KAMUS
OSEANOGRAFI KIMIA
Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
2020
KAMUS
OSEANOGRAFI KIMIA
Penyusun
Dr. Tri Prartono
Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
2020
MILIK NEGARA
TIDAK DIPERDAGANGKAN
Hak cipta tahun 2020 milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Dilindungi Undang-Undang.
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruhnya tanpa izin tertulis
penerbit.
R Prartono, Tri
551.460 3 Kamus Oseanografi Kimia/Tri Prartono;
PRA
penyunting: Azhari Dasman
k Darnis, Dina Alfiyanti Fasa, dan Winda Luthfita.
Jakarta: Badan Pengembangan Bahasa dan
Perbukuan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, 2020.
xi, 124 hlm.; 20,5 cm.
ISBN 978-623-307-010-2
1. OSEANOGRAFI-KAMUS
2. OSEANOGRAFI KIMIA-KAMUS
iv
KAMUS OSEANOGRAFI KIMIA
Penanggung Jawab
Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan
Wakil Penanggung Jawab
Plt. Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra
Pe nyus un
Dr. Tri Prartono
Penyunting Penyelia
Azhari Dasman Darnis, M.Hum.
Pe nyunting
Dina Alfiyanti Fasa, M.Hum.
Winda Luthfita, S.Hum.
Pengentri Data
Nikita Daning Pratami, S.S.
Pembuat Sampul
Nurjaman, S.Ds.
Pe ne rbit
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun
Jakarta Timur 13220
Telepon/Faksimile: (021) 4706287, 4706288,
4896558, 4894546/(021) 4750407
Laman: www.badanbahasa.kemdikbud.go.id
v
vi
KATA PENGANTAR
Masalah kebahasaan dan kesastraan di Indonesia tidak dapat
terlepas dari kehidupan masyarakat pendukungnya. Sejalan dengan
perubahan yang terjadi, baik sebagai akibat dari tatanan kehidupan yang
baru, maupun akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
masalah kebahasaan dan kesastraan ini perlu ditangani dengan terencana
dan sungguh-sungguh. Tantangan yang dihadapi ke depan salah satunya
adalah keahlian dalam bidang yang makin lama makin spesifik.
Sudah lama dicita-citakan bahwa bahasa Indonesia dapat menjadi
bahasa ilmu pengetahuan yang dapat dengan jelas dan tepat mengemukakan
makna-makna secara ilmiah. Penyusunan kamus merupakan salah satu
upaya untuk mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar
dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui kamus ini diharapkan para
guru dan siswa di mana pun berada dapat saling berkomunikasi dalam
istilah yang sama. Keseragaman istilah tersebut dimaksudkan untuk
mencapai saling keterpahaman yang lebih tinggi di kalangan para
pemangku kepentingan yang bergelut di bidang ilmu ini.
Kamus ini tidak akan terwujud tanpa kerja keras dan renjana para
penyusunnya. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dr. Tri Prartono yang dengan
penuh dedikasi mencurahkan ilmu, tenaga, dan waktunya demi
terwujudnya kamus ini. Semoga Kamus Oseanografi Kimia dapat
memberikan manfaat bagi kalangan akademisi, peneliti, guru, siswa, dan
praktisi serta masyarakat pada umumnya.
Jakarta, Oktober 2020
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Prof. Dr. E. Aminudin Aziz, M.Hum.
vii
PRAKATA
Perkembangan pengetahuan dan teknologi terus berlangsung dan
menghadirkan konsep ilmu baru baru dalam bentuk istilah-istilah. Derasnya
arus istilah-istilah tersebut masuk ke dalam bahasa Indonesia perlu diikuti
dengan kegiatan pemadanan dan penyusunan kamus istilah atau bidang
ilmu terkait. Sehubungan dengan hal itu, kami melakukan penyusunan
Kamus Oseanografi Kimia.
Kami mengucapkan terima kasih atas terwujudnya kamus ini
kepada Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kepala Pusat
Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, serta Tim Perkamusan
dan Peristilahan yang mendampingi kami dalam penyusunan kamus ini,
terutama dalam hal pemadanan istilah dan penyuntingan bahasa.
Kamus Oseanografi Kimia disusun untuk menjadi pendamping atau
rujukan dalam memahami istilah-istilah oseanografi kimia yang diperlukan
oleh kalangan dari bidang ilmu terkait, terutama dosen dan mahasiswa.
Selain itu, kamus ini juga diharapkan akan memperkaya khazanah
keilmuan bidang terkait, sekaligus menjadi bagian dari usaha
pengembangan dan pembakuan peristilahan dalam bahasa Indonesia.
Entri kamus ini disusun berdasarkan istilah-istilah yang telah
dipadankan dan didefinisikan dalam kegiatan Sidang Komisi Istilah Bidang
Ilmu Kelautan serta berbagai sumber lain. Pemadanan istilah dan
pendefinisan entri kamus telah sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia (PUEBI) dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah
(PUPI) yang disusun oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Sebagai penutup, kami sampaikan bahwa Kamus Oseanografi
Kimia belum sempurna, masih terdapat kekurangan di sana-sini, baik dari
kelengkapan lema, maupun definisi. Oleh karena itu, saran dan kritik dari
kita semua sangat kami harapkan.
