E-MODUL
KONSEP DASAR IPS SD
Nurainun M.Pd.
JURUSAN PGSD UNG
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas anugrah-Nya,
sehingga Modul Konsep Dasar IPS SD ini dapat diselesaikan sesuai dengan yang
direncanakan. Modul ini disusun berdasarkan kurikulum yang berlaku dan sesuai
dengan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) mata kuliah konsep Dasar IPS SD.
Modul ini ditulis dengan tujuan untuk memberikan sumber materi pada mata kuliah
Konsep Dasar IPS SD yang memuat berbagai topik bahasan. Modul ini juga
dilengkapi dengan evaluasi dalam bentuk latihan soal untuk menguji pemahaman
mahasiswa terkait dengan materi yang terdapat dalam modul.
Terima kasih yang sebesar-besarnya disampaikan kepada semua pihak yang
telah membantu proses penyelesaian modul ini, terutama tim teaching mata kuliah
Konsep Dasar IPS SD yang telah membimbing penyusun dalam pembuatan modul
ini.
Penyusun menyadari bahwa modul ini belum sempurnah, untuk itu penyusun
sangat membuka saran dan kritik yang sifatnya membangun. Semoga modul ini
bermanfaat bagi masyarakat akademis terutama bagi mahasiswa PGSD Universitas
Negeri Gorontalo.
Gorontalo, 2 Oktober 2022
Penyusun
i
DAFTAR ISI
COVER
KATA PENGANTAR................................................................................................ i
DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................. iv
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
BAB 2 SEJARAH, HAKIKAT DAN TUJUAN ILMU SOSIAL ................................ 3
Topik 1. Sejarah, Hakikat dan Tujuan Ilmu Sosial ...............................................................3
A. Pengertian IPS .............................................................................................. 3
B. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Sosial di Indonesia ................. 4
C. Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial................................................................. 8
D. Tujuan Pendidikan Ilmu Sosial ..................................................................... 9
BAB 3 KONSEP, CIRI-CIRI KONSEP, DAN HUBUNGAN FAKTA DAN
KONSEP ............................................................................................................ 12
Topik 2. Konsep, Ciri-ciri Konsep, dan Hubungan Fakta dengan Konsep ....................... 12
A. Fakta .............................................................................................................. 12
B. Konsep........................................................................................................... 14
C. Hubungan Fakta dan Konsep ....................................................................... 19
BAB 4 PROSEDUR PEMBENTUKKAN KONSEP ................................................ 21
Topik 3. Prosedur Pembentukan Konsep...................................................................... 21
A. Pembinaan Konsep dalam IPS ..................................................................... 21
B. Pentingnya Konsep ....................................................................................... 22
BAB 5 STRUKTUR, KONSEP DAN PROSEDUR PEMBENTUKKAN
KONSEP ESENSIAL SOSIOLOGI ................................................................... 25
Topik 4. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukan Konsep Esensial Sosiologi. ........ 25
BAB 6 STRUKTUR, KONSEP DAN PROSEDUR PEMBENTUKKAN
KONSEP ESENSIAL SEJARAH ...................................................................... 30
Topik 5. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukan Konsep Esensial Sejarah............ 30
BAB 7 STRUKTUR, KONSEP DAN PROSEDUR PEMBENTUKKAN
KONSEP ESENSIAL EKONOMI ...................................................................... 36
Topik 6. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukan Konsep Esensial Ekonomi ...........36
BAB 8 STRUKTUR, KONSEP DAN PROSEDUR PEMBENTUKKAN
KONSEP ESENSIAL GEOGRAFI .................................................................... 45
ii
Topik 7. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukan Konsep Esensial Geografi .......... 45
BAB 9 STRUKTUR, KONSEP DAN PROSEDUR PEMBENTUKKAN
KONSEP ESENSIAL ANTROPOLOGI ............................................................ 51
Topik 8. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukan Konsep Esensial
Antropolgi .........................................................................................................................51
BAB 10 PENUTUP .................................................................................................. 58
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 61
iii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Ilustrasi Revolusi Industri di Inggris........................................................ 5
Gambar 2 Ilustrasi Konsep Kapal laut ..................................................................... 14
Gambar 3 Ilustrasi Konsep Mobil............................................................................. 16
Gambar 4 Ilustrasi Interaksi Sosial .......................................................................... 27
Gambar 5 Ilustrasi Konsep Sejarah......................................................................... 31
Gambar 6 Ilustrasi Kegiatan Ekonomi ..................................................................... 37
Gambar 7 Ilustrasi Konsep Sungai .......................................................................... 49
Gambar 8 Ilustrasi Kebudayaan Masyarakat Toraja .............................................. 52
iv
BAB 1
PENDAHULUAN
Tujuan penyelenggaraan pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yaitu
untuk memenuhi tuntutan perkembangan kurikulum dan dinamika kehidupan
masyarakat. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana
dunia pendidikan selalu tertinggal dibandingkan dengan perkembangan kebutuhan
masyarakat, maka IPS diperlukan sebagai wadah ilmu pengetahuan yang
mengharmoniskan laju perkembangan ilmu dan kehidupan dalam dunia pengajaran.
IPS mampu melakukan lompatan-lompatan ilmu secara konsepsional untuk
kepentingan praktis kehidupan yang baru sesuai dengan perkembangan jaman. IPS
oleh para pendirinya secara sengaja diciptakan dan dibina ke arah menuntun
generasi muda mampu hidup dalam alamnya (jaman dan lingkungan) dengan bekal
pengetahuan yang baru. Konsep-konsep dalam IPS sungguh sangat kompleks dan
bervariasi dari berbagai cabang ilmu sosial. Tuntutan dan persoalan kehidupan
praktis adalah buah dari lajunya pengetahuan dan teknologi yang menarik lajunya
kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, IPS harus berorientasi pada perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan tuntutan kehidupan.
Dalam rangka menyiapkan tenaga guru Sekolah Dasar (SD) yang profesional
terutama untuk mampu membelajarkan konsep-konsep IPS maka sudah sepatutnya
dibekali dengan pengetahuan tentang konsep-konsep dasar IPS yang lebih
mendalam dan riil sesuai dengan tuntutan perkembangan pengetahuan dan
teknologi saat ini. Dengan adanya tuntutan kurikulum disekolah yang menghendaki
pembelajaran lebih riil dan bermanfaat secara praktis dan komperhensif. Dengan
demikian perlu didukung buku sumber yang memberikan pengetahuan terkait
dengan konsep-konsep dasar dari ilmu-ilmu sosial serta dapat diaplikasikan melalui
sikap dan tindakan dalam kehidupan bermasyarakat.
Buku sumber ini disebut Modul Konsep Dasar IPS SD. Secara umum modul
ini memuat materi-materi dari berbagai konsep ilmu-ilmu sosial yang ada. Modul ini
memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang berbagai konsep-konsep
dasar dari ilmu-ilmu sosial. Modul ini memberikan pengetahuan bagi calon guru SD
mengenai materi IPS sehingga mampu menanamkan konsep-konsep materi IPS
secara baik kepada siswa SD dikemudian hari saat mereka melakukan pembelajaran
terkait topik dan materi di SD.
1
Modul ini memuat materi tentang:
Topik 1. Sejarah, Hakikat dan Tujuan Ilmu Sosial
Topik 2. Konsep, Ciri-ciri Konsep, dan Hubungan Fakta dengan Konsep
Topik 3. Prosedur Pembentukan Konsep
Topik 4. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukan Konsep Esensial Sosiologi
Topik 5. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukan Konsep Esensial Sejarah
Topik 6. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukan Konsep Esensial Ekonomi
Topik 7. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukan Konsep Esensial Geografi
Topik 8. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukan Konsep Esensial Antropolgi
Setelah mempelajari modul ini mahasiswa mampu mengidentifikasi dan
memahami sejarah, hakekat dan tujuan IPS, konsep, ciri-ciri konsep, dan hubungan
fakta dengan konsep, prosedur pembentukan konsep, struktur, konsep dan prosedur
pembentukan konsep esensial sosiologi, sejarah, ekonomi, geografi, dan antropologi.
Mahasiswa juga memiliki kepekaan terhadap berbagai masalah sosial dan bisa
memberikan alternatif solusi berdasarkan konsep-konsep dasar IPS tersebut.
2
BAB 2
SEJARAH, HAKIKAT DAN TUJUAN ILMU SOSIAL
Topik 1. Sejarah, Hakikat dan Tujuan Ilmu Sosial
1. Sub Capaian Pembelajaran MK
Setelah mempelajari topik ini mahasiswa mampu:
- Mengetahui sejarah ilmu sosial
- Memahami hakikat ilmu pengetahuan sosial
- Memahami tujuan ilmu pengetahuan sosial
2. Uraian Materi
A. Pengertian IPS
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang
diajarkan baik pada tingkat SD, SMP maupun SMA. IPS bukan ilmu yang berdiri
sendiri seperti halnya ilmu-ilmu sosial lainnya, namun materi IPS menggunakan
bahan ilmu-ilmu sosial yang dipilih dan disesuaikan dengan tujuan pengajaran dan
pendidikan. Berikut dikemukakan beberapa definisi dari IPS.
Pusat kurikulum menyatakan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang
bersumber dari kehidupan sosial masyarakat yang diseleksi dengan menggunakan
konsep-konsep ilmu sosial yang digunakan untuk kepentingan pembelajaran. IPS
adalah bahan kajian terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi
dan modifikasi yang diorganisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan-
keterampilan sejarah, geografi, sosiologi, antropologi dan ekonomi.
Menurut National Council for the Social Studios (NCSS), mendefinisikan IPS
sebagai suatu studi yang terintegrasi dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora untuk
meningkatkan kemampuan warga negara. Dalam program sekolah, IPS mengkaji
secara sistematis dan terkoordinasi berbagai disiplin ilmu seperti antropologi,
arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat, ilmu politik, psikologi, agama,
sosiologi, dan materi yang sesuai dengan humaniora, matematika dan ilmu
pengetahuan alam (Wahidmurni, 2017:17).
Menurut United Stated of Education's Standard Terminology for Curriculum
and Instruction bahwa IPS berisikan aspek-aspek ilmu sejarah, ilmu ekonomi, ilmu
politik, sosiologi, antropologi, psikologi, geografi dan filsafat yang dipilih untuk tujuan
pembelajaran di sekolah dan di perguruan tinggi (Astawa, 2017:40).
3
Menurut Ahmadi (1991:3), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ialah ilmu-ilmu
sosial yang dipilih dan disesuaikan bagi penggunaan program pendidikan di sekolah
atau bagi kelompok belajar lainnya yang sederajat. Menurut Ali Imran Udin Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) ialah ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan-
tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah dasar dan menengah. Menurut Abu
Ahmadi IPS ialah bidang studi yang merupakan paduan (fusi) dari sejumlah disiplin
ilmu sosial.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa materi IPS
diambil dari berbagai disiplin ilmu sosial seperti geografi, sejarah, sosiologi,
antropologi, psikologi sosial, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, dan ilmu-ilmu sosial
lainnya yang dijadikan sebagai bahan baku bagi pelaksanaan program pendidikan
dan pengajaran di sekolah dasar dan menengah.
IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari Sekolah
Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). IPS mengkaji seperangkat
peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. IPS di
SD menggunakan pendekatan sesuai dengan ide. Satuan pendidikan SMP
menggunakan pendekatan terpisah. Pada jenjang SMP mata pelajaran IPS memuat
materi geografi, sejarah, sosiologi dan ekonomi.
IPS secara sederhana dapat didefinisikan sebagai perpaduan dari berbagai
bagian konsep atau materi ilmu-ilmu sosial yang diramu untuk kepentingan program
pendidikan dan pembelajaran di sekolah. IPS dirumuskan berlandaskan pada
realitas dan fenomena sosial yang diwujudkan dengan pendekatan interdisipliner dari
cabang ilmu-ilmu sosial. Hakikat IPS adalah untuk mengembangkan konsep
pemikiran yang berdasarkan realitas kondisi sosial yang ada di lingkungan siswa,
sehingga dengan memberikan pendidikan IPS diharapkan dapat melahirkan warga
negara yang baik dan bertanggung jawab terhadap bangsa dan negaranya.
B. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Sosial di Indonesia
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang masuk ke Indonesia adalah berasal dari
Amerika Serikat dengan nama asli di negara asalnya disebut Social Studies.
Pertama kali social studies dimasukkan dalam kurikulum sekolah di Rughby (Inggris)
pada Tahun 1827, atau sekitar setengah abad setelah terjadinya Revolusi Industri.
Pada Pertengahan abad 18 di Inggris terjadi Revolusi Industri yang ditandai dengan
4
perubahan penggunaan tenaga manusia menjadi tenaga mesin. Berikut adalah
gambar ilustrasi revolusi industri yang terjadi di Inggris.
