43 Dinamika Konflik BAB 7 DINAMIKA KONFLIK
44 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok BAB 7 DINAMIKA KONFLIK A. Definisi Konflik i dalam hidup manusia tidak lepas dari konflik, karena setiap orang memiliki cara hidup yang khas. Konflik dapat diartikan sebagai hubungan antara dua pihak Individua tau lebih (individu/kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki sasaran, kepentingan dan kebutuhan yang tidak sejalan. Dinamika konflik yang dimaksudkan adalah perubahan bentuk konflik yang terjadi, walaupun akhir dari konflik-konflik tersebut cenderung sama. Apabila sistem komunikasi dan informasi tidak menemui sasarannya, timbullah salah paham atau orang tidak saling mengerti. Selanjutnya hal ini akan menjadi salah satu sebab timbulnya konflik atau pertentangan dalam organisasi. Konflik biasanya juga timbul sebagai hasil adanya masalah-masalah hubungan pribadi (ketidaksesuaian tujuan atau D
45 Dinamika Konflik nilai-nilai pribadi karyawan dengan perilaku yang harus diperankan pada jabatannya, atau perbedaan persepsi) dan struktur organisasi (perebutan sumber daya yang terbatas, pertarungan antar departemen dan lain sebagainya). B. Penyebab Timbulnya Konflik Konflik dapat terjadi karena masing-masing pihak atau salah satu pihak merasa dirugikan. Kerugian ini bukan hanya bersifat material, tetapi juga dapat bersifat non material (Lumintang, 2015). Berikut ini sebab-sebab yang menimbulkan konflik: (a). Perbedaan pendapat Suatu konflik dapat terjadi karena perbedaan pendapat, dimana masing-masing pihak merasa bahwa dirinya yang paling benar. Bila perbedaan pendapat ini cukup tajam, maka dapat timbul rasa yang kurang enak, ketegangan dan lain sebagainya. (b). Salah paham Salah paham merupakan sala satu hal yang dapat menimbulkan konflik. Misalnya Tindakan sesorang mungkin tujuannya baik,
46 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok tetapi dianggap merugikan oleh pihak lain. (c). Perasaan terlalu sensitif Perasaan yang terlalu sensitive mungkin wajar, tetapi oleh pihak lain hal ini dianggap merugikan. Jadi jika dilihat dari sudut pandang hukum atau etika yang berlaku, sebenarnya Tindakan ini tidak termasuk perbuatan yang salah, meskipun demikian karena pihak lain terlalu sensitive perasaannya, hal ini dianggap tetap merugikan, sehingga dapat menimbulkan konflik. C. Tahapan Dinamika Konflik Fisher membagi tahapan dinamika konflik menjadi 4 tahapan (Fisher, 2001) (a). Prakonflik Periode pada saat terdapat suatu ketidaksesuaian sasaran diantara dua pihak atau lebih, sehingga timbul konflik. Konflik tersembunyi dari pandangan umum, meskipun satu pihak atau lebih mungkin mengetahui potensi terjadinya konfrontasi. atau
47 Dinamika Konflik Mungkin terdapat ketegangan hubungan diantara beberapa pihak keinginan untuk menghindari kontak satu sama lain pada tahap ini. (b). Konfrontasi Memperlihatkan suatu tahapan saat konflik mulai terbuka. Jika hanya satu pihak yang merasa ada masalah, mungkin pada pendukungnya mulai melakukan aksi demonstrasi atau melakukan aksi konfrontasi lainnya. Pertikaian atau kekerasan pada tingkat rendah lainnya terjadi diantara kedua pihak. (c). Krisis atau puncak konflik Tahap Ketika konflik pecah menjadi bentuk aksi-aksi kekerasan yang dilakukan secara intens atau massal. Komunikasi terputus dan muncul pernyataan yang cenderung menuduh pihak lain. (d). Pasca konflik Situasi diselesaikan dengan cara mengakhiri berbagai konfrontasi kekerasan, ketegangan berkurang dan hubungan mengarah ke lebih normal di antara kedua belah pihak. Pada tahap ini ketegangan mulai berkurang, namun masalah belum teratasi sepenuhnya.
