Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Dalam Undang-undang No. 35 tahun 2009, apotek hanya dapat memesan
narkotika melalui Pedagang Besar Farmasi (PBF) tertentu yang telah ditetapkan oleh
Menteri Kesehatan. Untuk memudahkan pengawasan maka apotek hanya dapat
memesan narkotika ke PBF PT. Kimia Farma dengan menggunakan Surat Pesanan
(SP) yang ditandatangani oleh APA serta dilengkapi dengan nama jelas, nomor SIK,
nomor SIA, dan stempel apotek. Satu SP hanya boleh memesan satu jenis narkotika.
Surat Pesanan terdiri dari 4 rangkap, 3 rangkap termasuk aslinya diserahkan ke pihak
distributor (Kimia Farma) sementara sisanya disimpan oleh pihak apotek sebagai
arsip.
Pada Permenkes Pasal 14 ayat (1) UU No. 35 Tahun 2009. Tata cara
penyimpanan narkotika diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 3 tahun 2015.
Dalam Peraturan tersebut dinyatakan bahwa apotek harus mempunyai tempat khusus
untuk menyimpan narkotika.
Tempat penyimpanan narkotika dapat berupa gudang, ruangan, atau lemari
khusus, tempat penyimpanan Narkotika dilarang digunakan untuk menyimpan barang
selain Narkotika.
Gudang khusus penyimpanan Narkotika harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Dinding dibuat dari tembok dan hanya mempunyai pintu yang dilengkapi
dengan pintu jeruji besi dengan 2 (dua) buah kunci yangberbeda.
Langit-langit dapat terbuat dari tembok beton atau jerujibesi;
Jika terdapat jendela atau ventilasi harus dilengkapi dengan jerujibesi;
Gudang tidak boleh dimasuki oleh orang lain tanpa izin Apoteker
penanggungjawab
Kunci gudang dikuasai oleh Apoteker penanggung jawab dan pegawai lain
yang dikuasakan.
Ruang Khusus penyimpanan Narkotika harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Dinding dan langit-langit terbuat dari bahan yangkuat
jika terdapat jendela atau ventilasi harus dilengkapi dengan jerujibesi
mempunyai satu pintu dengan 2 (dua) buah kunci yangberbeda
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 42
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
kunci ruang khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung jawab atau
Apotekeryang ditunjuk dan pegawai lain yang dikuasakan
tidak boleh dimasuki oleh orang lain tanpa izin Apoteker penanggung jawab
atau Apoteker yang ditunjuk
Ruang khusus penyimpanan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
terbuat dari bahan yang kuat
tidak mudah dipindahkan dan mempunyai 2 (dua) buah kunci yangberbeda
harus diletakkan dalam ruang khusus di sudut gudang, untuk Instalasi Farmasi
Pemerintah
diletakkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum untuk apotek
2.7.4.2 Penerimaan dan Penyimpanan Narkotika
Penerimaan narkotika dilakukan oleh APA yang dapat diwakilkan oleh AA
yang mempunyai SIK dengan menandatangani faktur, mencantumkan nama jelas,
nomor Surat Izin Apotek, dan stempel apotek. Segala zat atau bahan yang termasuk
narkotika di apotek wajib disimpan khusus sesuai dengan ketentuan yang
Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Puskesmas, Instalasi Farmasi Klinik, dan Lembaga
Ilmu Pengetahuan kunci lemari khusus dikuasai oleh Apoteker penanggungjawab
atau Apoteker yang ditunjuk dan pegawai lain yang dikuasakan.
2.7.4.3 Pelayanan Resep yang Mengandung Narkotika
Berdasarkan Peraturan BPOM Nomor 4 tahun 2018 tentang pengawasan
pengelolaan obat, bahan obat, narkotika, psikotropika, dan prekursor farmasi di
fasilitas pelayanan kefamasian. Ketentuan- ketentuan peresepan Narkotika sebagai
berikut :
a. Hanya dapat diserahkan dengan resep Dokter.
b. Resep yang mengandung narkotika diberi garis merah.
c. Pada resep atau salinan resep harus tercatat : nama, alamat pasien dan nomor
telepon yang bisa dihubungi dari pihak yang mengambil obat.
d. Penyimpanan resep dipisahkan dari resep-resep yang lain.
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 43
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
e. Fasilitas pelayanan Kefamasian dilarang menyerahkan Nrkotika berdasarkan
salinan resep yang baru dilayani sebagian atau belum dilayani sama sekali
apabila tidak menyimpan resep asli.
f. Fasilitas pelayanan kefarmasian dilarang mengulang penyerahan obat atas
dasar resep yang diulang (iter) apabila resep aslinya mengandung narkotika.
g. Apotek hanya dapat menyerahkan Narkotika berdasarkan resep yang ditulis
oleh dokter yang berpraktek di provinsi yang sama dengan apotek tersebut,
kecuali resep tersebut telah mendapat persetujuan dari Dinas kesehatan
kabupaten/kota tempat apotek yang akan melayani resep tersebut.
2.7.4.5 Pelaporan Narkotika
Menurut Peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia No. 3 tahun 2015
tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika,
Psikotropika, dan Prekursor Kefarmasian.
a. Setiap bulan kepada dirjen/depkes dengan tembusan Kepala Balai setempat
b. Paling lambat setiap tanggal 10 di setiap bulan, dilakukan secara elektronik di
SIPNAP
Lembar berisi data pemakaian narkotika untuk bulan yang bersangkutan
(meliputi nomor urut, nama bahan/sediaan , satuan , persediaan awal bulan ),
password dan username didapatkan setelah registrasi pada dinkes setempat.
Sipnap.binfar.depkes.go.id.
2.7.4.6 Pemusnahan
Pemusnahan narkotika menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 3 tahun
2015 menyebutkan bahwa pemegang izin khusus danatau Apoteker Pengelola Apotek
(APA) dapat memusnahkan narkotika yang rusak atau tidak memenuhi syarat.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 3 tahun 2015 tentang narkotika
menyebutkan bahwa pemusnahan narkotika dilakukan dalam hal sebagai berikut:
a. Diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan atau
tidak dapat digunakan dalam proses produksi.
b. Kadaluarsa.
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 44
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
c. Tidak memenuhi syarat lagi untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan Page 45
dan/atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
d. Dibatalkan izin edarnya
e. Berhubungan dengan tindak pidana
Berkaitan dengan tindak pidana berdasarkan pasal Peraturan Menteri
Kesehatan No. 3 tahun 2015 mengenai pemusnahan narkotika dilaksanakan oleh
pemerintah, orang atau badan usaha yang bertanggung jawab atas produksi dan/atau
peredaran narkotika, sarana kesehatan tertentu serta lembaga ilmu pengetahuan
dengan disaksikan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan.
Pelaksanaan pemusnahan narkotika yang rusak atau tidak memenuhi
persyaratan di apotek adalah sebagai berikut:
a. Bagi apotek di tingkat provinsi, pelaksanaan pemusnahan disaksikan oleh
petugas dari Balai POM setempat.
b. Bagi apotek di tingkat Kabupaten/Kota pemusnahan disaksikan oleh Kepala
Dinas Kesehatan Tingkat II. Pemegang izin khusus atau Apoteker Pengelola
Apotek (APA) yang memusnahkan narkotika harus membuat berita acara
pemusnahan paling sedikit 3 (tiga)rangkap.
Pemusnahan obat-obat golongan tertentu seperti psikotropika dan narkotika
diatur dalam UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika, PMK No 3 tahun 2015 tentang
peredaran, penyimpanan, pemusnahan, dan pelaporan narkotika, psikotropika, dan
prekursor farmasi. Pemusnahan obat harus dilakukan disertai laporan berita acara
yang memuat:
a. Hari, tanggal, bulan, dan tahunpemusnahan;
b. Tempatpemusnahan;
c. Nama penanggung jawab fasilitas produksi/fasilitas distribusi/fasilitas
pelayanan kefarmasian/pimpinan lembaga/dokter praktikperorangan;
d. Nama petugas kesehatan yang menjadi saksi dan saksi lain badan/sarana
tersebut;
e. Nama dan jumlah narkotika, psikotropika, dan prekursor farmasi yang
dimusnahkan;
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
f. Cara pemusnahan; dan
g. Tanda tangan penanggung jawab fasilitas produksi/fasilitas distribusi/fasilitas
pelayanan kefarmasian/pimpinan lembaga/dokter praktik perorangan
dansaksi.
Gambar 2. 8 Penandaan Obat Narkotika
2.7.5 Obat Golongan Psikotropika
Menurut undang-undang nomor 5 tahum 1997 tentang psikotropika adalah zat
atau obat baik alamiah maupun sinettis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif
melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan
khas pada aktifitas mental dan perilaku, teridiri dari golongan I,II,III, dan IV.
2.7.5.1 Pemesanan Psikotropika
Pemesanan Psikotropika memerlukan SP, dimana satu SP bisa digunakan
untuk beberapa jenis obat. Penyaluran psikotropika tersebut diatur dalam UU No. 5
Tahun 1997 Pasal 12 ayat (2). Dalam Pasal 14 ayat (2) dinyatakan bahwa penyerahan
psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit,
puskesmas, balai pengobatan, Dokter, dan pasien dengan resep Dokter. Tata cara
pemesanan dengan menggunakan SP yang ditandatangani oleh APA. Surat Pesanan
terdiri dari 2 rangkap, aslinya diserahkan ke pihak distributor sementara salinannya
disimpan oleh pihak apotek sebagai arsip.
2.7.5.2 Penyimpanan psikotropika
Berdasarkan PMK Nomer 3 Tahun 2015, tempat penyimpanan Psikotropika di
fasilitas produksi, fasilitas distribusi, dan fasilitas pelayanan kefarmasian harus
mampu menjaga keamanan, khasiat, dan mutu psikotropika berupa gudang, ruangan,
atau lemari khusus. Tata cara
penyimpanan narkotika menurut PMK 3 tahun 2015 adalah:
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 46
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
a. Tempat penyimpanan narkotika, psikotropika, dan prekursor farmasi, dapat
berupa gudang, ruangan , atau lemari khusus.
b. Tempat penyimpanan psikotropika di larang di gunakan untuk menyimpan
barang selain psikotropika.
2.7.5.3 Pelaporan
Pelaporan penggunaan narkotika di lakukan setiap bulan, dilakukan melalui
SIPNAP (sistem Pelaporan Narkotika dan psikotropika). Di lakukan paling lama 10
hari pada bulan berikutnya , laporan berisi data pemakaian psikotropika untuk bulan
yang bersangkutan (meliputi nomor urut, nama bahan/ sediaan , satuan , persediaan
awal bulan ). Pasword dan username didapatkan setelah registrasi pada dinkes
setempat. Sipnap.binfar.depkes.go.id
2.7.5.4 Pemusnahan
Pemusnahan obat-obat golongan tertentu seperti psikotropika dan narkotika
diatur dalam UU No. 35 tahun 2009 tentang narkotika, PMK No 3 tahun 2015 tentang
peredaran, penyimpanan, pemusnahan, dan pelaporan narkotika, psikotropika, dan
prekursor farmasi. Pemusnahan obat harus dilakukan disertai laporan berita acara
yang memuat:
a. Hari, tanggal, bulan, dan tahun pemusnahan.
b. Tempat pemusnahan
c. Nama penanggung jawab fasilitas produksi atau fasilitas distribusi atau
fasilitas pelayanan kefarmasian/pimpinan lembaga atau dokter praktik
perorangan
d. Nama petugas kesehatan yang menjadi saksi dan saksi lain badan atau sarana
tersebut
e. Nama dan jumlah narkotika, psikotropika, dan prekursor farmasi yang
dimusnahkan
f. Cara pemusnahan
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 47
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
g. Tanda tangan penanggung jawab fasilitas produksi/fasilitas distribusi atau
fasilitas pelayanan kefarmasian/pimpinan lembaga atau dokter praktik
perorangan dan saksi.
