Legenda D I N A T U N A
Legends in natuna
Bilingual e-Book
Legenda di natuna
LEGENDS IN NATUNA
Naskah/Script:
Intan Ratih Kumaladewi
Kardiman Tara/ Card_Iman
Kompas Benua
Penerjemah/Translator:
Intan Ratih Kumaladewi
Proofreader:
Alhams Aamanuu Firdaus
Intan Ratih Kumaladewi
Design & Layout:
Dedi Yudia
Muhammad Hidayat
Intan Ratih Kumaladewi
Fotografer/photographer:
Dedi Yudia
Bilingual e-Book
DAFTAR ISI
Legenda Tanjung Senubing ……………………………………….. 1
Legend of Tanjung Senubing……………………………………… 2
Legenda Batu Kasah …………………………………………………… 7
Legend of Batu Kasah…………………………………………………. 8
Legenda Pulau Senua…………………………………………………… 11
Legend of Senua Island……………………………………………….. 12
Legenda Telapak Kaki Tok Nyong……………………………… 15
Legend of Tok Nyong’s Footprints……………………………… 16
Legenda Teluk Panglima………………………………………………. 19
Legend of Panglima Bay…………………………………………….... 20
Pulau Sahi……………………………………………………………………….. 33
Sahi Island………………………………………………………………………. 34
Legenda Tok Ibo dan Tok Umbok………………………………. 49
Legend of Tok Ibo and Tok Umbok………………………....... 50
Legenda Tanjung Senubing
Intan Ratih Kumaladewi
Dahulu kala, terdapat kekuasaan kerajaan di Tanjung
Senubing. Kerajaan Tanjung Senubing ini memiliki hubungan
yang baik dengan kerajaan yang ada di Tanjung Datuk.
Hingga suatu hari, putra sang Raja Tanjung Senubing
menghadap sang raja dan meminta, “Ayahanda, izinkan
ananda untuk mempersunting putri dari Raja Tanjung Datuk”.
Maka, Sang Raja menyetujui permintaan putranya. Sang raja
memutuskan untuk pergi ke Tanjung Datuk bersama
rombongannya.
Di Tanjung Datuk, Raja dan Rombongan dari Tanjung
Senubing disambut dengan hangat. Pinangan dari putra Raja
Tanjung Senubing diterima oleh Raja Tanjung Datuk.
Kemudian, pihak kerajaan Tanung Datuk menghidangkan
makanan-makanan laut. Suasana saat berada di Tanjung
Datuk penuh suka cita.
1
The Legend of Tanjung Senubing
Intan Ratih Kumaladewi
Once, there was a kingdom in Tanjung Senubing. This
kingdom had a good relationship with a kingdom in Tanjung
Datuk. One day, the king’s son asked the king, "Dear
majesty, please grant me a wish to propose to the princess
of Tanjung Datuk, the king’s daughter." The king granted
the wish of his son. He decided to visit Tanjung Datuk with
his entourage.
The King of Tanjung Senubing and his entourage were
warmly welcomed by the Tanjung Datuk Kingdom. The
prince of Tanjung Senubing’s proposal was accepted by the
Tanjung Datuk’s King. Afterward, Tanjung Datuk Kingdom
served seafood to the guests. They were full of joy.
2
Kemudian, tibalah waktunya pihak Kerajaan Tanjung
Datuk yang berkunjung ke Tanjung Senubing. Sama
seperti pihak kerajaan Tanjung Datuk yang
menghidangkan makanan yang sedap, pihak kerajaan
Tanjung Senubing pun menghidangkan makanan yang
merupakan makanan yang lezat, yaitu ikan lele. Namun,
bagi pihak dari kerajaan Tanjung Datuk yang tidak
terbiasa dengan ikan air tawar, merasa bahawa
hidangan ini adalah suatu penghinaan. Sehingga ada
yang berceletuk, “makanan apa ini? Sungguh tidak
pantas disajikan!”.
Celetukan pihak Tanjung Datuk ini terdengar oleh
pihak kerajaan Tanjung Senubing. Hingga timbul rasa
amarah yang sangat. Ketidaksenangan dari kedua belah
pihak ini menjadi-jadi, pupus sudah rencana pernikahan
antara putra Raja Tanjung Senubing dan Putri Tanjung
Datuk. Bahkan kemarahan ini berbuah menjadi
peperangan. Peperangan antar kerajaan ini
menggunakan alat perang yang unik, bukan keris, bukan
parang, dan bukan pula pedang. Peperangan ini
merupakan peperangan antara alu dan lesung, dimana
Kerajaan Tanjung Senubing menggunakan alu dan
Kerajaan Tanjung Datuk menggunakan lesung.
3
Later on, Tanjung Datuk's entourage came to Tanjung
Senubing. Like Tanjung Datuk who served a delicious dish,
Tanjung Senubing also served their best dish, which was
catfish. However, the people of Tanjung Datuk were not
accustomed to eating freshwater fish. They felt that
Tanjung Senubing insulted them. One of them muttered,
"What kind of food is this? It really is not worth serving."
Tanjung Senubing side heard the scorn and got
furious. The unhappiness on both sides got worse and the
wedding plan between the prince of Tanjung Senubing
King and the princess of Tanjung Datuk King got
canceled. Moreover, this rage led to war. The war
between these kingdoms used a unique weapon. They
were not using kris, machetes, or swords. But, pestle and
mortar instead. Tanjung Senubing used pestles, while
Tanjung Datuk used mortar.
4
Akhirnya, masing-masing pihak bersumpah bahwa tidak
boleh jika berada di Tanjung Senubing menyebut Tanjung Datuk
dan begitu pula sebaliknya. Apabila hal ini dilanggar, maka
angin ribut turun dari langit.
