The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by zaharafajriatinizar, 2021-10-06 03:11:58

BUKU KONSEP DASAR BAHASA-converted

BUKU KONSEP DASAR BAHASA-converted

BAB I
SEJARAH BAHASA INDONESIA
1. Sejarah Bahasa Indonesia
Berdasarkan keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan,
antara lain, menyatakan bahwa berdasarkan sejarah, bahasa Indonesia mempunyai
akar dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa
Melayu yang sudah dipergunakan sebagai bahasa penghubung bukan hanya di
Kepulauan Nusantara, melainkan hampir di seluruh Asia Tenggara.
Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Hal
itu dibuktikan dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M
(Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur
berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M
(Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Bahasa
Melayu Kuna itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya. Di Jawa Tengah
(Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor ditemukan
prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuna.
Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan,
yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha. Bahasa Melayu juga dipakai sebagai
bahasa penghubung antarsuku di Nusantara dan sebagai bahasa perdagangan baik
pedagang antar suku di Nusantara maupun para pedagang yang datang dari luar
Nusantara. Informasi dari seorang ahli sejarah Cina, I-Tsing, yang belajar agama
Budha di Sriwijaya, antara lain, menyatakan bahwa di Sriwijaya ada bahasa yang
bernama Koen-louen. Yang dimaksud Koen-luen adalah bahasa perhubungan di
Kepulauan Nusantara, yaitu bahasa Melayu.
Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak makin jelas dari
peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu
nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380 M, maupun hasil susastra pada
abad ke-16 dan abad ke-17 seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai,
Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin. Bahasa Melayu menyebar ke
pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah
Nusantara. Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa
perhubungan antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa, dan antarkerajaan
karena bahasa Melayu tidak mengenal tingkat tutur. Bahasa Melayu dipakai di mana-

mana di wilayah Nusantara serta makin berkembang dan bertambah kukuh
keberadaannya.

Bahasa Melayu yang dipakai di daerah di wilayah Nusantara dalam
pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap
kosakata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa
Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul
dalam berbagai variasi dan dialek. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah
Nusantara memengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan
bangsa Indonesia. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan
pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang
menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia sesuai isi Sumpah Pemuda,
28 Oktober 1928.

Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah
mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai
bahasa negara. Bahasa Indonesia pun dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat
Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah. Meskipun bahasa dari daerah masing-
masing masih dipakai, namun untuk mempersatukan bangsa, masyarakat Indonesia
antar suku menggunakan bahasa Indonesia untuk percakapan sehari-hari.

BAB II
KEDUDUKAN BAHASA
2. Kedudukan Bahasa Indonesia
Kedudukan diartikan sebagai status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai
budaya yang dirumuskan atas dasar nilai sosial bahasa yang bersangkutan. Bahasa
Indonesia memiliki kedudukan sebagai bahasa nasional dan sebagai bahasa negara.
Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dimiliki sejak diikrarkan
Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, sedangkan kedudukan sebagai
bahasa negara dimiliki sejak diresmikan Undang-Undang Dasar 1945 (18 Agustus
1945). Dalam UUD 1945, Bab XV, Pasal 36 tercantum ”Bahasa negara ialah Bahasa
Indonesia”.
a) Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional
Kedudukan sebagai bahasa nasional dimiliki oleh bahasa Indonesia sejak
dicetuskannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Kedudukan ini
dimungkinkan oleh kenyataan bahwa bahasa Melayu, yang mendasari bahasa

Indonesia, telah dipakai sebagai lingua franca selama berabad-abad sebelumnya di
seluruh kawasan tanah air kita. Dan ternyata di dalam masyarakat kita tidak terjadi
persaingan bahasa, yaitu persaingan di antara bahasa daerah yang satu dan bahasa
daerah yang lain untuk mencapai kedudukan sebagai bahasa nasional.
b) Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara

Selain kedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga
berkedudukan sebagai bahasa negara, sesuai dengan ketentuan yang tertera di
dalam Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36.

BAB III
FUNGSI BAHASA
3. Fungsi Bahasa Indonesia
Fungsi adalah nilai pemakaian bahasa yang dirumuskan sebagai tugas
pemakaian bahasa itu dalam kedudukan yang diberikan kepadanya.
Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi
sebagai berikut:
a) Lambang kebanggaan nasional
Sebagai lambang kebanggaan nasional, bahasa Indonesia mencerminkan nilai-
nilai sosial budaya yang mendasari rasa kebanggaan kita. Melalui bahasa nasional,
bangsa Indonesia menyatakan harga diri dan nilai-nilai budaya yang dijadikannya
pegangan hidup. Atas dasar itulah, bahasa Indonesia kita pelihara dan kita
kembangkan. Begitu pula rasa bangga dalam memakai bahasa Indonesia wajib
kita bina terus. Rasa bangga merupakan wujud sikap positif terhadap bahasa
Indonesia. Sikap positif itu terungkap jika lebih suka menggunakan bahasa
Indonesia dari pada bahasa atau kata-kata asing.
b) Lambang identitas nasional
Sebagai lambang identitas nasional, bahasa Indonesia dapat menimbulkan
wibawa, harga diri, dan teladan bagi bangsa lain. Hal ini dapat terjadi jika bangsa
Indonesia selalu berusaha membina dan mengembangkan bahasa Indonesia secara
baik sehingga tidak tercampuri oleh unsur-unsur bahasa asing (terutama bahasa
Inggris). Untuk itu kesadaran akan kaidah pemakaian bahasa Indonesia harus
selalu ditingkatkan.
c) Alat pemersatu berbagai suku bangsa yang berlatar belakang sosial budaya
dan bahasa yang berbeda

Sebagai alat pemersatu, bahasa Indonesia mampu menunjukkan fungsinya
yaitu mempersatukan bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, agama,
budaya, dan bahasa ibunya. Hal itu tampak jelas sejak diikrarkannya Sumpah
Pemuda. Pada zaman Jepang yang penuh kekerasan dan penindasan, bahasa
Indonesia digembleng menjadi alat pemersatu yang ampuh bagi bangsa Indonesia.
Dengan bahasa nasional itu kita letakkan kepentingan nasional di atas kepentingan
daerah atau golongan.
d) Alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya.

Sebagai alat perhubungan, bahasa Indonesia mampu memperhubungkan
bangsa Indonesia yang berlatar belakang sosial budaya dana bahasa ibu yang
berbeda-beda. Berkat bahasa Indonesia, suku-suku bangsa yang berbeda-beda
bahasa ibu itu dapat berkomunikasi secara akrab dan lancar sehingga
kesalahpahaman antarindividu antarkelompok tidak pernah terjadi. Karena bahasa
Indonesia pula kita dapat menjelajah ke seluruh pelosok tanah air tanpa hambatan.

Sedangkan di dalam kedudukan sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia
berfungsi sebagai:
a) Bahasa resmi negara

Salah satu fungsi bahasa Indonesia di dalam kedudukannya sebagai bahasa
negara adalah pemakaiannya sebagai bahasa resmi kenegaraan. Di dalam
hubungan dengan fungsi ini, bahasa Indonesia dipakai di dalam segala upacara,
peristiwa, dan kegiatan kenegaraan baik secara lisan maupun dalam bentuk
tulisan. Dokumen-dokumen dan keputusan-keputusan serta surat-surat yang
dikeluarkan oleh pemerintah dan badan-badan kenegaraan lainnya seperti Dewan
Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat ditulis di dalam bahasa
Indonesia. Pidato-pidato, terutama pidato kenegaraan, ditulis dan diucapkan di
dalam bahasa Indonesia. Hanya di dalam keadaan tertentu, demi kepentingan
komunikasi antarbangsa, kadang-kadang pidato resmi ditulis dan diucapkan di
dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Demikian pula halnya dengan
pemakaian bahasa Indonesia oleh warga masyarakat kita di dalam hubungan
dengan upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan. Dengan kata lain,
komunikasi timbal balik antarpemerintah dan masyarakat berlangsung dengan
mempergunakan bahasa Indonesia. Untuk melaksanakan fungsinya sebagai bahasa
resmi kenegaraan dengan sebaik-baiknya, pemakai bahasa Indonesia di dalam
pelaksanaan administrasi pemerintahan perlu senantiasa dibina dan

dikembangkan, penguasaan bahasa Indonesia perlu dijadikan salah satu faktor
yang menentukan di dalam pengembangan ketenagaan seperti penerimaan
karyawan baru, kenaikan pangkat baik sipil maupun militer, dan pemberian tugas-
tugas khusus baik di dalam maupun di luar negeri. Di samping itu, mutu
kebahasaan siaran radio dan televisi perlu pula senantiasa dibina dan ditingkatkan.
b) Bahasa pengantar di dalam dunia pendidikan

Di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi
pula sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari taman
kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi di seluruh Indonesia kecuali di
daerah-daerah bahasa seperti daerah bahasa Aceh, Batak, Sunda, Jawa, Madura,
Bali, dan Makasar. Di daerah-daerah bahasa ini bahasa daerah yang bersangkutan
dipakai sebagai bahasa pengantar sampai dengan tahun ketiga pendidikan dasar.
c) Alat perhubungan dalam tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan
dan pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintah

Sebagai alat perhubungan tingkat nasional, bahasa Indonesia dipakai sebagai
alat komunikasi timbal balik antara pemerintah dan masyarakat luas, alat
perhubungan antardaerah dan antarsuku, dan juga sebagai alat perhubungan dalam
masyarakat yang latar belakang sosial budaya dan bahasa yang sama. Dewasa ini
orang sudah banyak menggunakan bahasa Indonesia apapun masalah yang
dibicarakan, apakah itu masalah yang bersifat nasional maupun kedaerahan.
d) Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Sebagai alat pengembang kebudayaan nasional, ilmu pengetahuan, dan
teknologi, bahasa Indonesia adalah satu-satunya bahasa yang digunakan untuk
membina dan mengembangkan kebudayaan nasional yang memiliki ciri-ciri dan
identitas sendiri. Di samping itu, bahasa Indonesia juga dipekai untuk memperluas
ilmu pengetahuan dan teknologi modern baik melalui penulisan buku-buku teks,
penerjemahan, penyajian pelajaran di lembaga-lembaga pendidikan umum
maupun melalui sarana-sarana lain di luar lembaga pendidikan.

