The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Lia Kencana, 2022-11-24 13:37:15

Bahasa Indonesia

Buku Kumpulan Cerpen

terasa sama tidak ada yang menarik perhatiannya di sekolah pun
dia hanya memiliki beberapa teman saja.

Andra tidak tertarik memiliki banyak teman hanya
beberapa yang ingin berteman dengannya satu hal yang harus
diingat Andra termasuk anak yang berprestasi di sekolahnya dia
termasuk juara umum di Sekolahnya bukan hanya itu Andra juga
termasuk anak yang aktif menjuarai dibidang nonakademik dia
sering menjuarai lomba alat musik terkususnya piano.Ya Andra
senang bermain piano baginya piano itu membuatnya merasa
lebih tenang dikala dia lagi bersedih karena memikirkan
keluarganya.

Dulu Andra sering bermain piano bersama bunda dan
kakak perempuannya dikala hari libur Andra dan keluarganya
selalu berkumpul dengan menghabiskan waktu bersama mereka
saling berbagi cerita dan bakat mereka masing masing, tapi itu
dulu kenapa tidak sampai sekarang kenapa apa tuhan lagi
menguji dirinya untuk terus bersabar? Tapi sampai kapan
penderitaannya berakhir kapan? kapan?. Sampai kapan dia harus
menanggung penderitaan yang sudah menjadi ketetapan tuhan
untuk semuanya kenapa selalu dia yang disalahkan kenapa?
terlalu banyak pertanyaan untuk semuanya. Bel sekolah pun
berbunyi nyaring membuyarkan lamunan Andra yang sedari tadi

51


melamun dengan tatapan kosongnya dan tidak memperhatikan
guru yang menjelaskan pelajarannya.

Hari ini Andra tidak bersemangat untuk belajar
sebenarnya, tapi karena dia pikir di rumah akan lebih
membosankan karena tidak ada siapa siapa selain bi Inem dan bi
Inem pasti akan sibuk dengan pekerjaan rumahnya yang sudah
menunggu .Tanpa sadar Andra melewati ruang musik yang ada
di sekolahnya tanpa disuruh pun Andra akhirnya masuk. Di
sekolah Andra memang menyediakan berbagai alat musik
Seperti Gitar, Drum, biola dan masih banyak alat musik lainya
tapi yang menarik perhatian Andra hanya Piano. Andra berjalan
mendekati piano yang tampak rapi di sisi pojok ruangan musik
ini dengan perlahan Andra duduk di kursi yang disediakan untuk
bermain piano tangan-tangannya pun mulai memainkan tuts
piano dengan melody yang sangat indah didengar oleh siapapun
yang mendengarnya.

Butiran butiran bening itu jatuh tanpa di duga Andra
menangis, dia rindu kepada mereka semua. Bahkan semenjak
kejadian itu Andra juga jarang sekali makan kalau tidak dipaksa
bi Inem dia rindu keluarganya kalau dia sering lupa makan pasti
Bundanya selalu ke kamarnya dan memberi tau bahwa dia harus
makan. Kilasan kilasan manis itu selalu berputar seperti kaset

52


rusak yang mampu membuat Andra menangis dalam diam, tanpa
diduga Cairan merah berbau amis itu keluar dari hidung Andra
bercampur air matanya Andra yang menyadari itu langsung
mencari saputangan yang selalu disediakannya. Setelah
menemukannya Andra langsung membersihkan air mata dan
darah yang mengalir dari hidungnya dan sisa waktu di sekolah
akhirnya Andra memilih untuk tidak masuk kelas. Ada satu
tempat yang ingin dikunjungi saat ini oleh Andra.

Dan disinilah Andra berada tepat di depanya ada dua
gundukan tanah yang menjadi alasan kenapa dia dibenci oleh
keluarganya sendiri. Di sebelah kanan terdapat nisan yang
bertuliskan ANDRE BRAMANTIO atau kembarannya Andra
dan di sebelah kirinya terdapat nisan yang bernama KHAIRA
BRAMANTIO atau si kakak Perempuan Kedua dari Andra.
Ditatapnya kedua makam itu dengan tatapan sendunya mungkin
mereka berpikir ini semua salah Andra yang telah membuat dua
orang itu pergi untuk selamanya dari dunia ini.
“Buat apa kamu kemakam anak saya? ” Ucap suara yang sangat
tidak bersahabat itu dengan takut Andra menoleh ke samping
dan menemukan perempuan paruh baya tersebut ya itu adalah
Bunda Andra dan di sebelahnya ada perempuan cantik yang
mukanya mirip sekali dengan Khaira itu adalah Kak Kinara

53


kembaran kak Khaira yang sedang memegang dua Buket bunga
di tangannya dan d ibelakang mereka ada ayah yang dengan
pandangan kosongnya.
“Saya tanya sekali lagi kenapa kamu kemakam anak saya?” kata
bunda sekali lagi bahkan bunda tak mau lagi memanggil namaku
itu yang membuatku semakin sedih dengan keadaanku saat ini.
“Aku hanya ingin mendoakan mereka bunda apa itu salah?”
Ucapku yang hampir menangis saat itu juga aku akui sebagai
lelaki aku merasa cengeng karena selalu ingin menangis
menatapi nasibku ini.
“Mendoakan mereka? kamu yang membuat mereka pergi dari
dunia ini Andraaa.” Teriak ibu dengan leraian air matanya kak
kinara dan ayah langsung berusaha menenangkan bunda. Aku
hanya diam menyaksikan bunda yang selalu memarahiku
mengenai kematian kedua kakak ku.
“Kalau kamu gak minta nyetir mobil itu pasti saya gak akan
kehilangan anak saya.” Maki bunda lagi kepadaku. Bunda selalu
menyalahkanku tetnang kejadian itu.

Waktu itu kami sekeluarga ingin pergi ke restoran langganan
keluargaku untuk merayakan ulang tahunku dan Andre sebelum
pergi mengendarai mobil aku merengek meminta biar aku yang
bawa mobil tersebut Ayah dan Bunda sempat melarangku untuk

54


membawanya, tapi karena Andre dan kak Khaira membujuk
Ayah dan Bunda akhirnya mereka menyetujuinya.

Di jalan kami sekeluarga masih sempat berbincang
bincang tapi tidak sampai saat mobil truk dari arah yang sama
karena aku panik tidak ingin tertumbur mobil truk itu akhirnya
aku banting stir kearah kanan jalan namun naas ban mobil ku
pun pecah dan oleng bunda dan ayah sudah meneriaki aku
supaya mengerem tapi karena panik bukannya aku nginjak rem
malah terinjak gas mobil pun masuk ke salah satu jalan yang
berlubang dan kejadian tak terelakan lagi mobil yang aku
kendarai pun menabrak pembatas jalan dan menumbur pohon
besar disisi jalan.

Setelah sadar aku menemukan diriku sudah ada di rumah
sakit dan disisi kanan ku sudah ada kain putih yang menutupi
dua mayat dengan perutku yang sangat sakit aku menghampiri
mayat itu dan betapa terkejutnya aku ternyata kak Khaira dan
Andre lah yang terbujur kaku tersebut. Aku sempat tak percaya
dengan itu semua sampai akhirnya dokter masuk dan melihat
keaadaanku lalu memiksaku dan berkata tentang keluargaku
ayah yang koma karena itu, kak kinara yang mengalami patah
tulang dikedua kaki dan tangannya dan bunda yang juga keritis
karena itu. Aku menyesali semua itu sangat sangat menyesal tapi

55


apa daya aku itu semua karena takdir kan? Bukan sepenuhnya
salahku kan?
“Bundaaaa....” lirih ku memanggil bunda yang begitu terpukul
karena kejadian dua tahun lalu.
“Pergi kamu dari sini saya gak mau lihat kamu lagi...
Pergiiiiiiiiiiii” Teriak bunda lagi dan lagi. Bukannya pergi malah
aku melangkah mendekati keluargaku sampai akhirnya kakakku
mengangkat tangan tanda aku harus berhenti dan dia langsung
melihatku dengan pandangan memohon.
“Dek kakak mohon adek pergi dari sini ya bunda masih belum
mau menerima semua ini”. Ucapan kak kinara membuatku harus
berhenti meraih bunda ingin sekali aku memeluk bunda lagi
seperti dulu tapi tak bisa semua tak akan sama lagi dan inilah
akhir dari kisahku.

