• Nomina terbilang: dua keluarga, satu kelompok, seribu sapi
• Nomina tidak terbilang: air hujan, semesta, angin
7.7.4. Kata Ganti (Pronomina)
Pronomina atau kata ganti adalah kata yang dipakai untuk mengacu ke
nomina lain dan berfungsi untuk menggantikan nomina. Ada tiga macam
pronominal, yaitu:
a. Pronomina persona (mengacu kepada orang pertama, orang kedua, dan
orang ketiga baik tunggal maupun jamak)
• Pronomina persona pertama tunggal: saya, aku, daku
• Pronomina persona kedua tunggal: engkau, kamu, Anda, kau, -mu
• Pronomina persona ketiga tunggal: ia, dia, beliau, -nya
• Pronomina persona pertama jamak: kami
• Pronomina persona kedua jamak: kalian, kamu sekalian, Anda
sekalian, kamu semua
• Pronomina persona ketiga jamak: mereka
b. Pronomina penunjuk (umum dan tempat)
• Pronomina penunjuk umum: ialah, ini, itu
• Pronomina penunjuk tempat: sini, situ, sana
c. Pronomina penanya (orang, barang, pilihan)
Pronomina penanya: siapa, apa, mengaa, dengan apa, mana, di mana, ke
mana, dari mana, bagaimana, bilamana.
7.7.5. Kata Bilangan (Numeralia)
Numeralia atau kata bilangan dapat diklasifikasikan berdasarkan
subkategori, yaitu takrif (tertentu) dan tak takrif (tak tentu).
a. Numerelia takrif terdiri atas:
• Numerelia pokok ditandai dengan jumlah berapa? Satu, dua, tiga,
dan seterusnya.
• Numerelia tingkat ditandai dengan jawaban yang ke berapa?
Kesatu, kedua, dan seterusnya.
• Numerelia kolektif ditandai dengan satuan bilangan dosis, gross,
kodi, meter, rupiah, dolar.
b. Numerelia tak takrif misalnya beberapa, segenap, seluruh.
7.7.6. Kata Keterangan Kata Sifat (Adverbia)
Adverbia atau kata keterangan adalah kata yang memberikan
keterangan pada verba, adjektiva, nomina, predikatif, atau kalimat.
Berdasarkan bentuknya, adverbia mempunyai bentuk tunggal dan bentuk
jamak.
Contoh:
• Bentuk tunggal:
Sapto sangat terampil.
Ia hanya bisa memperbaiki radio, tidak untuk yang lainnya.
• Bentuk jamak:
Hujan turun dengan lebatnya jangan-jangan akan terjadi banjir.
Kemerdekaan tidak selalu menjamin adanya kesejahteraan.
7.7.7. Kata Tanya (Interogativa)
Interogativa atau kata tanya berfungsi sebagai pengganti sesuatu yang
akan diketahui oleh pembicara atau mengukuhkan sesuatu yang telah
diketahui. Kata yang digunakan dalam interogativa, antara lain, apa, siapa,
berapa, di mana, bagaimana, mengapa, dan kapan.
Contoh:
• Apa kau masih perlu uang?
• Mengapa politik Indonesia selalu gaduh?
• Kapan musim hujan akan berhenti?
7.7.8. Kata Depan (Preposisi)
Preposisi adalah kata yang terletak di depan kata lain sehingga
berbentuk frasa atau kelompok kata atau sering disebut dengan kata depan.
Preposisi mempunyai dua bentuk, yaitu:
a. Preposisi dasar (di, ke, dari, demi, pada, untuk).
b. Preposisi turunan (di atas, di bawah, di samping, di kanan, ke depan, dan
kepada)
Contoh:
• Dai sawah turun ke kali, dari mata turun ke hati.
• Di antara jarak jauh yang memisahkan, pasangan itu terus menjaga
kepercayaan.
7.7.9. Kata Penghubung (Konjungsi)
Konjungsi atau kata hubung berfungsi untuk menghubungkan bagian-
bagian kalimat atau kalimat satu dengan kalimat yang lain dalam satu
wacana. Ada dua jenis konjungsi:
a. Konjungsi intrakalimat: sampai, atau, dan, sedangkan, tetapi,
supaya.
Contoh:
• Ia sampai di Surabaya pukul 6 pagi.
