yang diterima dan diikuti oleh anggota kelompok sosial atau komunitas tertentu. Norma-norma tersebut menjadi dasar pengendalian komunikasi dan perilaku anggota kelompok. Berikut adalah beberapa poin penting tentang norma kelompok: (a). Berbagai jenis norma: Norma kelompok dapat dibagi menjadi dua jenis utama: norma formal dan norma informal. (b). Norma formal adalah aturan yang disetujui secara formal oleh suatu lembaga atau badan tertentu, seperti undang-undang atau aturan organisasi. N
21 Norma Kelompok Meskipun norma informal adalah aturan yang berkembang secara alami dalam kelompok, norma tersebut seringkali tidak tertulis dan lebih terikat pada budaya atau tradisi kelompok (c). Fungsi Sosial: Norma kelompok mempunyai fungsi penting dalam menjaga ketertiban sosial. Mereka membantu mencegah konflik dan kekacauan dalam kelompok dengan memberikan pedoman perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima B. Penjelasan Mengenai Norma Kelompok Berikut beberapa penjelasan mengenai norma kelompok: (a). Norma sosial: Norma kelompok adalah bagian dari norma sosial masyarakat yang lebih luas. Mereka dapat merujuk pada berbagai aspek seperti ucapan, cara berpakaian, etos kerja, atau interaksi sosial. Norma-norma ini membantu anggota kelompok mengetahui bagaimana mereka harus berperilaku dalam konteks tertentu. (b). Stabilitas sosial: Norma kelompok membantu menjaga stabilitas sosial dalam kelompok. Mereka membantu
22 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok mengurangi konflik, memfasilitasi kerja sama dan menciptakan kerangka komunikasi yang harmonis antar anggota. (c). Kesesuaian: norma-norma kelompok seringkali mendorong konformitas, yaitu kecenderungan anggota untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok. Hal ini dapat menimbulkan tekanan sosial untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma yang ada. (d). Identitas: Norma kelompok dapat membentuk identitas kelompok. Mereka dapat membedakan kelompok tertentu dengan kelompok lainnya dan menjadi sumber kebanggaan atau kesadaran diri bagi anggotanya. (e). Perkembangan norma: Norma kelompok tidak selalu tetap. Mereka mungkin berkembang atau berubah seiring berjalannya waktu, terutama ketika anggota kelompok berubah atau ketika kelompok menghadapi tantangan atau perubahan lingkungan. (f). Sanksi Sosial: Norma kelompok sering kali didukung oleh sistem sanksi sosial. Anggota yang melanggar norma-norma ini dapat menghadapi konsekuensi seperti kritik, penolakan atau bahkan pengusiran dari kelompok.
23 Norma Kelompok (g). Peran pemimpin: Pemimpin kelompok dapat memainkan peran penting dalam menetapkan dan memelihara norma-norma kelompok. Ini sering kali merupakan pola perilaku yang diikuti oleh anggota lainnya. (h). Pengaruh aspek budaya: norma kelompok juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor budaya, nilai dan tradisi. Norma yang berlaku pada suatu kelompok mungkin berbeda dari satu budaya ke budaya lainnya. Memahami dan menghormati norma-norma kelompok adalah bagian penting dalam berpartisipasi dalam kelompok sosial atau profesional. Normanorma ini membantu menciptakan keteraturan dan keharmonisan dalam kelompok serta menciptakan batasan yang jelas dalam komunikasi antar anggota.
