Seni grafis identik dengan kegiatan cetak-mencetak, oleh karena itu
istilah seni grafis dikenal juga dengan seni mencetak atau mencetak. Istilah ini
lebih sesuai dengan istilah yang digunakan dalam pelajaran mencetak yang
dilakukan di Taman Kanak-kanak. Mencetak merupakan suatu cara
memperbanyak gambar dengan alat cetak / acuan / klise. Alat cetak dapat
diperoleh secara sederhana atau direncana. Dalam perkembangan seni rupa,
mencetak bisa dikatakan seni grafis yakni merupakan karya dwimatra yang
dibuat untuk mencurahkan ide/gagasan dan emosi seseorang dengan
menggunakan teknik cetak, sehingga memungkinkan pelipatgandaan karyanya.
Hasil cetakan menunjukkan kreatifitas maupun keterampilan
penciptanya. Proses mencetak yaitu membuat acuan cetak atau klise dengan cara
menggores atau mencukil pada sekeping papan, gips, logam atau bahan lainnya.
Hasil cukilan diolesi tinta, kemudian dilekatkan pada selembar kertas dan
ditekan. Akhirnya tinta dari acuan melekat pada kertas. Mencetak merupakan
kegiatan seni rupa yang termasuk seni dua dimensi. Sebenarnya kegiatan
mencetak ini tidak asing bagi anak-anak.
Tanpa disadari kegiatan tersebuat merupakan kegiatan mendesain yang
dilakukan berulang-ulang yang merupakan kegiatan mencetak. “Mencetak
membutuhkan acuan sebagai alat cetak yang digunakan sebagai alat untuk
mereproduksi karya sesuai jumlah yang diinginkan” (Mattil, 1965). Prinsip
mencetak dapat dijumpai ketika membubuhkan cap jari pada surat identitas atau
menstempel surat. Kegiatan tersebut dapat dilakukan berulang kali dengan hasil
yang sama, hasil dari cetakan tidak dapat dikatakan mana yang asli dan mana
yang duplikat dari hasil cetak pertama, kedua dan seterusnya.
B. Macam-macam Teknik Mencetak
Menurut Rokhmat (2002: 12), proses mencetak memiliki prinsip yang
berdasarkan pada perbedaan klisenya/cetakannya yang dikelompokkan menjadi
empat kategori, yaitu:
a. Cetak Tinggi (Relief Print)
Cetak tinggi atau cetak timbul adalah cara membuat acuan cetak
dengan membentuk gambar pada permukaan media cetak secara timbul.
Contoh yang paling sederhana dari teknik ini adalah stempel atau cap.
46
Media yang umum digunakan untuk membuat cetak tinggi adalah kayu
lapis/triplek, hardboard, metal, karet (linoleum), dan papan kayu. Proses
cetak tinggi menggunakan klise/acuan/alat cetak yang akan menghasilkan
gambar dari bagian yang menonjol. Apabila alat cetak dioles dengan tinta,
bagian yang menonjol itu akan menerima tinta. Jika klise/ alat cetak itu
ditempelkan pada kertas kemudian diangkat, maka tampaklah gambar pada
kertas.
Menurut MGMP (2011) karya seni rupa cetak timbul/tinggi ini adalah
suatu karya seni yang proses pembuatannya menggunakan alat berupa cap,
yang pada bagian-bagiannya yang timbul/tinggi bila dilekatkan pada
permukaan kertas akan meninggalkan bekas yang sesuai dengan bentuk
motif yang menempel pada kertas.
Contoh cetak tinggi yang sederhana ialah: stempel, jari, uang logam,
potongan pelepah pisang, tutup botol, kulit kacang, buah-buahan, rol tissue
dan benang ditempel, cukilan ubi/wortel dan sebagainya. Pembuatan klise
untuk cetak tinggi dapat dilakukan dengan menggunakan guntingan gambar,
dan selanjutnya dapat untuk mencetak, contohnya media berupa: guntingan
gambar, papan/karet(linolium)/ubi, akrilik/cat poster/pewarna kue, pensil,
kuas, pisau atau alat pencukil dan kertas gambar.
Cara pembuatannya:
1) Gambar ditempelkan pada papan atau karet atau ubi
2) Pola ditoreh/dicukilkan dengan pisau/alat pencukil
3) Klise/alat alat cetak selesai
4) Klise/ alat cetak dioles dengan tinta
5) Cetakan kea rah kertas gambar
6) Jadilah gambar cetakan
Cetak tinggi apabila dilihat dari cara pembuatan klise dapat dibedakan
menjadi tiga, yaitu:
1) Cap, artinya menggunakan bahan klise dari alam, misalnya daun, jari,
pelepah pisang, dan lainnya. Motifnya sudah ada secara alami, maka
proses pembuatannya tidak menggunakan cara mencukil atau menoreh.
Teknik cetak cap menggunakan bahan dari alam (vegetable print) sesuai
47
untuk anak usia SD, karena bahan yang digunakan sederhana dan proses
pembuatannya tidak sulit untuk dilakukan anak usia SD. Selain dari itu
juga bisa cap jari tangan, jejak tempelan daun, irisan pelepah pisang,
tangkai daun talas, dll.
2) Cukilan kayu, artinya pembuatan klise dengan cara mencukil atau
menoreh bahan atau sejenisnya. Misalnya dengan triplek dan hardboard.
Teknik cukil yang sesuai untuk anak usia SD dapat menggunakan bahan
linoleum, kertas karton tipis (Cardboard), dan sejenisnya karena mudah
dalam pengerjaanya. Linoleum dan karton tipis merupakan bahan yang
lunak dan mudah di toreh.
Media yang digunakan untuk pembuat pola adalah kayu,
hardboard atau triplex. Proses pembuatannya :
a. Tahap pembuatan rencana gambar pola pada kertas.
b. Memindahkan rencana gambar pada lembaran kayu, hardboard atau
triplex dengan menggunakan kertas karbon.
c. Menoreh bagian kayu atau hardboard yang menurut perkiraan tidak
boleh kena tinta. Kayu atau hardboard ini berlaku sebagai klise
lukisan yang akan dibuat.
d. Meletakkan segumpal tinta pada kaca dan kemudian digiling dengan
rol karet sampau permukaan rol rata oleh tinta
e. Kemudian oleslah permukaan kayu yang telah ditoreh dengan tinta
yang telah ditempelkan pada rol
f. Letakkan kertas yang akan digambarai di atas permukaan kayu yang
telah diolesi tinta.
g. Letakkan kertas Koran di atas tersebut dan gosoklah dengan tangan
h. Lepaskan kertas Koran dan kertas dari permukaan kayu. Maka
selesailah proses pembuatan karya cetak cukilan kayu
48
3) Kolase atau kolagraf, artinya pembuatan klise dengan cara ditempel pada
bidang klise. Dapat menggunakan bahan yang beranekaragam jenisnya,
yang penting diperhatikan tinggi rendahnya bahan yang digunakan.
Bahan yang dapat digunakan antara lain: kertas konstruksi, kertas dari
majalah, sisa-sisa kain, karpet sampel, kertas berwarna, lembaran logam,
daun, biji, pasir, dan sebagainya. Bahan yang sudah ditempelkan pada
bidang kertas kemudian diolesi dengan tinta, setelah itu kertas
ditempelkan pada permukaan yang telah diolesi cat atau tinta. Kemudian
tekan kertas tersebut hingga cat menempel pada kertas. Pada bagian yang
dalam akan menghasilkan gambar karena cat atau tinta tidak menempel
pada kertas
b. Cetak Dalam (Intaglio Print)
Proses cetak dalam menggunakan klise/alat cetak yang akan
menghasilkan gambar adalah bagian yang menjuluk/dalam. Menurut
MGMP (2011) Cetak Dalam Intaglio Print) adalah mencetak yang
menggunakan klise. dimana permukaannya tinggi rendah karena goresan,
yang nantinya sebagai penghasil gambar.
Proses pembuatannya :
1) Gosoklah lempengan itu dengan serbuk kapur, supaya dapat digambari
pola dengan menggunakan pensil.
2) Torehlah pola gambar pada lempengan itu dengan paku atau jarum
jangka, sehingga terjadi goresan-goresan atau titik-titik yang
diinginkan.
49
3) Gosoklah permukaan lempengan yang telah ditoreh itu dengan kertas
supaya bersih.
4) Lumurilah lempengan dengan tinta cetak dengan menggunakan jari
tangan, supaya tinta dapat mengisi goresan-goresan tadi.
5) Bersihkan permukaan lempengan, dan usahakan tinta yang ada dalam
goresan itu tidak hilang.
6) Ambil kertas yang akan digambari, dan masukkan dalam air, dan
sementara dibiarkan supaya menjadi lembab.
7) Tempelkan kertas tadi di atas lempengan, dan taruhlah pula kertas lain
di atasnya, dan gosoklah permukaan kertas pelapis dengan punggung
sendok makan secara kuat dan merata.
8) Lepaskan kertas tadi di atas lempengan. Maka selsesaikanlah proses
pencetakan. Hal ini dapat dikerjakan berulang-ulang.
Seni grafis cetak dalam terbagi ke dalam beberapa bagian,
yaitu engraving, etsa, mezzotint, dan drypoint.
