i Tim Penyusun Penanggungjawab Universitas Negeri Malang Penyunting/Editor Tim KKN UM Desa Srigading 2023 Penulis Tim KKN UM Desa Srigading 2023 Kontributor Foto Museum Singhasari Drs. Ismail Luthfi, M.A Designer Tim KKN UM Desa Srigading 2023 Lay-out Tim KKN UM Desa Srigading 2023 i
ii Kata Pengantar Situs sejarah merupakan peninggalan penting dari suatu negara atau daerah tertentu yang sering kali disepelekan. Banyak potensi yang sebenarnya bisa diusahakan dan dikembangkan dari keberadaan situs bersejarah ini. Salah satu situs yang baru saja ditemukan ada di Desa Srigading, dengan nama yang sama, yaitu Candi Srigading. Penemuan Candi Srigading sudah terjadi sejak tahun 2011 dan mulai dilaporkan oleh komunitas untuk dapat ditindaklanjuti. Hingga ada lembaga masyarakat yang memiliki dana untuk membantu kegiatan ekskavasi, yaitu Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kaloka. Beriringan dengan itu, pihak Pemerintahan Kabupaten Malang juga diinformasikan mengenai situs Candi Srigading yang akan dibuka untuk digarap. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kaloka sebagai pemberi dana utama bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur dalam proses ekskavasi Candi Srigading. Proses ekskavasi tersebut perlu dilakukan berbagai analisis oleh para arkeolog, yang memakan waktu lama. Hingga akhirnya mendapat hasil rangkaian cerita tentang candi tersebut. Potensi Candi Srigading ini ada pada potensi pariwisatanya. Di Kabupaten Malang sendiri ada banyak candi-candi lain yang juga menyokong sektor pariwisatanya dan membuat Malang hidup lewat situs bersejarahnya. Candi itu sendiri memiliki keunikan dengan penggunaan dua jenis batu yang membangunnya. Arca-arca utama dalam candi tersebut menggunakan batu andesit, tepatnya jenis andesit kelas 2 atau kelas 3 yang kualitasnya lebih mudah rapuh. Sedangkan batu-batu lainnya yang ditemukan menggunakan batu bata. Namun, masih ada banyak tugas yang perlu diupayakan oleh para ahli arkeolog terkait Candi Srigading, mengingat banyaknya potensi yang bisa dikembangkan. Salah satunya adalah iii
iii mengusahakan agar Pemerintah Kabupaten Malang bisa lebih memberi perhatian terhadap proses penggalian situs tersebut. Perlu dipahami bahwa hasil budaya monumental seperti Candi Srigading ini sangatlah penting dan sudah seharusnya dihargai. Perlu dipahami juga bahwa artefak merupakan barang mahal yang perlu dijaga, mulai dari mahal perawatannya (secara finansial), hingga mahal dengan nilai sejarahnya yang tinggi (secara nilai). Selain itu, arkeolog juga menemukan bahwa dalam proses ekskavasi, keadaan candi tersebut tidak lagi steril. Salah satu kasus yang mampu menyimpulkan hal tersebut karena adanya temuan batu-batu di tempat yang tidak seharusnya, hingga adanya pripih, atau benda-benda suci dalam candi, yang hilang karena adanya campur tangan manusia lain yang ingin merusak dan mencuri dari candi tersebut. Hal tersebut terkait dengan tugas lainnya, yaitu memberikan pengertian kepada masyarakat sekitar situs, maupun masyarakat secara umum, untuk ikut andil dalam menjaga situs dan bukannya merusak atas nama materi/uang dan untuk kepentingan pribadi. Para arkeolog sendiri, memikirkan potensi yang bisa dijual dari Candi Srigading tersebut untuk kepentingan para warga sekitar, desa, maupun khalayak umum. Ada aspirasi untuk bisa melanjutkan proses ekskavasi hingga candi tersebut mampu ditindaklanjuti secara utuh karena yang sekarang ini ditemukan barulah sebagian kecilnya saja. Namun, untuk bisa melakukannya perlu ada upaya menyelesaikan beberapa permasalahan terkait banyak pihak. Jika menghendaki adanya perluasan temuan candi yang lebih dari yang sekarang, tentunya harus masih harus membereskan permasalahan tanah serta kesepakatan berbagai pihak. Maka dari itu, lewat dibuatnya buku ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman bagi pembacanya tentang pentingnya keberadaan situs bersejarah Candi Srigading ini. Dengan berbagai makna dan cerita yang ada di baliknya, mulai dari latar belakang agama yang mendasari berdirinya candi tersebut, nilai seni dan ilmu arsitektur di baliknya, hingga nilai sosial. Semoga dengan prod Drs. Ismail Lutfi, M.A iii
iv Daftar Isi TIM PENYUSUN i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI Iv DAFTAR GAMBAR v BAB 1. PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 2 Rumusan Masalah 4 Tujuan 5 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 6 Pengetahuan Candi secara Umum 7 Struktur Candi Hindu-Budha 11 Perbedaan Candi dari Masa ke Masa 20 BAB 3. PEMBAHASAN 24 Candi Srigading 25 Temuan Artefak Candi Srigading 29 Struktur Candi Srigading 42 Potensi Candi Srigading 45 KESIMPULAN 54 DAFTAR PUSTAKA 56
v Daftar Gambar Sosok Candi Hindu Menurut Kitab Manasara 12 Sosok Candi Budha Menurut Kitab Manasara 12 Sosok Candi Hindu Berdasarkan Mahayana Buddha 14 Sosok Candi Budha Berdasarkan Mahayana Buddha 16 Tata Ruang Candi Hindu-Buddha Bentuk Persegi 18 Tata Ruang Candi Hindu-Buddha Bentuk Persegi Panjang 19 Tata Ruang Candi Hindu-Buddha Bentuk Cruciform 19 Candi Srigading Tampak Atas 26 Arca Agastya 30 Arca Mahakala 31 Arca Nandiswara 32 Fragmentase Kepala Angsa 34 Peralatan Masak 35 Alat Pertukangan 36 Serpihan Topeng 37 Perhiasan Berbahan Emas 38 Lingga Yoni 39 Lingga Semu 40 Arah Hadap Candi 42
11
2 A. Latar Belakang Cagar Budaya merupakan kekayaan yang mencakup berbagai aspek mulai dari teknologi, sejarah, seni, hingga pertanian dengan nilai sejarah yang tidak ternilai. Berbagai bentuk cagar budaya tentu tidak terpisahkan dari kisah prasejarah, hal ini menjadi sebuah keunikan dan ketertarikan tersendiri baik masyarakat maupun dari pihak-pihak lain. Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2022 tentang Registrasi Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya. Peraturan ini diterbitkan sebagai pelaksanaan dari UndangUndang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. PP No. 1/2022 ini memberikan kewenangan kepada pemerintah dan partisipasi masyarakat dalam mengelola cagar budaya sehingga dapat tercapai sistem manajerial perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang baik berkaitan dengan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya sebagai sumber daya budaya bagi kepentingan yang luas. Dengan peraturan tersebut, maka sudah seharusnya sebagai masyarakat yang memiliki kesadaran akan cagar budaya untuk dapat menjaga dan melestarikan cagar budaya dalam bentuk apapun. Hindu-budha disebarkan oleh bangsa India ke Indonesia pada masa lampau yang memiliki kisah sejarah menarik, dimana hal tersebut dapat dibuktikan dengan ditemukannya beberapa cagar budaya di berbagai wilayah Indonesia. Dalam sejarah perkembangan kerajaan Mataram Kuno, terdapat dua wangsa, yaitu wangsa Sanjaya dan wangsa Sailendra. Wangsa Sanjaya menganut ajaran Hindu, dan wangsa Sailendra lebih cenderung menganut ajaran Buddha. Yang menjadi lebih menarik, jika dilihat dari sejarahnya ada masa dimana ajaran Hindu dan ajaran Buddha saling hidup berdampingan. Hal ini dibuktikan dengan adanya candi Hindu dan Buddha yang dibangun di era yang sama. Namun, terdapat kejanggalan dimana beberapa candi Hindu dan Buddha memiliki letak yang berdekatan bahkan ada yang berada dalam satu kompleks yang sama. Kemudian, dari segi arsitektur, agama Hindu dan Buddha memiliki cara penerapan yang berbeda. Pada arsitektur Hindu, terdapat berbagai kajian sastra mengenai arsitektur yang membahas rancangan kuil-kuil Hindu secara rinci. Kajian tersebut merupakan vastusastra, yaitu sistem
