1
Sekelumit Kisah di Akhir Sekolah:
16 Kisah Siswa SD Yuwati Bhakti Menjelang
Kelulusan
PENULIS:
1. Antonius Siboro
2. Angela Indah Pertiwi Dengah
3. Nicholas kevin Santony
4. Ignatius Naoval Meiviant
5. Haryorie Adhitya
6. Calisya Tanumihardja
7. Angelene Cheryl Halim
8. Ratnasari Sitanggang
9. Margaretha Lidya Agustiani
10. Agatha Indah Pertiwi Dengah
11. Vicky Giri Lawana Silalahi
12. Paris Jonathan
13. Griselda Theona Arliansyah
14. Angellove
15. Aldi
16. Caecilia Elvareta Nareswari
Editor: Agnes Tri Maryunani
Kata Pengantar: Editor
SD Yuwati Bhakti - Kampus Yuwati Bhakti
Jalan Suryakencana No. 39
Tahun 2021
2
Kata Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan ke
hadirat Tuhan yang Maha Kasih. Atas
berkatnya, 16 kisah pengalaman anak-anak
SD Yauwati Bhakti yang akan meninggalkan
sekolah dapat terselesaikan dengan baik dan
dapat dinikmati oleh para pembaca sekalian
meskipun masih sangat sederhana.
Pada awalnya, saya selaku
pembimbing literasi dan pengelola
perpustakaan di SD Yuwati Bhakti ingin
mengajak anak-anak mengisi waktu luang
selepas ujian sekolah. Daripada mereka hanya
bermain, saya menawarkan diri untuk
mendampingi mereka menuangkan
pengalaman dalam bentuk cerita sederhana.
Meskipun hanya 50 % yang tertarik, bagi saya
3
sangat menggembirakan sebagai awal yang
baik.
Akhir kata, semoga dengan
pengalaman ini, anak-anak makin memiliki
kepercayaan diri untuk berekspresi dalam
bentuk apa pun untuk mengembangkan diri
mereka. Terima kasih untuk anak-anak yang
telah berjuang menyelesaikan tulisannya
semoga mampu menjadi inspirasi bagi anak-
anak yang lain. Kritik dan saran kami terima
dengan senang hati dan selamat membaca.
Agnes Tri Maryunani
4
1. Cita-Citaku Menjadi Pilot
Anton
Setiap orang bisa menemukan cita-cita
melalui banyak hal
mereka pun bisa menemukan motivasi dari
berbagai pengalaman untuk mencapainya
Namaku Anton. Aku berusia 12
tahun. Setiap orang harus mempersiapkan
masa depannya, demikian juga aku. Di usia
ini, aku bersyukur telah dapat menemukan
cita-cita yang aku inginkan dan ingin
kugapai di masa depan.
Cita-citaku yang kuimpikan kelak
bisa tercapai adalah menjadi pilot. Sesuatu
yang luar biasa ketika aku bisa
menerbangkan pesawat. Dengan
menerbangkan pesawat, aku bisa
membantu banyak orang melampaui
5
tempat yang sangat jauh dalam waktu yang
singkat. Mereka yang ingin bertemu
keluarga, membicarakan bisnis,
melanjutkan pendidikan, atau bertemu
dengan orang-orang yang mereka cintai.
Mereka pasti sangat bahagia dan aku pun
bahagia dapat membantu mewujudkan
keinginan dan menyelesaikan masalah
mereka dengan pesawat yang saya
terbangkan. Dengan mengontrol mesin
besar dalam pesawat terbang itu, ternyata
banyak hal dapat kulakukan demi orang
lain.
Itulah cita-cita yang ingin
kuwujudkan, meskipun aku baru lulus
sekolah dasar. Aku akan mulai
mempersiapkan diri dengan belajar yang
6
rajin, banyak membaca, dan bertanya-
tanya mengenai mesin dan pengalaman
memnjadi pilot. Dari berbagai informasi
itulah aku akan banyak tahu tentang bidang
yang akan aku geluti. Tentu saja tidak boleh
lupa berdoa. Usaha dan doa adalah kunci
kesuksesan. Namun, bila kesuksesan itu
belum dapat kuraih, aku harus tetap
berusaha dengan gigih. Aku tidak akan
putus asa. Yang paling penting sekarang ini
adalah mempersiapkan diri. Kegagalan
adalah sukses yang tertunda. Kalau aku
takut gagal, aku pun tak akan berani
mencoba. Untuk itu, saat ini yang aku
lakukan adalah belajar dan mencari
informasi sebanyak-banyaknya tentang
dunia pilot.
