The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Nyanyi sunyi seorang bisu II Catatan-catatan dari P. Buru by Pramoedya Ananta Toer (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by yasmeens1008, 2021-06-23 20:57:37

Nyanyi sunyi seorang bisu II Catatan-catatan dari P. Buru by Pramoedya Ananta Toer (z-lib.org)

Nyanyi sunyi seorang bisu II Catatan-catatan dari P. Buru by Pramoedya Ananta Toer (z-lib.org)

sl••·

penerlai�tifditanpn

,JI\JIVERSIN•-1-BORAF RAYUCKLAND

8C/C/ .. 2213
IC/2/n

UNIVERSITY OF AUCKLAND LIBRARY 1115
Unless this book is returned on or before the date
2V,
stamped below, fines will be charged.
Return in on��- �1...&..J..J;Ju.,__

�'\� <I-:_;�

i

SJ:lenu(is d'an �aemunah cTftamrin
�e&ruari 1955

Prainoedy� Ananta Toer

NYANYI SUNYI
SEORANG BISU

II

Catatan-catatan dari P. Buru

Jakarta, Februari 1997

1988-'89 : Pertama kali diterbitkan di Belanda dengan
judul Lied van een Stomme, penerjemah:
A. van der Helm dan Angela Rookmaker,
penerbit: Manus Amici / Het Wereldvenster (Unie boek),
dua jilid, Houten.

1995, 6 Feb. : Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, �entena pustaka alternatif di tangan
1997, 6 Feb.
Cetakan I - Jilid I, Jakarta (ulang tahun penulis ke-70 &
peringatan 40 th. perkawinan)

Cetakan II - Jilid I, 1995, Mei.
: Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, �entena pustaka alternatif di tangan

Cetakan I - Jilid II, Jakarta (ulang tahun penulis ke-72)

UNIVERSITY OF AUCKLAi ,;:,.

- - AUG 1998

"'-----""'L""l·B""'R_A3.:(_,.-=_.___J

Judul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 11
Penulis © Pramoedya Ananta Toer
. Desain cover Gendut Riyanto

Penyunting Joesoef Isak
Penerbit �ente/la pustaka alternatif di tangan

Pengutipan hanya seizin pengarang, kecuali untuk kepentingan resensi
dan keilmuan sebatas tidak lebih dari satu halaman buku ini.
Memperbanyak buku ini dengan fotokopi atau bentuk reproduksi lain
apa pun tidak dibenarkan.

Hak-Cipta Dilindungi Undang-Undang
All Rights Reserved

Isi

Kenang-kenangan Ulang Tahun ke-72 vi
vii
Biodata .................. viii-x

Catatan atas Catatan

1 Mata Rantai ................................................ 1
2 Yang Takkan Kembali Lagi 33

3 Karangan Bunga pada Kakinya ...............,................. 46
4 Patahnya C:engkeram Singa .......... ................................. 87
5 Antek Jepang ..................................... ...................................................... 112
.6 Nilai dan Sumpahnya ................................................................................ 147
7 Revolusi Belum Selesai 160

8 Jawaban Batin .......................... ................................................. 173
9 Surat untuk Yudi ....................... ........................................... 215

10 $urat untuk Yana. ..................... ....................................... ....................... 237

11 Hadiah Ulangtahun ke-21 untuk Tieknongku 250
Walaupun Terlambat Disampaikan

12 Surat untuk Ritci. ....................................................................... 275

13 $m:at untuk Nen 284

14 Po�ok dan Tunasnya 289

Poto ......................................................................................................... 296

. Epilog ................................................ ....,......... xi-xviii

V

. R\;tQaQg,.,keqaqgaq
Ulaqg ial1u11

a.ska.ft &uku ini disuntinEJ dari kertas-kertas &er-
. serakan &erisi ca.ta.tan &erftar0a <)?ramoedya·
. A_nanta cfoer yana dituHsnya semasa menjadi

taftanan poHtik 10 taftun Camanya di <)?u(au c:Buru, 1969-1979.
�sempatan menuHs &aainya &er(an0sun0 tidak teratur dan
ftanya dikerjakan &iCa keadaan memunakinkan.

�rtas ratusan Cem&ar ini denaan sendirinia tidak ter­
simpan rapi, cukup &anyak [em&aran yana rusak, hiCana a.tau
tidak terkumpuCkan seCenakapnya Caai. CDari a.pa yana tersisa
dan terseCamatkan itufoft disusun &uku y�nB di&afJi da[am dua
jifid di �awaft judu( �anyi Suni Seorana c:Bisu.

gni adaCaft &uku kcdua sete(aft &uku pertama diter&itkan
dua taftun yana Ca.Cu tepat pada u(anataftun <)?enuHs yana ke-
70 (6 cf'e&ruari 1995), dan seka.Haus u(an0taftun perkawin­
annya ke-4O denaan SK._aemunaft c)ftamrin.

CBeCanda sudaftfe&ift �u(u mener&itkan catatan dari <)?�Cau
' cnuru . _ini denaan judu( '�d van een' Stomme, dua ji�id

masina-masinfJ 353 dan.316 ftaCaman, pada ·taftun 1988-'89.
Sefuruft isi edlsi gndonesia ada[aft ftasiC penyuntin9an

yana dlpersiapkan untuk ter&itan _edisi CBeCanda kurana-Ce&ift
s�pu[uft taftun (a(u terse,&ut. ·.

vi

Biodata

NAMA PRAMOEDYA ANANTA TOER
Warganegara Indonesia·
Tahanan Politik Np.
Tempat / Tanggal Lahir 641
Pekerjaan
Bloi'a� 6 F�b.ruari 1925 ·
MASA TAHANAN Pengarang
Tuduhan
Pengadilan 14 Tahun (1965-1979)
Penjara Salemba Tidak jel�s
Pulau Nusakambangan Tidak pernah
Pulau Buru 13 Oktober 1965 - Juli 1969
Magelang / Banyumanik · Juli 1969 - 16 Agustus 1969
"Bebas" rAgustus 1969 - 12 November 1979
November-Desember 1979
WAJIB LAPOR kepada 21 Desember 1979
Kodim Jakarta Timur
1 x seminggu (± 2 tahun),
kemudian ·1 x sebulan

Foto 1961, sehari setelah keluar dari penjara Cipinang, Jakarta

vii

Catatan atas Catatan *

Ctlkkiuiedarmaismk.uknmSaikangtueenaikcrmtiuapadnautnaia-ltndisndugauballkieraansiabilnnastetk.muredaarSraaanpbetltamu-aymsbmrauueuanarng-gahbeditaidmiumyntiuram.ppulnIuiaunsghtkinastsjtaeenuaitnrdpldehaaa,linikanjmhudlilegpai1tbpiau9inie7dnkh3rkaadi,bakrkitraeasedinphaknaaeualdkrtnakniaemdpeanmaaehbklbdneutaauabekaldliriiunha,-s

mtKmpuKmdpbythieedlMaeereaaeaealmeranrsnnminnniesvhekdcagaiutgmmuaeafuanndnardanbpnarpadi"nttiteagnkuaaaeibptragsfetytntnsearianehamgmziininubbfebnnkiataeneanauiaegmnktbmgdkudmhatbeedapanaipbabjerenna_rkynuapuarnuilgaitbcyrpanbualaa,,aaabadilmapnlsnigtriadaseocokesyas.ktiakarplaiaeaas,atnerbckd.pabaneamanahaiKntegsrdgayiparaasaoranaautaidnkanideafbtpayitam.samnreareadljSiarchtaakunibgijtuemnswgdaoaejalreaaldarruentaakldamakinharythe.mpiuusmaaatsJotinmhnpadlaealagsjngaartatacteRuepsiakt.palsd,nehInaaaTetaarcsnamnmhpdkaikeajtaekeauaedpenonndtnnrnjaatilncuaoiangegn,kuyrcyhnhteegaeretaunagnt,ins:habinsyd-aasgsehvbeeaglenaienbuetrtskre"mebdyraitebrkienagnaatadjadedgeagknsiasaaaadraaolagiink--.n.irhhri

umktiPueranahnde. ymaaumdkeaarpneakptaemnyeyaminmaghppaamenrginasanehbaamtbaeu-smekbbealaabcinanyacana. td·aatlaanms emula dan
terbita n ini

* "Catatan atas Catatan" ini dimuat dalam Lied van een Stomme, 1988-1989,
Nyanyi Sunyi Seorang Bisu edisi Belanda .

viii

Sebagi;n, yang pernah dibaca oleh teman-teman, memang
tidak didapatkan di sini, karena sudah sejak di Buru sengaja
dihancurkan setelah I., sarjana muda sejarah dari Yogya itu,
melaporkannya pada penguasa, mengakibatkan beberapa
kali terjadi interogasi. Sedang sebelum itu, catatan perjalanan
dari Jakarta ke Nusakambangan dan di bulan-bulan pertama
di Buru, sudah lebih dahulu dibakar karena operasi pencarian
kertas di Unit III.

Seorang pejabat yang tidak tahan melihat keadaan para
tapol, pqda suatu kali menasihatkan: hadapi semua seperti
main layang-layang; angin kencang ulur benang, tak ada
angin tarik benang. Kalau tidak, kalian akan tumpas semua.
Nasehat dan anjurannya aku akui ikut berpengaruh atas
nasib dan surat-surat dalam himpunan 'ini. Tanpa men­
dengarkan nasihat atau anjuran tersebut jelas tulisan ini tidak
akan pernaJ,. tercetak karena penulis sudah jadi peda atau
ikan asin dalam kain kafan. T�rima kasih kepada pejabat
tersebut.

Terima kasih tak terhingga, dan memang jadi haknya,
adalah pada semua dan setiap orang, yang karena solidaritas
internasional dan manusiawinya memungkinkan adanya
kelonggaran menulis dalam pembuangan sejak Juli 1973,
khususnya Amnesti Internasional, Komite Indonesia, (badan
apa lagi?), sedang pribadi yang sangat mengesankan dalam
hubungan ini tentu saja Prof. Dr. Wertheim dan Carmel
Boedia.rdjo.