3 arsitektur tradisional Hindu. Berbeda halnya dengan arsitektur Hindu, pada arsitektur Buddha tidak memiliki kajian sastra atau panduan mendetail mengenai bidang arsitektura (Rahadhian P. Herwindo, 2021) Kisah sejarah Hindu Buddha memiliki maksud serta tujuan tertentu pada masa itu. Berbagai penemuan sejarah dengan keunikannya ditemukan dengan membawa kisah tersendiri dan memiliki keterkaitan satu sama lain. Oleh karena itu, keutuhan cagar budaya memiliki pengaruh yang besar dalam upaya penggalian informasi. Cagar budaya memiliki bentuk nilai dari candi, kawasan, hingga petirtaan yang ditemukan melalui berbagai proses baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Candi tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, tetapi sebagai istana, pemandian / pertirtaan, serta gapura oleh masyarakat. Candi juga dapat dikatakan sebagai peninggalan arsitektur dengan nilai sejarah yang tinggi. Zaman kerajaan yang banyak berkuasa di wilayah jawa menjadikan tanah jawa memiliki peran penting dari perjalanan kisah yang panjang, wilayah tersebut salah satunya berada di provinsi Jawa Timur dan lebih tepatnya berada di Kota Malang. Sebagai salah satu daerah yang merupakan wilayah kekuasaan dari Kerajaan Singhasari, banyak Cagar Budaya yang ditemukan di wilayah malang mulai dari Candi Singosari, Candi Jago, Candi Kidal, dan lain sebagainya. Proses penelitian dan pencarian terus dilakukan sehingga bermunculan cagar budaya baru di sekitaran malang, salah satunya yang terletak di Desa Srigading, Kabupaten Malang. Desa Srigading yang terletak di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang merupakan salah satu wilayah yang termasuk dalam Dataran Tinggi dan memiliki Cagar budaya berupa situs “Candi Srigading”. Situs Candi Srigading yang masih dalam proses pemugaran diperkirakan memiliki peran yang besar dalam perjalanan masa kerajaan di masa lalu. Situs yang telah melalui proses ekskavasi sebanyak tiga kali ini telah membuat para arkeolog antusias untuk mendalami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dalam proses ekskavasi yang telah dilakukan menghasilkan beberapa artefak yang
4 kini telah tersimpan di Museum Singhasari. Namun, artefak yang telah ditemukan dalam kondisi yang kurang baik. Situs-situs sejarah ini tentu tidak boleh terbengkalai, karena merupakan bagian dari kekayaan bangsa yang harus terus dilestarikan dan kekayaan bangsa merupakan identitas bangsa yang perlu dijaga. Pelestarian Cagar Budaya tentu tidak dapat dilakukan hanya dengan beberapa orang, namun masyarakat lain juga harus bersatu untuk terus berupaya agar Situs Candi Srigading dapat melalui proses pemugaran hingga tuntas. Dengan berbagai penemuan yang sudah ada menunjukkan keistimewaan dari situs ini, hal ini tentunya menjadi sebuah potensi tersendiri bagi masyarakat maupun desa. Namun, pada kenyataannya masyarakat bersikap acuh dengan temuan situs candi tersebut, karena kurangnya wawasan tentang cagar budaya baik dari segi nilai sejarah, potensi, dan lainlain. Maka, perlu adanya edukasi terkait pentingnya menjaga dan melestarikan cagar budaya. Diharapkan dengan adanya buku ini, dapat memberikan wawasan mengenai Situs Candi Srigading dan dapat mengedukasi masyarakat. B. Rumusan Masalah Berdasarkan pemaparan latar belakang tersebut, dapat disimpulkan perumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana deskripsi situs “Candi Srigading” yang terletak di Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang? 2. Bagaimana deskripsi temuan artefak deskripsi situs “Candi Srigading” yang terletak di Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang? 3. Apakah hasil kajian Candi Srigading dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga cagar budaya?
5 C. Tujuan Adapun tujuan berdasarkan rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut: 1. Mendeskripsikan situs “Candi Srigading” yang terletak di Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. 2. Mendeskripsikan temuan artefak dari situs “Candi Srigading” yang terletak di Desa Srigading, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. 3. Membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga cagar budaya berdasarkan UU RI Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
66
7 A. Pengetahuan Tentang Candi Secara Umum ● Definisi Candi Dugaan awal istilah “candi” berasal dari kata “candika” yang memiliki arti perwujudan dari salah satu Dewi Durga. Itulah sebabnya candi sering dihubungkan dengan monumen tempat untuk memuliakan dewa (Soekmono, 2005). Penafsiran di luar negeri istilah candi hanya mengarah pada bangunan-bangunan zaman dahulu yang ada di Indonesia dan Malaysia. Seperti kata wat yang dihubungkan dengan candi-candi di Kamboja dan Thailand (Aji, 2018). Dalam pendapat umum yang dipahami masyarakat “candi” adalah segala jenis bangunan dari masa lalu yang terbuat dari batu atau bata, yang mengandung petunjuk bahwa mulanya berfungsi sebagai bangunan suci yang terkait dengan agama Hindu dan Buddha. Kosakata itu berasal dari penggunaan bahasa Jawa (baru) meski asal-usulnya dapat dilacak ke bahasa Jawa Kuno. Ada beberapa bahasa Jawa Kuno yang menyebutkan istilah itu dengan deskripsi benda yang dimaksud. Arti umum yang ada dalam kata tersebut ialah: sebuah bangunan suci tempat memuja dewata. (Ashari, C. Ramelan, Sudjana. Maulana, R. Djafar, Hasan. Santiko, Hariyani. Sedyawati, 2013) Menurut buku Ragam Hias candi-candi di jawa Candi adalah bangunan suci tempat pemujaan dewa dan candi juga dianggap sebagai replika gunung mahameru di india yang melambangkan alam semesta. Bangunan candi diketahui termasuk salah satu aspek budaya yang mendapat pengaruh dari India, walaupun istilah “candi” sendiri tidak berasal dari India. Masyarakat Jawa awalnya menyebut istilah candi sebagai bangunan keagamaan atau kuil yang berasal dari Masa Klasik Indonesia. Istilah candi kemudian digunakan untuk menamakan bangunan-bangunan lain dari masa yang sama, meski bangunan itu bukan sebuah kuil, seperti gapura/pintu gerbang, dan petirtaan/pemandian suci (T. M. R. Istari, 2015). Candi adalah struktur keagamaan kuno dari peradaban Hindu-Budha, yang digunakan untuk tempat ibadah pada masa lalu. Meskipun istilah "candi" sebenarnya mengacu pada bangunan purbakala untuk ibadah, secara umum masyarakat juga menggunakan istilah ini untuk
8 merujuk pada struktur lain, seperti istana (kraton), gapura, tempat pemandian, dan sebagainya. Candi dianggap menjadi simbolisasi dari tempat tinggal para dewa, yang serupa dengan gunung Mahameru. Karenanya, candi selalu dihiasi dengan ukiran dan pahatan yang indah, yang merupakan sebuah representasi dari kediaman para dewa (Aji, 2018). Di daerah Jawa, Bali, Sumatra, dan Kalimantan banyak ditemukan candi. Mayoritas candi-candi ini tidak dikenal dengan nama asli. Namun, para arkeolog sepakat memberi nama candi yang ditemukan berdasarkan lokasi penemuan dan legenda yang ada di dalamnya. Terdapat candi yang diberi nama berdasarkan prasasti atau naskah kuno yang ditemukan di sekitar candi.(Aji, 2018) Bangunan suci sisa-sisa sarana ritual agama Hindu dan Budha di Indonesia dikenal dengan "candi", sebutan yang jarang kita temui di luar Indonesia. Nama bangunan suci tersebut di India dikaitkan dengan "tempat tinggal dewa", diantaranya devagṛha, devlaya, devatāyatanam, veśman, bhavanam, prāsādam, dan sthānam, serta mandiram. Di India Selatan bangunan suci sering disebut sebagai "köil", di Kamboja, “prasat" perubahan dari kata "prāsāda". Tetapi masih membutuhkan kajian lanjutan untuk mengidentifikasi sebab penamaan candi di Indonesia. (Ashari, C. Ramelan, Sudjana. Maulana, R. Djafar, Hasan. Santiko, Hariyani. Sedyawati, 2013) Candi adalah bangunan suci yang berhubungan dengan agama Hindu dan Buddha, baik itu berupa pemandian kuno, gapura, bangunan suci keagamaan lainnya (Hidayat, 2009). Tidak hanya itu, candi juga dapat diartikan sebagai bangunan kuno yang dibuat dari batu, berupa tempat pemujaan atau penyimpanan abu jenazah rajaraja atau pendeta-pendeta Hindu ataupun Budha. Candi kemudian dikaitkan dengan bangunan kematian atau pemujaan arwah. Dalam bahasa Jawa Kuno, candi atau cinandi atau suandi berarti “yang dikuburkan”, sedangkan dalam pemahaman arkeologi, candi dapat dihubungkan dengan bangunan untuk pemakaman maupun pemujaan.(Rahmawati, 2019). Bangunan sebuah candi mengacu terhadap berbagai macam bentuk serta fungsi bangunan seperti tempat beribadah, tempat pengajaran, tempat menyimpan abu