7
Nah, teman-teman yang sudah
punya cita-cita seperti aku, jangan takut!
Apa pun cita-citamu, mari kita persiapkan
diri dengan belajar dan berdoa. Aku dan
kamu pasti bisa.
“Success happens if there is an intention,
effort, and prayer”
“Keberhasilan terjadi jika ada niat, usaha,
dan doa”
8
2. Beben Hoshimiya
Angela
Seekor anjing jantan berlari-lari
kecil. Tubuhnya berbulu coklat kehitaman
bercampur putih. itulah anjingku yang
kuberi nama Beben Hoshimiya. Umurnya
sekitar 1 tahun. Beben sangat suka makan
dan bermain. Bandannya yang besar dan
tinggi memudahkan dia mengambil sesuatu
di mana pun. Karena ia suka makan, ia pun
senang mencuri makanan.
Setiap pagi, Beben
membangunkanku, juga papa dan mama
untuk minta makan. Pada siang hari, ia
senang bermain dan berjemur. Bila sudah
lelah dan lapar, ia akan beristirahat, makan
dan minum di tempat yang telah aku
9
siapkan. Saat malam tiba, Beben akan
makan malam seperti biasa dan tidur ketika
aku telah tidur.
Aku bersyukur memiliki teman yang
baik, lucu, sehat, dan setia seperti Beben. Ia
selalu ada ketika aku membutuhkan. Ketika
disayang, hewan pun akan memberikan
perhatiannya pada kita. Oleh karena itu,
aku mengajak teman-teman untuk
mencintai semua makhluk, termasuk
hewan. Itulah kisah kecilku, semoga kisah
ini bermanfaat bagi teman-teman semua.
10
3. Belajar dari Rumah
Kevin
Belajar dari rumah (BDR) atau daring
memang kadang membuatku merasa kesepian.
Teman-teman yang biasanya bersamaku sedang
berada di rumahnya masing-masing,untuk
menjaga kesehatan, dan agar tidak tertular virus
corona di masa pandemi ini. Namun, sosok
teman dan guru digantikan oleh keluargaku.
Belajar dari rumah memang membosankan, tapi
ada hikmah di balik itu semua yaitu aku dapat
berkumpul bersama keluarga, juga membantu
Ibu dan Ayah.
Saat belajar dari rumah aku merasakan
banyak hal, salah satunya merindukan sekolah.
Libur panjang, dulunya adalah harapanku tapi
sekarang aku benar-benar merindukan sekolah.
Rindu pada sekolah, teman-teman, bahkan
jajanan kantin. Belajar dari rumah ini
11
mengajarkanku untuk selalu menghargai satu
sama lain.
Banyak hal positif dan negatif saat
belajar dari rumah. Contoh hal positif saat
belajar dari rumah adalah belajar jadi lebih
mudah karena di internet banyak ilmu yang bisa
kita dapat. Dampak negatif dari belajar online
yaitu kita jadi sering memegang handphone (HP)
dan kurang baik untuk kesehatan mata kita.
Itulah sedikit pengalamanku selama belajar dari
rumah. Semoga berguna bagi teman-teman dan
pandemi segera berlalu sehingga kita dapat
belajar di sekolah lagi.
12
4. Berlibur Sambil Berkreasi
Naoval
Liburan sekolah pasti selalu
ditunggu-tunggu oleh semua pelajar,
termasuk aku. Ya, karena liburan sekolah
adalah saatnya bersantai dengan teman
atau keluarga tanpa dibebani oleh tugas
sekolah. Saat liburan itu, kami bisa
berjalan-jalan dan berwisata ke mana pun
yang diinginkan. Bisa pergi ke pantai, ke
gunung, ke kota, ke desa, atau di rumah
saja. Demikian juga aku. Biasanya, ketika
liburan sekolah tiba, aku dan keluargaku
merencanakan untuk pergi ke suatu
tempat, seperti pergi ke rumah nenek,
jalan-jalan ke pantai atau ke tempat wisata
yang lain. Namun, liburan kali ini kami
13
memutuskan di rumah saja, meskipun ayah
menawarkan untuk pergi ke rumah nenek
atau bepergian ke Pulau Bali.
Bagiku dan juga kakakku, berlibur di
rumah tetap asyik. Kami bisa membantu
orangtua membersihkan rumah, menyiram
bunga dan belajar memasak. Kami juga bisa
belajar berkreasi untuk mengembangkan
bakat, menyalurkan hoby dan
meningkatkan keterampilan tangan.
