The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Marwan Syah, 2020-11-19 09:00:50

PTK “Penerapan Model Discovery learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Konsep Intraksi Manusia Dengan Lingkungannya . (Penelitian Tindakan Kelas pada Peserta Didik Kelas V Sekolah Dasar Negeri 4 Pegasing"

PTK ini dibuat saat mengikuti kegiatan PPG Daljab Tahun 2020

Keywords: PTK

PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN

HASIL BELAJAR SISWA MATERI INTERAKSI MANUSIA DENGAN
LINGKUNGANNYA

(Penelitian Tindakan Kelas pada Peserta Didik Kelas V Sekolah Dasar Negeri 4 Pegasing
Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah Semester Ganjil
Tahun Pelajaran 2020/2021)

Diajukan Untuk Memenuhi Kegiatan Aplikasi Penyusunan Proposal
Penelitian Tindakan Kelas Bidang Guru Kelas

Oleh

Marwansyah

20060502710044

PENDIDIKAN PROFESI GURU DALAM JABATAN TAHAP 2
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2020



ABSTRAK

Marwansyah, 2020. Penerapan Model Discovery Learning Untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa Materi Interaksi Manusia dengan Lingkungannya
(Penelitian Tindakan Kelas pada Peserta Didik Kelas V Sekolah Dasar
Negeri 4 Pegasing Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah
Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2020/2021)

Kata Kunci: Penerapan, Discovery Learning, IPS, Intraksi Manusia terhadap Lingkungan

Hasil belajar IPS khususnya materi Intraksi Manusia Dengan Lingkungannya belum
mencapai KKM. Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil pre test yang telah dilakukan pada
semester ganjil kelas V diperoleh hasil belajar baru terdapat 3 siswa yang mencapai nilai
KKM atau 21,42%. Sedangkan 11 siswa belum mencapai nilai KKM atau 78,87%. Oleh
karena itu, perlu adanya tindakan untuk memperbaiki model pembelajaran serta media yang
digunakan oleh guru, guna meningkatkan hasil belajar siswa.

Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan dua siklus. Setiap
siklus mencakup tahapan: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi.
Dalam pengumpulan data penulis menggunakan tekhik observasi, tes formatif, catatan
lapangan dan dokumentasi. Sedangkan analisanya menggunakan tekhnik diskriftif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil observasi terhadap aktivitas
guru dan siswa serta hasil tes pada pra siklus, siklus I dan siklus II terjadi peningkatan,
dimana diperoleh data dari hasil belajar siswa sebelum dilaksanakannya tindakan yaitu
pada tahap pra siklus menunjukkan bahwa terdapat 3 siswa (21,42%) yang tuntas belajar
dan 11 siswa (78,87%) yang tidak tuntas belajar. Pada siklus I menunjukkan bahwa
terdapat 7 siswa (50%) yang tuntas dan 7 siswa (50%) yang belum tuntas. Sedangkan hasil
belajar pada siklus II menunjukkan bahwa terdapat 13 siswa yang tuntas (92,85%) dan 1
siswa (7,14%) yang belum tuntas dengan nilai rata-rata 85. Hal ini menunjukkan bahwa
penerapan model discovery learning pada IPS materi intraksi manusia dengan
lingkungannya mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karuniaNya kepada penulis, sehingga karya tulis ilmiah Penelitian Tindakan
Kelas ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan oleh Allah SWT
kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang senantiasa kita jadikan contoh
dan suri teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Penulisan karya ilmiah dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas ini dimaksudkan
untuk tugas dalam pelaksanaan PPL kegiatan PPG Daljab tahun 2020 angkatan 2 GK 2
pada Universitas Pakuan. Keberhasilan penulisan karya ilmiah ini berkat dukungan dari
berbagai pihak, baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, pada kesempatan
ini dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada:

1. Ibu Lina Novita, M.Pd selaku dosen PPG yang telah memberikan motivasi dalam
penelitian ini.

2. Ibu Mia Kurniasih, S.Pd selaku guru pamong PPG yang telah memberikan support dan
dukungan dalam penyusunan PTK ini.

3. Ibu Rianty, M.Pd (Admin kelas GK 2) yang senantiasa memberikan masukan dan
bimbingan dalam penyusunan PTK ini.

4. Budi Mulyana, S.Pd (Kepala Sekolah SDN 5 Kebayakan) yang telah banyak
memberikan motivasi, saran dan masukan dalam penyusunan PTK ini.

5. Hj. Kamariah, S.Pd (Kepala Sekolah SDN 4 Pegasing) yang telah memberikan izin
dalam pelaksanaan penelitian ini.

6. Guru SDN 4 Pegasing selaku teman sejawat yang selalu mendukung dalam penelitian
ini.

Penulis menyadari akan segala keterbatasan dari isi maupun tulisan karya ilmiah
ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat

diharapkan demi perbaikan PTK ini. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan
manfaat dan kontribusi bagi pengembangan pembelajaran disekolah dasar.

Aceh Tengah, 4 November 2020
Penulis

Marwansyah

DAFTAR ISI

Lembar judul ......................................................................................................... i
Abstrak .................................................................................................................. ii
Kata pengantar....................................................................................................... iii
Daftar isi................................................................................................................ iv

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

A. Latar belakang ........................................................................................... 1
B. Rumusan masalah...................................................................................... 4
C. Tujuan penelitain ....................................................................................... 5
D. Manfaat penelitian ..................................................................................... 5
E. Hipotesis tindakan dan indikator keberhasilan.......................................... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ................................................................................ 8

A. Hasil belajar............................................................................................... 8
a. Ciri-ciri belajar .................................................................................... 8
b. Prinsip-prinsip belajar ......................................................................... 9

B. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).................................................................. 10
1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).......................................... 10
2. Tujuan dan fungsi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).............................. 10

C. Model Discovery Learning........................................................................ 12
a. Pengertian model discovery learning .................................................. 12
b. Kelebihan model discovery learning................................................... 13
c. Langkah-langkah pembelajaran dengan menggungan model discovery
learning................................................................................................ 14
d. Aplikasi model discovery learning dalam pembelajaran IPS.............. 15
e. Intraksi manusia dengan lingkungannya ............................................. 17

D. Kajian hasil penelitian terdahulu ............................................................... 20

E. Kerangka pikir penelitian .......................................................................... 21
F. Hipotesis tindakan ..................................................................................... 22

BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN ........................................ 23

A. Rancangan penelitian ................................................................................ 23
a. Subjek penelitian ................................................................................. 23
b. Langkah-langkah penelitian ................................................................ 24
25
B. Setting Penelitian....................................................................................... 26
C. Tekhnik Pengumppulan Data .................................................................... 26
26
1) Observasi............................................................................................. 26
2) Soal Evaluasi ....................................................................................... 26
3) Dokumentasi ....................................................................................... 27
D. Instrumen Penelitian..................................................................................
E. Tekhnik Pengolahan Data..........................................................................

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................................... 30

A. Gambaran umum tempat penelitian........................................................... 30
1. Profil SDN 4 Pegasing ........................................................................ 30
2. Keadaan guru dan siswa SDN 4 Pegasing .......................................... 30
3. Subjek penelitian ................................................................................. 31
32
B. Diskripsi pelaksanaan siklus I ................................................................... 36
C. Hasil penelitian.......................................................................................... 36
38
1. Analisis data pra siklus........................................................................ 44
2. Diskripsi siklus I.................................................................................. 50
3. Diskripsi siklus II ................................................................................
D. Pembahasan hasil penelitian......................................................................

BAB V PENUTUP................................................................................................ 53

A. Kesimpulan................................................................................................ 53
B. Saran .......................................................................................................... 54

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 56

LAMPIRAN .......................................................................................................... 58

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1.................................................................................................................... 36
Table 4.1.................................................................................................................... 37
Table 4.3.................................................................................................................... 37
Table 4.4.................................................................................................................... 38
Table 4.5.................................................................................................................... 4.3
Table 4.6.................................................................................................................... 45
Tebel 4.7.................................................................................................................... 47
Table 4.8.................................................................................................................... 49
Table 4.9.................................................................................................................... 51
Table 4.10.................................................................................................................. 53
Table 4.11.................................................................................................................. 54
Table 4.12.................................................................................................................. 56
Table 4.13.................................................................................................................. 57



BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pada hakikatnya belajar adalah suatu proses dan usaha yang dilakukan secara

sadar dan terus menerus melalui bermacam- macam aktivitas dan pengSosialan demi
memperoleh pengetahuan baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku yang
lebih baik. Perubahan tersebut bisa ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti
perubahan dalam hal pemahaman, pengetahuan, perubahan sikap, dan tingkah laku.
Jadi jelaslah bahwa perubahan tingkah laku akibat belajar seseorang itu tidak akan
terjadi tanpa adanya aktivitas dan usaha yang disengaja. Proses pembelajaran yang
baik adalah proses suatu proses yang memungkinkan tergalinya suatu potensi pesera
didik secara optimal. Pada proses pembelajaran, peserta didik diupayakan untuk aktif
dalam belajar dan berkomunikasi. Komunikasi yang diharapkan tidak hanya
komunikasi guru dengan peserta didik. Tetapi juga antara peserta didik dengan
peserta didik, peserta didik dengan kelompok, dan antara kelompok peserta didik
dengan guru. Namun pada proses pembelajaran yang sebenarnya masih sering terjadi
interaksi satu arah, di mana guru aktif mendominasi materi pelajaran.