Catatan:
Hingga saat ini, anak cucu, masyarakat asli Bunguran, tidak
pernah menyebut Tanjung Datuk jika di Tanjung Senubing,
begitu pula sebaliknya. Kononnya bahwa, jikalau pergi
menjaring atau memancing ikan di Tanjung Datuk, hasil
tangkapan ikan yang disantap disana tidaklah anyir. Namun, jika
hasil tangkapan ikan dibawa pulang dan melewati Tanjung
Senubing, maka ikan-ikan tersebut akan terasa anyir luar biasa.
Narasumber: Wan Suhardi (Ketua LAM Kab. Natuna)
5
Eventually, each side swore not to mention Tanjung Datuk in
Tanjung Datuk and vice versa. If it was violated, then a
hurricane would fall.
Notes:
Up to now, the descendants, Bunguran people never
mentioned Tanjung Datuk while in Tanjung Senubing and
vice versa. It is said that if you went fishing in Tanjung Datuk
and ate there, the fish would still be fresh. However, if the
fish was brought home and passed through Tanjung
Senubing, the fish would become exceptionally rancid.
Informant : Wan Suhardi (Head of Natuna Malay
Traditional Institution
6
Legenda Batu Kasah
Kardiman Tara/ Card_Iman
Pada zaman dahulu di Perkampungan Teluk, kehidupan
masyarakat aman, damai dan sejahtera. Hasil panen berupa
padi, ubi, talas, sagu melimpah ruah. Daerah ini merupakan
daerah yang sangat subur. Tak jarang saudagar datang
untuk menukarkan bahan makanan dan hasil perkebunan
setempat seperti kopra, karet dan gaharu dengan emas,
keramik berupa piring, mangkok, guci untuk kebutuhan
rumah tangga dan untuk wadah upacara adat, seperti
membakar kemenyan dan tempat sesajen. Hasil laut juga
melimpah, baik ikan, kerang mutiara dan rumput laut. Kapal
dagang selalu hilir mudik
membawa barang dagangan
dan mengangkut hasil
perkebunan dan hasil laut dari
Kampung Teluk. Sebagai
Kawasan pesisir yang
merupakan daerah lalu-lalang
kapal niaga, kejahatan di laut
pun luar biasa. Terkadang
7
Legend of Batu Kasah
Kardiman Tara/ Card_Iman
Once upon a time, in Teluk Village, people lived a safe,
peaceful, and prosperous life. The crop harvests were
abundant. This place was fertile with rice, sweet potatoes,
and taro. Oftentimes, merchants came to exchange for food
and local crops. Copra, rubber, and agarwood were
exchanged for gold, ceramic plates, ceramic bowls, and
jars. These were for household needs and a censer to burn
incense and offerings. Marine products were also abundant.
The products were fish, pearl shells, and seaweed. The
merchant ships always went back and forth carrying the
merchandise and
transporting plantation
and marine products from
Teluk Village. Teluk
Village, as a coastal area
where merchant ships
always did business, had
an extraordinary crime
rate on the sea.
Sometimes,
8
lanun1 sering naik ke darat untuk mendapatkan perbekalan
seperti air untuk dibawa ke kapalnya. Pada suatu hari
segerombolan lanun telah memporak-porandakan kebun
dan perkampungan. Beberapa rumah ada yang dibakar
oleh lanun dan mereka kembali ke kapalnya dengan
kegirangan setelah membawa perbekalan.
Masyarakat Perkampungan Teluk mulai menata kembali
kampungnya. Mereka mulai menyiapkan senjata untuk
mengantisipasi datangnya gerombolan lanun. Tok Nyong
yang terkenal Digdaya Maha Perkasa dimintai bantuannya
untuk menumpas para lanun. Tok Nyong menjadi geram
melihat tempatnya bercocok tanam dirusak lanun. Ia pun
mulai menyiapkan strategi perang. Pedang dan tombak
diasah di sebuah batu yang besar dan tinggi, setinggi
pohon kelapa. Setiap hari masyarakat mengasah
perlengkapan perangnya secara bergantian, sehingga
lama-kelamaan batu yang besar dan tinggi tadi menjadi
rata serta berbentuk suatu hamparan. Nah, Batu Asah
inilah yang saat ini dikenal dengan nama Batu Kasah.
---
Lanun1 : Bajak laut
9
lanun 1 often went ashore to get water supplies. One day, a
group of lanun destroyed the farms and village. Some
houses were burned down by lanun and they happily
returned and brought supplies to their ship.
Villagers began to reorganize their village. They started
to get weapons as a preventive measure if the lanun came
back. They asked Tok Nyong, who was well known for his
strength and might, to eliminate the lanun. Tok Nyong was
furious when he saw his farm was destroyed. He planned a
war strategy. Swords and spears were sharpened on a
large, tall rock, as tall as a coconut tree. The villagers took
turns sharpening their weapons every day. Over time, the
large and tall stone became flat and formed an expanse.
That whetstone is currently known as Batu Kasah.
--- : Pirates
Lanun 1
10
Legenda Pulau Senua
Intan Ratih Kumaladewi
Pada zaman dahulu, terdapat sepasang suami istri
yang miskin, yaitu Baitusen dan Mai Lamah. Baitusen
merupakan seorang nelayan pencari kerang. Kehidupan
mereka yang sulit bukanlah penghalang bagi suami istri
ini dan para tetangganya untuk berhubungan baik.
Termasuk dengan dukun beranak yang ada di daerah
mereka tinggal.
Hidup yang bagai roda yang mana kehidupan Mai
Lamah dan suaminya berada di titik terbawah, atas rezeki
yang dilimpahkan dari Yang Maha Kuasa, membawa
kehidupan Baitusen dan Mai Lamah yang sebelumnya
berada di bawah, menjadi di atas. Kehidupan mereka
berdua kini lebih dari cukup. Bergelimangan harta.