Jakarta, Oktober 2019
Penyusun
viii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................................................................... vii
Prakata .............................................................................................. viii
Daftar Isi ............................................................................................. ix
Daftar Label ........................................................................................ xi
A ........................................................................................................ 1
B ......................................................................................................... 7
C ....................................................................................................... 11
D ...................................................................................................... 13
E ....................................................................................................... 15
F ....................................................................................................... 19
G ...................................................................................................... 23
H ...................................................................................................... 25
I ........................................................................................................ 29
J ........................................................................................................ 31
K ...................................................................................................... 33
L ....................................................................................................... 41
M ...................................................................................................... 45
N ...................................................................................................... 49
O ...................................................................................................... 51
P ....................................................................................................... 53
R ....................................................................................................... 63
S ....................................................................................................... 67
ix
T ....................................................................................................... 75
U ...................................................................................................... 79
V ...................................................................................................... 81
W ...................................................................................................... 83
Z ....................................................................................................... 85
Daftar Referensi ................................................................................. 87
Indeks ................................................................................................ 91
x
DAFTAR LABEL
Label Kelas Kata
n nomina
v verba
adj adjektiva
adv adverbia
p partikel
pron pronomina
num numeralia
xi
A-a
aeolian a berhubungan dengan agregat amorf besar; AAB n
angin partikel biogenik ukuran
(aeolian) besar
(large amorphous
aerosol n materi halus berupa asap, aggregates; LAA)
embun, atau badai debu
dari aktivitas alami atau air bagian atas n bagian air laut di
manusia yang melayang- atas 1000 m
layang tercampur di udara, (upper water)
berukuran antara 0,01−10
µm air bebas n air yang tidak berada
(aerosol) di dalam kerak
(free water)
aerosol rongga putih n
gelembung laut dan udara air garam pekat n air dengan
(white gap aerosol) salinitas sangat tinggi
(lebih dari 200 satuan
agen pengoksidasi n senyawa salinitas)
tereduksi yang (brine)
menyebabkan reaktan
lainnya teroksidasi air interstisial n air yang
(oxidizing agent) terperangkap dalam
sedimen di antara partikel
agen pereduksi n senyawa (interstitial water)
kimiawi teroksidasi yang
menyebabkan reaktan lain air laut buatan n campuran
tereduksi komponen utama air laut
(reducing agent) yang mendekati
konsentrasi air laut
agregasi biologis n partikel besar, (artificial seawater)
seperti detritus atau pelet
fekal, yang terbentuk dari air lautan rerata standar; ALRS
penggabungan materi n air laut yang digunakan
pertikel berukuran antara sebagai sampel acuan
puluhan hingga ratusan penentuan isotop rasio
mikron
(biological aggregation)
1
air payau alkalinitas spesifik
D:H (180:160) dalam air penyimpangan reaksi
alami redoks dari kesetimbangan
(standard mean ocean (electron activity)
water; SMOW)
aldehida n senyawa organik
air payau n air campuran antara dengan gugus fungsional
air tawar dan air laut H-C=O
dengan kandungan garam (aldehyde)
berukuran 0,05−17 g/kg
(brackish water) alir-buang hangat n sistem alir-
buang hidrotermal dengan
air pertengahan n air yang berada suhu maksimum 5−23°C
di antara perairan dan laju aliran 0,5−2 cm
permukaan dan dalam per detik
(intermediate water) (warm vent)
akresi n akumulasi melalui alkalinitas n konsentrasi muatan
penumpukan bertahap negatif atau konjugat basa
(accretion) dalam larutan atau air
yang dapat dititrasiatau
akret n membesarnya materi dinetralkan dengan asam
anorganik karena kuat
penambahan atau (alkalinity)
penempelan materi baru
pada lapisan permukaan alkalinitas karbonat n
luar melalui proses konsentrasi muatan negatif
kimiawi sehingga materi atau konjugat basa dalam
