The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Anderiasta Tarigan, 2023-04-17 22:58:20

Peta Jalan Pendidikan

Draft

Keywords: Peta Jalan

51 Kondisi ini sepertinya perlu segera ditangani serius untuk mengambil manfaat dari perkembangan teknologi sebelum teknologi memukul balik sehingga kita kembali menjadi pemburu pengumpul remah-remah teknologi. Apabila ditelaah lebih dalam, melalui revolusi sains dan teknologi sebenarnya terdapat garis persinggungan khususnya membentuk cara berpikir dan cara bekerja (mewujudkan isi pikiran) dari sang homo sapiens. Setidaknya melalui revolusi sains, manusia mampu menggunakan pikirannya dalam melipatgandakan kekuatannya yang secara fisik sangat terbatas menjadi tidak terbatas. Pelipatgandaan kekuatan itulah yang dihasilkan melalui perkakas dan metode kerja saintifik yang dikenal dalam bentuk teknologi. Sebagai contoh, ketika manusia mulai mengurangi penggunaan tangannya diciptakanlah teknologi mekanisasi melalui alat bantu mesin. Teknologi tahap awal ini membantu manusia dalam menggunakan perkakas fisiknya karena dapat digantikan mesin. Walau keterlibatan fisik masih dibutuhkan namun mesin membantu mengurangi separuh energi tubuh yang harus dikeluarkan. Teknologi semakin tumbuh dengan hadirnya listrik (elektrifikasi), keterlibatan fisik manusia semakin berkurang dan beralih ke aktifitas otak untuk mengoperasikan mesin yang bertenaga listrik. Pencapaian ini masih terus ditingkatkan dengan hadirnya alat bantu berpikir melalui komputer. Komputer tampaknya mulai mengambil allih perlahan-lahan namun pasti kemampuan berpikir sang homo sapiens. Cara kerja otak manusia yang menyerap, menyimpan, mengolah dan menyajikan kembali informasi ditiru dengan sangat baik oleh komputer. Masa-masa awal pengenalan dan penggunaan komputer ini seakan menandai manusia mulai mengurangi penggunaan otaknya untuk berpikir. Puncaknya kehadiran teknologi digital mampu menghubungkan mesin, manusia dan pemrosesan data maka ras homo sapiens tampaknya mencapai periode istirahat otak. Dengan kata lain, revolusi teknologi sebagai kontinum dan pasangan serasi revolusi sains menjadikan manusia sepertinya kembali hidup di masa awal penciptaan di taman eden kehidupan. Kini di taman eden digital, manusia telanjang, terpantau segenap perilakunya dan kapan saja dapat dipastikan posisinya hanya oleh seperangkat mesin algoritma pemindai yang dulu diciptakannya. Inilah sebentuk kejatuhan manusia jilid kedua, ketika jilid pertama manusia melawan penciptanya di taman eden, maka jilid kedua algoritma digital melawan penciptanya melalui lensa pemindai yang mampu melahap penciptanya. Revolusi Teologi : Politeisme ke Humanisme Perkembangan teologi pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari revolusi sains dan teknologi yang telah diuraikan sebelumnya. Bahkan apabila ditelusuri dari naskah-naskah sejarah maka tidak berlebihan kiranya apabila disebutkan bahwa para teolog umumnya adalah para ilmuwan yang handal di bidangnya. Sebut misalnya Thomas Aquinas, Imanuel Kant mapun Martin Luther merupakan tokoh-tokoh yang lebih dikenal sebagai filsuf pada zamannya. Namun patut dicatat bahwa sains dan teknologi hanya mampu menghantarkan para ilmuwan sampai pada pemahaman atas realitas yang dapat diindera maupun yang tak dapat diindera. Berbekal motode ilmiah sampailah sains dan teknologi pada kebenaran ilmiah (scientific truth) menurut kaidah-kaidah ilmiah.


