The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Modul ini memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang berbagai konsep-konsep dasar dari ilmu-ilmu sosial. Modul ini memberikan pengetahuan bagi calon guru SD mengenai materi IPS sehingga mampu menanamkan konsep-konsep materi IPS secara baik kepada siswa SD dikemudian hari saat mereka melakukan pembelajaran terkait topik dan materi di SD.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nnur69165, 2022-10-05 04:58:42

KONSEP DASAR IPS SD

E-Modul ini memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang berbagai konsep-konsep dasar dari ilmu-ilmu sosial. Modul ini memberikan pengetahuan bagi calon guru SD mengenai materi IPS sehingga mampu menanamkan konsep-konsep materi IPS secara baik kepada siswa SD dikemudian hari saat mereka melakukan pembelajaran terkait topik dan materi di SD.

Keywords: KONSEP DASAR IPS SD

pengetahuan geografi dan konsep-konsep geografi menjadi dasar ilmu pengetahuan
geografi.

Dari asal katanya, geografi itu berakar dari kata geo berarti bumi, dan
graphein berarti tulisan atau lukisan. Oleh karena itu secara harafiah, geografi itu
berarti lukisan tentang bumi. Namun pada pembahasan oleh para pakar geografi
selanjutnya, pengertian itu tidak hanya sekedar tulisan atau lukisan saja, melainkan
meliputi juga penelaahannya lebih jauh.

Menurut Hartshorne, geografi merupakan studi tentang diferensiasi areal
fenomena yang bertautan di muka bumi dalam arti pentingnya bagi manusia. Toyne
dan Newby menekankan bahwa geografi berkepentingan pertama-tama dengan
lokasi suatu aspek dari kegiatan dan perekonomian manusia yang oleh disiplin
disiplin ilmu lain cenderung diabaikan atau kurang diperhatikan. Menurut Alexander
Gibson, geografi adalah studi studi tentang variasi keruangan di muka bumi, atau
disiplin ilmu yang menganalisis variasi keruangan dalam artian kawasan-kawasan
dan hubungan- hubungan antara variabel-variabel keruangan, (Suharyono 2015:3).

Menurut Williams dalam Council of the Geographical Association (dalam
Taneo, 2010:59) yaitu geografi berkaitan dengan dunia nyata, dunia yang dipelajari
seseorang dengan baik melalui sol sepatu, atau kaki telanjang, atau dengan
mengendarai kereta api, perahu, mobil atau pesawat terbang, dan melalui lukisan
atau gambar atau cara lain. Namun demikian, mempelajari geografi tidak hanya pada
hal-hal yang terlihat dari luar. Penelaahan tersebut meliputi juga sebab-sebab
mengapa dunia nyata tersebut tampak, Berkenaan dengan cara bagaimana hal-hal
tersebut telah mempengaruhi manusia, dan kebalikannya telah dimodifikasi, diubah
dan diadaptasi oleh tindakan manusia.

Konsep yang dikemukakan diatas, selanjutnya kita dapat menyimak bahwa
geografi itu berhubungan erat dengan pengalaman nyata setiap orang sehari-hari.
Hal-hal yang dialami dan dipelajari oleh kita dalam perjalanan dari satu tempat ke
tempat lain, itulah yang disebut geografi. Namun demikian seperti yang dinyatakan di
atas, geografi itu tidak hanya terbatas pada apa yang terlihat dari luar, melainkan
juga meliputi sebab-sebab mengapa yang nampak pada kenyataan itu demikian
adanya. Geografi itu berhubungan juga dengan ilmu kealaman, hal-hal atau
fenomena alam itu mempengaruhi kehidupan manusia, dan kebalikannya bagaimana
tindakan manusia memodifikasi, mengubah serta mengadaptasinya. Dengan
demikian pada, konsep geografi itu terungkap hubungan saling mempengaruhi

46

antara fenomena alam ditempat-tempat tertentu dengan perilaku serta tindakan
manusia.

Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena
geosfer dengan sudut pandang lingkungan atau kewilayahan dalam konteks
keruangan. Berdasarkan definisi geografi tersebut, jelas bahwa yang menjadi objek
studi geografi adalah geosfer yaitu permukaan bumi yang merupakan bagian dari
bumi yang terdiri dari atmosfer (lapisan udara,) litosfer (lapisan batuan, kulit bumi),
hidrosfer (lapisan air, perairan), dan biosfer (lapisan kehidupan). Pada konsep ini,
geosfer atau permukaan bumi tersebut ditinjau dari sudut pandang kewilayahan atau
lingkungan yang menampakkan persamaan dan perbedaan fenomenanya (udara,
batuan, perairan, kehidupan). Persamaan dan perbedaan fenomena tersebut tidak
terlepas dari hubungan dan interaksi keruangan dan unsur-unsur geografi di wilayah
atau dalam lingkungan di permukaan bumi. Selanjutnya tentu anda bertanya
“dimanakah kedudukan manusia dalam geosfer tersebut?” jawabannya, tentu saja
merupakan unsur dari biosfer bersama-sama dengan tumbu-tumbuhan dan binatang
lain yang menmpati bosfer tersebut. Bahkan ditinjau dari peranannya, manusia itu
merupakan faktor yang dominan terhadap lingkungannya (man ecological dominant).

Berdasrkan pengertian geografi yang telah dikemukakan tersebut, dapat
disimpulkan bahwa geografi berkaitan dengan (1) geosfer atau permukaan bumi, (2)
alam lingkungan (atmosfer, litosfer, hidrosfer, biosfer), (3) umat manusia atau
antroposfer, (4) persebaran keruangan fenomena alam dan kehidupan termasuk
persamaan serta perbedaannya, dan (5) analisis hubungan serta interaksi keruangan
fenomena-fenomenanya di permukaan bumi.

Konsep dasar yang dikembangkan pada geografi yaitu kita dapat mempelajari
dua kelompok konsep dasar yang dikemukakan oleh Gatrude Whipple dan oleh
Henry J. Warman (dalam Taneo, 2010:60). Gatrude Whipple mengemukakan 5
konsep dasar geografi, yaitu:

1) Bumi sebagai planet.
2) Variasi cara hidup.
3) Variasi wilayah-wilayah alamiah.
4) Makna wilayah (region) bagi manusia.
5) Pentingnya lokasi dalam memahami peristiwa dunia.
Sedangkan Henry J. Warman mengemukakan konsep dasar sebagai berikut:
1) Konsep kewilayahan atau konsep regional.

47

2) Konsep lapisan kehidupan atau konsep biosfer.
3) Konsep manusia sebagai faktor ekologi yang dominan.
4) Konsep globalisme atau konsep bumi sebagai planet.
5) Konsep interaksi keruangan.
6) Konsep hubungan areal (wilayah).
7) Konsep persamaan areal (wilayah).
8) Konsep perbedaan areal (wilayah).
9) Konsep keunikan areal (wilayah).
10)Konsep persebaran areal (wilayah).
11)Konsep lokasi relative.
12)Konsep keunggulan komparatif.
13)Konsep perubahan yang terus-menerus atau perubahan abadi.
14)Konsep sumber daya dibatasi secara budaya.
15)Konsep bumi yang bundar di atas kertas yang datar atau konsep peta.
Pada tingkat Sekolah Dasar (SD) dan pendidikan dasar, konsep dasar itu
mulai dari arah (mata angin), jarak, peta perbedaan waktu, sungai, gunung, dan
demikian seterusnya secara bertahap serta berkesinambungan. Selanjutnya,
bagaimanakah membina konsep (concept formation) pada diri kita masing-masing
dan terutama pada diri peserta didik yang menjadi tanggung jawab kita masing-
masing? Karena pembinaan konsep itu tidak lain adalah mengajarkan pengertian
konotatif tentang sesuatu. Maka kita selaku guru IPS mengajarkan pengertian yang
seluas-luasnya tentang sesuatu secara bertahap berkesinambungan, sampai terjadi
pola pengertian dalam benak kita dan juga dalam benak peserta didik tentang
sesuatu, secara terurai mulai dari keadaannya yang konkret mudah dipahami oleh
peserta didik sampai ketahap abstrak yang mencirikan konsep tersebut. Sebagai
contoh dapat dikemukakan tentang sungai sebagai suatu konsep dasar geografi. Kita
sebagai guru IPS bertanya kepada peserta didik tentang sungai “apakah ada di
antara mereka yang belum mengenal sungai “.