inti mengalami akumulasi air laut yang hanya
berlapis-lapis, misalnya ditentukan oleh ion-ion
pembentukan batuan nodul anorganik karbon (seperti
mangan di dasar laut HCO3- dan CO32),
(accrete) dirumuskan dengan
AlkC=[HCO3- ]+2[CO32-]
aktivitas n konsentrasi efektif zat dan bersatuan meq l-1
terlarut tertentu yang (carbonate alkalinity)
bereaksi (dalam
kesetimbangan kimia) alkalinitas spesifik n alkalinitas
(activity) total dikoreksi dengan
perbedaan salinitas
aktivitas elektron n ukuran (specific alkalinity)
2
alkalinitas ternormalisasi anomali kejenuhan
alkalinitas ternormalisasi n amfibolit n kelompok batuan
alkalinitas total yang metamorfik
dinormalisasi terhadap (amphibolite)
salinitas 35
(normalized alkalinity) amonifikasi n proses mikrobiologi
yang mengubah nitrogen
alkana normal n hidrokarbon organik terlarut menjadi
rantai lurus amonium
(normal alkane) (ammonification)
alkohol n senyawa organik yang andesit n batuan halus yang
mengandung gugus terbentuk saat magma
fungsional hidroksil pada dikeluarkan melalui proses
atom karbon nonaromatik vulkanik
(alcohol) (andesite)
aloktonus a dibentuk atau berasal angkut aeolian n gerak angin
dari luar lautan yang membawa aerosol
(allochthonous) menyebar ke berbagai
wilayah di permukaan
aluminosilikat n mineral dengan bumi, memberikan
komposisi utama sumbangan material
aluminium, oksigen, dan sedimen di laut, terutama
silikon material lempung atau
(aluminosilicate) materi asiri dari daratan;
transpor aeolian
ambilan aktif n ambilan unsur (aeolian transport)
yang diperlukan oleh
organisme (NO3 dan PO4) anion superoksida (O2-) n anion
(active uptake) yang terbentuk dari
disosiasi HO2
ambilan pasif n ambilan unsur (superoxide anion (O2-))
oleh organisme akibat
adsorpsi pada permukaan anoksik a tanpa oksigen;
yang disebabkan oleh awaoksigen
interaksi kimiawi dengan (anoxic)
gugus permukaan
(karboksilat dan fenolik) anomali kejenuhan n keadaan
(passive uptake) saat pertukaran kalor lebih
3
antarmuka asam karboksilat
cepat dibandingkan akibat keseimbangan
dengan pertukaran gas antara gravitasi, angin, dan
(saturation anomaly) efek Coriolis
(geostrophic current)
antarmuka n permukaan yang
memisahkan dua senyawa arus kontur n arus air yang
yang berbeda sifat bergerak sepanjang dasar
(interface) lereng benua
(contour current)
antarmuka udara-laut n batas
antara pemukaan laut asam a bersifat asam dengan pH
dengan udara yang kurang dari 7
disebabkan oleh perbedaan (acidic)
sifat dari kedua materi
permukaan (cair dan gas) asam amino n asam dengan
(air-sea interface) hidrogen nonasam yang
digantikan dengan gugus
antropogenis a disebabkan oleh amino
manusia (amino acid)
(anthropogenic)
asam aromatik n senyawa yang
aragonit n material kalsium mengandung paling sedikit
karbonat, dapat berasal sebuah cincin benzena
dari endapan, bentukan, selain gugus asam
atau cangkang organisme, karboksilat
seperti pteropoda, dan (aromatic acid)
evaporit
(aragonite) asam fulvik n senyawa humus
yang larut pada seluruh
arkae n mikroorganisme bersel kisaran pH
tunggal dengan struktur (fulvic acid)
serupa prokariot
(archaea) asam humus n senyawa humus
yang mengendap pada pH
arkos n batuan yang asam
mengandung banyak (humic acid)
felspar
(arkose) asam karboksilat n senyawa yang
mengandung paling sedikit
arus geostrofik n adveksi air satu gugus fungsional
4
asam lemak autoktonus
karboksil (=COOH) bersifat relatif lembam,
(carboxylic acid) bertitik didih tinggi, serta
memiliki tingkat
asam lemak n biokimiawi berupa ketakjenuhan tinggi
hidrokarbon dengan gugus (asphaltene)
fungsional karboksilat
(fatty acid) asiri n senyawa dengan tekanan
uap tinggi pada kondisi
asam nitrilotriasetik; ANT n lingkungan dengan
ligan organik yang keberadaan fraksi penting
membentuk kompleks pada fase gas
yang kuat dengan ion (volatile)
logam
(nitrilotriacetic acid; NTA) aturan proporsi tetapan n
limpahan relatif enam
asam ortosilikat n spesies silika kation utama secara
terlarut dominan di laut konstan tanpa pengaruh
(orthosilicic acid) nilai salinitas air laut
(rule of constant
asam silikat n silika terhidrasi proportion)
yang diproduksi dari
pengasaman larutan autigenis a dibentuk oleh proses
sodium silikat anorganik di lautan;
(silicic acid) autoktonus
(authigenic)
asam tribasa n asam yang
memiliki tiga atom autoanaliser n alat pengukur
hidrogen nutrien otomatis
(tribasic acid) (autoanalyzer)
asfalten n kelas senyawa yang autoktonus a autigenis
merupakan bagian dari (autochthonous)
komponen petroleum
bermolekul berat dan
5
6
B-b
bahan kuning n karbon organik organik terlarut dengan
koloid kompleks di laut berat molekul rendah yang
dengan berat molekul yang tak berkarakter
sangat tinggi (ultrafiltered dissolved
(yellow substance) organic matter; UDOM)
bahan organik partikulat; BOP bahan organik terlarut; BOT n
n fraksi bahan organik bahan organik yang larut
yang tidak larut dalam air dalam air, ditandai dengan
laut atau berbentuk ukuran yang lebih kecil
partikel dari 0,45 µm sehingga bisa
(particulate organic melewati tapis
matter; POM) (dissolved organic matter;
bahan organik terlarut DOM)
refraktori n bahan bahan partikel n bahan padat
organik yang terurai dalam yang tidak melewati
skala waktu ribuan tahun penyaringan 0,45 µm
(refractory dissolved (particulate material)
organic matter) bahan partikel halus; BPH n
bahan organik terlarut sangat partikel halus dengan
labil n bahan organik yang diameter kurang dari 5 µm
terurai dalam skala waktu (fine particulate matter;
beberapa jam atau hari FTM)
(highly labile dissolved bahan partikel kasar; BPK n
organic matter) partikel kasar dengan
bahan organik terlarut semilabil diameter lebih besar dari