1) Engraving
Proses ini dikembangkan di Jerman sekitar tahun 1430 dari
engraving (ukiran halus) yang digunakan oleh para tukang emas untuk
mendekorasi karya mereka. penggunaan alat yang disebut dengan burin
merupakan ketrampilan yang rumit. Pembuat engraving memakai alat
dari logam yang diperkeras yang disebut dengan burin untuk mengukir
desain ke permukaan logam, tradisionalnya memakai plat tembaga. Alat
ukir tersebut memiliki bermacam-macam bentuk dan ukuran
menghasilkan jenis garis yang berbeda-beda.
Seluruh permukaan plat diberi tinta, kemudian tinta dibersihkan
dari permukaan, yang tertinggal hanya tinta yang berada di garis yang
diukir. Kemudian plat ditaruh pada alat press bertekanan tinggi bersama
dengan lembaran kertas (seringkali dibasahi untuk melunakkan). Kertas
kemudian mengambil tinta dari garis engraving (bagian yang diukir),
menghasilkan karya cetak.
2) Etsa
50
Etsa adalah bagian dari kelompok teknik intaglio bersama dengan
engraving, drypoint, mezzotint dan aquatint. Proses ini diyakini bahwa
penemunya adalah Daniel Hopfer (sekitar 1470-1536) dari Augsburg,
Jerman, yang mendekorasi baju besinya dengan teknik ini. Etsa
kemudian menjadi tandingan engraving sebagai medium seni grafis
yang populer.Kelebihannya adalah, tidak seperti engraving yang
memerlukan ketrampilan khusus dalam pertukangan logam, etsa relatif
mudah dipelajari oleh seniman yang terbiasa menggambar.
Hasil cetakan etsa umumnya bersifat linear dan seringkali
memiliki detail dan kontur halus. Garis bervariasi dari halus sampai
kasar.Teknik etsa berlawanan dengan teknik cukil kayu, pada etsa
bagian permukaan tinggi bebas tinta, bagian permukaan rendah
menahan tinta. Mula-mula selembar plat logam (biasanya tembaga,
seng atau baja) ditutup dengan lapisan semacam lilin. Kemudian
seniman menggores lapisan tersebut dengan jarum etsa yang runcing,
sehingga bagian logamnya terbuka. Plat tersebut lalu dicelupkan dalam
larutan asam atau larutan asam disapukan di atasnya. Asam akan
mengikis bagian plat yang digores (bagian logam yang terbuka/tak
terlapisi). Setelah itu, lapisan yang tersisa dibersihkan dari plat, dan
proses pencetakan selanjutnya sama dengan proses pada engraving.
3) Mezzotint
Salah satu cara lain dalam teknik intaglio di mana plat logam
terlebih dahulu dibuat kasar permukaannya secara merata; gambar
dihasilkan dengan mengerok halus permukaan, menciptakan gambar
yang dibuat dari gelap ke terang. Mungkin juga menciptakan gambar
hanya dengan mengkasarkan bagian tertentu saja, bekerja dari warna
terang ke gelap. Alat yang digunakan untuk teknik ini adalah rocker.
4) Drypoint
Merupakan variasi dari engraving, dikerjakan dengan alat
runcing, bukan dengan alat burin berbentuk “v”.Sementara garis pada
engraving sangat halus dan bertepi tajam, goresan drypoint
meninggalkan kesan kasar pada tepi garis.Kesan ini memberi ciri
51
kualitas garis yang lunak, dan kadang-kadang berkesan kabur, pada
drypoint.Karena tekanan alat press dengan cepat merusak kesan
tersebut, drypoint hanya berguna untuk jumlah edisi yang sangat kecil;
sekitar sepuluh sampai duapuluh karya. Untuk mengatasi ini,
penggunaan electro-plating (pelapisan secara elektrik dengan bahan
logam lain) telah dilakukan sejak abad sembilan belas untuk
mengeraskan permukaan plat.
c. Cetak Datar
Cetak datar adalah keadaan permukaan klise rata/ datar, namun ada
bagian yang menolak dan ada bagian yang menerima tinta. Bagian yang
menerima tinta sebagai penghasil gambar. Perbedaan bagian permukaan
tersebut disebabkan oleh tebalnya lapisan kimia (emulsi) yang melekat pada
permukaan klise. Untuk anak usia SD dapat menggunakan teknik cetak
lipatan, cetak tunggal (monoprint), dan sejenisnya. Cetak lipatan yaitu
membuat klise dengan cara melipat kertas menjadi dua bagian kemudin
mengoleskan cat pada salah satu bagian bidang kertas, selanjutnya kertas
dilipat kembali dan ditekan secara merata sehingga cat menempel dan
menghasilkan gambar. Cetak tunggal (monoprint) merupakan teknik cetak
dengan bidang datar yang tidak dapat diulangi lagi untuk menghasilkan
gambar yang sama.
Sekarang hampir semua percetakan menggunakan mesin cetak offset
yang berdasar pada proses cetak datar/rata. Acuannya disebut pelat. Bagian
yang menghasilkan gambar mampu menangkap tinta, tetapi menolak air.
Sebaliknya bagian pelatnya menolak tinta, tetapi menarik air. Tinta yang
dioleskan pada pelat, hanya bagian yang menghasilkan gambar saja yang
menerima tinta, selanjutnya pindah pada kertas yang dicetak.
Cetak datar yang sederhana dapat menggunakan kaca. Disini dikatakan
datar, kerena menggunakan kaca sebagai cetakan yang mempunyai
permukaan datar. Media: kaca satu lembar, kertas gambar yang lebih lebar
daripada kaca, cat atau lem kanji yang dicampur dengan pewarna kue, kain
lap, tempat cat, kuas dan Koran bekas untuk alas.
Teknik pembuatan:
52
a. Kaca digambari dengan cat atau lem kanji dicampur dengan pewarna kue
b. Letakkan kertas di atas kaca yang telah digambari
c. Kertas ditekan ambil diratakan
d. Angkat kertas dari kaca
e. Jadilah gambar di atas kertas
d. Cetak Tembus (Stencil Print)
Cetak tembus adalah keadaan permukaan klise berlubang-lubang, dan
lubang tersebut tempat lewatnya tinta yang sekaligus sebagai penghasil
gambar. Tinta yang ditekan akan melalui lubang-lubang yang akibatnya
mengenai bidang di bawahnya. Berdasarkan keadaan klise yang digunakan,
maka cetak tembus dapat dibedakan dalam dua tipe, yaitu: 1) Klise dalam
keadaan berlubang, untuk memperoleh lubang sebagai pola dilakukan
pemotongan (cut out), (stencil print). 2) Klise berupa lembaran kasa (silk),
untuk memperoleh pola gambar dilakukan penutupan pada bagian yang
tidak diinginkan (silk screen). Kedua teknik tersebut diatas memiliki proses
pembuatan klise yang berlawanan, yaitu stencil print membuat lubang pada
lembaran klise, sedangkan silk screen berusaha menutup lubang kasa.
Menurut MGMP (2011) Stensil berarti menembus. Oleh sebab itu pada
lembaran tipis (kertas atau kain tipis), yang pada bagian-bagiannya dapat
ditembus oleh tinta. Di bawah ini adalah salah satu contoh dari cetak
tembus.
53
Selain jenis teknik mencetak di atas yang merupakan teknik cetak
berdasarkan pada prinsip dasar teknik mencetak, terdapat teknik mencetak untuk
anak-anak usia SD dapat meliputi teknik cetak lipatan, teknik cetak penampang,
cetak cukilan, cetak sablon, cetak percikan, dan cetak mono. Teknik-teknik cetak
tersebut merupakan teknik cetak sederhana sehingga mudah untuk dikerjakan
anak-anak usia SD.
C. Gambar Cetak untuk Anak-anak
Menurut Affandi (2006:13-21) menjelaskan, dalam mencetak, pembuatan
klise atau cetakan dapat menggunakan berbagai bahan dan teknik yang berbeda.
Teknikteknik yang digunakan dalam mencetak adalah sebagi berikut:
a. Cetak Lipatan
Cetak lipatan merupakan teknik cetak datar yang yang termasuk
dalam teknik cetak mono. Cetak lipatan adalah teknik cetak yang dikerjakan
dengan menggunakan klise dari kertas gambarnya sendiri. Hasil gambar
diperoleh dengan cara melipat kertas gambar yang telah diberi cairan warna,
dan menekannya secara merata dari balik sisi luar lipatan. Setelah lipatan
dibuka akan menghasilkan gambar cetakan yang indah.
b. Cetak Penampang
Cetak penampang merupakan teknik cetak tinggi. Gambar cetak
penampang adalah gambar cetakan yang dikerjakan dengan menggunakan
klise yang terbuat dari penampang benda seperti penampang dari pelepah
daun pisang, atau kulit batang pohon pisang, tangkai daun papaya, buah
54
belimbing, buah papaya muda dan sebagainya. Teknik tersebut disebut
teknik cap.
c. Cetak Cukilan
Cetak cukilan merupakanteknik cetak tinggi. Dari gambar cetak
cukilan ialah gambar cetakan yang dikerjakan dengan menggunakan klise
yang bermotif/ berpola yang dibuat dengan cara dicukil atau ditoreh. Oleh
karena pembuatan cukilan cukup rumit dan menggunakan benda tajam,
maka kegiatan ini kurang cocok untuk siswa TK dan SD kelas bawah.