48

Gambar 7. Ilustrasi Konsep Sungai

Sumber:https://tugujatim.id/wp-content/uploads/2022/05/5250f141-db9b-44af-a8fa-e28a1e13b22a.jpg

Anda yakin tidak ada peserta didik yang belum mengetahui tentang sungai
tersebut. Secara konkret kita telah menyampaikan pengertian sungai tersebut. Kita
dapat menjelaskan arti kata sungai sesuai dengan yang diuraikan dalam kamus.
Selanjutnya dikemukakan bahwa sungai itu adalah daerah sumbernya (daerah hulu),
ada aliran bagian tengah, dan ada muaranya (bagian hilir). Kemudian kita sampaikan
pemanfaatan sungai untuk berbagai keperluan seperti pengairan sawah, pelayaran
atau perhubungan, pembangkit tenaga listrik, perikanan dan seterusnya. Mengenai
daerah sumber atau daerah hulunya, ada yang berasal dari pegunungan, ada yang
berasal dari danau, dan ada pula yang berasal dari daerah es atau daerah salju.
Dengan demikian, sumber airnya itu ada yang berasal dari curahan hujan dan ada
pula yang berasal dari curahan salju. Jika hal-hal yang berkaitan dengan sungai itu
telah mencakup pengertian yang luas maka konsep sungai tersebut telah tertanam
dalam pemahaman peserta didik. Proses pembinaan konsep itu tidak hanya berlaku
untuk bidang studi geografi, melainkan juga untuk semua bidang studi dan semua
bidang pendidikan.

3. Rangkuman
Geografi berkaitan dengan (1) geosfer atau permukaan bumi, (2) alam

lingkungan (atmosfer, litosfer, hidrosfer, biosfer), (3) umat manusia atau antroposfer,
(4) persebaran keruangan fenomena alam dan kehidupan termasuk persamaan serta
perbedaannya, dan (5) analisis hubungan serta interaksi keruangan fenomena-
fenomenanya di permukaan bumi.

49

Konsep geografi yaitu: region, biosfer, ekologi, planet, keruangan,
wilayah/areal, lokasi, keunggulan, komperatif, kesadaran dan penghayatan memiliki
makna efektif yang mendasar pada pembinaan dasar kepribadian peserta didik. Oleh
karena itu, guru khususnya guru IPS di SD memiliki kedudukan, peran dan fungsi
strategi dalam menekankan serta pembina konsep-konsep tersebut.
4. Evaluasi

1. Jelaskan apa tujuan mempelajari konsep-konsep geografi pada siswa
Sekolah Dasar!

2. Silahkan anda amati video berikut ini https://youtu.be/-5U1p1pOzeA!
Bagaimana membina konsep geografi berdasarkan video tersebut!

50

BAB 9
STRUKTUR, KONSEP DAN PROSEDUR PEMBENTUKKAN KONSEP

ESENSIAL ANTROPOLOGI

Topik 8. Struktur, Konsep dan Prosedur Pembentukkan Konsep Esensial
Antropologi

1. Sub Capaian Pembelajaran MK
Setelah mempelajari topik ini mahasiswa mampu:
- Menganalisis struktur, konsep dan prosedur pembentukkan konsep
esensial antropologi

2. Uraian Materi
Kehidupan manusia di masyarakat atau manusia dalam konteks sosialnya,

meliputi berbagai aspek. Salah satu yang bermakna dalam kehidupan manusia yang
juga mencirikan kemajuannya yaitu kebudayaan. Bidang ilmu sosial yang
mengkhususkan kajiannya tentang kebudayaan yaitu Antropologi.

Menurut Meinand Teguh dan Akhmad (dalam Susanti, 2018:33) manyatakan
bahwa kata Antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “antropos” dan “logos”
yang berarti manusia dan ilmu. Antropologi berarti ilmu yang mempelajari tentang
manusia, sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropologi
mempelajari manusia dari segi keragaman fisik dan keragaman kebudayaan (cara-
cara berperilaku, tradisi-tradisi dan nilai-nilai yang dihasilkan manusia), sehingga
antara yang dihasil oleh manusia yang satu dengan manusia lainnya akan berbeda.

William A. Haviland, menyatakan bahwa antropologi ialah studi tentang
kebudayaan, berusaha menyusun pendeskripsian yang bermanfaat tentang manusia
dan perilakunya serta untuk memperoleh keanakeragaman yang lengkap tentang
manusia.