• Ia mau pergi pagi itu, tetapi hujan tiba-tiba turun.
b. Konjungsi ekstrakalimat: meskipun, sekalipun, sementara itu, oleh
karena itu, dengan kata lain, walaupun demikian.
Contoh:
Jokowi didukung beberapa partai dalam pencalonannya
menjadi presiden Indonesia. Jokowi memang tergabung dalam
partai. Namun bukan pemimpin partai. Toh, akhirnya beliau
berhasil menduduki tampuk. Dengan kata lain, seorang presiden
tidak selalu berasal dari ketua partai.
7.7.10. Kata Seru (Interjeksi)
Interjeksi atau kata seru adalah kata tugas yang mengungkapkan rasa
hati pembicara. Untuk memperkuat rasa hati seperti rasa kagum, sedih,
heran, dan jijik, orang memakai kata tertentu di samping kalimat yang
mengandung maksud pokok. Di bawah ini diberikan beberapa jenis
interjeksi dan contohnya.
a. Interjeksi kejijikan : bah, cih, cis, ih, idih (idiih)
Contoh:
• Bah, segera kau keluar dari kamar ini juga!
• Cih, tidak tahu malu ! Maunya ditraktir orang melulu!
• Cis, gua muak lihat muka lu ! Dasar cowok enggak tau diri!
• Ih, mulutmu bau amat, sih! Nggak pernah disikat, 'kali!
• Idih, WC-nya bau pesing banget ! Jijik, ah!
b. Interjeksi kekesalan atau kecewa: brengsek, sialan, buset (busyet) ,
keparat, celaka
Contoh:
• Brengsek, disuruh ngebantuin malah ngomel!
• Sialan, baru mau tidur sudah dibangunin!
• Buset, aku dimarahi guru gara-gara kamu!
• Keparat, dompet saya kecopetan di pasar!
• Celaka, kopornya ketinggalan di lobi bandara!
c. Interjeksi kekaguman atau kepuasan: aduh (duh), aduhai, amboi,
asyik, wah
Contoh:
• Aduh, cantik sekali kamu malam ini!
• Aduhai, indah sekali pemandangan di sini!
• Amboi, akhirnya sampai juga kita dengan selamat!
• Asyik, nikmatnya kita duduk-duduk di pantai yang sepi ini.
• Wah, goyang dangdut penyanyi itu benar-benar seksi!
d. Interjeksi kesyukuran: syukur, alhamdulillah, untung
Contoh:
• Syukur, kamu dapat diterima pada perusahaan itu!
• Alhamdulillah, keluarga saya luput dari kecelakaan itu.
• Untung, waktu terjadi kerusuhan itu toko kami tidak
dijarah.
e. Interjeksi harapan : insya Allah, mudah-mudahan, semoga
Contoh:
• Insya Allah, saya akan datang ke pesta pernikahanmu!
• Mudah-mudahan Anda tiba dengan selamat di tanah air!
• Semoga cita-citamu lekas tercapai!
f. Interjeksi keheranan : aduh, aih, ai, lo, duilah, eh, oh, ah
Contoh:
• Aduh, kamu kok suka gonta ganti pacar!
• Aih, kurus amat kamu sekarang ini ! Lagi diet?
• Ai, tasnya keren banget! Merek apa, sih?
• Lo, masa nggak kenal lagi! Kamu 'kan teman sekolahku di
SMP.
• Duilah, begitu saja kamu tidak bisa!
• Eh, aku heran dia bisa lulus ujian. Pada hal jarang belajar!
• Oh, saya baru tahu kalau kamu sudah menikah
• Ah, saya tidak kira kalau kamu pandai bahasa Korea.
g. Interjekasi kekagetan: astaga, astagafirullah, masyaallah, masa,
alamak, gila (gile)
Contoh:
• Astaga, mahal amat baju ini! Nggak sanggup beli, deh!
• Astagafirullah, seluruh keluarganya dibantai perampok?
• Masyallah, pamanmu punya bini muda lagi?
• Masa, si Ria udah hamil? Kan dianya belon menikah.
• Alamak, dandanan cewek-cewek bachiguro itu serem
banget!
