92 Sabrina Naura C. W. Halloo!! Namaku Sabrina Naura Candra Wulan, biasa dipanggil ‘Naura’. Usiaku sekarang 17 tahun. Aku lahir di Malang, 05 Juni 2007. Sekarang, aku merupakan siswi SMA Surya Buana kelas XI MIPA. Pada buku antologi puisi ini, aku menulis puisi berjudul Pencipta Alam. Selamat membaca… “Jangan jadi orang yang serakah”
93 Pencipta Alam Naungan Tuhan Yang Maha Esa Alangkah beruntungnya makhluk dunia Uang mengalir bak air sungai Rasa syukur tak terhenti pada-Mu Aku kan selalu memuja-Mu
94 Salwahana Zeiba Hai! Namaku Salwahana Zeiba. Aku biasa dipanggil ‘Zeiba’. Saat ini, umurku 17 tahun dan sedang menjadi siswi di kelas XI IPS SMA Surya Buana Malang. Di buku antologi ini aku menulis puisi berjudul Diriku. Supaya kalian bisa lebih mengenalku mungkin kalian bisa melihat keseharianku di instagram @oezeiba. Terima kasih. “Always being sabr”
95 Diriku Zebra hewan yang teringat Ebi udang tempura jepang Ikan berenang bebas Bagai bebasnya zeiba Ahokpun kalah
96 Sausan Keumala R. Hallow! Its Keumala word. Tepat 7 Oktober 2024 saya menginjak 18 tahun. Seperti bio yang tertera pada IG (@sausankeu) I’m one of SMA Surba’s part in second class. Untuk buku antologi puisi ini, aku telah berpartisipasi dengan puisi bertitle Simulasi Sang Surya. “Ya Allah, permudah Ya Allah”
97 Simulasi Sang Surya Semerbak asap menyerua Aku mematung bak laksamana Udara hitam simpang siur di atap rumah Semburan air tak henti-henti Andai saja ku tak berkelana Niscaya kobaran ini tak akan menghampiri
98 Syahrila Syafa A. Haiii! Perkenalkan namaku Syahrika Syafa Aurelia. Aku bisa dipanggil ‘Syafa’. Sekarang, usiaku 18 tahun. Aku lahir di Malang, 20 Desember 2005. Sekarang, aku sekolah di SMA Surya Buana Malang. Pada buku antologi puisi ini aku menulis puisi berjudul Hangatnya Matahari. “Jangan serakah”
99 Hangatnya Matahari Sinar menyinari kamarku Aku terbangun dari tidurku Fajar memberiku kehangatan Anispun terhangatkan …
100 Umar Fairuz Azzaky Umar Fairuz Azzky, seorang introvert muda kelahiran Pasuruan, 5 April 2007. Menjalani sebagian kehidupan SMPnya dengan kesulitan berkomunikasi membuatnya banyak menghabiskan waktu untuk bercengkrama dengan pensil dan kertas. Mulai tertarik dalam dunia literasi pada awal tahun 2023. Berstatus (insya Allah) singel lillah dalam kehidupan SMAnya di Surya Buana Malang. Pada buku antologi puisi ini, dia (kebetulan) menulis puisi dengan judul Pertemuan sampai saat ini, aktif di media social dengan alias ‘Lin’ pada akun @linartsZ. “Bermakna dalam menjadi berbeda”
101 Pertemuan Untaian rasa terulur masa Menantikan hadirnya separuh asa Ah ternyata akulah yang harusnya tiba Ranah merah cinta pertemuan dua jiwa
102 Zinnia Neza N. Halo! Namaku Zinnia Neza N. Biasanya aku dipanggil ‘Neja’. Saat ini, usiaku 17 tahun. Aku lahir di Malang, 3 November 2006. Biar kita akrab, jangan lupa follow @ikiionejaa_ Sekarang, saya sekolah di SMA Surya Buana kelas XI. Saya bercita-cita menjadi guru TK. Pada buku antologi puisi ini, aku menulis puisi berjudul Neza. Saya akan kuliah untuk menggapai citacita saya. “Masyaallah Tabarakallah”
103 Neza Nan elok mataku Endah hidupku bak rembulan Zaman menuntutku untuk membal Agar memiliki masa depan yang diinginkan
104 Kumpulan Puisi Asisten Mengajar @am.um.smasurba
105 Arim Gandesswari Arim Gandesswari adalah seorang gadis yang lahir dan besar di kabupaten ujung timur Pulau Jawa yang dikenal dengan “The Sunrise of Java” dari gunung hingga laut, Banyuwangi menawarkan semuanya. Ia lahir 24 Mei 2003. Saat menulis biodata ini, ia baru saja bertambah umur kemarin :p. Sebelum menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Malang, ia menempuh pendidikan di SMAN 2 Taruna Bhayangkara. Pada saat SMA, ia sudah mencicipi dunia sastra dengan mengikuti lomba story telling bahasa Jepang. Meskipun sudah pernah mencicipi dunia sastra, awal SMA ia tidak mempunyai niatan dan keinginan kuliah mengambil jurusan sastra. Namun, ternyata sudah takdirnya ia masuk kuliah dengan jurusan sastra, yaitu Pend. Bahasa, Sastra Indonesia dan