Gambar 1. Ilustrasi Revolusi Industri di Inggris
Sumber: http://1.bp.blogspot.com/-9kuLT14q9E4/VRKBWzNJuDI/AAAAAAAADOA/Sh7cdxzRE-
8/s1600/Revoindustri%2BInggris.jpg
Revolusi industri membawa perubahan yaitu mendatangkan kemakmuran
bagi sebagian masyarakat Inggris. Di sisi lain Revolusi Industri menimbulkan paham
kapitalisme dan dehumanisasi yaitu manusia tidak dihargai sebagai manusia. Karena
pada industrialis lebih menghargai faktor produksi, modal, dan uang daripada tenaga
manusia. Setelah memperhatikan situasi tersebut maka Thomas Arnold bermaksud
menanggulangi proses dehumanisasi, dengan cara memasukkan social studies ke
dalam kurikulum di sekolahnya. Adapun tujuannya adalah agar siswa mempelajari
masalah interaksi manusia serta ikut berperan aktif dalam kehidupan masyarakat
(Gunawan, 2013: 20).
Latar belakang dimasukkannya social studies dalam kurikulum sekolah di
Amerika Serikat berbeda dengan di Inggris karena situasi dan kondisi penyebabnya
juga berbeda. Penduduk Amerika Serikat terdiri dari berbagai macam ras
diantaranya adalah ras Indian yang merupakan penduduk asli, ras kulit putih yang
datang dari Eropa, dan ras Negro yang didatangkan dari Afrika untuk dipekerjakan
di perkebunan-perkebunan negara tersebut. Pada awalnya penduduk Amerika
Serikat yang multiras tersebut tidak menimbulkan masalah. Permasalahan muncul
ketika terjadinya perang saudara antara Utara dan Selatan atau yang dikenal dengan
Perang Budak yang berlangsung pada tahun 1861-1865. Amerika Serikat yang telah
menjadi kekuatan dunia, mulai merasa kesulitan untuk mengatasi masalah
perbedaan ras tersebut, selain itu juga adanya perbedaan sosial ekonomi yang
sangat tajam.
Para pakar kemasyarakatan dan pendidikan berusaha keras untuk
menjadikan penduduk yang multiras tersebut menjadi satu bangsa, yaitu bangsa
Amerika. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan memasukkan social studies
5
ke dalam kurikulum sekolah di negara bagian Wisconsin Pada tahun 1892. Setelah
dilakukan penelitian, maka pada awal abad 20, sebuah komisi nasional dari The
National Education Association memberikan rekomendasi tentang perlunya social
studies dimasukkan ke dalam kurikulum semua sekolah dasar dan sekolah
menengah (selanjutnya disebut SD dan SM) Amerika Serikat. Adapun wujud social
studies ketika lahir merupakan semacam ramuan dari mata pelajaran sejarah
geografi, dan civics.
Faktor lain yang menyebabkan dimasukkannya social studies ke dalam
kurikulum sekolah adalah keinginan para pakar pendidikan. Mereka menginginkan
agar setelah meninggalkan SD dan SM yaitu, (1) para siswa menjadi warga negara
yang baik, dalam arti mengetahui dan menjalankan hak-hak dan kewajibannya. (2)
Para siswa lulusan SD dan SM dapat hidup bermasyarakat secara seimbang dalam
arti memperhatikan kepentingan pribadi dan masyarakat. Untuk mencapai tujuan
tersebut, para siswa tidak perlu harus menunggu belajar ilmu-ilmu sosial di
Perguruan Tinggi, tetapi harus sudah mendapat bekal pelajaran IPS di SD dan SM.
Pertimbangan lain dimasukkannya social studies ke dalam kurikulum sekolah adalah
kemampuan siswa yang sangat menentukan dalam pemilihan dan pengorganisasian
materi IPS. Agar materi pelajaran IPS lebih menarik dan lebih mudah dicerna oleh
siswa SD dan SM, bahan-bahannya diambil dari kehidupan nyata di lingkungan
masyarakat. Bahan atau materi yang diambil dari pengalaman pribadi, teman-teman
sebaya, serta lingkungan alam dan masyarakat sekitarnya. Hal ini akan lebih mudah
dipahami karena mempunyai makna lebih besar bagi para siswa daripada bahan
pembelajaran yang abstrak dan rumit dalam ilmu-ilmu sosial.
Latar belakang dimasukkannya bidang studi IPS ke dalam kurikulum sekolah
di Indonesia sangat berbeda dengan di Inggris dan Amerika Serikat. Pertumbuhan
IPS di Indonesia tidak terlepas dari situasi kacau, termasuk dalam bidang
pendidikan, sebagai akibat pemberontakan G30S/PKI. Setelah keadaan tenang
pemerintah “Orde Baru” melancarkan Pembangunan Lima Tahun (PELITA). Pada
masa Pelita I (1969-1974) Tim Peneliti Nasional di bidang pendidikan menemukan 5
masalah nasional dalam bidang pendidikan. Kelima masalah tersebut antara lain:
1. Kuantitas, berkenaan dengan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar.
2. Kualitas, menyangkut peningkatan mutu lulusan.
3. Relevansi, berkaitan dengan kesesuaian sistem pendidikan dengan kebutuhan
pembangunan.
6
4. Efektivitas sistem pendidikan dan efisiensi penggunaan sumber daya dan dana.
5. Pembinaan generasi muda dalam rangka menyiapkan tenaga produktif bagi
kepentingan pembangunan nasional.
Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah melakukan
pembaharuan kurikulum sekolah. Pada awal masa Pelita I, pemerintah membentuk
Proyek Pembaharuan Kurikulum dan Metode Mengajar (PPKM) yang memberi
kesempatan kepada masyarakat untuk menciptakan kurikulum sekolah secara lokal.
Pembaharuan kurikulum tersebut dilaksanakan di Sekolah Laboratorium di IKIP
Malang yang dikenal dengan “Sekolah Ibu Pakasi”. Di sekolah ini diberlakukan
kurikulum lokal yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Penggabungan SD dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) menjadi SMP 8
Tahun.
2. Penggabungan mata pelajaran sejenis, salah satunya adalah menjadi bidang
studi IPS.
3. Pelaksanaan sistem kredit yang memungkinkan siswa menyelesaikan program
pendidikan tidak secara klasikal melainkan secara individu.
Langkah pemerintah selanjutnya adalah melakukan pembaharuan sistem
pendidikan melalui Proyek Perintis Sekolah Pembangunan PPSP. Proyek ini
menyelenggarakan sekolah percobaan di 8 IKIP, yaitu Padang, Jakarta, Bandung,
Yogyakarta, Surabaya, Malang, Ujung Pandang dan Manado. Dalam kurikulum
sekolah tersebut tercantum bidang studi IPS yang merupakan perpaduan dari
sejarah, geografi dan ekonomi, mulai dari SD sampai Sekolah Menengah.
Dalam lingkup yang lebih luas, kemudian pemerintah memberlakukan
kurikulum 1975 bagi semua SD dan SM. Dalam kurikulum ini tercantum bidang studi
IPS, mulai dari SD sampai SM. Secara singkat IPS diartikan sebagai bidang studi
kemasyarakatan secara terpadu (integrasi). Untuk SD, IPS merupakan perpaduan
mata pelajaran sejarah, geografi dan ekonomi. Untuk SMP ditambah kependudukan
dan koperasi. Sedangkan untuk SMA, IPS ditambah lagi tata buku dan hitung
dagang.
Setelah kurikulum 1975 dilaksanakan selama hampir sepuluh tahun,
pemerintah memberlakukan kurikulum baru yaitu kurikulum 1984. Belajar dari
pengalaman implementasi kurikulum 1975 yang tidak memungkinkan penggunaan
IPS terpadu untuk semua jenjang sekolah, maka dilakukan modifikasi. Pada
kurikulum 1984 pengajaran IPS terpadu hanya dilaksanakan di SD, sedangkan di
7
SMP digunakan pendekatan IPS Terkait (korelasi), dan untuk SMA tidak lagi dikenal
IPS terpadu melainkan diajarkan secara terpisah sehingga dikenal dengan nama
mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi, antropologi, sosiologi dan tata negara
yang berdiri sendiri.
Pada periode berikutnya, pemerintah memberlakukan kurikulum baru lagi,
yaitu kurikulum 1994. Menurut kurikulum 1994, program pengajaran IPS di SD terdiri
dari IPS Terpadu dan Sejarah Nasional. IPS terpadu adalah pengetahuan yang
bersumber dari geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi dan ilmu politik yang
mengupas tentang berbagai kenyataan dan gejala dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan Sejarah Nasional adalah pengetahuan mengenai proses perkembangan
masyarakat Indonesia dari masa lampau sampai dengan masa kini. Untuk tingkat
SMP, IPS hanya mencakup bahan kajian geografi, ekonomi dan sejarah. Khusus
mata pelajaran sejarah mencakup materi yang lebih luas yakni mengenai proses
perkembangan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia sejak masa lampau
hingga sekarang. Sedangkan untuk SMA, IPS tetap diajarkan secara terpisah atau
berdiri sendiri.
Dari uraian tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk pertama
kalinya mata pelajaran IPS muncul dalam kurikulum lokal yang dikembangkan oleh
sekolah Ibu Pakasi di Malang dan kemudian diuji cobakan di delapan IKIP di
Indonesia dan diimplementasikan secara nasional sejak diberlakukannya kurikulum
1975.
C. Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial
Hakikat dari IPS terutama jika ditinjau dari peserta didik adalah sebagai
pengetahuan yang akan membina para generasi muda belajar ke arah positif yaitu
mengadakan perubahan-perubahan sesuai kondisi yang diharapkan serta membina
kehidupan masa depan masyarakat agar lebih baik untuk diwariskan kepada
generasi berikutnya. IPS Sebagai panduan dari sejumlah subjek ilmu yang isinya
menekankan pembentukan warga negara yang baik tidak hanya menekankan isi dan
disiplin subjek tertentu. IPS adalah bidang studi yang merupakan perpaduan dari
sejumlah mata pelajaran sosial. Pembelajaran IPS terutama akan berperan dalam
pembinaan kecerdasan, keterampilan, pengetahuan, rasa tanggung jawab, dan
demokrasi. Pokok-pokok persoalan yang dijadikan bahan pembahasan difokuskan
pada masalah kemasyarakatan Indonesia yang aktual. IPS mengemban dua fungsi
utama yaitu, membina pengetahuan, kecerdasan dan keterampilan yang bermanfaat
8
bagi pengembangan dan kelanjutan pendidikan siswa dan membina sikap yang
selaras dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
D. Tujuan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Berdasarkan falsafah negara maka telah dirumuskan tujuan pendidikan
nasional, yaitu:
Membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila membentuk manusia
yang sehat jasmani dan rohaninya, meliputi pengetahuan dan keterampilan, dapat
mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dan dapat menyuburkan sikap
demokrasi dan penuh rasa tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang
tinggi dan disertai budi pekerti luhur, mencintai bangsanya, dan mencintai sesama
manusia sesuai ketentuan yang dimaksud dalam UUD 1945.
Berkaitan dengan tujuan di atas, kemudian apa tujuan pendidikan IPS yang
akan dicapai? Tentu saja harus dikaitkan dengan kebutuhan dan tantangan-
tantangan kehidupan yang akan dihadapi peserta didik. Berkitan dengan hal
tersebut, kurikulum 2004 untuk pendidikan dasar menyatakan bahwa, pengetahuan
sosial (sebutan IPS dalam kurikulum 2004), bertujuan untuk:
1. Mengajarkan konsep-konsep sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah,
kewarganegaraan, pedagogis, dan psikologis.
2. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan
masalah, dan keterampilan sosial.
3. Membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial.
Sejalan dengan tujuan tersebut, tujuan pendidikan IPS menurut Nursid,
Sumaatmaja (dalam Gunawan, 2013:18) adalah “membina anak didik menjadi warga
negara yang baik, yang memiliki pengetahuan, dan kepedulian sosial yang berguna
bagi dirinya serta bagi masyarakat dan negara”, sedangkan secara rinci Oemar
Hamalik merumuskan tujuan pendidikan IPS berorientasi pada tingkah laku para
siswa, yaitu (1) pengetahuan dan pemahaman, (2) sikap hidup belajar, (3) nilai-nilai
sosial dan sikap, (4) keterampilan (Oemar Hamalik, 1992: 40:4).