Keberhasilan pembelajaran dapat ditunjukkan dengan pencapaian tujuan
pembelajaran berupa ketuntasan hasil belajar siswa. Adapun salah satu faktor
keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah faktor kemampuan guru dalam
merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang efektif
tidak dapat muncul dengan sendirinya. Guru harus menciptakan pembelajaran yang
memungkinkan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara optimal.

1

Depdiknas menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan
integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial dan humaniora, yaitu: sosiologi,
sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu pengetahuan sosial
dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan
interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu sosial.

Rendahnya hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) khususnya pada aspek
kognitif disebabkan oleh masih dominannya kemampuan menghafal dan kemampuan
memproses sendiri pemahaman suatu materi. Selama ini, hasil dan aktivitas belajar
siswa terhadap mata pelajaran IPS masih tergolong sangat rendah. Hal ini dapat dilihat
dari sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran seperti tidak fokus, cepat
bosan, mengantuk, dan ramai sendiri. Faktor hasil belajar juga dipengaruhi oleh model
pembelajaran dan media yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran.
Metode konvensional seperti menjelaskan materi secara abstrak tanpa media
pembelajaran, pengajar yang mendominasi kelas, dan siswa hanya fokus melihat dan
mendengarkan mengakibatkan siswa kurang aktif sehingga pembelajaran menjadi
kurang efektif.

Dimasa pandemi covid-19 ini, seorang guru dituntut untuk dapat menciptakan
suasana pembelajaran yang menyenangkan melalui belajar daring sehingga siswa
memiliki minat yang tinggi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain itu, guru
juga belum maksimal menggunakan variasi model, media pembelajaran, penguasan
tekhnologi secara maksimal dalam pembelajaran sehingga siswa menjadi lebih
tertarik untuk belajar secara daring.

Berdasarkan hasil pre test yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar materi IPS khususnya pada aspek kognitif dari 14 siswa pada kelas V SD
Negeri 4 Pegasing, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, baru terdapat 3

2

siswa yang mencapai nilai KKM atau 21,42%. Sedangkan 11 siswa belum mencapai
nilai KKM atau 78,87%. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan untuk memperbaiki
model pembelajaran serta media yang digunakan oleh guru, guna meningkatkan hasil
belajar siswa.

Jika keadaan seperti itu dibiarkan terus-menerus, dikhawatirkan dapat
mengakibatkan kerugian baik bagi siswa, guru, maupun sekolah. Siswa akan
cenderung tidak menyukai mata pelajaran IPS karena mereka berpikir bahwa
pelajaran IPS adalah pelajaran yang sangat membosankan dan kemudian berimbas
pada hasil belajar siswa khususnya pada aspek kognitif, guru yang merupakan
penanggung jawab pembentukan moral siswa di sekolah dapat dianggap belum
berhasil, dan sekolah akan dianggap belum mampu meningkatkan kualitas
pembelajaran khususnya pada materi pembelajaranIPS.

Sehubungan dengan hasil belajar IPS khususnya pada aspek kognitif siswa kelas
V SD Negeri 4 Pegasing, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah masih ada
yang di bawah kriteria ketuntasan minimal belajar dengan nilai minimal ketuntasan
adalah 70, penulis mencoba menggunakan model pembelajaran discovery learning
dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga
membangkitkan minat, motivasi, dan keaktifan siswa selama proses
pembelajaran yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa
khususnya pada materi pembelajaran IPS.

Alasan penulis menerapkan model pembelajaran ini yaitu karena penulis
merujuk pada penelitian-penelitian sebelumnya yang menerapkan model pembelajaran
tersebut terutama pada materi pembelajaran IPS dan dari penelitian-penelitian tersebut
ternyata banyak yang berhasil meningkatkan minat, motivasi, keaktifan, dan hasil
belajar siswa.

3

Model Discoveri Learning adalah salah satu model pembelajaran yang
mengkondisikan peserta didik untuk terbiasa menemukan, mencari, dan mendikusikan
sesuatu yang berkaitan dengan pengajaran. Model pembelajaran ini mengutamakan
peran guru dalam menciptakan situasi belajar yang melibatkan peserta didik belajar
secara aktif dan mandiri. Kegiatan pembelajaran menekankan agar peserta didik
terlibat langsung dalam pembelajaran sehingga peserta didik dapat mengsosiali dan
menemukan sendiri konsep-konsep yang harus ia kuasai. Model Discovery learning
akan membuat pembelajaran lebih bermakna karena akan mengubah kondisi belajar
yang pasif menjadi aktif dan kreatif serta mengubah pembelajaran yang semula
teacher centred ke student centred. Dengan demikian diharapkan peserta didik lebih
memahami materi pembelajaran yang disampaikan.

Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, maka perlu diadakan
penelitian tindakan kelas sebagai upaya perbaikan proses pembelajaran konsep dalam
mata pelajaran IPS, dengan melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul:
“Penerapan Model Discovery learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Konsep Intraksi Manusia Dengan Lingkungannya . (Penelitian Tindakan Kelas
pada Peserta Didik Kelas V Sekolah Dasar Negeri 4 Pegasing Kecamatan Pegasing
Kabupaten Aceh Tengah Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2020/2021)

B. RUMUSAN MASALAH
Merujuk pada latar belakang yang telah dipaparkan, peneliti merumuskan

masalah utama dalam penelitian ini yaitu:
1. Apakah ada peningkatan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran IPS materi

intraksi manusia dengan lingkungannya melalui penerapan Model Discovery
learning di SDN 4 Pegasing?

4

2. Bagaimana penerapan Model Discovery learning pada proses pembelajaran konsep
intraksi manusia dengan lingkungannya di SDN 4 Pegasing?

C. TUJUAN PENELITIAN

Sejalan dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dari
penelitian ini secara umum adalah “Untuk memperoleh dan mendeskripsikan data
mengenai penerapan Model Discovery learning untuk meningkatkan pembelajaran
konsep intraksi manusia dengan lingkungannya di kelas V SDN 4 Pegasing. Secara
khusus tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui apakah ada peningkatan hasil belajar peserta didik pada
pembelajaran IPS materi intraksi manusia dengan lingkungannya melalui
penerapan Model Discovery learning di SDN 4 Pegasing.

2. Untuk memperoleh dan mendeskripsikan data mengenai peningkatan pembelajaran
konsep intraksi manusia dengan lingkungannya melalui penerapan Model
Discovery learning di SDN 4 Pegasing.

D. MANFAAT HASIL PENELITIAN

Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Praktis
a. Bagi Peserta didik
1. Meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai materi intraksi manusia
dengan lingkungannya.
2. Mendorong peserta didik lebih aktif, kreatif, dan berani mengungkapkan
pendapat.
5

3. Mendapatkan pengajaran yang konkrit yaitu tidak hanya sekedar konsep
melainkan proses suatu kejadian.

4. Menjadikan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga peserta
didik termotivasi dan merasa antusias dalam mengikuti pembelajaran.

b. Bagi guru
1. Meningkatnya kemampuan guru dalam mengatasi kendala pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
2. Dapat memberikan inspirasi bagi guru untuk melakukan proses belajar
pembelajaran deng.an menggunakan model pembelajaran yang inovatif
sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan.
3. Melatih keprofesionalan seorang guru dalam mengembangkan model
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik

c. Bagi sekolah
1. Hasil penelitian dapat dijadikan acuan dalam upaya pengadaan inovasi
pembelajaran bagi para guru lain dalam mengajarkan materi.
2. Sebagai masukan dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas
pembelajaran secara intensif dan menggunakan model pembelajaran yang
lebih inovatif agar kualitas pembelajaran lebih efektif khususnya pada
kualitas sekolah.