Liburan ini, kami berkreasi
membuat paper quilling yang lucu dan
menggemaskan. Kerajinan paper quilling
ini kudapatkan dari kakak. Sedangkan
kakak melihat kerajinan ini di Youtube.
Kami berdua sangat tertarik membuatnya
sehingga liburan ini kami pakai untuk
14
belajar paper quilling. Paper quilling
merupakan kerajinan tangan yang
dilakukan dengan cara menggulung kertas
menjadi benda atau karakter tertentu yang
kita inginkan, seperti daun, bunga,
binatang. atau tokoh-tokoh film. Kerajinan
ini membutuhkan ketekunan dan
kesabaran yang tinggi tapi sangat
menyenangkan. Aku dapat menggulung
kertas dan membentuk karakter yang
kuinginkan. Ketika karakter yang
kuinginkan iu telah terbentuk, aku merasa
sangat puas dan bahagia. Aku bisa
menempelnya di kertas atau dibuat tiga
dimensi dan diletakkan di mana pun yang
ku mau.
15
Pada liburan ini, kami bangun pagi-
pagi. Setelah membantu ibu dan sarapan,
kami mempersiapkan bahan-bahan kertas
yang akan kami gulung menjadi karakter
seperti doraemon, nobita, sampai little
pony. Liburan ini sangat menyenangkan.
Namun sayang, liburan hampir selesai.
Meski begitu, aku dan kakak tetap akan
belajar paper quilling supaya lebih mahir
dan hasilnya makin bagus. Jika hasil paper
quilling kami sudah bagus, kami akan mulai
menjualnya untuk belajar berwiraswasta
dan menambah uang jajan. Semoga
harapan kami menjadi kenyataan. Nah,
untuk teman-teman yang mau belajar,
jangan ragu-ragu. mari belajar bersama
kami.
16
5. Berwisata ke Air Terjun
Aditya
Pada hari Minggu, aku dan keluarga
berjalan-jalan ke tempat wisata bernama
Curug Cibeureum. Untuk menuju ke sana,
kami melewati jalan kecil di tengah hutan.
Tentu saja kami harus berhati-hati melalui
jalan itu, apalagi bila malamnya hujan, pasti
jalan menjadi licin. Ada banyak turis lokal
yang berjalan-jalan bersama kami. Meski
perlahan, kami berjalan dengan penuh
gembira sambil menikmati indahnya
pemandangan alam karya Tuhan.
Di perjalanan itu, ada beberapa pos
untuk perhentian bila kami merasa lelah,
lapar, atau haus. Kami dapat berhenti
sebentar untuk melepaskan lelah atau
17
sekedar makan dan minum perbekalan
kami. Karena cukup capek berjalan, kami
pun beristirahat sebentar di tempat
peristirahatan itu. Setelah merasa cukup
beristirahat dan tubuh terasa segar lagi,
kami pun melanjutkan perjalanan.
Di hutan yang kami lewati ternyata
terdapat banyak lintah atau pacet yang
suka menghisap darah manusia. Tak
sengaja, aku udah terhisap satu kali
sedangkan kakak udah terhisap tiga kali.
Sakit sekali rasanya tapi lintah itu segera
bisa terlepas dari kulit kami. Kami pun
melanjutkan perjalanan. Namun, tiba-tiba
di depan kami terjadi longsor. Jadi, kami
tidak bisa melanjutkan perjalanan karena
jalan yang longsor itu tidak dapat dilalui.
18
Dengan kecewa, terpaksa kami balik arah
kembali ke pos 1. Untuk mengobati
kekecewaan, Papa mengajak kami makan
siang di restoran yang kami lalui di
perjalanan. Meskipun tidak dapat
menikmati Curug Cibeureum, kami tetap
bahagia karena dapat berjalan-jalan
bersama keluarga. Kebersamaan dengan
keluarga adalah hal paling membahagiakan
yang tak dapat tergantikan dengan apa pun.
Itulah kisahku saat berlibur dengan
keluargaku. Semoga bermanfaat bagi
teman-teman.
Gambar: tigatitik.wordpress.com
19
6. Teman Pertama
Calisya
Aku memiliki banyak pengalaman, salah
satunya pengalaman pertamaku mendapatkan teman
di sekolah. Saat itu, aku baru saja akan memasuki
taman kanak-kanak di kotaku. Ini adalah kali pertama
aku mulai mengenal dunia di luar rumah. Aku belum
punya teman satu pun di sekolah itu. Di rumah pun,
aku hanya berteman dengan bibi yang membantu
kami di rumah. Suatu hari, ketika aku sedang duduk
sendiri di depan kelas, tiba tiba ada anak perempuan
datang dan menyapaku.
