EBOOK
(Kumpulan Makalah Belajar Dan
Pembelajaran)
NAMA : Rika Damayanti
NIM : 06131282126022
KELAS : Indralaya
MATA KULIAH : Belajar Dan Pembelajaran
DOSEN PENGAMPU :
1. Dra.Hasmalena, M.Pd
2. Dr.Makmum Raharjo, S.sn M.sn
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA 2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. karena atas izin dan
kehendak-Nya saya dapat menyusun Ebook tentang “kumpulan makalah mata kuliah
belajar dan pembelajaran” dengan tepat waktu. Pembuatan Ebook ini bertujuan untuk
memenuhi tugas Belajar dan Pembelajaran. Selain itu, Ebook ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan tentang pembelajaran yang ada di sekolah dasar bagi para pembaca
dan juga bagi penulis.
Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak Dr. Makmum Raharjo, M.Sn. dan
Dra. Hasmalena, M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah belajar dan pembelajaran
yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan
sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni. saya juga mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat
menyelesaikan Ebook ini.
Dalam pembuatan Ebook ini saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi,
saya menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam Ebook ini. Oleh karena
itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat berharga bagi saya untuk membangun
Ebook ini menjadi lebih baik lagi.
Palembang, November,2021
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
I. Materi RPS .................................................................................................1
A. Konsep belajar dan pembelajaran ...................................................1
B. Konsep minat belajar ....................................................................13
C. Konsep belajar behavioristik.........................................................22
D. Teori belajar kognitif ....................................................................38
E. Teori belajar sosial........................................................................43
F. Teori belajar konstruktivisme .......................................................47
II. Materi buku (Teori belajar dan pembelajaran edisi kedua) ......................53
A. Pendidikan tingkat sekolah dasar..................................................53
B. Prinsip pembelajar di sekolah dasar..............................................62
C. Pembelajaran ilmu pengetahuan sosial di sekolah dasar ..............84
D. Pembelajaran ilmu pengetahuan alam di sekolah dasar................95
E. Pembelajaran matematika di sekolah dasar ................................104
F. Pendidikan kewarganegaraan di sekolah dasar ..........................123
G. Pendidikan Bahasa Indonesia di sekolah dasar...........................143
H. Pembelajaran seni budaya dan keterampilan di sekolah dasar ..153
III. Daftar Pustaka ........................................................................................162
iii
I.MATERI RPS
A.MATERI KONSEP BELAJAR DAN
PEMBELAJARAN
Makalah kelompok 1 dan 2
A. Latar Belakang
Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri
seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai
bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku,
ketrampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada
individu yang belajar. Belajar merupakan proses aktif. Belajar adalah proses mereaksi
terhadap semua situasi yang ada disekitar individu. Belajar adalah suatu proses yang
diarahkan kepada satu tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar
adalah suatu proses melihat, mengamati, memahami sesuatu yang dipelajari. Apabila
kita membicarakan tentang belajar, maka kita membicarakan tentang cara mengubah
tingkah laku seseorang atau individu melalui berbagai pengalaman yang ditempuhnya
(Sudjana, 2010).
Pembelajaran biologi menuntut adanya peran aktif dari siswa, karena Biologi didasari
adanya cara berpikir logis berdasarkan fakta-fakta yang mendukung. Pembelajaran
Biologi terdapat komponen yang harus dimiliki siswa yaitu dapat memahami proses
ilmiah sebagai hasil dari pembelajaran akademik yang sudah dilaksanakan (Wartono,
2004).
A.Definisi Belajar Secara Umum
Sebagai mahasiswa atau kaum intelektual, sudah tidak asing dengan yang namanya
belajar dan pembelajaran. Berikut akan kami jelaskan definisi belajar secara umum,
yakni:
• Pengertian belajar secara umum ialah semua aktivitas mental atau psikis yang dilakukan
oleh seseorang sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang berbeda antara
sesudah belajar dan sebelum belajar.
• Belajar juga didefinisikan sebagai sebuah proses perubahan di dalam keperibadian
manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan
kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan,
pemahaman, keterampilan, daya pikir dan kemampuan-kemampuan yang lain.
• Belajar ialah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam
setiap jenjang pendidikan. Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar
merupakan kegiatan yang paling pokok dan penting dalam keseluruhan proses pendidikan.
1.Arti Belajar Menurut KBBI
1
Pengertian belajar menurut KBBI “Kamus Besar Bahasa Indonesia” ialah
berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau
tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
2.Pengertian Belajar Menurut Para Ahli
Berikut ini akan dibahas pengertian dan definisi belajar menurut pendapat para
ahli diantaranya yaitu:
• Menurut Winkel
Pengertian belajar adalah seluruh kesibukan mental atau psikis yang berjalan di
dalam interaksi aktif di dalam lingkungan, yang menghasilkan perubahan-
perubahan di dalam pengelolaan pemahaman.
• Menurut Ernest R. Hilgard (1984)
Belajar disimpulkan sebagai proses perbuatan yang dijalankan bersama sengaja,
yang kemudian menyebabkan perubahan, yang keadaannya tidak serupa berasal dari
perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak
akan kembali kepada suasana semula. Tidak mampu diterapkan pada perubahan
akibat suasana sesaat, layaknya perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan
sebagainya.
• Menurut Moh. Surya (1981)
Definisi belajar adalah suatu proses usaha yang dijalankan individu untuk meraih suatu
perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu
sendiri di dalam interaksinya bersama lingkungan. Kesimpulan yang mampu diambil
berasal dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya, belajar adalah perubahan
berasal dari diri seseorang.
a. Tujuan Belajar Secara Umum
Dalam hal ini seperti yang telah disinggung pada pengertian belajar diatas, tujuan
utama kegiatan belajar ialah untuk memperoleh dan meningkatkan tingkah laku
manusia dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, sikap positif dan berbagai
kemampuan lainnya. Menurut Sadirman “2011: 26-28” secara umum ada tiga tujuan
belajar yakni:
1.Untuk Mendapatkan Pengetahuan
Hasil dari kegiatan belajar dapat ditandai dengan meningakatnya kemamuan
berfikir seseorang. Jadi selain memiliki pengetahuan baru, proses belajar juga
akan membuat kemampuan berfikir seseorang menjadi lebih baik.
Pengetahuan akan meningkatkan kemampuan berpikir seseorang dan begitu juga
sebaliknya kemampuan berpikir akan berkembang melalui ilmu pengetahuan
yang dipelajar. Dengan kata lain pengetahuan dan kemampuan berfikir hal yang
tidak dapat dipisahkan.
2.Dengan Menanamkan Konsep Dan Keterampilan
Dalam keterampilan yang dimiliki setiap individu ialah melalui proses belajar.
Penanaman konsep membutuhkan keterampilan, baik itu keterampilan jasmani
maupun rohani. Dalam hal ini keterampilan jasmani ialah kemampuan individu dalam
penampilan dan gerakan yang dapat diamati, keterampilan ini berhubungan dengan
2
hak teknis atau pengulangan. Dan sedangkan keterampilan rohani cenderung lebih
kompleks karena bersifat abstrak. Keterampilan ini berhubungan dengan
penghayatan, cara berpikir dan kreativitas dalam menyelesaikan masalah atau
membuat suatu konsep.
3.Dapat Membentuk Sikap
Dalam kegiatan belajar juga dapat membentuk sikap seseorang. Dalam hal ini
pembentukan sikap mental peserta didik akan sangat berhubungan dengan penanaman
nilai-nilai sehingga menumbuhkan kesadaran di dalam dirinya. Dalam proses
menumbuhkan sikap mental, perilaku dan pribadi anak didik, seorang guru harus
melakukan pendekatan yang bijak dan hati-hati. Guru harus bisa menjadi contoh
bagi anak didik dan memiliki kecakapan dalam memberikan motivasi dan
mengarahkan berpikir.
b. Ciri-Ciri Belajar
Dalam proses belajar mampu dikenali melalui beberapa karakteristiknya. Mengacu
terhadap definisi belajar di atas, tersebut ini adalah beberapa hal yang menggambarkan
tanda-tanda belajar:
• Terjadi perubahan tingkah laku (kognitif, afektif, psikomotor, dan campuran)
baik yang mampu diamati maupun yang tidak mampu diamati secara langsung. •
Perubahan tingkah laku hasil belajar terhadap biasanya akan menetap atau
permanen. • Proses belajar biasanya membutuhkan selagi tidak sebentar dimana
hasilnya adalah tingkah laku individu.
• Beberapa perubahan tingkah laku yang tidak terhitung didalam belajar adalah gara
gara adanya hipnosa, proses pertumbuhan, kematangan, hal gaib, mukjizat,
penyakit, kerusakan fisik.
• Proses belajar mampu terjadi didalam hubungan sosial di suatu
lingkungan masyarakat dimana tingkah laku seseorang mampu beralih gara-gara
lingkungannya.
c. Jenis-Jenis Belajar
Setidaknya ada delapan style belajar yang dikerjakan oleh manusia. Adapun beberapa
style belajar adalah sebagai berikut:
• Belajar rasional, yakni proses belajar mengfungsikan kekuatan berpikir cocok
dengan akal sehat (logis dan rasional) untuk memecahkan masalah.
• Belajar abstrak, yakni proses belajar mengfungsikan bermacam cara berpikir
abstrak untuk memecahkan persoalan yang tidak nyata.
• Belajar keterampilan, yakni proses belajar mengfungsikan kekuatan gerak
motorik dengan otot dan urat syaraf untuk menguasai keterampilan jasmaniah
tertentu. • Belajar sosial, yakni proses belajar menyadari bermacam persoalan dan
cara penyelesaian persoalan tersebut. Misalnya persoalan keluarga,
persahabatan, organisasi, dan lainnya yang terjalin dengan masyarakat.
3
• Belajar kebiasaan, yakni proses pembentukan atau perbaikan normalitas ke arah
yang lebih baik agar individu punya sikap dan normalitas yang lebih positif cocok
dengan kebutuhan (kontekstual).
• Belajar pemecahan masalah, yakni belajar berpikir sistematis, teratur, dan detail
atau mengfungsikan bermacam metode ilmiah didalam merampungkan suatu
masalah. • Belajar apresiasi, yakni belajar kekuatan didalam pertimbangkan arti atau
nilai suatu objek agar individu mampu menghormati bermacam objek tertentu.
• Belajar pengetahuan, yakni proses belajar bermacam pengetahuan baru
secara terencana untuk menguasai materi pelajaran melalui kegiatan
eksperimen dan investigasi
B. Macam – Macam Hasil Belajar
Macam macam hasil belajar dibagi menjadi dua jenis yaitu ranah kongnitif dan ranah
afektif. Hal tersebut sesuai dengan definisi yang diutarakan oleh Bloom yang dikutip oleh
Dimyati (2006:26) mengidentifikasi jenis hasil belajar, yakni:
1) Ranah kognitif terdiri dari enam jenis perilaku sebagai berikut:
a) Pengetahuan. Mencapai kemampuan untuk mengingat tentang hal yang telah dipelajari
dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa,
pengertian, dan prinsip.
b) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal
yang dipelajari.
c) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode untuk menghadapi masalah
yang nyata dan baru.
d) Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian
sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.
e) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya
kemampuan menyusun program kerja.
f) Evaluasi. Mencakup kemampuan dalam membentuk pendapat tentang
beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu
2) Ranah afektif terdiri dari lima perilaku-perilaku sebagai berikut:
a) Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan
memperhatikan hal tersebut.
b) Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan berpartisipasi
dalam suatu kegiatan.
c) Penilaian dan penentuan sikap, yang mencakup menerima suatu nilai,
menghargai, mengakui dan menentukan sikap.
d) Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai
pedoman dan pegangan hidup.
e) Pembentukan pola hidup, yang mencakup kemampuan menghayati nilai
dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi.
C. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa
Perubahan yang terjadi itu akibat dari kegiatan belajar. Yang telah dilakukan oleh
individu. Perubahan ini adalah hasil yang telah dicapai dari proses belajar. Jadi, untuk
4
mendapatkan hasil belajar dalam bentuk ‘perubahan’ harus melalui proses tertentu
yang dipengaruhi oleh faktor dari dalam individu maupun luar individu.
Adapun pengaruh hasil belajar antara lain:
1.Adanya Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan anak didik. Didalamnyalah anak
didik hidup dan berinteraksi dalam mata rantai kehidupan yang disebut ekosistem.
Interaksi dari kedua lingkungan yang berbeda tersebut selalu saja terjadi dalam
mengisi kehidupan anak didik, yang keduanya sangat berpengaruh terhadap belajar
anak didik.adapun faktor dari lingkungan alamin dan lingkungan sosial. Lingkungan
alami adalah lingkungan tempat
tinggal anak didik, hidup, dan berusaha didalamnya.lingkungan sosial Budaya Tidak
bisa dipungkiri bahwa manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.
Begitu pula dengan anak didik. Mereka tidak akan terlepas dari interaksi sosial. Sebagai
contoh interaksi di sekolah, baik sesama teman, guru, dan sebagainya.
2.Faktor Instrumental
Kurikulum adalah a plan for learning yang merupakn unsur substansial dalam
pendidikan. Tanpa kurikulum belajar mengajar tidak dapat berlangsung, karena materi
yang akan disampaikan dalam pembelajaran harus direncanakan terlebih dahulu. Dan
perencanaan tersebut termasuk dalam kurikulum, yang mana seorang guru harus
mempelajari dan menjabarkan isi kurikulum kedalam program yang lebih rinci dan jelas
sasarannya. Muatan kurikulum akan mempengaruhi intensitas dan frekuensi belajar anak
didik. Karena guru harus berusaha semaksimal mungkin untuk ketercapaian kurikulum.
Misalkan, jumlah tatap muka, metode, dan sebagainya harus dilakukan sesuai dengan
kurikulum.
Adapun progam Setiap sekolah mempunyai program pendidikan yang disusun
untuk dijalankan untuk kemajuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan disekolah
tergantung dengan baik tidaknya program yang dirancang.um diakui dapat
mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik. Salah satu program yang dipandang
harus dilakukan adalah program bimbingan dan penyuluhan. Karena program ini
mempunyai andil besar dalam keberhasilan belajar anak di sekolah.
1.Sarana dan Fasilitas Sarana mempunyai arti penting dalam pendidikan. Gedung
sekolah misalnya sebagai tempat yang strategis bagi berlangsungnya kegiatan belajar
mengajar disekolah. Jumlah ruang kelas pun harus menyesuaikan peserta didik.Selain
fasilitas, sarana pun tidak boleh diabaikan. Misalkan perpustakaan. Lengkap tidaknya
buku di sekolah tersebut akan menentukan hasil belajar anak didik
2. Guru adalah unsur manusiawi dalam pendidikan. Maka, kehadiran guru
mutlak didalamnya. Kalau hanya ada anak didik, tanpa guru tidak akan terjadi kegiatan
belajar mengajar disekolah. Tetapi, harus diperhatikan juga guru yang seperti apa yang
bisa menyukseskan belajar anak. Karena guru haruslah memenuhi syarat-syarat menjadi
guru. Dia harus berpengetahuan tinggi, profesional, paham psikologi anak didik, dan
sebagainya. Karena guru yang berkualitas, akan menentukan kualitas anak didik.
Adapun Faktor Kondisi Fisiologis
1.Keadaan fisik
5
Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya akan berlainan belajarnya dengan orang
yang sedang sakit atau kelelahan. Anak-anak yang kekurangan gizi, ternyata
kemampuan belajarnya dibawah anak-anak yang tercukupi gizinya; mereka akan lekas
lelah, mudah mengantuk, dan sukar menerima pelajaran.
2. Komdisi Panca Indra
Tidak kalah penting, kondisi panca indra juga sangat mempengaruhi belajar siswa.
Terutama mata sebagai alat melihat dan telinga sebagai alat mendengar. Karena
sebagian besar anak belajar dengan membaca, mendenggar, dan melakukan observasi
dan sebagainya. Jika panca indra terganggu, ini akan mempengaruhi hasil belajar dan
proses belajar anak didik.
Adapun faktor Psikologis.
1. Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas,
tanpa ada yang menyuruh.Biasanya, anak yang minat terhadap suatu kegiatan atau hal,
dia cenderung akan lebih cepat memahaminya. Misalkan, jika minatnya di matematika,
dia akan cenderung bernilai tinggi di mata pelajaran tersebut. Maka, tugas seotrang guru
harus menjadi fasilitator yang baik dalam hal ini. Karena akan berdampak dalam proses
dan hasil belajar siswa.
2.Kecerdasan Tingkat kecerdasan diakui sangat menentukan keberhasilan belajar anak
didik. Karena anak didik yang mempunyai tingkat intelegensi tinggi umumnya mudah
belajar dan hasilnya pun cenderung baik, begitu sebaliknya.Berbagai hasil penelitian
telah menunjukkan hubungan erat antara IQ dengan hasil belajar anak didik. Dijelaskan
dari IQ, sekitas 25% hasil belajar disekolah dapat dijelaskan dari IQ, yaitu kecerdasan
sebagiman diukur oleh tes intelegensi. Oleh karena itu, anak yang mempunyai tingkat
kecerdasan dari 90-100, cenderung akan menyelesaikan sekolah dasar tanpa kesukaran.
3.Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu. Jadi, motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang
untuk belajar.Mengingat motivasi adalah motor penggerak dalam perbuatan, maka bila
ada anak didik yang kurang memiliki motivasi , diperlukan dorongan dari luar, agar
anak didik mempunyai motivasi belajar. Karena ketika motivasi belajar anak tinggi,
akan menentukan hasil yang dicapai.
4. Kemampuan Kognitif Dalam dunia pendidikan, ada tiga tujuan untama yang arus
dicapai. Yaitu, kognitif, afektif, dan psikomotor. Kognitif adalah kemampuan yang
selalu dituntut untuk dikuasai anak didik, karena menjadi dasar bagi penguasaan ilmu
pengetahuan.Adapun tiga kemampuan yang harus dikuasai sebagai jembatan
penguasaan kemampuan kognitif adalah, persepsi, mengingat, dan berfikir. Adapun
persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak
manusia. Melalui inilah, manusia terus melakukan hubungan dengan lingkungan.
Sedangkan mengingat adalah suatu aktivitas kognitif, dimana orang menyadari bahwa
pengetahuannya dari masa lampau atau berasal dari pesan-pesan dari masa lampau.
D. PENGERTIAN PEMBELAJARAN
Pengertian pembelajaran ;yaitu proses interaksi peserta didik& Sumber belajar
pada suatu lingkungan belajar.
6
Pembelajaran merupakan bantuan yang di perolehan ilmu dan pengetahuan,
penguasaan kemahiran,dan tabi'at,serta pembentukan sikap dan kepercayaan
pada peserta didik.
Istilah pembelajaran (intruction) bermakna sebagai"Upaya untuk
membelanjarkan seseorang atau kelompok orang melalui berbagai upaya"
(Effrot)dan berbagai strategi,metode dan pendekatan kearah pencapaian tujuan
yang telah direncanakan dengan demikian makna pembelajaran merupakan
kondisi eksternal kegiatan belajar antara lain dilakukan oleh guru dalam
mengkondisikan seseorang untuk belajar
Konsep Pembelajaran
Dalam pembelajaran,Guru mempunyai tugas-tugas pokok antara lain bahwa ia harus
mampu dan cakap merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi,dan
membimbing,dalam kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran dapat diartikan,Tahap proses seorang pelajar untuk mendapatkan sebuah
tujuan yang mencakup penambahan ilmu, penambahan wawasan,serta membaiki
sikap/akhlak dan hal-hal bermanfaat lainny untuk si pelajar tersebut.Untuk mencapai
sebuah tujuan haruslah bertahap dalam metode proses pembelajaran, seperti contoh
dosen/guru yang memberikan pelajaran ke anak-anak didik
Langkah-langkah dalam mendidik itulah yang dinamakan proses
pembelajaran. Pembelajaran sangat erat kaitannya dengan sekolah dikarenakan Sekolah
adalah sebuah proses mengajar dan belajar Jadi secara singkat pembelajaran diciptakan
seseorang guru/seorang pendidik yang berbentuk sebuah proses untuk mendidik siswa
agar bertujuan Mempercerdas , memperoleh ilmu yang bermanfaat baik berguna untuk
diri sendiri atau orang lain
Kesimpulan
Belajar adalah suatu proses yang membawa perubahan tingkah laku padadiri individu
karena adanya usaha. belajar it's suatu tujuan utama, tetapi merupakan suatu sarana untuk
mencapai tujuan.belajar merupakan suatu suatu keharusan, karena dalam kehidupan
bermasyarakat akan adanya persaingan, khususnya dalam dunia usaha. Tanpaadanya
belajar kita akan tertinggal, bahkan tersingkirkan dari persaingan, dengan belajar ini akan
menumbuhkan inovasi inovasi yang melahirkan perubahan positifyang diperlukan dalam
usaha.Oleh karena itu, mengingat diperkecil pentingnya proses belajar
dalamkehidupan, yang nanti akan menentukan dan membantu suatu keberhasilanindividu
di masa depan. Kita sebagai calon pendidik perlu mempersiapkan
diriperluasan pengetahuan tentang belajar yang nanti akan diaplikasikan dalam
proses pembelajaran untuk peserta didik
Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih
fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah diatas dengan sumber-sumber
yang lebih banyak yang tentunya dapat dipertanggung jawabkan.
Untuk saran bisa berisi kritik atau saran terhadap penulisan juga bisa untuk
menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah dijelaskan. Untuk bagian
terakhir dari makalah adalah daftar Pustaka
7
Makalah kelompok 2
Latar Belakang
Menurut Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan adalah usaha kebudayaan yang bermaksud
memberikan bimbingan dalam hidup tumbuhnya jiwa raga anak didik dalam garis-garis
kodrat pribadinya serta pengaruh-pengaruh lingkungan, mendapat kemajuan hidup lahir
batin. Pendidikan mempunyai peran yang snagat penting dalam kehidupan suatu bangsa,
karena dengan pendidikan akan menghasilkan masyarakat yang berkualitas sehingga
masyarakat pada umumnya akan membawa perubahan dalam mengisi pembangunan. Dari
pernyataan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa belajar dapat dikatakan sebagai sesuatu
hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang. Kompleksitas belajar tersebut
dapat dipandang dari 2 subyek, yaitu dari siswa dan guru yang disebabkan oleh adnya
interaksi individu dengan lingkungan. Sedangkan Pembelajaran merupakan proses
bagaimana seorang pendidik memberikan materi dengan lingkungan yang menarik minat
siswa untuk belajar dan metode pembelajaran yang fleksibel.
Konsep Belajar
Konsep belajar merupakan proses memperoleh ilmu. Belajar merupakan kegiatan yang
menghasilkan adanya perubahan dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak mampu
menjadi mampu.
Macam-macam Hasil Belajar
Macam-macam Hasil Belajar Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi
yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat
perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat
perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan
psikomotor. Hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah
laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti
menjadi mengerti. Teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui
tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perincianya adalah sebagai
berikut:
a. Ranah Kognitif Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu
pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
b. Ranah Afektif Berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang
kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi
dengan suatu nilai atau kompleks nilai.
c. Ranah Psikomotor Meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi
neuromuscular (menghubungkan, mengamati). Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan
daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol, namun hasil belajar psikomotor dan
afektif juga harus menjadi bagian dari hasil penilaian dalam proses pembelajaran di sekolah.
Hasil belajar adalah kemampuankemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajarnya. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau
kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah
memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi. Ada tiga
8
bagian macam hasil belajar yaitu, keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian
serta sikap dan cita-cita. Pendapat dari Horward Kingsley ini menunjukkan hasil perubahan
dari semua proses belajar. Hasil belajar ini akan melekat terus pada diri siswa karena sudah
menjadi bagian dalam kehidupan siswa tersebut Berdasarkan pengertian di atas maka dapat
disintesiskan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan
yang telah dilakukan berulang-ulang. Serta akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau
bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk
pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi sehingga akan
merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik setelah ia menerima
pengalaman pembelajaran. Sejumlah pengalaman yang diperoleh peserta didik mencakup
ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam
proses pembelajaran karena akan memberikan sebuah informasi kepada guru tentang
kemajuan peserta didi dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui proses
kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya setelah mendapat informasi tersebut guru dapat
menyusun dan membina kegiatan-kegiatan peserta didik lebih lanjut baik untuk individu
maupun kelompok belajar. 14 Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain :
• Faktor Internal Faktor internal ini meliputi antara lain :
1. Faktor Fisiologis. Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak
dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani dan sebagainya. Hal
tersebut dapat mempengaruhi peserta didik dalam menerima materi pelajaran.
2. Faktor Psikologis. Setiap indivudu dalam hal ini peserta didik pada dasarnya memiliki
kondisi psikologis yang berbeda-beda, tentunya hal ini turut mempengaruhi hasil belajarnya.
Beberapa faktor psikologis meliputi intelegensi (IQ), perhatian, minat, bakat, motif, motivasi,
kognitif dan daya nalar peserta didik. a. Faktor Eksternal Faktor Lingkungan. Faktor
lingkungan dapat mempengurhi hasil belajar. Faktor lingkungan ini meliputi lingkungan fisik
dan lingkungan sosial. Lingkungan alam misalnya suhu, kelembaban dan lain-lain. Belajar
pada tengah hari di ruangan yang kurang akan sirkulasi udara akan sangat berpengaruh dan
akan sangat 15 berbeda pada pembelajaran pada pagi hari yang kondisinya masih segar dan
dengan ruangan yang cukup untuk bernafas lega.
• Faktor Eksternal ini meliputi sebagai berikut:
1. Faktor Instrumental.
Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunaannya dirancang
sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor-faktor ini diharapkan dapat berfungsi
sebagai sarana untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar yang direncanakan. Faktor-faktor
instrumental ini berupa kurikulum, sarana dan guru.
2. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang dapat
mempengaruhi prestasi belajarnya. Diantara faktor-faktor intern yang dapat mempengaruhi
9
prestasi belajar seseorang antara lain a. Kecerdasan/intelegensi 1. Bakat 2. Minat 3. Motivasi
b. Faktor Ekstern 14. Usman, M. Uzer, Menjadi Guru Profesional2006(PT.Remaja
Rosda,Bandung).134 16 Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
prestasi belajar seseorang yang sifatnya berasal dari luar diri seseorang tersebut.
Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu aktivitas yang di dalamnya terdapat sebuah proses dari tidak tahu
menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal. Nana Sudjana
(1989: 5) menjelaskan belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan
pada diri siswa. Perubahan ini ditunjukkan dengan adanya perubahan pengetahuan,
pemahaman, sikap, tingkah laku, kebiasaan, dan aspek-aspek positif lain yang ada dalam diri
siswa yang sedang belajar. Sugihartono (2012:74) menjelaskan bahwa belajar merupakan
proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam wujud perubahan tingkah laku dan
kemampuan bereaksi yang relatif permanen atau menetap karena adanya interaksi individu
dengan lingkungannya. Hilgard dan Gor don dalam Oemar Hamalik (2009: 48) mengatakan
bahwa belajar menunjuk pada perubahan dalam tingkah laku siswa dalam berbagai situasi
yang disebabkan sebuah pengalaman. Oemar Hamalik (2009: 109) menjelaskan faktor-faktor
yang mempengaruhi belajar siswa antara lain:
1) Kegiatan belajar agar anak mendapatkan pengalaman untuk mengembangkan dan
menambah pengetahuan, menanamkan nilai-nilai, menambah keterampilan
2) Latihan dan ulangan, sehingga pembelajaran akan lebih efektif
3) Kepuasan, kesenangan, dan keinginan untuk belajar akan bertambah jika dengan belajar
siswa mampu merasa puas.
4) Asosiasi dan transfer dengan adanya berbagai pengalaman baru dari siswa perlu
diasosiasikan agar menjadi satu kesatuan
5) Pengalaman masa lampau yang memudahkan siswa untuk mampu menerima pengalaman
yang baru
6) Kesiapan dan kesediaan belajar meliputi kesiapan mental, kesiapan sosial, kesiapan
emosional, dan kesiapan fisik
7) Minat dan usaha
8) Fisiologis, kesehatan, dan keseimbangan siswa perlu di perhatikan karena kondisi
fisiologis berpengaruh terhadap konsentrasi, kegiatan, dan hasil belajar
9) Intelegensi atau kecerdasan dan kemajuan tingkat belajar dipengaruhi oleh perkembangan
intelegensi siswa seperti cerdas, kurang cerdas, atau lamban.
• Syaiful Sagala (2011: 53) menjelaskan setiap perilaku belajar selalu ditandai dengan ciri-
ciri perubahan yang spesifik antara lain:
a) Belajar menyebabkan perubahan pada aspek-aspek kepribadian yang berfungsi terus
menerus dan berpengaruh pada proses belajar selanjutnya
10
b) Belajar hanya terjadi melalui pengalaman yang bersifat individual
c)Belajar merupakan kegiatan yang bertujuan, yaitu arah yang ingin dicapai melalui proses
belajar
d) Belajar menghasilkan perubahan yang menyeluruh dan melibatkan keseluruhan tingkah
laku secara integral;
e) Belajar adalah proses interaksi; f) Belajar berlangsung dari yang paling sederhana sampai
kompleks.
• Sardiman (2012: 26) menjelaskan tujuan belajar ada tiga jenis, yaitu:
1) Untuk mendapatkan pengetahuan kemampuan untuk berfikir.
2) Penanaman konsep dan keterampilan pada siswa baik keterampilan yang bersifat jasmani
maupun rohani;
3) Pembentukan sikap untuk menumbuhkan sikap mental, perilaku, dan pribadi siswanya.
Pembentukan sikap mental dan perilaku siswa tidak lepas dari persoalan penanaman nilai-
nilai, transfer of values.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan belajar merupakan upaya siswa untuk
mendapatkan pengetahuan, keterampilan, penanaman sikap dan nilai-nilai. Selain itu,
lingkungan belajar dipengaruhi oleh berbagai komponen, di mana setiap komponen saling
mempengaruhi. Komponen tersebut misalnya, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai,
materi yang akan diajarkan, guru dan siswa dalam pembelajaran, serta sarana prasarana
penunjang pembelajaran. Setiap komponen saling berpengaruh dan memiliki tujuan masing-
masing.
Pengertian Hasil Belajar
Salah satu tugas pokok guru adalah mengevaluasi taraf keberhasilan dan pelaksanaan proses
pembelajaran. Bertujuan untuk melihat sejauh mana taraf keberhasilan guru dan siswa dalam
menyampaikan dan menerima materi. Hasil belajar merupakan puncak dari proses
pembelajaran yang digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dalam
penguasaan materi. Hasil belajar terjadi apabila seseorang telah belajar akan terjadi
perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak
mengerti menjadi mengerti. Hasil belajar mencakup kemampuan kognitif (intelektual),
afektif (sikap), dan kemampuan psikomotorik(bertindak). Sedangkan menurut Agus
Suprijono (2012: hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian- pengertian,
sikap- sikap, apresiasi dan keterampilan.
Nana Sudjana (2006: 23) menjelaskan berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar
dalam rangka studi dicapai melalui tiga ranah kategori antara lain kognitif, afektif, dan
psikomotor dengan perincian sebagai berikut:
a) Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu
pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian;
11
b) Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang
kemampuan yaitu menerima, menjawab, atau reaksi, menilai, organisasi dan karakterisasi
dengan suatu nilai atau kompleks nilai.
c) Ranah psikomotorik meliputi keterampilan motorik, manipulasi benda-benda, koordinasi
neuromuscular (menghubungkan, mengamati). Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan
daripada afektif dan psikomotor karena hasil belajar kognitif lebih menonjol untuk dapat
dilihat secara langsung hasil yang diperoleh. Guru dapat dikatakan berhasil dalam
menyampaikan materi apabila terjadi perubahan yang positif dalam diri siswa. Sedangkan
siswa dikatakan berhasil dalam proses belajarnya apabila hasil belajar yang diperolehnya
mencapai hasil yang maksimal. Nana Sudjana (2010: 37) menekankan keberhasilan mengajar
dapat dilihat dari segi hasil yang dicapai siswa, dengan proses pengajaran yang optimal
memungkinkan hasil belajar yang optimal pula. Nana Sudjana (2006: 22) mengatakan bahwa
hasil belajar adalah kemampuan- kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajarnya.
