Portofolio U A S Disusun oleh: Shentia Liyuwana Defi 202310631011116 “Computational Thinking ” Laporan hasil restrukturisasi portofolio selama mengikuti mata kuliah Computational Thinking Restrukturisasi Dosen Pengampu: Dr. Alfiani Athma Putri Rosyadi, S.Pd., M.Pd.
1 DAFTAR ISI LEMBAR CHECKLIST....................................................................................................................... 2 LEMBAR REFLEKTIF ....................................................................................................................... 4 INFOGRAFIS........................................................................................................................................ 4 TOPIK 1. PENDALAMAN PEMAHAMAN COMPUTATIONAL THINKING........................... 5 TOPIK 2. CT DALAM KURIKULUM............................................................................................. 11 TOPIK 3. CT DALAM PROBLEM SOLVING............................................................................... 17 TOPIK 4. CT DAN PROYEK............................................................................................................ 39 TOPIK 5. INTEGRASI CT DALAM MATA PELAJARAN.......................................................... 55 POST-RESTRUKTURISASI PORTOFOLIO................................................................................. 73
2 LEMBAR CHECKLIST No Topik Artefak Apakah artefak portofolio tersedia? (Y/T) 1 Pendalaman pemahaman CT Hasil Pengetahuan awal yang diisikan pada Mulai Dari Diri Y Laporan hasil analisi pada bagian Eksplorasi Konsep Y Hasil diskusi pada bagian Ruang Kolaborasi (dapat berupa slide presentasi/laporan) Y Feedback yang diberikan kelompok lain pada saat Demonstrasi Kontekstual Y Hasil diskusi pada bagian Koneksi Antar Materi Y Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi Nyata Y 2 CT dalam Kurikulum Hasil Pengetahuan awal yang diisikan pada Mulai Dari Diri Y Laporan hasil telaah pada bagian Eksplorasi Konsep Y Laporan hasil diskusi pada Ruang Kolaborasi Y Feedback yang diberikan kelompok lain pada saat Demonstrasi Kontekstual Y Analisis CP dalam CT dan Pembelajaran Matematika pada bagian Koneksi Antar Materi Y Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi Nyata Y 3 CT dalam problem solving Hasil Pengetahuan awal yang diisikan pada Mulai Dari Diri pada bagian sub-topik 1 & 2 Y Laporan reflektif 1 & 2 pada bagian Eksplorasi Konsep sub-topik 1 Y Laporan hasil kerja individu dan Laporan penilaian teman kelompok pada bagian ruang kolaborasi Y Laporan hasil kerja reflektif, laporan hasil kerja mahasiswa 1 sampai dengan 5 pada bagian eksplorasi konsep Y Hasil kesimpulan yang diisikan pada Koneksi Antar Materi sub-topik 3 Y Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi Nyata Y 4 CT dan proyek Hasil Pengetahuan awal yang diisikan pada Mulai Dari Diri Y Laporan hasil telaah makalah dan lembar kerja pada bagian Eksplorasi Konsep Y Hasil diskusi pada bagian Ruang Kolaborasi (dapat berupa slide presentasi/laporan) Y Feedback yang diberikan kelompok lain pada bagian Elaborasi Pemahaman Y
3 No Topik Artefak Apakah artefak portofolio tersedia? (Y/T) Hasil kesimpulan yang diisikan pada Koneksi Antar Materi Y Hasil refleksi yang diisikan pada Aksi Nyata Y 5 Integrasi CT dalam mata pelajaran Hasil Pengetahuan awal yang diisikan pada Mulai Dari Diri Y Hasil analisi makalah pada bagian Eksplorasi Konsep Y Hasil diskusi pada bagian Ruang Kolaborasi (dapat berupa slide presentasi/laporan) Y Lembar evaluasi kelompok lain pada saat Demonstrasi Kontekstual Y Hasil lembar kerja pada bagian koneksi antar materi Y Hasil refleksi dan modul ajar pada Aksi Nyata Y
4 LEMBAR REFLEKTIF No Pertanyaan Reflektif Jawaban 1. Apakah artefak yang Anda miliki lengkap? Jika tidak lengkap, tuliskan persentase jumlah artefak portofolio yang berhasil Anda kumpulkan. Artefak yang saya miliki lengkap 2. Bacalah kembali capaian pembelajaran yang diberikan pada setiap awal topik. Apakah artefak yang Anda kumpulkan sudah menggambarkan pencapaian tersebut? Jika dikaitkan dengan pencapaian pembelajaran pada setiap topik, tuliskan kelebihan atau kekurangan dari artefak portofolio yang Anda miliki. Jika ada kekurangan, bagian apa saja yang perlu Anda tambahkan atau koreksi? Jika jawaban Anda panjang, kerjakanlah pada lembar terpisah dari tabel ini. Artefak yang telah saya kumpulkan pada topik 1 sampai dengan 5 mampu menggambarkan capaian pembelajaran yang diberikan pada awal topik. Namun, terdapat kekurangan diantaranya; • Pada topik 1, pembentukan disposisi CT masih belum terlihat dan belum mampu dipahami dengan baik. • Pada topik 2, posisi CT dalam tatanan global masih belum dapat dipahami dengan baik
4 INFOGRAFIS
TOPIK 1 Pendalaman Pemahaman Computational Thinking
6 TOPIK 1. PENDALAMAN PEMAHAMAN COMPUTATIONAL THINKING T1.1 PENGANTAR Durasi : 2 Pertemuan Pada topik Pendalaman Pemahaman Computational Thinking (CT) ini, akan dibahas beberapa konsep dasar mengenai CT, yaitu: apa itu CT dan apa saja yang bukan CT, mengapa CT itu penting, empat fondasi CT, pembentukan disposisi CT, dan apa yang perlu dilakukan untuk dapat “mengajar” CT atau mengintegrasikan CT dalam mata pelajaran. Pada akhir modul ini, mahasiswa diharapkan dapat menemukan unsur CT dalam kehidupan sehari-hari. T1.2 MULAI DARI DIRI Nama/Jenjang/Mapel yang akan diajar: Your Answer: Shentia Liyuwana Defi/SMA/Matematika Peminatan (Lanjut) Saat ini, komputer cukup banyak digunakan untuk membantu manusia dalam melakukan berbagai hal, misalnya belanja online (daring) atau mencari jalur untuk menuju suatu tempat. Menurut Anda, bagaimana cara komputer ‘berpikir’ sehingga dapat membantu manusia melakukan berbagai kegiatan? Your Answer: Cara komputer "berpikir" adalah mengambil informasi, mengolah informasi tersebut, menyimpan informasi, dan kemudian memproses hasil dari informasi tersebut. Apakah Anda pernah mendengar/mengetahui tentang CT? Jika pernah, uraikan dengan ringkas apa yang Anda ketahui tentang CT! Your Answer: Saya mendengar pertama kali istilah CT ketika orientasi PPG. Sekilas yang ada dipikiran saya terkait Computational Thinking adalah berpikir komputasi dengan kata lain komputasi sendiri dapat diartikan sebagai cara untuk menemukan solusi dari suatu permasalahan yang ada dengan menggunakan suatu algoritme. Jika belum pernah mendengar tentang CT dan saat ini Anda mengambil mata kuliah ini, apa motivasi Anda dalam mengambil mata kuliah ini? Your Answer: Ada beberapa hal yang memotivasi saya untuk mengambil mata kuliah CT • Salah satu metode yang efektif terkait menganalisis masalah yang kompleks, memahami permasalahannya, menemukan solusi yang tepat. • Metode penyelesaian yang dirancang untuk bisa diselesaikan dan dijalankan oleh komputer, manusia atau keduanya. Dengan demikian dapat menyajikan solusi dengan cara yang dapat dipahami oleh komputer, manusia, ataupun keduanya. • Skill yang dibutuhkan pada kompetensi abad 21 • Salah satu skill yang dibutuhkan di dunia kerja
7 T1.3 EKSPLORASI KONSEP Manfaat apa sajakah yang Anda peroleh setelah mempelajari CT? Your Answer: Manfaat yang saya peroleh setelah mempelajari CT adalah sebagai berikut. • Dapat meningkatkan kemampuan dalam pemecahan masalah secara efektif dan efisien • Dapat mengembangkan kemampuan untuk berpikir logis dan kritis • Dapat membantu seseorang untuk menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam mencari solusi • Dapat optimal dalam menghadapi permasalahan sederhana maupun kompleks • Dapat meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi dan mempersiapkan diri untuk masa depan yang semakin bergantung pada teknologi Menurut Anda, apakah Anda sudah dapat memahami apa itu CT dan 4 fondasi CT? Jelaskan apa itu CT dan 4 fondasi dasarnya berdasarkan pemahaman Anda! Your Answer: Saya sudah dapat memahami apa yang dimaksud dengan CT dan 4 tahapan/fondasi yang dimiliki oleh CT. CT merupakan proses berpikir seseorang dalam memformulasikan permasalahan dan memiliki strategi dalam memilih cara yang efektif, efisien dalam menemukan solusi untuk dapat dikerjakan oleh manusia maupun komputer. CT memiliki 4 fondasi yakni sebagai berikut. • Decomposition (Penguraian) Tahap ini merupakan proses penguraian suatu masalah yang ada ke dalam beberapa subpermasalahan yang lebih kecil. • Pettern Recognition (Pengenalan Pola) Tahap ini merupakan proses pengamatan terhadap berbagai kesamaan yang ada di antara beberapa sub-masalah yang telah diurai dari suatu masalah. • Abstraction (Abstraksi) Tahap ini merupakan proses eliminasi bagian-bagian yang tidak relevan dari suatu permasalahan • Algoritmic Thinking (Desain Algoritma) Tahap ini merupakan langkah-langkah terurut untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
8 T1.4 RUANG KOLABORASI Laporan Hasil Diskusi Kelompok Nama/No. Kelompok: Kelompok 1 No. Induk / Nama Mahasiswa: 2202310631011026 Ihak Silvia 202310631011107 Fitria Setyowati 202310631011116 Shentia Liyuwana Defi 202310631011114 Adellia Devi Windasari 202310631011126 Leny Anggraini Wijaya Hasil Diskusi secara umum : 1. Dekomposisi merupakan memecah permasalahan yang dialami menjadi bagian-bagian yang lebih simpel 2. Pattern Recognition yaitu setiap masalah pasti ada pola atau kesamaannya, nah pola ini membantu kita untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi saat ini 3. Abstraction yaitu fokus pada detail tertentu saat hendak menyelesaikan masalah 4. Algorithmic Thinking merupakan langkah-langkah konkret untuk menyelesaikan permasalahan yang ada Contoh hal atau persoalan zaman sekarang yang tidak memakai “komputer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT. 1. Mengadakan acara pesta 2. Menghias tembok dengan cat 3. Membuat jus apel 4. Membuat rencana belanja dengan waktu terbatas Penerapan fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari. A. Jawaban yang sudah tepat • Menghias tembok dengan cat 1) Decomposition : menghias tembok dapat diuraikan menjadi mengecat warna dasar dan menggambar detail 2) Pattern Recognition : menghias pada tembok sama halnya ketika kita sedang menggambar pada buku gambar. Pengalaman menggambar pada buku gambar bisa dijadikan referensi dalam menghias tembok 3) Abstraction : namun ketika menghias tembok, jika membuat gambar detail terlebih dahulu akan lebih sulit untuk mengecat sisanya, maka kita fokus pada warna dasar terlebih dahulu 4) Algorithmic Thinking : untuk menghias tembok, warnai dulu tembok dengan warna dasar yang dominan. Selainjutnya kita membuat gambar-gambar yang lebih detail seperti bunga ataupun tokoh kartun. Setelah itu, warnai detail-detail kecil itu dengan cat. • Mengadakan Acara Pesta 1) Decomposition : Merencanakan pesta, undangan, tempat pesta berlangsung, menu makanan, dan hiburan/musik 2) Pattern Recognition : Uji coba terlebih dahulu cara kerjanya dengan satu orang. Dengan begitu, kita dapat mengetahui apakah ada kesalahan dengan layanan undangan digital, atau berapa lama untuk mempersiapkan dan mengirim suatu undangan 3) Abstraction : Ide unik seperti mengirim undangan dengan memberi balon/bunga saat perencanaan, bisa dilakukan diakhir. Hal ini mengingat tamu undangan banyak, yang pada akhirnya harus memilih yang lebih sederhana. Kita hanya perlu memberi tahu tanggal, waktu, alamat, dan informasi penting lainnya untuk tamu, dan kemudian mereka hanya perlu ketempat pesta. Hal detail lain terkait undangan hanyalah detail yang tidak perlu. 4) Algorithmic Thinking : Katakanlah kita telah memutuskan untuk mengirim undangan melalui website undangan digital. Algoritmanya sebagai berikut: a. Tentukan Daftar Tamu, yang hanya perlu identitas Nama dan Surel b. Tentukan Tanggal, Waktu, dan Tempat (termasuk alamat) untuk pesta c. Di website, pilih desain yang sesuai dengan tema pesta d. Tambahkan Tanggal, Waktu, dan Tempat ke website e. Kirim undangan digital tersebut ke semua orang di Daftar Tamu