9 jenazah dari para raja, tempat pemujaan maupun tempat bersemayam para dewa, pentirtaan atau pemandian, dan juga gapura (Permadi, 2015). Terdapat sebuah pernyataan bahwa candi sesungguhnya bukanlah pemakaman, anggapan ini sesungguhnya merupakan pembenaran yang menegaskan bahwa candi bukanlah makam, tetapi candi adalah bangunan kuil. Abu yang terdapat dalam pripih di dasar candi adalah abu binatang kurban, bukan abu manusia (raja). Terkait dengan anggapan ini sebuah kajian menjelaskan bahwa candi adalah salah satu bentuk perwujudan dharma agama bagi raja dalam konteks sistem religi Hindu sekaligus sebagai monumen peringatan meninggalnya raja atau kerabatnya (Harto, 2005). Bangunan candi melambangkan alam semesta yang dikenal dengan konsep Triloka. Konsep triloka ini pada candi terbagi menjadi tiga bagian. Kaki candi melambangkan bhurloka atau dunia tempat manusia berpijak, tubuh candi melambangkan bhuwarloka atau dunia tempat manusia telah mencapai kesucian atau kesempurnaan dan karenanya dapat berhadapan dengan dewa atau nenek moyang yang dipuja. Adapun atap candi melambangkan swarloka atau dunia para dewa dan roh nenek moyang.(Harianti et al., 2007). Jenis-Jenis Candi (Menurut Hindu-Budha Dan Menurut Kegunaannya) Agama Hindu dan Budha berkembang di Indonesia antara abad 7 hingga 15 Masehi, dan kebudayaan materi yang ditinggalkan adalah tempat-tempat suci yaitu candi, stupa, goa pertapaan, dan kolam suci (patirthan).(Istanto, 2018) Candi punya banyak jenis dan fungsi. Berdasarkan keagamaan, candi dibagi menjadi 2 jenis, yakni candi Buddha dan candi Hindu. Ada pula candi yang dibedakan berdasarkan kebutuhannya, yakni candi kerajaan, candi wanua atau watak, dan candi pribadi. Sementara itu, fungsi candi ada bermacam-macam, di antaranya adalah sebagai berikut :
10 1. Tempat Pemujaan Fungsi candi yang ini sangat umum, dibangun untuk memuja dewa-dewi atau bodhisatwa, seperti candi Prambanan, candi Sambisari, candi Ijo, dan candi Canggal yang dibangun untuk memuja dewa Siwa, candi Kalasan untuk memuja dewi Tara, dan candi Seru untuk memuja Manjusri. 2. Tempat Penyimpanan Candi ini disebut sebagai candi stupa. Candi stupa didirikan sebagai lambang Buddha, sebagai tempat ziarah bagi para pemeluk agama Buddha, atau tempat menyimpan relik Buddhis. Relik Buddhis yang disimpan biasanya berisi sisa pembakaran jenazah, potongan kuku, rambut, gigi, dan kerangka yang dipercaya milik Buddha Gautama, pemuka agama dan keluarga kerajaan penganut Buddha. Contoh candi ini diantaranya candi Sumberawan, candi Muara Takus, dan candi Borobudur. 3. Tempat Pendharmaan Candi seperti ini termasuk candi pribadi, dibangun untuk memuliakan arwah tokoh-tokoh penting atau raja yang telah meninggal. Dalam candi pendharmaan diyakini arwah sang tokoh tersebut menyatu dengan perwujudannya. Misalnya candi Belahan yang dibangun sebagai tempat Airlangga dan candi simping yang merupakan tempat Raden Wijaya didharmakan. 4. Tempat Pertapaan Candi-candi ini biasanya berada di lereng-lereng gunung dan terletak sangat sepi dan berfungsi sebagai tempat bertapa Raja atau tokoh-tokoh penting lainnya. Yang termasuk candi pertapaan adalah candi-candi di lereng Gunung Penanggungan, candi Dieng, candi Gedong Songo, dan Candi Liyangan. 5. Petirtaan Candi ini umumnya dibangun di dekat sumber air atau di tengah kolam. Fungsinya, yakni sebagai tempat pemandian bagi raja atau
11 orang-orang pemuka agama yang biasa disebut dengan padusan. Candi Tikus, Candi Belahan, dan candi Jalatunda adalah beberapa contoh dari fungsi candi satu ini (Ashari, C. Ramelan, Sudjana. Maulana, R. Djafar, Hasan. Santiko, Hariyani. Sedyawati, 2013) Jenis candi berdasarkan kebutuhan/ukuranya: - Candi Kerajaan Candi yang besar dan mewah. Digunakan untuk berbagai upacara dan kegiatan keagamaan kerajaan. Contoh: candi borobudur dan candi Prambanan - Candi Watak Candi yang digunakan oleh masyarakat pada suatu desa atau wilayah. Candi ini biasanya lebih kecil dan berbentuk tunggal. Contoh: candi gebang - Candi Pribadi Candi pribadi berfungsi hampir seperti makam, digunakan untuk memberikan penghormatan pada seseorang. Contoh: Candi Kidal Berbagai jenis tersebut dapat mempermudah dalam proses pengenalan candi berdasarkan pebangunannya, sehingga diperlukan klasifikasi berdasarkan jenis-jenis yang telah dijabarkan (Aji, 2018) B. Struktur Candi Hindu-Budha Secara fungsi, candi Buddha dan candi Hindu memiliki kemiripan, yakni sebagai tempat penyembahan kepada para dewanya. Faktor yang secara pasti dan signifikan membedakan candi Budha dan candi Hindu dapat dilihat dari wujud dan sosok serta konsep desain masing-masing corak candinya.
12 Sosok candi berdasarkan kitab manasara - Pembagian sosok candi Hindu berdasarkan kitab manasara Gambar 1. Sosok Candi Hindu Menurut Kitab Manasara - Pembagian sosok candi Budha berdasarkan kitab manasara Gambar 2. Sosok Candi Budha Menurut Kitab Manasara
13 Berdasarkan kitab ini digambarkan bahwa pada struktur candi Hindu maupun Budha terdiri dari tujuh bagian penyusun yang memiliki maksud serta tujuan tertentu dalam proses pembangunannya. Meskipun terbagi dengan jumlah yang sama, namun pembagiannya memiliki perbedaan antara candi Hindu dan Budha. Sosok candi berdasarkan Mahayana Buddha Hampir sama dengan versi sebelumnya, Sosok candi Hindu dan Buddha pada masa Mataram Kuno juga memiliki struktur yang sama. Pembagian elemen dari sosok candi dalam ajaran Hindu maupun Buddha dapat ditemukan pada sosok kedua jenis candi dengan jumlah yang sama. Penemuan elemen sosok candi pada ajaran Hindu pada candi Buddha diperkirakan karena tidak terdapat kitab arsitektural yang pasti pada ajaran Buddha. Pada perihal ini menyebabkan terjadinya peminjaman elemen dari kitab manasara terhadap pembagian sosok candi Buddha. Pengaruh ajaran Buddha terhadap pembagian sosok candi Hindu tidak dapat dinyatakan dengan pasti. Hal ini disebabkan karena adanya pembagian sosok menjadi 3 bagian (kepala, badan, dan kaki) juga pada ajaran Hindu, namun dengan penyebutan yang berbeda. Pada Candi Hindu bagian kaki disebut sebagai Bhurloka, badan disebut Bhuvarloka, dan kepala disebut Swarloka. Sedangkan pada Candi Buddha, kaki disebut sebagai kamadhatu, badan disebut rupadhatu, sedangkan kepala disebut arupadhatu (Rahadhian P. Herwindo, 2021)
14 - Pembagian sosok candi Hindu berdasarkan Mahayana Buddha Gambar 3. Sosok Candi Budha Berdasarkan Mahayana Buddha Pada struktur candi hindu terdapat pembagian penamaan dalam struktur bangunan candi yaitu sebagai berikut : 1. Kaki = Bhurloka (tempat makhluk hidup tinggal) 2. Badan = Bhuvarloka (melambangkan manusia yang sedang disucikan dan menuju kesempurnaan batiniah) 3. Kepala = Svarloka (pelambang dunia dewa)
15 Terdapat pula kepercayaan adanya tiga dunia, yang pertama dunia atas ialah tempat para dewa, leluhur dan para pahlawan, dan dunia kedua yaitu dunia tengah yang ditempati manusia, serta dunia ketiga yaitu dunia bawah, dunia orang mati. Ketiga dunia ini membentuk tiga lapisan yang dihubungkan oleh poros/axis mundi. Dengan kata lain, poros ini terletak pada titik pusat kosmos menembus dinding pemisah tiga lapisan ketiga dunia tersebut. Melalui poros dunia ini manusia dapat menghubungkan dunia atas dan dunia bawah. Berbagai mitologi dari Cina, India, dan daerah-daerah di Asia Barat, menjelaskan tentang sebatang pohon yang terletak di titik pusat kosmos, akar pohon berada jauh di dunia bawah, sedangkan cabangcabangnya mencapai surga. Demikian juga gunung yang menjadi “tangga” untuk naik ke dunia dewa-dewa, karena di puncak gunung itulah para dewa bertempat tinggal. Dalam berbagai mitologi tersebut gunung yang sering disebut sebagai poros dunia adalah Mahameru (India), Semeru (Jawa), Olimpus (Yunani), Geizim (Palestina) dan lain sebagainya. Maka dari itu, ragam hias beberapa kuil di India terutama di Orissa, menyesuaikan dengan konsep ini. Seperti bingkai bagian bawah bangunan suci merupakan lambang lima materi dasar (panca mahabhuta) yaitu tanah, air, api, angin, dan angkasa. Masing-masing dilambangkan oleh lima bingkai yang dikenal sebagai Pancakarma yaitu khura, khumba, damaru, vasanta, dan culika. khura adalah lambang tanah berbentuk tapal kuda, di Kuil Hoysala, diganti motif gajah yang merupakan lambang tanah pula. Salah satu bagian yang sangat penting dalam pembangunan candi berupa Peripih, dimana tujuan memberi peripih yaitu untuk “memberi hidup” pada candi, memperkokoh “kedudukan” candi di pangkuan pertiwi, dan “memberi benih” agar garbhagrha mempunyai kekuatan dan esensi dewa yang dipuja dan yang arcanya ada di garbhagrha tersebut.