Barang tentu karena yang diselamatkan itu bersifat pribadi,
yang pada mulanya dimaksud untuk mengenangkan kembali
yang sudah-sudah dan menyimpan tanggapan-tanggapan
semasa, agar tidak lenyap begitu saja terlangkahi oleh proses
kemerosotan, terbitan ini juga akan terasa sifatnya yang
pribadi. Penerpitan ini didasarkan pada pertimbangan: apa
dan bagaimana pun pengalaman indrawi dan batin seorang
pribaq_i, apalagi dituliskan, ia jadi bagian dari pengalaman
suatu bangsa dan umat manusia pada umumnya. Pertim­
bangan tersebutlah yang menyingkirkan pertimbangan lain
untuk tidak menerbitkannya.

ix

dgtlokaopukueiurSedlaancraaesjtaelasstanehaau,ndlbhngurnakyaye,athynaludamtiyaungata.hu-aenmgklsPaiamasesktamamneinukalmngdeoiknhanmuynipreigrsgdraaaumainkan-tn,blseypuna-ggaudrsaanhgskiaylymgmneaainaakd,ndlne.pnaniiegtinnaugsansgtaaglakugodsnnkhmidrraakasauemaamnaedinnldn.taneaaagadkpAmgmdnkaeiabaptayaknenuljiannaakagsi g-ramaupbkhkiliabonehamaiehtiglkampaasueeaunauknphnannaysednytdtybanpuriaaisaukceynkskneneaneakagtrtgdtidgrr,aaaaapeeaihbppkkanneldkiaeapaadnsiakmnntnaaagnkaegknma,akkmaaanslasnuselaneuipaena,lomraedmmsjsamdlabaaaaamuaadiaahjgnhannia:n-i
tpkIdrisarneAaaanmtlkkukga,bkthtmieayismnrlaibtten-kauen,gaknntgtetaapeterusreilpakmkarheanharkhsaklmeahuianktseus.dainahtiryiysasnauanegmsbgbguepausnilaknanjiraiayk-.-dbaabTienuktsaukae-nmarmpnklpyabaauaargjkelkiei,naerdnaaiphpaaks-nadeeplarbamatbagayegsuiananmdhgiginaepnJtydeiao.airsetiksnkboaysaehaaf-

P.A.T.-

Jakarta, 1988

X

1

Mata
Rantai

M emang ada saja yang sakit hati bila dikatakan: se-
tiap orang adalah keturunan petani. Belum tentu
yang sakit hati itu keturunan nomad, pemburu

atau penggembala domba, boleh jadi memang tidak lain dari

keturunan petani.

Masyarakat petani satu langkah lebih maju daripada

masyarakat nomad. Bidal, pepatah - rumus kebijaksanaan

masyarakat kuno - dituangkan dalam kata-kata yang ber-

hubungan dengan pertanian. Itulah kebijaksanaan petani.

Pantun pun pada mulanya, k<;1-ta seorang Barat p~ngenal pan-

turt·, ada)ah bahasa daun. Dan di musium Centu pernah kuli-

hat. contoh-contoh dedaunan, dalam kombinasi atau tidak,

yang oleh sementara bangsa minoritas di masa lewat untuk

memberi alamat atau surat di antara mereka.sendiri.

Bidal, pantun dari masyarakat ~ani kuno ini ternyata tetap

abadi dalam segala jaman sampai _\<ini. Pada suatu masa Ang-

katan Pujangga Baru dan 45 sudah!terlalu Iriua~ terhadapnya.

Kemuakan yang tak berjawab, hanya karena soal selera bela-

k~: Ha~ya karena_tel~- terasa aus qantid~k menghayati. Teta-
p11tu tidak berarti keb1Jaksanaan db.lam bi.dal atau pantun, pe-

patah atau petitih lantas jadi mus~ah. Generasi-generasi bisa

berdatangan dan bepergian, mereka tetap berisi kebijaksanaan

kuno yang lestari.

Orang Belanda punya pepatah: Pe appel valt niet ver van de

stam. Atau Jerman: Der Apfelfiillt_ nicht weit vom der Stamm.

Buah appeqatuh tak jauh dari pokqknya. Juga Jawa punya ke-

samaannya:· Kacarig ora ninggalake lanjarane - kacang tidak me-

ninggalkan kayu rambatannya. Artinya: anak takkan jauh dari

orangtuanya. Rumus kebijaksanaan petani tentang hukum

1

Pramoedya Ananta Toer

warisan sebelum Mendel dilahirkan, sebelum dik etahui ten-
tang rahasia kromosom dan sebangsanya, rahasia darah. jadi

Untuk waktu yang sangat, sangat lama, darah tetap
jmkdtkdmtdlsdpuaeaaieaaeiiakgamaitkninynnsewtanhigaagaprmrdamadianalaaanbuanine.nnnteythil,nlgesymLaampmay-rkmaleehrataauaanaairbianninlnsngausbiegtg,ubhduelniiktasssbaudsigbanmiidbiaaabaaennayagahnanra-aaknatusgnd,ekasi,isnipuujfnephtumuabtrnustteiauagitaarignlaatda.aknnbutapraiwKggaidsamhtjoisakhaieagr.lasejauinaaoMaadet-nlsnggarrbibkaijiatanaiaaaerasmasnnkwniclaimhpaum,segahnaueaimnnspsutbsambdeaagaetktntiurda.annapisuyaenattDgrrmayiaawpsgaith,maan,anuaoawunmlgttTnisrauabgtaaaaeemiaigundrfm,ttlkyie,anaagaasaaaankcphg,lkalpntaekuiis,naaergrmheakkpnkalykdnukaesaajadmieapihiurnnrnantiaaagyeuatgdngisnb-aannsliamabyi:mnitdksanaeeamgeau-knurrthnycadkaeaisagadwddanbanuabnanaiaagutukatiigukgnn---st-il
faKbdkdknaotaaianekaaleidyarasfnDaalrnwulaaiasuekkkntlhfiaaasnmba-aaragn·onsaaanhetna-a,snnpaolnkkiignjuakteardyeaudayukmalrutiangmaaeknnrytahsi.lnugapsaabeaatah.k'eTnpdamilpnyJrdgarobraeetynuapaiareedlnmnaandapaakrraihsnbiig-s\uamh:ssa,aasakmnmiaaaihetneuaagbuykikarteelnntikaeuaunrnmusd.hikerpy-mdentaakkhaGbianantdseaaapetpagakgabmean,ulmaae.munkri.t-psatnaaMumtbNpnmndneaksmaayarna'ateaabraikakkkagesm.taii.eaanier-snmTaneramutajyennknauamnaanpttulaamgtanekaaeaadkaprrgabtrdakpaaraasenat,aaunuendoeknhnjbctlarakuyuutasaaasagaamhesngmantiia,nnetayttgaduanmdyiitupstdiiknitsauadpueraaaeaiammtl-ktnrto.rkausakegarmelaausmsMadummnyn.sendiiauuyseeamBpgejciaspoman:eneuauirdrlrgadaakylanakiuawkaanangtageglanuninhgg.i--:,i
·ooakmprrueaaMerrnnlodgeghsinttarouujirteanaudmk.ysauSabmr!esaietetoinanarngdpaieinkrngkiaa.teculJkaupaungnorgaykaoahun,kanga,rtapuuunasnkkitmmnuaiekhenmnblgegieb~semainthamaahmln.uelgaanij,ngukaje,eapnlwrea·aabkalnijda,hihabdtnaeadnrnimkrsieseeelhnettegiiblaauiapph--

kang ataukah lebih bijaks.ana.

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

Dengan demikian aku bicara tentang orangtuaku.

*

Ayahku, Toer, adalah pendiri keluarga Toer. .

Pada tahun 1950 waktu nama ini muncul di depan umum

melalui tulisan-tulisanku, orang merasai kejanggalannya.

Apalagi setelah mengetahui itu nama keluarga orang Jawa.

Sebenarnya tidak perlu betul, karena nama itu sudah bermun-

culan dalam tahun-tahun dua puluhan dan tiga puluhan. Juga

bukan asing dalam kehidupan sosial dan politik di kota kecil

Blora.

Dalam suatu perkenalan dengan seorang pelukis Polandia

di Kanton, 1956, dapat kuketahui dalam bahasa Polandia

nama itu berarti: sapi. Dalam ucapan yang sama akari berarti

gila atau pintu gerbang dalam bahasa Jerman, dan dalam Jawa

sendiri berarti lagi pula. Apa pun maknanya dalam setiap

bahasa, baik atau buruk, aku sendiri bangga membawa nama

ini untuk seumur hidupku. Nama itu sendiri bukan hanya

nama peinbangun keluarga, juga pembangun tradisi.

Nama ini untuk pertama kali muncul pada tahun 1923.

Tahun ini gerakan revolusioner Indonesia mulai memasuki

l5abak peningkatan. Baru setahun tanah tumpah darahku

mendapat nama resmi: Indonesia, suatu nama politik. Terpe-

ngaruh oleh gerakan revolusioner Volksraad yang terancam

akan ditinggalkan oleh wakil penting dari organisasi-organi-

sasi Pribumi. Semua seakan mendengarkan panggilan r~volu-

sioner untuk tidak bekerjasama dengan penjajah Belanda,

kekuasaan dan alat-alatn'.ya.

Seorang pemuda, berumur dua puluh enam tahun, lulusan

Kweekschool Yogyakarta, pada waktu itu guru pada HIS

Rembang, menyatakan diri keluar dari jabatan negeri, ber-

nonkoperasi. Pemuda yang berpendidikan tani, pembenci feo-

dalisme, seorang nasionalis yang berkobar-kobar, berpe-

.rawakan atletis, suka memainkan lagu-lagu klasik ringan pada

biola dan cinta pada kebudayaan Jawa itu tidak lain dari

ayahku. ·

Ia dilahirkan pada 1897, anak seorang naib Klaten, kemudi-

an jadi naib Ngadiluwih. Masih ada barang dua puluh mata

rantai lagi di atasnya. Tetapi tak ada guna bicara tentang

silsilah.

:,,,

3

Pramoedya Ananta Toer
HanIPaSkaRdsaeemotarbhaanungng,p1be9en2k3gahistuu.mlujuuRgriaedminabypaaen, rgbi,setHrruiamsjieuoIrbrarlianmhgi,amgba,delliaashsliurtalpuhasudanna,

.-b1ohskktjtollmsrbapgbtmbkHaee•e9eaeeoriaeiergeetauegtam0nsargdSraaradanbeIakanlhua8nrmansutanjubliimupmaauasd.diakiriakkggausdabhhisad"natIgIiaibaSpteuttkbPdlaattrpakgiutniakeaatu-pria.,druani:eydeeubrnkionakepliIljBantstnkdvaaakda,aumirhrumstaeaahlprsigtaahuotpdaeuoibgsrndmeii,netanpmaerybhikeIhaariimaipplmkrkBenaabpkoaaahli,d,ftaeueantp,lkndnutawraaeeeukuiindcyuitaGiegoitksrkotislertnli,igaaa"asnraianaknueiimnndrnaahutelrnpts-gkjdddlJeu.ytauakraamabapaadegaa,esaliln~mInk,uhardiauhkiwnriaianrmaksgnbmJigaiibtehdikssbgjdaamaareeabnalpseu.yuedea,eemiRuuwrnbneiee·yjkeIeamgspaasmaafparueadnsapnaneo.aladaepanrk.kyeida.hpgagldgogrtStaSuamjanodaahaNkiauada'Iaguneemairahkrdeysamtemaamnnemudegn-aa,ynticasl~snktynbaaimirmn.jetbb.aaaiagiapdaegiaialldaknSiI.taphdnaaatvrleaaulagi.hshiayhuia"iAnunamiamkkdnaJdeBkp,iiaakblpka-naelsdmdiyoaay.enrpmdpuaaekekiiwepBaggkraumcaasynuinkrburkuahaauegphaenpetaasgaanhnbetaln.ujn-,naelkekg.heainrumyal.regdbdratkpdkuaintaaakDgn,skrausahauiaeeugbatgnbkpaeadaseibpnallamuhrnmua.ahgknniieeaaniuetndpganc,mtank.ybbmulra,drnsirpueuakeyrueagteyeknddDeaagpnsmaueumanbrmgbatkliain,anlamgu?baunin~dunadaetaatbnngnamtenaluiiiihgkrdngaeai,udkghtnaho.tsfi.alrnsknehajahekiaekgsaautusaSymgadIhkagtonueomn,ekamtmgeejataunuilbednnamauajjgdaaaakJsidaaiarauadggdntaanatlsoapeho-knilhugiaupieawprbigshlergmraJ,sndasniogal,ailearanaaaduakmnuukdTaapmdesnswk.skkeharayfjdaunaeamueaeguraeeiupiInaar-sai-rgn,---ns,a--n--s,-.
ykBtkueaaouTnnBetgadlsBhoiberuOomeaner.eudtAt1uaio9byOm2juaa3eohhbti,koatkmutumeaoeclnoarni,lanDjmandgobgasekautnntutnjekaadgrukdiSmrriueuopemkseen.ttenuocngremiabsnojuegakrdrgkoiadallBaankhnladondpriraaeRi,snjeakadmredicdisbuwioakarna.lggisIataspnaeigibInsanaadnsgtattoaiihr--i
dokter.