2.7.6 Obat-Obat Tertentu (OOT)
Menurut Peraturan Kepala BPOM RI No. 7 tahun 2016 tentang Pedoman
Pengelolaan Obat-Obat tertentu yang sering disalahgunakan. Obat-Obat Tertentu
yang sering disalahgunakan, yang selanjutnya disebut dengan Obat-Obat Tertentu,
adalah obat-obat yang bekerja di sistem susunan syaraf pusat selain Narkotika dan
Psikotropika, yang pada penggunaan di atas dosis terapi dapat menyebabkan
ketergantungan dan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku, terdiri atas
obat-obat yang mengandung Tramadol, Triheksifenidil, Klorpromazin, Amitriptilin
dan atau Haloperidol. Obat-Obat Tertentu hanya dapat digunakan untuk kepentingan
pelayanan kesehatan danatau ilmu pengetahuan.
2.7.7 Obat-Obat Prekursor
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomer 44 Tahun 2010
Tentang Prekursor. Prekursor adalah zat atau baha pemula atau bahan kimia yang
dapat digunakan dalam pembuatan narkotika dan psikotropika. Berikut merupakan
contoh jenis prekursor : Acetic Anhydride, N-Acetylanthranilic Acid, Ephedrine,
Ergometrine, Ergotamine, Isosafrole, Lysergic Acid.
2.7.8 Obat Wajib Apotek (OWA)
Obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan Apoteker kepada
pasien di Apotek tanpa resep dokter (Depkes, 1990). Tujuannya yaitu:
a. Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri
guna mengatasi masalah kesehatan.
b. Untuk meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman, dan rasional.
c. Untuk meningkatkan peran Apoteker di dalam Apotek dalam pelayanan KIE
(Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) serta untuk meningkatkan pelayanan
obat kepada masyarakat dengan meningkatkan pengobatan sendiri.
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 48
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter (OWA) harus memenuhi Page 49
kriteria sebagai berikut:
a. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak
dibawah usia 2 tahun dan orang tua diatas 65 tahun.
b. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada
kelanjutan penyakit.
c. Penggunaannya tidak memerlukan cara dan atau alat khusus ang harus
dilakukan oleh tenaga kesehatan.
d. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di
Indonesia.
e. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat
dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.
Obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker
kepada pasien di apotek tanpa resep dokter. Sampai saat ini terdapat tiga daftar obat
yang diperbolehkan diserahkan tanpa resep dokter. Peraturan mengenai daftar obat
wajib apotek tercantum dalam:
a. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 347/Menkes/SK/VII/1990 tentang Obat
Wajib Apotek, berisi daftar Obat Wajib Apotek No 1.
b. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar
Obat Wajib Apotek No. 2.
c. Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang
Daftar Obat Wajib Apotek No. 3. Contoh: Asam Mefenamat, Salep
Hydrokortison, Natrium Diklofenak.
2.7.9 Obat Tradisional
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan
tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari
bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan
dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Jamu adalah obat tradisional yang dibuat di indonesia. Jamu adalah obat yang
disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta
digunakan secara tradisional. Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada
resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya
cukup banyak, berkisar antara 5 – 10 macam bahkan lebih.bentuk jamu tidak
memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti
empiris. Jamu yang telah digunakan secara turun-menurun selama berpuluh-puluh
tahun bahkan mungkin ratusan tahun, telah membuktikan keamanan dan manfaat
secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu.
Gambar 2. 9 Penandaan Jamu
Obat tradisional impor adalah obat tradisional yang seluruh proses pembuatan
atau sebagian tahapan pembuatan sampai dengan pengemasan primer dilakukan oleh
industri di luar negeri, yang dimasukkan dan diedarkan di wilayah indonesia.
Obat tradisional lisensi adalah obat tradisional yang seluruh tahapan
pembuatan dilakukan oleh industri obat tradisional atau usaha kecil obat tradisional di
dalam negeri atas dasar lisensi.
Gambar 2. 10 Penandaan Obat Herbal Terstandar Page 50
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Obat herbal terstandar adalah produk yang mengandung bahan atau ramuan
bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian
(galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah
digunakan untuk pengobatan dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku
di masyarakat yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan
uji praklinik dan bahan bakunya telah distandardisasi.
Fitofarmaka adalah produk yang mengandung bahan atau ramuan bahan yang
berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau
campuran dari bahan tersebut yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara
ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik serta bahan baku dan produk jadinya telah
distandardisasi.
Gambar 2. 11 Penandaan fitofarmaka
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 51
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
BAB III
KEGIATAN PKPA
3.1 Profil Apotek Sukun Farma
3.1.1 Sejarah Pendirian Apotek Sukun Farma
Apotek adalah suatu tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian, penyaluran
sediaan farmasi, dan perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Pengertian ini
didasarkan pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI
No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin
Apotek. Pekerjaan kefarmasian menurut UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 yaitu
meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,
pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter,
pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional
harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Apotek sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan perlu mengutamakan
kepentingan masyarakat dan berkewajiban menyediakan, menyimpan dan
menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin.
Apotek dapat diusahakan oleh lembaga atau instansi pemerintah dengan tugas
pelayanan kesehatan di pusat dan daerah, perusahaan milik negara yang ditunjuk oleh
pemerintah dan apoteker yang telah mengucapkan sumpah serta memperoleh izin dari
Suku Dinas Kesehatan setempat.
Apotek Sukun Farma merupakan sebuah Apotek yang berlokasi di Jalan S. Page 52
Supriadi Nomor 24, Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Apotek ini didirikan
oleh Bapak Amran seorang guru PNS pada tahun 1981. Pada awal pembentukannya,
Apotek didirikan hanya sebagai bisnis semata, akan tetapi setelah berjalannya waktu
Apotek ini tidak hanya diperuntukkan untuk bisnis akan tetapi keberadaan Apotek ini
lebih diutamakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dibidang Kesehatan
serta menjadi Apotek yang bermanfaat untuk masyarakat. Pada tahun 1983-1984,
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
kepemilikan apotek Sukun Farma diturunkan kepada Ibu Refri sebagai generasi
kedua pemilik apotek Sukun, hingga pada tahun 2020 kepemilikan Apotek Sukun
diturunkan kembali kepada generasi ketiga yakni Ibu apt. Mutiara Titani, S. Farm.,
M.Sc.
Apotek ini melayani pasien mulai dari hari Senin-Selasa (08.00-22.00) dan
minggu (08.00-12.00 dan 17.00-22.00). Lokasi Apotek cukup strategis karena berada
di daerah padat penduduk, area mudah dijangkau karena berada dipinggir jalan raya.
Selain itu Apotek Sukun Farma juga terletak dilingkungan Pendidikan (SD Negeri 01
Sukun), lingkungan Kesehatan (Puskesmas pembantu) serta lingkungan usaha (
Dealer motor, warung makanan, dll). Hal ini sesuai pada Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 9 Tahun 2017 tentang Apotek dimana Apotek
harus mudah diakses oleh masyarakat.
3.1.2 Struktur Organisasi Apotek Sukun Farma
STRUKTUR ORGANISASI APOTEK SUKUN FARMA
Pemilik Sarana Apotek (PSA)
apt. Mutiara Titani, S. Farm., M.Sc
Apoteker Pendamping (APING) Apoteker Penanggung Jawab (APA)
apt. Nejella, S. Farm Ely Koesmawati, S. Si, Apt
Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) Tenaga Administrasi
Nanik Ariani Lustyawati
Yuliawanti
Pembantu Umum
Matsulkan
Miskandar
Gambar 3. 1 Struktur Organisasi Apotek Sukun Farma Page 53
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Apotek Sukun Farma saat ini dipimpin oleh seorang Pemilik Sarana Apotek (PSA) yaitu
Ibu apt. Mutiara Titani, S.Farm., M.Sc yang memiliki seorang Apoteker Penanggungjawab
Apotek (APA) yaitu Ibu Ely Koesoemawati, S.Si,Apt dan memiliki Apoteker Pendamping yaitu
Ibu apt. Najella, S.Farm. Kemudian terdapat 2 orang sebagai Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK)
yaitu Ibu Nanik Ariani dan Ibu Yuliawanti, 1 orang sebagai admin yaitu Ibu Lustyawati, serta 2
orang sebagai pembantu umum yaitu Bapak Miskandar dan Bapak Matsulkan.
3.1.3 Sarana dan Prasarana Apotek Sukun Farma
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 Tahun 2017 tentang Apotek terkait
sarana dan prasarana bahwa untuk menunjang pelayanan kefarmasian diperlukan sarana dan
prasarana yang mendukung pada setiap Apotek. Apotek Sukun Farma memiliki bangunan sendiri
yang bersifat permanen, luas bangunan yang memadai, dan terdapat tempat parkir untuk pegawai
maupun untuk pasien.
Apotek Sukun Farma juga telah memenuhi fungsi keamanan, kenyamanan, kemudahan
untuk masyarakat dalam mendapatkan pelayanan obat di apotek. Dibuktikan dengan adanya
sarana yang mendukung seperti adanya ruang tunggu yang cukup luas untuk pasien,ruangan
yang selalu bersih dan terdapat pula televisi sebagai hiburan selagi pasien menunggu pelayanan
obat di apotek.
Apotek harus memiliki sarana ruangan antara lain ruang administrasi, ruang
penyimpanan obat, ruang konseling dan penyerahan obat, ruang penerimaan resep, ruang
pelayanan resep dan dispensing, ruang penyerahan sediaan farmasi dan alat Kesehatan, ruang
konseling , ruang penyimpanan sediaan farmasi dan alat Kesehatan dan ruang arsip. Selain itu
Apotek juga wajib memiliki sarana instalasi air bersih, instalasi listrik, system tata udara dan
system proteksi kebakaran. ruang peracikan, tempat pencucian alat, dan kamar mandi atau toilet.
Apotek Sukun Farma sudah memenuhi semua persyaratan ruangan dan sarana yang harus ada di
apotek, akan tetapi beberapa ruangan tidak ada batas pemisah dengan ruangan lain contohnya
adalah ruang konseling, dimana seharusnya ruang konseling harus di desain secara tertutup untuk
kenyamanan diskusi antara pasien dengan Apoteker terkait terapi obat pasien, serta untuk
menjaga kerahasiaan informasi pasien.
