45 D. POTENSI CANDI SRIGADING 1. KEUNIKAN CANDI SRIGADING ● Candi ini diperkirakan berdiri pada abad ke-10M Candi Srigading adalah salah satu candi yang berdiri sejak abad ke-10, tentunya ada beberapa prasasti yang membuktikan berdirinya Candi Srigading, antara lain tepatnya pada masa Majapahit, saat Gajahmada menjadi rakryan mapatih di Janggala dan Kadiri mengeluarkan prasasti yang menyampaikan pernyataan terkait jalan keluar atas sengketa batas Desa Himad dan Walandit. Sekitar tahun 1350 masehi yang mana termasuk masa yang sudah sangat lama untuk sebuah bangunan suci. Lalu pada Prasasti Gulung-Gulung pada tahun 851 Ç berisi bahwa sebidang hutan di bantaran menjadi daerah sĩma untuk dijadikan tanah dharm-maksetra berupa sawah bagi bangunan suci Rakryan Hujung yaitu mahaprasada di Himad. Pengertian daerah sĩma yaitu pada masa Kerajaan Mataram Kuna yang merupakan kerajaan agraris dengan wilayah kekuasaan di daerah pedalaman Jawa masa penguasaan pada sekitar abad 8 hingga 11 Masehi, sehingga dengan keadaan ini berhubungan dengan isi prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh kerajaan mayoritas berhubungan dengan masalah-masalah tentang perubahan status tanah suatu wilayah. Permasalahan tersebut antara lain adanya penetapan suatu daerah berstatus sĩma (Maziyah, 2010). Pada Prasasti Muncan tahun 866 Ç yang berisi adanya bangunan suci untuk pemujaan kepada Dewa Brahma di Gunung Bromo. Maka dari itu, adanya beberapa prasasti yang terkait dengan Candi Srigading dapat disimpulkan bahwa candi ini telah berdiri sangat lama dan perlu dilestarikan karena tidak mudah menemukan dan mengekskavasi candi yang sudah
46 berdiri sangat lama apalagi dengan kondisi yang masih bagus walaupun ada beberapa bagian yang hilang. ● Bahan dasar pembangunan candi Srigading adalah batu bata masa Mataram Kuno Awalnya, Candi ini berupa gundukan atau biasa disebut gumuk oleh masyarakat karena tanahnya membukit sekitar 2,5 meter. Ditemukan tatanan berupa batu bata dan relung yang bercampur antara batu bata dan andesit dengan struktur lebih keras, dikarenakan candi ini berbahan dasar batu bata menjadi sulit diidentifikasi sebab memiliki tingkat kekuatan dan keawetan yang rendah sehingga mudah mengalami pelapukan ataupun kehancuran. Di Pulau Jawa, candi yang terbuat dari batu bata Mataram kuno sangat jarang apalagi yang masih dapat dilestarikan karena kebanyakan telah rusak mengalami pelapukan yang disebabkan oleh terlalu lamanya candi berdiri, namun masih ditemukan beberapa candi yang menggunakan bahan dasar batu bata yang masih bisa diidentifikasi dan dilestarikan seperti Candi Srigading. Latar belakang penggunaan batu bata menjadi bahan dasar candi diantaranya, 1. Di dalam Matsyapurana (kitab suci Agama Hindu) Menyatakan bahwa konsep bahan bangunan suci antara lain, kayu, batu, dan bata. 2. Brhat Samhita Menjelaskan tentang variasi bahan-bahan yang digunakan untuk beberapa tipe bangunan suci, yaitu Bangunan Mandira terbuat dari batu, Vasbhavan berbahan dasar bata yang dibakar, Samantha memiliki bahan dari bata yang dibakar, dan Nandhana dari bambu, serta Silpivikapita terbuat dari kain.