Untuk siswa SD dapat menggunakan bahan dari umbi-umbian, gips, dan
linoleum cut, karena dengan bahan tersebut proses pengerjaanny lebih
mudah.
d. Cetak Sablon
Cetak sablon sering disebut juga teknik cetak tembus karena
klisenya berlubang sehingga dapat ditembus/dilalui oleh bahan pewarna
ketika dicetakkan. Pada pembuatan klise ini dapat menggunakan kertas
55
tebal, plastik, karton yang dilubangi sesuai dengan gambar yang
dikehendaki. Cetak sablon dapat juga dilakukan dengan menggunakan klise
dari bahan kassa atau saringan (screen). Cetak sablon dapat menggunakan
klise dari lembaran kasa (silk), yaitu dengan cara menutup bagian yang
tidak diinginkan atau lubang kasa (silk screen) untuk menghasilkan gambar.
Selain menggunakan silk, dapat menggunakan teknik klise dalam keadaan
berlubang, untuk memperoleh lubang sebagai pola dilakukan pemotongan
pada lembar klise (stencil print).
e. Cetak Percikan
Istilah percikan menunjukkan cara pewarnaan pada gambar cetak.
Teknik ini merupakan gambar cetak karena percikan warna di atas kertas
gambar dihalangi oleh benda-benda pipih atau potongan pola dari kertas
atau karton yang telah sengaja diatur sedemikian rupa sehingga susunannya
dapat menggambarkan suatu benda. Perolehan hasil gambar dapat dilakukan
dengan cara menyemprotkan cat warna dengan menggunakan sikat, sisir
rambut, atau air brush pada bidang kertas yang sudah ditutup dengan pola
gambar tersebut. Teknik percikan juga merupakan teknik cetak sablon.
56
f. Cetak Mono
Cetak mono disebut juga teknik cetak tunggal yang artinya tidak
dapat diulangi lagi untuk menghasilkan gambar yang sama. Pembuatan klise
dilakukan dengan cara yang bebas, yaitu dengan meletakkan benda-benda
yang pipih di atas permukaan kertas yang tidak secara terikat.
g. Tarikan Benang Bertinta
Gambar cetak tarikan benang bertinta adalah gambar cetakan yang
dikerjakan dengan menggunakan benang yang diolesi dengan tinta. Teknik
ini merupakan pengembangan dari teknik lipat.
D. Tujuan dan Manfaat Mencetak pada Seni Rupa
Secara umum, tujuan pembelajaran seni rupa adalah agar siswa memiliki
pengetahuan dasar, kepekaan artistik keindahan dan kemampuan
mengungkapkan ide gagasan melalui kegiatan kreatif. Pentingya
mengembangkan kemampuan seni melalui mencetak adalah dapat
mengembangkan kreativitas dan daya imajinasi pada anak serta anak dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Menurut Lerin (2009) manfaat
dari kegiatan mencetak ini adalah dapat mengembangkan kreativitas anak, dapat
meningkatkan kemampuan anak dalam mengombinasikan warna.
Beberapa manfaat seni grafis dalah satunya mencetak yaitu dapat
mempercepat pekerjaan yang berhubungan dengan gambar grafis terutama
dalam dunia percetakan. Saat ini seni grafis sudah banyak diminati oleh
57
masyarakat, maka saat ini banyak masyarakat yang mempelajarinya sehingga
berguna untuk mendapatkan penghasilan dari seni grafis. Dengan seni grafis
masyarakat bisa dengan mudah tertarik membaca suatu pesan-pesan yang ingin
disampaikan seperti pesan pada reklame, Koran, majalah, danposter karena
pesan tersebut akan terlihat lebih menarik.
E. Contoh produk Mencetak
58
F. Pengimplementasian dalam Pembelajaran di SD
1. Kompetensi Dasar: Mengekspresikan diri dan berkreasi dengan berbagai
gagasan imajinatif menggunakan berbagai bahan.
Berdasarkan kompetensi dasar di atas siswa diharapkan dapat membuat
karya gambar cetak ekspresi dengan berbagai cetakan dari bahan alam yaitu
cetak penampang, daun-daunan, dan umbi-umbian. Untuk mencapai
kompetensi tersebut, kegiatan pembelajaran diawali dengan mempersiapkan
bahan dan alat yang diperlukan: kertas, pewarna, pelepah daun, buah, daun
daunan, umbi-umbian, pisau, cutter, silet, alas pewarna, spon/busa, kapas,
koran bekas.
2. Proses pengerjaannya:
59
a. Pilihlah penampang apa yang akan dijadikan acuan cetaknya pelepah
daun atau buah-buahan. Pelepah daun yang sering dijadikan acuan cetak
adalah: pelepah daun pisang, pelepah daun talas, pelepah daun pepaya.
Buah belimbing dapat pula dijadikan sebagai acuan cetak.
b. Potonglah penampang bahan acuan cetak itu dengan pisau, cutter atau
silet. Arah potongan bebas. Usahakan agar permukaan potongan rata.
Kerataan permukaan potongan sangat menentukan hasil cetakannya.
c. Siapkan pewarna. Pewarna yang disiapkan bergantung dari keadaan bahan
acuan cetaknya. Bila acuan cetaknya masih mengeluarkan getah/cairan,
cukup disediakan serbuk pewarna saja. Pewarna akan menjadi cair setelah
bersatu dengan cairan acuan cetak. Akan tetapi bila acuan cetaknya tidak
mengeluarkan cairan, kita perlu menyediakan pewarna yang sudah
dicampur dengan air.Pewarna serbuk, cukup disebarkan pada alas warna
yang bentuknya datar dan rata misalnya: kaca, formica, lembaran plastik,
piring. Penampang acuan cetak yang mengandung cairan digosok-
gosokan pada serbuk warna yang ditaburkan di alas hingga rata, maka
terjadilah warna yang siap pakai. Pewarna cair dapat dipulaskan pada
busa/spon, atau pada kapas.
d. Mencetakkan acuan cetak. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan
ikutilah petunjuk ini.
1) Penampang acuan cetak yang masih basah tekankan pada pewarna
yang ada pada alas warna tadi.
2) Selanjutnya tempelkan (sambil ditekan) acuan cetak tersebut pada
kertas yang sudah diletakkan di atas koran.
3) Kemudian angkat acuan cetaknya. Gambar acuan cetak akan tertera
pada kertas. Untuk membuat bentuk/gambar yang sama, lakukan
kegiatan seperti yang dilakukan sebelumnya beberapa kali bergantung
kebutuhan pada kertas yang sama atau yang lain.
4) Acuan cetak yang sudah kering (tidak mengeluarkan cairan),
pengisian warnanya harus dengan cara menempelkan acuan cetak
tersebut pada spon/busa, atau kapas yang sudah diisi pewarna.
60
Pencetakannya sama seperti pada pencetakkan acauan cetak
sebelumnya. Demikian pula pengulangan pencetakkannya.
5) Perlu diperhatikan agar pewarna yang menempel pada acuan cetak
tidak berlebihan, tidak pula kekurangan. Bila hal ini terjadi, hasil
cetakannya tidak akan memuaskan.
e. Proses pencetakkan daun-daunan dilakukan sebagai berikut:
1) Pilihlah bentuk daun yang menarik serta ukurannya tidak terlalu lebar.
2) Siapkan pewarna pada alas warna seperti pada cetak penampang.
Usahakan agar keadaan pewarna pada alas merata keadaannya, serta
tidak terlalu encer.
3) Tempelkan permukaan daun tadi serata mungkin pada alas pewarna.
4) Selanjutnya permukaan daun yang sudah berwarna tadi tempelkan
pada kertas yang sudah disiapkan terlebih dahulu. Gosoklah
permukaan daun itu dengan hati-hati. Agar aman dan leluasa
menggosok, simpanlah kertas di atas permukaan daun tersebut.
f. Bila mencetakkannya sempurna, bentuk daun serta warna yang dipilih
akan tergambarkan pada kertas. Pada cetak umbi-umbian, kita harus
membuat acuan cetak terlebih dahulu. Umbi-umbian yang biasa
digunakan untuk acuan cetak diantaranya adalah: ubi jalar, kentang, talas,
wortel, ketela pohon. Proses kerjanya sebagai berikut:
1) Potonglah umbi yang sudah dipilih untuk acuan cetak serata mungkin.
2) Buatlah gambar/bentuk pada permukaan potongan yang rata tadi.
3) Selanjutnya hilangkan atau rendahkan bagian permukaan yang
nantinya tidak akan memindahkan gambar/bentuk dengan jalan
mengerat atau menorehnya.
4) Siapkan pewarna sebelum melakukan pencetakkan. Namun sebaiknya
lihat kembali proses pencetakan penampang yang basah dan yang
kering. Pada cetak umbi-umbian-pun berlaku hal seperti itu, karena
ternyata ada umbi-umbian yang masih mengandung cairan dan
sebaliknya. Oleh sebab itu untuk acuan cetak dari umbi-umbian yang
masih basah, gunakan serbuk warna. Sedangkan untuk acuan cetak
dari umbi-umbian yang sudah kering, pewarna harus dicampur dahulu
61
dengan air. Sekali lagi tata cara pencetakkannya lihat proses cetak
penampang.
