SERBA-SERBI BUDAYA CIREBON 2023 SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS TEKS OLEH NURHANNAH WIDIANTI IAIN SYEKH NURJATI CIREBON BAHAN AJAR BIPA TINGKAT DASAR
DAFTAR ISI i Daftar Isi ...................................................................... i Kata Pengantar ........................................................... ii Unit 1 “Kuliner Khas Cirebon" ................................... 1 Tujuan Pembelajaran ................................................. 3 Materi ........................................................................... 4 Tindak Lanjut Pembelajaran ..................................... 15 Unit 2 “Kesenian Khas Cirebon” ................................ 16 Tujuan Pembelajaran ................................................. 18 Materi ........................................................................... 19 Tindak Lanjut Pembelajaran ..................................... 31 Unit 3 “Keraton-keraton di Cirebon” ........................ 32 Tujuan Pembelajaran ................................................. 34 Materi ........................................................................... 35 Tindak Lanjut Pembelajaran ..................................... 54 Unit 4 “Tempat Wisata di Cirebon” ........................... 55 Tujuan Pembelajaran ................................................. 57 Materi ........................................................................... 58 Tindak Lanjut Pembelajaran ..................................... 63
KATA PENGANTAR BERKAT RAHMAT ALLAH SWT. ALHAMDULILLAH MODUL “SERBA-SERBI BUDAYA CIREBON SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS TEKS” UNTUK PENUNJANG MATA KULIAH PENGEMBANGAN STRATEGI DAN MODEL PEMBELAJARAN BIPA TERWUJUD. HAL INI AKAN MEMBANTU MAHASISWA TADRIS BAHASA INDONESIA, IAIN SYEKH NURJATI CIREBON DALAM MEMAHAMI MATERI BIPA (BAHAN AJAR BAGI PENUTUR ASING) YANG BERBASIS BAHASA MAUPUN BUDAYA INDONESIA. MODUL INI MENJADI ACUAN BAGI MAHASISWA SEBAGAI CALON PENGAJAR BIPA UNTUK MEMBERIKAN MODEL PEMBALAJARAN BERBASIS TEKS YANG BERMAKNA BAGI PESERTA DIDIK. MODUL INI TIDAK SAJA MEMUAT DESKRIPSI TENTANG BUDAYA CIREBON, TETAPI JUGA DILENGKAPI ILUSTRASI. UPAYA ITU MEMBERIKAN GAMBARAN KONKRET TENTANG KULINER, KESENIAN, MAUPUN TEMPAT BERSEJARAH DI CIREBON. MODUL INI MUDAH DIPELAJARI SECARA INKUIRI KARENA MENYAJIKAN TEKS-TEKS SEDERHANA. SISI KHAS LAIN MODUL INI, YAITU FOKUS MENGULIK TENTANG KEKAYAAN BUDAYA CIREBON SEBAGAI PEMBAHASAN UNTUK MODEL PEMBAJARAN BERBASIS TEKS. DI MASA MENDATANG DHARAPKAN AKAN TERSEDIA MODUL-MODUL LAINNYA YANG DAPAT MENUNJANG BELAJAR MAHASISWA. CIREBON, JULI 2023 KETUA JURUSAN TADRIS BAHASA INDONESIA ii Tato Nuryanto, M.Pd
KULINER KHAS CIREBON 1 ... UNIT 1
KULINER KHAS CIREBON 2 ... UNIT 1 SELAMAT DATANG REKAN MAHASISWA DI UNIT 1 “KULINER KHAS CIREBON”. PEMBELAJARAN BIPA AKAN SELALU TERKAIT DENGAN ASPEK KEBAHASAAN MAUPUN KEBUDAYAAN INDONESIA. PADA UNIT INI ANDA AKAN DIKENALKAN DENGAN BERAGAM KULINER KHAS CIREBON. BAGI MAHASISWA ASING KULINER INDONESIA MERUPAKAN DAYA TARIK TERSEDIRI KARENA MEMILIKI CITA RASA YANG KHAS. MATERI KULINER PERLU DIPELAJARI KARENA SALAH SATU MODEL UNTUK BELAJAR BAHASA. JADI, BACALAH DESKRIPSI BERBAGAI KULINER KHAS CIREBON, JAWA BARAT DENGAN SAKSAMA.
