The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kkgpaipaguyangan, 2023-04-27 09:24:46

MODUL PEDAGOGIK 2

PPKB

1 MATERI BIMTEK PEDAGOGIK 2 (MODEL PEMBELAJARAN) PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN GURU PAI (PKB GPAI) DIREKTORAT PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ISLAM KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA 2021


i MATERI BIMTEK PEDAGOGIK 2 (MODEL PEMBELAJARAN) PROGRAM PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PPKB-GPAI) Hak Cipta dilindungi Undang-Undang All Rights Reserved Pengarah: Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani Penanggung jawab: Dr. H. Rohmat Mulyana Sapdi, M.Pd Penulis: Mustahdi, S.Ag., M.Ag. | [email protected] Dr. Nur Dewi Afifah, M.Pd | Diterbitkan oleh: Kementerian Agama Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Jl. Lapangan Banteng Barat No. 3-4 Jakarta Pusat


ii SAMBUTAN Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Pendidikan memiliki peran penting bagi penyiapan generasi bangsa. Sebagai ujung tombak transformasi nilai dan pengetahuan, guru mempunyai peran, fungsi, dan kedudukan yang sangat penting dalam mencapai visi pendidikan yaitu menciptakan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Dalam hal ini, peningkatan profesionalitas guru termasuk Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) menjadi sebuah keharusan. Profesi guru harus dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. GPAI seharusnya juga mampu menjadikan pendidikan agama sebagai instrumen transformasi sosial. Tanggung jawab GPAI tidak hanya berhenti dalam aspek kognitif akan tetapi lebih jauh dari itu, yaitu membentuk karakter peserta didik. Karena itu GPAI tidak boleh berhenti belajar dan mencukupkan pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya GPAI harus terus memperkuat dan meningkatkan kompetensi serta kualitasnya. GPAI juga dituntut untuk selalu meningkatkan kemampuan mengajarnya, hal ini agar pembelajaran yang ia bawakan dapat sesuai dengan perkembangan peserta didik, baik secara psikologis, teknologis, maupun sosiologis. Untuk itu, diperlukan sistem pembinaan dan pengembangan terhadap profesi guru secara terprogram dan berkelanjutan. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama terus berkomitmen meningkatkan kualitas GPAI. Hal ini diperlukan agar Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak mengalami stagnasi baik dari sisi kualitas guru, kurikulum, ataupun metode pembelajaran. Sebaliknya penyelenggaraan PAI perlu terus disempurnakan dengan metode dan pengetahuan terbaru. Komitmen ini diwujudkan dengan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Guru Pendidikan Agama Islam (PPKB-GPAI). PPKB-GPAI merupakan salah satu program yang dirancang untuk mewujudkan terbentuknya GPAI yang profesional dalam melaksanakan tugasnya sebagai ujung tombak keberhasilan pembelajaran. PPKB-GPAI merupakan inisiasi yang baik untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas GPAI di sekolah. Melalui PPKB-GPAI ini diharapkan menjadi sarana bagi terwujudnya GPAI yang kompeten dan profesional. Kami mengapresiasi terbitnya modul Bimtek PPKB-GPAI ini. Semoga buku ini dapat digunakan dengan baik sebagai panduan dalam rangkaian bimtek PPKB-GPAI dan


iii pada akhirnya secara keseluruhan dapat meningkatkan kualitas Pendidikan Agama Islam di Indonesia. Jakarta, September 2021


iv KATA PENGANTAR Dr. H. Rohmat Mulyana Sapdi, M.Pd Plt. Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah (SD, SMP, SMA, dan SMK) memiliki peran penting bagi penumbuhan perilaku beragama di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk. Oleh karena itu, Ikhtiar untuk meningkatkan kualitas Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) di sekolah terus dilakukan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. Hal ini diwujudkan dengan berbagai inovasi agar penyelenggaraan PAI di sekolah mengalami kemajuan secara berkelanjutan sesuai dengan tantangan dan perkembangan dunia pendidikan. Salah satunya adalah melalui Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Guru Pendidikan Agama Islam (PPKB-GPAI). PPKB-GPAI diproyeksikan sebagai bentuk peningkatan kualitas penyelenggaraan PAI, utamanya dari sisi kompetensi dan profesionalitas GPAI. Program yang dikembangkan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam ini merupakan wujud penguatan layanan standar kompetensi GPAI agar kualitas, kompetensi, dan karir mereka semakin meningkat. Secara umum tujuan PPKB-GPAI adalah untuk meningkatkan kualitas layanan PAI di sekolah dalam rangka peningkatan mutu PAI. Program ini difokuskan untuk pengembangan keprofesian GPAI yang mencakup 6 (enam) kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional, kompetensi spiritual, dan kompetensi leadership. Proses dan kegiatan dalam program ini dirancang untuk meningkatkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan profesional GPAI di sekolah yang dilaksanakan secara berjenjang dan berkesinambungan dalam rangka peningkatan kinerja dan pemenuhan kompetensi profesional GPAI di sekolah. Dalam implementasinya, PPKB-GPAI membutuhkan desain bimtek yang sesuai dengan standar kompetensi dan profesionalitas. Untuk itu diperlukan suatu modul bimtek yang dapat memandu proses bimtek PPKB-GPAI, sekaligus mengatur pelaksanaan bimtek secara tertib dan tersistem. Atas dasar itu, Direktorat Pendidikan Agama Islam menerbitkan buku Modul Bimtek PPKB-GPAI. Buku modul kali ini merupakan penyempurnaan (revisi) dari modul yang sebelumnya telah dipakai pada tahun 2018. Pada modul kali ini dijabarkan tentang integrasi moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di


v Sekolah sebagai salah satu isu sentral yang diarusutamakan oleh Kementerian Agama. Selayaknya sebuah modul, buku ini berisi dua bagian yaitu bagian desain bimtek dan bagian materi bimtek. Modul ini merupakan pegangan bagi pelatih dan peserta bimtek PPKB-GPAI. Dalam modul ini diuraikan secara terperinci tentang metode, bahan, dan konten penyelenggaraan bimtek PPKB-GPAI bagi Pelatih Nasional (PN), Pelatih Provinsi (PP), maupun Pelatih Daerah (PD) tingkat kabupaten/kota. Buku ini selain mempermudah proses bimtek, juga diharapkan dapat menjadi standar kualitas penyelenggaraan bimtek PPKB-GPAI, sehingga dapat berlangsung dengan baik dan lancar. Atas terselesaikannya modul ini, kami haturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya modul ini. Semoga dapat memberikan manfaat bagi semua pihak dan nantinya dapat meningkatkan mutu PAI. Amin. Jakarta, September 2021


vi DAFTAR ISI Sambutan Direktur Jenderal Penbdidikan Islam ................................................................... i Kata Pengantar Direktur PAI ...................................................................................................... iii Daftar Isi ............................................................................................................................................. v Materi Bimtek Pedagogik 2 Model Pembelajaran Bagian 1 Petunjuk Penggunaan Modul .....................................................................................................1 Bagian 2 Pendahuluan, Latar Belakang, Tujuan, Sasaran, dan Target ............................................2 Bagian 3 Materi Bimtek ....................................................................................................................................4 A. Materi 1 : Kebijakan Kementerian Agama .......................................................................4 B. Materi 2 : Konsep Model Pembelajaran ..........................................................................17 C. Materi 3 : Konsep dan Implementasi Kurikulum Merdeka .......................................17 D. Materi 4 : Analisis SKL, Capaian Pembelajaran, dan kaitannya dengan Model Pembelajaran ..........................................................................................17 E. Materi 5 : Model Pembelajaran Abad 21.........................................................................44 F. Materi 6 : Sintak Pembelajaran ..........................................................................................48 G. Materi 7 : Pembuatan Lembar Kerja (LK) ........................................................................51 H. Materi 8 : Praktik Pembelajaran .........................................................................................54 Bagian 4 Daftar Pustaka ................................................................................................................................82


7 BAGIAN 1 Petunjuk Penggunaan Modul Untuk mengoptimalkan penggunaan modul ini, disarankan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Pendahuluan Pendahuluan ini berisi latar belakang pentingnya guru Pendidikan Agama Islam selalu memperbaharui dan meningkatkan kompetensi melalui bimtek Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Guru Pendidikan Agama Islam (PKB GPAI). Kemudian dijelaskan pula pentingnya materi disajikan dalam modul ini. 2. Tujuan, Sasaran dan Target. Tujuan modul berisi informasi tentang pemahaman terhadap semua materi model pembelajaran yang akan disajikan dalam bimtek pedagogik 2 (model pembelajaran). Sasaran modul diperuntukkan bagi pihak penyelenggara Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan GPAI mulai dari tingkat pusat sampai daerah dan bagi GPAI bersangkutan. Target modul ini adalah tercapainya penguasaan materi bimtek pedagodik 2 (model pembelajaran) oleh Guru Pendidikan Agama Islam Pendidikan Dasar dan Menengah. 3. Materi Bimtek Materi bimtek pedagodik 2 (model pembelajaran) meliputi: Konsep Model Pembelajaran; Konsep dan Implementasi Kurikulum Merdeka, Analisis SKL, Capaian Pembelajaran, dan kaitanya dengan Model Pembelajaran; Model Pembelajaran abad 21 (4C, literasi, PPK, HOTS dan moderasi beragama); Sintaks Pembelajaran; Pembuatan Lembar Kerja (LK); dan Praktik Pembelajaran. Setiap materi bimtek dijelaskan secara rinci capaian pembelajaran (tujuan dan indikator keberhasilan), pokok-pokok materi, uraian materi, rangkuman, tugas, umpan balik dan tindak lanjut. 4. Daftar Pustaka Memuat semua sumber kutipan yang berupa buku atau sumber lain. Pustaka yang dimaksud dalam modul ini ialah semua sumber kutipan yang berupa tulisan dan sejenisnya.