• Gile, dia bisa abisin bir selusin sendirian tapi nggak mabuk!
h. Interjeksi ajakan : ayo, yuk, mari
Contoh :
• Ayo, siapa mau ikut minum-minum ke kedai minum?
• Yuk, kita pergi barengan ke Shibuya!
• Mari, dicoba kuenya. Jangan malu-malu!
i. Interjeksi panggilan : hai, he, hei, eh, halo (alo)
Contoh :
• Hai, kapan kamu datang dari Tokyo?
• He, di mana si Alya tinggal sekarang?
• Hei, tolong beliin gua rokok sebungkus!
• Eh, mau ikut nggak ngedugem malam ini!
• Halo, apa kabar, sayang!
j. Interjeksi marah atau makian: goblok, tolol, anjing, sontoloyo
Contoh:
• Goblok, sudah diajarin juga nggak ngerti-ngerti.
• Tolol, kopinya bukan diisi gula tapi garam!
• Anjing, berani-beranian colek pantat gua!
• Sontoloyo, kerjaan segampang ini nggak becus!
BAB VIII
FRASA
8. Frasa
8.1. Pengertian Frasa
Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif,
misalnya, hidup sehat, pergi jauh, nasi goreng, dewan perwakilan daerah, dan
sebagainya.
8.2. Kedudukan dan Fungsi Frasa
Kedudukan frasa dalam sebuah kalimat adalah sebagai pengisi fungsi
sintaksis, yaitu subjek, objek, pelengkap, dan keterangan dalam kalimat.
Inilah sebabnya frasa bersifat nonpredikatif.
Fungsi dari frasa adalah untuk membedakan jenis-jenis kalimat
8.3.Ragam Frasa
8.3.1. Frasa Verbal
Frasa verbal adalah kelompok kata yang dibentuk oleh kata kerja. Ada
tiga jenis frasa verbal, yaitu sebagai berikut:
a. Frasa verbal modifikatif (pewatas), terdiri dari:
• Pewatas depan
Harga saham pasti turun setelah ada kabar bom.
• Pewatas belakang
Badannya bergetar keras sebelum meninggal.
b. Frasa verbal koordinatif adalah dua verba yang disatukan oleh kata
penghubung dan atau atau.
Contoh: Kemungkinannya proyek jalan raya terus berlanjut dan
selesai.
c. Frasa verbal apositif adalah keterangan yang ditambahkan atau
diselipkan di tengah kalimat yang diapit dua tanda koma.
Contoh: Sutandyo, ahli sosiologi hukum, meninggal ketika sedang
mengadakan kuliah tamu di Semarang.
8.3.2. Frasa Adjektival
Frasa adjektival adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata sifat
atau kata keadaan sebagai inti (yang diterangkan) dengan menambahkan kata
lain yang berfungsi menerangkan.
Contoh: agak senang, senang sekali, paling sulit, terlalu pandai, sial sekali
Ada tiga jenis frasa adjektival, yaitu:
a. Frasa adjektival modifikatif (membatasi), misalnya sehat sekali, aman
sekali.
b. Frasa adjektival koordinatif (menggabungkan), misalnya aman terkendali.
c. Frasa adjektival apositif (keterangan tambahan pada unsur kalimat)
misalnya, pandai, tekun dan rajin; selamat dunia dan akherat.
8.3.3. Frasa Adverbial
Frasa adverbial adalah kelompok kata yang dibentuk oleh keterangan
kata sifat. Ada dua jenis frasa adverbial, yaitu:
a. Frasa adverbial modifikatif, misalnya, sangat sulit, paling jauh, dan
sebagainya.
b. Frasa adverbial koordinatif, misalnya, lebih kurang, banyak
tidaknya, dan sebagainya.
8.3.4. Frasa Pronomial
Frasa pronomial adalah frasa yang dibentuk dengan kata ganti. Ada
tiga jenis frasa pronomial, yaitu:
a. Frasa pronomial modifikatif, misalnya, mereka semua, kalian
semua, kita semua, dan sebagainya.
b. Frasa pronomial koordinatif, misalnya, aku dan kau, kami dan
kalian, dan sebagainya.
c. Frasa pronomial apositif, misalnya, Kalian, para mahasiswa, ….