n bahan organik yang 50 µm
terurai dalam skala waktu (coarse particulate matter;
musiman CPM)
(semilabile dissolved barit n bentuk mineral barium
organic matter) sulfat yang tidak lazim
bahan organik terlarut ditemukan di bawah
ultrahalus; BOTU n
bagian komponen bahan
7
basal bioadsorpsi
permukaan perairan dari 50% butiran halus
produktivitas tinggi (sandstone)
(barite)
batuan plutonik n batuan yang
basal n batuan ekstrusif beku terbentuk dari lelehan
yang menyusun kerak batuan
samudra (plutonic rock)
(basalt)
batuan sedimen n batuan dari
basal bantalan n gundukan besar perekatan sedimen
basal dari lava yang lepas (sedimentary rock)
di dasar samudra
(pillow basalt) batuan topi n batuan relatif kedap
yang menghambat migrasi
batu pasir kuartzos n batuan petroleum melalui
yang mengandung 95% sedimen laut
butiran kuarsa halus dan (cap rock)
kurang dari 5% matriks
atau semen batuan vulkanik n batuan yang
(quartzose sandstone) terbentuk langsung dari
batuan lebur yang
batuan beku n batuan yang mendingin dengan cepat
terbentuk dari pembekuan pada atau dekat
magma permukaan bumi (basal,
(igneous rock) andesit, dan riolit)
(volcanic rock)
batuan karbonat detrital n
batuan yang dibentuk oleh berat ekuivalen n jumlah berat
akumulasi pecahan dari atom yang dikoreksi
pelapukan mekanik batuan dengan muatan ion
dan mineral (equivalent weight)
(detrital carbonate rock)
berhalogen a memiliki satu atau
batuan metamorfik n batuan lebih atom halida
yang terbentuk akibat (halogenated)
perubahan suhu, tekanan,
atau lingkungan kimiawi bioadsorpsi n ambilan aktif logam
(metamorphic rock) karena penggunaannya
dalam sistem enzim
batuan pasir n batuan sedimen (bioadsorption)
yang mengandung lebih
8
bioakumulasi butir kalsitis
bioakumulasi n pengayaan organisme tertentu dan
material kimiawi yang dapat digunakan sebagai
disebabkan oleh adsorpsi indikator keberadaan
pasif dari air laut atau organisme tersebut saat ini
pemasukan aktif yang dan di masa lalu
diikuti dengan (biomarker)
penimbunan dalam
jaringan lunak atau bagian bioturbasi n percampuran fisik
tubuh yang keras akibat sedimen yang disebabkan
tidak terekskresi oleh aktivitas organisme
(bioaccumulation) bentik
(bioturbation)
bioflokulasi n flokulasi yang
disebabkan oleh bitumen n gabungan bahan
organisme hidup organik berupa petroleum
(bioflocculation) dan aspal dalam endapan
geologis
biomagnifikasi n peningkatan (bitumen)
konsentrasi unsur kimiawi
seiring dengan buangan n limbah industri atau
peningkatan posisi tropis perkotaan yang dibuang ke
organisme lingkungan, mengandung
(biomagnification) materi terlarut dan padatan
organik maupun anorganik,
biomassa n jumlah sel bersifat alami maupun
fitoplankton dalam jumlah sintetis
air laut tertentu (106 (effluent)
sel/cm3); tanaman tegak
(biomass) butir kalsitis n butiran kalsit
berukuran kurang dari 2
biomolekul n senyawa organik mm dan menyerupai telur
yang disintesis oleh ikan, biasa ditemukan di
organisme dalam dan di atas sedimen
(biomolecule) laut tropis dangkal
(calcitic ooid)
bio-penanda n senyawa organik
yang disintesis oleh
9
10
C-c
cadangan n bentuk dan/atau lokasi cekungan anoksik n cekungan
biogeokimiawi di ruang lautan yang tidak
kerak-lautan-udara mengandung oksigen pada
(reservoir) kedalaman tertentu
(anoxic basin)
campuran kompleks
takteridentifikasi; CKT cincin inti dingin n pusaran Gulf
n bahan organik total yang Stream yang terbentuk di
belum dapat diidentifikasi bagian utara arus Gulf
pada puncak kromatogram Stream
(unresolved complex (cold core ring)
mixture; UCM)
cincin inti hangat n pembentukan
cekungan n area relatif datar di kelok Gulf Stream karena
dasar laut dalam air laut Sargasso yang
(basin) hangat
(warm core ring)
11
12
D-d
dasar cadangan n sedimen laut kadar garam dalam air
yang memiliki ruang poros (desaliniation)
penampung besar untuk
migrasi petroleum desertifikasi n perubahan daratan
(reservoir bed) subur menjadi gurun
karena vegetasi hilang atau
debu kosmik n partikel angkasa iklim berubah
berukuran molekul di (desertification)
bawah 0,1 mm;
mikrometeorit desorb v melepas materi dari
(cosmic dust) permukaan partikel
(desorb)
degas n pelepasan gas dari
larutan detrital a takhidup
(degas) (detrital)
denitrifikasi n perubahan deuterium n isotop hidrogen yang
senyawa nitrat (NO3-) digunakan untuk
menjadi gas N2 di perairan menentukan pengaruh
yang diikuti dengan presipitasi dan evaporasi
pertumbuhan bakteri air alami
dalam keadaan tanpa (deuterium)
oksigen; reduksi nitrat
disimilatori diagenesis n reaksi geokimiawi
(denitrification) pada sedimen setelah
penimbunan selama ribuan
densitas n massa per satuan tahun dalam suhu
volume atau isi 0−150°C yang
(density) menyebabkan perubahan
komposisi ukuran dan
densitas maksimum n densitas kimiawi materi
maksimum cairan pada (diagenesis)
suhu 4°C
(maximum density) diagenesis dini n perubahan
kimiawi di sistem
desaliniasi n pengolahan air laut antarfase sedimen-air
untuk menghasilkan air antara-air laut yang
tawar dengan menurunkan
13
diagram Bjerrum dosis kematian 50; DK50
bergantung pada difusi Eddy n transpor yang
lingkungan redoks diakibatkan oleh
(early diagenesis) percampuran turbulen
dalam dan antarbadan air
diagram Bjerrum n plot spesiasi (Eddy diffusion)
bahan terhadap fungsi pH
(Bjerrum diagram) difusi molekuler n gerakan acak
spontan zat terlarut dalam
diagram Eh-pH n diagram yang larutan melewati wilayah
menunjukkan hubungan dengan konsentrasi tinggi
pH dan Eh (potensial ke rendah sampai
oksidasi) spesies penyebaran zat terlarut
(Eh-pH diagram) merata
(molecular diffusion)
diagram Pourbaix n grafik