Namun, kehidupan mereka yang bergelimangan
harta membuat Mai Lamah lupa diri bagai kacang lupa
pada kulitnya. Mai Lamah mulai sombong dan tidak peduli
dengan sesama. Baitusen yang melihat sikap congkak
istrinya pun menegur agar Mail Lamah tidak bersikap
demikian. Namun, teguran Baitusen tersebut tidak
diindahkan olehnya.
Keangkuhannya berlangsung hingga ia hamil.
11
Legend of Senua Island
Intan Ratih Kumaladewi
Once upon a time, there was a poor husband and wife
called Baitusen and Mai Lamah. Baitusen was a fisherman
and looked for shellfish. Even though they were living
through difficulty, that did not prevent this couple from
having a harmonious relationship with their neighbors. It
included a good relationship with the village midwife.
Life was like a wheel. The rock-bottom life of Mai Lamah
and her husband came to a stop. By God’s will, their lives
got to the top. Their life was more than enough. Bask in
luxury.
However, the fortune made Mai Lamah like a beggar on
horseback. Mai Lamah became arrogant and cold-hearted.
Seeing his wife’s arrogance, Baitusen tried to reprimand
her. But to no avail, she disregarded him.
Her conceited behavior lasted until she got pregnant.
12
Bahkan, ketika ibu dukun beranak1 yang datang untuk
meminta bantuan beras pun dia tolak. Ia hidup bagai
seseorang yang dapat hidup tanpa orang lain selama
hartanya selalu berada di genggaman. Ia lupa, pada saat
dulu ia dan Baitusen masih miskin, dukun beranak dan
para tetangganya yang siap membantu apabila ia
kesusahan. Sikap Mai Lamah ini membuat hubungannya
dengan para tetangga menjadi retak.
Suatu ketika, tibalah saat Mai Lamah hendak
melahirkan. Tak seorangpun mau menolong Mai Lamah.
Hingga akhirnya, ia meminta suaminya ke pulau seberang
untuk melahirkan serta tak lupa untuk membawa harta
bendanya. Dalam perjalanan menyebrang ke pulau lain,
terjadi angin ribut yang memporak-porandakan kapal
yang digunakan Mai Lamah dan Baitusen untuk
menyebrang. Baitusen berusaha untuk menyelamatkan
mereka berdua. Namun, Mai Lamah masih sempat
memikirkan hartanya. Mai lamah yang masih memikirkan
harta bendanya perlahan berubah menjadi Pulau. Pulau ini
kemudian disebut sebagai Pulau Senua yang artinya satu
tubuh berbadan dua.
---
Dukun beranak1 : Bidan kampung
Narasumber : Wan Suhardi (Ketua LAM Kab. Natuna)
13
She even refused the midwife who asked for some rice.
She lived her life like there were no others, only wealth
mattered. She forgot that in her and Baitusen
impoverished past, it was the midwife and the neighbors
who came to help them when in trouble. Her attitude
made her relationship with her neighbor estranged.
Ultimately, when she was due to give birth, no one
wanted to help Mai Lamah. Mai Lamah asked her husband
to go to another island to give birth and brought their
jewelry. On their way, there was a storm that destroyed
Mai Lamah and Baitusen’s ship. Baitusen tried his hardest
to save them both. However, Mai Lamah still thought to
get her properties. The greedy Mai Lamah eventually
became an island. Senua Island, which means "one body
with two souls," was eventually named after this island.
---
Informant: Wan Suhardi (Head of Natuna Malay
Traditional Institution
14
Legenda Telapak Kaki Tok Nyong
Intan Ratih Kumaladewi
Dahulu kala, terdapat seseorang yang kuat, gagah nan
besar. Ia memiliki ilmu kebatinan yang tinggi. Meski demikian,
ia menjalani hidupnya dengan sederhana layaknya
masyarakat pada umumnya. Tok Nyong, itulah panggilan
orang-orang yang mengenalnya.
Tok Nyong hidup bersama dengan ibunya. Hari-hari yang
dilalui Tok Nyong dan ibunya dilalui dengan damai. Kehidupan
sederhana, namun terasa luar biasa. Namun, pada suatu hari
kehidupan itu terusik. Tok nyong yang baru pulang, tidak
menemukan ibunya dimanapun. Tok Nyong segera mencari
keberadaan ibunya. Hingga akhirnya ia tahu bahwa ibunya
telah diculik oleh lanun1.
Syahdan, Tok Nyong yang marah, bergegas mengejar
para lanun yang menyulik ibunya. Dihentakkan kakinya
hingga berjejak serta ditancapkannya keris miliknya ke tapak
tersebut. Sampailah ia mengejar melewati Sujung dan Pulau
Sahi. Pada batu besar yang ditemuinya disana, ditakeknya2
---
Lanun1 : Bajak laut
Ditakeknya2 : Diparang secara berulang-ulang
15
Legend of Tok Nyong’s Footprints
Intan Ratih Kumaladewi
In the olden days, there was a big, strong, and
gallant man. He had a high spiritual force. In spite of
that, he lived his life as ordinary as others. Tok Nyong
was what the people called him.
Tok Nyong lived with his mother. The days that he
and his mother spent together were peaceful. An
extraordinary ordinary life. However, their tranquil life
was disrupted. When Tok Nyong came back home, he
could not find his mother. He rushed to look for his
mother. Then, he found out that his mother had been
kidnapped by the lanun 1.
Then, the angry Tok Nyong rushed to chase after the
pirates who kidnapped his mother. He stomped his foot
and stabbed his footprint with his kris. He chased her
across Sahi Island and Sujung. He saved his mother and
---
Lanun 1 : pirates
16
menggunakan parang. Serpihan-serpihan batu
menghantam kapal lanun. Ibunya terselamatkan dan
dihancurkanlah kapal lanun itu.
