The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

kumpulan makalah belajar dan pembelajaran semester 1

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rika28damayanti, 2021-11-23 01:22:52

Ebook Belajar dan pembelajaran

kumpulan makalah belajar dan pembelajaran semester 1

Keywords: mata kuliah belajar dan pembelajaran

meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia
dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi
terhadap hasil karya kesastraan ma nusia Indonesia." Tujuan pelajaran bahasa Indonesia
di SD antara lain bertujuan agar siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya
sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta
meningkatkan pengetahuan dan

kemampuan berbahasa. Adapun tujuan khusus pengajaran bahasa Indo nesia, antara lain
agar siswa memiliki kegemaran membaca, meningkatkan karya sastra untuk
meningkatkan kepribadian, mempertajam kepekaan, perasaan, dan memperluas wawasan
kehidupannya. Pengajaran bahasa Indonesia juga dimaksudkan untuk melatih
keterampilan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis yang masing-masing erat
hubungannya. Pada hakikatnya, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia baik
secara lisan maupun tulisan.

Fungsi bahasa yang paling utama adalah tujuan kita berbicara. Dengan berbahasa,
kita bisa menyampaikan berita, informasi, pesan, kemauan, dan keberatan kita. Menurut
Richards, Platt, dan Weber dalam Solahuddin (2007) menguraikan bahwa bahasa sering
dikatakan mempunyai tiga fungsi utama, yaitu (1) deskriptif; (2) ekspresif; dan (3) sosial.
Fungsi deskriptif bahasa adalah untuk menyampaikan informasi faktual. Fungsi ekspresif
ialah memberi informasi mengenai pembaca itu sen diri, mengenai perasaan-
perasaannya, kesenangannya, pra sangkanya, dan pengalaman-pengalamannya yang
telah lewat. Fungsi sosial bahasa ialah melestarikan hubungan-hubungan sosial
antarmanusia.

Pembelajaran menulis di jenjang pendidikan dasar dapat dibedakan menjadi dua
tahap, yakni menulis permulaan di Kelas I-II dan menulis lanjut yang terdiri dari menulis
lanjut tahap pertama di Kelas III-IV serta menulis lanjut tahap kedua di Kelas VI hingga
kelas IX (SMP).

Menulis itu sendiri berkaitan dengan membaca, bahkan dengan kegiatan
berbicara dan menyimak. Membaca dan menulis merupakan kegiatan yang saling
mendukung agar berkomunikasi untuk melakukan kegiatan membaca sebagai kegiatan
dari latihan menulis.

Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013

Pembelajaran bahasa Indonesia pada hakikatnya adalah membelajarkan peserta
didik tentang keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai tujuan dan
fungsinya. Menurut Atmazaki (2013), mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai
dengan etika yang
berlaku, baik secara lisan maupun tulisan, menghargai dan bangga menggunakan b
ahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, memahami bahasa
Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan,
menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta
kematangan emosional dan sosial, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk
memperluas wawasan, budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
berbahasa, menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya
dan intelektual manusia Indonesia.

148

Untuk mengimplementasikan tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia tersebut,
maka pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 disajikan dengan
menggunakan pendekatan berbasis teks. Teks dapat berwujud teks tertulis maupun
teks lisan. Teks merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di
dalamnya memiliki situasi dan konteks. Dengan kata lain, belajar Bahasa Indonesia
tidak sekadar memakai bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, tetapi perlu juga
mengetahui makna atau bagaimana memilih kata yang tepat yang sesuai tatanan
budaya dan masyarakat pemakainya.
Dalam pembelajaranya menggunakan empat tahapan, yaitu membangun konteks,
membentuk model, membangun teks bersama-sama/kelompok, dan membangun teks
secara individual atau mandiri. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan
saintifik dengan model yang sesuai. Ketercapaian KD dalam kelompok KI: 1 dan 2
ditentukan oleh ketercapaian KD dalam kelompok KI: 3 dan 4.
Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 yang berbasis teks ini
bertujuan agar dapat membawa peserta didik sesuai perkembangan mentalnya, dan
menyelesaikan masalah kehidupan nyata dengan berpikir kritis. Dalam
penerapannya, pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki prinsip, yaitu sebagai
berikut.
a. Bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata atau
kaidah kebahasaan.
b. Penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasan untuk
mengungkapkan makna.
c. Bahasa bersifat fungsional, artinya penggunaan bahasa yang tidak pernah dapat
dipisahkan dari konteks, karena bentuk bahasa yang digunakan mencerminkan ide, sikap,
nilai, dan ideologi p emakai/penggunanya.
d. Bahasa merupakan sarana pembentukan berpikir manusia.

Dengan prinsip di atas, maka pembelajaran bahasa berbasis teks membawa
implikasi metodologis pada pembelajaran yang bertahap. Hal ini diawali dari
kegiatan guru membangun konteks, dilanjutkan dengan kegiatan pemodelan,
membangun teks secara bersama-sama, sampai pada membangun teks secara
mandiri. Kegiatan ini dilakukan karena teks merupakan satuan bahasa yang
mengandung pikiran dengan struktur yang lengkap. Guru harus benar-benar
meyakini bahwa pada akhirnya peserta didik mampu menyajikan teks secara mandiri.

PEMBELAJARAN MENULIS

1. Pengertian Menulis

Ahmad Susanto (2019) “Menulis ialah kegiatan yang paling sering dilakukan
oleh setiap orang yang membutuhkan keterampilan khusus yang harus dipelajari dan
senantiasa dilatih. Diperlukan keterampilan tambahan juga motivasi karena menulis
bukan tentang bakat, tidak semua orang mampu menulis. Menulis adalah salah satu
cara mengoperasikan otak secara totalitas menyertakan raga, jari, dan juga tangan”

Berikut beberapa pendapat menganai pengertian menulis.