4

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

Pada tahun itu juga Gubernur Jendral Mr. Fack dalam per-

jalanan dari .stasiun ke kraton, di Yogyakarta, dalam sebuah

kereta kuda, telah mendapat serangan dengan granat-granat

bikinan sendiri oleh kaum revolusioner. Serangan yang tidak

mencapai sasaran karena daya ledak senjata tersebut tak men-

cukupi, bukan hanya jadi perlambang dari ledakan lebih be-

sar yang akan datang, juga jadi awal pembuangan ke Digul -

Hadji Misbach dan Ali Archam.

Seluruh kehidupan di Jawa menggeletar karena meningkat-

nya gerakan revolusioner.

Ibuku, yang sama sekali tak punya pengalaman kerja,

sekarang harus kerjakan semua untuk keluarganya. Ayahku,

gagal dalam merevolusionerkan Boedi Oetomo, tak mendapat

kemungkinan pula untuk mengubah Instituut Boedi Oetomo

jadi sekolahan nasional seperti Taman Siswa. Ia hanya dapat

membenarkan anggota-anggota yang meninggalkan organisa-

si, pindah ke organisasi yang lebih revolusioner. Ia tersekat

pada Instituut sebagai nonkoperator. Ia tak dapat memforsir

keadaan.·

Kalau pada 6 Februari 1925 anak mereka yang pertama la-

hi.r, sebagai orang Jawa yang selalu mencari arti pada setiap

nama, dinamai anak Pramoedya. Menurut pengertiannya,

nama itu berarti "Yang Pertama di Medan", sesuai dengan

. pergolakan pada waktunya. Beriar tidaknya menurut bahasa

Jawa, aku tak tahu. Ia sendiri pun telah timbang-timbang~na-

manya sendiri. Sebagai pembenci feodalis~, dengan putusan

yang kukuh ia buang Mas pada nama pribadinya, tinggal:

Toer.

Blok hitam pada Mas pada papan nama bercat biru itu un-

tuk waktu lama telah memanggil renungan-renungan yang

panjang. .

Sejarah telah membuktikan, bahwa pada 1923, partai poli-

tik yang bernama Partij ·Communisten Hindia, telah mengu-

bah namanya jadi Parta_i Komunis Indonesia, \dan dengan

demikian menjadi partai pertama yang menggunakan nama

Indonesia. Dialah yang merevolusionerkan keadaan. Tetapi

ayahku, Toer, tidak pernah jadi seorang komunis. Ia tetap se-

orang nasionalis, tetap revolusioner dan berkobar-kobar.

5

Pramoedya Ananta Toer
spsap_kRnApbSeeainaeyeenetmAyumDdkpeyPdabaImaomkauaebaueneehirusraaunsrlmtpatkpiaiseautkgktatouurabmpwuaupatafbBsae,aktritbaapeSenBhaIrmejtretnrreoeenlanaanBdurapsrrn-mGrhyiaistnn1eaiatkirua-no.daa9ltttipama.uuvakh2abbssotnSeurn,6eaeeemlirmdaeytinnlnntmDtnaatBueBadeeoii,minkelodnrirnaGotsrulncakbgunaaGeieeuseky.tatndtbaeseregb-agudDignekiartna,eatsaOeikbgauagSdrtirlpupalaaemkmaaaoalaepleiktlalumkeammoae.rmintptnnptmnneoDsakeab.ybperaemnmeosaebideanmiaaetiroudmdaBapatsdoudlamaepuu<beaeniananaarlteinataauapatgairCnujdgulwpsnaakaudnaoadedet.niaielssrmanininadnneualdglgmu.maielwgrekikiaanmp!kmaoaearmrwyaUunesmatspbadaiavatinnu.haiiuakodgdjishgindmvltta-eennaueuiepanmnsktyspprlegagiasdaaite~eopeneiamninnctngnbrngytdadetaheudgiSpbirPriarnnaude,raiiadrgtcli.kminnetuaaakraaiDgsgetnm-pn-ktsit-ii.

TdNdaksb·rSndgkeyaeaaiayoauPtckroOkansaeansiaa.hriapkr.ioradtmpnbkbaiaaennPainueurilekacgdeana1gnknmlaerih9o-idusterdmso2miieaumnteddn7rnIeeatdbaapa,gnecarnndnkaunaaddnentaitgdkaoebgbgd-amBnamknuutuinbBietgaearbk0aadulnksblaah1aanmoakidnaehhaabngrnaanru,a,akpssnaI,tnrdsdPeniaadbb,gamfilipdNdieau-ras,ko.ahaiarteIIhk-krans.adouaa.wtsmnediDardSnmaesgaaaleio.naianhkkkpusnePynmgaacktamacaeutnh?pnyep._mPdlyeraakiredsNeitanhidSemteuamnoakIatsm,ng,pbku-uepdjIwaaidaes,udriacnn.sunmibaginaesAsa-apkaprcabpamiheantalnukemudumwwdeyymsaebeamabiaiaannknimk,merngamigaigujbmgyp,aeauni,peManinkngptrianhoajunaairrtaknnklnt.prtdeietytiaguSaiecnhiadddgaaraDyPoiosauhrmbdsaeaitrkkhaaiagoakrabtdn.ltnughnarsaaugaIiolelasghaini,-p.-a--·
kabtbdeeneaerAdrtnsidueakgnaakyuaydaanbdutaheaplnrklapeaagumsahd,odtalpidmuslitiaeeheerto"miananprksgbyau.edanalrag.ugtiaaNidapnbaaeatimnindsnigumuogkanngej.amaapAlrlaibkaskdnaauaynyyattaabanannihghdggukuutanbikrndeeayarsvwakuaotlnarnliluegtynvstapiyiogoeaplanurektesrpeajirutodm,1lnuauayednhraudg.ankaaInga-nn,

6

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

berkayuh di atas yang revolusioner. Ia revolusionerkan Insti-
tuut Boedi Oetomo. Ia tinggalkan kurikulum Gubermen. Ia
susun kurikulum sendiri. Dengan demikian IBO jadi lemba~
pengajaran nasional, dengan bahan pelajaran yang disusun
sendiri, dengan pengajaran sejarah yang meninggalkan
Nederlandse Geschiedenis dan Nederlands-Indische Geschie-
denis, menitik beratkan pada sejarah bangsa Indonesia dengan
tak segan-segan memasukkan juga kronik Babad Tanah Jawi
di dalamnya.

Gelombang besar yang dihembuskan PNI menyebabkan .
penangkapan atas diri Ir. Soekarno, pengadilan dan penghu-
kumannya. PNI, pecah jadi dua, PNI lama di bawah Sartono .
dan PNI baru di bawah Dr. M. Hatta dan St. Sjahrir. Yang lama
tetap berpegang pada doktrin Soekarno tentang massa-aktie.
Yang baru berpegangan pada pendidikan kader, karena bukan
massa, tetapi kader yang terpenting.

Keluar dari penjara Sukamiskin, Bandung, Soekarno
mendapatkan partainya telah pecah dan tidak ,terdamaikan
lagi. Semua percobaannya gagal. Dengan modal PNI lama
dibangunkannya Partai Indonesia, disingkat Partindo. PNI
baru mengubah makna PNI jadi Pendidikan Nasional Indone-
sia. Pimpinan Partindo, Soekarno, dibuang ke Ende, Flores.
Pimpinan PNI Pendidikan, Hatta dan Sjahrir ke Digul, kemu-
dian dipindahkan ke Banda Neira. Dua-dua partai ini musnah
kehilangan pimpinan. Aku masih dapat mengingat tulisan
Sanusi Pane yang menyatakan Partindo tidak musnah, kare-
na bagaimana pun ia masih anggota yang terakhir.

Begitu Partindo berdiri, PNI di Blora berubah jadi Partindo.
Ayahku masih tetap tokoh politik setempat. Begitu Partindo
buyar, Partindo Blora tetap berdiri tanpa pusat. Nampaknya
ayahku tidak goyah karenanya. Ia malah mengu~ahakan agar
pahlawan-pahlawan sejarah perjuangan dilukis sebesar orang-
nya, dilaksanakan oleh adiknya, Imam Barsah, pamanku.
Mula~mula tokoh-tokoh yang harus diketahui oleh setiap na-
sionalis: Diponegoro, Imam Bonjol, Wahidin, Kartini. Jtiga
tokoh-tokoh semasa: Soetomo, Soekarno~ Gatot Mangkupra-
dja, Rasuna Said, Soejoedi. Malah ditulisnya nyanyian tentang
mereka itu dan diajarkan di sekolah. Tokoh-tokoh PNI Pen-
didikan, Syarikat Islam dan Komunis tidak dibikin. Dan aku
tak tahu dipasang di mana gambar-gambar itu.