“Hai!” katanya kepadaku. Aku pun kaget dan
gugup karena biasanya mereka yang lewat di depanku
hanya melotot dan cuek kepadaku. Dia pun bertanya
lagi.
“Kamu mau jadi sahabatku?” katanya lembut.
Aku kaget sekaligus gembira saat itu.
“Bbboleh…!” jawabku gugup. Dia pun
tersenyum dan duduk di sebelahku. Kemudian, dia
mulai bercerita tentang kehidupannya. Dia punya
20
teman banyak dan sering bermain di rumahnya. Seru
sekali. Kadang belajar bareng, mengerjakan PR, atau
hanya bermain saja. Setiap hari, ada saja yang mereka
lakukan, sepertinya ngga pernah habis ide untuk
membuat keseruan bersama. Mendengar kisahnya,
aku pun merasa sangat bahagia dan rasanya aku ingin
sekali memiliki lebih dari satu teman.
Mungkin niatku saat itu baik. Aku ingin punya
banyak teman, tapi caraku salah. Aku selalu memaksa
mereka agar mau menjadi temanku. Beberapa dari
mereka mau menjadi temanku tapi hanya karena
takut kepadaku. Mereka pun terlihat tidak bahagia dan
tidak ikhlas berteman denganku. Tentu saja, tidak ada
keseruan saat bermain dengan mereka. lama-
kelamaan, aku menjadi bosan dan tidak bermain lagi
dengan mereka. Aku sendiri lagi.
Teman pertamaku tetap bermain bersamaku.
Dia sering mengajakku bermain dan menginap di
rumahnya. Dia juga bermain ke rumahku. Sebenarnya,
aku kagum dengan dia. Dia masih mau menjadi
temanku meski aku pemarah. Dialah satu-satunya
21
teman yang ikhlas bermain denganku setiap saat.
Selama belajar di Taman Kanak-Kanak itu, aku selalu
bermain dan berteman dengan dia.
Waktu pun bergulir begitu cepat. Ada murid
baru datang ke sekolah kami. Dia baik, ramah, cantik
dan juga gaul kepada teman yang lain. Teman
pertamaku pun mulai bermain dengan anak baru itu.
Hari berlalu dan aku mulai merasa kesepian seperti
dulu. Aku pikir kami akan bersahabat selamanya.
Namun, kini dia telah menemukan teman baru lagi.
Aku ikhlas dan ngga boleh egois. Meskipun ngga
sedekat dulu, kami masih tetap berteman.
Beberapa minggu kemudian, akhirnya aku
menemukan teman baru lagi dan kali ini aku memiliki
dua teman. Mereka berdua baik dan humoris. Kami
mulai bermain bersama sampai lulus dari Taman
Kanak-Kanak. Kami masuk di Sekolah Dasar yang
sama meskipun tidak satu kelas. Kami pun jarang
bermain bersama lagi karena beda kelas dan masing-
masing punya kegitan yang berbeda. Di Sekolah Dasar
itu, aku pun menemukan banyak teman yang baik. Aku
22
mulai memiliki sahabat lagi seperti dulu. Waktu pun
berlalu dan inilah aku saat kini telah lulus SD dan akan
memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aku
bertemu lagi dengan temanku yang dulu saat kami
sama-sama akan memasuki Sekolah Dasar. Kami
berdua pernah menjadi sahabat. Semoga kami menjadi
sahabat selamanya.
23
7. Cinta Ibu Seperti Matahari
Angelene
Seorang perempuan, seperti
malaikat tak bersayap. Rambutnya yang
hitam dan panjang, kadang-kadang tergerai
tertiup angin. Wajahnya yang cantik,
kadang-kadang tersenyum ketika melihat
ayah sedang bekerja. Setiap pagi, ketika
semua orang masih terlelap dalam mimpi,
ibu telah berada di dapur untuk memasak.
Setelah selesai memasak, ibu pergi ke
kamar untuk membangunkan aku, kakak,
dan adikku. Aku bangga pada ibu. Seorang
perempuan kuat, sayang keluarga, dan
selalu mengajari kami berbagi, menolong,
dan bersyukur. Pernah suatu saat aku
makan dan temanku tidak membawa
24
makanan. Ibuku berkata kepadaku dengan
lembut.
“Berbagilah makanan dengan
temanmu, dia pasti lapar,” katanya padaku
saat itu. Aku pun segera membagi
makananku dengan temanku. Ibu
tersenyum melihatku. Aku pun bahagia
memiliki ibu yang peduli padaku tapi juga
pada teman-temanku. Aku sungguh
bersyukur memiliki ibu yang luar biasa.