106 Daerah. “Menulis” merupakan hal yang cukup baru baginya karena ia sebelumnya tidak begitu suka menulis. Melihat jurusan yang saat ini ia ambil, menulis merupakan hal yang harus dilakukan. Ternyata, setelah mempelajari dan mempraktikkan ilmu menulis, ia menemukan ruang baru di hidupnya. Dengan menulis, ia bisa menuangkan segala ide, pengalaman, dan cerita hidup untuk diabadikan dalam bentuk kata-kata yang apik. Arim anaknya suka banget bergaul, jadi jangan sungkan untuk berkenalan. Kalian bisa hubungi dia lewat instagram @arimgnd_ atau email: [email protected]. “Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula.”
107 Lepih Jemari Dayita... Mulai malam yang temaram Jemarimu bergetar hingga ina menyingsing di balik tirai yang mengantup Butir demi butir berjalan menuju pelabuhan Dersik terdayuh perlahan-lahan Alam pun berteriak Memanggil untuk menikmati jamuan yang empuk Namun, kau abai akan hal itu Dayita... Jemarimu melepih ketika kau mencipta sajian bermangkuk Tergores, itu hal yang pasti Melepuh, itu hal yang biasa Namun, kau abai akan hal itu
108 Kini, kau jauh dari aksaku Jauh dari daksaku Jauh dari atmaku Walaupun begitu, rasa ini tetap bulat untukmu Dan dalam lepihan dirgantara, tetap tersebut namamu Aku selalu menanti untuk bersua lagi Beradu argumentasi Menyisihkan emosi Demi ambisi yang tinggi
109 Bukan Sekedar Perandaian Mungkin kau bertanya, sel apa yang dapat membentuk antibodi? Ya, jawabannya sel B Antibodi penting untuk melawan virus dan bakteri Tanpa sadar kita juga butuh antibodi untuk melawan kejamnya hidup ini Cukup berbekal iman dan islam sedari dini Mungkin kau bertanya lagi, mengapa air dan minyak tak dapat bersatu? Sebab mereka memiliki molekul yang berbeda dan tak bisa mengikat Tentu, hal itu tak sama dengan kita yang satu tuju Kita berbeda, memang harus beda Tapi kita bisa mengikat antara satu dan lainnya
110 Manusia tak semuanya baik Layaknya kita Sifatmu dan sifatku bagaikan proton dan elektron Yang kadang kala butuh neutron dalam mengarungi hidup
111 Lembayung Surga Langit berganti jingga Pertanda berganti masa Sudah saatnya merehat daksa Menuju tempat yang sesungguhnya Bintang memang terang Cahayanya selalu memancar Di tengah hingar bingar Bulan memang menawan Berselimut kabut membuatnya carut marut Ditemani bulan purnama Disapa gemintangnya bintang Di tunggu dalam kesepian Aduhai, syahdu sekali untuk bersandar diri
112 Fase romantis dalam dunia Berbisik pada alam Berteriak dalam kesunyian Hanya kita berdua yang bertatap hati
113 Indah Puspita Lestari Indah Puspita Lestari, dilahirkan di Malang pada 14 Januari 2003. Setelah setahun mengenyam Playgroup di Playgroup Al-Madaniyah, ia melanjutkan sekolahnya di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 16 Malang (lulus 2009), SDN Dinoyo 2 Malang (lulus 2015), SMPN 6 Malang (lulus 2018), SMAN 4 Malang (lulus 2021), dan pada 2021 ia berkuliah di Universitas Negeri Malang mengambil program studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Sejak SD ia sudah diperkenalkan dengan pidato dan berhasil menjuarai Pildacil. Ketika SMA, ia berpartisipasi dalam pementasan drama Bahasa Jerman dalam rangka Bulan Bahasa dan membuat sebuah antologi cerpen dalam Bahasa Jawa. Pada jenjang perkuliahan, ia mempunyai hobi bermain game akibat pandemi Covid-19.