hubungan spesiasi redoks divergensi n aliran air horizontal
dan pH dari pusat atau zona umum
(Pourbaix diagram) yang menghasilkan
pembalikan massa air
diamondoid n hidrokarbon (divergence)
dengan struktur
menyerupai penyusun dolomit n kalsium karbonat yang
struktur kristal berlian mengandung lebih dari 50%
(diamondoid) magnesium
(dolomite)
diapir n evaporit purba yang
tertimbun di sedimen laut dosis kematian 50; DK50 n dosis
(diapir) bahan kimiawi yang dapat
meyebabkan kemungkinan
diazotrof n bakteri pengikat kematian sebesar 50
nitrogen di lingkungan laut persen pada hewan uji di
(diazotroph) periode waktu pemaparan
tertentu
difusi n perpindahan materi atau (lethal dosage 50; LD50)
panas akibat pergerakan
molekul
(diffusion)
14
E-e
ebulisi n pergerakan zat terlarut partikel akibat rotasi bumi
melewati air antara (Coriolis effect)
melalui pengangkutan
dalam kenaikan efisiensi daur ulang n tingkat saat
gelembung gas unsur bio-pembatas
(ebullition) diremineralisasi sebelum
tersedimentasi
efek belalang n pergerakan (recycling efficiency)
pencemar volatil dan
semivolatil dari darat ejekta n pecahan kecil yang
terbawa udara ke arah dikeluarkan gunung api
kutub bumi karena saat meletus
pemanasan lalu kembali ke (ejecta)
bumi karena kondensasi
akibat pendinginan eksitasi n penambahan energi
(grasshopper effect) atom atau molekul dari
radiasi elektromagnetik
efek Coriolis n gaya tampak yang atau dengan meningkatkan
bekerja pada pergerakan status menjadi tereksitasi
partikel akibat rotasi bumi (excitation)
(Coriolis effect)
eksotermik a berkenaan dengan
efek fotokimiawi n reaksi kimiawi pelepasan panas reaksi
yang berlangsung dengan kimiawi
bantuan cahaya (exothermic)
(photochemical effect)
eksudat n material yang keluar
efek rumah kaca n fenomena dari organisme secara
pemanasan udara bumi perlahan
akibat penahanan radiasi (exudate)
matahari oleh akumulasi
gas-gas di udara elektrode gelas pH n elektrode
(greenhouse effect) yang digunakan untuk
menentukan aktivitas atau
efek Coriolis n gaya tampak yang konsentrasi ion hidrogen
bekerja pada pergerakan (pH glass electrode)
15
elektron estuari positif
elektron n partikel subatomik endapan besi-mangan n material
bermuatan negatif yang sedimen hidrogenus yang
menyusun jumlah massa tersusun atas mineral
atom δMnO2, toderokit, birnesit,
(electron) dan besi hidroksida
(ferromanganese deposit)
elektronegativitas n derajat atom
saat dapat menarik endapan hidrogenus n mineral
elektron dari atom lain yang terbentuk dari
(electronegativity) pengendapan abiotik
dalam air laut
elektrostriksi n pengumpulan (hydrogenous precipitate)
molekul air karena
keberadaan zat terlarut energi kinetis n energi gerakan
ionik akibat interaksi yang menyebabkan
spesifik dan takspesifik partikel bergerak dengan
(electrostriction) kecepatan tertentu
(kinetic energy)
eletronetralitas n keadaan tidak
bermuatan elektrik estuari n perairan pesisir semi-
(electroneutrality) tertutup yang terbentuk
oleh percampuran perairan
elevasi titik didih n peningkatan sungai dan laut
suhu titik didih karena (estuary)
kehadiran zat terlarut
(boiling point elevation) estuari baji garam n estuari
tempat air laut menyusup
elut v melepas zat terlarut dan membentuk baji di
akibat gerakan dalam bawah air permukaan
larutan yang mengalami sungai
adveksi (salt wedge estuary)
(elute)
estuari negatif n estuari dengan
emisi n kehilangan radiasi energi salinitas di atas salinitas
melalui gelombang lautan karena evaporasi
elektromagnetik lebih tinggi dari presipitasi
(emission) dan residu sungai
(negative estuary)
endapan n penumpukan padatan
berkerak di dasar laut estuari positif n estuari dengan
(deposit)
16
estuari subteranean evaporit
salinitas di bawah salinitas eufotik a terjangkau cahaya
lautan karena presipitasi (tentang wilayah
dan residu sungai lebih kedalaman laut)
besar dari evaporasi (euphotic)
(positive estuary)
eutrofikasi n pertumbuhan alga
estuari subteranean n akuifer yang berlebihan karena
pesisir tempat perairan laut kelebihan nutrien
bercampur dengan air (eutrophication)
tanah
(subterranean estuary) eutrofikasi budidaya n
pengayaan nutrien yang
estuari tercampurkan n estuari menyebabkan percepatan
dangkal dengan kondisi pertumbuhan alga dan
salinitas tercampur baik menghasilkan kondisi
atau sama di seluruh tidak seimbang antara
kolom air kehidupan organisme dan
(mixed estuary) kualitas air
(cultural eutrophication)
estuari terstratifikasi n estuari
dangkal yang membentuk eutropik a berlimpah kehidupan
dua lapisan air dengan laut karena tinggi nutrien
perbedaan salinitas rendah (tentang perairan)
di bagian atas dan salinitas (eutrophic)
tinggi di lapisan dasar
(stratified estuary) evaporasi n perubahan fase saat
cairan diubah menjadi gas
estuari terstratifikasi kuat n (evaporation)
estuari tempat lapisan atas
meningkat salinitasnya evaporit n mineral yang terbentuk
dari nol pada ujung dari evaporasi air laut
mendekati salinitas air laut (evaporate)
di mulut estuari (muara)
(highly stratified estuary)
17
18
F-f
faktor gangguan udara; FGU n laju eksponensia
petunjuk kekuatan sumber (exponential death phase)
elemen dari sumber
antropogenik fase penyesuaian n fase
(atmospheric interference penangguhan pertumbuhan
factor; AIF) organisme
(lag phase)
faktor konsentrasi volume n
konsentrasi unsur dalam fase pertumbuhan eksponensial
organisme terhadap n fase pertumbuhan
konsentrasi di dalam air organisme ketika jumlah
laut sel meningkat pada laju
(volume concentration eksponensial
factor) (exponential growth phase)
faktor pengayaan; FP n faktor fase retardasi n fase siklus hidup
penyebab terjadinya organisme saat penurunan
peningkatan unsur laju pertumbuhan terjadi
