Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 1 Catatan Visualnya dalam Pameran Among Jiwo Yusuf Susilo Hartono Satukan Nilai Kemanusiaan UWRF 2022 Cinta Seni-Budaya dengan Dirikan Rumah Budaya Halimah Munawir
2 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Teater Keliling (TK) yang terbentuk sejak 13 Februari 1974 ini didirikan oleh Rudolf Puspa, Dery Syrna, Buyung Zasdar, dan Paul Pangemanan. Bertujuan untuk menyebarkan jiwa nasionalisme dan cinta Tanah Air melalui medium teater dengan cara berkeliling. Kiprah TEATER Teater Keliling Pentaskan Sang Saka Sudut PANDANG Halimah Munawir Cinta Seni-Budaya Dirikan Rumah Budaya MEDIA SENI-BUDAYA SEMESTA SENI NOMOR 28 l DESEMBER 2022 ProFIL Kantor Teater 4 5 Lensa SENI Edit ORIAL Wahyu Toveng 6 Histori SENI Komunitas SENI D Daftar ISI Artikel Sastra 28 Para pelukis pertama dalam catatan prasejarah adalah para perempuan. Arkeolog Dean Snow dari Pennsylvania State University yang meneliti 8 gua purba di Spanyol dan Prancis menyimpulkan bahwa 75 persen dari seluruh lukisan dan gambar tangan di situ adalah hasil karya perempuan. Banyak yang berkata abad 21 adalah milik perempuan, meski mungkin memang masih perlu waktu bagi peradaban untuk bisa berlaku lebih adil kepada perempuan dengan pergeseran paradigma keindahan yang jadi tolok ukur mutu hasil karya seni. Kekuatan seni di diri perempuan peseni bukan keniscayaan melainkan sudah sejak lama terpampang di depan mata. Ewith Bahar Di samping sebagai wanita pengusaha, Halimah juga peseni yang punya komitmen kuat dalam pengembangan seni-budaya. Teater Moksa 25 l Sang Pemenang, Annie Ernaux l Jose Rizal Manua Baca Puisi di Bandung Potensi di Diri Perempuan Peseni Laboratorium bagi Pengembangan Seni 7 9 Bahasan UTAMA l Perempuan Peseni Kini yang Mengukir Prestasi l Sejarah Penetapan 22 Desember Sebagai Hari Ibu l Perempuan Peseni di Antara Pergerakan yang Senyap 33 19 l Jose Rizal Manua l Mulih Marju l Alarhyf l Ahmad Dumyati AN l Mita Katoyo l Jang Sukmanbrata l Tuti Susilawati l Yin Ude 34 Cerita PENDEK Fanny J Poyk Katamu 30 Karya PUISI-PROSA Halimah muda adalah tipe orang yang tidak bisa diam dan serba ingin tahu. Berkesenian bukan bagian dari kegiatan keluarga melainkan timbul begitu saja setelah duduk di bangku sekolah. 2 Artikel Budaya Chryshnanda Dwilaksana 22 l Wayang Adalah Kita? Teater Moksa didirikan pada 30 Desember 2017. Moksa merupakan akronim dari Pemoeda Berkesenian yang menjadi identitas teater ini sebagai laboratorium dan wadah pengembangan berkesenian.
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 3 l Jakarta Jakarta - Non-O l Si Cimbri - Jan Praba l Dinamika Kehidupan - Munadi l Aktual Sosial - Gatot Eko Cahyono l Tentang Novel Warna Cinta Dyah Pitaloka Novel Tragedi Cinta Putri Sunda Dari balik pintu bertiang bambu, yang diukir dengan bakaran bara, sehingga membentuk motif yang indah, muncul seorang gadis dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai. Aroma wangi bunga mengiringi langkah gadis cantik jelita itu. Kulik MUSIK Yusuf Susilo Hartono Geliat SENI RUPA Loka PUSTAKA Kartun HUMOR Among Jiwo Sebagai Catatan Visualnya 74 Mendekati akhir 2022 masyarakat seni rupa Indonesia disuguhi peristiwa menarik, yaitu dilangsungkannya pameran sketsa, lukisan, drawing, hingga instalasi karya Yusuf Susilo Hartono, seorang perupa, jurnalis, dan pesyair Indonesia. Setelah melewati proses sejak ide dicanangkan pada Juni 2018, akhirnya Reda Gaudiamo, separuh dari duet AriReda, berhasil merilis album solo pertamanya, berjudul REDA GAUDIAMO. Latar PESENI Reda Gaudiamo Luncurkan Album Solonya di Usia 60 Tahun Helvy Tiana Rosa Bakat dari Tuhan Harus Diasah dan Dikembangkan Sejak kecil, Helvy Tiana Rosa sudah memilih untuk menapaki dunia literasi. Jalan yang tak banyak dicitacitakan anakanak seusianya saat itu. 46 40 In MEMORIAM l Rudy Salam: Aktor Berkarakter l Koko Hari Subandi: Dosen UNNES l Edi Sedyawati: Peseni dan Arkeolog 72 61 Ragam SENI l Hadir dan Mengalir dalam Karya Puisi WS Rendra l Komunitas SARANG Gelar Acara Klenengan Jumpa l Pelukis KOTA Gelar Pameran Rupa Rasa Yogyakarta l Dari Pergelaran Sabang-Merauke l Konser Amal Gradasi Dari Semesta untuk Semesta l Konser Jazz Erasmus Huis Tour 2022 Jakarta, Bandung, dan Semarang l Seni Rupa Semesta Gio Langkah Kecil Giovanni Susanto 60 Laporan KHUSUS l Sastra Semesta #11 Baca Wiracarita (Syair Kepahlawanan) l AMI Musik Awards ke-25 Ada 57 Kategori dari 11 Genre Musik l Senja Berpuisi Gerak, Sinergi, dan Kolaborasi l Wayang on the Street Ekpresi Cinta Kaum Milenial Pada Wayang l Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2022 Satukan Nilai Kemanusiaan 48 43
4 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Profil ANTOR Teater (KT) adalah sebuah kelompok yang berada dalam naungan Yayasan Samsara Rahayu Nusantara. Terbentuk pada 8 Maret 2021. Sepanjang 2013 - 2015, KT menggelar pertunjukan di jalanan dan ruang-ruang publik seperti, trotoar, warung kopi, SPBU, pelataran parkir, taman-taman kota, stasiun kereta api, dalam gerbong kereta api, kamar mandi, loteng rumah, dan sebagainya. Dalam setiap pertunjukan, KT tidak pernah menggunakan naskah dan tanpa konsep apapun. Karena mereka menampilkan apa yang terjadi di keseharian. KT beranggotakan Julian Hakim, Slamet Riyadi (Mamexandria), Dimas Bayu Sukoco, Marina Novianty, sebagai performer, dan Christian Nanda sebagai perekam aksi. Pertunjukan yang pernah digelar: l 2012 Kaleidoskop Tubuh (Tasikmalaya) l 2013 A Beautiful Day to Die (Sanggar Terbuka, TIM), Tour de Park (di beberapa Taman Kota di Jkt), The Pain(t) Killer (Festival Cikini) l 2014 Dog Day Afternoon (Plaza TIM), Gregettarium (Teater Halaman, TIM), Bagaimana Rasanya Menjadi Anda? (Surabaya, Solo, Jogja), Behind the Sins (di Sebuah SPBU), Dog Day Shopping (di Family Mart), The Jogging Shoes (di Bundaran HI) l 2015 Body Exit (Plaza TIM), Monster Cafe (di Manggarai), A Private Room (GOR Jakut) Pada awal 2016, KT mengalami kejenuhan dan ingin bereksplorasi lebih dalam lagi dengan sebuah pendekatan pertunjukan berdasarkan pengalaman tubuh aktor. Dengan melakukan aksi-aksi sebagai berikut: l 2017 - Menarik peti mati selama 17 hari perjalanan dari Jakarta sampai ke Pemalang, Jawa Tengah. Aksi tersebut diberi nama Migrasi Peti Mati. Melakukan pentas keliling Fermentasi Hujan dalam Sepatu dan ini adalah K Kantor Teater Gelar Pertunjukan di Berbagai Tempat merupakan bagian pertama dalam Trilogi Chaos Kaki yang dipentaskan di Teater Kecil TIM, 21 - 23 November 2022. Pentas keliling tersebut dilakukan di beberapa tempat di Pulau Jawa sebagai upaya menguji coba pendekatan keaktoran sebagai terobosan baru dalam menghilangkan kejenuhan. l 2018 - Melakukan perjalanan selama tujuh bulan keliling Nusantara, menampilkan Belajar Tertawa yang merupakan bagian kedua dari Trilogi Chaos Kaki. 65 pertunjukan telah berhasil mereka lakukan selama perjalanan tersebut dan inipun sebenarnya adalah bagian dari cara mereka untuk mengetahui lebih detil masuk ke dalam ruang dan lapisan penonton dengan latar belakang yang beragam. l 2019 - Terus berlatih menuju pertunjukan Portal Ketiga yang merupakan bagian terakhir dari pementasan Trilogi Chaos Kaki. Pada 2022 terciptalah rangkaian pertunjukan KT di Teater Kecil TIM, hasil dari kerjanya sejak 2017. Pertunjukan tersebut diberi nama Trilogi Chaos Kaki, dipentaskan pada 21 - 24 November 2022. Rinciannya sebagai berikut: 1. Fermentasi Hujan Dalam Sepatu, 21 November 2022, 20.00 WIB; 2. Belajar Tertawa, 22 November 2022, 20.00 WIB; 3. Portal Ketiga, 23 November 2022, 20.00 WIB; dan 4. Diskusi Teater, 24 November 2022, 16.00 WIB. Pementasan tersebut berhasil memukau penonton dengan keunikan di setiap bagian, mulai dari bagian pertama hingga ketiga. Mengajak penonton dalam menghadapi kehidupan dan kekacauannya dengan aksi panggung Roy Julian dan Mamexandria (Slamet Riyadi) melalui gerak tubuh, dialog, monolog dan interaksi dengan penonton ditambah dengan bunyi-bunyian dari bermacam alat yang dimainkan oleh pelaku bunyi Atenk (Dimas Bayu Sukoco). Ketiga seri pementasan ini dapat pula dinikmati oleh sahabat-sahabat berkebutuhan khusus (bisu-tuli) karena mengikutsertakan peraga bahasa isyarat, Marina Novianti. Diana Prima Resmana - Sumber: KantorTeater Sekretariat: Jln Tritura No 17, Titi Kuning, Medan Johor, Sumatera Utara Telepon: 081270662621, 082164541193 e-Mail: [email protected] IG: @kantorteater FB: Kantor Teater 4 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 5 Lensa Seni l Karya : Wahyu Toveng l Judul : Menepi dari Jarak l Kamera : Oppo A 31 l Lokasi : SPBU Puri Kembangan Jakarta Barat l Waktu : Oktober 2022 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 5
6 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 kspresi dalam dunia seni sejatinya mencerminkan kesetaraan. Lelaki-perempuan bukanlah polaritas melainkan semata-mata perbedaan yang semestinya bermuara pada kekayaan dalam keragaman karya. Di dunia yang bahkan sejak sebelum manusia ada sudah selalu diklaim sebagai milik para pejantan, ini segala sesuatunya memang selalu berangkat dari sudut pandang maskulin, tak terkecuali ekspresi dalam seni. Manusia sebagai makhluk berakal budi, tanpa memandang jenis kelamin maupun orientasi seksualnya, diperlengkapi dengan kebutuhan aktualisasi diri yang dicapai melalui berekspresi. Ekspresi paling hakiki manusia yang membedakannya dari makhluk lain adalah seni. Selama kurun waktu yang sangat panjang, peradaban bergerak dengan berat sebelah pada dominasi lelaki dalam setiap langkah pergerakannya, termasuk dalam bidang seni. Perempuan yang fakta fisiknya tak sekuat dan sebesar lelaki, serta-merta mengalami pemukulrataan; dianggap tak kuat dan tak besar dalam segala hal. Peradaban memang terus berkembang dan seiring perkembangan tersebut, perempuan berangsur meraih kesetaraan dengan lelaki dalam segala bidang. Namun bahkan sekian lama setelah perempuan bebas berekspresipun, mayoritas karya seni yang mendapatkan apresiasi tertinggi masih tetap pada hasil karya lelaki. Padahal pelukispelukis pertama dalam catatan prasejarah adalah para perempuan. Arkeolog Dean Snow dari Pennsylvania State University yang meneliti 8 gua purba di Spanyol dan Prancis menyimpulkan bahwa 75 persen dari seluruh lukisan dan gambar tangan di situ adalah hasil karya perempuan. Bicara kekuatan seni perempuan, sejak zaman Renaisans sudah banyak tampil perempuan perupa dengan karya-karya besar mulai dari Caterina van Hemessen, Sofonisba Anguissola, Louise Élisabeth Vigée Le Brun, Artemisia Gentileschi, Harriet Powers, Mary Cassatt, Luisa Roldan, sampai Augusta Savage, Frida Kahlo, dan Yayoi Kusama. Banyak yang berkata abad 21 adalah milik perempuan, meski mungkin memang masih perlu waktu bagi peradaban untuk bisa berlaku lebih adil kepada perempuan dengan pergeseran paradigma keindahan yang jadi tolok ukur mutu hasil karya seni. Kekuatan seni di diri perempuan peseni bukan keniscayaan melainkan sudah sejak lama terpampang di depan mata. Seni memang tidak cuma bicara soal sifat-sifat keras, kuat, dan besar yang selama ini identik dengan kelelakian. Ditilik dari sudut kesenian, setiap kata sifat, bahkan yang bertolak belakang dengan keras, kuat, dan besar--lembut, rapuh, lemah, dan lain-lain--punya kekuatan. Ritmanto Saleh Redaktur Pelaksana Potensi dalam Diri Perempuan Peseni D Editorial PELINDUNG Iwan Henry Wardhana, SE, MSiP, CBA Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta PENASIHAT Mayjen TNI (Purn) Dr Syamsu Djalal, SH, MH Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana, MSi PEMIMPIN UMUM Halimah Munawir PEMIMPIN REDAKSI Ireng Halimun REDAKTUR PELAKSANA Ritmanto Saleh SEKRETARIS REDAKSI Diana Prima Resmana PEMIMPIN MANAJEMEN Imanuel Prabowo DIREKTUR KEUANGAN Dyah Kencono Puspito Dewi REDAKTUR Ossie Helmi Rini Intama Narima Beryl Ivana BIDANG TEKNOLOGI INFORMATIKA M Ramadhan Kiram FOTOGRAFER Tutut Adinegoro KONTRIBUTOR Christian Heru Cahyo Saputro Sahaya Santayana ALAMAT l Jln Basuki Rahmat No 44 D, Jatinegara, Jakarta Timur PONSEL/ WA l 0859 599 01 299 (IH) l 0812 8147 7994 (RS) e-MAIL [email protected] MANAJEMEN PT Dian Rimalma Pratama SAMPUL DEPAN Karya seni lukis: M Solech Redaksi menerima naskah, foto, dan informasi yang berkaitan dengan seni-budaya. Naskah, foto, dan informasi tersebut akan disunting sesuai dengan misi-visi penerbitan ini. E
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 7 Teater Keliling Kiprah Teater ALAM perjalanannya, mereka telah banyak menghadirkan beragam teater di banyak daerah. Total ada 1.600 lebih pementasan yang telah digelar. Konsisten dalam memperkenalkan teater, mereka selalu memasukkan unsur sejarah, cinta Tanah Air dan juga musik dalam setiap perhelatannya. Mereka memiliki suatu misi, yaitu agar para generasi muda saat ini lebih tertarik untuk mengunjungi sebuah pementasan teater. Selain pementasan dalam negeri, Teater Keliling juga aktif berkegiatan di luar negeri. Hal ini difungsikan untuk mendukung berbagai kegiatan diplomasi budaya Indonesia di dunia internasional. “Misi utama kami yakni mencerdaskan bangsa di kalangan muda melalui pendidikan karakter yang tidak berorientasi profit namun kepada idealisme pendidikan,” terang Rudi panggilan akrab Rudolf Puspa. Atas kegigihan dan kecintaan terhadap apa yang mereka kerjakan, pada 2010, Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan atas predikat grup teater dengan pertunjukan teater modern terbanyak di Indonesia. Selain aktif menggelar berbagai pertunjukan, mereka juga kerap melakukan sebuah pelatihan yang mendapatkan beragam penghargaan seperti Abdi Abadi FTI (2016), Bentara Budaya (2017), dan lain-lain. Dalam pertunjukan kali ini TK membawakan naskah berjudul Sang Saka karya Dolfry Inda Suri dan Rudi, dan disutradarai oleh Rudi. Sang Saka adalah sebuah karya yang mengingatkan anak muda untuk tetap dan selalu mencintai dan menjunjung tinggi Tanah Air. Bagaimana jadinya kalau generasi muda zaman sekarang mulai luntur rasa bakti dan cintanya pada negeri ini? Kor, Komer, Pati, dan Marle melakukan petualangan mencari harta karun untuk membuka kembali mata dan hati mereka akan pentingnya peran mereka dalam membentuk bangsa ini menjadi sebuah bangsa yang benar-benar merdeka. Pementasan musikal Sang Saka menceritakan kisah empat orang sahabat yang bertemu kembali untuk D Teater Keliling (TK) yang terbentuk sejak 13 Februari 1974 ini didirikan oleh Rudolf Puspa, Dery Syrna, Buyung Zasdar, dan Paul Pangemanan. Bertujuan untuk menyebarkan jiwa nasionalisme dan cinta Tanah Air melalui medium teater dengan cara berkeliling. Pentaskan Sang Saka Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 7
8 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Kiprah Teater Pementasan dibuka dengan seorang gadis menyanyikan lagu-lagu kebangsaan Indonesia dan disambut beberapa anak muda tidak lupa ada seorang anak kecil yang menemani gadis muda itu bernyanyi. Tak lama muncul lah seorang veteran yaitu Rudi itu sendiri. Dia berlakon sebagai seorang veteran yang menceritakan kisahnya dulu saat masih dan harus berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Ketika dia menikah tetapi perjuangan harus dilanjutkan hingga harus meninggalkan kekasih hatinya untuk pergi melaksanakan perjuangan bangsa. Rudi begitu interaktif dengan para penonton dengan menyapa dan mengajak berbincang dengan beberapa penonton dalam tokohnya sebagai seorang veteran. Dia begitu bersahaja, juga dia menyapa Jajang C Noer dan berdialog sedikit. Harta karun tersebut berhasil mereka temukan, tetapi bukanlah yang mereka bayangkan. Harta itu menuntun mereka ke sebuah dimensi waktu imajiner detik proklamasi kemerdekaan yang membuka kembali mata dan hati mereka akan pentingnya peran mereka dalam membentuk bangsa ini menjadi sebuah bangsa yang benar-benar merdeka. Dalam pertunjukan TK ini didukung oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, yang berkolaborasi dengan komunitas-komunitas teater di Jakarta dan sekitarnya. Dari luar teater kecil, Taman Ismail Marzuki, terlihat banyak orang yang hadir untuk menyaksikan pementasan TK, pada Kamis, 20 Oktober 2022, 14:00 WIB, mulai dari anak muda hingga para orangtua, Dalam pementasan ini dihadiri oleh Jajang C Noer dengan memberi pesan terhadap anak muda zaman sekarang untuk tetap jujur dalam berproses. Pementasan Sang Saka membuat penonton kagum pada pertunjukan tersebut. Selain di Jakarta pementasan juga dipentaskan di berbagai daerah seperti Tegal, Jepara, Kediri, Jember, dan Lombok. “Pertunjukan Sang Saka merupakan sekuel dari lakon Jas Merah yang pernah kami tampilkan di delapan kota pada tahun lalu. Kali ini, kami ingin lebih mengekspos momen kemerdekaan dan nilai sejarah detik-detik Proklamasi 1945, dan tentunya turut menyemarakkan semangat kemerdekaan Republik Indonesia. Semoga melalui pertunjukan ini, Teater Keliling mampu menyampaikan pesan dan diterima dengan baik oleh para penonton yang hadir,” ujar Dofry, Ketua Yayasan Teater Keliling. Pementasan musikal yang apik dihadirkan TK Jakarta dan melahirkan kekaguman para penonton dengan garapan tersebut. Bangku-bangku terisi penuh, anak muda sangat berantusias mulai dari anak-anak hingga remaja begitu meriah sekali dalam menyaksikan pertunjukkan Sang Saka ini. Narima Beryl Ivana berpetualang mencari harta karun yang sedang menjadi ulasan paling atas di dunia maya. Keempat sahabat itu membawa serta seorang kenalan mereka dalam petualangan tersebut. Dalam perjalanan perburuan harta tersebut terbukalah rahasia dari setiap diri mereka dan menjawab penyebab mengapa mereka menjadi pemuda bangsa yang lupa diri dan memupuskan rasa cintanya pada negeri. 