Numan Soemantri (Gunawan, 2013:19) memberikan penjelasan PIPS adalah
suatu synthetic discipline yang berusaha untuk mengorganisasikan dan
mengembangkan substansi ilmu-ilmu sosial secara ilmiah dan psikologis untuk
tujuan pendidikan. Makna synthetic discipline, bahwa IPS bukan sekedar
mensistesiskan konsep-konsep yang relevan antar ilmu-ilmu pendidikan dan ilmu-
ilmu sosial, tetapi juga mengkorelasikan dengan masalah-masalah kemasyarakatan,
9
kebangsaan, dan kenegaraan. Secara lebih tegas, bahwa pendidikan IPS memuat
tiga sub tujuan, yaitu: Sebagai Pendidikan Kewarganegaraan, Sebagai ilmu yang
konsep dan generalisasinya dalam disiplin ilmu-ilmu sosial; Sebagai ilmu yang
menyerap bahan pendidikan dari kehidupan nyata dalam masyarakat kemudian
dikaji secara reflektif. Sebagai upaya untuk merealisasikan tujuan di atas, perlu
dilakukan bangunan kurikulum yang kuat. Berbagai wacana dan kebijakan
pengembangan kurikulum PIPS telah dilakukan. Upaya yang paling akhir adalah
dengan pengembangan mata pelajaran IPS dalam kurikulum yang terintegrasi untuk
pendidikan dasar dan menengah (SD dan SMP).
Dengan demikian kita dapat melihat betapa kompleks permasalahan-
permasalahan dalam pendidikan IPS. Jika kita melihat perjalanan
perkembangannya, maka begitu banyak perubahan-perubahan terutama dalam
pembentukan kurikulumnya. Oleh karena itu, harapannya adalah kita dapat
menganalisis permasalahan-permasalahan yang ada dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan nasional.
3. Rangkuman
IPS diambil dari berbagai disiplin ilmu sosial seperti geografi, sejarah,
sosiologi, antropologi, psikologi sosial, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, dan ilmu-
ilmu sosial lainnya yang dijadikan sebagai bahan baku bagi pelaksanaan program
pendidikan dan pengajaran di sekolah dasar dan menengah.
Pengembangan kurikulum ilmu-ilmu sosial menjadi IPS sejak tahun 1975
dilatarbelakangi oleh dua hal penting, yakni sejarah atau pengalaman hidup
masyarakat yang labil di masa lalu dan laju perkembangan teknologi ke depan yang
perlu disikapi agar peserta didik yang dihasilkan relevan dengan kondisi yang akan
dihadapi dalam masyarakat. Hakikat IPS adalah telaah tentang manusia dan
dunianya. Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama dengan
sesamanya. Dengan kemajuan teknologi pula sekarang ini orang dapat
berkomunikasi dengan cepat dimanapun mereka berada. Kemajuan Iptek
menyebabkan cepatnya komunikasi antara orang satu dengan yang lainnya, antar
negara satu dengan negara lainnya. Dengan demikian arus komunikasi akan
semakin cepat pula mengalirnya.
Tujuan pendidikan IPS yaitu sebagai pendidikan kewarganegaraan, sebagai
ilmu yang konsep dan generalisasinya dalam disiplin ilmu-ilmu sosial, dan sebagai
10
ilmu yang menyerap bahan pendidikan dari kehidupan nyata dalam masyarakat
kemudian dikaji secara reflektif.
4. Evaluasi
1. Uraikan secara singkat sejarah perkembangan ilmu sosial di Indonesia!
2. Jelaskan hakikat ilmu pengetahuan sosial!
3. Jelaskan tujuan pendidikan ilmu pengetahuan sosial!
11
BAB 3
KONSEP, CIRI-CIRI KONSEP DAN HUBUNGAN FAKTA DAN
KONSEP
Topik 2. Konsep, Ciri-ciri Konsep dan hubungan Fakta dan Konsep
1. Sub Capaian Pembelajaran MK
Setelah mempelajari topik ini mahasiswa mampu:
- Memahami tentang pengertian fakta dan konsep
- Mengetahui ciri-ciri konsep
- Memahami hubungan fakta dan konsep
2. Uraian Materi
Ilmu-ilmu sosial mempelajari tindakan-tindakan manusia yang berlangsung
dalam proses kehidupan dalam upaya menjelaskan mengapa manusia berprilaku
seperti apa yang mereka lalukan. Setiap ilmu sosial (sejarah, geografi, ilmu politik,
ekonomi, sosiologi dan antropologi serta psikologi sosial) memandang manusia dari
berbagai sudut pandang dan menggunakan metode kerja yang berbeda untuk
memperoleh struktur ilmunya. Pengetahuan tentang tindakan manusia ini
membentuk suatu dasar bagi materi ilmu pengetahuan sosial.
Sebagai guru IPS harus memahami dan mengetahui dengan benar fakta yang
diajarkan kepada peserta didik, karena fakta merupakan dasar untuk pengajaran
kognitif dalam IPS. Ada dua hal yang memiliki hubungan erat dan harus
dikembangkan dari fakta dasar IPS yakni konsep dan generalisasi. Konsep
dikembangkan dari hubungan antar konsep dalam suatu pola yang mempunyai arti.
Menurut Savage dan Amstrong (dalam Taneo, 2010:111) Struktur ilmu sosial
tersusun dalam tiga tingkatan yang membangun materi-materi ilmu sosial dari yang
paling sempit ke yang paling luas, yaitu: 1) fakta, 2) konsep, dan 3) generalisasi.
A. Fakta
Dalam kehidupan sehari-hari anda mungkin sering menemukan suatu
kejadian atau keadaan, misalnya angin berhembus, laut berombak, air menguap,
awan dilangit, air turun dari langit, dan sebagainya. Hal-hal tersebut bisa disebut
fakta. Fakta adalah informasi atau data yang ada/terjadi dalam kehidupan dan
kumpulan oleh para ahli ilmu sosial yang diakui kebenarannya. Namun fakta ini
mempunyai kekuatan menjelaskan yang terbatas. Fakta keberlakuannya terbatas
(kurang berlaku umum). Beberapa contoh fakta lainnya adalah sebagai berikut:
12
1) Gunung Semeru meletus pada tanggal 4 Desember 2021.
2) Gempa, tsunami dan likuifaksi di Palu Sulawesi Tengah pada tanggal 28
September 2018.
3) Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
4) Orde Reformasi dimulai tahun 1998.
5) Penduduk Indonesia berkonsentrasi di Pulau Jawa, Bali, dan Madura.
6) Rupiah alat tukar sah di Indonesia.
Fakta merupakan hal yang penting untuk susunan ilmu, karena fakta tersebut
membentuk konsep dan generalisasi. Menurut Savage dan Amstrong bahwa konsep
tidaklah dipelajari dalam kekosongan, melainkan dicapai dalam suatu proses yang
melibatkan fakta-fakta yang dapat membantu peserta didik untuk mampu memahami
konsep dan menggeneralisasikannya.
Fakta merupakan tingkatan yang paling rendah dari suatu abstraksi. Suatu
fakta adalah keadaan fictual (yang sebenarnya) dan harus diterima apa adanya,
fakta tidak memiliki konotasi nilai. Fraenkel (dalam Taneo, 2010:117) menyataka
fakta adalah suatu yang betul-betul ada atau sesuatu yang terjadi dimasa lampau.
Fakta meliputi semua aktivitas individu, peristiwa, lokasi tempat, obyek, dan
peraturan tentang prosedur tertentu. Ciri pokok fakta adalah kekhasannya dan
sifatnya yang tidak berulang-ulang. Oleh karena itu sering dikatakan bahwa fakta
bersifat “buntu”.
Melihat sifat fakta yang khas dan buntu banyak pakar pendidikan
menganggap bahwa fakta tidak menghasilkan ide atau pengetahuan yang baru dan
cepat usang. Akan tetapi fakta tetap mempunyai manfaat jika fakta merupakan
bahan ramuan dari pemikiran, dan menjadi bahan dasar untuk pembentukan konsep.
Fakta bersama-sama konsep merupakan bangunan utama pengetahuan. Hal ini
mempunyai arti bahwa untuk mempelajari ilmu pengetahuan diperlukan fakta-fakta.
Sulit untuk mempelajari ilmu pengetahuan tanpa fakta. Demikian juga dalam proses
pembelajaran, informasi verbal merupakan bagian utama bahkan sering kali menjadi
prasyarat untuk belajar lebih lanjut. Informasi verbal sebagian besar terdiri atas fakta-
fakta, nama-nama dan pengetahuan dasar.
Dalam hubungannya dengan pembentukkan konsep, fakta harus dipilih secara
selektif, agar tidak banyak fakta usang, sehingga sistem berpikir menjadi kurang.
Fakta yang harus dipilih adalah fakta yang dapat dijadikan wadah atau pengikat atau
dasar dari rincian apabila diperlukan.
13
Ciri-ciri fakta yaitu: (1) bersifat khas, (2) bersifat konkret, dan (3) tidak
berulang-ulang. Maka dari itu fakta bersifat lepas, tidak terikat dengan fakta lain
secara logis. Fakta-fakta dalam IPS meliputi fakta yang berhubungan dengan
masyarakat dan lingkungannya.
B. Konsep
Konsep disini bukanlah istilah untuk menunjuk konsep tulisan, yang berarti
rancangan atau tulisan awal yang belum jadi. Konsep secara sederhana adalah
penamaan (pemberian label) untuk sesuatu yang membantu seseorang mengenal,
mengerti dan memahami sesuatu. Konsep adalah kesepakatan bersama untuk
penamaan sesuatu dan merupakan alat intelektual yang membantu kegiatan berpikir
dan memecahkan masalah. Jika kita menemukan sejumlah informasi misalnya: ada
sebuah benda padat yang besar, benda itu terbuat dari besi atau kayu, digerakkan
dengan mesin atau layar, berjalan diatas air, digunakan untuk mengangkut
penumpang dan barang, maka kemudian dengan kemampuan mental kita, informasi
atau fakta itu dapat kita sederhanakan dengan memberi label atau nama "kapal laut".
Gambar 2. Ilustrasi Konsep Kapal Laut
Sumber:https://assets.promediateknologi.com/crop/0x0:0x0/x/photo/2021/09/25/161298940.jpg
Konsep menurut Moore (Taneo, 2010:118) adalah "sesuatu yang tersimpan
dalam pikiran-suatu pemikiran, suatu ide atau gagasan”. Sedangkan Parker
menyatakan bahwa "konsep/gagasan-gagasan tentang sesuatu, konsep adalah
suatu gagasan yang ada melalui contoh-contohnya". Dalam definisi yang kedua
tergambar bahwa seseorang mesti terlibat dalam proses berpikir, yakni menyadari
contoh-contoh konsep.
Proses berpikir ini disebut konseptualisasi, yaitu suatu proses yang terus-
menerus yang berlangsung ketika seseorang menemukan contoh-contoh baru dari
14
suatu konsep. Jadi suatu kesan mental (mental image) dari suatu konsep yang
dihadapi, akan berbeda tergantung pada latar belakang atau pengalaman orang
yang melakukan konseptualisasi.
Konsep dinyatakan dalam sejumlah bentuk: konkret atau abstrak; luas atau
sempit; satu kata atau frase. Beberapa konsep adalah konsep konkret, misalnya
yang berkaitan dengan tempat, objek, lembaga, atau kejadian seperti: manusia,
gunung, pulau, lautan, daratan, rumah, negara, pantai, politik, barang konsumsi,
produsen, pabrik, gempabumi, kemarau, dan sebagainya. Sementara itu itu konsep
lainnya bersifat abstrak, misalnya: demokrasi, toleransi, adaptasi, kejujuran,
kesetiaan, kebudayaan, kemerdekaan, keadilan, kebebasan, saling ketergantungan,
tanggung jawab, kerjasama, hak, kesamaan, pertentangan, sistem hukum, dan
sebagainya.
Beberapa konsep begitu luas dan bstrak sehingga sulit untuk dirumuskan dan
harus diuraikan agar dapat dipahami, misalnya konsep kebudayaan, kasih-sayang,
dan lain-lain. Sementara itu ada konsep yang sangat sempit dan penggunaannya
terbatas, misalnya rumah. Konsep juga bisa terdiri dari satu kata, misalnya kerja,
namun bisa juga berupa frase seperti pembagian kerja.
Mengapa konsep itu penting? konsep membantu seseorang untuk
mengorganisasikan informasi atau data yang mereka peroleh. Konsep menempatkan
informasi dalam kategori-kategori atau kelompok-kelompok dan mempertimbangkan
antar data. Berbeda dengan fakta yang sifatnya terbatas pada situasi tertentu,
konsep mempunyai penerapan yang luas dan dapat multi interpretasi (banyak
penafsiran).
Bagaimana konsep diperoleh? seorang harus mengenal memahami dan
merumuskan data fakta yang menjadi ciri atau atribut dari suatu konsep. Konsep
merupakan sejumlah fakta yang memiliki keterkaitan dengan makna atau definisi
yang ditentukan. Konsep diberi label atau nama berupa kata-kata. Karakteristik atau
ciri konsep disebut atribut. Misalnya konsep “mobil” dapat dijelaskan dengan atribut-
atribut berikut: (1) kendaraan beroda dua, (2) digerakkan dengan mesin, (3)
berbahan bakar bensin.