1. Menurut KBBI, menulis mempunyai arti: (1) membuat huruf, angka, dan
sebagainya dengan pena, pensil, kabur dan sebagainya; (2) melahirkan pikiran
atau perasaan seperti mengarang, membuat surat dengan tulisan; (3)

149

menggambar, melukis; (4) membatik kain, mengarang cerita, membuat surat,
berkirim surat.
2. Rusyana (1984: 191) “Menulis merupakan kemampuan menggunakan pola-
pola bahasa dalam penyampaiannya secara tertulis untuk mengungkapkan
suatu gagasan atau pesan.”
3. Tarigan (1986:4) “Menulis merupakan suatu kegiatan suatu kegiatan yang
produktif dan ekspresif, penulis harus terampil memanfaatkan struktur bahasa
dan kosakata.”
4. Alwasilah (1994:78) “Menulis adalah kegiatan produktif dalam berbahasa.
Menulis adalah proses psikolinguistik, bermula dengan formasi gagasan lewat
semantik, lalu didata dengan aturan sintaksis, kemudian diwujudkan dalam
tatanan sistem tulisan.” Lebih jelasnya bahwa menulis itu adalah kegiatan
menuangkan ide atau gagasan ke dalam tulisan, menulis itu sebagai suatu
keterampilan, menulis itu sebagai proses berpikir, menulis itu sebagai
kegiatan informasi, menulis itu sebagai kegiatan berkomunikasi.
Menulis menjadi kegiatan penting yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Fungsi Menulis

Menurut Purwanto dalam Susanto (2019) mengklasifikasikan fungsi menulis sesuai
kegunaannya, yaitu sebagai berikut:
a. Fungsi penataan, ialah menata suatu gagasan ,pikiran, pendapat, imajinasi, dan
lainnya, terhadap penggunaa bahasa, sehingga tulisan tersusun.
b. Fungsi pengawetan, ialah mengawetkan pengaturan sesuatu dalam dokumen yang
tertulis.
c. Fungsi penciptaan, ialah mewujudkan atau menciptakan sesuatu yang baru.

d. Fungsi penyampaian, ialah menyampaikan gagasan, pikiran, imajinasi,
pengetahuan, informasi yang telah diawetkan dalam karangan lalu disampaikan pada
orang terdekat maupun yang jauh.
e. Fungsi melukiskan, ialah menggambarkan atau mendeskripsikan sesuatu apapun.

f. Fungsi memberi petunjuk, ialah memberikan petunjuk tentang cara melakukan
sesuatu.
g. Fungsi memerintahkan, ialah memberikan perintah, nasihat, permintaan, anjuran
atau saran, supaya pembaca menjalankannya.
h. Fungsi mengingat, ialah suatu kegiatan, keadaan, peristiwa dicatat agar tidak
terlupakan dan dapat dibaca kembali.
i. Fungsi korespondensi, ialah terjadinya timbal balik adanya tanggapan, seperti
memberitahukan, menanyakan, meminta atau memerintah, ditujukan agar pembaca
memenuhi hal tersebut.

3. Tujuan dan Manfaat menulis

Ada empat macam tujuan (the writer intention) menulis, yaitu:

1. Untuk memberitahukan atau mengajar (informative discourse)

2. Untuk menyakinkan dan mendesak pembaca (persuasive discourse)

150

3. Untuk menghibur atau menyenangkan pembaca (altruistic purpose) dan
wacana kesastraan (literacy discourse )

4. Untuk pernyataan diri dengan pencapaian nilai-nilai artistik (expressive discourse)

Manfaat menulis, yaitu sebagai berikut:
1. Membantu menemukan kembali yang pernah diketahui.
2. Menghasilkan ide-ide baru
3. Membantu mengorganisasikan pikiran dan menepatkannya dalam suatu wacana.
4. Membuat pikiran seseorang siap dibaca dan juga dievaluasi.
5. Membantu menyerap dan mengingat informasi dan pengetahuan baru dengan

baik.
6. Membantu memecahkan masalah

4. Pembelajaran Menulis Permulaan
Menurut Tomkins dalam Susanto (2019:257) menguraikan proses menulis ada

lima tahap yaitu: Tahap pra-menulis (prewriting); tahap penyusunan draf tulisan
(drafting);

tahap perbaikan (revisi); tahap penyuntingan (editing); dan tahap pempublikasian
(publishing).

Dalam pembelajaran menulis peserta didik pertama-tama harus diajarkan dahulu
bagaimana cara memegang alat tulis, dimulai dari pensil saat kelas rendah lalu
menggunakan pena mulai kelas tinggi pada Sekolah Dasar. Kemudian, peserta
didik boleh diarahkan untuk melakukan langkah-langkah pembelajaran dalam
menulis, sebagai berikut ini:
a. Pengenalan, guru mengenalkan dasar dasar menulis dahulu seperti titik, dan garis
maupun lingkaran. Kemudian, guru mengenalkan huruf-huruf dan angka-angka sederhana
dari 0 sampai 10 dahulu.
b. Menyalin, guru mencontohkan huruf atau angka yang akan diajarkan. Peserta didik
menyalin huruf yang sama seperti yang telah dicontohkan oleh guru. Peserta didik
menyalin bunyi bacaan ke huruf tertulis, menyalin huruf kecil menjadi huruf besar,
menyalin huruf lepas menjadi huruf sambung, dan peserta didik dapat diminta melengkapi
kata atau tanda baca.
c. Menulis halus atau indah, menulis yang memerhatikan bentuk, ukuran, tebal tipis
dan kerapian menulis.
d. Menulis nama, bisa menulis nama diri sendiri dahulu, lalu nama benda, hewan,
tumbuhan dan lain-lain.
e. Mengarang sederhana, bisa menceritakan pengalaman yang dirangkai dalam lima
sampai sepuluh baris dan pastinya harus diperhatikan ketepatan ejaan, kerapian, dan isi
yang diceritakan peserta didik.

151

Kesimpulan
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar meliputi kegiatan menulis,
membaca, menyimak maupun berbicara. Peserta didik mula-mula akan diajari cara
menulis lalu merangkai kata dan mampu membacanya. Dengan pembelajaran Bahasa
Indonesia di Sekolah Dasar diharapkan peserta didik dapat mengaplikasikan
pembelajaran di kehidupan sehari-hari baik secara tulisan maupun lisan. Tujuan utama
dari pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar ialah untuk berkomunikasi dengan
baik dan benar. Lebih jelasnya tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia telah dibahas
dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006. Bahasa Indonesia
diajarkan kepada peserta didik sebagai bahasa persatuan negeri tercinta yaitu Indonesia.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar akan selalu disesuaikan dengan
kurikulum yang berlaku. Agar apa yang diajarkan kepada peserta didik terus maju dan
berkembang sesuai dengan perkembangan Bahasa.
Saran

Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar sangatlah penting. Banyak
manfaat dari pembelajaran Bahasa Indonesia. Inilah makalah dari kelompok 7, kami
mengharapkan saran dari pembaca agar kedepannya makalah ini dapat menjadi lebih
baik lagi. Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasi Bahasa
Asing.

152

H.Materi pembelajaran seni budaya dan keterampilan di sekolah dasar

Makalah kelompok 8

LATAR BELAKANG

Seni untuk anak-anak berbeda dengan seni untuk orang dewasa karena karakter fisik
maupun mentalnya berbeda. Hal ini penting diperhatikan khususnya dalam melakukan
penilaian karya anak didik, supaya hasil kreasi anak tidak diukur menurut selera dan kriteria
keindahan orang dewasa. Fungsi seni dalam pendidikan berbeda dengan fungsi seni dalam
kerja profesional. Seni untuk pendidikan difungsikan sebagai media untuk memenuhi fungsi
perkembangan anak, baik fisik maupun mental. Sedang seni dalam kerja profesional
difungsikan untuk meningkatkan kemampuan bidang keahliannya secara professional.

