The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Lia Kencana, 2022-11-24 13:37:15

Bahasa Indonesia

Buku Kumpulan Cerpen

1

2

3

4

5

6

Jangan Tinggalkanku, Guardian Angel!

Orang sering memanggilnya Bams, nama aslinya
Bambang Rasyid Jailani. Dia terlahir dari keluarga yang
notabenenya orang pendidikan. Papanya seorang Guru Besar dan
Mamanya seorang Dosen di salah satu PTN di Bengkulu. Dia
juga punya saudara perempuan panggilannya Mbak Ning, Mbak
Ning seorang guru di salah satu SMA Favorit di Bengkulu dan
pernah mengikuti Program Pelatihan Keguruan di Jepang.

Kalau Bams cerdas, berprestasi, mendapatkan nilai tinggi
dan menjadi bintang kelas mingkin ini hal yang biasa. Tapi kalo
Bams nakal, selengekan, dan mendapat peringkat terakhir di
kelas apakah orang tuanya malu punya anak seperti Bams atau
malah biasa aja menanggapinya?

Enam bulan terakhir ini Bams mulai malas belajar,
terbukti dengan nilai rapotnya hanya setengah yang melampaui
KKM. Menurut Bams pembelajaran yang diberikan cenderung
monoton dan membosankan. Terkadang guru sering marah
ketimbang sabar menghadapi siswa seperti Bams yang dianggap
‘nakal dan bodoh’. Ditambah lagi dengan orang tuanya yang
menyuruh ikut belajar tambahan khusus jurusan yang dianggap
lebih unggul seperti Matematika, IPA, Bahasa Inggris, Bahasa

7

Indonesia dan masih banyak lagi. Rasanya kepala Bams ingin
pecah dengan semua ini, dan orang tuanya nggak pernah nanya
tentang keinginan Bams.

Cita-cita Bams ingin menjadi Seorang Pembalap Motor,
tapi sepertinya cita-cita Bams ini hanya sebatas angan dan
impian. Karena sebulan yang lalu tepatnya minggu malam Bams
bersama klub Ninja Kawasaki melakukan balap liar dan tiba-tiba
polisi sedang patroli di kawasan tersebut. Mereka sempat kejar-
kejaran dengan petugas patroli sebagian ada yang lolos, tapi
sayang nasib Bams kurang beruntung dan akhirnya dia terjaring.

Tidak ada perlawanan yang berarti, Bams dan beberapa
temannya disuruh berbaris dengan telanjang dada. Dinginnya
udara malam yang menghampiri tubuh Bams yang kurus itu
tidak terasa lagi, sebab di kepalanya hanya terlintas bagaimana
caranya kejadian ini tidak diketahui oleh orang tuanya. Mereka
digiring naik mobil patroli menuju Polres setempat.

Setiba di kantor polisi Bams dimintai keterangan dan
disuruh untuk menghubungi orang tuanya. Berkali-kali Bams
mengelak dengan berkata bahwa dia adalah anak kosan dan
orang tuanya berada di kampung, pak polisi itu seperti ahli
psikologi saja dia tau bahwa Bams berbohong. Dengan nada
yang keras pak polisi itu berkata “Sebutkan nomor handphone

8

orang tuamu” terpaksa Bams menyebutkannya “0811*****99”.
Pak polisi terbut langsung menghubungi orang tuanya.

“Halo selamat malam, apa benar ini orang tua dari
Bambang Rasyid Jailani? “Iya Benar, Mohon maaf... Bapak
siapa ya?” “Kami dari pihak kepolisian, bahwa anak bapak
terjaring razia balap liar dan kami harap bapak bisa datang ke
kantor polisi sekarang.” “Baiklah, kami akan segera ke sana dan
terima kasih atas informasinya” “Iya sama-sama” Jawab pak
polisi.

Mobil Pajero Sport warna silver yang dikemudikan oleh
Papanya Bams keluar dari halaman parkir rumahnya langsung
meluncur ke arah timur menuju ke kantor polisi. Hanya
membutuhkan waktu sekitar 10 menit akhirnya orang tua Bams
sampai di parkiran kantor polisi. Dengan raut muka yang
khawatir Papa dan mamanya turun dari Pajero Sport menuju ke
pusat informasi untuk menanyakan di mana keberadaan anaknya,
lalu petugas mengantarkannya ke salah satu ruangan yang
letaknya tak jauh dari ruang pusat informasi.

Pada saat itu Bams tidak mengeluarkan kata-kata
sedikitpun, dia hanya menundukkan kepala seraya memegang
dan memijit-mijit jari tangannya sendiri. Kala itu papanya lah

9

yang mengurus semua itu dan akhirnya Bams beserta teman-
temannya dibebaskan.

Ketika Bams ingin menghidupkan Ninja kesayangannya
itu, tiba-tiba papanya langsung merampas kontak motornya.
Dengan wajah yang memerah sambil menatap Bams dengan
tajam dan berkata “ Biar papa saja yang bawa motor ini, kamu
pulang sana dengan mamamu” Bams tidak bisa berbuat apa-apa,
dia menuruti perintah papanya melangkah lesu menuju pajero
sport yang masih terparkir di halaman kantor polisi. Lalu Bams
langsung masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh
mamanya.

Hari sudah menunjukkan pukul 02.30 Wib, Mbak Ning
mondar-mandir di depan teras rumahnya menunggu kedatangan
kedua orang tuanya dan adik kesayangannya itu. Tit..ti..tit..
bunyi klakson bertubi-tubi “Pasti itu mereka” gumam Mbak
Ning, lalu ia langsung membukakan pintu pagar yang terbuat
dari besi dengan dilapisi cat berwarna kuning keemas-emasan
yang terkesan mewah. Tidak ada kata yang terucap dan tidak ada
juga senyuman yang terpancar di wajah mereka. Mbak Ning
bingung dan ia mengikuti langkah kaki mereka masuk ke rumah.

Bams langsung menuju ke kamar dan mengunci
pintunya. Papa dan mamanya mengetuk pintu kamar Bams dan

10

berkata “Tolong buka pintunya, papa dan mama ingin bicara
dengan kamu” “Iya.. iya tunggu sebentar” Bams melangkah lesu
sambil membuka pintu kamarnya.

“Dengar baik-baik, ini bukan kali pertama kamu terjaring
razia balap liar. Papa dan Mama malu atas kelakuanmu ini, dan
apa kata para tetangga dan kolega papa jika mereka tahu papa
memiliki anak nakal seperti kamu, di mana letak muka papa.”
“Ta.... ta... pi pa cita-citaku ingin menjadi pembalap” jawab
Bams sambil menundukkan kepala. “Diam kamu, tidak usah
membantah” Bentak Papanya. Ditambah lagi dengan perkataan
mamanya “Mama tidak mau tau, jika kejadian ini terulang lagi
terpaksa motor ninja kamu mama sita dan mama jual, kamu tau
mama membelikan motor itu sebagai alat transportasi bukan
untuk ugal-ugalan di jalanan. Sampai kapan pun mama tidak
akan pernah setuju kalo kamu ingin menjadi pembalap, ingat
itu...!!” Papa dan mamanya langsung ke luar dengan wajah yang
kesal.