52 Sementara itu teologi dengan metodologinya menghantarkan para ilmuwan memiliki keberanian menyingkap selubung realitas yang tak mungkin dijamah yakni God (Tuhan) dan kebenaran yang hendak dihasilkan adalah kebenaran hakiki (the ultimate truth). Pandangan inilah yang dianut Thomas Aquinas sehingga menyebut teologi sebagai “the queen of the sciences” 45. Pendidikan sebagai upaya pencarian dan penyingkapan juga menyentuh aspekaspek ketuhanan. Dalam perkembangan upaya mencari Tuhan inilah manusia bergerak dari politeisme ke humanisme sebagaimana diuraikan Karen Armstrong dalam bukunya The History of God. 46Buku ini menurut penulisnya bukanlah tentang sejarah realitas Tuhan yang tak terucapkan itu, yang berada di luar waktu dan perubahan, tetapi merupakan sejarah persepsi umat manusia tentang Tuhan sejak era Ibrahim hingga hari ini. Mencermati uraian Karen Armstrong, dapatlah dipahami bahwa gagasan manusia tentang Tuhan memiliki sejarah panjang sesuai dengan konteks zamannya. Bahkan narasi tentang Tuhan ini pula membuat ras manusia tercabik-cabik dalam berbagai sekte, identitas eksklusif, monopoli tafsir bahkan diujung ekstrim sampai pada membunuh tuhan (setidaknya pernah dilakukan oleh Nietzsche) 47. Mengikuti alur pikir Karen Armstrong maka gagasan tentang Tuhan pada satu generasi bisa saja menjadi tidak bermakna bagi generasi lain. Inilah mungkin yang disebut oleh Yuval Noah Harari (2014)48 sebagai realitas intersubjektif yang hanya dimiliki ras manusia yang memungkinkannya bekerjasama dalam jumlah sangat besar tanpa saling mengenal. Akibatnya, kata "Tuhan" melahirkan berbagai aliran pemikiran dan mencakup keseluruhan spektrum makna, sebagian di antaranya ada yang bertentangan atau bahkan saling meniadakan. Justru kelenturan pemaknaan ini menyebabkan gagasan tentang Tuhan selalu ditafsir ulang dengan berbagai aliran dengan ujung ekstrim ateisme dan penghujung lainnya monoteisme. Berdasarkan sejarah pencairan Tuhan inilah maka ras manusia mengenal berbagai narasi ketuhanan mulai dari bentuk politeisme yang sangat luwes dan mengerucut pada monoteisme yang dipahami oleh agama-agama besar sebagaimana diuraikan Karen Armstrong. Persepsi umat manusia tentang Tuhan inilah yang melahirkan setidaknya empat kluster pemaknaan, yakni : mengakui keberadan Tuhan (teisme)49, mengingkari keberadaan Tuhan (ateisme), tak mempersoalkan keberadaan Tuhan (agnostisisme) dan melepaskan diri dari Tuhan (sekularisme). Perbedaan persepsi atas konsep ketuhanan telah muncul sejak manusia ada di dunia ini. Pada perkembangan awal konsep ketuhanan dikenal animisme dan dinamisme. Konsep ini mengandaikan Tuhan sebagai roh atau arwah (anima) dan sebagai tenaga atau kekuatan gaib (dynaomos). Pada perkembangan selanjutnya ketika manusia mengenal tingkatan atau hierarkhi pada struktur sosial kemasyarakatannya, kondisi ini kemudian diproyeksi ke dalam konsepsi ketuhanan. Konsepsi Tuhan mengalami diversifikasi menjadi politeisme. Tuhan dipahami tidak sekedar tunggal tetapi telah memiliki struktur kekeluargaan sesuai dengan yang ada di kalangan manusia. Pada akhirnya muncullah monoteisme, yakni konsepsi Tuhan sebagai dzat yang Maha Esa. Berbagai konsep ketuhanan ini menandai corak dan pola perkembangan yang ada pada kebudayaan dan peradaban manusia.