8 BAGIAN 2 Pendahuluan 1. Latar Belakang Guru Pendidikan Agama Islam mempunyai kewajiban untuk selalu memperbaharui dan meningkatkan kompetensinya melalui kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan sebagai esensi pembelajar seumur hidup. Dalam rangka mendukung pengembangan pengetahuan dan keterampilannya, dikembangkan modul untuk pembinaan karier guru PAI yang berisi materi pedagogik 2 (model pembelajaran). Dengan adanya modul ini, memberikan kesempatan kepada guru PAI untuk belajar lebih aktif. Modul ini dapat digunakan oleh pelatih dan guru PAI sebagai bahan ajar dalam kegiatan bimtek. Modul yang berjudul “Materi Bimtek Model Pembelajaran” merupakan modul untuk bimtek pedagogik 2 pada PKB GPAI. Setiap materi bahasan dikemas dalam kegiatan pembelajaran yang memuat capaian pembelajaran (tujuan dan indikator keberhasilan), pokok-pokok materi, uraian materi, rangkuman, tugas, umpan balik dan tindak lanjut. 2. Tujuan Tujuan modul ini disusun agar dapat digunakan bagi pihak-pihak penyelenggara kegiatan bimtek PKB GPAI dan guru PAI untuk memahami materi bidang bimtek pedagogik 2 (model pembeajaran) yang meliputi: a. Konsep model pembelajaran; b. Konsep dan Implementasi Kurikulum Merdeka; c. Analisis SKL, Capaian Pembelajaran, dan kaitannya dengan model Pembelajaran; d. Model pembelajaran abad 21; e. Sintaks pembelajaran; f. Pembuatan Lembar Kerja (LK); g. Praktik pembelajaran. 3. Sasaran Modul ini diperuntukkan bagi pihak penyelenggara PKB-GPAI mulai dari tingkat pusat sampai daerah yang meliputi: a. Direktorat Pendidikan Agama Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI; b. Bidang PAI/PAKIS/PENDIS Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi;


9 c. Bidang PAI/PAKIS/PENDIS Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota; d. Kelompok Kerja Pengawas PAI (Pokjawas PAI) dan learning community di lingkup KKG dan MGMP PAI; e. Guru Pendidikan Agama Islam Pendidikan Dasar dan Menengah. 4. Target Target modul ini adalah tercapainya penguasaan materi dalam bimtek pedagodik 2 (model pembelajaran) oleh GPAI Pendidikan Dasar dan Menengah. Materi yang dimaksud adalah: a. Konsep model pembelajaran; b. Konsep dan Implementasi Kurikulum Merdeka; c. Analisis SKL, Capaian Pembelajaran, dan kaitannya dengan model Pembelajaran; d. Model pembelajaran abad 21; e. Sintaks pembelajaran; f. Pembuatan Lembar Kerja (LK); g. Praktik pembelajaran.


10 BAGIAN 3 Materi Bimtek A. Materi 1: Kebijakan Kementerian Agama 1. Capaian Pembelajaran a. Tujuan Tujuan mengikuti materi kebijakan Kementerian Agama ini adalah peserta bimtek dapat memahami secara utuh kebijakan Kementerian Agama serta mampu mengimplementasikan kebijakan tersebut. b. Indikator Keberhasilan Setelah mengikuti bimtek, peserta dapat: 1) Memahami esensi kebijakan Kementerian Agama 2) Termotivasi untuk mengimplementasikan kebijakan Kementerian Agama 3) Mengimbaskan kepada seluruh GPAI tentang kebijakan Kementerian Agama. 2. Pokok-pokok Materi Materi pada sesi Kebijakan Kementerian Agama ini adalah: 1) Penguatan PKB bagi Guru Pendidikan Agama Islam (PPKB-GPAI) 2) Pentingnya menjadi guru professional 3) Penguatan Moderasi Beragama (MB 3. Uraian Materi Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) guru adalah pengembangan kompetensi bagi guru sesuai dengan kebutuhan dan dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan. Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional guru dalam mengemban tugas sebagai pendidikan. Arah Pendidikan Nasional ditujukan untuk menghasilkan sumber daya manusia Indonesia yang memiliki karakter yaitu: 1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Masa Esa, 2) berakhlak mulia, 3) sehat, 4) berilmu, 5) cakap, 6) kreatif, 7) mandiri, 8) menjadi warga negara yang demokratis, dan 9) bertanggungjawab. Dalam rangka mewujudkan fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional tersebut, Pendidikan Agama Islam (PAI) pada PAUD-TK, SD/SDLB, SMP/SMPLB, SMA/SMALB, dan SMK yang selanjutnya di sebut PAI pada Sekolah, merupakan sub sistem dari Sistem Pendidikan Nasional memberikan penguatan pengetahuan dan keterampilan serta membentuk sikap, dan kepribadian


11 peserta didik dalam mengamalkan ajaran agama Islam. PAI pada sekolah merupakan program pendidikan yang berlandaskan pada aqidah yang berisi keyakinan tentang keesaan Allah Swt. sebagai sumber utama nilai-nilai kehidupan bagi manusia dan alam semesta. Nilai-nilai tersebut dapat dimanifestasikan melalui akhlak yang sekaligus merupakan landasan pengembangan nilai-nilai karakter bangsa Indonesia. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Guru Pendidikan Agama Islam (PPKB-GPAI) pada sekolah merupakan suatu keharusan bagi guru sebagai tenaga pendidik profesional sebagiamana diamanatkan perundang-undangan. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah No 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017, Peraturan Menteri Agama No. 38 tahun 2018 dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kinerja guru, Permendikbud No. 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-204. Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Tahun 2020-2024. Keputusan Menteri Agama Nomor 529 Tahun 2021 Tentang Kelompok Kerja Penguatan Program Moderasi Beragama Pada Kementerian Agama. B. Materi 2: Konsep Model Pembelajaran 4. Capaian Pembelajaran b. Tujuan Tujuan mengikuti materi konsep model pembelajaran adalah peserta bimtek dapat memahami konsep model pembelajaran berdasarkan teori belajar serta mengetahui dan memahami rumah model pembelajaran dan mampu mengaplikasikannya dalam pembelajaran. c. Indikator Keberhasilan Setelah mengikuti bimtek, peserta dapat: 1) Merumuskan model pembelajaran berdasarkan teori belajar; 2) Mengidentifikasi model pembelajaran berdasarkan teori belajar; 3) Mengklasifikasi model pembelajaran berdasarkan teori belajar; 4) Melakukan identifikasi terhadap model-model pembelajaran berdasarkan rumah model. 5. Pokok-pokok Materi Lingkup materi konsep model pembelajaran adalah: a. Konsep Model Pembelajaran; b. Sifat Teori Belajar dan Pembelajaran;


12 c. Rumpun Model Pembelajaran; d. Model Pembelajaran Berdasarkan Rumpunnya. 6. Uraian Materi Konsep Model Pembelajaran Teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungn yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan atau kemahiran berdasarkan alat indera dan pengalamannya. Oleh sebab itu apabila setelah belajar peserta didik tidak ada perubahan tingkah laku yang positif dalam arti tidak memiliki kecakapan baru serta wawasan pengetahuannya tidak bertambah maka dapat dikatakan bahwa belajarnya belum sempurna. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan. Jadi dapat dikatakan Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita semua memahami proses inhern yang kompleks dari belajar. 1) Teori Belajar Deskriptif dan Preskriptif Bruner (Dageng: 1989) mengemukakan bahwa teori pembelajaran adalah preskriptif dan teori belajar adalah deskriptif. Preskriptif karena tujuan utama teori pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal, sedangkan teori belajar bersifat deskriptif karena tujuan utama teori belajar adalah menjelaskan proses belajar. Teori belajar menaruh perhatian pada hubungan antara variabel-variabel yang menentukan hasil belajar, sedangkan teori pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar. Dengan kata lain teori pembelajaran berurusan dengan upaya mengontrol variabel yang dispesifikasikan dalam teori belajar agar dapat memudahkan belajar (C. Asri Budiningsih,2004). Reigeluth (1983 dalam Degeng, 1990) mengemukakan bahwa teori perspektif adalah goal oriented sedangkan teori deskriptif adalah goal free. Maksudnya adalah bahwa teori pembelajaran preskriptif dimaksudkan untuk mencapai tujuan, sedangkan teori belajar deskriptif dimaksudkan untuk memberikan hasil. Itulah sebabnya variabel yang diamati dalam mengembangkan teori belajar yang preskriptif adalah metode yang optimal untuk mencapai tujuan, sedangkan dalam pengembangan teori pembelajaran deskriptif, variabel


13 yang diamati adalah hasil belajar sebagai akibat dari interaksi antara metode dan kondisi. Dengan kata lain teori pembelajaran mengungkapkan hubungan antara kegiatan pembelajaran dengan proses psikologis dalam diri siswa, sedangkan teori belajar mengungkapkan hubungan antara kegiatan siswa dengan proses psikologis dalam diri siswa. Teori belajar Deskriptif dan Preskriptif memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari teori belajar deskriftif adalah: a) lebih terkonsep sehingga siswa lebih memahami materi yang akan disampaikan; b) mendorong siswa untuk mencari sumber pengetahuan sebanyak – banyaknya dalam mengerjakan suatu tugas. Sementara itu kelebihan teori belajar preskriptif adalah: a) lebih sistematis sehingga memiliki arah dan tujuan yang jelas; b) banyak memberi motivasi agar terjadi proses belajar; c) mengoptimalisasikan kerja otak secara maksimal. Kekurangan teori belajar deskriptif adalah kurang memperhatikan sisi psikologis siswa dalam mendalami suatu materi. Sementara kekurangan teori preskriptif adalah membutuhkan waktu cukup lama. 2) Teori Belajar Behavioristik Teori behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang yang diperoleh melalui pengalaman. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon). Teori Behavouristik didukung oleh beberapa teori dari para ahli pendidikan antara lain: a) Pavlov (Classical Conditioning) Pada awal abad 19 Pavlov mempelajari proses pencernaan pada anjing. Dia memperhatikan perubahan waktu dan kecepatan pengeluaran air liur pada anjing yang sudah dioperasi kelenjar air liurnya sehingga ketika mengeluarkan air liur dapat ditampung dan diobservasi. Pavlov meneliti apakah bunyi bel sebagai stimulus berkondisi dapat menimbulkan air liur sebagai respon berkondisi pada anjing, dan hasilnya adalah: (1) Apabila daging disajikan maka anjing mengeluarkan air liur (alami). (2) Apabila bunyi bel disajikan secara bersamaan dengan daging maka air liur tidak keluar. (3) Apabila perlakuan pada poin b) dilakukan secara berulang-ulang maka air liur anjing dapat keluar. (4) Apabila bunyi bel diganti dengan bunyi sirine maka anjing tetap mengeluarkan air liur. (5) Apabila bunyi bel disajikan sacara terus menerus tanpa diikuti oleh daging


14 maka lama-lama air liur tidak keluar hal ini disebut extinction (kepunahan). (6) Apabila stimulus disajikan secara bervariasi yaitu dengan penguatan berupa lampu merah disertai daging dan lampu hijau tidak disertai daging dan diberikan secara berulang-ulang maka anjing akan mengeluarkan air liur ketika melihat lampu merah walaupun tidak disertai daging karena sudah terbentuk respon berkondisi Kesimpulan penelitian Pavlov adalah bahwa dalam diri anjing akan terjadi penglondisian selektif berdasar penguatan selektif artinya anjing dapat membedakan stimulus yang disertai penguatan dan yang tidak disertai penguatan. Teori Pavlov ini disebut Classical Conditioning. b) Thorndike (connectionism) Thorndike menggunakan kucing sebagai hewan percobaan, Thorndike menghitung waktu yang dibutuhkan oleh kucing untuk dapat keluar dari kandang percobaan (Puzzle Box). Hasil dari eksperimen Thorndike adalah bahwa kucing dapat keluar dari kandang dengan jalan coba-coba (Trial and Error) Dari percobaan tersebut Thorndike mengemukakan tiga hukum belajar yaitu: Law of readiness. Agar proses belajar mancapai hasil yang baik maka diperlukan adanya kesiapan individu. Apabila individu dapat melakukan sesuatu dengan siap maka dia akan memperoleh kepuasan, jika terdapat hambatan maka akan menimbulkan kekecewaan. Law of Exercise. Hubungan antara stimulus dengan respon akan menjadi kuat apabila sering dilakukan latihan Law of effect. Apabila sesuatu memberikan hasil yang menyenangkan maka akan hubungan antara stimulus dan respon akan semakin kuat sebaliknya bila memberikan hasil yang tidak menyenangkan maka hubungan antara stimulus dan respon akan menurun. c) Skinner (Operant Conditioning) Skinner mempelajari gerak non reflek atau yang disengaja melalui percobaan tikus lapar yang dimasukkan dalam skinner box. Berdasarkan eksperimen tersebut Skinner mengemukakan dua prinsip umum yaitu: (1) Setiap respon yang diikuti penguatan maka akan cenderung diulang kembali; (2) Penguatan akan meningkatkan kecepatan respon. Prinsip teori belajar behavioristik adalah pengulangan dan penguatan (Reinforcement and Punishment). Konsekuensi yang menyenangkan akan memperkuat perilaku disebut penguatan (reinforcement). Sedangkan konsekuansi yang tidak menyenangkan akan memperlemah perilaku disebut hukuman (punishment). Pemberian stimulus positif yang diikuti respon disebut penguatan positif misalnya memuji siswa setelah dapat merespon pertanyaan guru. Sedangkan mengganti peristiwa yang dinilai negative untuk memperkuat