16 - Pembagian sosok candi Budha berdasarkan Mahayana Buddha Gambar 4. Sosok Candi Hindu Berdasarkan Mahayana Buddha Pada struktur candi budha terdapat pembagian penamaan dalam struktur bangunan candi yaitu sebagai berikut : 1. Kaki = Kamadhatu (melambangkan manusia penuh dosa) 2. Badan = Rupadhatu (melambangkan kehidupan manusia yang penuh dengan hawa nafsu) 3. Kepala = Arupadhatu (melambangkan manusia yang mencapai nirwana) Candi juga mempunyai bagian-bagian penyerta lainnya, di samping ke tiga bagian pokok tersebut, yaitu: 1. Pelipit Pelipit, terletak pada ketiga bagian pokok candi, berbentuk bingkai-bingkai yang mengelilingi secara horizontal bagian seluruh bangunan candi. Pelipit yang berada di bagian atas pada bagian pokok candi letaknya menjorok keluar disebut, bingkai mahkota.. Dinamakan pelipit atas apabila terletak di bagian atas bingkai sebelah atas kaki, dan tubuh candi, disebut
17 pelipit bawah apabila terletak di bagian bawah dari kaki, tubuh, maupun atap candi. 2. Bidang Hias atau Panil Bidang hias atau panil dalam suatu bangunan candi terdapat bidang-bidang untuk membuat relief sebagai hiasan. Bidangbidang tersebut dibagi menjadi beberapa bagian berupa bingkai-bingkai yang membatasi tiap-tiap hiasan. Relief yang dipahatkan di bingkai itu adalah hiasan dengan bentuk ragam hias geometris, sulur, daun, bunga, dapat juga berisi suatu relief cerita. 3. Pilaster Pilaster, adalah tiang segi empat yang menempel pada dinding bangunan candi. Pilaster secara teknis berfungsi sebagai penahan dinding yang ditempelnya, bukan sebagai penahan bangunan yang ada di atasnya. Keberadaan tiang ini pada sudut-sudut bagian luar candi atau sebagai batas antara bidang hias, jadi fungsinya sebagai hiasan saja. Bagian penyerta tersebut akan terdapat di setiap bagian dari candi budha, hal ini tidak ditentukan berdasarkan urutan namun dari fungsi serta ciri tertentu dari bagian tersebut. Pada perihal ini merupakan faktor penting akan keberadaan dari Candi Budha (Aji, 2018). Tata Ruang Candi Hindu-Budha Pada bagian struktur candi lain yang melengkapi nilai kesudian dari sebuah candi ialah tata ruang halamannya. Tata ruang halaman pada bagian dataran candi tersusun dimulai dari halaman terluar dan berjenjang menuju bagian tingkat paling suci yaitu di pusat halaman, hal lain untuk candi di sekitar lereng bukit atau pegunungan tata ruang halaman dibentuk mengikuti topografi kemiringan medan dengan bagian palig suci berada di puncak atau paling atas. Dengan penjelasan mengenai hirarki struktur tata ruang halaman sebuah candi, terdapat salh satu candi yang memiliki struktur satu halaman
18 yaitu Candi Kimpulan, terdapat juga candi dengan bentuk tiga halaman yang tersusun secara terpusat yaitu Candi Prambanan, selanjutnya juga terdapat tata ruang sebuah candi dengan bentuk sebelas halaman yaitu Candi Ijo dengan struktur mengikuti topografi kemiringan bukitnya dimana puncaknya merupakan halaman paling suci. Maka dari itu sistem tanda ruang kesucian sebuah candi dapat diidentifikasi dengan mengikuti poros sintagmatik dan juga paradigmatik. Dalam pembangunan struktur candi memiliki tiga sifat yang menjadi sebuah prioritas yaitu 1) merupakan satu totalitas,2) dapat bertansformasi, dan 3) otoregulasi apabila terjadi perubahan pada susunan komponen-komponenya.(Wirasanti, 2016) Candi Hindu pada dasarnya memiliki bentuk denah persegi ataupun persegi panjang. Yang mana tipe denah persegi dapat diurai kembali menjadi dua tipe yaitu tipe denah persegi dengan ruang teras penerima dan denah persegi tanpa ruang teras penerima. Namun, dalam kasus Candi Prambanan ditemukan bahwa candi Hindu memiliki tipe denah cruciform. Padahal tipe denah cruciform ini dihasilkan dari mandala Vajradhatu dalam ajaran Buddha. Relasi yang ada antara ajaran Buddha dengan tipo-morfologi Candi Prambanan ini merupakan bukti bahwa ada kemungkinan ajaran Buddha juga pernah memberikan pengaruh terhadap pembangunan candi Hindu di era Mataram Kuno. Walaupun pada candi-candi Hindu berikutnya tipe denah kembali kepada tipe denah persegi. Tata ruang bentuk persegi Gambar 5. Tata Ruang Candi Hindu-Buddha Bentuk Persegi
19 Tata ruang bentuk Persegi Panjang Gambar 6. Tata Ruang Candi Hindu-Buddha Bentuk Persegi Panjang Tata ruang bentuk Cruciform Gambar 7. Tata Ruang Candi Hindu-Buddha Bentuk Cruciform Candi Buddha memiliki mandalanya tersendiri untuk membentuk suatu ruang yang disakralkan, Mandala yaitu berupa ajaran Vajradhatu dan Garbadhatu. Ajaran inilah yang menyebabkan bentuk denah pada candi Buddha pada umumnya berbentuk cruciform (Rahadhian P. Herwindo, 2021).