Setelah orang tuanya ke luar dari kamarnya Bams, Mbak
Ning menuju ke kamar Bams dengan suara lirih dan berkata
“Dek.. ini Mbak Ning, boleh Mbak masuk.”
“Masuk aja Mbak, pintunya tidak dikunci” Mbak Ning menuju
ke tempat tidur dan sambil menatap mata Bams yang berkaca-

11

kaca “Are You Okay, Boy?” Bams langsung memeluk erat Mbak
Ning dan tidak terasa butiran air yang mengalir deras di pelupuk
mata Bams membasahi pundak Mbak Ning. Dengan sentuhan
yang lembut Mbak Ning mengusap air mata yang membasahi
pipi Bams dan berkata “Mbak nggak nyangka, ternyata Bad Boy
bisa galau juga, bahkan bisa jadi ‘Sad Boy’ Peace (sambil
mengangkat kedua jarinya), tapi bagaimana pun kamu nggak
boleh membenci Mama dan Papa. Mbak janji akan mencari
solusi tentang keinginanmu untuk menjadi pembalap, namun
tidak sekarang karena hari sudah larut malam. Besok pagi mama
dan papa mau pergi ke luar kota, jadi besok kita akan
mengantarkan mereka ke Airport, setelah itu baru membicakaran
tentang misi kita. Ingat ya sayang.., jangan pasang muka
cemberut lagi kepada mama dan papa agar mereka nggak
kepikiran dengan kamu, OK..!!!”
“Yang bener Mbak”
“Iya dong, Masa Mbak Bohong..!!”
“Siip...., Thanks a lot Guardian Engel ku”
“Sama-sama”

Hari sudah menunjukkan pukul 05.30 Wib, Orang tua
Bams sudah bersiap-siap untuk perge ke Airport “Mbak Ning...
ayo cepat panggil adikmu kita berangkat, mama dan papa takut

12

terlambat ni..” “Iya ma...” jawab Mbak Ning langsung
melangkahkan kakinya menuju ke kamar Bams “Dek, ayo cepat
kita pergi nanti mama dan papa terlambat. Ett.. jangan lupa apa
yang Mbak bilang tadi malam, jangan cemberut Keep Smile..
Ok!!”
“Siip... Mbak..!!”

Akhirnya mereka pergi menuju ke Airport. Setiba di
sana, mama dan papanya Bams berpesan “Mbak... tolong jaga
diri baik-baik dan kamu Bams, jangan nakal dan kamu harus
nurut apa perintah Mbakmu ya..!!” dengan serentak mereka
menjawab “Ok boss..!! hati-hati di jalan and jangan lupa bawa
oleh-oleh ya Pa..Ma..” dan mereka pun berpelukan untuk
melepas rasa rindu. Orang tua mereka sudah masuk ke ruang
tunggu dan Mbak Ning beserta Adiknya pergi meniggalkan
Airport dengan membawa pajero sport yang dikemudikan oleh
Bams.

Di tengah perjalanan, Bams menagih janji yang
diucapkan oleh Mbak Ning tadi malam. “Mbak.. gimana
kelanjutan janji yang Mbak katakan semalam” “Oh iya, Mbak
lupa. Ayo sekarang kita pergi ke pantai panjang untuk
membicarakan hal semalam.”

13

Udara yang sejuk dan suara ombak yang bergemuru
seolah menantang apa sebenarnya yang ingin dibicarakan
sepasang saudara sedarah itu. Kala itu mereka keluar dari pajero
sportnya dan Mbak Ning menarik tangan adiknya menuju
ketepian pantai dan Mbak Ning berkata kepada Bams “Ayo
teriaklah sekeras-kerasnya apa yang ada di pikiranmu Bams, ayo
teriaklah....teriaklah.......!!” lalu Bams teriak sekeras-kerasnya
dengan berurai air mata dan sambil melempar kerang kecil yang
ada disekitarnya “Aku benci dengan semua ini.. aku benci..,
mengapa orang tuaku memandang bahwa cita-citaku menjadi
seorang pembalap adalah masa depan yang suram dan aku dicap
sebagai anak nakal. Bukankah manusia diciptakan memiliki
kelebihan dan skill masing-masing, Oh.. Tuhan... apa yang harus
aku lakukan... apa...??.”

Mbak Ning mendekati Bams dan berkata “Apakah kamu
merasa legah,” “Ya... lumayan” jawab Bams dengan nada sendu.
“Baiklah sekarang saatnya Mbak berbicara. Mbak sangat paham
dengan keinginanmu dan Mbak akan selalu suport kamu, tapi
kamu harus berjanji jangan malas belajar, bagaimana pun
pendidikan tetaplah nomor satu. Mbak punya teman seorang
pembalap motor, bagaimana kalo kamu gabung ke Tim mereka.
Nanti kita atur schedulenya, Sekarangkan Full Day School jadi

14

kamu bisa latihan setiap hari sabtu dan minggu”. Dengan wajah
yang sumringah Bams menjawab “Wah... itu solusi yang sangat
tepat dan aku mau ikut ke Tim mereka, terima kasih guardian
angelku” sambil mengecup kening Mbak Ning.

15

Matahari Terhalang Awan

Pagi yang indah, udara yang sejuk, kicauan burung di
langit terdengar merdu di telingaku, mengawali langkahku hari
ini, pohon-pohon yang berayun-ayun seolah menyambutku
dengan semangat. Aku tinggal bersama ayah, ibu dan saudara
kembarku, Alena. Kami memanglah kembar namun sifat kami
bertolak belakang. Alena anak yang pandai berbicara lain
denganku yang pendiam. Hari ini kami sibuk melakukan
aktivitas seperti biasanya, ada yang sekolah, ke kantor ataupun
sibuk membersihkan rumah.

Keesokan harinya, bising kendaraan yang selalu melintas
tengah menghiasi suasana rumah. Siang ini, Alena mengikuti
lomba debat. Hari ini aku libur, sehingga ibu mengajakku untuk
menonton lomba tersebut. Aku tidak ingin menyaksikan lomba
yang diikuti saudara kembarku itu karena aku tahu, kejadian
yang menyesakkan batin itu akan terulang kembali. Tetapi, mau
tak mau aku harus menuruti perintah ibu walau sudah beberapa
kali menolak.

16

Lomba ini adalah lomba kesekian kalinya yang diikuti
Alena. Perdebatan antar peserta telah usai. Kini saatnya
pengumuman lomba. Saudaraku itu memang sudah beberapa kali
memenangkan lomba debat, namun lomba kali ini lebih sulit
karena saingan Alena merupakan juara-juara dari kota ataupun
kabupaten di provinsi. Tegang dan cemas pasti tengah dirasakan
Alena saat ini.

“Juara satu lomba debat tingkat provinsi tahun 2017
adalah… Alena Claudia ,“ itulah yang dikatakan moderator saat
pengumuman.

Tepukan meriah tengah menghiasi suasana gedung yang
diberikan untuk Alena. Alena yang semula cemas kini tengah
lega dan saat ini ia sedang berjalan untuk mengambil hadiah.
Setelah mengambil hadiah, kami segera pulang karena Pak Gali
sudah menjemput. Kami pun memasuki mobil.

“Alena selamat ya nak, ibu bangga padamu,” ucapan
selamat ibu untuk Alena.

“Iya, terimakasih bu,” jawab Alena.
“Aluna kamu contoh si Alena, dia sudah beberapa kali
memenangkan lomba sedangkan kamu tidak bisa apa-apa,” cibir
ibu yang dibalas keterdiamanku.

17

Kata yang menyesakkan batin kembali terdengar di
telinga, seperti biasa aku hanya diam. Tak lama, kami sampai di
rumah. Aku segera turun. Melangkahkan kaki dengan cepat dan
masuk ke kamar tanpa lupa mengambil diary yang selalu
menjadi temanku.

Matahari tak terlihat, bintang dan bulan telah
menampakkan diri. Semua yang terjadi siang tadi sudah takku
hiraukan dan kulupakan. Kini, aku dan keluarga tengah
menyantap makanan bersama. Hening seperti tak ada orang saat
ini namun, keheningan terpecah saat ayah memulai
pembicaraan.