>'

7

Pramoedya Ananta Toer

PntdtnGtjkattioaiuyieaewdeadukmTgrasnauaaiaboi.aegkoamolklehtiMaddnaPtar-mmneneenaptseaoranliuaOeNrjlilksgaagrussaniaorllaaJuoshkdduashenanraiainojnrkuhoanPappindiaalnpbearteiarnnkaiiesartannn.ylajmnRtlsgisugaBuasaudiagiggnmnebekSsbaaadnngasyaeJdliydtimkoanbklaedSaietnaaoabnai.yumgspklgpaKdamaideabbaokhatn,eeneaaadnirsgknLrrtgtiaaudiuragiobalGadakaadai-le1sraehsnluneB9reah-hinbn3aamrpma1kaesgsgrniee,baemreneaa·mjmHtmakninmam.a.ghuekbeiBupaaenWgeanudaaerdnsapaidisnadaskklidentadstaeaaieknaeagerknnnBanmkdiaoSdnHgsietndglecdeailabiitnhodainlkhepnokeidlnagrekudolnsakedaeiainwnnaktnDakanmagnnahadtniOBhagytesegiiyinkrertatnubbaahdala,kglaaayokapntyaisnweanahdkanaaudrtaniuadaynahumrangpthsa-ga.-,-i
kkbmspnhGppeauueeyaeerekJrrcnsrAnanru:imoau1dagkyyglksskihpeauaaiedsathrilehmriiaIdkuntkkdtknauemeabsausaMirpwnbtun,nguiGaaokitdatganuksannuduauneuumkpybe-nrn~tlbseaeuadtBdietrurba,uidmaegnokarbinnaseipgnuceutyugdaaynaunbaiaspbr.ankgauOaneuIkSganknlptpedeanaiduahete.emjioinrnuanKmjmasmauruteuoaaayadiarnoskpnynnaiuuiiepnatagntbancuruehgaenaetmspdknurhsptekeaaauibpaabhejnknde.rdaaalsatureSubpargae.nnsgaaeaeankmgnarntbitpda-gu-tageuepinpahatnrlrlnseueauiaasakj.wcnprmjneanagei.aIyahbnmtabninraaait,dusungiuktm,mtitgngahatmGSggueleaahaema-lnkuedsauwmgnabaihbarjagepayuemaldrhririrafwuasmaaiaohdtkncpnadrlekaeageaigbannktunht-;.-.

pdsndbmnuieaogearlDpgmnaialtnagiuakaatt,aludnsammkainmkkiaeyeapsamnmautruku,ca-rrietdoahrik"shimibutdaifr-aldmaeidd.luommyaaahdpanmeneaaannnnlsnmgmguyuJealstamaairenbwtsjal.pgaaaadadaadlijuninsaidkisgygetaaeakknknknragesdyetlibaosasukniere,daiojmdprpaangalrhougalattanaheekJmgbtnesaaeatuwakbbahan1naaeemd,;nlsgaauitsaknen"rekaasyroiubntmabraaga,aanarw,mtngnp.ygaaeBadanninsadmgaugunargaanlpdekalmuunueemtn---i-, -·

kesengsaraan. seorang istri yang patuh, kini seorang diri
Juga ibuku,
memikul beban akibat dari kiprah ayahku.

8

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

Setelah kelahiranku, rata-rata dua tahun kemudian aku
mendapat adik baru. Keluarga itu ditambah lagi dengan pa-
man-pamanku dari sebelah ayah. Juga kemenakan-keme~
nakan ayah. Juga kanak-kanak yang oleh orangtua mereka di-
serahkan pada orangtuaku untuk dididik karena mereka tak
mampu mengendalikan kenakalannya lagi. Walhasil ibuku
harus bertanggungjawab atas sembilan belas mulut. Itu belum
lagi bantuan yang harus diberikan untuk mertuanya dan ke-
luarga ipar-iparnya yang sedang terkena musibah.

Seorang gadis yang terdidik sebagai putri feodal tanpa ker-
ja, bercita-cita meneruskan sekolah ke Van Deventer School di
Semarang, seorang yang suka belajar dan membaca, sekarang
harus jadi pekerja rumahtangga, aktif dalamkehidupan sosial
gerakan wanita, bertanggungjawab atas sembilanbelas mulut.
Namun saban hari ia masih memerlukan membaca koran,
buku, dan melakukan ibadah sembahyang, dan mengasuh
anak-anaknya, mengurus kebun, dan mencangkul ladang.
Nampaknya ia telah dapat melihat jauh sebelumnya. Setiap
punya uang kelebihan ia tanamkan dalam barang pecah-belah
sampai memenuhi sebuah lemari dari dua setengah meter
panjang dan dua meter tinggi serta sebuah bufet besar.
Barang-barang itu disewakannya pada mereka yang sedang
mempuo/ai hajat. Juga lampu-lampu pompa. Ia pun mengam-
bil pekerjaan jahit-menjahit. Ia tak pernah menyerah. Seakan-
akan ia tak pernah memperhatikan kelemahan badannya
sendiri.

Sejak kelahiranku, 1925, kehidupan keluarga kami diliputi
oleh suasana perjuangan, iklim gerakan kemerdekaan nasio-
nal dengan segala akibatnya. Setiap jaman punya romantikn-
ya sendiri. Maka aku rasai kesengitan membaca Han~ Habe
yang menulis, bahwa am Anfang des zwanzigsten Jahrhunderts
·die Dirnenromantik stand - pada awal Abad ke dua puluh ada
romantik lonte - "Romantik: Zuckerwasser, mit dem sie ihr Elend
iibergieflt" - Romantik: air gula, yang dengannya orang meng-
guyuri kesengsaraannya. Iklim kehidupan keluarga kami se-
jak kelahiranku sama sekali merupakan kebalikah daripada
kata-kata Hans Habe. Dan aku yakin seperti itu jugalah yang
terjadi pada keluarga-keluarga pejuang di seluruh Asia dan
Afrika pada tengah pertama Abad ke dua puluh.

9

Pramoedya Ananta Toer
Pernah seorang kritikus menyesali aku, karena dalam tu-
lisan-tulisanku yang mengandung unsur biografis, tokoh ibu
ini kurang tersoroti. Sebenarnya dua-duanya kurang tersoro-
ti. Untuk itu harus ada penilaian yang lebih masak. Memang
dua-dua orangtuaku menduduki tempat terp·enting dalam
awal kehidupanku. Sikap, tingkah, ucapan dan cita-cita mere-
ka telah menjadi bagian dari diriku, tidak mempunyai kesa-
maan dengan keluarga-keluarga lain yang pernah kujumpai
semasa kanak-kanak maupun jauh di kemudian hari. Boleh
jadi itulah keluarga romantis satu-satunya yang pernah kuke-
tahui. Tak pernah orang mengetahui mereka bertengkar, de-
ngan mulut atau pun anggota badan. Namun sejak kecil aku
mengetahui dari sikap mereka, bahwa mereka selalu dalam
keadaan bertentangan. Kelak - tiga tahun setelah meninggal
ayahku - kutemukan sebuah buku catatan oran,gtuaku. Di
dalamnya terdapat bagian di mana ibuku menulis gugatannya
terhadap ayahku yang kurang memperhatikan kehidupan
keluarga, sedang ayahku menjawab dalam tulisan latin, ba-
hasa, syair dan metrum Jawa, bahwa sebagai seorang lelaki ia
sudah usahakan segala-galanya yang mungkin, dan bahwa
tentang hasilnya ia sama sekali tidak menentukan.
Tulisan ·itu, sama-sama dalam bahasa Jawa huruf latin,
membenarkan dugaanku semasa kecil. Dan aku intensitas dari
pertentangan batin yang tidak kunjung selesai sampai pada
kematian mereka ini.
Tutupnya sekolah karena Ordonansi Sekolah Liar meng-
gelombangkan perjuangan baru untuk menentangnya. Per-
juangan di masa·kaum nasionalis kiri dan agak kiri justru se-
dang dibabat oleh de Jonge. Sekolah-sekolah liar tutup, tetapi
guru-gurunya bangkit dalam keadaan lapar dan tidak menen-
tu. Barangkali aku mengenal masa ini lebih baik daripada
yang pernah dikedepankan oleh Soewarsih Djojopoespito
dalam Buiten 't Gareel. Pejuang-pejuang pembela sekolah na-
sional terutama sekali Ki Hadjar Dewantara, Wali Alfatah,
S.M. Kartosoewirjo, juga membludag protes di dalam Volks-
raad. Ayahku mondar-mandfr dari rapat ke rapat, mungkin
juga ke kota-kota lain. Ki Hadjar Dewantara mengadakan
audiensi pada Gubernur Jendral. Ibuku bilang, dengan diam- .
diam ayahku pergi ke Betawi. Apakah ada hubungannya de-

10

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

.ngan Ki Hadjar, aku tidak tahu. De Jonge meliuk dan terpak-
sa mengurangi kekerasan Ordonansi Sekolah Liar: sekolah-
sekolah swasta boleh dibuka kembali tetapi guru-gurunya
harus yang berwenang mengajar, dan punya surat-surat un-
tuk itu. Sekolah-sekolah nasional adalah benteng dan perse-
maian nasionalisme, bukan tempat priyayi mendapatkan pe-
kerjaan untuk mengajar. Guru-gurunya adalah pejuang,
mengajar bukan hanya job, tetapi dedikasi, bukan penghasilan
tetapi pengabdian, persembahan. Gelombang perlawanan
membludag lagi. De Jonge meliuk lagi dan makin memperlu-
nak -Ordonansinya: yang tidak berwenang mengajar boleh
· juga mengajar tetapi mereka harus meinbayar pajak. Perla-
wanan membludag lagi: bagaimana seorang guru sekolah
swasta yang pukul rata berpenghasilan sekitar sepuluh rupi-
ah sebulan mampu membayar pajak? Sebagai guru mereka
harus berpakaian bersih, membutuhkan sabun lebih banyak
daripada seorang kuli stasiun yang tidak terkena pajak dengan

1

penghasilan lebih banyak. De Jonge meliuk untuk terakhir
kali. Ordonansi Sekolah Liar batal. Ki Hadjar Dewant,ara mun-
cul sebagai pahlawan.

Dan ayahku membuka sekali sekolahnya yang sudah tak
punya induk lagi itu, tidak sebagai pahlawan, hanya sebagai
guru biasa. Sekarang makin jauh dari sandal, selop, apalagi
sepc;1.tu. Ia telah membuangnya sejak memulai bernonkopera-
si - bercakar ayam. Dan sekarang bercakar ayam memang
sudah tidak mampu membeli. Di jaman Jepang, di Jakarta,
teman~teman _sekolahku di Tarnan Siswa mengagumi guru
kami Pak Said, yang selalu bertelanjang kaki d~n bersarung,
berkemeja. Mungkin ha:nya aku yang tidak ikut mengagurni.
Seorang gatlis yang baru memasuki sekolah itu mengecam
Pak Said sebagai "vies", jorok. Yang terbayang olehku adalah
justru ayahku.

Setiap pagi ~yahku berangkat ke sekolah sete_lah semua
anak-anaknya berangkat. Ia berdestar buatan sendiri, berbaju
tutup putih, berkain batik, dan bercakar-ayam. Tangan kanan-
nya melenggang dan tangan kirinya menjinjing ujU:ng kain-
nya. Langkahnya tegap dan mengeper, dengan kepala tidak
pernah menengok ke belakang, pandang lurus ke depan.

11

Pramoedya Ananta Toer

Suaranya, pandang mata dan gerak-geriknya berwibawa.
Tetapi semua i-tu belum mencukupi untuk menghadapi kekua-
saan Hindia Belanda. Begitu sekolah dibuka, muridnya ting-
gal sepertiga. Dan mereka ini adalah justru yang tidak dikena-
kan membayar uaiig sekolah, yang dikenakan pembayaran
sangat rendah, atau yang tidak setia membayarnya. Yang se-
tia adalah anak-anak kaum priyayi, sedang pemerintah setem-
pat tidak segan-segan menyiarkan, bahwa murid-murid lulus-
an sekolah liar tidak akan mungkin bekerja pada jabatan
negeri.

Masa sulit dan lapar itu memang intensif. Beras pun bergan-
ti jagung. Ibuku tidak menyerah. Bapakku pun tidak menye-
. rah. Beberapa bulan yang lalu dalam suatu upacara malam
aku saksikan beberapa belas orang, di antaranya ayahku, juga
dalam kesaksikan pasukan-pasukan pandu KBI bersumpah
setia pada sang Merah Putih, yang dicengkamnya dengan ta-
ngan kanannya. Dia takkan menyerah.