Catatan:
Dikatakan bahwa apabila Tok Nyong berjalan dari
Ceruk hingga ke Sungai Ulu hanya satu langkah.
Namanya Setungkuk. Di sekitar Selat Lampa3 juga
terdapat telapak kaki Tok Nyong. Jadi, apabila Tok
Nyong ingin ke Selat Lampa, ia tinggal melangkah dari
Ceruk-Setungkuk-Selat Lampa.
---
Lampa3 : Masyarakat sekitar menyebutnya Lambak
Narasumber : Wan Suhardi (Ketua LAM Kab. Natuna)
17
hacked the big rock there to wreak havoc on the pirate
ship.
Notes:
It is said that when Tok Nyong went from Ceruk to
Sungai Ulu only needed a step. It is called Setungkuk.
There are also Tok Nyong’s footsteps in Selat Lampa2. So,
if Tok Nyong wanted to go to Selat Lampa, he just
stepped from Ceruk-Setungkuk-Selat Lampa.
--- : The locals called this place Lambak
Lampa2 : Wan Suhardi (Head of Natuna Malay
Informant
Traditional Institution
18
Teluk Panglima
Kardiman Tara/Card_Iman
Di Tanjung Kelantang hiduplah seorang pemuda
yang sudah berumur dan sangat disegani. Ia belum
berkeluarga dan hidup sebatangkara.
Kesehariannya ia hidup sebagai petani. Ia
mengolah lahan di lereng Gunung Kelantang (Gunung
Pian Padang) untuk ditanami berbagai kebutuhan pokok
seperti ubi, talas, dan padi serta sayur manyur. Hampir
sepanjang hari hidupnya digunakan untuk berkebun.
Hasil kebunnya melimpah ruah. tidak ada binatang
seperti babi hutan dan kera serta kekah yang mau
memakannya. Binatang ini malah tunduk dan patuh
kepada pemuda tersebut.
Hasil kebunnya kadang ditukar (barter) dengan
warga kampung sebelah di pesisir Selemut, yaitu
Kampung Air Pisai berupa gula merah terbuat dari
kelapa dan makanan lainnya.
19
Panglima Bay
Kardiman Tara/Card_Iman
In Tanjung Kelantang, there lived a mature man who was
highly respected. He was not married yet and lived alone.
He worked as a farmer. He cultivated a plot of land on
the slope of Mt. Kelantang (Mt. Pian Padang) to plant sweet
potatoes, taro, rice, and vegetables. Almost all his life was
spent in farming. The crop harvests were abundant. No
animals like boar, monkey, and kekah1 wanted to eat the
crops. These animals were submissive and obedient to him.
Sometimes, his crop harvest was exchanged or bartered
to Air Pisai Village, neighboring villagers on the coast of
Selemut. The exchange was for brown sugar made from
coconut and other foods.
20
Pada Malam hari pemuda ini memancing ikan dengan
kolek (sebutan perahu kecil umumnya di Ranai) bila cuaca
sedang teduh. Namun ketika musim utara yang terkenal
ganasnya menerpa Tanjung Kelantang ia hanya
memancing sambil berdiri (ngael jalan; bahasa Ranai) di
pinggir batu atau karang di depan rumahnya.
Ikan-ikan hasil tangkapannya yang melimpah
disamping untuk kebutuhannya sehari-hari, ia juga
mengawetkan ikan tersebut dengan cara diasinkan,
dipedekkan (dicampur garam dan dimasukkan dalam
wadah tertutup) dan disalai (diasap) agar lebih mudah
disimpan pada saat musim utara, yang mana hujan turun
tiada hentinya, sambung menyambung. Maka aktifitasnya
hanya makan dan tidur.
Karena hampir setiap hari berkebun dan berjemur
matahari, badannya yang tinggi besar nampak berotot
dan warna kulitnya menghitam. Tak salah kalau
masyarakat sekitar Tanjung Kelantang dan Pian Padang
menyebutnya orang hitam.
21
He went fishing with kolek1 in the evening when the
weather was good. However, when the fierce north
monsoon came, he only fished by standing on the edge
of the rock in front of his house.
The fish that he caught were abundant. The fish
were not only for his daily necessities, some of the fish
he preserved to barter with another villager. He
preserved the fish by making salted fish, fermented fish,
and smoked fish. This was done for easier storage
during the north monsoon, which is rainy all day. That is
to say, in this monsoon, he only ate and slept.
His big and tall body appeared muscular, and his
skin was blackened because he farmed almost every
day and was constantly exposed to the sun. That was
why the people around Tanjung Kelantang and Pian
Padang called him orang hitam 2.
---
Kolek1 : Dinghy
Orang hitam 2 : Black man
22
Untuk mengusik kesunyiannya pada malam hari
ia selalu bermain seruling yang terbuat dari Buluh
Perindu. Ketika seruling itu ditiup maka semua
binatang yang ada disekitar pondoknya berkumpul.
Bergemuruh turun dari gunung. Ada yang berlari,
ada yang sakiit pun ingin ikut menyaksikan dari
dekat dengan cara ngisot (merangkak). Namun ada
binatang nokturnal yaitu Burung Kual (sejenis
burung hantu) tidak mau bergabung atau
mendekat.
Burung ini memilih pohon yang sangat rindang
di daerah Telaga Tujuh (wilayah Kampung Air
Pisai). Ia memilih tempat sepi dan di gunung supaya
tidak berbagi buah malinjo dengan binatang lain. Ia
hanya menyiapkan buah malinjo yang dikumpulkan
dari Gunung Kelantang untuk suaminya yang
merantau dan tak kunjung pulang. Karena asiknya
mendengar alunan seruling sang pemuda, ia
terbuai dan terjatuh dari Pohon Kayu Ara (pohon
beringin).
23
To dissipate his loneliness, he played a flute
made from Buluh Perindu (a kind of bamboo) in the
evening. When the flute was blowing, the sound
made the animals gather around his cottage.
