Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 51 kelompok penghargaan lain (umum, karya produksi, dan penunjang produksi), dengan penambahan dan penyempurnaan beberapa kategori baru di antaranya: Artis Solo Pria/ Wanita R&B Kontemporer Terbaik, Duo/ Grup/ Kolaborasi R&B Kontemporer Terbaik, Artis Solo Pria/ Wanita Rap/ Hiphop Terbaik, Duo/ Grup/ Kolaborasi Rap/ Hiphop Terbaik, Artis Solo Pria/ Wanita/ Grup/ Kolaborasi Metal Terbaik, dan Album Metal Terbaik. Selain itu masih ada tiga kategori lain yang juga mendapatkan penghargaan yaitu Legend Award untuk Elvy Sukaesih, Lifetime Achievement Award untuk Glenn Fredly, dan Penghargaan Khusus untuk Donny Hardono. Acara yang kali ini dipandu oleh Ayu Dewi dan Robby Purba terselenggara di studio RCTI, Kebon Jeruk, 13 Oktober 2022. Seperti penyelenggaraan pada tahuntahun sebelumnya, kegempitaannya membuat studio yang terletak di Kebon Jeruk ini menjadi bertabur bintang tak ubahnya ajang Grammy Awards di negeri Paman Sam. Semua nominator dan pemenang berikut nama-nama penting dalam industri musik diundang untuk hadir. Di sisi penonton, beberapa komunitas fans memanfaatkan acara ini untuk menjumpai idola mereka. Penyanyi & pencipta lagu Tulus menjadi pemusik yang paling berprestasi dengan mendapatkan 4 penghargaan yaitu dalam kategori Karya Produksi Terbaik-Terbaik, Album Terbaik-Terbaik, Artis Solo Pria Pop Terbaik, dan Album Pop Terbaik. Bersama Ari Renaldi dan Yura Yunita iapun menjadi satu dari 3 pemusik yang terbanyak dinominasikan, yaitu 7 nominasi. Selain Tulus, beberapa nama yang sudah menunjukkan gejala menang akhirnya terbukti memang menang seperti Isyana Sarasvati, Deadsquad, Voice of Baceprot, Ziva Magnolya, dan Rizky Febian. Di antara namanama yang mendapatkan kesempatan untuk tampil baik sebagai nominator, pemenang, pengisi acara, maupun pembaca pengumuman pemenang adalah Rossa, Novia Bachmid, Lyodra, Yura Yunita, Trio Nona (Nowela Mikhelia, Novia Bachmid, dan Nikita Becker), Candra Darusman, Karimata, Abah Lala, Tiara Andini, Fabio Asher, Rini Wulandari, Cantika Abigail, JKT48, Elfa’s Singers, dan masih banyak lagi yang lainnya. Ritmanto Saleh Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 51
52 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Laporan Khusus USAT Dokumentasi Sastra HB Jassin yang didukung oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, menggagas acara Senja Berpuisi untuk bergerak, bersinergi, dan berkolaborasi dengan peseni. Senja Berpuisi diadakan setiap akhir pekan di Selasar PDS HB Jassin/ Gedung Panjang Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki. Pertemuan awal pada Juli 2022 antara pihak PDS HB Jassin Moch Nanang Suryana dengan panitia pelaksana Senja Berpuisi yaitu Remmy Novaris DM dari Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Indraswara dari teater, Omni Koesnadi dari OMG Organizer, dan Eki Thadan dari Tim Kreatif, mencoba untuk menafsirkan sebuah kegiatan yang berlangsung di outdoor. Karena untuk di indoor sudah ada kegiatan rutin di PDS HB Jassin Lantai 4. Pihak PDS HB Jassin telah menyiapkan 32 slot untuk Senja Berpuisi mulai Agustus 2022 sampai dengan November 2022. Sesuai draf awal, Senja Berpuisi diadakan pada Jumat, Sabtu, dan Minggu, 16.00 - 18.00 WIB. Pada Agustus 2022 turut bergabung dalam kepanitiaan Senja Berpuisi, Nanang R Supriatin dan Giyanto Subagio yang masing-masing bertanggung jawab sebagai konseptor acara merangkap koordinator komunitas, mediator komunitas, dan persiapan panggung. Setelah melalui beberapa pertemuan internal akhirnya disepakati bahwa jadwal pementasan Senja Berpuisi cukup dilaksanakan sekali dalam seminggu. Ada 58 komunitas telah tercatat oleh panitia, termasuk para peseni di luar komunitas. Sempat berlangsung pertemuan antara panitia dan komunitas di Gedung PDS HB Jassin Lantai 6 untuk membicarakan rundown acara dan jadwal pementasan untuk setiap komunitasnya. Akhirnya pementasan terakhir Senja Berpuisi digelar pada 12 November 2022 dengan menampilkan para deklamator, peseni, dan pesyair dari Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang Selatan, Bogor, Tegal, dan Sumatera Utara. Tampil juga Monolog Puisi oleh Nuyang Jaimee dan rekan-rekan dan Musikalisasi oleh Qthink Cakrawala. Diana Prima Resmana Senja Berpuisi Gerak, Sinergi, dan Kolaborasi P 52 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 53 ASKAR Muda Ngesti Pandowo (LMNP)–anakanak muda yang konsern berkiprah nguri-uri kesenian wayang orang--berkolaborasi dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Semarang, BP2KL, Disbudpar Kota Semarang, dan stakeholder lainnya, mengkreasi kesenian wayang orang dengan sentuhan gaya generasi milenial dalam bingkai tajuk: Wayang on the Street, Road to Kota Lama Festival. Pada gelaran Wayang on the Street ini juga dimarakkan dengan Flashmob (menari bersama) artis dan para penonton. Hariel Al Zafar dari LMNP mengatakan, pertunjukan wayang orang yang dikemas dengan sentuhan kekinian ini ditaja setiap Jumat, minggu kedua, saban bulannya di Panggung Terbuka Oudetrap Theater, Kota Lama, Semarang. L Gelaran pertama dimulai pada Maret 2022 dan puncaknya berlangsung pada gelaran hajat Festival Kota Lama, di Kota Lama, Semarang, pada 11 – 25 September 2022. Lakon Arjuna Wiwaha Pada gelaran perdana Wayang on the Street mengusung lakon Arjuna Wiwaha ke atas pentas. Gelaran wayang orang yang dipersembahkan WO LMNP ini disutradarai Harel Al Zafar dengan koreografer dari tim LMNP dan pengrawit; Pengrawit: Abilawa.Bimo, Andro, Sindhu, Bhanu, dan Rosyid. Sedangkan para pelakonnya para anggota dari LMNP. Sihing cipta paminta raga, raganing manungsa kang upaya janiting sukma, sukma kang ngulandara kanthi wehening cipta satemah antuk nugrahaning kawasa. Wayang on the Street Ekspresi Cinta Kaum Milenial pada Wayang Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 53
54 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Laporan Khusus Laporan Khusus Dramatari Wayang Lakon Arjuna Wiwaha ini digelar di Panggung Terbuka Oudetrap Theater, Kota Lama, Semarang, Jumat, 11 Maret 2022. Kisah pewayangan yang menceritakan tentang perjalanan Arjuna dalam mencari jati diri sebagai seorang ksatria. Dengan berbagai rintangan yang menghadang, sang Arjuna dengan segala kearifannya dapat melaluinya. Hingga terwjudlah cita-cita Arjuna menjadi seorang ksatria yang luhur dan bijaksana. Menurut Harel Al Zafar sutradara pergelaran, kisah ini dirasa selaras dengan berjalannya kegiatan Wayang on the Street yang diataja dengan niatan untuk memunculkan jati diri seni dan budaya yang ada di Kota Semarang dalam hal ini wayang orang sehingga dapat dikenal masyarakat luas. A Tribute to Profesor Edi Dharmana Pada gelaran kedua, Jumat, 8 April 2022, mengusung lakon Gathutkaca Nostalgia dalam Senja dengan sutradara Harel Al Zafar. Koreografer punggawa LMNP dan pengarawit; Pengrawit : Abilawa,Bimo, Andro, Sindhu, Bhanu, dan Rosyid. Sedangkan pemain selain dari LMNP juga ada pemain senior sari WO Ngesti Pandowo yang didukung siswa-siswi dari Sanggar Monod Laras. Kisah ini Gathutkaca ini didedikasikan untuk almarhum Profesor Edi Dharmana, Guru Besar Universitas Diponegoro yang punya perhatian terhadap tumbuh-kembang perjalanan WO Ngesti Pandowo. Untuk mengenang kiprahnya, maka pementasan kali ini mengusung tema Gatotkaca yang sering ia perankan. Harel Alzafar selaku sutradara dan penyaji artistik menceritakan, mendiang Prof Edi sangat menginspirasi dan mendukung regenerasi anak muda dalam pementasan wayang orang maupun kesenian lainnya. Dengan adanya pertunjukan Wayang on the Street ini menjadi wadah untuk menyalurkan dedikasi mereka. “Prof Edi memodifikasi pakaian Gatotkaca yang biasanya berwarna hitam, menjadi beberapa warna. Ada merah, biru juga ungu yang biasanya kostum untuk wayang putri, ternyata cocok untuk Gatotkaca,” ujar Harel mengenang. Kisah ini yang merefleksinya, di langit senja kulihat matahari bersinar di dadanya. Sorot matanya yang jatmika masih bisa terlihat jelas meski caping basunanda membiaskan parasnya. Perangainya yang gagah jelas mengingatkan kami akan seseorang. Seseorang yang telah pergi meninggalkan kami. Kami berharap, langit senja dapat menyampaikan kisah kami. Dalam senja itu, kami harap kisah ini dapat tersampaikan. Dalam senjanya, kepada ksatria-ksatria kecilah harapan besar ia sampirkan. Kisah ini tentangmu yang telah pergi, tentangmu yang pernah menaruh harapan besarmu pada kami. Senja itu seolah meyakinkan kami walau dari dimensi yang berbeda, mereka hadir meski telah tiada. 