15 perilaku disebut penguatan negative, misalnya apabila peserta didik dapat mengerjakan tugas dengan sempurna maka diperbolehkan tidak mengikuti mid semester. Penguatan Primer adalah penguatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan fisik seperti air, makanan, udara, dan lain-lain. Sedangkan penguatan sekunder adalah penguatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan non fisik seperti pujian, pangkat, uang dan sejenisnya. Dalam pembelajaran Skinner menyatakan bahwa pemberian hadiah lebih efektif dalam merubah perilaku seseorang daripada menggunakan hukuman. Kelebihan teori belajar behavioristik adalah: (1) Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar. (2) Sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang, kelenturan, refleksi, daya tahan, dan sebagainya. menbutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas (3) Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Jika menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang bersangkutan. (4) Cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian. Kekurangan teori belajar behaviouristik adalah: (1) Sebuah konsekuensi bagi guru, untuk menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap. (2) Tidak setiap mata pelajaran bisa menggunakan metode ini. (3) Penerapan teori behavioristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. (4) Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. (5) Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa (6) Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.


16 (7) Penerapan teori behavioristik yang salah dalam suatu kondisi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah guru melatih dan menetukan apa yang harus dipelajari murid sehingga dapat menekan kreatifitas siswa. (8) Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan meghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif sehingga inisiatif siswa terhadap suatu permasalahan yang muncul secara temporer tidak bisa diselesaikan oleh siswa. 3) Teori Belajar Kognitivistik Teori ini lebih menekankan kepada proses belajar daripada hasil belajar. Bagi yang menganut aliran kognitivistik belajar tidak hanya melibatkan hubungan antara stimulus dan respons. Lebih dari itu belajar adalah melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Menurut teori kognitivistik, ilmu pengetahuan dibangun didalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak hanya berjalan terpisah-pisah, tetapi melalui proses mengalir, bersambung dan menyeluruh. Menurut psikologi kognitif belajar dipandang sebagai usaha untuk mengerti sesuatu. Usaha itu dilakukan secara aktif oleh siswa. Keaktifan itu dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, mencermati lingkungan, mempraktekkan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Para psikolog pendidikan kognitif berkeyakinan bahwa pengetahuan yang dimiliki sebelumnya sangat menentukan keberhasilan mempelajari informasi atau pengetahuan yang baru. Salah satu teori yang berasal dari psikolog kognitiv adalah teori pemrosesan informasi yang dikemukakan oleh Robert M. Gagne. Menurut teori ini belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi dalam otak manusia. Beberapa fungsi otak dalam proses kognitif antara lain: (a) Reseptor (alat indera): menerima rangsangan dari lingkungan dan mengubahnya menjadi rangsangan neural, memberikan symbol informasi yang diterimanya dan kemudian diteruskan. (b) Sensory register (penampungan kesan-kesan sensoris): terdapat pada syaraf pusat, fungsinya menampung kesan-kesan sensoris dan mengadakan seleksi sehingga terbentuk suatu kebulatan persepsi. Informasi yang masuk sebagian masuk ke dalam memori jangka pendek dan sebagian hilang dalam system. (c) Short term memory (memory jangka pendek): menampung hasil pengolahan perceptual dan menyimpannya. Informasi tertentu disimpan untuk menentukan maknanya. Memori jangka pendek dikenal juga dengan informasi memori kerja, kapasitasnya sangat terbatas, waktu


17 penyimpananya juga pendek. Informasi dalam memori ini dapat di transformasi dalam bentuk kode-kode dan selanjutnya diteruskan ke memori jangka panjang. (d) Long Term memory (memori jangka panjang): menampung hasil pengolahan yang ada di memori jangka pendek. Informasi yang disimpan dalam jangka panjang, bertahan lama, dan siap untuk dipakai kapan saja. (e) Response generator (pencipta respon): menampung informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dan mengubahnya menjadi reaksi jawaban. Menurut Piaget proses belajar sebenarnya terdiri atas tiga tahapan yaitu: (a) Asimilasi: Proses pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada. (b) Akomodasi: Proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru. (c) Equilibrasi: Penyesuaian yang berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Piaget juga mengemukakan bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Proses belajar yang dialami seorang anak berbeda pada tahap satu debfab tahap lainnya yang secara umum semakin tinggi tingkat kognitif seseorang maka semakin teratur dan juga semakin abstrak cara berpikirnya. Oleh karena itu guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif anak didiknya serta memberikan isi, metode, media pembelajaran yang sesuai dengan tahapannya. Menurut Ausubel siswa akan belajar dengan baik jika isi pelajarannya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa (advanced organizer), dengan demikian akan mempengaruhi pengaturan kemampuan belajar siswa. Advanced organizer adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi seluruh isi pelajaran yang akan dipelajari oleh siswa. Advanced organizer memberikan tiga manfaat yaitu: (a) Menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajari. (b) Berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara yang sedang dipelajari dan yang akan dipelajari. (c) Dapat membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah. Kelebihan teori kognitivistik adalah: (a)Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri. (b) Membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah


18 Kekurangan teori kognitivistik adalah: (a) Teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan. (b) Sulit di praktikkan khususnya di tingkat lanjut. (c) Beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas. 4) Teori Konstruktivistik Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih mengutamakan penyelesaian masalah, mengembangkan konsep, konstruksi solusi dan algoritma ketimbang menghafal prosedur dan menggunakannya untuk memperoleh satu jawaban benar. Pembelajaran lebih dicirikan oleh aktivitas eksperimentasi, pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan modelmodel yang dibangkitkan oleh siswa sendiri. Secara umum, terdapat lima prinsip dasar yang melandasi kelas konstruktivistik, yaitu: (1) meletakkan permasalahan yang relevan dengan kebutuhan siswa, (2) menyusun pembelajaran di sekitar konsep-konsep utama, (3) menghargai pandangan siswa, (4) materi pembelajaran menyesuaikan terhadap kebutuhan siswa, (5) menilai pembelajaransecara kontekstual. Secara tradisional, pembelajaran telah dianggap sebagai bagian “menirukan” suatu proses yang melibatkan pengulangan siswa, atau meniru-niru informasi yang baru disajikan dalam laporan atau quis dan tes. Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih diutamakan untuk : (a) Membantu siswa dalam menginternalisasi, membentuk kembali, atau mentransformasi informasi baru. (b) Menghargai otonomi dan inisiatif siswa. (c) Menggunakan data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis. (d) Mengutamakan kinerja siswa berupa mengklasifikasi, mengananalisis, memprediksi, dan mengkreasi dalam mengerjakan tugas. (e) Menyertakan respon siswa dalam pembelajaran dan mengubah model atau strategi pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi pelajaran. (f) Menggali pemahaman siswa tentang konsep-konsep yang akan dibelajarkan sebelum sharing pemahamannya tentang konsep-konsep tersebut. (g) Menyediakan peluang kepada siswa untuk berdiskusi baik dengan dirinya maupun dengan siswa yang lain. (h) Mendorong sikap inquiry siswa dengan pertanyaan terbuka yang menuntut mereka untuk berpikir kritis dan berdiskusi antar temannya. (i) Mengelaborasi respon awal siswa. (j) Menyertakan siswa dalam pengalaman-pengalaman yang dapat menimbulkan kontradiksi terhadap hipotesis awal mereka dan kemudian mendorong diskusi.


19 (k) Menyediakan kesempatan yang cukup kepada siswa dalam memikirkan dan mengerjakan tugas-tugas. (l) Menumbuhkan sikap ingin tahu siswa melalui penggunaan model pembelajaran yang beragam. 5) Teori Belajar Humanistik Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaikbaiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah: (a) Proses pemerolehan informasi baru. (b) Penyampaian informasi ini pada individu. Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain adalah: Arthur W. Combs, Abraham Maslow, Bloom dan Krathwohl, Kolb, Honey dan Mumford, Habermas, dan Carl Rogers. (a) Abraham Maslow Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal: (1) Suatu usaha yang positif untuk berkembang (2) Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu. Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, berfungsinya semua kemampuan, kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self). Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hierarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan rasa aman dan


20 seterusnya. Hirarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar siswa belum terpenuhi. (b) Bloom dan Krathwohl Bloom dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai oleh siswa tercakup dalam tiga kawasan yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. (c) Kolb Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat tahap yaitu: (1) Pengalaman konkret: pada tahap dini seseorang hanya mampu ikut mengalami suatu kejadian inilah terjadi tahap awal proses pembelajaran. (2) Pengalaman aktif dan reflektif: siswa lambat laun melakukan pengamatan aktif terhadap kejadian itu, dan mulai berusaha memikirkan serta memahaminya. (3) Konseptualisasi: siswa mulai belajar membuat abstrak atau teori tentang hal yang pernah diamatinya. (4) Eksperimentasi aktif: siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu autran umum ke situasi yang baru. Aplikasi teori Humanistik menunjuk pada ruh atau spirit proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa dengan memberikan motivasi dan kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajar daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah: (a) Merumuskan tujuan belajar yang jelas (b) Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas, jujur dan positif. (c) Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri. (d) Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri (e) Siswa didorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukan apa yang diinginkan dan menanggung


21 resiko dari perilaku yang ditunjukkan. (f) Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya. (g) Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya. (h) Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa. Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku. Kelebihan teori humanistik antara lain: (a) Teori ini cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. (b) Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. (c) Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang berlaku. Kekurangan teori humanistik antara lain: (a) Siswa yang tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan dalam proses belajar. (b) Siswa yang tidak aktif dan malas belajar akan merugikan diri sendiri dalam proses belajar. 6) Rumpun Model Pembelajaran Pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik, antara peserta didik dan pendidik, dan antara peserta dan sumber belajar lainnya pada suatu lingkungan belajar yang berlangsung secara edukatif, agar peserta didik dapat membangun sikap, pengetahuan dan keterampilannya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga penilaian.