Dalam pelaksanaan pembelajaran seni di sekolah, pengalaman belajar mencipta seni
disebut sebagai pembelajaran berkarya. Sedang pengalaman persepsi, melihat, dan
menghayati serta memahami seni disebut pembelajaran apresiasi. Pembelajaran berkarya seni
mengandung dua aspek kompetensi, yaitu: keterampilan dan kreativitas.

Di SD/MI kompetensi keterampilan lebih difokuskan pada pengalaman eksplorasi
untuk melatih kemampuan sensorik dan motorik, bukan menjadikan anak mahir atau ahli.
Sedangkan kreativitas di sini meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik yang terlihat
dari produk atau hasil karya dan proses dalam bersibuk diri secara kreatif. Pembelajaran
apresiasi disampaikan tidak hanya sebatas pengetahuan saja, namun melibatkan pengalaman
mengamati, mengalami, menghayati, menikmati dan menghargai secara langsung aktivitas
berolah seni.

A. PENDIDIKAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN

Pendidikan seni budaya dan keterampilan (SBK) pada dasarnya merupakan
pendidikan seni yang berbasis budaya yang aspek-aspeknya, meliputi: seni rupa, seni music,
seni tari dan keterampilan. Pendidkan seni di sekolah dapat dijadikan sebagai dasar
pendidikan dalam membentuk jiwa dan kepribadian, berakhlak mulia. Tujuan dari pendidikan
seni budaya dan keterampilan ialah untuk mengembangkan kemampuan berpikir, sikap dan
nilai untuk dirinya sebagai individu maupun makhluk social dan budaya.

Pendidikan SBK pada Sekolah Dasar memiliki peranan dalam pembentukan pribadi
peserta didik yang harmonis dengan memerhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam
mencapai multi kecerdasaan yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal, interpersonal, visual,
musical, linguistic, logika, matematis, naturalis, dan kecerdasaan kreativitas, kecerdasaan
spiritual, moral serta kecerdesaan emosional.

Pendidikan Seni Budaya memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan
multikultural. Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri
secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan
berbagai perpaduannya. Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi
meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan
cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat
multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan

153

kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan mancanegara. Hal ini
merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup
secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.

B. HAKIKAT PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN

Pendidikan SBK disekolah dirasakan sangat penting, karena pelajaran ini memiliki sifat
multilingual, multidimensional, dan multicultural.

• Multilingual bertujuan mengembangkan kemampuan mengekpresikan diri dengan
berbagai cara.

• Multidimensional berarti bahwa mengembangkan kompetensi kemampuan dasar
siswa yang mencakup persepsi, pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi,
apresiasi, pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi, dan produktivitas
dalam menyeimbangkan fungdi otak kanan dan kiri, dengan memadukan unsur logika,
etika dan estetika.

• Multicultural bertujuan mengembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi
terhadap keberagaman budaya local dan global sebagai pembentukan sikap
menghargai, demokratis, beradap, dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya
yang majemuk.

Pendidikan SBK memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang
harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multi
kecerdasan yang terdiri atas kecerdasan intarpersonal, kecerdasan interpersonal, visual,
spasial, moral, emosional, musical, logic, kinestetik, linguistic, matematis, dan kecerdasan
naturals. Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik
berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam.

Secara spesifik mata pelajaran SBK meliputi aspek-aspek, sebagai berikut:

1. Seni rupa, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan nilai dalam menghasilkan
karya seni rupa berupa lukisan, patung, ukiran, cetak-mencetak, dan sebagainya.

2. Seni music, mencakup kemampuan untuk menguasai olah vocal, memainkan alat
music, apresiasi terhadap gerak tari.

3. Seni tari, mencakup keterampilan gerak berdasarkan olah tubuh dengan, dan, tanpa
rangsangan bunyi, apresiasi terhadap gerak tari.

4. Seni drama, mencakup keterampilan pementasan dengan mamadukan seni music,
seni tari, dan peran.

5. Keterampilan, mencakup segala aspek kecakapan hidup (life skills), yang meliputi
keterampilan personal, social, vokasional, dan akademik.

Diantara bidang seni yang ditawarkan tersebut, minal diajarkan satu bidang seni sesuai
dengn kemampuan sumber daya manusia sera fasilitasyang tersedia. Pada tingkat sekolah
dasar, mata pelajaran keterampilan ditekankan pada keterampilan vokasional, khususnya
kerajinan tangan.

C.TUJUAN PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN

Tujuan pembelajaran merupakan rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus
dicapai dan dimiliki siswa.Dan tujuan pembelajaran seni budaya disekolah dasar yaitu untuk
mengembangkan sikap dan kemampuan siswa agar bisa berkreasi,bekreati ivitas,dan

154

menghargai kerajinan atau keterampilan seseorang.Materi pada pembelajaran seni budaya
yaitu terdiri dari seni rupa,seni tari,seni musik,dan kerajinan yang masing-masingnya
mempunyai karakteristik.

Pembelajaran seni budaya disekolah dapat membantu siswa untuk mengekspresikan
dirinya secara bebas.Melalui pendidikan seni budaya potensi yang dimiliki siswa sejak lahir
untuk bergerak secara bebas dapat dikembangkan secara optimal.pembelajaran seni budaya
diberikan di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap
kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik
dalam bentuk kegiatan berekspresi atau berkreasi dan apresiasi pendekatan belajar dengan
seni, dan peran ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain.

Mata pembelajaran seni budaya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai
berikut:

1. Memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan

2. Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan

3. Menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan keterampilan

4.menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal regional
maupun global

Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan memiliki sifat multilingual,
multidimensional, dan multikultural.

1.Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif
dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai
perpaduannya.

2.Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi
(pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan cara memadukan
secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika.

3.Multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan
kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan Mancanegara. Hal ini
merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup
secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk

Pembelajaran seni budaya di sekolah dasar bukan sekedar proses upaya transformasi
pengetahuan seni dan budaya serta keterampilan tetapi juga perlu diupayakan pengembangan
sikap secara aktif kritis dan kreatif.karena pendidikan seni budaya memiliki fungsi dan tujuan
untuk mengembangkan sikap dan kemampuan siswa mampu berkreasi dan peka dalam
berkesenian atau memberikan kemampuan dalam berkarya dan berapresiasi.

D. METODE PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN

Melaksanakan program kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari metode yang akan
digunakan. Sudjana (1999. 70 menyatakan bahwa: "metode adalah cara yang digunakan guru
dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran." Metode
ditetapkan oleh penga- Jar dengan berpedoman kepada tujuan pengajaran dan atas

155

pertimbangan terhadap bahan pelajaran yang akan diberikan. Metode mengajar merupakan
bagian dari strategi kegiatan yang dalam fungsinya berperan sebagai alat untuk membantu
efisiensi dalam proses mengajar.