47 3. Konsep dasar religi “Bumi merupakan unsur ibu” Bata berbahan dasar dari tanah yang bisa juga disebut dengan bumi, bumi merupakan unsur “ibu” dalam ajaran ini. Konsep dasar ajaran ini adalah Dewi yang disatukan dengan bahan dasar bata, yaitu bumi(tanah), dan dewi yang dianggap didalamnya adalah Puteri dari Angiras yang tak lain adalah Prajapati (dewa pencipta).(Suprapta & Triharyantoro, 2022) Bahan dasar pembangunan candi dapat dipengaruhi beberapa faktor termasuk letak geografis dan persediaan bahan yang ada. Candi yang terbangun dari andesit biasanya dekat dengan daerah pegunungan, berbeda dengan candi yang dibangun jauh dari pegunungan biasanya berbahan dasar batu bata karena batu andesit jarang tersedia di daerah tersebut. Tidak hanya batu bata dan andesit, adapun bahan material lain yang menjadi bahan dasar pembuatan candi, antara lain: a. Batu Andesit, batu yang ditata membentuk kotak-kotak saling mengunci berasal dari bekuan vulkanik b. Kayu, beberapa candi terbuat dari bahan kayu seperti candi kayu serupa dengan pura Bali. c. Stuko, beton yang berasal dari tumbukan batu dan pasir. Ditemukan di candi Batu Jaya. d. Bata Merah, tanah merah yang dicetak dikeringkan dan dibakar. e. Bajralepa, sejenis plester putih kekuningan dari bahan lepa pelapis dinding candi. (otentisitas arsitektur indonesia) ● Sumuran berbentuk L (gambar)
48 Sumuran adalah sebuah lubang yang memiliki konsep penghubung antara energi dunia bawah dengan energi manusia di bumi(yang masih hidup). Mayoritas sumuran candi berbentuk persegi, maka dari itu yang menjadi ketertarikan tersendiri dari candi Srigading adalah sumurannya yang berbentuk L. ● Candi ini termasuk bangunan yang selesai Struktur bangunan dan ukiran yang telah tuntas dari bagian kepala hingga kaki adalah candi yang dianggap selesai karena dalam konsep pembangunan candi dibangun dari bawah(kaki) ke bagian atas(kepala) sedangkan konsep pengukiran candi yaitu dari bagian bawah(kaki) ke bagian atas (kepala), dengan adanya pernyataan ini maka dapat disimpulkan bahwa Candi Srigading termasuk dalam candi yang selesai sebab struktur dan pengukiran candi telah diselesaikan berbeda dengan Candi Singhasari yang pengukiran bagian bawah(kaki) tidak tuntas maka candi ini termasuk candi yang belum selesai. 2. POTENSI WISATA Sebagai Cagar Budaya dengan tingkat keunikan yang tinggi Candi Srigading memiliki potensi wisata bagi masyarakat luas. Berbagai artefak yang telah ditemukan menjadi nilai tambah sebagai ketertarikan tersendiri dengan nilai historis tak terhingga. Pada hal lainnya banyak keilmuan yang berkaitan dengan adanya Candi Srigading seperti contohnya struktur pembangunan candi hingga kondisi geografis di sekitarnya. Candi Srigading ini juga sebagai peninggalan sejarah yang tak boleh dilupakan dan harus dijaga, selain itu Candi Srigading ini juga dapat menambah ilmu pengetahuan untuk menjadi objek penelitian bagi para sejarawan maupun masyarakat yang tertarik dengan nilai historis situs tersebut. Lokasi candi yang
49 termasuk masih asri dan luas tanah yang memungkinkan apabila dilakukan perluasan lahan menjadi sebuah kesempatan yang besar apabila dikembangkan menjadi lokasi wisata dengan konsep yang menarik. Dikelilingi oleh perkebunan tebu yang cukup luas dapat dimanfaatkan menjadi lokasi wisata dengan sensasi yang berbeda seperti contohnya, berwisata di dampingi mengkonsumsi tebu secara langsung dari kebunnya. Dalam keilmuan culture research management potensi dari Candi Srigading dapat dianalisis untuk bisa memberikan banyak keuntungan bagi berbagai pihak termasuk pengelolaan serta pemeliharaan cagar budaya ini. Lokasi situs ini yang berada di Desa Srigading dengan berbagai komoditasnya dapat di kolaborasikan untuk memperkuat promosi sebagai upaya menarik wisatawan. Pengelolaan secara terstruktur pada Candi Srigading akan memberikan dampak bagi ekonomi desa maupun warga setempat dengan memamerkan keunikan dari cagar budaya ini serta hasil temuan yang ada, salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan pengelolaan perizinan dokumentasi bagi wisatawan. Potensi besar yang dimiliki oleh Candi Srigading tentu akan sulit dikenali oleh masyarakat luas mengingat lokasinya berada di dalam sebuah desa serta dokumentasi maupun informasi yang tersebar masih kurang. Hal ini tentu diperlukan perhatian lebih oleh dinas terkait akan pengelolaan cagar budaya yang memiliki nilai kebudayaan tinggi ini, tetapi juga diperlukan peran berbagai elemen untuk mendukung upaya ini. Langkah awal yang dapat dilakukan dengan mempromosikan secara masif baik melalui media massa maupun media sosial terkait keberadaan Candi Srigading dengan penjabaran keunikannya, diharapkan upaya tersebut dapat membantu pada di era digital saat ini.