Menurut E.A. Hoebel (dalam Tanoe, 2010:71) secara singkat mengemukakan
“antropolgi adalah studi tentang manusia dengan kerjanya”. Sedangkan
Koentjaraningrat juga secara singkat mengemukakan “antropologi berarti ilmu
tentang manusia”. Berdasarkan pendapat tersebut menyatakan bahwa antropologi

51

merupakan studi atau ilmu tentang manusia”. Hoebel mengemukakan tentang
kerjanya, yang dapat diartikan sebagai “kegiatan pikiran dan pemikiran yang berarti
budaya serta kebudayaannya”. Oleh karena itu, pengertian antropologi disini lebih
tepat dikatakan “antropologi budaya yaitu studi tentang perilaku manusia”.
Sedangkan Koentjaraningrat mengemukakan bahwa antrropologi budaya telah
menjadi mata kuliah resmi di Universitas Indonesia sebagai pengganti ilmu
kebudayaan. Dalam struktur ataupun humaniora, konsep atau istilah ilmu
kebudayaan itu tidak ada. Dengan demikian sebutan antropologi disini berarti
antropologi budaya yang artinya studi atau ilmu yang mempelajari manusia dengan
perilaku sosial dan atau dengan kebudayaannya.

Gambar 8. Ilustrasi Kebudayaan Masyarakat Toraja

Sumber:https://s3.theasianparent.com/tap-assets-prod/wp-content/uploads/sites/24/2022/04/rambu-
[email protected]

Kebudayaan itu dapat diartikan sebagai “hal-hal yang berhubungan dengan
budi dan atau akal”. Mengenai kebudayaan ini, beberapa konsep dari pakar dibidang
ini yaitu, C.A Eliwood mengungkapkan bahwa “kebudayaan adalah nama kolektif
semua pola perilaku ditransparansikan secara sosial melaui simbol-simbol, disini
setiap unsur semua kemampuan kelompok manusia yang memiliki karakteristik, yang
tidak hanya meliputi bahasa, peralatan, industri, seni, ilmu, hukum, pemerintahan,
moral, dan keyakinan kepercayaan saja, melainkan meliputi juga peralatan material
atau artefak yang merupakan penjelmaan kemampuan budaya yang menghasilkan
pemikiran yang berefek praktis dalam bentuk bangunan, senjata, mesin, media
komunikasi, perlengkapan seni dan sebagainya. Pengertian kebudayaan secara
ilmiah berbeda dengan pengertian dengan konotatif sehari-hari. Hal tersebut meliputi
semua bahasa, tradisi, kebiasaan dan kelembagaan. Tidak ada kelompok umat
manusia yang tidak memiliki bahasa, tradisi, kebiasaan, dan kelembagaan,

52

kebudayaan itu sifatnya universal yang merupakan ciri yang berkarakteristik manusia
dalam masyarakat”.

Konsep yang dikemukaan tersebut sangat jelas bahwa “kebudayaan hanya
menjadi milik otentik manusia”. Dari konsep tersebut, maka konsep-konsep dasar
antropologi yang melekat pada kehidupan manusia meliputi:

1) Kebudayaan
2) Tradisi
3) Pengetahuan
4) Ilmu
5) Teknologi
6) Norma
7) Lembaga
8) Seni
9) Bahasa
10) Lambang
11)Dan banyak hal serta fenomena yang dapat digali.
Konsep kebudayaan menurut C.P. Kottak yaitu: “semua populasi manusia
mempunyai kebudayaan, yang menjadi milik umum yang melekat pada manusia.
Kebudayaan inilah yang secara umum merupakan kemampuan yang hanya dimiliki
oleh manusia. Akhirnya dapat dikemukakan ada budaya belajar, yang secara unik
bergantung pada pengembangan kemampuan manusia menggunakan lambang,
isyarat yang memiliki hubungan alamiah dengan hal-hal yang berkaitan dengan
manusia itu sendiri”.
Berdasarkan yang telah dikemukakan oleh Kottak bahwa ada hal yang
menonjol pada manusia yaitu budaya belajar, yang membawa kemajuan yang
sangat pesat pada diri manusia. Budaya belajar, kemapuan akal pikiran yang
berkembang dan dapat dikembangkan, menjadi ladasan pelaksanaan pendidikan
yang membawa kemajuan manusia dengan segala aspek serta unsur
kebudayaannya. Bahkan melalui pendidikan ini, segala sesuatu yang melekat pada
diri manusia yang menjadi konsep dasar antropologi juga mengalami pergeseran.
Dalam hal ini kita mengalami apa yang disebut pergeseran tradisi, nilai, norma, dan
kelembagaan. Yang selanjutnya juga berdampak pada perkembangan dan kemajuan
pengetahuan, ilmu dan teknologi, atau bahkan juga terjadi pengaruh sebaliknya.