Dari segi peralatan seperti rak obat, alat peracikan (mortir, stamper, kertas puyer, dll),
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 54
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
bahan pengemas obat, lemari pendingin, meja, kursi, komputer, lemari penyimpanan (narkotika,
psikotropika, dan prekursor), telepon, lemari untuk penyimpanan (arsip, resep, faktur), meja dan
alat peracikan obat semuanya sudah tersedia di apotek sukun kecuali sistem pencatatan mutasi
obat, formulir catatan pengobatan pasien masih belum berjalan di Apotek Sukun. Hal ini
disebabkan karena apotek sukun masih menggunakan sistem manual, sehingga dokumentasi
masih belum belum berjalan dengan sempurna, dan Apotek sukun masih terus melakukan
perbaikan system dan terus mengembangkan Apotek menjadi Apotek yang lebih baik setiap
harinya.
Untuk papan nama praktek Apoteker, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 9 Tahun 2017 tentang Apotek dan SK pengurus pusat IAI tentang PO papan nama
praktek Apoteker, bahwa papan nama Apotek wajib diletakkan didepan bangunan Apotek dengan
kriteria sebagai berikut:
a) Papan nama berukuran panjang 80 cm dan lebar 60 cm;
b) Tulisan hitam di atas dasar putih (berisi logo IAI, nomor SIPA dan STRA, nama
alamat, dan nomor telepon Apotek, serta hari dan jam praktik Apoteker);
c) Tinggi huruf minimal 7 cm dengan tebal 7 mm;
d) Dipasang pada bangunan apotek yang dapat terlihat dengan jelas dari luar
apotek.
Papan nama pada Apotek Sukun belum terdapat logo IAI seperti yang tertera pada
peraturan diatas.
Selain itu dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian, Apotek Sukun Farma dilengkapi
dengan beberapa peralatan sebagai berikut:
a) Perlengkapan yang terdiri dari alat pembuatan, pengolahan, peracikan, alat
perbekalan, dan alat administrasi
b) Lemari penyimpanan narkotika dan psikotropika sesuai dengan kebututan yang
telah memenuhi persyaratan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 3 Tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan
Pelaporan Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi dimana pada peraturan
tersebut disebutkan bahwa lemari khusus untuk penyimpanan narkotika harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Terbuat dari bahan yang kuat dan tidak mudah dipindahkan serta
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 55
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
mempunyai 2 (dua) buah kunci yang berbeda;
Harus diletakkan dalam ruang khusus di sudut gudang, untuk Instalasi
Farmasi Pemerintah;
Diletakkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum, untuk
Apotek, Instalasi Farmasi, Rumah Sakit, Puskesmas, Instalasi Farmasi Klinik,
dan Lembaga Ilmu Pengetahuan;
Kunci lemari khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung jawab/Apoteker
yang ditunjuk dan pegawai lain yang dikuasakan
c) Alat administrasi seperti blanko pesanan obat, faktur, kwitansi, dan salinan
resep.
3.1.4 Ketenagaan Apotek Sukun Farma
Apotek Sukun Farma beroperasi selama 7 (tujuh hari), dimana pada hari Senin
– Sabtu dibuka mulai pukul 08:00 – 22:00 WIB, sedangkan untuk hari Minggu hanya buka pada
pukul 08:00 – 12:00 WIB dan 17:00 – 22:00 WIB. Dan untuk jadwal praktek Apoteker
penanggungjawab apotek yakni hari Senin – Jum’at pukul 09:00–14:00 WIB sementara jadwal
Apoteker pendamping yakni Senin – Jum’at pukul 17:00–21:00 WIB.
Tugas Apoteker Penanggungjawab Apotek (APA) yaitu memimpin semua karyawan
dalam hal pelayanan kefarmasian dan seluruh kegiatan di Apotek, tanggung jawab terhadap
semua aspek pelaksanaan kegiatan di Apotek yang meliputi pelayanan, administrasi keuangan,
penyimpanan, modal tukar dan gaji karyawan. Tugas Apoteker Pendamping (Aping) adalah
hampir sama dengan tugas APA yaitu pengelolaan sediaan farmasi dan pelayanan farmasi klinis.
TTK bertugas untuk membantu dalam peracikan obat, penyerahan obat, stock barang dan
pengadaan barang. Bagian administrasi dan pembukuan bertugas untuk pengambilan modal tukar,
teliti sebelum setoran, management karyawan, management keuangan, pembukuan, barang di
gudang. Sedangkan untuk pembantu umum betugas untuk membantu penjaualan barang non
resep, menggerus obat racikan, mengantar/mengambil barang pesanan.
3.1.5 Pengelolaan Sediaan Farmasi di Apotek Sukun Farma
Pengelolaan sediaan farmasi di Apotek Sukun Farma meliputi perencanaan, pengadaan,
penerimaan, penyimpanan, pengendalian, penarikan dan pemusnahan, serta pencatatan dan
pelaporan.
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 56
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
3.1.5.1 Perencanaan
Dalam melakukan perencanaan sediaan farmasi di Apotek Sukun Farma,
Apoteker/Asisten Apoteker menggunakan metode konsumsi, pola penyakit dan berdasarkan
ekomoni masyarakat. Perencanaan dilakukan hampir setiap hari oleh Apoteker dan Asisten
Apoteker dengan mengecek persediaan obat di lemari display obat dan gudang. Obat-obatan yang
mulai menipis dan habis stoknya dicatat agar mudah dalam proses pemesanan obat. Untuk obat-
obat fast moving perencanaannya lakukan dalam jumlah yang cukup banyak, sedangkan obat-obat
slow moving dipesan dengan jumlah yang lebih sedikit, hal ini untuk menghindari penumpukan
obat hingga mencapai expired date obat yang menyebabkan kerugian bagi Apotek. Tujuan
dilakukannya kegiatan perencanaan ini adalah untuk menghindari terjadinya kelebihan atau
kekurangan stok perbekalan farmasi yang akhirnya dapat merugikan Apotek.
3.1.5.2 Pengadaan
Pengadaan di Apotek Sukun Farma dilakukan secara langsung pada PBF (Pedagang
Besar Farmasi) yang berupa distributor dan sub-distributor. Dalam pemilihan PBF untuk
memesan barang, Apotek Sukun Farma mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya legalitas
PBF, harga, diskon, lead time, jatuh tempo/system kredit dan pelayanan. Legalitas PBF sangat
penting untuk menghindari obat palsu. Tanda PBF tersebut legal yaitu adanya ijin PBF, nama
PBF, Apoteker Penanggung Jawab (APJ) dan tanda tangan APJ difaktur pembelian. Variasi item
dan harga dipertimbangkan untuk apotek memilih PBF karena untuk memudahkan Apotek dalam
memilih barang / obat di satu PBF saja. Lead time atau waktu tunggu dalam pemesanan penting
untuk menghidari terjadi kekosongan barang yang lama terutama obat yang dibutuh secara cepat
atau obat-obatan fast moving. Jatuh tempo/system kredit biasanya antara 14 hari, 21 hari atau 30
hari, namun jatuh tempo yang paling sering adalah dalam waktu 30 hari. Pelayanan juga penting
karena terkait dengan pembayaran dan pengembalian obat rusak misal pecah saat perjalanan
serta pengembalian obat yang sudah kadaluarsa. Untuk pengadaan barang yang mendesak, yaitu
ketika ada obat resep atau non-resep stocknya kurang di Apotek Sukun Farma dan kosong di
PBF, maka akan dilakukan pengadaan ke Apotek lain sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan.
Apotek Sukun Farma biasanya melakukan pengadaan terdesak ke Apotek Sejati.
Pengadaan perbekalan farmasi dilakukan dengan menggunakan Surat Pemesanan (SP).
Ada 5 SP yang digunakan di Apotek Sukun Farma yaitu SP Narkotika, SP Psikotropika, SP
Prekursor, SP Obat-obat Tertentu (OOT), dan SP Reguler untuk memesan obat bebas, obat bebas
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 57
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
terbatas dan obat keras. SP Narkotika digunakan hanya untuk memesan satu macam obat
sebanyak 4 eksemplar, SP Psikotropika dapat digunakan untuk memesan obat maksimal 3 obat
dalam satu SP sebanyak 2 eksemplar, sedangkan untuk SP Prekursor 2 eksemplar, SP OOT 2
eksemplar, dan SP Reguler 2 eksemplar, untuk SP prekursor, OOT dan regular dapat digunakan
untuk memesan beberapa obat dalam 1 lembar asalkan tetap 1 PBF atau . subdistributor. SP yang
legal adalah yang terdapat nama, nomor SIPA, dan tanda tangan APA.
3.1.5.3 Penerimaan
Saat barang yang dipesan sudah dikirimkan ke Apotek, maka dilakukan proses
penerimaan. Proses penerimaan harus mampu menjamin kesesuaian jenis spesifikasi, jumlah,
mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam surat pesanan dengan kondisi fisik yang
diterima. Dimana obat datang diperiksa terlebih dahulu kesuaian antara bentuk fisik obat dengan
faktur termasuk diantaranya jumlahnya, kesamaan jenis obat yang dipesan di SP, No. Batch dan
expired date (ED). Hal ini untuk menjamin mutu dan kesesuaian obat yang dipesan dengan obat
yang diterima.
Jika obat yang datang dalam keadaan rusak, maka obat langsung diretur saat itu juga
kepada petugas yang mengantar. Dengan cara ditandai pada faktur obat yang rusak atau mendekati
ED, kemudian langsung diretur. Namun untuk obat yang kadaluarsa, cara pengembalian dengan
mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada sales yang menerima pesanan. Biasanya konfirmasi retur
obat kadaluarsa dilakukan pas bulan kadaluarsa atau kurang dari 3 bulan. Hal tersebut
berdasarkan kesepakatan dengan PBF masing-masing. Obat kadaluarsa diserahkan ke PBF
dengan Apotek menyerahkan copy faktur dan kemudian PBF menyerahkan copy form retur
kepada Apotek yang dapat digunakan sebagai arsip.
Dan untuk barang datang yang sesuai dengan SP dan faktur asli akan dibawa oleh PBF dan
rangkap faktur dibawa oleh Apotek, diarsipkan sesuai dengan urut nama dan tanggal faktur. Obat
yang sudah diterima akan disimpan digudang atau langsung diletakkan di rak display obat.
Pembayaran secara kredit faktur asli dibawa oleh PBF dan copy faktur diserahkan kepada
Apotek. Jika sudah lunas faktur asli diserahkan ke Apotek.
3.1.5.4 Penyimpanan
Tahapan Penyimpanan di Apotek Sukun Farma dilakukan dengan 5 tahapan, yaitu
berdasarkan stabilitas suhu/penyimpanan, golongan obat (obat bebas, obat bebas terbatas, obat
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 58
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
keras, obat narkotika dan psikotropika serta prekursor) , obat generik/ paten, berdasarkan bentuk
sediaan (tablet/kapsul, sediaan sirup/emulsi/suspensi, sediaan krim/salep, sediaan tetes mata dan
tetes telinga), berdasarkan urutan alfabet dan berdasarkan FIFO, FEFO.