15
Gambar 3. Ilustrasi Konsep Mobil
Sumber: https://img.inews.co.id/media/822/files/inews_new/2019/02/10/lambor.jpg
Dalam ilmu-ilmu sosial banyak konsep yang sulit dijelaskan atributnya dengan
kata-kata sederhana, seperti demokrasi, kebudayaan, keadilan, sosialisasi dan lain-
lain. Untuk itu marilah kita telaah apa yang dimaksud dengan konsep lebih dalam
dan rinci. Menurut Sunaryo konsep adalah sekelompok fakta atau data yang memiliki
ciri-ciri yang sama dan dapat dimasukkan ke dalam satu nama label. Lebih jelas lagi,
konsep adalah suatu abstraksi mengenai suatu kelompok benda atau stimulasi yang
mempunyai persamaan karakteristik. Hasil dan abstraksi tersebut dinamakan
konsep. Dengan demikian namanya lah yang membedakan antara satu konsep
dengan konsep lainnya Nursid Sumaatmadja (dalam Taneo, 2010: 120).
Agar pengertian konsep menjadi lebih jelas, berikut adalah contoh tentang
sebuah konsep dalam kehidupan sehari-hari yaitu “buku”, setiap kali orang menyebut
buku maka dalam pikiran terdapat gambaran abstrak tentang apa yang dinamakan
buku. Selanjutnya kita akan selalu dapat menunjukkan mana yang dimaksud buku
dan mana yang dimaksud map, dengan buku kita akan membayangkan adanya
lembaran-lembaran halaman kertas sedangkan map kita bayangkan berupa karton,
plastik ataupun kulit yang mempunyai bentuk tertentu yang berbeda dengan buku.
Selanjutnya buku juga beragam jenisnya, antara lain buku tulis, buku pelajaran, buku
harian, buku sastra, dan sebagainya. Semua itu membentuk suatu kumpulan yang
mempunyai karakteristik atau ciri-ciri yang sama, yaitu adanya lembaran-lembaran
halaman yang digabungkan dalam bentuk tertentu. Karena ciri-cirinya yang sama itu
maka dinamakan buku. Namun harus diingat bahwa buku tulis, buku harian, buku
sastra, dan sebagainya itu dalam tingkatannya masing-masing adalah juga sebuah
konsep. Jadi konsep itu mempunyai tingkatan-tingkatan. Yang membedakan
tingkatan suatu konsep dengan konsep lainnya adalah derajat abstraksi yang
16
dimilikinya. Dalam contoh di atas, konsep buku mempunyai tingkat abstraksi lebih
tinggi dari pada konsep buku pelajaran.
Hal yang membedakan tingkat abstraksi suatu konsep dalam konsep lainnya
adalah karakteristik utama konsep yang disebut atribut. Atribut adalah sifat yang
membedakan suatu konsep, sehingga menimbulkan bermacam-macam konsep.
Setiap konsep mempunyai atribut dan tidak selalu sama jumlahnya dan kualitasnya.
Semakin tinggi tingkat abstraksi suatu konsep, makin berkurang jumlah atributnya,
sehingga ada semacam perbandingan terbalik atau korelasi negatif. Uraian berikut
akan lebih memperjelas pernyataan perbandingan tersebut.
Agar lebih mudah memahami konsep, misalnya laki-laki dan perempuan
sebagai konsep. Yang membedakan antara laki-laki dan perempuan sebagai konsep
adalah atribut-atributnya seperti bentuk fisik, suara, dan alat kelamin. Dengan
demikian ada tiga atribut yang dipergunakan. Namun pada tingkat manusia hanya
terdapat satu atribut, yang membedakannya dengan makhluk lain (misalnya hewan).
Yang dipergunakan sebagai atribut utama antara manusia dengan hewan adalah
kemampuan berpikir manusia dalam mengubah lingkungannya. Di sini sangat jelas
bahwa jumlah atribut yang diperlukan untuk membedakan konsep yang lebih abstrak
lebih sedikit jumlahnya. Atribut berpikir tidak dapat dilihat secara langsung, tidak
seperti atribut yang membedakan antara laki-laki dan perempuan, sehingga
meskipun sedikit jumlah atributnya ternyata cukup sebagai alat pembeda.
Atribut suatu konsep memiliki nilai, nilai ini mempunyai daya pembeda seperti
atribut. Suatu atribut yang sama apabila mempunyai nilai-nilai yang berbeda
menyebabkan kita dapat membedakan adanya konsep yang berlainan. Peranan nilai
atribut ini sangat penting, jika kita membedakan dua konsep yang mempunyai
kedudukan yang sejajar. Sebagai contoh kita akan membedakan antara laki-laki dan
perempuan dengan atribut yang kita pergunakan sama yaitu bentuk fisik, suara dan
alat kelamin. Ketiga atribut ini kita kenakan baik kepada konsep laki-laki maupun
konsep wanita. Kita dapat membedakan antara laki-laki dan perempuan karena
bentuk fisik laki-laki dan wanita berbeda.
C. Ciri-Ciri Konsep
Setelah mengetahui apa itu konsep, anda juga perlu mengetahui ciri-ciri
konsep. Berikut adalah ciri-ciri dari konsep, yaitu:
1. Konsep ini sifatnya abstrak dan gambaran mental dari objek, peristiwa atau
kegiatan.
17
2. Secara umum konsep adalah kumpulan benda yang memiliki sifat atau kualitas.
3. Konsep bersifat personal.
4. Konsep dapat dipahami dengan belajar dari pengalaman.
5. Arti konsep bukan pertanyaan tentang makna kata seperti dalam kamus, tapi
lebih luas dan berbeda.
De Decco dalam (Tanoe, 2010:121) membagi konsep menjadi tiga jenis, yaitu
konsep konjungtif, kosep disjungtif, dan konsep relasional. Suatu konsep dinamakan
konjungtif apabila nilai-nilai yang sesuai dan atribut-atributnya terdapat dalam
sekelompok benda secara bersama-sama. Sebagai contoh, kita mempunyai
sejumlah buku Pendidikan IPS. Buku tersebut memiliki ketebalan, jumlah halaman,
materi, sampul dan warnanya sama. Karena semua atribut dan nilai-nilainya sama,
maka dinamakan konsep konjungtif. Karena mudah pengenalannya maka konsep
konjungtif ini merupakan konsep yang paling rendah tingkatnya. Dengan demikian
konsep konjungtif ini sangat cocok untuk keperluan tingkat pendidikan rendah seperti
kelas-kelas permulaan SD. Pada tingkat SD, konsep kongjungtif memegang peranan
penting karena tingkat kemampuan berpikir peserta didik yang masih bersifat konkrit
menghendaki pengembangan dari hal-hal yang bersifat konkret.
Kegiatan absraksi baru terjadi pada jenis konsep disjungtif, meskipun tidak
semua atribut dan nilai atributnya harus sama. Dari apa yang dimiliki oleh
sekelompok benda kita mencoba mencari persamaan yang dapat kita abstraksikan
dari “ketidak samaan” yang ada pada benda-benda tersebut. Lebih jelasnya kita
ambil contoh buku Pendidikan IPS dan buku Pendidikan Kewarganegaraan. Buku
pendidikan IPS dan Pendidikan Kewarganegaraan mempunyai atribut dan nilai
atribut yang sama karena kedua konsep buku tersebut merupakan konsep bacaan
ilmiah. Namun demikian, di samping mempunyai persamaan-persamaan, buku
tersebut juga mempunya perbedaan-perbedaan, misalnya jumlah halaman, materi,
sampul, warna, dan sebagainya. Oleh karena itu dua konsep tersebut tidak memiliki
semua atribut dana nilai yang sama, maka disebut dengan konsep disjungtif. Jika
konsep konjungtif merupakan konsep yang paling rendah tingkatnya, maka konsep
disjungtif merupakan konsep lebih sukar karena harus menarik kesimpulan atau
mencari abstraksi persamaan antara benda-benda yang tidak sama.
Jenis konsep yang terakhir adalah konsep relasional, yaitu gabungan
sekelompok benda yang atribut-atributnya mempunyai hubungan yang kita ciptakan.
Tingkat konsep relasional lebih mudah dipahami dari pada konsep disjungtif.
18
Sebagai contoh konsep kepadatan penduduk, konsep waktu, dan konsep arah.
Setiap kita berbicara tentang kepadatan penduduk, maka kita akan mempergunakan
hubungan atau relasi. Dalam hal ini kita menghubungkan dengan sejumlah
penduduk yang hidup dalam daerah per-Km jumlah penduduk tertentu, dan dimana
mereka hidup. Demikian juga dengan konsep waktu, kita mempergunakan angka
tahun sebagai patokan atau titik waktu tertentu. Sedangkan konsep arah, kita
mempergunakan titik mata angin yaitu utara, selatan, barat, timur dan seterusnya.
D. Hubungan Fakta dan Konsep
Fakta merupakan salah satu bahan kajian yang sangat penting dalam IPS.
Dengan fakta-fakta yang ada kita dapat menyimpulkan sesuatu atau beberapa
peristiwa yang pernah terjadi. Fakta merupakan titik awal untuk membentuk suatu
konsep. Hubungan yang erat antara fakta dan konsep dapat dilihat dari ilustrasi
berikut ini:
1) Bangsa Indonesia berperang melawan penjajahan.
2) Bangsa Indonesia dan dunia berjuang melawan terorisme.
3) Bangsa dan negara Indonesia menentukan nasibnya sendiri.
Fakta-fakta tersebut di atas tampak saling berhubungan dan membentuk
suatu gagasan atau konsep tentang “kemerdekaan”. Suatu bangsa yang merdeka
berani berkorban untuk memperjuangkan atau mempertahankan kemerdekaannya,
bebas menentukan nasibnya sendiri, kedudukannya sederajat dengan bangsa lain.
Jika peserta didik membaca dan mendengar hal tersebut maka pikirannya terbentuk
pengertian atau konsep tentang kemerdekaan.
3. Rangkuman
Fakta adalah suatu yang benar ada dan bersifat khas, konkrit, dan tidak
berulang. Dalam IPS fakta berhubungan dengan masyarakat dan lingkungannya,
oleh karena itu jumlahnya tidak terbatas. Fakta merupakan titik awal untuk
membentuk suatu konsep.
Konsep adalah sekelompok fakta yang mempunyai ciri-ciri sama dan dapat
dimasukkan dalam suatu nama label. Konsep satu dengan lainnya berbeda karena
masing-masing konsep mempunyai atribut dan nilai atribut yang berbeda. Tanpa
fakta dan konsep kita tidak dapat mempelajari ilmu pengetahuan.
4. Evaluasi
1. Rumuskan dengan kata-kata sendiri pengeritan fakta dan konsep dalam IPS!
19
2. Diskusikan dengan teman anda, atas pertanyaan: Mengapa fakta dan
konsep penting dalam IPS khusunya, dan ilmu pengetahuan pada umumnya!
3. Susunlah suatu steatmen yang dapat menggambarkan keterhubungan
antara fakta dan konsep (topiknya bebas)!
20
BAB 4
PROSEDUR PEMBENTUKKAN KONSEP
Topik 3. Prosedur Pembentukkan Konsep
1. Sub Capaian Pembelajaran MK
Setelah mempelajari topik ini mahasiswa mampu:
- Menganalisis prosedur pembentukkan konsep
2. Uraian Materi
A. Pembinaan Konsep dalam IPS
Pembinaan konsep, berarti mengajarkan aspek konotatif dari suatu konsep
sehingga membentuk suatu abstraksi pada diri peserta didik. Pembinaan konsep ini
berlangsung dimulai dari hal-hal yang konkret kemudian secara berangsur-angsur
mengarah pada pengertian abstrak. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, guru IPS
harus melakukan berbagai metode interaksi edukatif (multi-metode) dan berbagai
media pembelajaran (multi-media).
Agar lebih jelas lagi pengertian konsep dan pembinaan konsep kita gunakan
contoh. Misalnya pada suatu pembahasan IPS guru bermaksud menanamkan kata
sungai, industrialisasi, demokrasi dan pranata sosial sebagai konsep-konsep IPS.
Dalam proses belajar mengajar, guru IPS hendaknya menerapkan multi-metode dan
multi-media dalam melakukan pembinaan konsep.
Dalam hal ini peserta didik diharapkan dapat menangkap, menghayati, dan
meresapi konsep-konsep tersebut pada pengertian yang lebih luas, mulai dari
pengertian dan keadaannya yang konkret sampai pada pengertian abstrak yang
berkaitan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Sebagai suatu konsep, sungai
memiliki pengertian yang tidak hanya pada arti kata dan fakta saja, melainkan harus
mengungkapkan pula pengertian-pengertian yang lebih luas, terkait jenis dan
fungsinya bagi kehidupan sosial-ekonomi, penyebarannya dipermukaan bumi, dan
sebagainya. Semua pengertian yang terkandung secara komperhensif dalam kata
sungai merupakan suatu konsep. Demikian pula dengan konsep kata lainnya.
