The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Anderiasta Tarigan, 2023-04-17 22:58:20

Peta Jalan Pendidikan

Draft

Keywords: Peta Jalan

P E M E R I N T A H K A B U P A T E N K A R O D i n a s P e n d i d i k a n J a l a n V e t e r a n N o . 5 4 K a b a n j a h e KAJIAN AKADEMIK PETA JALAN PENDIDIKAN KABUPATEN KARO 2023-2045 Jalan baru Karo Maju untuk INDONESIA MAJU


ii DAFTAR ISI Jalan Keempat Agar Pendidikan Tak Jalan Di Tempat Sebuah Pengantar PERTAMA : KONTEKS ZAMAN TUJUH REVOLUSI MENGUBAH IMAJINASI TENTANG PENDIDIKAN Disrupsi dan Ko-eksistensi Revolusi Sains : Thinking ke Intuiting Revolusi Teknologi : Pemburu Pengumpul ke Homo Deus Revolusi Teologi : Politeisme ke Humanisme Revolusi Politik : Diktator Berhati Mulia ke Diktator Tanpa Hati Revolusi Ekonomi : Owning Economy ke Sharing Economy Revolusi Sosial : Paguyuban ke Kerumunan Revolusi Peradaban : Nomaden Fisikal ke Nomaden Digital KEDUA : KONSEPSI DAN REGULASI JALAN KEEMPAT Pada Mulanya Sebuah Kearifan Lokal Kearifan Lokal Menjadi Body of Knowledge Kisah-kisah Lapangan Kisah-kisah Menjadi Narasi Besar KETIGA : AKTUALISASI JALAN KEEMPAT MEMBONGKAR SELUBUNG DAN MEMBINGKAI ULANG PENDIDIKAN Kerangka Konsep 5 I Imajinasi Ideologi Institusi Interaksi Improvisasi Kerangka Kerja 8 S Standar Kompetensi Lulusan Standar Proses Standar Isi Standar Penilaian Standar Sarana Prasarana Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan Standar Pembiyaan Standar Pengelolaan Kerangka Kinerja 3 K Kompetensi Konseptual-Teoritis Kompetensi Empiris-Historis Kompetensi Yuridis-Normatif KEEMPAT : KONTEMPLASI AKHIR Pendidikan 5.0; Dari Homo Sacer ke Homo Deus ? KEPUSTAKAAN


iii JALAN KEEMPAT AGAR PENDIDIKAN TAK JALAN DI TEMPAT Sebuah Pengantar Pendidikan merupakan jalan bagi kehidupan, peradaban, kemajuan bahkan kesempurnaan kemanusiaan. Sebagaimana layaknya jalan maka semua berawal dari titik berangkat, melalui berbagai titik temu, kadang berada di persimpangan namun akhirnya semua berlabuh pada titik tujuan. Demikianlah perjalananan pendidikan kita. Semua bermula dari niat mulia mencerdaskan kehidupan bangsa untuk sebuah ikhtiar berlabuh di dermaga kebahagian bersama. Dalam rentang masa yang cukup panjang pendidikan kita telah melalui setidaknya tiga jalan, mulai dari jalan religi nusantara di zaman raja-raja, dipengaruhi untuk berbelok menapaki jalan kolonial di zaman penjajahan, dan kini sangat percaya diri menempuh jalan industrial.1 Jalan religi nusantara menghasilkan berbagai pujangga dan karya sastra namun ekosistem pendidikan hanya berkenan bagi kalangan bangsawan dan melalui ritual yang “menyeramkan”. Ketika menapaki jalan kolonial, pendidikan pun berubah menjadi sarana mendidik tentara, para jawara dan beberapa menjadi pekerja kasar seadanya setidaknya yang mengabdi kepada penguasa melalui ritual yang “menyakitkan”. Kini melalui jalan industrial, pendidikan pun menjadi komoditi yang dijual di pasaran untuk menghasilkan tenaga kerja dan ritual yang dilalui cenderung “menyeragamkan”. Itulah gambaran perjalanan pendidikan yang telah dilalui dan mengantarkan kita ke simpang jalan. Simpang jalan itu memberikan pilihan, keberanian mengambil keputusan, kesempatan menempuh jalan baru atau berbalik arah menelusuri kembali jalan-jalan memori. Namun konteks kehidupan saat ini tentunya tidaklah sama dengan zaman raja-raja, zaman kolonial, walaupun masih kental nuansa industrial. Kini kita hidup di zaman yang memberi pilihan menghadirkan kelimpahan atau justru kepunahan ras manusia. Ketika kita memilih kelimpahan maka pendidikan membutuhkan jalan baru untuk memanusiakan manusia, memerdekakan jiwa, mengasah kepekaan rasa, mengelola harapan akan kebahagiaan dan tindakan nyata untuk keutuhan semesta. Sebaliknya ketika kita memilih jalan menuju kepunahan, biarkanlah pendidikan jalan sendiri dan kitapun berdiam diri sembari menunggu generasi terakhir Homo Sapiens bertarung tanpa nyali menghadapi Homo Deus2 yang penuh percaya diri. Pilihan sulit memang, namun itulah pilihan yang tersedia bagi kita untuk memaknai kembali kemanusiaan kita, memenuhi panggilan jiwa kita sebagai mahkluk ciptaan yang akan tiba saatnya kembali kepada Sang Pencipta. Menjadi manusia memang sarat makna, menjadi manusia kodratnya mencari makna dan akhirnya makna jugalah yang memisahkan raga dengan sukma. Pendidikan adalah upaya memaknai kemanusiaan kita sehingga raga, sukma, rasa dan tindakan nyata menjadi satu dengan semesta. Pandangan inilah mendasari Ki Hadjar Dewantara sampai pada pemahaman pendidikan budi pekerti sebagai ajaran taman siswa yang menyatukan keselarasan olah pikir, olah raga, olah hati maupun 1 Tarigan, Anderiasta, 2022 : Jalan Keempat Agar Pendidikan Tak Jalan Di Tempat, Bahan Diskusi dan Paparan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karo, Kabanjahe; baca juga uraian dalam Lie, Anita, 2015 : Pendidikan : Antara Kebijakan dan Praksis, Univ. Katolik Widya Mandala Press, Surabaya. 2Harari, Yuval Noah, 2015 : Homo Deus, A Brief History of Tomorrow, Harvill Secker, London.


iv olah rasa dan karsa, menjelma dalam perbuatan nyata. Hal senada digaungkan kembali oleh Yudi Latif sebagai pendidikan yang berkebudayaan (2020) melalui jelajah histori, pendalaman konsepsi dan aktualisasi nilai-nilai pendidikan asali pribumi yang ditautkan dengan tantangan masa kini. Tak berlebihan kiranya kearifan bangsa ini disebut Jalan Keempat sekaligus menandai kelahiran kembali (renaissance) sistem pemikiran dan fondasi peradaban nusantara yang memadukan Empat komponen penyangga keutuhan manusia (pikiran, raga, hati dan rasa/ karsa) dan sekaligus alternatif bagi tiga jalan yang telah dilalui sebelumnya (religi-nusantara, kolonial, industrial). Inilah Jalan Baru untuk Indonesia Maju sekaligus JALAN BARU untuk KARO MAJU melahirkan generasi bertalenta global namun tetap memiliki akar kearifan lokal. Mengapa dibutuhkan jalan baru? Pendidikan telah menghasilkan banyak cerita, mulai dari nestapa sampai pada berbagai dusta yang selalu kita balut dengan sederet partitur acapella seakan semua baik-baik saja padahal di dalamnya gelap gulita seakan tanpa makna. Meminjam kalimat Pratikno (2009)3 pada pengantar pidato pengukuhannya sebagai guru besar UGM, saat ini pendidikan pun“terlalu banyak topik penting untuk diangkat”. Kalimat tersebut merupakan manifestasi pergumulan beliau dalam perjalanan karirnya sebagai peneliti, pendidik dan aktivis di bidang ilmu politik dan pemerintahan. Demikian pula bagi penulis sebagai seorang praktisi, pembelajar dan pengamat pendidikan yang saat ini diberi mandat sebagai Kepala Dinas Pendidikan, kini tibalah saatnya ”banyak cerita yang mestinya diperdengarkan”. Berlaksa peristiwa mewarnai jagad semesta pendidikan kita, namun ada satu cerita yang meneror syaraf kemanusiaan kita bahwa pendidikan seringkali mempertontonkan antara 4 (empat) pilar dasar kemanusiaan kita yakni “nalar, nurani, ragawi dan energi rohani tak seiring jalan”. Ketika “nalar, nurani, ragawi dan energi rohani” tak seiring jalan, para pelaku di dalam dunia pendidikan selalu mencari titik aman dan mencari jalan pada simpang tiga kemungkinan. Pertama, pelaku pendidikan (guru, praktisi pendidikan, kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, pemerintah daerah) memilih melakukan pemisahan nalar dengan nurani; ragawi dengan rohani. Pilihan ini dijustifikasi dengan filsafat moral utilitarian atau etika utilitarianisme4 yang berpandangan bahwa kebenaran dinilai dari manfaat yang dapat diperoleh untuk sebanyak mungkin orang. Pembenaran demi pembenaran di tengah peluruhan keutuhan kemanusiaan dibalut dengan ungkapan ”sebenarnya sih hati tak terima tetapi apa boleh buat sistemnya sudah seperti ini”. Semua pihak sepertinya sepakat ”teraniaya” namun seiring waktu justru menjadi ”terbiasa”. Itulah kita, mengalah pada sistem yang tuna-budaya tapi menikmati hasilnya karena ada “laba” seakan manusia hidup dari roti saja. Kedua, pelaku pendidikan memilih melakukan penguatan nalar dan ragawi sembari mengerdilkan rohani dan nurani. Kelompok ini mencari pembenaran dengan berpaling pada etika hedonisme5 melalui prinsip ”kesempatan tidak datang dua kali, selagi ada kesempatan nikmatilah, dan biarlah air bah datang asal setelah saya”. Berbekal prinsip egoisme-hedonistik, semua mal-praktek dalam dunia pendidikan 3 Pratikno, 2009 : Rekonsilidasi Reformasi Indonesia : Kontribusi Studi Politik dan Pemerintahan Dalam Menopang Demokrasi dan Pemerintahan Efektif, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada FISIP UGM, Yogyakarta. 4 Suseno, Franz Magnis, 1989 : Etika, Gramedia, Jakarta. 5 ibid


v dianggap lumrah. Bahkan di saat-saat tertentu apabila ada orang yang berupaya mencegah dan meperbaiki keadaan dianggap sebagai orang dungu yang tidak bijak bahkan dicap merusak tatanan. Ketiga, pelaku pendidikan memilih melakukan penguatan dan penyelarasan nalar, ragawi sembari mengasah kepekaan rohani dan nurani. Kelompok ini berangkat dari etika teonom6 yang menimbang baik buruknya suatu tindakan apabila ia sesuai dengan kehendak Tuhan. Bahkan dengan sangat sadar mengamini bahwa kelak semua pertanggungjawaban akan dinilai oleh Sang Khalik. Dalam kelompok ini juga termasuk kalangan penganjur filsafat moral Imanuel Kant atau etika deontologis7, yang berpandangan lebih tegas bahwa kewajiban moral haruslah dilaksanakan demi kewajiban itu sendiri, bukan karena ingin memperoleh imbalan, bukan pula karena alasan diperintahkan oleh Tuhan. Perdebatan etis seputar praktika dunia pendidikan sebagaimana dinarasikan di atas, ternyata berlangsung juga di tataran intelektual. Di tataran intelektual juga berkembang polarisasi aliran pemikiran antara ilmu-ilmu sosial, ilmu psikologi, ilmu humaniora, paedagogi, sains dan sastra sehingga perspektif terhadap pendidikan lebih cenderung dimutilasi daripada diintegrasi. Semua pandangan merasa benar sendiri sehingga semakin sulit untuk saling menyapa8. Para ahli, praktisi maupun peneliti pendidikan sibuk membangun kerajaannya sendiri, ditandai dengan semakin tajamnya spesialisasi ilmu, maraknya berbagai asosiasi maupun klaim keberhasilan yang sebenarnya pemujaan diri, seakan taman sari ilmu-ilmu tak mungkin diharmonisasi. Bahkan ada semacam joke antara kalangan ilmuwan pendidikan, pejabat di sektor pendidikan, praktisi pendidikan dengan egoismenya masing-masing lebih peduli pada “kuman di seberang lautan” daripada “balok di depan mata”. Itulah potret buram pendidikan kita, padahal pada saat yang bersamaan, kini sudah mekar dan bersemi upaya-upaya serius melakukan integrasi disiplin ilmu baik pada level global sekaligus lokal untuk mempertahankan keutuhan ciptaan dan kelangsung hidup ras manusia9. Apalagi ditelaah lebih mendalam, watak dasar pendidikan (baik sebagai filsafat, ilmu, seni bahkan teknologi) sebenarnya adalah ilmu yang interdisipliner10 walaupun dapat juga dikaji melalui disiplin tersendiri. Watak ilmu pendidikan (education science) yang interdisipliner namun memilki core discipline tersendiri sebenarnya sudah lama diingatkan oleh Farahany (2005)11 bahwa di masa kini ilmuwan haruslah orang yang “know a lot about something and something about a lot of things – sang maestro”. 6 ibid 7 Ibid. Penjelasan yang sebangun dapat dibaca dalam Suseno, Franz Magnis, 1986 : Kuasa dan Moral, Gramedia, Jakarta. 8 Uraian tentang kecenderungan terpolarisasinya ilmu sosial dapat dibaca lebih lanjut dalam Ardhana, I Ketut, 2003 : Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial : Peranannya di Indonesia Masa Kini, LIPI Press, Jakarta. Lihat juga Surbakti, Ramlan, 1996 : Perkembangan Mutakhir Ilmu Politik, dalam Budiardjo, Miriam dan Tri Nuke Pudjiastuti, 1996 : Teori-teori Politik Dewasa Ini, PT.Raja Grafinso Persada, Jakarta. 9 Sharma, Chanchal Kumar, 2008 : Emerging Dimensions of Decentralization Debate in the Age of Glocalization, available online at : http://mpra.ub.uni-muenchen.de/6734/ accessed 20 August 2012. 10 Smullin, Louis D., 2003 : Education for Life or life-long learning education ?, MIT, Cambridge, USA. 11Alireza Jalali Farahany (2005) The Shifting Paradigm: Who is the Intelectual of the 21st century, International Education Journal, Vol.6, No.4, p.512-515.


vi Merujuk pandangan Farahany (2005) pergeseran paradigm ilmu dimulai dari “know something about everything – sang generalis”, bergerak menjadi “know everything about something - sang spesialis” dan kini bergerak menuju “know a lot about something and something about a lot of things – sang maestro”. Sebagai misal, kehadiran para generalis diwakili filsuf di zamannya, seperti Socrates, Plato, Aristoteles. Para generalis sekaligus filosof ini mewariskan kepada kita abstraksi tentang semesta, kodrat manusia bahkan moral dan etika. Demikian juga filsuf sesudahnya mengenalkan kita dengan filsafat matematika, filsafat ilmu alam yang memberi fondasi perkembangan ilmu-ilmu alam, ilmu sosial, ilmu-ilmu humaniora maupun teknologi yang menjadi hilirnya. Paruh akhir abad ke-18 menandai dimulainya era industrialisasi dengan produksi massal yang melahirkan para spesialis sesuai kebutuhan para industrialis. Ada yang menyebut zaman ini sebagai revolusi industri. Bahkan kini industri diyakini telah mengalami revolusi keempat. Istilah yang digunakan Klaus Schwab sebagai sang penggagas cukup ambisius dengan menyebut 4IR (fourth industrial revolution) atau IR 4.0 (industrial revolution 4.0) – setidaknya PricewaterhouseCooper (2016) lebih suka menggunakan istilah ini. Singkat kata, dengan penggunaan istilah 4IR atau IR 4.0 seakan menegaskan bahwa disrupsi teknologi mengehndaki pendidikan tidak bisa lagi dijalankan dengan format masyarakat nomaden, agraris atau industri semata melainkan harus segera menyesuaikan diri dengan masyarakat informasi/digital. Merujuk pandangan Schwab (2016) revolusi teknologi bermula dari ditinggalkannya peradaban nomaden oleh nenek moyang kita sang pemburu pengumpul dan beralih ke peradaban agraria/pertanian yang cenderung menetap sekitar 10.000 tahun silam. Revolusi pertanian berhasil mendomestifikasi (menjinakkan) hewan untuk keperluan manusia baik dalam produksi, transportasi dan komunikasi. Melalui bantuan hewan kita dapat melipatgandakan hasil pertanian, menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi dan mampu menyampaikan pesan perang atau perdamaian. Masih menurut Schwab (2016), apabila cara kerja dan perkakas yang digunakan dapat dijadikan parameter dalam menakar terjadinya revolusi industri/teknologi, maka revolusi industri atau teknologi yang pertama berlangsung sekitar tahun 1760 – 1840. Revolusi teknologi/industri pertama ditandai dengan mekanisasi yang mampu menghantarkan sang homo sapiens membangun rel kereta api, penemuan mesin uap maupun produksi secara mekanis. Selanjutnya, seiring perkembangan teknologi mekanisasi ditemukan pula listrik sebagai sumber energi yang lebih mampu dari sekadar mesin. Terjadilah revolusi industri/teknologi kedua yang berlangsung pada paruh akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. Revolusi teknologi kedua ini ditandai dengan elektrifikasi berupa penemuan tenaga listrik yang mampu meningkatkan kemampuan mesin yang telah ditemukan pada revolusi pertama. Pada zaman inilah mulai dilakukan produksi massal, pengembangan lini produksi dan semakin mengukuhkan keberadaan para industrialis. Revolusi teknologi ternyata tidak berhenti sebatas penemuan listrik dan model produksi massal. Pada tahun 1960-an mulai ditemukan semikonduktor, komputer mainframe, personal komputer (1970-an) dan internet (1990-an). Inilah revolusi teknologi ketiga yang ditandai dengan komputerisasi memadukan mesin, listrik dan komputer sehingga merubah semua cara kerja dan gaya hidup sang homo sapiens.


vii Jikalau elektrifikasi mampu menghadirkan produksi massal maka melalui komputerisasi mampu menghadirkan otomatisasi dan replikasi dengan waktu dan biaya yang jauh lebih murah dari sebelumnya. Penghujung abad ke 20 dan dimulainya abad 21, penggunaan internet semakin masif, inovasi smartphone semakin meluas dan replikasinya semakin cepat maka hadirlah revolusi teknologi keempat. Revolusi teknologi keempat ditandai dengan digitalisasi yang memadukan tiga komponen utama dalam melakukan produksi yakni fisikal, digital dan biologikal. Kemampuan teknologi memadukan aspek fisik (mesin dan robotik) dengan digital (sistem operasi dan platform bisnis) dan aspek biologikal (neuro-sains dan rekayasa genetika). Kemampuan integrasi oleh teknologi inilah yang mengilhami sekelompok ilmuwan di Jerman pada penyelenggaraan Hannover Fair 2011 menyebut revolusi keempat sebagai “Industry 4.0”. Revolusi teknologi yang diyakini mampu mengubah organisasi dan rantai nilai global secara revolusioner. Mengutip kalimat Erik Brynjolfsson dan Andrew McAfee (2014) - ahli dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), revolusi teknologi keempat menghadirkan teknologi digital yang “full force” dan mampu menghasilkan “sesuatu yang tidak terduga-unprecedented things”. Di zaman kita ini, seiring dengan kemajuan teknologi informasi, komunikasi, transportasi, analisa big data, bio teknologi maupun konektivitas geografis dimulailah perkembangan pesat kajian multi-disiplin, interdisiplin maupun transdisiplin oleh para maestro. Sekarang dapatlah kita buatkan peta jalan perkembangan teknologi dari mekanisasi-elektrifikasi-komputerisasi-digitalisasi menghantarkan ras homo sapiens dari sekelompok kawanan pemburu pengumpul menjadi homo deus yang bisa berbuat apa saja seturut imajinasinya. Setelah mempelajari konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika pendidikan, dapatlah kiranya dipetakan 3 (tiga) alasan utama penulisan buku ini, yakni alasan akademis, praktikal dan ideologis. Pertama, alasan akademis. Dari sisi akademis terdapat kecenderungan ilmuilmu sosial maupun ilmu-ilmu sains semakin sibuk dengan dirinya sendiri dan saling sapa diantara mereka semakin sirna sehingga pendidikan yang harusnya holistikintegratif seakan menjadi parsial-fragmentatif. Ilmu pendidikan justru menjadi korban tarik tambang antara ilmu-ilmu lain yang berebut pengaruh. Padahal ilmu pendidikan sangat kaya akan perspektif, pendekatan maupun body of knowledge yang diwariskan para raksasa pemikir pendidikan terdahulu. Semboyan dari Isaac Newton bahwa ilmuwan harusnya berdiri di pundak raksasa “standing upon the shoulders of giants” sepertinya dilupakan kini. Melalui buku ini ingin dihidupkan kembali tradisi ilmu pendidikan sebagai ilmu yang multidisiplin, inter-disiplin maupun transdisiplin untuk lebih memperkuat ketajaman analisanya dalam mengamati perkembangan peradaban. Dalam kalimat sederhana, buku ini hadir sebagai bentuk komitmen penulis untuk memposisikan pendidikan sebagai fondasi peradaban dan hidup damai di taman sari ilmu-ilmu yang bersemi. Kedua, alasan praktikal. Sebagai seorang praktisi pemerintahan, saat ini sebagai Kepala Dinas Pendidikan, penulis berinteraksi dengan sangat banyak pihak yang semuanya menghasilkan kayanya nuansa praktika pendidikan. Pengalaman dan pergumulan ini tidak akan menjadi bahan pelajaran berharga bagi generasi