20 Ragam hias Ornamental Sebuah keunikan tersendiri dari adanya sebuah candi salah satunya yaitu ragam hias ornamental, dimana hal ini tidak ditentukan oleh latar belakang agama yang ada. Yang menjadikan sebuah pembeda merupakan konten yang terkandung di dalamnya. Bagi masyarakat fungsi ornamental pada masa lampau (terutama masa prasejarah dan Hindu-Budha), yaitu menjadi media untuk melampiaskan hasrat pengabdian, persembahan, penghormatan, dan kebaktian terhadap roh nenek moyang atau dewa yang dihormati, termasuk ornamen candi. Maka dari itu, ornamen candi sebagai produk budaya yang berdasarkan agama Hindu-Budha, diciptakan memiliki nilai estetik dan juga nilai religius. (Istanto, 2018). Candi Hindu tentur reliefnya menceritakan kisah yang berhubungan dengan ajaran Hindu, sama halnya pada candi Buddha relief yang terkandung menceritakan tentang ajaran Buddha. Sebagai contoh pada candi Borobudur terdapat relief berupa cerita dari Lalitawistara dan Gannndawyuha, sedangkan pada contoh lain yaitu candi Siwa dan Brahma dalam kompleks candi Prambanan yang dipahat relief dari cerita Ramayana. Hal lainnya yaitu perbedaan juga dapat ditemukan pada arca dewa yang diletakkan pada candi tersebut. Pada candi yang bercorak Hindu terdapat arca dewa seperti dalam ajarannya tersendiri seperti patung dewa Siwa, Brahma, Wisnu, kendaraannya yaitu (Nandi, Hamsa, Garuda). Arca pada candi Buddha dapat seperti patung 5 Buddha Jina yang diletakkan pada bagian relung yang menghadap ke arah mata angin. Sebuah keunikan ini dihasilkan dari perbedaan simbolisasi atau ikonigrafi pada masing-masing ajaran. Baik ajaran Hindu maupun Budha tentu memiliki caranya tersendiri untuk menggambarkan tuhan-nya masing-masing (Rahadhian P. Herwindo, 2021) C. Perbedaan Candi dari masa ke masa Indonesia memiliki budaya candi yang tidak terhitung jumlahnya, tersebar di seluruh daerah di pulau Jawa dan Bali, dan sebagian besar terletak di Pulau Jawa, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur.
21 Bentuk candi sangat beragam dan bervariasi tiap masanya. Perbedaan candi-candi yang ada di Indonesia dapat terlihat dari perbedaan karakteristik ragam hias dan arsitekturnya dari masa ke masa. Perbedaan tersebut dapat terlihat dari kronologis waktu candi-candi tersebut didirikan berdasarkan perubahan kultur dan peradaban masyarakat di masa-masa tersebut. Mulai dari peninggalan masa Mataram kuno, dengan beberapa contohnya antara lain candi-candi di Kompleks Dieng, candi Borobudur, hingga candi Prambanan, yang dimulai dari sekitar abad 8–10 M. Candi masa Mataram Kuno memiliki karakteristik gaya Klasik Tua (gaya Mataram Kuno). Karakteristik tersebut dapat terlihat dari ciri umum candi-candi di kawasan Dieng, Candi Borobudur, dan candi gaya Mataram Kuno lainnya. Candi dengan gaya Klasik Tua mempunyai tiga bagian candi, antara lain kaki, tubuh, serta atap. Tampak secara keseluruhan, bentuk candinya terlihat tambun, dengan atap yang terdiri dari tiga lapisan. Bentuk atap yang seperti itu serupa dengan tampilan atap India Selatan. Candi di masa ini memiliki bentuk denah bujur sangkar (Ashari, C. Ramelan, Sudjana. Maulana, R. Djafar, Hasan. Santiko, Hariyani. Sedyawati, 2013). Membahas detail ragam hias dan pahatannya, dalam candi gaya Mataram Kuno, tidak ditemukan keberadaan bentuk bingkai bulat, atau yang disebut dengan kumuda. Perbingkaian candi tersebut berupa bingkai mendapar, pada bagian atas maupun bawah candi. Keberadaan bentuk bingkai yang seperti itu, juga bentuk keseluruhannya, menimbulkan kesan bangunan candi yang tegas dan kekar. Selain itu, pada bagian pintu dan relung-relung candi, terdapat ragam hias kalamakara yang berbentuk wajah tanpa rahang bawah atau tidak berdagu (Ashari, C. Ramelan, Sudjana. Maulana, R. Djafar, Hasan. Santiko, Hariyani. Sedyawati, 2013). Pada dinding bangunan candi, biasanya terdapat deretan relief-relief yang berupa hiasan maupun kisah seorang tokoh. Pada candi masa Mataram Kuno, relief naratifnya menceritakan kisah tokoh yang kental dengan keagamaannya. Contohnya dapat dilihat relief pada candi Borobudur. Pada dinding lorong pertama candi terdapat dua baris relief yang tersusun masing-masing terdiri dari 120 pigura. Relief barisan atas menceritakan kehidupan sang Buddha menurut kitab suci
22 Lalitavistara, sedangkan pada deretan bawahnya terdapat ceritacerita Jataka yang menampilkan kehidupan sang Buddha yang menjelma dalam berbagai bentuk sebelum akhirnya menjadi sosok Budha (Irawan & Idris, 2017). Peninggalan masa Kediri, beberapa contohnya antara lain candi Jalatunda, candi Panataran, hingga Goa Selomangleng, dimulai dari abad 11–12 M. Keberadaan candi pada masa ini tidak memiliki karakteristik secara khusus yang membedakan dari masa-masa yang mendahului maupun setelahnya. Karakteristik yang ditemukan dari candi-candi di masa ini merupakan bentuk peralihan antara gaya Mataram Kuno menuju gaya Singasari serta gaya Majapahit. Hal tersebut dapat terlihat, misalnya pada Kompleks Candi Panataran yang di dalamnya memuat candi dengan gaya Singasari hingga Majapahit (Ashari, C. Ramelan, Sudjana. Maulana, R. Djafar, Hasan. Santiko, Hariyani. Sedyawati, 2013). Peninggalan masa Singasari berlangsung dari abad 12–14 M, dengan beberapa contohnya adalah candi Singasari, candi Jago, candi Jawi, hingga candi Kidal. Candi pada masa ini memiliki karakteristik gaya Singasari, yang pemaparan contohnya dapat dilihat dari contoh-contoh candi di atas. Secara umum candi dengan gaya Singasari memiliki tiga bagian candi, antara lain kaki, tubuh, serta bagian atap. Pada bagian kaki candi, terdapat lapik yang merupakan alas dari suatu arca. Selain itu, bangunan candi gaya ini berbentuk ramping dan tinggi. Ditambah bentuk atap yang menjulang tinggi dengan bagian puncaknya yang berbentuk kubus. Karakteristik unik dari candi gaya Singasari adalah keberadaan tata ruang dalam candinya. Pada candi Singasari contohnya, ruang utama candi (garbhagṛha) berada di bagian kaki candi. Pada candi-candi di Indonesia, biasanya ruangan utama berada di bagian tubuh candi, sehingga dari awal penemuannya, hal tersebut menjadi keunikan tersendiri. Candi pada gaya Singasari memiliki ragam hias pada relung atau bagian pintu masuknya berupa kala. Berbeda dengan keberadaan kalamakara pada gaya Mataram Kuno, pada gaya Singasari, kala ini memiliki bagian rahang bawah, dengan bentuk serupa dengan kepala singa atau raksasa. Selain itu, terdapat ragam perbingkaian yang berbeda dengan gaya candi sebelumnya. Pada gaya Singasari, umumnya terdiri dari bingkai rata,
23 bingkai berupa padmai kecil yang bentuknya agak membulat, serta bingkai sisi miring. Jenis perbingkaian itu contohnya dapat dilihat pada Candi Kidal. Tidak sampai di situ, keberadaan relief pada candi gaya Singosari berupa motif ornamental, selain realief naratif (Ashari, C. Ramelan, Sudjana. Maulana, R. Djafar, Hasan. Santiko, Hariyani. Sedyawati, 2013) Agama Hindu dan Budha berkembang di Indonesia antara abad ke7 hingga 15 Masehi, dan kebudayaan materi yang ditinggalkan adalah tempat-tempat suci yaitu candi, stupa, goa pertapaan, dan kolam suci (patirthan). Seringkali bangunan-bangunan tersebut diperindah dengan adanya ornamen, teristimewa pada bangunan candi (Istanto, 2018).
2424
25 A. CANDI SRIGADING Dalam materi kajian koleksi museum, Museum Singhasari memiliki hasil kebudayaan material reruntuhan candi berupa reruntuhan Candi Srigading. Candi Srigading merupakan reruntuhan batu bata kuno berukuran raksasa yang membentuk gundukan tanah setinggi sekitar 2,5 meter, sehingga masyarakat setempat sering menyebutnya Candi Gumuk Srigading. Penamaan dari Candi Srigading sendiri berdasarkan dari nama wilayah ditemukannya yaitu di Dusun Manggis, Desa Srigading, dimana hal ini yang juga diberlakukan pada candicandi lainnya. Secara Toponimi, Dusun Manggis pernah ditemukan pada suatu Prasasti logam yaitu Prasasti Walandit tahun 1303/1337 Ç (saka), pada bagian depan prasasti ini yang lebih tepatnya pada bagian baris ke-2 disebut dengan penyebutan mamanggis lili dan juga disebutkan secara bersamaan dengan desa lainnya yaitu walandit (Blandid, daerah wonorejo saat ini), jebing (Desa jabung saat ini), kacaba (dimungkinkan Karang Dengkol saat ini). Atas isi dari prasasti tersebut maka berkemungkinan Desa Himad yang disebutkan ada pada abad 10 Masehi telah berubah menjadi Desa mamanggis lili pada abad 14 masehi. Temuan dari permukaan candi ini berupa yoni di atas permukaan tanah sempat hampiri oleh beberapa arkeolog pada tahun 2008 dalam kondisi masih dikelilingi oleh rerumputan yang rimbun. Kondisi sementara dalam reruntuhan candi ini terdapat beberapa peninggalan sejarah seperti lingga, yoni, batu bata kuno, temuan perangkat upacara seperti benda-benda perunggu, dan berbagai temuan lainnya.