BAB IV
KOMPETENSI BAHASA
4. Kompetensi Berbahasa Indonesia
Kompetensi berbahasa mencakup empat keterampilan, yaitu menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis. Kompetensi berbahasa merupakan tindak

memergunakan bahasa secara nyata untuk tujuan berkomunikasi. Kegiatan berbahasa
atau kompetensi berunjuk kerja bahasa merupakan manifestasi nyata kompetensi
kebahasaan seseorang. Tinggi rendahnya kompetensi kebahasaan seseorang pada
umumnya tercermin dalam kemampuan berbahasanya.

BAB V
PENGEMBANGAN KOMPETENSI BAHASA
5. Pengembangan Kompetensi Bahasa Indonesia
Berbagai aspek kebahasaan dan fungsi komunikatif pemahaman dan
penggunaan bahasa haruslah terintegrasi dalam tes kompetensi berbahasa. Artinya,
melalui tes kebahasaan akan diukur pengetahuan kebahasaan seseorang, tetapi ia
harus terintegrasi dalam bentuk pemahaman dan penggunaan bahasa secara wajar dan
kontekstual. Tes kebahasaan yang dimaksudkan untuk mengukur kompetensi
gramatikal yang merupakan kemampuan dasar untuk berkomunikasi memang perlu
mendapatkan perhatian tersendiri. Akan tetapi, ia tidak boleh lepas dari fungsi
komunikatif bahasa, dan jika dipaksakan akan berubah menjadi jenis tes kebahasaan
yang lain yang tidak mengukur kompetensi berbahasa. Dengan demikian, tes
kompetensi berbahasa akan berwujud tes kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan
bahasa.
Secara konkret, tes kompetensi berbahasa akan melibatkan keempat aspek itu
harus kontekstual. Artinya, ia harus berada dalam situasi pemakaian yang
sesungguhnya, wajar, dan berada dalam konteks tertentu. Jika mengabaikan hal-hal
tersebut, tes terhadap keempat keterampilan berbahasa itu pun dapat terjerumus ke
dalam tes yang terisolasi dan artifisial. Kecenderungan tes yang demikian inilah
sebenarnya yang merupakan masalah dalam tes bahasa dewasa ini (Brown, 2004:10).
Dewasa ini tes tradisional masih saja digunakan dalam pengukuran
kompetensi berbahasa. Tes tradisional di sini dimaksudkan sebagai tes yang memiliki
karakteristik yang hanya menuntut aktivitas seseorang untuk memilih jawaban,
menunjukkan penguasaan pengetahuan, memanggil kembali atau rekognisi. Jika
demikian, tinggi rendahnya skor seseorang belum tentu sekaligus mencerminkan
tingkat kompetensinya. Berbagai bentuk soal tes yang telah menyediakan jawaban,
misalnya bentuk soal tes objektif seperti benar-salah dan pilihan ganda, merupakan
contoh tes tradisional. Berbagai soal yang mengukur kompetensi bahasa seperti tes
struktur dan kosakata, apalagi yang bersifat diskret jelas dikategorikan sebagai soal

tes tradisional. Bahkan, soal-soal yang mengukur kompetensi berbahasa seperti
menyimak dan membaca yang dibuat dalam bentuk pilihan ganda juga dapat
dikategorikan sebagai tes tradisional. Berbagai ujian yang mempergunakan soal
pilihan ganda, misalnya ulangan umum, ujian semester, ujian masuk perguruan tinggi,
ujian masuk pegawai, juga masuk kategori tes tradisional.

Pusat Bahasa sudah berhasil merancang instrumen tes yang digunakan untuk
mengukur kemahiran berbahasa Indonesia seseorang. Tes tersebut dikenal dengan uji
kemahiran berbahasa Indonesia yang selanjutnya disebut UKBI. UKBI merupakan tes
baku yang dikembangkan sesuai dengan teori pengujian modern dan dirancang untuk
mengukur kemahiran seseorang dalam berbahasa Indonesia, baik secara lisan maupun
tulis. UKBI telah diujikan kepada penutur bahasa Indonesia yang berasal dari
beragam strata sosial, pekerjaan, dan latar belakang pendidikan. Selain itu, UKBI juga
telah diujikan kepada penutur asing (Solihah dan Dony, 2005:1). Materi UKBI berupa
penggunaan bahasa Indonesia yang digunakan dalam berbagai bidang, seperti sejarah,
kebudayaan, hukum, dan ekonomi. Materi itu diambil dari berbagai sumber, antara
lain, media massa (elektronik dan cetak) dan/ atau buku-buku. Dengan materi itu,
UKBI menguji kompetensi berkomunikasi lisan dan tulis dalam bahasa Indonesia,
baik yang menyangkut kemampuan reseptif maupun kemampuan produktif.
Kemampuan reseptif berkaitan dengan pemahaman isi wacana lisan dan isi wacana
tulis serta kepekaan terhadap kaidah bahasa Indonesia. Kemampuan reseptif diujikan
dalam bentuk soal pilihan ganda dengan empat opsi. Kemampuan produktif berkaitan
dengan keterampilan menggunakan bahasa Indonesia secara tulis dan lisan.
Keterampilan menggunakan bahasa Indonesia tulis diukur melalui penyusunan
wacana tulis. Keterampilan menggunakan bahasa Indonesia lisan diukur melalui
wawancara yang meliputi monolog dan dialog (Tim UKBI, 2003: 4).

Seminar dan Lokakarya Nasional Pengujian Bahasa Tahun 2010 yang
diadakan di Jakarta tanggal 20-22 Juli 2010 merumuskan beberapa hasil yang
berkaitan dengan pemanfaatan UKBI sebagai berikut: (1) Pusat Bahasa memantapkan
pengembangan dan pengelolaan UKBI berbasis teknologi informasi dan komunikasi
serta mengupayakan tersedianya prasarana dan sarana pendukung yang memadai di
Pusat Bahasa dan Balai/Kantor Bahasa serta memotivasi tersedianya prasarana dan
sarana tersebut di lembaga lain; (2) UKBI dimasukkan dalam skema uji profisiensi
bagi tenaga kerja profesi, baik tenaga kerja Indonesia maupun tenaga kerja asing di
berbagai sektor pekerjaan; (3) kemahiran berbahasa Indonesia perlu dijenjangkan

sesuai dengan karakteristik profesi. Untuk itu, putusan Konvensi Rancangan Standar
Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) tentang kemahiran berbahasa
Indonesia perlu segera ditindaklanjuti dengan mempercepat penerapan skema uji
profisiensi; (4) skema sertifikasi guru, dosen, dan tenaga vokasi perlu memasukkan
UKBI sebagai salah satu unsur penilaian kompetensi guru, dosen, dan tenaga vokasi;
(5) Pusat Bahasa melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi dan instansi lain
untuk menerapkan UKBI sebagai persyaratan akademik dan persyaratan penerimaan
calon pegawai, baik negeri maupun swasta; (6) penggunaan UKBI di masyarakat agar
mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat dan daerah melalui penyusunan
regulasi dan mekanisme yang operasional; dan (7) Pusat Bahasa menyebarluaskan
hasil pembakuan kebahasaan, seperti kamus, tesaurus, tata bahasa, dan UKBI, baik
pada tingkat nasional maupun internasional. Hasil semiloka tersebut sampai sekarang
tampaknya masih menjadi sebuah wacana. Hal ini dapat dibuktikan dengan belum
adanya realisasi hasil semiloka tersebut.

Berkaitan dengan masalah tersebut, Rahmawati (2012:43-50) memberi solusi
terhadap permasalahan penilaian kompetensi berbahasa Indonesia yang dewasa ini
masih cenderung bersifat diskret. IELTS merupakan salah satu bentuk tes kemahiran
berbahasa yang terstandar secara internasional yang terdiri atas tes menyimak,
membaca, menulis, dan berbicara. Berdasarkan kajian pustaka yang dilakukan, tes
kompetensi komunikatif berbahasa Indonesia dapat diadaptasi dari bentuk tes IELTS.
Hal ini dapat dilakukan karena beberapa alasan, di antaranya adalah: (1) empat
keterampilan berbahasa diujikan secara komprehensif; (2) bentuk soal bermacam-
macam; (3) cara menjawab soal tes dengan menulis pada lembar jawab yang sudah
disediakan (tidak memilih jawaban yang telah disediakan); dan (4) secara implisit
bentuk tes ini juga menguji kemampuan kebahasaan.