24 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok
25 Status Dan Peringkat BAB 5 STATUS DAN PERINGKAT
26 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok BAB 5 STATUS DAN PERINGKAT A. Penjelasan Dan Karakteristik Status uatu posisi sosial atau peringkat yang diberikan oleh orang lain kepada kelompok atau anggota kelompok tertentu, yang ada di setiap masyarakat. Bahkan kelompok yang paling kecil akan mengembangkan ritual, peran, dan hak untuk membedakan anggotanya. Status sangat memengaruhi perilaku seseorang dan memiliki dampak besar pada perilaku mereka ketika seseorang melihat perbedaan antara pandangan mereka tentang status mereka dan pandangan orang lain tentangnya. Apa yang digunakan untuk menentukan status? Ada tiga sumber status, menurut teori karakteristik status: (1). Kekuasaan seseorang atas orang lain. Orang-orang yang bertanggung jawab atas hasil biasanya adalah penyandang status yang tinggi karena mereka biasanya bertanggung jawab atas sumber daya kelompok. S
27 Status Dan Peringkat (2). Kemampuan seseorang untuk membantu tujuan kelompok. Orang-orang dengan status yang tinggi cenderung memiliki kontribusi yang signifikan untuk kesuksesan kelompok. (3). Karakteristik pribadi individu. Seseorang yang memiliki karakteristik tertentu, seperti penampilan yang bagus, kecerdasan, uang, atau kepribadian yang ramah, biasanya memiliki status yang lebih tinggi daripada seseorang yang memiliki karakteristik dengan nilai yang lebih rendah. B. Komponen Status Seringkali, status dalam organisasi dikaitkan dengan komponen seperti norma, interaksi kelompok, ketidakadilan, dan stigmatisasi. Berikut penjelasannya: (a). Status dan Norma Status mempengaruhi norma dan tekanan untuk mematuhi. Status tinggi seringkali memberikan lebih banyak kebebasan menyimpang dari norma daripada anggota kelompok lain. Mereka juga lebih mungkin menolak tekanan kepatuhan
28 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok daripada rekan-rekan mereka yang lebih rendah. Orang yang dipandang lebih tinggi oleh suatu kelompok dapat mengabaikan standar kepatuhan jika mereka tidak memerlukan atau mempedulikan imbalan sosial yang diberikan oleh kelompok mereka. (b). Status dan Interaksi Kelompok Orang-orang yang memiliki status sosial yang tinggi cenderung lebih sombong. Mereka lebih sering berbicara dengan bebas, mengkritik, memberi perintah, dan menginterupsi anggota grup. Karena anggota dengan status lebih rendah cenderung kurang aktif dalam diskusi kelompok, perbedaan status menghambat keragaman ide dan kreativitas dalam kelompok. (c). Ketidakadilan Status Jika sesuatu dianggap tidak adil, itu akan menyebabkan ketidakseimbangan, yang memicu berbagai bentuk perilaku koreksi. Selain itu, perbedaan status yang signifikan di dalam kelompok dikaitkan dengan kinerja yang lebih buruk, kesehatan yang lebih buruk, dan keinginan yang kuat untuk meninggalkan kelompok. Oleh karena itu, peringkat kelompok individual
29 Status Dan Peringkat biasanya sangat bersaing. Kelompok-kelompok ini biasanya membentuk urutan status informal berdasarkan peringkat mereka dan memiliki akses ke sumber daya yang diperlukan. Ketika seseorang meninggalkan kelompok dengan standar status yang berbeda atau ketika mereka bergabung dengan kelompok yang memiliki anggota dengan latar belakang yang berbeda, mereka mungkin mengalami konflik. (d). Status dan Stigmatisasi Sudah jelas bahwa status seseorang memengaruhi cara orang lain melihatnya. Status orang dengan siapa seseorang berafiliasi juga dapat memengaruhi pandangan orang lain terhadap orang tersebut. Studi telah menunjukkan bahwa individu dengan stigmatisasi dapat "menulari" stigmatisasi mereka kepada orang lain. Bahkan jika asosiasi itu singkat dan terjadi secara kebetulan, efek "Stigma oleh asosiasi" ini dapat menyebabkan pandangan negatif dan menilai orang-orang yang terafiliasi dengan individu yang distigmatisasi. Berafiliasi dengan orang yang distigmatisasikan dapat merusak reputasi seseorang, tetapi
30 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok sebaliknya berlaku untuk bekerja sama dengan orang yang memiliki status tinggi.
31 Kohesivitas Kelompok BAB 6 KOHESIVITAS KELOMPOK
32 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok BAB 6 KOHESIVITAS KELOMPOK A. Pengertian Kohesivitas Kelompok ohesivitas kelompok adalah proses kesatuan, kelekatan, atau daya tarik individu terhadap kelompok dalam rangka pemenuhan tujuan dan motivasi untuk bersama di dalamnya yang memiliki tingkat ketertarikan dan keyakinan untuk bersama dalam keberhasilan kelompok. Kohesivitas kelompok kerja adalah daya tarik emosional sesama anggota kelompok yang saling menyukai, membantu, dan mendukung satu sama lain untuk bertahan dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kohesivitas kelompok adalah proses yang sangat kompleks yang dapat mempengaruhi hubungan antar anggota dan proses dalam kelompok. Ini lebih dari sekedar kesatuan unit atau pertemanan. Kelompok yang kohesif meningkatkan kinerja K
33 Kohesivitas Kelompok dan produktivitas, sesuai dengan norma kelompok, meningkatkan semangat kerja dan kepuasan, memudahkan komunikasi, mengurangi konflik, dan meningkatkan rasa aman dan harga diri. Kohesivitas kelompok adalah kekuatan yang dimiliki oleh anggota kelompok untuk tetap tinggal di dalamnya dan mencegah mereka meninggalkannya. Kohesivitas kelompok didasarkan pada tingkat solidaritas dan kesetiaan anggota kelompok terhadap kelompoknya. Tim yang lebih kohesif memiliki kekuatan yang lebih besar, dan anggota tim akan lebih setia pada kelompok. Robbins dalam (N. Qomaria, 2015) menyatakan bahwa kohesivitas kelompok adalah sejauh mana anggota merasa tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap berada dalam kelompok tersebut. Kohesi kelompok ialah bagaimana para anggota kelompok saling menyukai dan saling mencintai satu dengan lainnya. Tingkatan kohesi akan menunjukkan seberapa baik kekompakan dalam kelompok bersangkutan.