48 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok D. Dampak Konflik di Dalam Organisasi Menurut (Wijono, 1993), bila upaya penangan dan pengelolaan konflik karyawan dilakukan secara efisien dan efektif maka dampak positif akan muncul melalui perilaku yang dinampakkan oleh karyawan sebagai sumber daya manusia potensial dengan berbagai akibat seperti: (a). Meningkatnya ketertiban dan kedisiplinan Contohnya, seperti hampir tidak ada karyawan yang absen tanpa alasan yang jelas, masuk dan pulang tepat pada waktunya, pada waktu jam kerja setiap karyawan menggunakan waktu secara efektif, hasil kerja meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya. (b). Meningkatnya hubungan Kerjasama yang produktif Hal ini terlihat dari cara pembagian tugas dan tanggung jawab sesuai dengan analisis pekerjaan masing-masing. (c). Meningkatnya motivasi kerja untuk melakukan kompetisi secara sehat antar pribadi maupun antar kelompok dalam organisasi, seperti dalam upaya peningkatan prestasi kerja,
49 Dinamika Konflik tanggung jawab, dedikasi, loyalitas, kejujuran, inisiatif, dan kreativitas. (d). Berkurangnya tekanan-tekanan Tekanan yang dapat membuat stress bahkan produktivitas kerja semakin meningkat. Hal ini karena karyawan memperoleh perasaan-perasaan aman, percaya diri, penghargaan dalam keberhasilan kerjanya. (e). Banyak karyawan yang dapat mengembangkan karir sesuai dengan potensinya melalui pelayanan pendidikan (education), pelatihan (training), dan konseling (counselling) dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Semua ini bisa menjadikan tujuan organisasi tercapai dan produktivitas kerja meningkat. Adapun dampak negatifnya adalah sebagai berikut : (a). Seringnya karyawan mangkir pada waktu jam kerja berlangsung. Contoh: mengobrol berjam-jam sambal mendengarkan radio, mondar-mandir atau menyibukkan diri yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, tidur selama pimpinan tidak ada di kantor, pulang lebih awal atau dating terlambat dengan berbagai alasan yang tidak jelas.
50 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok (b). Banyak karyawan yang mengeluh karena sikap atau perilaku teman kerjanya yang dirasa kurang adil dalam membagi tugas dan tanggung jawab. Sering dengan terjadinya perselisihan antar karyawan yang bisa memancing kemarahan, ketersinggungan yang pada akhirnya dapat mempengaruhi pekerjaan. (c). Banyak karyawan yang sakit-sakitan, sulit untuk konsentrasi dalam pekerjaannya, muncul perasaan-perasaan kurang aman, merasa tertolak oleh teman ataupun atasan, merasa tidak dihargai hasil pekerjaannya, timbul stress yang berkepanjangan dan berakibat sakit tekanan darah tinggi. (d). Seringnya karyawan melakukan mekanisme pertahanan diri bila memperoleh teguran dari atasan, misalnya mengadakan sabotase terhadap jalannya produksi, dengan cara merusak mesin-mesin atau peralatan kerja, mengadakan provokasi terhadap teman kerja.
51 Dinamika Konflik E. Mengatasi Konflik Menurut Stevenin (2000,134-135) terdapat 5 langkah meraih kedamaian dalam konflik sebagai berikut, (1). Pengenalan, kesenjangan antara keadaan yang ada diidentifikasikan dan bagaimana keadaan seharusnya. Satusatunya yang menjadi perangkap adalah kesalahan dalam mendeteksi (tidak memperdulikan masalah atau menganggap ada masalah padahal sebenarnya tidak ada). (2). Diagnosis, ini adalah Langkah yang sangat penting. Metode mengenai siapa, apa, mengapa, dimana, dan bagaimana. Berhasil dengan sempurna, pusatkan perhatian pada masalah utama dan bukan hal-hal sepele. (3). Menyepakati suatu solusi, mengumpulkan masukan mengenai jalan keluar yang memungkinkan dari orang-orang yang terlibat di dalamnya. (4). Pelaksanaan, selalu ingat bahwa akan selalu ada keuntungan dan kerugian, jangan biarkan pertimbangan terlalu mempengaruhi pilihan dan arah kelompok/organisasi.