“Alena, kamu tadi juara berapa,?” tanya ayah.
“Alhamdulillah juara satu yah,” jawab Alena penuh
syukur.
“Alhamdulillah, selamat ya nak, ayah bangga padamu.
Aluna seharusnya kamu mencontoh kembaranmu. Ia sudah
sering menjuarai lomba tidak seperti kamu yang terus-terusan di
kamar. Ayah tidak mau anak ayah tidak berprestasi,” perkataan
ayah membuatku rendah hati.
Seketika jantungku berdegup kencang, hatiku teriris,
tetesan air mata tak mampu tuk ditahan, aku segera berlari
menaiki tangga demi tangga yang tak sabar untuk aku akhiri.

18

Kamarku semakin terlihat dekat, tangan ini tak sabar membuka
pintunya. Sesampainya di kamar aku segera meraih bantal dan
menaruhnya di atas kepala. Saat itu air mata berderaian, aku
merasa ayah dan ibu menganggapku tidak berguna, beberapa
menit menangis aku merasa lega. Aku bertekad untuk menjadi
penulis karena sadar, aku tidak seperti Alena yang pandai
berbicara. Namun karena diamku, menjadi penulis adalah
sarana untukku menyampaikan keluh kesah dan menyampaikan
bahwa aku bisa, aku punya prestasi.

Kejadian malam tadi membuat perasaan hati yang tak
menentu, merasa sedih dan kecewa, ingin rasanya berteriak
mengeluarkan semua kesedihan yang ada di hati ini. Sehingga
aku membulatkan tekadku.Terangkai kata demi kata cerpen yang
idenya kuambil dari semua kejadian yang telah dilalui. Semua
tertulis di sebuah diary merah muda bergembok.

Beberapa hari kemudian, terdengar kabar bahwa akan
diselenggarakan lomba menulis cerpen yang diadakan lusa.
Tanpa berpikir panjang aku segera mendaftarkan diri. Lomba itu
terus terbayang, bagaimana bila aku kalah, aku malu dengan
mereka yang telah menghina bukannya membuktikan kalau aku
mampu tapi menunjukkan kalau memang pantas bagiku tuk

19

dihina. Agar tak pusing, langsung kuambil diary, membaca dan
mengoreksi cerpen dengan hati-hati.

Hari ini kali pertama aku mengikuti lomba menulis.
Cerpen yang aku buat berkisah dari pengalaman yang tertulis
dalam diary. Lomba telah selesai, pemenang akan diumumkan
seminggu setelah lomba.

Aku segera pulang, diperjalanan aku terus kepikiran
dengan lomba tadi, selalu berdoa dan optimis bahwa aku akan
menang. Saat menyeberang, tanpa sadar ada sebuah mobil yang
melaju kencang. Langkah terhenti dan tak bisa berbuat apa-apa.
Mobil tersebut menabrakku namun, pengemudinya terus melaju
tak perduli apa yang telah ia lakukan. Aku tak sadarkan diri,
warga yang melihat insiden tersebut segera membawaku ke
rumah sakit.

Keluargaku sudah lama di rumah sakit. Beberapa jam
setelah kejadian tadi aku masih belum sadarkan diri. Jam demi
jam dihitung sekarang sudah jam ketujuh aku tidak sadarkan
diri. Namun, pada jam kedelapan aku tersadar. Tangan, kaki,
badanku terasa sakit namun, dihadapan mereka aku tak
menunjukkan sakit ini. Aku dapat tersenyum dengan mereka,
sama sekali tak menunjukkan rasa sakit dan menurutku mereka
tak tahu kalau aku merintih kesakitan, karena luka ini tak

20

berdarah namun sesunggguhnya ini sangatlah sakit. Aku
memang tak menunjukkan rasa sakit namun, dokter mengetahui
apa yang kurasa sehingga ia tidak menyuruhku pulang.

Beberapa hari aku terbaring kaku di rumah sakit, tiba-
tiba badanku terasa ringan seperti biasanya dan seperti tak ada
sakit apapun yang aku alami. Aku memberitahukan hal ini pada
orang tuaku agar mereka memberitahunya kepada dokter. Dokter
pun tampak tak percaya karena dia melihat tak ada kebohongan
yang terlukis di wajahku, ia pun membolehkan untuk pulang ke
rumah.

Besok merupakan pengumuman lomba menulis cerpen
yang aku ikuti. Aku sangat tak sabar menunggu hari esok karena
tak ingin terus memikirkan pemenang lomba aku pun berusaha
untuk tidur dan akhirnya tertidur.

Aku terbangun dari tidur, yang ku rasa kini sama seperti
yang ku rasa ketika habis ditabrak. Namun, sakit yang sekarang
lebih dari itu. Aku memaggil ibu dan ayah sebisaku. Syukur
mereka mendengar panggilan dan langsung menemuiku. Saat
itu, handphoneku berdering dan diangkat oleh ibu.

“Halo, selamat pagi bisa bicara dengan Aluna? tanya
panitia cerpenas. “Ini ibunya. Ada apa dengan anak saya ? tanya
ibu heran. “Selamat ibu, anak ibu Aluna mendapat juara 1

21

menulis cerpen yang diadakan oleh cerpenas. Hadiahnya bisa
diambil di sekretariat cerpenas,” pengumuman dari cerpenas.
“Oh, iya iya,” balas ibu.

Ibu mematikan teleponnya dan langsung memelukku
erat seraya memberikan selamat dan menuturkan kata bangga
untukku begitu juga dengan ayah. Aku yang tak kuat lagi
memberikan sepatah dua patah kata terakhirku.

“ Ibu, ayah, hadiahnya tolong diambil lalu letakkan di
ruang keluarga seperti hadiah yang diperoleh Alena. Aku ingin
orang lain tahu bahwa aku berprestasi dalam diam ini dan di
ransel ku ada diary dengan kunci gemboknya yang mungkin
dapat dibaca jika rindu padaku nanti,” tutur kata terakhirku.

Aku merasa lega karena perkataan terakhirku tersirat
makna bahwa aku bisa, aku berprestasi, aku berguna dan aku tak
seperti apa yang ibu dan ayah katakan. Tak lama, aku
menghembuskan nafas terakhirku, meninggalkan dunia,
berpindah alam, dan tak akan kembali.

Kepergianku memang sangat tak terduga, duka di hati
keluargaku masih terlukis di raut mukanya. Tetapi setelah
kepergianku panitia cerpenas menghubungi keluargaku kembali,
untuk meminta persetujuan bahwa cerpenku dan kawan-kawan
seperjuangan akan diterbitkan. Mendengar itu sontak ibuku

22

langsung setuju, walaupun aku telah tiada setidaknya karyaku
selalu dikenang dan dicintai semua orang.

CAPPUCCINO TERAKHIR

Ini bukan cerita tentang relationship goals seperti di
novel-novel besar. Bukan pula cerita cinta seperti di wattpad
yang pembacanya sudah jutaan. Apalagi cerita dengan
romantisme pasangan yang bikin iri. Ini cerita tentang
bagaimana hidup dituntut untuk saling menghargai sebelum
kehilangan, cerita yang dibungkus dengan bumbu-bumbu
persahabatan ringan. Cerita kecil yang mungkin kalah dari cerita
percintaan anak muda.

***
“Ah... Sudah akhir November.” Kyla menghempaskan
tubuhnya di kasur yang empuk, membuat badan mungilnya
sedikit memantul ketika ia hempaskan. Tatapan anak SMA kelas
12 itu mengarah lurus pada handphone yang dipegang kedua
tangannya, menampilkan room chat dengan Nabila.
Kyla sudah lama berteman dengan Nabila, dan dia tidak
bisa bilang kalau mereka sekedar berteman. Kyla selalu
menganggap Nabila itu kakaknya, begitu juga Nabila, selalu

23

menganggap Kyla adiknya sendiri. Nabila seperti punya
kewajiban sendiri untuk melindungi Kyla. Mereka sudah saling
kenal mulai dari keduanya SD, dan menjadi teman dekat sejak
masuk SMP.