UKBI sebagai instrumen tes pengukur kompetensi berbahasa masih
mengandung beberapa kekurangan dan masih menunjukkan bahwa tes tersebut masih
tergolong sebagai tes diskret. Bentuk tes UKBI untuk mengukur kemampuan
mendengarkan, respons kaidah, dan membaca masih berbentuk tes pilihan ganda.
Selain itu, tes respons kaidah dalam UKBI menunjukkan bahwa tes tersebut masih
menekankan unsur kebahasaan yang tidak secara langsung dimasukkan secara
kontekstual. Berdasarkan uraian di atas, maka pengembangan model tes kompetensi
berbahasa Indonesia diperlukan untuk mengatasi masalah yang timbul dalam
pengujian kompetensi berbahasa dewasa ini yang masih cenderung pada tes yang

bersifat diskret. Beberapa hal yang telah dipaparkan di atas dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan pengembangan instrumen tes kompetensi berbahasa Indonesia
yang lebih komunikatif. Penelitian ini termasuk jenis penelitian pengembangan
(developmental research). Luaran yang ditargetkan dalam penelitian ini adalah produk
instrumen tes kompetensi berbahasa Indonesia yang dapat digunakan sebagai alat
ukur kompetensi berbahasa seseorang, terbangunnya kerjasama penelitian
antarperguruan tinggi, dan publikasi ilmiah dalam jurnal nasional.

BAB VI
EJAAN
6. Ejaan Bahasa Indonesia
6.1. Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia
a) Ejaan Van Ophuijsen (1901-1947)
Sejarah ejaan Bahasa Indonesia diawali dengan ditetapkannya Ejaan van
Ophuijsen pada 1901. Ejaan ini menggunakan huruf Latin dan sistem
ejaan Bahasa Belanda yang diciptakan oleh Charles A. van Ophuijsen.
Ejaan van Ophuijsen berlaku sampai dengan tahun 1947.
b) Ejaan Republik/Ejaan Soewandi (1947-1956)
Ejaan Republik berlaku sejak tanggal 17 Maret 1947. Pemerintah
berkeinginan untuk menyempurnakan Ejaan van Ophuijsen. Adapun hal
tersebut dibicarakan dalam Kongres Bahasa Indonesia I, pada tahun
1938 di Solo. Kongres Bahasa Indonesia I menghasilkan ketentuan ejaan
yang baru yang disebut Ejaan Republik/Ejaan Soewandi.
c) Ejaan Pembaharuan (1956-1961)
Kongres Bahasa Indonesia II digelar pada tahun 1954 di Medan.
Kongres ini digagas oleh Menteri Mohammad Yamin. Dalam Kongres
Bahasa Indonesia II ini, peserta kongres membicarakan tentang
perubahan sistem ejaan untuk menyempurnakan ejaan Soewandi.
d) Ejaan Melindo (1961-1967)
Ejaan ini dikenal pada akhir 1959 dalam Perjanjian Persahabatan
Indonesia dan Malaysia. Pembaruan ini dilakukan karena adanya
beberapa kosakata yang menyulitkan penulisannya. Akan tetapi, rencana
peresmian ejaan bersama tersebut gagal karena adanya konfrontasi
Indonesia dengan Malaysia pada 1962.

e) Ejaan Baru/Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK) (1967-1972)
Pada 1967, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan yang sekarang bernama
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengeluarkan Ejaan Baru.
Pembaharuan Ejaan ini merupakan kelanjutan dari Ejaan Melindo yang
gagal diresmikan pada saat itu.

f) Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) (1972-2015)
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan berlaku sejak 23 Mei 1972
hingga 2015 pada masa menteri Mashuri Saleh. Ejaan ini menggantikan
Ejaan Soewandi yang berlaku sebelumnya. Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan ini mengalami dua kali perbaikan yaitu pada 1987 dan
2009.

g) Ejaan Bahasa Indonesia (2015-sekarang)
Pemerintah terus mengupayakan pembenahan terhadap Ejaan Bahasa
Indonesia melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Indonesia. Pasalnya, pemerintah meyakini bahwa ejaan merupakan salah
satu aspek penting dalam pemakaian Bahasa Indonesia yang benar.
Ejaan Bahasa Indonesia ini diresmikan pada 2015 di masa pemerintahan
Joko Widodo dan Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia.

6.2. Kedudukan dan Fungsi Ejaan Bahasa Indonesia
Fungsi Ejaan
Menurut Siti Mutmainah dalam buku Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi
(2019), ejaan harus diterapkan dalam penulisan bahasa. Ejaan memiliki sejumlah
fungsi penting, yaitu:
a) Landasan pembakuan tata bahasa
Penggunaan ejaan dalam penulisan bahasa akan membuat tata bahasa yang
digunakan semakin baku.
b) Landasan pembakuan kosa kata serta istilah
Tidak hanya membuat tata bahasa semakin baku, ejaan juga membuat
pemilihan kosa kata dan istilah mennadi lebih baku.
c) Penyaring masuknya unsur bahasa lain ke bahasa Indonesia

Ejaan juga memiliki fungsi penting sebagai penyaring bahasa lain ke bahasa
Indonesia. Sehingga dalam penulisannya tidak akan menghilangkan makna
aslinya.
d) Membantu pemahaman pembaca dalam mencerna informasi
Penggunaan ejaan akan membuat penulisan bahasa lebih teratur. Hal ini
membuat pembaca semakin mudah dalam memahami informasi yang
disampaikan secara tertulis.

6.3.Pemakaian Huruf
6.3.1. Huruf Abjad
Dalam ejaan bahasa Indonesia, huruf abjad terdiri atas huruf A, B, C, D, E,
F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y, Z. Huruf abjad
ini bisa ditulis dalam bentuk huruf kapital maupun tidak, tergantung pada
pemakaian dan tujuan penggunaannya.

6.3.2. Huruf Vokal
Dalam ejaan bahasa Indonesia, huruf vokal terdiri atas huruf a, i, u, e, o.
Sama seperti huruf abjad, huruf vokal juga bisa ditulis dalam huruf kapital
atau tidak.

6.3.3. Huruf Konsonan
Dalam ejaan bahasa Indonesia, huruf konsonan adalah huruf yang tidak
termasuk huruf vokal, yakni b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x,
y, z. Penulisan kapital atau tidaknya juga bergantung pada pemakaian dan
tujuan penggunaannya.

6.3.4. Huruf Diftong
Dalam ejaan bahasa Indonesia, huruf diftong merupakan dua vokal yang
diucapkan bersamaan. Huruf diftong terdiri atas ai, au, oi. Contoh katanya
ialah 'santai', 'pulau', 'survei', dan 'kalian'.

6.3.5. Huruf Gabungan Konsonan

Dalam ejaan bahasa Indonesia, penulisan gabungan huruf konsonan berarti
dua huruf konsonan dijadikan satu, seperti kh, ny, sy, ng. contoh katanya
'ikhtisar', 'nyata', 'syarat', dan 'ngarai'.

6.3.6. Huruf Kapital
Penggunaan huruf kapital bisa dari huruf vokal ataupun huruf konsonan.
Berikut beberapa contoh pemakaiannya:
a) Huruf kapital dipakai di awal kalimat. Contohnya: ‘Aku lapar.’
b) Huruf kapital dipakai di awal petikan langsung. Contohnya: ‘Jinnie
berkata, “Besok aku tidak masuk sekolah” kepadaku.’
c) Huruf kapital dipakai di huruf pertama dalam ungkapan yang
berhubungan dengan nama Tuhan serta Kitab Suci, termasuk kata ganti
untuk Tuhan. Contohnya: ‘Allah’, ‘Yang Mahakuasa’, ‘Islam’,
‘Alkitab’, dan lainnya.
d) Huruf kapital dipakai di huruf pertama gelar kehormatan, keturunan
dan keagamaan. Contohnya ‘Sultan Hasanuddin’, ‘Haji Agus Salim’.
e) Huruf kapital dipakai di huruf pertama unsur nama jabatan atau
pangkat. Contohnya ‘Presiden Jokowi’.
f) Huruf kapital dipakai di huruf pertama unsur nama orang. Contohnya
‘Ed Sheeran’.
g) Huruf kapital dipakai di huruf pertama nama bangsa, suku dan bahasa.
Contohnya: ‘bahasa Indonesia’, ‘Bangsa Indonesia’.
h) Huruf kapital dipakai di huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari
raya dan peristiwa sejarah. Contohnya: ‘tahun Masehi’, ‘bulan Juni’,
‘hari Natal’.
i) Huruf kapital di pakai di huruf pertama nama geografi. Contohnya
‘Asia Tenggara’.