viii selanjutnya apabila dibiarkan berlalu begitu saja. Segenap bentangan pengalaman dan pahit getirnya pergumulan sangatlah berharga bagi generasi kita yang kelak berminat memilih pendidikan sebagai lapangan pengabdian. Setidaknya melalui buku ini mereka memahami konteks zaman dan kodrat alam bahwa pendidikan adalah kehidupan itu sendiri dan pendidikan tetaplah menjadi pergumulan sepanjang zaman. Ketiga, alasan ideologis. Mungkin saja alasan ideologis sangatlah subjektif karena menyangkut nilai, rasa maupun tujuan yang hendak diperjuangkan, namun penulis harus mengungkapkannya. Alasan ideologis pasti dimiliki setiap penulis walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit. Bagi penulis, buku ini merupakan pengungkapan ideologi “emansipatoris-transformatif” yang dianut penulis. Sebuah kalimat sederhana yang kiranya dapat mewakili alasan ideologis penulisan buku ini adalah “sebuah buku yang bercerita mengenai “perubahan” belumlah lengkap apabila belum mampu mengajak pembacanya “melakukan perubahan”. Demikianlah 3 (tiga) alasan utama dibalik penulisan buku ini. Berdasarkan suasana kebatinan sebagaimana diuraikan di atas, maka sistematika penyajian tulisan dibagi dalam empat bagian. Bagian Pertama dimulai dengan uraian tentang Konteks Zaman yang mengelaborasi adanya 7 (tujuh) revolusi yang mengubah imajinasi tentang pendidikan. Revolusi yang terjadi meliputi sains, teknologi, teologi, politik, ekonomi, sosial, dan peradaban. Hal yang unik dari setiap revolusi adalah munculnya gejala disrupsi pada satu ujung pendulum dan ko-eksistensi pada ujung yang lain. Setelah memahami konteks zaman, uraian pada Bagian Kedua dilanjutkan dengan Konsepsi dan Regulasi Jalan Keempat. Pada bagian ini dinarasikan bagaimana landasan-landasan konsep yang membentuk Jalan Keempat serta telaah berbagai regulasi yang mengatur penyelenggaraan pendidikan di daerah Kabupaten sesuai semangat otonomi. Singkatnya, uraian pada bagian ini menjelaskan bagaimana kemunculan konsepsi Jalan Keempat sebagai hasil iluminasi dari berbagai revolusi yang terjadi, regulasi yang melandasi dan sebentuk akumulasi pengetahuan dan pengalaman yang melahirkan school of thought – aliran pemikiran yang berbasis kearifan lokal. Dari aliran pemikiran tersebut diperkenalkan aktualisasi Jalan Keempat baik sebagai kerangka konsepsi, kerangka kerja maupun kerangka kinerja menakar kualitas pendidikan kita. Inilah uraian Bagian Ketiga. Aktualisasi Jalan Keempat, mengambil rupa dalam seperangkat kerangka konsepsi, kerangka kerja, dan kerangka kinerja sebagai kontinum abstraksi dan operasionalisasi pendidikan yang khas dengan kearifan lokal namun memiliki daya gugah baik pada level lokal, nasional bahkan global. Demikianlah uraian pokok-pokok pikiran dalam buku ini yang memuat potret pendidikan kita saat ini, asa yang direntang ke masa depan dan bagaimana upaya bersama berlabuh di dermaga bahagia, suatu dermaga yang “memanusiakan manusia dalam segenap keutuhannya”. Namun harus disadari pula bahwa, ikhtiar ini bukanlah jalan mulus yang tanpa hambatan. Sesekali mungkin akan hadir kerikil, mungkin juga lobang menganga bahkan genangan air yang menuntut kita selalu waspada agar kemudi tak salah arah. Bagian Keempat melukiskan tantangan dan hambatan itu sebagai Kontemplasi Akhir.


ix Sebegitu jauh perjalanan dari titik keberangkatan menuju pelabuhan tujuan hendaknya tidak melupakan ada jebakan yang wajib kita hindarkan. Akhir kata, penulis sangat menyadari bahwa penulisan buku ini bukanlah kerja perorangan, banyak pihak turut mendukung dalam penulisan, untuk merekalah ucapan terimakasih harus diberikan, beberapa nama harus saya sebut : 1. Prof. Dr. Sadu Wasistiono, MS, Guru Besar IPDN-Jatinangor yang selalu menjadi oase pengabdian pamong praja agar tak pernah lelah mencintai republik ini. 2. Dr. Makmur Keliat, abang sekaligus mentor bagi penulis yang senantiasa memberikan dukungan agar tak pernah merasa “minder” sebagai orang karo untuk mengglobalkan ke”karo”an dan mengkarokan “globalisasi”. Semangat yang ditumbuhkan senantiasa menambah kepercayaan diri bagi penulis. 3. Jajaran pimpinan pada Pemerintah Kabupaten Karo dan seluruh sahabat di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Karo yang senantiasa rela berlama-lama berbagi cerita untuk sebuah asa “lahirnya pelajar Pancasila dari Tanah Karo Simalem yang bertalenta global namun tetap memiliki akar keraifan lokal”. Demikianlah secara singkat catatan pengantar ini, mudah-mudahan mampu mewakili segenap rasa, asa, dan nuansa kerinduan kebangkitan kembali pendidikan kita. Apabila dalam sederet kalimat dan untaian kata maupun penggalan tanda baca masih ada yang konyol, itu hanyalah gambaran keterbatasan penulisnya. Namun apabila ada yang menginspirasi, menggugah bahkan menguatkan para pembaca itu adalah rahkmat dari Sang Khalik bahwa sesuatu yang indah akan dikenang selamanya (a thing of beauty is joy forever). Kesunyian Malam Makam Pehlawan, 2022 Soli Deo Gloria AT dkk.


10 BAGIAN PERTAMA TUJUH REVOLUSI YANG MENGUBAH IMAJINASI TENTANG PENDIDIKAN Bagian ini menarasikan bagaimana imajinasi mengalami disrupsi sekaligus koeksistensi di tengah serangkaian revolusi yang mengubah. Imajinasi sendiri ketika diperjuangkan perwujudannya berubah menjadi ideologi yang pada gilirannya menentukan bentuk institusi maupun pola interaksi antara segenap pemangku kepentingan (stakeholders). Ketika imajinasi hendak diubah atau justru memperkuat imajinasi lama dibutuhkan improvisasi. Inilah lingkaran konsentris 5I (imajinasi, ideologi, institusi, interaksi dan improvisasi) yang mewarnai setiap berlangsungnya revolusi yang mengubah. Ketika pendidikan dibayangkan seturut dengan imajinasi mistis-religius misalnya, ideologi yang diperjuangkan tentunya pendidikan dogmatis yang anti kritik. Selaras dengan ideologi dogmatis maka institusi yang dibentuk pun melahirkan tata nilai dan tata kelola pendidikan yang mengagungkan kepatuhan layaknya sekolah adalah tuhan. Argumen-argumen dan narasi besar dibangun untuk mengukuhkan bahwa nilai-nilai kesakralan, kekudusan maupun keagungan dimiliki pihak sekolah. Dengan argumen dan narasi tersebut maka interaksi antara sekolah dengan segenap warganya tak ubahnya sebuah peribadatan besar dalam tradisi religiusitas dominan. Interaksi berpola dominasi dan hegemoni menjadi keseharian warga sekolah. Dominasi ditandai dengan tumpulnya nalar kritis warga sementara hegemoni dijadikan sebagai upaya sistematis membentuk pikiran warga bahwa tidak ada alternatif lain di luar sana. Setidaknya melalui tiga jalan yang telah dilalui dalam perjalanan panjang sejarah pendidikan kita, terdapat 3 (tiga) kecenderungan imajinasi pendidikan yakni : religi-nusantara, kolonial dan industrial. Ketiga jenis imajinasi tersebut senantiasa berdialektika sepanjang sejarah baik melalui cara disrupsi maupun koeksistensi sesuai konteks dan konstelasi kerinduan sang homo sapiens terhadap sebentuk nilai yang dikejar pada setiap zamannya. Satu hal yang menarik justru terjadinya serangkaian revolusi mulai dari sains, teknologi, teologi, politik, ekonomi, sosial sampai peradaban senantiasa mengakibatkan disrupsi dan ko-eksistensi atas imajinasi pendidikan. Bahkan revolusi yang terjadi pada 7 (tujuh) matra penting dalam kehidupan sang homo sapiens tersebut telah pula mencapai generasi ke-empat (4.0. generations), yang justru membawa dunia pendidikan memasuki imajinasi ke-lima (education 5.0) yakni sebentuk imajinasi baru Homo Sacer Education. Imajinasi yang justru mengaburkan imajinasi sebelumnya namun belum mampu menunjukkan imajinasi yang utuh sebagai penggantinya. Sebentuk imajinasi pendidikan yang berada di tapal batas antara ada dan tiada. Bagaimana disrupsi dan ko-eksistensi terjadi dalam serangkaian revolusi atas 7 (tujuh) matra penting sang homo sapiens mulai dari sains, teknologi, teologi, politik, ekonomi, sosial sampai peradaban yang mengakibatkan perubahan imajinasi pendidikan? Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan dielaborasi pada bagian ini.


11 Seluruh narasi besar terjadinya disrupsi dan ko-eksistensi atas 7 (tujuh) matra penting sang homo sapiens mulai dari sains, teknologi, teologi, politik, ekonomi, sosial sampai peradaban menjadi setting memotret episode perjalanan imajinasi pendidikan. Sebelum membahas lebih jauh tentang disrupsi dan ko-eksistensi, perlu kiranya dijelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan revolusi dan apa kaitannya dengan kondisi manusia (human nature/human condition). Kedua konsep ini penting dalam upaya melacak keberadaan revolusi yang senantiasa hadir sebagai kodrat manusia. Manusia sendiri secara kodrati berinteraksi dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia dan alam sebagai habitatnya. Ketika manusia mengikuti hukum alam maka ia akan mengupayakan harmoni dengan sesamanya maupun dengan alam melalui ko-eksistensi. Namun, ketika manusia ingin menguasai dan menaklukkan sesamanya atau alam sebagai habitatnya maka ia pada dasarnya melakukan gangguan (disrupsi) terhadap sesamanya maupun alam yang tersedia baginya. Dalam konteks inilah kehadiran disrupsi dan ko-eksistensi merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan dalam sejarah panjang perjalanan kehidupan sang homo sapiens. Sebagai contoh, sejenak bayangkan kisah awal penciptaan alam dan manusia sebagaimana dinarasikan dalam kitab Kejadian pasal 1 sampai dengan pasal 3. Kehidupan yang berkecukupan tersedia bagi Adam dan Hawa di Taman Eden. Bahkan semua buah pohon dapat dimakan oleh mereka asal tidak memakan hanya satu jenis buah yakni buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Secara sederhana inilah sebentuk keserasian dengan alam dan imajinasi awal pendidikan sebagai ketaatan kepada perintah sang Pencipta. Uniknya lagi, Hawa dapat melakukan komunikasi dengan “ular” yang menggambarkan bahwa manusia memiliki kemampuan mengerti bahasa/isyarat hewan dan alam. Namun yang sangat disayangkan, kemampuan komunikasi dengan “ular” justru menjerumuskannya jatuh ke dalam dosa dan melanggar perintah sang Khalik. Hawa ternyata memilih lebih taat terhadap “nasihat” sang ular penggoda ketimbang Sang Khalik, terjadilah gangguan (disrupsi) terhadap ko-eksistensinya dengan alam di Taman Eden. Saat bersamaan revolusi pun terjadi. Manusia yang memiliki citra sang Khalik, Imago Dei (Image of God) menjadi manusia mortal dan kehilangan kemulian-Nya. Adam dan Hawa pun menjadi makhluk nomaden meninggalkan Taman Eden dan menyadari diri berdosa dan telanjang. Apa yang dapat disarikan dari kisah ini? Revolusi kognitif manusia menghadirkan guncangan (disrupsi) dan melawan hukum alam menjadi sifat dasar manusia (human nature). Disrupsi dan Ko-eksistensi Berkaca dari kisah awal penciptaan maka konsep revolusi secara sederhana dapat dimaknai sebagai perubahan mendasar atas tatanan awal, status, kedudukan atau fungsi yang digantikan dengan tatanan, status, kedudukan maupun fungsi yang baru. Demikian halnya yang terjadi kepada Adam dan Hawa. Semula tatanan di Taman Eden sangat serasi dengan seluruh ciptaan lainnya mulai dari hewan melata, burung di udara, segala tanaman yang tumbuh di atas tanah dan cakrawala menjadi selimutnya beralih menjadi suatu tempat yang asing dan sadar diri telanjang diantara dedaunan.


12 Adam dan Hawa yang semula berstatus sebagai citra sang khalik (Imago Dei) dan puncak segala ciptaan menjadi manusia berdosa dan harus berurusan dengan ular sang binatang melata sampai anak cucunya. Kedudukannya semula pengelola alam semesta berubah menjadi sang penakluk yang selalu ingin menguasai jagad raya walau semuanya hanya ilusi belaka. Fungsi utamanya menjadi wakil Tuhan yang arif dan bijaksana menjaga keutuhan segala ciptaan berubah menjadi fungsi proteksi dan pertahanan diri untuk sekedar menghindar dari serbuan binatang buas dan harus memeras keringat hanya untuk sekedar mendapat makan. Begitulah dahsyatnya sebuah revolusi kehidupan yang barangkali dapat dimaknai sebagai titik berangkat yang tidak mungkin kembali (turning point without turning back). Apabila dicermati lebih dalam, kisah awal penciptaan sebagai revolusi merupakan perubahan yang berasal dari gangguan (disrupsi) dan/atau mencari keseimbangan (ko-eksistensi) yang senantiasa akan terjadi pada manusia. Belajar dari kisah kejatuhan Adam dan Hawa pula, sepanjang sejarah sang homo sapiens kita akan mengenal berbagai revolusi yang seringkali digunakan secara bebas dan diterapkan pada hampir semua bidang. Kondisi tersebut tampaknya mengilhami Arslanian (2013) sehingga ia menyebut konsep revolusi digunakan untuk menyebut mulai dari “revolusi media sosial” sampai pada “revolusi seksual”.1 Namun uniknya, revolusi tetap diyakini sebagai salah satu jalan dalam merombak tatanan peradaban dunia untuk meningkatkan derajat kualitasnya. Kini istilah revolusi bahkan telah mengalami inflasi karena maknanya semakin kabur tanpa jelas perubahan mendasar yang dimaksudkan. Kita tentu mengenai istilah revolusi pendidikan, revolusi mental, revolusi industrial, revolusi cara belajar bahkan revolusi cara berpakaian. Dari serangkaian revolusi tersebut ada yang yang paling menjanjikan dan ada pula yang paling membingungkan. Namun demikian, secara akademik makna revolusi setidaknya merujuk pada 3 (tiga) tradisi pemikiran sebagaimana penegasan Venter dan Bain (2015)2, yakni : aliran marxist yang dipelopori Lenin, Mao mapun Karl Marx; aliran fungsionalist yang digagas Huntington, Brinton maupun Pettee; dan aliran psikologikal yang dipelopori Cohan3 dan Davies4. Bagi kalangan marxist, revolusi dimaknai sebagai perjuangan kaum proletar menghasilkan suatu utopia masyarakat tanpa kelas yang tampaknya tidak pernah terwujud. Sampai akhirnya Lenin, Mao maupun Marx sendiri kehilangan kesempatan menyaksikan berbagai gelombang revolusi yang terjadi berikutnya. Sementara bagi kaum fungsionalist, revolusi dimaknai ibarat pendulum yang berayun dari satu titik ekstrim ke titik ekstrim berikutnya sampai akhirnya mendapat keseimbangan baru. Sedangkan, kalangan psikologikal memaknai revolusi sebagai kesenjangan antara harapan dengan realitas yang terjadi. Kondisi ini dapat dijelaskan dengan teori peningkatan harapan (theory of rising expectations), yang mengenal JCurve dari Davies (gambar 1). Menurut teori ini, revolusi terjadi pada suatu kurun waktu tertentu ketika melampaui batas toleransi kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan apa yang didapatkan.


13 Gambar 1 : Kurva J Davies (1962:6) Untuk keperluan tulisan ini, pengertian revolusi diambilkan dari kalangan fungsionalist sebagaimana dikemukakan Samuel P. Huntington (2006;264) yang menyebutkan bahwa “A revolution is a rapid, fundamental, and violent domestic change in dominant values and myths of society, in its political institution, social structure, leadership and government activity and policies”5. Secara bebas definisi tersebut dapat diartikan bahwa revolusi merupakan sebuah perubahan yang fundamental, cepat dan kadangkala berlangsung dengan kekerasan untuk merubah nilai dan mitos dominan dalam masyarakat, institusi politik, struktur sosial, kepemimpinan, kebijakan maupun aktivitas pemerintahan. Pertanyaan selanjutnya adalah, apa sajakah elemen dari sebuah revolusi yang tengah terjadi dapat diamati? Mengenai jawaban atas pertanyaan ini, Venter dan Bain (2015) menegaskan setidaknya terdapat 11 (sebelas) elemen yang menandai berlangsungnya sebuah revouli, yakni : 1) perubahan nilai atau mitos dari sistem tertentu; 2) perubahan struktur sosial; 3) perubahan institusi politik; 4) terdapat dasar legalitas perubahan; 5) terjadinya perubahan elit; 6) penggunaan kekerasan; 7) serangkaian gelombang perubahan pragmatis; 8) bukan sebuah kejadian tunggal melainkan prosess panjang dan bertujuan; 9) pola tindakan kolektif dan membutuhkan dukungan massa; 10) kontinum dari intensitas perubahan yang tinggi ; dan 11) adanya dukungan moral/religius yang mampu menjustifikasi tindakan. Dengan demikian, terdapat berbagai pilihan spektrum dalam mencermati berlangsungnya revolusi. Kita mulai dengan mencermati berbagai elemen tersebut dalam perjalanan serangkaian revolusi yang telah dan akan terus terjadi dalam sejarah panjang sang homo sapiens. Pertama, kajian Huntington (2006) misalnya, menjelaskan bahwa pergantian nilai dan mitos dalam sistem politik tertentu merubah tata politik sejalan dengan masyarakat yang berubah. Ketika nilai dan mitos kesejahteraan yang dijanjikan sistem politik tertentu tidak merubah kehidupan masyarakat maka dibutuhkan sistem politik baru yang dilakukan melalui revolusi. Setidaknya itulah yang tergambar dalam ulasan panjang Huntington (2006) dalam bukunya Political Order in Changing Societies. Kedua, perubahan struktur sosial juga menjadi penanda revolusi di berbagai belahan dunia. Demokrasi misalnya, menghadirkan struktur sosial yang lebih egaliter menggantikan struktur monarki yang cenderung feodal dan hirarkis. Hal inilah yang terjadi pada negara-negara bekas jajahan pasca perang dunia kedua di Asia dan Afrika. Struktur sosial hirarkis yang berlapis melalui kehadiran para imperialis runtuh digantikan struktur sosial lokal mulai dari junta militer, demokrasi perwakilan, suku dominan atau persemakmuran yang dihadirkan para elit baru negara bekas jajahan.


14 Ketiga, revolusi juga dapat terjadi melalui perubahan institusi lama menjadi institusi baru atau perubahan berbagai fungsi dari institusi lama dengan beragam fungsi barunya. Hal ini dapat dilihat dari sejarah keberadaan Belanda di Indonesia misalnya, VOC yang awalnya hadir melalui kongsi dagang berubah seiring fungsi barunya menjadi Pemerintahan Hindia Belanda. Keempat, revolusi juga dapat berlangsung melalui cara yang konstitusional atau in-konstitusional. Melalui debat konstitusi inipula maka basis legal bagi suatu revolusi senantiasa dipertanyakan. Inilah yang dialami Indonesia ketika merubah tatanan sentralistik selama orde baru menjadi desentralistik pasca reformasi yang didahului dengan serangkaian amandemen konstitusi. Kelima, revolusi juga bisa saja terjadi melalui pergantian elit. Elit yang sebelumnya berasal dari klas tertentu digantikan oleh elit baru yang sesuai dengan kebutuhan zamannya. Mengenai hal ini dapat dibaca secara mendalam melalui uraian gelombang ketiga demokratisasi sebagaimana dipotret Huntington (1991)6 berupa fenomena beralihnya sebagian besar negara non-demokratis menjadi negara demokratis. Merujuk riset Huntington (1991) sampai dengan tahun 1999 sedikitnya terdapat 48 negara demokratis baru, mulai dari Amerika Latin sebanyak 16 negara, Asia sebanyak 10 negara dan Afrika menyumbang 22 negara. Pergantian elit terjadi di negara demokrasi baru tersebut. Elit baru tersebut berasal dari berbagai kalangan baik itu militer, kaum terpelajar atau kelas menengah maupun pemimpin karismatik yang menggantikan para diktator terdahulu atau para elit non-demokratis. Keenam, penggunaan kekerasan juga merupakan bagian yang melekat dalam serangkaian revolusi. Merujuk pandangan Marxist maupun kajian Huntington (1991) kekerasan dalam revolusi merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Bahkan mengikuti kalimat Mao Zedong (2009)7 yang cukup terkenal “revolusi bukanlah pesta minum teh, karenanya, dalam revolusi berbagai kekerasan atau bahkan teror dan terorisme menjadi pelumasnya”. Ketujuh, kadangkala revolusi juga merupakan perubahan pragmatis yang berlangsung seiring dengan proses waktu dan kekuatan yang bertarung. Proses dapat saja meliputi berbagai teknik atau strategi mulai dari pemogokan besar-besaran, kudeta militer, perang gerilya atau perang terbuka sampai pada cara yang lebih damai berupa negosiasi untuk mememenuhi kepentingan pihak yang bertikai. Kedelapan, revolusi juga jarang sekali terjadi hanya melalui satu kejadian tunggal. Umumnya revolusi terjadi setelah akumulasi berbagai kejadian yang tampaknya tidak berhubungan seperti krisis ekonomi, krisis kepemimpinan, meluasnya pembangkangan warga, dan yang tidak kalah pentingnya ada kejadian pemicu yang menjadi simpul seluruh kejadian sehingga seolah semua kejadian menjadi saling berhubungan menghasilkan revolusi. Kesembilan, revolusi juga tidak terjadi dalam ruang hampa atau isolasi namun membutuhkan serangkaian tindakan kolektif yang memperoleh dukungan massa. Melalui kajian Brinton (1965) dalam bukunya The Anatomy of Revolution diperoleh penjelasan bahwa Great Revolution terjadi sebagai akumulasi tindakan kolektif dengan dukungan massa yang luas, mulai dari revolusi Prancis, Revolusi Iran maupun terkini bisa dipadankan dengan Arab Spring yang mendemokratiskan negara Timur Tengah, contoh menarik tindakan kolektif dengan massa menghasilkan revolusi.