Dalam memilih metode yang akan digunakan guru dalam program kegiatan
pembelajaran, guru hendaknya kreatif dalam memilih metode yang akan dipakai, Sehingga
dengan pemilih- an metode yang tepat, mampu menumbuhkan dan mengem- bangkan seluruh
potensi yang dimiliki oleh siswa agar dapat menghasilkan sesuatu hal yang baru berdasarkan
daya pikir atau kemampuannya. Dengan pemilihan metode yang tepat dapat membantu
pembentukan kepribadian anak, Selain itu, dengan pemilihan metode yang tepat diharapkan
anak dapat menyalurkan ekspresi jiwanya, menumbuhkan keberanian berkreasi, yaitu
menyalurkan pikiran dan perasaan.

Pemilihan metode pembelajaran diperlukan oleh guru pada saat merancang proses
kegiatan belajar mengajar. Karena ketepatan pemilihan metode pembelajaran akan
berdampak terhadap efektivitas pencapaian kompetensi pembelajaran yang telah ditetapkan.
Dalam pembelajaran seni musik gabungan dari berbagai metode sangat diperlukan, apalagi
kalau pembelajaran yang dilakukan menekankan pada pemberian pengalaman kepada siswa,
Pemilihan metode pembelajaran yang dilakukan oleh para guru berdasarkan hasil penilitian
menunjukkan bahwa pada umumnya mereka menggunakan metode ceramah, demonstrasi,
dan latihan (drill). Metode ceramah digunakan oleh para guru pada saat menyampaikan
berbagai informasi yang terkait dengan materi pembelajaran. Adapun metode demonstrasi,
dilakukan oleh para guru pada saat pembelajaran materi praktik. Karena proses pembelajaran
praktik yang berlangsung lebih menekankan pada strategi ear training, maka pada saat ada
materi baru siswa sangat tergantung pada contoh guru yang dilakukan dengan metode
demonstrasi.

Ketersediaan sarana pembelajaran sangat diperlukan guru dalam merancang dan
melaksanakan pembelajaran. Apalagi dalam pembelajaran seni musik, berdasarkan
karakteristik dan standar kompetensi menurut kreativitas guru dalam meman- faatkan dan
mengembangkannya. Ketersediaan buku sumber dan buku ajar, alat musik, dan media
pendukung pembelajaran lainnya juga sangat dibutuhkan dalam pembelajaran SBK ini.

Ada beberapa sarana pendukung yang diperlukan guru dalam pelaksanaan
pembelajaran seni musik, seperti ruang praktik musik, perlengkapan elektronik (tape
recorder, CD dan DVD player, televisi, dan lain-lain). ketersediaan sarana pembelajaran
dersebut berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa Danyak sekolah yang tidak
memiliki ruang khusus pembelajaran seni musik. Adapun perlengkapan yang ada seperti tape
recorder, CD dan DVD player, serta televisi yang dimiliki di beberapa sekolah tidak pernah
digunakan sebagai sarana elektronik apalagi media dalam pembelajaran seni musik.

E. EVALUASI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN

Evaluasi merupakan rangkaian kegiatan dari suatu program yang bertujuan untuk
menentukan keberhasilan suatu program. Worthen & Sanders (1981) mengungkapakan
bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk menentukan nilai sesuatu yang di dalamnya
terkandung pemerolehan informasi yang digunakan untuk menentukan baik buruknya suatu
program, produk, prosedur, tujuan, atau rancangan pendekatan untuk mencapai tujuan-tujuan
tertentu. Ada banyak model evaluasi yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan
diantaranya:

156

• Model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) (Fernandes, 1984)

• Model evaluasi Scriven yang berorientasi pada “consumer oriented evaluation”
karena filosofi model evaluasi tersebut didasarkan pada kepentingan konsumen (Stufflebeam
& Shinkfield, 1985)

• Model evaluasi Alkin yang memperhatikan pengguna potensial, yaitu para pengguna
baik yang berada dalam suatu institusi yang mempunyai potensi menggunakan hasil evaluasi
secara langsung maupun tidak (Alkin, 1985)

• Model evaluasi Valadez (1994) menekankan pentingnya kegiatan monitoring dalam
melakukan evaluasi

• Model evaluasi Performance monitoring indicator yang mengukur dampak, outcomes,
output, input, dari suatu proyek yang dimonitor selama pelaksanaan proyek untuk
memperoleh informasi tentang mengetahui kemajuan proyek (Mosse, Roberto, &
Sontheimer, 1996)

Evaluasi pengajaran merupakan bagian dari kepentingan pendidikan yang dianggap
penting untuk mengetahui tercapainya suatu tujuan yang telah ditetapkan. Secara umum,
evaluasi pengajaran menurut Harjanto (2000:277) adalah “penilaian atau penaksiran terhadap
pertumbuhan dan kemajuan peserta didik ke arah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam
hukum.” Maksud hukum dalam pernyataan tersebut adalah tujuan-tujuan yang telah
digariskan dalam kurikulum. Evaluasi pengajaran dimaksudkan untuk memperoleh data yang
akan mengukur tingkat keberhasilan yang telah dicapai oleh peserta didik dan dapt ditempuh
melalui instrument (alat) yang dibuat oleh pengajar.

Evaluasi untuk pembelajaran SBK meliputi segi keterampilan dengan menggunakan
tes perbuatan atau peragaan, segi pengetahuannya dengan menggunakan tes lisan atau
pemahaman, serta tidak lepas mengenai keadaan sikap dan inisiatif siswa dalam pembelajaran
(aspek nilai dan sikap). Dalam pelaksanaan penelitian, evaluasi yang akan digunakan untuk
mengukur kreativitas siswa dalam pembelajaran SBK harus didasarkan pada aspek-aspek
yang harus dicapai siswa, yaitu:

1. Aspek kognitif (pengetahuan); berkaitan dengan pengetahuan atau pemahaman siswa
tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kesenian. Penilaian aspek kognitif dalam
pembelajaran SBK berkenaan dengan pemahaman daya pikir, dan aplikasi daya pikir ke
dalam perbuatan.

2. Aspek efektif (sikap); berkaitan dengan perhargaan ilmu terhadap karya kesenian,
penghargaan atau penilaian terhadap karya yang sering diistilahkan dengan apresiasi proses
yang diawali dengan pengamatan dan penghayatan. Aspek afektif yang akan dijadikan
sebagai penilaian yaitu respons siswa dalam menunjukkan sikap kesungguhan dalam belajar
dan keberanian untuk mengungkapkan gagasan melalui gerak, serta respon siswa atas karya
yang dihadapi karena pada saat berkreasi memerlukan apresiasi

3. Aspek psikomotor (keterampilan); berkaitan dengan perilaku siswa yang berupa tindakan,
oleh karena itu tahapan prosedur ketika siswa berkarya atau berproses kreatif dapat menjadi
fokus amatan. Penilaian aspek psikomotor yang dilakukan untuk mengetahui kreativitas
siswa mencakup kemampuan dalam menemukan gerak yang sesuai.