Semenjak kejadian itu aku tak pernah pulang ke rumah lagi
dan tak pernah datang ke sekolah mereka semua tidak tau
keberadaan ku saat ini. Dengan ditemani dokter Anna aku berada
di ruang steril ini menyaksikan tubuh yang kaku dengan
dipasang bebagai macam alat yang menempel di tubuhku dan
satu alat yang menutup hidung hingga mulutku dengan kabel
besar yang menghubungkan udara buatan untuk mampu
menunjang hidupku. Semua orang terkecuali Tuhan, dokter

56


Anna , malaikat dan setan yang berada di ruangan ini yang tau
penyakit yang selama ini aku derita yaitu kangker darah dan
penggumpalan darah dibagian kepalaku akibat kecelakaan dua
tahun lalu yang makin parah. Hanya dokter Anna lah yang selalu
mendengarkanku selalu dia terlalu baik untuk lelaki bodoh
sepertiku. Aku melihat tiga orang yang berlari tergesah-gesah
dan panik memasuki ruanganku.Ya itu adalah Ayah, Bunda dan
kak kinara mereka masuk dengan air mata yang kembali jatuh
setelah pertengkaran di makam itu. Bunda langsung memeluk
tubuhku yang kaku itu dengan erat sambil mencium seluruh
mukaku sambil berkata “MAAF” dan kak kinara juga langsung
memelukku dari sisi yang berbeda dengan bunda sambil
memanggil-manggil namaku sedangkan ayah hanya diam
dengan air mata yang sama seperti bunda dan kak kinara. Tapi
semuanya sudah terlambat aku sudah pergi. Pergi meninggalkan
mereka yang aku tau menyayangiku semua tapi karena kejadian
itu mereka jadi berubah kepadaku.

Dokter Anna pun memberikan sebuah amplop berwarna
biru yang aku yakini berisi sebuah tulisan yang aku tulis untuk
yang terakhir kalinya untuk keluargaku. Bundalah yang
mengambil amplop itu setelah dokter Anna pergi meninggalkan
keluargaku yang masih menangisiku saat ini. Bunda membuka

57


amplop itu dan menemukan surat yang warnanya senada dengan
amplop itu. Aku tau bunda membaca surat itu dalam diamnya
dan aku juga tau bunda pasti makin sedih karena surat itu
terbukti dengan air matanya yang makin deras mengalir dari
matanya.
Bunda jangan menangis Aku selalu sayang bunda.

Teruntuk semua yang kusayangi.
Mungkin saat kalian membaca surat ini aku sudah pergi

jauh dan tak akan kembali lagi. Mungkin yang kita lewati
bukanlah sekenario yang aku inginkan kak kinar dan Andre
meninggal juga bukan sekenario hidup yang aku tulis bun. Aku
pergi juga buka sekenario yang aku tulis bukan sama sekali. Aku
ingin sekali bun mengulang waktu kembali dan bisa
menghidupkan orang yang sudah meninggal tapi apa daya aku
bun aku gak bisa. Dan aku juga tak yakin kalian akan
memaafkanku karena kebodohanku.

Bun aku rindu dengan kalian yang selalu memanggilku
jika aku lupa makan juga aku sangat rindu saat bunda, aku dan
kak kinara bermain piano bersama dan tertawa bersama dengan
ayah dan lainnya aku rindu bun tapi apa daya bun, itu hanya

58


kenangan yang akanku bawa saat tubuhku menyatu dengan
tanah.

Satu kata yang belum terucap, aku hanya mampu
menulis kata itu dalam goretan tinta yang kutulis untuk akhir
cerita ku yaitu “Maaf kan aku semuanya” Aku tau aku hanyalah
lelaki pengecut yang tidak mampu manyampaikan kata itu
langsung kepada kalian semua. Dan Aku tau beribu ribu maaf
tidak akan mengembalikan keadaan tapi aku tidak bisa berkata
apa apa selain itu .Semoga suatu hari nanti kita dipertemukan
lagi di tempat yang abadi. Sekali lagi maafkan aku semuanya
maafkan aku.

ANDRA BRAMANTIO.

Bunda yang mebaca surat itu langsung menangis sejadi
jadinya kertas yang tadinya sudah lusuh itu pun sekarang sudah
sedikit basah karena butiran butiran air mata yang jatuh
mengenai surat itu lagi. Bunda langsung mengelus rambutku
dan memelukku lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuhku
dan menyesali perbuatannya bahkan ayah sama kak kinara
melakukan hal yang sama.

59


“Adek bangun sayang bunda sayang sama adek, Maafin bunda
sayang.”
Ayah dan kak kinara terus menggoyangkan tubuhku yang kaku
itu , aku hanya bisa tersenyum melihat mereka walau mereka
tidak melihatku tersenyum ke arah mereka. Aku juga tersenyum
melihat bunda ternyata menyayangiku. Lalu aku pergi ke lorong
putih yang sangat terang itu lalu berucap “bun aku pergi sesuai
keinginan bunda waktu itu semoga kita bertemu lagi di surga
nanti.” Dan pada akhirnya tuhan memberikan skenario seperti ini
padaku.

60


Kereta Api Melayang Di Atas Awan

Malam hari adalah waktu dimana manusia beristirahat
melepas lelah dan penat mereka diwaktu pagi dan siang hari. Ini
adalah sebuah cerita dongeng dari seorang ibu untuk anaknya
dongeng yang berjudul “Kereta Api Melayang Di Atas Awan”.
“Akhirnya mereka hidup bahagia selamanya” kata ibuku saat
diakhir ceritanya.

“Ibu lihat langitnya sangat indah” tunjukku pada langit
malam kala itu.

“Wah indahnya” kagum ibuku saat melihat keluar
jendela “Ibu, besok ibu akan membacakan dongeng Kereta Api
Melayang Di Atas Awan lagikan?” tanyaku pada ibu

61


“tentu saja, ibu akan membacakanya setiap malam
untukmu”sahut ibu dengan senyumannya yang membuatku
bahagia. Ibu mulai menyelimutiku dan mencium keningku.
Ibuku adalah segalanya bagiku, dia membuat hal sekitarnya
menjadi lebih indah bahkan dia membuat sebuah dongeng
untukku agar aku dapat tertidur.

“Tut...tut...tut” suara khas dari kereta api terdengar, aku
pun terbangun dan melihat keluar jendela kamar melihat kereta
api itu. Kereta api yang melayang melintasi langit malam yang
sedang dipenuhi oleh ribuan bintang. Aku terdiam melihat itu,
apakah itu nyata? Tanyaku di dalam hati. Untuk sesaat aku
terdiam melihat keindahan kereta api itu, cerita ibuku nyata.
Itulah yang aku percayai hingga aku berhenti percaya saat ibuku
meninggal dunia. Semua yang terlihat indah kini terlihat suram
dimataku. Bagiku dunia telah kehilangan cahayanya karena ibu
telah pergi.

10 tahun berlalu, dan aku menjadi gadis yang mengurung
diri di kamar, menolak dunia luar untukku jelajahi.

“Lila bisakah kau membantuku memberesakan barang-
barang lama?” tanya kakakku Chelsea padaku.

“Iya” sahutku lalu mengikuti langkah kakak menuju
ruangan penyimpanan barang lama.

62


“Berdebu sekali, sepertinya akan lama kita
membersihkannya” keluhnya sambil melihat kearah ku, mataku
tertuju pada sebuah photo ibu yang sedang tersenyum bahagia di
sana tanpa sadar aku mengambil photo itu dan memeluknya.

“Aku tau kau merindukannya, ayah memintaku untuk
membersihkan ini bersamamu. Mungkin rindumu akan terobati”
ucap kakakku sambil tersenyum padaku, aku mengangguk dan
hendak menangis namun air mata itu telah kering sejak kematian
ibuku dulu. Aku mulai membantu kakak membersihkan,
merapikan serta menyingkirkan barang lama yang tidak terpakai.

Sebuah buku usang dengan sampul berwarna coklat tua
jatuh disampingku begitu saja, aku memungut buku itu dan
terdiam melihat judul dari buku itu “Kereta Api Melayang Di
Atas Awan” itulah judul dongeng yang selalu dibacakan untuku
saat aku masih kecil.