8.3.5. Frasa Numeralia
Frasa numerelia adalah kelompok kata yang dibentuk oleh kata
bilangan. Ada dua jenis frasa numeralia, yaitu:
a. Frasa numeralia modifikatif, misalnya, seekor kucing, sepuluh
tahun, dan sebagainya.
b. Frasa numeralia koordinatif, misalnya, empat atau lima anggota,
dan sebagainya.
8.3.6. Frasa Interogativa Koordinatif
Frasa interogativa koordinatif adalah frasa yang berintikan pada kata
tanya.
Contoh:
Pertanyaan siapa dan di mana yang diajukan orang di angkutan kepadaku
itu mencurigakan.
8.3.7. Frasa Demonstrativa Koordinatif
Frasa demonstrativa koordinatif dibentuk oleh dua kata yang tidak
saling menerangkan.
Contoh:
Perjalanan saya ke sana dan ke mari membuahkan hasil yang baik.
8.3.8. Frasa Proposisional Koordinatif
Frasa proposisional koordinatif dibentuk dengan kata depan dan tidak
saling menerangkan.
Contoh:
Perjalanan saya dari dan ke Subang memerlukan waktu lima jam.
8.3.9. Frasa Nominal
Frasa nominal adalah kelompok kata benda yang dibentuk dengan
memperluas sebuah kata benda ke kiri dan ke kanan. Perluasan ke kiri
berfungsi menggolongkan, misalnya dua buah apel, seorang sahabat,
beberapa ekor ikan. Adapun perluasan ke kanan sesudah kata benda
berfungsi membatasi, misalnya, apel dua buah, sahabat seorang, ikan
beberapa ekor.
Ada tiga jenis frasa nominal, yaitu:
a. Frasa nominal modifikatif, misalnya, aktivis sosial, pemuda masjid.
b. Frasa nominal koordinatif (tidak saling menerangkan), misalnya,
media sosial, lahir batin.
c. Frasa nominal apositif, misalnya, Soekarno, sang proklamator itu,
….
BAB IX
DEFINISI ISTILAH
9. Definisi Istilah
9.1. Pengertian Definisi Istilah
Menurut Kridalaksana dalam Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia
(1999) menyebutkan kalimat yaitu satuan gagasan yang relatif berdiri sendiri,
dilengkapi intonasi final, dan terdiri dari klausa.
Hasan Alwi, dan teman-teman dalam Tata Bahasa Baku Indonesia (2000)
mengatakan bahwa kalimat merupakan satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan
atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Salah satu jenis kalimat
adalah kalimat definisi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi adalah kalimat yang
mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses,
atau aktivitas.
Sehingga kalimat definisi adalah rangkaian kata yang bertujuan menjelaskan
baik arti maupun makna suatu obyek.
9.2. Kedudukan dan Fungsi
Kalimat definisi ini dapat membantu pembacanya untuk mengetahui atau
memahami istilah-istilah yang sering muncul dalam sebuah tulisan.
9.3. Jenis Definisi Istilah
9.3.1. Definisi Nominal
Berdasarkan situs Stanford Encyclopedia of Philosophy, definisi
nominal adalah definisi yang menjelaskan arti suatu istilah yang berisi
informasi cukup untuk memberikan pemahaman tentang istilah tersebut.
Definisi nominal merupakan definisi yang sederhana karena bisa
berupa penjelasan sinonim suatu istilah saja. Misalnya:
• Atlet adalah olahragawan
• Seruling adalah alat musik tiup
• Amfibi adalah hewan yang hidup di darat dan di air
9.3.2. Definisi Formal
Kalimat definisi formal berisi kalimat penjelasan yang dusun
berdasarkan logika yang dapat diterima karena sesuai dengan yang berlaku
di masyarakat.
Kalimat definisi formal disebut juga dengan definisi terminologis
yang tidak mengandung perumpanan dan memiliki dua makna atau
menggabungkan dua frasa. Contohnya:
• Manusia merupakan makhluk hidup yang paling pintar
karena memiliki akal.
• Geologi berasal dari bahasa Yunani “geo” yang artinya
bumi dan “logos” yang artinya alasan.
• Kepramukaan adalah kegiatan di luar sekolah yang
bertujuan membentuk karakter unggul siswa.