50 Pemugaran candi tentunya berdampak pada beberapa aspek, diantaranya: 1. Aspek ekonomi, jika pemugaran candi atau peninggalan sejarah berhasil dalam proses pemugaran maka akan berpengaruh pada perekonomian masyarakat, sebab dapat menjadi objek wisata baru dan tentunya menambah pendapatan masyarakat setempat. 2. Aspek Sosial, berkaitan dengan aspek ekonomi, jika peninggalan sejarah digunakan untuk objek wisata maka tidak hanya dapat menambah pendapatan, namun juga dapat membranding wilayah tersebut agar lebih dikenal masyarakat luas. 3. Aspek Ilmu Pengetahuan Nilai penting pada aspek ini dapat dirinci lebih lanjut menjadi nilai substansif, antropologis, ilmu sosial dan arsitektural. Sumber daya arkeologi mempunyai nilai substansif apabila mampu menjawab masalah yang berkaitan dengan tujuan deskripsi dan eksplanasi peristiwa atau proses yang terjadi di masa lampau. Aspek ini berkaitan erat dengan pengkajian secara arkeologis. Dengan adanya pemugaran candi, masyarakat luas akan menambah pengetahuan tetang peninggalan sejarah.(Yulanda et al., 2023) 3. PENTINGNYA MENJAGA CAGAR BUDAYA Pengelolaan cagar budaya tidak hanya didasarkan pada regulasi, namun pemerintah daerah berhak membuat regulasi khusus sebagai aturan dalam pengelolaan cagar budaya. Menurut UU No.11 Tahun 2010 tentang perlindungan Cagar Budaya terdiri dari penyelamatan, pengamanan, zonasi, pemeliharaan, dan pemugaran. Urusan pemerintahan dibagi atas urusan pemerintah pusat dan urusan pemerintah daerah. UU No.32 Tahun 2004 tentang
51 Pemerintahan Daerah menjelaskan mengenai urusan pemerintah pusat meliputi politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, serta urusan agama. Pemerintah daerah menyelenggarakan urusan di luar daripada urusan pemerintah pusat tersebut. Urusan Pemerintahan daerah terdiri dari urusan pilihan dan urusan wajib. Urusan pilihan meliputi: kelautan dan perikanan, pertanian, kehutanan, energi dan sumber daya mineral, pariwisata, industri, perdagangan, serta urusan ketransmigrasian. Sedangkan, urusan wajib meliputi: Urusan pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pekerjaan umum, penataan ruang, perencanaan pembangunan, perumahan, kepemudaan dan olahraga, penanaman modal, koperasi dan usaha kecil maupun menengah, kependudukan dan catatan sipil, ketenagakerjaan, ketahanan pangan, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, keluarga berencana dan keluarga sejahtera, perhubungan, komunikasi dan informatika, pertanahan, kesatuan bangsa dan politik dalam negeri, otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian, pemberdayaan masyarakat dan desa,sosial, kebudayaan, statistik, kearsipan, serta urusan perpustakaan. Salah satu dari urusan wajib tersebut merupakan urusan kebudayaan, dimana pengelolaan dan pelestarian cagar budaya harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Sehingga, pengelolaan dan pelestarian cagar budaya pada Situs Majapahit Trowulan merupakan urusan wajib Pemerintah Kabupaten Mojokerto. UU No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya menjelaskan bahwa cagar budaya merupakan warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda, Bangunan, Struktur, Situs, dan Kawasan baik di darat maupun di air. Oleh karena itu, Cagar Budaya perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan melalui proses penetapan. Kemudian, dijelaskan bahwa
52 pengelolaan cagar budaya merupakan upaya terpadu untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan cagar budaya melalui kebijakan pengaturan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan untuk kesejahteraan rakyat. Sedangkan, pelestarian cagar budaya adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan dan nilai dari cagar budaya dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya.Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memelihara sebuah situs cagar budaya yaitu dengan menempatkan juru pelihara pada lokasi situs. Seorang juru pelihara memiliki tugas untuk melakukan pemeliharaan, hal tersebut seperti contohnya menjaga kebersihan dimana jumlah personilnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dengan pertimbangan salah satunya luas wilayah situs (Khalid Rosyadi, Mochamad Rozikin, 2017). Undang-Undang No.11 Tahun 2010 tentang Benda Cagar Budaya. Menurut pasal 5 undang-undang tersebut menyatakan bahwa benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria: a. berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih; b. mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun. c. memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan d. memiliki nilai budaya untuk menguatkan kepribadian bangsa. Adapun dalam pasal 6 dinyatakan bahwa Benda Cagar Budaya dapat:
53 a. berupa benda alam dan/atau benda buatan manusia yang dimanfaatkan oleh manusia, serta sisa-sisa biota yang dapat dihubungkan dengan kegiatan manusia dan/atau dapat dihubungkan dengan sejarah manusia; b. bersifat bergerak atau tidak bergerak; dan c. yaitu kesatuan atau kelompok. Benda cagar budaya sifatnya unik(unique), langka, rapuh, tidak dapat diperbaharui(nonrenewable), tidak bisa digantikan oleh teknologi dan bahan yang sama, serta penting sebab merupakan bukti-bukti aktivitas manusia di masa lalu.(Adriyani et al., 2023) Seorang arkeolog, Hariani Santiko menyatakan bahwa masyarakat umum masih kurang mengerti dan menghargai makna penting yang terkandung dalam cagar budaya tersebut. Dikarenakan minimnya sosialisasi terkait benda cagar budaya dan makna pentingnya. Masyarakat sekitar juga dapat menjadi berjarak dengan situs atau benda cagar budaya tersebut karena perbedaan zaman dan budaya. Misalnya peninggalan, baik berupa situs maupun cagar budaya di Jawa salah satunya candi.(Wibowo, 2014)
54 Kesimpulan Candi adalah bangunan suci tempat pemujaan dewa dan candi juga dianggap sebagai replika gunung mahameru di india yang melambangkan alam semesta, seperti yang tertulis dalam buku Ragam Hias candi-candi di jawa. Adapun beberapa fungsi candi yaitu sebagai tempat pemujaan, tempat penyimpanan, tempat pendharmaan, pertapaan, dan pentirtaan. Candi Hindu dan Candi Buddha memiliki perbedaan mulai dari wujud, sosok, dan konsep desain. Namun dari segi fungsi memiliki kesamaan yakni sebagai tempat penyembahan kepada Dewa. Bagian pokok dari candi ada 3, diantaranya Kepala (Bhurloka), Badan (Bhuvarloka), dan kaki (Svarloka). Yang banyak ditemukan di Jawa adalah candi Hindu dan Buddha, salah satunya yang baru saja ditemukan di Desa Srigading, Kecamatan Lawang Kabupaten Malang dan diberi nama candi Srigading. Awalnya, candi ini disebut situs Gumuk sebab ditemukan berupa gundukan tanah setinggi 2,5 meter. Setelah ditemukannya candi ini, banyak arkeologi dan beberapa pihak melakukan ekskavasi untuk mengetahui lebih lanjut tentang candi ini. Tidak hanya itu, candi tersebut dikaitkan dengan berbagai penemuan prasasti seperti Prasasti Linggasuntan, Prasasti Muncan, dan Prasasti Gulung-gulung. Jenis dari candi Srigading termasuk dalam candi Hindu, seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa candi yang menghadap ke barat merupakan candi Hindu dan terdapat Linggayoni (melambangkan dewa Siwa) yang menandakan candi Hindu. Dengan ditemukannya candi baru yang merupakan cagar budaya berupa situs, menjadikan bertambahnya antusias dari berbagai pihak seperti museum, arkeolog, dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur serta Dinas Pariwisata dan kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Malang
55 untuk melakukan ekskavasi. Namun, sayangnya dari masyarakat sendiri kurang menyadari potensi yang didapatkan dengan ditemukannya candi tersebut. Maka dari itu, perlu adanya pengetahuan dan wawasan untuk masyarakat terkait pentingnya menjaga dan melestarikan cagar budaya. Potensi yang dihasilkan akan maksimal jika masyarakat sekitar pun mampu menjaga, melestarikan, dan memanfaatkan potensi yang ada. Diantara beberapa potensi yang dapat dihasilkan yaitu potensi ekonomi, ilmu pengetahuan, dan pendidikan. Kajian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan untuk masyarakat umum khususnya masyarakat sekitar agar lebih antusias dalam menjaga dan melestarikan cagar budaya berupa Candi Srigading.