3 KEGIATAN BELAJAR 1: KULINER KHAS CIREBON TUJUAN PEMBELAJARAN Pada akhir pembelajaran, Anda sebagai calon pengajar BIPA diharapkan dapat menjelaskan berbagai kuliner khas Cirebon dengan baik.
Docang singkatan dari “godogan kacang” yang berarti air rebusan kacang (dage). Makanan asli Cirebon tersebut terdiri dari lontong yang dipotong-potong kecil, daun singkong rebus, taoge, taburan parutan kelapa segar, siraman kuah dage, dan remasan kerupuk. Kuliner ini memiliki cita rasa yang lezat dan gurih serta sangat cocok bila disantap pada pagi hari. 4 MATERI DOCANG
Nasi jamblang memiliki ciri khas penyajian, yaitu nasi dan lauk-pauknya dibungkus menggunakan daun jati. Kuliner khas Cirebon ini terdiri dari nasi putih yang dilengkapi dengan berbagai macam menu masakan seperti sambal goreng, semur, perkedel, sate kentang, blekutak, tempe, tahu, paru, dan lain-lain. 5 NASI JAMBLANG
Empal gentong merupakan menu olahan yang berbahan dasar daging sapi, kerbau, atau kambing. Disebut “Empal Gentong” karena daging dan kuah kuningnya dimasak dalam gentong yang terbuat dari gerabah. Dalam penyajiannya, empal gentong terlebih dahulu ditaburi kucai dan bawang goreng. Lalu, dilengkapi pula dengan lontong, nasi, atau kerupuk rambak yang terbuat dari kulit kerbau. 6 EMPAL GENTONG
Empal asem dan empal gentong hanya berbeda dari segi kuah saja. Kuah empal gentong memakai kunyit dan santan, sedangkan empal asem tidak. Kuah empal asem bening, beraroma segar, dan untuk menciptakan rasa asam digunakanlah belimbing wuluh. 7 EMPAL ASEM
Mie koclok khas Cirebon memiliki ciri khas dari kuahnya yang kental dan gurih. Kuah tersebut terbuat dari maizena dan santan yang diaduk-aduk hingga mengental. Kuah itu disajikan dengan mie kuning yang dilengkapi taoge, irisan telur rebus, irisan kol, taburan bawang goreng, dan suwiran daging ayam. 8 MIE KOCLOK
Tahu gejrot terdiri dari irisan-irisan tahu yang telah digoreng dan kuah yang terbuat dari gula merah. Biasanya, kuah tersebut dicampur dengan cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih yang ditumbuk agak halus. 9 TAHU GEJROT
10 TAHU PETIS Tahu petis terdiri dari tahu goreng berbentuk segitiga yang dilengkapi dengan sambal kental berwarna hitam (petis). Sambal tersebut konon sudah ada sejak zaman Pangeran Cakrabuana (pemimpin Cirebon). Makanan khas ini sangat mudah dijumpai ketika ada perayaan Muludan di sekitar Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan, atau pasar malam.