114 Tidak hanya hobi, ia pernah mengikuti turnamen game Mobile Legends berhasil menduduki juara 4 se-Universitas Negeri Malang. Di waktu senggangnya, ia suka membaca novel. Novel Guru Aini karya Andrea Hirata ialah salah satu novel yang membuat ia terkesan. Lika – liku perjuangan seorang guru dalam novel tersebut membuat ia terinspirasi untuk menjadi guru suatu hari nanti. Email: [email protected] Instagram: pita_puss “If you no reken me, I no reken you”
115 Muara Puspas Selalu terbesit sebuah kata Cikal benih satu tujuan Terasa sudah pas Namun sanubari menolak Tak terhenti berontak Hingga luluh perkara cerita mukadimah Bergerak mengalun sorak-sorak Meskipun di muara terguncang seok-seok Mau bagaimana lagi? Terjang suara angin tertawa Hingga puspas yang tersisa Sisa-sisa yang tak jadi disesali
116 Guru Melupa Siapa yang mengira bahwa kedatanganmu berujung kepergian Di dalam relung jiwa tak sepatah kata ku ucapkan Semua bercampur aduk, terbawa angin pembawa kenangan Bercerita kepada semua insan meski tiada satu terdengarkan Siapa yang mengira bahwa kepergianmu sungguh sukar terlupa Siapa yang menganggapnya mudah, akan ku jadikan sebagai guru melupa Kenangan manis maupun pahit yang merontaronta Menghiasi segala sudut dan setiap sisi ibukota
117 Kenapa namaku yang kau pilih dalam singgahmu? Hanya kau jadikan sebatas persinggahan semu Seharusnya aku sadar ketika renggang temu Justru sekarang aku harus sadar kenapa ku baca kembali tamatnya kisahmu
118 Ruang Lorong Berujung Langkah kaki pasti menapak di jalan sempit menuju lorong berujung itu Setiap selingan langkah ada hasrat yang dituju Langkah bersuara itu memicu pandangan insan-insan di ruang itu Dibalik pandangan itu janganlah kau tertipu Di ruang itulah timbul silaturahmi tak kesengajaan Berawal dari tak sengaja bertatap, berlanjut ke sapaan Semua terjadi begitu spontan Tak perlu menghabiskan satu buku tebal tata cara, hanya untuk berkenalan Di ruang itulah buah pikiran dituangkan
119 Diaduk dengan macam-macam bentuk buah dari segala insan Diseduh dengan penekanan dari sang ahli di hadapan Diserap langsung menuju ke alam pikiran
120 Muqimmatus Sunnah Hola! Namaku Muqimmatus Sunnah, lebih akrab dipanggil ‘Muqim’. Seperti yang telah nampak dari wajahku, aku adalah keturunan pribumi asli. Aku tumbuh dan berkembang di sebuah desa yang kaya dengan berbagai hasil bumi seperti apel dan wortel. Bahkan termasuk desa penghasil susu sapi terbanyak di Malang. Yups, aku lahir di Pujon, 28 November 2002. Saat kecil, aku berpikir akan menuntaskan sekolah hanya di desaku saja. Ternyata, Allah memberi kejutan padaku, aku berkesempatan meneruskan pendidikan sarjana strata satu di Universitas Negeri Malang dengan prodi idamanku, Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah. Saat menulis paragraf ini, aku sedang menjalankan tugas kuliah untuk mengikuti program asistensi mengajar di SMA
121 Surya Buana. Ada banyak hal yang kusyukuri karena telah bergabung dengan lembaga ini. Salah satunya, terlahirnya puisiku berjudul Ucap Saja, Doaku: Tuhan Aku Minta Uang, dan Satu Tanggal yang bisa kamu baca saat ini. Lebih dari itu, alhamdulillah aku bisa belajar gamelan di sini, hihihi. Senangnya… Kalau mau kenal aku lebih banyak, gass kepoin IGku ya @muqimmah_ Kalau mau liburan ke Pujon jangan lupa mampir ke rumahku! DM ajah! Bye-bye! “Semakin dewasa, sifat idealis kakumu itu akan melunak menjadi realistis”