6.3.7. Huruf Kecil
Penggunaan huruf kecil pada judul:
a) Huruf kecil digunakan pada kata ulang berubah bunyi
Contoh: Kalang-kabut, Sayur-mayur, Serba-serbi, dan sejenisnya.
b) Huruf kecil digunakan pada kata ulang berimbuhan
Contoh: Bahu-membahu, Tarik-menarik, Berdua-duaan

c) Huruf kecil digunakan pada kata yang bersifat partikel
• Kata depan atau disebut juga preposisi: di, ke, dari, pada,
dalam, yaitu, kepada, daripada, untuk, bagi, ala, bak, tentang,
mengenai, sebab, secara, terhadap, di, ke, dari, dalam, atas,
oleh, kepada, terhadap, akan, dengan, tentang, dan sampai.
• Konjungsi atau disebut juga kata penghubung: dan, serta, atau,
tapi, tetapi, namun, melainkan, padahal, sedangkan, yang, agar,
supaya, biar, biarpun, jika, kalau, jikalau, asal(kan), bila,
manakala, sejak, semenjak, sedari, sewaktu, tatkala, ketika,
sementara, begitu, seraya, selagi, selama, sambil, demi, setelah,
sesudah, sebelum sehabis, selesai, seusai, hingga, sampai,
andaikan, seandainya, umpamanya, sekiranya, biar(pun),
walau(pun), sekalipun, sungguh(pun), kendati(pun), seakan-
akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, laksana,
ibarat, daripada, alih-alih, sebab, karena, oleh karena, oleh
sebab, sehingga, sampai, dan maka(nya).
• Interjeksi atau disebut juga kata seruan: dong, sih, wow, yuk,
dan lho.
• Artikula atau disebut juga kata sandang: para, si, dan sih.
• Partikel lain seperti: pun dan per.

6.3.8. Huruf Miring
Berikut beberapa contoh pemakaiannya:
a) Huruf miring dipakai untuk menulis nama buku, majalah, dan surat
kabar yang dikutip dalam tulisan. Contohnya ‘Majalah Bahasa’.
b) Huruf miring dipakai untuk menegaskan kata. Contohnya: ‘Huruf
pertama kata aku adalah a.’
Huruf miring dipakai di nama ilmiah. Contohnya ‘Politik devide et
impera’.

6.3.9. Huruf Tebal

Penggunaan huruf tebal dibahas di bagian Pemakaian Huruf poin H dalam
PUEBI. Dijelaskan bahwa terdapat dua kondisi penulisan yang dapat
menggunakan huruf tebal yaitu:
a) Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah

ditulis miring, misalnya:
• Huruf dh, seperti pada kata Ramadhan, tidak terdapat dalam Ejaan

Bahasa Indonesia.
• Kata et dalam ungkapan ora et labora berarti ‘dan’.
b) Huruf tebal dapat dipakai untuk menegaskan bagian-bagian karangan,
seperti judul buku, bab, atau subbab.

6.4. Penulisan Kata
6.4.1. Kata Dasar
Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan, misalnya:
• Kantor pajak penuh sesak.
• Saya pergi ke sekolah.
• Buku itu sangat tebal.

6.4.2. Kata Berimbuhan
Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan

akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya. Misalnya:
• berjalan
• berkelanjutan
• mempermudah
• gemetar
• lukisan
• kemauan
• perbaikan
Namun, imbuhan yang diserap dari unsur asing, seperti -isme, -man, -

wan, atau -wi, ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya. Misalnya:
• sukuisme
• seniman
• kamerawan

• gerejawi
Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Misalnya:
• antarkota
• biokimia
• dekameter
• ekstrakurikuler
• infrastruktur
• mancanegara
• narapidana
• pascasarjana
• swadaya
• transmigrasi

Catatan:
1) Bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang berhuruf awal kapital atau

singkatan yang berupa huruf kapital dirangkaikan dengan tanda
hubung (-). Misalnya:
• non-Indonesia
• pan-Afrikanisme
• pro-Barat
• non-ASEAN
• anti-PKI
2) Bentuk maha yang diikuti kata turunan yang mengacu pada nama atau
sifat Tuhan ditulis terpisah dengan huruf awal kapital. Misalnya:
• Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
• Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.
3) Bentuk maha yang diikuti kata dasar yang mengacu kepada nama atau
sifat Tuhan, kecuali kata esa, ditulis serangkai. Misalnya:
• Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.
• Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

6.4.3. Bentuk Kata Ulang

Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung (-) di antara
unsur-unsurnya. Misalnya:

• anak-anak
• biri-biri
• lauk-pauk
• cumi-cumi
• mondar-mandir
• hati-hati
• kupu-kupu
• ramah-tamah
• terus-menerus
• kura-kura
• porak-poranda
• serba-serbi

Catatan: Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur
pertama.
Misalnya:

• surat kabar → surat-surat kabar
• kapal barang → kapal-kapal barang
• rak buku → rak-rak buku
• kereta api cepat → kereta-kereta api cepat

Catatan
Bila bentuk ulang diberi huruf kapital, misalnya pada nama diri (nama
lembaga, dokumen, dll.) atau judul (buku, majalah, dll.), bentuk ulang
sempurna diberi huruf kapital pada huruf pertama tiap unsurnya,
sedangkan bentuk ulang lain hanya diberi huruf kapital pada huruf pertama
unsur pertamanya. Misalnya:

• Ia menyajikan makalah "Penerapan Asas-Asas Hukum Perdata".
• Slogan "Terus-menerus Ramah-tamah" dikampanyekan gubernur

baru itu.

6.4.4. Gabungan Kata
Unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk

istilah khusus, ditulis terpisah. Misalnya:
• duta besar
• kambing hitam
• persegi panjang
• orang tua
• rumah sakit jiwa
• simpang empat
• cendera mata
Gabungan kata yang dapat menimbulkan salah pengertian ditulis

dengan membubuhkan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:

• anak-istri pejabat (anak dan istri dari pejabat)
• anak istri-pejabat (anak dari istri pejabat)
• ibu-bapak kami (ibu dan bapak kami)
• ibu bapak-kami (ibu dari bapak kami)
• buku-sejarah baru (buku sejarah yang baru)
• buku sejarah-baru (buku tentang sejarah baru)
Gabungan kata yang penulisannya terpisah tetap ditulis terpisah jika
mendapat awalan atau akhiran. Misalnya:
• bertepuk tangan
• garis bawahi
• sebar luaskan
Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis
serangkai. Misalnya:
• dilipatgandakan
• menggarisbawahi
• menyebarluaskan
• penghancurleburan
• pertanggungjawaban
Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai. Misalnya:
• adakalanya

• apalagi
• barangkali
• beasiswa
• belasungkawa
• bilamana
• dukacita
• kacamata
• kasatmata
• kilometer
• saputangan
• sediakala
• segitiga
• wiraswata

6.4.5. Pemenggalan Kata
Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.

a) Jika di tengah kata terdapat huruf vokal yang berurutan,
pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf vokal itu. Misalnya:
• bu-ah
• ma-in
• ni-at

b) Huruf diftong ai, au, ei, dan oi tidak dipenggal. Misalnya:
• pan-dai
• au-la
• sau-da-ra

c) Jika di tengah kata dasar terdapat huruf konsonan (termasuk gabungan
huruf konsonan) di antara dua huruf vokal, pemenggalannya dilakukan
sebelum huruf konsonan itu. Misalnya:
• ba-pak
• la-wan
• de-ngan
• ke-nyang
• mu-ta-khir

d) Jika di tengah kata dasar terdapat dua huruf konsonan yang berurutan,
pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.
Misalnya:
• Ap-ril
• cap-lok
• makh-luk
• man-di
• sang-gup

e. Jika di tengah kata dasar terdapat tiga huruf konsonan atau lebih yang
masing- masing melambangkan satu bunyi, pemenggalannya dilakukan di
antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya:

• ul-tra
• in-fra
• ben-trok
• in-stru-men

Catatan: Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi tidak
dipenggal. Misalnya:

• bang-krut
• ikh-las
• kong-res
• masy-hur
Pemenggalan kata turunan sedapat-dapatnya dilakukan di antara
bentuk dasar dan unsur pembentuknya. Misalnya:
• ber-jalan
• mem-pertanggungjawabkan
• mem-bantu
• memper-tanggungjawabkan
• di-ambil
• mempertanggung-jawabkan
• ter-bawa
• mempertanggungjawab-kan

• per-buat
• me-rasakan
• makan-an
• merasa-kan
• letak-kan
• per-buatan
• pergi-lah
• perbuat-an
• apa-kah

Catatan:
1) Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya mengalami

perubahan dilakukan seperti pada kata dasar. Misalnya:
• me-ma-kai
• me-nya-pu
• me-nge-cat
• pe-no-long
• pe-nga-rang

2) Pemenggalan kata bersisipan dilakukan seperti pada kata dasar.
Misalnya:
• ge-lem-bung
• ge-mu-ruh
• ge-ri-gi
• si-nam-bung
• te-lun-juk

3) Pemenggalan kata yang menyebabkan munculnya satu huruf di awal
atau akhir baris tidak dilakukan. Misalnya:
• Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah disampaikan ....
• Walaupun cuma-cuma, mereka tidak mau mengambil makanan
itu.
Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan salah satu

unsurnya itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya

dilakukan di antara unsur-unsur itu. Tiap unsur gabungan itu dipenggal
seperti pada kata dasar. Misalnya:

• biografi, bio-grafi, bi-o-gra-fi
• biodata, bio-data, bi-o-da-ta
• fotografi, foto-grafi, fo-to-gra-fi
• fotokopi, foto-kopi, fo-to-ko-pi
• introspeksi, intro-speksi, in-tro-spek-si
• introjeksi, intro-jeksi, in-tro-jek-si
• kilogram, kilo-gram, ki-lo-gram
• kilometer, kilo-meter, ki-lo-me-ter
• pascapanen, pasca-panen, pas-ca-pa-nen
• pascasarjana, pasca-sarjana, pas-ca-sar-ja-na
Nama orang yang terdiri atas dua unsur atau lebih pada akhir baris
dipenggal di antara unsur-unsurnya. Misalnya:
• Lagu "Indonesia Raya" digubah oleh Wage Rudolf Supratman.
• Buku Layar Terkembang dikarang oleh Sutan Takdir

Alisjahbana.
Singkatan nama diri dan gelar yang terdiri atas dua huruf atau lebih
tidak dipenggal. Misalnya:

• Ia bekerja di DLLAJR Pujangga terakhir Keraton Surakarta
bergelar R.Ng. Rangga Warsita.