2. Manfaat teoritis
Melalui kegiatan penelitian ini diharapkan diperoleh suatu model pembelajaran
yang tepat dalam melaksanakan pembelajaran IPS sebagai salah satu upaya
meningkatkan pemahaman pembelajaran IPS khususnya materi Intraksi manusia
dengan lingkungannya yang nantinya dapat dijadikan sebagai refrensi bagi peneliti
selanjutnya.

6

E. Hipotesis Tindakan dan Indikator Keberhasilan
Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, peneliti mengambil hipotesis

bahwa ada peningkatan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran IPS materi
intraksi manusia dengan lingkungannya melalui penerapan Model Discovery learning
di SDN 4 Pegasing dan penerapan Model Discovery learning pada proses
pembelajaran konsep intraksi manusia dengan lingkungannya di SDN 4 Pegasing.

Pembelajaran IPS melalui model pembelajaran discovery learning dikatakan
berhasil jika indikator yang telah ditetapkan dapat tercapai. Indikator pencapaian
prestasi belajar dibuat untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.
Indikator pencapaian hasil belajar merupakan acuan yang digunakan dalam
melakukan penelitian. Berdasarkan hal tersebut, indikator keberhasilan yang
ditetapkan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
1. Secara Individu

Siswa dapat mencapai nilai ≥ 70 sesuai dengan KKM yang telah ditentukan oleh
SDN 4 Pegasing pada pembelajaran IPS kelas V.
2. Secara Klasikal
Siklus akan berhenti apabila ≥ 80% dari total siswa dalam satu kelas mendapat
nilai ≥ 70.

7

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah sejumlah pengsosialan yang diperoleh siswa yang

mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Belajar tidak hanya penguasaan
konsep teori mata pelajaran saja, tetapi juga penguasaan kebiasaan, persepsi,
kesenangan, minat bakat, penyesuaian sosial, macam-macam keterampilan, cita-cita,
keinginan, dan belajar (Rusman, 2016: 67).

Menurut Benyamin S. Bloom, hasil belajar kognitif mencakup hasil belajar
mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, dan mengevaluasi. Siswa
dikatakan dapat memahami bila mereka dapat merekonstruksi makna dari pesan-
pesan pembelajaran. Sedangkan kemampuan evaluasi adalah kemampuan membuat
penilaian dan mengambil keputusan dari penilaian tersebut (Purwanto, 2011: 51).
Menurut Matondang, dkk (2019: 4), evaluasi merupakan suatu proses atau kegiatan
pemilihan, pengumpulan, analisis dan penyajian informasi yang dapat digunakan
sebagai dasar pengambilan keputusan serta penyusunan program selanjutnya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah
suatu hasil yang diperoleh siswa setelah siswa tersebut melakukan kegiatan belajar
dan pembelajaran yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
a. Ciri-ciri Belajar

Belajar memiliki ciri-ciri khusus. Dari pendapat beberapa ahli tentang
definisi belajar, Bahruddin dan Esa Nur Wahyuni dalam bukunya menyimpulkan
beberapa ciri-ciri belajar, yaitu:

8

1) Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change behavior). Ini
berarti bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku, dari
tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil. Tanpa
mengamati tingkah laku hasil belajar, maka tidak akan mengetahui ada
tidaknya hasil belajar.

2) Perubahan perilaku relatif permanen. Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku
yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-
ubah. Tetapi perubahan perilaku terebut tidak akan terpancang seumur hidup.

3) Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses
belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial.

4) Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengSosialan.
5) Pengsosialan atau latihan itu dapat memberikan penguatan. Sesuatu yang

memperkuat itu akan memberikan semangat atau dorongan untuk mengubah
tingkah laku (Fathurrohman, 2016: 8-9).

b. Prinsip-prinsip Belajar
Menurut Slameto dalam bukunya menjelaskan bahwa prinsip belajar yaitu:

a) Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif, meningkatkan
minat, dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional.

b) Belajar harus dapat menimbulkan penguatan dan motivasi yang kuat pada siswa
untuk mencapai tujuan instruksional.

c) Belajar perlu lingkungan yang menantang di mana anak dapat mengembangkan
kemampuannya bereksplorasi dan belajar yang efektif.

d) Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya .

9

B. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Susanto (2014: 6) menjelaskan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial dan humaniora, yaitu:
sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu
pengetahuan sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang
mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu
sosial di atas.

Sedangkan menurut Soemantri dalam bukunya menjelaskan bahwa Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) adalah program pendidikan yang memilih bahan
pendidikan dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humanity (ilmu pendidikan dan
sejarah) yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan
pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan kebudayaan Indonesia (Siska,2016:
6-7).

2. Tujuan dan Fungsi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
IPS merupakan mata pelajaran yang lebih mengarah untuk mempersiapkan

peserta didik supaya lebih siap untuk berpartisipasi dalam masyarakat,
khususnya di kehidupan sehari-hari. Jika dikaji kembali dengan melihat GBPP
1994 Mata Pelajaran IPS, pendidikan IPS di Sekolah Dasar memiliki sumbangan
yang sangat besar dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan dasar, di antaranya
yaitu:

1. Memberikan perbekalan pengetahuan tentang manusia dan seluk beluk
kehidupannya dalam asta-gatra kehidupan.

2. Membina kesadaran, keyakinan, dan sikap pentingnya hidup bermasyarakat
dengan penuh rasa kebersamaan, bertanggung jawab, dan manusiawi
10

(menghargai derajat-martabat sesama. Penuh kecintaan dan rasa
kekeluargaan).
3. Membina keterampilan hidup bermasyarakat dalam negara Indonesia yang
berlandaskan Pancasila.
4. Menunjang terpenuhinya bekal kemampuan dasar peserta didik dalam
mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga
negara, dan anggota umat manusia.
5. Membina perbekalan dan kesiapan untuk belajar lebih lanjut atau
melanjutkan ke jenjang lebih tinggi (Siska, 2016: 12).

Lebih lanjut, Sardjiyo, dkk (2009: 28) menyebutkan beberapa tujuan IPS
sebagai berikut:

1) Membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang bergunadalam
kehidupannya kelak di masyarakat.

2) Membekali peserta didik dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisis,
dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam
kehidupan masyarakat.

3) Membekali anak didik dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama
warga masyarakat dan berbagai bidan keilmuan serta keahlian.

4) Membekali anak didik dengan kesadaran, sikapmental yang positif, dan
keterampilan terhadap pemanfaatan lingkungan hidup yang menjadi bagian
dari kehidupan tertentu.

5) Membekali anak didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan
keilmuan IPS sesuai dengn perkembangan kehidupan , masyarakat, ilmu
pengetahuan, dan teknologi.

11

Adapun fungsi mata pelajaran IPS menurut Kurikulum Ilmu Pengetahuan
Sosial Tahun 2006, fungsi mata pelajaran IPS adalah mengembangkan nilai,
sikap, dan keterampilan sosial peserta didik agar dapat direfleksikan dalam
kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia (Siska, 2016: 13).

C. Model Discovery learning

a. Pengertian model Discovery learning

Menurut Sund dalam http://ofiick.blogspot.com/2012/11/model-

pembelajaran-penemuan-terbimbing.html, model pembelajran penemuan

terbimbing (Discovery learning ) adalah proses mental dimana siswa mampu

mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang dimaksud dengan proses

mental antara lain ialah : mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan,

membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya.

Dalam teknik ini siswa dibiarkan untuk menemukan sendiri atau mengSosiali

proses mental itu sendiri, guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing apabila

diperlukan atau apabila ada yang dipertanyakan.

Sebagaimana diungkapkan oleh Jerome Bruner, Bruner menganggap bahwa

belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia,

dan dengan sendirinya memberi hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk

mencari pemecahan masalah sera pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan

pengetahuan yang benar-benar bermakna (Ratna Wilis Dahar (2006:79). Dari teori

belajar Bruner, intinya perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaksi,

dan orang mengkanstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi

yang masuk dengan informasi yang disimpan atau diperoleh sebelumnya.

Belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia

dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik.
12

Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa model Discovery
adalah model pembelajaran yang mengarahkan siswa kepada data-data serta
informasi yang telah disediakan oleh guru untuk diolah sendiri oleh siswa dengan
bimbingan guru untuk kemudian siswa sendiri menemukan sebuah prinsip umum
dari data dan informasi yang disediakan tersebut.
b. Kelebihan model Discovery learning

Dalam penggunaan model discovery learning ini guru berusaha
meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Maka model ini
memiliki kelebihan sebagai berikut:
• Model ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak

kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif siswa.
• Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi individual

sehingga dapat kokoh/mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut.
• Dapat membangkitkan kegairahan belajar mengajar para siswa.
• Model ini mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang

dan maju sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
• Mampu mengarahkan cara siswa belajar, sehingga lebih memiliki motivasi yang

kuat untuk belajar lebih giat.
• Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri

sendiri dengan proses penemuan sendiri.
Strategi itu berpusat pada siswa tidak pada guru. Guru hanya sebagai teman

belajar saja atau sebagai fasilitator, membimbing siswa dalam kegiatan belajar
mengajar.
c. Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan model Discovery
learning

13

Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan model Discovery
learning adalah sebagai berikut:
1) Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan). Pertama-tama pada tahap ini

pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian
dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk
menyelidiki sendiri.
2) Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah). Setelah dilakukan
stimulation langkah selanjutaya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan
dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam
bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah).
3) Data collection (pengumpulan data). Ketika eksplorasi berlangsung guru juga
memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya
hipotesis. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau
membuktikan benar tidak hipotesis, dengan demikian anak didik diberi
kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan,
membaca literature, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber,
melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
4) Data processing (pengolahan data). Data processing merupakan kegiatan
mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui
wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Data processing disebut
juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai
pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan

14

mendapatkan penegetahuan baru tentang alternatif jawaban/penyelesaian yang
perlu mendapat pembuktian secara logis.
5) Verification (pentahkikan/pembuktian). Bertujuan agar proses belajar akan
berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui
contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
6) Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi). Tahap generalitation/
menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat
dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang
sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi. Atau tahap dimana berdasarkan
hasil verifikasi tadi, anak didik belajar menarik kesimpulan atau generalisasi
tertentu. Akhirnya dirumuskannya dengan kata-kata prinsip-prinsip yang
mendasari generalisasi.

d. Aplikasi Model Discovery learning dalam Pembelajaran IPS
Model pembelajaran ini dapat diaplikasikan pada mata pelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial materi intraksi manusia dengan lingkungannya yang
meliputi perencanaannyam tahap-tahap pelaksanaannya dan evaluasinya.
1. Perencanaan

a. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya
belajar, dan sebagainya).

b. Menentukan tujuan pembelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik.
c. Menentukan materi yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari

contoh-contoh generalisasi).
d. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh,

ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
15

e. Mengatur materi pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang
konkrit ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.

f. Mempersiapkan penilaian proses dan hasil belajar siswa
2. Pelaksanaan pembelajaran:

a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan).
Memberikan rangsangan kepada siswa dengan memberikan permasalahan
kepada siswa baik itu pertanyaan, maupun sesuatu yang harus dibuktikan.
Permasalahan yang diberikan kepada siswa tentunya berhubungan dengan
materi intraksi manusia dengan lingkungannya baik itu permasalahan
berupa intraksi manusia antar individu, antar individu dengan kelompok
maupun antar sesame kelompok kehidupan sehari-hari.

b. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah).
Berdiskusi untuk mengidentifikasi sebuah masalah yang telah ditentukan
oleh guru. Identifikasi masalah ini bisa dimulai dari contoh intraksi
manusia dengan lingkungannya yang sering siswa lihat dikehidupan
sehari-hari yang kemudian mereka analisis serta mengidentifikasi masalah
berbagai pengaruh intraksi tersebut.

c. Data collection (pengumpulan data)
Pengumpulan data dilakukan untuk mencari kebenaran data dari hasil
identifikasi siswa. Pengumpulan data bisa dilakukan dengan cara
wawancara, observasi, angket dan sebagainya. Pada materi ini
pengumpulan data bisa dilakukan dengan cara pemberian lembar kegiatan
observasi untuk selanjutnya oleh siswa dilaksanakan dengan tujuan
membuktikan kebenaran data yang telah didapatkan sebelumnya.

16

Observasi yang dilakukan akan lebih menekankan pada pembuktian dari
tekhnik penerapan model discovery learning dalam proses pembelajaran.
d. Data processing (pengolahan data)
Data yang telah diperoleh pada saat pengumpulan data kemudian diproses
dan disusun secara sistematis oleh siswa, baik itu dengan berupa tabel
maupun laporan sederhana yang tidak terstruktur.
e. Verification (pembuktian)
Setelah data dapat diolah, siswa mencari contoh-contoh intraksi manusia
yang berdampak pada persatuan dan intraksi manusia yang berdampak
pada perpecahan yang sering mereka temukan dalam kehidupan sehari-
hari dan menanyakan kepada dokter atau bidan desa yang ada disekitar
lingkungan tempat tinggal mereka untuk lebih memperdalam pemahaman
mereka.
f. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Menarik kesimpulan dari keseluruhan kegitan yang telah dilaksanakan
untuk selanjutnya menjawab dan memecahkan masalah. Kesimpulan yang
akan didapatkan oleh siswa adalah berupa cara-cara yang digunakan oleh
untuk menjaga dan memelihara intaksi yang baik dengan lingkungan dan
jenis-jenis intraksi yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

e. Interaksi Manusia dengan Lingkungannya
Lingkungan alam adalah lingkungan yang terbentuk secara alamiah tanpa

campur tangan manusia. Lingkungan alam mencakup semua benda hidup dan tak
hidup yang terjadi secara alamiah di bumi. Lingkungan alam terdiri atas
komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala sesuatu yang ada
di lingkungan yang bukan makhluk hidup. Lingkungan biotik adalah segala benda

17

hidup yang ada di lingkungan. Dalam lingkungan alam terjadi interaksi antara
lingkungan abiotik dengan lingkungan biotik atau sebaliknya. Bahkan, antar
komponen lingkungan biotik dan abiotik juga terjadi saling ketertarikan. Contoh
interaksi antara komponen abiotik dengan komponen biotik adalah tanah, suhu,
dan curah hujan yang mempengaruhi jenis tanaman yang tumbuh di suatu daerah.

Interaksi manusia dengan alam dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu
interaksi yang menyesuaikan diri dengan alam dan interaksi yang mendominasi
alam. Interaksi manusia yang menyesuaikan diri dengan alam contohnya adalah
hidup dekat dengan sumber makanannya, manusia menyesuaikan waktu tanam
dengan musim penghujan, dan nelayan yang menyesuaikan cuaca ketika akan
menangkap ikan. Sedangkan interaksi manusia yang mendominasi alam yaitu
pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh manusia membuat manusia
cenderung melakukan upaya untuk mengambil sumber daya alam. Contohnya
yaitu para ilmuwan membuat hujan buatan untuk menanggulangi kemarau dan
menciptakan alat canggih untuk mengambil minyak bumi dari dasar laut (Husain,
2019: 65-66).

a) Pengaruh Negatif Interaksi Manusia dengan Lingkungan Alam
Manusia yang hidup tentu saja memiliki hubungan dengan

lingkungan hidupnya, termasuk mempengaruhi alam baik secara positif
maupun negatif. Manusia dengan segala perilakunya dapat membuat alam
menjadi rusak. Tipikal manusia yang kurang peduli dan tidak mau belajar
untuk lebih peduli dengan alam cenderung semakin semakin memperburuk
hubungan manusia dengan alam.

Dengan demikian, antara manusia dengan lingkungan memiliki
hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Pada masa ini, permasalahan

18

lingkungan muncul justru karena kemampuan manusia dalam menguasai
alam, memanfaatkan alam seluas-luasnya untuk kebutuhan dan
kepentingannya. Selain itu, perkembangan serta implementasi ilmu
pengetahuan dan teknologi yang kurang bijak dan tidak berwawasan
lingkungan turut berpengaruh pada pergeseran dan perubahan lingkungan
(Siska, 2016: 37-39).
b) Pengaruh Interaksi terhadap Pembangunan Sosial, Budaya, dan Ekonomi
Masyarakat Indonesia

Manusia tidak dapat hidup sendiri untuk memenuhi seluruh
kebutuhan hidupnya. Manusia cenderung hidup berkelompok dan
bermasyarakat. Beradaptasi dengan lingkungan artinya ikut terlibat dengan
perilaku, aturan, nilai, norma, kepercayaan, dan adat istiadat yang berlaku
di lingkungan tersebut. Perilaku, aturan, nilai, norma, kepercayaan, dan
adat istiadat adalah bagian dari kebudayaan. Kebudayaan merupakan satu
unsur penting yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Melalui kebudayaan
itu, dapat terlihat ciri khas setiap suku.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia melakukan interaksi dengan
lingkungan ekonominya. Mereka melakukan aktivitas ekonomi dengan
memanfaatkan sumber daya ekonomi yang tersedia. Sumber daya ekonomi
adalah alat yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, baik
berupa barang maupun jasa. Sumber daya alam, tenaga kerja, modal, dan
kewirausahaan merupakan sumber daya ekonomi (Mudikawati, 2018: 333-
334).