9.3.3. Definisi Operasional
Definisi operasional yakni kalimat definisi yang berisi pedoman
untuk melakukan sesuatu. Kalimat definisi operasional merupakan kalimat
berisi petunjuk untuk melakukan sesuatu. Contohnya:
• Kocok terlebih dahulu sebelum diminum.
• Penelitian harus dilakukan dengan pengambilan sampel acak
setiap populasi yang sama variannya.
• Kaleng tersebut harus disimpan di tempat sejuk karena gas di
dalamnya bisa meledak jika terkena panas.
9.3.4. Definisi Paradigmatis
Menurut Pamela S. Maykut dan Richard Morehouse dalam
Beginning Qualitative Research: A Philosophic and Practical Guide
(1994), paradigma adalah seperangkat asumsi yang menyeluruh dan saling
berhubungan tentang sifat realitas.
Sehingga kalimat definisi paradigmatis adalah kalimat yang bersisi
nilai-nilai yang dipandang seseorang dan bertujuan untuk memengaruhi
pembacanya. Misalnya:
• Buku tesebut ditulis dengan sangat kreatif sehingga
menarik untuk dibaca.
• Tidak baik bagi anak perempuan untuk keluar malam
karena banyak bahaya saat malam.
9.3.5. Definisi Luas
Kalimat definisi luas merupakan kalimat yang menjelaskan suatu
objek secara umum dan dapat diterima oleh masyarakat luas. Kalimat
definisi luas biasanya bersisi fakta yang singkat, pada, jelas, dan aktual.
Contohnya:
• Kerangka tubuh manusia tersusun dari 206 tulang dengan
bentuk dan fungsi yang berbeda-beda.
• Diabetes adalah penyakit yang ditimbulkan akibat terlalu
banyak mengonsumsi gula.
BAB X
KLAUSA
10. Klausa
10.1. Pengertian Klausa
Klausa adalah kelompok kata yang berpotensi menjadi kalimat. Klausa
sering terjadi dalam kalimat majemuk.
10.2. Kedudukan dan Fungsi
Klausa memiliki kedudukan dan fungsi, antara lain:
• Klausa menduduki fungsi subjek
• Klausa menduduki fungsi objek
• Klausa keterangan
• Klausa pelengkap
10.3. Jenis Klausa
10.3.1. Klausa Kalimat Majemuk Setara
Klausa kalimat majemuk setara adalah klausa yang ada di dalam
kalimat majemuk setara (koordinatif). Artinya, masing-masing klausa di
dalam kalimat tersebut memiliki kedudukan yang sama. Kalimat majemuk
setara (koordinatif) dibangun dengan dua klausa atau lebih yang saling
tidak menerangkan.
Contoh:
• Kakak berjalan ke utara lalu ke selatan.
• Ia naik sepeda, tetapi adiknya berjalan.
• Ia di sebelah kiri, dan ibunya di sebelah kanan.
• Ia memancing di kolam atau di sungai.
10.3.2. Klausa Kalimat Majemuk Bertingkat
Klausa kalimat majemuk bertingkat adalah klausa yang ada di
dalam kalimat majemuk bertingkat (subordinatif). Artinya, setiap kalimat
di dalam kalimat tersebut memiliki kedudukan yang berbeda, kalimat yang
satu berposisi sebagai induk kalimat dan klausa yang lain berposisi sebagai
anak kalimat. Kalimat majemuk bertingkat dibangun dengan klausa yang
berfungsi untuk menerangkan klausa yang lain.
Contoh:
Ia naik sepeda setelah lelah berjalan kaki.
Induk kalimat anak kalimat
10.3.3. Klausa Gabungan Kalimat Majemuk Setara dengan Kalimat
Majemuk Bertingkat
Klausa ini merupakan gabungan kalimat majemuk setara dan
bertingkat (kalimat subordinatif dan koordinatif) yang terdiri atas tiga
klausa atau lebih.
Contoh:
Setelah ia berhenti merokok dan bapaknya berhenti merokok, ibunya
senang
anak kalimat induk
kalimat
Fungsi Bahasa Indonesia
1. Media komunikasi
Sebagai alat komunikasi, bahasa dipakai buat menyampaikan maksud tertentu
agar bisa dipahami orang lain. Perbedaan fungsi bahasa jadi alat ekspresi diri dan
sarana komunikasi ada pada tujuannya. Yang pertama sekadar untuk
mengespresikan diri agar diketahui oleh orang lain. Adapun saat berkomunikasi,
penggunaan bahasa disesuaikan dengan orang yang diajak bicara, dengan tujuan
supaya maksud dari dari bahasa mudah tersampaikan.