15 Kesepuluh, revolusi pada sisi yang lain juga merupakan kontinum yang berlangsung dengan intensitas yang tinggi, sehingga terdapat gelombang pasang dan gelombang balik. Hal ini dengan sangat gamblang diuraikan dalam fenomena demokratisasi di Amerika Latin, Asia dan Afrika, sebagaimana digambarkan Huntington (1991). Resistensi dari para penguasa lama yang hendak digulingkan secara umum terjadi. Dalam konteks inilah Huntington (1991) mengenalkan berbagai strategi dan pola yang dapat dilakukan ketika hendak mendemokratiskan sebuah sistem politik mulai dari menghubungi media massa yang bersifat global, aktivis hak azasi manusia atau organisasi-organisasi internasional untuk mendukung gerakan demokratisasi. Anjuran ini pula yang membuat Huntington lebih sebagai konsultan politik ketimbang ilmuwan politik. Kesebelas, revolusi juga membutuhkan landasan moral dan religius untuk menjustifikasi tindakan. Dalam konteks inilah biasanya revolusi selalu didengungkan oleh para pendukungnya untuk membawa kebaikan bersama yang dibalut dengan alasan-alasan moral seperti keadilan, kesetaraan atau kesejahteraan. Bahkan sentimen religius semisal alasan kemurnian ajaran bisa jadi membenarkan pelaku revolusi menggulingkan pemerintahan yang ada. Merujuk definisi dan serangkaian elemen revolusi yang dapat diamati dalam sejarah panjang perjalanannya, maka revolusi yang mengubah mulai dari sains, teknologi, teologi, politik, ekonomi, sosial dan puncaknya peradaban tentunya diniati untuk merubah nilai dan mitos dominan dalam pendidikan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Singkatnya, pendidikan sebagai hasil kreasi pikiran dan tindakan manusia melalui simulasi imajinasi, ideologi, institusi, interaksi dan improvisasi senantiasa mampu bertahan setidaknya hingga saat ini kendati diterpa berbagai revolusi. Dengan demikian, imajinasi pendidikan menjadi penanda manusia yang mampu membangun peradaban sekaligus meruntuhkannya. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana terjadinya disrupsi dan ko-eksistensi dalam imajinasi pendidikan seiring dengan revolusi? Uraian berikut menjelasakan pendidikan sebagai buah simulasi imajinasi, ideologi, institusi, interaksi dan improvisasi menghasilkan nuansa disrupsi8 sekaligus ko-eksistensi9. Disrupsi berawal dari pandangan kompetisi yang menganut filosofi “survival of the fittest”10 dengan premis dasar bahwa yang kuatlah yang dapat bertahan. Melalui premis dasar ini dapat dipahami bahwa sang homo sapiens sepertinya mengamini adanya seleksi alam sebagaimana dikumandangkan Charles Darwin. Sejarah panjang konsep disrupsi dapat dilacak mulai dari Clayton M. Christensen (1997) dalam bukunya The Innovator’s Dilemma; When New Technologies Cause Great Firms to Fails, sampai pada Francis Fukuyama (1999) melalui bukunya The Great Disruption maupun Adrian Wooldridge (2015) dalam The Great Disruption; How business is coping with turbulent time. Konsep ini mula-mula digunakan untuk menerangkan fenomena sektor bisnis yang terpaksa ditata ulang melalui kemunculan teknologi. Fenomena keharusan menata ulang format bisnis ditandai dengan hancurnya para incumbent (perusahaan raksasa) yang digerogoti kemunculan pendatang baru (new entrant) yang dipandang sebelah mata. Meminjam kalimat Christensen (1997) penerapan dari konsep disrupsi setidaknya tergambar dalam 3 (tiga) bentuk, yakni : (1) teknologi; (2) produk; dan (3) model bisnis. Disrupsi teknologi mendekatkan jarak antara produsen dan konsumen bahkan muncul realitas baru produsen sekaligus konsumer (prosumer) sebagaimana


16 digambarkan Alvin Toffler (1981)11 dalam The Third Wave. Sementara itu, disrupsi produk menghadirkan produk baru yang memiliki fungsi yang sama dalam kualitas yang lebih baik namun biaya lebih murah. Dalam konteks disrupsi produk inilah dapat dikemukakan contoh kehadiran buku elektronik, smartphone, atau mobil otomatik. Semua produk yang menggantikan produk lama melalui disrupsi umumnya lebih berkualitas namun biaya lebih murah. Akhirnya, disrupsi model bisnis hadir melalui perubahan flatform bisnis konvensional yang mengharuskan kehadiran fisik diganti dengan model bisnis baru bersifat virtual tanpa kehadiran fisik. Contoh menarik mengenai model bisnis virtual ini dapat dilihat misalnya Amazon dalam bisnis perbukuan atau traveloka dalam bisnis perjalanan dan perhotelan. Sementara, ko-eksistensi berlandaskan filosofi “we are under the same sun”. Filosofi tersebut kalau dipadankan sama dengan “kita semua bersaudara, bhineka tunggal ika” dengan premis dasar bahwa harmoni lebih baik dan akan menjaga keutuhan segala ciptaan. Penganut ko-esksitensi mengedepankan imajinasi homo sapiens yang senantiasa paradoks sebagai makhluk individual sekaligus sosial. Tampaknya hal ini selaras dengan pandangan Fritjof Capra (1991) yang memadankan mistisisme timur dengan teori fisika kuantum maupun teori relatitivas dalam bukunya Tao of Physics. Dengan demikian, kehadiran disrupsi dan ko-eksistensi memang selaras dengan kodrat sang homo sapiens sebagai sebentuk kondisi manusia (human condition). Pandangan yang memperjuangkan harmoni atau ko-eksistensi hadir melalui beragam discourse yang intinya mendorong solidaritas global dan logika satu dunia (one earth). Ko-eksistensi dapat juga dimaknai harmoni sosial yang menganjurkan pluralisme (menghargai setiap perbedaan), menerima kehadiran dualisme, dan resolusi konflik yang senantiasa hadir dalam setiap praktika pendidikan. Sebagai contoh misalnya, Francis Fukuyama (2000) melalui kajian trust sebagai social capital menegaskan bahwa nilai-nilai dan kohesi sosial yang didasari rasa saling percaya (trust) menentukan kesejahteraan sebuah bangsa. Hal yang kurang lebih sebangun dielaborasi oleh Benjamin Barber (2001) melalui Jihad dan Mc-world, yang menegaskan bahwa partikularisme dan universalisme senantiasa mendapat panggung dalam perjalanan peradaban. Artinya dalam ko-eksistensi semua mendapat tempat dan diberi kesempatan. Dari wilayah Asia, muncul pula gagasan Kishore Mahbubani (2009)12 yang menegaskan adanya great convergence (konvergensi besar) Asia, Barat dan logika satu dunia. Menurut Mahbubani (2009) apabila tradisi pemikiran Asia dan Barat dicarikan titik temunya akan terdapat konvergensi. Melalui konvergensi maka kearifan timur akan memperkuat systematic thinking yang dianut dalam tradisi pemikiran barat, demikian juga sebaliknya. Singkat kata, tradisi seniman dan budayawan yang cenderung mewarnai pemikiran timur akan memperkaya tradisi ilmuwan yang telah lama dianut dalam tradisi pemikiran barat. Bahkan seruan ko-eksistensi sangat jelas dikumandangkan oleh Mahbubani (2009:273) dalam bukunya Can Asians Think? ; … “untuk melindungi rumah kita, kita harus melindungi kampung kita”. … bahwa “untuk melindungi negara kita, kita pun harus melindungi planet ini”. Kesadaran akan harmoni melalui ko-eksistensi juga datang dari Peter H. Diamandis dan Steven Kotler (2012), dengan mendasarkan kajiannya kepada perkembangan eksponensial dari teknologi.


17 Menurut mereka akan terdapat suatu keadaan dimana ketersediaan sumberdaya semakin melimpah, biaya produksi semakin murah dan hasil yang melimpah tersebut dapat digunakan bersama. Suatu bentuk “sharing economy” dalam skala global yang tentunya mampu memberikan akses yang sama bagi seluruh umat manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Kondisi inilah yang dibayangkan Peter H. Diamandis dan Steven Kotler (2012) sehingga mereka sampai pada suatu optimisme baru yang disebut Abundance ; The Future is Better Than you Think. Pertanyaannya selanjutnya, apakah sebenarnya disrupsi dan ko-eksistensi merupakan dua hal yang dikotomis, kotinum atau berada dalam suatu spektrum? Tidaklah mudah memberikan jawaban. Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat dijawab dalam (3) tiga kemungkinan, yakni : dikotomik, kontinum atau keduanya sekaligus dalam satu spektrum. Kemungkinan pertama menegasakan disrupsi dan koeksistensi sebagai keadaan dikotomik dapat dijelaskan dengan kemunculan realitas terbelah (split reality) dalam pemerintahan. Artinya kedua gejala ini menemukan tempatnya masing-masing. Selain adanya realitas yang menggambarkan kehadiran disrupsi di satu pihak, ada pula realitas yang lain menunjukkan keberadaan koeksistensi. Sebagai contoh dapat diambilkan dari praktika pendidikan kita. Melalui disrupsi teknologi misalnya, terdapat harapan baru bahwa pendidikan akan semakin efisien dalam membelanjakan anggaran khususnya kebutuhan operasional sehari-hari dengan bantuan teknologi sehingga dikenalkan konsep paper less office. Namun di sisi lain, di tengah penerapan konsep mengurangi penggunaan kertas - paper less office tersebut terdapat fakta bahwa biaya pengadaan alat tulis kantor (salah satunya pembelian kertas) juga masih menelan porsi yang besar. Sebagai gambaran umumnya dapat dicermati porsi belanja barang/jasa dalam APBD secara nasional pada tahun anggaran 2017. Komposisi belanja barang/jasa dalam APBD selama tahun anggaran 2017 tersebut dapat mewakili gambaran besarnya komponen belanja untuk jasa layanan internet, pembelian kertas, belanja perjalanan dinas, belanja makan/minum rapat yang umumnya dianggarkan melalui APBD. Kendatipun belum dirinci porsi masing-masing objek belanja, namun paling tidak porsi belanja barang/jasa menggambarkan kebutuhan operasional perkantoran yang tentunya memuat belanja kuota internet sekaligus belanja ATK. Mari kita cermati data agregat secara nasional APBD Tahun Anggaran 2017 sebagaimana disajikan Ditjen Keuangan Daerah Kemendagri (Gambar 2). Gambar 2. Komposisi Belanja Langsung APBD Tahun Anggaran 2017 Sumber : http://keuda.kemendagri.go.id/datin/index/1/2017 diakses 02-10-2018


18 Apa yang dapat dipelajari dari data yang tersaji pada Gambar 2 adalah tingginya porsi belanja barang/jasa yang mendapat alokasi sebesar 43,5 triliun dalam APBD Provinsi, Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Bahkan untuk level Kabupaten, porsi belanja barang/jasa lebih tinggi dari belanja modal yakni 236 triliun berbanding 224 triliun. Dengan demikian, konsep efisiensi belanja untuk keperluan operasional termasuk di dalamnya penggunaan kuota internet dan pembelian kertas masih belum sepenuhnya diterapkan. Kemungkinan kedua yakni disrupsi dan ko-eksistensi sebagai kontinum. Hal ini dicontohkan PT. Telkom yang tetap mempertahankan eksistensinya sebagai bisnis telekomunikasi namun mendisrupsi diri sehingga tetap relevan.Perusahaan bisnis telekomunikasi tersebut melakukan perubahan secara paralel antara bisnis konvensional dan mendisrupsi diri menjadi bisnis digital yang mampu menerapkan model bisnis baru dengan sentuhan tekonologi. Kehadiran UseeTV, indihome dan telkomsel sebagai bentuk disrupsi atas TV kabel dengan platform streaming dan integrasi telepon berbasis quota sppedy merupakan contoh bahwa disrupsi dan koeksistensi menjadi suatu kontinum. Bagaimana dengan pendidikan kita? Sepertinya dalam pendidikan juga terjadi kontinum walau belum sepenuhnya terbentuk. Sebagai buktinya, selama 2 (dua) tahun terakhir ini setidaknya selama pandemi Covid-19 maka pembelajaran tatap muka didisrupsi melalui zoom-meet, teleconference, skype video streaming. Platform pembelajaran digital tersebut sebagai inistiatif Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi maupun beberapa Pemerintah Daerah untuk mendekatkan jarak dan jalur komunikasi dalam penyelenggaraan pembelajaran karena pertemuan tatap muka tak mungkin dilakukan. Kini semua masalah hilangnya kesempatan belajar (learning loss) dapat difasilitasi pihak kementerian/lembaga terkait melalui teleconference, skype dan/atau video streaming. Hal yang sebaliknya berlaku, kementerian/lembaga dapat menyampaikan informasi penting secara real time kepada pemerintah daerah maupun satuan pendidikan melalui media tersebut. Dengan demikian, model pembelajaran menjadi hibrida baik melalui tatap muka (luar jaringan) secara kontinum diubah menjadi komunikasi digital (dalam jaringan) tanpa perlu kehadiran secara fisik. Namun faktanya berkata lain, para pejabat Pemerintah Daerah, Satuan Pendidikan maupun Kementerian lebih memilih melakukan perjalanan dinas daripada menggunakan fasilitas teleconference atau video streaming padahal yang hendak dipersoalkan hanyalah maksud sebuah Surat Edaran Menteri. Alasan yang dikemukakan untuk lebih memilih model perjalanan dinas daripada teleconference atau video streaming , umumnya agar komunikasi lebih “tuntas” dan lebih “sopan” menurut adat ketimuran. Potret inilah yang menegaskan bahwa pemerintahan selalu responsif dengan disrupsi teknologi sekaligus menghargai ko-eksistensi berdasarkan justifikasi regulasi yang memang masih memberikan toleransi. Contoh lainnya yang mewakili kontinum antara disrupsi dan ko-eksistensi adalah kisruh taksi online (uber, grab, dll) dengan taksi konvensional. Kedua model bisnis taxi ini pada awalnya saling bertikai dan merepotkan pemerintah sebagai regulator dalam bisnis transportasi. Hal yang kurang lebih sebangun adalah kehadiran traveloka mendisrupsi bisnis perhotelan. Kini sepertinya semua pelanggan dapat lebih mudah dan nyaman memilih bentuk kamar, fasilitas pendukung, maupun pilihan biaya kamar melalui traveloka


19 daripada harus berkeliling melihat langsung setiap hotel yang kita inginkan. Satu hal yang justru menimbulkan pertanyaan adalah harga kamar hotel justru lebih murah melalui pemesanan yang dilakukan lewat traveloka ketimbang langsung kepada manajemen hotel. Namun demikian, ada hal unik dalam kontinum disrupsi dan ko-eksistensi, yakni, perusahaan taksi terbesar saat ini (uber atau grab) justru bukanlah perusahaan yang memiliki taksi. Demikian halnya dengan Traveloka adalah perusahaan perhotelan yang terbesar saat ini, ternyata bukanlah sebuah perusahaan yang memiliki hotel. Sektor ritel tampak pula kehadiran go-food berkolaborasi dengan gojek mengantarkan makanan langsung ke rumah konsumen, semua ini menunjukkan sebuah kontinum. Kemungkinan ketiga adalah adanya spektrum sehingga batas-batas antara semua realitas baru ini belum dapat dipetakan dengan jelas. Dengan lain perkataan, disrupsi dan ko-eksistensi menjadi realitas yang samar diibaratkan seperti pelangi, menghadirkan warna yang sangat bervariasi. Semua realitas saling baku-kait sebentuk spektrum “disrupsi yang ko-eksistensi sekaligus ko-eksistensi terdisrupsi”. Tanpa mengabaikan semua bentuk kehadiran disrupsi dan ko-eksistensi sebagai dikotomik, kontinum atau spektrum perlu pula kiranya dicermati implikasinya terhadap keberadaan pendidikan. Berbicara implikasi berarti terkait dengan serangkaian dampak positif maupun negatif yang senantiasa hadir dalam menghadapi suatu perubahan. Pentingnya mencermati implikasi disrupsi atau ko-eksistensi untuk menemukenali wajah pendidikan yang relevan dengan zamannya. Apabila hal ini tidak dilakukan bukan tidak mungkin keadaan saat ini dapat saja menenggelamkan pendidikan dengan segala romantika keagungan masa lalunya. Gejala ini tergambar melalui berbagai disrupsi yang melanda dunia pendidikan kita. Kita menyaksikan berbagai kisruh terjadi saat ini, semua berpolemik dalam berbagai isu yang sangat menyita energi. Isu itu terentang mulai dari persoalan rekrutmen guru PPPK, shadow organization yang menjadi polemik di Komisi X DPR-RI maupun impelementasi kurikulum merdeka dengan pltaform merdeka mengajar serta reorganisasi internal yang belum tuntas. Pemerintah sepertinya memang mengakui terjadinya fenomena disrupsi di satu sisi, namun sisi lain belum menyiapkan perangkat dalam mewadahi fenomena tersebut. Bahkan yang lebih menyita perhatian, ketika gelombang disrupsi datang silih berganti, pemerintah justru lebih cenderung menghadapinya dengan pola konservatif “mari kita buatkan aturan main”. Sepertinya kondisi ini mengingatkan kita kepada sejarah nenek moyang sang homo sapiens sebagai ras “juru masak” yang menemukan api - seperti kata Harari (2014). Sayangnya, hidangan yang disajikan seringkali berbeda dengan menu yang ditawarkan. Itulah gambaran selintas pendidikan kita yang merupakan gambaran imajinasi sang homo sapiens senantiasa berubah sepanjang zaman. Implikasi dapat saja bernada negatif maupun positif. Implikasi bernada negatif biasanya hadir lebih dulu dari para incumbent yang tidak siap menerima kehadiran gelombang disrupsi, setidaknya tergambar pada 3 (tiga) lapis persoalan, yakni : nilai, model bisnis dan mind-set/kultur-set.