Kerupuk melarat memiliki warna yang beraneka, yakni merah, putih, dan kuning. Kerupuk ini dalam pengolahannya tidak menggunakan minyak, tetapi menggunakan pasir. Dinamai kerupuk melarat karena tidak semua masyarakat mampu membeli minyak goreng. Akhirnya digunakanlah pasir sebagai penggantinya. Namun, pasir yang digunakan tidak sembarang pasir karena sudah melalui proses penyaringan dan konon pasir tersebut berasal dari pegunungan. 11 KERUPUK MELARAT
Intip dibuat dari kerak nasi liwet yang diberi bumbu sederhana. Panganan khas Cirebon ini memiliki dua rasa, yaitu asin dan manis. Intip sangat mudah dijumpai di Kawasan Pemakaman Sunan Gunung Djati, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon. 12 INTIP
13 KOCI Koci dibuat dari beras ketan putih yang diberi isian tumbukkan kacang hijau atau kacang tanah, kemudian dibungkus menggunakan daun pisang. Setelah itu, barulah dikukus. Makanan ini dijual di pasar atau bisa dijumpai ketika ada acara pernikahan, khitanan, atau syukuran.
Panganan ini disebut rara gudid karena adanya bintik-bintik putih, coklat, atau merah di sekeliling permukaannya. Makanan khas Cirebon ini sudah ada sejak zaman pejajahan Belanda. Pada awalnya, rara gudik dibuat untuk kelengkapan sajian pada slametan, terutama isi besek. 14 RARAGUDIG
15 TINDAK LANJUT PEMBELAJARAN Jelaskanlah minimal 3 makanan khas Cirebon yang terdapat pada modul ini kepada pembelajar asing dengan menunjukkan contoh makanan tersebut. Tujuannya agar mereka dapat mencicipi dan memberikan komentar terhadap kuliner yang dicicipinya. REFERENSI DISPORBUDAPAR KOTA CIREBON REFERENSI KONTRIBUTOR OBSERVASI LAPANGAN ALFIAH, DKK
KESENIAN KHAS CIREBON 16 ... UNIT 2
SELAMAT DATANG REKAN MAHASISWA DI UNIT 2 “KESENIAN KHAS CIREBON”. PEMELAJAR ASING SANGAT TERTARIK PADA KEBUDAYAAN INDONESIA, SALAH SATUNYA KESENIAN. OLEH KARENA ITU, REKAN MAHASISWA SEBAGAI CALON PENGAJAR BIPA HARUS MEMILIKI PENGETAHUAN DAN MAMPU MEMPRAKTIKKAN KESENIAN LOKAL. PADA UNIT INI ANDA AKAN DIKENALKAN DENGAN BERAGAM KESENIAN KHAS CIREBON. DENGAN DEMIKIAN, PEMBELAJARAN DI KELAS AKAN MENARIK. KESENIAN KHAS CIREBON 17 ... UNIT 1
18 KEGIATAN BELAJAR 2: KESENIAN KHAS CIREBON TUJUAN PEMBELAJARAN Pada akhir pembelajaran, Anda sebagai calon pengajar BIPA diharapkan dapat mempraktikkan kesenian khas Cirebon dengan baik.
Tari Topeng Panji menggambarkan tentang kehidupan seorang bayi yang masih suci dan belum memiliki dosa. Tarian ini menggunakan topeng yang berkarakter halus dan berwarna putih penuh kepolosan. Secara kreografi tari Topeng Panji dilakukan dengan gerakangerakan yang lembut, halus, dan penuh konsentrasi. Hal itu dikarenakan adanya kekontrasan antara gerak dan iringan musik yang cenderung gemuruh serta nuansa interval nada yang sangat tinggi. 19 MATERI TARI TOPENG PANJI
Tari Topeng Pamindo atau Samba menggambarkan tentang siklus kehidupan manusia dari bayi menuju masa kanak-kanak. Pamindo sendiri memiliki makna bertambah. Gerakan tarian ini cenderung lincah dan riang, benar-benar mencerminkan perilaku anak yang sedang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan mulai mempelajari tentang makna kehidupan. Tarian ini menggunakan topeng berwarna putih yang secara visualisasi menunjukkan keceriaan atau keriangan seorang anak. 20 TARI TOPENG PAMINDO (SAMBA)
21 TARI TOPENG RUMYANG Tari Topeng Rumyang merupakan kelanjutan dari Topeng Pamindo. Hal ini tercermin dari pemakaian topeng yang digunakan sejak awal pementasan, sedangkan tari topeng lainnya menggunakan topeng hanya di tengah-tengah tarian. Gerakan Tari Topeng Rumyang sangat gesit, lincah, dan penuh keceriaan. Tarian ini menggunakan topeng berwarna merah jambu karena ingin menggambarkan peralihan dari masa kanak-kanak menuju remaja.