Memang dia tidak menyerah. Setiap hari dia mengajar pada
kelas tujuh, sedang pada kelas-kelas lain bangku-bangku pada
goang tiada bermurid seperti rahang orangtua. Satu gelom-
bang ~jekan dan hinaan, yang terasa begitu, menyayat, juga
sampai jauh di ke'mudian hari bila terkenang kembali olehku,
berdatangan dari segala penjuru, juga tertuju padaku: uh,
sekolahan tidak laku!

Kemerosotan yang menukik sejak lahirnya Partindo sampai
dengan bubarnya Ordonansi sekolah liar dapat diceritakan
melalui kesibukan dan benda-benda yang ada di dalam rumah
kami. Di rumah yang selalu dikunjungi orang ini mula-mula
terdapat kegiatan cetak-mencetak di atas godir: formulir, surat
selebaran, kursus. Godir dianggap terlampau lambat. Di ru-
mah kami muncul sebuah mesin Roneo baru dan sebuah me-
sin stensil Gestetner dengan peti-peti besar berisi kertas. Di
samping itu tujuh mesin-tulis standard, sudah tangan kedua,
tetapi tetap kukuh dan dalam keadaan baik. Seorang Eropa,
kata ibu dad Betawi, mengajarkan bagaimana cara meng-
gunakan mesin-mesin tersebut. Ayah mendatangkan seorang
juru ketik dari Semarang untuk mengajarkan mengetik. Menu-
-rut taksiranku kemudian, waftu aku pun jadi juru ketik, orang
itu dapat mengetik mendekati tiga ratus huruf satu menit.

12

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

Kotak-kotak seng untuk godir bergeletakan tak terpakai,

tinggal jadi tadah tiris. ·

Orang makin banyak berdatangan. Beberapa kali kulihat

punggawa dari desa yang jauh-jauh datang bersimpuh di

hadapan ayahku untuk diijinkan mengikuti kursus pemberan-

tasan buta huruf. Mereka selalu dipaksa duduk di atas kursi.

Mesin Roneo dan stensil berputar setiap sore. Di dalam

gudang pun menU:riggu satu perangkat gamelan pelog dan

slendro, yang setiap waktu dapat dipinjam dengan cuma-

cuma. Di pelataran depan bertumpf kan barang-barang besi

persiapan pembangunan sekolah pet tukangan besi dan kayu.

Di dalam rumah sendiri berjajar kursi dan meja kecil untuk

sekolah taman kanak-kanak. Satu ruangan dari dua kubik

ineter di dalam gudang berisi dengan tumpukan pacul, mung-

kin persiapan untuk mendirikan sekolah pertanian. Sampai

sekarang aku tidak tahu.

Benda-benda yang ada di dalam rumah kami tak ada pada

rumah siapa pun di seluruh wilayah Blora. Sebaliknya, gra-

mapon yang ada pada rumah-rumah .orang •berada belum

pernah ada di rumah kami. Sering aku memprotes pada:ibuku,

da1;1 ia tak pernah menggubrisnya.

Dengan punahnya Partindo, dengan bubarnya Ordonansi

Sekolah Liar, alat· cetak-mencetak itu sebuah demi sebuah

meninggalkan n.imah kami tanpa kuketahui ke mana pergi-

nya. Tak ada satu mesin-tulis pun tinggal. Roneo dan stensil

juga pergi, meninggalkan dua rol yang tak ketahuan lagi apa

gunanya. Kotak-kotak kertas tertinggal melompong. Sebu_ah

sepeda pun tidak ada yang tinggal. Bangku dan meja kecil

untuk taman kanak-kanak berantakan, tak ada seorang bocah

murid datang lagi. Tumpukan pacul sebanyak dua kubi~

meter makin lama makin susut, karena setiap waktu datang

petani entah dari mana untuk minta, dan ibuku selalu mem-

berinya dengan cuma-cuma.

Gubernur Jendral de Jonge dengan VVnya - Vergader Ver-
bod, Larangan Berkumpul dan Bersid~hg ~ telah mengubah

Hindia _Belanda jadi sebuah penjara raksasa. Tetapi_gerakan

kemerdekaan nasional tidak ma~. Dia justru m~masuki babak

gerakan bawah tanah. Dalam hubungan ini aku kelak menge-

tahuiadanya sebuah persidangan di c;lalam kandang ayam, ~i

13

Pramoedya Ananta Toer

.CtkspmdskdjamabgticiSnnukaukauasealiSebndiakmmgaaeekaoadaniDakesekep-llulnoaSnlrnau,d-neibuiammmedeauuktAinkeydhrkaen,mahkipigttemnnna,eakgkunoansa..akanauaytineagtsnuniia.raea.grkStnnugbdaDanpsnrdudahkacannmdnkDgOeeang,tkhefatehaaniainaaabagtamaaaholgrwaykpirpt.ntarghlmnraerlhnadjrupp.maauaealrkubaIai_uaanbaruktiuaSaanineahirnikastmennndiigesagnrmnbarryneskgieaklyimapSeigbyailluiditlaeuauabltdyaaaaauim-a.auueupaalmmagkahhqnMunnhnk.amwgmaanrka.nn.knayaabda,g.ikairOgbeadka.dardr.kgebyaeh,euhTupauaiInaehtaiak~kKKrinirin.laanabnyanc~aarasgnmanrjaentd~nkgOrkataguuubsatushjnudghkbmkieaeluaarguilaahdpaekpmuagreieumatmeaalmamkmlrnrsillaouubmaenmnru.pnkk,iikatua.sSensnudpprkpebanigyedaudneuibhaaeonniug1amraia.aaaearansnirlgaisleaajta9mtnsnnDnatdrkuelna.tagarinbiwaennaeh3kgpitdamrudmasddnabaasnVmeMnmuh6giiuieaheumapybiaeknekgrrba,gaSakkVmmdbkakrjaaunlaeaeugpkbeha,nslooaaaenaukmrdrnelgtabnperaiehid,yks,etgdncku-aainccenllatnemug,dktajaneaea.gSihauataanekgesunriaalkiiiailrprMamaurupejaalgmrae-rwaaginchgiadaaubnrairt.nktsanammnnhaaojaaugeuauataahnaeePustganottganmnmnn-ghknia,rkeeneyarpmhdunabnnncbtu.nsabknuasntatoakddotaayaesabeyukueaamayemmuot.ndhdoenaahirampeaoakahlrndalkSgkma.rtma.graaiasmmnaruru.dapkainasOdueikeImantbdhg,rhaAumiaenueneakyalnanmuuy.duarkanuj:bkrsedyapskdapamtganunanatsmiggtaeapaIlt.eauineratnaganetpmueaukainakurndauspanugkkroganeapb.enhjkesy·jiuiluepukarat.tsrtlutelmeagtabpTuaemnaaeaislugehhliekdgdk,nnbueaaarnenirnretraar,aimaap•gaagyuligimnesuhtnmgggnrnikkamaennaeiugratbgfakaggeyi.aubnaurkerygrnttaii,ahnbeadaunjBpneaamubnutaplngsuddblid.ousinisbh-aeuekmnouanibaddeaanaaaplBdlclerdnuklnmagnigeeaarinanain-y--aara,i-naa-~g-hnrg-inlnk-a-a-.n--a.--,
itu jarang terjadi.
Kalau ia tinggal di'·. rumah, anak sendiri dan semua "anak
ditakuti, kecuali ibu. Teta-
pungut" merasa tiada sesuatu ya ng masih dap~t diajak bicara.
pi sekera s-kerasnya•seorang_ibu,
}a

14

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

·i'erhadap ayah, tak ada yang berani bicara. Matanya mem-
bikin orang menjadi gugup dan kehilangan keberanian. Di
rumah hampir-hampir ia tak pernah terdengar bicara, kecuali
kalau menyuruh mengambilkan bara di dapur, karena bensin
atau batu pada koreknya habis. Ia seorang perokok rantai. Dan
s~lalu kretek.

Pada 1936 Gubernur Jendral de Jonge pulang ke Nederland
setelah .µ,.enyelesaikan masa jabatannya dengan hasil gemi-
lang: penggulungtikaran terhadap kaum nasionalis kiri dan
gerakannya dalam rangka menanggulangi akibat-akibat ma-
laise. Ia digantik.an oleh Gubernur Jendral Tjarda van Starken-
borgh-Stachouwer. Ia nisbiah lunak karena gerakan kemerde-

kaan juga sudah dibi~in lunak oleh de Jonge~

Gerakan kemerdekaan memasuki periode nasionalis dari
babak tengah dengan tokoh-tokohnya: Soetomo, M.H. Tham-

.I

rin, Pandji Soeroso dah sebagainya. Syarikat Islam yang telah
mengubah namariya j~di Partai Syarikat Islam, PSI, 1922, ke-
mudian jadi Partai Syarikat Islam Indonesia, PSII, 1933, sud~h
tidak mempunyai sesuatu peranan, kecuali tokoh-tokohnya
Wali Alfattah da,n S.M. Kartosoewirjo.

. Dalam periode babakini semua partai nasionalis lunak, atau
tengah, dalam kekuatirannya' akan juga terbasmi, atau lebih
tepatnya pandai mengguri.akan kesempatan dengan lenyap-
nya golongan nasionalis kiri, dengan tergesa-gesa menyusun
kekuatan, mempersatukan semua yang masih tinggal dan
dapat diselamatkan. Lahir sebuah fusi pqrtai-partai, dan mun-
cullah Parindra; Partai Indonesia Raya.

Ayahku tidak memperlihatkan antusiasme. Ia terbenam
dalam kekecewaannya terhadap perkembangan baru. Di
bidang pendidikan dan pengajaran ia sem.akin berori~ntasi
pada Ki J-Iadjar Dewantara. Ia tetap menolak menggunakan
buku-buku pelajaran yang dipergunakan oleh Gubermen.
Lagti-lagu pelajaran pada sekolah Gubermen "Kun jen nag zin-
gan, Zing dan Mee'' digantikan oleh lagu-lagu tulisannya sendi-
.ri atau tulisan Madong Lubis. Gambar-gambar di atas karton
tebal untuk pelajarari mengarang diturunkan dari dinding dan
dipunahkan. Ga~bar-gambar itu selalu menguntungkan
bangsa Eropa dan meng,hinakan Pribumi. Dinding-dinding
sekolah yang terbuat dari bambu diganti seluruhnya dengan

15

Pramoedya Ananta Toer

papan kayu jati, dan pada dinding-dinding baru itu dicatkan

peta-peta bmni, dari sejak karesidenan di Jawa, Indonesia sam-

pai semua benua. ·

Ketegarannya dinyatakan dengan menolak ikut merayakan

hari-hari besar kerajaan sesuai dengan gaya Soewardi Soerja-

ningrat pada 1913, inenolak mengibarkan Triwarna. Ia masih

dalam suasana berkabung dengan punahnya gerakan nasio-

nalis kiri. Masa yang indah itu! Masa yang membludag de-

ngan kegiatan. Masa gerakan kkmerdekaan Indonesia dan In-

dia seakan bergandengan tang~n seperti adik dan kakak. Juga

. masa sewaktu deng_an diam-ditm tidak mengerti ia menghe-

rani mengapa gerakan di lndo11esia seakan berada di ·bawah

·bayang-bayang ·India dengan ahimsa dan satya graha, tanpa

kekerasan dan social disobedience, pembangkangan sosial. Bu-

kankah kedua-duanya hanya taktik perjuangan yang berasal

dari kaum Samin yang bermarkas di Klopoduwur, beberapa

kilometer di selatan kota Blora? Mengapa di-tangan Mahatma

Gandi taktik itu mendapatkan nama dan dikagumi di seluruh

dunia? Dan mengapa orang-orang di Blora dan di luarnya juga

mentertawakan Samin?