Malam harinya di kamar aku membaca buku usang itu
dihalaman pertama ada sebuah tulisan tangan ibuku yang berisi
bahwa dia sangat senang membuat cerita ini dengan harapan
buku ini sampai pada anak dan cucunya nanti. Serta pesan untuk
anak-anaknya agar tumbuh menjadi anak yang baik, jujur aku
sangat tidak kuat membaca buku itu padahal itu baru dihalaman
pertama namun aku masih tetap ingin membaca lagi dan lagi

63


hingga kenangan lama memenuhi ingatanku jujur sampai
sekarang aku masih belum bisa melupakan ibu hal kecil saja
yang dapat mengingatku pada ibu akan membuatku menangis.

“Tut...tut...tut” suara kereta api membangunkan tidur
lelapku, dan melihat kereta api melayang di atas awan, melintasi
ribuan bintang yang bersinar terang, aku terdiam “kau lagi”
ucapku sambil melihat kereta api itu, aku sudah biasa melihatnya
dan hampir dikira gila karena bisa melihat kereta api yang dapat
melayang, terkadang aku bertanya-tanya adakah manusia di
sana, dan bisakah aku pergi juga ke sana?.

Pagi tiba dan ayah pulang, ayahku adalah orang yang
terlalu larut dalam perkerjaanya, kakak bilang bahwa ayah
melakukan itu karena ia ingin mencari kesibukan untuk
melupakan kesedihannya, tapi bagiku ayah egois bahkan saat ibu
meninggal ayah tidak disampingnya bahkan dia tak pernah
peduli akan diriku bukannya itu kejam dan itulah kenapa aku
tidak suka padanya.

“Ayah akan menjodohkanmu” itulah perkataan ayah
yang membuatku syok.

“Apa maksud ayah?” tanya kak Chelsea yang terlihat tak
setuju dengan perkataan ayah yang tiba-tiba “Ayah hendak
menjodohkan adikmu dengan anak teman ayah, itu lebih baik

64


dari pada dia diam tak berkembang”sahut ayah. Mendengar itu
aku hanya berlari mengurung diri dikamar. Ayah memang egois
tak pernah bertanya dan perhatian padaku tak dapat merasakan
apa yang sebenarnya terjadi “kenapa semua berubah?” tanyaku
pada diriku sendiri. Aku berdiri menatap diri dipantulan kaca,
menjijikan tentu saja ayah tidak menginginkan anak sepertiku
“lebih baik aku pergi saja dari dunia ini!” teriakku frustasi
sambil memecahkan kaca rias di depanku tak kuhiraukan
teriakan kakak di luar pintu kamar aku hanya...hanya...hanya
ingin pergi dari sini...

“Tut....tut...tut” suara kereta api itu lagi, ini juga
memuakkan entah kenapa sampai sekarang aku masih percaya
akan hal itu, itu tidak nyata... “ITU TIDAK NYATA....!!!!”
teriakku sekali lagi sambil menutup mata dan kupingku rapat-
rapat. Aku tidak ingin mendengar dan melihatnya, tapi...itu
semua adalah hal terakhir yang ditinggalkan ibu padaku, aku
masih ingin memercayainya. Entah kenapa semua terasa sepi
aku pun membuka mataku dan terkejut aku sudah di depan pintu
kereta api...

“Bagaimana...aku...aku” aku tergagap sendiri saat
melihat tubuhku begitu dekat dengan kereta api ini dan terlebih
lagi aku melayang, belum selesai aku teriak “siapa kau?” tiba-

65


tiba suara seorang pemuda muncul di depanku, di depan pintu
masuk kereta yang sedang terbuka. Aku menatap pemuda itu dia
pemuda yang tampan, kulitnya putih, hidungnya mancung, bola
mata yang berwarna coklat, tubuh tinggi tegap, dan rambut yang
berwarna hitam seperti langit malam, pemuda itu juga
mengenakan pakai yang berwarna hitam dengan membawa buku
yang ada di tangan kirinya yang bersampul hijau.

Tunggu pemuda, pemuda itu manusia kan, kenapa
manusia ada di dalam kereta apa ini? Semua pertanyaan muncul
di dalam otakku, namun entah kenapa lidahku keluh untuk
menanyakannya “pulanglah” sahut pemuda itu lagi, lalu berbalik
pergi masuk ke dalam kereta “tunggu” teriakku begitu saja,
pemuda itu berbalik dan menatapku “sebenarnya ini nyata atau
hanya imajinasiku?” tanyaku namun pemuda tampan itu hanya
diam lalu berjalan masuk meninggalkanku.

“Lila...Lila...” suara kak Chelsea terdengar di telingaku,
aku berbalik dan cahaya yang amat terang menyerang indra
penglihataku. Aku membuka mata perlahan dan melihat raut kak
Chelsea yang cemas akan keadakanku “aku kenapa, kenapa
kakak menangis?” tanyaku

66


“kamu pingsan dan sudah tak sadarkan diri selama 1 hari,
aku sangat takut dan cemas” ucap kak Chelsea yang menangis
dan memeluk tubuhku

“satu hari... jadi yang kemarin itu hanya mimpi ya”
gumamku didalam hati.

“ayah mana?”tanyaku pada kakak
“dia sedang ada perkerjaan, sebentar lagi dia pasti pulang
dan melihat keadaanmu” sahut kak Chelsea sambil tersenyum
padaku
“bohong” ucapku pelan. Malam hari pun tiba aku
mendengar ayah pulang dan kakak menyambutnya kakak
menceritakan keadaanku pada ayah dan jawaban ayah
membuatku sakit hati.
“Lalu, apa urusanku jika dia begitu. Dia begitu karena
terlalu terobsesi dengan khayalanya”. Sakit... sakit sekali
perkataanya, padahal dia ayahku kenapa dia mengatakan hal itu.
Sebenaranya apakah dia benar-benar ayahku, apakah dia benar-
benar menyanyangiku. Tak terasa air mataku jatuh, kuambil
buku dongeng ibuku dan memeluknya erat “mungkin aku harus
pergi dari dunia ini, agar dia puas”
“Tut...tut...tut” suara kereta api, aku membuka mata dan
melihat ke arah jendela. Kereta api itu sedang melayang bebas di

67


udara “jemputlah aku, aku ingin pergi”l alu seakan mendengar
perkataanku kereta api itu mendekat kearah jendela kamarku.
Aku berdiri di pinggir jendela kamarku dengan tangan kanan
yang masih menggemgam buku dongeng ibuku “aku sudah
bertekad aku akan pergi, kak Chelsea maaf aku akan
meninggalkanmu” ucapku lalu tanpa ragu masuk ke dalam
kereta api melayang itu.

Pemuda yang kemarin aku lihat sekarang sedang duduk
disalah satu bangku penumpang dan hanya menatapku. Kereta
pun mulai melayang menjauh dari rumahku “selamat tinggal”
ucapku pelan. Sepi, sunyi dan canggung kurasakan pemuda di
depanku hanya menatapku.
“buku itu, buku apa yang kau bawa?” tanyaku pada pemuda itu
“hanya buku yang sama seperti yang kau bawa” sahut pemuda
itu.
“sama?” ulangku
“iya, sama. Aku juga mendapatkanya dari orang yang sama”
Aku terdiam mendengar perkataan pemuda itu.
“Apa maksudmu?” tanyaku
“Aku punya janji pada ibumu tapi aku lupa namun pastinya itu
menyangkutmu” jawab pemuda itu.