Agar peserta didik dapat memahami pengetian konsep-konsep IPS, maka
guru hendaknya memperhatikan hal-hal penting dalam mengajarkan konsep-konsep
IPS. Yelon (dalam Taneo, 2010: 124) mengemukakan bagaimana prosedur
pembentukan konsep yang baik sebagai berikut:
21
1) Merumuskan tujuan.
Guru harus menetapkan tujuan tertentu untuk masing-masing mata pelajaran.
Dalam mengajar konsep, guru hendaknya memberi kesempatan kepada siswa
untuk menggunakan kemampuannya dalam memberikan atau memilih contoh-
contoh tentang konsep.
2) Menyadari adanya pengetahuan prasyarat yang akan membantu pemahaman
konsep.
Syarat utama mempelajari konsep adalah memilah-milah, yaitu membedakan
antara obyek yang satu dengan simbol yang lain. Selanjutnya guru harus mampu
menunjukkan atribut definisi dan memahami konsep. Misalnya untuk dapat
memahami demokrasi, maka siswa harus dapat memberikan atribut definisi dari
demokrasi dan memahami subkonsep-subkonsep demokrasi, seperti
musyawarah, kedaulatan rakyat, pemungutan suara, dan sebagainya.
3) Menyajikan definisi dan contoh-contoh.
Guru harus menyajikan definisi contoh-contoh. Sebab konsep akan mudah
dipahami apabila:
- Aspek yang relevan dengan stimulus jelas dan aspek yang tidak relevan
dengan stimulus kurang jelas atau kurang tajam.
- Jumlah aspek yang tidak relevan dengan stimulus dikurangi.
- Banyak menggunakan contoh-contoh yang positif.
- Memberikan definisi dan contoh atas obyek yang dipelajari.
4) Memberi kesempatan kepada siswa untuk merespon dan memberikan feedback.
Untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai konsep, maka sebaiknya
diberikan contoh-contoh lainnya atau siswa didorong untuk memberikan atribut
konsep atau memberikan informasi tentang konsep dengan menggunakan
bahasa mereka sendiri.
B. Pentingnya Konsep
Menurut De Decco (Tanoe, 2010:123), adanya konsep akan membentuk kita
untuk:
1) Menghadapi lingkungan yang kompleks dan luas serta mengurangi kesulitan
dalam menguasai fakta-fakta yang selalu bertambah.
2) Mengidentifikasikan dan mengindera macam-macam objek yang ada disekililing
kita. Apabila seseorang mengidentifikasi sesuatu benda, benda tersebut
dimasukkan dalam kelas tertentu.
22
3) Mengulangi perlunya belajar berulang-ulang hal baru yang sebenarnya
merupakan atribut dan nilai atribut yang sama dengan konsep yang sudah
diketahui.
4) Membantu memecahkan masalah dengan menempatkan masalah dalam
klasifikasi yang benar. Dengan demikian kita memperoleh pemecahan
bagaimana memproses masalah yang dihadapan kita.
5) Memungkinkan kita memberikan pengajaran yang lebih kompleks dan
menerangkan secara lebih jelas.
6) Menggambarkan kenyataan dan dunia.
Dengan melalui konsep seseorang diharapkan dapat berpikir atau melihat
sesuatu yang berhubungan, menciptakan, dan melaksanakan segala sesuatu.
Namun demikian kita harus berhati-hati terhadap konsep stereotipe, yaitu konsep
yang didasarkan atas pengalama-pengalaman yang keliru. Sebagai contoh adalah
konsep tentang orang kulit hitam dengan atribut-atribu kasar, keras, dan jahat.
Menurut Kardiyono (dalam Taneo, 2010:123) dalam memiliki konsep yang
akan diberikan kepada siswa hendaknya pendidikan mendasarkan pada prinsip-
prinsip sebagai berikut:
1) Keperluan
konsep yang akan diajarkan haruslah konsep yang diperlukan oleh siswa dalam
memahami dunia di sekitarnya. Oleh karena itu lingkungan yang berbeda
memerlukan konsep-konsep yang berlainan pula.
2) Ketepatan
Perumusan konsep yang akan diajarkan harus tepat sehingga tidak memberi
peluang bagi penafsiran yang salah. Dengan kata lain merumuskan konsep
jangan menimbulkan salah pemahaman.
3) Mudah dipelajari
Konsep yang diperoleh harus dapat disajikan dengan mudah, fakta dan
contohnya harus terdapat dalam lingkungan hidup serta dikenal siswa.
4) Kegunaan
Konsep yang akan diajarkan hendaknya benar-benar berguna bagi kehidupan
masyarakat Indonesia pada umumnya serta lingkungan masyarakat pada
khususnya.
23
3. Rangkuman
Prosedur pembentukan konsep yang baik sebagai berikut: 1) merumuskan
tujuan, 2) menyadari adanya pengetahuan prasyarat yang akan membantu
pemahaman konsep, 3) menyajikan definisi dan contoh-contoh, 4) Memberi
kesempatan kepada siswa untuk merespon dan memberikan feedback.
Dalam memilih konsep yang akan diajarkan kepada siswa hendaknya
didasarkan pada keperluan, ketepatan, kegunaan, dan kemudahan. Pembinaan
konsep dimulai dari yang konkret berangsur-angsur ke keadaan abstrak. Oleh karena
itu guru IPS harus menggunakan berbagai metode dan media dalam pembelajaran.
Konsep yang akan diberikan kepada siswa hendaknya pendidikan
mendasarkan pada prinsip-prinsip yaitu: keperluan, ketepatan, mudah dipelajari, dan
kegunaan.
4. Evaluasi
1. Silahkan anda amati video berikut ini https://youtu.be/9r2Kmp5gP90!
2. Sebutkan fakta-fakta apa saja yang termuat dalam video tersebut!
3. Buatlah suatu konsep berdasarkan fakta-fakta informasi video tersebut sesuai
dengan prosedur penyusunan konsep!
24
BAB 5
STRUKTUR, KONSEP DAN PROSEDUR PEMBENTUKKAN KONSEP
ESENSIAL SOSIOLOGI
Topik 4. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukkan Konsep Esensial
Sosiologi
1. Sub Capaian Pembelajaran MK
Setelah mempelajari topik ini mahasiswa mampu:
- Menganalisis struktur, konsep dan prosedur pembentukkan konsep
esensial sosiologi
2. Uraian Materi
Pemahaman dan penguasaan konsep-konsep dasar IPS, sangat penting bagi
anda sebagai calon guru. Konsep IPS adalah suatu pengertian yang menjelaskan
fenomena atau benda yang berkaitan dengan IPS. Berikut adalah konsep-konsep
IPS bidang sosiologi.
Setiap manusia sejak lahir telah berhubungan dengan orang lain, paling tidak
dengan ibu dan anggota keluarga lainnya. Pada perkembangan dan pertumbuhan
individu itu selanjutnya, hubungan dengan pihak lain tidak lagi hanya terbatas dalam
keluarga, melainkan telah menjangkau teman sepermainan, para tetangga, dan
demikian seterusnya. Hubungannya tidak lagi sepihak melainkan timbal balik, atau
terjadi interaksi antara seorang individu dengan pihak lainnya. Oleh karena itu,
interaksi tersebut dikonsepkan sebagai interaksi sosial.
Ilmu sosial yang secara khusus mempelajari “interaksi sosial” ini disebut
sosiologi. Menurut Roucek dan Warren (dalam Susanti, 2018: 36) mendefinisikan
sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan
kelompok-kelompok. Brown & Brown mengemukakan: “sosiologi secara kasar dapat
didefinisikan sebagai studi ilmiah tentang interaksi umat manusia”. Sedangkan Frank
H. Hankins (dalam Taneo, 2010:77) lebih rinci mengemukakan: “Sosiologi yaitu studi
ilmiah tentang fenomena yang timbul dari hubungan kelompok dan manusia. Studi
tentang manusia dan lingkungannya dalam hubungan satu sama lain”.
Sosiologi mempelajari manusia dalam konteks sosial yang melakukan
interaksi dengan sesamanya. Sesuai dengan sifat manusia yang dinamis, interaksi
25
sosialnya juga mengalami perkembangan dan perubahan, yang mengakibatkan
terjadinya proses sosial dan perubahan sosial. Dalam proses sosial tersebut,
terutama bagi anak-anak, terjadi proses yang dikonsepkan sebagai sosialisasi. Pada
tahap-tahap selanjutnya, proses sosial dan perubahan sosial yang terjadi di
masyarakat tersebut menyebabkan terjadinya kemajuan, maka dapat dikonsepkan
sebagai modernisasi.
Berdasarkan pembahasan singkat yang dikemukakan tersebut, konsep-
konsep dasar sosiologi sebagai berikut:
1) Interaksi sosial
2) Sosialisasi
3) Kelompok sosial
4) Lapisan sosial
5) Perubahan sosial
6) Mobilisasi sosial
7) Modernisasi
8) Patologi sosial
9) Dan konsep-konsep lain yang dapat digali sendiri dari kenyataan dan
proses kehidupan sehari-hari.
Interaksi ini bagaimanapun intensitasnya, selalu dialami oleh tiap individu dan
selalu terjadi di masyarakat. Manusia sebagai anggota masyarakat, dilandasi oleh
berbagai kebutuhan, selalu melakukan interaksi, baik interaksi edukatif, interaksi
ekonomi maupun interaksi budaya dan interaksi politik. Semua interaksi tersebut
termasuk dalam interaksi sosial. Hasil interaksi sosial berbagai pihak biasanya
menghasilkan konsensus sosial atau kesepakatan sosial, dan hal ini juga termasuk
konsep dasar sosiologi.
Seorang individu, terutama yang masih muda, untuk mampu melakukan
interaksi sosial, pada mulanya ia mengalami sosialisasi yaitu proses penanaman nilai
dan pembelajaran norma sosial dalam rangka pengembangan kepribadian.
Sosialisasi sebagai konsep dasar, terjadi mulai dari keluarga, kelompok
sepermainan, para tetangga, di sekolah sampai dalam lingkungan masyarakat yang
lebih luas. Selama kepribadian sesorang itu berkembang, s osialisasi itu terus
dialaminya.
26
Gambar 4. Ilustrasi Interaksi Sosial
Sumber: https://merahputih.com/media/00/69/31/006931810cc22a8b9ee5cebf6ddc231c.jpg
Interaksi sosial antara seseorang dengan yang lainnya terjadi dalam kelompok
yaitu itu keluarga, teman sepermainan ataupun tetangga. Kelompok tersebut lebih
tepatnya disebut sebagai kelompok sosial tempat terjadinya interaksi antar individu.
Biasanya telah saling mengenal dalam waktu yang relatif lama, ada kaitan rasa
senasib, didikat oleh nilai dan norma yang sama, serta memiliki rasa persatuan.
Kelompok sosial ini merupakan konsep dasar yang penting dalam studi sosiologi.
Secara formal, manusia dalam masyarakat itu terikat dalam wadah kelompok sosial
tersebut.
Selain kelompok sosial yang merupakan kesatuan antar anggota masyarakat,
di dalamnya terbentuk pula pelapisan sosial, yang ditunjukkan oleh pengelompokan
anggotanya berdasarkan ikatan persamaan tertentu, seperti pendidikan, ekonomi,
mata pencaharian, suku bangsa dan lain-lainnya. Sebagai contoh, di dalam
kelompok sosial tersebut terdapat orang yang berpendidikan rendah, menengah dan
tinggi, atau contoh lainnya yaitu adanya pengelompokkan orang miskin, orang yang
berkecukupan dan orang kaya. Pelapisan sosial, merupakan salah satu konsep
dasar yang penting dalam sosiologi.
Dalam kelompok sosial, baik kelompok yang relatif kecil seperti keluarga
maupun kelompok besar seperti suku bangsa, terjadi proses s osial yang alami oleh
setiap orang atau oleh kelompok secara keseluruahan. Selama manusia hidup dan
mempunyai vitalitas dan dinamika, proses sosial ini tidak akan pernah berhenti.
Masyarakat cepat ataupun lambat, selalu beranjak dari tingkat terbelakang ke tingkat
berkembang sampai menjadi masyarakat modern. Sebagai akibat terjadinya proses
sosial ini terjadi pula perubahan sosial yaitu perubahan yang dialami berbagai aspek
kehidupan dan telah didukung serta dialami oleh sebagian besar anggota
27
masyarakat. Proses sosial dan perubahan sosial, merupakan kosep dasar sosiologi
yang dapat dipahami serta dihayati oleh kita masyarakat dari waktu ke waktu.