9 B. Jawaban yang kurang tepat • Membuat rencana belanja dengan waktu terbatas 1) Mengidentifikasi masalah : Kita ingin membeli barang-barang kebutuhan, namun memiliki anggaran dan waktu yang terbatas 2) Analisis data : Membuat daftar barang yang diperlukan dan mencari harga terbaik dari beberapa toko 3) Desain solusi : Memilih toko dengan harga yang terbaik dan membeli barang sesuai dengan anggaran 4) Evaluasi solusi : Memilih toko dengan harga terbaik, mendatangi toko, mendahulukan untuk mengambil barang kebutuhan yang terdekat dengan pintu masuk, diakhiri dengan mengambil barang yang dekat kasir untuk melakukan pembayaran • Membuat jus apel 1) Decomposition : Menentukan bahan-bahan untuk membuat jus apel, yaitu air, es batu, apel,dan blender 2) Pattern Recognition : Memahami dalam membuat jus apel dari memasukkan bahan menjadi satu dalam blender 3) Abstraction : Masukkan apel ke dalam blender secukupnya 4) Algorithmic Thinking : Masukkan apel secukupnya, air secukupnya, nyalakan blender T1.5 DEMONSTRASI KONTEKSTUAL Laporan Feedback Hasil dari Presentasi Nama/No. Kelompok: Kelompok 1 No. Induk / Nama Mahasiswa: 2202310631011026 Ihak Silvia 202310631011107 Fitria Setyowati 202310631011116 Shentia Liyuwana Defi 202310631011114 Adellia Devi Windasari 202310631011126 Leny Anggraini Wijaya Feedback/pertanyaan: Tanggapan/solusi: Apakah pada permasalahan “membuat jus apel” pada fondasi Pattern Recognition itu sudah sesuai? Pada permasalahan “membuat jus apel” pada fondasi Pattern Recognition masih belum tepat. Seharusnya, pada fondasi Pattern Recognition adalah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat jus apel yakni; Buah apel, air, gula, dan blender. Apakah pada permasalahan “membuat rencana belanja dengan waktu terbatas” tesebut sudah sesuai dengan CT? Pada permasalahan “Membuat rencana belanja dengan waktu terbatas” masih belum sesuai dengan ke-empat fondasi dari CT. Seharusnya adalah sebagai berikut. • Decomposition: Menentukan barang-barang kebutuhan, menentukan toko terdekat, membawa jam tangan untuk tetap memperhatikan waktu • Pattern Recognition: Membuat list barang yang diperlukan, pergi ke toko terdekat • Abstraction: Memilih toko terdekat • Algorithmic Thinking: Memilih toko terdekat, mendatangi toko, mendahulukan untuk mengambil barang kebutuhan yang terdekat dengan pintu masuk, diakhiri dengan mengambil barang yang dekat kasir untuk melakukan pembayaran
10 T1.6 ELABORASI PEMAHAMAN Pertanyaan-pertanyaan tentang konsep-konsep CT yang masih belum dipahami. • Bagaimana CT dapat diterapkan dalam pendidikan dan bagaimana guru dapat mengajarkan konsep ini kepada siswa? • Bagaimana cara mengukur tingkat kemampuan dan pemahaman CT pada siswa saat proses pembelajaran dikelas? • Bagaimana CT memengaruhi cara manusia berpikir dan berinteraksi dengan teknologi dalam kehidupan sehari-hari? T1.7 KONEKSI ANTAR MATERI Nama/No. Kelompok: Kelompok 1 No. Induk / Nama Mahasiswa: 2202310631011026 Ihak Silvia 202310631011107 Fitria Setyowati 202310631011116 Shentia Liyuwana Defi 202310631011114 Adellia Devi Windasari 202310631011126 Leny Anggraini Wijaya 1. Tuliskan contoh-contoh hubungan CT dengan kehidupan sehari-hari Anda! Jawab : Computational thinking adalah kemampuan memecahkan masalah dengan menerapkan ilmu komputasi. Kemampuan pemecahan masalah ini memungkinkan untuk menganalisis masalah yang kompleks, memahami apa masalahnya, dan menentukan solusi yang tepat. Dalam konsepnya, terdapat empat pilar utama dalam berpikir komputasi, yang masing-masing memiliki tujuannya sendiri. Berikut contoh Penerapan CT dalam kehidupan sehari-hari yaitu: • Ramalan cuaca dengan memperhatikan pola-pola alam disekitar merupakan penerapan berfikir komputasional sehari-hari. • Mencuci pakaian putih, memerlukan pemikiran CT karena mencuci pakaian putih memiliki tantangan tersendiri yaitu jika perlakuannya salah maka akan berakibat negative seperti warna pakaian memudar, kusut atau bahkan terkena warna pakaian lain. • Memasak, memerlukan pemikiran CT karena tidak hanya sekedar memasak tapi berfikir bagaimana cara memasak dengan cepat, dan tepat sesuai gizi yang dibutuhkan. • Membuat rencana belanja juga memerlukan pemikiran CT agar dapat evisien dalam mengelola keuangan. • Mengerjakan laporan agar dapat efektif dan efisien terhadap waktu. 2. Menurut pendapat Anda, dapatkah CT diterapkan pada mata pelajaran yang akan Anda ajar? Penerapan CT dapat dilakukan baik pada metode atau bentuk pengajaran, soalsoal, atau aktivitas lainnya di dalam kelas. Jawab: Tentunya CT bisa diaplikasikan dalam mata pelajaran matematika. Penerapan CT dapat dilakukan baik pada metode atau bentuk pengajaran, soal- soal, atau aktivitas lainnya di dalam kelas. Sebagai literasi, CT tidak dapat diajarkan hanya dengan pemaparan konsep, melainkan perlu dilatih seperti halnya membaca, menulis, berhitung, berpikir kritis kepada peserta didik. Sebagai contoh penerapan CT dalam matematika pada Analisis Data dan Statistik dimana CT dapat digunakan untuk merancang langkah-langkah analisis data yang komprehensif seperti penggunaan perangkat lunak statistik contohnya aplikasi SPSS untuk menganalisis dan menginterpretasi data yang didapat melalui survey maupun eksperimen. Selain itu dalam matematika CT dapat digunakan untuk memodelkan sebuah permasalahan yang ada dalam pemodelan matematika. Dalam penyelesaian persamaan diferensial CT dapat mengembangkan algoritma numerik untuk menyelesaikan persamaan diferensial baik sederhana maupun kompleks untuk mencari sebuah solusi. Selain itu terdapat aplikasi seperti Mathlab dan Geogebra untuk menyelesaikan permasalahan matematika.
11 T1.8 AKSI NYATA HASIL REFLEKSI Pada topik 1 ini saya berharap bisa lebih baik lagi dalam memahami CT dan berupaya untuk membiasakan diri menerapakannya dalam menyelesaikan permasalahanpermasalahan yang ada didekat saya sebelum menyelesaikan masalah yang terkait pelajaran matematika di kelas. Hal ini bertujuan agar saya ketika dalam pembelajaran dapat dengan mudah memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam menggunakan CT. Pemahaman baru yang saya dapatkan ketika mempelajari CT ini adalah ketika menghadapi suatu permasalahan maka saya perlu untuk menyederhanakan masalah terlebih dahulu dan kemudian mencari kemiripan dengan masalah-masalah yang hampir mirip dengan masalah yang pernah saya hadapi di waktu berbeda. Kemudian mencoba untuk menerapkannya ke permasalahan yang akan diselesaikan. Keberadaan CT dalam kehidupan saya sangat membantu sekali dalam memberikan pemahaman cara berpikir yang sesederhana mungkin dalam menyelesakan permasalahan. Hal yang saya rasakan setelah belajar mengenai CT terdapat dua hal yakni 1) ketika menemui permasalahan sederhana, saya akan berpikir sederhana pula tidak berpikir rumit, dan 2) ketika saya menemui permasalahan yang rumit maka saya akan berupaya menyederhanakan permasalahan terlebih dahulu sebelum memutuskan strategi penyelesaiannya. Potensi atau kendala yang saya alami dalam mempelajari mata kuliah ini adalah ketika menemui beberapa istilah yang kurang bersahabat dengan saya karena baru sekali menemui istilah tersebut sehingga terkendala dalam memaknainya. Solusi yang saya lakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mencatat bagian-bagian yang tidak saya pahami dan kemudian mengkonfirmasi pemahaman yang saya miliki dengan beberapa sumber digital terpercaya, teman sekelompok, luar kelompok, ataupun dosen pengampu mata kuliah
TOPIK 2 CT dalam Kurikulum
12 TOPIK 2. CT DALAM KURIKULUM T2.1 PENGANTAR Durasi : 1 Pertemuan Pada topik CT dalam Kurikulum ini mahasiswa mempelajari CT dalam Kurikulum Merdeka dan posisi CT dalam tatanan global. Mahasiswa akan menelaah Capaian Pembelajaran CT pada setiap fase dengan terperinci. T2.2 MULAI DARI DIRI Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadaan CT di dalam Kurikulum Merdeka? Jawab: Keberadaan CT di dalam kurikulum memungkinkan untuk anak-anak dan remaja dapat berpikir dengan cara yang berbeda, mengekspresikan diri mereka melalui berbagai media, menyelesaikan masalah dunia nyata, dan menganalisis masalah sehari-hari dari perspektif yang berbeda. Hal ini, mendukung tujuan dari kurikulum merdeka itu sendiri yakni berupaya mengembangkan potensi peserta didik yang disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat mereka. Hal ini berimplikasi pada pembelajaran yang diberikan oleh pendidik, yakni pendidik memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar. Karena CT berada dalam kurikulum, CT dipandang sebagai sesuatu yang perlu dipelajari oleh peserta didik. Menurut Anda, mengapa CT tidak diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri? Jawab: Karena CT bukan merupakan ilmu yang harus dipelajari secara spesifik di tingkat dasar maupun menengah. CT merupakan proses atau cara berpikir untuk menyelesaikan masalah secara logis dan efektif yang perlu dipelajari dan dimiliki oleh peserta didik yang diintegrasikan pada semua mata pelajaran, sebagai pendukung dalam proses penyelesaian masalah yang dihadapi. Hal tersebut dilakukan upaya pembiasan pada anak untuk mengasah cara berpikit komputasinya. Pada saat Anda membaca referensi-referensi yang ditugaskan oleh dosen Anda, bagian mana yang: • Paling menarik untuk Anda? Mengapa? • Paling sulit untuk diajarkan? Mengapa? Jawab: o Paling menarik untuk Anda? Mengapa? Upaya untuk mengintegrasikan CT ke dalam mata pelajaran matematika dan Menerapkan Computational Thinking Pedagogical Framework (CTPF) yang dikembangkan dari teori konstruktivisme dan konstruktivisme sosial o Paling sulit untuk diajarkan? Mengapa? Menyediakan layanan secara langsung dan perilaku yang melibatkan lebih banyak hal penting untuk pemodelan sebagai sarana merumuskan hubungan dan mengidentifikasi sebagai sumber perubahan
13 T2.3 EKSPLORASI KONSEP Pertanyaan-pertanyaan Bagi calon guru kelas VII-XII. Bacalah kembali dengan seksama CP pada fase yang akan Anda ampu. Apakah ada istilah-istilah atau kata-kata yang belum Anda pahami pada CP tersebut? Tuliskan kata-kata yang belum Anda pahami pada kotak berikut. Anda juga boleh menuliskan istilah-istilah yang menurut Anda menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Terdapat beberapa istilah pada CP CT yang belum saya pahami. Beberapa istilah tersebut adalah sebagai berikut. • Data diskrit bervolume besar ataupun kecil • Computationally Literate • Algoritmik Standar • Disposisi berpikir komputasional Istilah yang menurut saya menarik untuk dipelajari lebih lanjut adalah terkait "Disposisi berpikir komputasional" Menurut Anda, bagaimana posisi CT di Indonesia jika dibandingkan keberadaannya di beberapa negara lain yang sudah berupaya terlebih dahulu untuk memasukkan CT ke dalam kurikulumnya? Keberadaan CT saat ini mulai diintegrasikan ke dalam kurikulum di Indonesia namun implementasinya masih sangat minim sekali. Sementara ini CT di Indonesia paling sering diintegrasikan dalam pendidikan menengah. Sedangkan, menurut beberapa ahli menekankan pentingnya memperkenalkan konsep CT kepada anak sejak dini di sekolah. Banyak negara sekarang telah mengintegrasikan CT ditingkat dasar juga. LKM “Menelaah CP CT Fase E” Nama/NIM Shentia Liyuwana Defi 202310631011116 Fase (A/B/C/D/E/F) E CP Pada akhir fase E, peserta didik mampu menerapkan strategi algoritmik standar pada kehidupan sehari-hari maupun implementasinya dalam sistem komputer, untuk menghasilkan beberapa solusi persoalan dengan data diskrit bervolume besar. Kata-kata atau istilah yang belum diketahui maknanya Makna yang didapat setelah mencari tahu lebih lanjut mengenai kata/istilah tersebut: 1. Algoritmik standar 2.Data Diskrit bervolume besar 1.Algoritmik Standar : cara atau solusi untuk menyelesaikan permasalahan dengan langkah-langkah logis dan sistematis. Sedangkan strategi sendiri bisa berarti pendekatan atau perencanaan, sehingga strategi algoritmik standar berarti suatu perencanaan dalam menentukan cara untuk menyelesaikan permasalahan dengan langkah-langkah logis dan sistematis. 2.Data diskrit bevolume besar : sejumlah nilai yang yang berisi bilangan bulat yang cakupannya luas Tuliskan pemaknaan mengenai CP tersebut setelah Anda memahami setiap istilah yang terdapat pada CT tersebut: Pada akhir fase E, peserta didik mampu menerapkan cara atau solusi untuk menyelesaikan permasalahan dengan langkah-langkah logis dan sistematis. Sedangkan strategi sendiri bisa berarti pendekatan atau perencanaan, sehingga strategi algoritmik standar berarti suatu perencanaan dalam menentukan cara untuk menyelesaikan permasalahan dengan langkah-langkah logis dan sistematis.pada kehidupan sehari-hari maupun implementasinya dalam sistem komputer, untuk menghasilkan beberapa solusi persoalan dengan sejumlah nilai yang yang berisi bilangan bulat yang cakupannya luas.
