142 Shofikhatus Sulistya Tanggal 13 Februari 2002 di kota Gresik, lahirlah seorang gadis introvert yang penuh dengan mimpi dan harapan. Dia diberi nama Shofikhatus Sulistya, namun orang-orang terdekatnya lebih sering memanggil Sulis”. Ia menempuh pendidikan dasarnya di MI Muhammadiyah 03 Weru selama 6 tahun , di mana ia mulai menunjukkan ketertarikannya di dunia lomba olimpiade mata pelajaran Matematika dan juga lomba Tahfidzul Qur’an. Setelah lulus dari MI, ia melanjutkan Sekolah Menengah Pertamanya di Pondok Pesantren Karangasem Paciran. Merantau jauh dari rumah tidak hanya menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga mendalami nilai-nilai agama dan kemandirian untuk membentuk karakter yang tangguh dan berdedikasi. Namun, menjelang akhir kelas 3 SMP, ia harus menghadapi cobaan yang berat sehingga merubah karakternya menjadi pendiam dan
143 introvert. Setelah lulus SMP, ia harus merantau kembali lebih jauh untuk menempuh pendidikan di SMA Mujahidin Surabaya. Tidak hanya berhenti disini, lulus SMA ia memutuskan untuk memasuki dunia kerja di Kota Malang. Meskipun, awalnya memiliki impian untuk melanjutkan ke perguruan tinggi terpaksa ditunda untuk sementara. Tepat di tahun 2021, ia sudah merasa kuat untuk mengambil langkah besar dengan mendaftar SBMPTN dan akhirnya keterima di Universitas Negeri Malang dengan Beasiswa. “Setiap pengalaman adalah guru terbaik kita. Dalam kesulitan, kebahagiaan dan setiap momen terdapat pelajaran yang berharga. Maka jadikan pengalaman sebagai batu loncatan untuk tumbuh dan berkembang menjadi versi terbaik dari dirimu”. Email : [email protected]
144 Dalam Rindu Yang Jauh Di tanah rantau aku berdiri Langit asing dan angin yang berbeda Menjauh dari tanah lahirku Tempat jiwa merindu setia Rinduku tertinggal di lembah subur Di tepi sungai yang mengalir tenang Di bawah pohon besar tempat aku berteduh Di antara wajah-wajah yang menyayangi Di sini, di kota yang berkilauan Aku mencari harap dan mimpi Dengan langkah-langkah penuh doa Mengukir nasib di antara gedung tinggi Anak rantau, hati yang tabah Menjemput impian di negeri orang
145 Dalam setiap tetes keringat dan air mata Ada doa pulang yang selalu kuucapkan Suatu hari nanti, aku akan kembali Dengan cerita perjuangan di dada Membawa cinta dan harapan baru Untuk mereka yang selalu setia menunggu
146 Mauliya Safira Mauliya Safira, anak kedua dari tiga bersaudara yang kini sedang mengemban pendidikan di perguruan tinggi yang berlokasi di Malang. Ia lahir 2 Maret 2004 pada waktu hampir memasuki sore hari dan berlokasi di sebuah rumah sakit yang tidak begitu besar di perkotaan Surabaya. “Mauliya Safira” sendiri memiliki makna “Putri permata yang mulia” hal ini ditandai karena ia anak perempuan yang pertama lahir di keluarganya seperti sebuah permata yang berharga. Dalam makna pada namanya tersebut terselip doa agar anak perempuan ini menjadi dan akan tetap selalu ‘mulia’ di mata semua orang. Sebelum merantau ke Malang, ia berdomisili di Bekasi, kota yang kata orang-orang itu panas. Kehidupan ia tidak begitu mulus, banyak rintangan dan permasalahan yang harus ia hadapi sebelum bisa sampai pada titik ini. Misalnya pada pendidikan, ia memulai pendidikannya pada tingkat kelompok bermain saat ia masih berumur 2 tahun.