26 Gambar 8. Candi Srigading Tampak Atas Pada awalnya, para arkeologis menduga bahwa candi Srigading ada kaitannya dengan isi prasasti Linggasutan tahun 851 Ç (saka), prasasti yang memiliki tinggi 174 cm, dengan lebar atas 99 cm, dan lebar bawah 109 cm serta bentuk yang unik yaitu berbentuk setengah lingkaran pada bagian atasnya. Namun kondisi dari prasasti ini tidak sepenuhnya utuh, tetapi patah di bagian tengah dan terdapat celah selebar 3 cm dengan sisi muka serta dan belakang yang telah aus menyebabkan huruf yang ada sukar untuk dibaca. Prasasti Linggasutan berhubungan erat dengan peran Kerajaan Mataram Kuno (Medang) di Jawa Timur dipimpin oleh Mpu Sindok, yaitu Wangsa Isyana dengan gelar Sri Maharaja Rake Hino Pi Sindok Sri Isanawikrama Dharmmotunggadewa. Mpu Sindok dapat mendirikan kerajaan yang baru di Jawa Timur sebab ia menjadi pewaris sah Mataram Kuno. Sebelum menjadi raja, ia menjabat sebagai rakryan mapatih i halu dan rakryan mapatih i hino saat masa pemerintahan Rakai Layang Dyah Tlodhong dan Rakai Sumbah Dyah Wawa. Jabatan halu dan hino termasuk orang terpilih dan memiliki jabatan yang cukup tinggi di kerajaan. Rakryan mapatih i hino atau rakaryan mahamantri i hino biasanya
27 dijabat oleh putra mahkota. Maka, jabatan tersebut hanya dapat diduduki oleh sosok yang masih memiliki ikatan darah dengan raja. Secara genealogis, Mpu Sindok adalah cucu dari Sri Permaisuri Dyah Kebi (Pradita et al., 2021). Isi dari prasasti ini berisi tentang Mpu Sindok yang memerintah kepada Samgat Mahhumah dan Madander Pu Padma Angehan Pu Kundala untuk meresmikan Desa Lingga suntan menjadi daerah perdikan, dengan alasan akan diperuntukkan kepada bhatara di Walandit. Dengan adanya pernyataan isi prasasti Linggasuntan telah diketahui bahwa tidak ada keterkaitan dengan penemuan candi Srigading. Tidak hanya prasasti Linggasuntan yang diperkirakan berhubungan dengan candi Srigading, ada juga prasasti Muncan tahun 866 Ç (saka) yang menyatakan pada bagian utamanya yaitu perintah raja untuk menetapkan sebidang tanah di sebelah selatan desa muncang dalam wilayah Rakryan Hujung untuk mendirikan bangunan suci sebagai tempat pemujaan kepada Bhatara Sang Hyang Swayambhuwa(dewa Brahma) tepatnya menghadap Gunung Bromo di Walandit (R. Istari, 2015). Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa keberadaan Candi Srigading dicari di beberapa sumber prasasti lainnya salah satunya yaitu Prasasti Gulung-Gulung tahun 851 Ç (saka), yang menurut dugaan sementara keberadaannya dapat dihubungkan dengan bangunan mahaprasada di Himad. Himad merupakan suatu daerah yang berada di antara Singasari dan Walandid (Desa Blandid sekarang). Apabila pernyataan ini diterima, maka keberadaan bangunan Candi Srigading dapat dikategorikan bangunan suci Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Timur pada masa pemerintahan Sri Maharaja Rake Hino Pi Sindok Sri Isanawikrama Dharmmotunggadewa. Namun pendapat ini tentu harus didukung penelitian lebih lanjut terutama berhubungan dengan kajian arsitektur candi dan beberapa temuan arkeologis lainnya yang berhubungan dengan keberadaan candi.
28 Candi Srigading sendiri telah melalui beberapa proses pemugaran sehingga dapat diidentifikasi secara perlahan baik dari latar belakang maupun dari beberapa artefak yang ditemukan. Pemugaran merupakan upaya untuk mengembalikan kondisi sebuah cagar budaya baik bentuk, tata letak, dan lainnya menuju kondisi aslinya. Proses pemugaran ini dapat dilakukan melalui tiga tahap. Pada tahap pertama yaitu tahap pra pemugaran, pada tahap ini dilakukan studi kelayakan serta pengumpulan data terkait situs yang akan dipugar. Tahap yang kedua yaitu tahap pemugaran, pada tahap ini dilakukan penelitian, ekskavasi, kemudian pembangunan, perawatan, serta perkuatan. Pada tahap berikutnya yaitu ketiga merupakan tahap pasca pemugaran, yaitu tahap akhir dan evaluasi. Salah satu tahapan dalam permugaran yaitu proses ekskavasi dengan proses yang cukup panjang serta diikuti dengan beberapa kegiatan lanjutannya (Khalid Rosyadi, Mochamad Rozikin, 2017). Kegiatan ekskavasi arkeologi atau sebuah metode yang digunakan untuk mendapatkan sebuah data arkeologi, hal ini dilakukan dengan cara menggali atau mengekskavasi sebuah lokasi yang memiliki indikasi tersimpannya benda arkeologi. Pada metode ini terdiri atas beberapa jenis yaitu ekskavasi atau penggalian percobaan (trial excavation), ekskavasi pelatihan (training excavation), ekskavasi penyelamatan (rescue excavation) dan ekskavasi total (total excavation) (Suantika, 2012). Proses pemugaran dari Candi Srigading sendiri telah dilakukan sebanyak tiga kali dengan waktu yang hampir berdekatan. Pada tahun anggaran 2022 atas inisiatif Yayasan Kalola Malang yang bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCP) Provinsi Jawa Timur serta Dinas Pariwisata dan kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Malang melakukan penggalian penyelamatan.