Howard Kingsley (1970) dalam Nana Sudjana (2010: 45) membagi tiga macam hasil belajar,
yakni
a) Keterampilan dan kebiasaan
b) Pengetahuan dan pengertian
Sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ditetapkan
dalam kurikulum sekolah.Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang.
Dengan pencapaian hasil belajar yang semakin membaik akan mampu membentuk pribadi
individu siswa. Di dalam penelitian ini peneliti hanya akan menekankan pada peningkatan
tipe hasil belajar kognitif siswa yang dilihat dari hasil tes belajar.
KESIMPULAN
Dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep belajar dan pembelajaran adalah suatu yang sangat
mendasar dari suatu proses belajar. Aspek-aspek diatas hendaknya harus saling berhubungan
agar tujuan dari pembelajaran dapat tercapai dengan baik dan dapat memperoleh hasil yang
kongkret.
SARAN
Sebaiknya seblum melakukan tahap pembelajaran harus tau dulu konsep dasar apa
yang ingin kita pahami
12
B. MATERI KONSEP MINAT BELAJAR
Makalah kelompok 3 dan 4
Latar Belakang
Belajar adalah usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan atau
menguasai suatu ilmu pengetahuan. Belajar memiliki arti dasarakan adanya aktifitas atau
kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu. Belajar merupakan segenap rangkaian kegiatan
atau aktifitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan
dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan atau kemahiran berdasarkan alat indera dan
pengalamannya.Kualitas belajar seseorang ditentukan oleh pengalaman-pengalaman yang
diperolehnya saat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan
belajar. Hasil belajar siswa ini dipengaruhi oleh dua faktor yaitu siswa itu sendiri dan
lingkungannya. Siswa dalam artian kemampuan berpikir, motivasi, minat dan kesiapan siswa.
Sedangkan lingkungan yang mempengaruhi hasil belajar siswa meliputi sarana dan prasarana,
kompetensi guru, kreativitas guru, sumber belajar, metode belajar serta dukungan keluarga
dan masyarakat.
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi hasil belajar siswa adalah minat belajar
siswa. “Minat merupakan suatu kekuatan motivasi yang menyebabkan seseorang
memusatkan perhatian terhadap sesuatu atau kegiatan tertentu”.Dengan demikian minat
menjadi faktor yang sangat penting untuk membuat siswa perhatian, fokus dan terlibat aktif
dalam proses pembelajaran. Bakat dan minat siswa berpengaruh terhadap prestasi siswa pada
mata pelajaran tertentu.
Minat belajar yang tergambarkan dari motivasi belajar siswa merupakan suatu keadaan
di dalam diri siswa yang mampu mendorong dan mengarahkan perilaku mereka kepada
pencapaian tujuan yang ingin dicapainya dalam mengikuti pendidikan di sekolah. (Pujadi :
2007). Dalam pencarian identitas diri diharapkan siswa dapat memilbentuk konsep dirinya
yang positif karena akan berpengaruh terhadap pemikirannya,perakunya,
1
serta pendidikan dalam pencapaian prestasi belajar. Tanpa adanya minat belajar yang tinggi,
sebaik apapun fasilitas yang ada di sekolah, maka siswa tetap akan malas untuk
belajar. Rata-rata siswa kurang mampu menjawab dengan tepat terhadap soal yang diberikan
pada kegiatan evaluasi pembelajaran.
Konsep Minat Belajar
Pada setiap orang, minat berperan sangat penting dalam kehidupannya. Minat mempunyai
dampak yang besar atas perilaku dan sikap orang tersebut. Di dalam belajarpun minat dapat
menjadi sumber motivasi yang kuat dalam mendorong seseorang untuk belajar. Secara garis
besar, minat memiliki dua pengertian, Pertama, usaha dan kemauan untuk mempelajari
(Learning) dan mencari sesuatu, Kedua merupakan dorongan pribadi seseorang dalam
mencapai tujuan tertentu.
Pengertian minat menurut bahasa (Etimologi), ialah usaha dan kemauan untuk mempelajarai
(learning) dan mencari sesuatu. Secara (Terminologi), minat adalah keinginan, kesukaan dan
kemauan terhadap sesuatu hal. Minat mengandung unsur-unsur yang terdiri dari kognisi
(mengenal), emosi (perasaan), dan konasi (kehendak). Unsur kognisi, dalam arti minat itu
didahului oleh pengetahuan dan informasi mengenai objek yang dituju oleh minat tersebut.
13
Unsur emosi karena dalam partisipasi atau pengalaman itu disertai dengan perasaan tertentu
(perasaan senang) sedangkan unsur konasi merupakan kelanjutan dari kedua unsur tersebut
yaitu yang diwujudkan dalam bentuk kemauan dan hasrat untuk melakukan suatu
kegiatan,termasuk kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah.
Minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan beberapa aktivitas.
Seseorang yang berminat terhadap aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara
konsisten dengan rasa senang. Dari beberapa pengertian di atas dapat diuraikan bahwa minat
adalah kecenderungan tertarik pada sesuatu yang relatif tetap untuk lebih memperhatikan dan
mengingat secara terus – menerus yang diikuti rasa senang untuk memperoleh suatu
kepuasan2 dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
secara etimologi belajar memiliki arti ”berusaha memperoleh kepandaian atilmu”. Definisi ini
memiliki pengertin bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau
ilmu. Di sini, usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk
memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang sebelum dipunyai
sebelumnya. Sehingga dengan belajar itu manusia menjadi tahu, memahami, mengerti dapat
melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu.
Macam-Macam dan Ciri Minat
Minat memegang peranan penting dalam pelaksanaan proses belajar mengajar sehingga
minat dapat digolongkan menjadi beberapa macam, antara lain berdasarkan timbulnya minat
dan berdasarkan arahnya minat.
1.Berdasarkan timbulnya
minat dapat dibedakan menjadi dua macam antara lain:
a. Minat Primitif
adalah minat yang timbul karena kebutuhan biologis atau jaringan-jaringan tubuh, misalnya
kebutuhan akan makanan, perasaan enak dan nyaman, kebebasan beraktivitas serta seks
b. Minat Kultural atau sosial
adalah minat yang timbulnya karena proses belajar, minat ini tidak secara langsung
berhubungan dengan diri kita. Misalnya minat belajar individu punya pengalaman bahwa
masyarakat atau lingkungan akan lebih menghargai orang-orang terpelajar dan pendidikan
tinggi,sehingga hal ini akan menimbulkan minat individu untuk belajar dan berprestasi agar
mendapat penghargaan dari lingkungan, hal ini mempunyai arti yang sangat penting bagi
harga dirinya.
2. Berdasarkan arahnya,
minat dapat dibedakan menjadi dua macam antara lain:
a. Minat Intrinsik
adalah minat yang langsung berhubungan dengan aktivitas itu sendiri, ini merupakan minat
yang lebih mendasr atau minat asli. Misalnya seseorang belajar karena memang pada ilmu
pengetahuan atau karena memang senang membaca, bukan karena ingin mendapatkan pujian
atau penghargaan.
b. Minat Ekstrinsik
adalah minat yang berhubungan dengan tujuan akhir dari kegiatan tersebut, apabila tujuannya
sudah tercapai ada kemungkinan minat tersebut hilang. Misalnya seseorang yang belajar
dengan tujuan agar menjadi juara kelas atau lulus ujian.
3. Berdasarkan cara mengungkapkan
minatdapat dibedakan menjadi empat macam,terdiri atas:
Expressed interest
14
adalah minat yang diungkapkan dengan cara meminta kepada subjek untuk menyatakan atau
menuliskan kegiatan-kegiatan baik yang berupa tugas maupun bukan tugas dengan perasaan
senang.
Manifest interest
adalah minat yang diungkapkan dengan cara mengobservasi secara langsung terhadap
aktivitas-aktivitas yang dilakukan subjek
Tested interest
adalah minat yang diungkapkan cara menyimpulkan dari hasil jawaban tes objektif yang
diberikan.
Inventoried interest
adalah mina tyang diungkapkan dengan menggunakan alat-alat yang sudah
distandardisasikan.
Dr. Med. Metasari dalam buku ”Perkembangan Anak”, menyebutkan ada beberapa ciri minat
pada seorang anak, diantara sebagai berikut:
1. Minat tumbuh bersamaan dengan perkenbangan fisik dan mental.
2. Minat bergantung pada kesiapan belajar.
3. Minat bergantung pada kesempatanbelajar.
4. Perkembangan minat terbatas.
5. Minat dipengaruhi oleh pengaruh budaya.
6. Minat berbobot emosional.
7. Minat itu Egosentrik
Untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu persatu sebagai berikut:
1.Minat tumbuh
bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental. Minat di semua bidang berubah
selama terjadi perubahan fisik dan mental. Pada waktu pertumbuhan terlambat dan
kematangan dicapai, minat menjadi lebih stabil. Anak yang berkembang lebih cepat
atau lebih lambat dari pada teman sebayanya. Anak yang lambat matang akan
menghadapi masalah sosial karena minat mereka minat anak, sedangkan minat teman
sebayanya minat remaja.
2. Minat bergantung pada kesiapan belajar
Anak-anak tidak dapat mempunyai minat sebelum mereka siap secara fisik dan
mental, sebagai contoh : mereka tidak dapat mempunyai minat yang sungguhsungguh
untuk permainan bola sampai mereka memiliki kekuatan dan koordinasi otot yang
diperlukan untuk permainan tersebut.
3. Minat bergantung pada kesempatanbelajar
Kesempatan untuk belajar bergantungpada lingkungan dan minat, bahkan anak-anak
maupun dewasa, yang menjadi bagian dari lingkungan anak.Karena lingkungan anak
kecil sebagian besar terbatas pada rumah, minat mereka “tumbuh dari rumah”. Dengan
bertambah luasnya lingkaran social mereka menjadi tertarik pada minat orang di luar
rumah yang mulai mereka kenal.
4. Perkembangan minat terbatas
Ketidak mampuan fisik dan mental sertapengalaman yang terbatas membatasi minat
anak. Anak yang cacat fisik misalnya, tidak mungkin mempunyai minat yang sama
pada olah raga seperti teman sebaya yang perkembangann fisiknya normal.
5. Minat dipengaruhi oleh pengaruh budaya
Anak-anak mendapat kesempatan dari orang tua, guru dan orang lain untuk belajar
mengenai apa saja yang oleh kelompok budaya yang mereka dianggap minat yang
sesuai dan mereka tidak diberi kesempatan untuk menekuni minat yang dianggap tidak
sesuai bagi mereka oleh kelompok budaya mereka.
15
6. Minat berbobot emosional
Bobot emosional, aspek efektif, dari minat menentukan kekuatannya. Bobot emosional
yang tidak menyenangkan melemahkan minat bobot emosional yang menyenangkan
memperkuat.
7. Minat itu Egosentrik.
Sepanjang masa kanak-kanak, minat itu egosentris, misalnya : minat anak lakilaki pada
matematika, sering berlandaskan keyakinan bahwa kepandaian dibidang matematika di
sekolah akan merupakan langkah penting menuju kedudukan yang menguntungkan dan
bergengsi di dunia usaha
Selain beberapa ciri minat di atas, di dalam buku ”Belajar dan Faktor-faktor Yang
Mempengaruhinya”, Slameto menambahkan bahwa ciri seseorang mempunyai minat terdiri
atas sebagai berikut:
1. Minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa
lebih menyukai suatu hal dari pada yang lain.
2. Siswa yang memiliki minat terhadap suatu subjek tertenu cenderung untuk memberikan
perhatian yang lebih besdar terhadap subjek tersebut.
3. Minat dapat dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas.
Fungsi Minat dalam Belajar
Menurut Sabri (2007: 85), minat dalam belajar memiliki fungsi sebagai berikut:
1. Sebagai kekuatan yang akan mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang
minat kepada suatu pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar
2. Pendorong siswa untuk berbuat dalam mencapai tujuan
3. Penentu arah perbuatan siswa yakni kearah tujua yang hendak dicapai
4. Penseleksi perbuatan, sehingga perbuatan siswa yang mempunyai minat
akan senantiasa selektif dan tetap terarah kepada tujuan yang ingin dicapai.
Pengaruh Minat Terhadap Kegiatan Belajar Siswa
Minat siswa terhadap pelajaran merupakan kekuatan yang akan mendorong siswa
untuk belajar. Siswa yang berminat (sikapnya senang) terhadap suatu pelajaran akan
tampak terdorong terus untuk tekun belajar, berbeda sekali dengan siswa yang
sikapnya 7 hanya menerima kepada pelajaran. Mereka hanya tergerak untuk mau
belajar tetapi sulit untuk bisa terus tekun karena tidak memiliki faktor pendorongnya.
Minat juga sebagai salah satu faktor internal mempunyai peranan dalam
menunjang prestasi belajar siswa, siswa yang tidak berminat terhadap bahan pelajaran
akan menunjukkan sikap yang kurang simpatik, malas dan tidak bergairah mengikuti
proses belajar mengajar.
Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-
bidang studi tertentu. Umpamanya, seorang siswa yang menaruh minat besar terhadap
matematika akan memusatkan perhatiannya lebih banyak daripada siswa lainnya.
Kemudian, karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang
memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi
yang diinginkan (Syah, 2010: 152).
Sulastri (2009: 51) berpendapat bahwa “prestasi adalah suatu hasil dari apa yang
telah diusahakan dengan menggunakan daya atau kekuatan”. Sehingga,untuk meraih
prestasi pada suatu bidang sangatlah diperlukan daya pendorong yang kuat agar siswa
tetap semangat saat berusaha meraihnya dan salah satu daya pendorong tersebut
adalah minat. Beberapa indikator yang dapat kita amati saat siswa sedang memiliki
minat pada suatu pelajaran, antara lain:
- mengikuti pelajaran pada jadwalnya
16
- hadir tepat waktu, tidak ingin terlambat saat belajar
- membawa peralatan belajar dengan lengkap, alat tulis, buku cetak dan buku catatan
- mencatat materi pelajaran dengan lengkap
- memperhatikan dengan seksama jika guru menerangkan
- memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terlihat dari antusiasnya saat mengikuti
pelajaran dan bertanya
- menjawab pertanyaan dengan mudah
- mengerjakan latihan dan tugas dengan semangat
- sedih apabila guru terlambat masuk mengajar atau tidak masuk
- memperkaya bahan dengan meminjam buku terkait pelajaran di perpustakaan
- selalu membaca bahan pelajaran walau diluar jadwal pelajaran
Peran Guru dalam Meningkatkan Minat Siswa dalam Pembelajaran
Seseorang akan berhasil dalam belajar, jika pada dirinya sendiri ada keinginan
untuk belajar (Sardiman, 2012). Begitu pentingnya minat belajar ini,maka guru perlu
mewujudkan suasana pembelajaran yang dapat merangsang minat siswa (Uno dan
Muhammad, 2011). Oleh sebab itu, guru perlu merancang sebuah pembelajaran yang
menarik,menyenangkan serta dapat mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-
hari siswa sehingga pelajaran menjadi bermakna dan terasa manfaatnya oleh siswa,
semua itu dilakukan demi memunculkan minat siswa terhadap pelajaran yang akan
dipelajarinya dengan harapan mampu meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa.
Minat merupakan faktor psikologis yang akan mempengaruhi belajar. Minat yang
dapat menunjang belajar adalah minat kepada bahan/mata pelajaran dan kepada guru
yang mengajarnya. Apabila siswa tidak berminat kepada bahan/mata pelajaran juga
kepada gurunya, maka siswa tidak akan mau belajar. Oleh karena itu, guru harus
memberi motivasi agar siswa mau belajar dan memperhatikan pelajaran. Guru perlu
sekali mengenal minat-minat muridnya,karena itu penting bagi guru untuk memilih
bahan pelajaran, merencanakan pengalaman-pengalaman belajar, menuntun mereka
ke arah pengetahuan, dan untuk mendorong motivasi belajar mereka (Hamalik, 2008:
105).