54 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 55 Kisah tersebut kemudian berakhir dengan adegan seorang kakek yang sedang membimbing para cucu yang sedang berlatih menari dan mendalang. Harapannya, hal ini dapat memberi contoh untuk terus menjaga dan proses regenerasi pemain wayang orang. Kisah Perburuan Tirta Suci Pergelaran ketiga, Jumat, 13 Mei 2022, Wayang on the Street mengusung lakon: Samudra Manthana yang mengisahkan perburuan tirta (air) suci ini juga disutrdarai Harel Al Zafar dengan koreografer dari tim LMNP dan tim pengrawit: Abilawa, Bimo, Andro, Sindhu, Bhanu, dan Rosyid. Sedangkan Dewi Shinta. Dengan bantuan Kala Marica, yang seakan tahu bahwa setiap wanita pasti akan terpikat dengan kilauan kencana. Pergelaran drama tari wayang Kencana Mawa Wisa ini disutradarai Harel Al Zafar dengan Koreografer Albela Mayrani, Komposer Badiva Lanank Aldhani, dan Penata Busana Cakra Baswara Community. Sedangkan para pemainnya LMNP berkolaborasi dengan Sanggar Tari Sekar Arum, Sanggar Tari Sobokartti, Sanggar Tari Iswara, dan SD Negeri Tandang 3. Dengan para petari Wiradiyo, Laksmana Wijaya, Dela Oktavia Andiena, Sonia Ratu, Iqbal Chanakya, Bayu Devatama, Dito Alvian, Findo Eka, Aditya,Rafael, Fakhri, Vincy, Aldo, Mirza, Adara, Arum, Ara, Alza, Faza, Nisa, Helina, Qayla, Felan, Cherly, Sinta, Aufh, Salsa, Shafa, Hani, Abbel, Khayla, Ayuni, Shafa, Chika, Aqila, Shafa, dan Auryn. Tampil sebagai pemusik: Whastu Mahening, Nur Roosyid, Adhimas wahyutama, Jalu Abilawa, Vebrianto, Reyhan Mahodtra, Rahma Dandi, dan kru pendukung Rizkyana Mega, Vinca Yunia, Nila Riyapemain-pemainnya anggota LMNP. Kisah ini menguraikan upaya para dewa dan asura (raksasa, detya, danawa) dalam memperoleh air keabadian atau tirta amerta di lautan susu. Naga basuki yang melilik Gunung Mandara berfungsi mengaduk samudra. Kisah Abadi Rama-Sinta Pada gelaran keempat, 13 Juni 2022, Wayang on the Street mengusung pethilan dari epos Ramayana, tentang kisah cinta Rama-Sinta dikemas dalam tajuk lakon: Kencana Mawa Wisa. Gelaran diawali dengan parade denok kenang Kota Semarang yang menggelar parade batik dan wayang. Wisa kang apaes kencana, arupa gebyaring raga. Lamun kadulu agawe sengseming nala anggennya sesolah, satemah sang Rekyan Shinta darbe pamothah. Kisah ini menceritakan tentang perjuangan sang Rahwana untuk mendapatkan pujaan hatinya, yaitu Bathari Sri Widawati yang bersemayam dalam raga satin, Benita Winda, Yudha Pambayun,dan Sekar Intan. Di pengujung acara seperti biasanya digelar flashmob yang diikuti oleh para artis dan penonton dengan iringan gending Gugur Gunung yang punya makna gotong-royong nyengkuyung bareng melestarikan wayang budaya Indonesia yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Christian Heru Cahyo Saputro Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 55
56 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Laporan Khusus Laporan Khusus BUD Writers and Readers Festival (UWRF) adalah sebuah festival sastra tahunan yang diadakan di Ubud, Bali, Indonesia. Festival tersebut digagas oleh Janet DeNeefe, satu di antara pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati yang menjadi penyelenggara festival, bersama dengan suaminya Ketut Suardana dan anaknya Laksmi Shari De-Neefe Suardana, peraih gelar Puteri Indonesia 2022. Festival ini dirintis sebagai proyek pemulihan terhadap Bom Bali 2002 dan kali pertama diadakan pada 2004 sebagai bagian dari upaya membantu pemulihan pariwisata, kegiatan ekonomi utama di pulau tersebut, setelah pengeboman teroris yang menyerang distrik Kuta. Terselenggara pada bulan Oktober setiap tahun, UWRF dikenal sebagai festival tata bahasa dan gagasan terbesar di Asia, yang setiap tahun diikuti oleh rata-rata lebih dari 150 penulis, peseni, pemikir, pementas, aktivis, dan tentunya ribuan pecinta membaca dari seluruh dunia. Keberadaan UWRF saat ini juga bertujuan untuk mempromosikan Ubud sebagai pusat kesenian dan budaya, memamerkan penulis-penulis Indonesia di panggung internasional, dan membantu pengembangan diri pemuda-pemudi Indonesia melalui program pendidikan dan sastra. Festival internasional yang sejak pelaksanaan pertama telah berkembang dengan signifikan dalam segala aspek ini setiap tahunnya mengusung tematema khusus, misalnya Kesetaraan dan Keragaman Gender (2018) dan Karma (2019). Pelaksanaan UWRF 2020 sempat tertunda karena Covid-19, namun pandemi global tersebut ternyata hanya sekali itu saja berdampak pada pelaksanaannya. Pada 2021, UWRF sudah kembali berkibar dengan tema yang diambil dari filosofi Hindu-Bali, Mulat Sarira, yang berarti refleksi diri. Seolah ingin menegaskan untuk bangkit lebih kuat setelah pandemi, UWRF 2021 bukannya surut tetapi justru meluas ke selatan dengan dijalinnya kolaborasi bersama Writing Western Australia. Total terdapat 130 penulis yang hadir langsung di Ubud, maupun dengan daring di antaranya Amitav Ghoshs, Hilmar Farid, André Aciman, Kim Hyesoon, Agustinus Wibowo, Ayu Utami, Desi Anwar, Lala Bohang, Lara Nuberg, Todung Mulya Lubis, Joko Pinurbo, dan Ray Shabir. Skala pelaksanaan festival ini tergolong masif. Dalam jadwal acaranya rata-rata terdapat lebih dari 150 pembicara, penulis, penampil, dan aktivis dari sekitar 30 negara yang tampil dalam lebih dari 150 program yang digelar di berbagai tempat yang tersebar di Ubud. Pihak penyelenggara terkesan sangat berusaha menjadikan festival ini seegaliter mungkin. Siapapun bisa hadir tanpa memandang latar belakang apapun, selama tetap berperilaku positif terhadap berlangsungnya festival. Itulah sebabnya di antara ratusan acara yang diselenggarakan, ada yang gratis untuk umum, ada yang bertiket, ada tiket dengan potongan harga, dan ada pula tiket yang diberikan dengan gratis kepada pengunjung tertentu. Strategi subsidi silang diberlakukan dalam pembiayaan festival internasional ini, artinya hasil penjualan tiket dari pengunjung-pengunjung asing digunakan untuk membiayai program-program gratisnya, termasuk lokakarya untuk anak-anak dan siswa-siswi SMA dan gurunya, serta potongan harga tiket bagi pengunjung festival dari dalam negeri. Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2022 Satukan Nilai Kemanusiaan U 56 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 57 Tidak hanya soal biaya, dress code pun tidak pernah jadi masalah selama tidak menyebabkan gangguan ketertiban. Dari pengunjung dengan dandanan paling formal sampai yang berpenampilan tersantai, semuanya tampak mengikuti setiap acara dengan tertib. Dari para penulis dengan segudang karya, para pembicara dan aktivis kaliber dunia, sampai dengan anak-anak sekolah yang diantar gurunya, semuanya bersama membaur berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam berbagai acara dan diskusi yang meski seringkali serius, terselenggara dalam suasana yang sangat nyaman dan santai. Semua pengunjung dari berbagai negara bisa langsung saling berinteraksi membahas topik apapun selama menggunakan bahasa yang sama-sama dipahami dan memiliki kecintaan terhadap dunia literasi. Entah berapa banyak hubungan persahabatan dan bisnis yang sudah terjadi dari festival ini. Dalam suatu kesempatan di luar acara, Jean Couteau (kurator seni rupa), tampak berbincang santai dengan Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo (penerjemah, penulis, dan pengarang lagu), dan Nasir Tamara (jurnalis kawakan), dikelilingi oleh beberapa pengunjung yang dengan bebas dan langsung mengajukan pertanyaan dan langsung pula ditanggapi oleh mereka. Di kesempatan lain tampak Ahmad Fuadi, motivator dan penulis bestseller Negeri 5 Menara, dengan sabar melayani permintaan para penggemarnya untuk menandatangani bukunya dan berfoto selfie bersama mereka. Koordinator Staf Khusus Presiden, Ari Dwipayana, juga dengan senang hati menyediakan waktu untuk berbincang dengan beberapa pengunjung seusai sesi diskusinya di hari terakhir pelaksanaan UWRF 2022. Tahun ini, UWRF 2022 telah terselenggara pada 27 – 30 Oktober dengan mengusung tema Memayu Hayuning Bawana, sebuah filosofi Jawa kuno yang berarti prinsip-prinsip yang digunakan untuk merawat, melindungi, dan memperindah alam semesta. Tema ini oleh pelaksana diterjemahkan sebagai uniting humanity. Lebih dari 150 penulis dan pemikir dari berbagai latar belakang berpartisipasi di lebih dari 50 diskusi dalam festival ini, yang menegaskan semakin kuat perannya sebagai episentrum dari berbagai diskusi dan pertukaran gagasan antarbudaya yang dinamis. Festival ini sekaligus juga membuktikan betapa kuat peran storytelling dalam memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan. Janet DeNeefe sebagai pendiri dan pengarah UWRF dalam acara pembukaan, 26 Oktober 2022, di restoran Indus, Ubud, menyatakan gagasan poetry for peace (puisi untuk perdamaian) yang menyatukan para penulis dan peseni merupakan sebentuk kontribusi festival ini dalam perdamaian dunia. Dalam kesempatan ini, ia pun mengemukakan maksudnya untuk melampaui target dengan program-program yang semakin bervariasi yang bertujuan memberikan informasi dan meningkatkan kepuasan siapapun yang berkunjung. Sementara sang suami, Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati, I Ketut Suardana mengungkapkan kebahagiaannya bahwa para anggota komunitas penulis dan pembaca akhirnya bisa berkumpul lagi di Ubud untuk bersama-sama mengulik buku-buku, cerita-cerita, dan gagasangagasan dalam tema uniting humanity, yang menurutnya sangat mencerminkan jiwa dari festival ini. Ini adalah acara dengan tingkat keragaman yang tinggi dan mempertemukan sangat banyak orang. Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 57