Tiba-tiba, muncul panggilan whatsapp dari Nabila,
membuat Kyla segera menggeser tombol hijau ke atas. “Halo
Bil?” Kyla memulai percakapan mereka. “Uh.. Kyla, aku mau
ngomong,”

Kyla tidak mendengar dengan jelas apa yang Nabila baru
saja katakan, karena Nabila sendiri sepertinya sedang berada di
kawasan yang ramai. Terdengar bunyi musik yang kuat dengan
nada ‘kacau’ menurut Kyla. “Lagi dimana sih? Ribut amat,”

“Yil, kayaknya...”
“Kita jadi kan pergi besok? Aku udah siap loh, baju juga
udah dipilihin mama nih,” sebelum Nabila sempat bicara, Kyla
sudah menerornya dengan cerocosan yang cepat, sehingga
membuat Nabila gugup dan merasa bersalah akan
menyampaikan omongannya. Nabila memutuskan beranjak dari
tempatnya sekarang, agar percakapan mereka dapat berlangsung
jelas.
“Halo?” Kyla tidak mendengar jawaban dari seberang
sana. “Jadi gini Yil,” selang beberapa detik akhirnya Nabila

24

melanjutkan omongannya kembali. Dia sudah keluar dari
keramaian dan mendapat tempat yang tenang. “Kayaknya aku
nggak bisa pergi sama kamu besok,” Nabila menghela napas
khawatir di akhir perkataannya itu. Dia tau Kyla tidak akan
marah atau mengomel atau mengupdate status sindiran, tapi
Nabila tau betul kalau Kyla pasti kecewa.

“Oh, kenapa?” sekarang nada Kyla datar, benar apa
perkiraan Nabila. “Aku... Aku mau..” Nabila tergagap, bingung
bagaimana menyampaikan niatnya dengan lancar. Dan sekali
lagi, Kyla mendahului ucapannya. “Mau pergi sama klub cheers
kamu? Iya iya Bil, aku paham kok. Tadi juga Tiara sama klub
cheers kamu itu udah ngomongin di kantin, dan aku kebetulan
ada disana, jadi aku dengar deh,”

“Kita perginya besok ya? Atau lusa?” Nabila cepat-cepat
mensterilkan kembali suasana diantara mereka. “Aduh Bil...
Kamu selesain dulu urusan kamu, aku nggak mau ganggu waktu
kamu. Aku ngerti kok, oke?” Kyla mencoba meyakinkan,
padahal ia sendiri tidak yakin bisa memendam kekesalannya
sendiri. Nabila terdiam, mungkin benar apa kata Kyla pikirnya.
Pasti Kyla tidak akan marah besar. Tapi... Nabila sudah terlalu
banyak melanggar janji-janji pergi bareng mereka. Ada seberkas
rasa bersalah dari lubuk hatinya.

25

“Oke kalo gitu, udah dulu ya Yil,” sebelum Nabila
memutuskan telepon, Kyla di seberang sana sudah terlebih
dahulu menjauhkan handphone dari telinganya, menekan tombol
power dan mematikan handphonenya.

Kyla menyelimuti seluruh tubuhnya sambil memeluk
boneka beruang. Ini sudah akhir November dan sebentar lagi
akan diadakan ulangan semesteran. Saat-saat sebelum ulangan
biasa Kyla habiskan dengan Nabila, sekedar nongkrong di kafe
dengan cappuccino masing-masing atau jalan-jalan ke pantai.
Tapi sekarang... Ah sudahlah. Kyla menggeleng-geleng kuat,
menepis pikiran buruknya tentang Nabila yang ia rasa makin
menjauh akhir-akhir ini. Ia memilih menutup mata, tidur adalah
solusi yang selalu dipilih Kyla tiap suasana hatinya memburuk.

1 Desember, dan turun hujan. Kyla suka hujan, karena
kalau hujan debu-debu tidak terlalu banyak, jadi dia tidak perlu
repot-repot memakai masker atau selalu menggenggam inhaler
‘kesayangannya’ itu. Nabila tidak perlu juga repot-repot
membawel agar Kyla tidak bermain dengan debu, atau sekedar
mengingatkan Kyla supaya tidak kelupaan inhaler.

Sejak percakapan mereka hari sabtu kemarin, Kyla tidak
mendapat notifikasi apapun darinya. Biasanya sekalipun mereka
tidak berencana untuk keluar, pasti Nabila akan main ke

26

rumahnya, sekedar membawakan cappuccino kesukaannya. Tapi
tidak dengan kemarin. Kemarin Nabila pergi jalan-jalan dengan
klub cheersnya itu. Dan kemarin pula Kyla menghabiskan
waktunya dengan berkutat menghadapi buku-buku matematika
untuk ulangan hari ini. Biasanya juga, Kyla pasti akan menanyai
Nabila apa-apa yang tidak ia mengerti. Nabila itu bagaikan
kakak Kyla, Nabila itu bukan sekedar teman dekat Kyla.
Setidaknya itulah gambaran sosok Nabila dihidup Kyla.

Sambil menunggu 5 menit lagi sebelum ujian dimulai,
Kyla bersandar di dinding ruangan 20. Tangannya meremas-
remas ujung jaket, sambil mengedarkan pandangan ke sekitar,
siapa tau Nabila lewat dan bercerita tentang aktivitasnya
kemarin. Tapi sudah ditunggu-pun Nabila tetap tidak
menampakkan batang hidungnya, sehingga membuat Kyla
merogoh saku jaketnya dan membuka room chat dengan Nabila.

Kyla menghela napas pelan, ada sekitar 10 chat yang ia
kirim mulai dari hari minggu sampai sebelum berangkat sekolah
tadi, tapi tidak ada satupun balasan dari Nabila. Entahlah,
mungkin Nabila kehabisan kuota. Kyla tidak ambil pusing soal
ini, dia tidak mau hal sepele dibesar-besarkan hingga membuat
mereka bermusuhan. Dia sangat tidak ingin kehilangan sosok

27

Nabila. Andai saja Kyla punya adik atau kakak, dia pasti tidak
seprotektif ini dengan Nabila.
KRING KRING KRING KRING

Kyla cepat-cepat melepas jaket dan melipatnya masuk ke
dalam tas. Handphone juga dia masukkan. Dari ujung koridor,
sudah nampak Ibu Sarah berjalan mendekat, pengawas ujian
Kyla hari ini.

“Kyla, kok tadi nggak bareng Nabila?” Ibu Sarah ini
tetangga sekaligus guru terdekat Kyla. Beliau tau kalau Kyla dan
Nabila berteman baik.

“Ibu liat Nabil ya? Dimana Bu?” bukannya menjawab,
Kyla malah bertanya balik.

Ibu Sarah memberikan kunci ruangan kepada salah satu
murid laki-laki di sana, memintanya membuka pintu ruangan.
“Di dekat kantor guru, sama teman-temannya. Ada Tiara, Rosa,
banyak lah,” jawab Ibu Sarah. Kyla terdiam. “Oh, makasih Bu,”
ucapnya pelan. Lebih seperti lirihan, tidak terdengar.

Biarlah, Nabila juga butuh teman baru.
Kyla berjalan gontai ke arah bangku panjang di pinggiran
koridor. Tangannya menggenggam buah apel merah. Akhir-akhir
ini, kesehatan Kyla suka menurun. Napasnya sering tercekat,
padahal ia yakin sudah ekstra hati-hati dengan debu di sekitar.