8 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 9 Bahasan Utama EMAKIN memasuki abad 21, kecenderungan ini semakin masif seiring dengan semakin banyaknya kaum lelaki, yang di sisi lain, mulai bisa menerima semakin besarnya peranan perempuan dalam kehidupan sehari-hari, semakin menguatnya gelombang persamaan gender, dan semakin terbukanya ruang publik untuk mengemukakan opini yang dipacu oleh semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi. Pencapaian-pencapaian ini tentunya merupakan tonggak-tonggak prestasi yang selalu akan menjadi motivasi bagi perempuan dalam mencapai kesetaraan gender. Prestasi-prestasi itu memang dicapai oleh para perempuan dari berbagai rentang usia. Namun dalam rangka menyambut Hari Ibu, tulisan ini lebih membidik pencapaian para perempuan, yang sebagian menyandang status sebagai ibu. Seringkali, status ini dengan segala kesibukannya, apalagi jika dihubungkan dengan kodrat, dianggap sebagai penghalang bagi perempuan untuk mencapai prestasi. Mereka terbukti tetap mampu melakukan aktivitas dengan intensitas tinggi, bahkan berhasil mencetak berbagai prestasi . Anna Sungkar Tak banyak perempuan yang menjadi kurator seni rupa. Satu dari yang tak banyak itu adalah Dr Anna Sungkar, MSn. Perupa yang meraih S3-nya di ISI Surakarta ini dikenal aktif dalam menyuarakan isu peranan wanita dan memotori berbagai kegiatan seni rupa yang digelar di banyak tempat di Tanah Air. Banyak dari kegiatankegiatan itu digerakkan oleh mayoritas perempuan, baik sebagai panitia, kurator, maupun peserta. Misalnya Pameran Seni Rupa Virtual Perempuan Perupa di Bumi Kertas Nusantara 2022, Juli lalu di Makmoer Art Virtual Gallery, Bandung. Pameran ini diikuti oleh 63 perempuan perupa dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Perempuan Peseni Kini yang Mengukir Prestasi S Ada yang pernah berkata bahwa abad 21 adalah milik perempuan. Pendapat ini tentunya disambut gembira oleh para feminis. Beberapa gejala memang sejak lama sudah mengarah ke sana namun masih sporadis sifatnya dan belum cukup signifikan. Misalnya terpilihnya perempuan untuk memegang jabatan-jabatan penting kenegaraan bahkan pemimpin negara, memenangkan penghargaan-penghargaan internasional dalam berbagai bidang, semakin banyaknya perempuan yang ternyata mampu mengerjakan dengan baik pekerjaan-pekerjaan yang selama ini diyakini hanya bisa dilakukan oleh pria, dan lain sebagainya. Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara. Tak sampai sebulan sebelumnya, ia membuka pameran Life is Beautiful di Galeri Peruja, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ia juga bertindak sebagai kurator pada pameran Among Jiwo, pameran retrospeksi 40 tahun kiprah pelukis, jurnalis, dan pesastra Yusuf Susilo Hartono yang digelar di Museum Nasional Indonesia, Jakarta pada 9 - 13 November 2022. Anna juga menjabat sebagai Koordinator Kurator merangkap anggota pada Yayasan Duta Indonesia Maju (YDIM), perkumpulan bersifat nirlaba dan nonpolitik. Tim kuratornya terdiri dari Prof Ir Wiendu Nuryanti, M Arch, PhD, Prof Rhenald Kasali, PhD, Prof Roy Darmawan, Dr Rima Agristina, SH, SE, MM, Don Bosco Selamun, Jahja B Soenarjo, SE, MM, Yusuf Susilo Hartono, dan Widi Nugroho Sahib. Yayasan ini pada 29 Oktober lalu memberikan penghargaan CEO Achievement Award 2022 kepada Presiden Direktur Garudafood, Hardianto Atmadja. Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 9
10 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 10 Sebagai perupa, Anna memiliki dorongan kuat untuk berinovasi. Karyanya yang berjudul Lukisan Potret Diri Maestro Kertas (2020), dilukis dengan bahan ampas kopi di atas media kertas canson, berukuran 75x55 cm. Kertas dan ampas kopi dipilih sebagai kombinasi alternatif terhadap kecenderungan yang sudah mapan selama ini, yaitu cat minyak di atas kanvas. Untuk itu, dipilih Prof Setiawan Sabana MFA, satu-satunya peseni kertas yang paling konsisten mengolah seni kertas di Indonesia, sebagai figur dalam lukisan. Ve Dhanito Fotografer-perupa cantik ini menggelar pameran tunggalnya yang bertajuk Insight pada 5 – 15 Maret 2022 di lantai 4 Perpustakaan Nasional, Jakarta. Yang paling menarik dari pameran ini selain dari penggunaan media yang tak biasa seperti pewarna fluorescent yang efeknya hanya bisa terlihat ketika tak ada cahaya, adalah juga latar belakang penciptaannya. Karya-karya ini dengan langsung menjadi jembatan antara neurosains dan fotografi. Ve merasa penasaran dengan cara kerja otak yang membuat manusia jadi punya daya kreativitas bervariasi. Rasa penasaran ini mendorongnya untuk mencari informasi dari beberapa literatur sains, di antaranya adalah 71/2 Lessons about The Brain (Lisa Feldman Barrett) dan Runaway Species (David Eagleman). Berhubung Ve adalah perupa, maka informasi scientific yang diperolehnya tersebut diekspresikannya dalam bentuk karya fotografiinstalasi dengan tampilan kasat mata yang sangat unik. Selain keberanian mengangkat tema yang tak lazim, Ve mendedikasikan pameran yang menggelar 40 karyanya ini untuk kesembuhan ibunda tercinta. “Bisa dibilang nekat pameran ini digelar di tengah pandemi. Pameran ini saya dedikasikan untuk mama yang lagi sakit,” ucap Ve dalam sambutannya. Pemegang gelar Master Teknik Sipil dari UI ini juga aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran bersama baik di dalam maupun luar negeri. Di antaranya yang termutakhir adalah Pameran Seni Second Hand YIA di Kawasan Tugu Malioboro, 1 Agustus - 2 Oktober 2022. Sejak pameran pertama yang diikutinya di Singapura pada 2014, karya-karyanya pernah terpajang di beberapa pameran di Semarang, Taipei, Kaohsiung (Taiwan), Luzern (Swiss), dan Jakarta tentunya. Parade Pameran Tunggal 51 Perupa di puluhan studio dan art space yang tersebar di wilayah Jabodetabek, 2 Desember 2020 - 2 Februari 2021 juga merupakan satu dari pameran yang diikutinya. Bahasan Utama Kikan Namara Namanya pernah sangat populer sebagai penyanyi utama dan penulis lagu pada band pop-rock Cokelat. Pada era Kikan menjadi vokalis utama, Cokelat sempat menjadi kelompok musik papan atas yang mendapatkan berbagai penghargaan baik di tingkat nasional maupun regional Asia. Banyak lagu ciptaan Kikan untuk Cokelat menjadi hit yang paling dikenal masyarakat pecinta musik Indonesia sampai sekarang. Meski Kikan tak lagi di Cokelat dan digantikan oleh vokalis lain, bagi publik vokalis utama Cokelat tetaplah Kikan. Pandemi sempat membuat semua orang terpaksa tiarap, tak terkecuali Kikan. Namun seiring dengan menyurutnya angka penderita Covid dan mulai menggeliatnya kembali bisnis hiburan, apalagi dengan semakin mendekatnya 2024 yang akan menjadi tahun politik dengan gelaran pemilihan umum (Pemilu), 10 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 11 panggung hiburan mulai dari yang kecil-kecilan sampai dengan yang kolosal sudah mulai tampak kembali semarak meski protokol kesehatan harus tetap ditegakkan. Di antara pentas yang sukses dan memperoleh apresiasi luas adalah Sabang Merauke. Sebuah pergelaran kolosal yang sejak kemunculan pertamanya pada Februari 2022 sudah dipentaskan untuk ketiga kalinya tahun ini. Dalam pergelaran ini Kikan bertindak sebagai music director sekaligus vokalis utama. Ini adalah peran ganda pertama yang dilakoninya sejak terjun di dunia hiburan. Menjalani peran ganda dalam sebuah pertunjukan besar tentunya bukan hal yang mudah. Namun Kikan telah melakukannya dengan baik, bahkan bukan hanya sekali melainkan tiga kali. Dari satu pertunjukan ke pertunjukan berikutnya terjadi perubahan dalam komposisi pengisi acara. Ini tentunya menuntut penyesuaian-penyesuaian yang harus direncanakan dan dieksekusi sebaik-baiknya agar di panggung tidak tampak ada sedikit pun kekurangan. Hebatnya, setelah pertunjukan ketiga yang terlaksana dalam suasana Hari Pahlawan lalu (12 - 13 November), semangat Kikan dalam menyelenggarakan pergelaran ini masih belum menunjukkan tanda-tanda akan surut. Anggun C Sasmi Prestasi dan popularitas Anggun di blantika musik internasional sudah lama berkumandang di seluruh dunia. Sebagaimana layaknya pesohor yang dicintai para fans, sorotan media tak pernah lepas darinya. Apapun yang dilakukannya selalu jadi berita, termasuk sikap ekstraprotektifnya terhadap putri semata wayangnya, Kirana. Tak pernah ada satupun foto Kirana kecil yang pernah lolos ke media tanpa sensor. Baru belakangan ini setelah sang putri dianggapnya cukup dewasa, Anggun mulai sedikit demi sedikit rela melonggarkan ekstraproteksinya terhadap sang putri. Ayunya paras Kirana yang berdarah campuran inipun mulai tersibak di depan mata para fans yang sudah belasan tahun menunggu. Sebagai peseni, Anggun punya karakter yang sangat kuat tak hanya pada vokalnya sebagai penyanyi tetapi juga pada tindakan-tindakan yang dilakukannya dalam menyikapi kesehariannya. Ekstraproteksi terhadap putrinya adalah satu contohnya. Kekuatan karakter ini lantas juga berdampak pada kesuksesan kariernya. Deretan penghargaan dari berbagai kejuaraan internasional pernah diraihnya. Kolaborasi dengan artis-artis dunia pernah dijalaninya. Jabatan bergengsi sebagai juri di kontes bakat internasional pun pernah dipegangnya. Keberhasilannya dalam karier bermusik yang kemudian juga berekspansi ke seni peran merupakan bentuk lain dari perwujudan kekuatan karakter itu. Jika didaftar, semua kiprah Anggun akan menghasilkan deretan panjang berisi ratusan acara, film, dan album rekaman musik dari berbagai genre. Seakan masih belum puas dengan seluruh pencapaian itu, belakangan Anggun tampil pula sebagai petari di reality show bertajuk Danse Avec Les Stars 2022. Di acara itu ia berpasangan dengan petari Adrien Caby, sayangnya langkah mereka terhenti di minggu keenam. Namun demikian, rasa-rasanya Anggun masih belum akan berhenti, entah prestasi apa lagi yang akan dibuatnya untuk mengejutkan para fans-nya. Ewith Bahar Nama Ewith Bahar bukan asing di dunia sastra. Pesastra cantik kelahiran Jakarta ini dikenal melalui sejumlah karyanya dalam bentuk novel, cerita pendek, Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 11
12 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 dan puisi yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar. Alumnus Sastra Inggris Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta ini sehari-hari bekerja di bagian news and feature sebuah stasiun televisi swasta ini secara umum dikenal sebagai satu di antara pesyair yang puisipuisinya terhimpun dalam antologi puisi Dari Negeri Poci, tepatnya sejak edisi 4 yang terbit pada 1993. Antologi puisi keroyokan lain yang memuat karyanya adalah Metamorfosis. Ia sendiri punya beberapa antologi tunggal di antaranya Serenada Kalbu, Mars & Venus, dan Kidung Kawidaren. Tak hanya puisi, antologi cerpen berjudul Cinta Tujuh Hari pun dibuatnya. Selain itu karyanya juga ada yang berupa novel, berjudul Dari Firenze ke Jakarta. Ia pun sering berbagi pengalaman melalui artikelartikel terkait perjalanannya ke berbagai tempat di dunia dalam rangka acara-acara sastra. Kesempurnaan penguasaannya atas bahasa Inggris yang tidak hanya dalam berkomunikasi tetapi juga dalam bersastra telah membawanya ke dalam komunitas-komunitas sastra bergengsi tingkat dunia, berperan aktif di dalamnya, bahkan meraih penghargaan-penghargaan yang tentunya sangat membanggakan bagi dunia sastra Indonesia. melalui IFCH (International Forum of Creativity & Humanity) juga menganugerahkan kepadanya gelar Ambassador of Peace. Festival literatur terpanjang untuk kemanusiaan, Panorama International Literature Festival, mempercayakannya untuk duduk sebagai anggota panitia penyelenggara. Peran ini membuka kesempatan baginya untuk meraih Panorama Global Literary Awards 2023 yang sangat prestisius. Sementara itu, Poetry and Literature World Vision juga menobatkannya sebagai Sekjen sejak 1 September lalu. Virtual World Poetry Forum, yang diselenggarakan pada 17 - 18 Desember 2022 juga telah mengundangnya. Belum lagi acara-acara sastra yang diikutinya baik sebagai peserta, narasumber, maupun penyelenggara, juga karya-karyanya yang muncul di terbitan-terbitan luar seperti Prodigy Magazine (AS), Azahar Revista Poetica (Spanyol), Silk Road Anthology (Mesir), Opa Poets (India), Atunis Galaxy Anthology, dan sebagainya. Di antara karya-karya tersebut ada yang akan dipublikasikan tahun depan. Happy Salma Aktris yang juga pembawa acara, penulis, sutradara, produser pertunjukan teater, dan pengusaha perhiasan ini belum lama berhasil memenangkan penghargaan Meski jarang muncul di mediamedia utama, kiprah Ewith di bidang sastra dan literasi bisa dikatakan benar-benar habishabisan. Hebatnya, karya-karyanya sangat banyak mendapatkan apresiasi luas dari forum-forum internasional. Cukup hanya dengan menelusuri linimasa media sosialnya, bisa kita lihat apa saja pencapaian-pencapaiannya. Di antaranya yang mutakhir, puisinya yang berjudul War Field in Mouths berhasil masuk 10 besar dalam International Day of Peace Poetry Contest 2022. Puisi ini diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol dan diterbitkan di dua majalah sastra internasional. Sebuah media digital keren di Yunani, Polis Magazino, pernah mewawancarainya untuk sekadar bertukar pikiran. Juli lalu namanya masuk dalam 330 nominator Rahim Karim World Literary Award, sebuah ajang penghargaan sastra kelas dunia yang digagas oleh pesastra Kyrgyzstan, Rahim Karim Karimov. Kerajaan Maroko 12 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 13 sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik dan menjadi nominator Pemeran Utama Wanita Terfavorit pada forum Indonesian Movie Actors Awards melalui peranannya sebagai Raden Nana Suhani dalam film berjudul Nana (Before, Now and Then). Di film ini ia juga berperan sebagai co-producer. Film berbahasa Sunda yang disutradarai oleh Kamila Andini ini juga menempatkannya sebagai nominator pada beberapa gelaran penghargaan film tahun ini seperti Pemeran Utama Wanita Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI), Pemeran Utama Wanita Terpuji Film Bioskop pada Festival Film Bandung, dan Best Performance pada Asia Pacific Screen Awards. Saat ini ia sedang menggarap sebuah proyek film yang berjudul Surga di Bawah Langit. Selain seni peran yang telah melambungkan namanya sejak awal milenium sampai berhasil mencapai posisiposisi bergengsi yang dipegangnya sekarang, ibu dari dua anak ini juga aktif menulis karya sastra. Karya pertamanya adalah kumpulan cerpen berjudul Pulang (2006). Setelah itu ia juga menulis beberapa judul lain seperti Telaga Fatamorgana (2008), berkolaborasi dengan Pidi Baiq dalam Hanya Salju dan Pisau Batu (2010), dan Biografi Kreatif Desak Nyoman Suarti: The Warrior Daughter (2015). Literasi untuk anak juga digarapnya. Di antara karya mutakhirnya adalah buku berjudul Cerita Kina (2022), yang tak lain berisi pengalaman-pengalaman putrinya. Laura Basuki Kecantikan eksotisnya mulai dikenal publik melalui video klip beberapa kelompok musik yang naik daun di sekitar awal 2000-an seperti Nidji, Lyla, dan The Titans. Klip-klip tersebut kemudian menjadi bagian dari portofolio yang mengantarkannya menapaki karier dan memberikannya peran-peran signifikan untuk membuktikan kualitas keartisannya. Mengawali karier sebagai model, perempuan berdarah Jawa-CinaVietnam ini tak perlu waktu terlalu lama untuk mencapai prestasi puncak dalam dunia seni peran. Tak seperti kebanyakan aktris yang terlebih dulu menjalani fase panjang di belantara persinetronan, Laura Basuki segera mendapatkan kepercayaan untuk tampil dalam film-film layar lebar. Kepercayaan ini tidak disia-siakannya, terbukti pada gebrakan pertama di film Gara-gara Bola ia langsung berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Aktris Pendatang Baru Terbaik dan Terfavorit pada Indonesian Movie Awards 2009. Kariernya sebagai aktris terus melaju dengan peran demi peran yang dimainkannya dalam film-film berikutnya. Rata-rata dalam setahun ia bermain dalam lebih dari satu film dari berbagai genre dan hampir selalu mendapatkan nominasi untuk berbagai penghargaan. Dari nominasi-nominasi itu sebagian besar menghasilkan kemenangan. Keberhasilan mutakhir tahun ini didapatkannya dari adu akting dengan Happy Salma di film Nana (Before, Now and Then). Kali ini penghargaan yang diraihnya adalah Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Film Bioskop pada Festival Film Bandung dan Best Supporting Performance pada Berlin International Film Festival. Sebuah kejutan yang sangat membanggakan bahwa penghargaan ini diraihnya dari festival film yang diselenggarakan oleh forum perfilman Jerman, mengingat film ini sepenuhnya berbahasa Sunda. Di sisi lain, Festival Film Indonesia (FFI) dan Indonesian Movie Actors Awards memberikannya nominasi sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik. Indonesian Movie Actors Awards juga menominasikannya sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terfavorit. Para perempuan peseni itu telah meraih pencapaianpencapaian penting di bidang masing-masing pada 2022 sambil menyandang status sebagai ibu yang selain punya banyak kegiatan rutin, setidaknya juga punya anak. Tampilnya nama-nama di atas dalam artikel ini bukannya bermaksud mengesampingkan peranan perempuan-perempuan yang tidak dibahas. Artikel ini hanya mengambil beberapa contoh pencapaian yang layak diketengahkan dalam tujuan untuk memberikan motivasi bagi para pembaca, bahwa siapapun, kapanpun, dalam bidang apapun, tetap punya kesempatan untuk bisa mencetak prestasi. Di luar nama-nama yang tertulis di artikel ini sudah barang tentu masih banyak nama lain yang sebenarnya juga layak untuk ditampilkan. Ritmanto Saleh - Berbagai sumber Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 13