kimiawi pada komponen akibat kekurangan nutrien
lingkungan, seperti (retardation phase)
organisme atau sedimen
(enrichment factor; EF) fasies n karakteristik fisik batuan
yang mencerminkan
faktor Revelle n rasio perubahan keasliannya
tekanan parsial CO2 (facies)
terhadap tekanan parsial
CO2 total fikoeritrin n fikobiliprotein yang
(Revelle factor) dibentuk oleh
sianobakteria dan alga
fase diam n fase saat aktivitas merah
metabolik dipertahankan, (phycoerythrin)
tetapi tidak meningkatkan
sel hidup fiksasi nitrogen biologis n
(stationary phase) pembentukan bentuk
terikat nitrogen dari N2,
fase kematian eksponensial n
fase kematian sel pada
19
filipsit foton
seperti amonium oleh fosforesens n pancaran radiasi
bakteri eletromagnetik dari
(biological nitrogen molekul fase triplet yang
fixation) tereksitasi
(phosphorescence)
filipsit n silika hidrus aluminium,
besi, dan magnesium fosforilasi n reaksi biokimiawi
(phillipsit) saat gugus fosfat
ditempelkan ke
fisikokimiawi a berkaitan dengan biomolekul
perubahan fisikawi (phosphorylation)
dan/atau kimiawi
(physicochemical) fosforit n mineral hidrogenus di
permukaan sedimen hasil
flok n gumpalan partikel kecil endapan produktivitas
(floc) biologis tinggi, seperti
kalsium fosfat
flokulasi n penggumpalan partikel (phosphorite)
kecil
(flocculation) fotik a berkaitan dengan zona
kedalaman penetrasi
fluks n pengangkutan bahan cahaya
atau energi melalui area (photic)
permukaan atau volume
pada waktu tertentu fotoautolitotrof n organisme
(flux) pengguna sinar matahari
sebagai sumber energi
fluoresens n pancaran radiasi (photoautolithotroph)
eletromagnetik dari
molekul fase tunggal yang fotodisosiasi n penguraian
tereksitasi molekul akibat masuknya
(fluorescence) energi matahari
(photodissociation)
foraminifera n protozoa yang
mengendapkan bahan foton n berkas energi cahaya
keras berupa kalsit yang dipancarkan oleh
(foraminifera) matahari
(photon)
fosfolipid n lipid yang
mengandung grup fosfat
(phospholipid)
20
fotoreaksi frustul
fotoreaksi n reaksi yang hanya fraksionasi termodinamik n
dapat berlangsung dengan segregasi isotop saat
adanya cahaya mencapai kesetimbangan
(photoreaction) kimiawi
(thermodynamic
fraksi ion bebas n fraksi ion yang fractionation)
tidak dalam kelompok
kompleks ion atau frustul n bahan keras yang
pasangan ion diendapkan oleh diatom
(fraction of free ion) (frustule)
21
22
G-g
gabro n batuan plutonik beku jumlah karbon kurang dari
yang mengandung 75% lima
mineral feromagnesian (natural gas)
(gabbro)
gas biogenik n gas yang terkait
garam n molekul yang terdiri atas dengan aktivitas biologis
satu atau lebih kation dan (biogenic gas)
anion terikat dalam ikatan
ionik gas fotokimiawi n gas yang
(salt) terlibat dalam fotokimiawi
di udara (CO, O3, NO2,
garam batu n massa natrium HNO3, H2, OH, OH2, H2O2,
klorida besar yang H2CO3)
terbentuk dari evaporasi (photochemical gas)
(rock salt)
gas kelumit n senyawa gas dengan
garam berdaur n ion garam yang konsentrasi sangat rendah
mengalami pendauran di udara
antara lautan, udara, dan (trace gas)
daratan
(cyclic salt) gas rumah kaca n gas yang
menyerap energi
garam bersiklus n garam berdaur inframerah
(cyclic salt) (greenhouse gas)
garam laut n garam anorganik di gelung balikan negatif n
air laut terutama NaCl dan pergantian laju proses atau
MgSO4 mekanisme laut diimbangi
(sea salt) dengan perubahan laju
proses lain yang
garis campuran konservatif n berhubungan
garis lurus yang (negative feedback loop)
menggambarkan hubungan
konsentrasi unsur terlarut gelung balikan positif n
dengan salinitas pergantian laju proses atau
(conservative mixing line) mekanisme laut dikuatkan
dengan perubahan laju
gas alam n hidrokarbon dengan
23
geopolimer gunung es
proses lain yang gneis n batuan metamorfik induk
berhubungan (gneiss)
(positive feedback loop)
gradien n laju penurunan atau
geopolimer n senyawa kompleks peningkatan satu kuantitas
berberat molekul tinggi terhadap kuantitas lainnya
yang tahan terhadap (gradient)
degradasi, terbentuk dari
polimerisasi biomolekul granit n batuan beku kristal
selama diagenesis dan berupa felspar dan kuarsa
katagenesis alkali
(geopolymer) (granite)
geotermometer n mineral dengan gravitas spesifik n perbandingan
komposisi kimiawi yang densitas bahan dengan
dapat digunakan untuk densitas air murni pada
menentukan suhu kristali suhu 40°C
(geothermometer) (specific gravity)
gipsum n mineral kalsium sulfat gunung api bawah laut n gunung
(gypsum) api bawah laut yang
terdapat di wilayah
glasioeustatik a berkenaan dengan pematang samudra
perubahan muka laut (submarine volcanism)
karena variasi beban es
daratan gunung es n bongkahan massa es
(glacioeustatic) yang sangat berat,
biasanya mengapung di
glaukonit n mineral hidrogenus di laut atau perairan dangkal
sedimen karbonat paparan setelah terlepas dari
daratan tropis daratan es
(glauconite) (iceberg)
24
H-h
halit n mineral natrium klorida hidrat klatrat n bentuk padatan es
(halite) yang mengelilingi molekul
gas (metana, hidrogen,
halmirolisis n proses yang atau karbon dioksida) pada
mengubah komposisi kondisi tekanan tinggi dan
kimiawi mineral lempung suhu rendah di sedimen
terestrial saat beberapa laut dalam
bulan pertama terpapar air (clathrate hydrate)
laut
(halmyrolysis) hidrofilik a memiliki afinitas
terhadap air
haloklin n wilayah dengan gradien (hydrophilic)
salinitas kuat
(halocline) hidrofobik a tidak memiliki
afinitas terhadap air
hantaran kalor n kemampuan (hydrophobic)
bahan dalam
menghantarkan kalor hidrogen peroksida (H2O2) n
(heat conduction) senyawa yang terbentuk
akibat reaksi fotokimiawi
hasil kuantum n jumlah mol karbon organik