58 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Laporan Khusus Laporan Khusus Festival ini menggelar serangkaian diskusi panel yang mencerminkan tema tahun ini dan menggaungkan dengan lebih luas suara mereka yang terdampak oleh tindakan-tindakan persekusi, konflik, dan pelanggaran hak asasi manusia. Dalam hal ini keprihatinan akan invasi Rusia atas Ukraina juga menjadi sorotan UWRF 2022. Sebuah diskusi yang digelar dengan menampilkan dua penulis Ukraina, Oksana Maksymchuk dan Max Rosochinsky, membahas efek dari perang terhadap kondisi pascapandemi dan menjadikan malam itu sebuah sesi diskusi yang sangat berkesan, penuh berisi kata-kata bijak, sarat makna dalam sebuah storytelling, dan doa untuk perdamaian. multidisipliner asal Inggris. Melalui buku pertamanya, ia berbagi pengalaman tentang trauma yang dialaminya akibat migrasi, rasisme, dan kemiskinan di Inggris selama beberapa dasawarsa terakhir. Baginya, tema uniting humanity yang dibahas melalui dialog tentang perbedaan-perbedaan di antara kita sangatlah penting bagi proses berkaryanya, dan ikut serta dalam festival ini bersama dengan para penulis dan pemikir lain adalah sebuah kebahagiaan. Jurnalis dan novelis dari Papua, Aprila Wayar, yang juga hadir pada konferensi pers, tampil dalam menu utama diskusi tahun ini membahas taktik-taktik kreatif yang dikembangkannya untuk menaikkan tingkat literasi di Indonesia timur dan memperkuat keyakinan masyarakat pada konsep bahwa literasi adalah kunci perubahan bagi kampung halamannya. “Saya harap festival tahun ini menjadi penanda hidupnya kembali literatur dan dunia literasi di Indonesia, demikian juga dengan dunia yang semakin kuat pascacovid,” ujar Wayar. Diskusi yang sangat menarik dan menginspirasi dibawakan oleh penulis Australia, Tim Baker, tentang bagaimana menulis bisa menjadi katarsis dan membantu kita memberi makna tentang kehidupan, hubungan, dan diri kita sendiri ketika berhadapan dengan trauma. Dengan buku barunya Patting the Shark, ini ia menceritakan pengalamannya sembuh dari diagnosis kanker prostat stadium 4. “Bali dan Ubud khususnya terasa bagai tempat yang sempurna Serangkaian acara yang mengulik aspek-aspek budaya dan sudut pandang yang beragam untuk menciptakan pemahaman yang mendalam dan sikap saling menghargai juga digelar dalam festival ini. Di antaranya adalah diskusi dengan Osman Yousefzada, seorang aktivis dan peseni 58 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 59 untuk membahas tentang menulis sebagai katarsis sebab dari pengalaman berada di sini efek healingnya sangat terasa. Satu penyebab saya ingin segera datang ke Ubud untuk berbicara tentang buku saya adalah bahwa orang Bali paham tentang kesehatan holistik, pikiran, badan, dan jiwa. Makanya saya merasa berada dalam lingkungan yang sangat mendukung untuk berbicara tentang topik-topik yang seringkali terasa rumit dan sensitif ini,” katanya. Penerjemah komik kocak Astérix, penulis cerpen, dan pencipta lagu yang tahun ini genap berusia 10 windu, Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo, juga hadir kali ini untuk memperkenalkan dua buku karyanya, Langue et Chant - l’enseignement de la langue par le chant dan Langue et Chant - Partitions. Kedua buku pelajaran bahasa Prancis yang saling melengkapi ini adalah hasil kerja samanya dengan Gabriel Laufer dan Ritmanto Saleh, yang juga hadir dalam acara yang terselenggara di kafe Little Talks ini. Selain sifat egaliternya, keunggulan dari UWRF dibandingkan dengan festival-festival lain adalah keberagaman acaranya. Meski nama festival ini yang spesifik terfokus pada penulis dan pembaca, pada kenyatannya bentuk acaranya sangatlah beragam. Jika di festival musik misalnya, kita hanya akan menyaksikan pertunjukan musik, maka di UWRF kita tidak cuma bisa menghadiri acara-acara yang berkaitan dengan buku seperti peluncuran buku dan diskusi tentang buku, tetapi juga menonton konser musik, pemutaran film, pameran seni, pembacaan puisi, diskusi panel tentang berbagai isu, lokakarya penulisan, dan sebagainya. Di antara pemusik yang turut tampil di sini adalah Rara Sekar, pemusik Indonesia yang sedang naik daun. Ia tampil di permaculture garden, Mana Earthly Paradise. Selain itu, penulis buku laris Na Willa sekaligus penyanyi folk, Reda Gaudiamo, yang langsung tiba dari UWRF edisi Australia, juga tampil solo dengan instrumen guitalele kesayangannya di Taman Baca. Ia membawakan beberapa lagu dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis, di antaranya adalah ciptaannya sendiri. Sementara itu dari sisi film, Kamila Andini, sutradara muda yang sukses dengan film berbahasa Sunda berjudul Before, Now & Then (Nana), juga tampil di Taman Baca dalam diskusi yang digelar setelah pemutaran film tersebut, yang sebulan kemudian merebut gelar Film Cerita Panjang Terbaik pada ajang FFI 2022. Ritmanto Saleh Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 59
60 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Loka Pustaka ADIS itu tak lain adalah Dyah Pitaloka, yang melangkah sambil melempar senyumnya. Kain yang membungkus pinggul hingga kakinya membuat langkah Dyah Pitaloka agak lambat. Namun langkah itu seperti irama bersama keheningan yang tercipta di ruangan saat ia datang. Raut wajah Dyah Pitaloka tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Hanya keindahan bunga dan panorama alam Sunda yang dapat mewakili itu semua. Adakah keindahan alam di Negeri Sunda ini tercermin di wajah Dyah Pitaloka? Atau sebaliknya, kecantikan dan keindahan wajah Dyah Pitaloka sesungguhnya adalah cermin keindahan alam Sunda. Tiga utusan Majapahit itu terpaku sejak Dyah Pitaloka duduk di samping Ayahanda Lingga Buana, penguasa Sunda Galuh. *** Kutipan narasi di atas diambil dari novel berlatar belakang sejarah, yang ditulis oleh novelis Putra Gara. Novel yang berjudul Warna Cinta Dyah Pitaloka ini pernah dimuat sebagai novelet di majalah remaja Story pada 2009 silam. Putra Gara sang penulis mengadopsinya kembali menjadi novel dalam bentuk buku. Novel ini bercerita tentang Dyah Pitaloka, yang karena kecantikannya, membuat Raja Hayam Wuruk jatuh cinta. Sang Raja pun menginginkannya untuk menjadi sang ratu di bumi Majapahit. Namun siapa nyana, Maha Patih Gajah Mada, yang tengah mengobarkan Sumpah Palapa, menyadari kalau kerajaan Sunda, belum menjadi bagian dari Majapahit. Gajah Mada pun mengultimatum, bila ingin perkawinan itu berjalan lancar, kerajaan Sunda harus tunduk dulu pada Majapahit. Iring-iringan Kerajaan Sunda yang berada di Bubat, memilih tidak tunduk pada titah Gajah Mada, maka itu berarti kerajaan Sunda siap menerima konsekuensinya. G Tentang Novel Warna Cinta Dyah Pitaloka Novel Tragedi Cinta Putri Sunda Dari balik pintu bertiang bambu, yang diukir dengan bakaran bara, sehingga membentuk motif yang indah, muncul seorang gadis dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai. Aroma wangi bunga mengiringi langkah gadis cantik jelita itu. PROFIL SINGKAT PENULIS Sudah sepuluh tahun lebih, penulis berkacamata ini konsern menulis novel-novel sejarah. Warna Cinta Dyah Pitaloka adalah satu di antara novel bergenre sejarah. Sebelumnya Gara menulis trilogi Samudra Pasai, novel yang mengisahkan kejayaan Kerajaan Islam di Asia Tenggara. Buku