Pembelajaran SBK pada siswa sekolah dasar atau madrasaah ibtidaiyah lebih
menekankan kepada proses kreatif. Menumbuhkan respons kreatif pada siswa sekolah dasar

157

diperlukan stimulus (rangsangan). Rangsangan mampu membangkitkan motivasi, imajinasi,
dan inspirasinya. Pada dasarnya, rangsangan dalam pembelajaran SBK digunakan untuk
membantu siswa menemukan dan mengungkapkan kembali secara estetis apa yang pernah
siswa lihat dan rasakan, dan anak dituntut untuk bisa membayangkannya, kemudian
diwujudkan lewat kegiatan yang kreatif. Dalam upaya menumbuhkan sikap kreatif, siswa
diberi rangsang gagasan melalui pertanyaan seputar pengetahuan siswa mengenai kesenian
tradisional. Dengan peran serta pengajar, siswa dibimbing dan diberi motivasi untuk selalu
berpikir secara kreatif dan merealisasikan seluruh imajinasinya ke dalam kreasi yang kreatif
pula, sehingga siswa dapat mencurahkan pikirannya melalui kegiatan secara sederhana sesuai
dengan kemampuan yang dimilikinya.

Anak pada usia sekolah dasar merupakan individu yang sedang mengalami proses
pertumbuhan dan perkembangan yang sangat luar biasa. Pada masa ini, anak mengalami
pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikisnya yang siap merespons rangsangan yang
diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan yang tepat untuk meletakkan asar pertama
dalam mengembangkan kemampuan afektif, kognitif, dan psikomotoriknya secara optimal.
Kecenderungan anak pada masa ini sangat aktif dalam melakukan berbagai kegiatan.
Keaktifannya dalam bergerak akan meningkatkan perkembangan motoriknya. Perkembangan
motorik merupakan proses memperoleh keterampilan dan pola yang dapat dilakukan anak.
Terdapat dua macam keterampilan motorik pada anak yaitu:

1. Keterampilan motorik kasar, diperlukan pada anak untuk mengendalikan seluruh gerak
tubuhnya sehingga anak mampu untuk melakukan gerak, seperti: berlari, berjalan, melompat.

2. Keterampilan motorik halus, merupakan kegiatan yang menggunakan bagian kecil dari
tubuh terutama tangan. Ini memerlukan kecepatan dan kemampuan menggerakkannya,
seperti menulis, dan menempel.

Berkaitan dengan perkembangan motorik, pembelajaran SBK mampu menjadi media
untuk membangun perkembangan tersebut khususnya perkembangan motorik kasar. Dalam
mengembangkan motorik kasar dibutuhkan keterampilan mengingat dan memahami, serta
memerlukan kesempatan untuk melakukan latihan-latihan.

Dalam proses pembelajaran, guru memiliki peran yang sangat penting terhadap
perkembangan kepribadian dan intelektual siswa. Guru memberikan bantuan, petunjuk,
bimbingan, pujian, dan perbaikan yang dibutuhkan siswa. Dengan kata lain, kedudukan guru
ialah sebagai fasilitator untuk menciptakan lingkungan yang merangsang kreativitas dengan
baik agar siswa memiliki kebebasan dalam menyalurkan pikiran dan perasaan serta
imajinasinya, sehingga siswa mampu menjadi pribadi yang mandiri.

F. PEMBELAJARAN SBK DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN
PENDIDIKAN

Kurikulum dapat dikatakan sebagai a plan for learning, yaitu suatu rencana atau
program pembelajaran yang harus dipelajari oleh anak-anak. Kurikulum merupakan acuan
pokok yang perlu dipegang oleh para pelaksana pendidikan, dalam hal ini guru.

Menurut Ralph Taylior, dikatakan bahwa kurikulum adalah seluruh pengalaman
belajar yang direncanakan dan diarahkan Oleh sekolah untuk mencapai tujuan
pendidikannya. Dalam pengertian ini, dijelaskan bahwa kurikulum diartikan segala kegiatan
belajar yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan pendidikan.

158

Kurikulum dikembangkan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pernbelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu yang meliputi tujuan pendidikan nasional serta
kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta
didik. Oleh karena itu, kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk penyesuaian program
pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.

Kurikulum yang dipakai di Indonesia saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan yang lebih dikenal dengan sebutan KTSP. KTSP ini mulai diberlakukan
dilndonesia sejak tahun ajaran 2006/2007, yang merupakan hasil penyempurnaan dari
kurikulum 2004 (Kurikulum.Berbasis Kompetensi/KBK) di dalamnya lebih menekankan
pada standar isi dan standar kompetensi lulusan.

Secara umum, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dapat diartikan sebagai
kurikulum operasional yang disu§un dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.
KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan
kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus.

Kelebihan dari KTSP itu sendiri yaitu alokasi waktu pada kegiatan pengembangan
diri siswa. Siswa tidak terus-menerus mengenal teori, tetapi diajak untuk terlibat dalam
sebuah proses pengalaman belajar.

Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan rnèrupakan salah satu pelajaran yang
wajib diajarkan di sekolah dasar menurut KTSP. SBK yang terdiri dari empat bagian besar,
yaitu seni tari, seni musik, seni dan keterampilan merupakan mata pelajara yang di dalamnya
terkandung muatan nilai humaniora yang sangat berguna untuk merangsang kreativitas
berpikir bagi peserta didik untuk semua cabang disiplin ilmu.

Di dalam KTSP dijelaskan bahwa pendidikan SBK merupakan sarana untuk
mengembangkan kreativitas anak. Tujuan dari pendidikan SBK bukan untuk membina anak-
anak menjadi seniman, melainkan untuk mendidik menjadi kreatif. Seni merupakan aktivitas
permainan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seni dapat digunakan sebagai alat
pendidikan. Melalui permainan dalam pendidikan SBK anak memiliki keleluasan untuk
mengembangkan kreativitasnya. Dalam kurikulum dijelaskan bahwa aspek penting yang
perlu diperhatikan dalam seni budaya, yaitu kesungguhan, kepekaan, daya produksi,
kesadaran berkelompok, dan daya cipta.

G. KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN

Keberadaan guru dalam proses pembelajaran masih tetap memegang peranan yang
sangat penting. Dalam proses pembelajran guru bertugas dan bertanggung jawab dalam
merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah. Kegiatan belajar mengajar
sebaiknya lebih berorientasi pada kebutuhan siswa dan peranan guru, yaitu sebagai
pembimbing. pemimpin, dan memberikan fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan.