19

D.. Kajian Hasil Penelitian Terdahulu
Ichmarunto (2014) dengan judul “Penerapan Model Discovery Untuk

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Tentang Perubahan Kenampakan Bulan Di
Kelas IV SDN 6 Arjawinangun Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon”.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model Model Discovery pada
pembelajaran IPS di Kelas IV SDN 6 Arjawinangun dapat dilaksanakan dengan
efektif. Hal ini ditunjukkan pada peningkatan hasil belajar peserta didik. Data hasil
penelitian menunjukan bahwa sebelum diberikan tindakan dari 25 jumlah peserta
didik keseluruhan di kelas IV hanya tujuh orang memenuhi KKM sebesar 70 pada
mata pelajaran IPS. Kemudian naik menjadi 10 orang pada siklus I, kemudian pada
siklus II naik lagi menjadi 18 orang, dan pada siklus III semua siswa dapat
dinyatakan tuntas berdasarkan KKM.

Yunari, Naviah (2012) dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Siswa
Melalui Penerapan Model Discovery learning Materi Pecahan Di Kelas III SDN 1
Wonorejo Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung”. Dari hasil penelitian
yang telah dilaksanakan dengan penerapan model discovery learning , diperoleh
peningkatan hasil belajar matematika materi pecahan pada siswa di kelas III.
Peningkatan hasil belajar dari pratindakan, siklus I ke siklus II sebagai berikut.
Pada tahap pra tindakan rata-rata nilai kelas 53,73 dengan prosentase ketuntasan
32%. Siklus I dari pertemuan 1 ke pertemuan 2 mengSosiali peningkatan rata-rata
sebesar 3,16 dengan peningkatan persentase ketuntasan secara klasikal sebesar
10%. Siklus II dari pertemuan 1 ke pertemuan 2 mengsosiali peningkatan rata-rata
sebesar 9,22 dengan peningkatan persentase ketuntasan secara klasikal sebesar
16%.

20

Merujuk dari beberapa temuan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan
model Discovery learning , peneliti merasa tertarik untuk menggunakan model
tersebut dalam meningkatkan pemahaman belajar peserta didik. Peneliti yakin
dengan model Discovery learning ini, akan dapat meningkatkan pembelajaran IPS
khususnya materi intraksi manusia dengan lingkungannya .

E.. Kerangka Pikir Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan kajian teori yang dipaparkan diatas,

dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar khususnya di kelas V SDN 4 Pegasing
masih terdapat banyak permasalahan pembelajaran yang perlu dicarikan jalan
keluarnya sehingga usaha perbaikan hasil belajar dapat mencapai hasil yang
diharapkan (mencapai ketuntasan yang di tetapkan). Salah satunya adalah dengan
penerapan model Discovery learning . Model Discovery learning diprediksi akan
meningkatkan pembelajaran konsep Intraksi manusia dengan lingkungannya pada
mata pelajaran IPS dengan alasan-alasan berikut :

Materi Pembelajaran IPS
Pokok bahasan : Intraksi Manusia dengan lingkungannya

Kompetensi Dasar:
3.2 Menganalisis bentuk-bentuk interaksi manusia dengan lingkungan dan pengaruhnya

terhadap pembangunan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Indonesia.

Kelebihan model Pembelajaran Konsep
pembelajaran Discovery Learning: Proses pembelajaran:
• Teknik ini mampu membantu siswa 1. Perolehan informasi
2. Mentransformasikan
untuk mengembangkan penguasaan
keterampilan dalam proses kognitif. informasi yang diterima
• Siswa memperoleh pengetahuan yang 3. Menguji relevansi dan
bersifat individual
• Dapat membangkitkan kegairahan ketepatan pengetahuan
belajar
• Mampu memotivasi Peningkatan HAsil Belajar
• Membantu siswa untuk memperkuat Hasil Belajar
dan menambah kepercayaan pada diri Meliputi beberapa aspek
sendiri dengan proses penemuan 1. Kognitif
sendiri. 2. Afektif
3. Psikomotor
21

Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, kelebihan dari Model Discovery
learning diprediksi dapat meningkatkan pembelajaran konsep intraksi manusia
dengan lingkungannya pada mata pelajaran IPS yang nantinya akan berpengaruh
pula pada hasil pembelajaran peserta didik yang meliputi aspek kognitif, afektif
dan psikomotor.

Keberhasilan penggunaan model discoveri learning dalam pembelajaran
konsep intraksi manusia dengan lingkungannya dengan sendirinya akan dapat
meningkatkan hasil belajar (kognitif, psikomotor), terutama pada pemahaman
konsep. Untuk dapat mencapai tujuan perbaikan kualitas pembelajaran konsep
intraksi manusia dengan lingkungannya pada kelas V di SDN 4 Pegasing, peneliti
menyusun pembelajaran dengan penerapan model discovery learning melalui
pelaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), peneliti berkolaborasi dengan guru
kelas. PTK akan dilaksanakan dengan 2 siklus. Siklus I menekankan kompetensi
mediskripsikan dan siklus II menekankan kompetensi relevansi materi dengan
kenyataan dalam kehidupan sehari-hari.

f. Hipotesis Tindakan
Menurut Ir. I Made Wirartha, M.Si, (2006:25) Hipotesis merupakan tesis

(kesimpulan) yang hipo (tarafnya rendah).Jadi hipotesis merupakan kesimpulan
yang tarafnya rendah, disebut demikian karena belum diuji oleh kenyataan
empiriknya.Oleh sebab itu pula disebut kesimpulan teoritis.

Dalam penelitian ini hipotesis yang digunakan dalam masalah penelitian
tindakan kelas dapat dirumuskan sebagai berikut : “ada peningkatan dalam
pembelajaran konsep intraksi manusia dengan lingkungannya dengan
menggunakan Model Discovery learning di kelas V SDN 4 Pegasing”

22

BAB III
METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Kurniawan

(2017: 8) PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh pendidik di kelasnya sendiri
melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki mutu serta kualitas proses
pembelajaran di kelas sehingga hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.

Model penelitian tindakan kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah
model yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart. Penelitian tindakan dapat
dIPSndang sebagai suatu siklus spiral dari penyusunan perencanaan, pelaksanaan
tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi yang selanjutnya mungkin diikuti
dengan siklus spiral berikutnya.

a. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 4 Pegasing yang berjumlah 14

anak yang terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan.
b. Langkah-langkah Penelitian

23

Penelitian tindakan kelas memiliki tahapan kegiatan yang terdiri dari dua
siklus atau lebih tergantung dalam implementasinya. Setiap siklus dirancang
dengan melalui tahapan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.
a) Tahap Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan sebelum penelitian yaitu dengan melakukan
observasi secara umum untuk mengetahui gambaran awal yang akan di jadikan
subyek penelitian. Peneliti juga melakukan wawancara dengan beberapa siswa,
selain itu peneliti merumuskan terlebih dahulu secara spesifik mengenai model,
desain, dan media pembelajaran yang akan digunakan pada pokok pembahasan
yang akan dijadikan obyek penelitian.

Setelah melakukan kegiatan di atas selanjutnya peneliti menyiapkan alat
peraga sebagai alat bantu dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Tahap
selanjutnya peneliti menyusun serta menentukan teknik pemantauan pada setiap
tindakan penelitian dengan menggunakan format observasi, catatan, dan
wawancara.
b) Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap pelaksanaan, peneliti menerapkan apa yang telah direncanakan
pada tahap satu, yaitu bertindak di kelas. Pelaksanaan tindakan menyangkut
strategi apa yang dilakukan peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau
perubahan yang dilaksanakan berpedoman pada rencana tindakan.
c) Pengamatan

Dalam kegiatan ini peneliti mengamati guru maupun siswa yang
bertujuan untuk memperoleh data hasil kinerja guru dan keaktifan siswa pada

24

saat pembelajaran. Peneliti juga mengamati bagaimana dampak dari tindakan
yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa.

d) Refleksi
Dalam kegiatan ini peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan

hasil- hasil atau dampak dari tindakan. Setiap informasi yang terkumpul perlu
dipelajari kaitan yang satu dengan lainnya dan kaitannya dengan teori atau hasil
penelitian yang telah ada dan relevan. Melalui refleksi dapat melakukan evaluasi
guna menyempurnakan tindakan berikutnya. Refleksi merupakan bagian yang
sangat penting dari PTK karena mencangkup analisi, sintesis dan penilaian
terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah
dari proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus
berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan
pengamatan ulang sehingga permasalahan teratasi.