68


“Jadi kita pernah bertemu sebelumnya dan kau tau namaku?”
tanyaku
“Entahlah aku lupa, tapi aku tidak lupa namamu Lila” sahut
pemuda itu
“dan namamu?” tanyaku
“Yuno” sahutnya singkat
“kenapa kau bisa di sini, apa kau punya masalah juga?” tanyaku
“tidak...aku hanya...” ucapan Yuno terhenti “aku lupa, aku lupa
kenapa aku disini?” lanjutnya
“sudah berapa lama kau di sini” tanyaku lagi
“Entahlah, aku lupa” sahut Yuno sambil memandang buku
dipangkuannya.
“Tapi aku ingat namamu. Aku lupa apa yang harus aku lakukan
jika sudah bertemu denganmu”
“Sepertinya itu tidak penting, karena aku tidak akan kembali”
ucap ku
“Semua berubah ketika ibu meninggal dan aku tidak akan
kembali, di sini lebih baik”
“Tidak kau salah, kau akan menderita di sini kau akan menderita
dan mengalami penyesalan yang medalam karena tak dapat
kembali, ingatlah dunia itu indah, semua berubah karena kau

69


juga berubah,candai kau kembali maka semua akan baik-baik
saja” ucap Yuno padaku
“Kau tidak mengerti” sahutku
“Tidak, aku mengerti dan kau telah menginyia-nyiakan
kesempatan akan kembali” balas Yuno
“ibumu tidak menginginkan kau begini, ibumu ingin kau
bahagia” Lila terdiam mendengar ucapan Yuno, semua yang
Yuno ucapakan ada benarnya “jangan-jangan Yuno terjebak di
sini karena dirinya” pikir Lila.
“kita harus turun, tidak lebih tepatnya kau yang turun dari kereta
api ini” Yuno hanya bisa menatapku tak mengerti.
“Untuk apa aku turun aku bahkan lupa siapa keluargaku dan
siapa aku ini” sahut Yuno
“Kau sudah terlalu lama di sini, kau akan ingat setelah kau
turun”
“Kereta api tidak bisa berhenti, sekali kau naik kau tidak akan
bisa turun. Kau sudah membuang kehidupanmu”
“Aku tidak perduli, kau di sini gara-gara aku, tujuan kau di sini

bukan untuk membawaku bersama kereta api ini tujuanya kau di

sini kau harus mencegahku naik kereta api ini karena kereta api
ini tidak membawa kita tapi jiwa kita” tiba-tiba kereta berhenti

mendadak seakan rahasaia kereta api itu telah terbongkar.

70


“Jiwamu sudah terlalu lama di sini, karena kau merasa
bersalah tidak dapat menepati janjimu dengan ibuku yang entah
janji apa itu maka dari itu kau frutasi sama sepertiku dan naik ke
sini, namun itu adalah kesalahan besar, kau harusnya
mencegahku naik ke sini. Tapi sekarang aku harus
mengeluakanmu” lanjutku.

Yuno terdiam dia tampak meningat sesuatu dan aku
melihat ke arah ujung gerbong kereta satu-persatu gerbongnya
mulai menghilang. “Aku ingat, aku ingat janji apa yang aku buat
pada ibumu!” seru Yuno dan terdengar ledakan besar “mesin
keretanya mati itu tanda bahaya, pasti. “Ayo kita lari!”seru Yuno
menarik tangan Lila untuk kedepan gerbong masinis, saat
mereka lari menunju ke depan gerbong satu persatu gerbong
yang mereka lewati pun menghilang namun entah kenapa
gerbong masinis terasa amat jauh entah sudah berapa gerbong
yang mereka lewati, namun tidak pernah sampai “kau tau apa
yang aku janjikan pada ibumu?” tanya Yuno sambil terus berlari
menggenggam tanganku “apa?” tanya Lila.

“Ibumu memang sudah tau dia akan pergi
meninggalkanmu, dia punya firasat kau akan sulit menerima
kepergian ibumu dan akhirnya memberikan jiwamu pada kereta
api ini dan tak pernah kembali, kereta api ini memang indah dan

71


dapat melayang, namun dia akan membuatmu menyeseal seumur
hidup dan dapat membuatmu menderita dalam penyesalan yang
mendalam. Maka dari itu aku berjanji pada ibumu untuk
menyelamatkanmu sebagai rasa terima kasih karena telah
memberiku buku ini” jelas Yuno
“Tapi pada akhirnya aku yang naik ke sini dan sekarang kau juga
naik”
“Maka dari itu kita harus pergi dan menghancurkan kereta api ini
agar tidak ada lagi yang menaikinya” lanjut Lila.

Yuno dan Lila berhenti digerbong terakhir satu pintu lagi
untuk menuju gerbong masinis “lalu, apa yang akan terjadi jika
kita sudah keluar dari sini?” tanya Yuno sebelum membuka
pintu.
“Maksudmu?” tanyaku
“Benarkah jika kita menghancurkan kereta api ini semua akan
berakhir?”
“Entahlah, aku hanya ingin kau ke luar dari sini”
“lalu, bagaimana denganmu. Kau akan menghilang bersama
kereta api ini tanpa mengetahui hal yang menyenangkan
didunia?”
“kau kan kehilangan ingatan tentang dunia dari mana kau tau?”

72


“kau, kau yang membuatku ingat, dan aku senang bertemu
denganmu, bagiku kau adalah hal yang indah didunia ini” ucap
Yuno padaku, aku terdiam mendengar ucapan Yuno.
“Maka dari itu kita harus melompat!” Yuno menarik tubuhku di
dalam dekapannya dan melompat keluar jendela kereta api.
“kkkyyyaakkk...!!!” teriakku takut karena kami terjun dengan
bebas dan aku pun mengeratkan pelukanku pada Yuno.
“Aku takut... aku hanya takut... jika aku pergi aku tidak akan
merasakan takut kehilangan lagi” isakku tersedu-sedu dengan air
mata yang mengalir deras.Yuno tersenyum dan menyeka air
mataku “kau hanya harus mengucapkan kata selamat tinggal
pada ibumu” ucapan Yuno membuat kami berhenti terjun bebas
dan membuat kami melayang di udara, waktu bagai terhenti
“Bagaimana aku mengatakannya untuk mengucapkannya saja
aku tidak bisa, aku tidak sanggup. Bagiku ibu adalah dunia ini,
ibu yang membuat dunia ini terlihat indah dimataku” ucapku.
“Tidak, bukan ibumu yang membuat dunia ini indah, tapi cara
pandanganmulah yang membuat dunia ini terlihat indah. Kau
yang membuat dunia indah. Maka dari itu berubahlah menjadi
dulu ketika ibumu masih hidup dan ucapkan selamat tinggal
pada ibumu. Lihat dia disana” tunjuk Yuno pada kereta api yang

73


melayang yang terlihat baik-baik saja padahal tadi kereta api itu
memudar.

Aku melihat ibuku yang sedang tersenyum di sana,
berdiri di depan pintu kereta api. Aku terdiam melihat ibuku
yang terlihat baik-baik saja.
“Ibu” ucapku pelan
“katakanlah” ucap Yuno padaku
“Ibu...ibu... aku amat menyanyangimu... setiap detik aku hidup...
setiap nafasku aku amat menyanyangimu!!!” teriakku sekuat
tenaga.
“Maka dari itu aku ingin mengucapkan selamat tinggal ibu
maafkan aku yang bertingkah bodoh ini” airmataku masih
mengalir deras,Yuno masih berada di sampingku. Melihat itu
ibuku hanya bisa tersenyum dan pintu kereta pun tertutup. Suara
kereta yang khas bertanda kereta akan berangkat pun terdengar
“selamat tinggal, sayangku Lila”

Aku terbangun karena suara jam yang berbunyi nyaring,
aku bangkit dari tidurku dan merasakan air matanya masih
mengalir.
“ibu...” ucapku pelan sambil memandang langit pagi.
“Yuno” ah, aku ingat bahwa aku tidak tau apa yang terjadi pada
Yuno apakah dia sudah kembali juga, apakah dia baik-baik saja,

74


aku tidak tau tapi yang pastinya aku berharap dan berdoa bahwa
Yuno akan baik-baik saja.

3 bulan kemudian, aku datang kesebuah perjamuan besar,
Aku sudah lebih baik dari hari-hari kemarin. Kini aku mulai
tersenyum kembali melihat itu kak Chelsea dan ayah pun merasa
senang, hubunganku dan ayah juga sudah mulai membaik karena
aku sudah membaik.
“Tuan Hendrik, perkenalkan ini putriku yang ku ceritakan
padamu, Lila beri salam pada Tuan Hendrik dan istrinya Nyonya
Ana” ayah mempekenalkan aku pada tuan dan nyonya itu
“cantiknya... seperti ibunya dulu” puji Nyonya Ana padaku
“terima kasih atas pujianya, Nyonya Ana” balasku sambil
tersenyum.
“Bagaimana aku perkenalakan pada putraku, sebentar ya”
Nyonya Ana menyuruh pelayannya untuk memanggil seseorang
dan tak lama kemudia muncullah seorang pemuda yang
membuatku terdiam seketika melihat pemuda itu.
“Yuno” ucapku tak percaya.
“Sudah kenal rupanya?” tanya Tuan Hendrik “padahal beberapa
tahun Yuno mengalami koma. Dan kini dia sudah sembuh,
bagaimana kamu tau” tanya Nyonya Ana.