Hal yang harus dimiliki oleh seorang guru sebelum meningkatkan minat siswa
adalah meningkatkan minat dan antusias pada diri guru itu sendiri. Menurut Hamalik
(2008: 164), motivasi itu mudah sekali menjalar atau tersebar kepada orang lain. Guru
yang berminat tinggi dan antusias akan menghasilkan muridmurid yang juga berminat
tinggi dan antusias pula. Demikian pula dengan murid yang antusias akan mendorong
motivasi murid-murid lainny.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar Siswa
Beberapa faktor dapat menjadi penyebab meningkat atau menurunnya minat siswa
terhadap pelajaran tertentuSiswa yang berminat (sikapnya senang) terhadap suatu
pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar, berbeda sekali dengan
siswa yang sikapnya
hanya menerima kepada pelajaran. Mereka hanya tergerak untuk mau belajar tetapi
sulit untuk bisa terus tekun karena tidak memiliki faktor pendorongnya.
Minat juga sebagai salah satu faktor internal mempunyai peranan dalam
menunjang prestasi belajar siswa, siswa yang tidak berminat terhadap bahan pelajaran
akan menunjukkan sikap yang kurang simpatik, malas dan tidak bergairah mengikuti
proses belajar mengajar.
Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-
bidang studi tertent, diantaranya adalah:
1. Persepsi siswa terhadap pelajaran
17
Persepsi yang salah terhadap pelajaran akan membuat siswa malas untuk
mempelajari suatu materi pelajaran. Sebagai contoh: pandangan siswa terhadap
pelajaran matematika
sebagai mata pelajaran yang sulit, atau pelajaran IPS merupakan pelajaran yang
membosankan tentunya akan menyebabkan siswa menjadi malas untuk mempelajari
pelajaran-pelajaran tersebut. Sebaliknya, persepsi positif terhadap suatu pelajaran
dengan menganggap pelajaran tertentu sebagai pelajaran yang mengasyikkan dan
menantang akan membuat siswa menjadi bersemangat untuk lebih giat belajar.
2. Kondisi Fisik dan Psikis siswa
Kondisi fisik atau jasmani siswa saat mengikuti pembelajaran sangat berpengaruh
terhadap minat dan aktivitas belajarnya. Faktor kesehatan badan, seperti kesehatan
yang prima dan tidak dalam keadaan sakit atau lelah, akan sangat membantu dalam
memusatkan perhatian terhadap pelajaran.Tidak hanya kesehatan fisik, namun juga
psikis. Banyaknya beban pikiran dan masalah yang dihadapi oleh siswa akan sangat
mengganggu konsentrasi dan perhatian siswa saat mengikuti pembelajaran. Apalagi
pada beberapa pelajaran yang memerlukan kegiatan mental yang tinggi dan menuntut
banyak perhatian dengan pikiran yang jernih.
3. Hubungan Guru dan Murid
Minat yang dapat menunjang belajar adalah minat kepada bahan/mata pelajaran
dan kepada guru yang mengajarnya (Sabri, 2007: 84). Apabila siswa tidak berminat
kepada bahan/mata pelajaran atau juga kepada gurunya, maka siswa tidak akan
bersemangat belajar. Hubungan yang positif antara siswa dan guru akan sangat
menentukan kelancaran komunikasi diantara keduanya. Saat siswa tidak menyukai
guru tertentu, secara tidak langsung siswa juga tidak akan menyukai pelajaran yang
disampaikan oleh guru tersebut. Sebaliknya saat siswa menyukai guru tertentu, juga
akan membuat siswa tertarik terhadap apa yang disampaikan oleh guru saat belajar
dikelas.
4. Metode dan Gaya Mengajar Guru
Suasana belajar yang ditampilkan oleh guru saat mengajar akan mempengaruhi
mood peserta didik. Suasana monoton dan membosankan akan membuat siswa tidak
bersemangat mengikuti pembelejaran, sebaliknya suasanya yang menarik,
menyenangkan dan bergairah akan meningkatkan aktifitas dan perhatian siswa dalam
proses pembelajaran. Menurut Kartawidjaja (1987: 185),perasaan senang akan
menimbulkan sikap positif dan akan menumbuhkan minat, sebaliknya perasaan tidak
senang akan menimbulkan sikap negatif dan tidak menumbuhkan minat.
5. Keterkaitan Materi Pelajaran dengan Kehidupan Siswa
Selain hal-hal yang menarik dan menyenangkan, minat juga berhubungan dengan
kepentingan atau kebutuhan seseorang terhadap sesuatu. Oleh sebab itu, keterkaitan
materi pelajaran terhadap kebutuhan dan kehidupan sehari-hari siswa akan
mempengaruhi perhatian dan minat siswa untuk mempelajarinya. Setiap guru
hendaklah mampu membawa pelajaran yang diajarkan dekat dengan kehidupan
sehari-hari dengan menggunakan contoh nyata dalam kehidupan. Dapat juga guru
menggunakan fenomena kehidupan yang ada, kemudian membahasnya dari sudut
pandang pelajaran yang akan dipelajari.
6. Reinforcement (penguatan)
Setiap orang selalu membutuhkan dorongan dan penguatan untuk terus
berprestasi. Minat dan motivasi bisa saja menurun pada kondisi-kondisi tertentu.
Kemampuan seorang guru dalam memberikan penguatan saat motivasi siswa menurun
akan mempengaruhi “stamina” siswa untuk terus berusaha dan berprestasi.
18
Sebaliknya, prestasi sekecil apapun perlu diberikan apresiasi yang positif sebagai
bentuk penghargaan atas usaha yang telah dilakukan oleh peserta didik. Setiap siswa
memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya, dengan
demikian kemajuan belajar siswa pun akan berbeda-beda. Apresiasi terhadap
kemajuan belajar setiap siswa walaupun terjadi sedikit kemajuan, akan memperbesar
energi motivasi dalam diri siswa untuk semakin meningkatkan prestasi belajarnya.
Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Minat siswa terhadap suatu
pelajaran mempengaruhi tingkat aktifitas dan prestasi belajar siswa. Belajar dengan minat
akan mendorong siswa belajar lebih baik daripada belajar tanpa minat. Minat berhubungan
dengan sesuatu yang menarik, menyenangkan dan kebutuhan seseorang. Untuk meningkatkan
minat siswa dalam belajar, hendaknya setiap guru mampu menampilkan pembelajaran yang
menarik, menyenangkan dan bermakna dengan metode mengajar yang bervariasi.
Saran
Untuk mendeteksi minat dan bakat anak diperlukannya peran orang tua maupun guru agar
dalam proses belajar atau dikemudian hari bisa bekerja dibidang yang diminatinya sehingga
mereka bisa bekerja secara optimal dan penuh antusias.
Dan penulis menyadari sebagai manusia biasa yang tak lepas dari kekurangan yang
membawa ketidaksempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi kesempurnaanya dimasa mendatang.
19
Makalah kelompok 4
Latar Belakang
Pendidikan merupakan sebuah wadah untuk seseorang yang sedang mempelajari ilmu
untuk bekal perjalanan hidupnya. Dengan adanya pendidikan akan memudahkan manusia
untuk menyelesaikan masalah yang terkecil maupun masalah yang terbesar sekalipun.
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan melalui pengajaran, pelatihan,
atau penelitian secara mandiri atau dibawah bimbingan seseorang yang disebut pendidik.
Dalam proses belajar mengajar terdapat pendidik dan pelajar. Beda dengan pengajar
yang hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, pendidik adalah seseorang yang juga
mengajarkan sikap kepada para muridnya seperti sika psopan, santun, jujur dan lain
sebagainya. Seorang yang disebut dengan pendidik dalam mengajar harus bias menjadikan
paramuridnya mempunyai minat untuk belajar. Karena tanpa minat belajar, seorang siswa
akan merasa bosan dengan yang namanya belajar. Memancing daya tarik seorang siswa
bukanlah sesuatu yang mudah. Akan tetapi, hal tersebut sudah menjadi kewajiban seorang
pendidik untuk mendidik siswanya.
Guru ataupun orang tua adalah seorang pendidik yang berperan dalam
kependidikan. Menjadikan anak mempunyai perkembangan dari tidak tau menjadi tau, dari
tidak bias menjadi bias dan bias membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Dengan begitu lama kelamaan seorang anak akan memiliki bakat. Sang pendidik harus tau
apa bakat yang dimiliki siswanya kemudian membantu untuk mengembangkan bakat
tersebut menjadi keterampilank husus yang dimiliki seorang anak.
Konsep Minat Belajar
Konsep biasa diartikan sebagai gambaran atau rancangan tentang suatu objek.
Misalnya seorang siswa mempunyai keinginan untuk meraih ranking satu di dalam kelas.
Kemudian siswa tersebut mebuat sebuah rencana untuk meraih ranking satu. Dimulai dengan
membuat jadwal harian untuk mengatur kegiatannya sehari hari sampai melakukan belajar
dengan giat setiap harinya. Karena memiliki keingian dan minat yang kuat sisw atersebut
akhirnya dapat meraih ranking satudi kelas.
Minat yang dimiliki seorang siswa sangat penting untuk melakukan suatu kegiatan.
Karena minat merupakan suatu kecintaan, kesukaan, kesenangan dan kebutuhan untuk
melakukan sesuatu. Dengan memiliki minat maka siswa akan bersungguh – sungguh untuk
melakukan sesuatu.
Rasa senang dan suka untuk mempelajari sesuatu akan mendorong siswa untuk
belajar dan mengasah kemampuan serta keterampilan yang dimilikinya. Jadi, konsep minat
belajar siswa adalah rancangan atau gambaran yang bertujuan membuat siswa menyukai,
menyenangi, dan mencitai belajar. Dengan begitu sang pendidik berupaya mengetahui
sesuatu yang disenangi para muridnya agar tau apa yang harus dilakukan untuk mengajar
dan di dengarkan serta diterima oleh para siswa - nya.
Macam-Macam dan Ciri-Ciri Minat Belajar
Sang pendidik harus tau apa bakat yang dimiliki siswanya kemudian membantu
untuk mengembangkan bakat tersebut menjadi keterampilan khusus yang dimiliki seorang
anak. Minat seorang anak berbeda - beda. Beriku tmacam – macam minat yang sering
diminati oleh siswa:
20
a. Minat terhadap alam sekitar, contohnya seorang anak memiliki minat untuk
mempelajari yang ada disekitarnya seperti tumbuhan dan hewan yang sering di jumpainya.
b. Minat terhadap musik, contohnya seorang anak memiliki rasa senang dan sedikit
memiliki bakat bermain alat music seperti gitar, piano dan lain sebagainya.
Minat seni, contohnya ada seorang anak yang memiliki imajinasi yang bagus. Maka
seorang anak tersebut membutuhkan pembimbing untuk melatih menggunakan imajinasinya
untuk menggambar dan lain sebagainya.
c. Minat terhadap ilmu pengetahuan, biasa minat ini terdapat pada anak yang suka
untuk memecahkan masalah. Semakin banyak dia memiliki ilmu maka semakin banyak dia
tau dan semakin cepat dia bias menyelesaikan masalahnya.
d. Minat hitung menghitung, minat ini juga terdapat pada anak yang senang
memecahkan masalah. Akan tetapi sedikit berbeda minat ilmu pengetahuan. Jika anak
memiliki minat menghitung maka anak tersebut lebih suka memecahkan masalah yang
berhubungan dengan angka.
Pengaruh Minat Belajar Siswa
Yang dirasakan seorang anak jika memiliki minat saat melakukan sesuatu adalah
tidak merasa bosan. Dengan begitu, kemungkinan yang akan terjadi seorang anak tersebut
akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang diainginkan. Akan tetapi anak ini
juga memerlukan seorang pendamping untuk mengawasinya agar tidak melakukan sesuatu
yang tidak diinginkan. Misalnya seorang anak kecil memiliki kesenangan saat
menggambar. Kemudian, gambar hasil karyanya akan ditempelkan pada dinding kamarnya.
Suatu hari anak kecil tersebut kehabisan lem untuk menempelkan hasil karyanya kedinding
dan menemukan solusi menggantikan lem dengan menggunakan nasi. Dia berpikir nasi
lengket akan menempelkan gambar kedinding. Jika hal tersebut tidak diawasi maka nasi
akan berserakan dimana - mana. Maka dari itu sang pembimbing sangat berperan untuk
mengajarkan sesuatu dengan baik. Ibarat kertas putih yang sebagai anak dan pena yang
mengisi kertas sebagai pembimbing nya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari makalah ini, saya menyimpulkan Pendidikan merupakan
sebuah wadah untuk seseorang yang sedang mempelajari ilmu untuk bekal perjalanan
hidupnya Dengan adanya pendidikan akan memudahkan manusia untuk menyelesaikan
masalah yang terkecil maupun masalah yang terbesar sekalipun.Dalam pendidikan,seorang
pendidik memerlukan konsep minat belajar untuk mengetahui minat yang dimiliki seorang
siswa, karena dinilai sangat penting untuk melakukan suatu kegiatan. Dan sang pendidik
juga harus tau apa bakat yang dimiliki siswanya kemudian membantu untuk
mengembangkan bakat tersebut menjadi keterampilan khusus yang dimiliki seorang anak.
Karena minat yang dimiliki seoarang anak – anak berbeda.
SARAN
Seorang pendidik diharapkan daapat menjadi cerminan dari peserta didik yang
sangat menentukan karakternya. Sang pendidik pun harus memahami serta membimbing
siswa untuk menentukan minat belajar sesui kemampuan siswa sehinnga siswa tidak
merasakan bosan.
21
C. MATERI KONSEP BELAJAR BEHAVIORISTIK
Makalah kelompok 5 dan 6
Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu
perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar,
dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu. Belajar tidak hanya sekedar
memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan. Namun bagaimana melibatkan
individu secara aktif membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi
suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya. Pembelajaran merupakan suatu sistem
yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan.
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari
adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk
perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara
yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Dalam teori behavioristik ada
beberapa ahli yang mengemukakannya, seperti Edward Lee Thorndike, John Broades
Watson, Clark Leonard Hull, Edwin Ray Guthrie, dan Burrhusm Frederic Skinner.
Pengertian Belajar Menurut Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari
adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk
perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara
yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah
belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Sebagai contoh, siswa
belum dapat berhitung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat dan gurunya sudah
mengajarkan dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan
perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Karena ia belum dapat menunjukkan
perubahan perilaku sebagai hasil belajar.
Teori ini mengutamakan pengukuran sebab pengukuran merupakan suatu hal yang
penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Faktor lain yang juga
dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement).
Penguatan adalah apa saja yang dapat meemperkuat timbulnya respons. Bila penguatan
ditambahkan (positive reinforcement), maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila
penguatan dikurangi (negative reinforcement), maka respon pun akan tetap dikuatkan.
Jadi, penguatan merupakan suatu bentuk stimulus, yang penting diberikan (ditambahkan) atau
dihilangkan (dikurangi) untuk memungkinkan terjadinya respon yang positif. Pembelajaran
yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang pengetahuan adalah
objektif, pasti, dan tetap (tidak berubah) sehingga teori behavioristik dianggap masih relevan.
Prinsip Teori Belajar Behavioristik
1. Apabila seseorang sudah mampu menunjukkan perubahan perilaku, maka dikatakan sudah
belajar. Artinya, kegiatan belajar yang tidak membawa perubahan perilaku tidak dianggap
belajar menurut teori ini.
2. Hal yang paling penting pada teori ini adalah stimulus dan respon karena bisa diamati.
Hal-hal selain stimulus dan respon tidak dianggap penting karena tidak bisa diamati.
3. Adanya penguatan (reinforcement), yaitu hal-hal yang bisa memperkuat respon. Penguatan
bisa berupa penguatan positif dan negatif.
Teori belajar ini mencakup, antara lain:
Ciri-ciri Teori Belajar Behaviostik
22
1. Mengutamakan pengaruh lingkungan.
2. Hasil pembelajaran fokus pada terbentuknya perilaku yang diinginkan.
3. Mementingkan pembentukan reaksi atau respon.
4. Bersifat mekanistis atau dilakukan dengan mekanis tertentu, misalnya meminta maaf.
5. Menganggap latihan itu adalah hal yang penting dalam proses pembelajaran.
B. Teori Belajar Menurut Edward Lee Thorndike
Menurut Thorndike belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon.
Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran,
perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu
reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran,
perasaan, gerakan/tindakan. Thorndike dalam teori belajarnya mengungkapkan bahwa setiap
tingkah laku makhluk hidup itu merupakan hubungan antara stimulus dan respon. Teori
Thorndike ini disebut dengan Teori Connectionisme. Belajar adalah pembentukan hubungan
stimulus dan respon sebanyak-banyaknya. Dengan adanya stimulus diharapkan akan timbul
respon yang maksimal. Teori ini sering juga disebut dengan teori ‘trial and error’. Dalam
teori ini orang yang bisa menguasai hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya
maka dapat dikatakan orang ini merupakan orang yang berhasil dalam belajar. Adapun cara
untuk membentuk hubungan stimulus dan respon ini dilakukan secara berulang.
Menurut Thorndike teori ‘trial dan error’ berlaku bagi semua orang dan apabila
seseorang dihadapkan dengan keadaan atau situasi yang baru maka secara otomatis akan
memberikan respon atau tindakan-tindakan yang bersifat coba-coba atau bisa juga
berdasarkan naluri karena pada dasarnya disetiap stimulus itu pasti ditemui respon. Jadi
dalam teori ini pengulangan-pengulangan respon atau tindakan dalam menanggapi stimulus
atau stimulus baru itu sangat penting sehingga seseorang atau organisme mampu menemukan
tindakan yang tepat dan dilakukan secara terus-menerus agar lebih tajam dan tidak terjadi
kemunduran dalam tindakan atau respon terhadap stimulus.
1. Ketetapan Pokok Belajar Menurut Thorndike
a. Ketetapan Kesiapan (Law of readiness)
Dalam belajar seseorang harus dalam keadaan siap dalam artian memiliki
keadaan yang baik dan persiapan, baik fisik maupun psikis. Siap fisik artinya
seseorang tidak dalam keadaan sakit, yang bisa mengganggu kualitas konsentrasi.
Adapun contoh dari siap psikis adalah seseorang yang jiwanya tidak lagi terganggu,
seperti sakit jiwa dan lain-lain. Di samping seseorang harus siap fisik dan psikis,
seseorang juga harus memiliki kematangan dalam penguasaan pengetahuan serta
kecakapan-kecakapan yang mendasarinya. Menurut Thorndike ada tiga keadaan yang
menunjukkan berlakunya hukum ini, yaitu:
a. Bila pada organisme memiliki kesiapan untuk bertindak atau berperilaku, dan bila
organisme itu dapat melakukan kesiapan tersebut, maka organisme akan mengalami
kepuasan.
b. Bila pada organisme ada kesiapan untuk bertindak atau berperilaku, dan organisme
tersebut tidak dapat melaksanakan kesiapan tersebut, maka organisme akan mengalami
kekecewaan.
c. Bila pada organisme tidak ada persiapan untuk bertindak dan organisme itu dipaksa
untuk melakukannya maka hal tersebut akan menimbulkan keadaan yang tidak memuaskan.
Di samping hukum-hukum belajar seperti yang telah dikemukakan di atas, konsep
penting dari teori belajar koneksionisme Thorndike adalah yang dinamakan transfer
23
of training. Konsep ini menjelaskan bahwa apa yang pernah dipelajari oleh anak
sekarang harus dapat digunakan untuk hal lain di masa yang akan datang. Dalam
konteks pembelajaran konsep transfer of training merupakan hal yang sangat penting,
sebab seandainya konsep ini tidak ada, maka apa yang akan dipelajari tidak akan
bermakna.
b. Ketetapan Latihan (Law of Exercise)
Untuk menghasilkan tindakan yang cocok dan memuaskan guna merespon suatu
stimulus maka seseorang harus mengadakan percobaan dan latihan yang berulang-
ulang, adapun latihan atau pengulangan perilaku yang cocok dan telah ditemukan
dalam belajar, maka ini merupakan bentuk peningkatan eksistensi dari perilaku yang
cocok tersebut (Law of Use). Dalam suatu teknik agar seseorang dapat mentransfer
pesan yang telah ia dapat dari sort time memory ke long time memory ini dibutuhkan
pengulangan sebanyak-banyaknya dengan harapan pesan yang telah didapat tidak
mudah hilang dari benaknya.
c. Ketetapan Akibat (Law of Effect)
Ketetapan akibat Thorndike mengemukakan jika suatu tindakan diikuti oleh suatu
perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan tindakan itu diulangi
dalam situasi yang mirip akan meningkat. Akan tetapi, bila suatu perilaku diikuti oleh
suatu perubahan yang tidak memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan perilaku itu
diulangi akan menurun. Jadi konsekuensi perilaku seseorang pada suatu waktu
memegang peranan penting dalam menentukan perilaku orang itu selanjutnya.
Menurut Thorndike yang lebih memegang peranan adalah pemberian reward sehingga
inilah yang lebih dianjurkan. Teori Thorndike ini biasanya juga disebut teori
koneksionisme karena dalam hukum belajarnya ada “Law of Effect” yang mana di
sini terjadi hubungan antara tingkah laku atau respon yang dipengaruhi oleh stimulus
dan situasi, dan tingkah laku tersebut mendatangkan hasilnya (effect).
2. Implikasi Teori Thorndike dalam Pembelajaran
Implikasi teori belajar thorndike dalam proses pembelajaran baik digunakan disetiap
jenjang pendidikan, mulai dari jenjang pedidikan awal hingga lanjut. Konsep yang
diterapkan dalam teori belajar Thorndike yaitu konsep mencoba dan mengulang, dimana
siswa mencoba berlatih soal secara berulang-ulang. Prinsip dalam teori belajar Thorndike
adalah siswa mampu memecahkan masalah. Penerapan teori belajar Thorndike bisa
digunakan tidak hanya di sekolah saja, konsep ini bisa diterapkan di rumah. Dalam
pembelajaran di sekolah umumnya, guru mengejar sub bahasan yang ingin dicapai untuk
memenuhi standar kompetensi tanpa memikirkan apakah siswa paham dan bisa. Oleh karena
itu, siswa dapat belajar dirumah dengan menerapkan teori belajar Thorndike supaya bisa
menambah pemahaman.
Dalam penerapan teori belajar Thorndike ada beberapa keunggulan, yaitu:
1. Teori ini sering juga disebut dengan Teori Trial and Error. Dalam teori ini orang bisa
menguasai hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya sehingga orang akan
terbiasa berpikir dan terbiasa mengembangkan pikirannya.
2. Sering melakukan pengulangan dalam memecahkan suatu permasalahan, anak didik
tentu akan memiliki sebuah pengalaman yang berharga. Selain itu dengan adanya sistem
24
pemberian hadiah, akan membuat anak didik senantiasa memiliki kemauan dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
Tidak hanya keunggulan, dalam teori ini ada beberapa kelemahan yaitu :
1. Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka disamakan
dengan hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu
tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and error. Trial and error tidak
berlaku mutlak bagi manusia.
2. Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respon.
Sehingga yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan
latihan-latihan, atau ulangan-ulangan yang terus-menerus.
3. Karena belajar berlangsung secara mekanistis, maka pengertian tidak dipandangnya
sebagai suatu yang pokok dalam belajar. Mereka mengabaikan pengertian sebagai unsur
yang pokok dalam belajar.
C. Teori Belajar Menurut John Broades Watson
John Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di Amerika Serikat.
Karyanya yang paling dikenal adalah “Psychology as the Behaviourist View It” (1913).
Menurut Watson dalam beberapa karyanya, psikologi haruslah menjadi ilmu yang objektif,
oleh karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode
introspeksi. Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang
mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus dibatasi dengan ketat
pada penyelidikan-penyelidikan tentang tingkahlaku yang nyata saja.
1. Teori dan Konsep Behaviorisme dari Watson
Teori belajar S-R (stimulus – respon) yang langsung ini disebut behaviorisme
menurut Watson. Teori perubahan perilaku (belajar) dalam kelompok behaviorisme ini
memandang manusia sebagai produk lingkungan. Segala perilaku manusia sebagian
besar akibat pengaruh lingkungan sekitarnya. Lingkunganlah yang membentuk
kepribadian manusia. Behaviorisme tidak bermaksud mempermasalahkan norma-norma
pada manusia. Apakah seorang manusia tergolong baik, tidak baik, emosional, rasional,
ataupun irasional. Di sini hanya dibicarakan bahwa perilaku manusia itu sebagai akibat
berinteraksi dengan lingkungan, dan pola interaksi tersebut harus bisa diamati dari luar.
Syarat terjadinya proses belajar dalam pola hubungan S-R, antara lain:
1. Dorongan, adalah suatu keinginan dalam diri seseorang untuk memenuhi kebutuhan yang
sedang dirasakannya. Unsur dorongan ini ada pada setiap orang, meskipun kadarnya
tidak sama, ada yang kuat menggebu, ada yang lemah tidak terlalu peduli akan terpenuhi
atau tidaknya.
2. Rangsangan atau stimulus. Unsur ini datang dari luar diri individu. Contoh rangsangan
antara lain adalah bau masakan yang lezat, diskon besar-besaran, dan lain sebagainya.
3. Respons. Reaksi-reaksi dari seseorang akibat dari adanya rangsangan dari luar inilah
yang disebut dengan respons dalam dunia teori belajar ini. Respons ada yang positif, dan
ada pula yang negatif. Yang positif disebabkan oleh adanya ketepatan seseorang
melakukan respons terhadap stimulus yang ada, dan tentunya yang sesuai dengan yang
diharapkan. Sedangkan yang negatif adalah apabila seseorang memberi reaksi justru
sebaliknya dari yang diharapkan oleh pemberi rangsangan.
25
4. Penguatan (reinforcement). Unsur ini datangnya dari pihak luar, ditujukan kepada orang
yang sedang merespons. Apabila respons telah benar, maka diberi penguatan agar
individu tersebut merasa adanya kebutuhan untuk melakukan respons seperti tadi lagi.
Ada tiga kelompok model belajar yang sesuai dengan teori belajar behaviorisme
ini, yaitu yang menurut namanya disebut sebagai hubungan stimulus-respons (S-R bond),
pembiasaan tanpa penguatan (conditioning with no reinforcement), dan pembiasaan
dengan penguatan (conditioning through reinforcemant). Ada satu lagi teori belajar yang
masih menganut paham behaviorisme ini adalah teori belajar sosial dari Bandura.
D. Teori Belajar Clark Leonard Hull
Hull mendasarkan teori belajar pada tingkah laku yang diselidiki dengan hubungan
perkuatan S-R menggunakan metode matematika, deduktif, dan dapat diuji keabsahannya.
Hull menyusun definisi teori belajar ke dalam beberapa hal yaitu kebutuhan adalah keadaan
organisme menyimpang dari kondisi biologis optimum pada umumnya bertujuan untuk
melangsungkan hidupnya, Apabila kebutuhan organisme muncul maka organisme bertindak
memenuhi kebutuhannya. Teori ini dikenal dengan need reduction theory (reduksi
kebutuhan). Teori Hull dikenal adanya drive (pengertian dorongan) yang didefinisikan
sebagai kekosongan ganda organisme sehingga mendorong berbuat sesuatu. Misalnya
dorongan belajar, makan, tidur, dan sebagainya. Dorongan semacam ini disebut motif, Hull
juga mengemukakan reinforcement (penguatan) berupa hadiah, yaitu sesuatu yang dapat
mengurangi ketegangan kebutuhan. Belajar menurut Hull dipengaruhi oleh faktor jumlah
waktu, respon khusus yang dapat terjadi disebabkan adanya kontigu dengan perkuatan berupa
hadiah. Hull yakin bahwa tingkah laku individu bersumber dari kebutuhan yang merupakan
tuntutan hidup, sedangkan penguatan merupakan hadiah yang berperan sebagai suatu
stimulus yang mampu mengubah kemungkinan R dan S tertentu yang disertakan kontigu
1. Prinsip-prinsip Teori Belajar Clark
Prinsip-prinsip Utama Teori Belajar Clark Leonard Hull, yaitu :
a. Reinforcement adalah faktor penting dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi
reinforcement bagi Hull lebih sebagai drive reduction daripada satisfied factor.
b. Dalam mempelajari hubungan S-R yang perlu dikaji adalah peranan dari intervening
variable atau yang juga dikenal sebagai unsur O (organisme). Faktor O adalah kondisi
internal dan sesuatu yang disimpulkan (inferred), efeknya dapat dilihat pada faktor R
yang berupa output. Karena pandangan ini Clark dikritik karena bukan behaviorisme
sejati.
c. Proses belajar baru terjadi setelah keseimbangan biologis terjadi. Di sini tampak
pengaruh teori Darwin yang mementingkan adaptasi biologis organisme.
Prinsip-prinsip Drive Reduction Theory yaitu :
a. Dorongan, merupakan hal yang penting agar terjadi respon (siswa harus
memiliki keinginan untuk belajar).
b. Stimulus dan respons harus dapat diketahui oleh organisme agar pembiasaan
dapat terjadi (siswa harus mempunyai perhatian).
d. Respons harus dibuat agar terjadi pembiasaan (siswa harus aktif).
e. Pembiasaan hanya terjadi jika reinforcement dapat memenuhi kebutuhan (belajar
barus dapat memenuhi keinginan siswa).
26
Secara teoritis, kerangka teori Hull berisi postulat-postulat yang dinyatakan dalam
bentuk matematik, yaitu :
a. Organisme memiliki sebuah hierarki kebutuhan yang muncul karena adanya
stimulation atau dorongan.
b. Kebiasaan yang kuat meningkatkan aktivitas yang diasosiakan dengan reinforcement
primer maupun sekunder.
c. Stimulus diasosiasikan dengan penghentian sebuah respons menjadi penghalang yang
dikondisikan.
d. Lebih efektif reaksi potensi melampai reaksi minimal kbih pendek terjadinya
penundaan respons (latency respons).
E. Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan
stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung
akan diikuti oleh gerakan yang sama. Hukum kontiguiti adalah satu prinsip asosionisme
yaitu respon atas suatu situasi cendrung diulang, bilamana individu menghadapi suatu
kasus yang sama. Kunci teori Guthrie terletak pada prinsip tunggal bahwa kontiguitas
merupakan fondasi pembelajaran. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan
stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena
gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon
lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar
tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru
Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena itu dalam
kegiatan belajar peserta didik perlu sering diberi stimulus agar hubungan stimulus dan
respon bersifat lebih kuat dan menetap dan karena itu pula diperlukan pemberian
stimulus yang sering agar hubungan itu menjadi lebih langgeng. Selain itu, suatu respon
akan lebih kuat (dan bahkan menjadi kebiasaan) bila respon tersebut berhubungan
dengan berbagai macam stimulus.
Meskipun Guthrie menekankan keyakinannya pada hukum kontiguitas di
sepanjang karirnya, dia menganggap akan keliru jika kita menganggap asosiasi yang
dipelajari sebagaian hanya asosiasi antara stimuli lingkungan dengan prilaku nyata.
Misalnya, kejadian di lingkungan dan responsnya terkadang dipisahkan oleh satu interval
waktu, dan karenanya sulit untuk menganggap keduanya sebagai kejadian yang
bersamaan. Guthrie selanjutnya mengatasi problem tersebut dengan mengemukakan
adanya movement-product stimuli (stimuli yang dihasilkan oleh gerakan), yakni
disebabkan oleh gerakan tubuh, antara lain :
1. Hukuman menurut Guthrie
Teori Pembelajaran Menurut Edwin Ray Guthrie percaya bahwa hukuman
(punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang
diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang. Saran
utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara
tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Hukuman yang
diberikan dalam proses pembelajaran harus sesuai dengan asumsi dan ideologi yang
ada dalam diri siswa. Menurutnya suatu hukuman yang diberikan pada saat yang
tepat, akan mampu mengubah kebiasaan seseorang. Menurut Guthrie hukuman
memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan
mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie yaitu:
27
1. Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara.
2. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari
jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama.
3. Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah
dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat
mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk
daripada kesalahan yang diperbuatnya. Skinner lebih percaya kepada apa yang
disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman.
Ketidak samaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus)
agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan
penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi
semakin kuat.
2. Dorongan Menurut Guthrie
Teori Pembelajaran Menurut Edwin Ray Guthrie – Drives (dorongan)
fisiologis merupakan apa yang oleh Guthrie dikatakan maintaining stimuli (stimuli
yang mempertahankan) yang menjaga organisme tetap aktif sampai tujuan tercapai.
Misalnya, rasa lapar menghasilkan stimuli internal yang terus ada sampai makanan
dikonsumsi. Ketika makan diperoleh, maintaining stimuli akan hilang, dan karenanya
kondisi yang menstimulasi telah berubah.
3. Lupa Menurut Guthrie
Menurut Guthrie, lupa disebabkan oleh munculnya respons alternatif dalam
satu pola stimulus. Setelah pola stimulus menghasilkan respons alternatif, pola
stimulus itu kemudian akan cenderung menghasilkan respons baru. Jadi menurut
Guthrie, lupa pasti melibatkan proses belajar baru. Ini adalah bentuk retroactive
inhibition (hambatan retroaktif) yang ekstrem, yakni fakta bahwa proses belajar lama
diintervensi oleh proses belajar baru. Guthrie menerima bentuk hambatan retroaktif
ektrim ini. Pendapatnya adalah bahwa setiap kali mempelajari hal yang baru, maka
proses itu akan menghambat sesuatu yang lama. Dengan kata lain, lupa disebabkan
oleh intervensi. Tak ada intervensi, maka lupa tidak akan terjadi.
4. Transfer Training Menurut Guthrie
Saran Guthrie adalah selalu mempraktikkan perilaku yang persis sama yang
akan diminta kita lakukan nanti. Selain itu, kita harus melatihnya dalam kondisi yang
persis sama dengan kondisi ketika nanti kita diuji.
F. Teori Belajar Menurut Burrhusm Frederic Skinner
Teori Burhus Frederic Skinner menekankan pada perubahan perilaku yang dapat
diamati dengan mengabaikan kemungkinan yang terjadi dalam proses berpikir pada otak
seseorang. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui
interaksi dalam lingkungannya akan menimbulkan perubahan tingkah laku.
Skinner memulai penemuan teori belajarnya ini dengan sebuah kepercayaan bahwa
prinsip-prinsip Classic Conditioning (suatu respon diperoleh dari sebuah organisme
dengan stimulus yang spesifik dan dapat diidentifikasi atau ditimbulkan oleh stimuli
yang tidak terkondisi. Skinner membuat eksperimen, yaitu dengan memasukkan seekor
tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “Skinner Box” yang sudah
dilengkapi dengan berbagai peralatan, yaitu tombol, penampung makanan. Karena
dorongan lapar tikus berusaha keluar untuk mencari makanan. Selama tikus bergerak
28
kesana kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, dan makanan
keluar.
Eksperimen yang dilakukan Skinner terhadap tikus menghasilkan ketetapan
belajar, diantaranya:
a. Law Of Operant Conditing yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus
penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
b. Law Of Operant Extinction yaitu jika timbulnya peilaku telah diperkuat melalui
proses pengkondisian tidak diiringi stimulus penguat, Maka kekuatan perilaku tersebut akan
menurun bahkan musnah.
Dalam teori Skinner terdapat 2 macam bentuk penguatan, yaitu:
a. Penguatan Positif
Penguatan dapat dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan tersebut
seiring dengan meningkatnya peilaku siswa dalam melakukan pengulangan
perilakunya itu. Contoh penguatan postif diantaranya adalah pujian yang diberikan
kepada siswa, sikap guru yang menunjukkan rasa gembira pada saat siswa bisa
menjawab dengan benar. Penguatan positif akan berbekas pada diri siswa.
Tanggapan yang dihargai akan cenderung diulangi. Mereka yang mendapat pujian
setelah berhasil menyelesaikan tugas atau menjawab pertanyaan dengan benar
biasanya akan berusaha memenuhi tugas berikutnya dengan penuh semangat.
b. Penguatan Negatif
Penguatan negative adalah bentuk stimulus yang lahir akibat dari respon siswa
yang kurang atau tidak diharapkan. Tanggapan yang memungkinkan terjadinya
keadaan untuk meloloskan diri dari hal yang tidak diinginkan atau ketidaknyamanan
cenderung akan diulangi. Penguatan negative itu dapat berupa teguran, peringatan
atau sangsi.
Aplikasi Teori Skinner terhadap pembelajaran, antara lain:
1.) Bahan yang dipelajari di analisis sampai pada unit-unit secara organis.
2.) Hasil belajar harus segara diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika
benar diperkuat.
3.) Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
4.) Materi pelajaran digunakan system modul.
5.) Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
6.) Dalam Pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk menghindari
pelanggaran agar tidak adanya hukuman.
G. Aplikasi Teori Behavioristik dalam Kegiatan Pembelajaran
1. Prinsip Teori Belajar Behavior
Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah
pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran
behavioristik.Aliran behavioristik ini menekankan pada perilaku yang tampak sebagai
hasil belajar. Adapun unsur-unsur yang sangat penting dalam teori behavioristik ini
antara lain: (1) Hubungan stimulus respon. (2) Individu atau siswa pasif. (3) Perilaku
29
sebagai hasil belajar yang tampak. (4) Pembentukan perilaku (shaping) dengan penataan
kondisi secara ketat. (5) Reinforcement dan hukuman.
Menurut Mukinan (1997:23), prinsip teori behavior, antara lain:
1. Belajar adalah perubahan tingkah laku tertentu. Teori ini beranggapan bahwa yang
dinamakan belajar jika yang bersangkutan dapat menunjukkan perubahan tingkah
laku tertentu.
2. Mementingkan adanya stimulus dan respon. Teori ini beranggapan bahwa yang
terpenting dalam belajar adalah adanya stimulus dan respon, sebab inilah yang dapat
diamati, sedangkan apa yang terjadi di antaranya dianggap tidak penting karena tidak
dapat diamati.
3. Memerlukan reinforcement. Yakni apa saja yang dapat menguatkan timbulnya respon,
merupakan faktor penting dalam belajar. Respon semakin kuat apabila reinforcement
(baik positif maupun negatif) ditambah.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Teori Behavioristik
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa
hal, seperti:
1. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada
penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic”, yang
menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari
dalam laporan, kuis, atau tes.
2. Sifat Materi Pelajaran
Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan pada teori behavioristik
memandang bahwa pengetahuan adalah objektif, pasif, tetap, dan tidak berubah.
Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi dan teratur, sehingga pebelajar atau orang
yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih
dahulu secara ketat.
3. Karakteristik Pebelajar (Peserta Didik)
Untuk memaksimalkan tujuan pembelajaran, guru perlu menyiapkan dua hal,
sebagai berikut: (1) Menganalisis kemampuan awal dan karakteristik siswa sebagai
subjek yang akan diharapkan mampu memiliki jumlah kompetensi sebagaimana yang
telah ditetapkan dalam standar kompetensi dasar. (2) Merencanakan materi
pembelajsrsn yang akan dibelajarkan oleh guru benar-benar sesuai dengan yang
diharapkan dan kondisi siswa, sehingga guru tidak akan over-estimate dan under-
estimate terhadap siswa.
4. Media Serta Fasilitas Pembelajaran.
Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas
belajar lebih banyak didasarkan pada buku/teks buku wajib dengan penekanan pada
keterampilan mengungkapkan kembali isi buku/teks wajib tersebut.
3. Implikasi Teori Belajar Behavioristik
Implikasi teori belajar behavioristik terhadap pembelajaran, sebagai berikut:
a. Sistem Pembelajaran Bersifat Otomatis-Mekanis
30
Dalam hal pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu
membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena iu, para pendidik
mengembangkan kurikulum yang terstuktur dengan menggunakan standar-standar
tertentu dalam proses pembelajaran. Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman
yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh
pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid. Fungsi mind atau pikiran
adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir
yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses
berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut.
Akibatnya, pebelajar kurang mampu untuk berkreasi, bereksperimen, dan
mengembangkan kemampuannya sendiri.
b. Ketaatan Dipandang Sebagai Penentu Keberhasilan Belajar
Karena teori behavioristik memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di
dunia nyata telah tersetruktur rapi dan teratur, maka siswa atau orang yang belajar
harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat.
Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga
pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Sehingga sistem
kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri siswa.
c. Adanya Istilah Hukuman dan Hadiah
Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan
dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau
kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.
d. Adanya evaluasi.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan
biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut satu
jawaban benar. Maksudnya, bila siswa menjawab secara “benar” sesuai dengan
keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas
belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan
pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini
menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara individual.
Sedangkan langkah umum yang dapat dilakukan guru dalam menerapkan teori
behaviorisme dalam proses pembelajaran adalah:
1. Mengidentifikasi tujuan pembelajaran.
2. Melakukan analisis pembelajaran.
3. Mengidentifikasi karakteristik dan kemampuan awal pembelajar.
4. Menentukan indikator-indikator keberhasilan belajar.
5. Mengembangkan bahan ajar (pokok bahasan, topik, dan lain-lain).
6. Mengembangkan strategi pembelajaran (kegiatan, metode, media dan waktu).
7. Mengamati stimulus yang mungkin dapat diberikan (latihan, tugas, tes dan
sejenisnya).
8. Mengamati dan menganalisis respons pembelajar.
4. Contoh Penerapan Teori Behavioristik
1. Penyelenggaraan Pendidikan Dari Tingkat Dini Hingga Perguruan Tinggi.
31
Aplikasi teori belajar behavioristik sangat cocok untuk perolehan kemampaun
yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti:
Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya sehingga model
yang paling cocok adalah Drill dan Practice, contohnya: dimanfaatkan di pendidikan
anak usia dini, TK untuk melatih kebiasaan baik, karena anak-anak sangat mudah
meniru perilaku yang ada dilingkungannya dan sangat suka dengan pujian dan
penghargaan. Sedangkan untuk pendidikan menengah dan pendidikan tinggi teori
behavioristik ini banyak digunakan antara lain untuk melatih percakapan bahasa
asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya.
2. Berkembang Pada Pembelajaran dengan Powerpoint dan Multimedia.
Dalam pembelajaran dengan powerpoint, pembelajaran cenderung terjadi satu arah.
Materi disampaikan dalam bentuk powerpoint yang telah disusun secara rinci.
Sementara itu pada pembelajaran dengan multimedia, siswa diharapkan memiliki
pemahaman yang sama dengan pengembang, materi disusun dengan perencanaan
yang rinci dan ketat dengan urutan yang jelas, latihan yang diberikan pun cenderung
memiliki satu jawaban benar.
Kesimpulan
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari
adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk
perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara
yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Teori ini mengutamakan pengukuran sebab pengukuran merupakan suatu hal yang
penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Faktor lain yang juga
dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement).
Penguatan adalah apa saja yang dapat meemperkuat timbulnya respons. Bila penguatan
ditambahkan (positive reinforcement), maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila
penguatan dikurangi (negative reinforcement), maka respon pun akan tetap dikuatkan. Jadi,
penguatan merupakan suatu bentuk stimulus, yang penting diberikan (ditambahkan) atau
dihilangkan (dikurangi) untuk memungkinkan terjadinya respon yang positif. Pembelajaran
yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang pengetahuan adalah
objektif, pasti, dan tetap (tidak berubah) sehingga teori behavioristik dianggap masih relevan.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan, penulis memberikan saran sebagai
berikut:
1. Bagi Masyarakat dan Pembaca diharapkan mengetahui tentang arti belajar menurut Teori
Behavioristik dan menurut para ahli yang mengemukakan.
2. Bagi Penulis dan Mahasiswa dapat digunakan sebagai referensi bahan pertimbangan dalam
pengembangan materi dan mempelajari mengenai arti belajar menurut Teori Behavioristik.
32
Makalah kelompok 6
LATAR BELAKANG
Teori belajar Behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner
tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang
menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan
praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini
menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang
belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan
metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila
diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membutuhkan
praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : Kecepatan, spontanitas,
kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing,
mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini
juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran
orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan
bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau puji.
PENGERTIAN TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
Teori belajar behavoristik adalah teori pembelajaran yang mengamati dan mempelajari
perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari pengalaman di masa lalu. Teori ini
menekankan bahwa tingkah laku yang ditunjukkan seseorang merupakan akibat dari interaksi
antara stimulus dengan respon. Teori ini berkembang dan cenderung mengikuti aliran
psikologi belajar lantas menjadi dasar pengembangan teori pendidikan dan pembelajaraan
saat ini.
Menurut teori ini, masukan dari guru yang berupa stimulus dan keluaran siswa yang berupa
respon. Sedangkan apa yang terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidak penting
diperhatikan karena tidak dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran
sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadinya perubahan
tingkah laku. Faktor lain yang dianggap penting dalam aliran ini adalah faktor penguatan
(reinforcement). Penguatan yang dimaksud disini adalah apa saja yang dapat memperkuat
timbulnya respon dengan demikian penguatan merupakan bentuk stimulus yang penting
diberikan atau dihilangkan untuk memungkinkan terjadinya respon.
Ciri suksesnya implementasi dari teori belajar behavioristik adalah perubahan perilaku yang
ditunjukkan seseorang sebagai tanda bahwa seseorang tersebut telah merespon suatu kejadian
dan menjadikannya pembelajaran di kemudian hari. Misalnya, Guru yang menyuruh
siswanya menjelaskan materi ke depan kelas sebagai sanksi akibat siswa yang tidak
memperhatikan pelajaran, hal tersebut akan membuat siswanya jera dan selalu
memperhatikan guru yang sedang mengajar.
33
TOKOH-TOKOH TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
Edward Lee Thorndike (1874-1949)
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus
yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan,
atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi
yang dimunculkan siswa ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau
gerakan/tindakan. Dari definisi belajar tersebut maka menurut Thorndike perubahan tingkah
laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau
tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat diamati.
Thorndike tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku-tingkah laku yang
tidak dapat diamati. Namun demikian, teorinya telah banyak memberikan pemikiran dan
inspirasi kepada tokoh-tokoh lain yang datang kemudian. Teori Thorndike ini disebut juga
sebagai aliran Koneksionisme (Connectionism)
John Broades Watson (1878-1958)
Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan
respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan
dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental
dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai
faktor yang tak perlu diperhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental
dalam benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang
telah belajar atau belum karena tidak dapat diamati.
Clark Leaonard Hull (1884-1952)
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk
menjelaskan pengertian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang
dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi
tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab
itu, teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis
adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga
stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun
respon yang akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya. Dalam
kenyataannya, teori-teori demikian tidak banyak digunakan dalam kehidupan praktis,
terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya. Namun teori ini masih sering
dipergunakan dalam berbagai eksperimen di laboratorium.
Edwin Ray Guthrie (1886-1959)
Sebagaimana Hull, Edwin Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon
untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus tidak
harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana yang dijelaskan
34
oleh Clark dan Hull. Dijelaskannya bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung
hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar siswa perlu sesering mungkin
diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap. Ia juga
mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka
diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Guthrie juga
percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar.
Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu merubah kebiasaan dan perilaku
seseorang. Namun setelah Skinner mengemukakan dan mempopulerkan akan pentingnya
penguatan (reinforcemant) dalam teori belajarnya, maka hukuman tidak lagi dipentingkan
dalam belajar.
Burrhusm Frederic Skinner (1904-1990)
Skinner merupakan tokoh behavioristik yang paling banyak diperbincangkan, konsep-konsep
yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain
yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar
secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih
komprehensif.
Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam
lingkungannya akan menimbulkan perubahan tingkah laku. Pada dasarnya stimulus-stimulus
yang diberikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-
stimulus tersebut akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan. Demikian juga
dengan respon yang dimunculkan inipun akan mempunyai konsekuensi-konsekuensi.