2. Media integrasi dan adaptasi
Saat beradaptasi di lingkungan sosial baru, setiap orang akan memilih bahasa yang
digunakan tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. Hal ini agar ia mudah
beradaptasi dan terintegrasi dengan lingkungan sosial tersebut.
3. Media kontrol sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa bisa sangat efektif. Kontrol sosial dengan
memakai bahasa bisa diterapkan pada individu ataupun masyarakat.
4. Media memahami diri
Dalam membangun karakter seseorang harus dapat memahami dan
mengidentifikasi kondisi dirinya terlebih dahulu. Ia harus dapat menyebutkan
potensi dirinya, kelemahan dirinya, kekuatan dirinya, bakat, kecerdasan,
kemampuan intelektualnya, kemauannya, tempramennya, dan sebagainya.
Pemahaman ini mencakup kemampuan fisik, emosi, inteligensi, kecerdasan,
psikis, karakternya, psikososial, dan lain-lain. Dari pemahaman yang cermat atas
dirinya, seseorang akan mampu membangun karakternya dan mengorbitkan-nya
ke arah pengembangan potensi dan kemampuannya menciptakan suatu kreativitas
baru.
5. Media ekspresi diri
Sejak kecil, manusia menggunakan bahasa sebagai sarana mengungkapkan dan
mengekspresikan diri pada orang tua. Di tahap permulaan tumbuh-kembang,
bahasa anak-anak berkembang sebagai alat untuk ekspresi diri.
6. Media memahami orang lain
Untuk menjamin efektifitas komunikasi, seseorang perlu memahami orang lain,
seperti dalam memahami dirinya. Dengan pemahaman terhadap seseorang,
pemakaian bahasa dapat mengenali berbagai hal mencakup kondisi pribadinya:
potensi biologis, intelektual, emosional, kecerdasan, karakter, paradigma, yang
melandasi pemikirannya, tipologi dasar tempramennya (sanguines, melankolis,
kholeris, flagmatis), bakatnya, kemampuan kreativitasnya, kemempuan
inovasinya, motifasi pengembangan dirinya, dan lain-lain.
7. Media memahami lingkungan
Bahasa sebagai alat untuk mengamati masalah tersebut harus diupayakan
kepastian konsep, kepastian makna, dan kepastian proses berfikir sehingga dapat
mengekspresikan hasil pengamatan tersebut secara pasti. Misalnya apa yang
melatar belakangi pengamatan, bagaimana pemecahan masalahnya,
mengidentifikasi objek yang diamati, menjelaskan bagaimana cara (metode)
mengamati, apa tujuan mengamati, bagaimana hasil pengamatan, dan apa
kesimpulan.
8. Media berpikir logis
Kemampuan berfikir logis memungkinkan seseorang dapat berfikir logis induktif,
deduktif, sebab – akibat, atau kronologis sehingga dapat menyusun konsep atau
pemikiran secara jelas, utuh dan konseptual. Melalui proses berfikir logis,
seseorang dapat menentukan tindakan tepat yang harus dilakukan. Proses berfikir
logis merupakn hal yang abstrak. Untuk itu, diperlukan bahasa yang efektif,
sistematis, dengan ketepatan makna sehingga mampu melambangkan konsep yang
abstrak tersebut menjadi konkret.
9. Media membangun kecerdasan
Kecerdasan berbahasa terkait dengan kemampuan menggunakan sistem dan fungsi
bahasa dalam mengolah kata, kalimat, paragraf, wacana argumentasi, narasi,
persuasi, deskripsi, analisis atau pemaparan, dan kemampuan mengunakan ragam
bahasa secara tepat sehingga menghasilkan kreativitas yang baru dalam berbagai
bentuk dan fungsi kebahasaan.