5) Perlu diperhatikan agar pada proses cetak ini (penampang, daun-
daunan, dan umbi-umbian), digunakan alas yang agak empuk. Alas
yang keras kurang baik hasilnya.
G. Penilaian Hasil Gambar Cetak
Agar dapat mengarahkan dan membina anak dalam kegiatan mencetak
dengan baik dan terarah, maka bagi guru perlu memahami tentang tingkat
pekembangan anak dan karya-karyanya. Makna dan nilai dalam kegiatan seni
rupa ini bukan hanya sebatas memberikan angka sebagai ukuran tingkat
keberhasilan kerja, tetapi lebih kompleks lagi berkaitan dengan aspek-aspek nilai
pendidikan, sehingga dalam pemberian penilaian terhadap karya anak, guru
hendaknya perlu memahami dasar-dasar pertimbangan dalam suatu penilaian.
Menurut Affandi (2004:33-34), pertimbangan-pertimbangan tersebut
antara lain: (1) tingkat usia anak, (2) pengaruh lingkungan anak, (3) corak, gaya
atau tipe anak, (4) teknik dan media yang digunakan, (5) penuangan ide dalam
makna kreativitas, organisasi unsur-unsur, dan keberanian ungkapan. Guru yang
baik merupakan guru yang dapat memahami kondisi, potensi dan kelemahan
anak didik per individunya. Guru harus mempunyai apresiasi yang cukup berupa
kemampuan untuk dapat menerima dan menghargai pemahaman terhadap karya
dan latar belakang penciptanya.
Menurut Affandi (2004:34-35), penilaian gambar cetak anak dalam
ada dua langkah, yaitu penilaian proses berkarya dan penilaian hasil
karya. Dalam penilaian proses berkarya ada tiga hal yang harus dicermati, yaitu:
kelancaran dalam menuangkan ide, keberanian dalam bertindak, dan
keterampilan dalam penggunaan media.
Sedangkan untuk penilaian hasil karya, ada tiga komponen dalam karya
yang perlu dicermati, yaitu: indikator tingkat kretivitas, indikator tingkat
kebebasan berekspresi, dan indikator tingkat keterampilan teknik. Komponen-
komponen indikator tingkat kreativitas adalah keanekaan unsur-unsur, obyek,
dan warna, kebaharuan dan keaslian tampilan, serta kemampuan penataan
komponen unsur-unsur. Komponen-komponen indikator tingkat kebebasan
62
ekspresi adalah ketegasan dalam garis dan warna dan keberanian dalam
mengorganisasi unsur-unsur. Sedangkan komponen-komponen indikator
keterampilan teknik dan keindahan atau kebagusan hasil karya sesuai dengan
media yang digunakan dan kecermatan dalam penyelesaian.
H. Rangkuman
Mencetak merupakan suatu cara memperbanyak gambar dengan alat
cetak / acuan / klise. Mencetak bisa dikatakan seni grafis yakni merupakan karya
dwimatra yang dibuat untuk mencurahkan ide/gagasan dan emosi seseorang
dengan menggunakan teknik cetak. Berbagai macam proses mencetak, antara
lain:
a. Cetak Tinggi (Relief Print)
b. Cetak Dalam (Intaglio Print)
c. Cetak Datar (Planography Print)
Cetak Tembus (Stencil Print)
63
BAB IV
PRAKTEK MENEMPEL PADA SENI RUPA
A. Pengertian Seni Rupa
Seni merupakan sebuah karya yang terwujud dengan indera yaitu dapat
dilihat, didengar atau keduanya (dilihat dan didengar). Seni sendiri merupakan nilai
dari karya tersebut seperti menghasilkan keindahan. Contoh seni sangat banyak
yaitu lukisan, artefak, musik, karya tulis puisi, cerpen, dongeng, dsb.
Seni rupa merupakan suatu cabang seni yang tujuan utamanya adalah untuk
menghasilkan sebuah karya seni yang indah dan berkualitas sehingga karya seni
yang dihasilkan tersebut dapat dirasakan oleh anggota indra pada tubuh manusia
khususnya indra pendengan dan penglihatan.
Adapun Budi (2012:4) mendefinisikan seni rupa sebagai salah satu cabang
kesenian yang merupakan ungkapan gagasan dan perasaam manusia yang
diwujudkan melalui pengolahan median dan penataan elemen serta prinsip-prinsip
desain. Sedangkan Maria & Biarezky (2015:10) mengungkapkan bahwa seni rupa
adalah cabang seni yang mengutamakan ekspresi ide atau konsep sang seniman
menjadi bentuk yang menstimulasi indera penglihatan.
B. Pengertian Menempel
Teknik menempel merupakan sebuah cabang dari seni rupa yg meliputi
kegiatan menempel potongan potongan kertas atau material lain intuk membentuk
sebuah design atau rancangan tertentu.
Dalam KBBI (2002: 124), menempel diartikan sebagai melekatkan sesuatu
dengan lem atau perekat. Senada dengan itu, Salam (2001: 58) mengemukakan
bahwa kegiatan menempel biasa pula disebut membuat kolase yang berarti
gambaran yang dihasilkan dengan cara menempelkan bahan/ benda semacam
kertas, karton, kain, plastik, kayu atau logam pada bidang datar.
Lebih lanjut, Pamadhi (2013: 7.5) mengemukakan bahwa penempelan
gambar dikatakan baik jika tepat pada tempat yang telah disediakan berupa kolom
kosong yang terdapat garis pinggirnya untuk membatasi objek gambar yang telah
digunting. Meletakkan kertas yang sudah diolesi lem akan sangat sulit bagi anak,
64
sebab kertas yang sudah terolesi lem begitu menempel kertas lain akan mudah
lengket dengan kertas lain tersebut, padahal apabila posisi kertas tersebut belum pas
maka sangat sulit untuk dilepas.
C. Macam-Macam Teknik Menempel
Pamadhi dan Sukardi (2013: 5.4) membagi kegiatan menempel menjadi
beberapa macam teknik menempel, yaitu Montase, Kolase serta Mozaik
1. Montase
Montase adalah karya seni tempel yang menempelkan potongan-
potongan gambar dari berbagai sumber yang kemudian ditempelkan di bidang
yang sama, sehingga membentuk susunan karya seni baru. Sumber potongan
gambar yang dimaksud bisa berasal dari koran bekas, majalah bekas, buku yang
sudah tidak dipakai, pamflet, ataupun berbagai hal lainnya, yang ketika
ditempelkan bersama akan membentuk sebuah hal yang baru.
Umumnya seni montase terbuat dari kumpulan beberapa jenis gambar
yang memiliki tema yang sama yang kemudian disatukan menjadi gambar baru.
Contoh gambar montase adalah sebuah gambar binatang yang terdapat di
majalah dipotong lalu ditempel pada permukaan media gambar yang kemudian
ditempel dengan gambar binatang lain dari buku.
Istilah montase kemudian lebih dikenal sebagai montase foto atau
photomontage. Sementara itu, dalam sinematografi, istilah montase adalah
rangkaian gambar yang tidak bergerak
2. Kolase
Kolase adalah karya seni yang terbuat dari berbagai macam material
berbeda yang kemudian ditempel menjadi sebuah gambar unik. Menurut
Mirantiyo (2014), kolase adalah komposisi artistik yang dibuat dari bermacam-
macam bahan, seperti kain, kertas, kaca, logam, kayu, dan lainnya yang
ditempelkan pada permukaan gambar. Selama bahan itu dapat dipadukan dengan
bahan dasar, akan menjadi karya seni kolase yang akan mewakili perasaan
estetis orang yang membuatnya.
Sejalan dengan pendapat di atas, Pamadhi dan Sukardi (2013: 5.4)
mengemukakan bahwa kolase merupakan karya seni rupa dua dimensi yang
menggunakan bahan yang bermacam-macam selama bahan dasar tersebut dapat
65
dipadukan dengan bahan dasar lain yang akhirnya dapat menyatu menjadi karya
yang utuh dan dapat mewakili ungkapan perasaan estetis orang yang
membuatnya.
3. Mosaik
Mosaik adalah seni menggabungkan sebuah kepingan-kepingan barang
menjadi sebuah gambar atau pola yang baru dengan menggunakan bahan dasar
yang sama. Seperti contohnya terbuat dari keramik, pecahan kaca, kulit telur,
kepingan daun, kepingan batu, kepingan kayu, dan bahan lainnya. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mosaik adalah seni dekorasi bidang
dengan kepingan bahan keras berwarna yang disusun dan ditempelkan dengan
perekat.
Salam (2001: 61) mengemukakan bahwa, menempel dengan teknik
mosaik adalah menggunakan bahan yang ditempelkan berupa kepingankepingan
kecil dari bahan semacam kertas, plastik, biji-bijian, kaca atau keramik.