Apabila proses sosial dan perubahan sosial itu mengarah pada kemajuan, maka
masyarakat tersebut mengalami proses modernisasi. Proses modernisasi yang
meningkat kemampuan mental dari irasional menjadi rasional, dari boros ke hemat,
dari bodoh menjadi pintar, dari tidak terampil ke terampil dan lain sebagainya.
Konsep ini sangat bermakna dalam memahami kemajuan suatu kelompok sosial.
Sebagai akibat proses sosial maka akan terjadi perubahan sosial dan
modernisasi, baik secara perorangan atau kelompok, terjadi perubahan status dari
lapisan bawah ke lapisan menengah dan bahkan sampai ke lapisan atas. Atau juga
terjadi perubahan status dari petani menjadi pedagang atau menjadi pegawai negeri.
Perubahan status, baik yang dialami oleh perorangan maupun kelompok
dikonsepkan sebagai mobilitas sosial. Jika perubahan status tersebut dari lapisan
bawah ke lapisan menengah sampai ke lapisan atas atau sebaliknya, dikonsepkan
sebagai mobilitas vertikal. Sedangkan perubahan status yang sifatnya setara seperti
dari petani jadi pedagang, kemudian menjadi nelayan, dan demikian seterusnya,
mobilitas sosial tersebut dikonsepkan sebagai mobilitas horizontal. Di dalam
kehidupan masyarakat, konsep dasar mobilitas sosial ini dapat diamati dan dipahami
proses berlangsungnya serta kejadiannya.
Manusia dan masyarakat yang dinamis, tidak selalu ada dalam keseimbangan
dan keserasian. Dalam kehidupan sosial terdapat hal-hal yang dianggap sebagai
penyakit masyarakat seperti kejahatan, pengangguran, pelacuran, gelandangan,
kemiskinan, dan sebagainya. Penyakit-penyakit masyarakat yang demikian yang
merupakan masalah sosial, dikonsepkan sebagai patologi sosial. Kondisi atau lebih
tegas lagi, masalah yang demikian itu merupakan salah satu kosep dasar sosiologi
yang wajib dikaji secara mendalam, untuk menentukan alternatif pemecahannya.
Sebagai contoh tawuran pelajar dan remaja yang sering terjadi, merupakan salah
satu bentuk patologi sosial yang wajib mendapatkan perhatian dan kepedulian
segala pihak. Apabila hal tersebut diabaikan, akan menjadi masalah sosial yang
merusak mental generasi muda. Masalah sosial ini juga merupakan konsep dasar
sosiologi.
28
3. Rangkuman
Sosiologi mempelajari manusia dalam konteks sosial yang melakukan
interaksi dengan sesamanya. Sesuai dengan sifat manusia yang dinamis, interaksi
sosialnya juga mengalami perkembangan dan perubahan, yang mengakibatkan
terjadinya proses sosial dan perubahan sosial. Dalam proses sosial tersebut,
terutama bagi anak-anak, terjadi proses yang dikonsepkan sebagai sosialisasi. Pada
tahap-tahap selanjutnya, proses sosial dan perubahan sosial yang terjadi di
masyarakat tersebut menyebabkan terjadinya kemajuan, maka dapat dikonsepkan
sebagai modernisasi.
Konsep-konsep dasar sosiologi sebagai berikut yaitu: 1) interaksi sosial, 2)
sosialisasi, 3) kelompok sosial, 4) lapisan sosial, 5) perubahan sosial, 6) mobilisasi
sosial, 7) modernisasi, 8) patologi sosial, dan 9) konsep-konsep lain yang dapat
digali sendiri dari kenyataan dan proses kehidupan sehari-hari.
4. Evaluasi
1. Konsep-konsep dasar sosiologi bersumber dari interaksi sosial. Cobalah anda
uraikan kebenaran pernyataan tersebut!
2. Silahkan anda amati video berikut ini https://youtu.be/a2uA02zk8nw!
a. Jelaskan konsep-konsep sosiologi berdasarkan video tersebut!
b. Bagaimana menurut anda alternatif penyelesaian masalah berdasarkan
video tersebut!
29
BAB 6
STRUKTUR, KONSEP DAN PROSEDUR PEMBENTUKKAN KONSEP
ESENSIAL SEJARAH
Topik 5. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukkan Konsep Esensial
Sejarah
1. Sub Capaian Pembelajaran MK
Setelah mempelajari topik ini mahasiswa mampu:
- Menganalisis struktur, konsep dan prosedur pembentukkan konsep
esensial sejarah
2. Uraian Materi
Dalam mata kuliah kajian IPS, sejarah terutama ditujukan pada pembahasan
hidup dan kehidupan manusia dalam konteks sosialnya. Oleh karena itu,
pembahasan konsep dasar sejarah menitik beratkan pada sejarah sebagai salah
satu bidang ilmu sosial yang diperuntukkan bagi semua mahasiswa dan peserta didik
pada setiap disiplin ilmu.
Melalui pelajaran sejarah, diharapakan peserta didik/mahasis wa dapat
mengenali perkembangan kehidupan manusia, baik masyarakat bangsanya maupun
masyarakat bangsa lainnya. Peserta didik diharapkan juga dapat memahami
pengaruh yang terjadi antara satu peristiwa dengan peristiwa lain, serta pengaruh
antar masyarakat dan antar bangsa. Melalui pemahaman sejarah rasa kebangsaan
semakin kuat dan mengenal “benang merah” perjuangan bangsa serta
menghidupkan atau menyajikan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu.
Akan tetapi tidak semua peristiwa itu layak untuk disajikan, peristiwa sejarah
disajikan bergantung pada keterhubungan masalah yang terjadi dalam hubungan
konsep disiplin ilmu sosial dalam kajian ilmu sosial yang ada.
Sejarah merupakan suatu kontinuitas dan berlangsung dalam hubungan
kausal. Suatu peristiwa merupakan akibat dari peristiwa sebelumnya dan akan
menjadi sebab dari peristiwa selanjutnya. Untuk memahami akibat peristiwa yang
ada perlu dilandasi dengan pengetahuan sejarah dan konsep-konsep dasar sejarah
menjadi dasar dari pengetahuan tersebut.
Sejarah sesungguhnya melekat pada setiap benda, stiap diri makhluk, baik
yang hidup dan tidak, setiap fenomena di alam raya ini. Mengapa demikian?
30
Jawabannya, setiap benda, setiap diri, dan setiap fenomena tersebut memiliki
riwayat, asal usul yang menyangkut proses, peristiwa dan waktu. Dengan kata lain,
setiap apa yang ada di alam raya ini memiliki sejarah masing-masing, atau paling
tidak ada riwayat asal usulnya. Namun demikian, pada mata kuliah IPS, sejarah ini
terutama ditujukan pada pembahasan hidup dan kehidupan manusia dalam konteks
sosialnya. Oleh karena itu, pembahasan sejarah lebih menitikberatkan pada sejarah
sebagai salah satu bidang ilmu yang dapat dikonsepkan sebagai ilmu sejarah.
Gambar 5. Ilustrasi Konsep Sejarah
Sumber:https://ecs7.tokopedia.net/blog-tokopedia-com/uploads/2018/04/wisata-palu-9-liputan-6.jpg
Menurut Sartono, sejarah merupakan cerita tentang pengalaman kolektif suatu
komunitas di masa lampau. Menurut Alan Nevin, bahwa sejarah adalah jembatan
penghubung masa silam dan masa kini, dan sebagai petunjuk ke arah masa depan.
Kontowijoyo, sejarah dimaksudkan sebagai rekonstruksi masa lalu dan yang
direkonstruksi sejarah adalah apa saja yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan,
dirasakan, dan dialami manusia. R. Moh. Ali, menjelaskan bahwa sejarah
mengandung arti yang mengacu kepada hal-hal:
1) Perubahan-perubahan, kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa dalam
kenyataan sekitar kita.
2) Cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa
realitas tersebut.
3) Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan- perubahan, kejadian-kejadian dan
peristiwa yang merupakan realitas tersebut.
Sisi Gazalba, mengemukakan bahwa sejarah adalah gambaran masa lalu
tentang manusia dan sekitarnya sebagai makhluk sosial, yang disusun secara ilmiah
dan lengkap, meliputi urutan fakta masa tersebut dengan tafsiran dan penjelasan,
31
yang memberi pengertian dan kesepahaman tentang apa yang telah berlalu itu
(Susanti. 2018: 60).
Berdasarkan konsep-konsep yang telah dikemukakan tersebut, inti dalam
pengertian sejarah terletak pada masa lampau, baik berupa peristiwa, pengalaman
kolektif maupun riwayat masa lampau tersebut. Secara singkat, sejarah itu berkaitan
dengan peristiwa masa lampau tentang kehidupan manusia dalam konteks
sosialnya. Dalam konteks tadi, peristiwa atau pengalaman kolektif atau riwayat masa
lampau itu, tidak hanya digambarkan atau dinarasikan sebagai suatu fakta,
melainkan dipahami dan dianalisis, bahkan juga diteliti dengan menerapkan metode
tertentu yang sesuai. Oleh karena itu, sejarah ini tidak hanya sebagai pengetahuan,
melainkan memenuhi syarat juga sebagai bidang ilmu, dalam hal ini termasuk bidang
ilmu sosial.
Secara objektif, suatu peristiwa ataupun pengalaman hidup di masa lampau
tidak dapat diulang kembali. Namun dengan menerapkan suatu metode, peristiwa
atau pengalaman tersebut dapat direkonstruksi, disusun kembali. Secara murni,
tentu saja hasil rekonstruksi tersebut bukan merupakan duplikat sebagai mana
aslinya. Ungkapan sejarah berulang dan mengambil pelajaran dari sejarah, hal
tersebut merupakan kesadaran dari kita manusia bahwa hal-hal tertentu sebagai
pengalaman masa lampau, mungkin terjadi atau berulang untuk diwaspadai,
khususnya berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang membawa kerugian bagi
kehidupan dan kesejahteraan umat manusia dimasa yang akan datang.
Suatu makna yang berharga, dengan mempelajari peristiwa dan pengalaman
masa lampau, dan dihubungkan dengan kejadian serta pengalaman aktual hari ini,
kita dapat mengetahui dan mengkaji perkembangan. Dan dari perkembangan
tersebut, kita dapat memprediksi kejadian-kejadian masa yang akan datang. Sebagai
contoh dengan menelaah sejarah pertumbuhan (penduduk, produksi, perluasan
kota), mulai masa lampau sampai saat ini, kita dapat memprediksi atau paling tidak
melihat kecenderungan masa yang akan datang. Dalam hal ini, belajar, mempelajari
dan mengkaji sejarah, bukan merupakan kegiatan yang statis, tetapi justru
merupakan suatu telaahan yang dinamis ke masa yang akan datang. Hal tersebut
tergantung pada kita sebagai guru IPS mengajarkan dan membelajarkannya, agar
belajar sejarah itu sebagai kegiatan yang dinamis dan tidak membosankan. Bahkan
justru sebaliknya merupakan hal yang sangat menarik untuk dipelajari.
32
Sejarah sebagai bidang ilmu sosial, memiliki konsep dasar yang menjadi
karakter yang dapat membina peserta didik. Konsep-konsep dasar tersebut adalah:
1) Waktu
2) Dokumen
3) Alur peristiwa
4) Kronologi
5) Peta
6) Tahap-tahap peradaban
7) Ruang
8) Evolusi
9) Revolusi
Waktu merupakan konsep dasar pada sejarah, peristiwa itu tidak dapat
dikaitkan sebagai fenomena dan fakta sejarah jika tidak dinyatakan waktu terjadinya,
terutama waktu yang menunjukkan masa lampau. Waktu terutama waktu yang telah
lampau, menjelaskan sifat, bobot dan warna peristiwa yang bersangkutan. Peristiwa
sejarah, dapat dinyatakan sebagai sejarah apabila terkait dengan waktu tersebut.
Konsep yang paling melekat dengan waktu adalah ruang meskipun secara
karakteristik konsep ruang lebih mendekat dengan geografi. Pada abad ke 18,
seorang ahli filsafat Jerman mengemukakan bahwa sejarah dengan goegrafi
merupakan ilmu dwi tunggal, artinya penelaahan sesuatu peristiwa berdasarkan
dimensi waktunya, tidak dapat dilepas dari ruang waktu terjadinya. Sejarah
mengungkapkan kapan terjadinya sedangkan geografi merupakan petunjuk dimana
peristiwa itu terjadi.