14 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 BU, tidak akan pernah cukup kata untuk menggambarkan sosok perempuan luhur ini, ibu adalah muara kehidupan. Hampir setiap negara memunyai hari khusus sebagai bentuk penghargaan kepada ibu, seperti di Prancis yang jatuh pada minggu keempat Mei, Inggris yang merayakan Hari Ibu sejak abad 16, yang diadakan pada minggu keempat sebelum Paskah, disebut juga dengan Mothering Sunday. Meksiko menetapkan 10 Mei sebagai perayaan Hari Ibu dengan memberikan bunga adalah kewajiban dan perayaan ini juga ditandai dengan pemutaran lagu Les Mananitas dari penyanyi Mariachi. Di Jepang, peringatan Hari Ibu atau Haha No Hi pada awalnya bersamaan dengan perayaan hari ulang tahun Permaisuri Koujun, kemudian dipindahkan pada minggu kedua Mei, bersamaan dengan saat masyarakat Jepang memberikan hadiah untuk sang ibu. Di Uni Soviet, perayaan Hari Ibu jatuh pada 8 Maret, namun semenjak Uni Soviet pecah, pemerintah Rusia mengubahnya menjadi minggu terakhir November, meskipun masih banyak orang yang memberikan hadiah untuk ibu pada Maret. Di Indonesia sejarah awal perayaan Hari Ibu dimulai pada saat diadakannya Kongres Perempuan Indonesia Pertama pada 22 - 25 Desember 1928 yang dilangsungkan di Yogyakarta. Gedung Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto menjadi saksi peristiwa penting ini. Sebanyak 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatera berkumpul untuk membentuk Kongres Perempuan Indonesia yang sekarang dikenal dengan nama Kongres Wanita Indonesia atau KOWANI. Kalau kita melihat ke belakang, sejak 1912 sebenarnya Indonesia sudah memiliki organisasi perempuan. Pejuang-pejuang wanita sejak abad 19 seperti Cut Mutia, Rangkayo Rasuna Said, Walanda Maramis, Martha Christina Tiahahu, RA Kartini, Dewi Sartika, dengan tidak Sejarah Penetapan 22 Desember Sebagai Hari Ibu I Perempuan mulia, dengan jemari bergelimang kasih, hatinya adalah mata air cinta dan pada jejak langkahnya harum surga memenuhi semesta. Bahasan Utama langsung telah merintis organisasi perempuan melalui gerakan-gerakan perjuangannya. Hal itu menjadi latar belakang dan tonggak sejarah perjuangan kaum perempuan di Indonesia. Merupakan motivasi kuat bagi para perempuan Indonesia untuk bersatu dalam semangat dan pemikiran bagi kemajuan perempuan Indonesia, serta cita-cita kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Pada Kongres Perempuan Indonesia Pertama, yang menjadi agenda utama adalah Persatuan Perempuan Nusantara, peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, dan lain-lain. Banyak hal besar yang diagendakan, para perempuan pejuang itu menuangkan pemikiran-pemikiran kritis dan upaya-upaya penting bagi kemajuan bangsa Indonesia umumnya dan kaum perempuan khususnya. Pada 20 - 24 Juli 1935, kembali diadakan Kongres Perempuan Indonesia Kedua, Kongres yang diselenggarakan di Jakarta ini dipimpin oleh Sri Mangunsarkoro. Dalam Kongres ini dihasilkan beberapa keputusan, seperti memakai nama Kongres Perempuan Indonesia sebagai forum resmi pertemuan organisasi perempuan Indonesia dan mendirikan Badan Penyidikan Perburuhan Perempuan. Kongres Perempuan Indonesia Ketiga diadakan tiga tahun kemudian yaitu pada 23 - 28 Juli 1938 di Bandung, dengan dipimpin Emma Puradireja. Pada kongres kali ini, diputuskan untuk menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu. Awal peringatan Hari Ibu adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan hebat Indonesia dalam upaya perbaikan kualitas perempuan Indonesia juga kualitas Bangsa. Misi itulah yang menjadi roh dan semangat perempuan 14 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 15 Indonesia dari berbagai latar pendidikan dan pekerjaan untuk bersatu dan bekerja sama. Samangat untuk berkontribusi dan keinginan untuk memajukan bangsa, kaum perempuan khususnya, menjadikan setiap peringatan Hari Ibu sarat dengan kegiatan yang bertujuan membantu perempuan-perempuan Indonesia agar hidup lebih layak dan sejahtera. Perayaan cukup besar diadakan pada peringatan Hari Ibu ke-25 di Solo. Pada saat itu diadakan pasar amal yang seluruh hasilnya digunakan untuk membiayai kegiatan Yayasan Kesejahteraan Wanita Buruh dan pemberian beasiswa bagi anak-anak perempuan. Pada waktu itu juga diadakan rapat umum yang menghasilkan resolusi meminta pemerintah agar melakukan pengendalian harga-harga sembako. Kiprah Kongres Perempuan Indonesia berhasil meningkatkan kepercayaan perempuan Indonesia dan membuat eksistensi perempuan semakin diperhitungkan. Posisi-posisi penting baik di perusahaan-perusahaan maupun di pemerintahan mulai banyak diisi oleh para perempuan. Pada 1950, merupakan satu di antara sejarah penting bagi perempuan Indonesia, karena pada tahun itu, Maria Ulfah diangkat sebagai Menteri Sosial oleh Presiden Soekarno. Presiden Soekarno kemudian dengan resmi mengeluarkan Dekrit Presiden No 316 Tahun 1959, yang menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu, dan dirayakan dalam skala nasional hingga sekarang. Pada kongres di Bandung, 1952, diusulkan untuk membuat monumen peringatan Hari Ibu, sebagai bentuk penghargaan kepada perempuan Indonesia. Pada tahun berikutnya dibangunlah Balai Srikandi di Yogyakarta. Ketua kongres pertama Ibu Sukanto melakukan peletakan batu pertama pembangunan monumen tersebut, dan pada 1956, Menteri Sosial Maria Ulfah meresmikan Balai Srikandi. Pada 1983, Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen Balai Srikandi menjadi Balai Bhakti Wanitatama di Jalan Laksda Adisupto, Yogyakarta. Dari sejarah Hari Ibu, kita melihat betapa tangguh para perempuan Indonesia, semangat yang luar biasa untuk memajukan dan menyejahterakan kehidupan perempuan Indonesia. Namun peringatan Hari Ibu bukan hanya untuk mengenang jasa para pejuang dan wanita pahlawan Indonesia, namun juga merupakan wujud rasa cinta, hormat dan terima kasih kepada para ibu. Begitu besar jasa para ibu, dan begitu dalam pengorbanan mereka. Kemuliaan ibu bukan hanya karena telah melahirkan kita, namun juga atas segala pengabdian ibu dalam membesarkan anak-anaknya, mengurus keluarga, juga partisipasi ibu (perempuan) dalam masyarakat bahkan dalam kegiatan bernegara. Peringatan Hari Ibu 22 Desember adalah bentuk kado istimewa Bangsa Indonesia kepada kaum perempuan atas jasa-jasa mereka. Ossie Helmi - Berbagai sumber Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 15
16 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 ALAM kesenian pun hal itu mesti dibenahi, karena seni adalah produk budaya manusia yang hakikatnya adalah netral gender, baik laki-laki maupun perempuan; memunyai eksistensi yang setara dalam pemenuhan kreasi dan utilitasnya dalam kehidupan bermasyarakat dan budaya. Dalam kehidupan seni pertunjukan tradisional, perempuan banyak terlibat, baik sebagai peseni aktif atau sebagai pengelola organisasi pertunjukan. Tetapi kemudian perempuan sering diidentikkan sebagai objek seni dalam ketakberdayaannya. Bahkan seni pertunjukan tradisional yang seharusnya tidak berpihak pun dilibatkan dalam pemberian cap kepada perempuan yang menderita ketidaksetaraan dan keadilan gender di dalamnya. Tentu saja hal ini merupakan sebuah ketidakadilan gender dan ketimpangan gender dalam memperoleh hak-hak yang sama baik sebagai peseni maupun sebagai pengelola organisasi seni. Kesenian merupakan cermin dan refleksi nilai kehidupan sosial masyarakat dalam rekam jejaknya tidak pernah lepas dari sosok perempuan sebagai kreator seni. Karena di balik keberadaannya perempuan menyimpan dan memberi segudang hasrat imaji, gagasan, dan tema untuk diangkat dalam karya seni rupa, tari, sastra, film, foto, hingga produk-produk budaya di layar kaca yang dan tak jarang memunculkan pro dan kontra. Sebab perempuan atau tubuhnya diilustrasikan sebagai alat/ instrumen hasrat dalam penciptaannya. Atau tubuhnya ditempatkan sebagai basis dan objek material estetis. Perempuan dicitrakan dengan kecantikan, lemah-gemulai, seksi, dan sensualnya dalam produk kesenian dari tradisional hingga kontemporer. Inilah realitas belenggu perempuan dalam kesenian sebagai realitas pandangan dalam masyarakat sepertinya harus diperbaiki. Perempuan sebagai peseni tentu sangat berperan besar sebagai pemeran utama di samping aktivis-aktivis perempuan, lembaga swadaya masyarakat, mahasiswa, atau siapapun yang memunyai kepedulian terhadap isu perempuan. Untuk keperluan tersebut mulailah pergerakan perempuan dalam kiprahnya memperjuangkan hak dan juga mendokumentasikan kiprahnya sebagai peseni, dalam bidang seni rupa, seni sastra, tari, musik, teater, dan lain lain. Di samping itu juga tentu banyak bermunculan berbagai perkumpulan yang kemudian dijadikan sebagai media mereka berekspresi. Inilah perempuan bukanlah sebagai sosok yang merdeka, otonom, dan bebas dari belenggu kepentingan. Bukan sebagai jalinan pengikat relasi sesama perempuan dan sosialnya atas dasar kesetaraan dan emansipatif. Perempuan dan atau tubuhnya yang liberal. Perempuan atau tubuhnya bukan merupakan wilayah utama dalam gagasan, proses, dan penciptaan karya. Selanjutnya adalah sosoknya dalam kesenian muncul, bermakna dan berkekuatan sebagai media estetika penyampai pesan moral, nilai, dan norma pembebasan dari stigma dan ketidakadilan. Dalam kesenian, istilah kreator dari perempuan atau laki-laki itu tidak penting. Yang utama adalah siapapun kreatornya ketika menyajikan karya beresensi perempuan mampu mempresentasikan dan mendialogkan makna kehadirannya. Meski begitu sering kali kita melihat perempuan dalam seni hanya dipandang sebagai objek, masih sangat sedikit pembahasan perempuan sebagai subjek dalam seni. Berikut adalah beberapa contoh pergerakan perempuan peseni di Indonesia, yang memberi dampak positif dalam perkembangan eksistensi perempuan di bidang seni: 1. Mulai 2015, Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta menginisiasi proyek seni perempuan peseni, Wani Ditata Project. Proyek seni ini adalah tanggapan Komite SR-DKJ terhadap perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, bahwa kegiatan seni yang mengarah pada riset dan fokus pada isu tertentu menjadi sangat relevan saat ini. Relevansi proyek seni ini adalah bagaimana pengembangan kegiatan kesenian dengan durasi tertentu dan mendalaPerempuan Peseni di Antara Pergerakan yang Senyap D Bahasan Utama Dalam kehidupan, perempuan selalu diposisikan sebagai peneguh anggapan atau stereotipe bahwa mereka sosok yang lemah dan keindahannya hanya dimiliki atas kuasa kepentingan laki-laki dan ekonomi-politik. Tidak mengherankan karena selama ini belenggu ideologi dan konstruksi masyarakat masih sangat patriarkat.
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 17 mi satu subjek wacana akan sangat berdampak pada perkembangan seni rupa kontemporer--di mana dalam proses kerja sebuah proyek seni terdapat produksi ilmu pengetahuan yang akan didistribusikan di akhir proyek. Proyek ini mengundang delapan perempuan peseni dari Jakarta dan kurator muda Angga Wijaya sebagai fasilitator dalam mengembangkan proyek seni ini. Tujuan mengundang perempuan peseni adalah untuk membaca perkembangan seni rupa kontemporer di Jakarta, di mana perempuan peseni juga menjadi pemain utama saat ini. Sekaligus untuk merangkum wacana sosial-politik kebudayaan yang dibaca melalui perempuan.-perempuan peseni Semoga saja proyek seni ini dapat berkembang dan berkontribusi bagi perkembangan seni rupa kontemporer kita. 2. Seperti yang terjadi juga pada kelompok perempuan peseni Sulawesi Utara. Sejarah asal-usul masyarakat Minahasa bertutur tentang sosok suci perempuan bernama Karema. Sebagai pemberi kehidupan, Karema adalah sosok yang menemukan Lumimuut, ibu dari suku-suku Minahasa. Sosok-sosok pembaru dalam sejarah Sulawesi Utara juga didominasi oleh perempuan-perempuan perkasa. Misalnya, Maria Walanda Maramis, tokoh emansipasi perempuan pendiri organisasi Percintaan Ibu kepada Anak Temurunnya (PIKAT) pada 1907. Ada pula Marie Thomas, perempuan Minahasa kelahiran 1896, perempuan dokter pertama yang tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia. Lalu bagaimana dengan perkembangan para perempuan peseni Sulawesi Utara hari ini? Dalam rangka Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional, NCCL sebagai kolektif kesenian yang fokus dalam kajian perkembangan budaya di Sulawesi Utara yang telah mencatat denyut perkembangan seni dan ruang budaya mereka. 3. Perempuan Pengaji Seni melihat bahwa peran dari kelompok-kelompok perempuan yang hadir sejauh ini masih seputar penciptaan seni, seperti kelompok peseni. Seperti yang dilakukan Shalihah dan kawan-kawan mencoba mengikuti Puspa Ragam Pengarsipan di Indonesian Virtual Art Archive (IVAA) atas nama Perempuan Pengaji Seni untuk mempelajari riset model yang dapat digunakan dalam mengaji seni. Pada 2021, mereka berusaha melakukan redefinisi dari kelompok Perempuan Pengaji Seni. Awalnya sebagai kelompok peneliti tetapi kini mereka berusaha untuk lebih fleksibel yang akhirnya juga menggunakan pendekatan dengan turut membuat karya. Selain membuat karya kelompok ini juga melakukan penelitian, karena membuat karya juga adalah sebuah penelitian. 4. Di Jakarta ada Jurnal Perempuan dan di Jogja ada semacam kelompok perempuan yang melakukan penelitian tentang ruang seni. Konsistensi perempuan peseni dengan estetika pembebasan ini juga dapat kita lacak pada sosok Arahmaiani, perupa dari Bandung pada dasawarsa 1980-an. Beberapa karya seni rupa baik drawing, lukisan, instalasi, dan performance art karya dia tak jarang menyinggung atau mengangkat isu perempuan. 5. Semangat ini juga dapat kita lihat dan cermati di balik karya sketsa, drawing, dan lukisan perupa Dewi Chandraningrum. Akademisi, peneliti, sekaligus aktivis dan pegiat isu perempuan di Solo ini bahkan seluruh karyanya tak lepas dari guratan persoalan perempuan dan anak seperti dalam Womb Document yang dipamerkan di Sangkring Art Space Jogja pada Maret 2015 atau pada lukisan berserinya 9 Kartini Kendeng. Ekspresi gugatan karya juga tampak di setiap performance art karya Luna Dian, seorang mahasiswi seni rupa Universitas Sebelas Maret. 6. Juga pada karya Di Balik Tudung. Genre estetika pembebasan juga muncul dalam Tari Brantarara karya Cahwati yang dipentaskan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo atau Taman Budaya Surakarta pada 31 Agustus 2016. Karya tari ini dengan seting dan latar belakang tari lengger Banyumasan yang tersebar hingga Kabupaten Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, dan Purbalingga yang kental dan hidup dalam belitan budaya patriarkhisme. Koreografer