Konsekuensi-konsekuensi inilah yang pada gilirannya akan mempengaruhi atau menjadi
pertimbangan munculnya perilaku. Oleh sebab itu, untuk memahami tingkah laku seseorang
secara benar, perlu terlebih dahulu memahami hubungan antara stimulus satu dengan lainnya,
serta memahami respon yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin
akan timbul sebagai akibat dari respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan
menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku
hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab, setiap alat yang digunakan perlu penjelasan
lagi, demikian seterusnya.
CIRI-CIRI TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
• Didalam memecahkan masalah cirinya akan ada ''trial and error''[mencoba dan
mencoba]
• Mementingkan bagian bagian atau elemen yang di pelajari
• Mengutamakan terbentuknya hasil dari belajar tadi
• Mementingkan faktor faktor di sekitar lingkungannya
• Mementingkan terbentunya pola kebiasaan
• Mengutamakan mekanisme hasil dari reaksi.
• Mementngkan latar belakang sebab sebelumnya[yang lalu].
35
APLIKASI TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
Berkaca dari ciri-ciri dan konsekuensi penerapan teori belajar ini, paling tidak, guru atau
tenaga pendidik bisa menempatkan dirinya dalam mengajar dan mendidik. Beberapa hal
terkait dengan sikap yang mesti ditunjukkan tenaga pendidik ketika mengajar menggunakan
patokan teori belajar ini antara lain:
1. Menyiapkan materi yang akan diberikan selengkap mungkin, tidak hanya
memberikan ceramah tetapi juga contoh yang akan dilihat peserta didik
sebagai materi yang akan ditirunya. Pemberian contoh ini akan menjadi logika
bagi individu yang belajar, jadi siapkanlah contoh yang mudah dipahami
untuk semua peserta didik.
2. Penyusunan bahan pembelajaran ini harus mulai dari yang paling sederhana
sampai yang paling rumit secara berurutan. Sampaikan pada peserta didik dari
yang paling mudah ke yang paling rumit. Usahakan untuk tidak memberikan
materi secara melompat untuk mempermudah mereka memahami materi yang
diberikan secara utuh dan lengkap. (baca: Persepsi dalam Psikologi)
3. Bagi tujuan pembelajaran dalam beberapa bagian kecil. Hal ini akan
membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran dengan cara step by
step. Maka dukung tahap ini dengan memberikan reward bagi mereka yang
terbukti berhasil mencapai tujuan jangka pendek yang ditetapkan.
4. Guru atau tenaga pendidik harus bisa bersikap jeli, maka ia harus segera bisa
mengenali kesalahan yang berpotensi dilakukan individu yang belajar dan
mengarahkannya pada pemahaman yang benar.
PRINSIP-PRINSIP TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
1. Reinforcement and Punishment (Penguatan dan Hukuman)
2. Primary and Secondary Reinforcement (Penguatan Utama dan Tambahan
3. Schedules of Reinforcement (Jadwal Penguatan)
4. Contingency Management (Manajemen Kontigensi)
5. Stimulus Control in Operant Learning (Pengawasan Pemberian Rangsangan
Belajar) The Elimination of Responses (Pengurangan Respons)
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
1. Kelebihan
a. Membisakan guru untuk bersikap jeli dan peka terhadap situasi dan kondisi belajar.
b. Guru tidak membiasakan memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar
mandiri. Jika murid menemukan kesulitan baru ditanyakan pada guru yang bersangkutan.
c. Mampu membentuk suatu prilaku yang diinginkan mendapatkan pengakuan positif
dan prilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negative yang didasari pada prilaku
yang tampak. Dengan melalui pengulangan dan pelatihan yang berkesinambungan, dapat
mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa yang sudah terbentuk sebelumnya. Jika anak
sudha mahir dalam satu bidang tertentu, akan lebih dapat dikuatkan lagi dengan pembiasaan
dan pengulangan yang berkesinambungan tersebut dan lebih optimal.
d. Bahan pelajaran yang telah disusun hierarkis dari yang sederhana sampai pada yang
kompleks dengan tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian‐bagian kecil yang ditandai
dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu mampu menghasilakan suatu prilaku yang
konsisten terhadap bidang tertentu.
36
e. Dapat mengganti stimulus yang satu dengan stimuls yang lainnya dan seterusnya
sampai respons yang diinginkan muncul.
f. Teori ini cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan
pembiasaan yang mengandung unsure‐unsur kecepatan, spontanitas, dan daya tahan.
g. Teori behavioristik juga cocok diterapakan untuk anak yang masih membutuhkan
dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru, dan suka
dengan bentuk‐bentuk penghargaan langsung.
2. Kekurangan
a. Sebuah konsekwensi untuk menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yangsudah siap.
b. Tidak setiap pelajaran dapat menggunakan metose ini.
c. Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa
di dengar dan di pandang sebagai cara belajar yang efektif.
d. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru
dianggap sebagai metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.
e. Murid dipandang pasif, perlu motifasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh
penguatan yang diberikan oleh guru.
f. Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelsan dari guru dan mendengarkan apa
yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif sehingga inisiatif siswa
terhadap suatu permasalahan yang muncul secara temporer tidak bisa diselesaikan oleh siswa.
g. Cenderung mengarahakan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif, tidak
produktif, dan menundukkan siswa sebagai individu yang pasif.
h. Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru(teacher cenceredlearning) bersifat
mekanistik dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur.
i. Penerapan metode yang salah dalam pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses
pembelajaran yang tidak menyenangkan bagi siswa, yaitu guru sebagai center, otoriter,
komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih, dan menentukan apa yang harus dipelajari
murid.
Kesimpulan Teori Behavioristik
Belajar behavioristik menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku
sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dari beberapa teori belajar
behavioristik yang dikembangkan dapat disimpulkan bahwa untuk memunculkan respon yang
diharapkan dibutuhkan penguatan (reinforcement).
Aplikasi teori belajar behavioristik sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang
membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: Kecepatan,
spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya sehingga model yang paling cocok
adalah Drill dan Practice, contohnya: dimanfaatkan di pendidikan anak usia dini, TK untuk
melatih kebiasaan baik, karena anak-anak sangat mudah meniru perilaku yang ada
dilingkungannya dan sangat suka dengan pujian dan penghargaan. Sedangkan untuk
pendidikan menengah dan pendidikan tinggi teori behavioristik ini banyak digunakan antara
lain untuk melatih percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer,
Jadi dalam hal menilai benar tidaknya pendapat-pendapat yang qdikemukakan oleh
berbagai teori itu, kita harus memandangnya dari segi-segi karakteristik tertentu yang sesuai
dengan jenis yang diselidikinya. Yang penting qbagi pendidik adalah mengambil manfaat
37
D. MATERI TEORI BELAJAR KOGNITIF
Makalah kelompok 7 dan 8
Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan. Pendidikan adalah salah
satu kunci untuk mencapai kemajuan dan kesuksesan dalam hidup. Pendidikan memiliki
banyak metode pembelajaran. Salah satu dari sekian banyak metode pembelajaran yang tepat
adalah teori belajar kognitif.
Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan; pengetahuan
(knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa
(sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan
untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal). Pembelajaran kognitif mengatakan
bahwa perilaku manusia tidak ditentukan oleh stimulus yang berada diluar dirinya, melainkan
oleh faktor yang ada pada dirinya sendiri. Faktor-faktor internal itu berupa kemampuan atau
potensi yang berfungsi untuk mengenal dunia luar, dan dengan pengenalan itu manusia
mampu memberikan respon terhadap stimulus. Berdasarkan pada pandangan itu teori
psikologi kognitif memandang belajar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi
terutama pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar.
Dengan kata lain, aktivitas belajar manusia ditentukan pada proses internal dalam berpikir
yakni pengolahan informasi.
Belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak
selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Teori belajar kognitif memiliki
beberapa tokoh yaitu J. Piaget dan Jerome S. Brunner.
Pengertian
Secara bahasa kognitif berasal dari bahasa latin ”Cogitare” artinya berfikir. Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia, kognitif berarti segala sesuatu yang berhubungan atau melibatkan
kognisi, atau berdasarkan pengetahuan faktual yang empiris. Teori kognitif pada awalnya
dikemukakan oleh Dewwy, dilanjutkan oleh Jean Piaget, Kohlberg, Damon, Mosher, Perry
dan lain-lain, yang membicarakan tentang perkembangan kognitif dalam kaitannya dengan
belajar. Kemudian dilanjutkan oleh Jerome Bruner, David Asubel, Chr. Von Ehrenfels
Koffka, Kohler, Wertheimer dan sebagainya. Kognitif adalah semua aktivitas mental yang
membuat suatu individu mampu menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu
peristiwa, sehingga individu tersebut mendapatkan pengetahuan setelahnya.contoh kognitif
bisa ditunjukkan ketika seseorang sedang belajar, membangun sebuah ide, dan memecahkan
masalah.
Teori belajar kognitif adalah teori belajar yang mementingkan proses belajar daripada
hasilnya. Teori ini menyatakan bahwa pada proses belajar, seseorang tidak hanya cenderung
pada hubungan antara stimulus dan respon, melainkan juga bagaimana perilaku seseorang
dalam mencapai tujuan belajarnya. Teori kognitif juga menekankan bahwa bagian-bagian
dari suatu situasi saling berhubungan dengan seluruh konteks situasi tersebut.
38
Secara umum teori kognitif memiliki pandangan bahwa belajar atau pembelajaran adalah
suatu proses yang lebih menitikberatkan proses membangun ingatan, retensi, pengolahan
informasi, emosi, dan aspek-aspek yang bersifat intelektualitas lainnya. Oleh sebab itu,
belajar juga dapat dikatakan bagian dari kegiatan yang melibatkan proses berfikir yang sangat
kompleks dan komprehensif.
Adapun pengertiannya menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1. Menurut Neisser, yaitu perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan.
2. Menurut Gagne, yaitu proses internal yang terjadi di dalam pusat susunan saraf ketika
manusia sedang berpikir.
3. Menurut Drever, yaitu istilah umum yang melingkupi metode pemahaman, yakni
persepsi, penilaian, penalaran, imajinasi, dan penangkapan makna.
Prinsip Teori Belajar Kognitif
Prinsip teori belajar kognitif dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Proses belajar lebih penting daripada hasil.
2. Persepsi dan pemahaman dalam mencapai tujuan belajar menunjukkan tingkah laku
seorang individu.
3. Materi belajar dipisahkan menjadi komponen kecil, lalu dipelajari secara terpisah.
4. Keaktifan peserta didik saat pembelajaran merupakan suatu keharusan.
5. Pada kegiatan belajar, dibutuhkan proses berpikir yang kompleks.
6. Belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan
informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya
7. Perbedaan individu siswa perlu diperhatikan, karena sangat mempengaruhi
keberhasilan siswa belajar.
Tujuan Pembelajaran Kognitif
Adapun tujuan pembelajran kognitif, sebagai berikut:
1. Membentuk hubungan yang teruji, teramalkan dari tingkah laku orang-orang pada
ruang kehidupan mereka sendiri secara spesifik sesuai dengan situasi psikologisnya;
2. Membantu guru untuk memahami orang lain, terutama muridnya, dan membantu
dirinya sendiri;
3. Mengkonstruksi prinsip-prinsip ilmiah yang dapat diterapkan dalam kelas dan untuk
menghasilkan prosedur yang memungkinkan belajar menjadi produktif;
4. Teori belajar kognitif menjelaskan bagaimana seseorang mencapai pemahaman atas
diri dan lingkungannya lalu menafsirkan bahwa diri dan lingkungannya merupakan
faktor yang saling berkaitan
Tokoh-tokoh Aliran Kognitif
Teori Perkembangan Piaget
Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran
konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan
untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan
39
individu. Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu
proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Dengan makin
bertambahnya umur seseorang, maka makin komplekslah susunan sel syarafnya dan makin
meningkat pula kemampuannya. Piaget tidak melihat perkembangan kognitif sebagai sesuatu
yang dapat didefinisikan secara kuantitatif. Ia menyimpulkan bahwa daya piker atau kekuatan
mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
Menurut Peaget, ada tiga proses yang mendasari perkembangan individu yaitu asimilasi,
akomodasi, dan ekuilibrasi. Asimilasi ialah pemaduan data atau informasi baru dengan struktur
kognitif yang ada, akomodasi ialah penyesuaian struktur kognitif yang sudah ada dengan situasi
baru, dan ekuilibrasi ialah penyesuaian secara seimbang, terus-menerus yang dilakukan antara
asimilasi dan akomodasi.
Teori Piaget mengelompokkan perkembangan kognitif anak ke dalam empat tahapan, yaitu
sebagai berikut.
1. Tahap sensorimotor (18-24 bulan)
Pada tahap ini, bayi mulai mampu mengembangkan akalnya untuk memahami dunia
luar melalui indra sensorik dan kegiatan motoriknya.
2. Tahap praoperasional (2-7 tahun)
Pada tahap ini, anak belum bisa mengoptimalkan kemampuan kognitif tersebut.
Artinya, anak belum bisa melogika sesuatu.
3. Tahap operasional konkret (7-11 tahun)
Pada tahap ini, anak mulai bisa berpikir secara rasional dan terorganisir. Artinya, anak
sudah mulai berpikir secara logis saat mengalami atau melihat sesuatu di sekitarnya.
4. Tahap operasional formal (12 tahun ke atas)
Tahap keempat ini, menandakan seorang anak sudah bisa berpikir secara lebih luas,
menalar dan menganalisis sesuatu, memanipulasi ide di pikirannya, dan tidak
tergantung dengan manipulasi konkret.
Tingkatan perkembangan intelektual manusia mempengaruhi kedewasaan, pengalaman
fisik, pengalaman logika, transmisi sosial dan pengaturan sendiri. Teori Piaget jelas sangat
relevan dalam proses perkembangan kognitif anak, karena dengan menggunakan teori ini,
manusia dapat mengetahui adanya tahap-tahap perkembangan tertentu pada kemampuan
berpikir anak di levelnya. Dengan demikian bila dikaitkan dengan pembelajaran kita bisa
memberikan perlakuan yang tepat bagi anak, misalnya dalam memilih cara penyampaian
materi bagi siswa sesuai dengan tahap perkembangan kemampuan berpikir yang dimiliki oleh
anak.
Implikasi teori kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
a. Individu dapat mengembangkan pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dimiliki
oleh setiap individu dapat dibentuk dan dikembangkan oleh individu sendiri melalui interaksi
dengan lingkungan yang terus-menerus dan selalu berubah.
b. Proses pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan individu. Belajar
akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik.
c. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru
mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
Teori Belajar Bruner (Belajar Penemuan/Discovery Learning)
Dalam memandang proses belajar, Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan
terhadap tingkah laku seseorang. Dalam teorinya, “free discovery learning” ia mengatakan
bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan
40
kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-
contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Untuk meningkatkan proses belajar, menurut
Bruner diperlukan lingkungan yang dinamakan “discovery learnig environment” atau
lingkungan yang mendukung individu untuk melakukan eksplorasi dan penemuan-penemuan
baru. Belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan yang terjadi dalam proses
belajar. Guru harus menciptakan situasi belajar yang problematis, menstimulus siswa dengan
pertanyaanpertanyaan, mencari jawaban sendiri dan melakukan eksperimen. Bentuk lain dari
belajar penemuan adalah guru menyajikan contoh-contoh dan siswa bekerja dengan contoh
tersebut sampai dapat menemukan sendiri dan melakukan eksperiman.
Implikasi Teori Belajar Jerome Bruner dalam Pembelajaran
a. Partisipasi aktif individu dan mengenal perbedaan
b. Guru sebagai tutor, fasilitator, motivator dan evaluator
c. Penilaian hasil belajar meliputi tentang konsep dasar dan penerapannya pada situasi
yang baru.
Teori belajar bermakna Ausubel
Menurut Ausubel belajar haruslah bermakna. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan
dihubungkan dengan pengtahuan yang telah dimiliki siswa dalam bentuk strukur kognitif.
Teori ini banyak memusatkan perhatiannya pada konsepsi bahwa perolehan dan retensi
pengetahuan baru merupakan fungsi dari struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi belajar bermakna, yaitu struktur
kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan. Semakin bagus dan stabil struktur
kognitif serta semakin jelas pengetahuan atau informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif,
maka akan semakin mudah terjadinya proses belajar bermakna, begitu juga sebaliknya.