Tari Topeng Temenggung menggambarkan seorang manusia yang telah masuk dalam fase dewasa. Tarian ini mencerminkan seorang kesatria yang gagah berani, jujur, dan memahami arti kebaikan serta keburukan. Hal ini tampak jelas dari gerakannya yang berkarakter gagah tertib dan meruang. Oleh karena itu, Tari Topeng Temenggung dapat dianalogikan sebagai manusia yang telah menemukan eksistensi diri dan jati dirinya. Dalam pementasannya, penari menggunakan topeng berwarna merah bata. 22 TARI TOPENG TEMENGGUNG
23 TARI TOPENG KLANA Tari Topeng Klana menggambarkan tipikal seorag raja yang kaya raya, gagah, dan sakti mandraguna. Namun, ia pun memiliki tabiat yang angkuh dan sombong. Hal ini tercermin dari topengnya yang berwarna merah menyala dan terkesan seperti danawa. Secara koreografi, tari Topeng Klana memiliki gerakan yang terlihat gagah, tapi bengis.
Tarling merupakan akronim dari “gitar” dan “suling”. Kesenian ini berasal dari persahabatan dua orang, yaitu Jayana dan Liem Sin You atau Pak Barong, seorang keturunan Tionghoa. Sekira tahun 1950-an setiap bulan purnama tiba, mereka selalu nongkrong di pinggir kali sambil bernyanyi dengan diiringi gitar dan suling yang dilaras kepada Gending Cirebonan. Lambat laun aktivitas mereka semakin diminati dan digemari masyarakat sekitar. Seiring waktu, alat musik gitar dan suling ditambah dengan kendang, ketuk, kempul, dan kecrek. Kini tarling pun semakin berkembang menjadi tarling dangdut yang diusung alat musik organ, gitar elektrik, dan gong. Lalu, unsur cerita atau drama pun turut melengkapinya. Cerita yang sangat terkenal, yaitu Baridin dan Suratminah, Buduk Basu, dan lain sebagainya. 24 TARLING
25 WAYANG KULIT Mitologi di tanah Jawa menyebutkan bahwa wayang merupakan salah satu kesenian yang multi fungsi, tidak hanya mengisahkan tentang cerita Mahabarata dan Ramayana saja. Wayang kulit pun bisa dijadikan media dakwah, pesan, atau program-program pemerintah yang sampai sekarang masih hidup dan berkembang di antara masyarakat pemiliknya maupun penikmatnya. Begitu pun wayang kulit di Cirebon secara pertunjukkannya sama dengan menggunakan kelir atau layar yang disorot dengan lampu sehingga para penonton bisa melihat pergerakkan wayang dari layar tersebut. Hal yang membedakannya, yaitu dari segi laras gending dan lagu pengiring khas Cirebonan seperti laras perawa, pelog, salendro dan lain sebagainya.