122 Ucap Saja Duka macam apa yang tak berkesudahan Nestapa macam apa yang tak berujung Larung macam apa yang tak hanyut Kubur macam apa yang tak pendam Seluruhnya macam apa? Lagi-lagi kematian merampas anganku Lagi-lagi kematian merenggut inginku Rindu tak sungkan tiba-tiba datang Kangen tak sungkan tiba-tiba kambuh Apa yang kuucap tak ada guna Menguap ditiup sia-sia Percuma, Apa yang kuucap tak ada rasa Sebanyak apapun memuja
123 Tak akan kembali semula Biar, Biar aku merawat duka Apa yang kuucap tak ada nyawa Malang, 2024
124 Doaku: Tuhan Aku Minta Uang Dari minggu lalu, aku sepertinya lebih rajin beribadah. lebih banyak baca sholawat. lebih rajin baca waqiah. Bahkan hampir lima waktu aku tak pernah absen jamaah. Kalau sudah begini berarti aku sedang tak baik-baik lagi. Bukan cinta, bukan cita. lebih buruk lagi. lebih tragis lagi. lebih mengenaskan lagi. Kalau sudah begini aku tak baik-baik lagi. Pasalnya, sudah seminggu ini aku lupa rasa nasi. Pikiranku cuma tahu-tempe, tahu-tempe. Sayur bayem kalau pingin yang seger-seger. Pantas, sekarang resleting celanaku sudah bisa tutup rapat lagi. Kupegang erat-erat, tapi tetap habis juga. tetap kandas juga. tetap tandas juga. Sepertinya baru kemarin kemerahan, sekarang sudah keabuan. Kadang, terbesit niatan 'apa aku minta saja?' ah, hatiku tak sampai. Dia kan teman dekatku, dia sudah banyak memberi padaku. Sekali-kali aku yang mem-beri, biar terlihat balas budi. Tapi kalau terus begini, aku cuma bisa gigit jari. cuma bisa telan ludah. cuma bisa ganjal batu. Biarlah, aku minta saja. Siapa tahu dikasih juga.
125 "Tuhan, Aku Minta Uang" Mei, 2024 Malang
126 Satu Tanggal Ucapmu mengendap di kerongkongan samar- samar menguap hilang matamu mengerdip, jemarimu meregang Napasmu sesekali lenyap Aku tak tahu Setelah itu Seketika, kelambu disibak, pintu dibuka, karpet digelar, Manusia berdatangan memberi sabar, mengelus punggung, menyumbang doa Kau raib disesap langkah Aku tak tahu Setelah itu Sebelum itu, yang hilang hanya suara, yang hilang hanya pegangan tangannya, yang hilang hanya senyumnya.
127 Sekarang dan setelah itu, hilang semua, tak ada sisa, cuma nisannya. Satu tanggal, tinggal satu Semoga lama menemaniku Malang, 2024
128 Muh. Anwar Rasyid Saya Muh. Anwar Rasyid, biasa dipanggil Aan. Saya lahir di Malang, 16 Agustus 2003. Saya seorang mahasiswa dari Prodi Studi Pendidikan Biologi. Saya memiliki minat terkait dengan public speaking skills dan leadership. Saat ini saya diamanahi menjadi ketua umum Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang, ketua Asistensi Mengajar di SMA Surya Buana dan Ketua di KKN Internasional bersama Imnida di Daejeon, Korea Selatan. Saya sedang berusaha menjadi mahasiswa seutuhnya dengan mengamalkan tridharma perguruan tinggi, yaitu pengabdian, penelitian dan pengajaran di lingkungan sekitar. Saya berharap bisa menjadi orang sukses dan bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar, kampus, dan kota saya bahkan bangsa dan negara. Email: [email protected] Instagram: anwar_rasyidd
129 Kultus Jiwa Di antara bisik malam yang sunyi, tanda bibirmu terjejak ke leher yang bukan milikku. Kau berbohong yang mulia, kau pendusta! Sumpah dan tangis menderu padaku, untuk memaafkanmu hingga kau mintaku meruntuhkan semesta di atas kepalamu, kau tahu hanya namamu yang kukultuskan. logikaku tak bisa mengelak Bulir darahku hanya untukmu seorang, dan kelak terulang lagi, kau robek luka yang sama, terlalu buta sukmaku terlalu tulus hati ini untukmu