22 Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran yang disusun secara sistematis untuk mencapai tujuan belajar yang menyangkut sintaksis, sistem sosial, prinsip reaksi dan sistem pendukung (Joice&Wells). Sedangkan menurut Arends dalam Trianto, mengatakan “model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Prinsip-prinsip pembelajaran meliputi: (a) Peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu, (b) Peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar, (c) Proses pembelajaraan menggunakan pendekatan ilmiah, (d) Pembelajaran berbasis kompetensi, (e) Pembelajaran terpadu, (f) Pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen yang memiliki kebenaran multi dimensi, (g) Pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif, (h) Peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan antara hardskills dan soft-skills, (i) Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat, (j) Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberiketeladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas pesertadidik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani), (k) Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat, (l) Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran, (m) Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik, dan (n) Suasana belajar menyenangkan dan menantang. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Tujuan penggunaan model pembelajaran sebagai strategi bagaimana pembelajaran yang dilaksanakan dapat membantu peserta didik mengembangkan dirinya baik berupa informasi, gagasan, keterampilan nilai dan cara-cara berpikir dalam meningkatkan kapasitas berpikir secara jernih, bijaksana dan membangun keterampilan sosial serta komitmen (Joice & Wells). Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yaitu:


23 a) Rasional teoretis logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya. Model pembelajaran mempunyai teori berfikir yang masuk akal. Maksudnya para pencipta atau pengembang membuat teori dengan mempertimbangkan teorinya dengan kenyataan sebenarnya serta tidak secara fiktif dalam menciptakan dan mengembangankannya. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai). Model pembelajaran mempunyai tujuan yang jelas tentang apa yang akan dicapai, termasuk di dalamnya apa dan bagaimana siswa belajar dengan baik serta cara memecahkan suatu masalah pembelajaran. b) Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil. Model pembelajaran mempunyai tingkahlaku mengajar yang diperlukan sehingga apa yang menjadi cita-cita mengajar selama ini dapat berhasil dalam pelaksanaannya. c) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. Model pembelajaran mempunyai lingkungan belajar yang kondusif serta nyaman, sehingga suasana belajar dapat menjadi salah satu aspek penunjang apa yang selama ini menjadi tujuan pembelajaran. (Trianto, 2010). d) Memilih atau menentukan model pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kondisi Capaian Pembelajaran, tujuan yang akan dicapai dalam pengajaran, sifat dari materi yang akan diajarkan, dantingkat kemampuan peserta didik. Di samping itu, setiap model pembelajaran mempunyai tahap-tahap (sintaks) yang dapat dilakukan siswa dengan bimbingan guru. Pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik sebagaimana yang diterapkan pada kurikulum 2013, sebaiknya dipadukan secara sinkron dengan langkah/tahapan kerja (syntax) modelpembelajaran. 7) Model pembelajaran dalam Kurikulum 2013


24 Model pembelajaran dalam Kurikulum 2013 Kurikulum 2013 menggunakan 3 (tiga) model pembelajaran utama (Permendikbud No. 103 Tahun 2014) yang diharapkan dapat membentuk perilaku saintifik, perilaku sosial serta mengembangkan rasa keingintahuan. Ketiga model tersebut adalah: modelPembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning), model Pembelajaran Berbasis Projek (Project Based Learning), dan model Pembelajaran Melalui Penyingkapan/Penemuan (Discovery/Inquiry Learning). Disamping model pembelajaran di atas dapat juga dikembangkan model pembelajaran Production Based Education (PBE) sesuai dengan karakteristik pendidikan menengah kejuruan. Tidak semua model pembelajaran tepat digunakan untuk semua KD/materi pembelajaran. Model pembelajaran tertentu hanya tepat digunakan untuk materi pembelajaran tertentu. Sebaliknya materi pembelajaran tertentu akan dapat berhasil maksimal jika menggunakan model pembelajaran tertentu. Oleh karena itu guru harus menganalisis rumusan pernyataan setiap KD, kemudian menentukan model pembelajaran yang tepat untuk mencapai komptensi. Untuk menentukan model pembelajaran yang tepat dapat merujuk pada rambu-rambu berikut: Rambu-rambu penentuan model penyingkapan/penemuan (Discovery/ Inquiry Learning): a) Pernyataan KD-3 dan KD-4 mengarah ke pencarian atau penemuan; b) Pernyataan KD-3 lebih menitikberatkan pada pemahaman pengetahuan faktual, konseptual, procedural, dan dimungkinkan sampai metakognitif; c) Pernyataan KD-4 pada taksonomi mengolah dan menalar. Rambu-rambu penemuan model hasil karya (Problem Based Learning dan Project Based Learning): a) Pernyataan KD-3 dan KD-4 mengarah pada hasil karya berbentuk jasa atau produk; b) Pernyataan KD-3 pada bentuk pengetahuan metakognitif; c) Pernyataan KD-4 pada taksonomi menyaji dan mencipta, dan d) Pernyataan KD-3 dan KD-4 yang memerlukan persyaratan penguasaan pengetahuan konseptual dan prosedural. Masing-masing model pembelajaran tersebut memiliki urutan langkah kerja (syntax) tersendiri, yang dapat diuraikan sebagai berikut.


25 a) Model Pembelajaran Penyingkapan (Discovery / Inquiry Learning) Model pembelajaran penyingkapan (Discovery Learning) adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatingconcepts and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219). (1) Sintak model Discovery Learning (a) Pemberian rangsangan (Stimulation); (b)Pernyataan/Identifikasi masalah (Problem Statement); (c) Pengumpulan data (Data Collection); (d)Pembuktian (Verification), dan (e) Menarik simpulan/generalisasi (Generalization). (2) Sintak model Inquiry Learning Terbimbing Model pembelajaran yang dirancang membawa peserta didik dalam proses penelitian melalui penyelidikan dan penjelasan dalam setting waktu yang singkat (Joice & Wells, 2003). Model pembelajaran Inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu secara sistematis kritis dan logis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri temuannya.


26 Sintak/tahap model inkuiri meliputi: (a) Orientasi masalah; (b)Pengumpulan data dan verifikasi; (c) Pengumpulan data melalui eksperimen; (d)Pengorganisasian dan formulasi eksplanasi, dan (e) Analisis proses inkuiri. b) Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Merupakan pembelajaran yang menggunakans berbagai kemampuan berpikir dari peserta didik secara individu maupun kelompok serta lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga bermakna, relevan, dan kontekstual (Tan Onn Seng, 2000). Tujuan PBL adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan konsep-konsep pada permasalahan baru/nyata, pengintegrasian konsep High Order Thinking Skills (HOT’s), keinginan dalam belajar, mengarahkan belajar diri sendiri dan keterampilan (Norman and Schmidt). Berikut adalah beberapa model sintak Problem Based Learning: (1) Sintak model Problem Based Learning dari Bransford and Stein (dalam Jamie Kirkley, 2003:3) terdiri atas: (a) Mengidentifikasi masalah; (b)Menetapkan masalah melalui berpikir tentang masalah dan menyeleksi informasi-informasi yang relevan; (c) Mengembangkan solusi melalui pengidentifikasian alternative alternatif, tukar-pikiran dan mengecek perbedaan pandang; (d)Melakukan tindakan strategis, dan (e) Melihat ulang dan mengevaluasi pengaruh-pengaruh dari solusi yang dilakukan.


27 (2) Sintak model Problem Solving Learning Jenis Trouble Shooting (David H. Jonassen, 2011:93) terdiri atas: (a) Merumuskan uraian masalah; (b)Mengembangkan kemungkinan penyebab; (c) Mengetes penyebab atau proses diagnosis, dan (d)Mengevaluasi. c) Model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Model pembelajaran PJBL merupakan pembelajaran dengan menggunakan proyek nyata dalam kehidupan yang didasarkan pada motivasi tinggi, pertanyaan menantang, tugas-tugas atau permasalahan untuk membentuk penguasaan kompetensi yang dilakukan secara kerjasama dalam upaya memecahkan masalah (Barel, 2000 and Baron 2011). Tujuan Project Based Learning adalah meningkatkan motivasi belajar, team work, keterampilan kolaborasi dalam pencapaian kemampuan akademik level tinggi/taksonomi tingkat kreativitas yang dibutuhkan pada abad 21 (Cole & Wasburn Moses, 2010). Sintak/tahapan model pembelajaran Project Based Learning, meliputi: (1) Penentuan pertanyaan mendasar (Start with the Essential Question); (2) Mendesain perencanaan proyek; (3) Menyusun jadwal (Create a Schedule); (4) Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project); (5) Menguji hasil (Assess the Outcome), dan (6) Mengevaluasi pengalaman (Evaluate the Experience).


28 Di samping tiga model pembelajaran di atas, di SMK dapat digunakan model Production Based Training (PBT) untuk mendukung pengembangan Teaching Factory pada mata pelajaran pengembangan produk kreatif. Model Pembelajaran Production Based Training merupakan proses pendidikan dan bimtek yang menyatu pada proses produksi, dimana peserta didik diberikan pengalaman belajar pada situasi yang kontekstual mengikuti aliran kerja industri mulai dari perencanaan berdasarkan pesanan, pelaksanaan dan evaluasi produk/kendali mutu produk, hingga langkah pelayanan pasca produksi.Tujuan penggunaan model pembelajaranPBT adalah untuk menyiapkan peserta didik agar memiliki kompetensi kerja yang berkaitan dengan kompetensi teknisserta kemampuan kerjasama sesuai tuntutan organisasi kerja. Sintaks/tahapan model pembelajaran Production Based Trainning meliputi: (1) Merencanakan produk; (2) Melaksanakan proses produksi; (3) Mengevaluasi produk (melakukan kendali mutu), dan (4) Mengembangkan rencana pemasaran. (G. Y. Jenkins, Hospitality 2005). Kurikulum 2013, mendorong proses pembelajaran dilakukan dengan pendekatan saintifik. Proses pembelajaran yang mengacu pada pendekatan saintifik, meliputi lima langkah sebagai berikut: 1. Mengamati, yaitu kegiatan siswa mengidentifikasi melalui indera penglihat (membaca, menyimak), pembau, pendengar, pengecap dan peraba pada waktu mengamati suatu objek dengan ataupun tanpa alat bantu. Alternatif kegiatan mengamati antara lain observasi lingkungan, mengamati gambar, video, tabel dan grafik data, menganalisis peta, membaca berbagai informasi yang tersedia di media masa dan internet maupun sumber lain. Bentuk hasil belajar dari kegiatan mengamati adalah siswa dapat mengidentifikasi masalah. 2. Menanya, yaitu kegiatan siswa mengungkapkan apa yang ingin diketahuinya baik yang berkenaan dengan suatu objek, peristiwa, suatu proses tertentu. Dalam kegiatan menanya, siswa membuat pertanyaan secara individu atau kelompok tentang apa yang belum diketahuinya. Siswa dapat mengajukan pertanyaan kepada guru, narasumber, siswa lainnya dan atau kepada diri sendiri dengan bimbingan guru hingga siswa dapat mandiri dan menjadi kebiasaan. Pertanyaan dapat diajukan secara lisan dan tulisan serta harus dapat membangkitkan motivasi siswa untuk tetap aktif dan gembira. Bentuknya dapat berupa kalimat pertanyaan dan kalimat hipotesis. Hasil belajar dari kegiatanmenanya adalah siswa dapat merumuskan