18 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Bahasan Utama alumnus Institut Seni Indonesia Solo ini melalui karyanya menafsirkan ide-ide kemandirian dalam diri perempuan dan ruang geraknya yang tidak terbatas oleh peranan laki-laki. Perempuan bisa menjadi pemimpin bagi laki-laki. 7. Tari NoSheHeOrIt karya Otniel Tasman yang dipentaskan di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko, Solo pada 21 September 2016 bahkan meneguhkan kepribadian dalam tubuh manusia, yaitu simbol kepribadian laki-laki, perempuan, dan percampuran atas keduanya. Ketiganya melekat, melengkapi, dan ini berarti sama, setara, dan adil gender. 8. Merekonstruksi pengalaman dan perlakuan sekaligus mendekonstrusi pemahaman masyarakat dan negara terhadap perempuan dan tubuhnya juga terekspresi di ranah sastra. Ini terungkap dalam antologi puisi Aku, Perempuan dan Kata-kata karya Yacinta Kurniasih terbitan Yayasan Jurnal Perempuan, Jakarta 2016, atau pesyair Fanny Chotimah dengan Bibit Puisi yang digelar rutin di arena car free day di Solo setiap Minggu pagi. Kerja-kerja kreatif ini juga dilakukan oleh kelompok perempuan aktivis Jejer Wadon di Solo. Melalui ”ibadah” berpuisi, membaca narasi, membaca cerita pendek, hingga musikalisasi puisi, 9. Bersamaan dengan momen seperti Hari Kartini, Hari Perempuan Sedunia, 16 Hari Antikekerasan terhadap Perempuan dan Anak, atau Hari Hak Asasi Manusia 10 Desember. Kesaksian perempuan peseni dengan karya berestetika pembebasan merupakan keharusan. Sosok yang mendasarkan pada keberpihakan, keterlibatan yang memerlukan kesabaran, keuletan, posisi yang sejajar, demokratis, dan konsistensi sikap. 10.Semangat ini tentu berangkat dari hakikat perempuan sebagai peseni dan tujuan penciptaan karya-karyanya, yaitu bekerja untuk menganyam kebenaran, meniti puncak-puncak kemanusiaan. Seperti halnya yang dilakukan oleh Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) meskipun tidak fokus pada persoalan perempuan. Tetapi setidaknya perempuan menjadi bagian dari organisasi ini karena hakikatnya merupakan organisasi kebudayaan. Lesbumi menghimpun berbagai macam artis: pelukis, bintang film, pemain pentas, dan pesastra. Lembaga ini juga beranggotakan ulama yang memiliki latar belakang seni cukup baik. Sejak menarik diri dari partai Masyumi 1952, NU terus berupaya memodernisasi dirinya. Di awal penarikan diri, NU telah memiliki bagian-bagian dan badan otonom yang mencerminkan perhatianya pada masalah-masalah tertentu: pendidikan, dakwah, sosial, ekonomi, pertanian, perempuan, pemuda, dan buruh. Dalam perkembangan selanjutnya, bagian-bagian dan badan-badan otonom yang ada di tubuh ormas NU semakin bertambah seiring meluasnya perhatian pada masalah-masalah lain. Satu di antaranya adalah Lesbumi yang dibentuk pada 1962 Begitulah beberapa contoh gerakan perempuan peseni, perempuan yang memunyai peran ganda sebagai ibu, istri, juga sebagai pekerja dan peseni. Seorang peseni yang notabene adalah orang merdeka yang semestinya melihat kebenaran dengan spirit yang bebas, dengan kesenian dan estetika pembebasan agar bisa memberikan rambu-rambu, dan kesadaran-kesadaran baru. Dinamika perempuan peseni dengan gerakan ke arah pembongkaran, dengan segala persoalannya itu, bisa kita lihat, baca, dan cermati kemunculannya pada era seni kontemporer sekarang ini. Seni tak lagi terpaku sebagai karya dan harus seni untuk seni, dan eksklusif, tetapi seni yang menjelma sebagai media penyadaran, pembebasan. Seni menjadi media untuk belajar memahami kontradiksi sosial-politik dan ekonomi dan mengambil tindakan untuk melawan unsur-unsur yang menindas (Paulo Freire, ‘Pendidikan Kaum Tertindas’, 1985). Seni tak lagi dilandaskan pada estetika semata, tetapi lebih pada esensi dan tujuan diciptakannya karya. Geliatnya tidak hanya hadir di ruang-ruang pertunjukan atau ruang pameran, tetapi juga di ruang-ruang publik, menyertai dan menjadi bagian dari acara formal/ informal berupa diskusi, obrolan, hingga aksi-aksi protes. Seni tak lagi berjarak dengan masyarakat sehingga merasa ikut terlibat baik psikis atau fisik ke dalam inti karya. Rini Intama - Berbagai sumber
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 19 EMASA sekolah ia ikut beberapa kegiatan kesenian seperti paduan suara, tari, dan teater di bawah bimbingan Didi Petet. Bersamanya, pengurus Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) yang telah memiliki cucu ini pernah berpentas di gedung Granada (sekarang Plaza Semanggi). Selain menulis puisi dan cerita pendek di majalah dinding, ia juga ikut sanggar tari milik keluarga Ita Laksmi dan Ratih, serta sempat aktif di teater Bela di bawah naungan Radio ARH, Taman Ismail Marzuki. Banyak novel yang sudah ditulisnya, bahkan ada yang sudah difilmkan. Kegiatan menulis ini sudah ditekuninya sejak SMA. Ketika itu yang ditulisnya terutama adalah puisi. Setelah mencurahkan isi hati dalam bentuk puisi rasanya hati terasa damai dan tenang sehingga hampir setiap hari ia menulis di buku harian. Namun demikian, pada awalnya buku yang ditulisnya adalah biografi tokoh yakni Mbok Berek dan Success Story Nila Sari. Namun seiring perjalanan waktu, ketika anak-anak mulai beranjak remaja dan karena ia selalu meleburkan diri di antara kawan-kawan mereka, maka timbullah inspirasi untuk membuat novel. S Sudut Pandang Halimah Munawir Cinta Seni-Budaya dengan Dirikan Rumah Budaya Tokoh kita kali ini adalah seorang wanita pengusaha yang juga adalah peseni yang punya komitmen kuat dalam pengembangan seni-budaya. Lahir dari pasangan orangtua wirausaha, Halimah muda adalah tipe orang yang tidak bisa diam dan serba ingin tahu. Berkesenian bukan bagian dari kegiatan keluarga melainkan timbul begitu saja setelah duduk di bangku sekolah. Tak ada anggota keluarga lain yang suka berkesenian. Kakaknya ada yang menjadi suster, dosen, dan guru ngaji. Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 19
20 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Sudut Pandang Kemudian lahirlah novel The Sinden, Sahabat Langit, Sucinya Cinta Sungai Gangga, dan Kidung Volendam yang diterbitkan Gramedia. Selain novel, ia pun menulis antologi puisi yakni Tombak Lentera, Akar, dan sehimpun puisi dwibahasa Bayang Firdaus. Tak hanya itu, ia terus menulis cerpen untuk beberapa media dan puisi bersama dengan para pesyair lainnya pada beberapa buku antologi puisi yang dicetak secara indie. Tentang peranan perempuan dalam perkembangan seni-budaya di Indonesia, ia mengatakan bahwa peranan perempuan bagi perkembangan seni-budaya Indonesia sesungguhnya strategis dan tidak dapat dianggap remeh. Menurutnya, di belakang para tokoh senibudaya, ada peran perempuan sebagai pendamping yang memberi dukungan bahkan dijadikan objek inspirasi. Seiring semakin berkembangnya emansipasi, banyak bermunculan tokoh seni budaya dari kalangan perempuan. Ini adalah sebuah kemajuan yang harus diviralkan kepada perempuan-perempuan lainnya, sebab dalam seni-budaya terkandung makna mendalam yang dapat menjadi sebuah terapi. Sebagai perempuan yang menyandang kata ibu dan berdiri di garda depan untuk mencetak anak-anak yang berperilaku sopan-santun, hormat dan hidup bahagia, seharusnya perempuan mengambil peran dengan menjadikan seni-budaya sebagai konsumsi anak-anaknya karena semua itu bisa didapat dari seni-budaya yang telah ada sejak zaman nenek moyang. Teramat penting bagi seorang perempuan untuk mengambil peran dalam memahami makna di balik seni-budaya yang sarat dengan filosofi hidup dan berkehidupan. Problemnya, paham paternalistik di Indonesia masih memojokkan perempuan pada kodratnya sebagai ibu rumah tangga sehingga kreativitas seni-budaya yang ada pada diri perempuan tidak maksimal untuk dikembangkan. Namun sebagaimana uraian di atas, penyebaran virus seni-budaya jangan hanya terbatas pada golongan akademisi, melainkan para perempuan yang telah menyandang kata ibu yang dalam kesehariannya bercengkerama dengan anak-anak. Kuatnya komitmen yang dimiliki oleh Halimah untuk perkembangan seni-budaya terbukti dengan difungsikannya sebuah vila di kawasan Mega Mendung, Puncak, sebagai rumah budaya. Awalnya ketika sedang ramai pembicaraan masalah kawin kontrak di Puncak, ada seorang teman yang dosen Universitas Indomesia memintanya agar membuat buku ajar tentang tatanan sosial perempuan Puncak. Ia pun lantas mengadakan riset kecil. Hasil dari riset itu membuka mata hatinya terhadap fakta terjadinya kawin kontrak yang sangat merugikan para remaja perempuan dan tak jarang mereka menjadi korban dari sebuah pemahaman yang 20 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 21 salah. Hati kecilnya pun mengatakan pada saat itu yang lebih utama bukanlah membuat buku namun memberi sebuah solusi, ruang kreativitas tempat anak-anak dapat berkegiatan di waktu luang mereka. Menurut pendapatnya, dalam situasi seperti itu yang paling tepat adalah pembelajaran seni-budaya. Kebetulan ia memiliki vila di Mega Mendung, maka difungsikanlah vila tersebut sebagai Rumah Budaya HMA. Agak disayangkan, riset yang semula menjadi titik tolak tindakannya ini sekarang malah mangkrak alias tidak menjadi buku ajar. Dalam perkembangannya, Rumah Budaya HMA juga membuka diri bagi siapa saja yang ingin mengadakan kegiatan senibudaya tidak hanya bagi mereka yang berada di seputar Puncak melainkan juga dari luar kawasan tersebut. Mengapa? Agar ada pergerakan ekonomi kreatif yang mandiri dengan membangun beberapa lokasi tempat mereka menginap. Mengelola sebuah rumah budaya dengan lokasi yang berada di kaki gunung tentunya punya kendala tersendiri. Kendalanya, Rumah Budaya HMA tidak terjangkau kendaraan umum sehingga sulit bagi para peseni dan budayawan untuk datang berkegiatan. Harapannya, ke depannya pemerintah setempat bisa mendukung dengan akses atau sarana transportasi agar Rumah Budaya HMA yang lokasinya di tengah-tengah pusat wisata Puncak, menjadi sebuah alternatif bagi para wisatawan berkunjung sebagai tempat wisata budaya. Ritmanto Saleh Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 21
22 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Artikel Budaya ERBICARA tentang wayang kita berbicara tentang hidup dan kehidupan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Wayang merupakan suatu kearifan lokal yang mengglobal. Kisah-kisah wayang dapat bersumber dari kitab suci, epos, dan berbagai cerita lain. Wayang menggambarkan nilai-nilai luhur tentang keutamaan hidup. Kisah Ramayana dan Mahabarata menampilkan keangkaramurkaan versus keutamaan, walaupun di situ ada penengahnya. Dari kisah kelahiran, kehidupan, percintaan, supata hingga karma semua ada. Kebenaran dan keadilan menjadi pemenang. Dalam kisah-kisahnya ada pengembangan kearifan lokal memasukkan tokoh-tokoh sang pamomong, sang pencerah. Semar dengan para punokawannya menjadi ikon dalam pedalangan wayang purwo. Semar tokoh yang serba samar yang sejatinya adalah Sang Hyang Ismaya. Semar dan para punokawan lainnya Gareng, Petruk, dan Bagong pada puncak cerita akan muncul dalam goro-goro. Banyolan lucu berisi wejangan, nilai-nilai luhur, sebagai wujud guyon maton atau guyon parikeno. Walaupun dengan cara bercanda nilai-nilai kehidupan yang sarat makna ditransformasikan. Dalam perkembangannya jenis dan bentuk wayang terus berkembang. Wayang Purwo, Wayang Orang, Wayang Klithik,Wayang Beber, Wayang Wahyu, Wayang Sadat, Wayang Suket, Wayang Golek, Wayang Ukur, Wayang Potehi, Wayang Thi Thi, Wayang Kemerdekaan, Wayang Kampung Sebelah, Wayang Kancil, Wayang Diponegoro, Wayang Bali, Wayang Kamasan, dan sebagainya. Di Kamboja, Thailand, India, Vietnam, dan lainlain ada juga model-model wayang. Tatkala mempelajari falsafah hidup bahagia dari Ki Ageng Suryomentaram terbersit mentransformasikan dalam Wayang Jiwo. Pada saat kongkow-kongkow pagi dengan perupa Joko Kisworo (Jokis), membahas tentang ajaran Ki Ageng Suryomentaram tentang Begja, kebahagian hidup. Tiba-tiba sahabat Jokis meneleponnya membahas tentang seorang dalang. Yang saya dengar hanya kalimat: “lebih baik menggunakan bahasa Jawa”. Tatkala mendengar hal itu sontak pikiran saya mak bedunduk keingatan akan pitutur luhur Ki Ageng Suryomentaram dapat ditampilkan melalui wayang. Saya berpikir bahwa ki Ageng mengajarkan Kawruh Jiwa. Mengapa tidak dipentaskan ajaran-ajarannya dalam suatu pertunjukan. Tanpa mengabaikan pakem pedalangan tetap dapat menampilkan sosok penutur luhur dengan nama Ki Gede Mbringin sebagai nama lain Ki Ageng Suryomentaram. Temanya dapat membahas ajaran-ajaran dari buku Wayang Adalah Kita? B Chryshnanda Dwilaksana* Ki Ageng sebagai babon kitabnya yang dikumpulkan putranya Grangsang Suryomentaram. Ada lima buku yang berisi bab-bab tentang Kawruh Jiwa. Tentu saja improvisasi dapat dikembangkan. Tuturan ajaran Kawruh Jiwa tadi dapat diawali dengan suluk. Tentu ini bisa dilakukan dengan tembang-tembang atau seloka seloka yang berisi inti dari hidup bahagia. Dalam pementasan wayang jiwa tentu juga membutuhkan dialog yang kadang lugu, lucu, nyebelin, hingga menjungkirbalikkan fakta. Tokoh lucu, lugu, dan jujur, namun sakti mandraguna dan berbudi luhur dapat ditokohkan dengan nama: “Sluman, Slumun, dan Slamet”. Sluman, Slumun, dan Slamet sejatinya merupakan satu kesatuan yaitu jiwa yang eling dan pasrah kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Dialog-dialog antara Ki Gede dengan masyarakat kebanyakan dan dengan punokawan Sluman, Slumun, dan Slamet dapat menjadi suatu adengan guyon parikeno, guyon maton. Semua ini menjadi ikon dan simbol atas jiwa yang hidup. Jiwa yang bahagia, yang ditemukan dalam hidup dan kehidupannya. Tentu saja manusia yang bahagia dengan jiwa-jiwa merdeka, jiwa yang penuh ketulusan hati yang bebas dari berbagai belenggu jiwa. Semua ini sejatinya untuk sangkan paraning dumadi. Urip ono lelabuhan dan menjadi berkat bagi hidup dan kehidupan. Manfaat atas keberadaan sebagai manusia yang menginspirasi menjadi energi positif membangun sesuatu dengan guyub rukun. Ada kepekaan kepedulian dan bela rasa bagi semakin manusiawinya manusia. Dalam kisah wayang ada plot-plot yang menjadi sumber petaka dan dosa yang akan dilebur atau dihukum dengan kematian. Kita bisa mengambil contoh dari Mahabarata. 22 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 23 Mengapa perang Baratayudha terjadi? Basudewa Krisna sering menjadi pihak yang dipersalahkan terjadinya perang besar Baratayudha. Krisna sebagai awatara Wisnu menitis ke dunia karena ada sesuatu misi menegakkan kebenaran dan Basudewa Krisna memahami hal tersebut bahwa perang memang harus terjadi untuk menumpas angkara murka. Jiwa adalah kebebasan. Walaupun dalam perang Bharatayuda Krisna maupun Baladewa sama-sama tidak terlibat langsung namun strategi Krisna yang membuat Pandawa menang dan Kurawa musnah. Sumber daya akan terus dipuja diperebutkan dan menjadi simbol kejayaan berbagai cara dihalalkan untuk mendominasinya. Sehingga diperlukan kekuatan dan kekuasaan. Harapannya berasaskan kejujuran, kebenaran, dan keadilan namun tatkala di tangan orang yang keliru maka akan digunakan sebagai hegemoni dan bersekutu dengan oligarki. Moralitas kunci memegang kekuatan dan kekuasaan agar bermanfaat bagi patriotisme agar bangsa dan negara berdaulat, berdaya tahan, berdaya tangkal, bahkan berdaya saing. Basudewa Krisna walaupun memihak namun ia berupaya mencerahkan dan menyadarkan akan Dharma dan Karma. Krisna sangat paham bahwa: “Kekuasan simbol kejayaan sekaligus simbol kejumawaan dan pemenuhan kepentingan”. Seringkali pengatasnamaan menjadi legitimasi dan justifikasi dengan memanfaatkan berbagai kekuatan dan kekuasaan termasuk kesucian kaum beriman untuk mencapai tujuan. Pembenaran dan saling merundung menjadi sesuatu yang terus dilakukan walau merusak peradaban. Sivis pacem parabelum. Kalau mau berdamai harus siap berperang. Hidup dalam suatu peradaban diperlukan kemampuan dan kekuatan untuk memahami, membatasi, empati, peduli, saling menghormati, dan mampu saling menghidupi. Kekuatan siap berperang untuk menjaga agar hidup dan kehidupan, walau memerlukan peradaban dan kemampuan bertahan hidup namun juga menumbuhkembangkannya. Basudewa Krisna memahami akan dampak perang namun ia sadar bahwa manusia adalah makhluk paling lemah sekaligus paling kuat. Namun untuk mengatasi kelemahannya dan mencapai kekuatanya, ia harus belajar dalam segalanya. Di samping itu manusia dituntut memiliki kepercayaan diri dan bekerja keras untuk hidup dan kehidupannya. Kita juga dapat belajar dari kisah duka Drupadi melalui kisah Air mata Drupadi dan Nasihat Basudewa Krisna. Betapa hancur hati Drupadi, marah malu kecewa, sedih, dan semua menjadi satu. Setelah pelecehan atas dirinya oleh para Kurawa muncullah sumpah yang mengerikan dari Bima dan Drupadi. Bima bersumpah akan membunuh semua Kurawa, merobek-robek tubuh Dursasana dan meminum darahnya. Juga akan meremukkan paha Duryudana. Drupadi bersumpah tidak akan menggulung rambutnya sebelum dikeramas dengan darah Dursasana. Drupadi meratapi nasibnya mengapa ini harus terjadi pada dirinya. Amarah dan dendam berkibar di hatinya. Basudewa Krisna sahabatnya, datang memberi nasihat sebagai empati dan solidaritas serta menguatkan Drupadi. Dalam kehidupan ada baik dan buruk manusia diberi kebebasan memilihnya. Apa yang terjadi pada dirinya bukanlah salahnya atau kejahatannya, melainkan keadilan. Krisna mampu melihat masa depan, mampu menghentikan waktu bumi berputar, dan mampu membuat strategi. Akar masalah dari perang Baratayudha di antaranya: 1. Keserakahan yang terus turun-temurun. Dari Dewi Setyawati, Destrarata, Gandari, Sangkuni hingga Duryudana dan para Kurawa. 2. Sikap iri hati terhadap prestasi pandawa dan ingin merampas hak Pandawa sehingga ingin mencelakakan sampai membunuhnya. 3. Kejumawaan Duryudana yang menimbulkan rasa dendam mendalam sejak usia kanak-kanak. 4. Cinta buta dari Raja Destrarata dan Dewi Gandari dan Sangkuni yang memanjakan dan menghasutnya 5. Bisma yang Agung yang bersumpah membela dan menjaga takhta Hastinapura namun terbelenggu Duryudana. 6. Guru Durna yang mengejar materi dan keduniawian bagi membahagiakan Aswatama anaknya sehingga terjebak pada hasutan Sangkuni dan Duryudana 7. Dendam Karna kepada para Pandawa terutama kepada Arjuna. Yang dimanfaatkan Duryudana sehingga terjebak pada sumpah dan janji persahabatannya. 8. Pembakaran Pandawa dan ibu Kunti di istana Warnabrata 9. Kekalahan Pandawa dalam permainan dadu dengan Sangkuni yang berdampak pelecehan terhadap Drupadi maupun para Pandawa yang berdampak pada pengasingan Pandawa selama 12 tahun dan penyamaran selama 1 tahun. 10. Sumpah Drupadi yang mengutuk dan dendam terhadap Kurawa. 11. Sumpah Bima untuk membalas dendam dan menumpas seluruh kurawa 12. Penghinaan terhadap Basudewa Krisna yang menjadi duta perdamaian yang ditolak Kurawa 13. Karma atas kutukan dari para tokoh-tokoh Kurawa dari Bisma yang Agung, Guru Dorna, Raja Angga Karna, Raja Salya, Jayadrata, Duryudana, Dursasana, dan para Kurawa. Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 23