53 Kendatipun sudah disadari sejak awal bahwa realitas Tuhan tidaklah terjamah, uniknya dewasa ini terdapat kecenderungan sang homo sapiens justru hendak menjadi “tuhan”. Ulasan mengenai hal ini menarik dikaji tulisan dari para “saintisme” seperti Elon Musk, Ray Kurzweil, atau Nick Bostrom. Bahkan visi mereka melawan kematian di tahun 2045 selalu didengungkan. Mari kita simak pokok-pokok ajaran humanisme, transhumanisme maupun posthumanisme50. Humanisme umumnya berawal dari tradisi abad pencerahan yang memandang manusia sebagai pusat semesta. Semua yang ada, dapat ada, ataupun yang mungkin ada ditentukan oleh manusia khususnya melalui kemampuan imajinasi atau rasionya. Dalam perjalanannya pandangan ini terbelah ke dalam dua arus utama, yakni humanisme religius maupun humanisme sekuler. Humanisme religius berprinsip manusia adalah ciptaan Tuhan dan segambar denganNya yang kuat dipengaruhi ajaran religius utamanya agama-agama Abrahamic kata Amstrong (2003), judaisme, kristen dan islam. Sementara humanisme sekuler merupakan pandangan yang dianut para gnostik (agnotism)- yang tidak mempersoalkan Tuhan itu ada atau tiada, maupun kalangan ateis-saintis yang memang “mengabaikan” adanya Tuhan. Kalangan humanisme sekuler inilah yang bermetamorfosis menjadi kelompok penganut transhumanisme maupun posthumanisme. Umumnya melalui telaah literatur, akar filsafat transhumanisme adalah filsafat pencerahan (enlightenment) yang meyakini keunggulan ras manusia mampu memperbaiki dirinya secara terus menerus. Inilah yang sebagian menyebut dirinya menjadi komunitas Human+ , progressiveisme atau anthropocentrisme. Dalam kalimat sederhana kelompok ini percaya diri mengklaim manusia bisa menjadi dewa tak ubahnya seperti rayuan ular kepada Adam di Taman Eden. Agak berbeda dengan filsafat transhumanisme adalah pandangan yang dianut posthumanisme. Bagi kelompok posthumanisme akar filsafatnya berangkat dari filsafat Nietzsche, Martin Heidegger, Michael Foucault yang dikenal juga sebagai penganjur post-modernisme. Bagi penganut posthumanisme semua ditelaah secara subjektif, dekonstruksi, anti kemapanan, bahkan cenderung menuju nihilisme. Kalau dalam kalimat yang lebih vulgar, kalangan ini “agak serampangan” dalam membuat segala narasi, abstraksi ataupun deskripsi. Namun ada satu hal yang unik dari kelompok ini, mereka menolak segala bentuk dominasi, hegemoni atau narasi tunggal. Revolusi Politik : Diktator Berhati Mulia ke Diktator Tanpa Hati Perjalanan revolusi politik apabila diringkas dimulai sejak manusia menyadari dirinya sebagai mahkluk politik terdapat kerinduan untuk dipimpin oleh sang pemimpin yang baik hati. Namun dalam catatan sejarah perkembangan peradaban politik manusia yang dihasilkan hanyalah kediktatoran dan demokrasi secara silih berganti. Tak puas dengan berbagai bentuk demokrasi dan kedikatoran, kini muncullah gejala baru politik yang menyerah kepada algoritma. Seakan semua bisa diselesaikan dengan bantuan teknologi sehingga kebencian terhadap diktator yang bengis dialihkan kepada kediktatoran algoritma tanpa hati. Perubahan politik biasanya didahului krisis parah yang umumnya berlangsung dalam kurun waktu lama dan cenderung memperoleh resistensi, inilah yang dinamakan Huntington (1991) sebagai gelombang demokratisasi ketiga 51.