147 Tenang, itu kemauannya sendiri. Pada saat itu, ia masih tinggal di Palembang, Sumatera Selatan. Pendidikan selanjutnya ia lanjutkan pada jenjang TK yang ada di Medan, Sumatera Utara dan berlanjut memasuki jenjang Sekolah Dasar Swasta Taman Siswa dikarenakan belum mencukupi umur untuk memasuki usia SD. Pada saat itu, ia masih berusia 5 tahun 4 bulan, akan tetapi dikarenakan kemampuannya sudah mencukupi untuk memasuki jenjang SD, maka pihak sekolah tetap menerimanya. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlangsung lama, setahun kemudian ia harus berpindah tempat tinggal ke Bekasi. Pada saat itu kehidupannya berlanjut sebagaimana mestinya. Safira lanjut bersekolah di SMPN 3 Gunungputri, disana ia mencoba untuk mencari pengalaman baru dengan mengikuti organisasi dan sebagainya. Di tempat tersebut juga ia menemukan banyak teman yang bahkan sampai detik ini masih dekat dan bersama. Kehidupan SMPnya tidak begitu mulus dikarenakan hasil Ujian Nasional yang tidak memuaskan dan harus mencoba berbagai cara agar dapat diterima di SMA negeri. Pada
148 akhirnya ia diterima di SMAN 2 Gunungputri yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Belajar dari pengalaman, pada tingkat akhir SMA ia belajar tekun untuk memasuki perguruan tinggi negeri sebagai target utamanya. Pada akhirnya semua usaha tersebut membuahkan hasil, ia diterima di Universitas Negeri Malang pada jalur SBMPTN pada jurusan Pendidikan Sosiologi. “Jangan pikirkan apa yang terjadi nanti. Lihat yang ‘sekarang’” IG : @maulyasaf E-mail : [email protected]
149 Magic of Love Di antara kita Ada jejak waktu yang panjang Seperti benang yang teranyam Mengikat erat hati kita Di mata kita Tersimpan kenangan-kenangan indah Seperti bintang yang bersinar di langit malam Kita telah berbagi suka dan duka Mengukit cerita yang takkan pernah pudar Meski waktu telah mengukir garis di wajah kita Cinta tetap akan tumbuh Memancar dalam relung hati Kita telah melalui seribu banyaknya cobaan Namun bersama tetap dapat melewati semuanya Setiap detik berlalu kita selalu bersama Menyelami keajaiban cinta yang tidak terkira Kita belajar dari masa lalu Untuk membangun masa depan Bagaikan anggur yang nikmatnya semakin bertambah
150 Dalam pelukmu Semua keluh kesah terasa menghilang Duniaku seketika menjadi indah Meski tahun telah berlalu Cinta kita akan terus abadi Seperti matahari yang tak pernah berhenti menyinari
151 Sulunk Fitriandita Larasaty Sulunk Fitriandita Larasaty, lahir di Ponorogo, 08 Desember 2002. Sesuai nama depanku, aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. ‘Dita’ adalah panggilan favoritku. Entahlah aku suka sekali dipanggil dengan nama itu. Pendidikan formal pertama yang aku tempuh pastinya TK di PKK Lestari Ananda. Aku menghabiskan 6 tahun sekolah dasarku di SDN 2 Mrayan, lalu SMP di SMPN 2 Ngrayun. Percayalah ini adalah masa paling menyenangkan dalam hidupku. Aku SMA bersekolah di MAN 2 Ponorogo, nothing special selama sekolah di sini yaaa… Soalnya covid hehehe. And here we gooo di sinilah aku sekarang di tempat yang sebenarnya bukan tujuanku.. But, it’s okeyyy aku dapat banyak hal disini mostly pelajaran hidup sih :(. Sayang aku tidak mendapat banyak cinta disini, aku berharap setelah ini bisa mendapat cinta sebanyak yang aku mau. Meski begitu aku cukup bersyukur masuk di prodi ini dan bertemu teman-teman yang luar biasa. Di sini aku menyadari bahwa