Catatan: Penulisan berikut dihindari.
• Ia bekerja di DLL-AJR.
• Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.Ng. Rangga
Warsita.

6.4.6. Kata Depan
Kata depan, seperti di, ke, dan dari, ditulis terpisah dari kata yang

mengikutinya. Misalnya:
• Di mana dia sekarang?
• Kain itu disimpan di dalam lemari.
• Dia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.

• Mari kita berangkat ke kantor.
• Saya pergi ke sana mencarinya.
• Ia berasal dari Pulau Penyengat.
• Cincin itu terbuat dari emas.

6.4.7. Partikel
Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang

mendahuluinya. Misalnya:
• Bacalah buku itu baik-baik!
• Apakah yang tersirat dalam surat itu?
• Siapakah gerangan dia?
• Apalah gunanya bersedih hati?

Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya:
• Apa pun permasalahan yang muncul, dia dapat mengatasinya
denga bijaksana.
• Jika kita hendak pulang tengah malam pun, kendaraan masih
tersedia.
• Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah
berkunjung ke rumahku.

Catatan: Partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung ditulis
serangkai. Misalnya:

• Meskipun sibuk, dia dapat menyelesaikan tugas tepat pada
waktunya.

• Dia tetap bersemangat walaupun lelah.
• Adapun penyebab kemacetan itu belum diketahui.
• Bagaimanapun pekerjaan itu harus selesai minggu depan.
Partikel per yang berarti 'demi', 'tiap', atau 'mulai' ditulis terpisah dari
kata yang mengikutinya. Misalnya:
• Mereka masuk ke dalam ruang rapat satu per satu.
• Harga kain itu Rp50.000,00 per meter.
• Karyawan itu mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.

6.4.8. Singkatan dan Akronim
Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti

dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan itu. Misalnya:
• A.H. Nasution = Abdul Haris Nasution
• Suman Hs. = Suman Hasibuan
• W.R. Supratman = Wage Rudolf Supratman
• M.B.A. = master of business administration
• M.Si. = magister sains
• S.E. = sarjana ekonomi
• S.Sos. = sarjana sosial
• S.Kom. = sarjana komunikasi
• Sdr. = saudara
• Kol. Darmawati = Kolonel Darmawati

Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama lembaga
pemerintah dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau
organisasi, serta nama dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa
tanda titik. Misalnya:

• NKRI = Negara Kesatuan Republik Indonesia
• UPI = Universitas Pendidikan Indonesia
• PBB = Perserikatan Bangsa-Bangsa
• WHO = World Health Organization
• PGRI = Persatuan Guru Republik Indonesia
Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama
diri ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Misalnya:
• PT = perseroan terbatas
• MAN = madrasah aliah negeri
• SD = sekolah dasar
• KTP = kartu tanda penduduk
• SIM = surat izin mengemudi
• NIP = nomor induk pegawai
Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda
titik. Misalnya:
• hlm. = halaman

• dll. = dan lain-lain
• dsb. = dan sebagainya
• dst. = dan seterusnya
• ybs. = yang bersangkutan
• yth. = yang terhormat
• ttd. = tertanda
• dkk. = dan kawan-kawan
Singkatan yang terdiri atas dua huruf yang lazim dipakai dalam surat-
menyurat masing-masing diikuti oleh tanda titik. Misalnya:
• a.n. = atas nama
• u.p. = untuk perhatian
• s.d. = sampai dengan
Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan
mata uang tidak diikuti tanda titik. Misalnya:
• Cu = kuprum
• cm = sentimeter
• kVA = kilovolt-ampere
• l = liter
• kg = kilogram
• Rp = rupiah
Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis
dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Misalnya:
• BIG = Badan Informasi Geospasial
• BIN = Badan Intelijen Negara
• LIPI = Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
• LAN = Lembaga Administrasi Negara
• PASI = Persatuan Atletik Seluruh Indonesia
Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan
huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
• Bulog = Badan Urusan Logistik
• Bappenas = Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
• Kowani = Kongres Wanita Indonesia

• Kalteng = Kalimantan Tengah
• Suramadu = Surabaya Madura
Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku
kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil. Misalnya:
• iptek = ilmu pengetahuan dan teknologi
• pemilu = pemilihan umum
• puskesmas = pusat kesehatan masyarakat
• rapim = rapat pimpinan
• rudal = peluru kendali
• tilang = bukti pelanggaran

6.4.9. Angka dan Bilangan
Angka Arab atau angka Romawi lazim dipakai sebagai lambang

bilangan atau nomor.
• Angka Arab: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
• Angka Romawi: I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C
(100), D (500), M (1.000), V̄ (5.000), M̄ (1.000.000)

Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata
ditulis dengan huruf, kecuali jika dipakai secara berurutan seperti dalam
perincian. Misalnya:

• Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.
• Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku.
• Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang

tidak setuju, dan 5 orang abstain.
• Kendaraan yang dipesan untuk angkutan umum terdiri atas 50

bus, 100 minibus, dan 250 sedan.
Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Misalnya:

• Lima puluh siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah
daerah.

• Tiga pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.

Catatan: Penulisan berikut dihindari:
• 50 siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.

• 3 pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.
Apabila bilangan pada awal kalimat tidak dapat dinyatakan dengan
satu atau dua kata, susunan kalimatnya diubah. Misalnya:

• Panitia mengundang 250 orang peserta.
• Di lemari itu tersimpan 25 naskah kuno.

Catatan: Penulisan berikut dihindari:
• 250 orang peserta diundang panitia.
• 25 naskah kuno tersimpan di lemari itu.

Angka yang menunjukkan bilangan besar dapat ditulis sebagian
dengan huruf supaya lebih mudah dibaca. Misalnya:

• Dia mendapatkan bantuan 250 juta rupiah untuk
mengembangkan usahanya.

• Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.
• Proyek pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya

Rp10 triliun.
Angka dipakai untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, luas, isi,
dan waktu serta (b) nilai uang. Misalnya:

• 0,5 sentimeter
• 5 kilogram
• 4 hektare
• 10 liter
• 2 tahun 6 bulan 5 hari
• 1 jam 20 menit
• Rp5.000,00
• US$3,50
• £5,10
• ¥100
Angka dipakai untuk menomori alamat, seperti jalan, rumah,
apartemen, atau kamar. Misalnya:
• Jalan Tanah Abang I No. 15 atau
• Jalan Tanah Abang I/15
• Jalan Wijaya No. 14

• Hotel Mahameru, Kamar 169
• Gedung Samudra, Lantai II, Ruang 201
Angka dipakai untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab suci.
Misalnya:
• Bab X, Pasal 5, halaman 252
• Surah Yasin: 9
• Markus 16: 15—16
Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
a) Bilangan Utuh
Misalnya:
• dua belas (12)
• tiga puluh (30)
• lima ribu (5.000)
b) Bilangan Pecahan
Misalnya:
• setengah atau seperdua (1/2)
• seperenam belas (1/16)
• tiga perempat (3/4)
• dua persepuluh (2/10)
• tiga dua-pertiga (3 2/3)
• satu persen (1%)
• satu permil (1o/oo)
Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.
Misalnya:
• abad XX
• abad ke-20
• abad kedua puluh
• Perang Dunia II
• Perang Dunia Ke-2
• Perang Dunia Kedua
Penulisan angka yang mendapat akhiran -an dilakukan dengan cara
berikut. Misalnya:
• lima lembar uang 1.000-an (lima lembar uang seribuan)

• tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)
• uang 5.000-an (uang lima ribuan)
Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan dalam
peraturan perundang-undangan, akta, dan kuitansi. Misalnya:
• Setiap orang yang menyebarkan atau mengedarkan rupiah

tiruan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2),
dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun
dan pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus
juta rupiah).
• Telah diterima uang sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta
sembilan ratus lima puluh ribu rupiah) untuk pembayaran satu
unit televisi.
Penulisan bilangan yang dilambangkan dengan angka dan diikuti huruf
dilakukan seperti berikut. Misalnya:
• Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp900.500,50
(sembilan ratus ribu lima ratus rupiah lima puluh sen).
• Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta
rupiah) ke atas harus dilampirkan pada laporan
pertanggungjawaban.
Bilangan yang digunakan sebagai unsur nama geografi ditulis dengan
huruf. Misalnya:
• Kelapadua
• Kotonanampek
• Rajaampat
• Simpanglima
• Tigaraksa

6.4.10. Kata Ganti ku, kau, mu, nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang

mengikutinya, sedangkan -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata
yang mendahuluinya. Misalnya:

• Rumah itu telah kujual.