54 Melalui perjalanan panjang sejarah politik-pemerintahan dapatlah dikenal 4 (empat) fondasi imajinasi pemerintahan sebagai buah revolusi politik, yakni52 : 1) divine right theory; 2) evolution theory; 3) social contract; dan 4) force theory. Imaginasi divine right theory menawarkan imajinasi bahwa pemerintah(an) berasal dari Tuhan sehingga pemerintah memiliki hak dan mandat suci untuk memerintah. Selanjutnya, seiring perjalanan waktu dikenal pula imaginasi force theory. Kita pun dapat memaklumi adanya penaklukan warga oleh warga lainnya yang diberikan mandat menggunakan kekuatan pemaksa. Imaginasi evolution theory, membayangkan pemerintah(an) merupakan hasil evolusi dari sebuah keluarga kecil yang berkembang menjadi suku-suku dan puncaknya suku menjadi bangsa yang didalamnya sekelompok warga diberi mandat berkuasa. Demikian halnya ketika imaginasi social contract theory digunakan, maka kita pun dapat mengerti terdapat kontrak sosial antara warga dan warga lainnya yang rela mengurangi kebebasannya untuk diberikan bagi sekelompok warga terpilih yang diberi mandat untuk memerintah. Sejenak perlu direnungkan bagaimana pemerintahan memaknai relevansinya ditengah kemunculan dataisme53 dan singularity54. Dataisme sebagaimana digambarkan Harari (2005) merupakan agama baru bagi sang homo deus. Dataisme meyakini bahwa dunia hanyalah serangkaian pemrosesan data yang dilakukan melalui bahasa algoritma. Setiap fenomena dan entitas kini ditentukan oleh kontribusinya dalam pemrosesan data. Dataisme berkembang melalui perpaduan antara ilmu komputer (infotech) dan biologi (biotech) yang mengklaim semua peristiwa dapat dijelaskan melalui serangkaian algoritma. Data adalah sumber kehidupan karena ia lebih tahu tentang diri kita sendiri. Data diterima dan diolah selanjutnya dikembalikan dalam rangkaian pilihan melalui algoritma sehingga riwayat emosi, pengalaman dan keputusan yang kita jalankan semuanya disajikan secara akurat. Suatu saat akan tiba masanya google, facebook atau mungkin tiktok akan lebih tahu siapa sahabat terdekat kita yang cocok secara emosional, psikologis maupun hobby daripada kita sendiri. Singularity di sisi lain menurut Ray Kurzweil (2005) adalah suatu kondisi masa depan manusia yang mengandalkan kecerdasannya untuk tetap survive menaklukkan alam semesta sehingga ia berubah dari makhluk berdarah dan berdaging menjadi mahkluk energi yang immortal. Realitas baru tersebut susul menyusul tanpa dapat dibendung. Kini sadar atau tidak, kita telah menjadi bagian migrasi besar-besaran kehidupan manusia dari “dunia nyata” ke “dunia maya”. Migrasi besar ini merubah pula relasi-relasi manusia yang sebelumnya alamiah, kini dilakukan secara artifisial. Pemerintahan pun tampaknya gamang dengan situasi ini, sehingga semua terminologi kini telah dipaksa berubah dari kehidupan nyata menjadi kehidupan maya. Istilah cyber-government kini mengalami inflasi tanpa diketahui maknanya seakan diserahkan saja bagi para penafsirnya. Saat ini pemerintahan sedang melakukan migrasi besar-besaran dari kehidupan nyata ke kehidupan maya. Transformasi gencar dilakukan mulai dari fungsi-fungsi utama tata kelola pemerintahan seperti pemberlakuan e-planning, ebudgeting, e-performance, sampai dengan terwujudnya mimpi bersama e-government.