75


“Aku...” aku sedikit bingung untuk menjawab dan Yuno hanya
menatapku tanpa berkata apa-apa.
“Aku...hanya... menebak saja” jawabku asal.
“Ibunya pasti pernah bercerita tentang Yuno pada Lila saat
masih kecil” sahut ayah.
“Oohh...begitu”
“Yuno kenapa kamu tidak mengajak Lila untuk berbincang-
bincang sebentar” ujar Tuan Hendrik, dan Yuno putranya itu
hanya mengganguk.

Aku dan Yuno berjalan di taman. Sepi, sunyi dan
canggung tidak ada satupun ingin membuka percakapan.
“Kau pasti ingin bertanya kan?” tanya Yuno tiba-tiba padaku
“kau ingat?” tanyaku dan Yuno mengganguk “aku sudah
terjebak di sana bertahun-tahun namun nyatanya tubuhku hanya
tertidur” sahut Yuno.
“Jadi...” aku ragu untuk meneruskannya.
“Iya, aku ingat semuanya, terima kasih” sahut Yuno “syukurlah,
kau baik-baik saja. Ketika aku terbangun di pagi hari aku tak
henti-hentinya berdoa semoga kau baik-baik saja, karena kau
telah merelakan dirimu terjebak di sana hanya untuk
mencegahku” jawabku sambil tersenyum.

76


“Aku juga senang kau kembali, Lila” balas Yuno sambil
tersenyum dan menggenggam tanganku.

Akibat Mencontek
Tik..tok..tik..tok suara jarum jam yang sedari tadi
berbunyi menunjukkan bahwa sekarang pukul 10 malam. Aku
masih berjaga-jaga,memicingkan mata kantukku dan menahan
kelopak mata agar tidak lekas tertutup.
“Kak belum tidur?” tanya adikku. Aku hanya
menggeleng, satu kata tak terucap dari bibirku yang sedari tadi
komat kamit menghafalkan sebuah teori mengenai terjadinya

77


tata surya. Pusing, karena semua catatan harus aku hafalkan
demi mendapatkan nilai yang setidaknya bisa di atas KKM.

Pembagian sifat jujur ada 5 yaitu, Shidiq al- qalbi yaitu
jujur dalam niat, Shidiq al-hadits yaitu jujur saat berucap, Shidiq
al-‘amal yaitu jujur dalam berbuat, Shidiq al-wa’d yaitu jujur
apabila berjanji, Shidiq al-haal yaitu jujur.

Mataku sudah benar-benar ingin terpejam dan aku
merasa bahwa aku tidak bisa melanjutkan hafalanku yang masih
tersisa setengah bab lagi. Tiba-tiba aku teringat dengan sebuah
pendapat seorang imam besar yang mengatakan bahwa jika
engkau tidak tahan dengan lelahnya belajar maka kau akan
menanggung pedihnya kebodohan. Sontak kalimat itu
membuatku sadar akan pentingnya belajar.

“Ayo Rasyida jangan ngantuk, mana semangatmu? kamu
mau jadi bodoh dan mendapat nilai yang jelek.” Sejenak aku
menyemangati diriku sendiri sambil mengoleskan balsem di
kedua pelipis, hidung dan kelopak mata. Berharap ada keajaiban
datang yang membuatku bisa tahan untuk menghafalkan semua
catatan.

Malam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam, dan
aku masih sibuk dengan hafalanku yang masih menyisakan 1
lembar lagi untuk aku hafalkan. “Kak tidur lah, dilanjut besok

78


lagi belajarnya! hari sudah malam” kata ibuku. Dengan terpaksa
aku menuruti perintahnya. Padahal memang inilah yang aku
tunggu-tunggu, membenamkan diri di pulau kapuk dan terpejam
dengan nyenyaknya.

Sebelum tidur aku sempat mengecek grup WA kelas di
smartphoneku, dan kubaca satu persatu obrolan mereka yang
mengeluh karena banyaknya materi yang harus dihafalkan
sehingga mereka membuat strategi untuk bisa menyontek saat
ulangan besok. Aku tidak terlalu mempedulikan mereka dan
langsung merebahkan diri di kasur. Tidak sampai 5 menit aku
sudah terlelap dengan begitu nyenyaknya.

Kring..kring..kring! suara alaram yang setia
membangunkanku tepat waktu itu begitu memekakkan telinga.
Dengan malasnya aku membuka selimut dan mulai
melangkahkan kaki ke arah pintu. Sejenak aku melihat ke arah
jam untuk menghitung berapa jam yang aku dapatkan untuk
tidur malam ini, dan tenyata waktu tidurku hanya 5 jam. Aku
terus berjalan mengarah ke kamar mandi yang letaknya di
sebelah dapur, ku dapati ibuku yang ternyata sudah bangun lebih
dulu dari pada aku dan sudah mulai memasak.

Seperti biasa aku melakukan aktivitas pagiku, tapi ada
sedikit perbedaan untuk pagi ini karena biasanya aku setelah

79


sholat shubuh pasti menonton TV tapi untuk kali ini aku mulai
melanjutkan kembali hafalan rumus matematika untuk ulangan
nanti, karena Agama dan Bahasa Indonesia telah aku pelajari
tadi malam maka ini saatnya aku mengulang kembali hafalan
rumusku supaya tidak lupa saat ulangan nanti.

Tak terasa bahwa jam telah menunjukkan pukul 06.15
pagi dengan sigap aku mengambil ancang-ancang untuk segera
meluncur ke kamar mandi, tidak sampai 10 menit mungkin
hanya 5 menit, buka pakaian, guyur pakai air dua gayung,
sabunan, guyur lagi lima kali, sikat gigi, berhanduk kemudian
pakai baju dengan benar. Kemudian aku berlari menuju kamar
mengambil buku yang masih berserakan di atas kasur.
Sepertinya mereka juga lelah dibolak-balik bahkan ada yang
sampai sobek.

“Relasi, fungsi surjektif, fungsi injektif, fungsi bijektif,
fungsi...ah lupa, sudahlah terlalu banyak hafalan pagi ini”
celotehku. Buku sudah kusiapkan, papan LJK, nomor ujian dan
seragam sekolah sudah dipakai, aku sudah siap berangkat
sekolah. Sayangnya hari ini hari senin. Berangkat sekolah hari
senin selalu berantakan. Celotehan adikku yang terus meminta
ingin pergi cepat-cepat, belum lagi setiap senin bel masuk pukul

80


07.00 pagi, pikiran tentang hafalan materi ulangan terkadang
membuatku frustasi.

Tanpa berpikir panjang ayah menghampiri motor, aku
dan adikku pun sudah menaiki motor dengan posisi aku berada
di belakang dan buku-buku geografi masih digenggamanku. Dan
selama di perjalanan aku terus menghafal.
Sesampainya di sekolah...
“Man ruangan 7 dimana? tanyaku pada Manda yang merupakan
teman sekelasku. “Itu disana dekat pos satpam,” jawab Manda
“Ooh ya sudah makasih man”kataku sambil berjalan ke arah
teman-temanku yang ternyata sudah menunggu di sana. Manda
hanya mengangguk dan meneruskan hafalannya.
“Duh..gimana nih aku belum selesai menghafal ?” celotehku
pada salah satu temanku.n“Banyak kok yang belum hafal,
sudahlah nanti biar mbah google aja yang kerja” jawabnya
santai. Aku hanya mengerinyitkan dahi, dalam hatiku berkata
bisa-bisanya dia bilang begitu.

Tet..tet..tet bel sudah berbunyi, para peserta ujian mulai
menuju arah kelasnya masing-masing, aku mulai merasa panik
sesekali ku buka buku pelajaranku selagi menunggu pengawas
membuka pintu ruangan. Kami pun masuk, aku meletakkan tas
ku di depan papan tulis dan mulai mencari-cari namaku di setiap

81


meja yang telah dipasang nomor ujian di kelas tersebut.
Akhirnya ku dapatkan tempat dudukku dan aku melihat ke arah
teman sebangkuku yang merupakan seorang kakak kelas.