• Majalah ini boleh kaubaca.
• Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
• Rumahnya sedang diperbaiki.

6.4.11. Kata Sandang ‘Si’ dan ‘Sang’
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Misalnya:
• Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
• Toko itu memberikan hadiah kepada si pembeli.
• Ibu itu menghadiahi sang suami kemeja batik.
• Sang adik mematuhi nasihat sang kakak.
• Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
• Dalam cerita itu si Buta berhasil menolong kekasihnya.

Catatan: Huruf awal sang ditulis dengan huruf kapital jika sang merupakan
unsur nama Tuhan. Misalnya:

• Kita harus berserah diri kepada Sang Pencipta.
• Pura dibangun oleh umat Hindu untuk memuja Sang Hyang

Widhi Wasa.

6.5. Pemakaian Tanda Baca
6.5.1. Tanda Titik ( . )
Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan. Misalnya:
• Mereka duduk di sana.
• Dia akan datang pada pertemuan itu.
Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan,
ikhtisar, atau daftar. Misalnya:
a. I. Kondisi Kebahasaan di Indonesia
A. Bahasa Indonesia
1. Kedudukan
2. Fungsi
B. Bahasa Daerah
1. Kedudukan

2. Fungsi
C. Bahasa Asing
1. Kedudukan
2. Fungsi
b. 1. Patokan Umum
1.1. Isi Karangan
1.2 Ilustrasi

1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
2. Patokan Khusus
...


Catatan:
(1) Tanda titik tidak dipakai pada angka atau huruf yang sudah bertanda

kurung dalam suatu perincian. Misalnya:
Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai

a. bahasa nasional yang berfungsi, antara lain,
1) lambang kebanggaan nasional,
2) identitas nasional, dan
3) alat pemersatu bangsa;

b. bahasa negara ....
(2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir penomoran digital yang lebih dari
satu angka (seperti pada Misalnya 2b).
(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau angka terakhir dalam
penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel,
bagan, grafik, atau gambar.
Misalnya:

• Tabel 1 Kondisi Kebahasaan di Indonesia
• Tabel 1.1 Kondisi Bahasa Daerah di Indonesia
• Bagan 2 Struktur Organisasi
• Bagan 2.1 Bagian Umum

Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik
yang menunjukkan waktu atau jangka waktu. Misalnya:

• 01.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
• 00.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
• 00.00.30 jam (30 detik)
Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun,
judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan
tempat terbit. Misalnya:
• Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Peta

Bahasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta.
• Moeliono, Anton M. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta:

Gramedia.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya yang menunjukkan jumlah. Misalnya:

• Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau.
• Penduduk kota itu lebih dari 7.000.000 orang.
• Anggaran lembaga itu mencapai Rp225.000.000.000,00.

Catatan:
(1) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah. Misalnya:

• Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
• Kata sila terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat

Bahasa halaman 1305.
• Nomor rekening panitia seminar adalah 0015645678.
(2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala
karangan, ilustrasi, atau tabel. Misalnya:
• Acara Kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
• Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945)
• Gambar 3 Alat Ucap Manusia
• Tabel 5 Sikap Bahasa Generasi Muda Berdasarkan Pendidikan
(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang (a) alamat penerima dan pengirim
surat serta (b) tanggal surat. Misalnya:

Yth. Direktur Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya No. 73
Menteng
Jakarta 10330

21 April 2013
Jakarta, 15 Mei 2013 (tanpa kop surat)

6.5.2. Tanda Koma ( , )
Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian

atau pembilangan. Misalnya:
• Telepon seluler, komputer, atau internet bukan barang asing
lagi.
• Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber kepustakaan.
• Satu, dua, ... tiga!

Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi,
melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara). Misalnya:

• Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.
• Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.
• Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis

panorama.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului
induk kalimatnya. Misalnya:

• Kalau diundang, saya akan datang.
• Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
• Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca

buku.

Catatan: Tanda koma tidak dipakai jika induk kalimat mendahului anak
kalimat. Misalnya:

• Saya akan datang kalau diundang.
• Dia mempunyai banyak teman karena baik hati.

• Kita harus banyak membaca buku agar memiliki wawasan yang
luas.

Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung
antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan
dengan itu, dan meskipun demikian. Misalnya:

• Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia
memperoleh beasiswa belajar di luar negeri.

• Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau
dia menjadi bintang pelajar

• Orang tuanya kurang mampu. Meskipun demikian, anak-
anaknya berhasil menjadi sarjana.

Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya,
wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik,
atau Nak. Misalnya:

• O, begitu?
• Wah, bukan main!
• Hati-hati, ya, jalannya licin!
• Nak, kapan selesai kuliahmu?
• Siapa namamu, Dik?
• Dia baik sekali, Bu.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian
lain dalam kalimat. Misalnya:
Kata nenek saya, "Kita harus berbagi dalam hidup ini."
"Kita harus berbagi dalam hidup ini," kata nenek saya, "karena manusia
adalah makhluk sosial."

Catatan: Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung
yang berupa kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian
lain yang mengikutinya. Misalnya:

• "Di mana Saudara tinggal?" tanya Pak Lurah.
• "Masuk ke dalam kelas sekarang!" perintahnya.
• "Wow, indahnya pantai ini!" seru wisatawan itu.

Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian
alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau
negeri yang ditulis berurutan. Misalnya:

Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis III/18, Kelurahan Kayumanis,
Kecamatan Matraman, Jakarta 13130

Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Salemba
Raya 6, Jakarta
Surabaya, 10 Mei 1960
Tokyo, Jepang

Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik
susunannya dalam daftar pustaka. Misalnya:

• Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta:
Restu Agung.

• Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1.
Jakarta: Pusat Bahasa.

• Tulalessy, D. dkk. 2005. Pengembangan Potensi Wisata Bahari
di Wilayah Indonesia Timur. Ambon: Mutiara Beta.

Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau
catatan akhir. Misalnya:

• Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia,
Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.

• Hadikusuma Hilman, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat
Budaya Indonesia (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12.

• W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-
mengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar
akademis yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama
diri, keluarga, atau marga. Misalnya:

• B. Ratulangi, S.E.
• Ny. Khadijah, M.A.
• Bambang Irawan, M.Hum.
• Siti Aminah, S.H., M.H.

Catatan: Bandingkan Siti Khadijah, M.A. dengan Siti Khadijah M.A. (Siti
Khadijah Mas Agung).

Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan
sen yang dinyatakan dengan angka. Misalnya:

• 12,5 m
• 27,3 kg
• Rp500,50
• Rp750,00
Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau
keterangan aposisi. Misalnya:
• Di daerah kami, misalnya, masih banyak bahan tambang yang

belum diolah.
• Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, harus

mengikuti latihan paduan suara.
• Soekarno, Presiden I RI, merupakan salah seorang pendiri

Gerakan Nonblok.
Tanda koma dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada
awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian. Misalnya:

• Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa
daerah.

• Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.

6.5.3. Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung

untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di
dalam kalimat majemuk. Misalnya:

• Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.
• Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik

membaca cerita pendek.
Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa.
Misalnya:
Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah

(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana S-1;
(3) berbadan sehat; dan
(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian
pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.
Misalnya:

• Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus;
pisang, apel, dan jeruk.

• Agenda rapat ini meliputi
a. pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
b. penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan
program kerja; dan
c. pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.

6.5.4. Tanda Titik Dua ( : )
Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang

diikuti pemerincian atau penjelasan. Misalnya:
• Mereka memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan
lemari.
• Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup
atau mati.

Tanda titik dua tidak dipakai jika perincian atau penjelasan itu
merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan. Misalnya:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Tahap penelitian yang harus dilakukan meliputi:
a. persiapan,
b. pengumpulan data,
c. pengolahan data, dan
d. pelaporan.

Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan
pemerian. Misalnya:

Ketua : Ahmad Wijaya
Sekretaris : Siti Aryani
Bendahara : Aulia Arimbi

Tanda titik dua dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang
menunjukkan pelaku dalam percakapan. Misalnya:
Ibu : "Bawa koper ini, Nak!"
Amir : "Baik, Bu."
Ibu : "Jangan lupa, letakkan baik-baik!"

Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b)
surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan,
serta (d) nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka. Misalnya:

• Horison, XLIII, No. 8/2008: 8
• Surah Albaqarah: 2—5
• Matius 2: 1—3
• Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Nusantara
• Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: Pusat Bahasa.

6.5.5. Tanda Hubung ( - )
Tanda hubung dipakai untuk menandai bagian kata yang terpenggal

oleh pergantian baris. Misalnya:
• Di samping cara lama, diterapkan juga ca-
ra baru ….
• Nelayan pesisir itu berhasil membudidayakan rum-
put laut.

Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang. Misalnya:
• anak-anak
• berulang-ulang
• kemerah-merahan

Tanda hubung dipakai untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun
yang dinyatakan dengan angka atau menyambung huruf dalam kata yang
dieja satu-satu. Misalnya:

• 11-11-2013
• p-a-n-i-t-i-a

Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian kata
atau ungkapan. Misalnya:

• ber-evolusi
• meng-ukur
• dua-puluh-lima ribuan (25 x 1.000)
Tanda hubung dipakai untuk merangkai
a. se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital

(se-Indonesia, se-Jawa Barat);
b. ke- dengan angka (peringkat ke-2);
c. angka dengan –an (tahun 1950-an);
d. kata atau imbuhan dengan singkatan yang berupa huruf kapital

(hari-H, sinar-X, ber-KTP, di-SK-kan);
e. kata dengan kata ganti Tuhan (ciptaan-Nya, atas rahmat-Mu);
f. huruf dan angka (D-3, S-1, S-2); dan
g. kata ganti -ku, -mu, dan -nya dengan singkatan yang berupa

huruf kapital (KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku).

Catatan: Tanda hubung tidak dipakai di antara huruf dan angka jika angka
tersebut melambangkan jumlah huruf. Misalnya:

• BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan
Tenaga Kerja Indonesia)

• LP3I (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi
Indonesia)

• P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan)
Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia
dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing. Misalnya:

• di-sowan-i (bahasa Jawa, 'didatangi')
• ber-pariban (bahasa Batak, 'bersaudara sepupu')
• di-back up
Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi
objek bahasan. Misalnya:
• Kata pasca- berasal dari bahasa Sanskerta.

• Akhiran -isasi pada kata betonisasi sebaiknya diubah menjadi
pembetonan.

6.5.6. Tanda Pisah ( — )
Tanda pisah dapat dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau

kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat. Misalnya:
• Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai—
diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
• Keberhasilan itu—kita sependapat—dapat dicapai jika kita mau
berusaha keras.

Tanda pisah dapat dipakai juga untuk menegaskan adanya keterangan
aposisi atau keterangan yang lain. Misalnya:

• Soekarno-Hatta—Proklamator Kemerdekaan RI—diabadikan
menjadi nama bandar udara internasional.

• Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia—amanat Sumpah
Pemuda—harus terus digelorakan.

Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang
berarti 'sampai dengan' atau 'sampai ke'. Misalnya:

• Tahun 2010—2013
• Tanggal 5—10 April 2013
• Jakarta—Bandung

6.5.7. Tanda Tanya ( ? )
Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya. Misalnya:
• Kapan Hari Pendidikan Nasional diperingati?
• Siapa pencipta lagu "Indonesia Raya"?
Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian

kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan
kebenarannya. Misalnya:

• Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).
• Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.

6.5.8. Tanda Seru ( ! )

Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang
berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan,
ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat. Misalnya:

• Alangkah indahnya taman laut di Bunaken!
• Mari kita dukung Gerakan Cinta Bahasa Indonesia!
• Bayarlah pajak tepat pada waktunya!

6.5.9. Tanda Elipsis ( . . . )
Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat

atau kutipan ada bagian yang dihilangkan. Misalnya:
• Penyebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
• Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa
negara ialah ......., lain lubuk lain ikannya.

Catatan:
(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2) Tanda elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik
empat buah).

Tanda elipsis dipakai untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam
dialog. Misalnya:

• "Menurut saya ... seperti ... bagaimana, Bu?"
• "Jadi, simpulannya ... oh, sudah saatnya istirahat."

Catatan:
(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2) Tanda elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik
empat buah).

6.5.10. Tanda Petik (“ . . . “)
Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari

pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Misalnya:
• "Merdeka atau mati!" seru Bung Tomo dalam pidatonya.

• "Kerjakan tugas ini sekarang!" perintah atasannya. "Besok akan
dibahas dalam rapat."

Tanda petik dipakai untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron,
artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Misalnya:

• Sajak "Pahlawanku" terdapat pada halaman 125 buku itu.
• Marilah kita menyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"!
• Film "Ainun dan Habibie" merupakan kisah nyata yang

diangkat dari sebuah novel.
Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal
atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya:

• "Tetikus" komputer ini sudah tidak berfungsi.
• Dilarang memberikan "amplop" kepada petugas!

6.5.11. Tanda Petik Tunggal (‘ . . . ‘)

Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat

dalam petikan lain. Misalnya:

• Tanya dia, "Kaudengar bunyi 'kring-kring' tadi?"

• "Kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang!', dan rasa letihku

lenyap seketika,"ujar Pak Hamdan.

• "Kita bangga karena lagu 'Indonesia Raya' berkumandang di

arena olimpiade itu," kata Ketua KONI.

Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, atau

penjelasan kata atau ungkapan. Misalnya:

• tergugat 'yang digugat'

• retina 'dinding mata sebelah dalam'

• noken 'tas khas Papua'

• tadulako 'panglima'

• marsiadap ari 'saling bantu'

6.5.12. Tanda Kurung ( ( . . . ) )
Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau

penjelasan. Misalnya:
• Dia memperpanjang surat izin mengemudi (SIM).

• Warga baru itu belum memiliki KTP (kartu tanda penduduk).
• Lokakarya (workshop) itu diadakan di Manado.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang
bukan bagian utama kalimat. Misalnya:
• Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang

terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
• Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus

perkembangan baru pasar dalam negeri.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang
keberadaannya di dalam teks dapat dimunculkan atau dihilangkan.
Misalnya:

• Dia berangkat ke kantor selalu menaiki (bus) Transjakarta.
• Pesepak bola kenamaan itu berasal dari (Kota) Padang.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau angka yang
digunakan sebagai penanda pemerincian. Misalnya:
• Faktor produksi menyangkut (a) bahan baku, (b) biaya

produksi, dan (c) tenaga kerja.
• Dia harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan

(1) akta kelahiran,
(2) ijazah terakhir, dan
(3) surat keterangan kesehatan.

6.5.13. Tanda Kurung Siku ( [ . . . ] )
Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok

kata sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan di
dalam naskah asli yang ditulis orang lain. Misalnya:

• Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
• Penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus sesuai [dengan]

kaidah bahasa Indonesia.
• Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indonesia

dirayakan secara khidmat.
Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat
penjelas yang terdapat dalam tanda kurung. Misalnya:

Persamaan kedua proses itu (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab
II [lihat halaman 35-38]) perlu dibentangkan di sini.

6.5.14. Tanda Garis Miring ( / )
Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat, nomor pada alamat,

dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya:

• Nomor: 7/PK/II/2013
• Jalan Kramat III/10
• tahun ajaran 2012/2013
Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, serta
setiap. Misalnya:
• mahasiswa/mahasiswi = 'mahasiswa dan mahasiswi'
• dikirimkan lewat darat/laut = 'dikirimkan lewat darat atau lewat

laut'
• buku dan/atau majalah = 'buku dan majalah atau buku atau

majalah'
• harganya Rp1.500,00/lembar = 'harganya Rp1.500,00 setiap

lembar'
Tanda garis miring dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok
kata sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di
dalam naskah asli yang ditulis orang lain. Misalnya:

• Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak beberapa
kali.

• Asmara/n/dana merupakan salah satu tembang macapat budaya
Jawa.

• Dia sedang menyelesaikan /h/utangnya di bank.

6.5.15. Tanda Apostrof ( ' )
Tanda penyingkat atau apostrof dipakai untuk menunjukkan

penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun dalam konteks tertentu.
Misalnya:

• Dia 'kan kusurati. ('kan = akan)

• Mereka sudah datang, 'kan? ('kan = bukan)
• Malam 'lah tiba. ('lah = telah)
• 5-2-'13 ('13 = 2013)

BAB VII
DIKSI
7. Diksi
7.1. Pengertian Diksi
Menurut Enre (1988: 101) diksi atau pilihan kata adalah penggunaan kata-kata
secara tepat untuk mewakili pikiran dan perasaan yang ingin dinyatakan dalam
pola suatu kalimat.
Pendapat lain dikemukakan oleh Widyamartaya (1990: 45) yang menjelaskan
bahwa diksi atau pilihan kata adalah kemampuan seseorang membedakan secara
tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikannya,
dan kemampuan tersebut hendaknya disesuaikan dengan situasi dan nilai rasa
yang dimiliki sekelompok masyarakat dan pendengar atau pembaca. Diksi atau
pilihan kata selalu mengandung ketepatan makna dan kesesuaian situasi dan nilai
rasa yang ada pada pembaca atau pendengar.
Pendapat lain dikemukakan oleh Keraf (1996: 24) yang menurunkan tiga
kesimpulan utama mengenai diksi, antara lain sebagai berikut:
a. Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana
yang dipakai untuk menyampaikan gagasan, bagaimana
membentuk pengelompokkan kata-kata yang tepat.
b. Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara
tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin
disampaikan dan kemampuan menemukan bentuk yang sesuai
atau cocok dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki
kelompok masyarakat pendengar.
c. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan
penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata
bahasa.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa diksi adalah pemilihan
dan pemakaian kata oleh pengarang dengan mempertimbangkan aspek makna kata

yaitu makna denotatif dan makna konotatif sebab sebuah kata dapat menimbulkan
berbagai pengertian.
7.2. Kedudukan dan Fungsi Diksi

Fungsi dari diksi antara lain:
• Membuat pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak salah
paham terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau penulis.
• Untuk mencapai target komunikasi yang efektif.
• Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.
• Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak
resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.