Semoga ibu sehat selalu agar bisa
menemani kami hingga dewasa nanti. Aku
ingin bisa membahagiakan ibu bahkan
hngga usia lanjut kelak.
Itulah kisah kecilku tentang ibuku.
Aku berharap, teman-teman juga
menyayangi ibu kalian masing-masing
25
bagaimana pun keadaannya. Aku percaya,
semua ibu menginginkan kebahagiaan
anak-anaknya hingga melupakan dirinya
sendiri. Itulah kasih seorang ibu, seperti
matahari yang bersinar tanpa pernah
memikirkan balasan. Mari para pembaca,
aku mengajak kalian semua untuk
mencintai Ibu, apapun kondisinya. ibumu
pasti mencintaimu....
26
8. Hikmah di balik Covid-19
Ratna
Maret 2020,sekolah mengumumkan
bahwa kami akan belajar di rumah selama
dua minggu ke depan karena mulai
menyebarnya virus corona atau dikenal
dengan nama Covid 19. Senang sekali
hatiku saat itu. Belajar di rumah seperti
libur panjang saja. Namun, aku mulai bosan
ketika ternyata belajar di rumah berlanjut
hingga saat ini. Virus Corona ternyata tak
pernah berhenti hingga sekarang. Tentu
saja pembelajaran masih dilakukan di
rumah secara online. Meskipun kami tetap
melakukan meeting, bisa bertatap muka
secara virtual, tapi aku tetap merasa sepi.
Tidak ada teman, tidak bisa bercanda, tidak
27
bisa bermain bersama, dan tidak bisa
bertatap muka secara langsung. Walaupun
bisa berbicara melalui ponsel tetapi
rasanya berbeda dengan ketika kami dapat
bermain langsung.
Mulai dari situ, aku mencari
kesibukan untuk mengusir sepiku. Aku
mulai bongkar-bongkar barang. Aku
menemukan benang wol dan jarum rajut
(hakpen). Aku mencoba membuat sesuatu
dengan benang wol dan hakpen itu.
Ternyata aku memiliki bakat merajut.
Banyak orang mendukungku untuk
mengembangkan bakatku itu. Mama, papa,
kakak, adik, teman, dan semua orang yang
ada di sekitarku . Aku sangat senang karena
mereka semua mendukungku. Mulai dari
28
situ, aku mencoba membuat tas, dompet,
tempat pensil,dan banyak lagi.
Banyak yang tertarik dengan hasil
karyaku. Karena banyak yang tertarik, aku
menjual rajutanku. Mama pun membantu
menawarkan hasil rajutanku kepada orang-
orang di sekitar lingkungan rumahku. Aku
mulai sibuk dengan rajutanku tetapi aku
harus tetap tepat waktu mengerjakan tugas
sekolah. Aku harus bisa membagi waktu
antara membuat rajutan dan belajar
karena aku saat ini masih seorang pelajar.
Jadi, apapun kesibukanku, aku tetap
menomorsatukan belajar. Kita boleh
mengembangkan bakat/kemampuan tapi
harus tetap punya prioritas. Kita harus
29
berani mencoba sesuatu yang baru. Jangan
katakan tidak sebelum mencoba.
Ini adalah salah satu hasil karyaku
30
9. IBUKU
Lidya
Seorang perempuan setengah baya,
kira-kira berumur 50 tahun. Rambutnya
yang hitam, kadang tertiup angin menyapu
keningnya. Wajahnya yang cantik dan
manis, kadang-kadang tersenyum melihat
ayahku yang sedang mencuci mobil di
garasi.
Setiap pagi, saat adzan berkumandang,
ketika semua anggota keluarga masih
terlelap, ibu telah memasak di dapur. Tiga
puluh menit berlalu ibu membangunkan
aku dan kakak sementara ayah bergegas ke
kantor.
Aku bangga pada ibuku. Perempuan
tangguh dan bertanggung jawab, sayang
31
pada keluarga, dan selalu mengajarkan
untuk mengucapkan terima kasih kepada
setiap orang yang memberikan atau
menolong kami. Perempuan yang telah
melahirkan dan membesarkanku,
perempuan yang selalu berdoa untuk
suami dan anak-anaknya, yang selalu
percaya kepada Tuhan.