55 Bahkan komunikasi internal di kalangan pemerintahan pun kini lebih sering menggunakan aplikasi sosial media mulai dari WhatsApp, Twitter atau telegram daripada surat edaran, memo atau instruksi yang resmi diakui sebagai tata naskah dinas. Revolusi Ekonomi : Owning Economy ke Sharing Economy Hal yang kurang lebih sama terjadi juga dalam perubahan ekonomi yang ditentukan oleh serangkaian faktor nilai, institusi dan sejarah politik sebagaimana dikemukakan oleh Robinson dan Acemoglu (2012)55 yang memotret sejarah panjang kaitan antara kekuasaan, kesejahteraan dan kemiskinan . Revolusi ekonomi juga menandakan manusia senantiasa mengandung paradoks. Dulu penumpukan modal dan kekayaan dijadikan kriteria kesuksesan bahkan sampai saat ini. Dengan kemajuan zaman khususnya sentuhan teknologi model ekonomi yang memungkinkan penumpukan laba pada segelintir orang digeser menjadi ekonomi berbagi. Pertanyaan mendasar di sini apakah ekonomi berbagi (sharing economy) tidak lain hanyalah bentuk halus dari penumpukan laba pada pemilik algoritma sedangkan yang lainnya hanyalah fitur pelengkap belaka? Revolusi Sosial : Paguyuban ke Kerumunan Perubahan sosial lebih merupakan resultan dari perubahan politik, ekonomi dan teknologi, sehingga gelombang ketiga meminjam Alvin Toffler (1980) merupakan kontinuitas sekaligus diskontinuitas dari masyarat agraris menuju masyarakat industri dan kini memasuki abad informasi. Secara sosial manusia saling membutuhkan walaupun tidak dapat dipungkiri manusia pada dirinya sendiri cenderung egois. Bentuk karakter manusia dalam hubungannya dengan sesama ini mengalami revolusi dari semula saling bertenggang rasa dan saling mengenal dalam sebuah paguyuban baik itu bernama keluarga, suku, bangsa dan negara kini beralih menjadi kerumunan global dengan nama baru warganet. Implikasi sosiologis dari realitas baru ini ditandai dengan post-truth, hyperrealitas, matinya kepakaran maupun maraknya teori konspirasi. Revolusi Peradaban : Nomaden Fisikal ke Nomaden Digital Sebegitu jauh perjalanan imajinasi pemerintahan ditengah berbagai revolusi yang mengubah khususnya sains, teknologi, teologi, politik, ekonomi, sosial dan puncaknya peradaban, menariknya, setiap revolusi tetap saja menghadirkan nuansa adanya disrupsi dan ko-eksistensi. Puncak dari segala imajinasi manusia dinamai peradaban. Dulu peradaban saling bertegur sapa melalui kontak fisik, migrasi warga maupun perdagangan. Nenek moyang kita bahkan dikenal sebagai penduduk yang berpindah-pindah melampaui batas geografis yang tidak pernah menetap. Kini semua dapat diakses tanpa harus berpindah tempat asal saja memiliki akses internet. Inilah sebentuk peradaban baru sebagai nomaden digital, tidak perlu ke mana-mana namun bisa berada dimana saja.


56 Endnote : Bagian Pertama; Revolusi yang mengubah Imajinasi Pendidikan 1 Arslanian, V.A.,2013, Beyond revolution; Ending lawlessness impunity during revolutionary periods, Boston College International an Comparative Law Review 36(1); 121-152. 2 Venter, J.C.M and Bain, E.G., 2015, A deconstruction of the term “revolution”, Bulletin for Christian Scholarship, 80(4). 3 Cohan, A.S, 1975, Theories of Revolution; an Introduction, Thomas Nelson & Sons, London. 4 Davies, J.C, 1962, Towards a Theory of Revolution, American Sociological Review, 27(1), 5-19. 5 Huntington, Samuel, P., 2006, Political Order in Changing Societies, Yale University Press, London. 6 Huntington, Samuel, P, 1991, The Third Wave; Democratization in the late Twentieth Century, University of Oklahoma Press, Oklahoma. 