53

Selanjutnya mengenai tradisi yaitu kebiasaan-kebiasaan yang terpolakan
secara budaya di masyarakat. Kebiasaan yang dikonsepkan sebagai tradisi ini,
karena telah berlangsung turun-temurun, sulit untuk terlepas dari masyarakat.
Namun karena pengaruh komunikasi dan informasi yang terus-menerus melanda
kehidupan masyarakat, tradisi tersebut mengalami pergeseran. Paling tidak
fungsinya berubah bila dibandingkan dengan maksud semula dalam konteks budaya
masa lampau. Tata upacara tertentu di masyarakat yang semula bernilai ritual
kepercayaan, pada saat ini tata upacara tersebut masih dilakukan, namun nilainya
tidak lagi sebagai bentuk ritual, melainkan hanya dalam upaya untuk
mempertahankan silaturahmi, bahkan hanya sebagai hiburan. Jika tradisi melekat
pada kehidupan dan alam pikiran masyarakat, paling tidak dalam kelompok maka
kebiasaan, lebih melekat pada orang-perorang sebagai anggota masyarakat, dan
tingkat bobotnya juga lebih rendah dari pada bobot tradisi. Kebiasaan
keberlakuannya lebih terbatas bila dibandingkan dengan tradisi. Tegur sapa,
mengetuk pintu saat bertamu, mendahulukan orang tua atau yang dituakan, dan lain
sebagainya hal itu merupakan kebiasaan. Namun contoh lainnya seperti pulang
mudik pada hari lebaran atau tahun baru, sampai saat ini masih menjadi tradisi untuk
kelompok masyarakat tertentu. Kita belum mengetahui apakah ditahun-tahun
mendatang pulang mudik tersebut masih merupakan tradisi ataukah bergeser hanya
menjadi kebiasan. Hal tersebut masih harus diamati lebih jauh.

Dalam lingkungan antropologi dan kebudayaan, pengetahuan, ilmu dan
teknologi merupakan konsep dasar yang terkait dengan budaya belajar. Tiga konsep
dasar itu disebut IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi). Penyatuan tiga konsep
tersebut karena saling berkaitan satu sama lain. Jika pengetahuan merupakan
kumulasi dari pengalaman dan hal-hal yang kita ketahui, sedangkan ilmu merupakan
pengetahuan yang telah tersistematisasikan (tersusun) yang berkarakter tertentu
sesuai dengan objek yang dipelajari, ruang lingkup pembahasannya, dan metode
yang dikembangkan serta diterapkan. Pengetahuan yang menjadi sumber ilmu
sifatnya masih acak. Adapun penerapan ilmu dalam kehidupan untuk memanfaatkan
sumber daya bagi kepentingan manusia., itulah yang disebut teknologi. Pada
masyarakat yang bagaimanapun sederhananya, dan terpencil dari keramaian IPTEK
tetap menyentuh kehidupan mereka, namun kualitasnya berbeda dengan mayarakat
yang telah maju. Dengan mengetahui kondisi tiap kelompok masyarakat termasuk
tradisi, kebiasaan, dan kemajuan IPTEK-nya, kita akan mampu memahami dan

54

menghargai keadaan masyarakat yang berbeda-beda dan dimanapun. Melalui IPS,
anda wajib mengajarkan peserta didik tentang saling mengerti dan saling
menghargai sesama kelompok masyarakat kapan dan dimanapun mereka berada.