52 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok (5). Evaluasi, penyelesaian itu sendiri dapat melahirkan serangkaian masalah baru. Jika penyelesaian ini tidak berhasil, kembalilah ke Langkah-langkah sebelumnya dan mencoba lagi. Kendala yang menyebabkan resolusi konflik kurang efektif adalah kurang terjalinnya komunikasi yang baik antara kedua belah pihak. Akar dari konflik adalah kesenjangan dan kecemburuan sosial yang terjadi antara kedua belah pihak tersebut. Jangan pernah memandang bahwa dengan adanya konflik organisasi menjadi gagal. Bagaimana pun sulitnya konflik, pasti dapat diselesaikan oleh para anggota dengan melihat persoalan serta mendudukkannya dalam proporsi yang wajar, menyadari hambatan serta kendala yang berada diluar kemampuan kita, memperhatikan peraturan yang disetujui Bersama, serta mengusahakan pelaksanaan secara konsekuen keputusan yang telah diambil dan disetujui bersama. Dengan cara ini dijamin tercapainya persatuan dan kesatuan para anggota organisasi. Sehingga tujuan organisasi dapat mengarah ke inovasi dan perubahan. Dapat menggerakkan orang-orang
53 Dinamika Konflik untuk melaksanakan kegiatan, mengembangkan potensi bagi pihak-pihak yang lemah dalam organisasi. Factor-faktor tersebut menunjukkan bahwa konflik dapat dikelola, agar berguna bukan menghambat, untuk pencapaian tujuan dalam organisasi modern.
54 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok
55 Kepemimpinan Dalam Kelompok BAB 8 KEPEMIMPINAN DALAM KELOMPOK
56 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok BAB 8 KEPEMIMPINAN DALAM KELOMPOK A. Penjelasan Mengenai Kepemimpinan roup leadership atau kepemimpinan dalam kelompok adalah jenis kepemimpinan dimana lebih dari satu orang memberikan arahan kepada kelompok secara keseluruhan. Tujuan pendekatan ini adalah untuk meningkatkan kreativitas, mengurangi biaya, atau perampingan. Kepemimpinan terkadang dipahami sebagai kekuasaan untuk menggerakkan dan mempengaruhi orang lain. Ada beberapa factor yang dapat menggerakkan orang, yaitu ancaman, penghargaan, otoritas, dan bujukan. Dengan adanya ancaman maka bawahan akan takut dan mematuhi semua perintah atasan. Kepemimpinan sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang kompleks dimana seorang pemimpin mempengaruhi bawahannya dengan melaksanakan dan mencapai visi, misi, dan tugas atau objektif-objektif yang membawa organisasi menjadi lebih maju dan bersatu. G
57 Kepemimpinan Dalam Kelompok B. Teori-Teori Kepemimpinan (a). Teori sifat, disebut juga teori genetik, karena menganggap bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan dibentuk. Teori ini menjelaskan bahwa eksistensi seorang pemimpin dapat dilihat dan dinilai berdasarkan sifat-sifat sejak lahir sebagai sesuatu yang diwariskan. Teori ini mengatakan bahwa kepemimpinan diidentifikasikan berdasarkan atas sifat atau ciri yang dimiliki oleh para pemimpin. (b). Teori perilaku, teori ini menjelaskan apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang efektif, bagaimana mendelegasikan tugas, berkomunikasi, dan memotivasi bawahan. Sesorang bisa belajar dan mengembangkan diri menjadi seorang pemimpin yang efektif, tidak tergantung pada sifat-sifat yang sudah melekat padanya. (c). Teori lingkungan, teori ini beranggapan bahwa munculnya pemimpin itu merupakan hasil dari waktu, tempat, dan keadaan. Kepemimpinan dalam perspektif teori lingkungan adalah mengacu pada pendekatan situsional yang berusaha memberikan
58 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok model normative. (d). Teori neokharismatik, teori kepemimpinan yang menekankan simbolisme daya Tarik emosional dan komitmen pengikut yang luar biasa (e). Teori kepemimpinan kharismatik, teori ini mengemukakan bahwa para pengikut membuat atribut dari kemampuan kepemimpinan yang heroic bila mereka mengamati perilaku-perilaku tertentu dari pemimpinnya. C. Tugas-Tugas Pemimpin Kelompok Sebagai pemimpin kelompok mempunyai tugas yang tidak ringan. Menurut yalom (1985 dalam Wibowo,2005:107) tugastugas pemimpin kelompak adalah sebagai berikut: (1). Membuat dan mempertahankan kelompok (2). Membentuk budaya (3). Membentuk norma-norma D. Gaya-Gaya Kepemimpinan Kelompok