Kepingan-kepingan ini ditempelkan sedemikian rupa sehingga membentuk
motif-motif tertentu. Warna dari kepingan-kepingan ini sangat menentukan
dalam penempelan oleh karena warna kepingan inilah yang menciptakan bentuk
motif. Agar supaya murid terarah dalam menempelkan kepingan-kepingan,
maka terlebih dahulu bidang permukaan yang akan ditempeli diberi pola/
gambar.
Sejalan dengan pendapat di atas, Subiantoro (2014: 52) berpendapat
bahwa seni mosaik dilakukan dengan teknik merekatkan pada bidang datar atau
benda, dengan menerapkan bahan sebagai medianya dalam bentuk lembaran,
maka terlebih dahulu bidangnya dipotong dengan ukuran kecil-kecil, kemudian
potongan bidang kecil tersebut ditempel dengan sesuai bentuk gambar.
D. LANGKAH-LANGKAH TEKNIK MENEMPEL
1. Montase
Berikut adalah Langkah dalam membuat karya montase:
1) Siapkan bahan-bahan yang akan digunakan.
66
2) Membuat tema dan konsep gambar untuk montase.
3) Potong gambar-gambar dari majalah, koran, dan lain-lain, usahakan
menggunting serapi mungkin.
4) Siapkan kertas gambar yang akan digunakan sebagai bidang untuk membuat
montase.
5) Susun potongan gambar pada kertas gambar sesuai kreativitas. Usahakan
agar gambar satu dengan lainnya dapat dipadukan sehingga tampak artistik.
6) Agar lebih indah, tambahkan warna atau corak menggunakan crayon, pensil
warna, atau spidol.
2. Kolase
Menurut Syakir Muharrar (2013: 9) langkah-langkah keterampilan
membentuk kolase yaitu:
1) Merencanakan gambar yang akan dibuat. Menyediakan alatalat/bahan.
Menjelaskan dan mengenalkan nama alat-alat yang digunakan untuk
keterampilan kolase dan bagaimana cara penggunaannya.
2) Membimbing anak untuk menempelkan pola gambar pada gambar dengan
cara memberi perekat dengan lem, lalu menempelkannya pada gambar.
3) Menjelaskan posisi untuk menempelkan pola gambar yang benar sesuai
dengan bentuk gambar dan mendemonstrasikannya, sehingga hasil
tempelannya tidak keluar garis.
4) Latihan hendaknya diulang-ulang agar motorik halus anak terlatih karena
keterampilan kolase ini mencakup gerakan-gerakan kecil seperti menjepit,
mengelem dan menempel benda yang kecil sehingga koordinasi jari-jari
tangannya terlatih.
Dapat disimpulkan langkah-langkah keterampilan kolase yaitu
menyediakan alat dan bahan, menempelkan bahan pada gambar yang telah
dipersiapkan sebelumnya, Latihan hendaknya dilakukan berulang-ulang agar
kemampuan motorik halus terlatih.
3. Mosaik
Dalam proses pembuatanya ada beberapa teknis mozaik yang secara
khusus perlu diperhatikan. Beberapa teknik mozaik adalah sebagai berikut:
67
1) Teknik menempel. Teknik menempel ini dilakukan dengan menempel
potongan kertas atau material lain menggunakan lem. Teknik menempel ini
berfungsi untuk melatih konsentrasi mata.
2) Teknik menggenggam. Teknik mozaik ini berfungsi untuk menggenggam
potongan kertas dengan baik untuk ditempelkan pada pola gambar.
3) Teknik mengelem. Teknik mengelem dilakukan dengan memberi lem pada
pola gambar dan potongan kertas. Teknik mengelem ini tidak dilakukan
sekaligus tetapi pada sebagian bidang motof terlebih dahulu agar tidak cepat
kering. Dalam melakukan teknik pengeleman ini juga harus sesuai dan
jangan terlalu banyak terutama jika potongan tersebut berbahan kertas
karena bisa sobek dan tidak cepat kering. Teknik mengelem ini membantu
melatih koordinasi gerak dan konsentrasi.
4) Teknik menjimpit. Teknik menjimpit adalah teknik mozaik dengan gerakan
mengambil potongan bahan dengan ibu jari dan telunjuk. Dengan
melakukan teknik menjimpit ini akan meningkatkan kemampuan otot ibu
jari dan jari telunjuk dalam memegang helaian kertas.
5) Teknik pengecoran. Teknik ini adalah menyusun potongan tersebut ke pola
gambar kemudian dilakukan dengan dicorkan dengan bahan semen. Teknik
pengecoran ini merupakan teknik yang opsional.
Berikut adalah cara membuat mozaik yang terdiri dari beberapa langkah
secara berurutan. Langkah cara membuat mozaik adalah sebagai berikut:
1. Mempersiapkan pola gambar. Hal yang dilakukan pertama kali adalah
dengan merangcang ide untuk menentukan tema dari gambar yang akan
dibuat mozaiknya.
2. Menyiapkan alat dan bahan. Alat tersebut berupa gunting untuk memotong
serta bahan adalah potongan material yang sudah dipilih. Bahan dan alat
yang dipakai disesuaikan dengan selera masing-masing.
3. Memotong kertas menjadi beberapa bagian kemudian mengambil potongan
kertas tersebut dengan teknik menjimpit.
4. Mengoleskan lem kepada pola dasar gambarnya sedikit demi sedikit.
5. Melakukan teknik menempelkan potongan tersebut di atas pola gambar
yang telah dibuat. Cara penempelan potongan juga bisa dibantu dengan
68
menggunakan jarum yang kemudian ditekan secara perlahan agar potongan
tadi dapat menempel secara sempurna.
6. Tahap terakhir adalah melakukan finishing yaitu dengan cara merapikan
kembali mozaik tersebut dengan melihat apakah masih ada pola yang belum
tertutup oleh potongan kertas secara sempurna, apakah ada kertas yang
melebihi pola, atau ada penempatan warna yang dirasa kurang pas.
E. CONTOH PRODUK
1. Montase
Contoh gambar Montase
2. Kolase
Contoh gambar Kolase
69
70
71
3. Mozaik
Contoh Gambar Mozaik :
72
Gambar mozaik bunga banyak diminati oleh anak-anak karena merupakan
gambar yang mudah dibuat serta ide pewarnaannya dapat bervariasi tergantung
oleh kreatifitas masing-masing.
Proses pembuatan mozaik dilakukan dengan menempelkan potongan
bahan pada bidang datar yang sudah memiliki gambar dasarnya. Hal yang perlu
diperhatikan dalam membuat mozaik yaitu diperlukan kesabaran dan ketelitian.
73
Mozaik banyak diterapkan di sekolah-sekolah pada mata pelajaran kesenian
yang bermanfaat untuk mengasah keterampilan dan kreatifitas anak. Bentuk
mozaik terdiri dari dua jenis yaitu dua dimensi dan tiga dimensi.
F. MANFAAT MENEMPEL
Manfaat Menempel Talogo (2008) menyatakan bahwa manfaat dari
menempel adalah sebagai berikut :
1. Melatih motorik halus
Membuka perekat lalu menempelkan ditempat yang sudah ditentukan membuat
jari jemari anak jadi lebih terlatih.
2. Melatih koordinasi tangan-mata, dan konsentrasi.
Semua ini bermanfaat untuk merangsang pertumbuhan otak yang lebih maksimal
mengingat di usia ini merupakan masa pertumbuhan otak yang sangat pesat.
3. Meningkatkan kepercayaan diri
Ketika anak berhasil menempel, anak akan melihat hasilnya. Hal ini merupakan
suatu pujian positif yang akan meningkatkan kepercayaan dirinya untuk
melakukan kegiatan tersebut.
4. Ungkapkan ekspresi.
Menempel dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan ekspresi dan kreativitas
anak
5. Mengasah kognitif
Koordinasi mata dan tangan pada kegiatan menempel akan menstimulus kerja
otak sehingga kemampuan kognitif anak pun akan makin terasah.
G. ASPEK PENILAIAN DALAM KEGIATAN MENEMPEL
Pembelajaran yang baik membutuhkan perencanaan yang baik. Perencanaan
yang dibuat oleh guru untuk memproyeksikan kegiatan apa yang akan dilakukan
oleh guru dan anak agar tujuan dapat tercapai. Pembelajaran siswa sekolah dasar
pada hakikatnya adalah pembelajaran yang berorientasi perkembangan yang lebih
banyak memberi anak untuk dapat belajar dengan cara- cara yang tepat. Berikut
langkah-langkah kegiatan sebagai berikut :
1. Guru memperkenalkan pola gambar dalam pembelajaran.
74
2. Guru memberikan penjelasan sederhana mengenai pola sesuai dengan tema.
3. Guru memberikan contoh cara menempel pola gambar yang baik.
4. Guru memberikan contoh cara mengoleskan lem yang baik, agar hasil
tempelan rapi dan tidak mudah sobek.
5. Kemudian guru memberikan contoh cara menempelkan hasil gunting di kertas
berpola yang telah disediakan.
6. Setelah itu guru membagikan kertas yang akan digunting untuk setipa anak.
7. Guru mengajak anak-anak untuk memulai melakukan kegiatan secara bersama-
sama.