32
10. Jejesica Hoshimiya
Agatha
Aku punya seekor anjing kecil,
berambut putih coklat, totol hitam bernama
Jejesica. Ia berumur kira-kira 1 tahun,
Badannya pendek dan kecil. Ia sangat suka
makan dan bermain dengan saudara dan
sepupunya. Setiap pagi ia selalu
membangunkan aku untuk minta makan
dan minum. Setelah puas makan dan
minum, ia bermain bersama saudara dan
sepupunya. Saat capek bermain, ia akan
beristirahat sebentar tapi kemudian
bermain lagi karena memang dia sangat
senang bermain dan tidak bisa diam. Saat
malam tiba, Jejesica menemaniku tidur. Ia
33
anjing yang sangat manis, aku pun
menyukainya.
Aku bersyukur dan sangat bahagia
memiliki teman, seekor anjing yang setia,
sehat, lucu, dan manis. Ia selalu
menamaniku kapan pun. Saat aku senang,
sedih, sepi, dan membutuhkan teman.
Dialah teman setiaku. Jejesica, Anjingku
yang manis.
34
11. Kisahku di Gunung Bromo dan Semeru
Vicky
Namaku Vicky. Aku baru saja
menyelesaikan belajarku di SD Yuwati
Bhakti Sukabumi. Sebentar lagi, aku akan
memasuki sekolah menengah. Aku sangat
bahagia meskipun selama setahun ini, kami
belajar dari rumah (BDR). Banyak hal dapat
kulakukan selama belajar dari rumah, salah
satunya belajar menulis. Kali ini, saya akan
menuliskan kisahku beberapa tahun silam,
tepatnya pada bulan September 2016.
Bagiku, ini pengalaman yang sangat
menarik sekaligus menantang, yaitu
pengalamanku naik Gunung Bromo dan
Semeru.
35
Aku berangkat bersama keluargaku
dari Sukabumi ke Bandung naik bis. Dari
Bandung, kami naik kereta jurusan Malang.
Semalaman kami naik kereta itu. Dari
Bandung kami berangkat malam hari kira-
kira pukul 19.30 WIB, sampai di Malang
pukul 06.30 pagi, Perjalanan yang sangat
melelahkan, tapi aku tetap bersemangat
untuk melanjutkan perjalananku. Pagi itu,
dari stasiun kami naik angkutan kota
(angkot) menuju Tumpang. Sampai di
Tumpang, kami beristirahat sebentar di
sebuah ruko. Di sana aku berbelanja
kebutuhan untuk mendaki, seperti
makanan, minuman, karpet, dan lain-lain.
Setelah rasa lelah hilang, kami berangkat
lagi menuju suatu tempat bernama Ranu
36
Pani. Karena jalanan mulai sulit, kami naik
mobil Jeep disambung dengan ojek yang
bisa disewa di daerah itu.
Di Ranu Pani ada sebuah desa yang
merupakan desa terakhir sebelum mendaki
Gunung Semeru. Di desa itu, kami membeli
tiket untuk mendaki sampai ke Ranu
Kumbolo. Namun, ternyata untuk membeli
tiket itu ada minimal usia yaitu 10 tahun,
37
sedangkan aku masih berusia 8 tahun saat
itu, Jadi, kami hanya menginap di desa yang
ada di Ranu Pani tersebut. Udara di desa itu
sangat dingin. aku merasa sangat
kedinginan. Meskipun demikian, aku tetap
menikmati suasana itu dengan rasa syukur.
Di sana, aku melihat beberapa wisatawan
asing, salah satunya dari Perancis. tapi
sayang kami tidak bisa berkomunikasi
karena aku tidak bisa berbahasa Inggris,
sedangkan mereka tidak bisa berbahasa
Indonesia. Jadi, kami hanya tersenyum saat
berpapasan.
Di desa itu, kami menginap di rumah
warga yang kebetulan sudah dikenal lama
oleh orang tuaku. Keesokan harinya kami
kembali naik ojek dan naik Jeep untuk pergi
38
ke Gunung Bromo, Pemandangan di Bromo
ternyata sangat indah dan suasananya
sangat ramai. Cukup capek juga mendaki
Gunung Bromo. Namun, rasa capek itu akan
hilang ketika kita telah hanyut menikmati
indahnya pemandangan alam di Gunung
Bromo. Meskipun udara sangat dingin,
rasanya enggan meninggalkan tempat itu.
Namun, kami harus tetap meninggalkan
pemandangan indah itu untuk kembali ke
rumah.
Setelah puas menikmati suasana di
Gunung Bromo, kami pun memutuskan
untuk pulang. Saat menuruni Gunung
Bromo, kita harus sangat berhati-hati agar
tidak tergelincir. Setiba di bawah, kami
segera mencari kendaraan menuju
39
Tumpang, Di tumpang, kami menginap satu
malam, dan keesokan harinya, pagi-pagi
kami pergi ke bandara di kota malang
untuk naik pesawat menuju Kota Jakarta.