Pembelajaran Seni Budaya dan keterampilan sering di katakan mudah. Anggapan
guru pada umumnya pelaksanaan pendidikan seni hanya menggambar, bernyanyi, bergerak,
atau materi yang hanya disampaikan secara teori. Akibatnya kurang memberikan kontribusi
terhadap perkembangan kreativitas dan siawa cenderung pasif, siswa diposisikan sebagai
penerima materi, penerima informasi, dan meniru apa kata guru. Problem ini diperkuat
dengan adanya beberapa guru yang mengajarkan kesenian bukan berlatar belakang dari
pendidikan seni. Hal ini dapat menyebabkan garu yang terkesan memaksakan diri mengajar

159

pelajaran seni padahal guru tersebut tidak memiliki kompetensi bidang seni yang tampaknya
akan meracuni pendidikan seni di masa yang akan datang

Pendidikan di sekolah (formal) berbeda dengan pendidikan di luar sekolah
(nonformal), karena pada pembelajaran sesi budaya di sekolah guru dituntut untuk
mengarahkan proses pembelajaran seni budaya yang berpengaruh pada perubahan sikap dan
perilaku siswa serta penanaman makna dan nilai-nila seni yang terkandung di dalamnya.
Pembelajaran seni hute di sekolah mengharapkan siswa mengalami sebuah proses
pembelajaran yang aktif, kritis, dan kreatif. Adapun pendidikan seni di luar sekolah,
pendidikan yang disediakan hanya tertuls pada pengolahan psikomotorik siswa dan
menghasilkan siswa untuk terampil dalam berkesenian tanpa mengalami proses pembelajaran
yang aktif, kritis, dan kreatif

Untuk mewujudkannya, maka diperlukan seorang guru yang memiliki kompetensi
yang optimal, karena guru merupakan kunci keberhasilan suatu proses pendidikan Menurut
Hamalik (2002: 38), guru yang dinilal berkompeten secara profesional apabila memiliki
kriteria, sebagai berikut

1.Guru tersebut mampu mengembangkan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya

2.Guru tersebut mampu melaksanakan peran-peranannya secara berhasil

3.Guru tersebut mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidikan (tujuan
instruksional) sekolah

4.Guru tersebut mampu melaksanakan peranannya dalam proses mengajar dan belajar dalam
kelas.

Menurut Surya (2004) dalam Djumiran (2008:3.4), “kompetensi adalah
seperangkat
penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan
penampilan unjuk kerja sebagai guru secara tepat.” Kompetensi yang harus dimiliki guru
pendidikan seni budaya di antaranya kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi
guru seni budaya. Selain itu hal yang perlu dimiliki oleh seorang guru pendidikan seni
budaya adalah sebuah inovasi dalam belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan.
Seorang guru seni budaya tidak hanya terampil dalam seni saja, tetapi juga memberikan
sebuah perubahan terhadap pembelajaran seni yang dilakukan melalui kegiatan pembelajaran
yang membangun kreativitas

Guru pendidikan seni budaya harus berupaya menemukan motivasi-motivasi dalam
pelaksanaan pembelajaran seni. Usaha yang inovatif dilakukan guru seni dalam proses pelajar
yang aktif di sekolah yaitu guru lebih berinteraktif dalam menuang kan gagasan-gagasan baru
yang dapat memicu kreativitas, menata letak kelas, memfasilitasi diskusi, dan yang terpenting
yaitu bagaimana menyampaikan materi yang akan diajarkan kepada peserta didik dengan
suasana kelas yang menyenangkan Bukan hanya itu saja guru pendidikan seni budaya harus
bisa memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkreativitas sesuai dengan
kemampuannya

Peranan guru dalam penerapan pendidikan seni ini dianggap sebagai komponen
utama, selain peran siswa serta komponen pengajaran lainnya Peran guru dituntut untuk lebih
kreatif, dalam arti kreativitas seorang guru dalam penerapan pendidikan seni adalah

160

bagaimana seorang guru harus pandai memilih bahan atau materi pembelajaran, metode yang
sesuai dengan kebutuhan materi pembelajaran yang dipilih, serta kebutuhan peserta didik.

KESIMPULAN
Kata seni dalam bahasa Sansekerta yang berasal dari kata “Sani” yang berarti

pemujaan, pelayanan, donasi, permintaan atau pencarian dengan hormat dan jujur. Seni
merupakan istilah yang identik dengan keindahan, kesenangan, dan rekreasi. Saat kita
mendengar kata seni maka yang mungkin muncul dalam benak kita adalah suatu karya seni
entah berupa benda, music, bangunan, lukisan atau benda-benda indah lainnya yang
dihasilkan oleh seorang seniman yang tentunya sangat berbakat dan memiliki kreativitas yang
tinggi.

Pendidikan seni merupakan saran untuk pengembangan kreativitas anak. Pelaksanaan
pendidikan seni dapat dilakukan melalui kegiatan permainan. Tujuan pendidikan seni bukan
untuk membina anak-anak menjadi seniman, melainkan untuk mendidik anak menjadi kreatif.
Seni merupakan aktivitas permainan. Melalui permainan, kita dapat mendidik anak dan
membina kreativitasnya sedini mungkin.

Inti pokok pendidikan SD/MI, berupaya menanamkan keimanan terhadap Tuhan
sesuai dengan agama masing-masing yang dianutnya. Dengan harapan tentunya siswa dapat
menanamkan sikap yang berakhlak, sopan dan santun antar sesama umat manusia tanpa
membedakan ras, suku, dan agama. Sehingga pada akhirnya siswa dapat menjadi individu
yang bertanggung jawab, cakap, berdedikasi tinggi terhadap bangsa dan negaranya.
Pengertian pendidikan di sekolah dasar benar-benar mendidik dan menumbuhkembangkan
ilmu pengetahuan pada siswa di sekolah dasar untuk memiliki sikap kebersamaan dalam
upaya mencetak generasi muda yang bertanggung jawab.
SARAN

Dalam proses menuntut ilmu terutama pada pendidikan sekolah dasar dibutuhkannya
suatu seni agar dapat membantu kreativitas anak dan saat proses pembelajaran berlangsung
bisa terciptanya suatu suasana yang tidak membosankan. Optimalisasi pendidikan perlu
dilakukan secara fisik dan mental karena itu seni berperan penting dalam hal ini.