20 Pada tataran nilai misalnya, masih terdapat keinginan sebagian pihak mempertahankan nilai-nilai lama yang baginya lebih menguntungkan ketimbang mengadopsi nilai baru yang belum tentu memberi keuntungan yang setimpal. Sebagai contoh, nilai-nilai yang mengagungkan pendidikan sentralistik ala orde baru tentunya menguntungkan bagi sebagian pihak. Untuk mengembalikan nilai-nilai tersebut, sangat berasalan apabila di alam demokrasi yang desentralistik saat ini ditawarkan kembali nilai sentralistik. Pengembalian nilai sentralistik dapat saja diajukan dengan alasan memudarnya efektivitas dan efisiensi pendidikan. Dengan alasan efisiensi dan efektivitas tata kelola pendidkan pula sepertinya demokrasi yang terdesentralisasi saat ini mengalami disrupsi. Bahkan kehadiran UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah bagi sebagian kalangan merupakan reinkarnasi sentralisasi melalui rejim sanksi yang diberikan Pemerintah Pusat bagi pemerintah daerah. Setidaknya itulah yang tergambar dari proseding Seminar Nasional “UU Pemda; Solusi atau Masalah yang Baru?”, yang diselenggarakan Universitas Lampung pada tahun 2015.13 Sebaliknya terdapat juga kalangan yang memperjuangkan ko-eksistensi dengan menawarkan demokrasi mampu menghasilkan pemerintahan yang efektif dan pendidikan yang memerdekakan. Kalangan ini tampaknya tidak terlalu sepakat dengan pandangan yang dihasilkan dalam seminar nasional di Universitas Lampung tersebut. Bagi kelompok ini, UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah membawa bandul sentralisasi dan desentralisasi ke titik keseimbangan baru. Setidaknya itulah pandangan yang digambarkan Kementerian Dalam Negeri ketika menyusun naskah akademik Rancangan Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah dan dikuatkan dengan berbagai sosialisasi yang dilakukan. Sebagai contoh dapat dilihat kutipan paparan Menteri Dalam Negeri pada seminar nasional otonomi daerah yang diselenggarakan LAN pada 19 April 2016 dengan tema “Memperkuat Otonomi Daerah, Membangun Dari Daerah”, berikut petikannya : “UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah pada dasarnya mencoba memperbaiki kelemahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yaitu memperjelas konsep desentralisasi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan memperjelas pengaturan dalam berbagai aspek penyelenggaraan Pemerintahan daerah. Selain itu, UU No. 23 Tahun 2014 memuat pengaturan baru sesuai dengan dinamika masyarakat dan tuntutan pelaksanaan desentralisasi, antara lain pengaturan tentang hak warga untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan daerah, adanya jaminan terselenggaranya pelayanan publik dan inovasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan daerah”. Sementara pada model bisnis, terdapat kecenderungan agar tata kelola pendidikan yang birokratis tetap dilakukan secara seragam di seluruh tanah air. Alasannya telah terdapat pembagian kewenangan dan menjaga konsistensi nomenklatur kementerian/lembaga dan perangkat daerah. Namun ada juga yang mengajukan desentralisasi asimetris yang menghormati kearifan lokal sebagaimana dikemukakan beberapa pakar. Akhirnya, pada tataran mind-set/kultur-set masih kental nuansa feodalisme dalam birokrasi yang memaksakan senioritas dalam jabatan tanpa memperhatikan kompetensi dan kinerja. Kini semua ketegangan ini hendak diperdamaikan melalui


21 kehadiran Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara yang menghendaki diterapkannya sistem merit dalam manajamen kepegawaian. Hal ini tentunya membawa angin segar. Namun perlu dibuktikan apakah para Kepala Daerah atau Menteri yang latar belakangnya dari politisi selaku Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) tidak tergoda mengembalikan “koncoisme” sebagai ganti “merit system”? Sementara itu, terdapat juga implikasi positif yang mampu menjadi penawar dahaga dalam penantian dan kerinduan akan perubahan. Sebagai contoh, nilai-nilai inovasi, kompetisi, kolaborasi maupun penghargaan bagi prestasi mulai diperkenalkan dalam semesta penyelenggaraan pemerintahan. Kehadiran konsep smart-education, smart city, e-government, e-musrenbang, e-planning, e-budgeting merupakan bentuk-bentuk disrupsi pemerintahan yang mewadahi nilai-nilai baru tersebut. Tanpa mengabaikan serangkaian fenomena disrupsi yang terus berdatangan silih berganti, pertanyaan selanjutnya adalah apa sebenarnya yang mendasari terjadinya disrupsi tersebut? Apakah fenomena tersebut sekadar alasan pragmatis belaka atau justru dialektika zaman yang membutuhkan ruang kanalisasi? Apabila dicermati lebih lanjut, fenomena disrupsi dan ko-eksistensi dalam berbagai sektor (bisnis, masyarakat, maupun pendidikan), sebenarnya terdapat 4 (empat) faktor utama yang mendorong kehadirannya14. Pertama, kelangkaan sumber daya khususnya sumberdaya yang terkait dengan kebutuhan dasar manusia dan kebutuhan akan energi dalam seluruh aktivitas manusia. Ketika sumber daya yang menyangkut kebutuhan dasar berupa makanan, minuman, udara yang segar dan sumber daya alam lainnya menjadi langka maka kehadiran disrupsi menjadi kebutuhan. Dibutuhkan cara-cara baru dan produk baru agar kebutuhan dasar yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dapat dipenuhi bukan sekadar untuk melanjutkan kehidupan melainkan lebih dari itu untuk meningkatkan mutu kehidupan. Disrupsi menjawab kebutuhan tersebut, mulai dari kehadiran tekonologi pengolahan makanan, rekayasa genetika untuk berbagai macam tumbuhan dan hewan, teknologi pendingin ruangan sampai pada teknologi pengolah air limbah yang mampu menyulapnya menjadi air mineral yang layak dikonsumsi. Demikian juga melalui teknologi konversi energi, kelangkaan energi dapat diatasi mulai dengan rekayasa biogas, energi nabati sampai pada energi angin yang mampu menghasilkan listrik. Kedua, disrupsi teknologi juga memungkinkan konversi seluruh sumber daya menjadi penopang kehidupan dan membantu keterbatasan kekuatan fisikal manusia. Beberapa bentuk teknologi yang sangat membantu manusia dalam keterbatasan fisiknya, antara lain : robotik, nano-teknologi, bioteknologi dan finansial teknologi. Melalui kehadiran teknologi robot banyak pekerjaan manusia dapat dilakukan dengan kecepatan yang lebih tinggi dan ketelitian yang lebih baik. Kini telah dikembangkan robot yang mampu berkomunikasi dengan manusia melalui bantuan kecerdasan buatan. Akan tiba saatnya, kita akan sulit membedakan robot dan manusia ketika ternyata robot lebih mengerti kebutuhan kita daripada orang-orang terdekat kita.


22 Demikian halnya dengan kehadiran nano-technologi dapat menghasilkan chip yang memiliki kemampuan mengingat dan mengolah data dalam jumlah yang sangat besar. Sementara bio-teknologi membantu manusia melalui rekayasa genetika menghasilkan varietas unggul bagi tanaman atau bibit unggul bagi hewan. Akhirnya dengan finansial teknologi, manusia mampu memangkas peredaran uang kertas dan uang logam dalam seluruh transaksi perbankan digantikan dengan data-data angka saldo yang tersimpan dalam komputer. Ketiga, demografi khususnya kemunculan generasi millenials yang menjadi pendorong terbentuknya jagad buana atau logika satu dunia. Dengan gencarnya migrasi antar benua dan jejaring lintas generasi yang dihadirkan teknologi memungkinkan kemunculan jenis komunitas baru jejaring seluruh dunia (one earth networks). Kini generasi millenials hadir melalui jejaring dunia maya melancarkan berbagai aktivitas mulai dari sekadar hobby, gerakan kemanusiaan, bahkan sebagian larut dalam jaringan terorisme global. Namun yang patut disayangkan, disamping munculnya keterhubungan global juga muncul efek negatif berupa konflik antar generasi maupun konflik berbasis identitas. Generasi millenials memang hadir ketika zaman kelimpahan tiba, sehingga mereka tidak mengenal mata pelajaran tata krama apalagi sejarah nenek moyang berbasis cerita rakyat atau sekadar cerita pengantar tidur dari orangtuanya. Bahkan cerita identitas kebangsaan atau kesukuan bagi mereka hanyalah pembatas gerakan untuk mengenal berbagai teman yang tampil melalui slogan “we are the native of digital era” – kita adalah pribumi di era digital. Keempat, tata kelola (governance) yang menata hubungan antar aktor maupun antar kepentingan. Dibutuhkan tata kelola dunia baru yang mampu menekan tendensi konflik menjadi harmoni. Dalam konteks inilah sektor pendidikan memiliki peran sentral untuk menjaga harmoni antar berbagai kepentingan dan menyatukan perbedaan filosofi antar generasi. Pendidikan pun perlu menata ulang peran dan kedudukannya dalam semesta kehidupan masyarakat agar kehadirannya tetap dirindukan bukan malah dicemaskan. Setelah mencermati konteks adanya disrupsi dan ko-eksistensi maupun implikasinya terhadap dunia pendidikan, maka perlu pula kiranya dilakukan pengukuran kesiapan dalam menghadapi gelombang disrupsi. Terkait dengan hal ini, menarik dicermati kajian yang dilakukan Deloitte Center for Corporate Governance (2015)15 yang memotret kesiapan perusahaan-perusahaan di Kanada dengan kehadiran gelombang disrupsi melalui 4 (empat) parameter yakni : kepekaan (awareness), budaya organisasi (organizational culture), kelenturan organisasi (organizational agility), dan efektivitas sumber daya (effective resources). Awareness diartikan sebagai kepekaan terhadap adanya perubahan dan kemampuan untuk segera merespon perubahan. Organizational culture dimaknai sebagai sejauhmana organisasi mendorong dan memberi insentif bagi ide-ide inovatif dan mewujudkannya. Organizational agility mengandung makna sejauhmana kemampuan dan kecepatan organisasi mendayagunakan seluruh sumber daya menangkap peluang dan menghadapi tantangan. Sedangan effective resources diartikan sebagai pendayagunaan teknologi, sumber daya manusia, maupun modal untuk menjadikan perubahan sebagai sesuatu yang nyata.


23 Tanpa mengabaikan berbagai faktor lainnya yang tentu saja berpengaruh terhadap praktika pendidikan, 4 (empat) paramater yakni : kepekaan (awareness), budaya organisasi (organizational culture), kelenturan organisasi (organizational agility), dan efektivitas sumber daya (effective resources) dapatlah dijadikan indikator dalam menakar kesiapan menyongsong era disrupsi sekaligus menjaga harmoni dalam ko-eksistensi. Harapan kita dunia pendidikan memiliki kepekaan yang tinggi dan budaya organisasi memberikan insentif bagi ide-ide inovatif dibarengi dengan kecepatan dan kemampuan dalam menafaatkan peluang serta efektif dalam penggunaan segenap sumber daya yang dimiliki agar kehadiran disrupsi inovasi akan menjadi berkah. Sebagai ilustrasi, untuk keperluan analisa awal dapat dilakukan penjabaran operasional dalam menakar kesiapan menghadapi era disrupsi sebagai berikut 16 (lihat tabel 1). Tabel 1 Operasionalisasi Parameter Kesiapan Menghadapi Disrupsi Inovasi Parameter Siap (Inovatif) Belum Siap (Reaktif) Tidak Siap (Kontraproduktif) Kepekaan (awareness) Memiliki kepekaan yang tinggi dan segera merespon perubahan Belum memiliki kepekaan dan lambat merespon perubahan Tidak memiliki kepekaan dan tidak merespon perubahan Budaya organisasi (organizational culture) Memberi insentif bagi ide-ide inovatif dan mewujudkannya Belum memberi insentif bagi ide-ide inovatif dan lamban mewujudkannya Tidak terdapat insentif bagi ide-ide inovatif Kelenturan organisasi (organizational agility) Kemampuan dan kecepatan tinggi mendayagunakan sumber daya menangkap peluang dan menghadapi tantangan Kemampuan dan kecepatan rendah mendayagunakan sumber daya menangkap peluang dan menghadapi tantangan Tidak memilki kemampuan mendayagunakan sumber daya dalam menangkap peluang dan menghadapi tantangan Efektivitas sumber daya (effective resources) Pendayagunaan teknologi, sumber daya manusia, maupun modal yang tinggi untuk perubahan Pendayagunaan teknologi, sumber daya manusia, maupun modal belum optimal untuk melakukan perubahan Tidak memanfaatkan teknologi, sumber daya manusia, maupun modal untuk melakukan perubahan Merujuk operasionalisasi Tabel 1 tersebut, pemerintah pusat maupun daerah yang mampu mengintegrasikan teknologi dan memanfaatkan segenap sumber daya dalam melakukan inovasi dapatlah dikatakan sebagai kelompok yang siap. Pemerintahan pada kelompok ini akan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya benihbenih perubahan. Sebagai contoh, daerah seperti DKI Jakarta, Kota Surabaya, Kabupaten Banyuwangi, Kota Bandung merupakan daerah yang siap menyongsong kehadiran smart education, e-government, smart city¸ e-planning, e-budegting, eperformance maupun konsep sejenisnya. Sementara itu, bagi yang masih dalam tahap inisiasi atau bahkan penerapan sporadis merupakan kelompok yang belum siap atau bahkan dapat disebutkan tidak siap dalam menghadapi gelombang disrupsi inovasi. Mencermati kondisi tersebut, perlu pula kiranya dipahami core belief perubahan sebagaimana diuraikan Rhenald Kasali (2009) dalam pidato pengukuhan Guru Besarnya “Keluar Dari Krisis : Membangun Kekuatan Baru Melalui Core Belief


24 dan Tata Nilai”. Kasali (2009)17 menegaskan bahwa pemerintah perlu menata kembali perekonomiannya dengan agenda-agenda baru yang mengedepankan ekonomi berbasis “market street” (real economy) dan menindak tegas spekulator yang merugikan masyarakat. Kasali18 merujuk David C. Korten (2009) menjelaskan perbedaan mendasar antara “Wall-Street Capitalism” dengan “Market-Street Entrepreneur” sebagaimana ditampilkan Tabel 2 berikut ini. Tabel 2 Perbedaan Tujuan dan Filosofi Antara “Wall-Street Capitalism” dan “Market-Street Entrepreneur” Parameter Wall-Street Capitalism Market-Street Entrepreneur Pendorong Utama Uang (making money) Kehidupan/kebahagiaan, karya Definisi Aktivitas Menggunakan uang untuk menghasilkan uang pada mereka yang punya uang Mempekerjakan sumber-sumber daya yang ada untuk melayani kebutuhan pasar (komunitas) Ukuran Usaha Sangat besar, dapat merupakan hasil penggabungan Kecil dan menengah Sumber Pembiayaan Berasal dari publik (pasar) Berasal dari internal yang membangun usaha Modal Uang Global, tanpa batas Lokal, nasional dengan batas-batas yang jelas Tujuan Investasi Maksimalisasi keuntungan Meningkatkan manfaat output Peranan Keuntungan Alat dan tujuan untuk memaksimalkan Alat untuk melanjutkan keberadaan (hidup) Ukuran Efisiensi Pengembalian modal uang (return to financial capital) Pengembalian modal kehidupan (return to living capital) Mekanisme Koordinasi Perencanaan terpusat dari big corporations Jaringan pasar yang dibangun sesuai kebutuhan Kerjasama Bisa terjadi dalam bentuk kolusi untuk menghindari disiplin persaingan Terjadi antara manusia dan komunitasnya Tujuan Kompetisi Mengeliminasi Menstimulasi efisiensi dan inovasi Perdagangan Membebaskan dan menghapuskan regulasi Mengembangkan, membuat lebih adil (fair) Peran Pemerintah Melindungi interest para pemilik Memajukan kesejahteraan dan kemanusiaan Orientasi Politik “A democracy of Dollars” “ A Democracy of Persons” Uraian pada Tabel 2 menegaskan perlunya dunia pendidikan kita pada setiap tingkatan menentukan pilihan peran dan garis kebijakan sesuai dengan tujuan dan filosofi kehadirannya di tengah-tengah warga. Apakah layanan pendidikan hadir dengan peran minor hanya sebagai pelindung para spekulator? Ataukah sektor pendidikan kita mampu berperan optimal dalam melindungi warganya dengan menghadirkan nilai-nilai dasar yang menstimulasi efisiensi dan inovasi? Ketika sektor pendidikan memilih menjadi penganjur “Wall-Street Capitalism” maka cukuplah perannya sebagai komprador atau malah predator bagi warganya untuk melindungi kepentingan para pemodal. Sebaliknya ketika sektor pendidikan berketetapan hati membela warganya maka model “Market-Street Entrepreneur” menjadi basis dalam menumbuhkan spirit kolaborasi. Contoh lebih lanjut dapat dicermati perubahan politik otonomi daerah dan implikasinya terhadap pelayanan pendidikan. Politik otonomi daerah tentunya akan sangat dipengaruhi oleh konstelasi politik nasional yang berlangsung pada zamannya. Ketika model pemerintahan daerah yang dianut masih sentralistik tentunya sangat kompatibel dengan model “Wall-Street Capitalism”. Tentunya hal ini sudah menjadi cerita lama kegagalan model otonomi semu orde baru yang menumpulkan kreativitas dan inovasi daerah. Kini model otonomi daerah yang lebih mengedepankan demokratisasi lokal dan pengembangan daya saing daerah sepertinya sulit untuk tidak menerima perubahan nilai ke arah “Market-Street Entrepreneur”.


25 Bahkan apabila dicermati penegasan yang dimuat dalam konsideran menimbang Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah khususnya pada huruf (a), huruf (b), dan huruf (c) adalah mendorong demokratisasi lokal dan pengembangan daya saing daerah. Melalui penegasan dalam UU 23/2014 maka peran baru pemerintah daerah dalam penyelenggaraan urusan wajib pendidikan lebih didorong untuk menyemai benih-benih efisiensi dan inovasi bukan malah mendistorsi informasi yang melanggengkan manipulasi. Untuk mengurangi kesenjangan kesiapan pada level pemerintah daerah misalnya, inisiasi KPK dengan replikasi praktek terbaik antar daerah patut diapresiasi. Inisiasi KPK19 melakukan uji coba dalam penerapan integrasi aplikasi sebagai pengembangan replikasi praktek-praktek terbaik tata kelola pemerintahan dalam pengelolaan APBD dimulai dari perencanaan, penganggaran, pelaporan dan monitoring secara masif pada 33 Provinsi dan beberapa Kabupaten/Kota terpilih diniati menjadi pintu masuk disrupsi inovasi dalam pemerintahan daerah. Inistiatif KPK ini dapat dimaknai sebagai upaya percepatan meng-upgrade kesiapan pemerintah daerah dalam meyongsong era disrupsi. Inisiasi KPK tersebut mengambil fokus dalam perencanaan dan pengelolaan keuangan daerah. Topik ini diambil mengingat korupsi APBD merupakan suatu gejala sistemik yang harus dikawal sejak perencanaan, penganggaran, penatausahaan, pengadaan barang/jasa sampai pada saat pelaporan dan pertanggungjawaban. Dengan mengintegrasikan proses perencanaan mulai dari musrenbang, penyusunan dokumen perencanaan, penyusunan APBD, penatausahaan keuangan maupun penyusunan laporan keuangan daerah maka semua gejala deviasi dalam pengelolaan keuangan dapat dicegah sejak dini. Inilah sebentuk disrupsi yang hendak dilembagakan dalam pemerintah daerah melalui transplantasi teknologi ke dalam tubuh birokrasi yang kadangkala alergi teknologi. Kehadiran disruptive government memang menjadi sesuatu yang tidak terbantahkan. Pemerintahan yang terdisrupsi hadir melalui kepemimpinan yang transformatif, model bisnis yang baru dan inovasi dalam pelayanan publik. Harapan untuk itu telah memiliki landasan yuridis, antara lain dapat diuraikan sebagai berikut. Dalam konteks besar penyelenggaraan pemerintahan daerah, telah memuat ketentuan yang cukup membawa kelegaan menyongsong era disrupsi inovasi yakni pasal 390 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah khususnya ketentuan yang memuat tentang inovasi daerah. Ketentuan lebih lanjut dari inovasi daerah telah dijabarkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah. Kehadiran Peraturan Pemerintah tentang Inovasi Daerah merupakan lahan subur bagi kehadiran berbagai ide-ide kreatif dalam membangun daerah. Tentunya inovasi tidak berhenti pada tataran ide melainkan harus dapat diimplementasikan agar memiliki daya ubah dan daya gugah dalam peningkatan kualitas pelayanan pemerintahan daerah. Dalam konteks inilah peran kepemimpinan Kepala Daerah, model bisnis dalam tata kelola pemerintahan daerah menjadi penentu berhasilnya inovasi daerah. Tanpa mengabaikan serangkaian regulasi yang mewadahi kehadiran disruptive government, satu elemen penting dalam penyelenggaraan pemerintahan termasuk di dalamnya pelayanan pendidikan sebagai urusan wajib pelayanan dasar yang perlu mendapat perhatian adalah kesinambungan sumber daya keuangan.


26 Keuangan sangat erat kaitannya dengan semua elemen layanan pemerintahan tidak terkecuali dalam urusan wajib pendidikan. Bahkan ada joke di kalangan pelaku di dunia pendidikan bahwa pelayanan pendidikan harus “terpadu” yang konotasinya negatif – tergantung pada duit. Keuangan dapat diibaratkan sebagai jangkar dalam menata ulang format pendidikan. Sehingga tak salah standar pembiayaan menjadi salah satu standar nasional pendidikan (SNP). Beberapa inovasi di bidang keuangan yang telah memperoleh basis yuridis guna diterapkan dalam layanan pendidikan setidaknya selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah transaski non-tunai dan skema pembiayaan alternatif. Masing-masing inisiatif strategis tersebut dapat diuraikan sebagaimana yang diamanatkan dalam regulasi sebagai berikut. Pertama, transaksi non tunai. Inisiatif strategis ini sudah lama didengungkan oleh Bank Indonesia untuk meningkatkan akurasi, efisiensi dan akuntabilitas keuangan negara. Untuk tingkat nasional telah diterbitkan Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2016 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2016 dan Tahun 2017. Selanjutnya, penegasan oleh Menteri Dalam Negeri dengan Surat Edaran masing-masing Nomor 910/1866/SJ dan Nomor 910/1867/SJ tentang Implementasi Transaksi Non Tunai pada Pemerintah Daerah agar dilakukan sejak 1 Januari 2018. Satu hal yang menarik dengan kehadiran gerakan nasional transaksi non-tunai tersebut adalah dapat dilakukannya integrasi seluruh layanan keuangan, perizinan, perpajakan/retribusi daerah maupun produk unggulan daerah. Hal inilah yang telah diterapkan di beberapa daerah dengan hasil-hasil yang cukup menggembirakan berupa percepatan layanan, peningkatan PAD maupun kemudahan akses bagi warga tanpa harus takut dipungli oleh aparat pemdanya. Kedua, skema pembiayaan alternatif. Pembiayaan alternatif merupakan bentuk-bentuk sumber pendanaan bagi pemerintah daerah dalam mendukung percepatan pembangunan daerah. Pada dasarnya pendanaan alternatif dapat dihasilkan melalui sumber dana internal pemerintah (pusat, provinsi, kabupaten/kota) sebagai konsekuensi adanya hubungan keuangan antar tingkat pemerintahan. Selain dana internal, pembiayaan alternatif dapat pula ditempuh dengan menggalang dana dari pihak ketiga berupa dana masyarakat dalam negeri maupun luar negeri. Bentuk-bentuk pendanaan alternatif pembangunan daerah yang perlu mendapat perhatian adalah hibah, Corporate Social Responsibiity (CSR), kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU), maupun penggalangan dana masyarakat (crowdfunding). Masing-masing bentuk pembiayaan alternatif tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. Hibah misalnya, dapat diperoleh dari pemerintah pusat (kementerian/lembaga) maupun dari luar negeri yang dimediasi oleh pemerintah. Beberapa regulasi yang telah diterbitkan untuk mengatur pengelolaan hibah, antara lain : 1) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tatacara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah; 2) Peraturan Pemerintah Nomor 02 Tahun 2012 tentang Hibah Daerah; 3) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 188/PMK.07/2012 tentang Hibah Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah; maupun 4) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah.