3.1.5.5 Pengendalian
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan di
Apotek, pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah persediaan sesuai
kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem pesanan atau pengadaan, penyimpanan, dan
pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kelebihan, kekurangan,
kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa, kehilangan serta pengembalian pesanan. Pengendalian
persediaan dilakukan menggunakan kartu stok baik dengan cara manual atau elektronik. Kartu
stok sekurang-kurangnya memuat nama Obat, tanggal kadaluwarsa, jumlah pemasukan, jumlah
pengeluaran, dan sisa persediaan.
Pengendalian yang dilakukan di Apotek Sukun Farma seperti yang tertera pada Peraturan
Menteri Kesehatan dimana Apotek menggunakan kartu stok sebagai cara untuk mengendalikan
regulasi obat yang masuk dan keluar, hal ini bertujuan untuk mempermudah Apotek dalam
melakukan pengawasan pada obat-obat yang ada di Apotek, selain itu dapat digunakan sebagai
sumber untuk menghitung perputaran omset di Apotek, dan juga dapat digunakan sebagai
dokumen pelaporan terhadap obat- obat Narkotika dan Psikotropika, untuk mengawasi
penyaluran Prekursor dan Obat- Obat Tertentu. Kartu stok juga dapat digunakan sebagai acuan
untuk melakukan pengadaan obat-obatan selanjutnya. Akan tetapi tidak semua obat terdapat
kartu stok, hanya beberapa obat diantaranya adalah obat narkotika, psikotropika, dan prekursor.
Untuk obat-obat selain tersebut diatas, Apotek sukun Farma mulai mengembangkan sistem
komputerisasi yang juga dapat digunakan sebagai alat untuk pengendalian perbekalan farmasi di
apotek.
3.1.5.6 Penarikan dan Pemusnahan
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 73 Tahun 2016, obat-obatan yang kadaluwarsa
atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis dan bentuk sediaan. Apotek Sukun Farma
dilakukan dengan cara memisahkan dan mengumpulkan sediaan yang sudah rusak atau
kadaluwarsa sesuai golongan obat, kemudian pemusnahan dilakukan jika sudah terkonfirmasi
oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/KotaMalang.
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 59
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Pemusnahan Obat Narkotika, Psikotropika dan Prekursor dilakukan oleh Apoteker
Penanggungjawab Apotek (APA),disaksikan oleh satu TTK yang memiliki surat izin praktik atau
surat izin kerja dan satu petugas Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Malang. Pemusnahan obat
dilakukan dengan cara ditanam atau dihancurkan dan harus menggunakan Berita Acara
Pemusnahan.
Sementara untuk obat selain Narkotika, Psikotropika dan Prekursor, pemusnahannya
dilakukan oleh Apoteker Penanggung jawab Apotek (APA) dan hanya disaksikan oleh satu TTK
yang memiliki surat izin praktik atau surat izin kerja. Adapun cara pemusnahannya dilakukan
dengan cara ditanam atau dihancurkan dengan menggunakan Berita Acara Pemusnahan
kemudian dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kota Malang.
Kemudian ada pula pemusnahan resep, dimana dalam Peraturan Menteri Kesehatan resep
yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun dapat dimusnahkan. Pemusnahan
resep dilakukan oleh Apoteker disaksikan oleh sekurang- kurangnya petugas laindi Apotek
dengan cara dibakar atau cara pemusnahan lain yang dibuktikan dengan Berita Acara
Pemusnahan. Untuk pemusnahan resep yang ada di Apotek Sukun Farma dilakukan setiap 5
tahun sekali, untuk resep Narkotika, Psikotropika, Prekursor dimusnahkan dengan cara dibakar
dan menggunakan berita acara, dalam penatalaksanaannya pemusnahan disaksikan oleh
Apoteker penanggung jawab Apotek (APA), 1 perugas Dinas Kesehatan, dan 1 tenaga kefarmasian
lain yang memiliki surat izin praktik atau surat izin kerja. Selain golongan resep diatas,
pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar disaksikan oleh Apoteker Penanggungjawab
Apotek (APA) dan 1 Tenaga Teknis kefarmasian (TTK) dan/ atau pegawailainnya.
3.1.5.7 Pencatatan dan Pelaporan
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 73 Tahun 2016 menjelaskan tentang Pencatatan
dan Pelaporan, dimana pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi pengadaan (surat pesanan, faktur),
penyimpanan (kartu stok), penyerahan (nota atau struk penjualan) dan pencatatan lainnya
disesuaikan dengan kebutuhan. Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal:
a) Pelaporan internal merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan
manajemen Apotek, meliputi keuangan, barang, dan laporan lainnya.
b) Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang dibuat untuk memenuhi kewajiban
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 60
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, meliputi pelaporan
Narkotika, Psikotropika, dan pelaporan lainnya.
Apotek Sukun Farma sendiri melakukan pencatatan dengan mendokumentasikan surat
pesan dan faktur yang ada, untuk faktur sendiri di simpan dalam 2 map berbeda untuk
memisahkan faktur mana yang sudah dibayarkan tagihannya dan faktur yang belum lunas
(dibayarkan). Faktur-faktur yang ada di dalam map di urutkan secara abjad berdasarkan nama
Distributor atau Sub Distributor. Untuk kartu stok digunakan saat akan melakukan pengadaan
obat selanjutnya, dan untuk penyerahan obat ke pasien disertai nota atau struk sebagai bukti
transaksi yang ada di Apotek, selain itu ada pula pencatatan pada buku defecta (kertas) untuk
obat yang habis sebelum dilakukan pengadaan sehingga pencatatan ini digunakan untuk
pengadaan selanjutnya.
Pelaporan Narkotika dan Psikotropika di Apotek sukun farma dilakukan tiap bulan secara
online melalui website SIPNAP maksimal tanggal 10 tiap bulannya. Pelaporan lainnya yang
dibuat Apotek adalah pelaporan pemusnahan obat serta resep yang ada di Apotek, baik pelaporan
pemusnahan obat rusak atau kadaluwarsa, obat Prekursor, serta pelaporan pemusnahan resep
obat, terlebih pada resep-resep Narkotika dan Psikotropika. Selain itu adapula pelaporan internal
yang dibuat oleh apotek sukun, berupa pelaporan keuangan (pemasukan, pengeluaran, zakat dan
pajak apotek).
3.1.6 Pelayanan Farmasi Klinis
3.1.6.1 Pelayanan Swamedikasi
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 73 Tahun 2016, Pelayanan farmasi klinik
di Apotek merupakan bagian dari Pelayanan Kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab
kepada pasien berkaitan dengan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Pelayanan
yang diperbolehkan di apotek adalah pelayanan obat yang memiliki sifat swamedikasi.
Swamedikasi sendiri adalah pemilihan dan menggunakan obat, termasuk pengobatan herbal dan
tradisional oleh individu untuk merawat diri sendiri dari penyakit atau gejala penyakit atas
pengawasan apoteker biasanya untuk penyakit ringan dan tidak menahun (BPOM, 2014).
Pelayanan swamedikasi di apotek Sukun Farma dilakukan dengan menggali informasi
terlebih dahulu dari pasien terkait keluhan yang dirasakan, lamanya keluhan sudah diraskan, dan
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 61
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
penanganan apa yang sudah dilakukan oleh pasien, setelah itu Apoteker dapat memberikan saran
pengobatan kepada pasien menggunakan golongan obat yang sesuai dengan peraturan tersebut
diatas, selain itu Apoteker juga terkadang memberikan saran obat keras yang masuk dalam daftar
Obat Wajib Apoteker (OWA) untuk membantu menangani keluhan yang dirasakan pasien, untuk
jumlah penyerahan obat sendiri mengikuti peraturan yang ada pada OWA 1 hingga 3 dan untuk
jumlah penyerahan obat bebas dan bebas terbatas diberikan dalam jumlah yang rasional. Saat
KIE, Apoteker juga memberikan saran pada pasien untuk mengkonsultasikan pada dokter jika
keluhan yang dirasakan tidak kunjung sembuh selama pengobatan 3 hari atau sampai obat
habis.Selaian obat Apotek juga menyediakan beberapa Alat Kesehatan dan Perbekalan
Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) dimana saat penyerahan alat kesehatan dan/atau PKRT akan
disertai dengan penjelasan cara penggunaan dan penyimpanan sesuai dengan keamanan dan
stabilitas masing-masing perbekalan farmasi.
3.1.6.2 Pengkajian dan Pelayanan Resep
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 73 Tahun 2016 untuk Pengkajian resep
meliputi administrasi, kesesuaian farmasetik, dan pertimbangan klinis. Untuk pengkajian dan
pelayanan resep pada Apotek Sukun Farma dimulai dari penerimaan resep, kemudian
memastikan identitas pasien dan melihat legalitas dari resep tersebut. Setelah, kita menggali
informasi pasien khususnya keluhan yang dirasakan oleh pasien dan menganalisis kesesuaian
dengan obat yang diresepkan untuk pasien, jika ditemukan adanya ketidak sesuaian dari hasil
pengkajian (administrative, farmasetik, klinis), maka Apoteker harus menghubungi dokter
penulis resep. Setelah itu dilakukan pengecekan ketersediaan obat di Apotek, jika obat yang
diminta dalam resep stoknya tersedia di Apotek barulah dilakukan perhitungan harga kemudian
dikonfirmasikan harganya kepada pasien untuk mengetahui apakah pasien ingin menebus semua
resep atau tidak. Apabila sudah mendapat persetujuan dari pasien barulah obat yang ada di resep
disiapkan. Untuk penyerahan obat resep kepada pasien disertai dengan informasi tentang obat.
Dalam pelayanan resep ini Apoteker di Apotek harus sangat teliti terlebih pada resep-
resep yang didalamnya mengandung obat Narkotika, Psikotropika, dan/atau Prekursor, karena
dikhawatirkan resep tersebut palsu atau foto copy, jika Apoteker sampai lepas pengawasan maka
akan menimbulkan masalah pada saat pelaporan obat maupun resep nantinya.
3.1.6.3 Dispensing
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 62
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Dispensing menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 73 Tahun 2016 terdiri dari
penyiapan, penyerahan, dan pemberian informasi obat kepada pasien. Pada Apotek Sukun Farma
sebelum dilakukannya dispensing, terlebih dahulu pasien dikonfirmasikan kembali terkait harga
obat yang akan ditebus. Jika pasien setuju untuk menebus obat, maka akan dilakukan dispensing.
Dispensing yang dilakukan di Apotek Sukun Farma dimulai dari menghitung jumlah
kebutuhan obat yang diperlukan sesuai resep, kemudian menyiapkan dan meracik obat (jika obat
tersebut adalah racikan puyer atau kapsul atau salep), kemudian menyiapkan etiket yang berisi
nama pasien dan cara pemakaian obat, etiket kemudian di satukan sesuai dengan obatnya, dan
untuk obat-obat yang sudah diberikan etiket kemudian dimasukkan ke dalam plastik untuk
masing-masing jenis obat, baik itu obat dengan bentuk sediaan sama tetap dimasukkan ke dalam
plastik berbeda untuk menghindari kesalahan penggunaan obat atau hilangnya obat. Kemudian
jika obat serta etiket sudah sesuai lalu diserahkan ke pasien, namun sebelumnya harus sudah
melalui double check terlebih dahulu untuk mencegah adanya kesalahan atau medication eror.