Wayang Golek Cepak memiliki makna secara harfiah “wayang” (bayangan), “golek” (boneka dari kayu), dan “cepak” (tidak runcing terutama dalam bentuk mahkotanya). Pementasan kesenian wayang Cepak ini secara umum hampir sama dengan pementasan wayang Golek Sunda. Perbedaan yang paling menonjol adalah pada cerita yang dibawakannya. Wayang golek Sunda pada umumnya mengambil cerita dari Babad Ramayana dan Mahabarata, sedangkan wayang Golek Cepak banyak membawakan seperti cerita Amir (menak), cerita Wali Songo, cerita Panji, maupun cerita lainnya yang biasanya dipentaskan hingga semalam suntuk. 26 WAYANG GOLEK CEPAK
27 SINTREN Tarian sintren tumbuh dan berkembang di Pantai Utara Jawa, khususnya Indramayu. Tarian ini pada awalnya dipentaskan oleh para nelayan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan dan limpahan ikan dari hasil melaut. Sintren sarat dengan unsur magis, dalam pementasannya dipimpin oleh seorang punduh (dukun) yang didukung oleh media pedupaan dan kemenyan yang sudah dimantrai. Sementara itu, media kurungan disimbolisasikan sebagai alam dunia. Lalu, penari yang diikat merupakan simbol bahwa manusia harus berjuang dan mampu melepaskan diri dari berbagai masalah kehidupan. Hal yang unik dari tarian ini adalah penari selama pementasan tidak sadarkan diri (trance), kemudian apabila penari dilempar uang koin, maka penari akan terjatuh. Hal ini mencerminkan agar manusia harus jauh dari unsur keduniawian.
Kesenian kuda lumping disebut juga sebagai “Jaran Cecek” atau “Kuda Kepang”. Pementasannya dilakukan oleh 5 orang pemain, boleh perempuan maupun lakilaki. Di antara pemain itu ada yang disebut kuda belo. Kuda tersebut berwarna putih dan memiliki gerakan yang lucu sehingga disukai penonton. Namun, ada pula yang paling ditakuti, yaitu kuda basang dan kuda lanang. Kedua kuda tersebut beringas dan suka menendang. Dalam pementasannya, kesenian kuda lumping dipimpin oleh sehu atau malim dan diiringi pula oleh tetabuhan berupa gamelan renteng, gendang, tutuk, serta kecrek. Gerakan yang ditampilkan dalam kesenian ini sangat atraktif, dinamis, dan cenderung seperti orang yang kesurupan. Pada saat kesurupan itulah para pemain memperlihatkan tingkah laku seperti kuda yang memakan rumput, beling, bara api, paku, hingga minum air berember-ember. 28 KUDA LUMPING
29 BEROKAN Kesenian berokan merupakan kesenian tradisional yang dianggap sebagai pengusir roh jahat. Pementasan kesenian ini dipercayai dapat menolak bala dari musibah penyakit, kekeringan yang berkepanjangan, dan lain-lain. Namun, kini fungsi pementasannya sudah berubah, yaitu sebagai sarana hiburan. Seni berokan dimainkan oleh seorang pemain dengan dipimpin dalang yang mahir memainkan sempretan. Suara sempretan itu sangat unik dan sulit untuk ditiru.