28

“Kyla!” Kyla menoleh ke arah suara, Nabila!
“Aduh, maaf ya aku nggak balas chat kamu, kuota aku
habis, ini aja baru ketemu wifi sekolah,” Nabila duduk di
samping Kyla sambil menunjukkan handphone, memberi bukti
kalau koutanya benar-benar habis. “Hahaha, gapapa kok Bil,”
ujar Kyla seraya menggigit apelnya. Nabila memperhatikan
Kyla, dia nampak lebih lesu hari ini.
“Kamu kambuh lagi?” tanya Nabila sambil merebut tas
Kyla. “Mana inhaler kamu?” Nabila terus merogoh tas Kyla,
mencari-cari benda kecil itu. “Ada, di saku baju aku,” jawab
Kyla pelan. “Kemarin kamu jadi keluar nggak?” tanya Nabila
lagi setelah meletakkan tas Kyla. “Nggak, aku di rumah,” jawab
Kyla santai. “Bagus deh,” Nabila menjawab pelan, setidaknya
Kyla tidak berkecimpung dengan debu dan sesaknya keramaian
jika dia ke luar sendirian. “Nanti kalo udah selesai ujian kita
jalan deh, janji,” Nabila mengacungkan kelingkingnya, berjanji
pada Kyla. Kyla tidak merespon, dia hanya tersenyum kaku.
“Iya iya,” Kyla mengibaskan tangannya, menunjukkan
sebisa mungkin bahwa ia sedang bercanda dan tidak ingin
membuat Nabila berjanji, apalagi jika nanti sekedar untuk
diingkari lagi.

29

“Udah Desember, berarti sebentar lagi aku beneran
pergi,” Nabila mengalihkan pembicaraan mereka. “Jadi kamu
beneran ke Australia dong?” tanya Kyla mendesak, tangannya
yang sedang menggenggam apel dihempas-hempaskan ke
roknya.

“Iya, kamu tau kan Yil aku anak tunggal. Jadi cuma aku
yang bisa nerusin bisnis ayah,” Nabila berujar pasrah. Rambut
hitam legam panjangnya terurai sambil tertiup angin yang
memang sedang kencang akhir-akhir ini. Kadang Kyla berpikir,
Nabila benar-benar cantik dan sangat dewasa, juga elegan sekali.
Padahal mereka sama-sama anak tunggal, tapi Kyla merasa
dirinya tidak lebih cantik dari Nabila dan bersikap sangat ke
kanak-kanakan. Nabila juga pemberani, dia bisa pergi sendiri
kemanapun tanpa perlu ditemani Kyla. Tapi tidak sebaliknya,
Kyla harus selalu punya teman untuk pergi kemanapun. Dan
temannya itu pasti selalu Nabila. “Oh iya, jaga kesehatan kamu,
titip salam buat mama papa ya!” Nabila beranjak sambil
mengacak-acak surai Kyla. Dan benar saja, bunyi bel terdengar
tak lama setelah Nabila beranjak.

Sudah seminggu ulangan semesteran berlanjut, dan ini
sudah hari terakhir. Selama seminggu pula kesehatan Kyla terus
menurun. Napasnya sering tercekat tak karuan, ditambah lagi

30

tiba-tiba saja dia terserang batuk parah. Hari ini pun, Kyla tidak
diizinkan masuk dengan kedua orangtuanya, tapi dia bersikeras
mengingat ini hari terakhir semesteran.

“Yakin gapapa Yil?” Nabila bertanya dengan nada
khawatir. Kyla terus-terusan batuk dan sesekali mengarahkan
inhalernya ke mulut. “Iya, bentar lagi papa aku jemput kok,
kamu pulang aja gapapa. Itu Rosa udah hampir keluar, lagian
bentar lagi bakalan hujan deh,” Kyla melirik Rosa yang sedang
berusaha mengeluarkan motornya dari parkiran.

“Yaudah deh, kamu hati-hati ya. Nanti udah pulang ke
rumah aku main sama kamu kok,” Nabila melambaikan tangan,
lalu meninggalkan Kyla di halte bus. Kyla yang sendirian
sekarang terus berharap papanya cepat datang. Dadanya sakit
sekali, seperti ditusuk-tusuk. Ia ingat terakhir kali dadanya
seperti ini saat dirinya masih berumur 6 tahun, dan itu sangat
menyiksa. Tapi kali ini, beda. Ada batuk aneh yang sesekali
menimbulkan rasa karat dimulutnya, seperti... darah.

“Uhukk uhhukk,” Kyla batuk lagi, ditangkupkannya
tangan mungil beralaskan tisu itu ke mulut, benar-benar
menyiksa. “Aduuhh..” Kyla mengerang sakit ketika dadanya
terasa seperti ditusuk lagi. Ia mengambil inhaler yang tadi
diletakkannya di bangku halte. Ketika tangan kanannya hendak

31

memindahkan tissu ke tangan kiri, Kyla terkejut bukan main.
Kenapa tissunya jadi merah? Kyla perlahan menyadari bahwa
lidahnya mengecap sesuatu yang sama seperti yang pernah
muncul akhir-akhir ini, cepat-cepat dia meludah. Ludahnya yang
mengenai semen putih di sekitar halte nampak berbeda, sekali
lagi membuatnya terkejut, dan sangat ketakutan.

“Kyla! Sayang?” Kyla mendongakkan kepala, mendapati
bahwa yang menjemput bukan papa, tapi mamanya. “Ya tuhan
Kyla sayang kamu kenapa?” mama Kyla yang sudah turun dari
mobil terlihat panik ketika melihat tissu anak semata wayangnya
sudah nampak merah. Mamanya mengangkat dagu Kyla,
memperhatikan bekas darah disekitar bibir Kyla. “Kita ke rumah
sakit sekarang,” mama Kyla membimbing Kyla masuk ke mobil,
lalu melajukannya secepat mungkin.

Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Kyla berbalik
dari tissu ke inhaler, membuat Ilana, mamanya benar-benar
panik dan sedih. Ilana selalu berpikir bagaimana caranya
memindahkan sakit yang ada pada Kyla ke dirinya, tapi itu
mustahil. Ilana merasa dirinya disiksa perlahan dengan keadaan
Kyla yang kian hari makin memburuk. Tidak ada rona merah
lagi di pipinya, bahkan sudah terganti dengan kebiruan, seperti
lebam. Kyla yang dulu selalu mencuri-curi kesempatan agar bisa

32

melompat-lompat di bawah derasnya hujan, kini harus bertahan
melawan sakit yang bahkan membuatnya tidak tau bahwa hujan
sedang turun sekarang.

Ketika mereka sampai, Ilana bergegas membawa Kyla
masuk ke rumah sakit, mengurus segala macam keperluan. Saat
Ilana sedang sibuk dengan administrasi rumah sakit, papa Kyla
datang. Raut mukanya nampak cemas sekali, bukan Ilana yang
Alvin hampiri, tapi Kyla. Anaknya sudah seperti diujung batas
sekarang, dan Alvin tau itu. Alvin memeluk Kyla erat, Kyla
yang benar-benar lemah. Batuk Kyla sudah berkurang sekarang,
tapi ia masih memakai inhaler yang sekarang masuk ke
mulutnya.

“Kyla, ayo sayang kita ke UGD,” ujar dokter Rudi,
dokter yang menangani Kyla mulai dari Kyla kecil. Perawat-
perawat di sana lalu membawa Kyla masuk ke UGD,
meninggalkan Alvin dan Ilana berharap agar Kyla tetap baik-
baik saja.

Entah sudah berapa lama dokter menangani Kyla di
dalam sana, dari tadi waktu dihabiskan Ilana dan Alvin dengan
kepanikan. Ilana sudah menghubungi keluarga mereka, memberi
tau kalau keadaan Kyla memburuk. Sedangkan Alvin sibuk
mondar-mandir, sesekali duduk dan menangkupkan tangannya

33

dimuka dengan frustasi. Beberapa panggilan kantor dia tolak,
Alvin benar-benar stres.