Aspek penilaian menempel menurut Sahdiyah (dalam Sumantri 2005: 157)
adalah:
1. Ketepatan menempel dalam mengikuti pola yang telah diberikan.
2. Kerapihan hasil penempelan gambar.
Dalam hal menempel, pemilihan kepingan warna juga sangat mempengaruhi
hasil akhir karya anak dalam membuat mosaik. Menurut Pamadhi (2013: 1.40),
faktor yang mempengaruhi pemilihan warna pada anak adalah:
1. Kesengajaan menggunakan warna tersebut untuk simbol tertentu: merah,
senang.
2. Pemahaman atau pengetahuan tentang kualitas warna, seperti nama warna dan
kegunaan juga paham sehingga untuk menginterpretasikan warna sangat
minim.
3. Kesukaan terhadap warna tertentu.
H. Rangkuman
Seni rupa merupakan suatu cabang seni yang tujuan utamanya adalah untuk menghasilkan
sebuah karya seni yang indah dan berkualitas sehingga karya seni yang dihasilkan tersebut
dapat dirasakan oleh anggota indra pada tubuh manusia khususnya indra pendengan dan
penglihatan. Teknik menempel merupakan sebuah cabang dari seni rupa yg meliputi kegiatan
menempel potongan potongan kertas atau material lain intuk membentuk sebuah design atau
rancangan tertentu.
75
Teknik menempel dalam seni rupa terbagi atas tiga macam, yaitu Montase, Kolase serta
Mozaik. Montase adalah karya seni tempel yang menempelkan potongan-potongan gambar dari
berbagai sumber yang kemudian ditempelkan di bidang yang sama, sehingga membentuk
susunan karya seni baru. Sumber potongan gambar yang dimaksud bisa berasal dari koran
bekas, majalah bekas, buku yang sudah tidak dipakai, pamflet, ataupun berbagai hal lainnya,
yang ketika ditempelkan bersama akan membentuk sebuah hal yang baru.
Sedangkan Kolase adalah karya seni yang terbuat dari berbagai macam material berbeda
yang kemudian ditempel menjadi sebuah gambar unik dan Mosaik adalah seni menggabungkan
sebuah kepingan-kepingan barang menjadi sebuah gambar atau pola yang baru. Kepingan
tersebut bisa berasal dari berbagai jenis material, seperti kertas, kulit telur, keramik, kaca, daun,
batu, kayu, atau material lainnya.
76
BAB V
MERONCE PADA SENI RUPA
A. Pengertian Meronce
Pada dasarnya seni meronce adalah seni dengan teknik merangkai. seni
meronce adalah suatu kegiatan membuat benda-benda kerajinan dengan cara
menyusun atau merangkai benda-benda berlubang atau sengaja dilubangi untuk
menghasil suatu benda dalam wujud baru. Benda dengan wujud baru hasil
merangkai tersebut biasanya dimaksudkan sebagai hiasan atau sebagai benda
fungsional lainnya. Proses pembuatannya tidak terlepas dari pertimbangan aspek
keindahan sehingga produk tersebut digolongkan sebagai salah satu jenis karya
seni rupa. Untuk menamai jenis karya seni rupa ini disebut karya meronce.
Menurut Sumanto (2005)Meronce adalah suatu cara pembuatan benda
hias atau benda pakai yang dilakukan dengan menyusun bagian-bagian bahan
berlubang atau yang sengaja dilubangi memakai bantuan benang, tali dan
sejenisnya. Sejalan dengan pendapat diatas, meronce adalah suatu seni
merangkai objek benda menjadi sesuatu yang menarik dengan bantuan tali atau
benang, banyak produk yang bisa dibuat dengan seni meronce diantaranya
kalung, tasbih, gelang, hiasan gordyn kamar dan lain sebagainya, seni meronce
biasanya digunakan untuk kepentingan komersil, hasil produk dari meronce bisa
dijual dan mendapatkan keuntungan. Namun seni meronce juga perlu diajarkan
ke anak-anak karena manfaatnya besar untuk anak.
Menurut Sumanto (2005: 159) ada beberapa jenis meronce pada anak
usia dini, yaitu
1. Meronce dari bahan alam, merupakan semua jenis bahan yang dapat
diperoleh dari lingkungan alam sekitar secara langsung. Bahan alam
contohnya adalah janur, bunga segar, buah-buahan, bunga kering, daun,
kayu, ranting, kulit kerang dan biji-bijian.
2. Bahan Buatan, merupakan jenis bahan yang merupakan hasil produk atau
buatan manusia, baik bahan jadi adalah monte, manik-manik, pita sintetis,
kertas berwarna, sedotan minuman, plastik dan lainnya.
77
3. Bahan Bekas seperti serutan kayu, gelas plastic, sedotan dan lainnya.
B. Tujuan Meronce
Tujuan meronce menurut Yani Mulyani (2007: 32) yaitu: 1) Melatih
konsentrasi anak. 2) Merangsang kreativitas anak. 3) Melatih koordinasi mata
dan jari tangan anak. 4) Mengenal konsep warna dan keserasian anak.
Ada berbagai macam tujuan dari meronce. Adapun tujuan meronce
menurut Hajar Pamadhi (2008: 9.11-9.13) yaitu:
3. Permainan Merangkai maupun meronce berfungsi sebagai alat bermain anak,
benda-benda yang akan dirangkai tidak ditujukan untuk kebutuhan tertentu
melainkan untuk latihan memperoleh kepuasan rasa dan memahami
keindahan. Hal ini sesuai dengan karakteristik seorang anak bahwa pada
setiap saat benda itu digunakan sebagai alat bermain sehingga merangkai
adalah salah satu jenis bermain.
4. reasi dan komposisi
Kemungkinan benda atau komponen lain dapat diminta guru kepada anak
untuk menyusun ala kadarnya. Benda-benda tersebut dikumpulkan dari
lingkungan sekitar, seperti: papan bekas, atau kotak sabun serta yang lain
dibayangkan sebagai bangunan yang megah. Anak sengaja hanya bermain
imajinasi saja, sehingga tujuan permainan ini untuk melatih imajinasi atau
bayangan anak tentang intruksi suatu bangun.
5. Gubahan atau inovasi
Merangkai dan meronce dapat ditujukan untuk melatih kreativitas, yaitu
dengan cara mengubah fungsi lama menjadi fungsi baru. Kegiatan dapat
dilakukan dengan merubah kegiatan anak misalnya anak sudah bisa meronce
berdasarkan bentuk kemudian guru dapat meminta anak meronce ke tahapan
yang lebih sulit yaitu meronce berdasarkan bentuk dan warna.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa meronce
dapat memberikan kesempatan anak dalam berkarya juga dapat divariasikan
dan dibentuk menurut keinginan sehingga anak tertarik dan terlatih untuk
menciptakan ide baru, dapat melatih koordinasi mata dan tangan selain itu
dengan kegiatan meronce anak akan merasakan dan mendapatkan pengalaman
78
langsung, melatih konsentrasi serta terampil untuk melakukan kegiatan yang
menggunakan kemampuan motorik halus dan lainnya.
C. Manfaat Meronce
Manfaat utama dari meronce yaitu membantu merangsang
perkembangan saraf motorik halus anak, bermain dengan cara memasukkan
benang ke lubang benda satu persatu hingga membentuk panjang, memasukkan
benang kedalam lubang ini bisa merangsang kemampuan saraf motorik halus
anak, melatih kesabaran anak serta melatih fokus dan konsentrasi anak.
Selain yang disebutkan diatas, bermain meronce juga bisa melatih
kemampuan imajinasi anak, karena meronce adalah seni, untuk anak yang
memiliki bakat seni yang baik pasti akan menyusun ronce menjadi bentuk yang
bagus, misalnya anak akan menyusun kombinasi bentuk dan warna ronce yang
menarik sesuai dengan imajinasinya.
Ada 5 manfaat meronce, yaitu :
1. Dapat menstimulasi otot anak dalam tahapan perkembangan menulis
Meronce membutuhkan kelincahan tangan dalam mengambil pernak-pernik
dan memasukkannya ke dalam benang satu per satu. Semakin anak sering
melatihnya, maka semakin mudah pula anak dalam melakukan aktivitas ini.
Dengan meronce, otot tangan anak juga akan lebih kuat.
2. Sebagai stimulant kemampuan membaca anak
Suatu kata dalam bacaan terdiri dari rangkain huruf-huruf yang berjajar rapi
sesuai pola tertentu. Anak yang melakukan kegiatan meronce, akan memiliki
kemampuan mengatur suatu bentuk ke dalam pola tertentu. Mungkin pada
awal mulanya anak akan acak saja dalam meronce. Namun, lama kelamaan
mereka akan menggunakan pola, apakah merah dulu, hijau dulu, balok dulu,
dan seterusnya. Dengan demikian, anak juga dapat lebih mudah mengenal
pola yang akan memudahkannya membaca nanti.
3. Sebagai mengasah kemampuan kognitif anak
79
Meronce bukanlah sekedar aktivitas permainan saja. Di dalamnya, ada
banyak pelajaran yang bisa Mama gali untuk didapat oleh sang Anak.
Dengan meronce, anak dapat belajar warna, anak juga dapat belajar bentuk,
belajar pola, dan juga belajar konsep jumlah.