Seni burok merupakan kesenian yang namanya berasal dari bahasa Arab, yaitu buroq (cahaya). Secara visual, kesenian ini menggambarkan seekor “Kuda Sembrani” yang bersayap dengan berkepala seorang perempuan berparas cantik. Lalu, dibagian punggungnya bisa dinaiki oleh orang, biasanya anak kecil. Fungsi dari kesenian ini adalah sebagai sarana hiburan yang dipentaskan pada saat acara khitanan. Pada zaman dahulu, kesenian ini hanya diiringi musik dari bedug dan genjring. Namun, sekarang sudah dilengkapi dengan alat musik berupa organ elektrik dan juga penyanyi yang sering membawakan lagu-lagu dangdut. 30 SENI BUROK
31 TINDAK LANJUT PEMBELAJARAN Praktikkanlah 1 kesenian khas Cirebon yang terdapat pada modul ini kepada pemelajar asing di kelas secara bersama-sama. Tujuannya agar mereka memiliki pengalaman belajar yang bermakna dan menambah rasa bangga terhadap bahasa maupun budaya Indonesia. REFERENSI DISPORBUDAPAR KOTA CIREBON REFERENSI KONTRIBUTOR OBSERVASI LAPANGAN ALFIAH, DKK
KERATON-KERATON DI CIREBON 32 ... UNIT 3
SELAMAT DATANG REKAN MAHASISWA DI UNIT 3 “KERATON-KERATON DI CIREBON”. DESTINASI WISATA YANG UNIK DAN INDAH MENJADI DAYA TARIK MASYARAKAT DUNIA UNTUK MEMPELAJARI BAHASA INDONESIA. BEBERAPA TEMPAT BERSEJARAH DAN IKONIK DI CIREBON BISA DIKENALKAN KEPADA MEREKA PADA UNIT INI ANDA AKAN DIKENALKAN DENGAN KERATON-KERATON YANG ADA DI CIREBON. DENGAN DEMIKIAN, PEMBELAJARAN DI KELAS BUKAN SAJA BELAJAR BAHASA, MELAINKAN MENGENAL JUGA TEMPAT MONUMENTAL DI CIREBON. KERATON-KERATON DI CIREBON 33 ... UNIT 1
34 KEGIATAN BELAJAR 3: KERATON-KERATON DI CIREBON TUJUAN PEMBELAJARAN Pada akhir pembelajran, Anda sebagai calon pengajar BIPA diharapkan dapat menjelaskan keraton-keraton di Cirebon dengan jelas.
Keraton Kasepuhan dahulunya disebut sebagai “Keraton Pakungwati”. Sebutan itu berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Keraton Kasepuhan memiliki ciri khas dikelilingi oleh bata merah dan dikenal mempunyai dua kompleks bangunan bersejarah, yakni Kompleks Dalem Agung Pakungwati (berdiri pada tahun 1430 M oleh Pangeran Cakrabuana) serta Kompleks Keraton Pakungwati (didirikan oleh Pangeran Mas Zainul Arifin pada tahun 1529 M). 35 MATERI KERATON KASEPUHAN Keraton Kasepuhan mempunyai koleksi benda pusaka, peralatan perang, lukisan Prabu Siliwangi, dan Kereta Singa Barong (kendaraan Sunan Gunung Jati). Selain itu, keraton ini pun memiliki ritual adat atau tradisi yang setiap tahunnya dilaksanakan secara rutin. Misalnya, tradisi Panjang Jimat yang selalu dilakukan berbarengan dengan tiga keraton lainnya, yakni Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Kaprabonan. Lalu, tradisi lain yang kerap menarik antusiasme masyarakat adalah ritual pencucian alat makan Wali Songo yang telah berusia lebih dari 500 tahun. Dalam prosesnya, pencucian itu dilakukan sembari memanjatkan doa dan selawat.
Keraton Kanoman dibangun sekira tahun 1588 M oleh Pangeran Mohamad Badridin Kartawijaya sebagai Sultan Anom 1. Keraton ini berada di Kecamatan Lemahwungkuk dan tidak jauh dari Keraton Kasepuhan, jaraknya hanya ± 600 m ke arah utara. Keraton Kanoman memiliki 27 bangunan yang berdiri sejak awal abad ke-16, kecuali Gedung Pusaka yang berdiri pada abad 20. Keraton Kanoman sangat menarik untuk dikunjungi karena di area kompleksnya terdapat bangunan yang sungguh bersejarah. Bangunan itu disebut sebagai “Witana”. Witana didirikan oleh Pangeran Cakrabuana dan menjadi bangunan pertama yang ada di Cirebon. 36 KERATON KANOMAN Keraton Kanoman memiliki 24 agenda tradisi yang rutin dilakukan setiap tahun. Salah satu yang menarik untuk diikuti, yakni Pembacaan Babad Cirebon (1 Muharam), Panjang Jimat (11 Maulud), dan Grebeg Syawal (7 Syawal). Acara tersebut sarat dengan kesakralan dan sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat dari dalam kota, luar kota, bahkan mancanegara.