Running down from the mountain. Some were
running and some, that were sick but wanted to
hear, came up close by crawling. Still, there was a
nocturnal Kual bird (a kind of owl) that did not want
to join or come close.
This bird chose a shady tree in Telaga Tujuh (Air
Pisau Village territory). It chose a quiet place on the
mountain, so that it did not have to share it with
other animals. She only collected malinjo fruit for her
wandering mate that never came back. While
listening to the man’s play, she was lulled and fell
from the Fig Tree (Banyan Tree).
24
Ketika subuh menjelang pemuda ini telah siap
dengan perbekalan dan barang-barang yang akan di
tukar seperti ikan asin, ikan pedek dan ikan salai. Kali ini
tujuannya sangat jauh yaitu ke daerah Sungai Ulu. Ia
ingin menukar ikannya dengan sagu mentah dan sagu
butir di sana.
Dalam perjalannya ia diterpa angin barat yang
sangat kuat disertai hujan lebat dan petir. Maka ia
singgahlah disebuah pesisir yaitu Tanjung Gasi, wilayah
Kampung Munong (Cemaga) untuk berteduh. Ia
mendengar kabar bahwa daerah tersebut ada raksasa
yang sangat ganas. Masyarakat setempat menyebutnya
Nek Gasi. Raksasa perempuan ini selalu mengganggu
petani. Kebun dan ternak habis disikat (dimakannya).
Tak jarang perahu habis dirusaknya untuk mencari ikan
tangkapan nelayan.
Angin pun reda, suasana malam gelap gulita. Dari
hutan gemuruh terdengar suara. Pohon-pohon banyak
yang tumbang. Bunyi itu semakin mendekat disertai dua
buah cahaya yang membingungkan. Tampak seperti dua
lampu sorot yang sangat terang. Cahaya itu terus kelaut
dan mengarah ke Pulau Akar. Pemuda ini percaya betul
25
When the dawn came, the man was ready with his
provisions and things that would be bartered, such as
salted fish, fermented fish, and smoked fish. This time
his destination was very far away, Sungai Ulu. He
wanted to barter his fish for raw sago and grain sago
there.
He was hit by a strong west wind accompanied by
heavy rain and thunder on his journey. So, he stopped
to take shelter on a coast called Tanjung Gasi, Munong
(Cemaga) Village. He heard that there was a ferocious
giant called Nek Gasi. This giant woman always harmed
the farmers. The crop and the livestock were
completely eaten. Oftentimes she destroyed the
fisherman’s boat to find fish.
The wind cooled down and the night was pitch
black. A rumbling noise was heard from the forest.
Many trees have fallen. The sound came closer,
followed by two bewildering lights. The lights looked
like two very bright spotlights. The lights went toward
the sea and headed to Akar Island. The man believed
26
bahwa itu adalah Nek Gasi yang dihebohkan
masyarakat setempat. Bila malam hari ia mencari
ketam buen (sejenis kepiting batu).
Dinginnya malam membuat pemuda ini tertidur
pulas. Upuk timur sudah mulai merekah, pertanda
pagi menjelang tiba. Ia mulai bersiap-siap untuk
kembali melanjutkan perjalanannya ke Sungai Ulu.
Sebelum matahari terbenam ia sudah disambut
oleh masyarakat setempat untuk menukarkan sagu
mentah dan sagu butir dengan ikan asin, ikan pedek
dan ikan salai yang dibawanya.
Setelah selesai menukar barang-barangnya
dengan hasil tani masyarakat setempat. Ia
mendapat kabar dari masyarakat bahwa ada
segerombolan Lanun (perompak/ bajak laut) yang
naik ke darat untuk mencari makanan sebagai
perbekalan di laut. Lanun berekor ini memporak-
poranda Kampung Mahligai (Sungai Ulu). Penai
(tempat/ alat tradisional membuat sagu butir)
banyak yang rusak. Ia gundah gulana memikirkan
rumah dan kebunnya mungkin sudah di jarah Lanun.
27
that it was Nek Gasi who was clamored about by locals.
When the night came, she looked for ketam buen7 (a
kind of rock crab).
The cold of the night made the man fall asleep. The
daybreak began as a sign that morning had come. He
started to get ready to continue his journey to Sungai
Ulu.
Before sunset, he was warmly welcomed by the
locals to barter the raw sago and sago grains for salted
fish, fermented fish, and smoked fish that he brought.
After the exchange with the local farmers, he heard
that there was a group of Lanun8 (pirates) going ashore
to look for supplies. The Lanun ravaged Mahligai Village,
Sungai Ulu. Many penai9 (traditional tools to make sago
grains) were ruined. He worried about his home and his
farm, which might have been looted by Lanun.
28
Sesampai di Tanjung Kelantang ia melihat
sebuah Tuako (mirip kapal layar) berlabuh di laut.
Lanun-lanun ini sudah menjarah kebun dan isi
rumahnya.
Pemuda ini marah besar, ia turun dari Koleknya
dan menghentakkan kaki kanannya tiga kali, suara
kakinya bagai dentuman meriam. Lanun pun terkejut
dan lari terbirit-birit menuju Tuako (kapal) nya.
Karena marahnya memuncak kepada Lanun, ia
melempar batu-batu sehingga menjadi batu karang
dan mengeruk daratan Tanjung Kelantang dengan
tangannya sehingga menjadi teluk dan jadilah Teluk
Panglima.
Sekapur sirih :
Cerita ini hanyalah legenda belaka, kalau ada
kesamaan nama orang, tempat dan penggunaan
bahasa setempat hanyalah sebagai daya tarik dalam
alur cerita.
29
When he arrived in Tanjung Kelantang, he saw
Tuako10 (similar to a sailing ship) anchored in the sea.
The Lanun had plundered his farm and house.