“Tante Lana!” Ilana menolehkan kepalanya saat Nabila
datang dengan tergopoh-gopoh, anak itu bahkan masih memakai
seragam sekolah. “Keadaan Kyla gimana?” Nabila duduk di
samping Ilana, diletakkannya gelas minuman yang dibungkus
plastik hitam di bangku mereka. Ilana yang ditanya hanya
menggeleng, lalu tiba-tiba memeluk Nabila. “Tan... Tante benar-
benar minta maaf, Kami udah ngerepotin kamu dengan jadi
teman Kyla, maafin tante dan om Alvin...” Ilana sesenggukan
dipelukan Nabila, hingga akhirnya membuat Nabila ikut
menangis. “Nggak tante nggak... Kyla udah Nabil anggap adik
sendiri, Kyla... Kyla nggak pernah ngerepotin kok...” Nabila
mengucapkan kalimat-kalimatnya dengan kesedihan yang luar
biasa. Dia jadi mengingat kembali saat-saat mereka pertama
bertemu, Kyla yang tertutup dan dirinya yang ramah. Kyla tidak
mudah akrab dengan orang lain, Kyla juga tidak punya teman
sebanyak Nabila.

“Ilana...” dokter Rudi sudah keluar dari ruangan,
menghampiri mereka dengan ekspresi muka yang tidak bisa
diartikan. Bukannya bertanya, Alvin melangkah cepat ke
ruangan UGD, tidak dihiraukannya apa penjelasan dokter Rudi

34

nanti, yang ia butuhkan sekarang adalah melihat secara langsung
keadaan putri tunggalnya itu.

“Kyla mau bicara sama kalian,” dokter Rudi sekali lagi
berekspresi pasrah, membuat Ilana menatapnya nanar. Ilana dan
Nabila segera masuk keruangan UGD, menyusul Alvin yang
sudah duluan masuk.

“Kyla, Kyla sayang...” Ilana memeluk Kyla yang masih
terbaring lemah di ranjang, dia tidak batuk lagi, tapi keadaannya
lebih terlihat lemas dari sebelum ini. “Ma.. Mama, Kyla.. Kyla
mau ngomong..” Kyla terbata-bata, matanya nampak sayu, tapi
justru membuat tatapannya sangat teduh. “Kyla udah nggak kuat
lagi, ma... Kyla, Kyla capek..” bagai di sambar petir, Ilana
menggeleng cepat. “Nggak Kyla, nggak boleh. Besok-besok
mama janji kamu bakal sehat terus, mama bakalan ajak kamu
traveling kayak keinginan kamu, mama janji,” Ilana berujar
dengan sangat meyakinkan. Sekarang muncul rasa teramat
sangat menyesal atas dirinya dan Kyla yang terpisah karena
pekerjaan. Mereka pikir dengan uang Kyla bisa bahagia, tapi
mereka salah.

“Alvin! Kamu harus bilang kalau Kyla bakalan sembuh!”
seperti orang kesetanan, Ilana memaksa Alvin yang sekarang
sedang menunduk dengan bahu yang berguncang-guncang

35

karena menangis. Alvin tidak tau harus bilang apa lagi, Alvin
menyesal, Alvin sedih, Alvin kecewa dengan dirinya yang tidak
pantas disebut ‘Ayah’.

“Bila..” Nabila mendekat, tangan kirinya menutup mulut
karena ia benar-benar terisak sekarang, sebelah tangannya lagi
mendekap pipi Kyla lembut. “Maafin Kyla ya udah bergantung
sama Nabil terus. Kyla nggak punya teman lagi selain Nabil,”
Nabila cepat-cepat menggeleng, “Ssttss... Nggak, nggak Kyla,
aku senang punya teman sekaligus adik kayak kamu, aku udah
beliin kamu cappuccino, jadi kamu harus sembuh, oke?” Nabila
menyelipkan rambutnya kebelakang telinga, sambil
menunjukkan cappuccino yang tadi dia beli. Kyla tersenyum
kecut, lalu menggeleng pelan, “Kyla tadi muntah darah, jadi
mungkin cappuccino Nabil bakal buat mulut Kyla nggak berasa
kayak karat lagi,” sontak Nabila terbelalak, muntah darah?

Kyla yang sudah menyeruput sedikit dari cappuccino itu
kembali terbaring lemah, matanya sudah setengah tertutup.
“Nabil, Kyla tidur bentar ya, Kyla capek..” Ilana dan Alvin yang
mendengar Kyla berkata seperti itu segera mendekat. “Doain
Kyla mimpi indah ma, pa. Dadaaah Kak Nabil....” Kyla menutup
matanya dengan senyum terakhir yang damai, bersamaan itupula
patient monitor Kyla yang tadinya bergelombang berubah

36

menjadi garis lurus. Nabila yang masih memegang gelas
‘cappuccino terakhir’ Kyla terdiam, “Yil? Kyla, Kyla ini bukan
saatnya kita main-main,” Nabila terus bersikeras mengguncang
bahu Kyla agar anak itu bangun lagi, tapi nihil. Kyla, saudara
beda darahnya itu sudah pergi, mendahului dirinya yang akan
pergi ke Australia. Ilana yang sudah sangat sedih menarik Nabila
keluar, mengisyaratkan sudah tidak ada lagi yang perlu
diperjuangkan. Sekarang, Nabila dan orangtua mereka harus
menanggung penyesalan, karena sesuatu yang berharga di hidup
mereka sudah beranjak pergi.

37

Happy Ending

Seorang gadis terbangun dari tidurnya lantaran sinar
mentari pagi yang begitu menghangatkan jiwa, disibakkannya
tirai dan menyaksikan betapa macetnya jalanan pagi ini. Seperti
biasa dia tidak pernah lupa membulatkan angka di kalender yang
baru saja ia dapatkan dari kios dan ternyata sekarang sudah
tanggal 13 februari tepat 2 tahun ia menjalani hari-harinya
sebagai seorang singel “huft”, Ditatapnya jam dinding yang
sekarang sudah menunjukkan pukul 7.05 WIB “Astaga aku bisa
telat kalau begini”.

Iapun akhirnya bergegas mengambil handuk dan
langsung memasuki kamar mandinya. Seketika muncul
dibenakknya “Mengapa aku tidak mencoba membuka hatiku
untuk seseorang” patah hati seharusnya tidak perlu dijadikan
alasan untuk takut jatuh cinta, tapi mungkin tidak untuknya jika
saja trauma sakit hatinya tahun lalu tidak ia dapatkan mungkin
sampai hari ini ia sedang menikmati hari-harinya dengan bahagia
layaknya remaja kebanyakan. Kembali ditatapnya jam dinding
yang kini sudah menunjukkan pukul 7.20 WIB. Tanpa banyak

38

berpikir lagi ia langsung ke luar dan memakai seragam
kebanggan bagi dirinya saking takut telatnya dia melewatkan
sarapan paginya.
“Sayang sarapan dulu” kata mamanya
“Kayaknya nggak sempet deh maa, maaf yah” katanya sambil
mencium pipi mamanya.

Sudah hampir 10 menit ia menunggu di halte ini dan
belum ada satupun bus yang datang, “Ah! kalo aja mobil aku
nggak di sita nggak mungkin aku telat kayak gini!” gumamnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk berlari ke sekolahnya, ia tahu
meskipun ia berlari ke sekolahnya ia tetap akan telat, karena
sekolahnya cukup jauh dari rumahnya.
“Kalian tahu kan jam masuk sekarang jam berapa!”