161

DAFTAR PUSTAKA

Materi RPS
Makalah kelompok 1-12:
[1] SUMBER: (https://teks.co.id/pengertian-belajar/)
[2] SUMBER: https://mestinyagimanaa.blogspot.com/2016/01/jenis-jenis
belajar.html/m=1
[3] https://images.app.goo.gl/fGKTxm54kSBzoA4m6

Slamet, Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya 2003(Jakarta, Rineka
cipta),275 Ibid,276
Max Darsono, Belajar dan Pembelajaran,2000(IKIP Semarang Press),315 Sudjana, metode
dan tehnik pembebelajalaran partisifasif,2021(bandung, Falah),327
http://zaifbio.wordpress.com/2012/09/02/pengertian-hasil

Rahyubi, Heri. 2012. Teori-teori Belajar dan Aplikasi Pembelajaran Motorik; Deskripsi dan
Tinjauan Kritis. Bandung: Nusa Media

Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana
Media Group.

Uno, Hamzah B dan Mohamad, Nurdin. 2011.Belajar dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta:
Bumi Aksara

Arko Pujadi, 2007, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Mahasiswa, Jurnal
Universitas Bunda Mulia Jakarta……..

Sabri, Alisuf. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya
Sulastri, Siti. 2009. Siswa berakhlak Mulia Raih Prestasi. Jakarta: Direktorat Jenderal

Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan Nasional
Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers
Sardiman, A.M. 2012. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers
Kartawidjaja, Eddy Soewardi. 1987. Pengukuran dan Hasil Evaluasi Belajar. Bandung: Sinar

Baru.

162

https://nenihayatiblog.wordpress.com/2017/12/20/macam-macam-dan-cirri-minat-belajar/

Nurhasanah, S., & Sobandi, A (2016). Minat belajar sebagai determinan hasil belajar
siswa. Jjurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran (JPManper), 1(1), 128-135
https://www.tripven.com/minat-belajar/

Gage, N.L., & Berliner, D. 1979. Educational Psychology. Second Edition, Chicago: Rand Mc.
Nally] Bell Gredler, E. Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV. Rajawali
Moll, L. C.

Surya, Mohamad Teori-teori konseling, Bandung: CV Pustaka Bani Quraisy, 2003.

Lefudin. 2017.Belajar dan Pembelajaran:Model Pembelajaran, Strategi Pembelajaran,
Pendekatan Pembelajaran, dan Metode Pembelajaran. Yogyakarta. CV. Deepublish
Publisher.

Ulfa, Andi Yurni. 2016.Psikologi Pendidikan. Sulawesi Selatan.Aksara Timur.

Fadli. 2010. Teori Belajar Behavioristik John Watson (1878 – 1958), diakses pada
https://fadlibae.wordpress.com/2010/03/24/teori-belajar-behavioristik-john-watson-
1878-1958/, pada 31 Agustus 2021.

Brow, Admin. 2020. Teori Pembelajaran Menurut Edwin Ray Guthrie, Kajian Lengkap,
diakses pada https://www.rangkumanmakalah.com/teori-pembelajaran-menurut-edwin-
ray-guthrie/, pada 31 Agustus 2021.
Sereliciouz. 2021. Teori Belajar Behavioristik - Pengertian, Prinsip, Ciri-Ciri, Contoh,
diakses pada https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/teori-belajar-
behavioristik/amp/, pada 31 Agustus 2021.
Anam, Mohammad Syamsul, dkk. TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN
IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN. Universitas Negeri Malang, diakses
pada
https://cdngbelajar.simpkb.id/s3/p3k/Pedagogi/Artikel/TEORI_BELAJAR_BEHAVIO
RISTIK_DAN_IMPLIKAS.pdf.

Firliani, Nur Ibad, dkk. 2019. TEORI THRONDIKE DAN IMPLIKASINYA DALAM
PEMBELAJARAN MATEMATIKA. Universitas Majalengka, diakses pada
file:///C:/Users/Acer/Downloads/118-Article%20Text-232-1-10-20191029.pdf.

http://ftik.iainpurwokerto.ac.id/wp-content/uploads/2019/06/MODUL-TEORI-
BELAJAR-DAN-PEMBELAJARAN.pdf
https://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/810424
http://jurnal.um-tapsel.ac.id/index.php/nusantara/article/view/94
file:///C:/Users/acer/Downloads/82helmia,+767-2581-2-PB.pdf
https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/teori-belajar-behavioristik/

163

https://dosenpsikologi.com/teori-belajar-
behavioristik#:~:text=Pengertian%20Teori%20Belajar%20Behavioristik.%20Teor
i%20belajar%20behavoristik%20adalah,merupakan%20akibat%20dari%20intera
ksi%20antara%20stimulus%20dengan%20respon.
http://www.alfiforever.com/2015/02/ciri-ciri-teori-belajar-behaviorisme.html

quiper.blogspot
https;//juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/view/873
pgsdpenjasfpok.upi.edu/
https://quipperhome.wpcomstaging.com/info-guru/kognitif/
http://www.definisi-pengertian.com/2015/05/teori-belajar-pendekatan-kognitif.html
jurnal dosen fakultas tarbiyah dan keguruan UIN Ar-Raniry
http://eprints.umsida.ac.id

http://adminpublik.uma.ac.id/2021/02/05/pembelajaran-kognitif/

http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=498097&val=10206&title=PENER
A PAN%20TEORI%20PEMBELAJARAN%20KOGNITIF%20%20DALAM%20PEMBELAJAR
AN%20PENDIDIKAN%20%20JASMANI%20DAN%20KESEHATAN

http://journal.iaincurup.ac.id

http://pgsdpenjasfpok.upi.edu/2017/07/04/teori-belajar-kognitif/

https://pgsd.binus.ac.id/2021/07/08/implementasi-teori-belajar-kognitivisme-dalam-
pandangan jean-piaget-dan-jerome-bruner/

https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/kognitif/
http://pgsdpenjasfpok.upi.edu/2017/07/04/teori-belajar-kognitif/

LESILOLO, H. J. (2019). Penerapan Teori Belajar Sosial Albert Bandura Dalam Proses
Belajar Mengajar Di Sekolah. KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi, 4(2), 186–202.

https://doi.org/10.37196/kenosis.v4i2.67
Lesilolo, H. J. (2018). PENERAPAN TEORI BELAJAR SOSIAL ALBERT BANDURA DALAM PROSES

BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH. KENOSIS Vol. 4 NO. 2 Desember 2018, 201-202.