7 Zedong, Mao, 2009, Collected writings of Chairman Mao, Volume 2; Guerilla war-far, El Paso Norte, EL Paso TX. 8 Disrupsi mengacu pada pandangan Clayton M.Christensen, 1997, dalam bukunya The Innovator’s Dilemma; When New Technologies Cause Great Firms to Fails, Harvard Business School Press, yang dapat diartikan sebagai suatu proses dalam mana produk barang atau jasa mengalami perubahan cepat namun mendasar yang semula hanya memiliki segmen pasar terbawah namun bergerak naik dan akhirnya dapat menggantikan kompetitor yang telah mapan. Lihat juga Rhenald Kasali, 2017, Disruption ; menghadapi lawan-lawan tak kelihatan dalam peradaban uber, Grmaedia Pustaka Utama dan Rumah Perubahan, Jakarta. 9 Ko-eksistensi dapat diartikan hidup berdampingan secara damai meskipun terdapat perbedaan pandangan, lihat misalnya Deklarasi ASEAN (1967); Dasa Sila Bandung hasil Konferensi Asia Afrika, 1955. Masing-masing dokumen menegaskan prinsip dasar ko-eksistensi. 10 Istilah ‘Survival of The Fittest’ mengandung makna yang kurang lebih sama dengan seleksi alam yang diperkenalkan Charles Darwin, namun istilah ini lebih populer ketika digunakan oleh Herbert Spencer (1864) dalam sosiologi. Penganut paham ini sering juga disebut sosiologi darwinisme. 11 Toffler, Alvin, 1981, The Third Wave, London, Pan Books Ltd. 12 Mahbubani, Kishore, 2009, Can Asia Think?;Marshall Cavendish International (Asia) Private Limited, Singapore 13Labpolokda JIP Unila & MIP FISIP Unila, 2015, UU Pemda; Solusi atau Masalah yang Baru?; Desentralisasi atau Resentralisasi? Tinjauan Kritis Terhadap UU Nomor 23 Tahun 2014, Proceeding Seminar Nasional. 14 Alliance for Innovation, 2015, The Next Twenty Years in Local Government, Phoenix. 15 Deloitte Center for Corporate Governance, 2015, Age of Disruption; Are Canadian Firms Prepared?, http://www.corpgov.deloitte.ca akses 3 Maret 2018. 16Deloitte Center for Corporate Governance, 2015, loc.cit 17 Rhenald Kasali, 2009, Keluar Dari Krisis : Membangun Kekuatan Baru Melalui Core Belief dan Tata Nilai, Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia, Jakarta. Uraian tentang perubahan tujuan dan filosofi kedua jenis pasar ini dapat dibaca khususnya pada halaman 16-20. 18 ibid 19 Unit Koordinasi Supervisi dan Pencegahan KPK, 2012, Pencegahan Korupsi Terintegrasi, Jakarta. 20 Uraian ini merupakan intisari dari amanat regulasi yang tertuang dalam : 1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 188/PMK.07/2012 tentang Hibah Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah; 2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 juncto Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2012 juncto Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah Dan Bantuan Sosial Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Sebagian merujuk pada paparan Direktur Pembiayaan dan Kapasitas Daerah DJPK, 28 Maret 2015. 21 Harari, Yuval Noah, 2014, Sapiens: a brief History of Humankind, McClelland and Stewart, Canada. 22 Bhattacherjee, Anol, 2012 : "Social Science Research: Principles, Methods, and Practices" (2012). Open Access Textbooks. Book 3.http://scholarcommons.usf.edu/oa_textbooks/3 diunduh 22 Juli 2013, cetak tebal dari penulis. 23 Bunch, Bryan and Alexander Hellemans, 2004, The History of Science and Technology, Houghton Mifflin Company, Boston, New York. 24 Kent, Jo, 2006, The Impact of The Scientific Revolution; A Brief History of the Experimental Method in the 17th Century, http;/creativecommons.org. akses pada 01 Oktober 2018. 25 Henry, Jhon, 2008, The Scientific Revolution and the Origin of Modern Science, Third Edition, Palgrave Macmillan, New York 26 Kuhn, T.S. 1962. The Structure of Scientific Revolutions, Chicago: University of Chicago Press. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Tjun Surjaman di bawah judul Peran Paradigma dalam Revolusi Sains, 1989, Remadja Rosda Karya, Bandung 27 Harari, Yuval Noah, 2014 : loc.cit. 28 Sejarah kelahiran lembaga ini dapat dibaca dalam www.royalsociety.org 29 Brewer, G.D., 1999 : The Challenges of Interdisciplinarity, Pol Sci 32, pp.327-337 30 Klein, J.T. , 2007 : Interdisciplinary Approaches in Social Science Research. In Outwaite,W. and Turner, S.P. (Eds) The Sage Handbook of Social Science Methodology, Los Angeles, Sage Publications ISBN 0978-1-4129-0119-2. pp 32-49. 31 Adriaan W. Bedner, Sulistyowati Irianto, Jan Michiel Otto, Theresia Dyah Wirastri (eds), 2013 : Kajian Sosio-Legal ; Seri Unsur-Unsur Penyusun Bangunan Negara Hukum, Pustaka Larasan; Jakarta: Universitas Indonesia,