Babak _baru ini tidak meninggflkan bekas yang kelak di-

akronimkan oleh Soekarno me11jadi berdikari - swadesi,

swasembada, swadaya. Yang muhcul adalah gelagap orang

yang hendak tenggelam di sungai yang bernama selfhelp, pan- "

ji-panji Parindra. Gerakan politik ~elok jalan jadi gerakan so: ,,

sial, kembali pada jaman Boedi Oet<1>mo, dalam skala nasional,

usaha tolong-menolong, rukun in~ rukun itu, bank tabung-

pinjam, gerakan pengumpulan dan'\1 i.mtuk ini dan itu, untuk

gedung nasional .dan percetakan, seakan-akan tak ada lagi

yang berani membuka mata terhadap kekuatan penjajah Be-

landa di Indonesia.

Ayahku menggelengkan kepala.

Dan kesulitan itu nampaknya belum selesai, sekalipun tu-

lang punggung politik gerakan kemerdekaan telah patah.

Suatu keluarbiasaan terjadi. Ia tidak meninggalkan rumah

malam itu, duduk seorang diri pada kursi agak jauh dari

bawah lampu minyak gantung, yang mulai sering rewel itu.

Anak-ailak ramai belajar di ruang belakang dan di ruang

samping. Ada juga yang di dapur. Rupa-rupanya ia sedang

menunggu seseorang.

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

Tiga orang tamu datang. Nampaknya telah ada perjanjian
pertemuan. Mereka berbicara ramai sambil tertawa-tawa. Aku
sendiri sedang belajar di kamar sebelah. Tiba-tiba sunyi, per-
cakapan memasuki babak serius. ·

"Begini Meneer Toer," seseorang mulai, "kami datang untuk
membicarakan sekolah."

"Setelah berbilang belasan tahun tak ada yang membantu
sahaya memikirkan soal sekolah," sambut ayahku juga dalam
Jawa, "sekarang mendadak saudara-saudara sudi membuang-
buang waktu. Ada apa sesungguhnya?"
Semakin serius membicarakan semakin meninggalkan
hasa Jawa dan menggunakan Indonesia dan Belanda. ba-

Pembicara yang seorang itu menerangkan, telah terbentuk
sebuah komisi untuk mengurusi Instituut Boedi Oetomo. Ia
sendiri pernah menjadi pengurus Boedi Oetomo, teman seper-
sekian ayahku, juga seorang delegasi yang tiga belas tahun
yang lalu telah datang pada ayahku di Rembang dan memin-
tanya untuk memimpin Boedi Oetomo di Blora.
"Komisi telah menampung keluhan dan kehendak guru-
pgeunrughbiadwuaphaannmSearuedkaar,ak, baraehnwaauSaanugdmaraastuidkadkamriemmupreidrh-amtiukraidn
Sau dara habiskan untuk ceki." Agak lama kalimat itu tidak
betsambung.

"Mengapa berhenti, teruskan saja," ayahku memberanikan.
"Baik. Biar kita selesaikan. Komisi dan para guru meminta
pengertian Saudara, untuk kepentingan para murid,
Saudara dengan sukarela mengundurkan diri dari sek diharap
Komisi dan para olahan."
keduduka guru nampaknya·ingin
rno pada n semula, sebelum masu mengembalikan
knya uns~r poli-
'tik ke dalam pengajaran, mengikuti kurikulum dan
Gubermen. Syukur kalau karena itu Gubermen sudi taat pada
memberi-
kan subsidi.

Ayahku mencurigai inisiatif ini berasal dari bisikan pihak
penguasa setempat. Ia telah membaui hal ini dan rupa-rupa-
nya sudah ada pers.iapan padanya, lama, bahwa hari yang
semacam ini pasti akan datang sebagai tembakan terakhir dari
pihak kolonia1. Dengan suara lantang seperti di atas mimbar
ia bertanya:

17

Pramoedya Ananta Toer
juAsTspkpgtaSnbam_tsosaemrbliketKMjaaawiespesdeMedneaauu"sekkaeruekadhenjdippamniuyaDaejmdasotraueljsabmeaatakualadnilaa.bkaalderyuSaleeeanrkukura.athaneak,dphlesjunabgsniiajjkbhuahhe-jkuaKhaitkaaunµiyiaauuy"gmunajaas,indahndiaiaBaigndDaakda.aann,hntstkri-eritnlmkhayaai.nneaoaietdDelmwaaadeTlkdj?aeoihnaaahnKeoergriatnneetwaeuikbeasakmnninBudbprunrrkbnganikneamiasypyiimaneeenopIhmlijuagkahuignnsapOkkasanauwdie.beansatnoaeiepa-g.iueadsategdeenr~jkegthnsrlt"enuTeitrallrkuiaaiarne.wuTltuSnrikaknsuerraidua)oOahtiakSsgikmuoriiuukaupmekmkeail,smm.enlatgaeaeal,innaunaaaewub<amp?epotkAaentainmo-dggtnkmtismaolheanrresB:?seiausru-,iapo-hmaeemdrssemtimpenetsledtekyamD.amlahknuetkuwmaullimnaaroJajublr,la?bajrbga1nala~eapnuah?.nuar..ismaudnuprasn_;bgBn\npn1gaib\mdiSligarl_igaigaeanaeunehaggikisadcGuenbakriahnaktw'pythaauabdikuagkshisdBoh~uaieuulu..,e:patniteaakoia_eltµtlalmkp6,hibaTK_nssaaajkesnbmmumBtmwbliaaeMpekegknBkbamhouykiemjyeardlerlaceihaeknpeaaaloloaatums~sppnaieptJa.nrulwamyseerhnaoeidkrgiankmreeahOeSiaihncaeuddiekgythesuSpikreoglle.naaad,gnbyeikihunaaana1mraaammcnpntbtk,PauiteaaaajnratuaOadasokisauauedntrataiinnne,hdd?npuareaiasnmgeiakldettda_nag"gadipstgauimIerkdtiBatsbsunaprkaenoaeaahrorsTmeuaaTksAudieoueenmailkskesdukmnb,learmuasnraautrehadesn~aseaemikapkeagtuuskdntdiaotneandgaathinngruetsuuuuadiemiunknaetaraitgaapkukksppluammrnaarOnddp-eujniuiieaoeenuu?miniettnnhngkiicaetgte.uhoenrnn"nrltnnaginidudanajaieneuiRtrjaaDtigckadat?ynaogtknaagatnhgbjmjpknujnaekaaanaaaaarwkmaul,kBaiuigsjmhnkihbJdoaphil.nis.lanasp~ghmiiaaaumoamaeoulusKabjdennidaipatibjbanykimu,tst.rhinineaneug,mkpaauenenangaaampjrnrnutKsdalgkaprraiinrnysgainaekeeei,a1?datnu-innakiadainua..-kt-aku-grr-e?u,tisit-upiit-i··..-a.-,

·bYmoaeKlneneghuelnmsogoyigkraiualtanedmphaatapadraniatngkoynurayapnagrguig.bruswarJ~~-kig.bou"lararuhuy.tearnpgakdsiapedciatut ttuidpalkagmi suanmcubli.l

18

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

Kata kec;il kami Blora, kota kabupaten, terlalu sempit untuk
berita sebesar itu. Guru-guru yang dipecat meninggalkan tern-
pat ini seperti menghindari gunung yang nyaris meledak.

Salah seorang guru baru yang datang adalah seorang muda
yang disekolahkan oleh ayahku di sebuah sekolah guru di
Majalengka. Seorang lagi adalah adik ayah ku sendiri, paman-
ku, yang baru datang dari Selandia Baru. Nilai pelajaran me-
mang merosot, lebih merosot dibandingkan dengan sekolah
Gubermen HIS. Tetapi sekolah ini tetap menolak mende-
ngungkan Wilhelmus di ruangan sekolah, lebih mengutama-
kan tulisan-tulisan W.R. Supratman. Dan di rumah kami, tem-
busan cat waktu membikin spanduk-spanduk itu, masih juga
tiada terhapus. Pada sebelah dinding depan masih bisa samar-
samar: PPPKI, Persatuan Partai-Partai Politiek Kebangsaan In-
donesia, Front Nasional yang dianjurkan oleh Soekarno - front
nasional kedua dalam sejarah gerakan kemerdekaan.

Dan ayahku masih juga belum bangun dari kemurungan
dan kekecewaannya.

*
Aku punya banyak Mbah, kakek dan nenek. Mereka semua
mewakili asal keturunan dan golongan pada jamannya, dan
merembesi kehidupanku. Ayah dari ayahku aku tak bisa
mengingat lagi. lbu dari ayahku kukenal dengan baik. Seorang
ya:ng bertubuh besar dengan gigi tidak teratur. Untuk waktu
lama ia tinggal bersama kami, dan tidak meninggalkan kesan
yang m~nentukan dalam hidupku. Wajah bulat, tak beda de-
ngan orang-orang Jawa fainnya.

Ayah dari ibuku aku dapat membayangkan sedikit; Ia ber-
tubuh tinggi semampai, kuning, berhidung mancung, ba-
rangkali ada darah Arab atau India di dalam tubuhnya. Pada
hari tuanya ia mengidap sesuatu penyakit yang menyebabkan
ia tuli dan lumpuh. Pada umur berapa meninggal, aku tak
tahu. Ia tiga kali naik haji.

Dari rumah gedung batu bekas kompeni dengan pekarang-
an barang setengah hektar dikelilingi tembok setinggi dua
meter, dapat aku bayangkan ia seorang kaya. Gedung itu ter-
letak pada pojok barat daya alun-alun Rembang. Sedang di
dalam gudang masih pernah aku temukan sisa oleh-qleh dari
Arabia berupa maskara dan barang-barang tembikar Jepang

19

Pramoedya Ananta Toer

bertulisan Arab. Di samping kiri depan rumah berdiri surau.
Sedang sebelah sana depan rumah adalah mesjid raya Rem-
bang, yang sudah tua umurnya.

Aku tak tahu penyakit apa yang diidapnya. lbuku pernah
menceritakan ia memelihara lintah dalam stopples, lodong be-
ling. Pada waktu-waktu tertentu binatang itu dipergunakan-
nya untuk mengisap darah pada bagian-bagian tubuhnya.

Kenangan terakhir tentangnya adalah perjalanan dengan
sebuah taksi pada suatu sore, melintasi malam di tengah-te-
ngah hutan jati, dari Blora ke Rembang, untuk menghadiri
malam tahlilan untuk arwahnya. Sama halnya kenangan ini
kenangan terakhir terhadap ayah dari ayahku, Imam Badjoeri
- perjalanan dengan sebuah taksi ke Ngadiluwih, Kediri, un-
tuk menungguinya sewaktu menderita sakit keras yang
terakhir.