59 Kepemimpinan Dalam Kelompok Gaya yang ditunjukkan oleh seorang pemimpin kelompok mempunyai dampak langsung terhadap anggota kelompoknya. Pemimpin kelompok yang selalu menyatakan pada anggota kelompoknya mengenai apa yang harus dikerjakan, dapat menyelesaikan tugasnya jika didukung oleh kemampuan fleksibilitas dan inovasi anggotanya. Pemimpin kelompok yang paling efektif adalah pemimpin kelompok yang serba bisa. E. Fungsi Pemimpin Kelompok (1). Sebagai direktur yang mengatur interaksi kelompok. Pemimpin harus membantu anggota menyadari perilakuperilaku mana yang mendorong dan menghambat komunikasi. Pemimpin harus bertindak dengan proaktif dan reaktif untuk mencegah munculnya perilaku tertentu yang menghambat proses kelompok. (2). Sebagai seorang model (3). Sebagai fasilitator (4). Mampu mengendalikan konflik
60 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok Berikut ini adalah beberapa keterampilan dasar yang perlu dikembangkan seorang pemimpin di dalam kelompok: (1). Aktif dalam mendengar, pemimpin yang terampil akan mendengarkan semua anggota kelompok pada saat yang sama dan bukan hanya kepada orang yang sedang berbicara. (2). Refleksi, adalah hal yang menunjukkan bahwa pemimpin mengerti isi atau perasaan di belakangnya. (3). Penjelasan singkat dan pemberian informasi, pemimpin yang baik harus memiliki hal-hal yang baik untuk disampaikan. Penjelasan secara singkat akan memungkinkan secara singkat dalam hal memberikan ide-ide baru dan menarik. (4). Mendorong dan mendukung, kemampuan ini sangat penting untuk membantu anggota kelompok berkaitan dengan kecemasan yang dialami Ketika menghadapi situasi baru.
61 Pengambilan Keputusan Kelompok BAB 9 PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELOMPOK
62 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok BAB 9 PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELOMPOK A. Penjelasan Mengenai Pengambilan Keputusan eperti yang telah kita ketahui selama ini, manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki arti bahwa manusia tidak bisa terhindarkan dari yang namanya sosialisasi, komunikasi, dan membentuk hubungan atau koneksi dengan orang lain. Salah satu penghubung antara manusia satu dengan yang lainnya adalah melalui kelompok. Kelompok dapat didefinisikan sebagai dua orang atau lebih yang terhubung satu sama lain di dalam hubungan sosial. Anggota dari kelompok biasanya mempunyai kesamaan untuk menyatukan mereka. Kelompok memiliki identitas/pengenal sosial bersama-sama, saling berinteraksi, dan mempunyai tujuan bersama. Untuk mencapai segala tujuan yang ingin dicapai, sebuah kelompok akan melakukan yang namanya pengambilan keputusan. Dalam banyak studi kasus, kelompok selalu bisa menunjukkan performa yang baik menilai, memilih, dan menyelesaikan S
63 Pengambilan Keputusan Kelompok sebuah masalah dibanding individu yang hanya sendiri saat melakukan apapun (Stasser G, 2001). Pengambilan keputusan kelompok terjadi ketika pemilik pengambil keputusan secara khusus terlibat sebagai partisipan dalam proses pengambilan keputusan, yang pada sedikit kasus dia tidak mengetahui segala aktivitas secara lengkap (M, 1998). Untuk dapat mengetahui permasalahan secara lengkap/utuh, dalam evaluasi suatu keputusan, maka seorang pengambil keputusan tersebut harus bisa mempertimbangkan lagi pendapat orang lain yang mungkin memahami permasalahan tersebut. Umumnya, pada proses pengambilan kelompok, mereka akan menghasilkan keputusan yang lebih kompleks. Dari masing-masing pihak yang turut terlibat proses tersebut, bisa mempunyai nilai dan prinsip-prinsip yang tidak sama atau berbeda. Perbedaan inilah yang nantinya bisa menimbulkan pertentangan dari tujuan atau kepentingan. Yang sehingganya bisa menimbulkan perbedaan selera diantara pihak-pihak yang