37 MENGENAL LEBIH DEKAT KERATON KANOMAN Pancaratna merupakan tempat berjaga atau area screening jika ada masyarakat yang ingin bertemu dengan Sultan (raja). Penjaga yang bertugas di Pancaratna adalah perwira. Oleh karena itu, Pancaratna dibuat dengan memberikan undagan karena penjaga memiliki jabatan yang lebih tinggi. Pada zaman dahulu Pancaratna tidak menggunakan pagar dan keramik, serta bagian atap masih menggunakan sirap atau kayu yang terbuat dari kayu jati. Hanya saja, kini diubah menjadi genting karena proses pembuatan sirap yang cukup sulit. PANCARATNA
38 MENGENAL LEBIH DEKAT KERATON KANOMAN Pancaniti sama dengan pancaratna, yakni sebagai tempat berjaga. Hanya saja, penjaga di Pancaratna lebih tinggi jabatannya, yakni perwira. Maka dari itu, bangunan Pancaniti tidak terdapat undagan atau keramik dalam posisi rata. Struktur bangunan ini menghadap ke utara. Utara itu disimbolkan sebagai laut, selatan itu gunung. Oleh karena itu diharapkan masyarakat Cirebon memiliki pandangan yang seluas lautan dan memiliki derajat yang tinggi. PANCANITI
39 MENGENAL LEBIH DEKAT KERATON KANOMAN Lemah duwur (tanah tinggi) merupakan komplek di bagian depan keraton dan di area tersebut terdapat bangunan Mande manguntur (tempat duduk sultan) dan panggung untuk pertunjukan, biasanya digunakan untuk pertunjukkan gamelan sekaten. Disebut area lemah duwur karena komplek tersebut memiliki lahan yang tiggi dari area keraton lainnya. Area lemah duwur dipagar dengan bahan bata berwarna merah, pada pagar bata tersebut terdapat gapura serta pintu (bahasa Cirebon = lawang) yang dihiasi dengan piringan keramik pemberian Ratu Ong Tin dari Tiongkok sekitar tahun 1481. Keramik-keramik tersebut sengaja dibawa oleh beliau dengan menaiki kapal Bantaleo dan diproduksinya pada masa Dinasti Ming. Pintu (bahasa Cirebon = lawang) yang memagari area Lemah duwur memiliki nama dan maknanya masing-masing. Pintu pertama yang menghadap sisi utara dinamakan Lawang syahadat, sisi barat dinamakan Lawang sholawat, dan sisi selatan diberi nama Lawang kiblat. LEMAH DUWUR
40 MENGENAL LEBIH DEKAT KERATON KANOMAN Pintu ini dibuka hanya setahun sekali, saat prosesi besar Panjang Jimat. Kata Seblawong merupakan singkatan dari “sebelahe lowong”. Pintu ini difungsikan untuk area pemeriksaan sebelum bertemu Sultan. Petugas yang membuka bukanlah sembarang orang. Harus abdi dalem yang membukanya. LAWANG SEBLAWONG
41 MENGENAL LEBIH DEKAT KERATON KANOMAN Pintu ini juga dibuka hanya ketika upacara Panjang Jimat. Pintu ini dibuka ketika Sultan ingin membicarakan masalah-masalah hukum, agama, dan lain-lain. LAWANG KEJAKSAN
42 MENGENAL LEBIH DEKAT KERATON KANOMAN Bale Paseban adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat pengaduan. Masyarakat yang ingin mengadu kepada sultan dipersilakan untuk konfirmasi di sini. Bale Paseban berukuran 12 x 12 meter. Bale Paseban ini berbahan kayu, berlantai, dan bangunan terbuka tanpa dinding. Bale Paseban hanya memiliki beberapa tiang yang menopang atapnya. BALE PASEBAN