14 T2.4 RUANG KOLABORASI Laporan Hasil Diskusi Kelompok terkait “Makna Istilah pada CP CT yang belum dipahami”. Nama/NIM anggota 1: Nama/NIM anggota 2: Nama/NIM anggota 3: Nama/NIM anggota 4: Nama/NIM anggota 5: Adelia Devi Windasari / 202310631011114 Ihak Silvia / 202310631011026 Leny Anggraini Wijaya / 202310631011126 Shentia Liyuwana Defi / 202310631011116 Fitria Setyowati / 202310631011107 Fase (A/B/C/D/E/F) Fase E CP Fase E : Pada akhir fase E, peserta didik mampu menerapkan strategi algoritmik standar pada kehidupan sehari-hari maupun implementasinya dalam sistem komputer, untuk menghasilkan beberapa solusi persoalan dengan data diskrit bervolume besar. Istilah dan makna dari kata-kata yang sudah disepakati oleh kelompok: 1. Strategi algoritmik standar 2. Data Diskrit 3. Bervolume Besar Kata-kata yang dipahami sebagai makna yang berbeda oleh anggota kelompok. Diskusikanlebih lanjut tentang perbedaan makna tersebut! Diskusikan juga dengan konsep pada saat eksplorasi konsep! 1. Algoritmik Standar : cara atau solusi untuk menyelesaikan permasalahan dengan langkahlangkah logis dan sistematis. Sedangkan strategi sendiri bisa berarti pendekatan atau perencanaan, sehingga strategi algoritmik standar berarti suatu perencanaan dalam menentukan cara untuk menyelesaikan permasalahan dengan langkah-langkah logis dan sistematis. 2. Data Diskrit : data yang nilainya terbatas pada bilangan bulat 3. Bervolume besar : istilah yang digunakan untuk menggambarkan data dengan jumlah besar. Tuliskan pemaknaan mengenai CP yang dibahas di kelompok, sesuai pemahaman bersamaseluruh anggota kelompok! Pada akhir fase E, peserta didik mampu menerapkan perencanaan dalam menentukan cara untuk menyelesaikan permasalahan dengan langkah-langkah logis dan sistematis padakehidupan seharihari maupun implementasinya dalam sistem komputer, untuk menghasilkan beberapa solusi persoalan dengan data yang berisi bilangan bulat dengan jumlah besar.
15 T2.5 DEMONSTRASI KONTEKSTUAL Laporan Feedback pada presentasi kelompok lain Nama/NIM anggota 1: Nama/NIM anggota 2: Nama/NIM anggota 3: Nama/NIM anggota 4: Nama/NIM anggota 5: Adelia Devi Windasari 202310631011114 Ihak Silvia 202310631011026 Leny Anggraini Wijaya 202310631011126 Shentia Liyuwana Defi 202310631011116 Fitria Setyowati 202310631011107 Fase Istilah yang baru diketahui maknanya Makna dari istilah E 1.Strategi algoritmik standar 2.Data Diskrit 3.Bervolume Besar 1.Algoritmik Standar : cara atau solusi untuk menyelesaikan permasalahan dengan langkah-langkah logis dan sistematis. Sedangkan strategi sendiri bisa berarti pendekatan atau perencanaan, sehingga strategi algoritmik standar berarti suatu perencanaan dalam menentukan cara untuk menyelesaikan permasalahan dengan langkah-langkah logis dan sistematis. 2.Data Diskrit : data yang nilainya terbatas pada bilangan bulat 3.Bervolume besar : istilah yang digunakan untuk menggambarkan data dengan jumlah besar. Tuliskan pemahaman yang Anda dapat dari presentasi rekan Anda mengenai CP CT pada fase yang berbeda dari fase yang Anda kerjakan dalam kelompok! Fase Pemaknaan CP D CP Pada akhir fase D, peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional untuk menghasilkan beberapa solusi dari persoalan dengan data diskrit bervolume kecil serta mendisposisikan berpikir komputasional dalam bidang lain terutama dalam literasi, numerasi, dan literasi sains (computationally literate). Terdapat beberapa istilih yang baru diketahui maknanya: • Data diskrit bervolume kecil : sejumlah nilai yang berisi bilangan bulat yang cakupannya terbatas. • Mendisposisikan berpikir komputasional : proses mengembangkan kecenderungan untuk berpikir terkait pemecahan masalah yang terstruktur, logis, dan sistematis. • Literasi Komputasional : kemampuan untuk memahami, menggunakan, dan berpartisipasi dalam dunia komputasi yang semakin terkait erat dengan teknologi informasi dan komputer. Dengan demikian pemaknaan CP pada Fase E sebagai berikut: Pada akhir fase D, peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional untuk menghasilkan beberapa solusi dari persoalan dengan sejumlah nilai yang berisi bilangan bulat yang cakupannya terbatas serta mampu mengembangkan kecenderungan untuk berpikir terkait pemecahan masalah yang terstruktur, logis, dan sistematis dalam bidang lain terutama dalam kemampuan untuk memahami, menggunakan, dan berpartisipasi dalam dunia komputasi yang semakin terkait erat dengan teknologi informasi dan komputer.
16 T2.6 ELABORASI PEMAHAMAN Pertanyaan-pertanyaan tentang CP CT yang masih belum dipahami. • Bagaimana cara untuk mengembangkan kecenderungan peserta didik untuk menggunakan CT? T2.7 KONEKSI ANTAR MATERI Tuliskan kaitan antara CP mata pelajaran yang Anda ampu dengan CP CT untuk fase yang akan Anda ampu! Capaian Pembelajaran Matematika: Pada akhir fase F, peserta didik dapat menyelesaikan masalah terkait polinomial, melakukan operasi aljabar pada matriks dan menerapkannya dalam transformasi geometri. Mereka dapat menyatakan vektor pada bidang datar, melakukan operasi aljabar pada vektor dan menggunakan-nya pada pembuktian geometris. Mereka dapat mengenal berbagai fungsi dan menggunakannya untuk memodelkan fenomena, serta menyatakan sifat-sifat geometri dengan persamaan pada sistem koordinat. Mereka dapat mengevaluasi hasil keputusan dengan menggunakan distribusi peluang dengan menghitung nilai yang diharapkan, dan juga dapat menerapkan konsep dasar kalkulus di dalam konteks pemecahan masalah aplikasi dalam berbagai bidang. Capaian Pembelajaran CT: Pada akhir fase F, peserta didik mampu menganalisis beberapa strategi algoritmik secara kritis dalam menghasilkan banyak alternatif solusi untuk satu persoalan dengan memberikan justifikasi efisiensi, kelebihan, dan keterbatasan dari semua alternatif solusi, kemudian memilih dan menerapkan solusi terbaik, paling efisien, dan optimal dengan merancang struktur data yang lebih kompleks dan abstrak. Kaitan CP Computational Thinking (CT) dengan CP Matematika: Kaitan antara CP Matematika Fase F dan CP CT Fase F terletak pada kemampuan menciptakan solusi terbaik, efisien, dan optimal terhadap permasalahan-permasalahan dengan memanfaatkan strategi algoritmik secara kritis dari berbagai alternatif solusi yang ditemukan. Pada CP Matematika Fase F, peserta didik dilatih untuk menyelesaikan masalah terkait polinomial dan menerapkan operasi aljabar dalam transformasi geometri, vektor, fungsi serta menerapkan konsep dasar kalkulus dalam memecahkan sebuah permasalahan. Sedangkan pada CP CT Fase F, peserta didik dilatih untuk menentukan strategi atau alternatif solusi terbaik, efisien, dan optimal dalam memecahkan permasalahan dari berbagai alternatif solusi yang ditemukan. Dengan demikian, peserta didik bisa memanfaatkan kemampuan CT dalam membantu menciptakan solusi permasalahan-permasalahan di bidang matematika. Dengan penerapan CT, peserta didik dapat mengembangkan kemampuan dalam melakukan dekomposisi, mengenali pola, melakukan abstraksi dan membuat algoritma solusi yang tepat dan efektif untuk masalah yang kompleks. Dalam hal ini, CT dapat menjadi alat yang efektif dalam mendukung pencapaian CP Matematika Fase F.
17 T2.8 AKSI NYATA HASIL REFLEKSI Setelah mempelajari dan menelaah lebih lanjut terkait CP CT, saya merasa bahwaternyata banyak kata dan istilah asing yang baru saya dengar didalam CP. Perlu banyak literasi terkait istilah-istilah yang terdapat pada CP agar dapat memahami dengan penuh arti dan makna yang terkandung didalamnya sehingga dapat memberikan treatment yang tepat kepada peserta didik sebagai upaya tercapainya CP tersebut. Kemudian setelah menelaah lebih lanjut mata kuliah ini saya menjadi mengerti peran penting suatu CT dalam suatu CP untuk peserta didik. Manfaat yang didapatkan peserta didik saat mempelajari CT dalam CP antara lain melatih keterampilan pemecahanmasalah secara terstruktur pada tiap fasenya. Hal ini akan berguna untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan pemecahan masalah peserta didik pada suatu materi. Pengetahuan yang saya dapatkan dari pertemuan ini adalah saya menjadi tahu alasan kenapa CT tidak diajarkan dalam mata pelajaran sendiri. Hal tersebut dikarenakan setiapfase dan mata pelajaran perlu memasukan proses CT. Hal lain yang saya dapatkan adalahmenjadi mengetahui proses pemecahan masalah dengan menerapkan CT.