27 Beberapa hal penting terkait dengan upaya optimalisasi sumber pendanaan hibah yang perlu dicermati, antara lain : kriteria pemberian hibah, metode pengajuan/persyaratan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan maupun pertanggungjawaban dan pelaporan20. Kriteria pemberian hibah ditentukan menurut sumber hibah. Hibah yang bersumber dari hibah luar negeri digunakan untuk kegiatan yang merupakan urusan pemerintah daerah, mendukung program pembangunan nasional dan/atau kegiatan spesifik yang ditentukan pemberi hibah. Hibah yang bersumber dari pinjaman luar negeri digunakan untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka pencapaian sasaran program prioritas pembangunan nasional. Sementara itu, hibah yang bersumber dari penerimaan dalam negeri digunakan untuk kegiatan peningkatan fungsi pemerintahan, layanan dasar umum, pemberdayaan aparatur pemerintah daerah, kegiatan tertentu yang merupakan kebijakan pemerintah, berskala nasional/internasional atau kegiatan lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah. Pengajuan hibah dilakukan oleh Pemerintah Daerah melalui Kementerian/Lembaga sesuai kebijakan prioritas hibah tahunan yang ditetapkan dalam RKP dan/atau Renja K/L. Setelah dilakukan review oleh K/L maka daftar pemda penerima hibah dan nilai hibah diusulkan untuk dilakukan penetapan oleh Menteri Keuangan. Setelah penetapan daerah penerima dan nilai hibah dilakukan penandatangan Naskah Perjanjian Hibah (NPH) oleh Menteri Keuangan dan Kepala Daerah. Penganggaran hibah di daerah dilakukan dengan mencantumkan hibah sebagai lain-lain pendapatan daerah yang sah dalam APBD dan sebagai belanja pada program/kegiatan yang telah ditentukan sesuai NPH atau dapat dianggarkan dalam pengeluaraan pembiayaan. Pelaksanaan dan penyaluran hibah dari Rekening Kas Umum Negara (RKUN) ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) dilakukan melalui pengajuan oleh Pemda disertai lembar rekomendasi, hasil verifikasi K/L terkait dan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak yang ditandatangani Kepala Daerah diajukan kepada Menteri Keuangan. Penatausahaan, pertanggungjawaban dan pelaporan hibah di daerah dilakukan sesuai dengan mekanisme pengelolaan keuangan daerah antara lain dicatat dalam laporan keuangan pemda sesuai standar akuntansi pemerintahan dan membuat laporan secara triwulanan kepada Menteri Keuangan serta Menteri/Pimpinan K/L terkait. Corporate Social Responsibiity (CSR) merupakan bentuk pendanaan alternatif lainnya yang perlu dioptimalkan dalam pembangunan daerah. Di Indonesia kedudukan CSR diatur melalui serangkaian regulasi. Undang-undang Nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, mengatur bahwa “Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang melaksanakan kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi ikut bertanggung jawab dalam mengembangkan lingkungan dan masyarakat setempat”. Penegasan selanjutnya dalam Pasal 11 UU Migas mengatur mekanisme kontrak mewajibkan adanya klausul pengembangan masyarakat dan jaminan hak-hak masyarakat adat. Dengan demikian, sumber dana alternatif dari berbagai usaha yang terkait dengan minyak dan gas bumi dapat dijadikan komponen pendukung dalam menopang pendanaan pembangunan.


28 Undang–Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal Asing (UUPM), juga menegaskan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan penanaman modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan nilai, norma, budaya masyarakat setempat. Hal yang sama diatur juga melalui Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), memandatkan bahwa Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. Tanggung jawab sosial dimaksud adalah komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya. Kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) adalah alternatif lain dalam pendanaan pembangunan. Model pendanaan alternatif melalui skema KPBU telah diatur melalui beberapa regulasi antara lain : 1) Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 Tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur; 2) Permen PPN/Kepala Bappenas Nomor 4 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur; 3) Peraturan Kepala LKPP Nomor 19 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pengadaan Badan Usaha Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Dalam Penyediaan Infrastruktur; 4) PMK Nomor 190/PMK.08/2015 tentang Pembayaran Ketersediaan Layanan Dalam Rangka Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur; 5) Permendagri Nomor 96 Tahun 2016 tentang Tata Cara Pembayaran Ketersediaan Layanan (Availability Payment) Dalam Rangka Kerjasama Pemerintah Daerah Dengan Badan Usaha Untuk Penyediaan Infrastruktur di Daerah. Satu lagi bentuk pendanaan alternatif untuk pembangunan adalah penggalangan dana masyarakat (crowdfunding). Melalui bisnis swasta, model ini biasa digunakan para start-up yang menawarkan kepada publik model pendanaan mulai dari pembelian produk, kepemilikan saham maupun promosi merk bersama (cobranding). Model ini dapat direplikasi oleh pemerintah dalam layanan publik. Bahkan dengan model pendanaan crowdfunding, pemerintah akan menguji derajat kepercayaan warga (trust) terhadap pemerintah dengan berbagai model sharing pendanaan ataupun penyediaan layanan bersama terhadap layanan publik yang dibutuhkan warga di tengah-tengah kelangkaan sumber dana pemerintah. Sebegitu jauh uraian tentang disrupsi dan ko-eksistensi. Satu hal yang dapat disarikan adalah keduanya hadir ibarat pendulum antara “survival of the fittest” di satu ujung ekstrim dan “we are under the same sun” pada ujung ekstrim lainnya. Hal ini mengingatkan narasi Yuval Noah Harari (2014)21 bahwa ras homo sapiens memang punya kemampuan mengarang fiksi sejak revolusi kognitif. Uraian selanjutnya naskah ini akan menjelaskan keberadaan beragam fiksi imajinasi pendidikan berdialektika dalam berbagai revolusi yang terjadi. Revolusi Sains : Thinking ke Intuiting Bagian ini menjelaskan bagaimana disrupsi dan ko-eksistensi terjadi atas Imajinasi Pendidikan seiring dengan berlangsungnya revolusi sains. Sebelum menjelaskan hal tersebut, setidaknya perlu dipahami dulu apa yang dimaksud dengan sains itu sendiri. Apa yang membedakannya dengan seni atau sebatas ketrampilan?


29 Science menurut Anol Bhattacherjee (2012) refers to a systematic and organized body of knowledge in any area of inquiry that is acquired using “the scientific method” 22. Meminjam definisi ilmu sebagaimana diuraikan oleh Bhattacherjee tersebut maka untuk dapat disebut sebagai ilmu haruslah merupakan suatu tubuh ilmu pengetahuan yang sistematis dan terorganisasi dengan area/lapangan studi yang khas serta menggunakan metode ilmiah dalam memperoleh kebenaran/pemahaman. Definisi tersebut menegaskan bahwa semua akumulasi pengetahuan dan/atau keterampilan yang belum sistematik dan diperoleh melalui metode ilmiah yang dimiliki nenek moyang kita sang pemburu-pengumpul belumlah layak disebut sains. Merujuk definisi sains tersebut, Bryan Bunch dan Alexander Hellemans (2004)23 menjadikan kriteria sistematik body of knowledge dan penggunaan metode saintifik menjadi parameter dalam memotret kronik perkembangan sains dan teknologi sejak 600 tahun sebelum masehi hingga sekarang. Menurut kedua ilmuwan tersebut perkembangan sains dan teknologi secara kronologis dapat dibagi dalam 10 (sepuluh) tahapan penting, yakni : 1. Sains dan teknologi pra-ilmiah (599 SM); 2. Sains dan teknologi kuno (600 SM - 529 M); 3. Sains dan teknologi abad pertengahan (530 – 1452); 4. Renaisans dan Revolusi Saintifik (1453-1659); 5. Metode Saintifik; Pengukuran dan Komunikasi (1660-1734); 6. Abad Pencerahan dan Revolusi Industri (1735-1819); 7. Sains dan teknologi Abad ke-19 (1820-1894); 8. Kebangkitan sains dan teknologi modern (1895-1945); 9. Kejayaan Sains dan Masyarakat Pasca Industri (1946-1972); 10. Abad Informasi (1973-sekarang). Ketika sains dan teknologi masih dalam tahap pra ilmiah, tampaknya nenek moyang kita terampil menggunakan peralatan sederhana dari batu. Zaman itupun dikenal sebagai zaman batu dimana alat batu pertama ditemukan di Olduvai Gorge, Tanzania oleh Louis dan Mary Leakey (Bunch dan Hellemans, 2004 :1). Para sejarawan menyebut pula zaman batu sebagai Paleolhitic dan Neolithic. Terlepas dari persoalan nama terhadap zaman tersebut, yang jelas nenek moyang kita memiliki keterampilan khusus dalam menggunakan batu sebagai alat bantu baik sebagai palu atau kampak yang dapatlah dinamai teknologi. Mereka yang hidup di zaman batu umumnya dicatatkan dalam sejarah manusia sebagai ras dalam genus homo dengan berbagai spesies mulai dari Homo Habilis, Homo Rudolfensis, Homo Ergaster maupun Homo Erectus. Tanpa mengabaikan berbagai keterbatasan nenek moyang homo sapiens, tercatat dalam sejarah pada zaman sains dan teknologi pra-ilmiah inipula telah terjadi revolusi pertanian. Nenek moyang kita berhasil menjinakkan hewan dan tumbuhan dimulai dari Timur Tengah. Selanjutnya, alat-alat dari batu dilengkapi pula dengan alat dari logam, kemampuan membuat bangunan, alat transportasi dengan roda bahkan tidak berlebihan kiranya apabila zaman ini disebut sebagai penanda “lahirnya sejarah” kehidupan sang homo sapiens.


30 Revolusi pertanian pun dijadikan tonggak pengenalan peradaban bagi sang pemburu-pengumpul yang mulai menetap di kota-kota utama. Sejarah mencatat peradaban Mesir, India maupun Tiongkok dikenal sejak adanya revolusi pertanian. Apabila catatan sejarah ini dikonfirmasi melalui narasi kehidupan manusia pada Perjanjian Lama, tidaklah terlalu sulit membayangkan kehidupan sepanjang aliran sungai Efrat dan Tigris yang dicatat sebagai peradaban Mesopotamia. Apabila jejak sains ditelusuri pada masa tersebut tampaknya mulai dikenal antropologi, arkeologi, astronomi dan matematika sebagai sains awal yang dipelajari sebatas keterampilan bagi nenek moyang kita. Perkembangan selanjutnya pada masa sains dan teknologi kuno mulailah dikenal filsafat sebagai induk segala ilmu. Tradisi pemikiran pra-sains yang sebelumnya muncul di Timur Tengah, Afrika dan Asia bergeser ke Eropa dan berpusat di Roma. Pengenalan filsafat, matematika dan fisika bahkan kimia mulai berkembang seiring perkembangan peradaban Eropa. Satu hal lagi yang unik pada zaman ini adalah dimulainya pertumbuhan imperium oleh Roma ke seluruh penjuru dunia. Pembuatan peta dunia layaknya wilayah yang akan ditaklukkan menjadi pendorong ekspansi Eropa ke ujung bumi. Kejayaan Eropa dengan segala imperium yang pernah ada ternyata tidak bertahan selamanya. Pada masa abad pertengahan sains justru berkembang di Cina, India dan Arab. Dengan jejak sejarah ini maka sebenarnya dapat dipahami bahwa Asia pernah mengalami kejayaan pada masa lampau. Bayangkan sejenak kondisi yang terjadi sebelum dan pada saat terjadinya revolusi sains. Ketika nenek moyang kita belum mengenal revolusi sains, semua pengetahuan dianggap hanya milik pendeta, para filsuf dan orang bijak yang diuraikan dalam lembaran-lembaran papirus atau ukiran log batu sebagai dogma yang harus diketahui (kalau bukan malah diimani). Apabila tidak terdapat dalam lembaran papirus atau log batu dianggap tidak penting atau setidaknya itu bukan urusan manusia, bisa jadi itu urusan dewa atau otoritas Tuhan. Dengan kondisi tersebut maka retorika dalam membangun argumen atau silogisme ala Aristoteles mendapat tempat terhormat. Semua kalimat bijak bahasa langit menghiasi gulungan papirus dan dinding gua batu. Bahkan pada saat itu mungkin saja terdapat anggapan umum bahwa penemuan baru sebagai buah dari sains menjadi pertanda akan datang bencana dari para dewa. Bayangkan bagaimana suasana batin seorang Copernicus dengan teori “heliosentris” harus menunggu sampai ajal tiba sebelum menerbitkan pandangannya. Copernicus menunda proklamasi “heliosentris” karena harus berhadapan dengan otoritas gereja yang jatuh cinta dengan Ptolomeus yang menawarkan “geo-sentris”. Kisah atau narasi “geo-sentris” ala Ptolomeus dianggap paling selaras dengan uraian kitab Kejadian bahwa bumi diciptakan sebagai pusat semesta. Semua pandangan diluar itu dianggap sebagai bidat dan merongrong wibawa gereja termasuk para pendeta tentunya. Kisah lain, dapat pula dibayangkan misalnya bagaimana kehidupan manusia zaman abad pertengahan yang menghadirkan sebentuk kehidupan monoton sang homo sapiens mengandalkan berbagai keterampilannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan sisa waktunya menjalani hidup dalam gua atau rumah jerami yang jauh dari keramaian. Apabila mereka yang dulunya mendiami kota Roma pada masa kegelapan masih hidup kini di tengah gemerlapnya Ibukota Italia itu, bagi mereka mungkin saja Italia masa kini adalah surga yang dijanjikan para nabi di zamannya.


31 Sisi lain kehidupan sebelum kehadiran revolusi sains adalah adanya kebutuhan untuk percaya pada arwah (Harari, 2014). Semua makhluk dan benda-benda dipercaya memiliki arwah sehingga kemampuan membuat narasi fiksi menjadi salah satu keterampilan homo sapiens. Kisah-kisah dewa di gunung Olympus, tempattempat keramat yang dibalut dengan hikayat-hikayat orang suci dituturkan secara turun temurun. Kondisi inilah yang sering disebut ajaran animisme atau paganisme yang tumbuh subur sejalan dengan budaya lisan yang menjadi penanda awal peradaban. Semua itu dapat bertahan karena masih mengandalkan tuturan lisan para orang bijak sebelum dikenal tulisan dalam bentuk angka dan huruf. Demikianlah potret singkat kehidupan nenek moyang kita penuh dengan takhayul, mistis dan cerita-cerita fiksi yang diturunkan dari generasi ke generasi sebelum adanya revolusi sains. Merujuk ilustrasi singkat kehidupan nenek moyang sang homo sapiens sebagaimana digambarkan di atas, maka sebelum revolusi sains terjadi praktis imajinasi pendidikan hanya bentuk imajinasi magis dan imajinasi penaklukan. Kedua bentuk imajinasi tersebut saling memperkuat dalam ko-eksistensi kalau bukan malah ko-produksi menghasilkan fiksi-fiksi yang membius ruang kesadaran warga. Melalui imajinasi magis atau dalam konteks nusntara di zaman raja-raja maka imajinasi religi-nusantara misalnya, pendidikan menanamkan kesadaran di benak warga bahwa raja atau monarki yang memimpin penyelenggaraan kekuasaan adalah wakil Tuhan yang tidak boleh dibantah. Pengingkaran terhadap keberadaan Raja sebagai wakil Tuhan dianggap akan menghadirkan malapetaka atau mungkin kesulitan hidup bagi warga. Pada saat yang bersamaan, raja atau rejim monarki yang memegang kendali kekuasaan pun meneguhkan kekuatan pemaksanya melalui kehadiran kekuatan perang, penjara dan simbol-simbol ritual yang mampu membuat syaraf-syaraf ketakutan warga senantiasa aktif. Bahkan sebagai perwujudan kekuasaan mutlak para raja dilakukan pula bentuk-bentuk teror mulai dari yang samar sampai yang vulgar (dapat dicermati misalnya ritual kepercayaan yang dianut raja sampai berupa kerja paksa atau bahkan hukuman mati bagi yang melawan raja). Cerita raja-raja, nabi-nabi besar dan nabi-nabi kecil dalam Perjanjian Lama mungkin dapat dijadikan bahan refleksi kisah panjang imajinasi pendidikan berbasis religi dan cerita magis. Bahkan terdapat suatu garis pemikiran dalam seluruh kitab perjanjian lama bahwa kemakmuran warga sangat ditentukan ketaatan rajanya dalam melaksanakan perintah Tuhan. Hal sebaliknya terjadi, ketika raja melawan perintah Tuhan maka bencana lah yang akan menimpa seluruh negeri. Sekarang kita beralih ke potret kehidupan manusia ketika terjadi revolusi sains. Kiranya untuk kebutuhan ini perlu diuraikan 4 (empat) hal penting terkait dengan revolusi sains yang nantinya mempengaruhi Imajinasi Pendidikan, yakni : (1) kurun waktu terjadinya revolusi sains; (2) faktor pendorong terjadinya revolusi sains; (3) perkembangan metodologi ilmu seiring revolusi sains; (4) pergeseran model berpikir dari thinking ke intuiting sebagai implikasi revolusi sains. Masing-masing hal tersebut diuraikan sebagai berikut. Pertama, penelusuran atas kurun waktu terjadinya revolusi sains. Mengenai hal ini, para sejarawan ilmu pengetahuan menyebutkan waktu yang beragam berdasarkan argumen masing-masing. Namun secara umum dapat disebutkan bahwa puncak revolusi sains terjadi pada abad ke 17 atau sekitar tahun 1700 M 24. Mengapa revolusi sains terjadi pada abad ke-17 bukan abad ke-5 atau setelahnya?


32 Jawaban sederhana atas pertanyaan ini dapat disebutkan bahwa sumber tertulis tentang hal ini tidak tercatat sebelumnya. Itulah yang diajarkan sejarah pada kita bahwa sumber tertulis menjadi penanda yang dapat dirujuk oleh generasi sang homo sapiens berikutnya. Ketika sumber tertulis menjadi rujukan, apakah yang menjadi penanda kurun waktu revolusi sains terjadi pada abad ke-17? Ternyata penetapan waktu terjadinya revolusi sains dicatatkan dalam sejarah sebagai awal dikenalnya metode ilmiah “scientific methods”. Melalui metode ilmiah maka cara berpikir deduktif yang ditawarkan oleh para filsuf kuno dan diteruskan oleh para pemikir abad pertengahan perlahan mulai ditinggalkan. Sebutan baru pun muncul bagi para pemikir abad ke-17, mereka lebih senang disebut sebagai ilmuwan – “scientist” daripada sebagai sebagai filsuf alam - “natural philosopher” sebagaimana sebutan pendahulu mereka para pemikir abad pertengahan. Selain penemuan metode ilmiah, abad ke-17 juga mulai ditemukan berbagai alat bantu yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan mulai dari teleskop, mikroskop maupun kapal layar. Teleskop membantu manusia melihat bintang di langit, mikroskop membantu dalam mengamati perilaku jasad renik dan kapal layar membawa manusia dalam penjelajahan akan dunia lain yang sebelumnya tidak dikenal. Dengan adanya alat bantu dalam penyelidikan ilmiah semua model perenungan yang deduktif berbasis akal sehat semata mulai digugat. Inilah yang dijelaskan oleh Jhon Henry (1997)25 bahwa pada abad ke-17 dimulai suatu pemikiran baru dan semangat baru arah pengembangan ilmu pengetahuan. Model pemikiran kontemplatif para pemikir terdahulu seperti Socrates, Plato ataupun Aristoteles yang hanya mengabdi untuk memuaskan rasa ingin tahu (curiosity), digantikan oleh metode eksperimental yang dimulai oleh ilmu alam dan hasilnya didedikasikan bagi kepentingan kemanusiaan. Dengan demikian, revolusi sains setidaknya dapat dimaknai sebagai perubahan metode dan cara pandang dalam dunia keilmuan atau meminjam istilah Thomas S. Khun (1962)26, terjadi revolusi paradigma dalam ilmu alam yang mempengaruhi hampir semua bidang ilmu termasuk ilmu sosial maupun ilmu-ilmu kemanusiaan (human sciences). Bahkan ada satu hal yang patut dicatat dengan kehadiran revolusi sains, merujuk uraian Yuval Noah Harari (2014)27 adalah ditemukannya kemampuan baru manusia untuk mengubah peradaban sekaligus dapat menghentikannya. Disebut merubah peradaban karena dengan penemuan ilmiah perkakas batu atau perunggu mulai digantikan alat mesin dari besi dan kemampuan manusia dalam merubah/menguasai alam berlipat ganda. Sementara itu, melalui revolusi sains manusia dapat pula menghentikan peradaban layaknya banjir besar zaman nabi Nuh. Setidaknya hal ini ditandai dengan diledakkannya bom atom pertama pada tanggal 16 Juli 1945 pukul 05;29;45 di Alamogordo, New Meksiko. Bom atom sebenarnya dapat dipersamakan kekuatannya dengan banjir besar zaman Nuh dalam melenyapkan kehidupan di bumi. Sejak saat itu sebenarnya sang homo sapiens mulai menyadari bahwa thinking apabila tidak dibentengi dengan moralitas hanya menghasilkan tenggelamnya peradaban (sinking of civilization). Singkat kata, revolusi sains ternyata ibarat pisau bermata dua. Satu sisi menyingkap selubung dogma yang kadangala jauh dari realita senyatanya. Namun sisi lain, ia juga merobek batas imajinasi manusia sehingga dapat menuju akhir kehidupannya melalui penemuan-penemuan yang tak pernah dibayangkan