Mengikuti kebiasaan feodal jamannya, juga Hadji Ibrahim
melakukan per.kawinan-perkawinan percobaan sebelum
kawin dengan seorang wanita yang dianggap sederajat. Istri-
istri percobaan itu dicerainya setelah melahirkan anak untuk-
nya. Mereka harus pergi dan meninggalkan anak. Salah se-
orang di•antara mereka ini adalah ibu dari ibuku, mbahku. Sia-
pa namanya, aku' tak tahu sampai sekarang.

Wanita yang tak kukenal namanya ini bertubuh kecil mu-
ngil, berkulit langsat, berhidung kecil, bermata agak sipit.
Darah Tionghoa ada di dalam tubuhnya. Dan ia seorang pe-
rawan kampung, tanpa pendidikan, buta huruf seperti ibu
dari ayahku, yang juga tak kuketahui namanya.

Wanita kecil mungil dertgan energi luar biasa ini menempati
tempat penting dalam hidupku. Barangkali hampir sama de-
ngan nenek Gorky dalam Childhoodnya. Ia seorang periang,
tabah, tak kenal putus asa, rajin, seorang pekerja sejati. Begitu
meninggalkan "istana" kepenghuluan karena selesai tugasnya
sebagai istri percobaan dengan meninggalkan anak di sana, ia
langsung memasuki kehidupan sebagai pekerja. Ia kawin de-
ngan seorang)elaki yang tak hisa bekerja apa-apa dan tinggal
di pinggiran utara kota Blora, dalam sebuah rumah bambu
dilepa kotoran sapi.

Ia tidak pernah minta bantuan keuangan dari orangtuaku.
Pekerjaannya sehari-hari menggendong bakul besar pada

20

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

punggungnya berjual beli barang rombengan. Ia tak pernah
bicara dengan menantunya, ayahku, sepanjang kuketahui. Ia
menyebut ibuku dan ayahku Ndoro. Setiap datang ke rumah
kami, yang dicarinya paling <lulu adalah cucu-cucunya untuk
diberinya penganan dari pasar.

Suaminya sekali waktu berjualan soto dengan abah-abah
dipikul, sebentar sate ayam, sebentar jadi kebayan dengan
sawah bengkok, yang semua menjurus pada kerugian.

Setelah ibuku, wanita mungil ini tidak beranak lagi.
Menyebuti ibu dari ayahku dan ibu-tidak-percobaan dari
ibuku ia pun menggunakan Ndoro. Biar pun demikian dialah
wanita yang paling aku cintai dalam hidupku di samping
ibuku.

Waktu suaminya meninggal, ia pun tidak mau bergabung
dengan kami. Hanya karena dipaksa-paksa oleh cucunya, per-
nah beberapa hari ia menginap, sakit perut, memaksa pulang,
dan meninggal di jalan dekat pada rumahnya. Ia bertekad
tidak mau menyulitkan kami.

*
lbuku juga menarik diri dari kegiatan sosial dalam periode
babak nasionalis tengah ini. Keseh~tannya nampak semakin
mundur. Ia lebih banyak bertiduran sambil menunggu bayi
dan membaca buku. Menjahit pun ia sudah sangat jarang.
Mesin Singer kebanggaannya itu bisu.

Seorang ipar dari ayahku, pelarian pemberontak 1926, yang
berpindah-pindah dari kota ke kota, menumpang pada keluar-
ga kami dengan anak dan istrinya. Ia penderita TBC. Ia sudah
tak mampu bekerja lagi dan para dokter meramalkan umur-
nya yang tinggal setahun. Jumlah mulut dalam rumah kami
semakin banyak.
.

Kesulitan demi kesulitan ini menyebabkan setapak demi
setapak aku semakin dekat dan berpihak pada ibuku, bertam-
bah jauh dari ayahku.

Ayahku tak memperlihatkan kegiatan di bidang politik lagi.
Kadang-kadang ia memperhatikan keluarganya, menahan
cangkokan jeruk atau pisang, atau menebangi pohon kayu
yang tidak bermanfaat lagi. Parindra, gabU:ngan dari partai
dan. organisasi: Boedi Oetomo, Kaum Betawi, Tirtajasa;
dianggapnya sepi. Soetomo dan Thamrin, tokoh-t?koh kecil ·

Pramoedya Ananta Toer

sem.asa Partindo, sekarang menjulang di angkasa seperti rak-
sasa-raksasa baru. Tetapi dalam sejarah kelak diketahui, bah-
wa di bawah permukaan bergerak terus kaum nasionalis kiri
.dan kaum komunis, yang sementara itu·telah pecah jadi dua.
Belahan yang lain membawa panji-panji PARI, Partai Republik
Indonesia, di bawah pimpinan Tan Malaka, dengan gerakan
bawah tanahnya bernama Samari, Sarekat Marhaen Indonesia,
yang menyusup dalam tub.uh Parindra di Surabaya. Tan Mala-
ka sendiri mendirikan PARI pada 1927 di Singapura sebagai
anggota Komintern yang kesingsal, dan mentahbiskannya di
sebuah pagoda di kota Bangkok pada 1929.

Dari penilaian di kemudian hari dapat aku duga, bahwa
guru-guru muda itu tidak mengenal kekecewaan ayahku ten-
tang keadaan. Dalam setiap perayaan sekolah gambar besar
Soetomo, lebih populer disebut Pak Tom pada waktu itu, se-
lalu dipasang, dan diperkenalkan jasa-jasanya pada sekolah
kami. Secara tidak langsung l!lerupakan propaganda untuk
Parindra. Ayahku hanya melihatkan semua itu dengan diam-
diam, dan membiarkannya. Ia tahu tak mampu mendirikan
benang basah.

Tahun 1937 datang dalam segala ketenangan: dan keaman-
an. P~rkawinan Putri Juliana dengan Pangeran Bernhard,
keturunan raja-raja Jerman, dan seorang verkoper cat di Swiss.
Putri berumur dua puluh delapan. Pangeran berumur .dua
puluh enam. Orang Jawa yang sudah pada dasarnya suka
mengotak-atik mulai meramalkan keaneh:-anehan ini, bahkan
juga·meramalkan anak yang bak.al dilahirkan dari perkawinan
ini pasti perempuan, tanpa bakal punya saudara lelaki. Tetapi
bagaimana pun orang terpesona pada kegantengan Pangeran
Bernhard. Pesta besar akan diadakan. Dan sekali lagi keku-
kuhan ayahku menghadapi ujian.

Semua sekolahan diharuskan oleh pemerintah mengikuti
perayaan besar ini. Ayahku tetap menolak untuk menyanyi-
kan Wilhelmus dan mengangkat Triwarna, maka juga tidak
ikut arak-arakan. Perundingan tak henti-hentinya antara ayah
dengan pejabat-pejabat setempat. Ayahku tetap menolak Wil-
helmus dan Triwarna. Para pejabat setempat mengancam.
Ayahku menerima ancaman itu dertgan baik. Asisten Residen
mengalah: boleh tidak m~nyanyikan Wilhelmus, boleh tidak

22

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

mengangkat Triwarna asal ikut arak-arakan dengan menge-
mukakan lambang perkawinan kerajaan yang sebaik-baiknya.

Sekolah kami ikut dengan arak-arakan tanpa mengangkat
Triwarna. Pelukis dan penukang di antara guru dan murid
dikerahkan. Maka muncullah gambar sangat besar dari Putri
Juliana dan Pangeran Bernhard yang berdiri berdampingan di
atas sebuah "howitzer" dengan laras -dari batang papaya:
perkawinan di atas persiapan-persiapan perang yang kelak

meletus jadi Perang Duni~ IL
Barisan kami diapit oleh barisan-barisan yang melambai-

lambaikan bendera. Tak ada bendera di tangan. Juga tangan
tidak melambai-lambai, hanya berlenggang. Yang lain-lain
menyanyikan lagu sekolah masing-masing yang dipersiapkan
untuk kepentingan itµ. Barisan kami tidak terkecap. Dan wak-
tu sendawa dalam meriam "howitzer" dipasang, dia bung-
kam, bisu. Waiau demikian mendapat hadiah ke tiga, karena .
yang pertama dan ke dua bukan hak untuk sekolah swasta

pembangkang.
Semua menyesali meriam bisu itu. Hanya ibuku yang bi-

lang:

"?udah ~aik begitu."
Aku sangat-bangga pada ayahku. Dia menang dengan ke:-
hormatan. pia telah menang untuk ~e.sekian kalinya sejauh
yang aku ketahui. Dia pahlawanku. Aku melupakan segala
kelemahan:µya terhadap keluarga dan terutaina terhadap
ibuku. Aku tahu ia tak mengetahui kebanggaanku, ia. terlalu
sibuk dengan hatinya sendiri yang disesak kecewa. ·

Bila ada kekalahan padanya adalah wajar: Asisten Residen
m eriolak syarat yang diajukannya untuk mengibarkan Merah-

Putih. Semua orang memahami. Juga aku. Juga ibu.
Orang masih juga sibuk bertanya-:tanya siapa gerangan
Pangeran Bernhard? Ia seakan dengan tiba-tiba saja jatuh dari
langit. Di kora:µ-koran tiada terdapatkan sejarah hidupnya. Di
kota kami belUjm lagi ada radio seperti di kemudian harL Bah-
kan penerangan listrik untuk rumah-rumah masih merupakan
lux yang berlebih-lebihan - sekalipun di rumah kakekku di

Rembang sudah dipasang berbelas tahun yang lalu.
Suasana segera berubah. Jerman bersiap-si~p dengan mem-
persenjatai diri setelah Spanyol berhasil dipergunakan jadi

23

Pramoedya Ananta Toer

medan percobaan untuk senjata-senjatanya yang terbaru. Jen-
dral Franco berhasil mengalahkan kaum demokrat. Fascisme
berkuasa di Italia, Jerman dan Spanyol, dengan Mussolini se-
bagai maha gurunya. Bayi kerajaan yang diramalkan lahir
dalam suasana demam persiapan perang ini. Memang perem-
puan. Semua tetangga kami menjagoi Jerman. Petani dan tu-
kang-tukang lingkungan hidup kami untuk waktu yang lama
hanya mempercayai alat-alat produksi bikinan Jerman. Mere-
ka bersimpati karena alat-alat yang mereka kenal, hargai dan
cintai. Parade-parade tentara Nazi, Natfonal-Sozialist, berte-
baran dalam koran-koran, diguntingi dan dipasang pada
dinding bambu rumah mereka. Prajurit-prajurit dengan
Hakenkreuz, .Swastika, di bawah topi bajanya yang khas Jer-
man, s·eram, seperti juga keluaran pabrik Solingan dan
Schlieper. Mereka pasti menang. Dan petani dan tukang ini tak
tahu menahu menang untuk apa. Orang mengenal senjata
dengan nama-nama baru: torpedo, tank, panzer, ranjau laut,
ranjau udara, ranjau darat. Perang mereka anggap semacam
yang biasa mereka lihat pada akhir wayang. Kapal-kapal dari
segala kebangsaan tenggelam kena torpedo kapal selam yang
dikenal di banyak perairan. Orang ni.ulai bertanya-tanya apa
itu Blitzkrieg, yang menjadi sesam modern di tangan Jerman.
Kemudia,n orang mulai juga bertanya-tanya apa itu anschluz,
tetapi segera kemudian dipergunakan untuk menggantikan
kata digabung. Orang sangat kagum. Infasi Rusia di Finlandia
segera dilupakan. Nederland tidak mereka masukkan dalam
hitungan. Negara-negara tetangga Jerman berjatuhan terkena
terjang pasukan-pasukan berswastika dalam bilangan hanya
beberapa hari. Dan itulah Blitzkrieg, perang kilat, Czekoslova-
kia, Austria, Hongaria, Polandia.