24 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 takdir demikianlah terjadi. Drupadi hanyalah sebagai sarana yang menunjukkan bahwa takdir itu ada. Dalam hidup dan kehidupan sadar atau tidak stratifikasi sosial dibangun kelompok-kelompok tertentu untuk mengadu kekuatan. Di situlah kebaikan dan keburukan muncul. Sadar atau tidak di semua sisi ada baik dan buruknya, dari sisi mana kita melihatnya. Tatkala kita mampu melihat sisi kebaikan maka angkara murka, ketamakan, dan ketidakadilan harus dilenyapkan. Dalam hidup dan kehidupan yang lemah akan termarginalkan, untuk kalah-kalahan bahkan dikorbankan. Bagi yang kuat akan merasa paling bisa dan akan mengerdilkan bahkan membutakan dirinya akan kebenaran. Kuasa akan mendatangkan suka tatkala tanpa darma, suka akan menjadi duka. Dalam hidup dan kehidupan yang sama hanyalah rasa, walau berbeda-beda apa yang dirasakan. Dunia membutakan jiwa tatkala harta dan kuasa menjadikan manusia lupa. Lupa kepada sesama, lupa kepada alam lingkungannya, bahkan lupa kepada Tuhannya. Kuasa yang disalahgunakan sehingga kekuasaannya digunakan untuk kesenangan pribadinya maka kekuasaan akan menjadi angkara murka dan menyengsarakan rakyatnya. Pemimpin yang jumawa, tamak, dan penuh angkara murka sejatinya tidak memiliki teman, yang dimilikinya hanyalah penjilat. Kekuasaannya akan menjadi jebakan ragawi yang fana, keutamaan dan hakikat yang bakal dianggap penghalangnya. Ketamakan akan diikuti sifat iri, dengki, dan kikir, tiada lagi rasa peka, peduli, dan bela rasa bagi sesamanya. Kesedihan Drupadi menjadi pengajaran hidup yang akan membukakan jendela hati dan pikirannya untuk dapat memaafkan. Karena perang akan menghasilkan kesedihmelecehkan kebenaran, keutamaan, dan kemuliaan wanita. Pelecehan harkat-martabat manusia akibat kecanduan dunia maka efeknya sangat luas. Basudewa Krisna menjadi tempat berlindung, belajar, bertanya bagi Drupadi. Walau banyak hal disampaikan kepada Drupadi tentang hidup dan kehidupan namun harga diri Drupadi terus berkobar. Basudewa mengingatkan bahwa: “Semakin diingat maka lukanya akan semakin dalam. Kekuatan memaafkan bukan melupakan melainkan merelakan”. Kemampuan memaafkan untuk mencegah perang besar. Namun angkara murka dan kejahatan memang harus dimusnahkan, bahkan Basudewa Krisna mengatakan Pandawa harus bekerja keras untuk meraih kemenangan. Dan pewaris takhta Hastina bukanlah anak-anak Drupadi melainkan cucu dari Pandawa. Drupadi saat itu hatinya hanya marah dan marah serta membalas dendam. Perang satu-satunya jalan mengembalikan kehormatan. Ia antara mendengar dan amarah di hati saling bertabrakan. Dunia seakan tidak lagi membahagiakan hatinya, jiwanya merasa telah didiskriminasi dan diperlakukan sewenang-wenang yang dilandasi penghakiman secara subjektif, sejatinya akan menjadi pelajaran hidup yang mebuka pada keutamaan dan kebijaksanaan. Jalan Tuhan adalah yang terbaik walau penuh perjuangan, pengorbanan, dan proses panjang yang berat untuk mengikutinya. Rasa syukur akan menjadi penopang dan penyejuk jiwa yang menguatkan diri dalam menghadapi berbagai badai kehidupan. Manusia boleh saja mengharapkan apa saja, namun Tuhan memahami dan memberikan apa yang dibutuhkannya saja agar manusia bisa kembali kepada-Nya. Pandanglah kebaikannya maka kebusukan bahkan kejahatannya menghilang. Demikian juga sebaliknya tatkala hanya melihat kebusukan dan kejahatannya kebaikannya akan menghilang. Banyak orang yang lebih menderita dan mengalami kesusahan dari diri kita, tatkala mampu mengatasi merasa paling dalam hal apapun di situlah kebahagiaan ditemukan. Berpikir positif dan memberikan sesuatu dengan tulus dan apa yang terbaik akan membuka jalan keselamatan dan kebahagiaan. Buah tidak dipanen sesaat setelah ditanam melainkan memerlukan proses bahkan waktu yang cukup panjang. Demikian halnya dalam hidup dan kehidupan, hasil atau dampak suatu usaha tidak instan namun memerlukan proses panjang perjuangan berat, bahkan dengan mental dan keyakinan yang kuat. Selamat hari wayang dari terik di Tegal Parang 0711 21 *Brigjen Prof Dr Chryshnanda Dwilaksana, MSi adalah Direktur Keamanan dan Keselamatan di Koorlantas Polri, Guru Besar di STIK Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, serta pelukis dan pemerhati kebudayaan. Pada 7 November 2022 lalu dia menggelar Pameran Wayang Hambegegeg Ugeg Ugeg di Balai Budaya Jakarta. Artikel Budaya an. Kemenangan kejayaan akan dipenuhi kesedihan dan air mata. Peperangan sebagai amarah dan balas dendam akan mengorbankan orang-orang tercinta. Perang akan menelan orang-orang yang terkena karma. Perang merupakan perjalanan hidup yang sarat dengan pengorbanan nyawa, harta benda, dan duka lara. Penghinaan dan perlakuan tidak adil bagi Drupadi seakan 24 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 25 NNIE Duchesne Ernaux, penulis Prancis yang genap berusia 82 tahun pada 1 September 2022 lalu, menjadi penulis Prancis ke-16 yang menerima Hadiah Nobel Sastra yang sangat bergengsi. Peraih Hadiah Nobel Sastra pertama pada 1901, juga berasal dari Prancis, Sully Prudhomme atau René François Armand Prudhomme, (16 Maret 1839 - 6 September 1907), . Siapa Annie Ernaux? Boleh dikatakan namanya nyaris tak terdengar dalam gegap gempita dunia sastra atau sastra dunia. Tulisan-tulisannya yang berupa novel dan memoar kebanyakan bersifat biografis. Dalam buku pertamanya yang terbit pada 1974, sebuah novel otobiografi, Cleaned Sang Pemenang, Annie Ernaux A Ewith Bahar* Disebutkan ia diperkosa seorang lelaki ketika ia bekerja menjadi pengasuh anak untuk mengisi liburan musim panasnya di Normandy pada 1958. Dalam uraian memoarnya tersebut, kendati dikatakannya sebagai pemerkosaan, Annie mengaku terhanyut dan merasa jatuh cinta pada pemerkosanya. Namun ia melukiskan bahwa hal yang dialaminya itu sebagai “bukan sungguh-sungguh seks” sehingga ketika ia bertemu dengan Philippe Briot Ernaux pada 1963, ia bisa membuktikan dirinya masih perawan. Setahun kemudian mereka resmi menikah, tetapi tak lama. Keduanya bercerai pada 1985. Mereka memiliki dua anak dari perkawinan tersebut, yakni David dan Eric. Itulah di antaranya yang diungkapkan oleh Annie dalam memoarnya, Mémoire de fille atau A Girl’s Story. Meskipun sikapnya terkait pengalaman erotis tersebut tidak bisa dibenarkan oleh masyarakat secara umum, Annie tidak menyebut pengalaman pribadinya itu sebagai hal yang memalukan. Alih-alih sebagai aib, Annie menyebutnya sebagai titik tolak keberangkatan menuju kedewasaan dan kemandirian. Annie yang mendapat pendidikan formal di University of Rouen kemudian University of Bordeaux, untuk Modern Literature atau Kesusastraan Modern, kemudian berkarier sebagai Guru Bahasa Perancis. Sejak bercerai ia fokus mengajar. Setelah berhenti mengajar, ia fokus menulis. Sejumlah 39 buku telah terbit selama 38 tahun kariernya dalam dunia penulisan. Dua buku terakhirnya adalah Hôtel Casanova, terbitan Gallimard Folio pada 2020 dan Le Jeune Homme, juga terbitan Gallimard, yang rilis pada 5 Mei 2022. Tak sedikit pula penghargaan yang pernah ia dapatkan. Satu di antaranya adalah Renaudot Prize pada 1984, untuk bukunya, La Place (A Man’s Place) yang menceritakan hubungannya dengan sang ayah serta pengalaman-pengalaman yang menyertainya dalam pertumbuhan menuju masa dewasa. Semua buku-buku Annie Ernaux memang bercerita tentang kehidupan pribadi. Tentang masa remaja, tentang aborsi dan seks di luar nikah, tentang perkawinan, tentang affair-nya yang membara bersama seorang lelaki dari Eropa Timur, tentang kematian ibunya, dan juga tentang penyakit Alzheimer yang dideritanya akhir-akhir ini. Remain in the Darkness, yang Artikel Sastra Out, ia memfiksikan pengalaman pribadinya yang melakukan aborsi ilegal pada 1964, atau di usia 24 tahun. Pada 2020, Seven Stories Press, menerbitkan A Girl’s Story yang merupakan terjemahan dari Mémoire de Fille yang terbit pada 2016 dalam bahasa Prancis, yang mana ia menuturkan pengalaman pertamanya dalam berhubungan seks. Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 25
26 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 memuat kisah dirinya berhadapan dengan Alzheimer mendapat anugerah dari The Washington Post sebagai Memoar Terbaik pada 1999. Sementara A Man’s Place, oleh The New York Times dimasukkan ke dalam daftar buku-buku istimewa yang perlu dibaca. Tak kurang dari 13 penghargaan bermutu diperoleh Annie sebelum mencapai puncaknya, mendapatkan Hadiah Nobel Sastra pada 2022. Kendati Komite Nobel selalu merahasiakan nama para nominator penerima penghargaan Nobel untuk waktu 50 tahun dan baru membuka nama pemenang pada Hari H, namun tak urung berbulan-bulan menjelang acara penganugerahan, selalu banyak pihak membuat prediksi atau menjagokan penulis-penulis yang mereka anggap pantas untuk menerima Hadiah Nobel. Beberapa kalangan sering mengecam tentang kecenderungan Komite Nobel yang seolah menganakemaskan novel-novel atau penulis yang berasal dari negara-negara berbahasa Inggris di Eropa. Mungkin ada benarnya jika menilik realita perolehan Nobel (Sastra) terbanyak yang memang diperoleh negara-negara berbahasa Inggris atau jikapun bukan negara berbahasa Inggris secara resmi, adalah negara kawasan Eropa. Prancis misalnya, memperoleh 16 kali sebagai penerima Nobel Sastra, Jerman 10 kali, AS 13 kali, Inggris juga 13 kali, dan Swedia 8 kali. Tahun ini beberapa pihak mengusung jagoan-jagoan yang sebagian besar bukan dari kawasan tersebut di atas, tetapi lebih bervariasi. Lalu beredarlah sebelas nama yang paling banyak dibicarakan sebagai kandidat yang menurut mereka pantas menerima penghormatan sebagai yang terbaik untuk menerima Nobel Sastra 2022, yang sebagian besar bukan berasal dari negara berbahasa Inggris. Mereka adalah Mircea Cartarescu, novelis dan esais Romania penulis 25 buku yang telah diterjemahkan ke dalam 23 bahasa dunia; Boubacar Boris Diop, novelis, penulis skenario dan jurnalis asal Senegal, dengan karya fenomenalnya, Murambi, le livre des ossements (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul ‘Murambi: The Book of Bones’ atau Buku Tentang Tulang Belulang, yang menceritakan peristiwa genosida di Rwanda pada 1994; Cesar Aira, penulis Argentina yang menulis ratusan cerita pendek dan sejumlah novel; Ismail Kadare, novelis, pesyair, esais, pedrama dan penulis skenario asal Albania yang tulisan-tulisannya banyak mendapat pujian karena kecermatan serta keindahannya dalam meramu mitologi dan cerita rakyat dari sudut pandang pemikiran modern serta persepsi masyarakat lokal; Hwang Sok-Yong, satu di antara novelis Korea Selatan paling terkenal yang banyak menerima penghargaan sastra, yang pernah dipenjara Artikel Sastra 26 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 27 selama 7 tahun akibat melakukan perjalanan terlarang ke Korea Utara dalam rangka mempromosikan pertukaran di antara dua belahan Korea tersebut; Adonis, pesyair Syria yang paling banyak digadang-gadang untuk menang mengingat peran serta pengaruhnya dalam revolusi sastra Arab; Ngugi Wa’ Thiong’o, penulis Kenya yang memutuskan untuk lebih banyak menulis dalam bahasa asli daerahnya, yakni Kikuyu atau Gikuyu dibanding bahasa Inggris. Sebagai catatan, bahasa Inggris adalah satu di antara bahasa yang paling banyak penuturnya di Kenya selain Swahili dan Kikuyu. Wizard of the Crow adalah novel karya Ngugi yang sangat epik dan dibaca secara luas, di antaranya mengetengahkan tentang operasi politik; Garielle Lutz, penulis fiksi dan pesyair asal AS; Jon Fosse, penulis asal Norwegia; Shahrnush Parsipur, novelis Iran yang sesungguhnya tak terlalu termasyhur namun juga tak bisa diabaikan. Touba and the Meaning of Life, adalah karya Shahrnush yang banyak dipuji karena dianggap berhasil menggabungkan mistisisme sufi dengan politik dan sains; Lazlo Krasznahorkai , novelis dan penulis skenario asal Hongaria yang sering menulis karya dengan tema dystopian yang kebanyakan sulit dicerna, dan dikategorikan sebagai karya-karya post-modern. Lazlo banyak menerima penghargaan, di antaranya adalah Man Booker International dan National Book Award for Translated Literature. Masih banyak nama lain sesungguhnya, seperti Anne Carson (Kanada), Scholastique Mukasonga (Prancis – Rwanda), atau Salim Barakat (Suriah). Tentu saja Annie Ernaux juga menjadi satu di antara nama dalam bursa pencalonan atau kandidat-kandidat ini. Siapa saja boleh dinominasikan (yang pantas tentu saja) untuk menerima Hadiah Nobel. Tetapi dilarang menominasikan diri sendiri. Harus badan yang terbukti kredibel untuk bisa mengusung nominator. Banyak pemenang Nobel Sastra yang dinominasikan berkali-kali sebelum dinobatkan menjadi pemenang. Sebut saja misalnya William Butler Yeats, yang dinominasikan sebanyak 7 kali sejak 1902, dan akhirnya menang pada 1923. Begitu juga dengan Rudyard Kipling dan Maurice Maeterlinck, yang masing-masing empat dan lima kali dinominasikan, dan akhirnya menjadi pemenang pada 1907 (Rudyard Kipling) dan 1911 (Maurice Maeterlinck). Namun demikian ada pula yang sudah berkali-kali dinominasikan tetapi tidak kunjung menang, seperti Henrik Ibsen, Leo Tolstoy, dan Antonio Fogazzaro. Tetapi yang lebih dramatis adalah apa yang terjadi dengan nama-nama superterkenal seperti Jules Verne, Mark Twain, Rainer Maria Rilke, Federico Garcia Lorca, Jorge Luis Borges, Robert Frost, Anton Chekov, Vladimir Nabokov, Arthur Miller, dan beberapa nama besar lainnya, yang bukan saja tidak pernah menerima Hadiah Nobel seumur hidupnya, bahkan sekadar dinominasikan pun tidak. Padahal dalam wawancara dengan para pemenang Nobel Sastra, buku-buku merekalah yang banyak dibaca. Mereka adalah nama-nama sakti bagi para pemenang Nobel, yang karyanya menjadi acuan dan simbol gengsi. Memang tidak semua kalangan sepaham dengan cara Komite Nobel melakukan metode penilaian. Tetapi bagaimanapun, pengumuman pemenang Nobel adalah satu di antara momen penting dunia yang paling ditunggu setiap tahun. Menjadi penerima Hadiah Nobel Sastra, mungkin menjadi hadiah ulang tahun paling fenomenal bagi Annie Ernaux di sepanjang hidupnya. Bukan tersebab nilai secara finansialnya saja, akan tetapi jauh lebih penting adalah pengakuan serta prestise mendunia sebagai seorang pesastra. Dengan kemenangannya, Annie berhak atas medali yang terbuat dari emas 18 karat, uang senilai 10 juta Kronor atau setara 900 ribu dolar Amerika, yang kalau dirupiahkan Rp 13.761.630.000. Ah.. Indonesia kapan? *Ewith Bahar adalah seorang penulis dan pesyair Indonesia yang karyanya kerap diakui dunia sastra dan sastra dunia. Yang mutakhir, puisinya masuk 10 besar dalam memperingati Hari Perdamaian Internasional 2022. Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 27
28 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Jose Rizal Manua Baca Puisi di Bandung ELASA, 24 Januari 1995, Kota Bandung yang dingin, mendadak hangat. Gelanggang Olahraga Saparua Bandung bergemuruh, 3.500 penonton antusias menunggu si “Burung Merak”, malam itu WS Rendra dijadwalkan tampil membacakan puisi. Duabelas karya puisi Rendra disiapkan panitia malam itu, namun ternyata empat judul puisi tidak diperbolehkan untuk dibacakan, padahal Rendra sudah hadir dan naik mimbar. Si Burung Merak meradang dan memutuskan untuk menolak membacakan puisi. “Hadirin sekalian, warga Bandung yang saya hormati, saya merasa bangga mendapat kehormatan diundang membacakan sajak memeriahkan acara ini,” ungkapnya yang disambut tepukan meriah dan histeris penonton. “Saya berniat membacakan sajak berjudul Doa, disusul dengan Tokek dan Adipati Rangkasbitung, ketiga, Untuk Orang-orang Rangkasbitung, tapi sayang sekali saya tidak mendapat izin untuk membacakan tiga sajak pertama.” Teriakan riuh penonton, ungkapan ketidakpuasan bergemuruh. Rendra harus berkali-kali memohon penonton untuk tenang, “Ini namanya kenyataan kekuasaan politik.” Penonton yang di depan meneriakkan “demokrasi”, “minbar bebas”, dan bermacam cemooh. “Saya bukan orang politik, saya tak punya kekuatan politik, saya rakyat, tapi punya kekuatan moral.” Riuh tepuk tangan bergema mendukung pernyataan Rendra, “dan malam ini, saya akan mempergunakan kekuasaan moral dengan menolak membacakan sajak sama sekali,” dengan suara yang kian meninggi. “Saya tidak mau diremehkan kekuatan politik.” Suasana semakin gemuruh, emosi penonton makin tinggi, karena merasa dizhalimi oleh kekuasaan. S Pada 15 Januari 1995 Rendra juga membacakan sajak-sajak tersebut di Surabaya, dan tidak menimbulkan masalah apa-apa. Karena pada dasarnya sajak-sajak tersebut tidak menyalahi undang-undang maupun konstitusi, justru sajak-sajak itu dibuat karena Rendra menghayati sila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Dalam suasana emosional yang menyelimuti GOR Saparua, Si Burung Merak mengajak hadirin untuk berdoa: Ya Allah, ya Tuhanku Yang Mahakuasa, Yang Maha Esa. Yang menguasai rezeki umat, Yang menguasai perjodohan umat manusia. Tunjukkanlah ke jalan kami yang benar, dan bukan jalan yang ditempuh orang-orang yang zhalim. Bait terakhir doa itu berbunyi: Ya Allah, Ya Tuhanku Aku mendengar suara jerit makhluk yang terluka, ada orang memanah rembulan, ada anak burung jatuh dari sarangnya, orang-orang harus dibangunkan, kesaksian harus diberikan, agar kehidupan bisa terjaga. Lindungilah kami ya Allah, Aamiin, Ya Robbal Aalamiin.. Selesai membaca doa, Rendra memberi salam dan berlari kecil meninggalkan panggung. Suasana riuh kembali merebak, tepuk tangan dan sorak-sorai penonton bergemuruh. Di tengah suasana itu, Jose Rizal Manua yang sejak awal mendampingi Rendra, tiba-tiba membacakan puisi, tanpa kata pengantar, Jose mulai membaca puisinya, Perdamaian adalah puisi pertama yang dipilih Jose. Uniknya Jose membacakan dengan lantunan irama Kasidah, yang membuat penonton tersenyum-senyum, dan mulai terpancing untuk menyimak gaya Jose baca puisinya yang “jenaka”, sebagian penonton yang berniat meninggalkan GOR, mulai duduk kembali. Histori Seni 28 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 29 Kita simak sebagian syair Perdamaian: perdamaian, perdamaian, perdamaian, perdamaian rumah kumuh dirubuhkan rumah mewah didirikan anak sakit diobati anak sehat ditempelengi perdamaian, perdamaian, perdamaian, perdamaian kredit bocor didiamkan kredit macet diributkan perdamaian, perdamaian, perdamaian, perdamaian kebo kumpul di kubangan kumpul kebo di kontrakan Dengan gayanya yang khas, Jose berhasil mengobati hati penonton yang kecewa karena gagal tampilnya Rendra membacakan puisi-puisinya, karena Rendra menolak membaca akibat pelarangan sepihak oleh pihak berwenang. Jose, dengan gayanya yang santai, nyeleneh dan puisi-puisi humor memikat yang sarat kritik dan bernas, membuat suasana menjadi lebih sejuk, dan mampu meredam suasana emosi yang menghinggapi dada para penonton, sehingga mereka larut dalam puisi-puisi Jose. Sebelum Rendra dan Jose, pesyair Sutardji Calzoum Bachri lebih dulu tampil membacakan beberapa puisi-puisinya. Sutardji dengan gaya aktraktifnya, membacakan Berdarah, Tapi, Taman, Tanah Airmata, diakhiri dengan Jembatan. Puisi-puisinya ini merupakan karya yang ditulis antara 1992 dan 1993. Saparua kembali senyap, dingin menjalari Bandung, namun puisi-puisi akan selalu berkibar, sajak-sajak akan terus dilahirkan. Ossie Helmi - Sumber: JRM Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 29