Setelah itu lalu memanggil nama pasien dan menyesuaikan ulang dengan identitas pasien pada
resep barulah Apoteker menjelaskan obat-obat yang diterima pasien, dimulai dari nama, indikasi,
serta cara penggunaannya, tidak lupa mengingatkan pasien untuk menghindari beberapa makanan
dan/atau minuman jika hal tersebut dapat menghambat pengobatan pasien, pelayanan ini
dilakukan dengan ramah kepada pasien agar informasi yang diberikan dapat tersampaikan
dengan baik kepada pasien dan pasien juga dapat menerimanya dengan baik. Untuk copy resep
dapat diberikan kepada pasien jika pasien memintanya iter. Setelah itu resep yang ada diarsipkan
oleh Apotek, untuk resep obat regular, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor di simpan pada
bundle yang berbeda, dimana semuanya di urutkan berdasarkan golongan, nomor urut,tanggal,
minggu, bulan, hingga tahun.
3.1.6.4 PIO
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 73 Tahun 2016, Pelayanan Informasi Obat
merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Apoteker dalam pemberian informasi mengenai Obat
yang tidak memihak, dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek
penggunaan Obat kepada profesi kesehatan lain, pasien atau masyarakat. Informasi mengenai
Obat termasuk Obat Resep, Obat bebas dan herbal.
Di Apotek Sukun Farma, Apoteker dalam pemberian informasi mengenai Obat tidak
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 63
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
memihak, dan menyampaikan informasi berbasis bukti terbaik dalam segala aspek penggunaan
Obat kepada pasien atau masyarakat. Informasi mengenai Obat termasuk Obat Resep, Obat
bebas dan herbal. Beberapa metode yang digunakan yaitu dengan menjawab pertanyaan
langsung dari pasien, membuat brosur, dan pemberdayaan masyarakat berupa penyuluhan,
memberikan informasi dan edukasi kepada pasien, serta memberikan pengetahuan dan
keterampilan kepada mahasiswa farmasi yang sedang praktik profesi di Apotek Sukun Farma.
3.1.6.5 Konseling
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 73 Tahun 2016, konseling merupakan proses
interaktif antara Apoteker dengan pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan,
pemahaman, kesadaran, dan kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam penggunaan
obat dan menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien. Apotek Sukun Farma dalam melakukan
konseling belum terstruktur seperti konseling yang ditetapkan dalam peraturan diatas. Tetapi ada
beberapa pasien yang kadang bertanya terkait penggunaan obat atau cara penggunaannya kepada
Apoteker, untuk kasus seperti ini konseling dapat dilakukan kepada pasien secara terstruktur
sesuai dengan peraturan yang ada oleh Apoteker
3.1.6.6 Pelayanan Kefarmasian di rumah ( Home Pharmacy Care)
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 73 Tahun 2016, Apoteker sebagai pemberi
layanan diharapkan juga dapat melakukan Pelayanan Kefarmasian yang bersifat kunjungan
rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis.
Adapun tujuan pelayanan Homecare antara lain untuk meningkatkan kualitas Kesehatan pasien
dengan membantu pasien dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan pengobatan,
dengan cara melalukan pendampingan dan mengontrol pasien agar patuh dalam penggunaan
obat, sebagai teman pasien dalam berkonsultasi masalah pengobatan secara umum serta dapat
memonitoring efektifitas dan keamanan obat pasien. Untuk saat ini Apotek sukun belum
menjalankan praktek pelayanan kefarmasian dirumah (Home Pharmacy Care) dikarenakan
adanya wabah Covid-19, akan tetapi Apotek Sukun Farma sudah berncana untuk melakukan
program tersebut.
3.1.7 Perpajakan Apotek Sukun Farma
Dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga UU No. 6 Tahun 1983
yakni Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dinyatakan bahwa pajak adalah kontribusi
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 64
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
wajib kepada negara yang terutang baik oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan langsung dan digunakan untuk
keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Apotek yang merupakan tempat
berusaha sudah pasti harus membayar pajak. Adapun jenis-jenis pajak di apotek antara lain:
3.1.7.1 Pajak yang Dibayarkan ke Daerah
a) Pajak reklame/iklan (papan nama apotek)
Pajak reklame adalah pajak yang dikenakan terhadap pemasangan papan nama apotek di
luar atau di dalam lingkungan apotek. Pajak tergantung lokasi dan besar papan nama
apotek. Jika nama apotek ditulis/disertakan di dalam papan nama suatu perusahaan
tertentu, pajak reklame akan ditanggung oleh perusahaan tersebut
b) Pajak SKITU (Surat Keterangan Izin Tempat Usaha)
c) Pajak Barang InventarisYakni pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah terhadap
barang yang digunakan di apotek atau barang inventaris milik apotek seperti pajak
televisi (sekarang sudah tidak ada) dan pajak kendaraan bermotor.
d) Pajak SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan)
e) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pajak Bumi dan Bangunan
Yakni pajak yang dikenakan setiap tahun dan besarnya tergantung dari luas tanah, luas
bangunan, serta lokasi apotek yang ditempati apotek sebagai sarana usaha.
3.1.7.2 Pajak yang Dibayarkan ke Negara (Pemerintah Pusat)
a) Pajak tidak langsung Pajak tidak langsung adalah pajak yang pada akhirnya bisa
dilimpahkan pada pihak lain, antara lain:
- Bea Materai,untuk kuitansi lebih dari Rp 250.000,00 dikenakan biaya materai Rp
3000,00.
- Pajak Pertambahan Nilai (PPN), merupakan pajak tak langsung yang dikenakan pada
setiap pembelian berapa pun jumlah rupiah yang dibelanjakan. Besarnya pajak yang
harus dibayar sebesar 10% dari jumlah pembelian. Misalnya untuk setiap pembelian
obat khususnya untuk PBF yang PKP (Pengusaha Kena Pajak) maka dikenai PPN
sebesar10%.
b) Pajak langsung
Pajak langsung adalah pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak yang
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 65
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
bersangkutan. Pajak langsung meliputi:
1. Pajak Penghasilan (PPh) Menurut Undang-undang Perpajakan Nomor 17 tahun
2000, ada beberapa pajak yang dikenakan untuk usaha apotek. PPh 21 Pasal 21
Undang-undang Perpajakan Nomor 17 tahun 2000, menyatakan bahwa pajak ini
merupakan pajak pribadi (penghasilan karyawan tetap) terhadap gaji karyawan
setiap tahun yang telah dikurangi penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Pajak ini
dikenakan pada karyawan tetap yang telah melebihi PTKP dan dibayarkan sebelum
tanggal 15 setiap bulan. Keterlambatan pembayaran dikenai denda sebesar
Rp50.000,00 ditambah 2% dari nilai pajak yang harus dibayarkan penghasilan
Tidak Kena Pajak (PTKP) yaitu:
- Rp 2.880.000 untuk diri wajib pajak
- Rp 1.440.000 tambahan untuk wajib pajak kawin
- Rp 1.440.000 tambahan untuk setiap anggota keluarga
(anak) paling banyak 3orang.
Pengurangan yang diperbolehkan adalah biaya jabatan sebesar 5% dengan jumlah
maksimal sebesar Rp 1.296.000,00/tahun atau setara dengan Rp 108.000,00/bulan
dan iuran yang terkait dengan gaji yang dibayar oleh pegawai kepada dana pension
sebesar 5% maksimal sebesar Rp 432.000,00/tahun atau Rp 36.000,00/bulan.
2. PPh 23 Apabila apotek dimiliki suatu persero maka selain pajak diatas, dikenakan
pula ketentuan PPh pasal 23 yang mengatur bahwa keuntungan bersih yang
dibagikan kepada persero dikenai 15% dari saham yang dibagikan tersebut. PPh 23
merupakan pajak yang dikenakan pada badan usaha berdasarkan
pembagiandeviden.
3. PPh 25 Berupa pembayaran pajak yang berupa cicilan tiap bulan sebesar 1/12 dari
perhitungan pajak satu tahun sebelumnya. Pembayaran dilakukan setiap bulan
sebelum tanggal 15 dan pada akhir tahun diperhitungkan dengan besar pajak yang
sesungguhnya yang harus dibayar.
- Badan Usaha yang memiliki pendapatan bruto sampai 4,8 Milyar per
tahun, dikenakan tarif pajak PPh final yaitu PPh Pasal 4 ayat 2 dengan perhitungan
pajak yaitu 1% dikalikan dengan seluruh pendapatan bruto dari hasil usaha
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 66
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
perseroan, dan berdasarkan PP 46 Tahun 2013 maka wajib pajak atau badan usaha
wajib menyetorkan Pajak PPh tersebut setiap bulan paling lambat tanggal 15.
- Badan Usaha yang memiliki pendapatan bruto lebih besar dari 50
Milyar per Tahun, besarnya tarif pajak penghasilan PPh badan dikenakan tarif pajak
tunggal 25% dikalikan dengan laba bersih sebelum pajak.
- Badan Usaha yang memiliki pendapatan bruto lebih besar dari 4,8
Milyar dan kurang dari 50 Milyar per setahun, dikenakan 2 tarif perhitungan pajak
dengan cara sebagai berikut: tarif sebesar 12,5% untuk pajak penghasilan yang
mendapatkan fasilitas (pendapatan bruto sampai dengan 4.8 Milyar), dan tarif 25%
untuk pajak penghasilan yang tidak mendapatkan fasilitas (pendapatan bruto 4,8 –
50 Milyar).
4. PPh 28 Apabila pajak yang terhutang untuk satu tahun pajak ternyata lebih
kecil dari jumlah kredit pajak (PPh 25) maka setelah dilakukan perhitungan,
kelebihan pembayaran pajak dikembalikan setelah dilakukan pemeriksaan dengan
hutang pajak berikut sanksi sanksinya.
5. PPh 29 Apabila pajak yang terhutang untuk satu tahun pajak ternyata lebih
besar dari jumlah kredit pajak yang sudah dilakukan perhitungan, maka kekurangan
pajak yang terhutang harus dilunasi selambat-lambatnya tanggal 25 bulan ketiga
setelah tahun pajak berakhir bagi Wajib Pajak sebelum surat pemberitahuan
disampaikan.
6. Pengusaha Kena Pajak (PKP)
Merupakan pajak yang dikenakan kepada badan usaha atau orang pribadi yang
melakukan usaha. Pengusaha kecil dengan kemampuan sendiri dapat mengajukan
permohonan untuk menjadi PKP.
7. Adapun pajak yang dibayarkan oleh Apotek sukun adalah SPT tahunan (Pajak
Penghasilan Wajib Pajak Badan yang dibayarkan setiap 1 tahun sekali, sebesar
0,5% dari omset apotek.