7.3. Ketepatan dan Kesesuaian Kata
Ketepatan adalah kemampuan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan

yang sama pada imajinasi pendengar, seperti yang dipikirkan atau dirasakan oleh
pembicara, maka setiap pembicara harus berusaha secermat mungkin meilih kata-
katanya untuk mencapai maksud pembicaraan.

Ketepatan diksi akan tampak pada reaksi selanjutnya, baik berupa aksi verbal
maupun berupa aksi nonverbal dari pembicara atau pendengar. Ketepatan diksi tidak
akan menimbulkan salah paham. Jadi, ketika berbicara siswa harus cermat dalam
memilih kata untuk mencapai maksud dari apa yang dibicarakan. “Penulis yang baik
dituntut mampu memberdayakan diksi secara cermat, agar gagasan dalam tulisanya
dapat diterima pembacanya dengan jenih” Wibowo 2005:37.

Seperti halnya pembicara, pembicara harus memiliki kemampuan
memberdayakan diksi secara cermat dan tepat, agar gagasan yang disampaikan
bisa menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pendengar. Seorang
pembicara tidak memiliki banyak waktu untuk memilih dan mempertimbangkan
penggunaan katanya Doyin dan Wagiran 2009:45, sehingga pembicara harus
memiliki keterampilan dalam pemilihan kata dan harus menguasai diksi, agar ketika
berbicara tidak mengalami kesulitan dalam pemilihan kata Diksi atau pilihan kata
hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Kata-kata yang dipilih hendaknya kata-kata
yang konkret, sehingga tidak mengundang pertanyaan dari pendengar. Pilihan kata
atau diksi harus disesuaikan dengan pokok pembicaraan dan pendengar.

7.4. Perubahan Makna
7.4.1. Denotasi

Denotasi adalah konsep dasar yang didukung oleh suatu kata (makna
itu menunjuk pada konsep, referen, atau ide). Denotasi juga merupakan
batasan kamus atau definisi utama suatu kata, sebagai lawan dari pada
konotasi atau makna yang ada kaitannya dengan itu. Denotasi mengacu
pada makna yang sebenarnya.
Contoh makna denotasi:

• Rumah itu luasnya 250 meter persegi.
• Ada seribu orang yang menghadiri pertemuan itu.

7.4.2. Konotasi
Konotasi adalah suatu jenis makna kata yang mengandung arti

tambahan, imajinasi atau nilai rasa tertentu. Konotasi merupakan kesan-
kesan atau asosiasi-asosiasi, dan biasanya bersifat emosional yang
ditimbulkan oleh sebuah kata di samping batasan kamus atau definisi
utamanya. Konotasi mengacu pada makna kias atau makna bukan
sebenarnya. Contoh makna konotasi:

• Rumah itu luas sekali.
• Banyak sekali orang yang menghadiri pertemuan itu.

7.4.3. Sinonim
Sinonim adalah suatu kata yang memiliki bentuk yang berbeda namun

memiliki arti atau pengertian yang sama atau mirip. Sinomin bisa disebut
juga dengan persamaan kata atau padanan kata.
Contoh:

• binatang = fauna
• bohong = dusta
• haus = dahaga
• pakaian = baju
• bertemu = berjumpa

7.4.4. Antonim
Antonim adalah suatu kata yang artinya berlawanan satu sama lain.

Antonim disebut juga dengan lawan kata.

Contoh:
• keras x lembek
• naik x turun
• kaya x miskin
• surga x neraka
• laki-laki x perempuan
• atas x bawah

7.4.5. Idiomatik
Idiomatik ialah konstruksi yang khas pada suatu bahasa yang salah satu

unsurnya tidak dapat dihilangkan atau diganti (Arifin dan Tasai, 2009: 503).
Lain halnya dengan Keraf (2008: 109), ia menyatakan bahwa idiom adalah
pola-pola structural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum,
biasanya berbentuk frasa, sedangkan artinya tidak bisa dijelaskan secara logis
atau secara gramatikal, dengan bertumpu pada makna kata-kata yang
membentuknya. Ungkapan yang bersifat idiomatic terdiri atas dua atau tiga
kata yang dapat memperkuat diksi di dalam ungkapan ataupun tulisan.
Contoh:

• Terdiri dari/atas
• Sehubungan dengan
• Sesuai dengan
• Disebabkan oleh
• Berharap akan
• Panjang tangan
• Makan garam
• Buah bibir

7.4.6. Homonim
Homonim adalah dua kata atau lebih yang tulisan dan lafalnya sama

tetapi artinya berbeda.
Contoh :

• Kami akan mengadapakan rapat bulanan hari ini.
rapat = pertemuan

• Tanaman itu tidak boleh ditanam terlalu rapat karena bisa
menghambat pertumbuhannya.
rapat = tidak renggang

genting = atap
genting = gawat

utara = arah mata angin
utara = mengemukakan

7.4.7. Homofon
Homofon adalah dua kata atau lebih yang lafalnya sama tetapi tulisan

dan artinya berbeda.
Contoh :

• Kami merasa lebih aman bila menyimpan uang di bank.
bank = lembaga penyimpanan uang

• Bang Andi menjadi direktur di salah satu perusahaan ternama.
bang = kakak/ saudara laki-laki

sangsi = ragu
sanksi = hukuman

rok = jenis pakaian perempuan
rock = jenis aliran music

7.4.8. Homograf
Homograf adalah dua kata atau lebih yang tulisannya sama tetapi lafal

dan artinya berbeda
Contoh :

• Banyak pejabat teras yang menyalahgunakan kedudukannya
teras : pejabat inti.

• Teras rumahnya kini penuh dengan bunga.
teras : bagian halaman

• apel = buah apel
apel = upacara

• mental = keadaan kejiwaan seseorang
mental = terpelanting atau terlempar

7.5. Kata Abstrak dan Kata Konkret
Kata abstrak adalah kata yang mempunyai referen berupa konsep, kata abstrak

sukar digambarkan karena referensinya tidak dapat diserap dengan pancaindera
manusia. Kata-kata abstrak merujuk kepada kualitas (panas, dingin, baik, buruk),
pertalian (kuantitas, jumlah, tingkatan), dan pemikiran (kecurigaan, penetapan,
kepercayaan). Kata-kata abstrak sering dipakai untuk menjelaskan pikiran yang
bersifat teknis dan khusus.

Kata konkret adalah kata yang menunjuk pada sesuatu yang dapat dilihat atau
diindera secara langsung oleh satu atau lebih dari pancaindera. Kata-kata konkret
menunjuk kepada barang yang actual dan spesifik dalam pengalaman. Kata
konkret digunakan untuk menyajikan gambaran yang hidup dalam pikiran
pembaca melebihi kata-kata yang lain. Contoh kata konkret: meja, kursi, rumah,
mobil dsb.

7.6. Kata Umum dan Kata Khusus
Kata umum adalah kata yang mempunyai cakupan ruang lingkup yang luas,

kata-kata umum menunjuk kepada banyak hal, kepada himpunan, dan kepada
keseluruhan. Contoh kata umum: binatang, tumbuh-tumbuhan, penjahat,
kendaraan.

Kata khusus adalah kata-kata yang mengacu kepada pengarahanpengarahan
yang khusus dan konkrit. Kata khusus memperlihatkan kepada objek yang khusus.
Contoh kata khusus: Yamaha, nokia, kerapu, kakak tua, sedan.

7.7. Kelas Kata
7.7.1. Kata Kerja (Verba)
Verba dapat dikenali dari:

a. Morfologis
b. Sintaksis
c. Perilaku semantic dari keseluruhan kalimat. Selain itu, verba dapat

didampingi dengan kata tidak.
Berdasarkan morfologis, verba dibedakan menjadi:
a. Verba dasar (tanpa imbuhan), misalnya: jalan, tiba, pergi, minum
b. Verba turunan

▪ Verba dasar + imbuhan (wajib), misalnya: melangkahi,
memasak

▪ Verba dasar = afiks (tidak wajib), misalnya: (me) makan
▪ Verba dasar (terikat imbuhan) = imbuhan (wajib), misalnya

menyanyi, berjumpa
▪ Bentuk ulang, misalnya: makan-makan, berleha-leha
▪ Majemuk, misalnya: gulung tikar

7.7.2. Kata Sifat (Adjektiva)
Adjektiva dapat ditandai dengan adanya kata lebih, sangat, agak, dan

paling. Berdasarkan bentuknya, adjektiva dibedakan menjadi:
a. Adjektiva dasar, misalnya: jahat, marah, sabar;
b. Adjektiva turunan, misalnya: benar-benar, alami;
c. Adjektiva frasa, misalnya: kecil hati, tebal muka, besar hati
(subordinatif) dan adil sejahtera, murah sandang pangan
(koordinatif).

7.7.3. Kata Benda (Nomina)
Nomina atau kata benda dapat dibedakan berdasarkan bentuknya

(nomina dasar dan nomina turunan) dan berdasarkan subkategori (nomina
bernyawa, tidak bernyawa, nomina terbilang, dan tidak terbilang).
Contoh:
• Nomina dasar: batu, manusia, air
• Nomina turunan: pengarang, penguji, pelari, peperangan, bacaan
• Nomina bernyawa: orang, kucing, kecoa
• Nomina tidak bernyawa: pasir, tanah, motor


Click to View FlipBook Version