He became enraged. He got down from his
dinghy and stomped his foot three times. It sounded
like a cannon. The Lanun were surprised and ran for
their lives to their Tuako.
Since he really got furious, so he threw the
stones that became rock coral. He also scraped the
land of Tanjung Kelantang with his hand, and the
land became a bay called Panglima Bay.
Notes:
This story is only a legend. If there is a similarity
between the name, place, and local language, it is
used to draw interest in the storyline.
30
Penulis mendapatkan informasi mengenai cerita
tersebut ketika kecil dan sebagai pengasuh tidur dari
ayahanda, kebenarannya tidak dapat dibuktikan secara
ilmiah.
Tulisan ini dibuat pada saat menjalani karantina
mandiri dengan mengembangkan cerita dari turun
temurun.
Mungkin tulisan ini dapat membantu masyarakat dan
wisatawan untuk mengetahui asal-muasal di balik
pemberian nama sebuah tempat, khususnya Teluk
Panglima.
Wassalam,,,
Salam hormat
Kardiman Tara/Card_Iman
31
The writer got this story when he was a child and
used it as a bedtime story from his father. The truth of
the story cannot be proven scientifically.
The story was written while undergoing self-
quarantine and developed into a story that was
passed down through generations. Hopefully, this
story can help the community and tourists understand
the origin of naming a place, especially Panglima Bay.
Best regards,
Kardiman Tara/Card_Iman
32
Pulau Sahi
Kompas Benua
Alkisah, di suatu tempat di
sebelah timur laut pulau
Bunguran Besar, hiduplah
sepasang suami istri yang
bernama Pak Sahi dan Mak
Minah. Mereka hidup sederhana
di sebuah pulau kecil di dekat
hulu sungai. Untuk mencukupi
kebutuhan sehari-hari, pak Sahi
bekerja mencari ikan, mengambil
sagu dan berburu kekah untuk
dijadikan makanan. Tabel mando
dan kekah panggang merupakan makanan favorit mereka
kala itu. Kebahagiaan sepasang suami istri ini bertambah
ketika dikaruniai seorang anak lelaki yang mereka beri nama
Bujang Hitam.
Bujang hitam kecil sering mengikuti kegiatan sang ayah
saat bekerja, mencari ikan, mengambil sagu dan berburu
kekah. Ia tumbuh menjadi anak lincah, pintar dan tampan.
Seiring berjalanannya waktu, terbesit di hati Bujang Hitam
untuk merantau meninggalkan kampung halaman, melihat
dunia luar dan mencari pengalaman.
33
Sahi Island
Kompas Benua
Once, someplace in the
northeast of Bunguran Besar
island, there was a husband and
wife called Pak Sahi and Mak
Minah. They led a simple life on a
small island near the river
stream. To meet their daily
needs, Pak Sahi worked by
looking for fish, taking sago, and
hunting for Kekah1. Tabel
Mando2 and baked Kekah were
their favorites. This couple could not be happier by the time
they were blessed with the birth of their son. They named
him Bujang Hitam.
Little Bujang Hitam often went with his father when
fishing, taking sago, and hunting for Kekah. He grew into a
lively, smart, and handsome boy. As time passed, Bujang
Hitam thought to explore the outside world, and he left his
hometown to seek experience.
34
“Mak, aku ingin merantau ke kampung seberang,
melihat dunia luar, siapa tahu akan mengubah nasib kita
dan keluarga, mak” Ucap Bujang Hitam kepada mak Minah,
ibunya.
“Kamu adalah anakku satu-satunya Bujang, akan
kesepianlah ibu dan ayah jika engkau pergi jauh ke negeri
seberang”. Balas mak Minah dengan nada lirih.
Namun berkat tekad yang kuat serta meyakinkan
ibundanya, akhirnya Bujang Hitam pun mendapat restu dari
orang tuanya untuk pergi merantau. Diantarnya anak
semata wayangnya itu di teluk yang tak jauh dari rumah.
Setelah sekian lama terombang-ambing ombak di
lautan, akhirnya Bujang Hitam sampai ke sebuah negeri
yang diperintah oleh Raja yang arif bijaksana. Karena
kelincahan dan ketangkasan yang ia miliki berhasil bekerja
di dalam kerajaan itu. Lambat laun ia menjadi orang
kepercayaan sang Raja. Melihat Bujang Hitam yang rajin,
dan selalu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, serta
memiliki paras yang tampan. Terbesit pada hati sang Raja
untuk menikahkan Bujang Hitam dengan Putrinya. Maka
terjadilah pernikahan yang sakral itu.
35
"Mom, I want to go to another village to look at the
outside world. Who knows that doing this will change our
fate," said Bujang Hitam to his mother, Mak Minah.
"Bujang, you are our only child. I and your father will
feel lonesome if you go far away. " Mak Minah choked up.
However, thanks to his strong determination while also
convincing his mother, Bujang Hitam finally got the blessing
from his parents. They accompanied their only child to the
bay near their home.
After being swayed around in the sea, Bujang Hitam
eventually arrived on land ruled by a wise and virtuous king.
As a result of his agility and dexterity, he managed to work
at the palace. Gradually, he became the king’s right-hand
man. Noticing Bujang Hitam's diligence, who always did his
word satisfactorily, and being a good-looking man, the king
thought of marrying Bujang Hitam with his daughter.
Therefore, a sacred marriage between Bujang Hitam and
the princess happened.
36
Bertahun-tahun hidup dalam kenyamanan fasilitas
kerajaan, tiba-tiba Bujang Hitam yang sudah menjadi
pangeran kerajaan ingat akan kampung halamannya. Maka
ia meminta izin pada sang Raja untuk berlayar kembali ke
kampung halamannya barang sejenak, melepas rindu pada
tempat ia dibesarkan.