29 masalah dan merumuskan hipotesis. 3. Mengumpulkan data, yaitu kegiatan siswa mencari informasi sebagai bahan untuk dianalisis dan disimpulkan. Kegiatan mengumpulkan data dapat dilakukan dengan cara membaca buku, mengumpulkan data sekunder, observasi lapangan, uji coba (eksperimen), wawancara, menyebarkan kuesioner, dan lain-lain. Hasil belajar dari kegiatan mengumpulkan data adalah siswa dapat menguji hipotesis. 4. Mengasosiasi, yaitu kegiatan siswa mengolah data dalam bentuk serangkaian aktivitas fisik dan pikiran dengan bantuan peralatan tertentu. Bentuk kegiatan mengolah data antara lain melakukan klasifikasi, pengurutan (sorting), menghitung, membagi, dan menyusun data dalam bentuk yang lebih informatif, serta menentukan sumber data sehingga lebih bermakna. Kegiatan siswa dalam mengolah data misalnya membuat tabel, grafik, bagan, peta konsep, menghitung, dan pemodelan. Selanjutnya siswa menganalisis data untuk membandingkan ataupun menentukan hubungan antara data yang telah diolahnya dengan teori yang ada sehingga dapat ditarik simpulan dan atau ditemukannya prinsip dan konsep penting yang bermakna dalam menambah skema kognitif, meluaskan pengalaman, dan wawasan pengetahuannya. Hasil belajar dari kegiatan menalar/ mengasosiasi adalah siswa dapat menyimpulkan hasil kajian dari hipotesis. 5. Mengomunikasikan, yaitu kegiatan siswa mendeskripsikan dan menyampaikan hasil temuannya dari kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan dan mengolah data, serta mengasosiasi yang ditujukan kepada orang lain baik secara lisan maupun tulisan dalam bentuk diagram, bagan, gambar, dan sejenisnya dengan bantuan perangkat teknologi sederhana dan atau teknologi informasi dan komunikasi. Hasil belajar dari kegiatan mengomunikasikan adalah siswa dapat memformulasikan dan mempertanggungjawabkan pembuktian hipotesis. 7. Rangkuman Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan. Jadi dapat dikatakan Teori belajar merupakan upaya untuk mendeskripsikan bagaimana manusia belajar, sehingga membantu kita semua memahami proses inhern yang kompleks dari belajar. Adapunteori belajar terdiri dari 5, yaitu: a) Teori belajar Desktiptif dan preskriptif b) Teori belajar Behavioristik


30 c) Teori belajar Kognitifistik d) Teori belajar Konstrukstivistik e) Teori belajar Humanistik Adapun rumpun model pembelajaran yang bisa dikembangkan terdiri dari 3 yaitu: a) Inquri dan discovery b) Problem based learning c) Project based learning d) Saintific based learning 8. Tugas Untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi 1 Konsep model pembelajaran, maka peserta menjawab pertanyaan berikut: a. Jelaskan teori-teori pembelajaran! b. Identifikasi model-model pembelajaran berdasarkan teori belajar? c. Identifikasi model-model pembelajarn berdasarkan rumah/rumpungnya masing-masing! 9. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Setelah menyelesaikan latihan dan tugas dalam modul, melalui Reflective Thinking, peserta diminta menuliskan pada selembar kertas tentang apa saja tujuan mengetahui teori dan sikap belajar serta rumah dan rumpung model pembelajarn. C. Materi 3: Konsep dan Implemantasi Kurikulum Merdeka 1. Capaian Pembelajaran b. Tujuan Tujuan mengikuti materi Konsep dan Implemantasi Kurikulum Merdeka adalah: 1) Peserta mampu memahami konsep kurikulum merdeka. 2) Peserta dapat menganalisis konsep kurikulum berdasarkan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 3) Peserta mampu mengimplementasi kurikulum merdeka. c. Indikator Keberhasilan Setelah mengikuti bimtek, peserta dapat: 1) Memahami esensi Merdeka Belajar


31 2) Mengidentifikasi konsep Merdeka Belajar 3) Mengimplementasikan Merdeka Belajar dalam proses pembelajaran 2. Pokok-pokok Materi Lingkup materi konsep dan Implementasi Kurikulum Merdeka adalah: a) Latar belakang perubahan kurikulum Merdeka Belajar b) Konsep kurikulum Merdeka Belajar c) Implementasi kurikulum Merdeka Belajar 3. Uraian Materi Kurikulum Merdeka a. Pendahuluan Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang memberikan kebebasan dan otonomi kepada lembaga pendidikan, dan merdeka dari birokratisasi, serta guru dibebaskan dari birokrasi yang berbelit-belit serta peserta didik diberikan kebebasan untuk memilih bidang yang mereka sukai. Esensi dari Kurikulum Merdeka ini adalah Merdeka Belajar, yakni konsep yang dibuat agar siswa bisa mendalami minat dan bakatnya masing-masing. Misalnya, jika dua anak dalam satu keluarga memiliki minat yang berbeda, maka tolok ukur yang dipakai untuk menilai tidak sama. Kemudian anak juga tidak bisa dipaksakan mempelajari suatu hal yang tidak disukai. "Kita sebagai orangtua tentu tidak bisa memaksakan anak kita yang menyukai seni untuk belajar secara mendalam komputer dan sebaliknya," kata Nadiem. Nadiem mengatakan, anak itu pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu dan keinginan belajar. "Jadi tidak ada anak pemalas atau anak yang tidak bisa," tegasnya. b. Latar Belakang Landasan empiris dan kerangka konseptual yang digunakan dalam merumuskan kebijakan kurikulum dan merancang Kurikulum Merdeka adalah kajian yang juga mencakup strategi implementasi kurikulum baru, sebuah isu yang sangat mempengaruhi keberhasilan dari setiap kebijakan pendidikan. Krisis pembelajaran yang telah terjadi sekian lama tersebut, diperburuk dengan Pandemi Covid-19 yang seketika membawa perubahan pada wajah


32 pendidikan di Indonesia. Perubahan yang paling nyata tampak pada proses pembelajaran yang awalnya bertumpu pada metode tatap muka beralih menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Intensitas belajar mengajar juga mengalami penurunan yang signifikan, baik jumlah hari belajar dalam seminggu maupun rata-rata jumlah jam belajar dalam sehari. Selama PJJ, umumnya siswa belajar 2-4 hari dalam seminggu terutama siswa pada tingkat SMP, SMA, dan SMK sehinga mengakibatkan learning loss. Pola keberagaman dalam proses pembelajaran ini selanjutnya memberi pengaruh pada semakin melebarnya kesenjangan hasil pembelajaran siswa selama pandemi. Terkait hal ini, temuan The SMERU Research Institute (2020) menunjukkan dua hal. Pertama, analisis ketimpangan belajar di dalam kelas menunjukkan bahwa siswa yang memiliki akses terhadap perangkat digital, memiliki guru adaptif, pada kondisi sosial ekonomi lebih tinggi, serta mempunyai orang tua yang aktif berkomunikasi dengan guru cenderung memiliki kemampuan di atas rata-rata. Kedua, ketimpangan hasil belajar antar siswa dalam satu kelas pun diprediksi akan semakin lebar. Apabila tidak ada intervensi yang mendorong guru untuk menyusun pembelajaran yang memperhatikan keragaman kemampuan belajar siswa, maka siswa dengan kemampuan rendah akan semakin tertinggal dari siswa lainnya. Studi INOVASI dan Puslitjak (2020) menunjukkan risiko yang lebih besar dari semakin melebarnya kesenjangan pembelajaran ini. Menurut studi tersebut, “pembelajaran selama COVID-19 memiliki dampak yang lebih besar pada beberapa kelompok siswa, di mana siswa yang berasal dari keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi lebih rendah lebih berisiko tidak terdaftar lagi atau tidak lagi berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Antisipasi dampak pandemi terhadap ketertinggalan pembelajaran (learning loss) dan kesenjangan pembelajaran (learning gap) sebenarnya telah dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud /saat ini Kemendikbudristek). Pada Agustus 2020, Kemendikbud menerbitkan kurikulum darurat pada satuan pendidikan dalam kondisi khusus. Kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) ini pada pada intinya merupakan penyederhanaan dari kurikulum nasional. Pada kurikulum darurat dilakukan pengurangan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran sehingga guru dan siswa dapat berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya.


33 Guru juga didorong untuk melakukan asesmen diagnostik secara berkala untuk mendiagnosis kondisi kognitif (kemampuan dan capaian pembelajaran siswa) dan kondisi non-kognitif (aspek psikologis dan kondisi emosional siswa) sebagai dampak dari PJJ. Dengan asesmen diagnostik ini diharapkan guru dapat memberikan pembelajaran yang tepat sesuai kondisi dan kebutuhan siswa mereka. Setelah berjalan hampir satu tahun ajaran, Kemendikbud telah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum darurat. Hasil evaluasi tersebut secara umum menunjukkan bahwa siswa pengguna kurikulum darurat mendapatkan hasil asesmen yang lebih baik daripada pengguna Kurikulum 2013 secara penuh, terlepas dari latar belakang sosial ekonominya. Penggunaan kurikulum darurat secara signifikan juga mampu mengurangi indikasi learning-loss selama pandemi baik untuk capaian literasi maupun numerasi Hasil positif di atas menunjukkan bahwa intervensi kurikulum darurat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap upaya pemulihan pembelajaran akibat pandemi COVID-19. Namun disisi lain, dapat dikatakan bahwa intervensi ini merupakan kebijakan bumper untuk menanggulangi potensi learning loss dan learning gap selama pandemi. Dibutuhkan pengembangan kurikulum yang secara komprehensif mampu menghadapi krisis pembelajaran yang menjadi permasalahan akut di Indonesia. Selama dua tahun ke depan, Kurikulum Merdeka akan terus disempurnakan berdasarkan evaluasi dan umpan balik dari berbagai pihak. Sejalan dengan proses evaluasi tersebut, naskah ini juga akan mengalami revisi dan pembaruan secara berkala. c. Konsep Kurikulum Merdeka Kurikulum Merdeka merupakan terobosan Kemendikbud-Ristek untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul melalui kebijakan yang menguatkan peran seluruh insan pendidikan. Kebijakan ini diimplementasikan melalui empat upaya perbaikan. 1. Pertama, perbaikan pada infrastruktur dan teknologi. 2. Kedua, perbaikan kebijakan, prosedur, dan pendanaan, serta pemberian otonomi lebih bagi satuan pendidikan. 3. Ketiga, yakni perbaikan kepemimpinan, masyarakat, dan budaya. 4. Keempat, melakukan perbaikan kurikulum, pedagogi, dan asesmen. Kurikulum Merdeka dibagi dalam beberapa episode. Dimulai dari episode pertama, yaitu menghadirkan empat pokok kebijakan agar paradigma