Dalam kehidupan masyarakat dan bermasyarakat, keluarga merupakan
lembaga yang memiliki fungsi majemuk. Keluarga menjadi lembaga ekonomi dalam
menjamin kebutuhan pangan, sandang dan papan (rumah), juga berfungsi sebagai
lembaga pendidikan dalam meletakkan dasar pendidikan kepada anggotanya,
keluarga juga menjadi lembaga peradilan dalam mempertahankan keseimbangan
hak dan kewajiban diantara anggotanya, menjadi lembaga pemerintah dalam
menjaga kesejahteraan, ketentraman, keamanan, seluruh anggotanya dan
seterusnya. Oleh karena itu, keluarga dan lembaga merupakan konsep dasar yang
bermakna pada studi antropologi. Dalam konteks budaya dan masyarakat keluarga
dan lembaga selalu menjadi perhatian.

Konsep lain yang memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat
dan budaya adalah nilai dan norma. Nilai dan norma sangat erat kaitannya, namun
memiliki perbedaan yang mendasar. Dalam alam pikiran manusia sebagai anggota
masyarakat melekat apa yang dikatakan baik dan buruk, sopan dan tidak sopan,
salah dan benar dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan nilai yang mengatur,
membatasi dan menjaga keserasian hidup bermasyarakat. Orang yang tidak sopan
dengan orang tua, atau orang yang dituahkan dan orang yang lebih tua, dikatakan
bahwa orang tersebut tidak tau nilai. Pada umumnya dalam tindakan perilaku dan
perbuatan, seseorang selalu sesuai dengan tradisi, kebiasaan dan aturan-aturan
yang berlaku, maka dikatakan orang tersebut mengetahui nilai dan berpegang pada
nilai yang berlaku. Sedangkan norma, lebih mengarah pada ukuran dan aturan
kehidupan yang berlaku dimasyarakat. Oleh karena itu kita dapat menanyakan
“bagaimanakah norma yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu”, hal ini
agar menghindari diri melanggar norma yang berlaku. Menurut aturan (tidak tertulis
ataupun tertulis), contoh lainnya jika ingin bertanya mengacukan tangan atau
telunjuk, perilaku tersebut dinilai sebagai perilaku yang sopan.

Pada tingkat dan taraf yang lebih tinggi kita juga mengenal pranata yang juga
merupakan salah satu konsep dasar dalam kehidupan bermasyarakat dan
berbudaya. Dalam hal ini, kita juga harus membedakan antara pranata dan lembaga
institusi. Untuk menyimak perbedaan tersebut, Koentjaraningrat menjelaskan
“Pranata adalah sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu aktivitas

55

masyarakat yang luas, sedangkan lembaga atau institusi adalah badan atau
organisasi yang melaksanakan aktivitas itu”. Pranata berfungsi memenuhi keperluan
kekerabatan, yaitu perkawinan, tolong menolong, antar kerabat, sopan santun,
pergaulan antar kerabat. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan mata
pencarian yaitu pertanian, peternakan, industri, perdagangan, dan sebagainya.

Bahasa sebagai konsep dasar, memiliki pengertian yang luas. Bukan hanya
merupakan rangkaian kalimat tertulis ataupun lisan. Bahasa sebagai suatu konsep,
meliputi pengertian sebagai bahasa anak, bahasa remaja, bahasa orang dewasa,
bahasa orang awam, bahasa bisnis, bahasa isyarat dan lain sebagainya. Namun
demikian makna dan nilai bahasa sebagai suatu konsep terletak pada kedudukannya
sebagai alat mengungkapkan perasaan, pikiran dan komunikasi dengan pihak pihak
atau orang lain. Bahasa merupakan alat untuk saling mengerti sehingga mampu
mengembangkan hidup dan kehidupan ke tingkat atau taraf yang lebih sejahtera.

3. Rangkuman
Antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “antropos” dan “logos” yang

berarti manusia dan ilmu. Antropologi berarti ilmu yang mempelajari tentang manusia,
sebagai makhluk biologis sekaligus makhluksosial. Antropologi mempelajari manusia
dari segi keragaman fisik dan keragaman kebudayaan (cara-cara berperilaku, tradisi-
tradisi dan nilai-nilai yang dihasilkan manusia), sehingga antara yang dihasil oleh
manusia yang satu dengan manusia lainnya akan berbeda.