Oleh sang Raja, Bujang Hitam dihadiahi kapal besar
beserta para pekerja di dalamnya. Maka berangkatlah
Bujang Hitam bersama istrinya hingga akhirnya sampailah
kapal besar tersebut di sebuah teluk dan berlabuh jangkar
di sana.
Melihat ada kapal besar yang labuh jangkar di tengah
laut, maka heboh pula para penduduk setempat, termasuk
pak Sahi dan mak Minah, orang tua Bujang Hitam.
“Suamiku, tidakkah kau lihat kapal besar nan megah
itu?”, kata mak Minah pada suaminya.
“Benar istriku, besar sekali kapalnya, ada apa
gerangan?”, jawab pak Sahi.
Saat itu pula, firasat mak Minah merasakan bahwa ada
Bujang Hitam ada di dalam kapal tersebut.
“Aku akan kesana, barangkali ada Bujang Hitam di
kapal itu”, kata mak Minah.
37
After years of living in royal comfort, on the spur of the
moment, Bujang Hitam, who was already the prince of the
kingdom, thought of his hometown. He asked permission
from the king to sail back to his hometown, to satiate his
longing for the place where he grew up.
The king rewarded a large ship with its crew to Bujang
Hitam. Hence, Bujang Hitam and his wife set sail and
arrived at the bay, and anchored there.
Seeing a large ship anchored in the middle of the sea, the
locals were excited, including Pak Sahi and Mak Minah,
Bujang Hitam's parents.
"Dear, do you see that big, magnificent ship?" asked Mak
Minah to her husband.
"You are right dear, the ship is so big. What is happening?"
he replied.
At that time, Mak Minah’s intuition told her that Bujang
Hitam was on the ship.
"I’ll go there. Perhaps Bujang Hitam is in there." Said Mak
Minah.
38
“Baiklah, akan kutemani dirimu kesana, bawalah kekah
panggang dan tabel mando ini. Jika Bujang Hitam ada
disana, ia pasti akan senang dengan makanan kesukaannya
ini”. Kata Pak Sahi sambil menyiapkan bekal untuk Bujang
Hitam.
Kemudian dikayuhlah sampan kolek kecil milik pak Sahi
menuju kapal besar yang sedang labuh jangkar tersebut.
Setelah sampai, dengan tak sabar lagi mak Minah langsung
menaiki kapal untuk mencari putra kesayangan yang telah
berpuluh tahun meninggalkannya.
Saat sampai di geladak kapal, Bujang Hitam sedang
mengatur anak buahnya untuk bekerja. Mak Minah yang
sangat mengenali putra tersebut langsung berlari ingin
memeluknya. Namun serta merta ditolak oleh Bujang Hitam.
“Siapa kau ini!!??” hardik Bujang Hitam.
“Aku ini emak mu, Bujang”, jawab mak Minah sembari
terkejut atas apa yang baru saja ia alami.
“Siapa ini wahai suami ku?”. Tanya istri Bujang Hitam
yang kebetulan baru keluar dari kamarnya.
“Bukan siapa-siapa, hanya orang tua miskin!”. Jawab
Bujang Hitam.
39
"All right, I’ll accompany you there. Bring Tabel Mando
and baked Kekah. If Bujang Hitam is really there, he will be
delighted with his favorites." Said Pak Sahi while prepared
the meal for Bujang Hitam.
Then Pak Sahi paddled his dinghy to the big ship.
Afterward, the impatient Mak Minah boarded the ship and
looked for his dearest son, who had left for decades.
When they arrived at the deck, Bujang Hitam arranged
for his men to work. Mak Minah, who recognized her son at
a glance, ran straightaway to hug him. However, Bujang
Hitam shoved her away.
"Who the hell are you?!!" Bujang Hitam scolded.
"I am your mother, Bujang." Said Mak Minah who was
shocked by his scolding.
"Who is this lady, my husband?" asked Bujang Hitam’s
wife, who happened to come out of her room.
“No one, just a poor villager!", Bujang Hitam replied.
40
Mak Minah dan pak Sahi masih berprasangka baik,
barangkali Bujang Hitam sudah lupa dengan muka emak
dan ayahnya karena sudah puluhan tahun merantau.
Dengan hati yang masih terkejut, mak Minah mencoba
berusaha meyakinkan lagi kepada Bujang Hitam.
“Bujang anakku, tidakkah engkau ingat, aku ini emak mu
yang telah membesarkanmu. Aku sangat yakin bahwa
engkau adalah putra yang sudah kulahirkan dulu.” Kata
mak Minah.
“Benar wahai anakku, tidakkah kau ingat saat kita mencari
ikan dan berburu kekah dahulu?” Timpal pak Sahi
menyambung kata mak Minah.
“Wahai anakku, ayahmu baru saja selesai berburu tadi pagi,
dan kini emak bawakan tabel mando dan kekah panggang
kesukaanmu”. Kata mak Minah tersenyum sembari
memberikan makanan kepada Bujang Hitam.
“tidak usah!! aku tidak makan makanan orang miskin dan
susah seperti ini, Pergi kau dari kapalku!” Hardik Bujang
Hitam kepada emaknya.
Dengan perasaan malu bercampur sedih dan hati yang
hancur berkeping-keping. Mak Minah pergi meninggalkan
kapal milik putranya tersebut. Air mata mak Minah mengalir
41
Mak Minah and Pak Sahi still have positive feelings
toward Bujang Hitam. Perhaps he forgot his mother and
father’s faces, given that it had been decades since he left.
In a distress, Mak Minah tried to talk to Bujang Hitam again.
"My son, Bujang, don’t you remember me? I am your
mother, who brought you up. I’m sure that you are the one,
my only son." Said Mak Minah.
"That’s right, son. Don’t you remember the time we
spent fishing and hunting?" Pak Sahi added.
"Dear my son, your father has just hunted this morning.