Among Guru. (2018, Maret 19). Teori Belajar Bandura dan Implementasinya
dalam Pembelajaran. Diakses pada 31 Agustus 2021 melalui

https://www.amongguru.com/teori-belajar-bandura-dan-implementasinya-dalam
pembelajaran/
Bagus, Sihnu. (2010, Maret 02). Definisi Teori Belajar Sosial. All About
Theory. Diakses pada 31 Agustus 2021 melalui http://all-about
theory.blogspot.com/2010/03/definisi-teori-belajar-sosial.html

164

Carlz185fr. (2013, April 23). Kelemahan dan Kelebihan Teori Albert
Bandura. Carlz185fr.wordpress. Diakses pada 31 Agustus 2021 melalui
https://carlz185fr.wordpress.com/2013/04/23/kelemahan-dan-kelebihan-teori
albert-bandura-teori-belajar-sosial/
Lathifah, Nurul. (2017, Maret 09). Kelemahan Teori Albert Bandura. Scribd.
Diakses pada 31 Agustus 2021 melalui

https://id.scribd.com/document/341377079/Kelemahan-Teori-Albert-
Bandura Mayakabbaro. (2012, Maret 09). Teori Pembelajaran Sosial Bandura.
Diakses pada 31 Agustus 2021 melalui
http://mayakabbaro.wordpress.com/2012/03/09/teori pembelajaran-sosial-
bandura/
Ormrod, Jeanne. E. 2008. Psikologi Pendidikan: Membantu Siswa
Tumbuh Berkembang. Jakarta: Erlangga.
Website Pendidikan. (2020, Maret 29). Konsep, Prinsip, dan Implikasi Teori
Belajar Sosial Albert Bandura.

Idayoce. “Teori Belajar Konstruktivisme”.
http://idayoce.blogspot.com/2016/07/teori belajar-konstruktivisme.html#.
(diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Suparlan. 2019. “Teori Konstruktivisme Dalam

Pembelajaran”. https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/islamika/article/download/
208/170/. (diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Anonim. “BAB II Landasan Teori”.
http://eprints.umm.ac.id/35592/3/jiptummpp-gdl fungkyheri-49802-3-babii.pdf. (
diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Pribadi, Benny A. 2009. “Pendekatan Konstruktivis dalam Kegiatan
Pembelajaran”. http://repository.ut.ac.id/7275/1/L0022-18.pdf. (Diakses pada
tanggal 30 Agustus 2021)
Anonim. “Resume Teori Belajar Konstruktivisme”
.http://whendikz.blogspot.com/2013/11/resume-teori-belajar
konstruktivisme.html. (Diakses pada tanggal 30 agustus 2021)
Mulyana, Aina. 2020. “ Teori Belajar Konstruktivis”.
https://ainamulyana.blogspot.com/2012/08/teori-belajar-
konstruktivistik.html. (diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Sereliciouz . 2021. “ Teori Belajar Konstruktivisme – Pengertian,
Keunggulan, Contoh”. https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/teori-belajar
konstruktivisme/. (diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)

165

Materi Buku
Makalah 1-8:

Buku Teori Belajar Dan pembelajaran Di Sekolah Dasar Edisi Kedua

Oleh Dr. Ahmad Susanto, M.Pd

(https://www.tipsbelajarmatematika.com/2016/11/standar-kompetensi-lulusan-sekolah.html)

Dinairah, S. (2017). Makalah Model Pembelajaran Triffinger. Diakses melalui
laman http://repository.unpas.ac.id/29795/2/BAB%20II.pdf pada tanggal 18 Oktober
2021.

Nurmayanti, Wuri. (2017, Maret 28). Makalah Prinsip-Prinsip Pembelajaran. Diakses
melalui laman http://wurinurmayanti.blogspot.com/2017/03/makalah-prinsip-prinsip-
pembelajaran.html pada tanggal 18 Oktober 2021.

Panjaitan, A. H., & Surya, E. (2017). Creative Thinking (Berpikir Kreatif) Dalam Pembelajaran
Matematika. ABA Journal, 102(4).

Penguasaan materi pembelajaran, manajemen dan komitmen ...(http://journal2.um.ac.id ) ›
jinotep › article › down

Pitutur. (2021, Januari 18). Penguasaan materi pembelajaran. Diakses melalui laman
https://www.pitutur.web.id/2021/01/penguasaan-materi-pelajaran.html pada tanggal 16
Oktober 2021.

Saddoen,Arifin. 2021. https://moondoggiesmusic.com/pengertian-kreatif/#gsc.tab=0
Santrock, John.W (2004) : Child Development. McGraw-Hill, Boston.
Berk.Laura E (2003) : Child Development. Allyn and Bacon,Boston.
diajarkan.

http://diarytrisnanugraha.blogspot.com/2018/02/pendekatanrealistik-
realistic.html
http://repository.unpas.ac.id/13205/5/BAB%20II%20.pdf

https://text-id.123dok.com/document/oy81m78rz-receiving-responding-valuing-
organization- characterization-by-evalue-or-calue-complex.html

EL-Shalih. 16 November 2010. Web. 8 November 2021.
http://elshalih.blogspot.com/2010/11/makalah-pkn-sd.html?m=1

Magdalena, Ina dkk. (2020). Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
Negeri Bojong 3 Pinang."Visual Post: Bintang : Jurnal Pendidikan dan Sains Volume 2,
Nomor 3, Desember 2020; 418-430, 1-13

Neliti. 2016. Web. 8 November 2021.
https://www.neliti.com/id/publications/235045/pendidikan-kewarganegaraan-merupakan-
salah-satu-pengejawantahan-dimensi-manusia

Pgsd.upy. 6 JUNE 2018 .Web. 8 November 2021.
http://pgsd.upy.ac.id/index.php/jadwal/profil-lulusan/2-uncategorised/12-pendidikan

166

Anonim. 2016. “Pengertian dan Tujuan Bahasa Indonesia menurut
para ahli”. https://pengertianahlidaninfo.blogspot.com/2016/09/pengertian-dan-

tujuan-bahasa- indonesia.html. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2021.
Anonim. 2017. “Makalah Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar”. http://sule-

epol.blogspot.com/2017/08/makalah-pembelajaran-bahasa-indonesia.html. Diakses
pada tanggal 27 Oktober 2021.
https://mediaindonesia.com/humaniora/431439/contoh-kata-pengantar-untuk-tugas-makalah-
karya-ilmiah-dan-laporan
https://iainpspblog.blogspot.com/2019/09/makalah-wawasan-seni-dan-pendidikan.html?m=0
https://dispendik.surabaya.go.id/berita/2016/pentingnya-pendidikan-seni-budaya-terhadap-
pembangunan-karakter-anak-2/
http://prosiding.upgris.ac.id/index.php/bedah_buku_14/2014/paper/view/352/304
Dr. Ahmad Susanto, M. (2019). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. (kedua ed., hal.
308). Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP.
Darnita, Devi, (2016). Diakses pada Oktober 28, 2021.Kompetensi Pedagogik Guru Pada Mata
Pelajaran Seni Budaya Dan Keterampila (SBK) Di SD Negeri Dabin IV Kecamatan Tegal Barat
Kota Tegal Diakses dari http://lib.unnes.ac.id/28251/1/1401412570.pdf
Evaluasi Pembelajaran Seni Rupa. (2017). Diakses Oktober 27, 2021, dari 123dok.com website:
https://text-id.123dok.com/document/wyew3l31y-evaluasi-pembelajaran-seni-rupa.html

167

168


Click to View FlipBook Version