152 Tuhan tidak akan membawamu ke suatu ‘tempat’ kecuali ‘tempat’ itu baik untukmu. Dari kecil aku suka sekali musik, walaupun aku tidak punya skill sama sekali di bidang itu. Bagiku musik dan buku adalah obat penenang paling manjur dari dunia yang berisik. Aku juga suka sekali makanan manis, apalagi cokelat. Aku juga suka sekali menonton film genre horor, fantasy, action crime, physiology dan thriller. Orang bilang aku cerewet dan banyak bicara, yahhh lihat saja ketikanku di atas wkwk. Sudah ya sepertinya aku menghabiskan terlalu banyak bagian buku. Kalau mau lebih banyak just text me hhhhhhh. Feel free untuk menghubungi aku kapan pun, jadi jangan sungkan buat chat/DM aku yhhh. Email: [email protected] Instagram: abcdita._
153 Barangkali Barangkali di waktu yang tak lama ini Aku masih bisa menikmati senyummu Segala mantra kurapalkan untuk baikmu Peluk aku Tuan… Sebelum denting terakhir pada lingkar waktu kita Peluk yang begitu nyata, tinggallah hampa tanpa rasa Nyatanya takdir kita berjalan pada garis yang berbeda Terima kasih pernah merampungkan jiwa yang rumpang Temukan jiwa baru untuk menggenapkan jiwamu Aku akan mendekap erat sisa kita Menyimpan rapat kenangan “terindah” Barangkali, sang waktu berbelas kasih pada jiwa ini
154 Kosong Waktu terus berlalu Namun aku tak beranjak mendekap tubuh kecil berlumur darah Terus berteriak seakan kehilangan akal Di antara hening dan sunyi Aku tersiksa, meratapi lara Memori menjijikan terus berputar tak kenal lelah Lengkap sudah Pantas saja aku gila Mencoba merangkak mengais manis yang tersisa Sial, aku kembali terperosok dalam jurang kenestapaan Duka macam apa ini Abadi sekali Tuhan Haruskah kulebur jiwaku? Atau kukubur hidup saja raga kosong ini?
155 Yoke Defano Fahreza Saya Yoke Defano Fahreza. Saya berjenis kelamin perempuan. Saya lahir sesar pada jam 6 pagi di RS Husada Bunda JL. Simpang Ijen selama 10 hari saya di rumah sakit karena prematur dengan kondisi keadaan sehat wal afiat serta berat sekitar 4 kg di hari Jumat, 22 November 2002 Malang, Jawa Timur. Seharusnya saya lahir pada bulan Desember. Pada umur 1-2 tahun, saya tidak bisa tidur karena suka menonton tv dan bermain boneka. Saya tidur setiap hari jam 02.00 WIB, kemudian bangun pada 10.00 WIB. Latar belakang pendidikan saya pada umur 3-4 tahun dimasukan playgroup, kemudian masuk TK pada umur 5-6 tahun di TK Senaputra. Setelah lulus dari TK, saya sekolah di SDN Kidul Dalem 1. Kemudian sekolah di SMP Kartika daerah Rampal. Saya memilih sekolah ini karena mengikuti teman-teman. Setelah itu, masuk di sekolah swasta, yaitu SMA Laboratorium UM Malang yang terletak di Jalan Bromo. Di SMA saya mengambil Jurusan
156 Bahasa. Saya diterima di Universitas Negeri Malang dengan jurusan Pendidikan Sosiologi. Bisa dikatakan saya awam mengenai sosiologi dikarenakan saya dari jurusan Bahasa. Hobi saya saat ini masih suka menonton film genre family, horor, action, fantasy, dan drama Korea. Biasanya saat mempunyai waktu luang, saya menghabiskannya dengan menonton film. Selain menonton film, saya suka membaca komik seperti komik yang bertemakan kerajaan, aksi, percintaan, horor, dan sebagainya. Email : [email protected]
157 Cinta Ada Di Bawah Langit Pagi Yang Membiru Di bawah langit pagi yang membiru seakan memikat hati Kita terlarut dalam pandangan yang romantis Seperti awan dengan berbagai macam bentuk Selayaknya tata surya yang selalu berkaitan Sorot matamu yang teduh membuatku teringat rumah Di mana rindu menemukan rasa tenang Tersimpan sejuta harapan sejak mengenalmu Cinta kita layaknya musim semi Selalu dirindukan hadirnya oleh setiap orang Dengan daun warna-warni keemasan Mengukir kenangan hangat dalam hati
158 Denganmu, cinta bukanlah hal tragis Ia merupakan cerita tanpa akhir Di setiap waktu terukir tentang kita Berharap cerita ini berakbir bahagia Tak banyak kata yang dapat menjelaskan Cinta kita belajar dalam keheningan Di bawah langit pagi yang membiru Aku dan kamu, selamanya kita.