TOPIK 3 CT dan Proyek
18 TOPIK 3. CT DALAM PROBLEM SOLVING T3.1 PENGANTAR Durasi : 4 Pertemuan Pada topik ini, Anda akan belajar menerapkan CT untuk melakukan problem solving. Topik 3 terdiri dari 4 subtopik dengan 3 subtopik wajib dan 1 subtopik pengayaan. Detail pemilihan subtopik yang akan dibahas dapat dibaca pada petunjuk teknis. Hasil akhir yang diharapkan dari topik ini adalah sebagai berikut: • Contoh alur penyelesaian masalah dengan menerapkan CT untuk soal Tantangan Bebras dan soal tes PISA/AKM. • Alur penyelesaian masalah dengan menerapkan CT secara umum. Sub-Topik 1: Menyelesaikan Persoalan Sehari-hari dengan CT T3.2 MULAI DARI DIRI Pernahkah Anda mengerjakan soal Bebras sebelum masuk ke Topik 3? Belum Pernah Apa pendapat Anda mengenai soal Bebras? Setelah saya melihat link yang berikan pada langkah sebelumnya. Menurut saya soal Bebras ini membutuhkan kemampuan literasi dan numerasi yang baik untuk dapat memahami permasalahan. Soal Bebras juga dapat mengasah kemampuan dalam pemecahan masalah, berpikir logis dan kritis untuk mendapatkan alternatif solusi yang tepat. Latihan CT apa saja yang pernah Anda kerjakan selain soal Bebras? Apa nama situs/sumber Anda mengerjakan latihan CT? Latihan CT yang pernah saya lakukan adalah menyelesaikan soal-soal TPS (Tes Potensi Skolastik) dan penalaran umum untuk persiapan mengikuti UTBK. Sumbernya berasal dari www.mathcyber1997.com , www.m4th-lab.net dan Buku wangsit. Pernahkah Anda mendapat informasi mengenai Tantangan Bebras? Belum pernah Pernahkah Anda membimbing siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan CT (dengan soal Bebras atau soal CT lainnya)? Jika pernah, bagaimana pengalaman Anda ketika membimbing siswa?? Pernah, ketika mempersiapkan UTBK 2022/2023 pada bahasan penalaran umum. Pengalaman yang saya alami adalah terkadang ada beberapa jawaban yang tidak dapat disepakati oleh peserta didik, karena pemikiran/sudut pandang yang berbeda-beda ketika memecahkan suatu permasalahan (bertepatan peserta didik yang saya dampingi merupakan peserta didik yang memiliki kemampuan belajar tinggi).
19 T3.3 EKSPLORASI KONSEP Lembar Kerja Reflektif Individual-1 Tuliskan hal baru apa sajakah yang Anda dapatkan dari mempelajari CT melalui aktivitas problem solving menggunakan soal Bebras! Setelah mempelajari CT melalui aktivitas problem solving menggunakan soal Bebras, hal baru yang saya temukan adalah bahwa di soal Bebras tersebut memiliki kendala-kendala atau aturan atau syarat yang menuntun pada penyelesaian yang diharapkan pada tantangan. Dalam penyelesaiannya pun sangat sistematis, harus memiliki tingkat fokus dan ketelitian yang tinggi. Lembar Kerja Reflektif Individual-2 Menurut pengalaman Anda mengajar atau saat Anda menjadi siswa, apakah soal Bebras yang digunakan untuk contoh soal memiliki kompleksitas yang sesuai dengan jenjang yang ditargetkan dan bidang pelajaran Anda? Jika tidak, berikan alasannya dan usulkan jenjang serta bidang apa yang sesuai untuk soal tersebut! Jenjang Judul Soal Jawaban SD Karangan Bunga Sesuai SMP Kursi Musik Sesuai SMA Titik Utama Wifi Kurang sesuai, karena pada permasalahan "titik utama wifi" peserta didik kesulitan dalam memahami beberapa hubungan antara node dan garis sehingga siswa SMA belum bisa nemenemukan algoritma yang berkataitan.
20 T3.4 RUANG KOLABORASI LEMBAR KERJA INDIVIDU Nama/NIM : Shentia Liyuwana Defi (202310631011116) Jenjang/mata pelajaraan yang diampu : SMA/Matematika Judul soal: Memindahkan Dadu NO Pertanyaan Jawaban 1 Tuliskan solusi untuk masingmasing soal! SD :5 SMP : 3 SMA : 4 2 Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapat solusi dari masingmasing soal! Jika Anda menggunakan lebih dari satu cara berpikir, tuliskan pada jenjang mana Anda menggunakan cara berpikir tersebut! Langkah pertama, saya memahami syarat atau ketentuan bahwa “jumlah titik-titik pada dua sisi yang berlawanan disebuah dadu selalu tujuh” serta melihat lintasannya • Langkah kedua, mencoba menjalankan atau memindahkan dadu pada kotak selanjutnya sepanjang lintasan yang sesuai dengan permasalahan. • Langkah ketiga, mencatat sisi pemukaan di setiap perpindahan dadu (yang berjalan sepanjang lintasan). Jenjang Langkah Sisi dipermukaan 1 6 2 5 3 1 4 2 5 4 SD 6 5 7 1 SMP 8 3 9 2 SMA 10 4 3. Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan persoalan ini! Dekomposisi: mengurai apa saja yang diketahui dan diinginkan dari suatu permasalahan. Misalnya: permasalahan memindah dadu • Diketahui sisi permukaan dadu yang pertama sebelum dipindahkan adalah 6 • Diketahui bahwa jumlah titik pada dua sisi yang berlawanan sebuah dadu selalu 7 • Diketahui kotak lintasan Mengenal pola: • Mata dadu 1 berlawanan dengan 6, mata dadu 2 berlawanan dengan 5, mata dadu 3 berlawanan dengan 4.
21 Nama/NIM : Shentia Liyuwana Defi (202310631011116) Jenjang/mata pelajaraan yang diampu : SMA/Matematika Judul soal: Memindahkan Dadu NO Pertanyaan Jawaban Abstraksi : Menjalankan dadu dengan perpindahan sesuai lintasan Algoritma : Menentukan angka yang akan muncul sesuai dengan arah jalan perpindahannya dadu 4 Adakah contoh pada kehidupan sehari-hari yang mengimplementasikan konsep yang ada pada soal ini? Dalam kehidupan sehari-hari contoh yang seusai dengan persoalan ini misalnya saat kita menggunakan motor, kita dapat mengenal pola dengan menentukan pemakaian bahan bakar motor berdasarkan tipe atau merk motor. Kemudian menentukan apabila jarak tempuh motor 5 km berapa liter bahan bakar yang dihabiskan. 5 Tuliskan perbedaan kompleksitas persoalan untuk masing- masing jenjang tyang terdapat di soal ini! Perbedaan komplesitas persoalan terletak pada sisi permukaan yang terlihat ketika panjang lintasan SD SMP dan SMA . LEMBAR PENILAIAN TEMAN KELOMPOK Kriteria Penilaian Penilaian dari teman kelompok Anggota 1 (Adellia Devi W) Anggota 2 (Ihak Silvia) Anggota 3 (Leny Anggraini W) Anggota 4 (Fitria Setyowati) Apakah cara mengerjakan soal yang dituliskan dapat dipahami? Dapat dipahami dengan baik Dapat dipahami Dapat dipahami Dapat dipahami Apakah cara mengerjakan sudah lengkap? Sudah lengkap dan sesuai Sudah lengkap Sudah lengkap Sudah lengkap Apakah cara mengerjakan dapat diikuti tanpa menimbulkan keambiguan Menurut saya bisa Dapat dimengerti Dapat dimengerti dapat diikuti Apakah 4 fondasi CT yang ditulis benar? Benar dan sesuai Sudah benar Sudah benar Sudah benar Apakah 4 fondasi CT yang dituliskan dijelaskan dengan lengkap? Lengkap Lengkap Lengkap Lengkap Apakah contoh masalah sehari-hari yang dituliskan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan? Sudah sangat jelas dan sesuai Sesuai Sesuai Sesuai
22 Sub-Topik 2: CT dalam Menyelesaikan Soal Literasi Membaca, Matematika, Sains, dan Finansial T3.2 MULAI DARI DIRI Apakah Anda pernah mendengar AKM? Apa yang Anda ketahui tentang AKM? Pernah. AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) merupakan salah satu penilaian yang merupakan bagian dari Asesmen Nasional. Biasanya soal yang dikemas dengan mengadaptasi AKM ini merupakan soal cerita sebab konsep dari AKM adalah menilai unsur kognitif siswa berdasarkan dua kompetensi, yaitu kompetensi literasi membaca dan numerasi. Bentuk soal AKM dibedakan menjadi lima yakni pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat, dan sebab-akibat. Pernahkah Anda membimbing siswa yang akan menghadapi AKM? Belum Pernah Apakah Anda pernah mendengar tentang tes PISA? Apa yang Anda ketahui tentang tes PISA? Pernah. Tes PISA (Programme for International Student Assessment) ini merupakan penilaian siswa skala besar (intenasional) yang diselenggarakan oleh OECD. Hasil dari penilaian ini nantinya digunakan untuk mengevaluasi sistem pendidikan dan untuk selanjutnya untuk perbaikan sistem pendidikan. PISA memonitor dan membandingkan hasil pendidikan dalam soal liteasi membaca, numerasi, dan literasi sains. Apakah Anda pernah mengerjakan soal AKM/PISA? Jika pernah, bagaimana pendapat Anda mengenai soal AKM/PISA? Apakah siswa Indonesia akan kesulitan dalam mengerjakan soal sejenis AKM/PISA? Pernah. Soal AKM dan PISA membutuhkan kemampuan literasi dan numerasi yang baik jika tidak pasti akan kesulitan dalam melakukan problem solving sebab belum memahami apa yang dimaksud pada soal. Siswa/i di Indonesia akan kesulitasn untuk mengerjakan soal sejenis AKM/PISA, sebab kemampuan literasi dan numerasi yang masih kurang, dan hal itu mungkin disebabkan juga karena guru belum membiasakan mencoba memberikan kepada siswa soal sejenis AKM/PISA. T3.3 EKSPLORASI KONSEP LEMBAR KERJA REFLEKTIF Tuliskan hal baru apa sajakah yang Anda dapatkan dari mempelajari CT melalui aktivitas problem solving soal-soal literasi! Melalui aktivitas problem solving dari soal-soal PISA, terlihat bahwa setelah disajikan deskripsi soal terdapat beberapa pertanya-pertanyaan. Pertanyaan tersebut disajikan secara terurut sesuai tingkat kompleksitasnya dan saling terkait (dari sederhana hingga komples). Dalam menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut dapat menerapkan CT, pertanyaan pertama dapat diselesaiakan dengan menggunakan fondasi CT awal yakni dekomposisi dan pengenalan pola, begitu seterusnya hingga fondasi abstraksi.