Tiba tiba ia berhenti ketika mendengar suara itu “Astaga
pak Sukonto”. Pak Sukonto adalah salah satu guru sejarah di
SMU 17 jakarta yaitu sekolahnya, Pak Sukonto juga mengajar
kelasnya, ketika pak Sukonto mengajar mereka kadang sering
tidak bisa menalar dengan materi yang diberikan karena menurut
mereka suara pak Sukonto itu tidak jelas dan jika mereka
bertanya pak Sukonto sering tidak mendengar. Akhirnya dengan
penuh keberanian dia masuk dan melihat ada salah satu
temannya yang ternyata juga telat.

39

“Hy liv...”
“Hy ell...”

“Ya ampun liv kamu lari?” tanyanya sambil melihat
seragam Livia yang basah. “He..he...ya gitu ell klo aja hari ini
kita nggak ulangan mungkin aku ngak akan masuk hari ini.”
“Sama li aku juga” kata Elly. Tiba tiba mereka tersontak
mendengar suara pak Sukonto

“He! apa itu ribut ribut! kalian berdua maju sini!” teriak
Pak Sukonto. Mereka maju ke depan sambil berjalan menunduk
dengan wajah penuh ketakutan.
“Hadap ke matahari dan hormat selama 2 jam. Paham!”
“Paham pak”jawab mereka serempak
“Kalo aja tuh orang bukan guru mungkin udah gua geplak
palaknya”gumam Elly.
“Sutt..ntar kedengeran tau. Udahlah kita nikmati aja hehe”
tanggap Livia dengan sedikit cekikikan.

Tak terasa 2 jam pun berlalu, mereka mengambil tas
masing-masing dan langsung menuju kelasnya. Tiba-tiba Elly
memutar balikkan badannya dengan wajah cemas ia menarik
tangan Livia.

40

“Kenapa Ell? Oh yaa astaga sekarang masih jam pelajaran ibu
Nani” sontak Livia.

Bu Nani adalah seorang guru dengan mata pelajaran
matematika. Dia hampir sama dengan pak Sukonto, baginya
disiplin adalah hal utama, jadi jika ada murid yang telat jangan
pernah berharap bisa masuk di jam pelajarannya. Akhirnya
mereka berdua memutuskan untuk duduk di teras depan
kelasnya. Livia menatap jam tangannya.
“Masih satu setengah jam lagi bu Nani keluar,yaampun kenapa
bisa sesial ini ya!”gumam Livia

Kembali muncul dibenaknya tentang apa yang sedari tadi
pagi menggangu di pikirannya”apakah aku akan salah langkah
jika aku membuka hatiku kembali?apakah aku bisa bertahan jika
saja sakit hati itu kembali menyiksaku?tapi tampaknya sulit
bagiku untuk saat ini untuk melakukan hal itu.” pikirnya sambil
terhanyut dalam lamunannya.
Teng....teng....

Mereka berdua beranjak dari duduknya dan memasuki
ruangan dengan menenteng tasnya.Tak lama kemudian ia keluar
dan mencari sesuatu di kantin untuk dimakan “Mungkin mie
ayam enak untuk hari ini, buu tolong mie ayamnya satu ya ngak
usah pake sayur sama cabenya tolong dibayakin.” Ia pun

41

langsung mencari tempat duduk yang kosong dan hari ini ia
mendapat tempat duduk di tengah. Sambil menunggu ia
membuka handphonenya yang sedari tadi pagi belum sempat ia
cek, begitu banyak pesan yang masuk di grup kelasnya. Ternyata
dalam jangka waktu semalam jumlah pesan di grup tersebut bisa
mencapai hampir seribu, entah apa yang mereka diskusikan.

Tiba-tiba ia tersenyum lebar ketika membaca pesan
pesan tersebut, entah hal apa yang sebenarnya membuat ia
tersenyum seperti itu, seketika senyum lebarnya terhenti ketika
ia membaca pesan dari temannya “besok valentine loh yang
belum punya pacar yang sabar yah” pesan salah satu temannya
dengan emoticon cekikikan. Karena membaca pesan tesebut
Livia lagi-lagi melamun dan kembali memikirkan recananya
untuk membuka hati kembali. Ia tiba-tiba tersontak.
“Ya ampun bu, bikin kaget deh..” sontak Livia
“Wah maaf ya hehe, tadi ibu agak telat karena banyak yang
pesan” kata ibu kantin.
“Iyaa bu nggak apa apa”ujar Livia
“Ini mie ayamnya nggak pake sayur terus cabenya dibanyakin,
ibu nggak salah kan?”sedia ibu kantin
“Makasih yaa buu”

42

Seketika selera makannya hilang dan pikiran itu tetap
saja menghantuinya, sekerasnya apa pun dia berpikir untuk
membuka hatinya tetap saja keraguan itu muncul dan terkadang
meragukan niatnya.Tapi kali ini ia akan berusaha sekeras
mungkin untuk melakukan itu. Ia kembali dikejutkan dengan
suara laki laki yang tiba-tiba menyapanya.
“Pagi Liv...” Sapa Dio
“Astaga” sontak Livia
“Apa kabar liv?” tanya Dio tanpa menghiraukan sontakan Livia
“Kabar apaan?”jawabnya cuek namun penuh kekakuan
“Boleh aku duduk?”tanya Dio
“Ohhhh”tanggap Livia kaku

Dio adalah mantan kekasihnya, mereka menjalani hari-
harinya dengan penuh kebahagiaan, suka maupun mereka lewati
bersama tidak peduli berapa besar duka tersebut, prinsipnya
yaitu aku ada karena engkau ada. Sampai pada suatu hari,
mereka mendapati suatu konflik yang sangat fatal. Hari itu
adalah hari ulang tahun Dio dan juga adalah hari itu adalah hari
peringatan 2 tahun hubungan mereka.

Dibukanya lemari pakaian yang diberikan oleh pamannya
dari Italia yang berisi penuh dengan pakaiannya, dipilihnya salah
satu baju yang cocok untuk dipakai ke acara itu, dicobanya satu

43

persatu dan akhirnya ia mendapatkan gaun yang cocok,
dilanjutkannya dengan memakai perhiasan dan make up.
Ditatapnya jam dinding yang ternyata sudah pukul 19.49 WIB ia
pun bergegas keluar rumah dan menunggu jemputan Dio, 12
menit berlalu dan Dio pun belum juga datang ia sudah mencoba
menelpon beberapa kali tapi tetap tidak ada respon, akhirnya ia
memutuskan untuk pergi mengemudi sendiri.

Sesampainya dia di pesta itu ia meletakkan kado yang ia
bungkus sendiri dan berusaha mencari Dio. “Maaf guys kalian
lihat Dio?” tanyanya pada teman temannya. “Kayaknya Dio lagi
di atap deh.” jawab temannya.

Satu persatu dinaikinya anak tangga itu, angin malam
berderu seakan-akan bisa saja menerbangkan seseorang. Ia
menikmati saat-saat di anak tangga bersama angin yang
menyejukkan.

Tiba-tiba langkahnya terhenti, kesejukkan angin malam
tiba-tiba menjadi hampa, hatinya seakan hancur berkeping
keping, malam ini angin malam menjadi saksi patah hatinya.
Kebahagiaan yang selama ini mereka bangun bersama hancur
tak tersisa, puing-puing kebahagiaannya seakan hanyut bersama
air mata kesedihan yang seakan mengalir amat deras.

44

Sampai hati Elly merenggut kebahagianku,tanpa rasa bersalah
ia memeluk Dio dengan amat erat tanpa menghiraukan
perasaan sahabatnya sendiri.

Dengan penuh kekecewaan ia meninggalkan mereka
berdua, Dio yang menyadari keberadaan Livia langsung
mengejarnya dan berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya
terjadi antara mereka,t api bagi Livia kekecewaan tetaplah akan
menjadi kekecawaan dan sulit baginya untuk kembali di
sempurnakan.