pertama berjudul Samudra Pasai (Cinta dan Penghianatan). Buku kedua Nahrisyah (Kilau dari Negeri Pasai). Buku ketiga Putri Jeumpa (Senja di Djawa Dwipa). Novel lainnya, Kesatria Khatulistiwa, Tahta Khatulistiwa--dwilogi kisah berdirinya kerajaan Kadriah di Pontianak. Beberapa di antaranya novel-novel yang best seller di toko buku. Sedangkan buku yang ditulisnya sudah lebih dari 15 buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Judul : Warna Cinta Dyah Pitaloka Penulis : Putra Gara Penerbit : Cipta Media Tebal : 250 Halaman Cetakan : 1 - 2022 Perang besar tak bisa dielakkan. Cinta Hayam Wuruk kepada Dyah Pitaloka berakhir dengan peperangan. Sebuah tragedi kehidupan yang pernah ada dalam perjalanan sejarah Nusantara. Putra Gara mencoba mengemasnya dalam bentuk cerita yang enak untuk dibaca. IH - Sumber: PG 60 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 61 Ragam Seni EATER Baling-Baling, Borobudur Writes Culture Festival dan Yayasan Humaniora, menggelar acara, mengenang WS Rendra dalam tema Hadir dan Mengalir, di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jumat, 11 November 2022. Acara berlangsung khidmat dan benar-benar mengalir, diawali sambutan dari Iwan Burnani dan sekaligus sebagai pemandu acara, dilanjutkan dengan pembacaan doa, dipimpin oleh Eddie Karsito. Doa-doa terpanjat untuk WS Rendra, Ken Zuraida, dan para teman-teman Bengkel Teater yang telah meninggal dunia. Berturut-turut puisi dibacakan oleh Tio Pakusadewo, Yahya Rudy, Vonny Anggraini, Widi Dwinanda, Eddie Karsito, dan Jose Rizal Manua. Namun sebelum pembacaan puisi, Iwan bercerita bagaimana puisi-puisi tersebut tercipta dari perjalanan hidup seorang Rendra. Paman Doblang, bercerita tentang perenungannya selama dalam jeruji besi. Dibacakan dengan T Hadir dan Mengalir dalam Karya Puisi WS Rendra begitu prihatin dan berani membela keadilan, tercermin dalam Sajak Orang-Orang Miskin yang dibacakan oleh Yahya Rudy. Kangen dituturkan dengan manis oleh Vonny Anggraini. Iwan kembali menyampaikan kesannya terhadap Rendra, bahwa dia adalah seorang guru, mengajarkan bagaimana daya, hidup, dan cipta kedisiplinan. Selalu bergerak beraktivitas, tiada menyerah dan mempertahankan tradisi. Menurut Iwan kembali, bahwa di sisi sifat Rendra yang humoris, ia pun bisa marah apabila dikritik usai pementasan. Iwan Burnani membacakan puisi Tuhan Aku Cinta Padamu dan puisi tersebut tercipta ketika Rendra dirawat dan harus cuci darah. Dilanjutkan dengan Gadis dan Majikan oleh Widi Dwinanda, Eddie Karsito membaca Sajak Yoki Tobing untuk Widuri, Jose Rizal Manua dengan Serenada Biru, dilanjutkan dengan pembacaan Sajak untukmu Fatimah oleh Jose bersahutan dengan Vonny. Acara ditutup dengan pemutaran film Bunga Semerah Darah. Film arahan Iwan Burnani diangkat dari karya Rendra pada 1950, saat ia masih SMP dan mendapatkan penghargaan. Dengan mengubah format naskah yang awalnya pertunjukan teater menjadi naskah film. Hingga dialog pun dirombak dan ada beberapa peran tambahan. Jika pada 1950 merebak pandemi TBC maka saat sekarang Covid-19. Syuting film dilakukan di panggung layaknya berteater dan separuhnya di luar ruangan layaknya syuting film. Bisa dikatakan suatu terobosan baru dalam genre perfilman Indonesia, teater film. Dengan dibintangi oleh beberapa artis ternama seperti, Tio Pakusadewo, Maudy Koesnaedi, Vonny Anggraini, Asrul Dahlan, Eddie Karsito, Joind Bayuwinanda, Widi Dwinanda. Hasil karya Iwan Burnani ini ditampilkan juga di ajang bergengsi Borobudur Writers and Cultural Festival atau BWCF, akhir November 2022. Narima Beryl Ivana - Berbagai sumber lantang oleh Tio Pakusadewo. Rendra selalu berpikir bagaimana cara menyejahterakan rakyat Indonesia, ia Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 61
62 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Ragam Seni omunitas SARANG (Teater Sangir, Sragen, dan Teater Ruang, Surakarta) menyelenggarakan sebuah acara yaitu Klenengan Jumpa (Jumat Pahing) ke-18, acara yang diselenggarakan setiap sebulan sekali itu mengusung tajuk yaitu Mangsakala yang bertempat di Sanggar Teater Sangir, Ngampon, Krikilan, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah, pada Jumat Pahing, 23 September 2022, yang dimulai pada 20.00 WIB sampai dengan selesai, yang menampilkan karawitan, pementasan teater, tumbuk lesung, waringan, baca puisi, geguritan, dongo, bancakan, tukar kawruh, dan gayeng-gayeng. Kegiatan tersebut sudah terlaksana 18 bulan, sejak 5 Februari 2020 lalu. Menurut Helmi Prasetyo selaku Pengasuh Teater Ruang, Mangsakala sendiri mengarah kepada bencana dalam hal ini kesenian yang hilang, hilang bentuk, hilang pijakan, dan hilang orientasi. “Mangsakala sendiri lebih kepada bencana, bencana kesenian yang hilang jadi kita harus mempersiapkan diri, kalau tidak, kita seperti akan kehilangan bentuk dan pijakan kita, orientasi kita akan hilang, jadi pada waktu Mangsakala itu rasanya banyak sesuatu yang hilang,” katanya Helmi pun menambahkan persiapan-persiapan apa yang mesti disiapkan untuk menghadapi Kalamangsa yaitu kesiapan diri, dalam diri, jiwa, rasa, dan pikiran. Komunitas SARANG Gelar Acara Klenengan Jumpa K “Nah bagaimana kita mempersiapkan kalau kejadian Mangsakala itu, agar kita bisa tetap berpijak? Apa yang perlu kita siapkan untuk menghadapi Kalamangsa? Yaitu kesiapan diri kita, kesiapan di dalam diri kita, entah itu jiwa, rasa, dan pikiran kita,” imbuhnya. Jadi Mangsakala membuat kita merenung pada akhirnya, merenungkan sebuah peristiwa-peristiwa dewasa ini yang mana budaya-budaya dari luar mulai masuk dan menular di mana-mana, membuat budaya tradisi menjadi tersisihkan di era yang serba canggih ini. Acara yang sempat diguyur hujan lebat dan listrik yang padam itu tak menyurutkan Klenengan Jumpa, beberapa menit kemudian aliran listrik pun menyala dan hujan pun reda segera dimulai masuk ke dalam rangkaian acara yaitu Uluk-uluk/ Celuk-celuk, yang mana para pemain membunyikan lesung untuk mengiringi penyanyi yang dimaksudkan untuk memanggil penonton, sedikit demi sedikit penonton mulai berdatangan. Acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya diiringi kelompok gamelan, lalu sambutan klenengan pembuka/ ucapan selamat datang, setelah itu dilanjutkan dengan Donga pembuka/ Doa pembuka. Acara tersebut diisi oleh penampilan dan pementasan yaitu Karawitan Sangir Anom, Karawitan Sangir Alit, pembacaan puisi oleh Sahaya Santayana dari Kota Melalui Klenengan Jumat Pahing Komunitas SARANG, Mangsakala menjadi bahan renungan bagi kesenian dewasa ini. 62 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 63 Tasikmalaya, Jawa Barat, yang diiringi alat musik tradisional Sunda bernama Karinding yang dimainkan oleh Dadang Catur dari Wonogiri, Jawa Tengah, dilanjutkan dengan pementasan Teater Sangir Remaja membawakan lakon yang berjudul Kapan-kapan, disusul Teater Sangir Anak-anak yang mementaskan lakon Dialektika Hidup, lalu Waringan/ Wayang Garingan (Kalamangsa Mangsakala), Bancakan, Gayenggayengan, Donga panutup/ Doa penutup, yang berakhir dengan Jagongan Tukar Kawruh/ Diskusi. Sementara itu Ery Ni Aryani yang juga selaku Pengasuh Teater Ruang memaparkan tentang Klenengan Jumpa, yang mana acara tersebut tidak hanya untuk karawitan saja, tetapi segala macam bentuk kesenian seperti pementasan teater, tari, sastra, dan lain sebagainya. Acara Jumat Pahing juga sekaligus menjadi hari peringatan bagi Joko Bibit Santoso selaku Pendiri Teater Ruang yang wafat di usia 50 tahun pada Jumat, 14 Oktober 2016 lalu. “Jumpa itu sendiri acara Klenengan, acara karawitan, tetapi di situ juga bisa masuk teater, termasuk bidang yang lain, dan Jumat Pahing juga kita memperingati hari wafatnya mas Joko Bibit Santoso. Minimal kita mengingat-ingat terus, bahwa ada seseorang yang memberikan sesuatu kepada kita, karena almarhum semasa hidupnya selalu ingin terus nyambang. Menyambangi generasi tua dan generasi muda supaya terus terjalin harmonisasi, almarhum selalu berkata seperti itu. Almarhum juga pendiri Teater Ruang dan ketemu di Sangiran, dari sanalah terbentuk Sanggar Teater Sangir,” paparnya. Ery menambahkan bahwa dari peristiwa-peristiwa yang terjadi, yang dijalani belum memberi arti untuk internalnya, masih membutuhkan proses yang panjang, dalam hal ini kesenian, bercermin dari mendiang Joko Bibit semasa hidupnya dirinya berfokus mengabdikan dirinya terjun ke masyarakat, yang mana eksplorasi sosial tersebut dijembatani oleh eksplorasi estetik, dalam hal ini pemanggungan. “Dan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi, yang kita jalani belum memberi arti buat kita. Khususnya di bidang kesenian, almarhum sendiri berfokus ke akar masyarakat, eksplorasi sosial ini sebenarnya di Jumpa juga eksplorasi sosial kita ke masyarakat, lewat eksplorasi estetik yaitu pemanggungan,” tambahnya. Jumat Pahing sendiri Ery menekankan agar penyelenggaraannya diintenskan, selama enam bulan berturut-turut dirinya mengimbau kepada para anggota sanggar, setiap Jumpa tidak berhenti, apapun Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 63