34 tentang cara lama dalam belajar dan mengajar dapat diubah menuju kemajuan. Beberapa wujud dari empat pokok kebijakan itu adalah penghapusan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) dan mengganti Ujian Nasional (UN) menjadi Asesmen Nasional. Kemudian, ada juga kebijakan penyederhanaan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) serta kebijakan penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang lebih fleksibel. Kurikulum Merdeka dirancang sebagai bagian dari upaya KemendikbudRistek untuk mengatasi krisis belajar yang telah lama kita hadapi, dan menjadi semakin parah karena pandemi. Krisis ini ditandai oleh rendahnya hasil belajar peserta didik, bahkan dalam hal yang mendasar seperti literasi membaca. Krisis belajar juga ditandai oleh ketimpangan kualitas belajar yang lebar antar wilayah dan antar kelompok sosial-ekonomi. Tentu, pemulihan sistem pendidikan dari krisis belajar tidak bisa diwujudkan melalui perubahan kurikulum saja. Diperlukan juga berbagai upaya penguatan kapasitas guru dan kepala sekolah, pendampingan bagi pemerintah daerah, penataan sistem evaluasi, serta infrastruktur dan pendanaan yang lebih adil. Namun kurikulum juga memiliki peran penting. Kurikulum berpengaruh besar pada apa yang diajarkan oleh guru, juga pada bagaimana materi tersebut diajarkan. Karena itu, kurikulum yang dirancang dengan baik akan mendorong dan memudahkan guru untuk mengajar dengan lebih baik. d. Struktur Kurikulum Merdeka Kurikulum merdeka memiliki dua stuktur khusus yakni: kegiatan yang bersifat intrakurikuler dan kegiatan yang bersifat projek baik secara perseorangan maupun kelompok yang proses penerapannya diserahkan sepenuhnya kepada sekolah maupun tenaga pendidik tiap mata pelajarannya. Kurikulum merdeka juga memiliki perbedaan dalam hal waktu atau jam pelajaran. Jika kurikulum 2013 lebih menghitung jumlah jam pelajaran berdasarkan hitungan minggu, maka Kurikulum Merdeka menghitung jam pelajaran berdasarkan tahun. Dengan waktu jam pelajaran yang berdasarkan tahun ini akan memudahkan pihak sekolah untuk mengatur aktivitas pembelajaran, contohnya: mata pelajaran yang belum diajarkan pada semester genap bisa diajarkan pada semester ganjil demikian pula sebaliknya atau menyesuaikan jam pelajaran setiap tahunnya . Selanjutnya, perbedaan Kurikulum Merdeka dengan kurikulum 2013 bahwa tidak lagi dikenal istilah kompetensi inti maupun kompetensi dasar


35 melainkan diganti dengan capaian pembelajaran yang ditandai dengan hasil yang telah dicapai dalam bentuk sikap maupun keterampilan siswa dalam satu kesatuan yang saling terkait erat dan berdampak langsung pada kompetensi tiap siswanya. Kurikulum baru ini, memiliki perbedaan secara khusus di tiap jenjang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga jenjang sekolah menengah atas, berikut penjelasannya: 1) Sekolah Dasar (SD) Perbedaan di Sekolah Dasar Pada kurikulum 2013 untuk sekolah dasar, terdapat pemisahan antara mata pelajaran IPA dan IPS. Sedangkan, pada Kurikulum Merdeka, kedua mata pelajaran ini digabung menjadi satu mata pelajaran menjadi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) tujuan sebagai persiapan ketika siswa melanjutkan pendidikan di level sekolah menengah pertama (SMP). 2) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Di Sekolah SMP perbedaan mencolok antara kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka di jenjang ini, adalah pada mata pelajaran informatika, jika sebelumnya lebih bersifat pilihan, maka pada Kurikulum Merdeka mata pelajaran ini dianggap wajib. 3) Sekolah Menengah Atas (SMA) Di SMA perbedaannya adalah Jika pada kurikulum 2013, siswa baru harus memilih jurusan sementara, maka pada Kurikulum Merdeka pemilihan jurusan atau peminatan dimulai saat siswa memasuki kelas 11 yang dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan konsultasi antara wali kelas, guru BK serta orang tua siswa. Kurikulum baru ini juga memiliki keunggulan jika disbanding dengan kurikulum sebelumnya, yaitu: 1) Lebih sederhana dan mendalam Fokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Belajar menjadi lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru dan menyenangkan. 2) Lebih merdeka Merdeka bagi Peserta didik memiliki arti yaitu Tidak ada program peminatan di SMA, peserta didik memilih mata pelajaran sesuai minat, bakat, dan aspirasinya. Merdeka bagi Guru yaitu Guru mengajar sesuai tahap capaian dan perkembangan peserta didik.


36 Dan merdeka untuk Sekolah maksudnya yaitu sekolah memiliki wewenang untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik. 3) Lebih relevan dan Interaktif Pembelajaran melalui kegiatan projek ( project based learning ) memberikan kesempatan lebih luas kepada peserta didik untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual misalnya isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi Profil Pelajar Pancasila yang relevan dengan kehidupan sehari- hari siswanya. e. Implementasi Kurikulum Merdeka Kemendikbud-Ristek melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) menjelaskan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka tidak sesulit yang dibayangkan masyarakat. Kurikulum Merdeka ini lebih berfokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Sifatnya lebih mendekatkan pada kemampuan masingmasing siswa. Menerapkan Kurikulum Merdeka, Pembelajaran Makin Menyenangkan Dia memaparkan, esensi Kurikulum Merdeka memberikan kemerdekaan kepada guru untuk menentukan cara mengajar yang tepat. Selain itu guru bisa membuat materi esensialnya sesuai dengan yang ingin dicapai. Dari sisi siswa, mereka punya ruang seluas-luasnya untuk meng-explore potensi yang dimilikinya. Kurikulum Merdeka lebih relevan dan interaktif yang mana pembelajarannya melalui kegiatan proyek. "Siswa diberikan kesempatan lebih luas untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual. Misalnya, isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi profil pelajar Pancasila. Untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, guru harus kenal betul muridnya. Guru harus mempunyai peta kemampuan setiap siswanya. Jadi, ketika masuk sekolah, guru jangan langsung menyodorkan siswa dengan materi yang sudah disusun dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Namun, masuk dulu ke dunia anaknya. "Kenali dulu siswanya, apa yang sudah dikuasai anak. Setelah punya peta kemampuan masing-masing anak, guru bisa meng-create proses pembelajaran. Anak yang belum menguasai materi sebelumnya harus tuntas terlebih dahulu bisa melalui kolaborasi bersama dengan yang sudah bisa. Sehingga terjadi saling berbagi. Guru lebih fleksibel untuk berkreasi dalam mengajar semaksimal mungkin.


37 Melalui Kurikulum Merdeka guru lebih berkesempatan mengetahui minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan siswa. Asesmen pembelajaran cukup efektif untuk membantu guru memetakan kebutuhan siswa. Guru bisa menyusun metode serta strategi pembelajaran yang sesuai minat dan profil siswa. Ditambah dengan pembelajaran kolaboratif berbentuk proyek yang bertujuan untuk mengembangkan profil pelajar Pancasila melalui pengalaman belajar. Guru ibarat petani dan siswa ibarat benihnya. "Dengan kemampuan guru merawat benih dengan baik, benih yang ditanam akan tumbuh berkualitas. Dengan penerapan Kurikulum Merdeka para guru bisa memberikan fasilitas dan pengajaran sesuai kebutuhan siswa untuk mencetak pelajar Pancasila yang mampu bersaing di masa depan. 4. Rangkuman Kurikulum Merdeka dirancang sebagai bagian dari upaya KemendikbudRistek untuk mengatasi krisis belajar yang telah lama dihadapi Pendidikan di Indonesia. Krisis ini ditandai oleh rendahnya hasil belajar peserta didik, bahkan dalam hal yang mendasar seperti literasi membaca. Krisis belajar juga ditandai oleh ketimpangan kualitas belajar yang lebar antar wilayah dan antar kelompok sosial-ekonomi. Kurikulum Merdeka memiliki perbedaan dengan kurikulum sebelumnya, yaitu secara khusus di tiap jenjang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga jenjang sekolah menengah atas. Kurikulum Merdeka ini juga memiliki keunggulan jika dibanding dengan kurikulum sebelumnya, yaitu: 1) Lebih sederhana dan mendalam 2) Lebih merdeka 3) Lebih relevan dan Interaktif 5. Tugas Untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi keempat tentang konsep dan implementasi Kurikulum Merdeka, maka peserta menjawab pertanyaan berikut: a. Lembar kerja ringkasan materi dari kegiatan expert group b. Lembar kerja sintaks pembelajaran pada Kurikulum Merdeka 6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Setelah menyelesaikan latihan dan tugas dalam modul, peserta diminta untuk menyusun rencana pembelajaran dengan mengintegrasikan konsep dan implementasi Kurikulum Merdeka yang telah diuraikan di atas.


38 D. Materi 3: Analisis SKL, Capaian Pembelajaran, dan Kaitannya dengan Model Pembelajaran 1. Capaian Pembelajaran a. Tujuan Tujuan mengikuti materi ini peserta bimtek dapat memahami konsep Standar Kompetensi Lulusan, kompetensi inti, kompetensi dasar, merumuskan IPK dan uraian model pembelajaran yang dirancang berbasis aktivitas. b. Indikator Keberhasilan Setelah mengikuti bimtek ini, peserta dapat: 1) Menganalisis Standar Kompetensi Lulusan sesuai jenjang yang meliputi dimensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. 2) Menentukan deskripsi kompetensi inti sesuai dengan standar kompetensi lulusan yang meliputi aspek sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan. 3) Menentukan deskripsi kompetensi dasar sesuai kompetensi inti aspek sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan. 4) Menentukan model pembelajaran yang dirancang berbasis aktivitas. 2. Pokok-pokok Materi e. Analisis Standar Kompetensi Lulusan sesuai jenjang yang meliputi dimensi sikap, pengetahuan dan keterampilan f. Kompetensi inti sesuai dengan standar kompetensi lulusan yang meliputi aspek sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan g. Kompetensi dasar sesuai kompetensi inti aspek sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan 3. Uraian Materi f. Standar Kompetensi Lulusan Standar Kompetensi Lulusan merupakan salah satu dari delapan Standar Nasional Pendidikan sebagaimana yang ditetapkan dalam Pasal 35 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan, yang akan menjadi acuan bagi pengembangan kurikulum dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.


39 Standar Kompetensi Lulusan digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Ruang Lingkup Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria/ kualifikasi kemampuan peserta didik yang diharapkan dapat dicapai setelah menyelesaikan masa belajarnya di satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Rumusan Standar Kompetensi lulusan SD/MI/SDLB/Paket A; SMP/MTs/SMPLB/Paket B; dan SMA/MA/SMALB/Paket C yang meliputi dimensi sikap, pengetahuan dan keterampilan adalah sebagai berikut: Dimensi Sikap SD/MI/SDLB/ Paket A SMP/MTs/SMPLB/ Paket B SMA/MA/SMALB/ Paket C Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap: 1. beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, 2. berkarakter, jujur, dan peduli, 3. bertanggungjawab, 4. pembelajar sejati sepanjang hayat, dan 5. sehat jasmani dan rohani sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap: 1. beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, 2. berkarakter, jujur, dan peduli, 3. bertanggungjawab, 4. pembelajar sejati sepanjang hayat, dan 5. sehat jasmani dan rohani sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, dan kawasan regional. Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap: 1. beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, 2. berkarakter, jujur, dan peduli, 3. bertanggungjawab, 4. pembelajar sejati sepanjang hayat, dan 5. sehat jasmani dan rohani sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan internasional.