130 ternyata senyuman manismu hanya untuk menutupi tingkah lacurmu tiap malam, aku menari dengan bayangmu, Menyimpan rasaku menyembunyikan lukaku. kultusan ini membunuhku
131 Dwinisa Cahya Ugami Tr. Dwinisa Cahya Ugami Tr, lahir di Buleleng 24 Maret 2002. Ia SD 4 Sumberkima (Bali, lulus 2015), SMP IT Al-Hasyimi (Jawa Barat, lulus 2018), MAN 1 Jembrana (Bali, lulus 2021), Universitas Negeri Malang (Malang, 2021-2025). Sejak SD ia sudah diperkenalkan dan aktif dalam seni lukis, hingga lulus SMP. Ketika SMA, ia berpartisipasi dalam perlombaan kaligrafi daerah di Bali. Pada jenjang perkuliahan, ia mempunyai hobi membuat tipografi dan konten positif di akun media sosial. Di waktu senggangnya, ia suka journaling dan membaca novel islami. Novel 5 Titik 1 Koma karya Muhammad Kamal Ihsan ialah salah satu novel islami yang membuat ia terkesan. Selain itu novel islami karya Habiburrahman El-Shirazy menjadi favoritnya. Email: [email protected] Instagram: dwinisaaa.cutr
132 Kagum Dalam Diam Di sudut senja terselip pandang Wanita terpesona kagum terpendam Pria berhati mulia dan dewasa Dalam diam hatinya bergetar pelan. Perbincangan ringan nuansa teduh Mata bertemu terasa indah penuh Hatiku bergetar seakan bercerita Indahnya momen tak terkatakan Meski diam rasa ini nyata Mengagumi dari jauh penuh rasa Pria bijak hati penuh cahaya Membuat hariku penuh warna
133 Erika Tsamara Rachman Erika Tsamara Rachman lahir di Kota Balikpapan, tepatnya 23 Oktober 2003. Pendidikan formal pertama yang dia tempuh adalah TK Ilham Prima Balikpapan (lulus 2009), SD Bina Bersama Balikpapan (lulus 2015), SMPN 3 Balikpapan (lulus 2018), SMAN 2 Balikpapan (lulus 2021), dan melanjutkan pendidikan Perguruan Tinggi di Universitas Negeri Malang dengan Program Studi Pendidikan Biologi. Semenjak SD, ia sangat suka mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan seni, seperti menari dan menyanyi. Ketika SMA masih di bidang seni, ia mengikuti ekstrakurikuler tari daerah dan bermain alat musik Angklung. Hingga di masa sekarang, ia masih sangat suka jika berkunjung ke museum seni dan berbagai pertunjukkan seni lainnya, khususnya seni tari. Email: [email protected] Instagram: erikatsamar
134 Anak Kecil Sepasang tangan dan kaki mungil kini bertambah besar Langkah kaki yang tertatih kini semakin lancar Pengucapan kata demi kata kini sudah tidak samar Hidup bahagia kini menjadi harapan besar Namun, harapan tidak seindah takdir Tidak selamanya menyenangkan untuk semua hal yang dilalui Ada ribuan tetes air mata yang mengalir Ada banyak kekhawatiran yang belum terjadi Ayah… Ibu… Anak kecil ini masih membutuhkan kalian Anak kecil ini masih membutuhkan sandaran Tidak pernah terbesit akan ada kehilangan Kalian akan selalu menjadi harapan
135 Salsabila Tutik A Salsabila Tutik Anggraini lahir di Malang, 28 Januari 2003. Ia anak tunggal dalam keluarga. Ia merupakan alumnus SMAN 1 Tumpang. Sebelum itu, ia menempuh pendidikan di SMPN 1 Jabung, SDN 1 Kemantren dan TK Muslimat Sunan Giri. Saat ini, ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Negeri Malang Program Studi Pendidikan Biologi. Ketika SMA, ia pernah menekuni ekstrakurikuler Perisai Diri walau hanya sebentar. Kemudian, ia menghabiskan sisa tahunnya di SMA dengan mengikuti ekstrakurikuler catur. Ia juga suka mencoba lomba seperti Kompetisi Sains Tingkat Kabupaten (KSK) bidang biologi. Lomba inilah yang memicu munculnya ketertarikan di dunia biologi. Ia suka menonton berbagai genre Kdrama terutama yang berbau medis, seperti Hospital Playlist dan misteri seperti Memorist. Ia merupakan penggemar Taylor Swift dengan lagu favoritnya yaitu I Can See You. Namun, baginya Role Model terbaik