64 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Ragam Seni omunitas Perupa Kota Tua (KOTA) menggelar pameran lukisan di Lemar Art House, Purwomartani, Sleman , Yogyakrta. Pameran bertajuk Rupa Rasa menaja 53 karya yang diikuti 26 perupa dan dibuka oleh Hajar Pamadhi MA dan Mikke Susanto, Sabtu, 10 September 2022. Ketua KOTA R Sigit Wicaksono dalam sambutannya mengatakan, Yogyakarta merupakan kota wisata dengan segala yang berbeda dan memesona budayanya. Yogyakarta sebagai destinasi wisata yang istimewa inilah yang jadi alasan para perupa yang tergabung dalam wadah KOTA untuk berwisata sekaligus berpameran di Leman Art House. “Walaupun KOTA dari Jakarta tetapi dalam pameran ini banyak perupa yang kembali dari Jakarta berkiprah di daerahnya. Maka dalam pameran Rupa Rasa ini pesertanya ada dari Jakarta, Depok, Bogor, Garut, Salatiga, Bengakis, Salatiga, Magelang, Tuban, dan Surabaya,” ujar Sigit. Sedangkan karya-karya yang dipamerkan, lanjut Sigit, dari 26 perupa yaitu: R Sigit Wicaksono, Asep Caherulloh, Casjiwiwanto, Mardi Raharjo, Rujito, Sahuri, Esti S Ardian, Agus Muhtaji, Alamsyah, Wisnu, Suratmini, Syamil Intergrity NAR, Ponco SA, Robby Hendrawan, Baem Ibrahim, Agustina Susanti Djaya, Deden Hamdani, Denok Retno Endah, Atoen Sugiyati, Susi Necklin, Supriyanto, Marwan, Aman Janoes, Tri Sabariman, Tutiasri Rachma, dan AS Adi ini lukisannya dari beragam gaya dan corak dengan ekspresi yang beda satu sama lainnya. Pelukis KOTA Gelar Pameran Rupa Rasa Yogyakarta K yang terjadi, ada penonton, dan tidak ada penonton. Acara tetap jalan. “Sebenarnya target untuk Jumpa ini ‘kan saya sendiri ini harus dibuat intens, artinya saya tantang mereka agar kita mengadakan selama enam bulan berturut-turut setiap Jumat Pahing, tidak berhenti, apapun yang terjadi, ada penonton maupun tidak ada penonton. Tetap jalan. Dan akhirnya setelah enam bulan mereka lanjut lagi hingga pada akhirnya menginjak di bulan ke-18 ini,” tandasnya. Dari intensitas yang dilakukan itu membentuk sebuah magnet, yang awalnya datang beberapa orang tetapi setelah didengar-dengar banyak orang malah menjadi bertambah yang ingin tampil atau sekadar mengapresiasi, itu semua efek dari intensitas, kalau tanpa itu acara pun tak terjadi dan tidak mungkin menjadi magnet bagi masyarakat. Dan Komunitas SARANG juga menjadi tempat/ wadah untuk berkarya, di sela-sela kesibukan mereka, dari sana juga mereka membuat naskah sendiri untuk acara Jumat Pahing. Itulah keinginan Ery seperti itu di mana mereka bisa memunculkan inisiatif dan memunculkan apresiasi mereka sendiri. Ery berharap kegiatan yang SARANG lakukan tetap terus berjalan, baik itu siapapun, jumlah personelnya berapa, bentuk acaranya seperti apa, Jumpa tetap jalan, Ery lebih berharap lagi agar anggota-anggotanya yang senior di sanggarnya untuk berbagi ilmu kepada para yuniornya yang mana bila kegiatan tersebut berjalan lebih panjang, ajang tersebut bisa menjadi sarana belajar bagi mereka. “Saya berharap ini terus jalan, siapapun, personelnya berapa, Jumpa tetap jalan, bentuk acaranya seperti apa, dan saya berharap mereka lebih berbagi kepada adik-adiknya di sanggar, saya mengasuh mereka, menghaluskan karya yang mereka buat, karena mereka sudah dewasa. Ini kalau berjalan lebih panjang, ini juga sebagai sarana belajar mereka, saya berharap mereka bisa mendidik adik-adiknya, dan adik-adiknya bisa seperti mereka,” pungkasnya. Sahaya Santayana - Berbagai sumber 64 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 65 “Mudah-mudahan pameran KOTA ini disambut hangat publik Yogyakarta. Pameran ini merupakan bagian dari visi KOTA dalam upaya perannya dalam mengembangkan kesenian dan budaya. Mengisi, membangun, dan melestarikan nilai-nilai budaya yang positif dan bertanggung jawab,” imbuh Sigit. Pengelola Leman Art House, Maji, menyambut baik dan mengapresiasi para pelukis yang tergabung dalam KOTA berpameran di Leman Art House. “Semoga kawankawan pelukis KOTA bisa menikmati waktu pameran dan berbagi dengan apresian Yogyakarta,” ujar Maji. Pelukis Punya Banyak Peran Sementara pengamat seni rupa Mikke Susanto dalam sambutannya mengatakan, sangat mengapresiasi para pelukis KOTA yang berpameran di Yogyakarta. Menurut Mikke yang juga sering menjadi kurator pameran ini Yogyakarta memang beda dari kota-kota lainnya. “Setidaknya di kota Yogyakarta tercatat ada sekitar 60-an galeri atau art space, juga ada 45 museum yang terdaftar dalam asosiasi museum. Ini merupakan data dari penelitian saya dan mahasiswa sekira setahun lalu. Kini di kawasan Yogya Timur ini mulai bermunculan galeri dan art space, salah satunya Leman Art House yang bagus,” ujar Mikke. Ketika bicara soal pameran Rupa Rasa yang digelar KOTA, menyayangkan, karya-karya yang ditaja dalam pameran ini objek lukisannya biasa-biasa saja seperti pameran-pameran lainnya. Tak ada kejutan. “Padahal para perupa anggota KOTA ini bisa mengusung lokalitas tiap kota. Pelukis bisa berperan sebagai pewarta dan juga dokumentator tentang kotanya. Jadi tidak seperti pelukis-pelukis dulu yang melukis supaya laku. Tetapi kalaupun laku bukan karena kanvasnya, bukan karena lukisannya tetapi karena pesan-pesanya,” sergah Mikke yang mengajar di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Puisi Visual Perupa KOTA Sementara Hajar Pamadhi MA mengatakan, Rupa Rasa yang dijadikan tajuk pameran ini merupakan gerakan kebutuhan bersama akan pentingnya ekspresi. Serpihan ekspresi estetik “rupa” yang berlantaikan rasa diharapkan mampu membangkitkan kebersamaan raos--adalah sebuah antena perasaan yang sangat halus dalam menangkap sinyal objek dalam posisi metafisisnya seseorang. “Oleh karena itu Picasso memberikan kuotasi seni (art quotes). Seni membasuh dari jiwa debu kehidupan sehari-hari,” ujar Hajar. Lebih lanjut, dikatakannya, beberapa karya perupa KOTA mengangkat rasa pribadi dengan tahapan kramadangsa (catatan Ki Ageng Suryamentaram) yang mana perupa melepas visi kemanusian atau sosial yang diangkat dari objektivitasnya terhadap lingkungan sekitar. Menurut Hajar variasi artistik yang dimunculkan berdalih ‘nonrepresentatitional art dan representational art’ kesemuannya mampu memberi cita rasa estetik. “Karya yang dipamerkan perupa KOTA telah berada pada tahap berpuisi. Di mana melukis bukan hanya memotret dan menunjukkan bentuk, melainkan sebuh puisi yang terlihat dan dirasakan. Seperti yang dikatakan Leonardo da Vinci, puisi adalah lukisan yang dirasakan daripada dilihat,” pungkas Hajar. Di tempat terpisah, owner Le Man Art House, Barda Haryana, mengatakan, mendirikan galeri ini tujuannya untuk memberi ruang kepada para peseni (perupa) yang masih sangat jarang di kawasan Yogyakarta Timur. “Harapannya para seniman punya ruang seni alternatif berekspresi dan menggelar karya kreatifnya dalam ajang pameran. Sedangkan bagi saya ini merupakan sebuah kegiatan baru dan juga hiburan,“ ujar pensiunan sebuah BUMN ini membeberkan. Christian Heru Cahyo Saputro Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 65