40 Dimensi Pengetahuan SD/MI/SDLB/ SD/MI/SDLB/ SD/MI/SDLB/ Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat dasar berkenaan dengan: 1. ilmu pengetahuan, 2. teknologi, 3. seni, dan 4. budaya. Mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara. Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis dan spesifik sederhana berkenaan dengan: 1. ilmu pengetahuan, 2. teknologi, 3. seni, dan 4. budaya. Mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, dan kawasan regional. Memiliki pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berkenaan dengan: 1. ilmu pengetahuan, 2. teknologi, 3. seni, 4. budaya, dan 5. humaniora. Mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, serta kawasan regional dan internasional. Dimensi Keterampilan SD/MI/SDLB/ Paket A SMP/MTs/SMPLB/ Paket B SMA/MA/SMALB/ Paket C Memiliki keterampilan berpikir dan bertindak: 1. kreatif, 2. produktif, 3. kritis, 4. mandiri, 5. kolaboratif, dan 6. komunikatif melalui pendekatan ilmiah sesuai dengan tahap perkembangan anak yang relevan dengan tugas yang diberikan Memiliki keterampilan berpikir dan bertindak: 1. kreatif, 2. produktif, 3. kritis, 4. mandiri, 5. kolaboratif, dan 6. komunikatif melalui pendekatan lmiah sesuai dengan yang dipelajari di satuan pendidikan dan sumbeain secara mandiri Memiliki keterampilberpikir dan bertindak: 1. kreatif, 2. produktif, 3. kritis, 4. mandiri, 5. kolaboratif, dan 6. komunikatif melalui pendekatan ilmiah sebagai pengembangan dari yang dipelajari di satuan pendidikan dan sumber lain secara mandiri


41 g. Kompetensi Inti Kompetensi inti pada kurikulum 2013 merupakan tingkat kemampuan untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang harus dimiliki seorang peserta didik pada setiap tingkat kelas. Isi kurikulum 2013 dikembangkan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Kompetensi Inti dikembangkan dari Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan merupakan kualitas minimal yang harus dikuasai peserta didik di kelas untuk setiap mata pelajaran. Kompetensi Inti tidak memuat konten khusus mata pelajaran tetapi konten umum yaitu fakta, konsep, prosedur, metakognitif dan kemampuan menerapkan pengetahuan yang terkandung dalam setiap mata pelajaran. Perluasan penerapan kompetensi yang dipelajari dinyatakan dalam KI, dimulai dari lingkungan terdekat sampai ke lingkungan global. Dalam desain Kurikulum 2013, Kompetensi Inti berfungsi sebagai pengikat bagi Kompetensi Dasar. Oleh karena itu, setiap Kompetensi Dasar yang dikembangkan harus mengacu kepada Kompetensi Inti. Kompetensi Inti terdiri atas empat dimensi yang satu sama lain saling terkait. Keempat dimensi tersebut adalah: sikap spiritual (KI 1), sikap sosial (KI 2), pengetahuan (KI 3), dan keterampilan (KI 4), yang tercantum dalam pengembangan Kompetensi Dasar, Silabus, dan RPP. Dalam proses pembelajaran, KI 1 dan KI 2 dikembangkan di setiap kegiatan sekolah dengan pendekatan pembelajaran tidak langsung (indirect teaching). Sedangkan KI 3 dan KI 4 dikembangkan oleh masing-masing mata pelajaran dengan pendekatan pembelajaran langsung (direct teaching). Kompetensi Inti 3 (KI 3) menitikberatkan pada pengembangan pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif) dalam jenjang kemampuan kognitif dari mengingat sampai mencipta. Sedangkan KI 4 merupakan penerapan dari apa yang dipelajari pada KI 3 dalam proses pembelajaran yang terintegrasi ataupun terpisah. Pembelajaran terintegrasi mengandung makna bahwa proses pembelajaran KI 3 dan KI 4 dilakukan pada waktu bersamaan baik di kelas, laboratorium maupun di luar sekolah. Pembelajaran terpisah mengandung makna bahwa pembelajaran mengenai KI 3 terpisah dalam waktu dan/atau tempat dengan KI 4. Selanjutnya, setiap KI dijabarkan dalam bentuk Kompetensi Dasar (KD). Kompetensi Dasar (KD) dari masing-masing KI menjadi rujukan guru dalam pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD).


42 h. Kompetensi Dasar Kompetensi dasar merupakan kemampuan dan materi pembelajaran minimal yang harus dicapai peserta didik untuk suatu mata pelajaran pada masing-masing satuan pendidikan yang mengacu pada kompetensi inti. Kompetensi Dasar (KD) adalah kemampuan untuk mencapai Kompetensi Inti yang harus diperoleh peserta didik melalui pembelajaran. Kompetensi Dasar setiap mata pelajaran dikembangkan dengan merujuk kepada Kompetensi Inti dan setiap KI memiliki KD yang sesuai. Dengan perkataan lain, KI 1 memiliki KD yang berkaitan dengan sikap spiritual, KI 2 memiliki KD yang berkaitan dengan sikap sosial, KI 3 memiliki KD yang berkaitan dengan pengetahuan dan KI 4 memiliki KD yang berkaitan dengan keterampilan. KI-1, KI-2, dan KI-4 dikembangkan melalui proses pembelajaran setiap materi pokok yang tercantum dalam KI-3. KI-1 dan KI2 tidak diajarkan langsung, tetapi indirect teaching pada setiap kegiatan pembelajaran. Setiap kompetensi berimplikasi terhadap tuntutan proses pembelajaran dan penilaian. Hal ini bermakna bahwa pembelajaran dan penilaian pada tingkat yang sama memiliki karakteristik yang relatif sama dan memungkinkan terjadinya akselerasi belajar dalam 1 (satu) tingkat Kompetensi. Selain itu, untuk tingkat kompetensi yang berbeda menuntut pembelajaran dan penilaian dengan fokus dan penekanan yang berbeda pula. 4. Rangkuman a. Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. b. Kompetensi inti pada kurikulum 2013 merupakan tingkat kemampuan untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang harus dimiliki seorang peserta didik pada setiap tingkat kelas. Kompetensi inti yang dimaksud terdiri atas: kompetensi inti sikap spiritual; kompetensi inti sikap sosial; kompetensi inti pengetahuan; dan kompetensi inti keterampilan. c. Kompetensi dasar yakni kemampuan dan materi pembelajaran minimal yang harus dicapai peserta didik untuk suatu mata pelajaran pada masingmasing satuan pendidikan yang mengacu pada kompetensi inti. d. Model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi segala aspek sebelum dan sesudah pembelajaran yan dilakukan guru serta segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar.


43 5. Tugas Untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi 2: Analisis SKL, Capaian Pembelajaran, dan kaitannya dengan Metode Pembelajaran, maka peserta menjawab pertanyaan berikut: Jelaskan komponen yang harus dipertimbangkan sebelum memilih model pembelajaran! 6. Umpan Balik dan Tindak Lanjut Setelah menyelesaikan latihan dan tugas dalam modul, melalui Reflective Thinking, peserta diminta menuliskan pada selembar kertas tentang apa hubungan model pembelajaran dengan SKL, KI dan KD. E. Materi 4: Model Pembelajaran Abad 21 1. Capaian Pembelajaran a. Tujuan Tujuan mengikuti materi ini peserta bimtek dapat memahami konsep 4C (creativity, critical thinking, collaborative and communication) dan mampu menerapkan dalam pembelajaran, salain dari itu peserta juga di tuntut untuk dapat memahami dan merumuskan implementasi penguatan pengembangan karakter, literasi dalam pembelajaran serta mampu Mengimplementasikan moderasi beragama dalam pembelajaran PAI. b. Indikator Keberhasilan Setelah mengikuti bimtek ini, peserta dapat: 1) Menjelaskan konsep 4 C, PPP, Literasi dan moderasi beragama dalam pembelajaran PAI. 2) Menjelaskan mekanisme implementasi 4 C, Profil pelajar pancasila, Literasi dan moderasi beragama dalam pembelajaran PAI. 3) Menjelaskan urgensi model pembelajaran abad 21 dalam PAI 4) Menganalisis sintaks pembelajaran yang berkaitan dengan 4 C, PPP, Literasi dan moderasi beragama. 5) Mengimplementasikan pembelajaran abad 21, PPK, Literasi dan moderasi beragama dalam pembelajaran. 2. Pokok-pokok Materi Pokok-pokok materi bimtek pada sesi ini terdiri dari: a. Kecakapan abad 21 b. Pembelajaran HOTS


44 c. Profil Pelajar Pancasila (PPP) d. Penguatan Literasi dalam pembelajaran PAI e. Moderasi Beragama 3. Uraian Materi a. Kecapakan Abad 21 Pendidikan Abad 21 merupakan pendidikan yang mengintegrasikan antara kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta penguasaan terhadap TIK. Kecakapan tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai model pembelajaran berbasis aktivitas yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan materi pembelajaran. Kecakapan yang dibutuhkan di abad 21 juga merupakan keterampilan berpikir lebih tinggi (Higher Order Thinking Skills – HOTS) yang sangat diperlukan peserta didik dalam menghadapi tantangan global. Adapun yang termasuk kecakapan abad 21 adalah: 1. Kecakapan Berpikir Kritis dan Pemecahan masalah (Critical Thinking and Problem Solving Skill) Kecakapan abad 21 yang pertama akan dibahas adalah kecakapan berpikir kritis dan pemacahan masalah. Berpikir kritis bersifat mandiri, berdisiplin diri, dimonitor diri, memperbaiki proses berpikir sendiri. Hal itu dipandang sebagai asset penting terstandar dan cara kerja dan cara berpikir dalam praktek, hal itu memerlikan komunikasi efektif dan pemecahan masalah dan komitmen untuk mengatasi sikap dan sosiosentris bawaan (Paul and Elder, 2006). Berpikir kritis menurut Beyer (1985) adalah kemapuan 1) menentukan kredibilitas suatu sumber, 2) membedakan antara yang relevan dan yang tidak relevan, 3) membedakan fakta dan penilaian, 4) mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang tidak terucap, 5) mengidentifikasi bias yang ada, 6) mengidentifikasi sudut pandang, dan 7) mengevaluasi bukti yang ditawarkan untuk mendukung pengakuan. 2. Kecakapan Berkomunikasi (Communication Skills) Kecakapan abad 21 yang kedua adalah kecakapan berkomunikasi. Komunikasi merupakan proses transmisi informasi, gagasan, emosi, serta keterampilan dengan menggunakan symbol-simbol, kata-kata, gambar, grafis, angka, dsb.