136 dalam hidup tetap Ayahnya. Berkat kerja keras ayahnya, ia bisa duduk di bangku perguruan tinggi untuk mendalami ketertarikannya pada ilmu hayati hingga saat ini sudah menempuh semester 6. Email: [email protected] Instagram: Salsabilaaanggrn_
137 Ambang Aku ini pendosa Memangku ragu atas kehendaknya Digoncang setetes prahara Sudah gamang tak karuan Aku ini pendosa Memanggil paradoks kehidupan Aku cinta, hingga kepalaku enggan sujud Aku cinta, hingga hatiku berprasangka dangkal Aku ini pendosa Aku tahu, tapi mataku terus melihat Aku tahu, tapi bibirku terus berkata Aku tahu, tapi aku terus bergerak Melampaui sempadan dengan girang
138 Annisya Cahyani Fitri Annisya Cahyani Fitri lahir di Kota Malang, tepatnya 03 Desember 2002. Pendidikan formal pertama adalah TK Aba 13, SD Muhammadiyah 9, SMP Laboratorium UM, SMAN 6 Malang, dan melanjutkan pendidikan Perguruan Tinggi di Universitas Negeri Malang dengan Program Studi Pendidikan Ekonomi. Saat TK saya mengikuti hampir semua ekstrakurikuler yang ada dan SD suka dibidang olahraga. Saat SMP, suka dibidang non akademik dan saat SMA suka ikut kegiatan di bidang akademik. Intinya banyak bidang yang suka dibidang non akademik maupun akademik. Email : [email protected] Instagram : nisyactr_
139 Kehidupan Alam mempunyai makna kehidupan Menjadikan kehidupan yang seindahnya Dan selalu mempunyai arti kehidupan Dan selalu membawa ke puncak keindahan Daun akan menjadikan keindahan Ranting pun menjadi jembatan kehidupan Akar akan menjadi keeratan dalam kehidupan Air pun memberi kejernihan dan tetesan mutiara Jadilah bintang karena indahnya Jadilah bulan karena cahayanya Jadilah pelangi karena warnanya Jadilah angin karena kesejukkannya Jadilah air karna kejernihannya
140 Imam Alwi Khanavi Ayas Imam Alwi Khanavi, bisa di panggil Imam atau Alwi. Saya anak kedua dari dua bersaudara. Saya lahir di Trenggalek, 06 April 2002. Saya lulusan SMA 1 Karangan Trenggalek. Sekarang, saya menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang. Memilih program studi S1 Pendidikan Ekonomi adalah keinginan saya sejak SMA. Guru adalah cita-cita saya. Mengikuti banyak organisasi dan ukm menjadikan saya menemukan hobi baru, pengalaman, dan relasi yang luas. Hobi saya adalah berenang dan naik gunung. Saya memanfaatkan waktu luang sebaik mungkin untuk berisitirahat. Saat weekend, saya membina pramuka di berbagai sekolah di Kota Malang, menjadi panitia berbagai kegiatan, jogging selama 30 menit, dan berenang 2 minggu sekali. Saya berusaha menjadi mahasiswa yang teladan dan tepat waktu dalam mengumpulkan tugas. Harapan saya menjadi salah satu mahasiswa berprestasi dan lulus dengan gelar cumlaude. Follow ig : alwi.imam06 Email : [email protected]
141 Dikala Surut Cakrawala Sang keindahan dipaksa usai Terbawa oleh masa yang telah terbenam Perlahan menghilang jauh dikala mata terpejam Sang keindahan telah usai Menyelipkan rindu pada sekilas pertemuan singkat Rindu dan bayangan yang tersirat Namun terasa makna yang penuh sarat Sang keindahan telah sirna terbawa pada ingatan lama Senja kini tenggelam oleh hujan Gelap tergantikan oleh Sang Rembulan Dan tersisa sebuah kisah di Penghujung Cakrawala