Dari Jakarta, kami naik bis ke Bogor dan
dari Bogor naik kereta menuju Sukabumi.
Hari telah malam ketika kami tiba di
Sukabumi. Memang, badan terasa lelah
melakukan perjalanan yang panjang.
Namun, hatiku sangat bahagia dapat
menikmati alam yang indah, karya Tuhan.
Aku bersyukur dapat mengalami
perjalanan ini. Teman-teman, itulah kisah
kecilku, semoga dapat bermanfaat bagi
teman-teman.
40
12. Mamaku
Paris
Seseorang yang selalu menjaga dan
membantuku kapan pun. Seorang wanita
kira-kira berusia 31 tahun. Ia selalu
menyemagatiku saat harus melakukan
sesuatu yang harus dikerjakan dengan
sungguh-sungguh. Setiap pagi, saat sekolah
online, dia yang membangunkanku, jika aku
tidak bangun saat dibangunkan oleh alarm.
Setelah itu dia pergi menyiapkan makanan
untukku dan adikku yang sedang meeting
class.
Aku sayang pada mamaku. Dia
mengajariku banyak hal yang membuatku
bertumbuh menjadi anak yang baik. Dia
selalu mengingatkanku akan kewajibanku
41
sebagai pelajar. Walau terkadang dia suka
marah , tetapi aku tetap menyayangi
mamaku.
Aku bersyukur memiliki mama
yang sayang padaku. Semoga mama selalu
dilindungi Tuhan dan bahagia selalu. Aku
mengajak teman-teman semua untuk selalu
bersyukur atas apa yang kita miliki. Papa,
mama, adik, kakak adalah keluarga kita,
harta kita yang harus kita jaga dan sayangi
selamanya.
42
13. Tiga Kali Masuk Rumah Sakit
Griselda
Namaku Griselda, kelas 6A SD Yuwati Bhakti
Sukabumi. Aku akan menceritakan pengalamanku saat
sakit. Tiga kali aku masuk rumah sakit. Bukan karena
senang tidur di rumah sakit ya, tapi itulah
pengalamanku yang kurang mengenakkan tapi
memberi pelajaran berharga untukku. Pertama masuk
rumah sakit, waktu itu, aku duduk di kelas IV SD pada
tahun 2014.
Aku harus dirawat di rumah sakit karena
makan-makanan yang tidak sehat, yang menyebabkan
aku menderita sakit tipes. Aku dirawat di rumah sakit
Secapa Bhayangkara Sukabumi. Di rumah sakit, aku
ditemani oleh keluarga. Banyak teman yang
menjenguk dan memberi semangat agar aku bisa
melawan penyakit ini. Selama dua minggu aku harus
dirawat di rumah sakit. Rasa bosan dan jemu mulai
mengusikku karena tidak bisa belajar dan bermain
dengan teman-teman. Setelah dua minggu, aku sudah
boleh pulang tapi tetap tidak boleh pergi ke sekolah.
43
Aku tetap harus beristirahat di rumah untuk
mengembalikan imunitas tubuhku.
Masuk rumah sakit kedua adalah saat aku
duduk di kelas V. Waktu itu sekolah mengadakan acara
camping setelah ujian tengah semester. Di sana aku
sangat bahagia dan aktif. Banyak kegiatan seru yang
aku ikuti bersama teman-teman. Namun, esok harinya
aku merasa tidak enak badan. Ternyata, kemarin pagi
aku lupa minum obat untuk mencegah agar tidak
masuk angin. Setelah makan pagi, tiba-tiba badanku
terasa lemas dan pusing. Teman-teman mengajakku
bermain flying fox tapi aku tidak ikut dan memilih
untuk tidur. Dua hari saya dirawat di rumah. Karena
tidak membaik juga, akhirnya aku dibawa ke rumah
sakit dan ternyata, aku terkena tipes lagi. Aku dirawat
di rumah sakit selama tiga minggu, karena trombosit
saya turun.