23 02.04.01 Lembar Kerja Mahasiswa 1 (Literasi Membaca pada tes PISA) Nama/NIM: Adelia Devi Windasari 20231063101114 Ihak Silvia 20231063101026 Leny Anggraini Wijaya 20231063101126 Shentia Liyuwana Defi 20231063101116 Fitria Setyowati 20231063101107 Literasi Membaca Mengapa literasi membaca dibutuhkan oleh siswa? Hal tersebut agar siswa mampu memahami sebuah makna dan infromasi dari bacaan sehinggabisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari Pengertian dari literasi membaca pada tahun 2018 adalah kemampuan untuk mengerti, menggunakan, merefleksikan teks untuk suatu tujuan. Literasi membaca juga mencakup siswa memiliki motivasi untuk mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks. Apa makna dari masing-masing istilah berikut ini dalam konteks literasi membaca? 1. Mengerti teks: Memahami, menangkap atau tahu isi dari sebuah teks secara menyeluruh 2. Menggunakan teks: Menerapkan informasi yang ditangkap dari sebuah teks 3. Merefleksikan teks: Proses menilai dan mengkaji diri sendiri terkait penerapan informasi yang telah dilakukanatau proses melihat kembali berbagai hal yang telah terjadi dalam penerapan informasi 4. Memiliki motivasi untuk mempelajari dan mengerti lebih dalam suatu teks: Keinginan kuat yang mendorong seseorang mempelejari dan mengerti suatu teks Apa saja jenis teks yang digunakan pada tes PISA untuk literasi membaca? Teks eksposisi, deskripsi, narasi dan teks argumentasi
24 Terdapat 6 level progress pada reading literacy. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut! Level 1b diberikan sebagai contoh. Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1b Siswa dapat menemukan sebuah informasi yang mudah didapat dari sebuah teks sederhana. Informasi yang dicari biasanya sering diulang di dalam teks. Informasi yang dicari juga bisa dinyatakan dalam gambar dan grafik sehingga memudahkan siswa menemukan informasi tersebut. 1a Pada level 1a menemukan satu atau lebih bagian independen dari informasi yang dinyatakan secara eksplisit. Mereka dapat mengenali tema utama atau tujuan penulis dalam teks tentang topik yang sudah dikenal. Siswa diarahkan untuk mempertimbangkan faktor-faktor yang relevan dalam teks. 2 Pada level 2 dapat menemukan satu atau lebih informasi yang mungkin perlu disimpulkan dalam berbagai kondisi. Mereka dapat mengenali gagasan utama dalam sebuah teks, memahami hubungan dalam bagian teks yang terbatas ketika informasinya tidak menonjol. Siswa pada tingkat ini dapat memahami teks yang lebih panjang atau kompleks, tetapi kemampuan mereka masih terbatas. Mereka mungkin dapat mengidentifikasi informasi utama dalam teks. 3 Pada level 3 dapat menemukan dan dalam beberapa kasus mengenali hubungan antara beberapa informasi yang memenuhi beberapa kondisi. Siswa pada tingkat ini memiliki kemampuan pemahaman teks yang lebih baik. Mereka mampu mengintegrasikan dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber dalam teks. Mereka dapat mengintegrasikan beberapa bagian teks untuk mengidentifikasi ide utama. 4 Pembaca pada level 4 siswa mampu mengidentifikasi informasi tersirat, menganalisis teks secara kritis, dan menghubungkan informasi dari berbagai sumber. Mereka dapat menemukan dan mengatur beberapa informasi yang disematkan. Mereka juga dapat memaknai nuansa bahasa pada suatu bagian teks dengan memperhatikan teks secara keseluruhan. 5 Pada level 5 siswa pada tingkat ini memiliki kemampuan membaca yang sangat baik. Mereka dapat mengevaluasi, menganalisis, dan mengintegrasikan informasi dari teks yang kompleks. Mereka juga mampu berpikir secara kritis dan membuat penilaian yang tepat. 6 Pembaca pada level 6 biasanya dapat membuat beberapa kesimpulan, perbandingan yang detail dan tepat. Ini adalah tingkat tertinggi dalam kerangka kerja PISA. Siswa pada tingkat ini memiliki kemampuan membaca yang sangat mendalam dan dapat mengevaluasi teks yang sangat kompleks. Mereka mampu menerapkan pengetahuan mereka dalam berbagai konteks dan memahami teks yang sangat abstrak.
25 02.04.02 Lembar Kerja Mahasiswa 2 (Literasi Matematika pada tes PISA) Nama/NIM: Adelia Devi Windasari 20231063101114 Ihak Silvia 20231063101026 Leny Anggraini Wijaya 20231063101126 Shentia Liyuwana Defi 20231063101116 Fitria Setyowati 20231063101107 Literasi Matematika Mengapa literasi matematika dibutuhkan oleh siswa? Literasi matematika dibutuhkan oleh siswa karena mengacu pada kapasitas individu untukmerumuskan, menggunakan dan menafsirkan matematika. Pengertian dari literasi matematika 2012 juga digunakan pada tahun 2015 dan 2018. Literasi matematika adalah kemampuan seseorang untuk memformulasikan sebuah situasi secara matematika, menggunakan konsep, fakta, prosedur, dan penalaran matematika, dan menginterpretasikan hasil matematika untuk berbagai konteks. Apa makna dari masing-masing istilah berikut ini dalam literasi matematika? 1. Memformulasikan sebuah situasi secara matematika: "Memformulasikan sebuah situasi secara matematika" merujuk pada proses mengubah atau menggambarkan situasi dalam bahasa matematika atau dalam bentuk persamaan matematika. Ini melibatkan representasi matematika dari situasi dunia nyata sehingga kita dapat menganalisis, memodelkan, dan memahami situasi tersebut dengan menggunakan konsep danalat matematika. 2. Menggunakan konsep, fakta, prosedur dan penalaran matematika: Menggunakan konsep, fakta, prosedur, dan penalaran matematika adalah suatu pendekatan yang mengacu pada penerapan prinsip-prinsip matematika dalam konteks pemecahan masalah, analisis, pengambilan keputusan, dan pemahaman fenomena alam atau situasi tertentu. 3. Menginterpretasikan hasil matematika: Menginterpretasikan hasil matematika adalah proses untuk menggambarkan dan memahami arti atau implikasi dari solusi, data, atau hasil yang diperoleh melalui pemecahan masalah atau analisis matematika. Ini melibatkan menjelaskan apa yang dinyatakan oleh angka-angka, grafik, persamaan, atau konsep matematika yang ada, dan bagaimana hal tersebut berkaitan dengan situasi dunia nyata atau masalah Terdapat 6 level progress pada literasi matematika. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut! Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1 Siswa mampu menjawab pertanyaan dengan konteks yang umum serta semua informasi yang relevan tersedia dengan jelas. Mampu mengidentifikasi informasi dan menerima semua petunjuk berdasarkan intruksi yang jelas pada situasi yang ada. Mampu menunjukkan suatu tindakan sesuai dengan simulasi yang diberikan 2 Siswa mampu menafsirkan dan mengenali situasi dengan konteks yang memerlukan kesimpulan langsung. Mampu memilah informasi yang relevan dari sumber yang tunggal dan menggunakan cara penyajian tunggal. Mampu mengerjakan algoritma dasar, menggunakan rumus, melaksanakan prosedur atau kesepakatan dalam memecahkan masalah. Mampu menyimulkan secara tepat dari hasil penyelesaiannya
26 3 Siswa mampu melaksanakan prosedur dengan jelas, termasuk prosedur yang memerlukan keputusan yang berurutan. Mampu memilih dan menerapkan strategi memecahkan masalah yang sederhana. Mampu menginterpretasikan dan menggunakan representasi berdasarkan informasi yang berbeda. Mampu menjabarkan berdasarkan hasil interpretasi dan alasan mereka 4 Siswa mampu mengerakan dengan metode tertentu secara efektif dalam situasi yang kompleks tetapi konkret yang mungkin melibatkan hambatan-hambatan atau membuat asumsi-asumsi. Mampu memilih dan menggunakan representasi yang berbeda termasuk pada simbol. Mampu menggunakan keterampilan dan pengetahuannya pada konteks yang jelas. Mampu menjelaskan pendapatnya berdasarkan pada pemahaman, alasan dan rumusan mereka. 5 Siswa mampu mengembangkan dan bekerja dengan model untuk situasi yang kompleks, mengidentifikasi masalah dan menetapkan asumsi. Mampu memilih, membandingkan dan mengevaluasi strategi untuk memecahkan masalah yang kompleks yang berhubungan dengan model. Mampu menggunakan pemikiran dan penalarannya serta secara tepat menghubungkan representasi simbol dengan situasi yang dihadapi. Mampu menjabarkan dan merumuskan hasil pekerjaannya. 6 Siswa mampu membuat konsep, generalisasi dan menggunakan informasi berdasarkan penelaahan dan pemodelan dalam situasi yang kompleks. Mampu menghubungkan dan menerjemahkan sumber informasi berbeda dengan fleksibel. Mampu menerapkan pemahamannya dengan penguasaan simbol dan operasi matematika, mengembangkan strategi dan pendekatan baru dalam menghadapi situasi baru. Mampu merumuskan hasil pekerjaannya dengan tepat dengan mempertimbangan penemuannya, penafsiran, pendapat dan ketepatan pada situasi nyata.
27 02.04.03 Lembar Kerja Mahasiswa 3 (Literasi Sains pada tes PISA) Nama/NIM: Adelia Devi Windasari 20231063101114 Ihak Silvia 20231063101026 Leny Anggraini Wijaya 20231063101126 Shentia Liyuwana Defi 20231063101116 Fitria Setyowati 20231063101107 Literasi Sains Mengapa literasi sains dibutuhkan oleh siswa? Literasi sains adalah kemampuan seseorang untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi ilmiah untuk mengambil keputusan yang berdasarkan bukti. Literasi sains sangat penting bagisiswa karena salah satunya dapat membantu siswa memahami dan menginterpretasikan duniasekitar mereka. Hal ini membantu mereka menjelaskan fenomena alam, proses, dan peristiwa yangmereka saksikan sehari-hari. Literasi sains adalah kemampuan untuk terlibat aktif dalam masalah dan ide yang berhubungan dengan sains. Kompetensi yang diperlukan oleh seseorang yang memiliki literasi dalam sains adalah kemampuan untuk menjelaskan sebuah fenomena secara ilmiah, mengevaluasi dan merancang pertanyaan-pertanyaan ilmiah, dan menginterpretasi data dan bukti-bukti secara ilmiah. Jelaskan masing-masing kompetensi di bawah ini! 1. Menjelaskan sebuah fenomena secara ilmiah: Memahami konsep atau fenomena secara Ilmiah melibatkan pemahaman dasar-dasar ilmu pengetahuan, seperti konsep-konsep fisika, kimia, biologi, dan lainnya. Ini termasuk pemahamantentang teori, prinsip, dan hukum ilmiah. 2. Mengevaluasi dan merancang pertanyaan-pertanyaan ilmiah: Kemampuan untuk mengevaluasi dan merancang pertanyaan-pertanyaan ilmiah adalah inti dariprosesilmiah dan literasi sains. Pertanyaan ilmiah adalah fondasi dari penelitian ilmiah, pengamatan, dan eksplorasi pengetahuan ilmiah. 3. Menginterpretasi data dan bukti-bukti secara ilmiah: Kompetensi dalam menginterpretasi data dan bukti-bukti secara ilmiah merujuk pada kemampuan untuk mengambil data yang ada, informasi, atau bukti ilmiah dan menguraikannyadengan tepat, mengambil kesimpulan yang rasional, dan membuat penilaian berdasarkanmetode ilmiah. Ini adalah keterampilan kunci dalam literasi sains dan penelitian ilmiah. Terdapat 6 level progress pada literasi sains. Tuliskan apa yang seharusnya siswa dapat lakukan jika ada atau melewati level tersebut! Level Apa yang dapat dilakukan siswa 1b Pada level 1b siswa dapat menggunakan pengetahuam ilmiah dasar atau sehari-hari untuk mengenali aspek-aspek yang familiar atau fenomena sederhana. Siswa mampu mengidentifikasi pola sederhana dalam data, mengenali istilah ilmiah dasar dan mengikuti instruksi eksplisit untuk melakukan prosedur ilmiah 1a Pada level 1a siswa mampu menggunakan konten dasar atau sehari-hari dan pengetahuan prosedural untuk mengenali penjelasan fenomena ilmiah sederhana. Dengan dukungan mereka dapat melakukan penyelelidikan ilmiah terstruktur dengan tidak lebih dari dua variabel. Siswa level 1a dapat memilih penjelasan ilmiah terbaik untuk data yang diberikan dalam konteks probadi, lokal dan global yang familier.
28 2 Siswa di level ini memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang konsep ilmu pengetahuan. Mereka mungkin mampu menjelaskan hubungan antara beberapa konsep dan menggunakan informasi ilmiah sederhana untuk menjelaskan fenomena alam. 3 Pada level ini, siswa mampu menggabungkan berbagai konsep ilmu pengetahuan untuk menjelaskan fenomena yang lebih kompleks. Mereka juga dapat mengumpulkan dan mengorganisir data serta mengidentifikasi pola atau tren. 4 Siswa di level ini memiliki pemahaman yang mendalam tentang konsep-konsep ilmu pengetahuan. Mereka mampu melakukan penelitian lebih lanjut, mengidentifikasi implikasi ilmiah, dan mengemukakan pertanyaan ilmiah yang kompleks. 5 Siswa pada level ini mampu menganalisis data ilmiah dengan kritis, mengidentifikasi kelemahan dalam argumen ilmiah, dan membuat penilaian berdasarkan bukti ilmiah. Mereka juga mampu mengembangkan penelitian ilmiah mereka sendiri. 6 Di level ini, siswa mampu melakukan penelitian ilmiah mandiri, membuat kontribusi signifikan ke dalam pengetahuan ilmiah, dan berpartisipasi dalam diskusi ilmiah tingkat lanjut. Mereka memiliki pemahaman yang mendalam tentang metode ilmiah dan konsep ilmiah yang kompleks.