34 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok Untuk melihat tingkatan kohesi kelompok, kita umumnya menggunakan metode sosiometri Shaw dalam (Walgito, 2010). Taylor, dkk dalam (Harmaini, 2016) mengatakan kohesivitas adalah daya tarik baik positif atau negatif yang menyebabkan anggota kelompok bertahan dalam kelompok. Hal ini didukung dengan teori Ivancevic dalam (Purwaningtyastuti, 2012) menyebutkan bahwa kohesivitas biasanya dianggap sebagai sebuah kekuatan. Kohesivitas mengikat seluruh anggota kelompok agar tetap berada dalam kelompoknya dan menangkal pengaruh yang menarik anggota agar keluar dari kelompok. Sebuah kelompok yang kohesif terdiri dari individu-individu yang saling tertarik satu dengan yang lain. Sebuah kelompok yang memiliki kohesivitas rendah tidak memiliki ketertarikan interpersonal antar anggota kelompoknya. Kelompok-kelompok yang sangat kohesif lazimnya terdiri dari individu-individu yang termotivasi untuk bersatu.
35 Kohesivitas Kelompok Karena kohesivitas kelompok bergantung pada ketertarikan kelompok daripada ketertarikan individu, itu dapat membuat anggota tetap berada dalam kelompok dan menghalangi pengaruh yang memaksa mereka keluar. Hal ini dapat dilihat dari pengertian kohesivitas kelompok yang dijelaskan. B. Aspek-Aspek Kohesivitas Kelompok Menurut (Forsyth, 2006), terdapat empat aspek yang mempengaruhi kohesivitas kelompok, yaitu: (1). Kekuatan Sosial. Yaitu keinginan dalam diri individu untuk tetap berada dalam kelompoknya. Atau dapat juga diartikan sebagai desakan atau dorongan dari setiap individu terhadap organisasi ataupun kelompoknya untuk tetap berada dalam kelompok. (2). Kesatuan dalam kelompok. Yaitu perasaan saling memiliki terhadap kelompoknya dan memiliki perasaan moral yang berhubungan dengan keanggotaannya dalam kelompok.
36 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok Kesatuan dalam kelompok juga dapat diartikan sebagai kumpulan manusia yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat. Kelompok juga dapat memengaruhi perilaku para anggotanya. (3). Daya Tarik. Individu akan lebih tertarik melihat dari segi kelompok kerjanya sendiri dari pada melihat dari anggotanya secara spesifik. Daya tarik ini dapat berupa semangat kerja yang dimiliki kelompok sehingga akan berdampak positif terhadap perkembangan dan keberlangsungan kelompok tersebut untuk dapat mencapai tujuan. (4). Kerjasama Kelompok. Individu memiliki keinginan yang lebih besar untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok. Kerja sama sendiri juga mampu menjadi standar penilaian kerja sesorang dalam beberapa kelompok. Untuk dapat melihat seberapa kuat dan seberapa besar partisipasi dari setiap anggota kelompok.
37 Kohesivitas Kelompok C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kohesivitas Kelompok Faktor yang mempengaruhi kohesivitas kelompok menurut Lott dan Lott (dalam Forsyth, 2010:123) yaitu: (a). Kedekatan Kedekatan fisik dan psikologis sesama anggota kelompok juga dapat mempengaruhi kohesivitas anggota kelompok. Bordena dan Horowitz, dalam (Harmaini, 2016) (b). Frekuensi interaksi Interaksi yang terjadi di dalam kelompok karena adanya kerjasama, bukan karena persaingan. Faturochman, dalam (Harmaini, 2016) (c). Kesamaan Kesamaan dalam kohesivitas kelompok mengacu pada tingkat sejauh mana anggota kelompok memiliki kesamaan dalam berbagai aspek, seperti nilai-nilai, tujuan, minat, norma-norma, atau karakteristik pribadi. (d). Kelengkapan Kelengkapan dalam kohesivitas kelompok mengacu pada sejauh
38 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok mana semua anggota kelompok merasa terlibat, diterima, dan diakui sebagai bagian yang penting dari kelompok tersebut. Ini berarti tidak ada anggota kelompok yang merasa terpinggirkan, diabaikan, atau tidak dihargai. (e). Hubungan timbal balik Hubungan timbal balik (reciprocal relationship) adalah konsep penting dalam kohesivitas kelompok. Ini mengacu pada hubungan dua arah antara kohesivitas kelompok dan perilaku anggota kelompok. Artinya, kohesivitas kelompok dapat memengaruhi perilaku anggota kelompok, dan sebaliknya, perilaku anggota kelompok juga dapat memengaruhi tingkat kohesivitas kelompok. (f). Saling memberikan penghargaan Saling memberikan penghargaan (recognition and appreciation) merupakan salah satu aspek penting dalam membangun dan memelihara kohesivitas kelompok. Ini berkaitan dengan cara anggota kelompok mengakui dan menghargai kontribusi serta upaya yang dilakukan oleh sesama anggota.