Ada cerita lucu saat aku dirawat di rumah
sakit yang kedua ini. waktu itu, terjadi gempa yang
cukup besar. Aku bergegas keluar kamar dengan cara
meloncat tetapi saya lupa kalau sedang diinfus. Baru
44
aku sadar kalau aku tidak bisa ke mana-mana kecuali
aku bisa membawa tiang infus. Namun, karena
badanku kecil dan lemas, aku tidak bisa lari sambil
membawa tiang infus. Jadi aku batalkan rencana
meloncat karena infusan dapat lepas dan darah akan
mengalir. Akhirnya, aku pasrah dan gempa pun
berhenti. Aku pun lega dan dapat tidur lagi. Beberapa
hari kemudian aku bisa pulang dan dapat bersekolah
lagi.
ketiga kalinya aku dirawat di rumah sakit
Ridho Galih Sukabumi. Waktu itu aku duduk di kelas V
semester II. Aku terkena penyakit DBD. Aku ditemani
kakak karena orang tuaku masih ada pekerjaan yang
harus diselesaikan, Saat itu sekolah daring karena
pademi covid 19. Aku dan kakak diperbolehkan tidak
mengikuti sekolah online. Aku selalu diberi minum
madu, jus jambu batu, dan obat khas China. Aku
dirawat hanya dua minggu dan setelah sembuh, aku
kembali mengikuti sekolah online.
Tiga kali masuk rumah sakit ternyata
melelahkan dan membosankan. Aku tidak mau masuk
45
rumah sakit lagi. Oleh karena itu, aku mulai menjaga
kebersihan dan kesehatan diri Aku belajar bersyukur
atas anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepadaku.
Aku berjanji pada diri sendiri dan kepada Tuhan untuk
menjaga diriku agar tetap sehat. Itulah rasa syukurku
kepada Tuhan. Demikian kisah kecilku. Semoga kisah
kecil ini berguna bagi teman-teman yang membaca.
Salam sehat.
46
14. Persami di Sekolah
Angelove
Namaku Angelove. Aku baru saja
lulus SD Yuwati Bhakti Sukabumi. Sebentar
lagi, aku akan memasuki masa-masa
sekolah di SMP. Deg-degan sih, tapi
sepertinya lebih seru. Nah, untuk mengisi
waktuku sebelum menjadi pelajar SMP,
aku ingin menuliskan pengalamanku
untukmu, sobatku di mana pun kamu
berada. Yuk, simak ya!
Ini adalah pengalamanku saat
persami di sekolah. Sekolah mengadakan
kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu
(Persami) setiap tahun, kadang di sekolah,
kadang pula di luar sekolah. Biasanya,
peserta persami adalah peserta didik kelas
47
V dan VI tapi kali ini kami bergabung
dengan kakak-kakak SMP sehingga
pesertanya mulai dari kelasV hingga IX.
Sehari sebelum memulai kegiatan,
kami membentuk kelompok. Dalam
kelompok itu, kami mendapat tugas
membawa peralatan berkeman untuk
kelompok selain peralatan pribadi. Di
rumah, aku menyiapkan sendiri barang-
barang yang akan dibawa saat persami.
Mulai dari seragam dan peralatan pramuka
serta keperluan pribadi. Besoknya aku
pergi ke sekolah diantar orang tua dengan
membawa semua perlengkapan kegiatan
persami.
Tiba di sekolah, teman-teman telah
membentuk kelompok (regu). Regu putra
48
dan regu putri. Tiap regu mendapat satu
kapling untuk tempat tidur dan menyimpan
barang-barang. Setelah selesai mengatur
barang-barang, kami harus berkumpul di
lapangan untuk diberi penjelasan apa saja
yang perlu dilakukan pada saat persami.
Kami harus taat dan tertib pada peraturan
yang telah ditetapkan oleh kakak pembina
dan pendamping. Meski banyak aturan,
kami semua belajar disiplin dan tertib
karena kegiatan ini adalah salah satu
program sekolah yang bertujuan untuk
melatih sikap dan karakter peserta didik
menjadi lebih baik, seperti disiplin,
mandiri, kasih, bersosialisasi, memimpin,
berorganisasi, berani, dan percaya diri.
49
Ada banyak kegiatan dalam persami.
Ada pentas seni, hiking, baris berbaris,
permainan, makan bersama, dan api
unggun. Sayangnya, saat itu tidak ada jurit
malam, kegiatan yang membuat kami deg-
degan tapi penasaran. Kegiatan itu
biasanya paling ditunggu-tunggu. Namun,
meski tidak ada jurit malam tetap ada
kegiatan yang seru yaitu permainan dalam
kelompok kecil dan besar serta api unggun
pada malam harinya. Namun, acara tidak
boleh terlalu malam karena kami harus
tidur. Besoknya ada kegiatan hiking, yaitu
berjalan bersama dalam kelompok untuk
mengerjakan tugas di tiap perhentian. Ada
berbagai perintah dalam tugas itu yang
kadang sangat lucu dan membuat kami
50