Implikasi Teori Belajar Ausubel dalam Pembelajaran
a. Kunci keberhasilan dalam belajar terletak pada kebermaknaan bahan ajar yang diterima
atau yang dipelajari oleh siswa.
b. Belajar bermakna akan berhasil apabila ada motivasi intrinsik dari dalam diri siswa
c. Untuk meningkatkan minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengaitkan
pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.
Aplikasi Teori Kognitif
Pada hakekatnya teori kognitif adalah sebuah teori pembelajaran yang cenderung
melakukan praktek yang mengarah pada kualitas intelektual peserta didik. Meskipun teori
ini memiliki berbagai kelemahan. Teori kognitif juga memiliki kelebihan yang harus
diperhatikan dalam praktek pembelajaran. Aspek positifnya adalah kecerdasan peserta
didik perlu dimulai dari adanya pembentukan kualitas intelektual (kognitif).
Konsekuensinya proses pembelajaran harus lebih memberi ruang yang luas agar siswa
mengembangkan kualitas intelektualnya. Secara umum proses pembelajaran harus
didasarkan atas asumsi umum:
1) Proses pembelajaran adalah suatu realitas sistem. Artinya, keberhasilan pembelajaran
tidak hanya ditentukan oleh satu aspek/faktor saja, tetapi lebih ditentukan secara simultan
dan komprehensif dari berbagai faktor yang ada.
2) Proses pembelajaran adalah realitas kultural/natural. Yaitu dalam proses pembelajaran
tidak diperlukan adanya berbagai paksaan dengan dalih membentuk kedisiplinan.
3) Pengembangan materi harus benar-benar dilakukan secara kontekstual dan relevan
dengan realitas kehidupan peserta didik. Proses belajar tidak harus di dalam ruang atau
41
gedung. Wilayah pembelajaran bisa dimana saja selama peserta didik mampu
melaksanakan proses untuk mengembangkan daya analisis terhadap realitas.
4) Metode pembelajaran tidak dilakukan secara monoton, metode yang bervariasi
merupakan tuntutan mutlak dalam proses pembelajaran.
5) Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena dengan
mengaktifkan siswa, maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman
dapat terjadi dengan baik.
6) Belajar memahami akan lebih bermakna dari pada belajar menghafal. Agar bermakna,
informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki
siswa. Tugas guru adalah menunjukkan hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan
apa yang telah diketahui siswa.
7) Pembelajaran harus memperhatikan perbedaan individual siswa, faktor ini sangat
mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi,
persepsi, kemampuan berfikir, pengetahuan awal dan sebagainya
Kesimpulan
Teori belajar kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk
tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Teori kognitif lebih menekankan bagaimana
proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang
lain.
Saran-saran
Dalam pembelajaran kognitif, kita dapat membangun atau membimbing siswa dalam melatih
kemampuan mengoptimalkan proses pemahaman terhadap suatu objek secara akal atau
rasional. Teori kognitif menyatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi
serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan dirinya.
42
E. MATERI TEORI BELAJAR SOSIAL
Makalah kelompok 9 dan 10
Latar Belakang
Dalam belajar dan mengajar terdapat berbagai metode yang digunakan oleh
pengajar maupun yang menerima ajaran. Ada beberpa teori belajar yang sudah dipaparkan
atau dijeaskan oleh para ahli. Disini kami akan menelusuri salah satu teori belajar
yang terdapat dalam materi pembahsan mata kuliah Belajar dan Pembelajaran yaitu “
Teori Belajar Sosial”. Dalam pembuatan makalah ini kami mencari referensi dari
browser internet dikarenakan keterbatasan akses untuk pergi ke perpustakaan
universitas maupun perpustakaan yang ada di daerah sekitar.
A.PENGERTIAN BELAJAR SOSIAL
Teori belajar sosial merupakan teori yang dikemukakan atau ditemukan oleh Albert Bandura.
Albert Bandura adalah seorang psikolog keturunan Amerika- Kanada yang
menempuh Pendidikan di University of British of Columbia dan dia mengajar di Universitas
Stanford.
Berlatar belakang sebagai lulusan di jurusan psikolog membuat Bandura mengamati
dan meneliti apa sebenernya yang sebenarnya bisa membentuk kepribadian seorang manusia
dan kemudian ia berteori bahwa kepribadian manusia dapat dibentuk atau dipengaruhi oleh
tiga hal yaitu ; lingkungan, perilaku dan proses psikologis. Dari pengamatannya tersebut
Bandura dapat menyimpulkan dua hal yang sangat mempengaruhi kepribadian atau perilaku
darii manusia yaitu pembelajara observasional atau yang lebih dikenal dengan teori
pembelajaran sosial dan regulasi diri. Disini kita akan membahas mengenai teori
pembelajarn sosial.
Sebenarnya teori belajar sosial merupakan pemekaran dari teori belajar
behavioristik. Teori ini menerima sebagian prinsip-prinsip dari teori belajar perilaku tetapi
lebih menegaskan pada efek-efek yang ditimbulkan oleh isyarat-isyarat pada perilaku dan
pada proses mental yang berasal dari internal. Salah satu asumsi Bandura dalam
mengembangkan teori ini adalah bahwa manusia cukup fleksibel dan mampu mempelajari
bagaimana kecakapan berperilaku ataupun bersikap. Walaupun manusia sudah mempelajari
banyak hal dan mendapatkan banyak pengalaman baik dari belajar secara langsung ataupun
pengalamannya langsung namun manusia lebih banyak mendapatkan pelajaran dari
aktivitas mereka mengamati,melihat,mengobservasi orang lain. (LESILOLO, 2019)
5 Asumsi Dasar Didalam Teori Belajar Sosial :
1. Plasticity , belajar tingkah laku disituasi yang berbeda. Asumsi ini mempelajari
untuk mengamati orang lain.
2. Triadic reciprocal causation model, asumsi ini menyatakan bahwa Tindakan
manusia berasal dari tiga variable yaitu ; environment (pengaruh lingkungan), behavior
( perilaku individu),dan person ( factor internal indivvidu) yang berhubungan timbaalik
43
3. Agen perspective , asumsi ini menyatakan bahwa manusia dapat mengontrol
lingkungan dan kualitass hidup mereka.
4. Self regulation , asumsi ini menyatakan bahwa manusia meregulasi Tindakan
mereka melalui factor eksternal dan factor internal.
5. Moral agency , asumsi ini menyatakan bahwa manusia mengatur tigkah laku
mereka melalui standar perilaku moral
Pada asumsi ini Bandura mendapat beberapa sudut pandang mengenai teoriny
yaitu pembelajaran sosial ( teori observasional) :
1. Proses pembelajaran pada hakikatnya berlangsung melalui proses tiru/peniruan
( imitation) atau melalui proses pemodelan (modelling).
2. Dalam proses peniruan (imitation) atau pemodelan (modelling) seorang
individu ddidentifikasikan sebagai pihak yang memainkan peran aktif daalam
menentukan perilaku mana yang hendak ia tirukan dan juga intensitas serta frekuensi
peniruan yang akan ia jalankan.
3. Peniruan atau pemodelan adalah jenis pembelajaran perilaku tertentu
yang dilakukan tanpa harus melalui pengalaman langsung.
4. Dalam proses peniruan atau pemodelan terjadi penguatan secara tak langsung
pada perilaku tertentu yang keefektifannya sama dengan penguatan yang terjadi
secar langsung untuk memfasilitasi dan menghasilkanpeniruan.
Dalam tahap ini individu perlu menyumbangkan komponen kognitif seperti kemampuan
mengingat dan mengulang pada saat pelaksanaan proses peniruan. Mediasi internal pun
sangat penting dalam proses pembelajaran karena pada saat terjadi proses masuknya
perilaku yang dilihat atau didengar terdapat operasi internal yang memengaruhi hasil
akhirnya.
Bandura yakin bahwa tindaka mengamati perilaku orang lain akan memberikan ruang dan
kondisi bagi manusia untuk belajar tanpa berbuat apapun. Vicarious learning atau
manusia belajar dengan mengamati perilaku orang lain adalah metode belajar dengan cara
mengobservasi orang lain. Teori ini juga mengatakan bahwa jika manusia belajar dari
cara mengamati,maka mereka pasti akan lebih memfokuskan perhatiannya pada objek
yang dia amati,mengingatnya,menganalisis,memperhatikan setiap detail serta bisa
membuat keputusan dari hasil yang ia amati. Selanjutnya teori belajar sosial mempunyai
penguat yaitu dengan memiliki kualitas motivasi. Kualitas motivasi disini adalah manusia
dapat melakukan antisipasi terhadap penguat yang akan muncul dalam situasi tertentu dan
perilaku antisipasi dapat menjadi Langkah awal dalam tahapan perkembangan
kedepannya. Karena manusia tidak dapat melihat masa depan namun bisa mengantisipasi
konsekuensi-konsekuensi yang akan muncul akibat dari perilaku perilaku tertentu yang
didasarkan pada apa yang mereka pelajari.
Bandura memperluas konsepnya ini dengan menambahkan self-value (nilai diri) dan self
efficacy (keyakinan diri). Self-efficacy adalah factor person yang memainkan peran
penting dalam teori ini dimana ia memiliki keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai
situasi dan menghasilkan prilaku yang positif . Disebut juga kemampuan kepercayaan
pada diri sendiri. Seorang individu harus percaya bahwa model yang ia amati dapat ia
tirukan dan pelajari. Pengamatan ini mempengaruhi pola piker self-effacy yang dimana
menekankan bahwa jika mereka bisa maka saya juga bisa.
Self-effacy dalam modelling akan melakukan Tindakan-tindakan yang hasilnya
adalah menghasilkan efek sesuai dengan yang kita inginkan. Namun hanya jika kita
menerapkan proses-proses yang dibutuhkan saat pembelajaran modelling,antara lain ;
44
a. Perhatian
Kita harus mengamati model,mengamati model yang lebih atraktif,mengamati
dan memberi perhatian pada setiap kejadian.
b. Representasi
Mengabadikan pola-pola yang dilihat didalam memori agar nanti dapat kita panggil
dan gunakan jika diperlukan.
c. Produksi perilaku
Setelah memberikan perhatian dan menyimpan memorinya kita akan
dapat menghasilkan perilaku,maka kita akan secara fisik melaksanakan perilaku
tersebut. d. Motivasi dan Penguatan
Penguatan dapat memainkan beberapa peran dalam modeling. Bila
mengantisipasi bahwa kita akan diperkuat untuk meniru Tindakan-tindakan
seorang.
Ada lima kemungkinan hasil yang diperoleh dari modeling, yaitu ;
1.Mengarahkan perhatian,dengan modeling orang lain,kita tidak hanya belajar
tentang Tindakan tapi juga dapat melihat berbagai ibjek yang terlibat dala Tindakan-
tindakan tersebut.
2. Menyempurnakan perilaku yang sudah kita pelajari sebelumnya.
3. Memperkuat ataupun memperlemah hambatan sesuai dengan kondisi.
4. Menemukan perilaku baru.
5. Membangun emosi.
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya teori belajar sosial adalah pembelajaran
dengan cara mengamati dan berttindak. Inti dari mengamati adalah pemodelan,yang
mencakup pengamatan terhadap kegiatan atau aktifitas,mengkodekan setiap kejadian dengan
tepat agar selanjutnya dapat disimpan didalam memori,melakukan performa actual perilaku,
dan menjaadi cukup termotivasi.
Pembelajaran dengan bertindak mengizinkan seseorang untuk mencapai pola-pola
baru berperilaku kompleks lewat pengalaman langsung denan memikirkan dan
mengevaluasi konsekuensi-konsekuensi perilaku tersebut.
B.PENERAPAN TEORI BELAJAR SOSIAL
Setelah kita mengetahui apa itu teori belajar sosial selanjutnya adalah
bagaimana pengaplikasian teori belajar sosial dalam kehidupan mengajar. Kita ambil
contoh misalnya penerapan belajar sosial pada murid sekolah dasar.
Berikut adalah beberapa cara pengaplikasian atau penerapan yang dapat dilakukan
dalam menjalankan teori ini dilingkungan sekolah dasar .
1) Mengaitkan pelajaran dengan pengalaman atau kehidupan siswa
2) Menggunakan alat pemusat perhatian seperti peta konsep, gambar, bagan, dan media-
media pembelajaran visual lainnya.
3) Menghubungkan pesan pembelajaran yang sedang dipelajari dengan topik topik yang
sudah dipelajari.
4) Menggunakan musik.
5) Menciptakan suasana riang.
6) Teknik penyajian materi bervariasi.
7)Mengurangi bahan/materi yang tidak relevan. (LESILOLO, 2019)
45
KESIMPULAN
Belajar merupakan satu kegiatan yang tidak akan pernah lepas dari manusia. Sejak
manusia itu dilahirkan hingga mati belajar akan selalu ada disetiap momen kehidupan.
Belajar tidak melulu tentang mendapat pengetahuan edukasi disekolah namun belajar lebih
luas cakupannya daripada itu. Setiap hari kita belajar dimanapun dan kapanpun. Setiap hari
kita mengamati sesuatu dan mempelajari hal baru. Pengamatan inilah yang disebut dengan
teori belajar sosial.
Belajar tidak hanya didapat dari buku maupun karya ilmiah yang lainnya melainkan
dapat kita pelajari pula dari pengamatan dan pengobservasian dari orang lain.
46
F. MATERI TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME
Makalah kelompok 11 dan 12
Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses yang berlangsung pada manusia dengan
berpikir, merasa, serta bergerak buat menguasai tiap realitas yang diinginkannya
guna menciptakan pengetahuan, suatu sikap, ataupun teknologi ataupun apapun
yang berbentuk karya serta karsa manusia tersebut guna jadi yang lebih baik ke depan.
Belajar berarti suatu update mengarah pengembangan diri individuagar kehidupannya dapat
lebih baik dari tadinya. Belajar pula dapat berarti menyesuaikan diri terhadap area
serta interaksi seseorang manusia dengan area tersebut.
Berpijak dari pandangan itu Konstruktivisme berkembang. Dasarnya
pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari konteks yang terbatas dan sedikit demi
sedikit. Kontruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan
bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri( von Glaserfeld dalam
Pannen dkk, 2001: 3). Konstruktivisme selaku aliran filsafat, banyak pengaruhi konsep
ilmu pengetahuan, teori belajar serta pendidikan. Konstruktivisme menawarkan
paradigma baru dalam dunia pendidikan. Selaku landasan paradigma
pembelajaaran, konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses
pendidikan, perlunya pengembagan siswa belajar mandiri, serta perlunya siswa
mempunyai kemampun buat meningkatkan pengetahuannya sendiri.
Dampaknya, orientasi pendidikan di kelas hadapi perpindahan. Orientasi pendidikan
beralih dari berpusat pada guru mengajar ke pendidikan berpusat pada siswa. Siswa saat ini
diposisikan selaku mitra belajar guru. Guru bukan salah satunya pusat data serta yang sangat
ketahui. Guru cuma salah satu sumber belajar ataupun sumber data. Sebaliknya sumber
belajar yang lain dapat internet, tv, teman sebaya dan lainya.
Pengertian Teori Konstruktivisme
Teori konstruktivisme merupakan teori yang sudah tidak asing lagi bagi
dunia pendidikan, sebelum mengetahui lebih jauh tentang teori konstruktivisme alangkah
lebih baiknya di ketahui dulu konetruktivisme itu sendiri. Konstruktivisme berarti
bersifat membangun. Dalam konteks filsafat pendidikan, konstruktivisme adalah suatu
upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, bahwa konstruktivisme merupakan sebuah teori
yang sifatnya membangun, membangun dari segi kemampuan, pemahaman, dalam proses
pembelajaran. Sebab dengan memiliki sifat membangun maka dapat diharapkan keaktifan
dari pada siswa akan meningkat kecerdasannya.
• MENURUT PARA AHLI
1. Menurut Hill
Konstruktivisme merupakan bagaimana menghasilkan sesuatu dari apa yang
dipelajarinya, dengan kata lain bahwa bagaimana memadukan
47