39 Kohesivitas Kelompok Di antara faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kohesivitas kelompok adalah usaha untuk masuk ke dalam kelompok, frekuensi interaksi, ukuran atau jumlah anggota, kedekatan, kesamaan, penghargaan satu sama lain, dan status. Ini adalah kesimpulan dari penjelasan beberapa ahli tentang faktorfaktor yang dapat mempengaruhi kohesivitas kelompok. D. Ciri-Ciri Kohesivitas Kelompok Menurut Faturochman dalam (N. Qomaria, 2015), sebuah kelompok dikatakan kohesif bila memiliki beberapa ciri-ciri berikut: (a). Komitmen yang tinggi Suatu keadaan dimana seseorang anggota memihak organisasi tertentu serta tujuan tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. (b). Kerjasama yang baik antar anggota Interaksi di dalam kelompok oleh kerja sama, bukan oleh persaingan.
40 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok (c). Mempunyai tujuan di dalam kelompok. Kelompok mempunyai tujuan-tujuan yang terkait satu dengan lainnya dan sesuai dengan perkembangan waktu tujuan yang dirumuskan meningkat. (d). Ketertarikan antar anggota Ada ketertarikan antaranggota sehingga relasi yang terbentuk menguatkan jaringan relasi di dalam kelompok. Kemudian menurut Berg dan Landreth dalam (Harmaini, 2016) mengemukakan bahwa individu-individu anggota kelompok yang kohesif menunjukkan perilaku antara lain: (a). Lebih produktif. (b). Tidak mudah kena pengaruh-pengaruh negatif dari luar (c). Lebih terbuka terhadap pengaruh-pengaruh anggota lain (d). Mampu mengungkapkan hal-hal yang lebih pribadi, dan lebih mampu mengekspresikan perasaan-perasaan negatif dan mengikuti norma-norma kelompok.
41 Kohesivitas Kelompok E. Dimensi Kohesivitas Kelompok Para ahli psikologi sosial menyatakan bahwa daya tarik yang terdapat di dalam kelompok sebagai penentu kohesivitas. Fokus utamanya pada faktor daya tarik untuk mengukur kohesivitas kelompok. Menurut Brawley dkk (dalam Utami dan Purwaningtyastuti), menyatakan bahwa kohesivitas kelompok dapat diukur melalui dimensi-dimensi sebagai berikut: (a). Daya tarik individu pada kelompok sosial Dorongan yang menjadikan anggota kelompok selalu berhubungan. Kumpulan dari dorongan tersebut membuat mereka bersatu. (b). Daya tarik individu pada kelompok tugas Setiap individu dalam kelompok merasa kelompok adalah sebuah keluarga, tim, dan komunitasnya serta memiliki kebersamaan dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok. (c). Integrasi kelompok sosial Individu memiliki keinginan yang lebih besar untuk bekerja sama dalam kelompok sosial untuk mencapai tujuan kelompok.
42 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok (d). Intergrasi kelompok tugas Individu melakukan kerja sama dalam melaksanakan tugas-tugas kelompok sebagai upaya untuk mencapai tujuan. F. Cara Meningkatkan Kohesivitas Kelompok Menurut (Wijayanto, 2012), terdapat beberapa cara untuk meningkatkan kohesivitas kelompok, yaitu: (1). Menjelaskan kepedulian mengenai kompetisi. Pimpinan dapat menjelaskan keberadaan kompetisi yang tinggi dengan kompetitor (dari dalam maupun luar organisasi) untuk meningkatkan kohesivitas. (2). Meningkatkan daya tarik antarpribadi. Seringkali, orang mau bergabung dalam sebuah tim karena identitas maupun kekaguman terhadap anggota tim. (3) Meningkatkan interaksi. Interaksi dipercaya dapat meningkatkan kohesivitas dengan membuat acara-acara agar intensitas interaksi dapat ditingkatkan dan terjadi kohesivitas kelompok.