29 02.04.04 Lembar Kerja Mahasiswa 4 (Literasi Finansial pada tes PISA) Nama/NIM: Adelia Devi Windasari 20231063101114 Ihak Silvia 20231063101026 Leny Anggraini Wijaya 20231063101126 Shentia Liyuwana Defi 20231063101116 Fitria Setyowati 20231063101107 Literasi Finansial Mengapa literasi finansial dibutuhkan oleh siswa? Literasi finansial adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan mengelola keuangan merekadengan baik. Kemampuan ini sangat penting bagi siswa salah satunya karena membantu memahamikonsep keuangan pribadi, seperti pengeluaran, tabungan, investasi, dan utang. Ini memungkinkan mereka untuk mengelola keuangan mereka dengan lebih baik sepanjang hidup mereka. Seseorang yang memiliki literasi finansial adalah seseorang yang memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan resiko finansial. Selain itu, dia juga memiliki kemampuan, motivasi dan kepercayaan diri untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahamannya untuk membuat keputusan yang efektif pada berbagai konteks masalah-masalah finansial. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu maupun masyarakat. Literasi finansial juga memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi. Jelaskan apa makna dari istilah-istilah berikut ini: 1. Memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan resiko finansial: Makna dari istilah "memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan risiko finansial"merujuk pada pemahaman individu tentang berbagai aspek terkait dengan keuangan dan risikoyang mungkin terlibat dalam keputusan finansial mereka. 2. Kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial: Kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial merujuk pada kemampuan individu untuk menggunakan pengetahuan dan pemahaman mereka tentangkonsep dan prinsip finansial dalam situasi dunia nyata. Ini melibatkan penerapan konsep-konsepfinansial dalam pengambilan keputusan keuangan, perencanaan keuangan, dan manajemen keuangan pribadi. 3. Motivasi dan kepercayaan diri untuk mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial: Motivasi dan kepercayaan diri dalam mengaplikasikan pengetahuan dan pemahaman finansial merujuk pada dorongan internal dan keyakinan individu untuk mengambil tindakan yang diperlukan dalam mengelola keuangan mereka dengan bijak berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki. 4. Berbagai konteks masalah-masalah finansial: Istilah "berbagai konteks masalah-masalah finansial" mengacu pada beragam situasi danmasalah yang berkaitan dengan keuangan dalam berbagai aspek kehidupan seseorang atau dalam berbagai konteks. Ini mencakup berbagai hal,seperti masalah keuangan pribadi, masalahinvestasi dan masalah perpajakan. 5. Meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu maupun masyarakat: Meningkatkan kualitas kehidupan finansial individu maupun masyarakat adalah upaya untuk mencapai tingkat kesejahteraan ekonomi yang lebih baik, yang mencakup beberapa aspek penting. Hal tersebut mencakup kemampuan untuk mengatasi krisis keuangan dan menghadapitantangan keuangan dengan lebih baik.
30 6. Memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi: Istilah "memungkinkan seseorang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi" mengacu pada kemampuan individu atau kelompok individu untuk berpartisipasi dalam berbagai aspek kegiatan ekonomi dalam masyarakat. Ini mencakup berbagai aspek yang memungkinkan seseorang untuk menjadi bagian dari ekonomi, baik sebagai konsumen, produsen, atau pelaku ekonomi secara umum.
31 SOAL PISA UNIT READING Nama / NIM Jenjang / Mata Pelajaran yang diampuUnit / No Unit Judul Soal : Shentia Liyuwana Defi / 202310631011116 : Computational Thinking : Reading / 3 : Graffiti No Pertanyaan Jawaban 1 Tuliskan solusi untuk soal ini! Solusi dari pertanyaan 3.1 Opsi jawaban B karena bacaan tersebut menunjukkan Helga danShopia menyampaikan pendapat terkait dengan Grafiti Solusi dari pertanyaan 3.2 Menurut Shopia periklanan itu seperti halnya grafiti, namun hanya berbeda dari segi tampilannya saja Solusi dari pertanyaan 3.3 Saya setuju dengan keduanya, meskipun melakukan grafiti di fasilitas publik merupakan tindakan ilegal, namun mereka melakukan hal tersebut mungkin karena tidak ada wadah untuk menuangkan ide-ide kreativitasnya sehingga harus diberi wadah agar tidak melakukan grafiti liar. Solusi dari pertanyaan 3.4 Menurut saya, pendapatnya Shopia karena dia melihat permasalahan terkait grafiti dari sudut pandang yang netral dimana dia tidak menyalahkan sepenuhnya terhadap tindakan para grafiti liar, sebab dia mengibaratkan grafiti seperti iklan, meskipun tampilan yang disajikan berbeda, namun memiliki kesamaan yaitu menyampaikan isi atau memberikan informasiterkait apa yang disampaikan. 2 Tuliskan langkah-langkah berpikirAnda hingga mendapat solusi daripermasalahan ini! Langkah berpikir dalam menemukan solusi dari permasalahan tersebut yaitu: 3.1.Menerjemahkan kedua bacaan agar lebih memudahkan dalam memperoleh isi maksud atau tujuan dari surat tersebut. Setelah diterjemahkan, dapat diketahui bahwa Helga dan Shopia menyampaikan pendapat dari sudut pandangnya masing-masing terkait dengan graffiti. Jadi dapat disimpulkan bahwa jawaban yang paling tepat adalah jawaban opsi B.
32 3.2. Memahami maksud dari pertanyaan, kemudian mencari kata “iklan” dalam bacaan, lalu menghubungkan informasi yang diperoleh dalam bacaan dengan apa yang ditanyakan pada soal sehingga memberikan jawaban yang tepat 3.3. Memahami letak duduk permasalahan dengan membaca 2 opini dari Helga dan Shopia. Membandingkan kedua opini dari keduanya. Saya setuju dengan pendapat keduanya dimana melakukan grafiti liar di fasilitas publik merupakan tindakan ilegal, namun saya juga setuju bahwa mereka diberikankesempatan atau wadah untuk menuangkan ide-ide kreativitasnya agar tidak melakukan grafiti liar. 3.4. Saya memilih teks yang dibuat Shopia karena dia netral dimana melihat permasalahan tidak hanya dari satu sudut pandang saja, namun dia juga memposisikan dirinya sebagai seniman yang tidak mempunyai wadah untuk menuangkan ide kreativitasnya 3 Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan masalah ini! 1. Dekomposisi = Menerjemahkan bacaan tersebut agar mempermudah dalam memahami informasi dalam bacaan, kemudian menjawab pertanyaan yang diberikan secara satu per satu. 2. Pengenalan Pola = Memahami maksud atau benang merah dari setiap pertanyaan yang diberikan 3. Abstraksi = Fokus pada kata atau informasi yang ingin dicari 4. Algoritma = urutan langkah-langkah dalam menyelesaikan persoalan tersebut sesuai dengan apa yang dituliskan pada jawaban soal no 2 di atas.
33 SOAL PISA UNIT MATEMATIKA Nama / NIM Jenjang / Mata Pelajaran yang diampu Unit / No Unit Judul Soal : Shentia Liyuwana Defi / 202310631011116 : Computational Thinking : Mathematic / 7 : Speed of Racing Car No Pertanyaan Jawaban 1 Tuliskan solusi untuk soal ini! 1.Solusi dari pertanyaan 7.1 yaitu opsi B (1,5 km) karena pada grafik tersebut terlihat bahwa garis start dengan track lurus terpanjang ada pada 1,5 km. 2.Solusi dari pertanyaan 7.2 yaitu opsi C (sekitar 1,3 km) karena pada grafik tersebut terlihat bahwa posisi kecepatan terendah pada putaran kedua adalah sekitar 1,3 km. 3.Solusi dari pertanyaan 7.3 yaitu opsi B (kecepatan mobil naik) karena pada grafik tersebut terlihat bahwa kecepatan mobil yang berada pada jarak antara 2,6 km sampai 2,8 km mengalami kenaikan. 4.Solusi dari pertanyaan 7.4 yaitu opsi B karena gambar padagrafik terlihat terdapat 3 belokan. Jika dilihat dari opsi jawaban, yang memiliki 3 belokan yaitu opsi B, C dan D. Akan tetapi jika dilihat panjang lintasannya serta jarak belokannya maka jawaban yang paling tepat adalah opsi B. 2 Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapatsolusi dari permasalahan ini! Langkah berpikir dalam menemukan solusi dari permasalahan tersebut yaitu: 7.1. Melihat dan mengamati grafik laju kecepatan mobil balap mulai dari garis start sampai akhir (sepanjang 3 km), diperoleh 4track lurus dari grafik yaitu pada jarak 0 km, 0,5 km, 1,5 km dan2,5 km, kemudian membandingkan ke-4 track lurus dari grafik tersebut, hingga diperoleh kesimpulan bahwa dari garis start pemulaan yang menunjukkan track lurus terpanjang berada padajarak 1,5 km (opsi jawaban B) 7.2. Melihat dan mengamati grafik laju kecepatan mobil balap mulai dari garis start sampai akhir (sepanjang 3 km), diperoleh 3 kecepatan terendah yaitu sekitar 90 km/h pada jarak 0,3 km, kecepatan 60 km/h pada jarak 1,3 km dan kecepatan 20 km/h dengan jarak 2,5 km, kemudian membandingkan ke-3 kecepatanterendah dari grafik tersebut, hingga diperoleh kesimpulan bahwa kecepatan terendah yaitu 60 km/h pada jarak 1,3 km (opsijawaban C)
34 7.3. Melihat dan mengamati grafik pada kecepatan mobil balap yang berada pada jarak diantara 2,6 km sampai 2,8 km, diperolehbahwa terjadi pergerakan grafik ke atas pada jarak tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa kecepatan mobil balap mengalamikenaikan (opsi jawaban B) 7.4. Melihat dan mengamati grafik kecepatan mobil balap, diperoleh 3 titik penurunan kecepatan mobil balap dimana dapatdiasumsikan penurunan kecepatan tersubut sama seperti belokanlintasan, kemudian membandingkan dengan opsi jawaban yan tersedia. Jika dilihat dari opsi jawaban, yang memiliki 3 belokanyaitu opsi B, C dan D. Akan tetapi jika dilihat panjang lintasannya serta jarak belokannya maka jawaban yang paling tepat adalah opsi B. 3 Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan masalah ini! 1. Dekomposisi = mengetahui grafik kecepatan mobil setiap jarak yang ditempuh mulai dari garis start dan track yang dilalui dengan kecepatannya yang berbeda-beda hingga menuju jarak 3 km yang ditempuh selama 2 putaran 2.Pengenalan Pola = mengetahui dan memahami pola lintasan mobil, kecepatan dan jarak tempuh sepanjang lintasan 3 m pada putaran kedua 3.Abstraksi = menghilangkan hal yang tidak diperlukan sepertiketika mencari posisi kecepatan tertinggi, maka tidak perlu melihat posisi kecepatan yang rendah atau sebaliknya 4. Algoritma = Langkah penyelesaiannya sama seperti jawabanpada soal ke 2 diatas. Atau secara garis besar, langkah- langkah penyelesaian masalah tersebut dapat dilakukan dengan: a. Membaca dan memahami grafik secara keseluruhan b. Memahami persoalan yang ditanyakan c. Mengamati kembali grafik untuk menemukan jawaban yang ditanyakan pada soal. Dimana disetiap jarak yang ditempuh dengan kecepatan terendah maupun sebaliknya dapat diberikan titik untuk melihat langsung jarak yang ditempuh mobil pada putaran kedua. d. Memilih jawaban yang paling tepat