64 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok terlibat, situasi ini disebut sebagai konflik. Dalam konflik, abstraknya satu pihak tidak bisa memaksakan keinginanynya sendiri, melainkan harus mampu dan mau untuk bekerja sama melalui negosiasi. Proses kerja sama yang telah dilandasi niat tulus, akan dengan mudah mencapai hasil yang bisa menguntungkan, bahkan bisa menimbulkan efek sinergi, sehingganya hasil yang telah didapat oleh masing-masing pihak pasti akan lebih baik dibandingkan proses yang bersifat kompetitif. B. Pendekatan Pengambilan Keputusan Dalam menghadapi segala proses yang terjadi di lingkungan sekelilingnya dan di dalam dirinya, hampir setiap waktu manusia akan membuat atau mengambil keputusan dan melaksanakannya, hal ini tentu bardasar pada asumsi bahwa segala tindakannya secara sadar dan nyata merupakan pencerminan dari hasil proses pengambilan keputusan dalam pikirannya. Sehingga sebenarnya, manusia itu sudah sangat terbiasa sekali di dalam membuat sebuah keputusan. Sejak saat
65 Pengambilan Keputusan Kelompok proses identifikasi masalah sampai dengan pemilihan solusi terbaik, inilah yang bisa kita sebut sebagai proses pengambilan keputusan (Putro U. S, 1998). Pengambilan keputusan dalam sebuah kehidupan kelompok merupakan hal yang pasti terjadi bahkan sangat sering terjadi. Dimana hal tersebut merupakan bagian dari nadi jalannya suatu kelompok (I, 1998). Dari banyaknya definisi pengambilan keputusan yang ada, dapat diambil kesimpulan bahwa pengambilan keputusan di dalam suatu kelompok merupakan hasil dari suatu komunikasi dan partisipasi yang berasal dari banyaknya orang yang kemudian secara terus menerus itu merupakan bagian dari keseluruhan kelompok. Pendekatannya dapat berasal dari individual ataupun kelompok. Persoalan mengenai pengambilan keputusan, pada dasarnya merupakan suatu bentuk dari pemilihan berbagai alternatif seperti tindakan, yang mungkin saja dipilih, yang proses-prosesnya harus melalui mekanisme tertentu, semua itu diharapkan agar bisa menghasilkan sebuah keputusan yang
66 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok diinginkan dan terbaik. Keberhasilan dari seorang pengambil keputusan, itu tergantung dari keahliannya mengumpulkan banyak fakta-fakta dari faktor yang sedang krisis, lalu menganalisisnya dan tidak lupa untuk mengamati semua perubahan baik dari internal maupun eksternal/diluar kelompok (Heda, 2002). Suatu keputusan dapat dikatakan merupakan hasil akhir dari suatu proses yang lebih dinamis, yang diberi sebutan pengambilan keputusan. Dengan kata lain, suatu keputusan merupakan sebuah kesimpulan yang sudah dicapai setelah dilakukannya sebuah pertimbangan, yang terjadi setelah suatu kemungkinan diambil, sementara yang tidak perlu akan dikesampingkan. Dalam hal yang telah dibahas diatas, pertimbangan yang dimaksudkan di sini ialah hasil analisis dari beberapa kemungkinan, sesudah itu akan dipilih salah satu diantaranya (Salusu, 1996). Pada akhirnya, setiap keputusan yang dibuat keputusan
67 Pengambilan Keputusan Kelompok tersebut selalu bertolak pada beberapa kemungkinan untuk dipilih. Setiap kemungkinan selalu membawa konsekuensi. Itu memiliki arti bahwa sejumlah kemungkinan pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya, mengingat perbedaan tersebut dihasilkan dari konsekuensi yang akan di timbulkan ke depannya (Simon, 1960). Pilihan yang dikesampingkan atau dijatuhkan pada kemungkinan itu harus bisa memberikan kepuasan, dikarenakan inilah yang merupakan aspek paling dibutuhkan atau penting dalam keputusan. bisa mengatur bagaimana mereka mengumpulkan, menganalisis, C. Tahapan Pengambilan Keputusan Kelompok Dalam Teori perspektif fungsional, pengambilan keputusan kelompok meyakini atau mempercayai bahwa kelompok dengan kemampuan yang baik, umumnya menggunakan metode yang bisa mengatur bagaimana mereka mengumpulkan, menganalisis, serta menimbang informasi. Kelompok mengambil keputusan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : (Forsyth, 2010)