reaktan yang hilang atau (hydrogen peroxide (H2O2))
produk yang dihasilkan
per foton cahaya yang hidrogen sulfida n sulfur
diserap dalam reaksi tereduksi yang ada di
fotokimiawi perairan minim oksigen
(quantum yield) (hydrogen sulphide)
heterotrof n organisme yang hidrogenik a terbentuk melalui
memerlukan bahan proses anorganik di laut
organik sebagai sumber (hydrogenous)
karbon
(heterotroph) hidrokarbon n senyawa organik
berupa unsur hidrogen dan
hidrasi n pengikatan molekul air karbon
melalui adsorpsi pada (hydrocarbon)
permukaan padatan
(hydration) 25
hidrokarbon alifatis hukum kedua Fick
hidrokarbon alifatis n konsentrasi oksigen
hidrokarbon tanpa rantai terlarut kurang dari 2−3
lingkar karbon
(aliphatic hydrocarbon) ppm
(hypoxic)
hidrokarbon aromatis n hopanoid n hidrokarbon yang
hidrokarbon dengan rantai terdiri atas empat cincin
lingkar karbon beranggotakan enam
(aromatic hydrocarbon) karbon dan satu cincin
beranggotakan lima
hidrokarbon aromatis polisiklis karbon
n hidrokarbon aromatik (hopanoid)
yang mengandung
lingkaran karbon hubungan salinitas/klorinitas n
(polycyclic aromatic hubungan antara salinitas
hydrocarbon) dan klorinitas
(salinity/chlorinity relation)
hidroksil n gugus kimiawi yang
terdiri atas atom oksigen hujan asam n oksidasi NOX dan
yang terikat pada atom SOX yang menghasilkan
hidrogen HNO3 dan H2SO4 di udara
(hydroxyl) yang menyebabkan
terjadinya pengasaman
hidrolisis n reaksi kimiawi yang hujan
melibatkan air (acid rain)
(hydrolysis)
hukum Henry n hukum yang
hidrotermal a berkenaan dengan menyatakan kelarutan gas
keberadaan sistem air dalam larutan yang sangat
panas di parit samudra encer berbanding lurus
(hydrothermal) dengan tekanan parsial
udara
hipersalin a bersalinitas tinggi (Henry’s law)
sehingga memungkinkan
halit mengendap langsung hukum kedua Fick n laju
(tentang air) perubahan konsentrasi
(hypersaline) difusi terkait dengan
turunan waktu koefisien
hipoksik a berkenaan dengan difusi gradien
keadaan air saat (Fick’s second law)
26
hukum peluruhan radioaktif humifikasi
hukum peluruhan radioaktif n dengan tekanan parsial gas
deskripsi matematis yang murni dikali fraksi mol
menunjukkan penurunan (Raoult’s law)
jumlah materi radioaktif
terhadap waktu karena hukum Stark-Einstein n hukum
peluruhan kedua fotokimia yang
(radioactive decay law) menyatakan atom atau
molekul yang mengalami
hukum pertama Fick n fluks proses fotokimiawi hanya
difusi sebanding dengan mengabsorpsi foton
gradien konsentrasi tunggal
(Fick’s first law) (Stark-Einstein law)
hukum Raoult n hukum yang humifikasi n perhumusan
menyatakan tekanan (humification)
parsial gas dalam
campuran ideal sama
27
28
I-i
ikatan hidrogen n interaksi cahaya yang dipantulkan
lemah antarmolekul air oleh bahan
yang terjadi antara kutub (refractive index)
positif satu molekul
dengan kutub negatif injeksi udara n gelembung
molekul lain udara yang lenyap
(hydrogen bond) seluruhnya
(air injection)
ikatan ionik n ikatan kimiawi
yang terjadi saat elektron insolasi n radiasi matahari yang
telah dipindahkan dari sampai ke permukaan
atom yang kurang bumi
elektronegatif ke atom (insolation)
berelektronegatif lebih
tinggi intensitas cahaya n jumlah
(ionic bond) cahaya yang mencapai
permukaan lautan
ikatan kovalen n ikatan kimiawi (light intensity)
yang ditunjukkan melalui
elektron yang berikatan interaksi biologis n interaksi
bersama antara atom- unsur kelumit dengan
atom yang terikat organisme laut
(covalent bond) (biological interaction)
ikatan kovalen polar n ikatan interaksi ion-air n interaksi
kimiawi ketika terjadi elektrostatis antara ion
pemakaian elektron bermuatan dan molekul
antaratom secara air
bersamaan (ion-water interaction)
(polar covalent bond)
interaksi ion-ion n interaksi
ilit n mineral lempung kaya elektrostatis antarion
kalium (ion-ion interaction)
(illite)
interaksi nonspesifik n
indeks refraktif n nilai yang pengaruh nonspesifik
menunjukkan jumlah (nonspesific interaction)
29
interaksi positif-negatif ion utama
interaksi positif-negatif n permukaan laut yang
interaksi antarion memengaruhi dinamika
bermuatan berlawanan dan termodinamika udara
(plus-minus interaction) dan lapisan batas air
(air-sea interaction)
interaksi positif-positif dan
negatif-negatif n ion n atom bermuatan
interaksi antarion elektrik
bermuatan sama karena kelebihan atau
(plus-plus and minus- kekurangan elektron
minus interaction) (ion)
interaksi spesifik n proses ion konservatif n ion yang
kimiawi yang keberadaannya
menghasilkan pelepasan dikendalikan oleh proses
ikatan molekul fisik atau gerak air
(specific interaction) (seperti arus dan curah
hujan)
interaksi takspesifik n interaksi (conservative ion)
antarzat terlarut atau
antara zat terlarut dengan ion pelepas struktur n
pelarut yang terjadi penambahan ion-ion di
dalam larutan tanpa air yang mengakibatkan
menyebabkan kurang struktur daripada
pembentukan atau di air murni
pemutusan ikatan (structure-breaking ion)
kimiawi
(nonspecific interaction) ion utama n enam ion terlarut
dominan, seperti Na+,
interaksi udara-laut n proses Mg2+, Ca2+, K+, Cl− , dan
yang terjadi akibat SO24− di dalam air laut
interaksi udara dengan (major ion)
30
J-j
jumlah hidrasi n jumlah molekul juvenil a berasal langsung dari
air yang terkait dengan zat interior bumi (tentang
terlarut dalam larutan material atau bahan);
(hydration number) primer
(juvenile)
31
32
K-k
kalor disosiasi n energi yang kalor larutan n perubahan energi
terlibat dalam disosiasi yang dihasilkan pada saat
molekul ke ion; kalor bahan melarut dalam
ionisasi pelarut
(heat of dissociation) (heat of solution)
kalor evaporasi n jumlah kalor kalor laten fusi n jumlah kalor