33 sebelumnya. Melalui revolusi sains dikenal teknologi, peradaban industri, senjata pemusnah massal dan terjalinnya simbiosa antara ilmuwan, penguasa dan pemilik modal (kapitalis). Hal penting lainnya yang muncul bersamaan dengan revolusi sains adalah kemenangan ilmu eksakta terhadap ilmu lainnya khususnya penggunaan formula matematika atau rumus-rumus statistika. Mengapa matematika atau statistika dijadikan penanda dalam revolusi sains? Kedua cabang ilmu eksakta ini cenderung mampu segera melepas diri dari selimut mistis dan pengaruh religius. Bahkan yang paling unik para pendeta pun banyak yang berminat mempelajari matematika dan statistika dalam mendukung tugas sucinya menyebarkan ajaran agama. Mungkin sensus penduduk pada saat kelahiran Jesus dapat dijadikan contoh dikenalnya matematika dan statistika yang paling awal. Contoh lain dapat diajukan yang menunjukkan bagaimana digdayanya kedua ilmu tersebut dalam membantu manusia menemukan formula atas berbagai peristiwa kehidupan nyata. Melalui matematika misalnya, dapatlah dihitung jarak tempuh sebuah kendaraan setelah berjalan sekian lama asal saja diketahui kecepatan rataratanya. Demikian halnya, dengan rumus matematika sederhana yang menggunakan dalil phitagoras atau trigonometri dapatlah dihitung jarak matahari dengan bumi atau bulan dengan matahari. Hal yang sama berlaku dengan statistika, segala kemungkinan (probabilitas) dapat dinarasikan dengan rumus sederhana yang ditawarkannya. Bahkan salah satu basis perhitungan aktuaria yang mendasari munculnya bisnis asuransi berawal dari sumbangan statistika. Statistika juga sepertinya menjadi ilmu wajib yang dipelajari oleh seluruh cabang ilmu untuk dapat menyandang predikat ilmiah. Sebut saja misalnya, statistika terdapat dalam setiap cabang ilmu pengetahuan mulai dari ilmu alam, ilmu sosial maupun ilmu humaniora dengan namanya masingmasing sebagai statistika dasar, statistika sosial dan statistika terapan. Melalui perkembangan sains terdapat banyak hal yang sebelumnya tabu diperbincangkan mulai diperdebatkan untuk menguji kehandalan matematika maupun statistika. Sebagai contoh, dalam lapangan produksi pertanian. Dulu sebelum dikenal sains khususnya matematika dan statistika maka kelimpahan hasil produksi pertanian dianggap sebagai keberkahan yang diberikan dewa ketika menggenapi permintaan warganya. Melalui matematika dan statistika dikembangkanlah model produksi yang berbasis peluang tumbuh kembangnya bibit dan volume produksi per luas lahan tanam. Kondisi inilah yang bagi sebagian orang, revolusi sains identik pula dengan pelucutan kekuasaan para dewa. Kedua, revolusi sains juga didorong oleh serangkaian faktor pendorong. Setidaknya terdapat setidaknya 5 (lima) faktor yang mendasari terjadinya revolusi sains antara lain : (1) terdapat pertentangan antara para pemikir ketika ilmu yang telah dikenal sebelumnya tidak mampu menjelaskan kaitannya dengan ilmu yang datang kemudian; (2) metode yang digunakan sebelumnya tidak mampu menjelaskan secara empirik bagaimana membuktikan kejadian alam yang sebenarnya; (3) mulai terbuka akses bagi para ilmuwan untuk menguji kebenaran pemikiran sebelumnya seperti warisan pemikiran Eropa, Yunani ataupun Timur Tengah; (4) mulai muncul berbagai komunitas ilmuwan yang mempublikasikan hasil riset masing-masing untuk diuji secara terbuka; (5) terbukanya peluang kerjasama berbagai ilmu pengetahuan menyelesaikan persoalan kemanusiaan.


34 Akumulasi dari berbagai faktor pendorong tersebut, pada abad revolusi sains ini pulalah disadari bahwa kebenaran sains (scientific truth) berbeda dengan kebenaran umum (general truth). Singkatnya monopoli kebenaran yang sebelumnya dilakukan para pilsuf, pemuka agama ataupun penguasa digugat melalui kehadiran revolusi sains. Monopoli kebenaran yang sebelumnya sulit dibantah kini mulai digugat melalui kehadiran revolusi sains yang menawarkan pembuktian ala metode ilmiah. Pertentangan diantara para pemikir tentunya menghasilkan beragam aliran pemikiran yang menjadi landasan pemikiran baru untuk menyempurnakan warisan generasi sebelumnya. Ketika revolusi sains belum terjadi maka aliran pemikiran yang mengutamakan rasio (rasionalisme) menjadi cara berpikir arus utama. Melalui revolusi sains, rasionalisme yang mengandalkan ketajaman berpikir harus berhadapan dengan empirisme yang mengandalkan pengumpulan dan pengamatan atas data empirik sehingga kesimpulan yang diperoleh dapat dilacak secara empirik. Alhasil rasionalisme dan empirisme memperoleh tempat masing-masing ketika revolusi sains terjadi. Metode kelimuan sebelumnya lebih bersifat dogmatis dan sulit dibuktikan kebenarannya harus menerima kehadiran berbagai metode saintifik yang berisi beragam ekperimentasi memberi jalan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Kalimat lain yang menggambarkan suasana revolusi sains adalah mulai digugatnya kekuasaan para dewa dengan penyajian fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Sebagai contoh sederhana peristiwa alam seperti petir, gunung meletus atau banjir besar sebelum dikenal revolusi sains dijelaskan dengan berbagai narasi yang berbau mitos untuk menegaskan bahwa peristiwa tersebut adalah manifestasi dewa yang murka atas ulah manusia. Tentunya penjelasan tersebut mengalami guncangan dengan penjelasan yang disajikan ilmu pengetahuan. Melalui kehadiran sains dapatlah dijelaskan bahwa petir merupakan peristiwa tumbukan ion di udara, gunung meletus merupakan fenomena gerakan magma dalam perut bumi dan banjir besar merupakan gejala alam yang menandai terganggunya ekosistem dalam siklus keseimbangan volume air di udara dan daratan. Kehadiran penjelasan-penjelasan alternatif ini menandai bahwa manusia sebenarnya memiliki kemampuan memahami alam semesta melalui kekuatan pikirannya tanpa harus menyerah kepada legenda yang diciptakan untuk mengukuhkan kekuasaan para dewa. Pada saat yang sama terbukalah cangkang otak manusia untuk memikirkan hal-hal terpenting dalam hidupnya bukan hanya pasrah mendengar wahyu dari dewa. Hal yang sama berlangsung juga dalam akumulasi warisan pemikiran sebelumnya. Warisan pemikiran sebelumnya yang hanya bersifat lokal tanpa disertai alat bantu dalam membuktikannya juga mulai terbuka kemungkinan untuk diuji kebenaran atau kekeliruannya. Itulah yang terjadi dengan penemuan mikroskop misalnya. Melalui miskroskop, berbagai mikroorganisme dapat dilihat secara jelas walaupun sebelumnya dianggap tidak penting. Padahal mikroorganisme membantu pencernaan dalam usus manusia dan mengurai zat sisa untuk ekosistem. Melalui revolusi sains juga mulai terbuka peluang merevisi warisan pemikiran sebelumnya setelah ditemukan fakta baru yang tidak dapat dijelaskan konsep pemikiran yang telah ada sebelumnya. Sebagai contoh dalam dunia kedokteran,


35 dulunya sebelum ditemukan penisilin semua penyakit yang berhubungan dengan infeksi dianggap bentuk peringatan dari dewa bahwa ada pantangan yang telah dilanggar oleh nenek moyang kita. Penyembuhan infeksi sebelum adanya penisilin dilakukan dengan melakukan ritual dan mendoakan sejenis tumbuhan untuk dimakan sang penderita dan diyakini memperoleh ridho dari para dewa. Hal-hal seperti ini tentunya segera ditinggalkan karena melalui kehadiran penisilin mampu menjelaskan bagaimana senyawa kimia bereaksi membunuh kuman penyebab infeksi tanpa harus melakukan ritual apalagi mempersembahkan sesajen. Demikianlah proses alamiah merevisi warisan pemikiran sebelumnya berlangsung seiring dengan kehadiran revolusi sains. Komunitas keilmuan juga sangat penting dalam mendorong perkembangan sains. Mungkin keberadaan Royal Society28 sebagai komunitas ilmuwan yang pertama didirikan menjadi pemantik perkembangan revolusi sains. Komunitas ini didirikan pada 28 November 1662 di London. Melalui keberadaan komunitas ilmuwan dikembangkan berbagai kajian untuk kepentingan kemanusiaan. Dengan misi suci dan tugas mulia ini, rasanya tak salah tagline Royal Society terpampang kalimat “The story of the Royal Society is the story of modern science”. Sampai saat inipun komunitas keilmuan ini sangat penting dalam mendorong perkembangan suatu ilmu. Melalui komunitas para ilmuwan hadirlah sebentuk publikasi berkala dalam bentuk jurnal, pertemuan berkala dalam bentuk simposium atau seminar, pemberian penghargaan bagi seseorang yang dianggap memiliki kontribusi penting dalam mengembangkan ilmunya. Sebagai contoh misalnya, kalangan bisnis tentunya akrab dengan Harvard Business Review sebagai salah satu rujukan penting pemikiran-pemikiran besar dalam bidang bisnis. Nama-nama besar pemikir bisnis mulai dari Michael Porter, C.K. Prahalad, David Norton pada awalnya dikenal melalui tulisan-tulisan mereka yang dipublikasikan melalui Harvard Business Review. Hal yang sama dilakukan juga oleh komunitas ilmuwan di Indonesia. Kita tentu mengenal lembaga seperti LP3ES dan majalah Prisma yang diterbitkannya menjadi wadah para ilmuwan sosial terkemuka saling bertegur sapa. Bahkan banyak hal dari publikasi lembaga tersebut menjadi rujukan pemerintah dalam menetapkan kebijakan penting menata kehidupan sosial warga negara. Demikian halnya melalui lembaga CSIS dan Analisis CSIS sebagai wahana publikasinya mampu membuka wawasan kita tentang isu strategis Asia Tenggara. Banyak lagi komunitas ilmuwan dan publikasi berkalanya yang dapat disebutkan sebagai bukti bahwa revolusi sains membawa kelimpahan khususnya dalam pendalaman dan perluasan ilmu pengetahuan. Ketika semua ilmu menyadari posisinya dalam semesta ilmu pengetahuan maka peluang kerjasama lintas ilmu pun terbuka. Itulah sebentuk harapan baru yang dihadirkan revolusi sains. Revolusi sains menghadirkan keberadaan ilmu yang saling menopang dan menyumbang untuk menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan. Sebagai contoh, ilmu kedokteran berkembang dari sekedar mempelajari kuman dan penemuan penisilin menjadi sintesa antara biologi dan kimia yang mampu menyelamatkan nyawa seorang yang terinfeksi tetanus. Bahkan kematian seseorang dapat dijadikan riwayat diagnosis untuk mencegah kematian berikutnya untuk hal yang sama. Inilah sebentuk hikmah revolusi sains bagi sang homo sapiens.


36 Apabila dicermati, catatan sejarah mengajarkan kita bahwa ilmu pengetahuan (sains) ternyata bergandengan tangan dengan imperium maupun perusahaan raksasa di berbagai penjuru dunia. Sejarah nusantara misalnya, berawal dari kisah antropolog mempelajari watak bangsa ini dan bergandengan tangan dengan kongsi dagang Hindia Belanda (VOC)mampu menjajah Indonesia 350 tahun lamanya. Hal ini juga berlangsung seiring dengan revolusi sains. Ketiga, perkembangan metodologi ilmu juga terjadi seiring dengan revolusi sains. Kemunculan berbagai konsep (pendekatan) multi-disiplin, inter-disiplin, dan trans-disiplin (MIT-disciplinary) setidaknya dapat dimaknai sebagai buah revolusi sains. Perkembangan ilmu pengetahuan dan industri global dipadu dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memunculkan kajian hibrida yang ditandai dengan motto “ilmu pengetahuan secara mandiri terlalu kecil untuk dapat menjawab persoalan dunia yang semakin besar dan kompleks”. Kalimat lain yang senada bahkan lebih tegas tentang kebutuhan sintesa berbagai disiplin ilmu tersebut dapat disimak misalnya dari Brewer (1999) 29 yang menegaskan “the world has problems, but universities have departments.” Penegasan Brewer (1999) tersebut mengingatkan kita bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin terspesialisasi justru tidak seiring dengan perkembangan kebutuhan untuk menjawab masalah-masalah dunia yang semakin besar dan kompleks yang membutuhkan kajian lintas ilmu. Untuk mengatasi kendala sulitnya saling sapa antara ilmu pengetahuan itulah muncul inisiatif baru melalui kajian interdisipliner. Kajian interdisipliner disebut Klein (2007)30 sebagai jawaban untuk menyesuaikan diri dengan“greater self-renewal and judgement to respond to complex and dynamically changing situations in society at large”. Selaras dengan mandatnya untuk membantu penanganan masalah-masalah dunia yang semakin kompleks maka pada perkembangan selanjutnya kajian inter-disiplin dan trans-disiplin tersebut semakin mendapat tempat. Salah satu indikator yang dapat dijadikan penanda bahwa kajian inter-disiplin semakin diminati adalah keberadaan kajian hibrida seperti sosiolegal31, econo-physic, eco-politics atau keberadaan berbagai pusat studi yang menyebarluaskan gagasan-gagasan kajian inter-disiplin32. Selanjutnya, apabila keberadaan kajian multi-disiplin, inter-disiplin, dan trans-disiplin (MIT-disciplinary) tersebut semakin diterima, apa yang dimaksud dengan masing-masing pendekatan tersebut serta apa pula yang membedakannya? Mengenai hal ini dapat dirujuk Petrisor (2013)33 maupun Stock and Burton (2011)34. Menurut Petrisor (2013) maupun Stock and Burton (2011) kajian multidisiplin mengandung makna bahwa berbagai disiplin ilmu bekerja sama dengan tetap mempertahankan perspektif dan pendekatan disiplin ilmu masing-masing. Sementara itu, kajian inter-disiplin merupakan kajian bersama antara dua atau lebih disiplin ilmu membahas masalah yang berada dipersilangan dengan kerangka kerja yang dibangun bersama. Akhirnya, kajian trans-disiplin merupakan sintesa baru yang melampaui batas masing-masing ilmu dan menghasilkan kajian hibrida. Merujuk pandangan tersebut di atas, pendekatan multi-disiplin menghasilkan interaksi (saling sapa) antar ilmu (science interaction). Pendekatan inter-disiplin menghadirkan integrasi antar ilmu (science integration) dan pendekatan trans-disiplin merupakan perkawinan silang antar ilmu (science hybridization) menghasilkan ilmu baru. Sebagai ilustrasi model yang digunakan Petrisor (2013) kiranya membantu.


37 Disiplin Ilmu Produk Pendekatan Gambar 3 Tampilan Visual MIT-disciplinary 35 Mungkin layak juga disimak uraian A.R. Hall (1954) dalam bukunya The Scientific Revolution 1500-1800, untuk memperoleh gambaran suasana saat terjadinya revolusi sains. Menurut Hall (1954), para pemikir abad pertengahan umumnya berkutat pada pertanyaan seputar “bagaimana kita dapat menunjukkan bahwa …. ” atau “bagaimana kita membuktikan bahwa …” yang berujung pada deskripsi peristiwa. Singkat kata, sebelum dan pada saat berlangsungnya revolusi sains kecenderungan dalam memberi makna bagi setiap peristiwa (alam dan manusia) hanya sebatas narasi dan deskripsi belum mampu memberi eksplanasi apalagi argumentasi. Sementara itu ketika revolusi sains terjadi, para pemikir abad ke-17 mulai mengajukan pertanyaan yang lebih kompleks berupa “apa hubungan antara x dengan y …” atau “apa saja fakta yang membuktikan fenomena abc terjadi” sehingga mampu menjelaskan relasi ataupun argumentasi berbasis fakta serta intuisi yang memberi ruang bagi kreasi dan inovasi manusia. Penegasan akan hal ini dapat dicermati pemikiran beberapa tokoh mulai dari Francis Bacon (1561-1626), Galileo Galilei (1564-1642) maupun Rene Descartes (1596-1650). Francis Bacon (1561-1626) misalnya, adalah seorang filsuf yang belajar di Cambridge University, politikus Inggris yang menduduki berbagai jabatan penting di pemerintahan, meletakkan dasar-dasar pemikiran induktif dalam membangun teori untuk menerangkan fenomena. Berbagai tulisan Bacon menggunakan metode induktif mulai dikenal melalui buku-bukunya antara lain Novum Organon maupun New Atlantis. Meskipun pemikiran terdahulu dalam menarik kesimpulan berupa silogisme telah digunakan Aristoteles, namun premis mayor dan minor yang menjadi dasar keputusan silogisme masih berdasarkan pengamatan yang sangat umum. Melalui pendekatan induktif dan eksperimen yang dilakukan, Bacon berpendapat bahwa kita dapat mengungkapkan kebenaran dengan meode induktif tetapi lebih dahulu harus membersihkan fikiran dari prasangka yang ia namakan idols . Pada masa Francis Bacon ini pula, yang sering juga disebut masa renaisans lahir dua aliran yang saling bertentangan, yaitu rasionalisme yang memberi penekanan pada rasio dan empirisme yang memberi penekanan pada bukti dan fakta empirik. Galileo Galilei (1564-1642) menjadi peletak dasar astronomi dengan bantuan teleskop temuannya mendukung teori “helio-sentris” yang sebelumnya telah dikemukakan oleh Copernicus. Selain itu, melalui eksperimen tentang gerak benda maka Galileo Galilei juga menetapkan beberapa hukum tentang kinematika yang di kemudian hari dirujuk oleh Keppler maupun Newton dalam pengembangan Multidisciplina ry Interdisciplinar y Transdisciplina ry


38 Astronomi dan tata surya. Kendatipun pandangan ini harus berhadapan dengan otoritas gereja yang masih menganut “geo-centris”, ia mampu membuktikannya dan terbukti benar. Demikian pula Rene Descartes (1596-1650), terkenal dengan sebutan cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada). Cogito ergo sum dianggap sebagai fase yang paling penting dalam filsafat Descartes. Aku sebagai sesuatu yang berpikir adalah substansi yang keberadaannya tidak butuh suatu tempat atau sesuatu yang bersifat bendawi. Dengan demikian, bagi Descartes kekuatan pikiran mampu menemukan realitas yang berada di luar sana sekaligus realitas yang ada hanya dalam pikiran (kepala) manusia. Dasar-dasar revolusi sains sebagaimana diuraikan tersebut secara sederhana dapat ditelusuri jejak-jejaknya. Diawali dengan kehadiran ilmu-ilmu alam yang berebut pengaruh dengan filsafat dan teologi. Ilmu-ilmu alam berhasil mengungkap pelan-pelan selubung spekulatif yang dihadirkan filsafat dan teologi. Ilmu fisika, kimia dan biologi menjadi peretas jalan bahwa gejala alam dan manusia dapat diterangkan tanpa harus terbelenggu dengan hal-hal mistis bahkan sakral yang telah lama ditanamkan oleh filsafat dan teologi. Teori mekanika dari Newton sampai pada teori relativitas dari Einstein menjelaskan gerak di bumi maupun hubungan ruang dan waktu. Sama halnya ilmu kimia menerangkan perubahan bentuk energi dan reaksi kimiawi yang terjadi dalam tubuh manusia maupun di alam semesta. Demikian juga biologi mengungkap semesta makhluk hidup mulai taksonomi hewan dan tumbuhan sampai pada dihasilkannya rekayasa genetika. Keempat, pergeseran model berpikir dari thinking ke intuiting. Revolusi sains yang diawali dengan penggunaan metode ilmiah secara mendasar ternyata mengubah model berpikir (ways of thinking) sang homo sapiens. Model berpikir dominan sebagai thinking yang mengandalkan kekuatan otak manusia untuk mengungkap misteri alam, manusia, semesta bahkan Tuhan mulai bergeser ke model intuiting. Perbedaan mendasar dalam model berpikir ini terletak dalam pelibatan nilai, norma dan moralitas ketika melakukan penalaran. Thinking cenderung bebas nilai (value free) sehingga lebih cenderung dimaknai sebagai kecerdasan, sementara intuiting cenderung sarat nilai (value ladden) sehingga lebih dekat dengan makna kebijaksanaan (wisdom). Secara singkat perkembangan sains tersebut sejalan dengan pandangan Alireza Jalali Farahany 36. Menurut Farahany, perkembangan ilmu dimulai dari “know something about everything”, bergerak menjadi “know everything about something” dan kini bergerak menuju “know a lot about something and something about a lot of things – sang maestro”. Kalimat singkat Farahany menegaskan bahwa thinking kini harus diperkuat dengan Intuiting. Untuk lebih menjelaskan perbedaan mendasar antara thinking dan intuiting tersebut setidaknya dapat dicermati ilustrasi sederhana berikut ini. Bayangkan seorang anak yang diberikan pembelajaran matematika dengan sederet rumus yang padat. Semua rumus untuk penyelesaian soal matematika telah dihafal oleh anak tersebut. Hasilnya tentu mudah ditebak, si anak akan mampu menyelesaikan seluruh soal matematika yang ditanyakan kepadanya sesuai dengan rumus standar.