35 Nama/NIM : Shentia Liyuwana Defi (202310631011116) Jenjang/mata pelajaraan yang diampu : SMA/Matematika Unit/No.Unit : Matematics / 3 Judul soal:Apples NO Pertanyaan Jawaban 1. Tuliskan solusi untuk masing-masing Pertanyaan 3.1 soal! Banyaknya pohon Banyaknya pohon apel konifer 1 1 8 2 4 16 3 9 24 4 16 32 Pertanyaan 3.2 Banyaknya pohon apel dan pohon konifer yang ditanam dapat dihitung dengan menggunakan formula berikut; Banyaknya pohon apel dapat dihitung dengan 2 Banyaknya pohon konifer dapat dihitung dengan 8 Terdapat satu nilai di mana banyaknya pohon apel dan pohon konifer memiliki jumlah yang sama. Jawab: Nilai n yang ditanyakan dapat ditemukan dengan menggunakan pesamaan dari formula banyaknya pohon apel dan pohon konifer yang diketahui sebelumnya dengan permisalan banyaknya baris apel adalah . Sehingga diperoleh, 2 = 8 2 − 8 = 8 − 8 2 − 8 = 0 ( − 8) = 0 = 0 = 8 ≠ 0 karena tidak mungkin tidak menanam pohon apel. Dengan demikian nilai n di mana banyaknya pohon apel dan pohon konifer sama yakni ketika = 8. Jadi, ketika banyaknya baris pohon apel 8, maka • Banyaknya pohon apel= 2 = 8 2 = 64 • Banyaknya pohon konifer= 8 = 8(8) = 64 Pertanyaan 3.3 Ketika petani membuat kebun yang lebih besar lagi, maka pohon apel akan bertambah lebih cepat karena ditinjau dari bentuk formulanya, banyaknya pohon apel memiliki fungsi kuadrat
36 Nama/NIM : Shentia Liyuwana Defi (202310631011116) Jenjang/mata pelajaraan yang diampu : SMA/Matematika Unit/No.Unit : Matematics / 3 Judul soal:Apples NO Pertanyaan Jawaban yakni × , sedangkan banyaknya pohon konifer memiliki fungsi linear yakni 8 × . Dengan demikian banyaknya pohon apel akan betambah lebih banyak ketika > 8. Terlihat dari pola di bawah ini Banyaknya pohon apel Banyaknya pohon konifer 1 1 8 2 4 16 3 9 24 4 16 32 5 25 40 6 36 48 7 49 56 8 64 64 9 81 72 10 100 80 2. Tuliskan langkah-langkah berpikir Anda hingga mendapat solusi dari permasalahan ini! Pertanyaan 3.1 Dengan melihat gambar pada n=1 sampai dengan n=3, kemudia ketika menentukan n=4 sudah dapat mengetahui pola yang terbentuk. Untuk mengecek bahwa formula yang saya temukan tepat saya mencoba menghitung secara manual gambar pada soal. Pertanyaan 3.2 Pada soal menyatakan bahwa ada nilai n di mana banyaknya pohon apel dan pohon konifer sama. Dengan demikian, saya langsung menentukannya dengan menyelsaikan persaam dari formula banyaknya pohon apel dan banyaknya pohon konifer. Dan untuk selanjutnya, karena yang ditanyakan itu adalah banyaknya pohon apel dan pohon konifer maka tidak mungkin tidak ada sama sekali barisan apel (). Pertanyaan 3.3 Dengan mengamati formula atau fungsi dari banyaknya pohon apel dan banyaknya pohon konifer, terlihat bahwa banyak pohon apel adalah × sedangkan banyaknya pohon konufer adalah 8 × . Nah, terlihat bahwa ketika > 8 maka banyaknya pohon apel akan semakin banyak
37 Nama/NIM : Shentia Liyuwana Defi (202310631011116) Jenjang/mata pelajaraan yang diampu : SMA/Matematika Unit/No.Unit : Matematics / 3 Judul soal:Apples NO Pertanyaan Jawaban tumbuh. Hal ini juga dapat ditunjukkan melalui tabel. 3. Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan persoalan ini! Pertanyaan 3.1 ○ Pengenalan pola: Anda mencoba menghitung banyaknya pohon konifer dan apel secara manual kemudian mengenali banyaknya pohon konifer dan apel masing-masingnya ternyata membuat pola. ○ Abstraksi: Saat menentukan banyaknya pohon apel, Anda bisa juga tidak memulai dengan melihat pola tapi dengan menggunakan konsep bangun datar yang terbentuk dari pohon-pohon apel yang ditanam. Luar daerah dari persegi adalah sisi x sisi tidak peduli apapun kasusnya. Pertanyaan 3.2 Algoritma: Anda dapat menerapkan langkahlangkah dalam menyelesaikan persamaan kuadrat untuk mendapatkan nilai Pertanyaan 3.3 Abstraksi: Tanpa harus mengetahui detail dari fungsinya, Anda bisa menggunakan konsep fungsi kuadrat bertambah dengan lebih cepat dibanding fungsi linear.
38 Sub-Topik 3: Mengenali Pola Berpikir dalam Menyelesaikan Persoalan (Problem Solving) untuk Berbagai Kasus T3.7 KONEKSI ANTAR MATERI Nama/NIM Anggota Kelompok Adelia Devi Windasari 20231063101114 Ihak Silvia 20231063101026 Leny Anggraini Wijaya 20231063101126 Shentia Liyuwana Defi 20231063101116 Fitria Setyowati 20231063101107 1. Kesamaan tipe soal Bebras dan PISA/AKM: Tipe soal Bebras dan Pisa memiliki kesamaan yaitu menyajikan soal-soal yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam menyelesaikan persoalan denganmenerapkan konsep-konsep berpikir komputasional. Selain itu, kedua jenis tes ini memiliki fungsi untuk menganalisis kemampuan literasi dan numerasi peserta didik dalam menyelesaikan masalah menggunakan metode ilmiah dengan harapan peserta didik mampu menerapkan ilmu-ilmu yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupan nyata atau sehari- hari. 2. Perbedaan tipe soal Bebras dan PISA/AKM BEBRAS PISA/AKM • Soal-soal yang digunakan pada tantangan Bebras umumnya disajikan dalam bentuk uraian persoalan yang dilengkapi dengan gambar yang menarik, sehingga siswa dapat lebih mudah memaknai soal. • Soal-soal pada Programme for International Student Assessment (PISA) umumnya disajikan dalam bentuk pilihan ganda dan uraian, atau bentuk lainnya • Soal-soal bebras sudah dikategorikan berdasarkan usia atau jenjangpendidikan, sehingga dapat diadopsi untuk masingmasing jenjang tanpa banyak penyesuaian. • Seluruh tes ditujukan bagi siswa usia pendidkan menengah (15 tahun ke atas). • Masing-masing soal bebras dapatdikerjakan dalam waktu yang lumayan singkat karena hanya terdapat satupertanyaan. • Waktu yang digunakan dalammengerjakan soal cukup panjang karena pada satu soal terdapat beberapapertanyaan. • Soal bebras sebetulnya terkait pada konsep tertentu dalam informatika dan computational thinking. • PISA biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan literasi membaca,matematika, sains, dan literasi finansial. • Soal-soal Tantangan Bebras bertujuan untuk memperkenalkan dan melatih siswa dalam bidang informatika dan CT. • PISA mengukur apa yang diketahui siswa dan apa yang dapat dia lakukan (aplikasi) dengan pengetahuannya. • Soal-soal yang digunakan pada Tantangan Bebras selalu baru setiap tahunnya dan dipersiapkan dengan proses seleksi yang terpercaya sehingga kualitas soal Bebras sudah terjamin. • Saat mengadopsi soal PISA, guru perlu mempertimbangkan apakah soal tersebut sudah sesuai dengan jenjang yang diajar. 3. Kesamaan dari langkah penyelesaian kedua jenis persoalan Kesamaan langkah penyelesaian soal Bebras dan soal PISA yaitu peserta didik harus dapat memahami informasi yang diberikan, mengidentifikasi karakteristik penting dan hubungannya, membangun representasi yang sesuai untuk solusi, serta dapat mengambil keputusan yang tepat untuk memecahkan soal
39 T3.8 AKSI NYATA HASIL REFLEKSI Pengalaman menarik apa saja yang Anda dapatkan dari mengimplementasikan CT untuk menyelesaikan berbagai jenis persoalan? Anda bisa menceritakan keberhasilan dan kegagalan yang Anda alami dalam mempelajari topik ini. Jawab: Pengalaman menarik yang saya dapatkan dari mengimplementasikan CT untuk menyelesaikan berbagai jenis persoalan adalah sebagai berikut. Ketika saya dan teman menyelesaikan sebuah pemasalahan. Cara yang saya dan teman saya lakukan adalah sama. Namun, pada langkah selanjutnya kami mengalami perbedaan solusi atau pendapat.dengan mengimplementasikan CT, saya mengalami peningkatan kreativitas, kemampuan mengelola konflik, dan komunikasi yang lebih efektif. Apakah terjadi perubahan cara berpikir yang Anda alami setelah mempelajari topik CT dalam problem solving? Jawab: Perubahan cara berpikir yang saya alami terkait dengan CT dalam ploblem solving adalah sebagai berikut; • Saya akan mencoba untuk menganalisis masalah dengan lebih mendalam, kemudian berusaha memahami konteks masalah, data yang relevan, dan asumsi-asumsi yang mendasari pemecahan masalah • Saya akan lebih berhati-hati dalam mengevaluasi argument dan bukti yang dgunakan dalam pemecahan masalah • Saya akan mencoba untuk menghasilkan berbagai alternative solusi untuk masalah yang dihadapi, daripada hanya bergantung pada 1 solusi. • Saya akan menggunakan metode ilmiah dalam proses berpikir dan pemecahan masalah, yang termasuk di dalamnya adalah pengumpulan data, pengujian hipotesis, dan pembuatan kesimpulan berdasarkan bukti. Apakah ada perbaikan yang dapat Anda lakukan terhadap cara mengajar Anda nantinya setelah mempelajari topik CT dalam problem solving? Jawab: Perbaikan yang dapat saya lakukan terhadap cara mengajar yang saya lakukan adalah sebagai berikut; • Mengintegrasikan prinsip CT dalam pembelajaran (sehingga peserta didik memiliki kesempatan untuk memahami dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis) • Meningkatkan keterampilan dalam membuat atau menyajikan soal pada peserta didik. • Memberikan umpan balik yang konstruktif, yang dimaksud adalah guru dapat memberikan masukan pada bagian mana peserta didik dapat memperbaiki kemampuan berpikir kritis atau hanya sekedar memberikan penguatan • Menyediakan sumber belajar tambahan yang berkaitan dengan CT, temasuk di dalamnya menunjukkan contoh penerapan CT.
TOPIK 4 Pendalaman Pemahaman Computational Thinking
40 TOPIK 4. CT DAN PROYEK T4.1 PENGANTAR Durasi : 3 Pertemuan Pada topik ini, mahasiswa mempelajari integrasi CT pada Proyek STEM, lalu memilih sebuah proyek STEM yang belum mengintegrasikan CT untuk dirancang ulang sehingga dihasilkan proyek STEM dengan integrasi CT di dalamnya. Proyek STEM dipilih pada topik ini karena dapat menjadi contoh proyek yang melibatkan lebih dari satu mata pelajaran. Pada saat ini, STEM sudah berkembang menjadi STEAM. Proyek STEAM pun dapat melibatkan berbagai kakas, termasuk kakak digital. Dengan mempelajari topik ini, calon guru dapat menggunakan konsep yang serupa untuk mengembangkan proyek kreatif STEM atau STEAM. T4.2 MULAI DARI DIRI Jika Anda memilih proyek STEM yang sudah pernah Anda lakukan, kendala apakah yang Anda hadapi dalam melaksanakan proyek STEM tersebut? Jika Anda memilih proyek STEM yang belum pernah Anda lakukan (mengambil proyek yang ada di media lain seperti buku dan internet), potensi kendala apa yang mungkin dihadapi jika proyek STEM tersebut dilaksanakan? Your Answer: Kendala yang mungkin dihadapi dalam melaksanakan proyek STEM yang sudah pernah dilakukan. • Identifikasi Karakteristik dan kemampuan peserta didik yang berbeda sesuai atau tidak untuk memberikan mereka proyek STEM yang sudah pernah terlaksana. • Menyesuaikan perkembangan teknologi yang terus berkembang Kendala yang mungkin dihadapi dalam melaksanakan proyek STEM yang belum pernah dilakukan (mengambil proyek yang ada di media lain seperti buku dan internet). • Validitas sumber informasi dalam pengambilan proyek STEM • Keterbatasan informasi • Kesesuaian dengan lingkungan lokal sekolah tempat mengajar. • Kesulitasn mengukur dan menilai hasil • Kesulitas berbagi hasil dan pengalaman sebab proyek STEM belum pernah dilakukan Tuliskan usulan Anda untuk mengatasi kendala-kendala yang telah Anda sebutkan di atas! Your Answer: Cara mengatasi kendala-kendala tersebut sebagai pendidik memerlukan kreativitas, ketekunan, dan kemampuan untuk beradaptasi. Memerlukan perencanaan proyek yang matang, sehingga penting untuk melakukan riset awal dengan cermat sebelum memberikan proyek kepada peserta didik , memastikan pemahaman konsep secara menyeluruh, klaborasi yang baik antar anggota kelompok, dan memiliki rencana kontingensi untuk mengatasi hambatan yang mungkin muncul selama pelaksanaan proyek.