10. Media pengembang kecerdasan ganda
Selain kecerdasan berbahasa, seseorang dimungkinkan memiliki beberapa
kecerdasan sekaligus. Kecerdasan-kecerdasan tersebut dapat berkembang secara
bersamaan. Selain memiliki kecerdasan berbahasa, orang yang tekun dan
mendalami bidang studinya secara serius dimungkinkan memiliki kecerdasan
yang produktif. Misalnya, seorang ahli program yang mendalami bahasa, ia dapat
membuat kamus elektronik, atau membuat mesin penerjemah yang lebih akurat
dibandingkan yang sudah ada.
11. Media pengembang profesi
Proses pengembangan profesi diawali dengan pembelajaran dilanjutkan dengan
pengembangan diri (kecerdasan) yang tidak diperoleh selama proses
pembelajaran, tetapi bertumpu pada pengalaman barunya. Proses berlanjut menuju
pendakian puncak karier / profesi. Puncak pendakian karier tidak akan tercapai
tanpa komunikasi atau interaksi dengan mitra, pesaing dan sumber pegangan
ilmunya. Untuk itu semua kaum profesional memerlukan ketajaman, kecermatan,
dan keefektifan dalam berbahasa sehingga mempu menciptakan kreatifitas baru
dalam profesinya.
12. Media pembangun karakter
Kecerdasan berbahasa memungkinkan seseorang dapat mengembangkan
karakternya lebih baik. Dengan kecerdasan bahasanya, seseorang dapat
mengidentifikasi kemampuan diri dan potensi diri. Dalam bentuk sederhana
misalnya : rasa lapar, rasa cinta. Pada tingkat yang lebih kompleks , misalnya :
membuat proposal yang menyatakan dirinya akan menbuat suatu proyek,
kemampuan untuk menulis suatu laporan.
13. Media pencipta kreativitas
Bahasa sebagai sarana berekspresi dan komunikasi berkembang menjadi suatu
pemikiran yang logis dimungkinkan untuk mengembangkan segala potensinya.
Perkembangan itu sejalan dengan potensi akademik yang dikembangkannya.
Melalui pendidikan yang kemudian berkembang menjadi suatu bakat intelektual.
Bakat alam dan bakat intelektual ini dapat berkembang spontan menghasilkan
suatu kretifitas yang baru.
Kedudukan Bahasa Indonesia
a. Bahasa Negara
Bahasa indonesia sebagai bahasa Negara artinya bahasa Indonesia adalah
bahasa yang resmi. Oleh karena itu, bahasa indonesi harus digunakan sesuai dengan
kaidah , tertib, cermat, dan masuk akal. Jika menggunakan bahasa Indonesia harus
lengkap dan baku. Tingkat kebakuannya diukur dengan aturan kebahasaan dan logika
pemakaian. Bahasa Indonesia sering juga disebut dengan bahasa nasional atau bahasa
persatuan yang artinya bahasa Indonesia merupakan bahasa primer dan baku yang
harus digunakan pada saat acara formal. Bukti penggunaan bahasa Indonesia sebagai
bahasa Negara ada didalam naskah proklamasi kemerdekaan RI 1945.Mulai saat itu
dipakailah bahasa Indonesia dalam segala upacara, peristiwa, dan kegiatan
kenegaraan baik dalam bentuk lisan maupun tulis.
b. Bahasa Persatuan
Hal ini tercantum dalam Sumpah pemuda (28-10-1928). Ini berarti bahwa
bahasa Indonesia berkedudukan sebagai Bahasa Nasional negara. Dalam
kedudukannya sebagai Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia memiliki beberapa
fungsi,antra lain adalah sebagai:
• Lambang Identitas Nasional Fungsi bahasa sebagai lambing identitas nasional
adalah bahasa Indonesia mempunyai nilai-nilai sosial, budaya luhur bangsa.
Dengan adanya nilai tersebut mencerminkan bangsa Indonesia,yang
menggambarkan ciri khas dan karakter bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita
harus menjaganya jangan sampai ciri khas kepribadian kita tidak tercemin
didalamnya dan perlunya dibina rasa kebangsaan terhadap pemakaian bahasa
indonesia dan mempertahankan bahasa indonesia sebagai lambang kebangsaan
nasional.