29 B. TEMUAN ARTEFAK CANDI SRIGADING (BERUPA GAMBARGAMBAR) 1. Arca Arca yang merupakan visualisasi dari proses persembahan kepada dewa dalam kepercayaan agama hindu terdapat dalam setiap candi yang telah dilakukan proses ekskavasi. Prosesi pemujaan kepada dewa dalam sistem religi umat manusia merupakan unsur kebudayaan. Kebudayaan dapat terbentuk dalam lingkup masyarakat dan kebudayaan dapat membentuk kehidupan sosial. Sosial masyarakat kuno berkaitan erat dari alam pikiran mistis dengan pandangan bahwa terdapat sebuah eksistensi berupa eksistensi dunia sekitarnya maupun dirinya sendiri. Penghormatan kepada dewa menjadi simbol dengan berbagai upaya yang dilakukan merupakan pandangan pada arah dunia transenden, hal ini menunjukkan bahwa ada sebuah kekuasaan di atas manusia . Pemujaan kepada dewa dikaitkan dengan mitos yang memberikan informasi mengenai cara menyusun strategi serta hubungan antara alam dan manusia(Van Peursen, 1976). Bentuk antar arca memiliki pembeda dengan keunikan tersendiri berdasarkan dengan mitologi serta sifat-sifat dewa yang di arcakannya tersebut. Identifikasi ciri dari setiap arca diperlukan sebuah pendekatan berdasarkan kegunaan, latar belakang, dan ciri khususnya. Hal ini dapat berkaitan dengan posisi penemuan arca dalam proses ekskavasi yang dapat dihubungkan dengan latar belakang dan kegunaannya (William A.Nelson, 1934). Identifikasi arca dapat dilakukan salah satunya dengan posisi peletakan dalam struktur pembangunan candi pada umumnya. Umumnya peletakan Arca dewi Durga Mahisasuramardini yang digambarkan sebagai wanita cantik serta langsing
30 sedang berdiri di atas seekor mahisa atau lembu dengan memiliki tangan berjumlah delapan diletakkan pada bagian relung candi di sisi utara (Soekmono, 1973). Pada bagian berikutnya yaitu arca Dewa Mahakala sebagai manifestasi Dewa Siwa dalam bentuk menakutkan (Krodha) yang memiliki roman muka menyerupai raksana diletakkan pada bagian relung kanan pintu masuk candi. Sedangkan pada bagian relung kiri pintu masuk candi ditempatkan arca Dewa Nandiswara yang diwujudkan sebagai duplikat dari Dewa Siwa. i. Arca Agastya Gambar 9. Arca Agastya Patung Dewa yakni Arca Agastya digambarkan berdiri dilengkapi dengan stela (sandaran arca) dan hiasan prabha di belakang kepala. Posisi berdirinya adalah samabangha (lurus kedua kaki), namun tubuhnya mulai
31 pinggang agak bergeser ke kanan menggambarkan posisi yang sangat santai. Wajahnya digambarkan sungguh damai, rambut keriting, kumisnya melengkung ke bawah dan jenggot lurus, dan perutnya buncit (tundila). Bertangan dua, tangan kanan membawa Trisula sedangkan tangan kiri memegang kendi bagian ujungnya. Perhiasan yang dikenakan antara lain : jata mahkota, hara, upawitanya berukuran relatif lebar, ikat perut dan wastra kebawah sampai pergelangan kaki. Arca ini berasal dari Desa Srigading Kecamatan Lawang Kabupaten Malang, yang berasal dari bahan batu andesit berwarna kecoklatan dan memiliki ukuran 37,5 Scm(panjang), 28,5 cm(lebar), 87 cm(tinggi). ii. Arca Mahakala Gambar 10. Arca Mahalaka
32 Arca Mahakala ini berasal dari candi yang berada di Desa Srigading Kecamatan Lawang Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Ditemukan dalam keadaan rusak di bagian kepala hingga batas pangkal leher dan tangan kanan patah hingga bahu. Dibentuk dalam posisi berdiri, kaki kanan lurus, sedangkan kaki kiri agak miring. Tangan kanan hilang dan tangan kiri memegang ikatan selendang. Adapun perhiasan yang dikenakan yaitu hara, ikat perut, upawita, gelang lengan, gelang tangan, gelang kaki, wastra (kain) dikenakan hingga mata kaki. iii. Arca Nandiswara Gambar 11. Arca Nandiswara
33 Nandiswara atau sering disebut Nadiskesvara yang diwujudkan sebagai duplikat dan dipercayai merupakan pengiring dari Dewa Siwa yang memiliki gelar Andhikaranandin ditemukan arca nya pada proses ekskavasi Candi Srigading. Arca ini digambarkan dalam keadaan berdiri di atas padmasana dan bersandarkan pada stela (sandaran arca). Bentuknya pada bagian belakang kepala terdapat siracakra dengan jumlah tangan sebanyak dua. Kondisi tangan kanannya terbuka menghadap ke arah depan dan pada bagian atas telapak tangan terdapat semacam bunga, tangan kirinya memegang camara (kelut). Keunikan pada arca ini yaitu dengan menggunakan perhiasasn berupa jatamakutha, kalung, dan anting-anting. 2. Fragmentase Kepala Angsa Menurut Hindu, terdapat hewan-hewan yang berhubungan dengan dewa dan persembahan yajna dan dianggap suci. Tidak hanya itu hewan tersebut ada yang dijadikan sebagai kendaraan, seperti Gajah milik dewa Indra bernama Airavata, lembu Nandi milik siva, Yama dengan kerbau, Singa atau harimau dengan Durga, kijang dengan Bayu, wahana tikus milik Ganesha. Monyet representasi dari Hanuman, sangat umum dipuja. Vahana Angsa adalah milik Dewa Brahma, Kartikeya dengan vahana merak, vahana garuda milik Wisnu (Susi, 2021). Hamsa (Angsa) adalah vahana Dewa Brahma. Simbolis dari kecerdasan, penilaian, keterampilan, dan kreativitas. Kata “Hamsa” merupakan kombinasi dari dua kata, “aham” dan “sa.” yang memiliki arti “Aku adalah dia”. Hamsa itu indah, damai, dan anggun. Hamsa (angsa) merupakan vahana(kendaraan) Dewa Brahma dan Sarasvati. Pada kitab suci Veda, angsa menjadi representasi dari kekuasaan Tuhan
34 Yang Maha Esa. Sedangkan, dalam Atharvaveda dinyatakan sebagai angsa jantan. Hamsa digambarkan memiliki warna hitam pada punggungnya, berkelompok jika terbang, berenang diatas air, suaranya riuh dan keras, ia bangun pada waktu malam hari. Hamsa dianggap istimewa karena memiliki kemampuan membedakan Soma dari air. Angsa merupakan simbolis dari roh atau juga penggambaran Dewa Brahma yang seperti burung angsa terbang melayang-layang di alam semesta (Purnawan, 2019). Dari penjabaran tentang Wahana atau Vahana para dewa berhubungan dengan salah satu penemuan artefak di Candi Srigading, yaitu berupa Fragmentasi berbentuk kepala angsa yang ditemukan pada saat proses ekskavasi tahap ke-3 Candi Srigading/Situs Gumuk tepatnya pada bulan Februari tahun 2022. Angsa atau hamsa merupakan wahana Dewa Brahma. Gambar 12. Fragmentase Kepala Angsa 3. Peralatan Memasak (Ketel dan Teko) Temuan yang sangat berharga dari proses ekskavasi yang telah dilakukan pada Candi Srigading salah satunya berupa alat memasak yaitu berbentuk ketel serta teko dengan bahan dasar perunggu. Pada saat ditemukan temuan ini telah
35 berwarna hijau tidak seperti warna perunggu pada umumnya yang dikarenakan proses pengaratan sehingga berwarna kehijauan. Gambar 13. Peralatan Masak Pada proses penggalian ditemukan satu ketel serta tiga teko, namun hanya dua teko saja yang dapat diselamatkan dengan kondisi yang cukup utuh dan saat ini telah dipajang pada Museum Singhasari. Dikatakan bahwa seharusnya terdapat lima teko dengan berbagai posisi peletakannya yang ada pada Candi Srigading, namun dua teko yang lainnya berkemungkinan telah lapuk dan melebur dengan tanah sehingga tidak ditemukan pada saat proses ekskavasi saat itu. 4. Alat Pertukangan (Beliung, Sabit, dan Kapak kecil) Alat pertukangan ataupun alat pertanian sudah ditemukan sejak zaman hindu-budha, namun mungkin bentukya tidak sama sepenuhnya namun memiliki fungsi yang telah diadopsi pada alat-alat masa kini. Hal ini didasarkan pada isi beberapa prasassti yaitu, pada prasasti Waharu IV 853 C (Saka) disebutkan bahwa apamandai mas, amapandai wsi, apamandai kangsa, apamandai dang. Pada
36 prasasti selanjutnya yaitu prasasti Sadang, disebutkan bahwa apande, wsi, apande mas, apande dadap, apande singasingan, apande kawat, apande gangsa, apande kamra, apa,de petak, apande salaka, apande dang. Dalam istilah tersebut dapat menjadi dasar akan adanya spesialisasi beberapa pekerjaan, baik berdasarkan bahan logam maupun jenis barang lain yang diproduksi. Penggunaan istilah apande wsi dimaksudkan untuk menyebut seseorang tukang pande yang khusus atau ahli dalam membuat barang dari bahan dasar besi. Dengan barang tersebut mungkin merupakan alat pertanian dan juga senjata. Hal tersebut memiliki keterkaitan dengan salah satu penemuan di Candi Srigading. Hasil penemuan dari ekskavasi salah satunya berupa alat pertukangan dengan berbagai bentuknya yang diduga digunakan pada proses pembangunan Candi Srigading, alat ini ditemukan pada bagian sumuran candi dalam kondisi cukup utuh dan cenderung mengembang di setiap sisinya (Supriyanto, 2011). Gambar 14. Alat Pertukangan 5. Serpihan Topeng Artefak unik pada Candi Srigading berupa topeng dan bentuk potongan-potongan yang ditemukan pada beberapa