57 Universitas Leiden, Universitas Groningen, diunduh dari www.pustaka-larasan.com. 32Beberapa pusat studi yang mengembangkan kajian interdisiplin dapat dilihat pada www.transdisciplinarity.ch 33 Petrisor, Alexandru-Ionut, 2013 : Muti-, Trans- and Inter- Disciplinarity, Essential Conditions for the Sustainable Development of Human Habitat, Urbanism, Architectura, Constuctii, Vol.4Nr.2 pp.1-10 34 Paul Stock and Rob J.F. Burton, 2011 : Defining Terms for Integrated (Multi-Inter-Trans-Disciplinary) Sustainability Research, Sustainability Vol.3, pp-1090-1113. 35 Model ini dimodifikasi dari Petrisor, Alexandru-Ionut, 2013, loc.cit. halaman 2. 36 Alireza Jalali Farahany, 2005, The Shifting Paradigm : Who is the Intelectual of the 21st century, International Education Journal, Vol.6, No.4, p.512-515 37 Kahneman, Daniel, 2011, Thinking, Fast and Slow, Farrar, Strauss and Giroux, New York. 38 Harari, Yuval Noah, 2015 : Homo Deus, A Brief History of Tomorrow , Harvill Seckcer, London 39 Judt, Tony, 2005, Postwar : The History of Europe Since 1945, The Penguin Press, New York. 40 Bunch, Bryan and Alexander Hellemans, 2004, The History of Science and Technology, Houghton Mifflin Company, Boston, New York. 41 Harari, Yuval Noah, 2015 : Homo Deus, A Brief History of Tomorrow , Harvill Seckcer, London 42 Giorgio, 1995 : Homo Sacer; Sovereign Power and Bare Life, Stanford, Stanford University Press. 43 Schwab, Klaus, 2016, The Fourth Industrial Revolution, World Economic Forum, Geneva. 44 Effoduh, Jake Okechukwu, 2016, The Fourth Industrial Revolution by Klaus Schwab, The Transnational Human Rights Review 3. 45 Aquinas, Thomas, 1981 : Summa Theologica, Christian Classic. 46 Armstrong, Karen, 1993 : A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam, Ballantine Books, New York Conventions. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan Yang Dilakukan Oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen, Dan Islam Selama 4.000 Tahun oleh Penerbit Mizan, Bandung, tahun 2001. 47 Kaufmann, Walter, 1950, Nietzsche Philosopher, Psycologist, Antichrist, New Jersey: Princeton University Press. 48 Harari, Yuval Noah, 2014, loc.cit. 49 Kasno, 2018 : Filsafat Agama, Alpha, Surabaya. 50 Braidotti, Rosi, 2013 : The Posthuman, Cambridge, UK Polity Press. Lihat juga ulasan Ferrando, Francesca, 2013 : Posthumanism, Transhumanism, Antihumanism, Metahumanism, and New Materialism ; Differences and Relations, Existenz, International Journal in Philosophy, Religion, Politics, and the Arts, Vol.8.No.2 51 Gejala demokratisasi massif setidaknya dapat dicermati melalui uraian Samuel P. Huntington, 1991, The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century, Oklahoma University Press. Buku ini telah diterbitkan versi bahasa Indonesia dengan penerjemah Asril Marjohan di bawah judul Gelombang Demokratisasi Ketiga, 2001, Garifiti Press, Jakarta. 52 Jhon Locke, 1884 : Two Treatises of Government, George Routledge and Son, London. Lihat juga uraian yang selaras dalam Finer, Samuel Edward, 1974 : Comparative Government, Penguin Books Ltd., Harmonds Worth, Middlesex, England 53 Harari, Yuval Noah, 2015 : Homo Deus, A Brief History of Tomorrow , Harvill Seckcer, London 54 Kurzweil, Ray, 2005 : The Singularity is Near; When Humans Transcend Biology, Viking Penguin Group, USA 55 Acemoglu, Daren and James Robinson, 2012, Why Nations Fail; The Origin of Power, Prosperity and Poverty, Crown Publishing Group, New York


Click to View FlipBook Version