43 MENGENAL LEBIH DEKAT KERATON KANOMAN Setiap tanggal 8 hingga 12 Bulan Maulid akan dilakukan pementasan khusus Gamelan Sekaten yang digelar di Bangsal Sekaten. Porselen dan piring keramik yang ditempelkan di dinding maupun pintu berasal dari Cina yang dibawa oleh istri Sunan Gunung Jati, Ong Tien Nio ke Cirebon. BANGSAL SEKATEN
44 MENGENAL LEBIH DEKAT KERATON KANOMAN Mande Manguntur merupakan tempat duduk (palinggihan) sultan ketika menyaksikan dan menghadiri upacara sakral seperti pemukulan gamelan sekaten tiap tanggal 8 Robiul Awal atau apel yang dilakukan oleh prajurit. Bangunan ini menghadap ke arah utara dan terbuka tanpa dinding. Lantainya keramik dan di kelilingi oleh tiang yang saling berhubungan. Di dalam Mande Manguntur juga terdapat balai yang biasanya digunakan oleh sultan untuk duduk. Balai ini juga diperuntukkan bagi sultan dalam menyampaikan nasihat atau berita, norma, maupun ajaran agama kepada masyarakat. MANDE MANGUNTUR
45 MENGENAL LEBIH DEKAT KERATON KANOMAN Bangunan Siti Hinggil merupakan bentuk menghargai keberadaan masyarakat budha, hindu, dan cina pada masanya yang kemudian diislamkan. Siti Hinggil berasal dari kata "siti" yang artinya tanah dan "hinggil" yang artinya tinggi. Siti Hinggil berarti tanah yang tinggi. Bangunan Siti Hinggil merupakan akulturasi budhahindu. Keramik-keramik yang menempel pada bangunan tersebut merupakan keramik pemberian kerjaan Cina. Ong Tin pada tahun 1481 menaiki kapal Bantaleo membawa keramik-keramik tersebut yang kemudian diberikan kepada Sunan Gunung Jati untuk dipersembahkan kepada raja-raja. Keramik tersebut merupakan produksi dinasti ying. Untuk menghargai pemberian tersebut dan agar tidak hilang maka ditempellah keramik-keramik tersebut pada bangunan yang ada di Keraton. Keramik tersebut merupakan ciri khas bangunan Keraton Kanoman. SITI HINGGIL
46 MENGENAL LEBIH DEKAT KERATON KANOMAN Bangsal Jinem merupakan tempat penerimaan tamu, baik masyarakat maupun tamu dari kalangan pejabat yang ingin bertemu atau pun diundang oleh Sultan. Bangsal ini berbentuk joglo berganda dengan lima pasang tiang yang menyanggahnya. Konon, lima tiang tersebut melambangkan salat lima waktu. BANGSAL JINEM
47 MENGENAL LEBIH DEKAT KERATON KANOMAN Bangsal Witana terletak di bagian paling belakang Keraton Kanoman. Witana berasal dari dua kata, yakni wiwit (pertama) dan ana (ada), dan diartikan sebagai pertama kali ada. Hal ini mengacu pada ucapan Pangeran Cakrabuana mengenai awal mula ditemukannya daerah Cirebon. Bangunan ini berbentuk joglo yang disanggah oleh empat tiang. Di depan bangunan terdapat kolam ikan yang telah mengering dan dilengkapi hiasan wadasan (batu karang) dan mega mendung. Pada bagian sisi kiri bangsal terdapat gapura, sedangkan sisi sebelah kanannya ada menara. Konon, pada zaman dahulu menara ini digunakan untuk melihat laut, pantai, dan kapal-kapal yang berlabuh di Cirebon. Hal tersebut dikarenakan pada zaman dahulu letak Bangsal Witana dengan laut sangat dekat. Di era sekarang, bangsal ini digunakan untuk pembacaan Babad Cirebon yang jatuh setiap tanggal 1 Muharam BANGSAL WITANA