Konsep-konsep dasar antropologi yang melekat pada kehidupan manusia
meliputi: 1) Kebudayaan, 2) Tradisi, 3) Pengetahuan, 4) Ilmu, 5) Teknologi, 6)
Norma, 7) Lembaga, 8) Seni, 9) Bahasa, 10) Lambang dan banyak hal serta
fenomena yang dapat digali.

Dalam pendidikan IPS, pembinaan konsep merupakan salah satu strategi
mengajar dan bermakna untuk pengembangan peserta didik agar memiliki
kemampuan konseptual dimasa yang akan datang.

4. Evaluasi
1. Kebudayaan sebagai konsep dasar antropologi, mencakup aspek kehidupan
sosial manusia yang sangat luas. Sebutkan dan jelaskan aspek-aspek
kehidupan yang menjadi unsur kebudayaan tersebut!
2. Silahkan anda amati video berikut ini https://youtu.be/Snwa183t4bk!

56

c. Jelaskan konsep-konsep dasar antroplogi berdasarkan pengamatan anda
pada video tersebut!

d. Bagaimana upaya anda sebagai calon guru IPS SD menanamkan pada
diri peserta didik agar mengenali dan mencintai kebudaannya, ditengah
pengaruh kebudayaan dari luar?

57

BAB 10
PENUTUP

Simpulan
Pada awalnya ilmu sosial berinduk pada filsafat, yang kemudian memisahkan

dan mengembangkan diri terpisah dari ilmu-ilmu alamiah dan ilmu-ilmu budaya. Ilmu
sosial pun kemudian terpecah-pecah lagi ke dalam beberapa cabang ilmu yang
berbeda-beda fokus dan metode kajiannya yang terdiri dari ilmu sosiologi, ilmu
sejarah, ilmu ekonomi, ilmu geografi, ilmu antropologi, ilmu politik, ilmu hukum.
Sekalipun semua ilmu sosial itu mengkaji tentang manusia, tetapi setiap cabang ilmu
sosial meninjau dari sudut pandang yang berbeda. IPS adalah ilmu pengetahuan
yang memadukan sejumlah konsep dari ilmu-ilmu sosial dan ilmu humoniora serta
kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidikan untuk membentuk warga negara
yang baik dan bertanggung jawab. Pendidikan IPS diperuntukkan bagi pendidikan
dasar dan mengengah dalam rangka pembinaan peserta didik agar memiliki
pengetahuan, sikap dan tingkah laku yang positif baik sebagai warga masyarakat
dan mengembangkan kehidupan anak didik dengan mengembangkan kemampuan
dalam lingkungannya dan melatih anak didik untuk menempatkan dirinya dalam
masyarakat yang demokratis, serta menjadikan negaranya sebagai tempat hidup
yang lebih baik.

Sosiologi secara kasar dapat didefinisikan sebagai studi ilmiah tentang
interaksi umat manusia. Sosiologi mempelajari manusia dalam konteks sosial yang
melakukan interaksi sesamanya. Konsep-konsep dasar sosiologi yaitu interaksi
sosial, sosialisasi, kelompok sosial, pelapisan sosial, perubahan sosial, mobilisasi
sosial, modernisasi, patologi sosial, dan konsep-konsep lain yang dapat digali sendiri
dari kenyataan dan proses kehidupan sehari-hari. Dalam kelompok sosial, terjadi
proses sosial yang dialami oleh setiap orang atau kelompok secara keseluruhan.
Selama manusia hidup dan mempunyai vitalitas dan dinamika, proses sosial ini tidak
akan pernah berhenti. Dinamika kehidupan masyarakat ditandai dengan adanya
proses sosial, yang merupakan proses hubungan antar manusia. Pada awalnya
hubungan sosial merupakan proses penyesuaian nilai-nilai sosial dalam kehidupan
masyarakat. Kemudian meningkat menjadi pergaulan yang ditandai dengan saling
mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing pihak dalam hubungan
tersebut. Struktur sosial pada dasarnya mencakup berbagai hubungan sosial secara

58

individu-individu secara teratur pada waktu tertentu yang merupakan keadaan statis
dari suatu sistem sosial. Jadi struktur sosial tidak hanya mengandung unsur
kebudayaan saja, namun mencakup juga seluruh prinsip-prinsip hubungan sosial
yang bersifat tetap dan stabil. Pelapisan/stratifikasi sosial adalah pembedaan
penduduk atau masyarakat kedalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hirarkis).
Perwujudannya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas yang lebih rendah.
Penyebab terjadinya pelapisan sosial adalah karena adanya keseimbangan antara
hak dan kewajiban, sehingga rasa tanggung jawab sosial menipis lalu disusul
ketimpangan pemilikan nilai atau harga.