37 lokasi saat proses ekskavasi yang telah dilakukan, namun cukup disayangkan karena bentuk dari masing-masing artefak tersebut dalam kondisi yang tidak utuh. Namun pada setiap bagiannya memiliki nilai historis yang tinggi dan perlu pengkajian lebih lanjut untuk menemukan maksud dibuatnya benda tersebut. Gambar 15. Serpihan Topeng 6. Perhiasan berbahan dasar emas murni Emas yang merupakan salah satu jenis logam mulia merupakan suatu barang yang sangat dihargai yang disebut dengan nama suwarna yang merupakan sebuah logam dengan kedudukan paling tinggi diantara yang lainnya. Penyebutan Suwarna berasal dari “Su” dan “Warna” yang memiliki arti memilih warna yang indah, pada hal lain disebutkan bahwa kata swarna memiliki “bersifat kesurgaan”. Dengan tingkat kemuliaan yang tinggi emas dainggap sebagai dewa dari logam yang lainnya, dimana diikuti pada urutan berikutnya yaitu perak atau disebut juga rupya. Candi Srigading yang digunakan sebagai tempat persembahan kepada para dewa menyimpan berbagai benda
38 dalam bentuk perhiasan, dimana dipercaya dalam dunia mistis benda ini sebagai perantara untuk terhubung dengan dunia mistis dengan alasan sifat kemuliaannya. Perhiasan tersebut salah satunya berupa manik-manik dan benda dengan bentuk tertentu berbahan dasar emas 20 karat (Haryono, 1993). Gambar 16. Perhiasan Berbahan Emas 7. Lingga Yoni Lingga dan Yoni yang merupakan sebuah perwujudan terciptanya sebuah kehidupan memiliki makna yang sangat sakral, Lingga sebagai simbol dari Dewa Siwa dan Yoni merupakan perwujudan dari Dewi Parwati menggambarkan hubungan dua jenis manusia yaitu pria dan wanita. Dengan bentuk lingga berupa monolit silinder terbagi menjadi tiga bagian yang merupakan representasi dari dewa-dewa, pada bagian bawah dengan bentuk empat persegi direpresentasikan sebagai Dewa Brahma, pada bagian tengah atau biasa disebut Wisnubhaga merupakan representasi dari Dewa Wisnu, serta pada bagian paling atas atau Shivabhaga merupakan manifestasi dari Dewa Siwa (Suhardi, 2019). Yoni yang merupakan pasangan dari Lingga memiliki
39 hubungan yang erat dengan Dewi Bumi atau Perthiwi dengan penyebutan lain Dewi Ibu. Pada hakikatnya di masa Sekte Sakta dipercaya bahwa Dewa menciptakan segala sesuatu di dunia dengan pasangannya atau saktinya. Proses penyatuan antara Lingga dan Yoni secara simbolis memerlukan beberapa macam sesaji dengan salah satu perlengkapan berupa air dengan cara disiramkan dari puncak lingga hingga mengalir ke luar melalui cerat yoni. Penemuan Lingga dan Yoni pada proses ekskavasi berada pada bagian bawah sumuran candi yang diduga ada campur tangan manusia, dikarenakan seharusnya peletakan lingga ada di bagian atas atau luar candi. Gambar 17. Lingga Yoni 8. Lingga Semu Candi yang menjadi replika Gunung Mahameru maupun replika kosmos harus dibangun dalam lingkungan yang suci. Sehingga tempat yang akan digunakan untuk mendirikan candi harus disucikan dahulu. Tanah yang akan digunakan sebagai tempat pendirian candi diberi tanda sembilan buah
40 patok, satu di pusat lalu pada keempat sudutnya, dan di tengah sisi-sisinya. Kemudian di halaman tersebut didirikan candi. lalu halaman candi diberi tanda tembok di sekeliling candi yang merupakan unsur penting, karena menjadi pembatas terhadap lingkungan profan. Patok yang digunakan tersebut disebut sebagi Lingga Semu dengan jumlah 8 buah yang tersebar di sekitar candi. Lingga semu yang merupakan sebuah batuan berbentuk silindris dengan ukuran yang cenderung lebih kecil. Lingga ini memiliki fungsi berbeda dengan lingga yang terhubung dengan yoni, yaitu sebagai pathok yang digunakan sebagai penanda. (Titasari, 2017). Gambar 18. Lingga Semu POLA CANDI MASA HINDU-BUDHA • Bagaimana Pola Candi Masa Hindu-Budha Pada Umumnya Di dekat Malang ada Candi Singhasari dan Candi Sawentar, lalu terdapat candi yang belum selesai dibangun yaitu di dekat Blitar. Kedua candi tersebut, ragam hias sudah dipahat yang di bagian atas dengan halus, sementara bagian bawah candi baru dalam garis besarnya saja. Misalnya kepala NƗOD Candi
41 Singasari bagian atas sudah dipahat dengan sangat indah, namun kepala NƗOD yang terletak di bagian bawah baru terlihat garis besarnya saja. Dapat disebutkan misalnya kajian tentang: proporsi bagianbagian bangunan candi, susunan arca-arca di dalam candi, polapola hias tertentu yang dipakai pada candi-candi (misalnya kalpataru pada dinding luar Candi Prambanan); atau juga tentang relief-relief (berangkai ataupun tidak) yang mengandung pesan-pesan keagamaan, baik Hindu maupun Buddha. Ada kalanya ‘petikan’ dari teks-teks keagamaan tertentu dipahatkan dalam panel relief yang tidak berangkai, yang terpahat pada dinding badan candi, dinding pagar langkan, ataupun pada pipi candi. • Pola, Struktur, dan Arah Hadap Candi Srigading Candi yang ada di Indonesia terutama yaitu candi HinduBudha tentu memiliki perbedaan, salah satu yang dapat diamati yaitu dari bentuk bangunan yang didirikan dengan arah hadap dengan berbagai makna. Dalam berbagai sejarah dikatakan bahwa dalam beberapa hal yang dilakukan pada zaman dahulu kala memiliki arti atau makna tertentu, hal ini dapat dikaitkan dalam arah hadap sebuah candi yang merupakan bangunan suci bagi hindu-budha. Arah hadap dari Candi hindu-budha memiliki ciri khas yang berbeda dengan arti yang juga berbeda. Pada Candi hindu arah hadap candi pada umumnya menghadap ke arah barat dan arah hadap pintu masuk candi ke arah timur, hal ini berbeda dengan arah hadap dari candi budha yang pada umumnya menghadap ke arah timur dengan arah hadap pintu masuk ke arah barat.
42 Gambar 19. Arah Hadap Candi Pada bagian arah hadap ini dapat dikaitkan dengan keberadaan Candi Srigading yang merupakan candi hindu, hal ini relevan dengan arah hadap pintu masuk candi yang mengarah ke timur. Arah Timur yang disebutkan merupakan perwujudan Dewa Brahma dikaitkan dengan keberadaan Gunung Bromo yang terletak di sisi Timur dari keberadaan Candi Srigading. C.STRUKTUR CANDI SRIGADING No Parameter Penjelasan 1. Fungsi Digunakan sebagai tempat ibadah 2. Struktur Bangunan 1. Kepala : Svarloka ( melambangkan dunia dewa ) 2. Kaki : Bhurloka (didirikan untuk melambangkan manusia yang
43 sedang disucikan dan menuju kesempurnaan diri. 3. Badan: Bhuvarloka (merupakan dunia bawah sebagai tempat tinggal mahkluk hidup yang belum dapat terlepas oleh duniawi. Pada bagian kepala candi srigading tidak ditemukan, yang ditemukan hanya bagian badan dan kaki. 3. Bentuk bangunan Bentuk bangunan pada candi srigading termasuk bangunan yang ramping, sebab candi hindu lebih mengarah pada bentuk bangunan yang ramping dan menjulang tinggi. 4. Ornamentasi Ornamen pada candi srigading dikatakan cukup sederhana dan ukiran pada candi srigading diselesaikan mulai dari bagian kepala hingga kaki. 5. Arca Dewa: Dewa Mahakala sebagai manifestasi Dewa Siwa dan Dewa Nandiswara sebagai duplikat Dewa Siwa. Dewi: Dewi Durga Mahisasuramardini digambarkan sebagai wanita cantik yang memiliki tangan berjumlah delapan diletakkan di bagian sisi utara candi.
44 6. Puncak Candi Puncak Candi pada Candi Srigading tidak ditemukan, dan ketika dilakukan ekskavasi yang tersisa hanya bagian badan dan kaki candi. 7. Material Penggunaan batu bata merah banyak digunakan pada pembuatan bangunan candi karena letaknya yang dekat dengan daerah persawahan dan tidak ditemukannya batu pada sekeliling area candi. 8. Denah Candi 1. Sumuran Berbentuk L : pada umumnya bentuk sumur pada candi lainya berbentuk persegi, uniknya sumuran pada Candi Srigading ini berbentuk L. 2. Bentuk tata ruang pada Candi Srigading belum dapat dipastikan dikarenakan belum sepenuhnya digali. 9. Pintu Masuk Pintu masuk pada Candi Srigading menghadap ke arah Barat. 10. Tangga Tangga pada Candi Srigading menghadap ke arah Timur. 11. Pembuatan Candi Pembuatan candi ditandai dengan lima panca mahabhuta yaitu air, angin, tanah, api, dan angkasa.