B. Setting Penelitian
Setting dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah SDN 4 Pegasing Kabupaten Aceh Tengah.

b. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas V SDN 4 Pegasing yang berjumlah
14 orang.

c. Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini diprediksi selesai sesuai jadwal PPL 1 dan 2 pada kegiatan
praketek mengajar PPG Daljab Tahun 2020. Dimulai tanggal 19 Oktober sampai
16 November 2020.

25

C. Teknik Pengumpulan Data
1) Observasi
Observasi dilakukan untuk mengambil data melalui pengamatan terhadap
perubahan perilaku siswa pada proses belajar mengajar yang terjadi selama proses
penelitian. Observasi atau pengamatan yaitu pelaksanaan pengamatan oleh
pengamat yang dilakukan secara teliti dan melakukan pencatatan secara
sistematis. Observasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengamati aktivitas
siswa dan keterampilan guru dalam pembelajaran IPS menggunakan model
discovery learning selama pelaksanaan tindakan dalam penelitian berlangsung.

2) Soal Evaluasi
Evaluasi ini dilaksanakan setelah selesai pembelajaran dan dilakukan

secara individu. Bertujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam
memahami materi yang telah disampaikan dalam setiap tindakan, sehingga dapat
dijadikan sebagai tolak ukur untuk melanjutkan pada tindakan selanjutnya.

3) Dokumentasi
Pedoman dokumentasi digunakan untuk mendapatkan gambaran kegiatan

dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran discovery
learning . Dokumentasi ini nantinya juga digunakan sebagai bukti hasil penelitian
yang berupa gambar foto kegiatan penelitian.

D. Instrumen Penelitian
Kristanto (2018: 66) mengungkapkan bahwa instrumen penelitian adalah

alat yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data-data penelitian
sesuai dengan teknik pengumpulan data yang telah dipilih. Penarikan kesimpulan
penelitian ditentukan oleh data yang terjaring melalui instrumen penelitian. Bentuk

26

instrumen penelitian yang harus dibuat ditentukan oleh jenis teknik pengambilan
datanya. Oleh karena itu, teknik pengambilan data yang dipilih harus dapat
mencapai tujuan pengumpulan data yaitu untuk menjawab rumusan masalah.
Bentuk instrumen yang digunakan untuk memperoleh data adalah sebagai berikut:

1) Lembar Pengamatan, lembar pengamatan dalam penelitian ini digunakan untuk
mengamati aktivitas siswa dan keterampilan guru dalam pembelajaran IPS
menggunakan model pembelajaran discovery learning selama pelaksanaan
tindakan saat penelitian berlangsung.

2) Soal/alat tes, digunakan untuk mengukur dan mengetahui perkembangan,
kemampuan atau penguasaan prestasi belajar IPS siswa pada materi pengaruh
interaksi manusia terhadap lingkungannya . Tes dilakukan setiap akhir
pembelajaran dan setelah selesai satu bahasan/materi pokok.

3) Dokumentasi, instrumen ini digunakan untuk memberikan gambaran secara
konkret mengenai partisipasi siswa pada saat proses pembelajaran dan untuk
memperkuat data yang diperoleh. Dokumen tersebut berupa foto yang akan
memberikan gambaran secara konkret mengenai kegiatan siswa serta hasil tes
yang dilaksanakan pada akhir pertemuan dari akhir setiap siklus. Foto berfungsi
untuk merekam berbagai kegiatan penting di dalam kelas ataupun di luar kelas
dan menggambarkan partisipasi siswa ketika proses pembelajaran berlangsung.

E. Tekhnik Pengolahan dan Analisis Data
Untuk menganalisis data, peneliti melihat data yang diperoleh dari tiap-tiap

siklus. Disamping melihat presentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal,
peneliti juga melihat hasil dalam proses pembelajaran. Analisis data dan penyajian
hipotesis dimulai sejak awal sampai berakhirnya pengumpulan data yang

27

dikumpulkan secara intensif. Data yang diperoleh dari hasil observasi dan
wawancara dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif.

Dengan cara diorganisasikan, diklasifikasikan berdasarkan aspek- aspek yang
menjadi fokus analisis menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan dan prestasi
hasil belajar siswa dianalisis secara kuantitatif untuk memperoleh rata-rata, data yang
dianalisis secara kuantitatif meliputi lembar hasil kerja siswa secara individu.

Setelah data terkumpul dan di analisis, langkah selanjutnya adalah proses
pengolahan data yang di awali dengan menelaah seluruh data yang diperoleh dari
lembar observasi, aktivitas guru,dan lembar aktivitas siswa, lembar catatan lapangan,
dan lembar wawancara. Setelah data yang diperoleh di analisis dengan menentukan
presentase rata-rata kelas dari keseluruhan jumlah siswa dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:

Rata – rata kelas:
∑X

= ∑N
Keterangan:

= Nilai rata – rata
∑ X = Jumlah semua nilai siswa
∑ N = Jumlah siswa

(Arikunto, 2010: 264)

Untuk mencari presentase ketuntasan belajar secara klasikal digunakan

rumus sebagai berikut:

= ℎ x 100%
ℎ ℎ

Hasil perhitungan persentase ketuntasan belajar secara klasikal kemudian
dikonsultasikan dengan kategori tingkat keberhasilan belajar klasikal siswa. Dalam

28

penelitian ini,jika siswa mampu mencapai ketuntasan belajar klasikal minimum yaitu
80% dengan nilai minimal 70, maka peneliti menganggap bahwa penerapan model
pembelajaran discovery learning pada kelas V SDN 4 Pegasing berhasil meningkatkan
prestasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS.

Dalam menjawab pertanyaan penelitian, analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analisis data kualitatif. Analisis data kualitatif yang digunakan
dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yang akan digunakan dalam usaha
mencari dan mengumpulkan data, menyusun, menggunakan serta mentafsirkan
mengenai pemahaman dan keaktifan belajar peserta didik yang diperoleh dari tes
uraian serta lembar observasi dan dokumentasi untuk untuk mengetahui peningkatan
pemahaman peserta didik.

Menurut Takari (2008: 29)Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:
a. Reduksi data adalah proses penyederhanaan data yang dilakukan melalui seleksi,

pengelompokan, dan pengorganisasian data mentah menjadi sebuah informasi
bermakna.
b. Paparan data merupakan suatu upaya menampilkan data secara jelas dalam
bentuk paparan naratif, tabel, grafik, atau perwujudan lainnya yang dapat
memberikan gambaran jelas tentang proses dan hasil tindakan lainnya.
c. Penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian data yang telah
terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat singkat, padat dan
bermakna.

29

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Tempat Penelitian
1. Profil SDN 4 Pegasing

SDN 4 Pegasing adalah salah satu sekolah yang berada di Desa Paya
Jeget Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah.
2. Keadaan Guru dan Siswa SDN 4 Pegasing

a. Keadaan Guru

Terdapat 10 guru atau tenaga pendidik di SDN 4 Pegasing
termasuk kepala sekolah dan guru honorer bhakti. Dengan rincian sebagai
berikut:

Tabel. 4.2 Daftar Jumlah Guru SDN 4 Pegasing

No Nama Jabatan Status
1 Kamariah, S.Pd Kepala Sekolah PNS
2 Ramlah, S.Pd Guru Kelas PNS
3 Rismayanti, S.Pd Guru Kelas PNS
4 Eviyani, S.Pd Guru Kelas PNS
5 Musfirah, S.Pd Guru PJOK PNS
6 Marwansyah, S.Pd Guru Kelas PNS
7 Mawaddah, S.Pd Guru PAI Kontrak Daerah
8 Khairapati, S.Pd Guru Kelas Honorer
9 Hatimah, SE Operator Honorer
10 Suryadi PJS Kontrak Daerah

30

b. Keadaan Siswa
SDN 4 Pegasing memiliki 6 kelas dengan jumlah keseluruhan

sebanyak 120 siswa pada tahun pelajaran 2020/2021. Untuk lebih jelasnya
penulis sajikan rincian jumlah siswa dalam tabel sebagai berikut:

Tabel. 4.2 Daftar Jumlah Siswa SDN 4 Pegasing

No Kelas Jumlah Siswa Jumlah
LP
1I 13 9 22
2 II 6 15 21
3 III 12 11 23
4 IV 13 8 21
5V 95 14
6 VI 13 6 19
58 59 120
Jumlah

3. Subyek Penelitian
Subjek penelitian yang diambil dalam penelitian tindakan kelas ini adalah

siswa kelas V SDN 4 Pegasing.