39 Namun ketika ia disuguhi sebait puisi ia akan kebingungan dengan deretan kalimat acak yang baginya tidak dapat digambarkan dengan beragam teorema atau formula yang sudah penuh di kepalanya. Alhasil, baginya puisi tidak ada manfaatnya apalagi tidak dapat dijelaskan dengan persamaan matematika. Bayangkan pula seorang anak lainnya yang dibiarkan belajar mandiri seiring dengan rasa ingin tahunya. Ia mahir mengolah kata dan menarasikan berbagai suasana. Mulailah ia menulis prosa, menyusun sebait puisi cinta dan di penghujung malam ia pun memainkan biola sebelum kantuk tiba. Esok paginya ia disuguhi sepotong kertas yang berisi soal matematika, ia bahkan tidak membacanya karena baginya angka tak mampu melukiskan suasana apalagi puisi cinta. Bagi anak pengagum keindahan puisi cinta, matematika hanyalah angka tanpa nuansa. Merujuk kajian ilmu psikologi anak, anak yang pertama biasa disebut menganut cara berpikir thinking yang ditandai dengan cara berpikir sistematik, teratur, metodikal, disiplin dan suka memecah soal logika bahkan mungkin mulai mencintai algoritma. Sementara anak yang kedua biasa disebut anak intuiting yang cenderung jadi seniman dan berpikir kreatif menggunakan hati dan perasaan dan umumnya disebut pula tidak ilmiah. Begitulah kita memberi label bagi kedua anak tersebut apabila merujuk anjuran kitab-kitab psikologi. Tapi pertanyaannya sekarang, apakah hanya sebatas itu perbedaan antara thinking dan intuiting? Tentu saja jawabannya tidak. Thinking sendiri dapat dipelajari dari berbagai macam ilmu pengetahuan yang intinya berpusat pada penggunaan segenap kemampuan olah pikir manusia yang terdapat dalam otak. Sepertinya itulah yang digeluti para peneliti dalam bidang brain science, nano science , quantum learning atau bahkan artificial intelligence (AI). Sementara intuiting lebih cenderung berpikir dengan segenap hati yang menghasilkan hal-hal yang tidak terduga dan kadangkala sulit dipercaya. Intuisi menembus batas logika dan mampu menggerakkan sang pemiliknya menuju dermaga terra incognita (suatu wilayah yang belum dikenal sebelumnya). Setidaknya perbedaan tersebut selaras dengan pandangan Daniel Kahneman (2011)37 dalam bukunya Thinking, Fast and Slow. Berpikir cepat berlangsung secara otomatis dan cepat tanpa membutuhkan upaya ekstra yang ia sebut sistem pertama (system 1 thinking). Sedangkan berpikir lambat membutuhkan alokasi perhatian dan aktivitas mental yang kompleks untuk memberi alasan terhadap apa yang sedang dipikirkan dan apa yang harus dilakukan. Inilah yang disebut Kahneman sebagai sistem kedua (system 2 thinking). Setelah menjelaskan konteks dan suasana berlangsungnya revolusi sains, kini kembali fokus untuk menjawab pertanyaan di awal bagian ini. Bagaimana disrupsi dan ko-eksistensi terjadi atas Imajinasi Pendidikan di tengah berlangsungnya revolusi sains? Imajinasi Pendidikan yang mana mengalami disrupsi dan mana pula yang mengalami ko-esksitensi? Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan singkat bahwa imajinasi pendidikan mengalami disrupsi sekaligus ko-eksistensi ketika berlangsung revolusi sains. Revolusi sains menggeser ketakjuban kepada hal-hal mistis yang sulit dibuktikan kebenarannya ke arah ketakjuban kepada hal-hal empiris yang dapat dibuktikan kebenarannya. Pada saat yang sama, imajinasi pendidikan bergeser pula fokus dan lokusnya dalam mengelola imajinasi warga.


40 Ketika imajinasi religi hanya menghadirkan janji-janji kosong dalam menghadirkan kebahagiaan warga dan imajinasi kolonial kehilangan taringnya dalam menebar rasa takut, hadirlah imajinasi evolution dan industrial yang lebih berterima di benak warga. Melalui serangkaian modifikasi, pendidikan hadir dengan wujud baru yang menandai ia berevolusi dan menjadi sebentuk industri pendidikan yang menegaskan ia sudah turun ke bumi. Evolusi dilakukan dengan menggunakan metode saintifik dalam seluruh pelaksanaan tugas-tugas utama pendidikan yang berpusat pada pembelajaran, penilaian proses pembelajaran, kompetensi lulusan, keterkaitan dengan industri, pelayanan publik dan peningkatan kesejahteraan. Sedangkan industri pendidikan diiterjemahkan dalam seperangkat ayat-ayat konstitusi dan mekanisme konstitusional mengelola kekuasaan seakan pendidikan tak lebih dari komoditi ekonomis yang dijual bebas di pasaran. Semuanya kini dapat diuji sesuai standar sains. Inilah buah revolusi sains. Apabila ditelaah lebih mendalam, revolusi sains mengubah wajah pendidikan yang terbiasa dengan dogma dan gemar menakuti warga menjadi pendidikan yang selalu memperbaiki diri (evolusi) dan mampu menepati janji produksi layaknya pabrik menghasilkan komoditi. Bagaimana ia memperbaiki diri dapat diuji dengan menilai kualitas pelayanan yang diberikan dengan penggunaan alat bantu sains mulai dari perumusan regulasi, implementasi sampai pada evaluasi ketika masih ada yang perlu diperbaiki. Sementara bagaimana pendidikan mampu menepati janji diukur dengan bantuan sains dalam bentuk kepatuhan kepada konstitusi dan aturan pelaksanaannya dan kualitas layanan yang dijanjikan dapat dibuktikan. Singkat kata, revolusi sains berhasil mengubah pendidikan dari semula hanya bermodal fatwa menjadi pendidikan yang bekerja dan siap diuji hasil kerjanya. Fenomena lain yang menarik berlangsung melalui revolusi sains adalah adanya upaya mempertahankan imajinasi magis-religius maupun imajinasi kolonial dengan bantuan sains. Dalam konteks ini, penguasa menggandeng para ilmuwan dalam memperkuat basis legitimasi kekuasaannya. Praktek penggunaan sains dalam memperkuat legitimasi imajinasi magis dan kolonial setidaknya dapat dicermati melalui justifikasi perang, perluasan kekuasaan imperium dan simbiosis penguasa dan pengusaha. Justifikasi perang misalnya, merujuk uraian Harari (2014;2015)38 atau Tony Judt (2005)39 berawal dari berbagai alasan magis maupun ekspansi kekuasaan yang ditopang janji para ilmuwan dengan kemampuannya menghasilkan alat-alat utama sistem persenjataan sehingga kemenangan dalam perang seakan di depan mata. Industri militer berkembang pesat dengan bantuan ilmuwan seiring revolusi sains. Ilmuwan mampu menghasilkan senapan mesin, tank, rudal, kapal perang sampai pesawat tempur. Selanjutnya melalui ilmuwan pula ditemukan senjata pemusnah massal mulai dari bom atom sampai senjata kimia dan biologi. Catatan sejarah menunjukkan bahwa perang dunia pertama (1914-1918) maupun perang dunia kedua(1939-1942) tidak dapat dilepaskan dari hasil revolusi sains. Perluasan kekuasaan imperium juga ditopang oleh sains sehingga sejarah mencatat imperium besar Eropa mampu mengembangkan wilayah jajahan, pemanfaatan kekayaan daerah jajahan dan teknologi industri menghantarkan kelahiran revolusi industri berawal dari benua kecil tersebut. Sains memungkinkan penjelajahan keliling dunia melalui armada kapal laut dan jalur transportasi logistik melalui jalur kereta api. Hasilnya kesenjangan sumber daya memicu perang.


41 Mengingat sains membutuhkan biaya yang tidak sedikit, maka terjadilah simbiosis antara penguasa dan pengusaha untuk membiayai sains. Menemukan suatu alat yang berfungsi dalam koridor kepentingan bisnis atau kekuasaan butuh biaya besar. Hal inilah yang terjadi di Eropa sejak revolusi industri yang diawali dengan revolusi sains. Kelompok industrialis menjadi pemilik tumpukan kapital (kapitalis) didukung penguasa mengembangkan ekspansi bisnisnya. Sementara penguasa mendapat dukungan dalam ekspansi politis berkat dukungan kalangan sains. Perebutan sumber daya hasil revolusi sains pun dimenangkan aliansi penguasa/pengusaha. Apabila dicermati setidaknya menggunakan analisis kelas ala Marxian, ternyata epos sejarah manusia menghadirkan sebentuk perebutan sumber daya dan pembelahan masyarakat dalam kelas. Ketika revolusi pertanian terjadi maka tanah menjadi sumber daya yang diperebutkan sehingga membelah masyarakat menjadi kelas “tuan tanah” dan “petani”. Hal yang sama berulang ketik revolusi sains terjadi maka semua sumber daya hasil sains diperebutkan khususnya mesin dan alat-alat produksi menghasilkan pembelahan masyarakat ke dalam kelas “borjuis” dan “proletar”. Demikian pula ketika sumber daya teknologi diperebutkan maka masyarakat pun kembali terbelah antara kelas “digital” dan “manual”. Namun uniknya, melalui pembelahan masyarakat ini keberadaan disrupsi dan ko-eksistensi semakin nyata senantiasa menjadi kodrat manusia. Uraian panjang revolusi sains sebagaimana diuraikan di atas tetap memberikan kesan kuat bahwa imajinasi, ideolgi, institusi, interaksi dan improvisasi senantiasa berpilin dalam relung kehidupan sang homo sapiens. Imajinasi dalam tataran sains sebagaimana dihasilkan melalui perkembangan ilmu pengetahuan mampu menyingkap selubung setidaknya terhadap 3 (tiga) lapis realitas, yakni : (1) realitas inderawi yang dapat dijamah dan bersifat materil; (2) realitas insani yang dirasakan dan dipikirkan manusia; (3) realitas non-inderawi yang tak dapat dijamah namun ada dalam sukma dan kalbu manusia. Realitas inderawi umumnya dipelajari melalui ilmu-ilmu alam dengan metode observasi, eksperimentasi bahkan rekayasa. Dengan kemajuan ilmu alam pula khususnya fisika, kimia, astronomi, matematika dan segala derivatnya misteri alam semakin dapat dipahami. Fisika misalnya membantu manusia memecahkan misteri gerak, cahaya, hidro-statika, hidro-dinamika, aero-statika, aero-dinamika bahkan sampai fusi atom yang sebelumnya dianggap sebagai cerita yang tak mungkin dijamah. Kimia juga melakukan hal yang kurang lebih sama. Melalui ilmu kimia mulailah dipahami senyawa, reaksi unsur kimiawi, penemuan obat-obatan, pestisida sampai pada senjata kimia yang menakutkan. Sementara astronomi memberi jalan menjelajahi angkasa dan bintang-bintang. Luasnya jagad raya dan indahnya galaksi dapat dijelaskan dengan semua konsep dan teori yang dikenalkan ilmu astronomi. Sedangkan matematika justru mampu merambah semua bidang ilmu dengan kemampuan formulasi dan bahasa algoritma yang dimilikinya. Realitas insani yang khusus membahas manusia dan keberadaannya ditekuni oleh biologi, psikologi maupun teologi. Biologi mengajarkan manusia mulai dari taksonomi, sistem metabolisme, anatomi tubuh manusia sampai pada kuman atau bakteri yang ternyata menjadi teman sejati manusia. Psikologi di sisi lain membantu manusia menenangkan jiwanya berdasarkan telaah atas kesadaran, motif, hasrat, gejala gangguan jiwa bahkan kegilaan. Tidak hanya tentang dirinya, teologi bahkan


42 membantu menghubungkan manusia dengan realitas adi-kodrati yang dipercayai. Pergumulan manusia yang tiada henti membawa manusia kepada suatu keadaan bahwa ada kuasa yang mengatur segalanya. Jalan menuju kawah misteri Sang Khalik yang mengatur segalanya inilah teologi. Sementara itu, manusia juga asik dengan pikirannya dan membutuhkan sentuhan dari sesamanya. Semua fenomena yang terjadi dalam alam pikiran dan sentuhan dengan sesama manusia ini melahirkan ilmu-ilmu sosial, filsafat, maupun ilmu-ilmu humaniora. Ilmu sosial mengajarkan kita bagaimana memahami semua interaksi sosial, sejarah perkembangan masyarakat dan segala upaya untuk menciptakan kebaikan bersama. Filsafat membantu kita berpikir secara mendasar dan mencintai kebenaran. Sedangkan ilmu-ilmu humaniora memampukan kita memahami bahkan mencintai kebudayaan, keindahan, seni, serta semua hal yang memanjakan rasa ingin tahu sang homo sapiens. Dengan demikian, imajinasi menjadi dasar dalam menguak semua misteri dan landasan berpijak dalam membentuk institusi dan pola interaksi. Apabila dicermati tampak bahwa revolusi sains yang mengubah thinking menuju intuiting membawa serta perubahan mendasar dalam imajinasi, ideologi, institusi, interaksi dan improvisasi pendidikan. Imajinasi magis-religius dan imajinasi kolonial dalam pendidikan mengalami disrupsi melalui kehadiran sains. Mengapa kehadiran sains yang mengambil bentuk thinking maupun intuiting mampu mendisrupsi imajinasi religius maupun imajinasi kolonial? Penjelasan berikut dapat memberikan jawaban. Thinking yang mendasarkan diri pada kekuatan pikiran, metode saintifik dan ukuran-ukuran kuantitatif sepertinya memberi tempat pada digitalisasi pendidikan. Digitalisasi pendidikan pada dasarnya merupakan upaya menghasilkan sosok peserta didik sebagai ras terbaik yang memiliki pengetahuan, ketrampilan dan karakter unggul. Upaya menghasilkan sosok ras terbaik tersebutlah dilakukan dengan mengadopsi model ideologi, institusi, interaksi maupun improvisasi yang cenderung bernuansa industrial dalam pendidikan. Ideologi, institusi, interaksi dan improvisasi yang berbasis industrial dapat dianalogikan bahwa pendidikan dikelola layaknya pabrik yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi. Sementara itu, intuiting mendasarkan diri pada kekuatan kreatif dan estetika, metode ekspereintal bahkan hermeneutika dengan ukuran-ukuran jamak kualitiatif memberi tempat pada digitalisasi pemerintahan namun tetap berwajah manusiawi. Model intuiting ini menekankan proses kreatif sehingga institusi yang dibentuk bersifat lebih fleksibel dan berorientasi kepuasan pelanggan. Apabila dicermati perjalanan panjang revolusi sains dalam mengubah imajinasi tentang pendidikan dapat dibuatkan peta jalan mulai dari seni/ketrampilan>ilmu alam>ilmu sosial bercitarasa ilmu alam>ilmu hibrida berbasis teknologi. Peta jalan tersebut apabila ditempatkan dalam kurun waktu merujuk Bryan Bunch dan Alexander Hellemans (2004)40 dapat digambarkan dalam lintasan waktu pada gambar 5.


43 Gambar 5 Peta Jalan Revolusi Sains Mengikuti alur pikir peta jalan revolusi sains sebagaimana diilustrasikan melalui gambar 5 tersebut maka perkembangan sains setidaknya dapat dianalisa dengan 3 (tiga) parameter yakni objek materia, objek forma dan metode penelitian yang digunakan. Ketika pada masa sains 1.0 maka objek materia ilmu yang dijadikan sasaran kajian cenderung terkait dengan abstraksi dan hal-hal yang menyoal alam, Tuhan dan manusia. Kajian-kajian yang dilakukan cenderung meluas dan hampir memasukkan segala hal yang dianggap penting dan berhubungan sehingga lebih bersifat generalis. Objek forma yang dijadikan sudut pandang umumnya berangkat dari filsafat, teologi maupun seni yang menjadi penanda dimulainya keingintahuan (curiosity) sang homo sapiens. Sementara itu, metode penelitian yang digunakan umumnya berbasis cobacoba (trial and error), dogmatika, retorika, silogisme maupun otoritas para cerdik cendekia. Pada masa inilah dengan bantuan catatan sejarah dikenal filsuf-filsuf besar yang multi talenta mampu menjelaskan persoalan kosmos, tata krama kehidupan bernegara sampai pada matematika. Herakleitos, Parminides, Socrates, Plato maupun Aristoteles mungkin cukup dikenal sampai saat ini menjadi bagian dari generasi sains 1.0. Ketika perkembangan objek materia semakin terspesialisasi maka mulai dikenal pemekaran dari filsafat, teologi, seni maupun sains. Sains seakan menempuh jalan sendiri yang ditandai dengan perkembangan alat bantu dalam mendukung penerapan “metode ilmiah”. Semua yang tidak dapat diraba, tidak memiliki objek yang riil dan dapat diuji melalui eksperimen seakan dipisahkan dari sains. Istilah sains sendiri seakan mengalami penyempitan makna sebatas ilmu-ilmu alam yang memiliki objek material mulai dari benda-benda angkasa, mahkluk hidup di bumi, manusia dan lingkungannya maupun jasad-jasad renik yang dapat dilihat dengan bantuan mikroskop. Semua realitas yang dapat diamati baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa menjadi objek materia ilmu alam menjadi penanda dimulainya era sains 2.0. Formula matematika diperkenalkan untuk menjelaskan alam semesta maupun peredaran darah dalam pembuluh aorta. Kemajuan sains 2.0 ini melengkapi kemenangan Fisika, Matematika, Biologi, Kimia maupun ilmu-ilmu eksakta turunannya. Pra Ilmiah (Sains 1.0) (sebelum abad 17) Ilmu Alam (Sains 2.0) (Abad 17-Abd 19) Ilmu Sosial citarasa Ilmu Alam (sains 3.0) (Abad 19-Abad 20) Ilmu Hibrida Basis Teknologi (sains 4.0) (Akhir Abad 20 - sekarang)


44 Objek forma pengembangan sains dilakukan sesuai kebutuhan untuk melihat sifat-sifat, ciri-ciri, unsur-unsurnya atau singkatnya taksonomi ilmu. Metode pendekatannya terhadap realitas juga mengalami penyempitan dengan isitilah metode ilmiah yang rigid, objektif dan universal. Hasil pendekatan realitas melalui pilihan metode penelitian menghasilkan formulasi gejala secara kuantitatif dengan bantuan matematika atau statistika. Sementara itu, aspek aksiologis berupa kegunaannya untuk manusia diarahkan untuk produksi, distribusi dan konsumsi massal. Anjuran dalam perjanjian lama agar menaklukkan bumi dan segala isinya sampai ke ujung bumi seakan menjadi mantra untuk mengembangkan sains. Bahkan dalam kaitannya dengan teknologi, pada masa inilah dimulainya revolusi teknologi dengan penemuan mesin yang menggantikan tenaga manusia. Mesin menjadi pengganti manusia dalam mengerjakan tugas-tugas yang dianggap berbahaya dan perlu pelipatgandaan dalam jumlah produksi. Metode eksperimen dengan prosedur ketat dan dilakukan berulang-ulang terhadap seluruh objek materia yang diamati menjadi dasar dalam merumuskan formulasi matematika atas setiap fenomena. Mungkin saja kedigdayaan Fisika, Matematika, Biologi, Kimia pada masa sains 2.0 mengilhami sebagian homo sapiens dewasa ini tetap mengkhususkan diri mengembangkan ilmu STEM (science, technology, engineering, mathematics). Sebegitu kuatnya pengaruh sains 2.0 maka tidak mengherankan pada abad 19 maupun abad 20 ilmu sosial yang mulai berkembang sepertinya kurang percaya diri apabila tidak meniru cara kerja ilmu alam. Bahkan ilmu-ilmu sosial yang bercita rasa ilmu alam sebagai sains 3.0 khususnya ekonomi, sosiologi bahkan psikologi rela mengorbankan ruang keilmuannya untuk dicangkok dengan pendekatan sains melalui ekonometrik, sosiatri maupun psikiatrik agar dapat menciptakan model, formula atau bahkan aplikasi matematika guna menerangkan gejala ekonomi, sosial maupun kejiwaan manusia yang justru sangat random dan sulit ditebak. Saya pun teringat dengan pengalaman semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, seakan-akan siswa yang mengambil jurusan sosial (IPS) dianggap warga sekolah kelas dua di bawah siswa-siswa eksakta. Bahkan suatu ketika, dalam kesempatan berlibur semasa kuliah, berkumpul dengan orangtua diberi nasehat kepada kami yang mengambil jurusan ilmu sosial agar lebih giat belajar untuk tahun ajaran berikutnya bisa masuk di jurusan IPA. Sebegitu kuatnya pesona ilmu-ilmu alam sehingga orangtua yang pada zamannya belum begitu tegas mengenai perbedaan masing-masing rumpun ilmu, seakan berdoa agar anak-anaknya kelak jangan sampai kuliah di rumpun ilmu-ilmu sosial. Demikianlah perjalanan panjang revolusi sains yang sangat terasa hingga kini, ilmu sosial bahkan sampai saat ini terbelah dengan pendekatan postivistik yang menggunakan perangkat ilmu alam dalam menerangkan gejala sosial dan pendekatan kualitatif yang mencoba konsisten dengan kodratnya mendekati masalah untuk menemukan pengertian (verstehen). Sementara itu, dipenghujung abad 20 dan kini memasuki abad 21 berkembang sains 4.0 yang sepertinya mengenalkan jenis sains baru yang semuanya ditautkan dengan teknologi. Kini semua ilmu sepertinya belum merasa lengkap apabila belum menempelkan akhiran –tech pada ilmu induknya. Gejala ini diperkuat dengan maraknya ilmu hibrida yang mengenalkan perpaduan lintas batas ilmu. Ilmu yang mengalami trend kebutuhan untuk digandeng oleh ilmu-ilmu lainnya adalah ilmu