Aku melihat ke arah sekelilingku dan melihat beberapa
temanku yang sudah menyusun strategi tadi malam sudah mulai
mengambil ancang-ancang, mereka dengan santai meletakkan
smartphone mereka di dalam kantong baju dengan kuota yang
terisi penuh seperti makhluk tanpa dosa. Aku hanya menggeleng
dan banyak-banyak berdo’a, orang sepertiku tidak akan berani
melakukan hal ceroboh seperti itu karena itu merupakan sebuah
ketakutan terbesar untukku, bukan takut akan dosanya, tapi takut
akan dampak yang ditimbulkan apabila aku ketahuan.

Para siswa sudah duduk di tempatnya masing-masing dan
ketua kelaspun memimpin para siswa untuk berdo’a . Sekarang
tibalah saatnya ulangan dimulai. Soal dan lembar jawaban sudah
mulai dibagikan, aku begitu gelisah, jantungku berdebar
melebihi batas kewajaran. Komat kamit di bibirku yang awalnya
hafalan telah berganti menjadi do’a-do’a yang ku panjatkan pada
Yang Kuasa. Begitulah aku ketika dilanda ketidakberdayaan, tak
ada yang bisa menjadi pegangan selain meminta pada Yang
Kuasa.

82


Ulangan dimulai, aku mulai mengerjakan soal-soal yang
aku anggap mudah terlebih dahulu. Kemudian tibalah aku berada
disuatu titik di mana hafalanku buyar dan tak ada satu pun yang
aku ingat lagi. Aku benar-benar gelisah, mencoba mencerna
baik-baik ingatanku dengan perlahan sambil memohon kepada
Tuhan agar diberi petunjuk.

Aku duduk di barisan depan, tepatnya nomor dua dari
depan. Sebenarnya dengan lokasiku yang sangat strategis itu
contekan apa pun bisa dilakukan. Tapi berhubung aku adalah
orang yang sangat penakut akan menyontek, aku tetap teguh
pendirian. Lain halnya dengan pasangan curang itu, begitulah
aku menyebut orang yang bekerja sama dalam hal menyontek,
mereka duduk dipaling belakang dengan letak yang tidak
strategis tapi kemungkinannya besar untuk menyontek. Mereka
sudah memulai aksinya sedari tadi, tanpa disadari oleh
pengawas.

Tiba-tiba.. “Waktu tinggal 15 menit lagi.” Kata
Pengawas. Sontak seisi kelas menjadi panik dan mulai
memanggil teman-teman mereka untuk meminta jawaban.
Kebingunganku menjadi bertambah saat aku tau dari 25 soal
yang diberikan aku baru menjawab 15 dan masih menyisakan 10
soal lagi yang belum aku jawab. Aku benar-benar panik, sampai

83


mau menangis rasanya, begitulah aku kalau mengerjakan soal
matematika seolah-olah soal matematika lebih berat dari pada
pertanyaan seorang malaikat penanya kubur.

Menit terus berlalu dan waktu masih menyisakan 5 menit
lagi sebelum ulangan di kumpul dan masih ada 5 soal yang
belum aku jawab, aku benar-benar pasrah kali ini, apa yang aku
pelajari tadi malam hanya beberapa yang masuk di soal ujian.
Dan dengan Bismillahirrahmanirrahim aku jawab kelima soal
itu dengan instingku sendiri.

Waktupun telah habis dan semua kertas ujian
dikumpulkan di meja pengawas. Aku hanya pasrah dan
menyerahkan semuanya pada Yang Kuasa. Aku keluar kelas dan
melihat wajah teman-temanku yang seperti tidak ada beban sama
sekali pada diri mereka, lain halnya denganku dan temanku yang
wajahnya seperti orang yang hendak tewas. Ada satu hal yang
aku pikirkan, bagaimana bisa mereka menjawab soal matematika
yang belum tentu ada jawabannya di google, setelah aku telusuri
ternyata mereka hanya mengandalkan photomath sebagai acuan
mereka untuk menjawab soal matematika. Aku mulai kesal,
“Awas saja kalau nilai mereka lebih besar dari pada
aku”gumamku dalam hati.

84


Hari demi haripun berlalu dan serangan-serangan umum
terus terjadi. Ulangan Matematika yang kemarin pun dibagikan
dan betapa terkejutnya aku, saat tau nilaiku sama dengan orang-
orang yang menyontek saat ulangan. Aku begitu kesal dan
merasa semua ini tidak adil untukku. Mereka dengan wajah ceria
bersyukur karena nilai mereka tidak terlalu kecil dan nilainya
sama denganku. Aku hanya diam dan “Hah.. sudahlah aku yakin
tuhan lebih tau segalanya.” gumamku dalam hati.

Kemudian tibalah ulangan sejarah, mata pelajaran yang
kurang aku sukai karena materinya yang banyak sekali untuk di
hafalkan. Bel pun berbunyi, kami menunggu-nunggu kedatangan
pengawas dan teman-temanku sangat berharap bahwa pengawas
kali ini adalah pengawas yang lengah, sehingga mereka bisa
menyontek saat ulangan. Pucuk dicinta ulan pun tiba dan tenyata
pengawas kali ini adalah seorang guru yang sangat legendaris di
sekolah dan merupakan guru yang sangat disegani oleh setiap
murid di sekolah, beliau adalah Ibu Boro.

Semua murid tampak terkejut saat melihat kedatangan
Ibu Boro dan aku sangat yakin sekali pasti tidak ada yang berani
menyontek saat ulangan. Seperti biasa semua masuk ke kelas
dan mulai duduk di tempat masing-masing. Ibu boro mulai

85


membagikan lembar soal dan jawaban sambil memerhatikan
wajah setiap murid di kelas.

Ulangan pun dimulai dan suasana di dalam ruangan
hening, tak ada yang berani mengeluarkan suara, bisikan-bisikan
gaib yang biasa menyertai saat ulanganpun tak terdengar. Aku
memerhatikan sekelilingku ternyata perkiraanku terhadap
pasangan curang itu salah, mereka masih saja menyontek dengan
smartphonenya sementara mereka tau bahwa nyawa mereka
berada diambang kematian. Aku hanya menggeleng dan
meneruskan ulanganku dengan sekali-kali melirik ke arah Ibu
boro yang sedari tadi asik menulis di mejanya.

Dret...tiba-tiba suara kursi digeser begitu nyaring
terdengar sehingga seisi kelas pun terkejut dan langsung melihat
ke arah Ibu Boro yang ternyata telah beridiri. Sontak seisi kelas
pun panik dan langsung menyimpan Handphone mereka ke
dalam kantong mereka masing-masing. Dengan langkah pelan
tapi pasti, Ibu Boro terus melangkahkan kakinya dengan sorotan
mata yang tajam, bagaikan malaikat maut yang siap memangsa
setiap nyawa yang berbuat maksiat. Begitulah sekiranya
penggambarannya, ia terus berjalan ke sebuah meja yang tidak
lain adalah meja seorang siswi kelas XI. Semuanya tampak diam
dan aku yakin bukan hanya aku saja yang merasa ketakutan saat

86


itu. Saat sampai di meja siswi tersebut, tanpa berpikir panjang,
Sap !!.. Ibu Boro langsung melayangkan tangannya ke arah
kantong yang berisi Handphone tersebut dan langsung
mengambilnya dari siswi tersebut, tanpa ada sepatah katapun
yang terucap ia langsung berjalan dan meletakkan Handphone
siswi tersebut ke dalam kantongnya.

Seisi kelas tampak lega karena mereka bersyukur bukan
Handphone mereka yang diambil oleh Ibu Boro. Siswi tersebut
dengan ekspresi cemasnya tampak diam, seisi kelas pun mulai
ribut setelah kejadian tersebut, kemudian..“Siapa yang ketahuan
menyontek dengan Handphone saat ulangan, Ibu ambil
Handphonenya dan tidak akan ibu kembalikan Handphonenya
selama-lamanya” Teriak Ibu Boro. Seisi Kelas pun diam dan tak
ada yang berani mengeluarkan suara lagi. Penyesalan selalu
datang diakhir, siswi itu menyesal seandainya ia jujur dan tidak
menyontek saat ulangan pastilah Handphonenya tidak akan
diambil oleh Ibu Boro. Ini bukanlah kali pertama di ruangan
kami seseorang ketahuan menyontek lalu Handphonenya
diambil , ini telah terjadi sebelumnya, tapi tidak ada yang mau
mengambil pelajaran dari tragedi pertama tersebut sehingga
terjadi tragedi kedua yang lebih menyakitkan. Waktu
ulanganpun telah selesai dan semua ulanagan dikumpulkan.