45 Raymond Ross (1996) mengatakan bahwa “Komunikasi adalah proses menyortir, memilih dan mengirim symbol-simbo sedemikian rupa agar membantu pendengar membankitkan respon/makna dan pemikiran yang serupa dengan yan dimaksudkan oleh komunikator”. Kecakapan komunikasi dalam proses pembelajaran antara lain sebagai berikut: a) Memahamai, mengolah, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia (ICT Leteracy). b) Menggunakan kemampuan untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi, di dalam dan di luar kelas, maupun tertuan pada tulisan. c) Menggunakan bahasa lisan yang sesuai konten dan konteks pembicaraan dengan lawan bicara atau yang diajak berkomunikasi. d) Selain itu dalam komunikasi lisan diperlukan juga sikap untuk dapat mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain, selain pengetahuan terkait konten dan konteks pembicaraan. e) Menggunakan alur piker yang logis, terstruktur sesuai dengan kaidah yang berlaku. f) Dalam abad 21 komunikasi tidak terbatas hanya pada satu bahasa, tetapi kemungkinan dengan multi-bahasa. 3. Kreatif dan Inovasi (Creativity and Innovation) Kecakapan abad 21 yang ketiga adalah kretaifitas dan inovasi, menurut Guilford (1976) kreatifita adalah cara-cara berpikir yang divergen, berpikir yang produktif, berdaya cipta berpikir heuristic dan berpikir literat. Beberapa kecakapan terkait kreatifitas yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut. a) Memiliki kemampuan dalam mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru secara lisan atau tulisan b) Bersikap terbuka dan responsive terhadap perspektif baru dan berbeda. c) Mampu mengemukakan ide-ide kreatif secara konseptual dan praktikal. d) Menggunakan konsep-konsep atau pengetahuannya dalam situasi baru dan berbeda, baik dalam mata pelajaran terkait, antar mata pelajaran, maupun dalam persoalan kontekstual. e) Menggunakan kegagalan sebagai wahana pembelajaran. f) Memiliki kemampuan dalam menciptakan kebaharuan berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki. g) Mampu beradaptasi dalam situasi baru dan memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan. 4. Kolaborasi (Collaboration)


46 Kecakapan abad 21 yang keempat adalah kolaborasi. Kolaborasi dalam proses pembelajaran merupakan suatu bentuk kerjasama dengan satu sama lain saling membantu dan melengkapi untuk melakukan tugastugas tertentu agar diperoleh suatu tujuan yang telah ditentukan. Kecakapan terkait dengan kolaborasi dalam pembelajaran, antara lain sebagai berikut. a) Memiliki kemampuan dalam kerjasama berkelompok. b) Beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab, bekerja secara produktif dengan yang lain. c) Memiliki empati dan menghormati perspektif berbeda. d) Mampu berkompromi dengan anggota yang lain dalam kelompok demi tercapainya tujuan yan telah ditetapkan. b. Pembelajaran HOTS 1. Pengertian Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Kemampuan berpikir tingkat tinggi/ Higher Order Thinking Skills (HOTS) adalah proses berpikir yang mengharuskan peserta didik untuk memanipulasi informasi dan ide-ide dalam cara tertentu yang memberi mereka pengertian dan implikasi baru (Gunawan, 2012:171). Limpan menggambarkan berpikir tingkat tinggi melibatkan berpikir kritis dan kreatif yang dipandu oleh ide-ide kebenaran yang masing-masing mempunyai makna. Berpikir kritis dan kreatif saling ketergantungan, seperti juga kriteria dan nilai-nilai, nalar dan emosi. (Kuswana, 2012: 200) Menurut Ernawati (2017: 196-197), berpikir tingkat tinggi atau Higher order Thinking Skills (HOTS) merupakan cara berpikir yang tidak lagi hanya menghafal secara verbalistik saja namun juga memaknai hakikat dari yang terkandung diantaranya, untuk mampu memaknai makna dibutuhkan cara berpikir yang integralistik dengan analisis, sintesis, mengasosiasi hingga menarik kesimpulan menuju penciptaan ide-ide kreatif dan produktif. Berdasarkan beberapa pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi/ Higher Order Thinking Skills (HOTS) adalah kemampuan berpikir yang bukan hanya sekedar mengingat, menyatakan kembali, dan juga merujuk tanpa melakukan pengolahan, akan tetapi kemampuan berpikir untuk menelaah informasi secara kritis, kreatif, berkreasi dan mampu memecahkan masalah. 2. Taksonomi Berpikir a) Taksonomi Bloom Taksonomi belajar dalam domain kognitif yang paling umum dilakukan adalah taksonomi Bloom. Benjamin S Bloom membagi


47 taksonomi hasil belajar dalam enam kategori, yakni: a. Pengetahuan (knowledge), b. pemahaman (comprehension), c. penerapan (application), d. analisis, e. Sintesis, dan f. Evaluasi. Tingkat pemahaman peserta didik dianggap berjenjang dengan tingkat paling rendah (C1): pengetahuan atau mengingat, sampai tingkat paling tinggi (C6): evaluasi (Sani, 2016: 103). Taksonomi Bloom yang setelah digunakan cukup lama untuk membuat rancangan instrusksional dalam dunia pendidikan, Anderson dan Krathwohl (2000) menelaah kembali Taksonomi Bloom dan melakukan revisi sebagai berikut (Sani, 2016:103-104). Tabel. Revisi Taksonomi Bloom Tingkatan Taksonomi Bloom (1956) Anderson dan Krathwohl (2000) C1 Pengetahuan Mengingat C2 Pemahaman Memahami C3 Aplikasi Menerapkan C4 Analisis Menganalisis C5 Sintesis Mengevaluasi C6 Evaluasi Berkreasi Catatan: pada Taksonomi Bloom yang direvisi digunakan kata kerja Revisi taksonomi yang dilakukan oleh Krathwol dan Anderson mendeskripsikan perbedaan antara proses kognitif dengan dimensi pengetahuan (pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural dan pengetahuan metagoknitif) (Sani, 2016:104). Revisi taksonomi tersebut memberikan gambaran bahwa yang termasuk dalam kemampuan berpikir tingkat rendah yaitu mengingat, memahami dan mengaplikasikan. Sedangkan yang termasuk dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah menganalisis, mengevaluasi dan berkreasi. Hal tersebut sesuai dengan dimensi proses kognitif yang semakin meningkat dari mengingat sampai berkreasi. b) Dimensi Pengetahuan Dimensi pengetahuan terdapat empat macam antara lain: dimensi faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif. 1) Pengetahuan faktual adalah pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tampak lebih nyata dan operasional, serta bersifat penjelasan singkat atau bersifat kebendaan yang diobservasi dengan mudah.


48 Meliputi definisi pengetahuan, pengetahuan umum dan bagianbagiannya, atau bentuk dari bagian-bagan sesuatu benda baik dalam bentuk proses atau hasil pekerjaan atau alam. 2) Pengetahuan konseptual adalah pengetahuan yang lebih rumit dalam bentuk pengetahuan yang tersusun secara sistematis. Meliputi pengetahuan pengklasifikasian, prisip-prinsip, generalisasi, teori-teori hukum, model-model dan struktur isi materinya. 3) Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan bagaimana melakukan sesuatu. Meliputi pengetahuan keterampilan algoritma, teknik-teknik metode-metode, dan penentuan kriteria pengetahuan atau pembenaran ketika melakukan dalam ranah dan mata pelajaran tertentu. 4) Pengetahuan metakognitif adalah pengetahuan mengenai pengertian umum dan pengetahuan tentang tugas-tugas termasuk pengetahuan kontekstual dan kondisional, pengetahuan itu sendiri, tentunya, beberapa aspek pengetahuan metagoknitif adalah tidak sama dengan pengetahuan yang digambarkan oleh para ahli. (Kusnawa, 2012: 114) c) Dimensi Proses Kognitif Dimensi proses kognitif Bloom sebagaimana yang telah direvisi oleh Anderson dan Krathwol adalah sebagai berikut: 1) Mengingat kembali (Recall) Mengingat kembali artinya mendapatkan kembali atau pengembalian pengetahuan relevan yang tersimpan dari memori jangka panjang (Kusnawa, 2012: 115). Pertanyaan mengingat kembali adalah pertanyaan mengingat kembali tentang informasi, fakta konsep, generalisasi yang didiskusikan, definisi, metode, dan sebagainya (Sani, 2016: 110). Contoh kata kerja operasional yang digunakan pada level mengetahui yaitu: menyebutkan, menjelaskan, menggambarkan dan menunjukkan. 2) Memahami (Comprehension) Memahami artinya mendeskripsikan susunan dalam artian pesan pembelajaran, mencakup oral, tulisan dan komunikasi grafik (Kusnawa, 2012: 115). Pertanyaan ini menyangkut kemampuan peserta didik menyerap informasi, menginterpretasi arti, dan melakukan eksplorasi atau memberikan saran (Sani, 2016: 111). Kata kerja operasional yang digunakan pada level memahami yaitu: memperkirakan, menjelaskan, mencirikan dan membandingkan. 3) Menerapkan (mengaplikasikan)


49 Menerapkan yaitu menggunakan prosedur dalam situasi yang dihadapi (Kusnawa, 2012: 115). Pertanyaan ini meminta peserta didik menggunakan abstraksi dan generalisasi secara bebas dari suatu keadaan dimana generalisasi telah digambarkan sebelumnya. Pertanyaan aplikasi sebenarnya erat dengan pertanyaan pemahaman (Sani, 2016: 111). Contoh kata kerja operasional yang digunakan pada level menerapkan yaitu: menugaskan, mengurutkan, menentukan dan menerapkan. 4) Menganalisis Menganalisis yaitu memecahkan materi menjadi bagian-bagian pokok dan menggambarkan bagaimana bagian-bagian tersebut, dihubungkan satu sama lain maupun menjadi sebuah struktur keseluruhan atau tujuan (Kusnawa, 2012: 115). Pertanyaan analisis meminta peserta didik menyelesaikan permasalahan melalui pemeriksaan sistematik tentang fakta atau informasi (Sani, 2016: 111). Contoh kata kerja operasional yang digunakan pada level menganalisis yaitu: menganalisis, memecahkan, menegaskan, menelaah dan mengaitkan. 5) Mengevaluasi atau menilai Mengevaluasi yaitu melakukan evaluasi atau penilaian yang didasarkan pada kriteria dan atau standar (Kusnawa, 2012: 115). Pertanyaan ini meminta peserta didik membuat penilaian tentang suatu berdasarkan sebuah acuan atau standar (Sani, 2016: 111). Contoh kata kerja pada level mengevaluasi yaitu: membandingkan, menyimpulkan, menilai dan mengkritik. 6) Menciptakan (berkreasi) Menempatkan bagian-bagian secara bersama-sama ke dalam suatu ide, semuanya saling berhubungan untuk membuat hasil yang baik (Kusnawa, 2012: 115). Pertayaan ini meminta peserta didik untuk menemukan penyelesaian masalah melalui pemikiran kreatif (Sani, 2016: 110-112). Contoh kata kerja operasional yang digunakan pada level menciptakan yaitu: mengatur, mengumpulkan, mengkategorikan, memadukan dan menyusun. 3. Indikator Kemampuan Berpikir Tingkat Tingi Krathwohl dalam Lewy, dkk (2009:16), menyatakan bahwa indikator untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi menliputi: Menganalisis Menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali polah atau hubungannya Mampu mengenali serta membedaka faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit Mengidentifikasi/merumuskan pertanyaan


Click to View FlipBook Version