45 komputer (computer science), biologi molekuler/ genetika dan teknik rekayasa dalam mengembangkan ilmu induknya. Dewasa ini bukan barang baru lagi apabila istilah agrotech, infotech, biotech, sociotech ataupun psychotech diperkenalkan. Paduan hibrida ilmu jenis ini umumnya dipahami sebagai paduan ilmu tertentu dengan teknologi. Sehingga agronomi akan mengenal teknologi pengolahan lahan, informasi teknologi akan menampilkan kecerdasan buatan (artificial intelligence), biologi akan mengembangkan rekayasa genetika dan biokimia, sosiologi akan menampilkan rekayasa sosial dan psikologi menghadirkan alat bantu terapi psikis. Apabila perkembangan sains ini ditautkan dengan uraian panjang Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus (2015)41 maka tak berlebihan apabila keprihatinan beliau hadirnya manusia super hasil rekayasa genetika dan pengembangan robotik menyulitkan kita membedakan homo sapiens sebagai makhluk berdarah dan daging dengan manusia mesin yang sudah hadir bersama-sama dengan kita di sekitar kompleks perkampungan atau kelurahan kita. Bahkan kecenderungan manusia yang selama ini mempelajari gejala diluar dirinya kini semakin cenderung mengembangkan sains yang mempelajari isi tubuh dan jiwanya. Sepertinya manusia tidak akan pernah berhenti menyingkap tabir siapa dirinya sebenarnya. Apalagi dengan bantuan hadirnya sains 4.0 maka kemampuan manusia mempelajari dan mengontrol semua organ tubuh dan gejala biokimia di otak dan syaraf-syaraf penghubung molekul DNA semakin di depan mata. Suatu saat sang homo sapiens yang dulunya hanya pemburu-pengumpul di sudut afrika kini menjadi ahli tafsir DNA yang mampu meramalkan masa depan dan karakter sesamanya. Singkat kata, sains yang dulunya memusatkan perhatiannya kepada alam semesta, keserasian manusia dengan semesta maupun hubungan manusia dengan penciptanya, kini diarahkan untuk mempelajari sudut-sudut organ tubuhnya, mencari tempat jiwanya berada dan menyingkap “roh” yang menjadi misteri asal usulnya. Bagaimana dengan kemampuan imajinasi sang homo sapiens dalam melakukan imajinasi ulang atas pendidikan seturut dengan perkembangan sains? Tampaknya kehadiran revolusi sains sangat mewarnai imajinasi tentang pendidikan dalam sejarah kehidupan sang homo sapiens. Ketika sains 1.0 hadir melalui semangat eksplorasi nalar yang kuat dalam melakukan abstraksi maka imajinasi pendidikan sangat bernuansa magis dengan corak “religius” sesuai perkembangan kearifan dan kebijaksanaan sebagai upaya mengenali dan menafsir ulang kehendak Tuhan. Pendidikan pun sepertinya diamini untuk dijalankan hanya oleh sekelompok elit terpilih yang mendapat wahyu dari Tuhan. Selanjutnya, sains 2.0 yang menemukan metode eksperimen sebagai metode ilmiah maka elit teknokratis semakin dipercaya mendapat mandat mengelola pendidikan agar terhubung dengan lini produksi dan menghasilkan komoditi. Imajinasi industrial dan kolonial tumbuh subur berkat perkembangan sains yang berpilin dengan industrialisasi dan imperialisme. Penemuan senjata, alat-alat perang dan industri yang menggerakkan roda ekonomi dunia seakan bergandengan tangan bahwa pemilik kekuatan pemaksa terbesar adalah kaum yang paling pantas memerintah. Mungkin saja dengan mencermati adanya kaitan antara sains dan imperialisme ini maka tragedi perang dunia I maupun perang dunia II hanyalah akibat sampingan dari berpadunya sains dengan imajinasi kolonial.


46 Hadirnya sains 3.0 sepertinya berangkat dari kalkulasi kerugian perang dunia I maupun perang dunia II sehingga demokratisasi ilmu pengetahuan dipilih sebagai cara damai mengakhiri perang dan imperialisme baru dapat dikemas melalui meja negosiasi. Demokrasi seakan membawa ruang imajinasi baru bahwa pendidikan mengalami evolusi dari sekedar religius-magis menjadi skenario menghasilkan ras terbaik yang dipilih sesuai selera mayoritas warga. Dewasa ini hadir pula sains 4.0 yang mengedepankan efisiensi dan bantuan teknologi maka imajinasi industrial seakan mengamini bahwa teknologi mampu menyelesaikan semua masalah yang membelit dalam kehidupan warganya. Semua yang dapat dilakukan melalui model industrial dijadikan pola dalam pendidikan. Jadilah pendidikan semacam bentuk industri baru yang memiliki industri hulu, pengolahan bahkan hilirisasi yang ditandai dengan penyesuaian proses pembelajaran, jenis pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan dan stadar kualitas produk yang berterima di pasar tenaga kerja. Namun satu hal yang perlu dicermati adalah hadirnya education 5.0 bersamaan dengan perkembangan pesat sains 4.0 ini. Tiga imajinasi pendidikan sebelumnya mulai dari religi, kolonial dan industrial mendapat saingan baru dari imajinasi techno-humanism yang menawarkan hibridasi manusia dan teknologi. Sayangnya, revolusi sains yang telah mencapai puncaknya melalui ilmu hibrida berbasis teknologi bisa saja tergelincir ke dalam kamp konsentrasi sebagai homo sacer, sebentuk sosok manusia terdidik yang justru tidak punya kapasitas sebagai manusia karena ditaklukkan teknologi buatannya sendiri. Sama halnya dengan gambaran homo sacer dari Girogio Agamben (1995)42. Penelusuran singkat sejarah revolusi sains memberikan gambaran bahwa imajinasi pendidikan mengalami disrupsi sekaligus ko-eksistensi seiring dengan pilihan ideologi, institusi, model interaksi maupun improvisasi yang dilakukan segenap pemangku kepentingan. Terdapat benang merah dalam sejarah singkat revolusi sains yang membuka mata kita bahwa cara berpikir sains, metode kerja saintifik dan penggunaan teknologi secara massif mampu menggantikan peran kecerdasan manusia yang diangap lamban bahkan tidak jarang hanya menjadi beban. Revolusi Teknologi : Pemburu Pengumpul ke Homo Deus Teknologi merupakan penggerak utama yang menyertai perkembangan budaya, cara kerja dan gaya hidup sang homo sapiens. Teknologi sebagai hasil kreasi berupa cara dan perkakas kerja manusia ternyata membawa serta seluruh implikasinya dalam dinamika kehidupan masyarakat. Bahkan teknologi yang digunakan manusia mengilhami Alvin Toffler (1980) melalui bukunya The Third Wave membagi gelombang peradaban manusia dari pemburu-pengumpul ke masyarakat agraris bergeser ke masyarakat industrial dan kini masyarakat informasi. Dapatlah kita bayangkan, ketika nenek moyang sang homo sapiens masih hidup dalam kawanan suku dengan perkakas seadanya dari batu atau perunggu maka mereka hanya mengenal kehidupan nomaden dan berlindung dalam gua dan rumah jerami sebagai gaya hidupnya. Nenek moyang kita yang hidup di zaman batu atau zaman perunggu tentunya tidak pernah mampu membayangkan akan hadirnya beragam bentuk dokumen kertas yang dihasilkan aparatur pemerintahan masa kini ketika mereka hanya mengenal tulisan di dinding gua dan gulungan papirus.


47 Hal yang sama dapat pula kita bayangkan, ketika nenek moyang sapiens yang hidup di zaman Hammurabi masih hidup saat ini tiba-tiba diberikan smartphone. Selanjutnya dalam smartphone tersebut diberikan pesan notifikasi bahwa ia telah terdaftar sebagai peserta program jaminan kesehatan. Baginya kemudahan ini mungkin membuat panik dan notifikasi melalui smartphone ibarat pesan dari dewa bahwa hidupnya akan berakhir lusa. Sebegitu cepat perkembangan teknologi terjadi sehingga artefak peradaban sang pemburu pengumpul kini kita anggap hanya cerita lama yang berguna bagi para antropolog dan arkeolog. Masifnya gempuran jagad maya bagi kita yang kini hidup di zaman algoritma sepertinya tidak mampu lagi membayangkan kehidupan leluhur kita dalam gua. Seiring waktu pula, kini anak cucu sang pemburu pengumpul itu telah hidup laksana dewa (homo deus) yang mampu menghubungkan dan menggerakkan apa saja sesuai dengan apa yang ada di benaknya (internet of things – IoT). Sebelum menguraikan bagaimana pemerintahan mengalami disrupsi dan koeksistensi melalui kehadiran teknologi, sejenak perlu ditelusuri perjalanan panjang teknologi yang dikembangkan homo sapiens. Teknologi berkembang dari sebentuk teknologi sederhana yang digunakan nenek moyang kita sang pemburu pengumpul sampai teknologi terkini yang mampu merubah segalanya tak ubahnya ibarat dewa (homo deus). Perjalanan panjang perkembangan teknologi yang dihasilkan homo sapiens secara singkat disarikan oleh Klaus Schwab43. Menurut Schwab (2016) perkembangan teknologi sudah mencapai generasi keempat seiring dengan revolusi industri sebagai saudara kembarnya. Istilah yang digunakan Schwab sendiri cukup ambisius dengan menyebut 4IR (fourth industrial revolution) atau IR 4.0 (industrial revolution 4.0) – setidaknya PricewaterhouseCooper (2016) lebih suka menggunakan istilah ini. Singkat kata, dengan penggunaan istilah 4IR atau IR 4.0 seakan menegaskan bahwa disrupsi teknologi membuat pemerintahan tidak bisa lagi dijalankan dengan format pemerintahan masyarakat nomaden, agraris atau industri semata melainkan harus segera menyesuaikan diri dengan masyarakat informasi/digital. Pertanyaannya sekarang, apa sebenarnya yang berubah dengan teknologi sampai sejauh ini dan apa pula implikasinya dalam kehidupan sang homo sapiens? Merujuk pandangan Schwab (2016) revolusi teknologi bermula dari ditinggalkannya peradaban nomaden oleh nenek moyang kita sang pemburu pengumpul dan beralih ke peradaban agraria/pertanian yang cenderung menetap sekitar 10.000 tahun silam. Revolusi pertanian berhasil mendomestifikasi (menjinakkan) hewan untuk keperluan manusia baik dalam produksi, transportasi dan komunikasi. Melalui bantuan hewan kita dapat melipatgandakan hasil pertanian, menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi dan mampu menyampaikan pesan perang atau perdamaian. Jangan dibayangkan kehidupan nenek moyang kita sebagai sebentuk kehidupan yang selaras dengan alam dan hidup rukun dengan hewan sesuatu yang memalukan. Faktanya revolusi pertanian bertahan cukup lama setidaknya berlangsung sampai ratusan tahun sebelum dikenal revolusi industri yang menandai berubahnya teknologi. Bahkan kalau boleh jujur, di masa kini pun hidup selaras dengan alam dan menjadi kawan bagi hewan masih menjadi kerinduan sebagian besar sang homo sapiens.


48 Masih menurut Schwab (2016), apabila cara kerja dan perkakas yang digunakan dapat dijadikan parameter dalam menakar terjadinya revolusi industri/teknologi, maka revolusi industri atau teknologi yang pertama berlangsung sekitar tahun 1760 – 1840. Revolusi teknologi/industri pertama ditandai dengan mekanisasi yang mampu menghantarkan sang homo sapiens membangun rel kereta api, penemuan mesin uap maupun produksi secara mekanis. Selanjutnya, seiring perkembangan teknologi mekanisasi ditemukan pula listrik sebagai sumber energi yang lebih mampu dari sekadar mesin. Terjadilah revolusi industri/teknologi kedua yang berlangsung pada paruh akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. Revolusi teknologi kedua ini ditandai dengan elektrifikasi berupa penemuan tenaga listrik yang mampu meningkatkan kemampuan mesin yang telah ditemukan pada revolusi pertama. Pada zaman inilah mulai dilakukan produksi massal, pengembangan lini produksi dan semakin mengukuhkan keberadaan para industrialis. Revolusi teknologi ternyata tidak berhenti sebatas penemuan listrik dan model produksi massal. Pada tahun 1960-an mulai ditemukan semikonduktor, komputer mainframe, personal komputer (1970-an) dan internet (1990-an). Inilah revolusi teknologi ketiga yang ditandai dengan komputerisasi memadukan mesin, listrik dan komputer sehingga merubah semua cara kerja dan gaya hidup sang homo sapiens. Jikalau elektrifikasi mampu menghadirkan produksi massal maka melalui komputerisasi mampu menghadirkan otomatisasi dan replikasi dengan waktu dan biaya yang jauh lebih murah dari sebelumnya. Penghujung abad ke 20 dan dimulainya abad 21, penggunaan internet semakin masif, inovasi smartphone semakin meluas dan replikasinya semakin cepat maka hadirlah revolusi teknologi keempat. Revolusi teknologi keempat ditandai dengan digitalisasi yang memadukan tiga komponen utama dalam melakukan produksi yakni fisikal, digital dan biologikal. Kemampuan teknologi memadukan aspek fisik (mesin dan robotik) dengan digital (sistem operasi dan platform bisnis) dan aspek biologikal (neuro-sains dan rekayasa genetika). Kemampuan integrasi oleh teknologi inilah yang mengilhami sekelompok ilmuwan di Jerman pada penyelenggaraan Hannover Fair 2011 menyebut revolusi keempat sebagai “Industry 4.0”. Revolusi teknologi yang diyakini mampu mengubah organisasi dan rantai nilai global secara revolusioner. Mengutip kalimat Erik Brynjolfsson dan Andrew McAfee (2014) - ahli dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), revolusi teknologi keempat menghadirkan teknologi digital yang “full force” dan mampu menghasilkan “sesuatu yang tidak terduga-unprecedented things”. Sekarang dapatlah kita buatkan peta jalan perkembangan teknologi dari mekanisasi-elektrifikasi-komputerisasi-digitalisasi sebagai kontinum yang menghantarkan ras homo sapiens dari sekelompok kawanan pemburu pengumpul menjadi homo deus yang bisa berbuat apa saja seturut imajinasinya. Secara singkat peta jalan perkembangan teknologi dapat disajikan melalui Gambar 6.


49 Gambar 6 Peta Jalan Revolusi Teknologi Mekanisasi merubah cara hidup nomaden menjadi menetap dan cara kerja manual menjadi mekanikal. Gaya hidup pemburu pun berubah menjadi gaya hidup tukang mekanik. Setting kehidupan pun bergeser dari lahan kebun menuju perbengkelan. Inilah sebentuk potret revolusi teknologi yang mengubah. Namun kehidupan berjalan masih seturut dengan siklus alam yang mengenal siang dan malam sebagai pengatur waktu dan ritme kehidupan. Elektrifikasi pada giliran selanjutnya menghadirkan produksi massal dan terang benderang yang memutus siklus siang dan malam. Manusia pun mengenal pabrik atau rumah produksi yang pada gilirannya mengubah pula gaya hidupnya. Dari seorang tukang mekanik yang bergelut dengan onggokan besi tua menjadi ruangan terang benderang yang memuat segala perkakas dengan tugas-tugas spesialnya. Lahirlah gaya hidup sang industrialis yang bangga dengan produksi massal dan mendisrupsi kestabilan alam. Mulailah muncul persoalan baru dengan istilah-istilah yang lekat dengan dunia industri. Manusia mengenal limbah industri, polusi udara, upah minimum, keselamatan kerja bahkan sampai pada jaminan hari tua. Komputerisasi mencoba menjawab persoalan dengan hadirnya teknologi ramah lingkungan, kemampuan automasi yang memangkas separuh jumlah tenaga kerja dan kemampuan rekayasa yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Komputer sebagaimana dikhayalkan para penemunya kini mampu menghiasi semua rumah warga dengan segala bentuknya. Kondisi ini tidak berlangsung lama, hadirlah digitalisasi yang mampu mengintegrasikan semuanya dengan bantuan bahasa algoritma. Ironis memang, perkembangan teknologi sepertinya menghadirkan kelimpahan di satu sisi namun di sisi lain menghadirkan kelangkaan. Berlimpah bagi kelompok yang lebih dahulu sampai pada dermaga abad digital, namun kelangkaan yang parah bagi mereka yang tertatih-tatih menapaki jalan elektrifikasi-komputerisasi untuk sampai pada digitalisasi. Mari sejenak kita melihat fakta menarik sebagaimana diuraikan Effoduh (2016)44 yang melakukan kajian kritis atas tulisan Klaus Schwab mengenai revolusi industrial keempat. Menurut Effoduh (2016) revolusi teknologi/industri keempat hanya mempertegas jurang antara the “west” dan the “rest”. Ketika penduduk bumi di dunia barat sudah menikmati kedigdayaan teknologi, terdapat kurang lebih 4 miliar manusia di bagian lainnya yang harus berjuang untuk sekedar memperoleh listrik apalagi komputer dengan akses internetnya mungkin jumlah itu semakin besar. Mekanisasi (Teknologi 1.0) (1760 – 1840) Elektrifikasi (Teknologi 2.0) (Akhir Abad 19-Abad 20) Komputerisasi (Teknologi 3.0) (1960-1970) Digitalisasi (Teknologi 4.0) (Akhir Abad 20 - sekarang)


50 Bagi Effoduh (2016) revolusi industri/teknologi keempat ini hanyalah penegasan atas munculnya ketidakseimbangan global baik dalam kekuasaan dan keamanan yang apabila tidak segera diantisipasi hanya berujung pada ketidakadilan, eksploitasi dan pelucutan kekuatan bagi yang lemah. Tampaknya apa yang disampaikan Effoduh (2016) terjadi juga di Indonesia. Mari sejenak kita mengelilingi pelosok bumi nusantara dengan memadankan peta jalan perkembangan teknologi dan fakta empirik kehidupan masyarakat di berbagai belahan wilayah negeri. Ketika kita berbicara tentang digitalisasi misalnya akan sangat kontras dengan kondisi riil yang terjadi. Sebagai acuan awal dapat dibaca dalam tulisan Kinda dan Yan (2018) dengan judul Indonesia yang Cerdas Digital (Digital-savvy). Kedua peneliti IMF tersebut mengungkap beberapa fakta menarik, antara lain : Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk usia muda ketiga terbesar di dunia dengan 130 juta pengguna aktif media sosial, Indonesia memiliki lebih dari 1.700 startup digital hanya terpaut sedikit di belakang Amerika Serikat, India dan Inggris. Fakta ini cukup menggembirakan. Namun ada juga fakta lainnya bahwa ; Indonesia memiliki tingkat penetrasi internet terendah di kawasan ASEAN karena hanya seperempat dari jumlah penduduk menggunakan internet; kualitas rata-rata, bandwith per pengguna dan kecepatan koneksi tergolong rendah. Hal yang kurang lebih sebangun dengan kajian Kinda dan Yan (2018) adalah hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2017. Kajian APJII (2017) memuat beberapa fakta menarik seputar penetrasi dan perilaku pengguna internet di Indonesia, antara lain: pengguna internet mencapai 54,68% dari jumlah penduduk pada tahun 2017 atau setara dengan 143,26 juta jiwa; pertumbuhan pengguna internet dalam kurun waktu 10 tahun (2007 sd. 2017) meningkat 7 kali lipat dari sekitar 20 juta penduduk menjadi 143 juta penduduk; pengguna internet terbesar di wilayah Jawa (58,08%) dan Sumatera (19,09%) sedangkan terkecil di wilayah Maluku-Papua (2,49%). Apabila jumlah tersebut dicermati cukup menggembirakan karena lebih separuh warga telah mengalami literasi digital. Namun demikian, fakta lain yang patut mendapat perhatian serius adalah jenis layanan internet yang diakses dan pemanfaatan internet dalam layanan publik. Kedua hal ini cukup menggetarkan hati karena menurut survei APJII (2017) layanan internet yang diakses didominasi chating (89,35%) dan sosial media (87,13%) sementara pemanfaatan internet dalam bidang layanan publik didominasi oleh informasi seputar regulasi/perundang-undadangan (16,17%) disusul dengan informasi administrasi dan pendafataran layanan online masing-masing (12,51% dan 11,78%). Mencermati uraian kondisi empirik literasi digital dan pemanfaatan surplus informasi yang digambarkan Kinda dan Yan (2018) maupun survei APJII (2017) di atas tampaknya sejalan dengan keprihatinan Effoduh (2016) bahwa terjadi kesenjangan digital secara global maupun lokal. Penikmat kemajuan teknologi digital di dunia apalagi di Indonesia sepertinya hanya sekelompok warga yang demam sosial media dan suka bercanda ria melalui dunia maya. Fenomena ini dapat diibaratkan kehidupan warga sebuah kota di atas bukit, tampaknya gemerlap namun tanpa makna.


Click to View FlipBook Version