87


Setelah pulang aku pergi ke ruang guru dan betapa
terkejutnya aku saat melihat banyak sekali siswa yang memenuhi
ruang guru saat itu. Masalah mereka sama, yaitu mereka ingin
mengambil Handphone mereka yang disita akibat ketahuan
menyontek. Semua wajah siswa saat itu ada yang cemas,
menangis, dan bahkan ada yang biasa-biasa saja, seolah-olah Hp
bukanlah masalah besar baginya jika disita.

Mereka sangat berharap Handphone mereka
dikembalikan bahkan ada yang sampai mengadu kepada wali
kelas dan memohon agar Handphone mereka dikembalikan. Tapi
aku tidak yakin Handphone mereka bisa dikembalikan, karena
Handphone mereka rata-rata ada pada guru yang sangat sulit
diajak bernegoisasi.

Jika aku jadi mereka aku tidak tahu lagi apa yang harus
aku lakukan,yang pastinya orang tuaku akan marah besar
kepadaku, tapi untunglah aku tidak melakukannya, jadi aku tidak
harus bersusah payah seperti mereka. Untuk itu aku lebih
memilih jujur walaupun terkadang menyakitkan.

88


Aku Tersadar

Pagi rabu waktu itu, seperti biasa aku berangkat ke
sekolah diantar oleh ayah. Dari semalam, aku telah
mempersiapkan barang-barang untuk praktek tari, praktek kimia,
buku pelajaran, laptop, dan lain-lain. Entah kenapa, aku sangat

89


senang sekali, mungkin karena schedule yang akan aku jalani di
sekolah hari itu dan juga mulai hari itu aku putuskan untuk break
dahulu dalam urusan agama. Aku merasa diacuhkan, seperti
tidak dianggap, aku hanya meminta hal kecil pada-Nya, tetapi
sepertinya dia terlalu susah untuk mengabulkannya. Aku sebel
dan aku ingin sementara menjauh darinya. 5 menit setelah aku
sampai di sekolah, bel pun berbunyi.
“Saatnya jam pertama dimulai! Its time to the get the first
lesson”.

Aku dan teman kelasku bergegas pergi ke laboratorium.
Di sana kami berdoa dahulu sebelum praktek kimia, tetapi
karena aku kesal, aku mengomel dalam hati, “ Dasar pelit!!!
Dasar pelit!!!”. Awalnya lancar-lancar saja, namun tiba-tiba
tanganku terasa panas.
“Mungkin karena aku menuangkan cairan tanpa sarung tangan”,
ujar aku.

Kemudian, aku cuci tangan, tetapi panas itu tidak hilang,
bertambah panas dan akhirnya tanganku melepuh. Aku pun
panik, “Ada apakah gerangan?”, tetapi kucoba untuk tenang,
tenang, dan tenang. Teman-temanku tahu insiden ini namun aku
tidak terlalu menanggapi serius. Praktek pun terus berlanjut.

90


Tiba-tiba,” Tok! Tok! Tok! (suara ketukan pintu). Mohon
maaf, siswi yang bernama Mayang Ayu Lestari dipanggil
sebentar!” perintah satpam sekolahku.

Ketika aku dengar orang tuaku ada di sekolah, aku pun
bergegas menemuinya. Dalam hatiku, aku penasaran kenapa
orang tuaku datang ke sekolah, aku pun bertanya kepada pak
satpam.
“Ada apa ya pak?” tanyaku.
Satpam itu manatapku dan menjawab,” Nenekmu mati!!!”.

Aku memasang wajah tidak percaya. Lalu, satpam itu
menatapku lagi dan berkata,
“ Mbahmu mati!!!”
“ Yang mana yang benar?”, ujarku dalam hati.

Taklama kemudian, aku melihat ibuku menunggu di
depan gerbang, lalu ibuku berkata, ” Bergegaslah! Bawa tasmu
kita pulang! Mbah kakung meninggal!”. Sontak hati dan
pikiranku tidak percaya, aku tidak tahu apa yang harus aku
lakukan dahulu. Tetapi, untung saja saat itu ada Ibun Salamah
yang mengizinkanku untuk pulang dengan cepat. Setelah sampai
di rumah, aku lihat barang-barang sudah siap dan kami pun

91


berangkat. Kami menghabiskan 5 jam diperjalanan untuk bisa
sampai di rumah duka.

Dengan perjalanan yang cukup panjang dan lama,
akhirnya kami pun sampai. Kami disambut dengan orang yang
berpakaian hitam-hitam dan suara tangisan yang tidak ada
hentinya. Ketika aku memasuki rumah, aku merasa aneh pada
badanku, bau-bau kapur barus menusuk kedua lubang hidungku,
tiba-tiba aku tidak sengaja melihat sekelibat cahaya putih agak
kecokelat-cokelatan melintas di atas ruang itu, kepalaku menjadi
pusing, perutku menjadi sakit ingin muntah, dan seketika aku
terjatuh tidak sadarkan diri, aku merasa ada di dimensi lain
seperti mimpi. Disaat aku terpejam, ada suara gaib yang
datangnya entah dari mana.
“Bangunlah! Jangan bersedih terus, ndok! Bersabarlah, dan
berdoalah....... Sekarang, mbah ingin mengajakmu ke suatu
tempat”.

Dalam keadaan kebingungan, aku mengikuti mbah dari
belakang. Aku dan mbahku memasuki semacam gerbang, disana
aku mendengar ada suara tangisan bayi. Aku bingung, kemudian
aku bertanya kepada mbahku,
“ Siapa bayi yang menangis itu?”, tanyaku.

92


“ Itu tangisanmu dahulu ketika kamu lahir. Tuhan telah
memberikan keselamatan bagimu dan orang tuamu...”, jawab
mbahku.

Kemudian, aku masuk lebih dalam lagi dan aku menemui
ada seorang ibu dan ayah yang sangat mengasihi anaknya.
“Apa maksudnya ini?”, tanyaku bingung.
“Itu gambaran ketika kamu masih kecil, orang tuamu
mengasihimu dengan sepenuh hati. ” jawabnya.
“Itu benar... semua ini berkat ketangguhan orang tuaku. Bukan
siapa-siapa!!” ujarku.
“Kenapa kamu berkata seperti itu? Coba kamu lihat bayi yang
ada disana!” kata mbahku.

Aku melihat ada seorang bayi yang ditinggal oleh orang
tuanya, biarkan begitu saja, tidak ada kehangatan yang aku lihat
pada bayi itu sehingga bayi itu menangis terus-menerus.
“Kenapa bayi itu dibiarkan sendirian??” tanyaku penasaran. “Itu
semua karena orang tuanya yang tidak sepenuh hati
menerimanya, padahal bayi itu anugrah tuhan!! ” tegas mbahku.
“Untung aku tidak mendapatkan orang tua yang menyia-nyiakan
aku, aku bangga kepada orang tuaku..... ”, sahutku. “ Kamu salah
cucuku! Tuhanlah yang berhak kamu puja dan puji. Tuhan
sangat baik kepadamu, jika tuhan menghendaki kamu bisa

93


diberikan pada orang tua yang akan menganiayamu dalam
kehidupan yang keras ini. Jadi, pikirkanlah ini!!!”, ujar mbahku.

Aku terenggah. Aku mulai memikirkan apa yang mbah
sampaikan. Aku tersadar dan ketika aku memalingkan muka, aku
melihat mbahku masuk ke kabut yang berwarna putih bercahaya
naik ke atas dan menghilang, itulah saat terakhirku melihat dia.

Tak lama kemudian, aku pun terbangun. Aku melihat
bahwa aku ada di kamar, aku bangun dengan perasaan dan hati
yang tenang, lalu aku cari ibuku yang pada saat itu sedang
menenangkan hati mbah putriku, ibuku bertanya, “Apa kamu
baik-baik saja, nak?”. “Aku minta maaf, bu!! Aku janji tidak
akan menyia-nyiakan waktu untuk beribadah dan berbakti
kepada ibu dan ayah. Ini semua karena mbah!” jawabku.