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 67
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
3.1.8 Kegiatan Setiap Hari di Apotek Sukun Farma
Hari/ Kegiatan
Tanggal
Selasa, 18 1. Datang, Pengenalan Lingkungan Apotek
Agustus 2020 Tujuan: Mengetahui Lingkungan Apotek
Proses: pertama kali datang ke apotek bersama dosen
pembimbing, ibu Engrid Juni. Kemudian kami berkenalan dengan
apoteker penanggung jawab bu eli dilakukan serah terima,
kemudian bu eli menerengkan tentang pembagian shift perhari
dibagi 3 dan sendiri sendiri yaitu shift pertama 08:00-12:00, shift
kedua 12:00-16:00 dan shift ketiga 16L00-20:00. Hari itu juga
ditentukan pembagian jadwalnya. Dihari pertama, kami
berkenalan dengan pegawai apotek. Kak Nejella sebagai apoteker
pendamping. Bu Nani sebagai AA, Bu Titik admin, Bu Yuli
sebagai AA, Pak Kandar dan Pak Mat sebagai pembantu umum.
2. Mempelajari cara penyimpanan resep
Tujuan: Memudahkan dalam pengambilan obat
Proses: Bu Ely menjelaskan tentang penyimpanan obat
berdasarkan generic dan merek dagang dipisah, suhu
penyimpanan obat suhu ruang atau suhu lemari pendingin, bentuk
sediaan seperti tablet, sirup, suppo dan alfabetis diurut mulai dari
A-Z untuk memudahkan pengambian.
3. Mengetahui Alur Pelayanan Obat OTC dan Resep
Tujuan: Memudahkan mahasiswa saat akan melakukan pelayanan
langsung
Proses: Bu Ely menjelaskan secara singkat pelayanan
swamedikasi serta penerimaan resep. Swamedikasi didengarkan
keluhan pasien, permintaan pasien terkait budget juga. Untuk
pelayanan resep terlebih dahulu dilakukan skrining resep dilihat
administrasinya yaitu nama dokter, nomor SIP, alamat praktik,
nama pasien, alamat, umur/BB pasien. Kemudia dilihat
ketersediaan obat lalu dihitung biayanya, setelah itu
dikonfimasikan harganya, jika pasien setuju ditanyakan mau
ditunggu atau ditinggal dengan estimasi waktu non racik 30 menit
lalu diberikan nomor tunggu, racikan 1 jamman, setelah itu baru
disiapkan obat dan etiketnya. Setelah itu pasien dipanggil nomor
resepnya/ nama pasiennya. Lalu melakukan KIE kepada pasien.
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 68
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
4. Memahami Daerah Apotek
Tujuan: memudahkan pelaksanaan PKPA kedepannya
Proses: Bu ely secara singkat menjelaskan bagian bagian apotek
lalu mahasiswa membuat denah apotek secara sederhana di
logbook.
5. Melayani pembelian obat OTC
Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang
sudah habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat
yang sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan
sama ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya
sama. Namun ada juga pasien yang datang dengan
menyampaikan keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran
terkait swamedikasi yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada
juga pembeli yang datang membeli alkes, suplemen vitamin dan
lainnya.
Rabu/ 19 1. Melayani pembelian obat OTC pasien khususnya terkait
Agustus 2020 Tujuan: Melayani kebutuhan
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang
sudah habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat
yang sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan
sama ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya
sama. Namun ada juga pasien yang datang dengan
menyampaikan keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran
terkait swamedikasi yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada
juga pembeli yang datang membeli alkes, suplemen vitamin dan
lainnya.
2. Mengetahui Alur Pemesanan obat ke PBF
Tujuan: Memudahkan mahasiswa melakukan penerimaan barang
Proses: pemesanan dilakukan setiap hari, dipesan jika stok obat
tinggal sedikit, setelah itu menulis di surat pesanan, surat pesanan
bisa difoto lewat WA kepada sales atau langsung dibawa oleh
sales dari PBF. PBF kebanyak menerapkan system 1 day service,
jadi barang bisa dikirim hari itu juga jika stoknya ada. Barang
datang bersama faktur faktur biasanya ada 3 salinan, yang asli
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 69
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
dibawa salesnya untuk menagih pembayarannya. Pembayaran
sesuai dengan MOU antar PBF (siste kredit), ada yang dibayar 1
minggu setelahnya, 2 minggu dan 1 bulan.
3. Mencatat List obat generic dicocokkan dengan MITU di obat-
obat paten
Proses: Untuk mempermudah dan sebagai bahan belajar
mahasiswa
Proses: dicatat semua golongan generic obat setelah itu
dicocokkan dengan merek dagang obat, dicatat satu satu.
4. Memahami Menentukan harga dan melabeli obat
Tujuan: agar mendapat harga jual yang tepat dan untuk
memudahkan saat penjualan
Proses: obat/ alkes/ suplemen dan lainnya yang baru datang dari
PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat fakturnya apakah harga
sudah ditambah PPN 10 % atau belum, jika belum maka
ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung marginnya, untuk obat
bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep dokter) marginnya 10
%, untuk obat keras (tanpa resep dokter) marginnya 15 %, dengan
resep dokter marginnya 20 %. Setelah itu memberikan label harga
pada setiap obat agar muda pada saat pasien membeli dan
menanyakan harga.
Jumat/ 21 1. Melayani pembelian obat OTC
Agustus 2020 Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
2. Mencatat List obat generic dicocokkan dengan MITU di obat-obat
paten
Proses: Untuk mempermudah dan sebagai bahan belajar
mahasiswa
Proses: dicatat semua golongan generic obat setelah itu
dicocokkan dengan merek dagang obat, dicatat satu satu.
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 70
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
3. Melakukan Pelayanan resep non racikan pada pasien atas nama
Tn. C
Tujuan: Menyediakan obat yang dibutuhkan oleh pasien serta
memberikan informasi obat berdasarkan yang tertera di resep.
Prose: pasien datang membawa resep yang berisikan
R/ Kenalog In Oribase tube I
S 3 dd lotus orig
Pertama yang dilakukan adalah telaah resep yang meliputi 3 aspek,
yaitu aspek administratif, aspek farmasetik, dan aspek farmasi
klinik. Kemudian dilakukan perhitungan harga obat (dilakukan
oleh apoteker/AA yang bertugas) dan dikonfirmasikan harga obat
pada pasien. Jika pasien setuju untuk menebus obat, maka obat
disiapkan dan dilakukan peracikan, kemudian dimasukan dalam
wadah/plastic klip dan diberikan etiket. Untuk sediaan oral
diberikan etiket putih dan untuk sediaan pemakaian luar diberikan
etiket biru. Kemudian obat diserahkan pada pasien disertai
informasi terkait nama obat, jumlah, indikasi, cara penggunaan,
efek samping (yang mungkin terjadi), dan cara penyimpanan obat.
Dan menuliskan copy resep serta
menyerahkan kepada pasien pada saat memberikan obat.
4. Mengetahui macam-macam surat pesanan dan faktur obat
Tujuan: Agar mengetahui dan melihat secara langsung macam-
macam surat pesanan \
Proses: Bu ely menunjukkan surat pesanan, yaitu SP obat bebas,
precursor, narkotik, precursor dan obat-obat tertentu, cara
penulisan. Juga menunjukan macam-macam fraktur .
5. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya 20 %. Setelah itu
memberikan label harga pada setiap obat agar muda pada saat
pasien membeli dan menanyakan harga. Lalu diberi label yang
bertuliskan harga obat dengan menggunakan kertas label. Baik
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 71
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
penulisan harga jual obat per satuan obat, per strip, dan harga
untuk racikan maupun harga obat +ppn saja.
Sabtu/ 22 1. Melayani pembelian obat OTC
Agustus 2020 Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
2. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
3. Melakukan Pelayanan resep racikan pada pasien atas nama Kucing
K
Tujuan: Menyediakan obat yang dibutuhkan oleh pasien serta
memberikan informasi obat berdasarkan yang tertera di resep.
Prose: pasien datang membawa resep yang berisikan
R/ Cefadroxil Sirup I
S 2 dd 1.5 ml
Dihabiskan
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 72
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
R/ Vitamin B tab ¼
Ocuson 1/8
Glukosa qs
Mf pulv dtd no VIII
S 2 dd 1 pulv
Pertama yang dilakukan adalah telaah resep yang meliputi 3 aspek,
yaitu aspek administratif, aspek farmasetik, dan aspek farmasi
klinik. Kemudian dilakukan perhitungan harga obat (dilakukan
oleh apoteker/AA yang bertugas) dan dikonfirmasikan harga obat
pada pasien. Jika pasien setuju untuk menebus obat, maka obat
disiapkan dan dilakukan peracikan, kemudian dimasukan dalam
wadah/plastic klip dan diberikan etiket. Untuk sediaan oral
diberikan etiket putih dan untuk sediaan pemakaian luar diberikan
etiket biru. Kemudian obat diserahkan pada pasien disertai
informasi terkait nama obat, jumlah, indikasi, cara penggunaan,
efek samping (yang mungkin terjadi), dan cara penyimpanan obat.
Dan menuliskan copy resep serta
menyerahkan kepada pasien pada saat memberikan obat.
20 %. Setelah itu memberikan label harga pada setiap obat agar
muda pada saat pasien membeli dan menanyakan harga.
4. Melakukan penerimaan barang dari distributor
Tujuan : Menjamin barang yang diterima sesuai dengan barang
yang dipesan
Proses : Seorang PBF/distributor datang mengantarkan barang
(beserta faktur) yang sudah dipesan ke apotek, barang yang tertera
pada faktur disesuaikan dengan SP. Jika sudah sesuai, maka
barang fisik disesuaikan (dengan cara dicentang pada faktur) nama
barang, jumlah, nomor batch serta exp date dengan yang tertera
pada faktur. Jika sudah sesuai, apoteker menandatangani Faktur
dan diberikan stempel. Jika barang kredit, maka faktur yang asli
diberikan pada PBF dan faktur copy disimpan. Jika sudah lunas,
faktur asli akan diberikan pada apotek.
5. Mencatat List obat generic dicocokkan dengan MITU di obat-obat
paten
Proses: Untuk mempermudah dan sebagai bahan belajar
mahasiswa
Proses: dicatat semua golongan generic obat setelah itu
dicocokkan dengan merek dagang obat, dicatat satu satu.
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 73
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Minggu/ 23 1. Diskusi dengan preceptor
Agustus 2020 Tujuan: memahami undang undang perapotekan dan Tanya jawab
Proses: materi yang disampaikan materi tentang perapotekan,
peresepan. PMK no 73 th 2016 tentang standart pelayanan
kefarmasian, perijinan apotek, narkotika, psikotropika,
precursor,OOT,OWA lewat google meet. Selanjutnya diisi dengan
Tanya jawab.
- seputar swamedikasi: selain dilihat dari keluhan pasien, tapi juga
dilihat dari pasien datang dari kalangan apa, ada pasien yang lebih
mencari harga obat yang terjangku tapi ada juga yang mencari
dengan harga yang bersaing karena diyakini khasiatnya lebih
tinggi.