4. Latihan anak dalam berkonsentrasi
Meronce membutukan konsentrasi, yaitu saat anak memilih benda apa yang
akan dimasukkan ke benang selanjutnya. Meronce juga butuh konsentrasi
tatkala anak memasukkan benda itu pada benang. Bukan hanya itu, dengan
meronce, anak juga bisa mencocokan warna dan bentuk agar menampilkan
hasil gelang atau kalung yang mereka susun lewat teknik meronce.
5. Sarana melatih daya imajinasi anak
Meronce terkait dengan kemampuan berimajinasi anak yang sangat besar. Ia
bisa saja menghasilkan roncean untuk gelang ataupun kalung. Susunan
benda-benda yang dibuatnya akan menjadi sesuatu yang tidak kita duga
sebelumnya. Saat anak meronce, lambat laun ia akan mengenal mana hasil
roncean yang indah. Ia akan mengganti-ganti pernak pernik tertentu lalu
menyusunnya hingga menghasilkan karya yang enak dilihat baginya. Dengan
demikian, ia pun akan memiliki perasaan puas atas karyanya. Saat anak suka
dan puas, maka anak pun bisa belajar lebih.
D. Langkah – Langkah Meronce
Menurut Dessy Rilia (2012) kegiatan meronce mempunyai beberapa
tahap yang perlu diperhatikan ketika melakukan kegiatan meronce dengan anak
yang disesuaikan tingkat perkembangan dan kemampuan anak,
1. Meronce berdasarkan warna. Tahap ini adalah tahapan yang paling rendah
dalam kegiatan meronce. Anak memasukkan benang kedalam lubang
berdasarkan warna yang sama, misal warna kuning saja.
2. Meronce berdasarkan bentuk, ini salah satu langkah maju yaitu anak dapat
mengenal bentuk. Ada berbagai macam bentuk dalam meronce, misalnya
bentuk bulat atau kotak.
80
3. Meronce berdasarkan warna dan bentuk, anak mulai bisa menggabungkan
mana yang memiliki bentuk sama dan warna yang sama. Anak
mengembangkan kreativitasnya dengan bentuk dan warna yang anak sukai.
4. Meronce berdasarkan warna, bentuk dan ukuran. Tahapan yang cukup sulit
bagi anak karena mulai menggabungkan tiga komponen sekaligus.
E. Contoh Produk Meronce
81
F. Penilaian dalam Meronce
Sebelum memeasuki penilaian produk meronce, meronce dapat dipelajari
dengan menerapkan berbagai metode pembelajaran. Menurut Samsudin (2007)
menngelompokkan beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan
kegiatan meronce yaitu :
1. Pemberian Tugas
Dengan penerapan metode pemberian tugas melalui kegiatan meronce
maka pembelajaran akan tercipta suasana yang aktif dan menyenangkan,
sehingga tujuan pembelajaran akan tersampaikan dengan baik dan yang
terpenting adalah anak-anak dapat memahami materi yang disampaikan
dengan cara metode pemberian tugas dan mempraktikkan langsung sesuai
dengan pemahaman dan pengetahuan yang mereka dapat. Dengan demikian
secara perlahan perkembangan motorik halus anak akan meningkat dengan
82
adanya rangsangan praktik kegiatan yang mereka lakukan dalam kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan kegiatan meronce.
2. Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode pembelajaran yang menyajikan
dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada anak tentang suatu
proses, situasi atau benda tertentu. Dengan menggunakan metode
demonstrasi pada kegiatan meronce, maka kegiatan pembelajaran menjadi
lebih efektif sehingga hal tersebut dapat menjadi proses latihan untuk anak
3. Tanya Jawab
Penyampaian pelajaran dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan murid
menjawab.Dari metode tanya jawab guru dapat melakukan kegiatan meronce
dengan baik.
Didalam jurnal (Peningkatan Kemampuan Motorik Melalui Kegiatan
Meronce) menjelaskan beberapa penilaian dari kegiatan meronce adalah :
1. Ketahanan
Bahan yang digunakan dalam kegiatan meronce haruslah tahan dan tidak mudah
rusak serta tidak berbahaya bagi anak.
2. Kerapian dan keindahan
Kerapian dan keindahan dari hasil meonce merupakan salah satu aspek yang
perlu diperhatikan dalam kegiatan meronce
3. Kebermaknaan
Kebermaknaan yang dimaksud adalah kegunaan yang didapat dari hasi kegiatan
meronce
G. Rangkuman
Meronce adalah suatu seni merangkai objek benda menjadi sesuatu yang
menarik dengan bantuan tali atau benang, banyak produk yang bisa dibuat
dengan seni meronce diantaranya kalung, tasbih, gelang, hiasan gordyn kamar
dan lain sebagainya. Meronce dapat memberikan kesempatan anak dalam
berkarya juga dapat divariasikan dan dibentuk menurut keinginan sehingga anak
tertarik dan terlatih untuk menciptakan ide baru, dapat melatih koordinasi mata
dan tangan selain itu dengan kegiatan meronce anak akan merasakan dan
83
mendapatkan pengalaman langsung, melatih konsentrasi serta terampil untuk
melakukan kegiatan yang menggunakan kemampuan motorik halus dan lainnya.
Manfaat utama dari meronce yaitu membantu merangsang
perkembangan saraf motorik halus anak, bermain dengan cara memasukkan
benang ke lubang benda satu persatu hingga membentuk panjang, memasukkan
benang kedalam lubang ini bisa merangsang kemampuan saraf motorik halus
anak, melatih kesabaran anak serta melatih fokus dan konsentrasi anak.
84
BAB VI
TEORI DAN PRAKTEK MENGAYAM PADA SENI RUPA
A. Pengertian Menganyam
Seni ayaman adalah proses menyilangkan bahan-bahan daripada tumbuh-
tumbuhan untuk dijadikan satu rumpun yang kuat dan boleh digunakan. Bahan-
bahan tumbuhan yang boleh dianyam ialah lidi, rotan, bambu, akar, buluh,
pandan, mengkuang, jut dan sebagainya. Bahan ini biasanya mudah dikeringkan
dan lembut.
Dalam buku pengetahuan teknologi kerajinan anyaman dijelaskan bahwa
kerajinan anyaman merupakan suatu usaha atau kegiatan keterampilan
masyarakat dalam pembuatan barang-barang dengan cara susup menyusup
antara pakan dan lungsi. Yang dimaksud dengan lungsi adalah pita atau daun
anyaman yang tegak lurus terhadap si penganyam sedangkan pakan adalah pita
atau anyaman yang disusupkan pada lungsi pada saat menganyam (Wahudi,
1979:3).
Menganyam adalah suatu pekerjaan yang memerlukan ketelitian dan
kerapian, maka harus dilakukan dengan kesabaran (Sugiono, 1974:37). Jadi
menganyam adalah usaha atau kegiatan keterampilan dalam pembuatan barang-
barang dengan menjalin pita atau daun anyaman yang disusupkan pada lungsi
dan pakan, dilakukan dengan penuh ketelitian, kerapian dan kesabaran.
B. Tujuan Menganyam
1. Memvisualisasikan objek anyaman dalam bentuk baru agar dapat
dieksplorasi dan diemplementasikan dalam penciptaan karya seni lukis.
2. Menggali potensi-potensi estetik anyaman ke dalam karya seni lukis.
3. Anyaman yang divisualisasikan dalam karya seni lukis dapat
Menginspirasi masyarakat untuk dapat tertarik kembali pada anyaman.
C. Manfaat Menganyam
Menurut Marta Christianti Nugraha, Kegiatan menganyam banyak memiliki
kegunaannya bagi anak usia dini, selain mempunyai unsur pendidikan juga
mengembangkan koordinasi mata dan jari jemari tangan anatar lain : anak dapat
mengenal kerajinan tradisonal yang ditekuni oleh masyarakat Indonesia, guna
85
melatih motorik halus anak, melatih sikap emosi anak dengan baik, dapat
terbitnya ekspresinya yang tumbuh dari pribadinya sendiri dan tak terlupakan
bagi anak. Anak juga dapat berpetualang dengan imajinasinya, dapat membuat
dan menyusun anyaman yang dimiliki pola yang lain dan lebih menarik dan
disertai dengan media yang menarik pula.
Menganyam banyak kegunaannya bagi anak Sekolah Dasar, selain
mempunyai unsur pendidikan juga untuk mengembangkan koordinasi mata,
antara lain:
1. Anak dapat mengenal kerajinan tradisional yang ditekuni oleh masyarakat
Indonesia.
2. Dapat melatih motorik halus anak
3. Melatih sikap emosi anak dengan baik
4. Dapat terbina ekspresinya yang tumbuh dari pribadinya sendiri, bukan dari
orang lain
5. Dapat mengungkapkan perasaannya yang selama ini masih mengendap
6. Dapat membangkitkan minat anak
7. Anak menjadi terampil dan kreatif
8. Dapat membantu tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya
9. Dapat bermamfaat bagi perkembangan anak
Banyak manfaat yang dapat dihasilkan dari kegiatan menganyam selain dapat
meningkatkan motorik halus, melalui keterampilan menganyam diharapkan
dapat mengembangkan kompetensi rasa seni, ketekunan, kesabaran dan
kecekatan anak TK sejalan dengan perkembangan rasa seninya.