30 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Karya Puisi-Prosa Mulih Marju DAN PADA SUBUH Dan pada subuh kutasbihkan savanamu mengunci setiap rumput hingga temu sebuah lorong tempat kau menyimpan segala nasib bergantung di akar rumput kuning. Dan pada subuh kutalbiskan setan bersavana hening gigit resah bertanduk resap pahit daun embun berklenyit bertubi bertubir berturbin. Dan pada subuh kucium anus malam bertandang segala kotoran di hidung meraba masa jalan tegak. Dan pada subuh jarak dada dan lambung terbelah situs bergelambir lendir pandir benthir senthir. Dan pada subuh sudut mata mengekor rintih kabut dosa tertumpuk sela gerigi mata angka terganjal dua mata berharap luruh dengan istighfar. Dan pada subuh Angin hitam menggigit tulang Bumi kurus melipat diri Gunung santun berdehem gemas Laut tidur mengigau napas akhir Dan pada subuh Langit berangan bumi hijau Bumi bermimpi langit biru Hijau dan biru mitos yang ragu Tulungagung, 2021 l Karya: Aji SNY Jose Rizal Manua IBU ADALAH MATA AIR Ibu adalah fajar yang membuat aku selalu gemar belajar Ibu adalah pawana yang senantiasa menyejukkan jiwa-raga Ibu adalah pelangi yang warna-warni berpendar di sanubari Ibu adalah senja yang membuat aku selalu waspada Ibu adalah mata air yang membuat aku hadir dan mengalir Ibu adalah doa yang membuat aku bermunajat padanya Jakarta, 28 Mei 2016 30 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 31 Alarhyf RANTING KATAK Kata seorang yang dekat padaku Kesunyian ialah mata yang melihat Segalanya lalu kata seorang yang Kerap terkhianati ia hanya lampiasan Luka yang sering membawa biji gerimis Basah mengencani bumi tandus Itulah cinta kata sang penyair ketika Kau siap memasang harap pada yang lain Maka kemaskan dirimu untuk tersayat sayat sebab cinta hanyalah beling yang tinggal menunggu waktu menancap Teduh yang kuberikan tidak akan ku tagih kembali sebab aku adalah ranting-ranting Kata yang akan terus hidup meski berkali Kali layu di pelataran gersang Aku telah mengimani segenap sakit yang merambat sebagai persembahan istimewanya Maka kau akan ku dandan dengan jelita bak dwi-dwi luka yang akan lupa tertawa lagi setelah perayaan kita selesai kelak Aku adalah sang pengarang yang tak Akan karam dalam dialog-dialog fragmen yang kau perah sebagaimana yang kau sangka diksi-diksi ku masih hidup pun aku selalu bernapas arena layaknya teatrikal manusia penuh dusta kau pun akan nestapa Maka izinkan aku terus berjenaka sambil membelai kelopak hati yang kau rawat yang pada akhirnya berguguran retak berserakan saat purnama bergelayut aku hanya melunasi sisa-sisa bait yang Engkau campakkan di kaki serapah tunggulah akan ku bawa kau berkelana sejauh-mana yang kau suka dan ku regas satu demi satu dedaunan asah yang kau pelihara dari tubuh akarnya kala itu tiba senja pun tak mampu kau ratapi lagi sebab ia telah berubah nanah akut menjalar ke seluruh atmosfer yang kau nikmati tunggu sakrattul ku di pucuk napas terakhirmu!! Waiwerang, 27 Oktober 2021 Ahmad Dumyati AN BERNAMA IBU setiap saat aku adalah 20% oksigen yang disumbangkan pohon rindang surga bernama ibu terkadang aku adalah lembayung yang dipantulkan senja kepada luas samudera bernama ibu anganku menjadi kemerdekaan pikiran dan jiwa yang dicontohkan cakrawala bernama ibu sampai masa aku menjadi keindahan lukisan dan kata-kata karya sang seniman bernama ibu ibu, kau! 2021 l Karya: M Ibnu Alwan Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 31
32 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Karya Puisi-Prosa Mita Katoyo SEMUT semut-semut datang tak kentara menggigit kelopak mata menyisakan perih tanpa luka semut terinjak merayap cepat dari kaki sampai kepala bogor, 051022 Angkasa DEMI katakan, jika bintang dapat menikam jantungmu dengan sinarnya dan rembulan menidurimu sekejap pagi aku mentari kan bertelanjang dada sampai nadi melepuh! pd kelapa, 030918 Jang Sukmanbrata BURUNG-BURUNG ZUHUD Tahun ke tahun cuaca negeriku tak menentu, panas kemaraunya menjepit nyali hidup, kering siangnya dengan seutas pilu, malam kerontangnya berlumuran debu, langkah terbendung - dingin mengurung, - biru sekujur tubuh, Burung-burung yang kuasuh dalam rindu - suaranya menjauh. Larik-larik doa dibasahi rintik hujan, yang hampanya dibawa arus banjir bandang. Doa indah dibungkus seribu daun, minta datang si ratu burung Hud Hud untuk mohon restu raja Daud, seratus mazmurnya digubah kidung agar sayap lembutnya sarat rindu, mengusap rambutku, cericit merdunya buyarkan rasa canggung, Kau tahu, abad ini dirundung bingung. Tuhan, aku malu, gugup ditertawakan waktu. Di tahun ini, hujan tak berhenti, tapi hawa panas tak beranjak pergi, dinginnya sulit bersimpati kepada yang miskin sekalipun, membuat burung burung bersimpuh di hutan rimba jauh, di gunung gunung berkabut para hyang, di rumah batu moyang leluhur, tiada sahut menyahut, sayapnya rapat menutup. O Malaikat pengurus hewan, dimana kamu Tahun ganti tahun, umur bagai telur diujung tanduk, Cita-cita serupa burung jalak di punggung kerbau, mengharap lama membajak sawah, Harap cemas kutendang ke bianglala, “Aku butuh kepastian, bukan utopia bertopikan koboy Texas!” Burung burung kurindu, belum jua beri lagu. l Karya: Yusuf Dwiyono 32 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 33 Tapi, terdengar sayup kepak kepak sayap mendekat, o burung burung sehat, perkasa mengantarkan belalang pada burung burung yang sayapnya patah, yang sendirian mengurung di balik daun, yang berkumpul, lemah, dan terkatung. “Jangan murung, nyanyilah kalian hai bangsaku! Ini pakan dari Yang Maha Kuat, Jamur dahan disulapnya jadi makanan lezat”. “Zuhud, zuhud kalian hai burung bersayap putih coklat, sayapmu segemilang emas secemerlang perak, selentur lumut batu”, teriak Malaikat pengatur hujan. Negriku warisan leluhur agung, Malam malamnya ada kecapi degung, Gamelannya dari logam MahaCinta. Bukit Berlian, 7 Oktober 2022 Tuti Susilawati AKHIR MELUKIS PELANGI Hari demi hari berlalu Melukis pelangi Kau berikan kasih sayang Wahai guru-guru Engkaulah pahlawan Memengajari lmu Mendidikku tuk berakhlak mulia Sungguh jasamu tiada tara Kesabaranmu luluhkan kalbuku Tutur katamu lembut laksana sutra Pesonamu penuh karisma Wahai guru-guru Kini telah tiba saatnya kupergi Meninggalkan madrasah tercinta Tuk melanjutkan melukis pelangi Jasa-jasamu tak akan kulupakan Doamu selalu kurindukan Allah meridhai perjuanganmu Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu Cianjur, 17 Juni 2022 Yin Ude SAJAK-SAJAK DI KOTA YANG SEPI KOTA YANG SEPI Kota yang riuh, masih juga sepi, dan tak sepotong kata ia berikan buat kugambar sesuatu yang menandai lekat hatiku. Mungkin karena deru mobil tak semerdu genta logam di leher kuda, ketika di laju bendi puisi-puisiku yang klise masih girang melintasi jalan-jalan zaman. Sumbawa Timur, 28 Juni 2022 KOTA INI BENAR-BENAR SEPI Benar, kota ini benar-benar sepi. Malam-malam anak terjatuh ke selokan depan istana, orang-orang nyenyak di dalamnya. Di sana seorang perempuan masih terjaga. Hanya memandangi dari balik jendela kaca buram. Ia pun menangisi. Oh, dasar perempuan. Dasar perempuan, tak bisa diharapkan. Kukemas poster-poster orang perkasa ke dalam buntalan lusuhku dan lekas mengangkat anak itu ke atas sajak. Sengaja tak kuseka darahnya. Biar berceceran. Biar jadi jejak di jalanan. Saksi abadi kekecewaan. Sumbawa Timur, 29 Juni 2022 l Karya: Sabariman Rubianto Sinung Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 33
34 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 ATAMU kita akan berbagi kisah tentang apa saja, tetapi ternyata yang muncul beragam cerita tentang kejadian akhir-akhir ini. Kaubilang itu hoaks, namun aku menyangkalnya dan mengatakan bahwa hoaks bersumber dari skenario rahasia yang sudah dikembangkan menjadi cerita fiksi atau nonfiksi. Kau tertawa, lalu mulai menganalisis dengan detil siapa yang berada di balik peristiwa-peristiwa hangat terkini. Juga tentang “penistaan”. Ah, di sana kutangkap ada unsur subjektivitas yang masuk, kau mulai melenceng dari bagian kisah objektifnya, dan ketika itu kusinggung, kau berkata, “Ya iyalah, pilihan kita ‘kan berbeda, wajar dong kalau aku berpihak pada idolaku!” Aku bergeming. Kemudian kutanyakan padamu, “Termasuk pencucian otak kalau bumi ini datar?” Kau tertawa lalu berkata, “Sepertinya aku mulai meyakini itu. Aku akan mengumpulkan dana untuk pergi ke Kutub Utara, mencari tahu, apa yang ada di balik kutub itu, apakah ada jeram yang curam yang dalamnya hingga ke dasar bumi.” “Ya sudah, nyemplung saja kau sekalian!” jawabku gusar. Lalu kau terkekeh, ketika kauhendak memelukku, aku menolak halus, apalagi saat kauhendak menciumku, kutolak lebih keras lagi. Katamu, “Mengapa May? Bukankah kita saling mencintai?” Jawabku singkat, “Ludahku haram!” Kemudian wajahmu berubah serius, kau menatapku K Fanny J Poyk Katamu Cerita Pendek dalam-dalam. Aku sudah menduga apa yang akan kaukatakan, itu berkaitan dengan topik sekuler atau nonsekuler. Ah, sebenarnya aku bosan. Pemikiran sederhanaku adalah, mengapa hidup yang hanya singkat ini, selalu dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran rumit seperti itu. Tidakkah akan lebih baik jika kau memikirkan masa yang akan datang? Misalnya, jika kita menikah kelak, bagaimana caranya kita bisa hidup mapan, kau bekerja di perusahaan yang bagus, punya gaji tetap (bukan out sourching) yang cukup untuk beragam biaya masa depan anak-anak kita kelak, bisa untuk tabungan masa tua agar jika kita manula, kita tidak dimasukkan ke rumah jompo oleh anak-anak kita (siapa tahu), atau kita punya asuransi yang bisa menutupi biaya berobat, pendidikan, dan hidup tenang serta damai di hari tua. Ketika itu kusampaikan, sudut bibirmu tertekuk ke bawah, itu memberikan gambaran kalau kau mendengar ucapanku dengan sinis. Kau mengucak-ucak kepalaku, ini acap kaulakukan jika argumen-argumen yang kulontarkan terdengar “bodoh” di telingamu. Lalu kaumulai berbicara penuh kalimat beranak dan bercucu, kalimat-kalimat itu kutahu kaukutip dari tulisan seorang sastrawan asal NTT yang enggan kusebut namanya, takut kau tersinggung. Katamu, “Maya sayang, dengar ya, setiap orang ingin menyatukan diri dengan dunia yaitu alam dan manusia, tetapi itu tidak mungkin. Ada lebih-kurang 30 juta orang miskin dan menderita, hidup dalam kondisi primitif di negeri ini, ada pula babu-babu yang terasing di padang pasir dan liang-liang melayang di gedung bertingkat di dalam dan luar negeri. Setan yang bernama urbanisasi makin merajalela di negeri subur ini. Di mana-mana orang menanam batu sehingga lahan untuk menanam padi, jagung, kacang, sayuran, dan buah-buahan serta rumput untuk ternak, 34 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 35 hilang setiap tahun. Manusia berjejal di kota-kota, sehingga kereta listrik menarik penumpang dengan penuh sesak. Dulu ketika gubernur belum diganti, bantaran kali dipenuhi gubuk-gubuk untuk manusia dan sampah, banyak di antara mereka hidup dari mengais sampah, itulah pemulung yang tergulung oleh urbanisasi. Orang miskin dan penganggur tetap gentayangan dalam keterasingan. Hubungan mesra atau hubungan antarpersonal, antara pemerintah dan rakyat dulu tidak terjadi. Sulit untuk direalisasikan filosofi yang berbunyi, ‘aku adalah engkau’. Yang tampak hanyalah hubungan antarmanipulatif. Keinginan atau kerinduan yang begitu besar terkendala. Marilah kita berdoa agar perbuatan bunuh diri secara massal akibat kemiskinan tidak terjadi. Hal ini bukan klise lho, tetapi nyata. Nah semua itu agar apa yang disebut mekanisme pelatuk bisa efektif, dapat mengubah struktur birokrasi dan kebijaksanaan, dapat menggerakkan hati nurani pemimpin dan pemikir. Kau mengerti apa yang kumaksud?” tanyanya. Seperti biasa, kau selalu memosisikan diri sebagai dosen dan aku mahasiswimu yang bodoh dan tak mengerti apa-apa. Ucapan-ucapanmu kadang ‘nyambung’ kadang hanya asal ucap, aku tahu itu. “Jangan menatapku seperti itu!” kataku dengan dengus napas gusar. “Mengapa? Setelah pacaran lima tahun denganku, kau kok tak bertambah pintar?” selidiknya. l Ilustrasi: Agoes Noor “Sialan kau, memangnya kau dosenku?” sungutku. Kau tertawa terbahak-bahak. Lalu katanya, “Ke sini sayang, aku rindu padamu, aku rindu ciumanmu!” “Ludahku haram!” ucapku lagi dengan nada sinis. “Aku tak peduli, Yang haram itu sudah lima tahun kukecap!” lalu kau memelukku. Ah, kau yang berwajah tampan, mirip bintang film India Arjun Rampal, selalu membuatku tak berdaya. Kau seperti cenayang tampan yang memiliki magnet kuat sehingga aku selalu luluh bila ada di dekatmu. Dan lima tahun kedekatan kita, kau selalu membuatku membatalkan ucapan yang ada di ujung lidah, ucapan yang juga tanya, kapan kau menikahiku? Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 35