66 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Ragam Seni ASA syukur kita sebagai bangsa Indonesia yang terlahir di sebidang wilayah tercantik dan terkaya di muka bumi ini memang sudah selayaknya senantiasa tertuju kepada Sang Pencipta. Sepanjang sejarah, Nusantara selalu tercatat sebagai wilayah yang tanpa henti diperebutkan oleh berbagai bangsa yang berasal dari tempat-tempat lain dengan berbagai cara. Mulai dari yang sopan seperti melalui jalur perdagangan, penyebaran agama, dan berbagai bentuk kerja sama antarnegara, sampai yang biadab seperti penjajahan baik lewat fisik (perbudakan, perampokan hasil bumi, pertambangan, dan peninggalan sejarah) maupun yang nonfisik (budaya dan ideologi). Dengan dimaklumatkannya piagam PBB pada 1945, praktik-praktik penjajahan lewat fisik memang sudah lama ditentang oleh peradaban manusia yang berkembang menjadi semakin modern, meski pada kenyataannya invasi-invasi seperti yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina masih saja terjadi. Sementara di sisi lain, meski tak kasat mata, penjajahan yang nonfisik terus berlangsung dan semakin meluas di seluruh muka bumi sampai detik ini, seolah tak ada yang kuasa merintanginya. Naluri predator manusia masih menyisakan tindakantindakan yang bertentangan dengan pergerakan peradaban yang katanya selalu bergerak maju. Kesadaran atas status kita sebagai pemilik resmi segenap kekayaan yang tersebar di seluruh Dari Pergelaran Sabang-Merauke R Nusantara ini sudah seharusnya dimiliki oleh setiap Warga Negara Indonesia. Perwujudannya adalah dengan selalu menggali lebih dalam, mengolah, mengembangkan, mempertahankan, dan menjaganya agar tak dirusak apalagi direbut oleh pihak asing. Berkebalikan dengan hasil bumi dan pertambangan yang akan semakin habis ketika digali atau diolah, budaya justru akan semakin kuat dan kaya ketika digali, diolah, dan dikembangkan. Tak ada yang bisa melakukannya dengan lebih baik daripada kita sendiri. Hal inilah yang disadari sepenuhnya oleh Kikan Namara, yang pernah populer sebagai penyanyi dan pencipta lagu dari band Cokelat, didukung total oleh Aming Santoso dari Protelindo Group, Silvi Liswanda dari iForte, dan Antonius Widodo Mulyono dari BCA. Sinergi mereka berhasil membuahkan karya megah berupa pergelaran kolosal bertajuk SabangMerauke. Pertunjukan ini digelar untuk kali pertamanya di pelataran Candi Prambanan pada Februari lalu, kemudian Juni lalu di Djakarta Theater. Sebelumnya, acara ini hanya bisa disaksikan oleh para tamu undangan khusus saja. Tetapi kali ini masyarakat biasa juga bisa menyaksikan pergelaran ini. Untuk 66 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 67 menikmati pertunjukan Sabang-Merauke, setiap orang hanya perlu membayar Rp 100 ribu. Hasil dari penjualan tiket disumbangkan seluruhnya ke peseni yang tersebar di Indonesia. “Acara ini bukan cuma tentang budaya Indonesia tetapi kita juga peduli dengan seniman tradisional di Indonesia,” tutur Kikan. Kali ini digelar di Ciputra Artpreneur pada 12 - 13 November 2022 bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, pertunjukan ini diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat kebangsaan masyarakat Indonesia. Kikan selaku music director yang juga satu di antara enam penyanyi dalam acara ini, kembali tak kuasa membendung air matanya saat pentas. Pergelaran Sabang-Merauke selalu sukses membuatnya merinding dan juga terharu. “Saya enggak bisa enggak nangis setiap kali menyanyi di pergelaran Sabang-Merauke. Sudah berapa kali saya tampil, selalu saya menangis terharu,” ujarnya. Dipandu dengan kocak dan segar oleh presenter kondang Indra Bekti yang berduet dengan penyanyi keroncong Endah Laras, Sabang-Merauke menampilkan serangkaian hidangan berdurasi satu jam yang berhasil memanjakan mata dan telinga penonton dari awal sampai akhir. Selain memandu acara, Endah sendiri tampil juga sebagai solis yang bernyanyi di awal sebagai pembuka acara. Sejumlah pendukung acara yang terdiri dari 6 penyanyi nasional, 46 musisi baik tradisional maupun modern, juga 144 petari berkolaborasi menampilkan 21 lagu daerah dan 1 lagu nasional yang dikemas apik dengan aransemen musik termasuk paduan suara, dipadukan dengan koreografi, animasi, kostum, tata suara, desain panggung, dan tata cahaya yang seluruhnya dikelola dengan profesional. Para penyanyi yang tampil selain Kikan adalah Mirabeth Sonia, Christine Tambunan, Taufan Purbo, Alsant Nababan, dan Swain Mahisa. Sementara kelompok paduan suara yang berkesempatan tampil kali ini adalah Batavia Madrigal Singers, pemenang kejuaraan dunia paduan suara European Grand Prix for Choral Singing 2022 di Toulouse, Prancis. Nuansa etnik kedaerahan sangat jelas terasa berkat Kiki Dunung dan timnya yang bekerja di bagian penata musik tradisional, didukung oleh Ava Victoria & Team Orchestra. Di sisi kostum, acara inipun jadi spektakuler karena para musisi dan penari mengenakan busana tradisional karya para perancang dan rumah mode ternama Indonesia yaitu Era Sukamto, Ivan Gunawan, Iwan Tirta Private Collection, Ghea Panggabean, Denny Wirawan, Danny Satriadi, Priyo Oktaviano, Griya Ageman, Sanggar Kancil Art, Opi Bachtiar, Levico Butik, Laxmi Tailor, Rinaldi A Yunardi, dan Bagas Nitorang. Di sisi koreografi, empat penata tari tradisional dan modern kenamaan yakni Sandhidea Cahyo Narpati, Pulung Jati, Dian Bokir, dan Rizky Dafin memandu langsung aksi koreografi dari para petari yang berasal dari Yogyakarta, Surabaya, Bali hingga Papua. Meski terbilang singkat untuk menampilkan keragaman budaya bangsa, pertunjukan SabangMerauke sukses mempertunjukkan banyak ekspresi wajah budaya Indonesia dalam bentuk nyanyian, tarian, dan kostum yang diperagakan. Lagu Ibu Pertiwi dan Tanah Airku membuka acara dengan suasana haru. Berikutnya, lagu Bungong Jeumpa dan Tari Ratoh Jaroe dari Aceh menjadi wajah pertama budaya daerah yang dipertontonkan. Disusul lagu Sik Sik Sibatumanikam, Kampuang Nan Jauh di Mato, Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
68 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Ragam Seni Injit Injit Semut, Soleram, dan Gending Sriwijaya merepresentasikan ragam ekspresi Indonesia dari Pulau Sumatera. Berpindah ke Pulau Jawa, keriangan lagu Manuk Dadali dan Tokecang dari Jawa Barat kemudian dilengkapi dengan refleksi wajah terkini Ibu Kota Jakarta saat lagu Ondel-ondel dibawakan. Tak muncul dengan busana daerah, para petari keluar dengan keanekaragaman kaum urban mulai dari anak sekolah, kaum pekerja, ojek online, preman, dan lapisan masyarakat lainnya termasuk dua figur dari Citayam Fashion Week. Disusul lagu Yen In Tawang, Gugur Gunung, dan Rek Ayo Rek, wajah budaya dari Pulau Jawa pun sukses terwakili. Sisanya, wajah daerah lain seperti Bali, Kalimantan, NTT, Sulawesi, hingga Indonesia bagian Timur direpresentasikan lewat lagu Janger, Ampar-Ampar Pisang, Bolelebo, Gemufamire, Angin Mamiri, Sipatokaan, Rasa Sayange, Sajojo, dan Yamko Rambe Yamko. Yang kemudian menarik, kembali jika berkaca dengan durasi penampilan yang terbilang singkat, setiap peralihan lagu, tarian, hingga kostum yang ditampilkan tersusun rapi, hampir tanpa cacat. Selama pertunjukan, perasaan penonton seolah disadarkan untuk mudik ke daerah asal masing-masing. Sampailah pada akhirnya, lagu Ibu Pertiwi dan Tanah Airku kembali dilantunkan sebagai penutup. Setelah diajak kembali mengingat budaya daerah, lagu tersebut seolah menyadarkan para penonton bahwa ragam wajah dengan banyak ekspresi yang tersaji adalah milik Indonesia, negara yang belakangan terkontaminasi arus budaya asing. Sutradara Rusmedi Agus, menuturkan Sabang-Merauke merupakan wahana yang tepat bagi masyarakat untuk menyaksikan dengan langsung seberapa besar kekayaan warisan budaya leluhur bangsa. “Pergelaran Sabang-Merauke merupakan paduan apik antara musikalitas dan aksi koreografi yang akan mengadukaduk emosi penonton baik senang, sedih, tertawa, dan bangga telah menjadi bagian dari sebegitu megahnya kekayaan Ibu Pertiwi. Kami berharap, semua yang menonton pementasan ini bisa pulang dengan rasa bangga telah terlahir di Indonesia,” urai Rusmedi. Dengan kata lain, Sabang-Merauke adalah pertunjukan yang digelar untuk membangunkan masyarakat kita yang selama ini seolah terlena oleh gemerlapnya unsur budaya dari luar yang dengan sangat leluasa tanpa terbendung semakin cepat merebut perhatian setiap insan Indonesia sejak usia dini melalui berbagai media dan gawai. Ini tentunya sangat berbahaya bagi terpeliharanya budaya asli bangsa yang justru memiliki nilai-nilai luhur yang seharusnya dijaga dan dirawat dengan saksama sehingga bisa menjadi warisan dan bagian dari identitas anak-cucu kita nanti. Ritmanto Saleh 68 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 69 ABTU, 12 November 2022 lalu, kelompok Gradasi Acapella menyelenggarakan konser amal bertajuk Dari Semesta untuk Semesta, di Souflora Lounge, School of Universe, Parung, Bogor. Konser yang telah lama ditunggu-tunggu terutama oleh para fans ini sekaligus jadi ajang perkenalan dua anggota barunya yaitu Akbar dan Fajar Perdana. Nama yang terakhir ini sebelumnya dikenal sebagai tokoh sentral dari kelompok akapela Pizzicato. Gradasi merekrut mereka karena anggotanya Heru Derajat, meninggal dunia tahun lalu akibat Covid-19. Konser hasil kolaborasi