I bring your favorite Tabel Mando and Baked Kekah." Said
Mak Minah, smiling while giving the food to Bujang Hitam.
"No need! I don’t eat this kind of poor and miserable
food. Get off of my ship!" Bujang Hitam snarled at his
mother.
Shamed and heartbroken, Mak Minah left his son’s ship.
Mak Minah cried.
42
pelan melewati pipi dan jatuh ke lantai. Ia masih tak
menyangka, anak semata wayangnya tidak mengingatnya
hingga memperlakukan dirinya demikian hinanya. Entah apa
yang merasuki fikiran Bujang Hitam berbuat demikian.
Dengan hati yang masih hancur serta air mata yang masih
mengalir, pulanglah mak Minah dengan pak Sahi menuju
pantai. Kemudian pak Sahi dan mak Minah pulang ke rumah.
Menuju tungku dan duduk di atasnya, seraya berserapah.
“jika benar lelaki di kapal tadi adalah putra yang aku
lahirkan dari rahimku, putra yang telah kubesarkan sepenuh
hati, maka berilah azab padanya saat ini!” Begitu ungkapan
pak Sahi dan mak Minah seraya mengangkat tangannya
memohon pada Yang Kuasa.
Seketika itu pula, badai dan angin ribut datang,
gelombang besar datang dari tengah laut beserta suara
gemuruh yang tiada henti. Kesemuanya bertuju pada satu
arah, yaitu kapal milik Bujang Hitam. Seisi kapal panik tak
terkira karena datangnya secara tiba-tiba. Bujang Hitam
yang panik hingga tak tahu lagi berbuat apa, terlebih dari
tengah laut gelombang besar siap datang menghantam
kapal. Seketika itu pula barulah ia menyesal akan
perbuatannya tadi kepada ibunya, ia memanggil-manggil
ibunya seraya memohon ampun. Namun sudah terlambat,
43
She still could not believe that her only son did not even
remember her and despised her. She had no faintest idea
what possessed Bujang Hitam that made him do that.
Mak Minah and Pak Sahi went back with broken hearts. At
home, they sat around the stove cursing.
"If that man is really my flesh and blood, whom I
brought up wholeheartedly, then calamity will fall upon him
now!" Pak Sahi and Mak Minah prayed to the almighty god.
Thereupon, storms and hurricanes came. The big
waves, along with endless roars, headed in only one
direction. That was Bujang Hitam’s ship. People on board
were panic-stricken, and Bujang Hitam did not know what
to do. At once, he regretted the things he did to his mother.
He called his mother, begging for forgiveness. But it was
too late.
44
gelombang besar menghantam kapal besarnya hingga
karam dan hancur. Seisi kapal berserak kemana rimbanya.
Hanya satu sekoci kapal yang tersisa. Bujang Hitam beserta
kapal dan sekocinya ikut karam di Teluk dan menjadi sebuah
Pulau Batu yang besar, yang kita kenal saat ini dengan
nama Pulau Sahi.
Meski sudah menjadi pulau batu, azab dan permohonan
ampun Bujang Hitam kekal dalam kutukannya, lubang
meriam kapal yang telah menjadi batu tersebut kerap
mengeluarkan kata “ibuku. Bu, buu” ketika diterjang ombak.
---
Catatan di luar cerita:
Menurut cerita dari Wak Hasim, Pulau Sahi itu ada dua.
Pulau Sahi Darat dan Pulau Sahi Laut. Pulau Sahi Darat
adalah tempat di mana Pak Sahi tinggal bersama
keluarganya. Lokasinya berada tak jauh dari Pulau Sahi
Laut, namun detailnya tidak kami dapati secara pasti.
Sedang Pulau Sahi Laut adalah Pulau Sahi yang kita kenal
selama ini, sebuah batu karang besar yang terletak sekitar
300 meter dari pantai. Penamaan pulau dan Teluk Sahi
adalah dari nama tokoh cerita tersebut. Teluk yang berada
di dekat pulau itu juga diberi nama Teluk Sahi. Pada kurun
tahun 1970-an, cerita Pulau Sahi pernah dilakonkan oleh
45
The waves wreaked havoc on the ship and tore it to pieces.
The shipwreck was scattered. Only one lifeboat remained.
Bujang Hitam, his ship, and the lifeboat sank in a bay and
became a big stone island, which is known as Sahi Island.
Even though he became a stone island, Bujang Hitam’s
punishment and begging for forgiveness is eternal. The hole
of the ship’s cannon had become a stone and often emits
the sound "Mother, mom, mom." when the waves hit.
---
Notes outside the story:
According to a story from Wak Hasim, there are two
Sahi Islands. Sahi Darat Island and Sahi Laut Island. Pulau
Sahi Darat is the place where Pak Sahi lives with his family.
The location is not far from Sahi Laut Island, but we can't
find the details for sure. While Pulau Sahi Laut is the Sahi
Island we know so far, it is a large rock located about 300
meters from the beach. The names of the island and Sahi
Bay are taken from the names of the characters in the
story. The bay near the island is also named Teluk Sahi. In
the 1970s, the story of Pulau Sahi was performed by
46
Wak Hasim dan kawan-kawannya di Kelanga bila ada
perhelatan besar. Namun lakon ini kerap mendapat
“dampingan” dari hal-hal mistis yang kerap menyertai.
Sehingga beberapa pemain mengalami kesurupan. Konon
kabarnya “mereka” datang dari Pulau Sahi Darat yang
memang dikenal dengan lokasi angker. Pantangan di Pulau
Sahi Laut adalah untuk tidak menceritakan kisah si Bujang
Hitam bila kita sedang berada di dekat atau di atas pulau.
Tidak mengapa jika diceritakan ketika sedang di pantai
Teluk Sahi. “Ia malu bila diceritakan,” begitu kata Wak
Hasim.
47