36 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Cerita Pendek *** Minggu terakhir bulan November, tatkala hujan mengucur tajam jatuh di genting rumahku, kau datang ke rumah dengan sekumpulan berkas yang kautaruh di dalam kantung plastik dengan rapi. “Ini berkas-berkas rahasia,” katamu. “Aku akan menjadi saksi,” lanjutmu. Lalu kembali kau mengutip kalimat-kalimat dari buku tulisan sastrawan asal NTT itu, “Aku memimpikan kota kecil dengan budaya, pariwisata dan ekonomi kreatif ada di dalamnya. Lalu di kota itu tidak ada kekerasan, yang ada adalah jalan tengah, jalan untuk menghadapi kendala absur dalam kehidupan ini. Penganggur dan orang miskin terlalu banyak di negeri ini. Aku ingin seluruh pengikut agama yang ada di negeri ini bersatu dengan penuh kasih-sayang, mereka harus bersatu menggarap tanah subur dan laut kaya yang ada di negara ini untuk kesejahteraan manusia Indonesia. Di sinilah tempat lahir kita, tempat berlindung di hari tua.” Katamu dengan serius bak seorang pujangga amatiran. Nah, di ucapanmu yang ini, aku melihat kau tampak seperti manusia ‘normal’ lainnya. “Lalu, kau mau menjadi saksi untuk perkara apa?” tanyaku. “Saksi tentang kasus penistaan agama,” jawabmu. “Apa? Kau sudah gila, ya!” “Dengar Maya, kalau aku tidak bersaksi, maka kasus ini akan berlarut-larut. Kau mau negara ini seperti di Syria sana?” Aku makin tak mengerti ke mana arah ucapannya. “Memangnya kau berada di tempat kejadian?” cecarku. Kau menggelengkan kepala. Hmm…ini tidak benar. Kekasihku bisa menjadi saksi palsu. Lalu kurampas berkas yang ada di tangannya, kubuka dengan paksa. Di dalamnya ada portofolio tentang orang lain, ada akte kelahiran, ada surat rekomendasi pernah bekerja. Lalu ada foto. “Hei…apa-apaan ini? Ini semua bukan punyamu. Lalu kau mau menjadi saksi untuk sebuah perkara? Apa maksudmu?’ Tanyaku. “Sabar Maya, nanti jika aku sudah menjadi anggota di gedung bertopi bulat itu, kau akan menjadi nyonya agung yang dihormati banyak orang.” Begitu selalu katamu. “Lebih baik kau pulang kampung, jadi petani dan kita hidup bertani membesarkan anak-anak kita. Aku tak mau kau menjadi anggota di sana,” kataku. “Lho mengapa? Kau tak mau punya uang banyak?” “Tidak! Aku takut mati dengan sumpah serapah manusia yang benci pada orang-orang di gedung bertopi bundar itu.” “Maya sayang, tak semua dari mereka itu jahat. Jika aku di sana, kujamin aku bagian dari orang yang baik itu. Percayalah.” Rayumu. Dan matanya yang indah bak mata rajawali tangguh itu, selalu membuatku luluh. Ah… l Ilustrasi: Agoes Noor 36 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 37 Kau membisu beberapa saat. “Ayo jawab!” Kemudian dengan suara serak kau berkata, “Maya sayang, semua itu memang palsu. Aku mengaku pernah bekerja di Fifi Pizza, padahal tidak. Semua kulakukan karena aku memperoleh bayaran. Kau tahu ‘kan, aku tak pernah memunyai uang berlebih untuk membiayai pernikahan kita. Jika mereka membayarku, uang itu akan kugunakan untuk meminangmu. Tak apa ‘kan kalau aku menjadi saksi palsu?” Ya, ini baru namanya absur. “Kau memang telah terjangkit pernyataan Nietsche tentang absurditas. Kau harusnya tahu bahwa di dalam menjalani hidup ini manusia pasti menemukan kendala kontradiksi dan kemustahilan. Sikapmu sudah mendorongamu untuk bertingkah laku ke sudut yang paling ekstrem, kau ingin moralitas yang adalah aspek utama Tuhan harus dihancurkan. Dengan memalsukan semuanya, sungguh aku malu bila menjadi istrimu,” cerocosku. Kali ini kau benar-benar diam membisu agak lama. Kau pastinya terkesima bahwa ‘si tolol’ ini, bisa berkata seperti itu. Hei kekasih, tidak tahukah kau, bahwa selama ini aku enggan berdebat dengan argumen-argumen konyolmu yang bagiku sia-sia. Hidup tak hanya diisi dengan argumen, namun harus diisi dengan kerja dalam menghadapi realitas yang nyata. “Dengar sayang, bila kau hanya pandai bercuap-cuap, lalu memetik ungkapan-ungkapan filsafat dan ikut gerombolan organisasi penghujat di sana-sini, apa yang akan kaudapatkan? Bakar semua file-file palsu itu. Aku tak mau menerima uang lamaran dari hasil kolaborasi dan konspirasi untuk menjatuhkan orang tak bersalah. Jika kau mau menjadi suamiku, ayo kembali ke kampung halamanku, di sana tanah warisan ayahku masih luas, kau bisa menggarapnya, tak perlu kau membayar belis atau mas nikah yang ada di sukuku. Cukup kau menjadi sosok yang rajin dan kreatif. Itu saja!” Beberapa bulan ke depan, mungkin kisah ini akan kututup. Aku akan menikah dengan si ‘kekasih’ yang dulunya sangat tergila-gila pada politik praktis itu. Kali ini, uang lamaran yang ia serahkan bukan dari hasil rekayasa menjadi saksi palsu, namun ia memperolehnya dari hasil jual sapi miliknya yang dipelihara oleh pembantu ayahnya di kampungnya, Soe, nun jauh di NTT sana. Di hari pernikahanku, aku akan mengenakan pakaian adat Rote, kampung asalku, di ujung selatan NTT, lengkap dengan habas (hiasan emas di leherku dan sirih pinang yang terletak di atas nampan tembaga milik nenekku. Dan, lupakan sejenak tentang iruk-pikuk Jakarta. Berita tentang pernikahanku yang mungkin ada di beberapa surat kabar daerah, sungguh itu bukan hoaks… TENTANG FANNY J POYK Fanny lahir di Bima pada 18 November dari pasangan Gerson Poyk dan Agustina Antoneta Saba. Lulusan IISIP Jakarta jurusan jurnalistik ini mulai menulis sejak 1977. Karya-karyanya berupa cerita anak-anak, remaja, dan dewasa telah dimuat di berbagai media, di antaranya Kompas, Jawa Pos, Bali Post, Surabaya Pos, Jurnal Nasional, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Timor Ekspres, dan lain-lain. Satu di antaranya cerpennya terpilih sebagai 20 cerpen terbaik Kompas dan terpilih sebagai 10 cerpenis terbaik Sabah Literary International Festival. Saat ini dia aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis di dalam dan luar negeri. Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 37
38 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 ERAWAL dari sebuah komunitas pemuda yang bertujuan sebagai wadah untuk melahirkan pemuda berkesenian yang sadar akan nilai seni dan budaya, Teater Moksa didirikan pada 30 Desember 2017. Moksa merupakan akronim dari Pemoeda Berkesenian yang menjadi identitas teater ini sebagai laboratorium dan wadah pengembangan berkesenian. Hubungan makna Moksa dengan bentuk gerakan teater ini sebenarnya karena selain alasan estetis, kesenian juga mengajarkan tentang konsep seni untuk masyarakat yang memberi nilai kebebasan. Syahdan, makna kebebasan yang dimaksud dalam Teater Moksa adalah kebebasan dalam berkarya, berekspresi dan berkesenian berdasarkan budaya Indonesia, Pancasila. Teater Moksa yang dipimpin Panji Gozali ini mengadopsi cerita dari gejala zaman yang lumrah kita temui namun sering luput dari pikiran kita sebagai renungan dalam berbudaya. Tema kemanusiaan selalu menjadi perhatian utama Teater Moksa di setiap pementasannya. Teater Moksa memiliki agenda; diskusi rutin, kegiatan pengembangan kesenian, latihan teater, workshop, dan juga tentunya produksi teater. Selama ini, Teater Moksa juga turut aktif dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat di beberapa kampung, lembaga/ instansi, organisasi/ komunitas, kafe/ tempat makan, dan sebagainya. Komunitas Seni 38 Semest Teater Moksa Laboratorium bagi Pengembangan Seni B 38 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 39 Lokasi guyub Teater Moksa di Jln Buaran II, No 10, RT 07, RW 13, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur. Segala informasi kegiatan, dokumentasi acara dan publikasi lainnya dapat dilihat di akun resmi Instagram dan Youtube Teater Moksa @pemoedaberkesenian. Riwayat Produksi l Produksi ke-1, 2018 l Merdeka Tanda Tanya l Karya Panji Gozali di Universitas Negeri Jakarta l Produksi ke-2, 2019 l Mati Konyol l Karya Panji Gozali di Galeri Indonesia Kaya dan Balai Warga Buaran II l Produksi ke-3, 2020 l Bisikan Jiwa l Karya Panji Gozali di Teater Utan Kayu dan Balai Warga Buaran II l Produksi ke-4, 2020 l Fragmen Pandemi l Karya Panji Gozali di Youtube @pemoedaberkesenian l Produksi ke-5, 2021 l KE.LUH: Parade Monolog Problematika Pendidikan Indonesia Masa Pandemi l Karya Panji Gozali di Youtube @pemoedaberkesenian l Produksi ke-6, 2022 l Among: Retrospeksi Satu Abad Tamansiswa l Karya Panji Gozali l di Museum Kebangkitan Nasional l Produksi ke-7, 2022 l Kau Belum Teruji: Sebuah Monolog untuk Rudy Masinambouw l Karya Panji Gozali di Balai Budaya Jakarta. IH - Sumber: Teater Moksa Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 39
40 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 ameran yang berlangsung di Museum Nasional, Jln Medan Merdeka Barat, Jakarta pada 9 – 13 November 2022, bertajuk Among Jiwo merupakan suatu retrospeksi atas perjalanan karyanya selama 40 tahun sejak 1982. Melintasi era Orde Baru, Reformasi, dan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Kepala Galeri Nasional Pustanto, yang mewakili Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, dalam sambutannya mengataGeliat Seni Rupa Mendekati akhir 2022 masyarakat seni rupa Indonesia disuguhi peristiwa menarik, yaitu dilangsungkannya pameran sketsa, lukisan, drawing, hingga instalasi karya Yusuf Susilo Hartono, seorang perupa, jurnalis, dan pesyair Indonesia. Yusuf Susilo Hartono Catatan Visualnya Bertajuk Among Jiwo P kan, sepanjang mengenal Yusuf selama 30 tahun belakangan di Jakarta, menyaksikan kiprah Yusuf di medan seni dan jurnalistik. Bahkan sering kerja bersama. Maka dengan adanya pameran restrospeksi yang menampilkan tidak hanya karya seni rupa, tetapi juga jurnalistik dan puisi, yang digelutinya selama 40 tahun terakhir, telah membuktikan dia seorang yang multi-talenta.
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 41 Dari sisi lain, kurator Anna Sungkar mengatakan, karyakarya yang diciptakan merupakan catatan perjalanan hidup, kesan-kesan, renungan, pemikiran, dan respons atas masalah sosial yang sedang berkembang pada suatu waktu. “Dari gambar-gambar tersebut, kita bisa membaca bagaimana jalan pikiran, keberpihakan, kekaguman, passion, perasaan, termasuk juga rasa cinta, yang terpancar dari guratan-guratan yang dituangkan pada karya,” tandas Anna. Kurator ini menjelaskan, kalau misalnya seseorang pergi ke suatu tempat mendokumentasikan pengalamannya dalam bentuk sejumlah foto, maka Yusuf mengabadikannya dalam sejumlah sketsa. “Dengan itu Yusuf melukiskan Tembok Cina, Beijing, Harajuku, Brisbane, Prambanan, dan Borobudur, dll. Hal yang sama ketika melihat sebuah pertunjukan di TIM, Gedung Kesenian, dan tempat-tempat lain, di dalam dan luar negeri, Yusuf dapat mengabadikannya secara grafis visual. Di mana karya yang tercipta sebenarnya tidak lagi sekadar rekaman kejadian tetapi suatu tafsir tentang apa yang dilihatnya berdasarkan pada ingatan dan kesan-kesan,” imbuhnya. Mensyukuri Bakat Lebih jauh Anna mengatakan, berkarya bagi Yusuf merupakan suatu cara mensyukuri bakat yang telah diberikan Allah SWT, sehingga harus dirawat dan terus dijaga agar bakat itu semakin terasah. Dalam berkarya, Yusuf mencari esensi dari suatu objek, sehingga didapatkan suatu pengendapan akan makna hidup. Hal itu sebagai ungkapan kekaguman akan kebesaran Tuhan yang diekspresikan dengan terus menerus menggambar dan melukis. “Affandi merupakan tokoh penting dalam karier kesenimanan Yusuf, karena darinya ia mendapat kredo ‘ngedan’, yaitu melepaskan diri dari berbagai patokan, rumus, dalil, pakem, kaidah, definisi, dan ukuran umum,” tandas Anna. Dari awal berkarier di kesenian,Yusuf tidak pernah memunyai masalah teknis, karya-karya drawing-nya sudah setaraf dengan S Sudjojono, Ipe Maruf, Rusli, dan Wu Guanzhong. Bisa dikatakan, Yusuf adalah seorang maestro drawing kontemporer terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Karenanya, pameran ini mengangkat kegeniusannya dalam melukis yaitu dengan cara menonjolkan karya-karya fantastik yang terpilih. Untuk itu pameran menunjukkan ke masyarakat seni rupa bahwa karya-karyanya itu sangat tinggi kualitasnya dari segi teknis, imajinasi, nilai puitik, kreativitas, dan pencapaian maksud dari sang peseni itu sendiri. Sejarah Bangsa Selain itu, lanjut Anna, ada karya-karya Yusuf yang merupakan sebuah dokumentasi sejarah yang tidak ternilai harganya bagi sejarah bangsa Indonesia. Dalam serial yang diberi judul Reformasi dan Demokrasi, Yusuf mencatat aksi demo mahasiswa di Bunderan HI dan Gedung DPR. Karya-karya yang menarik dan bersejarah adalah peristiwa di sekitar 19 Mei 1998. Di mana sketsa-sketsa itu mencatat banyak kegiatan yang berhubungan dengan demonstrasi mahasiswa menurunkan Soeharto. Hal
42 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Geliat Seni Rupa inilah yang menjadikan karya-karya Yusuf sebagai catatan perjalanan bangsa. Beberapa drawing itu tidak hanya menggambarkan situasi yang crowdy pada masa demo, namun juga mencatat hal-hal yang manusiawi. Seperti orang-orang yang sedang salat dalam iruk-pikuk demo dan kemesraan sepasang kekasih. Yusuf adalah seorang maestro gambar, karena ia memunyai kualitas craftmanship yang tinggi dalam melukiskan wajah, figur, gestur, dan alam benda dengan presisi. Ia tidak memunyai kesulitan dalam menuangkan realitas yang tampak di depan pengamatannya atau membuat suatu karya imajinasi yang mencerminkan suasana kebatinan dan pikiran yang ada dalam benaknya. Pameran yang digelar oleh Yayasan Duta Indonesia Maju, dengan dukungan Museum Nasional, Jakarta Konsultindo (Jakkon) dan Artmedia, dibuka Rabu, 9 November 2022. Hadir dalam pembukaan di antaranya dari kalangan diplomat, permuseuman, pejabat, aktivis media, budayawan, hingga para perupa dari Jakarta dan daerah. Yusuf didampingi istri, kedua putrinya, dan adik-adiknya yang datang dari Bojonegoro, Jawa Timur. Pada 11 November 2022, di panggung depan digelar acara diskusi yang menyoroti tentang korelasi antara karya seni rupa, jurnalistik, dan sastra Yusuf sebagai seorang yang multi-talenta. Tampil sebagai pembicara dalam kesempatan itu, Agus Dermawan T, Bambang Bujono, dan Anna Sungkar selaku kurator pameran, serta Ireng Halimun selaku moderator. Dari diskusi itu banyak wawasan seni yang terkuak mulai dari catatan perjalanan karier Yusuf sebagai jurnalis, yang kerap mendapatkan kemudahan dalam mengakses narasumber dan lokasi tertentu, yang juga dapat dijadikan objek karya sketsanya, hingga karya sketsa atau drawing ini sangat bernilai, bukan sekadar kegiatan dasar bagi para peseni, namun juga sebagai media dalam pencatatan terhadap peristiwa yang terjadi. Bahkan, dalam ajang pameran seni rupa dunia ruang pamer karya sketsa atau drawing ini lebih banyak disambangi oleh para apresian. IH - Berbagai sumber 42
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 43 Kulik Musik Reda Gaudiamo Luncurkan Album Solonya di Usia 60 Tahun Setiap Saat Adalah Tepat AGASAN untuk membuat album solo masingmasing personel AriReda, yaitu Ari Malibu (almarhum) dan Reda Gaudiamo, dicetuskan pada 2017. Adalah Ari yang merasa yakin bahwa bila kedua personel grup ini punya album solo, maka ketika kembali berduet nanti, album AriReda akan menghasilkan proyek baru yang berbeda dan lebih segar. Sayangnya, sebelum proyek itu terlaksana, Ari tutup usia pada Juni 2018. Namun Ari sempat memaksa Reda untuk berjanji meneruskan proyek album solo ini, apapun yang terjadi. Reda pun setuju, lalu mencari jalan untuk membuat album solonya. Ternyata membuat album sendiri tidaklah mudah. Seringnya membuat album musikalisasi puisi membuat Reda kesulitan menulis lirik. Meski dia sendiri seorang penulis dan copywriter, tetap saja tersendat dalam proses pengerjaannya. Selain urusan lirik, Reda juga harus kembali belajar memegang dan memainkan gitar. Sejak berduet dengan Ari, Reda tak lagi menyentuh gitar. Kalaupun sampai bermain, hanya untuk iseng-iseng saja. Setelah Ari meninggal dunia, ternyata tawaran menyanyi tetap datang. Reda bahkan sempat menyanyi di Inggris dan Bulgaria. Tak ada pilihan, Reda harus belajar memainkan gitarnya kembali. Namun ternyata membuat lagu/ melodi juga tidak mudah. Reda diserang rasa tidak percaya diri, dan ia mencari partner musik baru yang bisa diajak bekerja sama. Ternyata inipun tidak mudah. Ada banyak hal yang membuat kerja sama tidak lancar. Dalam kondisi tak menentu, satu-satu Reda membuat lagunya sendiri, dengan memainkan gitarnya sendiri. Mencoba menemukan nada-nada yang pas dengan suasana hatinya, dengan lirik yang ditulisnya. Diperlukan waktu tiga tahun lebih untuk menghasilkan 11 lagu dan lirik-lirik yang menyertainya. Dimulai dengan melakukan rekaman uji-coba di rumah, dibantu oleh Agus Leonardi, kemudian dilanjutkan G Setelah melewati proses sejak ide dicanangkan pada Juni 2018, akhirnya Reda Gaudiamo, separuh dari duet AriReda, berhasil merilis album solo pertamanya, berjudul REDA GAUDIAMO. dengan merekam dengan serius dan menyelesaikannya di JK Record yang dikomandani oleh produser dan sound engineer, Leonard “Nyo” Kristianto. “Ini bukan pertama kali kerja sama dengan Reda. Dibandingkan dengan album-album yang pernah dikerjakan oleh Reda,
44 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Kulik Musik Kabut, semata-mata karena merasa bisa menambahkan sedikit nilai di lagu itu tanpa mengubah keindahan dan kesederhanaannya,” cerita Adrian tentang lagu yang dipilihnya. “Bagi saya, setiap lagu yang ditulisnya, menggambarkan sosoknya. Rasanya mbak Reda makin bersahaja dan elegan. Silakan menyimak Seperti Kabut dan menikmati perasaan jatuh cinta yang tulus, tanpa syarat. Jatuh cinta berkali-kali,” tulis Adrian di akun media sosialnya @adrianyunan. Selain bersama Jubing dan Adrian, Reda juga berkolaborasi dengan Grace Monetta, adik perempuannya yang berdomisili di Jerman. Grace memainkan bas dan mengisi suara harmoni di lagu Dance! Proses ini dimungkinkan dengan adanya teknologi dalam mengirim file besar via e-Mail. Bagi Reda sendiri, menyelesaikan album ini membawa rasa lega dan kegembiraan yang luar biasa. “Utang pada Ari Malibu, lunas,” tandasnya. “Tetapi yang lebih penting dari itu, saya akhirnya bisa mengalahkan keraguan pada diri sendiri dengan menuntaskan album ini sendiri. Terutama dalam proses kreatifnya, saat membuat melodi dan menyusun syair. Bangga juga bisa mengalahkan rasa frustrasi saat mengerjakannya,” ungkap Reda tentang proses albumnya. menurut saya ini adalah ‘best of the best’-nya album Reda,” komentar Leonard tentang album solo ini. “Yang istimewa dari album solo Reda ini adalah syairnya pas dengan lagunya. Melodi dan syairnya menyatu. Itu sebabnya saya bilang ini album ‘best-of the best’- nya Reda. Di album ini, akhirnya Reda menemukan warnanya,” imbuh Leonard. Untuk musiknya, Reda meminta bantuan Jubing Kristianto untuk menjadi partner kerjanya di album ini. Ini bukan kolaborasi pertama mereka. “Boleh jadi ini album Reda yang paling tulus karena menunjukkan ekspresi berkeseniannya yang murni melalui lirik lagulagunya maupun style musiknya. Kemurnian inilah yang saya jaga ketika diminta mengisi gitar untuk album ini,” komentar Jubing. “Album ini bernilai sejarah karena ini kali pertama Reda membuat album solo setelah kepergian pasangan duetnya, almarhum Ari Malibu,” tambah Jubing. Dari 11 lagu yang ada di album ini, 10 lagu dibuat oleh Reda dengan enam lirik yang dibuat sendiri. Selebihnya satu puisi Sapardi Djoko Damono, tiga puisi Rumi, dan satu doa Indian Pueblo. Jubing menyumbang satu lagu. Turut berkolaborasi di album ini adalah Adrian Yunan dalam lagu Seperti Kabut. “Lagu Seperti Kabut sudah membuat saya jatuh hati sejak menyimak raw file-nya yang dinyanyikan sendiri oleh mbak Reda. Saya beruntung diberi kesempatan mendengarkan lagulagu yang akan jadi materi rilisannya. Dan semakin bersyukur ketika diperkenankan memilih satu lagu untuk mengisi beberapa part. Saya memilih