Selanjutnya, konsep alur peristiwa tidak lain adalah suatu rentetan peristiwa
atau rentetan pengalaman sejarah masa lampau berdasarkan urutan waktu
terjadinya. Atau dengan ungkapan konsep yang lain yaitu kronologi peristiwa atau
pengalaman sejarah masa lampau. Konsep alur peristiwa dan kronologi,
mengungkapkan dinamika peristiwa atau pengalaman sejarah dari waktu ke waktu
yang menunjukkan perkembangan serta perubahannya. Penerapan dan
pengungkapan peristiwa berdasarkan konsep alur peristiwa serta kronologi
waktunya, selain dapat mengungkapkan prosesnya, juga dapat mengungkapkan
kecepatan proses tersebut, apakah peristiwa atau pengalaman sejarah itu
berlangsung lambat ataukah cepat. Jika peristiwa itu berlangsung secara cepat
dapat disebut revolusi, sedangkan bila sangat lambat disebut evolusi. Dengan
33
demikian, konsep revolusi juga merupakan suatu kata kunci yang dapat diterapkan
dalam telaah sejarah.
Dalam alur peristiwa yang menelaah sejarah kebudayaan secara evolusi, kita
juga dapat mengungkapkan tahap-tahap peradaban sebagai perkembangan
teknologi dan kemampuan penguasaan teknologi manusia dari waktu ke waktu.
Perkembangan masyarakat dari mulai tahap peramu sederhana, dan ke peramu
lebih maju, selanjutnya ke tahap cocok tanam sederhana, dan kemudian ke
masyarakat pertanian maju, merupakan tahap-tahap peradaban masyarakat
berdasarkan penguasaan teknologi serta sekaligus juga tahap ekonominya. Konsep
tahap-tahap peradaban ini dalam penerapan telaahan sejarah, merupakan suatu
metode yang dapat mengungkapkan perkembangan serta kemajuan suatu
masyarakat. Dengan menerapkan pendekatan sesuai dengan konsep tahap-tahap
peradaban, kita dapat merumuskan suatu generalisasi bahwa bagaimanapun
sederhananya masyarakat, pasti akan selalu mengalami perkembangan dan
kemajuan, yang berbeda terjadi diantara suatu masyarakat dengan masyrakat
lainnya terletak pada kecepatannya.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep-konsep dasar
tersebut saling berkaitan dalam peristiwa dan pengalaman masa lampau sebagai
suatu deskripsi serta alur sejarah. Berdasarkan analisis atau kronologi tersebut dari
masa lampau sampai saat ini, kita akan mampu memprediksi suatu peristiwa,
pengalaman atau proses kehidupan manusia di masa yang akan datang. Sejarah itu
merupakan suatu kajian yang tidak statis, justru analisis sejarah itu merupakan suatu
analisis yang dinamis.
3. Rangkuman
Konsep sejarah dalam Ilmu Pengetahuan Sosial, dapat dipahami bahwa
sejarah merupakan gambaran peristiwa masa lampau atau riwayat tentang masa
lampau manusia yang disusun secara ilmiah, ditafsirkan dan dianalisa sehingga
mudah dipahami. Secara objektif, suatu peristiwa maupun pengalaman hidup dimasa
lampau tidak dapat diulang kembali, namun dengan menerapkan suatu metode
dalam susunan ilmiah, peristiwa atau pengalaman masa lampau tersebut dapat
direkonstruksi, disusun kembali.
Pengembangan dan pembinaan susunan ilmiah dalam sejarah sebagai bidang
ilmu sosial dilandasi konsep dasar yang menjadi karakter dirinya. Konsep dasar yang
34
perlu dipahami dalam sejarah yakni: konsep waktu, dokumen, peristiwa, kronologi,
peta, tahapan-tahapan peradaban, ruang, evolusi, serta revolusi. Konsep-konsep
tersebut saling berkaitan dalam peristiwa masa lampau sebagai suatu deskripsi serta
alur sejarah.
4. Evaluasi
1. Silahkan anda amati video berikut ini https://youtu.be/wDC-3N-VbrU
2. Konsep dasar sejarah dalam video tersebut merupakan bagian dari
evolusi, jelaskan!
3. Berdasarkan video tersebut anda mempelajari peristiwa dan pengalaman
masa lampau yang erat kaitannya dengan kejadian serta pengalaman
aktual hari ini. Apa pengaruhnya bagi perkembangan masa yang akan
datang?
35
BAB 7
STRUKTUR, KONSEP DAN PROSEDUR PEMBENTUKKAN KONSEP
ESENSIAL EKONOMI
Topik 6. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukkan Konsep Esensial
Ekonomi
1. Sub Capaian Pembelajaran MK
Setelah mempelajari topik ini mahasiswa mampu:
- Menganalisis struktur, konsep dan prosedur pembentukkan konsep
esensial ekonomi
2. Uraian Materi
Manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, aspek kehidupan
yang menjadi perhatian utama yaitu aspek ekonomi. Pembahasan ekonomi sebagai
salah satu bidang ilmu sosial akan dikatkan dengan koperasi yang menurut undang-
undang menjadi sokoguru perekonomian Indonesia. Akan tetapi pembahasan
tentang ekonomi sebagai bidang ilmu dengan kosep-konsep dasarnya, menjadi topik
pembahasan utama.
Menurut M. Dawam Rahardjo, ekonomi adalah segala aktivitas yang berkaitan
dengan produksi dan distribusi di antara orang-orang. Dalam The Pinguin Dictionary
of Economics, dikatakan bahwa ilmu ekonomi merupakan kajian tentang produksi,
distribusi dan konsumsi kekayaandi dalam masyarakat dunia.
Menurut Suherman rosyidi, ekonomi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang
berdaya upaya untuk memberikan pengetahuan dan pengertian tentang gejala-
gejala masyarakat yang timbul karena perbuatan manusia dalam usahanya untuk
memenuhi kebutuhan atau untuk mencapai kemakmuran, Tarigan (dalam Susanti
2018:46).
Brown & Brown mengemukakan bahwa “ekonomi dapat didefinisikan sebagi
studi tentang cara bagaimana manusia melalui pranata-pranata memanfaatkan
keterbatasan sumber daya modal, sumber daya alam, dan tenaga kerja, memuaskan
kebutuhan materinya”.
Sedangkan Earl E. Muntz menjelaskan bahwa ekonomi adalah suatu studi
tentang cara bagaimana manusia mengorganisasikan sumber daya alam,
36
kemampuan budaya, dan tenaga kerja menopang dan meningkatkan kesejahteraan
materilnya.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa ilmu ekonomi
merupakan suatu studi ilmiah mengenai “bagiamana cara manusia memenuhi
kebutuhan materi”. Selanjutnya bahwa disekitar manusia itu terdapat sumber daya
yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut, namun penyediaannya terbatas,
bahkan ada yang sifatnya langka. Sementara itu kebutuhan materi manusia
cenderung tidak terbatas. Bahkan dari sumber daya tersebut terbuka kemungkinan
alternatif penggunaan tidak hanya terbatas pada kebutuhan pokok manusia. Untuk
menghadapi hal tersebut diperlukan “pertimbangan efisiensi penggunaan sumber
daya”. Hal inilah yang menjadi kajian Ilmu Ekonomi.
Mengenai apa yang didefinisikan di atas, kita dapat mengamati dan
menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari. Hal, fakta, dan masalah yang kita alami
sehari-hari dapat mengembangkan pemahaman tentang ekonomi.
Gambar 6. Ilustrasi Kegiatan Ekonomi
Sumber:https://www.celebes.co/borneo/wp-content/uploads/2020/02/Keindahan-Panorama-Deretan-
Sampan-di-Pasar-Terapung-Lok-Baintan.jpg
Penduduk yang jumlahnya terus mengalami peningkatan maka akan seiring
pula dengan peningkatan pemenuhan kebutuhannya, khususnya kebutuhan materi
yaitu pangan, sandang dan papan (perumahan). Padahal sumber daya yang tersedia
mulai dari lahan (areal tanah), pertanian, hutan, air dan sebagainya persediaannya
terbatas. Oleh karena itu upaya ilmu ekonomi, pakar ekonomi dan kita semua adalah
bagaimana mencari keseimbangan antara kebutuhan manusia yang cenderung
meningkat kuantitas serta kualitasnya dengan kemampuan sumber daya yang
tersedia. Disisi lain alternatif penggunaan dan pemanfaatan sumber daya yang juga
makin bervariasi. Tugas anda sebagai guru IPS, dan kita semua sebagai guru pada
37
umumnya, yaitu bagaimana memberikan pengertian, penghayatan serta kesadaran
kepada peserta didik tentang kecenderungan masalah ekonomi, misalnya
mengembangkan upaya menahan diri dari hidup yang berlebih-lebihan, padahal
kemampuan sumber daya ada dalam keterbatasan.
Untuk mengatur kesejahteraan rakyat, khususnya kesejahteraan ekonomi
Bangsa Indonesia, telah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Pada Pasal 33
yaitu:
1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas
kekeluargaan;
2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai
hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara;
3) Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Dalam Pasal 33 ini juga tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi
dikerjakan oleh semua, untuk semua dibawah pimpinan atau pemilikan anggota-
anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah lebih diutamakan, bukan sekedar
kemakmuran sebagian orang. Oleh karena itu perekonomian disusun sebagai usaha
bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Secara konstitusional, perekonomian
Indonesia itu mengutamakan rakyat banyak. Namun kenyataannya yang dapat kita
amati yaitu sebagian orang semakin hari semakin meningkat hidupnya, sedangkan
sebagian besar rakyat semakin sulit memenuhi kebutuhannya, kepemilikan lahan
pertanian makin sempit, bahkan terancam akan hilang sama sekali. Kepemilikkan
rumah kecenderungannya makin kecil, mengingat harganya terus meningkat,
sedangkan kemampuan daya beli sangat rendah.
Selanjutnya sebelum membahas berbagai konsep dasar ekonomi, kita akan
menyimak pengertian koperasi, secara konstitusional dalam Undang-Undang Nomor
25/1992 tentang Perkoperasian dalam upaya memantapkan ekonomi keluarga.
Berdasarkan undang-undang tersebut “koperasi merupakan badan usaha yang
beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan berlandaskan
kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat
yang berdasarkan atas kekeluargaan. Sedangkan International Cooperative Alliance
(ICA) dalam buku The Cooperative Principles, P.E. Weraman memberikan definisi:
Koperasi adalah kumpulan orang-orang atau badan hukum, yang bertujuan
untuk perbaikan sosial ekonomi anggotanya melalui memenuhi kebutuhan
38
anggotanya dengan jalan berusaha bersama saling membantu antara satu dengan
yang lainnya dengan cara membatasi keuntungan, usaha tersebut harus didasarkan
atas prinsip-prinsip koperasi.
Berdasarkan tulisan Bapak Koperasi Indonesia, Dr. Muhammad Hatta, pada
Hari Koperasi ke-1 tanggal 12 Juli 1951 (A.A. Chaniago, Ch Toweula dkk),
memberikan definisi “koperasi adalah bangun organisasi sebagai badan usaha
bersama berdasarkan atas kekeluargaan”.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan, yaitu bahwa koperasi
adalah kegiatan ekonomi bersama dari para anggotanya, berdasarkan kekeluargaan,
kerakyatan, demi keuntungan bersama, dan tidak mengutamakan keuntungan
ekonomi keluarga semata-mata, melainkan juga memperhatikan keuntungan sosial.
Namun demikian, sebagai suatu bentuk kegiatan usaha, memerlukan penanganan
dan pengelolaan yang profesional. Hal inilah yang belum dipahami oleh kegiatan
usaha ekonomi yang disebut koperasi. Oleh karena itu, masih banyak koperasi yang
menjadi proyek anak angkat perusahaan besar, belum menunjukkan kemandirian.
Kondisi yang demikian, menjadi masalah bagi koperasi sendiri sebagai kegiatan
usaha ekonomi rakyat. Dengan demikian, menjadi panggilan bagi anda sebagai guru
IPS bagaimana memikirkan dan melibatkan diri dalam kegiatan ekonomi tersebut,
untuk meningkatkan kualitas usaha, tujuan mensejahterakan para anggota
berdasarkan atas kekeluargaan dan keuntungan sosial.
Ekonomi yang berasas kekeluargaan, yang menguasai hajat hidup orang
banyak yang diarahkan pada kemakmuran rakyat yang sebesar-besarnya, telah
tercantum dalam UUD 1945. Selanjutnya bagaimanakah kenyataannya hasil upaya
ekonomi tersebut dinikmati sebagian besar penduduk warga negara Indonesia,
masih memerlukan upaya-upaya lebih lanjut. Hal inilah yang wajib menjadi
kepedulian dan perjuangan kita bersama. Nusantara Indonesia tercinta bukan milik
segelintir pengusaha raksasa, meskipun pada kenyataannya demikian, melainkan
menjadi milik otentik seluruh rakyat Indonesia. Pendidikan IPS wajib menggiring
kesadaran, penghayatan dan kepedulian peserta didik terhadap hakikat ekonomi
rakyat yang menjadi amanat UUD 1945.
Setelah kita memperhatikan batasan-batasan ekonomi dan koperasi, berikut
adalah konsep-konsep dasar yang menjadi kunci pokok persoalan yang erat
kaitannya satu sama lain. Konsep-konsep dasar tersebut sebagai berikut.