dengan Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) dan Salam Aid ini merupakan acara literasi dalam beberapa tema, bertepatan dengan Road to 25 Tahun Sekolah Alam, sekaligus penggalangan dana yang dikelola dan disalurkan oleh Salam Aid, lembaga sosial berpengalaman dalam penyaluran bantuan bencana, pendampingan sosial dan community development. Gradasi, Salam Aid, dan Komunitas Sekolah Alam pada dasarnya memiliki DNA yang sama, lahir dari rahim yang sama, yaitu ide dan impian Almarhum Lendo Novo, perintis dan penggerak Sekolah Alam yang akan memasuki usia 25 tahun. Dari sebuah gerakan kecil di pinggiran Ciganjur, kini menjelma menjadi satu di antara mazhab pendidikan di Nusantara. Sebuah gerakan yang mendahului zamannya, kini diakui sebagai cahaya bagi implementasi gerakan Merdeka Belajar. Gerakan ini terus bertumbuh seiring dengan semakin solidnya nilai-nilai yang diusung. Nilai-nilai warisan dari Lendo Novo inilah yang ingin terus diwariskan oleh Assabiqunal Awwalun, para pionir mereka. Dari semangat maka Gradasi, JSAN, dan Salam Aid mencetuskan ide konser amal tersebut. Disajikan dengan ringan, acara ini dibalut dalam konser amal bersama Gradasi dan narator dari para Assabiqunal Awwalun yang menceritakan kisah suka-duka berjuang selama 25 tahun perjalanan Sekolah Alam di Indonesia. Konser ini dihadiri oleh komunitas School of Universe, utusan dari beberapa sekolah alam di JSAN, dan banyak alumni dari berbagai Sekolah Alam lainnya. School of Universe (SOU) dipilih sebagai tempat karena ikatan historis yang kuat sebagai pusat dari seluruh Sekolah Alam se-Indonesia yang kini sudah mencapai sekitar 2.000 sekolah. Selain itu, dengan diadakannnya konser amal ini sekaligus menjadi penanda akan dibangunnya Museum Lendo Novo yang merupakan Pusat Riset Sekolah Alam. Konser diselenggarakan dengan hibrida. Para penonton selain langsung hadir di SOU juga bisa menyaksikan lewat live streaming di channel Youtube Gradasi Acapella Official. Selain berkonser, Gradasi berkolaborasi dengan Salam Aid sebagai lembaga kemanusiaan yang berbasis di Bogor ini juga membuka kanal donasi bagi seluruh penonton yang ingin berbagi kasih untuk korban bencana di Indonesia. Di antaranya dengan donasi lelang barangbarang pribadi milik Lendo Novo. Tidak sedikit pihak yang ikut terlibat dalam konser amal ini, di antaranya: Sekolah Bisnis Muda, Himpun Coffe, Rumah Lagu, Rekam-In dan banyak lagi yang memiliki keterikatan emosi dengan semangat dan nilai-nilai sekolah alam. Konser Amal Gradasi Dari Semesta untuk Semesta S Pada 2022 Gradasi memasuki usia 23 tahun, usia yang cukup matang sebagai satu di antara ikon musik akapela di Indonesia, terutama di kalangan pegiat nasyid. Dalam konser amal ini Gradasi membuat suatu konsep konser yang lebih intim dan personal, terutama di kalangan komunitas sekolah alam. Terlihat dari kemasan konser yang lebih menonjolkan sisi storytelling, suguhan akapela yang bergantian dengan narasi kisah perjalanan sekolah alam dari beberapa tokoh perintisnya. Selama Pandemi Covid-19, Gradasi tetap produktif berkarya dengan menghasilkan beberapa single terbarunya, satu di antaranya Semesta Bersamaku yang belum lama rilis di beberapa platform musik dan dapat dinikmati juga di YouTube. Dalam rangkaian acara konser ini Gradasi tentunya bukanlah satu-satunya penampil. Sebagai pembuka acara tampil dua kelompok anak-anak dari sekolah alam, masing-masing membawakan dua lagu, Meander dan Pematang. Lirik dari kedua lagu ini mencerminkan kepedulian mereka terhadap kelestarian lingkungan hidup. Ritmanto Saleh Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 69
70 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 rasmus Huis kembali menggelar Music Jazz Tour 2022 yang menyambangi Jakarta, Bandung, dan Semarang. Kali ini dalam event bergengsi ditampilkan Jasper Bloom Quartet dari Belanda dan Kelapa Muda Band asal Lampung. Jasper Blom Quartet dan Kelapa Muda tampil di Erasmus Huis (Jakarta), Kamis, 6 Oktober 2022, di The Papandayan Hotel (Bandung), Sabtu, 8 Oktober 2022, dan Rajawali Semarang Cultural Centre (Semarang), Selasa, 11 Oktober 2022. Jasper Bloom Quartet beranggotakan empat musisi jazz kaliber internasional yang telah eksis selama 20 tahun main bersama. Pada konser ini Jasper Bloom Quartet ini tampil dengan punggawa Jasper Bloom (saksofon), Jamie Peet (drum), Glenn Gaddum (bas), dan Reiner (bas). Jasper Bloom dikenal sebagai pemain saksofon tenor terkemuka dari kancah musik Jazz di Belanda. Selain itu juga dikenal sebagai solois ciamik dan dikenal di kawasan BeNeLux (Belgia, Nederland, Luxemburg). Karya-karya Bloom memiliki berbagai pengaruh gaya dan merupakan perpaduan dari melodi, ritme, dan harmoni yang ditawarkan dalam komposisi yang apik dan improvisasi. Album teranyar Jasper Bloom Quartet. Polyphony, merupakan hasil dari ketertarikan Bloom dengan musik polifonik abad 15. Bloom meyakini musik Barat periode awal ini memiliki kualitas melodi yang luar biasa yang membuatnya sangat sederhana untuk dimainkan, namun juga sama menariknya dengan musik kontemporer. Konser Jazz Erasmus Huis Tour 2022 Jakarta, Bandung, dan Semarang E Sedangkan Kelapa Muda Band merupakan kelompok jazz band berprestasi dan berbakat yang kini dimiliki Indonesia. Kelompok musik asal Lampung ini berhasil membukukan prestasi memenangkan The Papandayan Jazz Festival, 2021. Grup ini terdiri dari Samuel Song (bas), Yosaphat Song (drum), dan Abraham Song (gitar). Kompetisi Jazz internasional ini adalah kompetisi jazz band yang dilaksanakan dengan virtual menggunakan platform Zoom Conference dan media sosial untuk menemukan talenta jazz baru dan membantu mengenalkan musisi jazz baru Indonesia. Kompetisi ini merupakan rangkaian acara Road to The Papandayan Jazz Festival 2021 yang dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari saksofonis asal Belanda Ben Van Gelder, Dwiki Dharmawan, Eq Puradireja, Venche Manuhutu, dan peseni senior Bandung, Hari Pochang. Kelapa Muda Band sebagai pemenang pertama festival bergengsi ini berkesempatan berkolaborasi dengan musisi jazz Belanda yang diadakan oleh Erasmus Huis Jakarta. Kelapa Muda Band ini kemudian diundang ke Negeri Belanda dan berkesempatan tampil dalam event Netherland Tour bersama Jasper Bloom Quartet manggung di sejumlah kota yaitu: Pothuys, Utrecht (07/09), Dizzi, Rotterdam (08/09), Alto, Amstrdam (09/09), Czar, Amsterdam (10/09), dan Tong Tong Fair – The Hague (11/09). Christian Heru Cahyo Saputro Ragam Seni 70 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 71 UA puluh lukisan bergaya surialisme berukuran besar dan kecil karya Giovanni Susanto ditaja di Los Kopi, Barber & Coffeshop, Pekunden Utara 556, Semarang. Pameran bertajuk Langkah Kecil dibuka pelukis senior Semarang Atie Krisna Sarutomo, Kamis, 1 September 2022 yang berlangsung hingga 14 September 2022. Dalam sambutannya, Atie Krisna mengatakan sangat bangga dan mengapresiasi pameran tunggal yang digelar Giovanni. Menurut Atie ini merupakan sebuah langkah positif sebagai penanda jejak sekaligus bukti eksistensi seorang peseni. “Saya sangat salut dengan Giovanni dan kawankawan yang tergabung dalam Kelompok 5 Rupa yang terus bergerak menggelar berpameran, baik bersama dan tunggal. Diakuinya gerakan Gio dan Kelompok 5 Rupa memberi energi positif dan memantik semangat perupa lainnya untuk berkarya dan berpameran tak hanya di Kota Semarang, tetapi juga daerah-daerah lainnya,” ujar Atie. Giovanni mengatakan, pameran tunggal ini merupakan sebuah “langkah Kecil” penanda etape perjalanannya di jagat seni rupa. Gio mengaku melukis dengan serius sejak 2015. Dalam pameran ini Gio menaja 20 karya bertitimangsa 2021 – 2022 yaitu: Dream on, Suka sama suka, Sedang ingin bercinta, Tegar, Dalam sunyi, Menanti Jawaban, Diperkuda, I wanna go home, Engkau masih kekasihku, Kesetiaan Cinta, .Hapines. .I believe I can fly, Sandiwara Cinta. House for Sale, Cinta & Kesetiaan, Jauh dari buah hati, .Masih Tersisa Cinta, Free. Dalam Sunyi#2, dan Naga Mencari Cinta. Gio mengaku terpantik kembali semangat melukisnya ketika bergabung dengan Kelompok 5 Rupa ini menuangkan imajinasinya kebanyakan ke medium cat akrilik di kanvas. hanya ingin mengubah diriku sendiri dengan langkah kecilku,” tandas Gio. Gio membabarkan, melukis baginya sebagai keseimbangan. Karena objek kebanyakan alam nyata nan indah. Gio hanya ingin memilih jalan berbeda. Pasalnya, tidak adil jika semua orang hanya menyukai keindahan. Sementara yang dianggap “tidak