Tabel. 4.3 Daftar Siswa Kelas V SDN 4 Pegasing

No Nama Siswa P/L

1 Ahmad Munif L
2 Anisa Musdalifah P
3 Fani Nurul Ilmi P
4 Farhan Ariga L
5 Feri Iwan Kuara L
6 Maftuah L
7 Miranti P
8 Nurrasuli L

31

9 Rahmad L
10 Ridha Nurul F P
11 Ridho Nasri L
12 Tauvikal Mahdi L
13 Tawar L
14 Yeni Yosa Irerike P

4. Waktu Penelitian

Waktu pelaksanaan penelitian dimulai pada tanggal 22 Oktober 2020
sampai tanggal 4 November 2020. Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan jadwal
pembelajaran IPS kelas V SDN 4 Pegasing. Sehingga tidak mengganggu jadwal
pembelajaran materi selain materi IPS. Adapun jadwal pelaksanaan penelitian
sebagai berikut:

Tabel. 4.4 Jadwal Pelaksanaan Penelitian

No Waktu Kegiatan

1 22 Oktober 2020 Pelaksanaan Siklus I
2 02 November 2020 Pelaksanaan Siklus II

B. Deskripsi Pelaksanaan Siklus I
Penelitian tindakan pada siklus I dilaksanakan dalam empat tahapan yaitu

perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Adapun deskripsi pelaksanaan
siklus I sebagai berikut:

1. Perencanaan Tindakan
Pada siklus I ini, kegiatan perencanaan yang dilakukan adalah:

a. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) daring mata pelajaran
IPS materi “Interaksi Manusia dengan Lingkungannya” dengan model
pembelajaran discovery learning.
32

b. Mempersiapkan media pembelajaran.
c. Mempersiapkan soal evaluasi.
d. Mempersiapkan lembar observasi guru dan siswa.
e. Melakukan dokumentasi.

2. Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan pembelajaran untuk siklus I dilakukan pada tanggal 22 Oktober
2020. Penerapan tindakan mengacu pada kegiatan pembelajaran yang tertulis di RPP
yang telah dibuat. Target yang ingin dicapai dari pelaksanaan siklus I adalah siswa
mampu mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Adapun materi yang dipilih
untuk siklus I yaitu “Interaksi Manusia dengan Lingkungannya”. Berikut adalah
kegiatan pelaksanaan yang dilakukan pada siklus I:
a. Kegiatan Awal

1) Guru memberikan salam pembuka, menanyakan kabar siswa dan meminta
semua siswa berdoa melalui vicon di google meet.

2) Guru melakukan mengecek kehadiran siswa, motivasi dan apersepsi.
3) Guru menyampaiakan tujuan pembelajaran dan melanjutkan dengan gambaran

materi yang akan dibahas yaitu “Interaksi Manusia dengan Lingkungannya”.
b. Kegiatan Inti

1) Guru meminta siswa untuk menyaksikan video pembelajaran “Manusia
dengan Lingkungannya” saat vicon maupun melalui WAG.

2) Guru meminta siswa bertanya jawab dan saling memberi tanggapan untuk
mengidentifikasi masalah.

3) Siswa mengamati PPT untuk mengidentifikasi masalah yang timbul dari

33

intraksi sosial manusia dengan lingkungannya.
4) Guru mengarahkan siswa mencari sendiri contoh bentuk intraksi manusia

antar individu, individu dengan kelompok, dan antar kelompok dan
menuliskan jawabannya pada lembar LKPD.
c. Penutup

1) Guru meminta siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.
2) Guru memberikan penguatan
3) Siswa menyampaikan refleksi.
4) Guru meminta siswa menjawab pertanyaan soal tes pengetahuan melalui

link http://gg.gg/soalrpp1 dan menyampaikan intrumen penilaian.
5) Guru mengingatkan siswa untuk mempersiapkan materi pembelajaran

pertemuan selanjutnya.
6) Guru dan siswa menyanyikan salah satu lagu wajib daerah “Tawar

Sedenge” dengan disertai audio dan menutup kegiatan dengan doa.
7) Guru meminta siswa tetap menjaga kesehatan, istirahat dan mengucapkan

salam penutup.

3. Pengamatan

Pengamatan dilakukan sebagai upaya untuk mengetahui aktivitas guru dan
siswa oleh rekan sejawat selama kegiatan pembelajaran IPS menggunakan model
pembelajaran Discovery learning. Peneliti melakukan pengamatan kepada siswa
dengan menggunakan lembar observasi siswa. Hasil pengamatan akan dituliskan
dalam lembar catatan lapangan yang dilampirkan.
4. Refleksi

34

Tahap akhir dari siklus I adalah refleksi. Refleksi merupakan tahap evaluasi
terhadap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Refleksi dilakukan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan yang terdapat pada
tahap perencanaan dan pelaksanaan sehingga peneliti dapat membuat perencanaan
pembelajaran yang lebih baik untuk siklus berikutnya. Berikut beberapa kendala
yang ditemukan peneliti ketika melakukan kegiatan pengamatan:

a. Siswa kurang memperhatikan guru di awal pembelajaran karena sibuk masih
merasa penasaran dengan aplikasi google meet pada saat vicon pembelajaran
daring.

b. Siswa kurang memahami apa yang disampaikan oleh guru.

c. Siswa kurang percaya diri untuk mengungkapkan pendapatnya melalui vicon di
google meet.

d. Siswa masih menggunakan bahasa pada bacaan untuk mengemukakan
pendapatnya pada saat vicon.
Peneliti melakukan berbagai langkah perbaikan untuk mengatasi kendala

pada siklus I. Hal ini bertujuan supaya siklus selanjutnya dapat berjalan dengan
lancar. Adapun langkah-langkah perbaikannya yaitu:

a. Guru meminta siswa diberikan bimbingan pemahaman oleh orang tua atau wali
dirumah tentang penggunaan aplikasi sebelum memulai pembelajaran pada saat
sebelum vicon sehingga perhatian siswa terfokus pada materi.

b. Guru mengecek kesiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran melalui vicon
dan menyampaikan materi secara perlahan, diulang-ulang, sesekali memberikan
contoh konkrit, dan memberikan pertanyaan sehingga siswa lebih mudah
memahami materi yang disampaikan.

35

c. Guru memberikan stimulus kepada siswa supaya siswa termotivasi dan lebih
percaya diri untuk menggungkapkan pendapatnya pada saat vicon serta
memberikan tanya jawab agar siswa mudah menemukan sendiri jawaban dari
sebuah konsep yang disajikan melalui PPT.
Pada siklus I ini belum menunjukkan hasil yang belum memuaskan

sehingga diharapkan pada siklus II, pembelajaran IPS menggunakan model
pembelajaran Discovery learning dapat meningkat.

C. Hasil penelitian

1. Analisis Data Pra Siklus
Tahap pra siklus dilakukan sebelum peneliti melaksanakan siklus I. Pada

saat pra siklus, peneliti melakukan pengamatan. Hasil pra siklus diambil
berdasarkan pre test dengan tujuan untuk mengetahui keadaan awal hasil belajar
IPS kelas V di SD Negeri 4 Pegasing Tahun Pelajaran 2020/2021.