1. Sumber daya.
39
2. Keterbatasan sumber daya.
3. Kebutuhan yang tidak terbatas.
4. Konsumsi-produksi-distribusi.
5. Penawaran-permintaan.
6. Kekeluargaan.
7. Keuntungan ekonomi.
8. Keuntungan sosial.
9. Alternatif pemanfaatan sumber daya.
10. Sumber daya alternatif.
11. Sumber daya yang terbarukan.
12. Sumber daya tidak terbarukan.
13. Modal.
14. Tenaga kerja.
15. Pemuasan kebutuhan.
16. Surplus-minus-keseimbangan.
17. Efektif-efisien-produktif.
18. Dan hal-hal lain yang dapat digali sendiri lebih lanjut.
Sudah menjadi ketentuan bahwa segala sesuatu yang ada dipermukaan bumi
ini tidak merata. Disuatu daerah terjadi kelebihan (surplus), sedangkan didaerah lain
terjadi kekurangan (minus) atau keterbatasan, bahkan didaerah lainnya lagi terjadi
kelangkaan sumber daya. Pada proses pemenuhan kebutuhan akan sumber daya
tersebut terjadi kegiatan ekonomi yang dikenal sebagai perdagangan. Dalam
memenuhi bahkan mencapai kepuasan kebutuhan, manusia baik perorangan
maupun kelompok, melakukan kegiatan produksi, menghasilkan sesuatu baik yang
langsung dari sumber daya alam maupun melalui proses pengolahan. Proses
produksi tersebut untuk memenuhi konsumsi yang selalu meningkat kualitas dan
kuantitasnya. Konsumsi atau pemakaian barang hasil produksi, tidak selalu tersedia
disuatu daerah, melainkan tersebar diberbagai daerah. Oleh karena itu, untuk
mencapai konsumen harus dilakukan pendistribusian. Produksi yang terus
dilangsungkan, menimbulkan penawaran hasil produk. Sedangkan konsumen
melakukan permintaan atas hasil produksi tersebut. Proses distribusi ini, selain
menyampaikan barang kepada konsumen, juga melakukan proses penyeimbangan
di antara yang kelebihan (surplus) dengan yang kekurangan (minus). Demikianlah
proses dan kegiatan ekonomi berlangsung.
40
Dalam kehidupan ekonomi bangsa Indonesia yang ber-Pancasila, keuntungan
tidak semata-mata adalah keuntungan material, atau keuntungan ekonomi,
melainkan juga wajib memperhatikan keuntungan sosial. Keuntungan ini berarti
keuntungan yang didasarkan semua pihak, baik itu oleh produsen maupun oleh
konsumen.
Dalam hal ini koperasi sebagai suatu badan usaha rakyat yang didukung oleh
para anggotanya, mengutamakan keuntungan sosial tersebut. Namun tanpa
mengabaikan keuntungan material-ekonomi. Bagaimanapun sebagai suatu badan
usaha, akan berkembang berdasarkan keuntungan ekonomi, namun bukan hal yang
utama. Oleh karena itu, badan usaha yang berdasarkan kekeluargaan tersebut harus
dikelola secara profesional.
Modal dalam kegiatan usaha dan kegiatan ekonomi, tidak hanya terbatas
pada alat produksi, gedung, lahan dan keuntungan, namun terutama terletak pada
SDM yang menjadi aset hidup kegiatan dan kehidupan ekonomi tersebut. Oleh
karena itu, baik perusahaan milik negara, milik swasta ataupun milik rakyat dalam
bentuk koperasi, dituntut adanya modal SDM yang bersikap mental wiraswasta.
Orang yang berjiwa perwira yaitu berani, jujur, disiplin, mandiri dan bertanggung
jawab. Orang-orang yang demikian yang dituntut menjadi modal utama dalam
kegiatan usaha dan kegiatan ekonomi. Dengan dimilikinya orang-orang yang
demikian, modal berupa alat produksi, keuangan dan sebagainya dapat digalang
serta didatangkan. SDM yang demikian itulah yang masih langka, umumnya di
Indonesia dan khususnya di lingkungan koperasi. Oleh karena itu, menjadi tuntutan
bagi anda selaku guru IPS bagaimana membimbing, mengarahkan, membina dan
mengembangkan peserta didik untuk bersikap mental wiraswasta bagi kepentingan
diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Sumber daya alam, selain ada yang persediaannya terbatas dan langka, juga
sifatnya tak terbarukan (non renewable resources). Oleh karena itu, pemakaian dan
pemanfaatannya wajib didasarkan atas asa efektif serta efisien. Wajib ada upaya
penggunaan sumber daya yang demikian itu diutamakan bagi kepentingan yang
mendesak dan bagi kepentingan orang banyak. Berkaitan dengan upaya tersebut,
wajib diperhitungkan secara rinci berapa besar keperluannya, penghematan
terhadap sumber daya yang tak terbarukan tersebut. Dengan demikian, pemanfaatan
sumber daya tersebut mencapai kegunaan yang setinggi-tingginya dengan tingkat
produktivitas optimal. Penyalahgunaan sumber daya, kelangkaan dan
41
pemusnahannya, tidak hanya dialami oleh sumber daya yang tidak terbarukan, dapat
juga berdampak pada sumber daya yang terbarukan (renewable resources).
Penggunaan dan pemnfaatan sumber daya hayati yang tidak terkendali, pada tahap
pertama terjadi penggunaan sumber daya dalam jumlah yang besar, selanjutnya
terjadi kelangkaan, yang akhirnya dapat menyebabkan terjadinya kemusnahan
sumber daya. Masalah ini telah dialami oleh jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan
tertentu. Padahal jenis-jenis tersebut memiliki fungsi ekologis mempertahankan
keseimbangan ekosistem.
Kemajuan dan pemanfaatan IPTEK dalam bidang produksi, telah
menyebabkan terjadinya pemanfaatan dan penggunaan suatu jenis sumber daya.
Sebagai contoh penggunaan dan pemanfaatan migas serta batu bara, tidak lagi
hanya untuk bahan bakar, melainkan untuk pemanfaatan dan kepentingan yang
meluas. Dengan proses petrokimia, minyak bumi dan batu bara dimanfaatkan untuk
bahan pakaian, dan kendaraan, kosmetik, obat-obatan, dan lain sebagainya.
Padahal, migas dan batu bara termasuk sumber daya alam yang tak terbarukan.
Masalah ini wajib menjadi perhatian dan kepedulian anda selaku guru IPS serta juga
kepedulian dan perhatian kita semua untuk menyadarkan peserta didik dalam
menggunakan serta memanfaatkan sumber daya alam yang tak terbarukan secara
efektif dan efisien sehingga produktivitasnya optimal.
Menurut penelitian bahwa cadangan mineral minyak bumi dan gas Indonesia
sudah semakin menipis. Indonesia yang semula sebagai negara pengekspor migas
berubah menjadi pengimpor. Dan harga akan semakin mahal jika minyak bumi dan
gas alam tersebut merupakan barang impor, padahal permintaan penggunaannya
semakin meningkat.
Menghadapi keterbatasan, kelangkaan sampai pada tingkat habisnya sumber
daya minyak bumi dan gas alam, wajib dipikirkan sumber daya alternatif, sumber
daya pengganti migas. Indonesia memiliki sinar surya yang melimpah, arus ombak
dan gelombang air laut yang tak kujung berhenti, merupakan sumber daya alternatif
yang belum dimanfaatkan. Untuk melaksanakan upaya pemanfaatan sumber daya
alternatif, dituntut IPTEK yang tepat guna. Untuk memanfaatkan IPTEK tersebut,
menuntut SDM yang handal menciptakan, mengembangkan dan mengolahnya. Oleh
karena itu, peningkatan kemampuan dan kualitas SDM menjadi tuntutan. Secara
kuantitatif, kita bangsa Indonesia memiliki keunggulan komparatif, namun secara
kualitatif, SDM Indonesia belum memiliki keunggulan kompetitif. Oleh negara-negara
42
kecil seperti Singapura, Hongkong, Taiwan dan Korea Selatan saja kita masih
tertinggal. Hal ini sekali lagi menjadi tantangan dunia pendidikan untuk
menempatkan dan memfungsikan diri sebagai agen kemajuan bangsa serta negara.
Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan bagaimana memberdayakan koperasi
sebagai sokoguru perekonomian Indonesia. Mengentaskan koperasi menjadi badan
usaha yang berdaya.
3. Rangkuman
Ilmu ekonomi merupakan suatu studi ilmiah mengenai “bagiamana cara
manusia memenuhi kebutuhan materi”. Selanjutnya bahwa disekitar manusia
terdapat sumber daya yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut, namun
penyediaannya terbatas, bahkan ada yang sifatnya langka. Disisi lain, pemenuhan
kebutuhan oleh manusia cenderung tak terbatas. Oleh karena itu, dalam kenyataan
asas efektif, efisien dan produktif dalam kegiatan ekonomi, menjadi salah satu
landasan yang wajib mendapat perhatian segala pihak secara serius. Sesuai dengan
apa yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945, salah satu asas
perekonomian yang cocok dengan kehidupan bangsa Indonesia yang ber-Pancasila
adalah kekeluargaan. Oleh karena itu, koperasi merupakan salah satu kegiatan
uasaha yang dapat menjamin kehidupan masyarakat banyak di Indonesia. Namun
demikian, penyelenggaraan, penanganan dan pengelolaannya masih menuntut SDM
yang profesionai. Dengan demikian, untuk mencapai, keberhasilan dan tujuan
koperasi yang optimal, wajib diperhatikan persyaratan SDM pengelolaannya.
4. Evaluasi
1. Dalam kehidupan manusia bermasyarakat, ada dua hal yang dapat
dikatakan saling bertentangan, yaitu disatu pihak kebutuhan manusia
cenderung tidak terbatas, namun dipihak lain prsediaan sumber daya yang
ada keterbatasan, bahkan ada yang langka. Cobalah anda jelaskan masalah
yang timbul akibat kesenjangan tadi, dan upaya-upaya apakah yang dapat
menyeimbangkan antara penyediaan dan persediaan sumber daya dengan
konsumsi manusia terhadap sumber daya tersebut.
2. Silahkan anda amati video berikut ini https://youtu.be/IWJYuoVsLxU!
a. Jelaskan konsep-konsep dasar ekonomi berdasarkan pengamatan video
tersebut!
43
b. Bagaimana upaya anda sebagai calon guru IPS SD dalam memberikan
solusi terhadap permasalahan yang terdapat dalam video tersebut?
44
BAB 8
STRUKTUR, KONSEP DAN PROSEDUR PEMBENTUKKAN KONSEP
ESENSIAL GEOGRAFI
Topik 7. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukkan Konsep Esensial
Geografi
1. Sub Capaian Pembelajaran MK
Setelah mempelajari topik ini mahasiswa mampu:
- Menganalisis struktur, konsep dan prosedur pembentukkan konsep
esensial geografi
2. Uraian Materi
Perkembangan kehidupan manusia dipermukaan bumi menunjukkan bahwa
manusia sejak lahir sampai kepada akhir hayatnya, tidak terlepas dari pengaruh alam
lingkungannnya, mulai dari udara yang dihirup, air yang diminum, bahan pangan,
dan tempat berlindung dari cuaca buruk dan binatang liar. Melalui penggunaan dan
pemanfaatan alam untuk kebutuhan hidupnya, manusia secara berangsur-angsur
mengenal berbagai unsur alam ini yang dapat menjamin kehidupannya. Kondisi
hidup yang penuh rintangan dan tantangan, menididik manusia mengenal secara
lebih mendasar dan mendalam. Pengenalan alam yang lebih jauh ini, dimungkinkan
oleh kemampuan manusia mengembangkan dan memanfaatkan akalnya sendiri.
Kemungkinan adaptasi manusia terhadap alam lingkungannya, diungkapkan dalam
bentuk relasi manusi dengan alam tersebut. Bentuk relasi ini berupa berbagai tingkat
dan taraf kehidupan diberbagai ruang dipermukaan bumi.
Sejalan dengan perkembangan kebudayaan dan demografi manusia
dipermukaan bumi, pengenalan manusia terhadap alam lingkungannya., baik yang
menjadi penunjang kehidupannya makin meluas. Pengenalan lingkungan selanjutnya
berbeda-beda, relasi manusia dengan alam lingkungannya bervariasi dari satu
wilayah ke wilayah lainnya (varied ways of living). Variasi kehidupan ini terutama
dipengaruhi oleh tingkat kebudayaan kelompok manusia diwilayah yang tersebut.
Pengenalan dan hubungan manusia dengan alam lingkungannya dan
pengetahuan mengenai suatu daerah (ruang) dipermukaan bumi, yang berkaitan
dengan keadaan alam dengan kebudayaan inilah yang selanjutnya mengembangkan
45