Namun ia tidak hanya menyalahkan Elly dan juga ia
memutuskan untuk tidak membenci Elly meskipun Livia tidak
sepenuhnya percaya lagi pada Elly.
“Apa nanti malam kamu ada waktu luang liv?”tanya Dio
“Ohh nanti malam? entahlah mungkin aku ada tugas yang harus
kuselesaikan” elak Livia
“Aku tau kamu tidak percaya sepenuhnya lagi denganku, tapi
berikan aku kesempatan sekali lagi Liv,plisss” mohon Dio
“Jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan Di?”tanya Livia
“Aku akan berusaha memperbaiki diriku Liv”
Teng... teng.....
“Udah masuk nih Dii, aku duluan yaa” elaknya

45

“Liv setidaknya kamu datang ke pesta ulang tahunku malam
nanti,pliss” pinta Dio
“Mungkin untuk ini aku bisa Dii” jawabnya sambil
meninggalkan Dio
“Bimbang, itu yang saat ini aku rasakan, apakah kejadian seperti
2 tahun lalu akan kembali terulang? itulah yang saat ini
mengganjal di benakku. Tapi jika dipikir kembali untuk apa aku
takut, toh Dio bukan lagi pacarku, ya sudahlah aku cukup datang
sebentar dan langsung pulang. “Pikirnya sambil memegangi
kartu undangan dari Dio tadi.

Tidak terasa jam pelajaran hari ini sudah selesai. Ia
menarik nafas amat dalam, ia harus mempersiapkan diri untuk
malam ini, sekarang tinggal 3 jam lagi waktu tersisa, diintipnya
langit yang sudah mulai menghitam yang menunjukkan bahwa
hari sudah mulai malam, dipilihnya salah satu gaun yang
bergantungan di lemarinya dan bersiap-siap pergi ke pesta
tersebut, “jam8?” sontaknya sambil membawa mobil dengan
agak kencang. Dalam hatinya untung saja masa penyitaan mobil
ku sudah selesai.

“Malam ini adalah malam yang sangat berharga bagi
saya dimana sekarang saya sudah berumur 17 tahun, tidak lupa
saya ucapkan terimakasih kepada kalian yang telah berkenan

46

hadir dalam acara saya...untuk mama papa terima kasih atas
didikan kalian selama 17 tahun ini dan terima kasih juga kepada
sahabat sahabat saya Genta,Vino, Dayra dan Ryo yang sudah
berkenan melalui suka maupun duka bersama selama 9 tahun ini,
saya berharap kita bisa bersama sama selamanya. Dan saya
berharap saya bisa menjadi kepribadian yang lebih berwibawa,
amin” pembukaan dari Dio.

Ternyata Livia baru datang di sela-sela pembukaan
tersebut, ia langsung menghampiri meja minuman dimana
teman- temannya sedang berkumpul disana, tiba-tiba ia tersontak
ketika seseorang menarik tangannya dan berjalan ke arah meja
kue ulang tahun tersebut, ternyata itu Dio.Tangannya terus di
pegang.

“Liv aku tau kamu masih kecewa dengan apa yang
terjadi 2 tahun lalu, tapi aku bukan seperti yang kamu pikirkan.
Malam itu Elly sedang kacau karena ibunya baru saja meninggal
dan keluarganya bangkrut rumah, mobil semuanya disita oleh
bank, dan kamu pasti ingat kan Elly benar-benar terpuruk saat
itu, tidak seorang pun ada disisinya kecuali aku dan kamu, dan
malam itu kamu belum datang dan...” jelas Dio yang langsung
dipotong Livia.

47

“Tapi apa wajar seseorang yang sudah mempunyai pacar
memeluk wanita lain seakan-akan kamu saat itu adalah
miliknya” potong Livia. “Yang dikatakan Dio itu benar Liv Itu
semua tidak seperti yang kamu pikirkan, malam itu bukan Dio
yang memeluk aku tapi akulah yang berusaha memeluknya dan
aku tidak ada maksud untuk merebut Dio dari kamu sama sekali,
tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan aku, jadi pliss
Liv beri Dio kesempatan sekali ini saja dia benar-benar
menyayangi kamu” Mohon Elly pada Livia.

“Aku benar-benar memohon denganmu Liv, beri aku
kesempatan untuk satu kali ini saja.” Air mata yang tulus
mengalir dari dalam hatinya. “Apa aku bisa memegang kata kata
mu itu?apa kamu bisa menjamin hal seperti 2 tahun lalu tidak
terulang lagi?.

“Apa kamu bisa mengembalikan kepercayaan yang telah
hilang?”. “Aku berjanji Liv, aku akan berusaha membuat
semuanya kembali seperti semula dan aku tidak akan pernah
membuat air mata kesedihan jatuh lagi dari mata kamu.”
“Jangan pernah kecewakan aku lagi Dii” tanggapnya dengan
senyuman.
“Terima kasih sudah memberikan kepercayaan padaku liv”
ujarnya sambil memeluk Livia.

48

Aku bisa merasakan seberapa tulusnya dia saat memelukku, air
mata haru penuh kebahagiaan jatuh tak tertahan,detik ini aku
kembali merasakan kebahagiaan yang selama 2 tahun ini
tenggelam dalam perasaan luka dan kecewa. Dan malam ini
malam kembali menjadi saksi dari kebahagiaan kami.

Satu Kata Yang Belum Terucap

Namaku Andra Bramantio biasa dipanggil Andra aku
anak ke empat dari empat bersaudara. Umur ku kini Sudah enam
belas tahun. Jika kalian berpikir aku adalah anak dari keluarga
bahagia yang sering kalian temukan, Jawabannya? tidak. Aku
adalah satu satunya anak yang terasingkan dikeluargaku, ini
semua karena suatu kejadian yang tak mau kuinggat lagi.

Pagi ini seperti biasa aku sarapan sendiri di ruang makan
keluarga Bramantio hanya aku sendiri dengan ditemani
secangkir susu hangat yang dibuatkan bibi untukku, anggota
keluargaku yang lain pasti sudah berangkat semua. Aku rindu
kenangan manis yang dulu pernah ada dikeluargaku. Aku iri
kepada keluargaku yang lain disaat mereka masih bisa bersama
dengan bahagia kenapa aku diasingkan? aku tidak salah apa apa
kejadian itu sudah lama tapi mengapa mereka membenciku

49

semua kenapa. Tepukan di bahuku menyadarkanku kembali
kedunia nyata.

“Den Andra ngelamun lagi ya? Dari tadi bibi manggil
aden tapi gak disautin.” kata bi Inem asisten di rumahku.
”Ehh... bibi, maaf ya bi tadi aku gak fokus hehehe memangnya
bibi tadi bilang apa?.”
“Tadi bibi bilang ini udah mau jam 07.00 nanti aden terlambat.”
“Astaga iya bi aku pergi dulu ya bi Asalamualaikum .” ucap
Andra sambil mencium tangan bi Inem. Bi inem yang melihat
Andra pergi pun hanya dapat tersenyum melihat majikannya
yang baik itu. Tapi siapa yang tau dibalik senyum dan keceriaan
Andra terdapat seribu satu kesedihan yang dialaminya sejak
kejadian yang menimpanya tiga tahun yang lalu.

Andra yang mengendarai motor ninjanya pun membelah
jalan ibu Kota Jakarta untuk pergi ke sekolah, di jalan dia sempat
melihat ada anak kecil bersama keluarganya lagi bermain di
taman. Mereka terlihat bahagia sekali, Andra pengen seperti itu
lagi tapi dia tidak tau sampai kapan keluarganya seperti ini
kepada dia hanya Tuhanlah yang tau kapan semuanya bisa
berubah lagi dan mungkin semua hanya akan menjadi impian
semata untuk Andra. Sesampainya dia di kelas semuanya juga

50


Click to View FlipBook Version