56 Daftar Pustaka Rahadhian P. Herwindo, M. A. T. (2021). Relasi Tipo-Morfologi Candi Hindu Dan Buddha Pada Era Mataram Kuno. Riset Arsitektur (RISA), 5(02), 102–116. https://doi.org/10.26593/.v5i02.4727.102-116 Adriyani, R., Erna, E., & Indrianto, R. (2023). Pengembangan Cagar Budaya Dan Pariwisata Berbasis Digital Heritage. Exchall: Economic Challenge, 5(1), 12–24. https://jurnal.publikasiuntagcirebon.ac.id/index.php/exchall/article/view/348 Aji, A. W. (2018). Candi-candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta. 1–14. Ashari, C. Ramelan, Sudjana. Maulana, R. Djafar, Hasan. Santiko, Hariyani. Sedyawati, E. (2013). candi indonesia seri jawa. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Harianti, M. P., Pinasti, V. I. S., & Sudrajat, S. P. (2007). Persepsi Dan Partisipasi Masyarakat Sekitar Candi Terhadap Candi Dan Upaya Pelestariannya. Staff.Uny.Ac.Id, 01. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/dra-hariantimpd/persepsi-dan-partisipasi.pdf Harto, D. B. (2005). TATA CARA PENDIRIAN CANDI: PERSPEKTIF NEGARAKERTAGAMA. Haryono, T. (1993). Kumpulan Artefak Emas Dari Situs Wonoboyo. Berkala Arkeologi, 13(3), 27–36. https://doi.org/10.30883/jba.v13i3.614 Hidayat, T. (2009). Candi Miri Gambar: Tinjauan Arsitektur Percandian Majapahit Abad Ke 14-15 M. Irawan, A., & Idris, M. (2017). SENI PERHIASAN DALAM KEBUDAYAAN MATARAM KUNO SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH (STUDI IKONOGRAFI RELIEF CANDI BOROBUDUR). Istanto, R. (2018). ESTETIKA HINDU PADA PERWUJUDAN ORNAMEN CANDI DI JAWA. Istari, R. (2015). Prasasti Pendek Dari Candi Sanggar Dan Kemungkinan Penghormatan Terhadap Dewa Brahma. Berkala Arkeologi, 35(1), 51– 62. https://doi.org/10.30883/jba.v35i1.38 Istari, T. M. R. (2015). Ragam Hias Candi-Candi di Jawa: Motif dan Maknanya. https://repositori.kemdikbud.go.id/4299/1/BukuRagamHiasCandi2015.pdf Khalid Rosyadi, Mochamad Rozikin, T. (2017). ANALISIS PENGELOLAAN DAN PELESTARIAN CAGAR BUDAYA SEBAGAI WUJUD PENYELENGGARAAN URUSAN WAJIB PEMERINTAHAN DAERAH (Studi pada Pengelolaan dan Pelestarian Situs Majapahit Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto) Khalid. Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 2, No. 5, Hal. 830-836, 2(5), 1–7. https://media.neliti.com/media/publications/79534-ID-analisis-
57 pengelolaan-dan-pelestarian-cag.pdf Maziyah, S. (2010). DAERAH OTONOM PADA MASA KERAJAAN MATARAM KUNA : TINJAUAN BERDASAR KEDUDUKAN. 20(2), 128. Permadi, G. S. (2015). PEMANFAATAN CANDI SINGHASARI SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH. Pradita, D., Putra, A., & Wardhana, S. (2021). Menundukkan Kaum Pemburu : Kuasa Pu Sindok atas Perburuan Burung dan Binatang Abad X CONTROLLING THE HUNTERS : THE POWER OF PU SINDOK FOR BIRDS. 22, 25–42. Purnawan, H. (2019). Relasi Manusia Dengan Binatang Dalam Theologi Hindu. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/45223/1 /HENDRI PURNAWAN-FUF.pdf Rahmawati, I. Y. (2019). Aktualisasi Media Komik Candi Purbakala Sebagai Bahan Literasi Pariwisata. Seminar Nasional Pendidikan Dan …, 433– 441. http://seminar.umpo.ac.id/index.php/SNPP2019/article/view/358 Suantika, I. W. (2012). PENGELOLAAN SUMBERDAYA ARKEOLOGI. Forum Arkeologi, 25. Suprapta, B., & Triharyantoro, E. (2022). Museum Sinhasari. 195. Supriyanto, A. (2011). MENGENAL SEJARAH PANDE BESI TRADISIONAL. Ornamen, 8. Susi. (2021). KERAUHAN: antara pertunjukan seni sacral dan profan (Kajian Teologi Hindu). 2, 100. Titasari, P. (2017). LATAR BELAKANG KONSEP BANGUNAN CANDI WRINGINBRANJANG DI KABUPATEN BLITAR, JAWA TIMUR. Wibowo, A. B. (2014). Strategi Pelestarian Benda/Situs Cagar Budaya Berbasis Masyarakat. Jurnal Konservasi Cagar Budaya, 8(1), 58–71. https://doi.org/10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v8i1.125 Wirasanti, N. (2016). STRUKTUR DAN SISTEM TANDA RUANG SAKRAL CANDI (Kasus Candi-Candi Masa Mataram Kuna Abad IX Masehi). Prosiding Prasasti, 562–567. https://jurnal.uns.ac.id/prosidingprasasti/article/view/1608 Yulanda, M., Sejarah, D., Sosial, F. I., & Padang, U. N. (2023). DAN CANDI PULAU SAWAH DI KABUPATEN DHARMASRAYA ( 1995-. 5(1), 32–45.
58 enemuan Cagar Budaya berupa Candi Srigading yang dulunya berupa gundukan tanah atau disebut Gumuk dengan berbagai kaunikannya memberikan pertanda bahwa wilayah malang memiliki nilai historis tinggi. Berbagai temuan berupa artefak dan keterkaitan akan beberapa prasasti di sekitar wilayah candi yang didukung oleh praduga beberapa pihak menjadikan alasan pentingnya Candi Srigading ini. Proses Ekskavasi yang masih memungkinkan untuk dilakukan pada kawasan cagar budaya ini menjadi sebuah kesempatan untuk mengungkap nilai-nilai yang masih terpendam di dalamnya. Sebuah perkiraan dimana situs ini berasal dari masa Mataram Kuno yaitu pada abad ke 10 memiliki sebuah ciri khas tersendiri yang dapat dipergunakan sebagai pendukung pada bidang keilmuan baik berupa pengenalan sejarah maupun proses penelitian. Cagar budaya dengan nilai historis yang tak terhingga selayaknya menjadi perhatian lebih oleh berbagai elemen di sekitarnya. Pelestaraian cagar budaya dapat dilakukan tidak hanya pada objek tersebut namun dapat meliputi aspek-aspek pendukung lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan hadirnya karya tulis tentang Candi Srigading ini dapat digunakan sebagai media untuk membantu dalam upaya pelestarian cagar budaya, dalam konteks lebih spesifik diperuntukkan bagi Candi Srigading. Intisari yang terkandung dalam buku ini memberikan informasi bahwa terdapat sebuah situs cagar budaya yang memiliki nilai kebudayaan tinggi dengan faktor pendukung berupa penjabaran berbagai potensi yang dimiliki, dimana hal itu bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat luas tentang pentingnya menjaga cagar budaya. P