68 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok (a). Fase orientasi, fase ini meliputi proses mendefinisikan masalah, menetapkan tujuan, dan mengembangkan strategi. Sebuah keputusan dimulai dengan adanya kemunculan problema yang membutuhkan solusi. Dalam fase orientasi ini, kelompok harus mengorganisasi prosedur yang akan digunakan. Di akhir fase ini, anggota kelompok harus sudah bisa memahami tujuan, prosedur, dan pekerjaan yang perlu dilakukan. (b). Fase diskusi, fase ini meliputi proses mengumpulkan informasi mengenai situasi yang dihadapi, dan mengidentifikasi, serta mempertimbangkan pilihan-pilihan yang dimiliki. Selama fase diskusi ini, para anggota kelompok berkumpul bersamasama dan memproses informasi yang diperlukan dalam mengambil keputusan. Di fase ini anggota kelompok juga saling berbagi informasi satu sama lain, mengekspresikan persetujuan atau ketidaksetujuan antar sesama, mencari informasi, serta klarifikasi percakapan yang lebih banyak. Sebuah pendekatan pemrosesan informasi, mengeluarkan asumsi bahwa individu berlomba-lomba atau berambisi untuk turut serta menetapkan keputusan yang baik dengan memanfaatkan informasi yang
69 Pengambilan Keputusan Kelompok relevan. Sehingga implikasi atau keterlibatan masalah dapat dengan mudah dipahami dengan baik. (c). Fase keputusan, fase ini meliputi proses menetapkan solusi melalui permufakatan, voting, maupun proses pengambilan keputusan sosial lainnya. Skema keputusan sosial bisa diartikan sebagai metode kelompok untuk menggabungkan individu. Skema keputusan sosial merupakan sebuah strategi digunakan dalam sebuah kelompok untuk memilih satu alternatif/kemungkinan dari berbagai alternatif/kemungkinan yang telah diusulkan dan dibahas selama musyawarah kelompok berlangsung. Hal ini termasuk aturan keputusan yang dibuat dan diakui secara eksplisit (kelompok menerima alternatif/kemungkinan yang di suka oleh banyak orang/mayoritas) dan prosedur keputusan implisit (kelompok menerima alternatif/kemungkinan yang di sukai oleh masukan anggota paling kuat di dalam satu keputusan kelompok). (d). Fase implementasi, fase ini meliputi proses realisasi keputusan dan pengujian dampak keputusan tersebut. Apabila keputusan berhasil dibuat, dua pekerjaan penting tetap harus
70 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok dilakukan. Pertama, keputusan harus dilaksanakan dengan baik. Kedua, kualitas keputusan harus selalu dievaluasi di akhir.
71 Efek Sosial BAB 10 EFEK SOSIAL
72 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok BAB 10 EFEK SOSIAL fek paling sering digunakan sebagai kata benda untuk merujuk pada perubahan atau dampak suatu tindakan atau peristiwa. Efek sosial merujuk pada efek individuindividu dalam kelompok yang memiliki satu sama lain. Hal ini meliputi konformitas, persuasi, pengaruh kelompok mayoritas, dan norma sosial. Efek sosial dapat memengaruhi pendapat, sikap, dan perilaku individu dalam kelompok. Efek sosial merupakan perubahan atau akibat yang terjadi pada individu atau masyarakat sebagai akibat dari interaksi sosial, norma, nilai, atau tindakan. Hal ini dapat menimbulkan dampak positif atau negatif, seperti perubahan perilaku, sikap atau pola komunikasi dalam masyarakat akibat interaksi sosial, budaya atau lingkungan. Contoh efek sosial antara lain pengaruh teman sebaya, media, budaya populer, dan banyak faktor lain yang membentuk perilaku dan pemikiran E
73 Efek Sosial masyarakat dalam konteks sosial. Terdapat beberapa efek sosial yang dapat mempengaruhi perilaku kelompok, yaitu : (1). Konformitas, kecenderungan perlakuan seseoang untuk mengikuti aturan kelompok atau norma. (2). Efek Kelompok, kelompok sosial mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi individu di dalam kelompok tersebut. (3). Pengaruh Otoritas, di dalam kelompok individu cenderung untuk mengikuti arahan dari tokok otoritas, seperti pemimpin kelompok. Pengaruh tersebut dapat membentuk perilaku kelompok dalam pengambilan keputusan, melaksanakan tugastugas, dsb. Semua efek sosial ini dapat bertindak bersama-sama atau melawan satu sama lain untuk membentuk perilaku kelompok. Memahami cara kerja efek sosial dapat membantu memahami dan mengelola dinamika kelompok sosial, termasuk bagaimana perilaku kelompok dapat berubah seiring waktu.