• Alat perhubungan indonesia merupakan negara yang terdiri dari banyaknya
suku bangsa dengan bahasa yang berbeda-beda, maka akan sulit
berkomunikasi dan menyampaikan pendapat. maka dari itu digunakanlah
bahasa indonesia sebagai alat komunikasi dan perhubungan nasional. dengan
adanya bahasa indonesia seseorang dapat saling berkomunikasi untuk segala
aspek kehidupan. bagi pemerintah, semua kebijakan dan strategi yang
berhubungan dengan ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan,
dan keamanan mudah diinformasikan kepada warga.
• Alat pemersatu bangsa fungsi bahasa indonesia sebagai alat pemersatu bangsa
memiliki peran yang sangat penting karena digunakan sebagai alat perekat
nasionalis warga indonesia untuk selalu setia kepada Negara kesatuan republik
indonesia. dengan lihat luasnya indonesia, maka tidak heran indonesia
memiliki keberagaman suku dan budaya, dan tentunya memiliki keberagaman
bahasa. dengan keberagaman tersebut, maka diperlukan bahasa pemersatu
bangsa yang bisa membuat seluruh warga negara yang diwilayah indonesia
bisa mengerti dan memahami satu sama lain. sekarang tugas kita adalah
mengembalikan bahasa indonesia ke dalam fungsi yang sesungguhnya, perlu
direnungkan kembali betapa pentingnya peranan bahasa indonesia dalam
proses integrasi bangsa.
Bahasa sebagai media / alat komunikasi mencakup:
1) Kemampuan organisasional
a. Gramatikal: kosa kata, dialek / ragam, morfologi, sintaksis, fonologi / grafologi
b. Tekstual: retorika dan kohesi
2) Kemampuan pragmatik
a. Kemampuan ilukosionari: fungsi ideasional, fungsi manipulatif, fungsi heuristik,
fungsi imajinatif
b. Kemampuan sosiolinguistik:
Kepekaan pada dialek / ragam
Kepekaan pada kewajaran
Kepekaan pada register
Kepekaan pada kiasan
DAFTAR PUSTAKA
https://www.smkn1-bpn.sch.id/read/1059/sejarah-bahasa-indonesia-singkat-yang-
wajib-diketahui
http://repository.unib.ac.id/11134/1/29.%20Agung%20Nugroho.pdf
http://repository.ut.ac.id/4059/1/MKDU4110-M1.pdf
file:///C:/Users/user/Downloads/LAILI%20BAB%20I.pdf
https://www.suara.com/news/2020/12/02/202020/sejarah-ejaan-bahasa-indonesia-dan-
perkembangannya?page=all
https://www.kompas.com/skola/image/2021/06/30/115052769/ejaan-pengertian-
fungsi-penulisan-dan-pemakaiannya?page=1
https://tirto.id/cara-penulisan-huruf-tebal-menurut-puebi-atau-eyd-gdhH
https://www.kompas.com/skola/read/2020/12/11/185048869/kata-yang-ditulis-kecil-
dalam-judul
https://puebi.readthedocs.io/en/latest/kata/partikel/
https://eprints.uny.ac.id/8251/3/BAB%202-05210144010.pdf
https://www.mekaewa.com/2021/01/sinonim-antonim-homonimhomofon-
homograf.html
https://web.facebook.com/notes/smp-negeri-3-pekuncen/sinonim-antonim-homonim-
homofon-homograf-polisemi-hipernim-dan-
hiponim/259833407415915/?_rdc=1&_rdr
https://books.google.co.id/books?id=dVhKdAFm7aQC&hl=id&sitesec=reviews#:~:te
xt=Interjeksi%20atau%20kata%20seru%20adalah,kalimat%20yang%20mengandung
%20maksud%20pokok.
https://www.kompas.com/skola/read/2021/08/10/145911069/kalimat-definisi-
pengertian-ciri-ciri-jenis-dan-contohnya
https://tirto.id/pengertian-bahasa-peran-fungsi-bahasa-secara-umum-di-masyarakat-
gdhW
http://habiballah-mentari.blogspot.com/2013/11/fungsi-bahasa_9.html?m=1
file:///C:/Users/user/Downloads/Intan%20Anisa%20Ramadani_A1D118035_R-
001.pdf
http://agam53.blogspot.com/2015/09/diksi.html
https://text-id.123dok.com/document/ozlmow1ry-pengertian-diksi-ketepatan-dan-
kesesuaian-diksi.html