D. Macam-macam Menganyam
1. Menganyam berdasarkan Jenisnya
Berikut ini terdapat beberapa jenis-jenis seni kerajinan anyaman, terdiri atas:
a. Anyaman Mengkuang, Daun mengkuang Tikar, tudung salji, bekas
pakaian dan lain-lain.
b. Anyaman pandan, Daun pandan duri Tikar sembahyang, hiasan dinding.
c. Anyaman Buluh Jenis-jenis buluh yang sesuai Bakul, bekas pakaian,
nyiru, beg dan lain-lain.
86
d. Anyaman Rotan, Rotan yang telah diproses Bakul, bekas pakaian, tempat
buaian anak dan lain-lain.
e. Anyaman Lidi, Lidi kelapa Lekar, bekas buah, bekas telor.
f. Anyaman ribu-ribu, Paku pakis ribu-ribu. Tempat tembakau, bekas sirih
terbus, bakul, bekas seba guna dan lain-lain.
2. Berdasarkan Teknik menganyam
Teknik dasar menganyam terdiri atas tiga macam, yaitu :
a. Anyaman Tunggal
b. Anyaman ganda
c. Anyaman istimewa atau kombinasi gabungan
Anyaman tunggal dan anyaman ganda, serta anyaman kombinasi dapat
dikembangkan menjadi berbagai macam corak anyaman, seperti:
a. Anyaman pasung
b. Anyaman daun peta 1 silang
c. Anyaman bunga cengkeh
d. Anyaman bunga cengkeh besar
e. Anyaman pihuntuan tangkup
f. Anyaman bunga gambir
g. Anyaman bunga lengko
h. Anyaman ombak banyu atau pasung datar
i. Anyaman mata walik
j. Anyaman turih wajik atau turih wajit
k. Anyaman hias jenis ”kelinci”
87
E. Langkah-langkah Menganyam
Cara Membuat Anyaman dari Bambu
88
1. Cara Membuat Anyaman bambu
Anyaman bambu memang tidak ada habisnya untuk dibuat sebagai
kerajinan tangan yang mempunyai nilai guna dan nila seni yang sangat
tinggi. Berikut ini beberapa tips untuk kamu yang ingin membuat anyaman
dari bahan bambu.
a. Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah siapkan terlebih
dahulu bahan utamanya yaitu bambu. Pilihlah bambu yang sudah kuat
dan jangan menggunakan bambu yang terlalu tua. Karena akan sulit
untuk dibentuk. Sedangkan jika kamu menggunakan bambu yang muda
juga tidak baik karena seratnya yang masih tajam.
b. Selanjutnya ketika memilih bambu, perhatikan ruas bambu. Pilihlah
bambu yang mempunyai ruas yang saling sejajar.
c. Setelah bahan sudah siap, maka siapkanlah alat-alat yang akan
digunakan seperti gergaji, pisau, paku ukuran kecil, dan juga parang.
d. Setelah semua bahan dan alat sudah siap, maka langkah awal yang harus
kamu lakukan adalah membelah bambu secara singkron dengan buku-
bukunya. Pangkas dengan rapi menggunakan parang atau bisa juga
dengan menggunakan gergaji.
e. Setelah bambu terpotong rapih, keringkan bambu dibawah sinar
matahari. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan air yang
terdapat di dalam bambu. Jemur selama beberapa hari sampai bambu
benar-benar kering.
89
f. Setelah bambu kering, belah bambu menjadi 2 bagian. Belahlah bambu
secara vertikal sehingga kamu bisa mendapatkan lekukan bambu yang
konkaf.
g. Setelah itu raut potongan bambu dengan menggunakan pisau.
h. Selanjutnya kita masuk dalam proses menganyam. Siapkan 2 helai
potongan bambu, satu bambu menghadap ke dading dan yang satunya
lagi menghadap ke kulit.
i. Kemudian siapkan sumbu anyaman berupa satu helai potongan bambu
yang panjang. Sumbu satunya sebaiknya menggunakan ukuran zig-zag,
hal ini akan lebih mempermudah kamu dalam menganyam bambu.
j. Buatlah sebuah sudut anyaman dengan cara menyilangkan kembali
anyaman loka sebaliknya. Kemudian lipat itisan bambu agar sejajar
dengan bagian sumbu bagian tengah.
k. Untuk hitungan pada anyaman sebaiknya menggunakan hitungan 1-3-1.
Hitungan anyaman ini merupakan hitungan yang paling sederhana dalam
membuat anyaman bambu.
2. Cara Membuat Anyaman dari Kertas
Cara Membuat Anyaman
Banyak sekali manfaat yang bisa kamu dapatkan jika kamu bisa
membuat anyaman dari kertas. Salah satu manfaatnya adalah kamu bisa
mengisi waktu luangmu dan kamu juga bisa menghasilkan uang dari
keahlian menganyam yang kamu miliki.
Sebelum membuat anyaman dari kertas, ada beberapa alat dan bahan
yang harus kamu persiapkan terlebih dahulu.
a. Alat dan Bahan
90
1) Dua lembar kertas asturo atau manila yang berbeda warna sesuai
dengan selera yang kamu inginkan. Tujuan menggunakan kertas yang
beda warna adalah agar pola yang ihasilkan pada anyaman yang
kamu buat terlihat lebih jelas.
2) Gunting, berguna untuk memotong dan merapihkan sisa-sisa kertas
yang kelihatannya kurang rapih.
3) Lem kertas, berguna untuk menempelkan atau memasang anyaman
pada figura agar bisa dijadikan sebagai hiasan dinding.
4) Pensil, berguna untuk membuat sebuah pola yang akan digunakan
pada bentuk anyaman yang akan kamu buat.
5) Penggaris, berguna untuk membuat sebuah pola garis agar tidak
berantakan.
6) Cutter atau silet, berguna untuk memotong lembaran kertas secara
kecil dan rapih.
b. Langkah Langkah Membuat Anyaman dari Kertas
Jika alat dan bahan yang diperlukan sudah lengkap, maka selanjutnya
kita belajar membuat anyaman dari kertas. Kamu tinggal memperhatikan
langkah-langkah dibawah ini:
1) Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah dengan membuat
pola terlebih dahulu pada kertas yang akan kamu gunakan. Caranya
buatlah garis-garis pada kertas dengan menggunakan penggaris dan
pensil. Buatlah jarak antar setiap garis sebesar 1 – 1,5 cm. Sisakan
jarak 2 cm untuk setiap bagian tepinya.
2) Jika telah selesai, langkah berikutnya adalah potong kertas dengan
menggunakan cutter atau silet mengikuti pola garis yang sudah kamu
buat tadi.
3) Selanjutnya, ambil kertas yang kedua kemudian gunting secara
memanjang dengan jarak selebar 1 cm. Yang perlu kamu perhatikan
adalah jarak antara kertas yang pertama dengan kertas yang kedua
harus sama.
91
4) Setelah pola dipotong, langkah berikutnya mulailah menganyam
sesuai dengan motif yang kamu inginkan. Jika masih pemula, kamu
bisa membuat motif anyaman yang sederhana dan tidak terlalu sulit.
5) Jika sudah selesai menganyam, rapihkan ujung-ujung kertas agar
enak dilihat.
6) Langkah terakhir adalah berikan lem pada tepi kertas kemudian
rekatkanlah. Hal ini dilakukan agar anyaman semakin kuat dan tidak
mudah terlepas.
F. Contoh Produk
Berikut ini terdapat beberapa contoh anyaman, terdiri atas:
1. Bingga/Tonda
2. Tapi
92
3. Toru
4. Ompa atau ‘Tikar’
93
G. Penilaian
1. Kreativitas
2. Kesesuaian dengan ketentuan dan karya yang dibuat memiliki nilai
originalitas.
3. Inovasi memberikan tawaran alternatif baru baik dari bentuk, bahan dan
fungsi
4. Keluwesan dan Kelancaran Penguasaan sifat material yang dipilih peserta
lomba
5. terkait dengan teknik, tingkat kesulitan, dan kerumitan anyaman.
6. Visual Presisi, unik dan mempunyai nilai artistik
7. Fungsi kegunaan produk hasil anyaman.
8. Ekonomis Memungkinkan memiliki nilai ekonom
H. Rangkuman
Seni anyaman bambu adalah proses menyilangkan bahan-bahan daripada tumbuh-tumbuhan
untuk dijadikan satu rumpun yang kuat dan boleh digunakan. Jenis bambu yang paling baiuk
digunakan untuk menganyam adalah bambu tali.
94
Untuk membuat anyaman bambu, diperlukan teknik teknik seperti teknik anyaman tunggal,
teknik anyaman bilik, teknik anyaman teratai, teknik anyaman bunga cengkih. Sejak munculnya
barang-barang produk modern, barang hasil kerajinan anyam bambu tergeser dari pasaran
sehingga menyebabkan pendapatan masyarakat mengalami penurunan. Harga bahan baku
yang kian melambung tinggi menjadi kendala utama dalam penyediaan bahan baku.
95