74 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok ANGGOTA KELOMPOK (1). Esa Asria Putri - 2202016065 (2). Yolanda Reva Februartika - 2202016068 (3). Cantika Afitasari - 2202016074 (4). Achmar Nur Tasjid - 2202016081 (5). Muhammad Farrell Pambudi - 2202016085
75 Dasar-Dasar Perilaku Kelompok DAFTAR PUSTAKA Bahri, S. (2007). Retrieved from Repository Ugm : https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/120450 #:~:text=Dinamika%20konflik%20yang%20dimaksud %20adalah,serta%20penyebab%20dibalik%20konflik% 20tersebut Fisher, S. e. (2001). Mengelola Konflik: Keterampilan & Strategi untuk Bertindak. Jakarta: Alih Bahasa S. N Kartikasari. Forsyth. (2010). Group Dynamic (4th Edition). Wadsworth: Cengage Learning . Forsyth, D. R. (2006). Group Dynamics. Cengage Learning Belmont. Harmaini, d. (2016). Psikologi Kelompok Integrasi Psikologi dan Islam. Jakarta: Rajawali Pers.
76 Heda, D. A. (2002). Informations System Architecture to Support Managed Care Business Process. NorthHolland: Elsevier Science Publisher. I, S. (1998). Pengaruh Penggunaan Informasi dan Fokus pada Gaya Pengambilan Keputusan. Jurnal TMI, 7-13. Koendjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. Lumintang, J. (2015). Dinamika Konflik dalam Organisasi . ejournal Acta Diurna, Vol. 4, No. 2. M, B. S. (1998). The Structure of Development Decision Making. NorthHolland: Elsevier Science Publisher. N. Qomaria, d. (2015). Peranan Kohesivitas Kelompok untuk Menciptakan Lingkungan Kerja yang Kondusif. Jurnal Administrasi Bisnis, Vol 29, No 1. Nazsir, N. (2008). Teori & Sejarah Pertumbuhan Masyarakat Kota: Kajian krisis Aspek-aspek Transformasi Masyarakat Rural-Urban. Bandung: Widya Ppadjadjaran. Purwaningtyastuti, d. (2012). Kohesivitas Kelompok di Tinjau dari Komitmen Organisasi dan Kelompok Pekerjaan. Kajian Ilmiah Psikologi, Vol. 1, No. 2.
77 Putro U. S, d. J. (1998). Proses Pengambilan Keputusan di dalam Situasi yang Interaktif dengan "Hypergame". Journal Teknik dan Manajemen Industri, 48-59. Riyadi, M. (2020, January 27). Retrieved from Kajian Pustaka: https://www.kajianpustaka.com/2020/01/kohesivitaskelompok.html Robbins. (2003). Perilaku Organisasi. Jakarta: Gramedia. Saleh, A. M. (2012). Membangun Karakter dengan Hati Nurani: Pendidikan Karakter untuk Generasi Bangsa. Jakarta: Erlangga. Salusu, J. (1996). Pengambilan Keputusan Strategik untuk Organisasi Publik dan Organisasi Non Profit. Jakarta: Gramedia. Simon, H. (1960). The New Science of Management Decision. New York: Harper and Row. Soekanto, S. (2009). Peranan Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers. Stasser G, &. D.-U. (2001). Collective Choice, Judgement and Problem Ssolving. Malden: Blackwell.
78 Walgito. (2010). Psikologi Kelompok. Yogyakarta: Andi Offset. Wijayanto. (2012). Pengantar Manajemen. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Wijono. (1993). Konflik dalam Organisasi. Semarang: Satya Wacana. Zulkarnain, W. (2013). Dinamika Kelompok: Latihan Kepemimpinan Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
79
80