Hasil belajar siswa yang belum optimal disebabkan oleh beberapa faktor.
Siswa masih masih bingung dengan penggunaan aplikasi yang digunakan dalam
proses pembelajaran, baik itu google meet, google form untuk menjawab soal. Hal
ini menyebabkan tuntutan dari kurikulum 2013 untuk menerapkan pembelajaran
abad 21, TPACK, STEAM, HOTS, dan 4C belum bisa terlaksana dengan baik.
Siswa menjadi kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga hasil
belajarnya kurang memuaskan. Berikut ini disajikan hasil belajar siswa pada pra
siklus:

36

Tabel. 4.5 Hasil Belajar Siswa Pra Siklus

ketuntasan

No Nama Siswa Nilai KKM Tuntas Tidak
Tuntas
1 Ahmad Munif 40 70
2 Anisa Musdalifah 50 70 ✓
3 Fani Nurul Ilmi 80 70
4 Farhan Ariga 70 70 ✓
5 Feri Iwan Kuara 40 70
6 Maftuah 60 70 ✓
7 Miranti 50 70
8 Nurrasuli 80 70 ✓
9 Rahmad 30 70
10 Ridha Nurul F 60 70 ✓
11 Ridho Nasri 50 70
12 Tauvikal Mahdi 60 70 ✓
13 Tawar 60 70
14 Yeni Yosa Irerike 40 70 ✓
Jumlah 770 ✓
Rata-rata 55












Nilai rata-rata kelas:

− = ∑X
∑N

770
= 14

= 55

Presentase ketuntasan hasil belajar:
∑ nilai siswa yang tuntas

= ∑ ℎ 100%
3

= 14 100%
= 21,42%

37

Gambar 4.1 Diagram Presentase Hasil Belajar Siswa Pra Siklus

Pada pelaksanaan pra siklus, hasil evaluasi menunjukkan bahwa masih
banyak siswa yang belum tuntas hasil belajarnya. Hal ini dikarenakan oleh:

1. Siswa kurang memperhatikan guru di awal pembelajaran karena sibuk masih

merasa penasaran dengan aplikasi google meet pada saat vicon pembelajaran

daring. Tidak Tuntas Tuntas

2. Siswa kurang memahami apa yang disampaikan oleh guru.

3. Siswa kurang percaya diri untuk mengungkapkan pendapatnya melalui vicon di

google meet.

4. Siswa masih menggunakan bahasa pada bacaan untuk mengemukakan

pendapatnya pada saat vicon.

Berdasarkan tabel dan diagram di atas diketahui bahwa nilai rata-rata tes

formatif yang dicapai siswa pada pra siklus adalah 55. Terdapat 3 siswa yang

mencapai nilai KKM atau 21,42%. Sedangkan 11 siswa belum mencapai nilai

KKM atau 78,87%. Hasil belajar pada tahap pra siklus secara klasikal belum
berhasil dikarenakan siswa yang memperoleh nilai ≥70 hanya 21,42% dari
ketuntasan klasikal sebesar ≥80%.

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut, maka peneliti perlu
mengadakan langkah perbaikan melalui pembelajaran di siklus I. Bentuk perbaikan

38

pembelajaran pada siklus I dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran
discovery learning dengan lebih memotivasi siswa melalui tayangan slide PPT pada
saat vicon di google meet.

2. Deskripsi Siklus I

a. Pelaksanaan Pembelajaran

Pembelajaran siklus I dilaksanakan pada hari Kamis, 22 Oktober 2020
di kelas V SDN 4 Pegasing dengan jumlah 14 siswa. Pembelajaran
dilaksanakan selama 70 (2x35 menit). Materi yang diajarkan pada siklus I
adalah, “Interaksi Manusia dengan Lingkungannya”. Pembelajaran
dilaksanakan menggunakan model pembelajaran Discovery learning. Berikut
disajikan hasil pengamatan terhadap guru dan siswa selama proses
pembelajaran siklus I berlangsung:

Tabel. 4.6 Lembar Observasi Guru Siklus I

Skor

No Aspek yang AB CD

diamati

Kemampuan guru membuka pelajaran √
1 Memeriksa kesiapan siswa

2 Memberi motivasi siswa
3 Memberikan apersepsi √
4 Menyampaikan tujuan pembelajaran √
5 Memberikan acuan bahan pembelajaran yang akan √

dipelajari

Sikap guru dalam proses pembelajaran √

6 Kejelasan artikulasi suara √

7 Kemampuan mengkondisikan keaktifan siswa √

8 Antusiasme dalam penampilan √

Menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran

9 menggunakan model pembelajaran disovery learning

10 Memberikan perhatian yang sama pada setiap siswa √

Penguasaan materi pembelajaran

39

11 Bahan belajar disajikan sesuai dengan langkah-langkah √
yang direncanakan dalam RPP

12 Kejelasan dalam menjelaskan materi

Kegiatan Belajar Mengajar √

13 Mengajukan pertanyaan kepada siswa terkait materi
untuk mengarahkan siswa mengidentifikasi masalah

14 Membimbing siswa untuk mengemukakan suatu
permasalahan dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis

15 Membimbing siswa melakukan kegiatan penyelidikan √
untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan

16 Membimbing siswa untuk mengolah data hasil √
penyelidikan

17 Membimbing siswa menemukan suatu konsep melalui √
contoh-contoh yang dijumpai dalam kehidupan

18 Membimbing siswa merumuskan kesimpulan dari √
penyelidikan

Evaluasi Pembelajaran

19 Penilaian relevan dengan tujuan pembelajaran yang √
telah ditetapkan √

20 Penilaian yang diberikan sesuai dengan RPP

Kemampuan menutup kegiatan pembelajaran

21 Memberikan kesempatan kepada siswa untuk √
menyampaikan kesimpulan kegiatan pembelajaran √

22 Membimbing dalam mengemukakan refleksi

Tindak Lanjut

23 Memberikan tugas kepada siswa baik secara individu √
maupun

Kelompok

24 Menginformasikan materi yang akan dipelajari √
selanjutnya √

25 Memberikan pesan moral dan motivasi untuk terus 62
belajar Kurang

Total

Kategori

Rumus Nilai Pelaksanaan Pembelajaran:

= ℎ 100%



Skor yang diperoleh: 62
62

= 100 100%

= 62%

Kategori Nilai Pelaksanaan Pembelajaran:

≤ 70 : Kurang
40

71 – 80 : Cukup
81 – 90 : Baik
91 – 100 : Sangat Baik

Berdasarkan hasil pengamatan pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa aktivitas
guru pada kegiatan pembelajaran di siklus I memperoleh skor 62 dengan kategori
kurang. Guru mendemonstrasikan langkah-langkah pembelajaran menggunakan
model pembelajaran discovery learning kurang baik. Beberapa aspek yang harus
ditingkatkan di antaranya:

1) Pemberian motivasi belajar kepada siswa.
2) Kemampuan meningkatkan taraf berpikir siswa untuk menganalisis suatu konsep

sehingga sulit menemukan sebuah kesimpulan.
3) Kejelasan dalam menjelaskan materi.
4) Pemberian contoh-contoh konkrit dari materi yang sedang diajarkan.

Tabel. 4.7 Lembar Observasi Siswa Siklus I

No Aspek yang diamati Skor
A BC D
1 Merespon apersepsi yang diberikan guru

2 Mengetahui tujuan pembelajaran ✓

3 Memperhatikan penjelasan guru ✓
4 Memahami petunjuk guru tentang langkah-langkah

pelaksanaan pembelajaran

5 Antusias terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung ✓

6 Keaktifan dalam memberikan tanggapan

7 Keberanian dalam mempresentasikan pendapat dengan
percaya diri ✓

8 Berani bertanya kepada guru tentang hal-hal yang belum
diketahui 20
Kurang
9 Menyimpulkan materi pembelajaran

10 Terciptanya suasana yang kondusif saat vicon
Total

Kategori

41

Rumus Nilai Pelaksanaan
Pembelajaran:

= ℎ x 100


Skor yang diperoleh = 20

20
= 40 100

= 50

Kategori Nilai Pelaksanaan Pembelajaran:
≤ 70 : Kurang
71 – 80 : Cukup
81 – 90 : Baik
91 – 100 : Sangat Baik

Berdasarkan hasil observasi tabel 4.7 menunjukkan bahwa kegiatan
pembelajaran IPS melalui penerapan model pembelajaran discovery learning,
siswa memperoleh nilai 50 dengan kategori kurang. Berikut beberapa aspek
yang harus ditingkatkan:

1) Siswa kurang memperhatikan penjelasan guru.
2) Siswa kurang antusias terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung.
3) Siswa kurang aktif dalam memberikan tanggapan
4) Siswa kurang berani dalam mempresentasikan pendapatnya dengan percaya

diri
5) Siswa tidak bertanya kepada guru tentang hal-hal yang belum diketahui.
6) Siswa belum bisa menyimpulkan materi pembelajaran
7) Suasana yang kurang kondusif saat vicon.

42


Click to View FlipBook Version