Ibuku bingung dan aku menceritakan mimpiku ini.
selesai bercerita, ibuku berkata, “Jadikan mimpimu ini sebagai
pengalaman untuk lebih baik lagi. Dan sekarang waktunya
untukmu mendoakan mbahmu agar tenang disana.”

Aku menggangguk. Setelah mengantarkan jenazah
mbahku ke tempat peristirahatannya yang terakhir, aku mulai
sadar bahwa aku hanyalah seorang hamba tuhan yang tidak
mempunyai apa-apa, hanya doalah yang biasa menyelamatkanku
dan keluargaku dari segala hal musibah hidup, dan aku berjanji

94


pada diriku sendiri akan selalu mematuhi segala perintah kedua
orang tuaku serta selalu membahagiakan mereka. Terima kasih
karena telah menyadarkan aku disaat pertemuan terakhir kita,
mbah kakungku tersayang...

Kembali
Suatu hari angin menerpa sayup-sayup menerobos sela
kayu tua itu. Duduk manis di dalamnya sang anak kecil
dipangkuan wanita paruh baya. Bertengger manis pada paha
sang wanita tersebut yang tak lain adalah ibunya.

95


“Ibu, ayo mana ceritanya?”, kata sang bujang kecilnya,
sang ibu hanya tersenyum, “Sebentar ibu mau buka kulit ini
dulu”, sambil menujukkan kerang-kerang yang ada dalam
rambionya.

Kemuning daun jati yang mulai berguguran satu demi
satu. Gugur teratur dari atas hingga melayang kemudian
menempel pada kuningnya tanah. Semuanya terlihat nyata oleh
bocah itu, seolah-olah rasa itu untuknya memang.

Melihat daun jati yang berlarian bersama angin, tanpa
apa pun, tanpa ada rasa letih. Hanya mengikuti aliran angin yang
terus membawanya pergi. Rasanya itu nyata di tengah titik
keputihan hanya sebuah daun yang jatuh. Diam dan menyendiri,
jauh dari hirup-pikuk orang ramai, tapi dia damai.

Daun itu seolah bertanya, “Kapan wahai anak muda?”
tatapan tajamnya sebelum berdiam di atas dinginnya tanah
kecoklatan itu. Lalu daun yang lain juang beratanya “Kapan
wahai anak ada?” semua bertanya tapi bimbang
menghampirinya. Bimbang akan seluruh ini! “Apa
maksudnya??”, teriak sang bocah.

96


“Ha..ha...ha..ha..”, seketika bocah kecil terjaga dari
bunga tidur buruknya kali ini, mimpinya datang lagi, batin sang
bocah berbicara. Kapan mimpi buruk itu berakhir..!! dari dulu
hingga kini mimpi itu datang tapi tak ada satu pun makna yang
dapat dia gapai dari mimpi laknat itu.

Apa maksudnya!!, jerit batin sang bocah, air keringat
sebesar biji jagung tanpa kenal lelah membasahi seluruh
raganya, pedih bekas luka pun terasa perih lagi, baju lusuh
belum berganti menambah kesan gerah pada raganya. “Aku
harus apa sekarang?”, tanya bocah itu sendiri pada batinya.

Detakkan jatung yang kian membara terus bertabu
beriringan dengan peluh yang terus menghampiri dirinya.
Ha..ha..ha..., celoteh bibir kecil itu. “Eh bocah, sumpal mulutmu
itu”, teriak seseorang dari dalam biliknya yang hangat.

Bibir mungil itu terpaksa terdiam otomatis, setelah
mendengar teriakan kencang dari dalam billik itu. Semua
bergetar hebat dari ujung rambut hingga ke ujung kuku
lusuhnya, menggigil bukan main. Tak ada yang membantu selain
kardus tipis dan kain lusuh.

97


Teriakkan itu harus sesegera mungkin diredam olehnya
jika tak ingin mendapat hukuman di pagi hari. Teriakan itu
seolah ingin keluar, tapi bibir mungil itu mulai digigit hingga
perih menghampiri relung dalam jiwanya. Badan penuh dengan
peluh, membuat seluruh lebam terasa sangat perih.

Semuanya ia hiraukan, tak ada yang harus ia rasakan,
yang ada di dalam otak kecilnya itu adalah dia harus diam,
yahh... diam, tak memikirkan seberapa sakit bibir mungil
berdarah merah demi menjaga agar dia diam. Hanya diam, diam.

Setelah beberapa saat dinginnya hawa malam, membuat
dirinya kembali tertidur tanpa harus memasuki mimpi itu lagi,
mimpi yang akan datang dikala tidurnya sedang lelap. Dalam
hatinya dia bertanya, kapan semua ini sudah? tapi hanya dapat
dijawab oleh hembusan angin dari penjuruh arah.

Kukuruyukkkk..... kukuruyuk...... bunyi ayam bersautan
dari hulu desa hingga ke hilir desa. Bagai talu-talu dol dipukul,
saling berirama, antara dol dan tassa, begitu juga mereka antara
betina dan jantan.

Pagi menjemput tapi tak membuat penderitaan sang
bocah berakhir, bagai jati tadi yang terus terbawa alur angin.

98


“Ehh... bangun-bangun, sana cepat timba air”, kata seorang
wanita yang baru saja keluara dari kamar dengan rambut yang
gemerui. “Heii...bocah tak tau diri..!!, cepat sedikit timba air
sana, jangan jadi anak yang lelet!!”, gerutu wanita paruh baya
yang menggunakan sarung dengan rambut gemerui yang tak
kunjung diikat dengan karet gelang di kiri tangannya.

Dengan tergesah-gesah sang bocah tersebut
meninggalkan kardus, tempat terempuk yang selama ini ia bisa
rasakan. Langsung saja kaki mungil itu melangkah melaju
dengan irama yang tak tentu detakkan yang berdentum kencang
membawa langkah kaki itu samapi ke depan sumur bebatuan.

Tak mau membuang waktu dengan sigap tangan mungil
itu mengegam tali dan menurunkannya. Satu ember, dua
emeber, hingga seuruh ember teridi penuh. Dengan sangat hati-
hati dia memasukkannya ke dalam ember-ember tersebut. Agar
tak ada yang jatuh karena kata ibu, air sedang menipis sekarang
ini. Tak tau harus mencari di mana dia, dan seberapa pagi dia
terbangun jika sumur bebatuan itu habis dan tak ada isinya lagi.

Setelah semua selesai, langkah kaki mungil itu dengan
malas terbawa ke halaman depan ruamh. Dilihatnya sang ibu tadi

99


di ruangan keluarga, sedang menonton gosip, begitu juga dengan
adik yang masih molor tak bisa diganggu gugat. Tanpa
membuang waktu, segeralah diayunkannya lidi-lidi kelapa yang
sudah diikat dengan tali rapiah itu ke daun-daun kering
kecoklatan di depan rumah reot yang mereka tempati. Hingga
yang tersisah hanya tanah, tanah kuning kecoklatan. Dengan
bebatuan sedikit di atasnya, setelah merasa bersih kaki kecil itu
masuk lagi ke dalam rumah, terlihatlah bahwa TV masih
menyala, kaki terkunjur hingga melewati dudukan tangan di sofa
tua mereka, lengkap dengan sarung lusuhnya.

“Ngok...ngehh...ngorkkk....ngehh...ngorrkkk..”, bunyinya
bertalu-talu di ruangan itu, danau kecil mulai terbentuk di bantal
lusuh sofa itu. Suaranya maikin keras , makin besar pula danau-
danau itu terbentuk. Kaki menjuntai panjang melintang
mengahadang jalannan. Teringat lagi akan mimpi itu, daun jati
tua yang kemuning lebar dengan kecoklatan tua di pinggirannya,
tergeletak tak berdaya ditengah-tengah. Sungguh malang ada
roda melintas, langsung retak sepiak.

Datang lagi satu roda terbelah seperempat, begitu
seterusnya hingga menjadi abu. Semuanya mulai melintas di
dalam kepala mungil sang bocah itu. Langsung saja burung-

100


Click to View FlipBook Version