- seputar stock opname dan obat kadaluwarsa, stock opname
dilakukan satu tahun sekali selain untuk melihat obat yang
kadaluwarsa jugasebagai laporan tahunan, untuk obat kadaluwarsa
diusahakan untuk dijual terlebih dahulu. Jika tidak diretur ke PBF
jika ada perjanjian retur, jika tidak bisa barang menjadi
tanggungan apotek
- terkait penyimpanan resep.
resep asli dari pasien pada bulan ini (Juli) disimpan dulu di loker
khusus resep setiap bulannya. Jika sudah 1 bulan kemudian
disimpan di kantong besar dan diletakkan di lantai bagian atas
Apotek khusus tempat menyimpan resep. Sebelum resep
dimasukkan kedalam kantong, resep dipisahkan/ dibendel sesuai
dengan bulan. Dan juga untuk resep yang mengandung narkotika
dipisahkan juga. Agar mudah dalam penelusuran. Jika resep sudah
5 tahun penyimpanan, resep bisa dimusnahkan. Pemusnahan resep
dilakukan di Dinkes dan disertai dengan berita acara pemusnahan.
Jika resep tidak banyak, maka dilakukan pemusnahan di Apotek.
Alur pemusnahan, pertama pihak apotek mengajukan formulir
kepada Dinkes untuk melakukan pemusnahan, kemudian pihak
Dinkes akan mengkonfirmasi untuk tanggal bisa dilakukan
pemusnahan resep. Kemudian pada tanggal tersebut dilakukan
pemusnahan. Jika hanya sedikit resep, makan pihak Dinkes akan
mendatangi Apotek dan melakukan pemusnahan resep dan
melakukan foto selfie sebagai bukti dan disertai berita acara yang
kemudian diserahkan kepada Dinkes.
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 74
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Senin/ 24 1. Melayani pembelian obat OTC
Agustus 2020 Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
2. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
3. Melakukan Pelayanan resep racikan pada pasien atas nama Kucing
C
Tujuan: Menyediakan obat yang dibutuhkan oleh pasien serta
memberikan informasi obat berdasarkan yang tertera di resep.
Prose: pasien datang membawa resep yang berisikan
R/ Yusimox no I
S 2 dd 0.2 cc pc
R/ Genoint eye drop no I
S 2 dd 1 gtt
Pertama yang dilakukan adalah telaah resep yang meliputi 3 aspek,
yaitu aspek administratif, aspek farmasetik, dan aspek farmasi
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 75
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
klinik. Kemudian dilakukan perhitungan harga obat (dilakukan
oleh apoteker/AA yang bertugas) dan dikonfirmasikan harga obat
pada pasien. Jika pasien setuju untuk menebus obat, maka obat
disiapkan dan dilakukan peracikan, kemudian dimasukan dalam
wadah/plastic klip dan diberikan etiket. Untuk sediaan oral
diberikan etiket putih dan untuk sediaan pemakaian luar diberikan
etiket biru. Kemudian obat diserahkan pada pasien disertai
informasi terkait nama obat, jumlah, indikasi, cara penggunaan,
efek samping (yang mungkin terjadi), dan cara penyimpanan obat.
Dan menuliskan copy resep serta
menyerahkan kepada pasien pada saat memberikan obat.
20 %. Setelah itu memberikan label harga pada setiap obat agar
muda pada saat pasien membeli dan menanyakan harga.
4. Mencatat List obat generic dicocokkan dengan MITU di obat-obat
paten
Proses: Untuk mempermudah dan sebagai bahan belajar
mahasiswa
Proses: dicatat semua golongan generic obat setelah itu
dicocokkan dengan merek dagang obat, dicatat satu satu.
Selasa/ 25 1. Melayani pembelian obat OTC
Agustus 2020 Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
2. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 76
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
3. Mengolongkan obat berdasarkan kelas terapinya
Proses: Untuk mempermudah dan sebagai bahan belajar
mahasiswa
Rabu/ 26 Proses: mencatat obat sesuai golongan dan fungsi obat masing-
Agustus 2020 masing.
1. Post test materi 1
Tujuan: untuk mengetahui kemampuan mahasiswa
Proses: diberikan 5 point sal dikerjakan di apotek dengan wajktu1
jamman
2. Mengolongkan obat berdasarkan kelas terapinya
Proses: Untuk mempermudah dan sebagai bahan belajar
mahasiswa
Proses: mencatat obat sesuai golongan dan fungsi obat masing-
masing.
3. Melayani pembelian obat OTC
Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
4. Memahami struktur organisasi di Apotek Sukun Farma
Tujuan: Mengetahui ostruktur organisasi karyawan di apotek
Proses: membuat struktur organisasi dimulai dari pemilik sarana
apotek sampi karyawan.
Kamis/ 27 1. Melakukan penerimaan barang dari distributor
Agustus 2020 Tujuan : Menjamin barang yang diterima sesuai dengan barang
yang dipesan
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 77
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Jumat/ 28 Proses : Seorang PBF/distributor datang mengantarkan barang
Agustus 2020 (beserta faktur) yang sudah dipesan ke apotek, barang yang tertera
pada faktur disesuaikan dengan SP. Jika sudah sesuai, maka
barang fisik disesuaikan (dengan cara dicentang pada faktur) nama
barang, jumlah, nomor batch serta exp date dengan yang tertera
pada faktur. Jika sudah sesuai, apoteker menandatangani Faktur
dan diberikan stempel. Jika barang kredit, maka faktur yang asli
diberikan pada PBF dan faktur copy disimpan. Jika sudah lunas,
faktur asli akan diberikan pada apotek.
2. Melayani pembelian obat OTC
Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
3. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
1. Melakukan penerimaan barang dari distributor
Tujuan : Menjamin barang yang diterima sesuai dengan barang
yang dipesan
Proses : Seorang PBF/distributor datang mengantarkan barang
(beserta faktur) yang sudah dipesan ke apotek, barang yang tertera
pada faktur disesuaikan dengan SP. Jika sudah sesuai, maka
barang fisik disesuaikan (dengan cara dicentang pada faktur) nama
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 78
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Sabtu/ 29 barang, jumlah, nomor batch serta exp date dengan yang tertera
Agustus 2020 pada faktur. Jika sudah sesuai, apoteker menandatangani Faktur
dan diberikan stempel. Jika barang kredit, maka faktur yang asli
diberikan pada PBF dan faktur copy disimpan. Jika sudah lunas,
faktur asli akan diberikan pada apotek.
2. Melayani pembelian obat OTC
Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
3. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
1. Melakukan penerimaan barang dari distributor
Tujuan : Menjamin barang yang diterima sesuai dengan barang
yang dipesan
Proses : Seorang PBF/distributor datang mengantarkan barang
(beserta faktur) yang sudah dipesan ke apotek, barang yang tertera
pada faktur disesuaikan dengan SP. Jika sudah sesuai, maka
barang fisik disesuaikan (dengan cara dicentang pada faktur) nama
barang, jumlah, nomor batch serta exp date dengan yang tertera
pada faktur. Jika sudah sesuai, apoteker menandatangani Faktur
dan diberikan stempel. Jika barang kredit, maka faktur yang asli
diberikan pada PBF dan faktur copy disimpan. Jika sudah lunas,
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 79
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Minggu/ 30 faktur asli akan diberikan pada apotek.
Agustus 2020 2. Melayani pembelian obat OTC
Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
3. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
1. Diskusi dengan preceptor
Tujuan: Perhitunngan tentang apotek, management apotek
Senin/ 31 Proses: materi yang disampaikan materi tentang hitungan PBP,
Agustus 2020 ROI, BEP, Persentase BEP.macam-macam rumusnya. Setelah itu
latihan soal. Tata cara pendaftaran SIPA. Diskusi melalui google
meet
1. Melakukan penerimaan barang dari distributor
Tujuan : Menjamin barang yang diterima sesuai dengan barang
yang dipesan
Proses : Seorang PBF/distributor datang mengantarkan barang
(beserta faktur) yang sudah dipesan ke apotek, barang yang tertera
pada faktur disesuaikan dengan SP. Jika sudah sesuai, maka
barang fisik disesuaikan (dengan cara dicentang pada faktur) nama
barang, jumlah, nomor batch serta exp date dengan yang tertera
pada faktur. Jika sudah sesuai, apoteker menandatangani Faktur
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 80
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
dan diberikan stempel. Jika barang kredit, maka faktur yang asli
diberikan pada PBF dan faktur copy disimpan. Jika sudah lunas,
faktur asli akan diberikan pada apotek.
2. Melayani pembelian obat OTC
Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
3. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
4. Melakukan Pelayanan resep racikan pada pasien atas nama Tn A
Tujuan: Menyediakan obat yang dibutuhkan oleh pasien serta
memberikan informasi obat berdasarkan yang tertera di resep.
Prose: pasien datang membawa resep yang berisikan
R/ Sanmol tab no X
S 3 dd 1
R/ Levofloxacin 500 mg no VI
S 1 dd 1
R/ Salbutamol 1.5 mg
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 81
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Mucoheksin 1 tab
Mf caps dtd no X
S 3 dd 1 caps
Pertama yang dilakukan adalah telaah resep yang meliputi 3 aspek,
yaitu aspek administratif, aspek farmasetik, dan aspek farmasi
klinik. Kemudian dilakukan perhitungan harga obat (dilakukan
oleh apoteker/AA yang bertugas) dan dikonfirmasikan harga obat
pada pasien. Jika pasien setuju untuk menebus obat, maka obat
disiapkan dan dilakukan peracikan, kemudian dimasukan dalam
wadah/plastic klip dan diberikan etiket. Untuk sediaan oral
diberikan etiket putih dan untuk sediaan pemakaian luar diberikan
etiket biru. Kemudian obat diserahkan pada pasien disertai
informasi terkait nama obat, jumlah, indikasi, cara penggunaan,
efek samping (yang mungkin terjadi), dan cara penyimpanan obat.
Dan menuliskan copy resep serta
menyerahkan kepada pasien pada saat memberikan obat.
20 %. Setelah itu memberikan label harga pada setiap obat agar
muda pada saat pasien membeli dan menanyakan harga.
5. Menulis copy resep dan etiket cream
Tujuan: memudahkan pasien menggunakan obat dan copy resep
untuk keperluan pasien
Proses: menulis copy resep sesuai kebutuhan pasien dan etiket
cream obat luar bewarna biru
R/ Elepro Oint 10gr
Biocream 10gr
Mf.la
SUE pagi-sore
Sesudah mandi
……………………………det….
Selasa/ 1 1. Melayani pembelian obat OTC
September Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
2020 Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 82
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
2. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
3. Melakukan Pelayanan resep racikan pada pasien atas nama Kucing
b
Tujuan: Menyediakan obat yang dibutuhkan oleh pasien serta
memberikan informasi obat berdasarkan yang tertera di resep.
Prose: pasien datang membawa resep yang berisikan
R/ amoxsan 1/5 tab
Ambroxol 8 mg
Vitamin C 35 mg
Heptasan ¼ tab
Neurosanbe 1/10 tab
M f puln dtd no X
S 2 dd pulv 1 pc
Pertama yang dilakukan adalah telaah resep yang meliputi 3 aspek,
yaitu aspek administratif, aspek farmasetik, dan aspek farmasi
klinik. Kemudian dilakukan perhitungan harga obat (dilakukan
oleh apoteker/AA yang bertugas) dan dikonfirmasikan harga obat
pada pasien. Jika pasien setuju untuk menebus obat, maka obat
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 83
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
disiapkan dan dilakukan peracikan, kemudian dimasukan dalam
wadah/plastic klip dan diberikan etiket. Untuk sediaan oral
diberikan etiket putih dan untuk sediaan pemakaian luar diberikan
etiket biru. Kemudian obat diserahkan pada pasien disertai
informasi terkait nama obat, jumlah, indikasi, cara penggunaan,
efek samping (yang mungkin terjadi), dan cara penyimpanan obat.