41 T4.3 EKSPLORASI KONSEP Hal baru yang saya dapatkan dari Makalah berjudul “Infusing Computational Thinking in an Integrated STEM Curriculum: User Reactions and Lessons Lerned” • Sebagian besar siswa dan guru bereaksi positif terhadap kurikulum terintegrasi STEM + pemikiran komputasi (CT), yang diimplementasikan melalui pembelajaran berbasis proyek di mana dalam pengintegrasian CT dilaksanakan pada program sepulang sekolah. Pembelajaran berbasis proyek (PBL) adalah metode pembelajaran konstruktivis yang melibatkan siswa dalam membangun pengetahuan dan keterampilan belajar dengan guru dan teman-teman mereka melalui “proses penyelidikan yang diperluas yang terstruktur berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang kompleks dan otentik”. Pendekatan PBL juga konsisten dengan praktik terbaik pembelajaran STEM seperti memberikan siswa kesempatan yang otentik (yaitu berpartisipasi dalam sains “nyata”), berbasis inkuiri, relevan bagi mereka sebagai pembelajar, dan bersifat suportif dan kolaboratif. PBL dapat memandu desain dan pengembangan lingkungan pembelajaran dan kurikulum yang produktif dalam hal penyampaian konten dan mendorong pengembangan CT pada siswa sekolah dasar melalui interaksi sosial, perancah guru, dan aktivitas langsung dalam pembelajaran STEM. Di lingkungan sepulang sekolah, siswa memiliki waktu untuk terlibat dalam proyek kompleks yang lebih cocok untuk mengembangkan CT dibandingkan di lingkungan formal. Program sepulang sekolah sangat cocok untuk mengintegrasikan CT dalam pembelajaran STEM, memungkinkan siswa dan guru bekerja sebagai mitra sehingga semua orang belajar secara kolaboratif. Pengaturan setelah jam sekolah juga memberikan kebebasan kepada guru untuk bereksperimen dan tidak khawatir waktu kelas akan terbuang. • Keterampilan dasar yang ditekankan dalam CT sangat penting untuk pembelajaran STEM karena hubungannya dengan proses disiplin STEM dalam pemodelan, penalaran, dan pemecahan masalah. Pendekatan Pembelajaran STEM juga memberikan konteks alami untuk pembelajaran CT • Tantangan utama dalam menerapkan kurikulum terintegrasi STEM + pemikiran komputasi (CT) melalui setting PjBL. Reformasi dalam kurikulum formal seperti penerapan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa seperti pembelajaran berbasis proyek untuk pemecahan masalah di dunia nyata selalu menghadapi tantangan dan menghadapi hambatan. Salah satu alasan tantangan dan penolakan tersebut terletak pada kurangnya waktu dan keahlian guru untuk mengeksplorasi praktik inovatif guna menerapkan perubahan yang diperlukan dalam kurikulum formal. Tantangan dalam membekali siswa dengan pemecahan masalah dan kegiatan pembelajaran yang relevan sering kali mengakibatkan kurikulum ketinggalan jaman yang gagal membekali tenaga kerja dengan keterampilan yang diinginkan. • Pentingnya integrasi CT dan pengembangan CT pada siswa. Upaya terbaru untuk mengintegrasikan CT ke dalam pendidikan K-12 terbagi dalam tiga kategori: a) penambahan aktivitas pemrograman yang berdiri sendiri yang hanya mendukung sedikit atau tidak ada pembelajaran konten mata pelajaran; b) integrasi yang mendukung pembelajaran isi mata pelajaran “sebagai cara untuk mendeskripsikan, membuat perbandingan antar, dan menguji prediksi tentang sistem” dalam pemecahan masalah, dan c) integrasi yang selaras dengan praktik para profesional STEM yang menunjukkan kepada siswa bagaimana para profesional mempraktikkan CT. Lebih lanjut, integrasi CT pada K-12 untuk pembelajaran sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) berpotensi meningkatkan pembelajaran sains dan meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran STEM melalui inkuiri ilmiah yang tertanam dalam CT. Mengintegrasikan CT ke dalam kelas membantu mempersiapkan siswa menghadapi masa depan dengan mendorong kreativitas dan pemecahan masalah. Integrasi CT yang produktif terletak pada desain integrasi, baik itu desain suatu kegiatan, pembelajaran, atau
42 kurikulum. Lingkungan yang tepat untuk mengintegrasikan CT harus mendukung interaksi sosial, kerja sama, dan kolaborasi. Dengan merancang lingkungan inkuiri di mana CT diintegrasikan dengan berbagai topik STEM, guru cenderung tidak merasa bahwa mereka menyia-nyiakan waktu atau materi dari mata pelajaran lain, dan sebaliknya mereka membantu memperkuat pembelajaran siswa secara komprehensif. Oleh karena itu, lingkungan pembelajaran STEM+CT terintegrasi yang dipandu oleh inkuiri PBL, yang mengharuskan siswa untuk belajar, mengeksplorasi, dan menerapkan lebih dari satu disiplin ilmu untuk memecahkan masalah, akan produktif untuk mengintegrasikan CT untuk siswa K-12. Intisari dari hal-hal yang telah saya pelajari melalui makalah ini adalah reaksi positif yang ditunjukkan oleh peserta didik dan juga pendidik tehadap kurikulum terintegrasi STEM + pemikiran komputasi (CT), yang diimplementasikan melalui pembelajaran berbasis proyek yang dilaksanakan pada program sekolah. Keterampilan dasar yang ditekankan dalam CT sangat penting untuk pembelajaran STEM karena hubungannya dengan proses disiplin STEM dalam pemodelan, penalaran, dan pemecahan masalah. Pendekatan Pembelajaran STEM juga memberikan konteks alami untuk pembelajaran CT. Pendekatan PBL juga konsisten dengan praktik terbaik pembelajaran STEM seperti memberikan siswa kesempatan yang otentik (yaitu berpartisipasi dalam sains “nyata”), berbasis inkuiri, relevan bagi mereka sebagai pembelajar, dan bersifat suportif dan kolaboratif. PBL dapat memandu desain dan pengembangan lingkungan pembelajaran dan kurikulum yang produktif dalam hal penyampaian konten dan mendorong pengembangan CT pada siswa sekolah dasar melalui interaksi sosial, perancah guru, dan aktivitas langsung dalam pembelajaran STEM.
43 Lembar Kerja “Proyek STEM yang belum Terintegrasi CT” Nama Shentia Liyuwana Defi NIM 202310631011116 Judul Proyek STEMyang Dipilih Proyek Miniatur Mesin Pembersih Sungai Sumber Nurhayati, N. 2019. Implementasi Pembelajaran STEM di SMPN22 Bandung. https://smpn22bandung.sch.id/2019/05/03/implementasipembelajaran-stem-di-smpn-22-bandung-go-nasional/ Deskripsi Singkat tentang Proyek STEM yang Dipilih Proyek ini ditujukan kepada 40 siswa yang terpilih melalui seleksi. Seleksi tersebut sebagai upaya mengelompokkan siswa yangmemiliki minat lebih terhadap bidang sains dan teknologi. Karena diperlukan siswa dengan minat tinggi untuk menyelesaikan proyek yang tergolong rumit. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan di luar jam pelajaran dengan kolaborasi guru yang membimbing. Kami memberikan pengetahuan masalah banyaknya sampah di sungai. Dalam pembelajaran dengan pendekatan STEM, terdapat dua ciri khas utama yaitu pembelajaran berbasis masalah untuk mencari solusi dan Engineering Design Product (EDP). EDP merupakan tahapan seorang engineer mengolah ide, menuangkan dalam bentuk desain yang detail, uji coba desain, hingga mendesain ulang sampai mendapatkan alat yang sesuai. Hasil dari pembelajaran berbasis STEM bukan hanya bertumpupada penguasaan konsep, namun siswa belajar untuk tidak mudah menyerah, mencari solusi dari kegagalan, berpikir kritis, kolaborasi, kreatif, dan komunikatif. Alat pembersih sungai yang digagas oleh siswa SMPN 22 Bandung ini bukanlah filter air kotor, namun alat ini berfungsi membantu manusia untuk mengumpulkan sampah yang terbawa oleh air sungai agar lebih mudah dibuang ke tempat sampah. Anggap saja alat ini sebagai pemulang sampah otomatis yang mengapung di sungai. Digerakkan oleh motor sederhana bertenaga baterai, miniatur pembersih sungai ini memindahkan sampai yang mengapung di sungai ke dalam tempat penampungan. Ini ide yang cukup bagus untuk usia siswa SMP.
44 T4.4 RUANG KOLABORASI Lembar Hasil Diskusi Kelompok A. Proyek STEM sebelum Diintegrasi dengan CT Nama Adelia Devi Windasari Ihak Silvia Leny Anggraini Wijaya Shentia Liyuwana Defi Fitria Setyowati NIM (202310631011114) (202310631011026) (202310631011126) (202310631011116) (202310631011107) Judul Proyek STEM yang Dipilih Parasut untuk Daerah Bencana yang Terisolasi Sumber Buku Parasut untuk Daerah Bencana Terisolasi Oleh : Ummy Salmah Russasmita Sri Padmi Pasttita Ayu Laksmiwati Wahid Yunianto Deskripsi Singkat tentang Proyek STEM yang Dipilih Daerah-daerah yang mengalami bencana alam, biasanya sulit untuk dijangkau para penyalur bantuan sehingga sering terhambat dalam proses penyaluran bantuan. Oleh karena itu, sebuah parasut didesain untuk mendaratkan bantuan di daerah terjadi bencana. Parasut tersebut didesain dengan menggunakan konsep segi empat dengan pendekatan STEM. Melalui kegiatan ini siswa diharapkan mampu membangun pengetahuan dan keterampilan matematika pada topik luas dan keliling segi empat sera menyajikan dan menafsirkan data, selain itu siswa diharapkan mampu menerapkan proses desain engineering untuk mendesain parasut yang ideal.
45 B. Proyek STEM setelah Diintegrasi dengan CT Nomor Kelompok SMA Negeri 7 Malang Anggota Kelompok 1. Adelia Devi Windasari 2. Ihak Silvia 3. Leny Anggraini Wijaya 4. Shentia Liyuwana Defi 5. Fitria Setyowati Nama Proyek Parasut untuk Daerah Bencana yang Terisolasi Deskripsi Singkat Proyek Daerah-daerah yang mengalami bencana alam, biasanya sulit untuk dijangkau para penyalur bantuan sehingga sering terhambat dalam proses penyaluran bantuan. Oleh karena itu, sebuah parasut didesain untuk mendaratkan bantuan di daerah terjadi bencana. Parasut tersebut didesain dengan menggunakan konsep segi empat dengan pendekatan STEM. Melalui kegiatan ini siswa diharapkan mampu membangun pengetahuan dan keterampilan matematika pada topik luas dan keliling segi empat sera menyajikan dan menafsirkan data, selain itu siswa diharapkan mampu menerapkan proses desain engineering untuk mendesain parasut yang ideal. Outline Proyek Pada kegiatan ini, siswa akan menggunakan konsep bangun segi empat serta prinsip-prinsip engineering dan teknologi untuk mendesain parasut yang ideal, yang dapat digunakan untuk mendaratkan bantuan ke daerah bencana yang terisolasi. Tujuan Pembelajaran • Membangun pengetahuan dan keterampilan matematika pada topik luas dan keliling segi empat, serta menyajikan dan menafsirkan data. • Menerapkan konsep luas dan keliling segi empat serta penyajian dan penafsiran data untuk mendesain parasut yang ideal yang dapat digunakan untuk membawa bantuan makanan dan obat-obatan ke daerah bencana yang terisolir dengan aman. • Menerapkan proses desain engineering untuk mendesain parasut yang ideal. Driving Question Bagaimana cara mendesain parasut dengan menggunakan konsep segi empat? Produk Akhir Sebuah desain parasut menggunakan konsep segiempat. Hands-on Activities Kegiatan dilakukan dengan membuat parasut yang terbagi menjadi tiga aktivitas pembelajaran. Berikut gambar desain parasut yang akan dibuat.