Sejarah sesungguhnya melekat pada tiap benda, tiap diri makhluk, baik yang
hidup dan tidak hidup, tiap fenomena dialam raya ini. Sejarah adalah gambaran
tentang peristiwa-peristiwa masa lampau yang dialami manusia, disusun secara
ilmiah, meliputi urutan waktu, diberi tafsiran dan analisis kritis sehingga mudah
dimengerti dan dipahami. Konsep dasar ilmu sejarah terdiri dari konsep waktu,
dokumen, alur peristiwa, kronologi, peta, tahap-tahap peradaban, ruang, evolusi dan
revolusi.

Ekonomi dapat didefinisikan sebagai studi tentang cara bagaimana manusia
melalui pranara-pranata memanfaatkan keterbatasan sumber daya modal, sumber
daya alam, dan tenaga kerja, memuaskan kebutuha materinya. Ilmu ekonomi adalah
sebuah pengetahuan tentang bagaimana manusia mampu memenuhi segala
kebutuhannya yang tak terbatas dengan alat pemuas yang terbatas. Koperasi adalah
kegiatan ekonomi bersama dari para anggotanya, berasaskan keluarga, kerakyatan
demi keuntungan bersama, dan tidak mengutamakan keuntungan ekonomi keluarga
semata-mata, melainkan meperhatikan keuntungan sosial.

Perkembangan kehidupan manusia dipermukaan bumi menunjukkan bahwa
manusia sejak lahir sampai kepada akhir hayatnya, tidak terlepas dari pengaruh alam
lingkungannnya, mulai dari udara yang dihirup, air yang diminum, bahan pangan,
dan tempat berlindung dari cuaca buruk dan binatang liar. Melalui penggunaan dan
pemanfaatan alam untuk kebutuhan hidupnya, manusia secara berangsur-angsur
mengenal berbagai unsur alam ini yang dapat menjamin kehidupannya. Kondisi
hidup yang penuh rintangan dan tantangan, menididik manusia mengenal secara
lebih mendasar dan mendalam. Pengenalan alam yang lebih jauh ini, dimungkinkan
oleh kemampuan manusia mengembangkan dan memanfaatkan akalnya sendiri.
Kemungkinan adaptasi manusia terhadap alam lingkungannya, diungkapkan dalam

59

bentuk relasi manusi dengan alam tersebut. Bentuk relasi ini berupa berbagai tingkat
dan taraf kehidupan diberbagai ruang dipermukaan bumi.

Bidang ilmu sosial yang mengkhususkan telaahannya kepada kebudayaan itu
adalah Antropologi. Antropologi adalah suatu studi tentang manusia dengan segala
hasil cipta, rasa dan karsanya. Konsep-konsep dasar antropologi meliputi
kebudayaan, tradisi, pengetahuan, ilmu, teknologi, norma, lembaga, seni, bahasa
dan lambang. Antropologi tidak bisa dilepaskan dengan kebudayaan atau ilmu
budaya. Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya
terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat
dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai
anggota masyarakat.

60

DAFTAR PUSTAKA

Ahamadi, A.1991. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.
Astawa. IBM. 2017. Pengantar Ilmu Sosial. Depok: Rajawali Pers.
Gunawan, R. 2013. Pendidikan IPS Filosofi, Konsep, dan Aplikasi. Bandung:

Alfabeta.
Suharyono. 2015. Bunga Rampai Pemikiran Geografi dan Lingkungan Hidup dalam

Pendidikan dan Pengajaran. Yogyakarta: Ombak.
Susanti, E dan Endayani H. 2018. Konsep Dasar IPS. Medan: CV. Widya Puspita.
Taneo, Silvevester & dkk. 2010. Kajian IPS SD. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.
https://books.google.co.id/books/about/Konsep_Dasar_IPS_untuk_SD_MI.html?id=9-
klDAAAQBAJ&printsec=frontcover&source=kp_read_button&hl=id&newbks=1&newb
ks_redir=0&gboemv=1&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false

61


Click to View FlipBook Version