Dan menuliskan copy resep serta
menyerahkan kepada pasien pada saat memberikan obat.
20 %. Setelah itu memberikan label harga pada setiap obat agar
muda pada saat pasien membeli dan menanyakan harga.
Rabu/ 2 1. Melayani pembelian obat OTC
September Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
2020 Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
2. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
3. Melakukan Pelayanan resep racikan pada pasien atas nama Kucing
I
Tujuan: Menyediakan obat yang dibutuhkan oleh pasien serta
memberikan informasi obat berdasarkan yang tertera di resep.
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 84
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Prose: pasien datang membawa resep yang berisikan
R/ amoxsan 1/12 tab
Metronidazole 15 mg
Heptasan ¼ tab
Neurosanbe 1/10 tab
M f puln dtd no X
S 2 dd pulv 1 pc
Kamis / 3 Pertama yang dilakukan adalah telaah resep yang meliputi 3 aspek,
September yaitu aspek administratif, aspek farmasetik, dan aspek farmasi
klinik. Kemudian dilakukan perhitungan harga obat (dilakukan
2020 oleh apoteker/AA yang bertugas) dan dikonfirmasikan harga obat
pada pasien. Jika pasien setuju untuk menebus obat, maka obat
disiapkan dan dilakukan peracikan, kemudian dimasukan dalam
wadah/plastic klip dan diberikan etiket. Untuk sediaan oral
diberikan etiket putih dan untuk sediaan pemakaian luar diberikan
etiket biru. Kemudian obat diserahkan pada pasien disertai
informasi terkait nama obat, jumlah, indikasi, cara penggunaan,
efek samping (yang mungkin terjadi), dan cara penyimpanan obat.
Dan menuliskan copy resep serta
menyerahkan kepada pasien pada saat memberikan obat.
20 %. Setelah itu memberikan label harga pada setiap obat agar
muda pada saat pasien membeli dan menanyakan harga.
1. Melayani pembelian obat OTC
Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
2. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 85
Jumat/ 4 Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
September Di Apotek Sukun Farma Malang
2020 18 Agustus 2020 – 14 September 2020
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
3. Melakukan penerimaan barang dari distributor
Tujuan : Menjamin barang yang diterima sesuai dengan barang
yang dipesan
Proses : Seorang PBF/distributor datang mengantarkan barang
(beserta faktur) yang sudah dipesan ke apotek, barang yang tertera
pada faktur disesuaikan dengan SP. Jika sudah sesuai, maka
barang fisik disesuaikan (dengan cara dicentang pada faktur) nama
barang, jumlah, nomor batch serta exp date dengan yang tertera
pada faktur. Jika sudah sesuai, apoteker menandatangani Faktur
dan diberikan stempel. Jika barang kredit, maka faktur yang asli
diberikan pada PBF dan faktur copy disimpan. Jika sudah lunas,
faktur asli akan diberikan pada apotek.
1. Melayani pembelian obat OTC
Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
2. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 86
Sabtu/ 5 Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
September Di Apotek Sukun Farma Malang
2020 18 Agustus 2020 – 14 September 2020
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
1. Melayani pembelian obat OTC
Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
2. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
3. Melakukan penerimaan barang dari distributor
Tujuan : Menjamin barang yang diterima sesuai dengan barang
yang dipesan
Proses : Seorang PBF/distributor datang mengantarkan barang
(beserta faktur) yang sudah dipesan ke apotek, barang yang tertera
pada faktur disesuaikan dengan SP. Jika sudah sesuai, maka
barang fisik disesuaikan (dengan cara dicentang pada faktur) nama
barang, jumlah, nomor batch serta exp date dengan yang tertera
pada faktur. Jika sudah sesuai, apoteker menandatangani Faktur
dan diberikan stempel. Jika barang kredit, maka faktur yang asli
diberikan pada PBF dan faktur copy disimpan. Jika sudah lunas,
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 87
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
faktur asli akan diberikan pada apotek.
Minggu / 6 1. Diskusi dengan preceptor
September Tujuan: Diskusi aspek klinis di apotek dan persentasi analisis
resep
2020
Senin/ 7 Proses: kak nejeela menjelaskan terlebih dahulu aspek klinis yang
September dilakukan di apotek : masalah klinis, interaksi obatnya, duplikai
obat, kontraindikasi dgn pasien, alergi obat
2020 dispensing: penyipan-pemberian informasi. dicek obatnya ada,
harganya, ditanya mau ambil separy atau smua
PIO : langsung non langsung pemberitahuan secara lisan, panflet,
jurnal, brosur)
konseling: pasien yg didahulukan, geriatri. dm, jantung ,
hipertensi. intruksi kusus
pasien dgn polifarmasi: menjelaskan secara hati hati. muncul efek
samping, keluhan.
meso- belum pernah.
Selanjutnya melakukan persentasi, masing masing analisis 2 resep
lalu dilanjutkan dengan Tanya jawab seputar analisis resep dan
evaluasi dari kak nejella.
1. Melayani pembelian obat OTC
Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
2. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 88
Selasa/ 8 Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
September Di Apotek Sukun Farma Malang
2020 18 Agustus 2020 – 14 September 2020
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
3. Melakukan Pelayanan resep racikan pada pasien atas nama An C
Tujuan: Menyediakan obat yang dibutuhkan oleh pasien serta
memberikan informasi obat berdasarkan yang tertera di resep.
Prose: pasien datang membawa resep yang berisikan
R/ dextamine ¼ tab
Erythromycin 100 mg
Mf pulv dtd no XII
S 3 dd pulv 1 pc
R/ Nipe Drop I
S 3 dd 0.5 cc
Pertama yang dilakukan adalah telaah resep yang meliputi 3 aspek,
yaitu aspek administratif, aspek farmasetik, dan aspek farmasi
klinik. Kemudian dilakukan perhitungan harga obat (dilakukan
oleh apoteker/AA yang bertugas) dan dikonfirmasikan harga obat
pada pasien. Jika pasien setuju untuk menebus obat, maka obat
disiapkan dan dilakukan peracikan, kemudian dimasukan dalam
wadah/plastic klip dan diberikan etiket. Untuk sediaan oral
diberikan etiket putih dan untuk sediaan pemakaian luar diberikan
etiket biru. Kemudian obat diserahkan pada pasien disertai
informasi terkait nama obat, jumlah, indikasi, cara penggunaan,
efek samping (yang mungkin terjadi), dan cara penyimpanan obat.
Dan menuliskan copy resep serta
menyerahkan kepada pasien pada saat memberikan obat.
20 %. Setelah itu memberikan label harga pada setiap obat agar
muda pada saat pasien membeli dan menanyakan harga.
1. Melayani pembelian obat OTC
Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 89
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
Di Apotek Sukun Farma Malang
18 Agustus 2020 – 14 September 2020
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
2. Melakukan Layanan Kesehatan Gratis (Cek gula darah, asam urat ,
dan TD) serta penyuluhan tentang hipertensi.
Tujuan: Memberikan informasi lebih mengenai Hipertensi
Rabu/ 9 Proses: Sehari sebelum dilakukan penyuluhan, kami memberikan
September brosur yang berisi layanan pengecekkan kesehatan gratis (Tekanan
Darah, Glukosa, dan Asam Urat) dan memberitahukan bahwa
2020 besok akan diadakan penyuluhan terkait asam urat. Brosur tersebut
kami berikan kepada warga sekitar dan kepada pasien yang
berkunjung. Keeseokan harinya, pukul 09:00 WIB kami
berkumpul dan menyiapkan beberapa peralatan (alat test, jarum,
alkohol swab, dll), poster, dan brosur asam urat sebelum acara
dimulai. Pada pukul 11:00 WIB warga sekitar dan pasien yang
mendapatkan brosur cek kesehatan gratis kemarin mulai
berdatangan satu persatu. Lalu kami langsung memeriksa TD,
Asam Urat, dan Glukosanya. Hasil yang didapatkan juga kami
catat, setelah dilakukan pemeriksaan kami memberitahukan untuk
menunggu sebentar. Setelah itu kami melakukan penyuluhan yang
diwakili oleh Aziza. Setelah penyuluhan selesai kami melakukan
tanya jawab kepada peserta yang datang. Dan kami
melangsungkan penyuluhan dan cek kesehatan gratis mulai pukul
11:00 – 13:00.
1. Melayani pembelian obat OTC
Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
2. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 90
Kamis/ 10 Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
September Di Apotek Sukun Farma Malang
2020 18 Agustus 2020 – 14 September 2020
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
marginnya 15 %, dengan resep dokter marginnya. Setelah itu
dilabeli , diberikan label yang bertuliskan harga obat dengan
menggunakan kertas label. Baik penulisan harga jual obat per
satuan obat, per strip, dan harga untuk racikan maupun harga obat
+ppn saja.
3. Melakukan penerimaan barang dari distributor
Tujuan : Menjamin barang yang diterima sesuai dengan barang
yang dipesan
Proses : Seorang PBF/distributor datang mengantarkan barang
(beserta faktur) yang sudah dipesan ke apotek, barang yang tertera
pada faktur disesuaikan dengan SP. Jika sudah sesuai, maka
barang fisik disesuaikan (dengan cara dicentang pada faktur) nama
barang, jumlah, nomor batch serta exp date dengan yang tertera
pada faktur. Jika sudah sesuai, apoteker menandatangani Faktur
dan diberikan stempel. Jika barang kredit, maka faktur yang asli
diberikan pada PBF dan faktur copy disimpan. Jika sudah lunas,
faktur asli akan diberikan pada apotek.
1. Melayani pembelian obat OTC
Tujuan: Melayani kebutuhan pasien khususnya terkait
swamedikasi.
Proses: pasien datang dengan membawa kemasan obat yang sudah
habis kemudianditunjukkan kekami dan kami mencari obat yang
sesuai, jika adanya merek dagang lain dengan kandungan sama
ditawarkan kepasien dengan dijelaskan isi dan khasiatnya sama.
Namun ada juga pasien yang datang dengan menyampaikan
keluhan yang dirasakan, lalu meminta saran terkait swamedikasi
yang perlu dilakukan oleh pasien. Atau ada juga pembeli yang
datang membeli alkes, suplemen vitamin dan lainnya.
2. Menentukan harga obat dan melabeli harga obat
Tujuan: memudahkan penjualan obat
Proses: bersama petugas apotek obat/ alkes/ suplemen dan lainnya
yang baru datang dari PBF ditentukan harga jualnya. Dilihat
fakturnya apakah harga sudah ditambah PPN 10 % atau belum,
jika belum maka ditambah PPN 10 %. Setelah itu dihitung
marginnya, untuk obat bebas dan obat bebas terbatas (tanpa resep
dokter) marginnya 10 %, untuk obat keras (tanpa resep dokter)
Program Studi Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Malang Page 91