indah” jarang dilihat. Begitu juga dalam kehidupan, manusia cenderung hanya mendekat, melihat, dan mengapresiasi yang bagus, indah, megah, kaya, ganteng, dan cantik–yang tidak sempurna--cenderung dijauhi. “Lewat dunia lukis aku bisa menyampaikan pemikiran-pemikirannya tentang berbagai sendi kehidupan seperti: politik, lingkungan, perekonomian, kemanusian, dan cinta,” imbuh Gio. Padahal dari sisi lain ketidaksempurnaan bisa menjadi keindahan tersendiri. Jika kita dapat menerima dari sudut pandang yang berbeda. Maka Gio menerima ketidaksempurnaan sebagai langkah kecil. “Aku hanya ingin menerima ketidaksempurnaanku. Karena aku sendiri ditolak karena ketidaksempurnaanku. Aku tidak berpikir untuk mengubah dunia. Aku hanya ingin mengubah diriku sendiri dengan langkah kecilku.” tandas Gio yakin. Sementara, pengamat seni rupa Christian Heru Cahyo Saputro, dalam pengantarnya mengatakan, Gio pelukis yang memiliki bahasa visual alam fantasi ini mengagumi surealisme. Gio melukis dalam langgam surealisme, tetapi aliran yang diusungnya agak beda dari pelukis penekun aliran yang sama. IH - Sumber: CHCS Seni Rupa Semesta Gio Langkah Kecil Giovanni Susanto D “Aku hanya ingin menerima ketidaksempurnaanku. Karena aku sendiri ditolak karena ketidaksempurnaanku. Aku tidak berpikir untuk mengubah dunia.Aku Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 71
72 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 ELUKIS Koko Hari Subandi (66 tahun) yang juga seorang guru seni rupa telah berpulang ke Rahmatullah, Rabu, 23 November 2022. Dunia seni rupa terasa kehilangan, turut berduka cita yang mendalam, dan mendoakan semoga almarhum wafat dalam husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin. In Memoriam KTOR senior Rudy Salam meninggal dunia pada Jumat, 18 November 2022, 06.04 WIB di RS Harum. Jenazahnya sempat disemayamkan di PGI Cikini, Jakarta Pusat. Adik Rudy Salam, Chris Salam, mengungkap kronologi kepergian kakaknya tersebut. “Jadi sebenarnya Mas Rudy ini sudah cukup lama sakit. Memang agak mengejutkan karena kata Rina, istrinya, mulai dua hari ini mas Rudy sudah tidur terus, sudah malas,” kata Chris. Saat memandikan suaminya, istri Rudy yang bernama Marina Gardena melihat tatapan mata aktor berusia 73 tahun itu sudah tidak biasa. “Tadi pagi sekitar jam 5, seperti biasa istrinya mandikan, karena Rudy enggak mau diurus orang lain. Waktu dimandikan, Rina lihat mas Rudy pandangannya agak kosong,” ucap Chris. A Rudy Salam: Aktor Berkarakter Marina lalu memanggil anak-anaknya di rumah. “Terus Rina naik panggil anak. Mas Rudy sempat perhatikan anak-anaknya,” ujar Chris. Rudy sempat dilarikan ke rumah sakit oleh keluarganya. Namun, dia mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan. P Koko Hari Subandi: Dosen UNNES Koko berlatar pendidikan Seni Rupa IKIP (UNNES) Semarang dan lama mengabdi sebagai guru di berbagai sekolah. Di dunia seni rupa dia sangat produktif melukis dalam berbagai media, teknik, dan ekspresi. Terakhir ia banyak berkarya dengan gaya realis fotografis. Satu di antara karyanya menjadi koleksi Galeri Nasional Indonesia. Banyak terlibat berbagai pameran dan forum dialog seni rupa. Yang paling terasa kehilangan adalah ketika kita tidak lagi membaca status dan kabar aktivitasnya yang almarhum share di media sosial dan rajin menyapa atau membalas komentar dari teman-temannya. Pada saat pensiun sebagai guru, 2018, dia pernah menuliskan pengabdiannya sebagai guru sejak sebelum lulus kuliah dan telah mengajar di berbagai sekolah mulai dari tingkat SMA, SMP, hingga SD dan PAUD. Koko menulis, “Rekam jejak saya dalam menjalani hidup ini. Tentu sudah sangat banyak bakti saya bagi manusia di dunia ini. Semoga ini menjadi amal baik saya di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, ALLAH PENCIPTA SEGALA’. IH - Sumber: Tubagus Andre “Terus Rudy dibawa ke rumah sakit, tapi di perjalanan, sudah enggak ada (meninggal dunia),” kata Chris. Marina menambahkan, saat perjalanan ke rumah sakit, napas suaminya sudah tak teratur. “Napasnya sudah mulai satu-satu, dia enggak bisa omong.” Kabar duka kepergian Rudy kali pertama dibagikan oleh pihak keluarga, yakni aktor Roy Marten yang merupakan adik mendiang. Melalui unggahan di media sosialnya, Roy Marten mengunggah foto lama dirinya bersama Rudy Salam. IH - Berbagai sumber 72 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 73 ABAR duka datang dari dunia seni. Prof Dr Edi Sedyawati meninggal dunia. Informasi meninggalnya Edi ini disampaikan oleh Kepala Biro Umum dan Pengadaan Barang dan Jasa Kemdikbud, Triyantoro. Edi meninggal dunia pada Sabtu, 12 November 2022. Edi meninggalkan dua anak dan menantu serta lima orang cucu. Jenazah Edi Sedyawati disemayamkan di Taman Lembang No 21, Menteng, Jakarta Pusat. Pemakaman dilakukan di TPU Karet. Edi yang dilahirkan pada 28 Oktober 1938, ini dikenal sebagai peseni (petari, koreografer), penulis, periset dan arkeolog Tanah Air. Karya-karya tulisan hasil penelitiannya telah diterbitkan oleh berbagai institusi kajian ilmiah dan budaya bergengsi di Indonesia maupun mancanegara dalam berbagai bahasa. Dia merupakan mantan Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Edi Sedyawati adalah seorang arkeolog dan ahli sejarah Indonesia. Dia adalah seorang profesor arkeologi di Universitas Indonesia, Ketua Jurusan Sastra Jawa dan Pusat Humaniora dan Ilmu Sosial dan juga Ketua Jurusan Tari di Institut Kesenian Jakarta. Kisah masa kecilnya yang begitu berbeda, beliau lahir pada 28 Oktober 1938 yang mana Indonesia belum merdeka. Akibat perang masa kecil Edi sempat dilewatkan di kota pengungsian. Ketika Jepang masuk, bersama beberapa keluarga, ia dan adiknya yang K Edi Sedyawati: Peseni dan Arkeolog masih bayi dibawa ibunya mengungsi dari Semarang ke Kendal. Sementara ayahnya, Imam Sudjahri, tokoh pergerakan, pergi ke luar kota. Beberapa lama, Edi dikenal sebagai petari dan arkeolog bertemu ayahnya yang kemudian membawanya mengungsi ke rumah kakeknya di Ponorogo, Jawa Timur. Mulai keadaan aman, Edi dan keluarganya ke Magelang ketika itu ayahnya menjadi pembantu gubernur di kota itu. Kemudian, mereka pindah lagi ke Yogyakarta. Bersamaan dengan perpindahan ibu kota dari Yogyakarta ke Jakarta, sang ayah—yang waktu itu bekerja di Kementerian Dalam Negeri membawa keluarga ke Jakarta. Di sini, Edi menyelesaikan pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Ayahnya pernah berprofesi sebagai pengacara, redaktur koran Indonesia Raja sehabis perang, dan bekerja sebagai sekjen Departemen Sosial RI. Imam memang menginginkan Edi untuk belajar menari. Ketertarikannya pada kesenian membuat Edi belajar menari, “Menari itu hobi dan arkeologi itu studi,” kata Edi. Ia tertarik pada balet sesudah menontonnya di bioskop, tetapi setelah terpukau oleh pemeran Abimanyu di sebuah pertunjukan wayang orang, Edi mempelajari tari Jawa dan bergabung dengan Ikatan Seni Tari Indonesia. Pada 1961, dia sudah turut memperkuat misi kesenian Indonesia ke berbagai negara. Minatnya terhadap tari Jawa, selain didukung oleh ayahnya juga oleh Tjan Tjoe Siem dan RM Kodrat Purbapangrawit. RM Soetjipto Wirjosoeparto juga mendukung minatnya untuk mempelajari sejarah tari Jawa dan menugaskannya untuk membuat skripsi sarjana muda tentang relief-relief tari Candi Rara Jonggrang, Prambanan. Kala membuat penelitian tentang sejarah tari Jawa dan Bali, Edi menggalinya dari data arkeologi. Karier akademinya mencakup dua jalur tersebut. Sewaktu mendirikan Jurusan Tari di IKJ, ia memanfaatkan pengalamannya menyusun kurikulum di tempatnya mengajar, Fakultas Sastra UI. Untuk lebih memantapkan bidang kesenian, ia mengikuti kursus etnomusikologi di East-West Center, Honolulu, Hawaii, AS, 1975. Tidak lupa ketertarikannya pada Arkeologi pada benda purbakala muncul waktu SMP, setelah diajak ayahnya jalan-jalan ke Jawa Tengah melihat candi-candi. terpukau oleh peninggalan masa lalu. Sejak itu, dia mulai terobsesi untuk mempelajarinya. Obsesinya tercapai setelah menempuh pendidikan Jurusan Arkeologi UI sampai meraih gelar doktor dengan predikat magna cum laude. Narima Beryl Ivana, IH - Berbagai sumber Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 73
74 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 Kartun Humor Si Cimbri Jan Praba Jakarta Jakarta Non-O
Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2 75 Aktual Sosial Gatot Eko Cahyono Dinamika Kehidupan Munadi
76 Semesta Seni l Nomor 28 l D e s e m b e r 2 0 2 2