Seperti Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 45 Reda yang kelahiran 1962 dan tahun ini berusia genap 60 tahun, percaya bahwa tak ada kata terlambat dalam berkarya, dalam melahirkan album solo pertama, dalam membuat konser. “Melihat perjalanan album ini, rasanya memang inilah saat kelahirannya, ketika pengalaman, rasa, sudah cukup matang. Lagi pula, setiap saat adalah tepat,” kata Reda yang selain menggubah lagu dan menulis syairnya, juga menggambar dan mendesain sendiri album ini. Tak ada kata berhenti bagi Reda dalam berkarya. Sepanjang 2022 ini ia tak berhenti berkeliling Indonesia juga ke Australia, membawa gitalele-nya, menyanyikan lagu-lagunya, berkonser di berbagai tempat dan festival literasi dan musik. Selain itu ia juga meraih penghargaan Wrappot 2022 @Spotify sebagai satu dari artis yang lagunya paling sering diputar. Kesibukan Reda yang tergolong rajin mengunggah kegiatan-kegiatannya di media sosial bisa dipantau melalui akun IG @reda. gaudiamo. Album Solo Reda Gaudiamo produksi bersama Reda dan JK Record dirilis pada 24 Oktober 2022 dan tersedia di kanal digital berikut ini: Youtube Music : https://bit.ly/3DpYcKF Spotify : https://spoti.fi/3TT5MD7 Joox : https://bit.ly/3TsFS9t Langit Musik : https://bit.ly/3somiPO Deezer : https://bit.ly/3FqAcsr Resso : https://bit.ly/3MWXZlp TrebelMusic : https://bit.ly/3N2BUC2 Selain meluncurkan album solonya tahun ini, Reda juga menghadirkan bukunya yang terbaru, Na Willa dan Hari-hari Ramai, seri ketiga Na Willa. “Buku seri pertama Na Willa, terbit tahun 2012, ketika saya berusia 50 tahun. Ini menjadi novel saya yang pertama setelah selalu menerbitkan cerpen atau kumpulan cerpen. Serial kedua, terbit lima tahun kemudian, saat berusia 55 tahun, dan tahun ini, di usia 60, lahir jilid ketiga,” cerita Reda. “Mungkin buat banyak orang, saya terlambat melakukan semua ini. Atau mengherankan karena kenapa harus ribet dan bikin macam-macam di umur sekian, ketika mereka yang sebaya justru memilih pensiun dan santaisantai. Menurut saya, orang boleh bilang apa saja tentang proses kreatif saya yang dianggap terlambat ini. Tetapi buat saya, ini adalah pilihan. Saya memilih untuk terus bikin-bikin. Apa pun itu. Saya ingin terus bergembira mencipta, bergembira berbagi,” katanya lagi. Buku Reda diterbitkan oleh Post Press, dan bisa didapatkan di Dema Buku @demabuku, Post Santa @post_santa, PatjarMerah @patjarmerah.id, dan toko-toko buku indie lainnya. Ritmanto Saleh - Berbagai sumber Detil Produksi Vokal: Reda Gaudiamo Featuring: Adrian Yunan & Grace Monetta Gitar: Jubing Kristianto Gitalele: Reda Gaudiamo Kibor (Seperti Kabut) Adrian Yunan Bas (Dance!): Grace Monetta Direkam di JK Record oleh Santo Yuniarsa Mixing & Mastering di JK Record oleh Leonard “Nyo” Kristianto Cover Drawing & Graphic Design: Reda Gaudiamo
46 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 EJAK usia prasekolah, Helvy selalu mendengar dongeng yang diceritakan sang ibu. Ibunya juga sangat rajin membaca. Orangtuanya memang mengoleksi banyak buku di rumahnya. Ayahnya adalah seorang penulis lagu. Helvy kecil bahkan sering diajak ayahnya untuk bersama-sama menulis syair lagu. Akrab dengan keseharian seperti ini membuatnya memiliki bakat menulis yang kuat, dan memiliki motivasi yang besar untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Helvy mulai menulis puisi dan cerpen dengan memberanikan diri mengirim karya-karyanya ke redaksi majalah anak-anak. Banyaknya hasil karyanya yang dimuat, membuat Helvy lebih bersemangat dan giat menulis. Hal ini juga berdampak kepada adiknya Asma Nadia yang mengikuti jejaknya sebagai penulis. Perlahan bakat perempuan kelahiran Medan, 2 April 1970 ini semakin tajam. Berbagai lomba puisi berhasil dimenangkannya. Putri pertama dari pasangan Amin Usman, lebih dikenal dengan nama Amin Ivos seorang pencipta lagu dari Aceh dengan Aria Erry Susanti, wanita keturunan Tionghoa kelahiran Medan, ini setelah tamat Sekolah Menengah Atas, melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia, Fakultas Sastra Jurusan Sastra Asia Barat dengan konsentrasi Program Studi Bahasa Arab. S Sejak kecil, Helvy Tiana Rosa sudah memilih untuk menapaki dunia literasi. Jalan yang tak banyak dicita-citakan anak-anak seusianya saat itu. Helvy Tiana Rosa Latar Peseni Bakat dari Tuhan Harus Diasah dan Dikembangkan Di kampusnya kiprah Helvy dalam kesenian dan berorganisasi semakin meningkat tercatat dia mendirikan Teater Bening (Ketua Teater Bening, 1990 - 1993), menjadi penulis naskah untuk pementasan-pementasan teater, selain itu bakat menulisnya semakin terasah, Helvy memenangkan berbagai perlombaan menulis yang diadakan oleh FSUI dan UI, tulisan-tulisannya pun semakin dikenal luas, karena banyak media yang memuat berbagai karya-karyanya. Di kampusnya, Helvy juga aktif dalam kegiatan berorganisasi, menjadi staf Pengabdian Masyarakat Senat Mahasiswa FSUI (1991 - 1992 dan 1992 - 1993), Litbang Senat Mahasiswa FSUI (1993 - 1994), dan Litbang Senat Mahasiswa UI ( 1994 - 1995). Selain itu ia juga menjadi redaktur Majalah Annida--pelopor majalah remaja berbasis religi. Hal ini membuat Helvy semakin rajin menulis, berbagai puisi dan cerpen-cerpennya dan banyak dimuat di Majalah Annida dan media lainnya. Cerpen-cerpen Helvy dianggap sebagai cerpen inspiratif anak-anak muda. Satu di antara cerpennya yang sangat fenomenal dan mendobrak dunia sastra adalah Ketika Mas Gagah Pergi yang diterbitkan Majalah Annida. Cerpen ini dicetak puluhan kali, dan menjadi satu di antara cerpen best seller yang paling diminati pembaca. Pada 1997 bersama adiknya Asma Nadia, dia mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan buku bernama Forum Lingkar Pena (FLP), Helvy juga mengajak beberapa cerpenis Annida untuk ikut bergabung. FLP dimaksudkan sebagai wadah bagi para penulis-penulis muda untuk mengembangkan bakatnya dan sebagai media untuk memperkenalkan tulisan-tulisan mereka. Melalui FLP nama Helvy semakin dikenal, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di negara lain seperti Hong Kong, Malaysia, Arab Saudi, Jepang, Sudan, Mesir, Amerika, dan beberapa negara lain. Helvy menjadi ketua FLP pertama, 1997 - 2005. Pada 2004 bergabung dengan penerbit Mizan, menjadi Lingkar Pena Publishing House, dan Helvy menjadi Direktur Utama Lingkar Pena Kreativa, 2004 - 2011. Pada 2008 FLP mendapat penghargaan Danamon Award sebagai inspirator dan inisiator yang telah melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat sekitar dengan siignifikan. Sebelumnya 2002, Helvy mendirikan Rumah 46 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 47 Cahaya yang bertujuan untuk meningkatkan intensitas membaca masyarakat. Berbagai penghargaan terus berdatangan, satu di antaranya yang paling membanggakan adalah terpilihnya Helvy sebagai “The World’s 500 Most Influential Muslim” selama tiga tahun berturut-turut dari, 2009 - 2011, dalam kategori art and culture. Pada 2023 Helvy kembali terpilih sebagai “The World’s 500 Most Influential Muslim” bersama tokoh-tokoh dunia dan tokoh-tokoh Indonesia seperti Sri Mulyani, Khofifah Indar Parawangsa, Maria Ulfah, Megawati Soekarnoputri, Tri Mumpuni, Nadhira Nuraini Afifah, dan Sulis. Selain itu, untuk di dalam negeri banyak sekali penghargaan yang diterima Helvy, di antaranya: Muslimah Indonesia Berprestasi dari Majalah Amanah, 2000; Ibuku Idolaku Award dari Benadryl, Hari Ibu Tingkat Nasional 2002; Pena Award untuk buku Lelaki Kabut dan Boneka/Dolls The Man Of The Mist, 2002; Tokoh Sastra Era Muslim Award, 2006; Tokoh Perbukuan Nasional, IBF Award, IKAPI 2006; Pemenang Pertama Esai Ayah Bunda, Prenagen 2007; Ikon Perempuan Indonesia, versi Majalah Gatra 2007; Dosen Berprestasi Universitas Negeri Jakarta, 2008; Bukavu, 10 Buku Prosa Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2008; dan Kartini Award, sebagai satu di anatar “The Most Inspiring Woman In Indonesia” dari Majalah Kartini 2009. Pada 2015, Helvy menandai babak baru dalam kariernya. Tahun itu ia menjadi produser untuk film yang diangkat dari karyanya yaitu Ketika Mas Gagah Pergi. Setelah itu dia memproduksi beberapa film lainnya, Duka Sedalam Cinta, 2017, The Power of Love, 2018, Hayya, 2019, dan Hayya 2, 2022. Selain sebagai pesastra, Helvy juga tercatat menjadi Dosen di Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Bahasa dan Seni sejak 1995. Sebagai pesastra dan akademisi, dia sangat memahami bagaimana perkembangan sastra dalam dunia pendidikan Indonesia dewasa ini. Menurutnya anak-anak perlu diperkenalkan pada sastra sedini mungkin, dimulai dari rumah lalu ke sekolah, mulai tingkat TK, SD, SMP, SMA, dan bagaimana pelajaran bahasa dan sastra bisa menjadi menyenangkan bagi para pelajar dan mahasiswa. Karena saat ini, belajar sastra karena “terpaksa”, bukan karena keinginan mereka, meski ada perkembangan yang cukup baik yang mana mulai terlihat minat untuk mempelajari sastra dari anak-anak milenial. Di sinilah tugas akademis sastra diperlukan untuk membuat sastra menjadi hal yang menyenangkan, menjadi sesuatu yang menimbulkan minat untuk mempelajarinya. Karena sesungguhnya sastra merupakan barometer peradaban bangsa, sastra memunyai hubungan yang erat dengan masyarakat di suatu negara, sastra adalah potret atau refleksi dari kehidupan manusia. Untuk itu seorang dosen atau pengajar bidang sastra harus benar-benar memiliki pemahaman yang dalam mengenai sastra itu sendiri. Penambahan jam pelajaran dan cara mengajar yang lebih menarik menjadi bagian yang harus dikerjakan, pelajaran sastra bisa juga dimasukkan untuk mata pelajaran lain, seperti misalnya mata pelajaran geografi, saat mengajarkan tentang sungai-sungai dengan memakai cerpen Gerson Poyk. Baginya, sastra itu lintas ilmu, dan bisa masuk ke mana saja. Dia selalu mendorong mahasiswanya untuk gemar membaca dan cinta menulis, sambil terus memotivasi mereka untuk meyelami dunia sastra lebih dalam. Bagi Helvy, tidak ada kata berhenti untuk menulis, menulis adalah pekerjaan mulia, karena menulis adalah kegiatan menanamkan berlian di hati pembaca. Istri dari Widanardi Satryatomo (Tomi) ini memperoleh gelar Magister Humaniora dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan Doktor dalam bidang pendidikan bahasa dari Universitas Negeri Jakarta, juga aktif dalam organisasi yang berkaitan dengan seni-budaya. Pada 2003, dia menjadi sekretaris Dewan Kesenian Jakarta, Anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (2003 - 2006), Anggota Majelis Sastra Asia Tenggara (2006 - 2014), dan Wakil Ketua Seni-Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia. Ibu dari Abdurahman Faiz dan Nadya Paramita ini telah membuktikan bahwa sesuatu yang dikerjakan dengan hati dan sungguh-sungguh akan menghasilkan hal yang besar. Bakat yang telah diberikan Tuhan harus diasah dan terus dikembangkan dengan maksimal agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat luas. Ossie Helmi - Berbagai sumber Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 47
48 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Laporan Khusus ETELAH 10 nomor sebelumnya pergelaran Sastra Semesta terselenggara di berbagai tempat dari galeri, rooftop pasar, pelataran museum, rumah budaya, sampai pusat jajan, dari pusat keramaian ibu kota sampai ke kawasan wisata Mega Mendung, Bogor, kali ini Sastra Semesta mendapatkan kesempatan untuk digelar di tempat yang cukup ideal, yaitu di lokasi baru Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang terletak di lantai 4 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Acara yang konsep awalnya setiap dua bulan sekali ini diselenggarakan pada Minggu, 6 November 2022, 14.00 sampai dengan 17.00 WIB, dengan tema Baca Wiracarita. Wiracarita artinya epos atau syair kepahlawanan. Tema ini sengaja dipilih dalam kaitan memperingati Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November setiap tahunnya. Wiracarita atau kisah kepahlawanan ini sudah memasyarakat di Sastra Semesta #11 Baca Wiracarita (Syair Kepahlawanan) S Indonesia dan sangat berpengaruh pada kehidupan dan perkembangan sosial-budaya masyarakat, seperti contoh kisah Mahabharata, Ramayana, Kitab Mahabharata, dan lain-lain. Acara dimulai dengan kata pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kata sambutan pertama disampaikan oleh Rini Intama selaku penanggung jawab acara, dilanjutkan dengan sambutan dari Ireng Halimun sebagai Koordinator Sastra Semesta dan Halimah Munawir selaku Pembina Sastra Semesta. Selepas segmen sambutan, acara pertunjukan dimulai dengan pembacaan puisi oleh Dyah Kencono PD, Ndari Soedibyo, dan musikalisasi puisi oleh Rinidiyanti Ayahbi yang membawakan dua komposisi yaitu, Pada Rumah Terakhir karya Halimah Munawir, dan Reportase Perjalanan: di Lapas Perempuan karya Rini Intama. 4848 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 4949 Acara berikutnya boleh dikatakan inti pergelaran ini yaitu talk show dengan judul Baca Wiracarita. Segmen ini dipandu oleh Ireng Halimun yang bertindak sebagai moderator. Sementara itu kedua narasumber adalah ahli di bidang masing-masing yaitu Ibnu Wahyudi dan Jose Rizal Manua. Mereka sama-sama membahas topik terkait kepahlawanan tentunya dari sudut pandang yang berbeda. Segmen tanya-jawab yang awalnya agak sepi karena penonton terkesan malu-malu kucing, ternyata berangsur menjadi semakin ramai setelah kedua narasumber dengan bergantian memberikan jawaban atas pertanyaanpertanyaan yang diajukan hadirin. Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Acara berlanjut dengan sebuah kolaborasi lain. Ibunda Sastra Semesta Halimah Munawir membacakan sebuah puisi karangannya sendiri berjudul Rembulan dari Tanah Sunda dengan iringan gitar oleh AjiBrokenBones, yang tahun ini berhasil memecahkan rekor Guinness Books of Records atas namanya sendiri untuk kategori pemain gitar tercepat dengan kedua tangan. Pembaca puisi berikutnya adalah Wahyu Toveng, Devie Matahari, Iwan Cipta Saputra, diakhiri oleh Dema Soetego, penulis skenario, pesyair, peteater, yang membaca monolog Indonesiaku karya Hamid Djabbar. Di akhir acara, yang tak kalah menarik adalah open mic yang turut dimeriahkan oleh Lay Sastra, Badri AQ T, Iwoe Banyu Gesang, Jimmy Johansah, dan Asrin. Ketika pembaca puisi terakhir selesai membacakan puisinya, waktu sudah menunjukkan tepat pukul 17.00 WIB, saatnya bagi pemandu acara untuk menutup pergelaran Sastra Semesta #11. Acara baru benarbenar usai setelah berakhirnya sesi foto bersama seluruh panitia, pengisi acara, dan penonton. Rini Intama
50 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Laporan Khusus NUGERAH Musik Indonesia/ AMI Awards sebagai ajang penghargaan industri musik paling prestisius di Indonesia. Tahun ini memasuki penyelenggaraan yang ke-25 kalinya, artinya AMI Awards sudah mencatat sejarah perjalanan musik Indonesia dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Ajang AMI Awards merupakan penghargaan tertinggi di industri musik Indonesia yang diberikan oleh Yayasan Anugerah Musik Indonesia untuk mengakui prestasi luar biasa musisi Indonesia setiap tahunnya. AMI Awards kali pertama dimulai pada 29 November 1997, untuk menghargai prestasi musisi Indonesia pada periode 1996 - 1997. Di tahun tersebut 34 trofi diberikan kepada para musisi peraih AMI Awards. Jumlah penghargaan yang diberikan bisa berubah-ubah dengan kategori ditambah atau diapus dari tahun ke tahun. Sejak didirikan pada 1996 hingga sekarang, Yayasan Anugerah Musik Indonesia telah memberikan kontribusi nyata dalam upaya memajukan industri musik Indonesia dan AMI Awards sangatlah ketat. Proses ini terdiri dari lima tahap: submission, screening, nominating, final voting, dan result. Anggota pemungutan suara AMI, semuanya terlibat dalam bidang pemilihan kreatif dan teknis. Mereka berpartisipasi dalam nominasi yang menentukan lima finalis di setiap kategori dan pemungutan suara terakhir yang menentukan peraih AMI Awards. Demi objektivitas, sebuah firma akuntan independen dilibatkan dalam melakukan tabulasi suara pada penentuan pemenang. meningkatkan kreativitas, kapasitas dan kualitas para pemusik Indonesia. Sebagai ajang paling bergengsi dalam industri musik Indonesia yang menerima lebih dari 1.000 entry lagu per tahun, proses penentuan nominasi dan pemenang penghargaan Pendaftaran lagu untuk dinominasikan pada acara ini sudah dimulai sejak dibuka dengan online pada 17 Mei 2022 sampai dengan 9 Juli 2022. Sebanyak 4.156 lagu terdaftar tahun ini, berupa karya produksi single ataupun album yang dirilis dengan komersial dalam periode 1 Juli 2021 – 30 Juni 2022, menandakan bahwa dalam kondisi apapun semangat kreativitas para musisi tetap membara demi berlangsungnya industri musik Indonesia selanjutnya. Sesuai dengan tema Anugerah Musik Indonesia tahun ini yang selaras dengan Presidensi G20 Recover Together, Recover Stronger Through Music. Sidang kategorisasi AMI yang berlangsung pada 18 – 29 Juli 2022 dilakukan dengan offline dan online memutuskan bahwa pada AMI tahun ini ada 57 kategori dari 11 genre musik (pop, dangdut, rock, jazz, soul/ R&B, anak-anak, alternatif, keroncong, dance/elektronika, metal, rap/ hiphop) dan tiga AMI Musik Awards ke-25 Ada 57 Kategori dari 11 Genre Musik A 50 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2