(kalori atau joule) yang yang dibutuhkan untuk
dikeluarkan atau mengubah massa es
diperlukan pada perubahan tertentu menjadi cair
status dari cair-uap atau (latent heat of fusion)
uap-cair
(heat of evaporation) kalor laten penguapan n jumlah
kalor yang dibutuhan
kalor formasi n energi yang untuk mengubah massa
terlibat dalam cairan tertentu menjadi
pembentukan senyawa uap
dari unsur-unsurnya (latent heat of
(heat of formation) vaporization)
kalor fusi n jumlah kalor (kalori kalor sublimasi n energi yang
atau joule) yang terlibat dalam konversi
dikeluarkan atau dari padat ke gas
diperlukan pada perubahan (heat of sublimation)
status dari padat-cair atau
cair-pada kaolinit n mineral lempung yang
(heat of fusion) dihasilkan dari pelapukan
kuat pada kondisi tropis
kalor hidrasi n energi yang (kaolinite)
terlibat dalam
penghidrasian ion kapas laut n padatan teragregasi
(heat of hydration) renggang berupa partikel
biogenus dan litogenus
kalor ionisasi n kalor disosiasi (marine snow)
(heat of ionization)
33
kapasitas kalor karbon organik terlarut; KOT
kapasitas kalor n jumlah kalor karbon anorganik terlarut total
yang diperlukan untuk (KATT) n jumlah
menaikkan suhu bahan konsentrasi para spesies
tertentu karbon anorganik terlarut
(heat capacity) (total dissolved inorganic
carbon; TDIC)
kapasitas pertukaran kation;
KPK n pengukuran kation karbon anorganik terlarut; KAT
yang mengadsorpsi n karbon anorganik yang
permukaan mineral larut dalam air (seperti
lempung bermuatan CO2, H2CO3, HCO3-, CO32-)
negatif (dissolved inorganic
(cation exchange capacity; carbon; DIC)
CEC)
karbon hitam n aneka produk
karakteristik salinitas nol n berbahan karbon yang
komposisi kimiawi air merupakan hasil
sungai yang dapat pembakaran bahan organik
melewati filter estuari dan taksempurna, seperti arang
mencapai perairan pesisir; dan jelaga
karakter sungai efektif (black carbon)
(zero-salinity end-member)
karbon organik partikulat; KOP
karakteristik sungai efektif n n fraksi karbon organik
karakteristik salinitas nol yang tidak larut dalam air
(effective river end- laut atau berbentuk
member) partikel
(particulate organic
karbohidrat n biopolimer dengan carbon; POC)
bentuk bangun terdiri atas
gula sederhana, seperti karbon organik terlarut; KOT n
glukosa dan fruktosa karbon organik yang larut
(carbohydrate) dalam air, ditandai dengan
ukuran yang lebih kecil
karbohidrat kompleks n polimer dari 0,45 µm sehingga bisa
yang tersusun atas gula- melewati tapis
gula sederhana (dissolved organic carbon;
(complex carbohydrate) DOC)
34
karbon organik total; KOT kedalaman kompensasi aragonit
karbon organik total; KOT n kecepatan piston n laju gerak gas
jumlah karbon terikat lewat jenuh dari
dalam bahan organik permukaan lautan ke udara
(total organic carbon; melalui difusi molekul;
TOC) kecepatan transfer
(piston velocity)
karbonat balkon n bongkahan
besar kalsium karbonat kecepatan transfer n kecepatan
dari endapan karang di piston
sedimen neritik (transfer velocity)
(platform carbonate)
kecerahan n kemampuan zat atau
karotenoid n senyawa organik bahan untuk menjalarkan
terpenoid dengan 40 panjang gelombang atau
karbon sebagai pigmen berkas panjang gelombang
fotosintesis cahaya atau energi
(carotenoid) (transparency)
katabolisme n proses biokimiawi kedalaman antarmuka oksik-
ketika senyawa organik anoksik n kedalaman
terdegradasi tempat adsorpsi dan
(catabolism) disolusi terjadi
(oxic-anoxic interface
katagenesis n reaksi geokimiawi depth)
pada sedimen yang
terkubur lebih dari 1.000 kedalaman kompensasi n
tahun dalam suhu kedalaman dengan laju
50−150°C, mengakibatkan fotosintesis sama dengan
perubahan berbagai laju respirasi
material organik (seperti (compensation depth)
pembentukan hidrokarbon
cair dan gas) kedalaman kompensasi aragonit
(catagenesis) n kedalaman lautan yang
ditandai dengan pteropoda
keaktifan spesifik n laju menghilang atau melarut
peluruhan radioaktif dalam dari sedimen, posisi
jumlah sampel tertentu bervariasi antarsamudra
(specific activity) (aragonite compensation
depth)
35
kedalaman kompensasi kalsit/kalsium kemosintesis
kedalaman kompensasi kelasi n kompleksasi kation
kalsit/kalsium; KKK n metal oleh ligan organik
kedalaman perairan laut (chelation)
dengan kondisi tingkat
pasokan kalsit dari kemiringan Nernst n kemiringan
cangkang organisme sama teoretis potensial elektrode
dengan kecepatan E sebagai fungsi dari
pelarutannya konsentrasi pada
(calcium/calcite persamaan Nernst
compensation depth; CCD) (Nernst slope)
kejenuhan n konsentrasi gas kemoautolitotrof n organisme
terlarut sama dengan yang memanfaatkan
konsentrasi kesetimbangan materi anorganik sebagai
udara normal sumber elektron, energi,
(saturation) dan karbon
(chemoautolithotroph)
kejenuhan cahaya n titik ketika
laju fotosintesis tidak kemolitotrofi n proses aerobik
meningkat dengan atau anaerobik dengan
intensitas cahaya yang pemanfaatan senyawa
meningkat anorganik tereduksi
(light saturation) (seperti NO3-, CO2, S0,
SO42-) oleh bakteri sebagai
kekuatan ion n konsentrasi total sumber energi
muatan positif dan negatif (chemolithotrophy)
ion dalam larutan
(ionic strength) kemometrika n aplikasi metode
matematis atau statistik
kelarutan n pengukuran jumlah dalam penghitungan
maksimum bahan yang sistem atau proses kimiawi
dapat larut pada volume (chemometrics)
tertentu pelarut dalam
kondisi tertentu kemosintesis n proses sintesis
(solubility) bahan organik dengan
energi kimia yang
kelarutan balik n kelarutan dilakukan oleh organisme
mineral yang meningkat (bakteri), dilambangkan
karena penurunan suhu dengan persamaan
(retrograde solubility)
36