Ayahku mulai menerangkan semua ini di depan kelas tujuh,
termasuk Benesy dari Czekoslovakia yang melemparkan diri
dari jendela, dan tentang Sudeten Duitsers, dan tentang domi-
nasi Jerman di Eropa Tengah.

Benteng Maginot Prancis, yang oleh pers dipropagandakan
sebagai terbesar dan tak mungkin dapat dilalui pasukan Jer-
man,,menghiasi koran-koran seperti rumah rayap dengan
rileriam-meriam tertuju ke arah Jerman, bukit bersambung
b~kit yang penuh dengan kubah bermoncong laras. Jerman

24

~

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

tidak menerjang benteng ini, tetapi menggerayang lewat be-
lakangnya. Prancis jatuh. Paris yang tak pernah terinjak kaki
pasukan Jerman pada Perang Dunia I, kini menjadi tempat
berjingkrak. Nederland·terlanggar Blitzkrieg dalam tiga hari.
Benteng lumpur yang dibanggakannya tidak berdaya. Me-
nyusul Belgia, jatuh dalam satu minggu.

Dan nyanyian Belanda mulai terdengar menghiba-hiba:
Neerland zal Herreizen, Nederland akan bangkit kembali. Pe-
ngumpulan dana menggelora untuk dapat membeli pesawat
buatan Inggris, Spitfire, si peludah api.

Kekuasaan Hindia Belanda menangkapi orang-orang Jer-
man dan orang-orang Eropa yang bersiinpati pada Jerman,
bergabung dalam NSB, National Socialistische Beweging, Ge-
rakan Nasional Sosialis. Nama Hitler - dan aku selalu keliru
membacanya dengan Hitler-dan Himmler, Von Ribbentrop,
adalcih hiasan koran setiap hari. Italia pun menyerbu Abbesi-
nia. Kaisar Heile Salasi mengerahkan sentua pria dewasa
rakyatnya untuk bangkit, dengan senjata apa saja, dan
mengerahkan yang wanita untuk memasakkannya. Abbesinia
jatuh. Di Asia, Jepang pun bangkit. As Berlin-Roma-Tokio lak-
saI\a cakar garuda yang sedang mencengkeram bulatan atas
bumi.

Jatuhnya Panglima Hindia Belanda, Jendral Berens_chot de-
ngan pesawat terbang di Kemayoran, Jakarta, kembal~ mem-
beri landasan pada orang-orang untuk membikin ramalan-ra-
malan tanpa dasar.

Hindia Belanda terlepas dari negara induk penjajahnyr...
Tetapi dia tetap berdiri.

Parindra bersimpati pada Jepang. Gerakan pemudanya
menggunakan lambang matahari terbit ala Nippon, dan mem-
beri hormat seperti Jerman dengan Hitler Jugend-nya. Soe.:.
djono, mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang, pulang ke
tanah-air dan mempropagandakan effektifnya fascisme
Jepang dalam mendidik pemuda.

Dari Jerman orang mulai melihat pada Jepang. Ramalan
lama dari Joyoboyo akan datangnya bangsa kuning dan akan
berkuasa di pulau Jawa selama seumur jagung mulai di-
kenang dan dikembangkan kembali, membludag menghiasi
pembicaraan sehari-hari. Sejauh yang kuketahui pqdp waktu

25

Pramoedya Ananta Toer

itu hanya Drs. M. Hatta yang·membantahnya sebagai tahayul

semata. Hindia_ Belanda gelisah. Tetapi rakyat Indonesia
Kekuasaan
ttjdjbswkFFBamapkuuaeeioinkijuiikgasDtlolnarmnaiaianJapmhdFgppinyetnubuaeiiirtadapannyrenonerinn.uatnaaar.krndiyuPnndst..yatsaAaaageieJtalAsaDnnahn.auasnkedntjantiugHitegmaaaBgununtpalrajlriastjeeuadeaaartePuFnrnnheiahkkr.AlrjadytdrrniaamyiesDmhnaarmijancAna1da-lauisicutHaeR:ehidssilgAikIgmsor,anisoaianiaubnasinnypnmkddiehryamahdnaaioadarFl,aaieIusaen-FeSadaotngaTdmnmeinsererdtaBecoosrgamupboaraiiniknena,aasaketpigliCtmgnd-rkaraommaanAaiahtinbekknaehriaesp.dnpeenaingaanrpautSrgenakeainruspenene.kueyreFgssurlm.SgayasarieisalapusueannGiasupdda.aem-kacjgaeIehseiapniTsinlrmuestmnahjaraasagaraaananmaewokugajdgpnnrunaknbruauiuyuaajhnipryenlas-saddndatoarrtda,.udsaatabapialeupiikieiegnetr-tsnkeeMriaraluramagkaisrrakk.mtmbbsaaahneuaayeeIlten-neppgnaaaurkbdnmgaaatyrbsuaatmmahkljauepbenetakancuedakrudergjydabaylsaaannasadahariahanna-n,-hait---
_ljdrmyiuikrangeaGntgaragdeiamnhlagbotneaiHamsmnohaibgrnpmtgadeimandinengaeamgilk,sapuauarwenmnsuntiagheu-gnkoinkanirkgrngydegukaaihuhpna.ibeindFsrruairmsspose.iennasMnnjtaedAptkeaaoranpielw.tiakitMtaiaFknsaeemdsmrncieejiedka.nsntaagadula:manimmmtliuunbentatinealprugtamIneadnrtkiiadul.tiotipsPknIiea.nemlrdPasineioiean----
nybncPKrmtiaeiaaeadseePksnsrrmakinkisgaiaokuniaee.rnn-bsai.pdAsngaaseerNalgdadranyidpaaarsataasaslaniknrneiabrnodigHlnrgereynuaidablimaasnandinelrimebrdainismasnani,eajpa.weMetklkaeJnlaaBaauo.nwhgwHshegmghmala.aabyaauknTheenadtnt-lirhnudasiddassagaepwsiaamkmibeknmmaatabrpetdwekiewalkaninnaahagtea,chngianuthnugaypinpbdernetauyraiagarigladnbtsaekaaa.aaakrnhkibihrkngaJeMu.amynebkMnarydaaeem.taasmneSaSlryadhuaaeeonaanrarmkedaerradaitbkiakboakTaary-meiny:eaae.ncaogrnnJBtbu.aeguedTirakrpktilaah,ogeawkldfkkabnaaaaaoaaigmsnhnn-hn-.

pemerintah. Ia. ditahan.

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

Istriku, yang sejak kecil tinggal bersama M.H. Thamrin,
bahwa ia tidak boleh menerima siapa pun dalam tahanan ru-
mahnya kecuali dokter yang merawatnya. Desas-desu,s yang
mkueantc. uIaridgiaainkteamrkaatniaknenpyearnisatmiraphaaktnaynanymaeymanpgunteyraaikahliarsdainKyaarnegt
dalam segala kebesaran. Ia jadi korban dari sikap Parindra.

Dalam langkahnya yang ragu-ragu untuk juga membentuk
Front Anti Fascis, van der Plas ditugaskan untuk menghubu-
ngi gerakan bawah tanah nasionalis kiri, dan komunis, yang
waktu itu dipimpin oleh Mr. Amir Sjarifuddin. Ia juga mewa-
kili keragu-raguan pemerintahnya. Ia tak menjanjikan sesuatu
senjata. Pemerintah Hindia Belanda, yang tidak punya keper-
cayaan pada diri sendiri itu, lebih percaya pada benteng-ben-
teng kolonial di Indo China, Filipina dan Singapura. Yang
belakangan ini dikumandangkan sebagai benteng yang takkan

tertaklukkan.
Dalam rangka Front Anti Fascis yang ragu-ragu ini terj~di
sesuatu yang mengherankan dalam kehidupan kam:i::peµ,.e-
rintah meminta pada ayahku untuk sudi mengajar..kembali
tahu sampai berapa jauh
pada sekolah Gubermen HIS. Aku ini dengan ibuku dan de-
ayahku merundingkan permintaan
ngan teman-temannya. Bagiku sendiri, yang waktu itu tak
tahu-menahu tentang Front Anti Fascis, sungguh sesuatu yang

menggoncangkan.
Selama ini dalam keluarga kami hidup satu sikap yang
meremehkan para pejabat negeri, menghina mereka yang
masuk serdadu Hindia Belanda, dan jijik terhadap mereka
yang menjadi polisi kolonial. Ayahku diminta untuk kembali
jadi pegawai negeri. Ayahku, yang selama ini aku kagumi se-
bagai jantan yang tak pernah gentar~ yang kukuh kesetiaannya
kemerdekaan nasional, yang dikagumi oleh te-:-
pada gerakan a dan disegani oleh lawan-lawannya, di singkiri
man-temanny
sejauh mungkin oleh pejabat-pejabat pamong praja, _seorang
sekarang mendapat tawaran untuk
yang akti ban ggakan, yang telah enam belas tahun diting-
kembali pada jabatan
galkannya sebagai non-koperator.· Aku percaya ia akan

menolaknya.
Waktu ternyata ia menerimanya, kepercayaanku akan

kekukuhannya terbang. Ia bukan lagi seorang ayah yang aku

Pramoedya Ananta Toer

bljadtaaiyaadirnnapaahg-ahklkgtagauiddenkiiar.jpaaakUunkwalannliaanhtbtgukekikat.peanwmIapadsaemesakretdkateoueunlrakualhoaasnalmimgeanhaem.kmSkulaieekbnnjkauaugecrhskacaiuyheasnwaieytngdauagaainyknntgiaiktdint-unaasgikke,pmdhtalieeeadkrbnraipaitjheaptwnewaduannaakhtrbabiti,,nuayybgnhaaaywsnnraeguag-.
JhduaagDsraiielIainnbngsuatekinntuuamusmete.nnkDdgaiailrijisalotreirdbedaiihhkHabmrIaiSeninayseeamrtkaiaandspgiakhbraiumpnla.aednnagiaayjamanregdn.idesriitemekroaimlapahennnyygaa-
slapAkueyaaknaDansrudhaasbiktjreliaaiauao,kmysrbdaadauinnpakkkgpgaeaedantnlkitaoaaulsmnadtke-ygaeekmiatnnoaanagaphygnlheua-darthtaearaengkrtnmtoakuirnimauy,ngnmaeygktnnaeiuu.gg.nn,eStdpganeaaknakhdiglinuaraalispkunbeua.yujr.AaakaAruksateekuhtjtiu,aamdknamsegekdnegmabmdaheee,bugnrpeilitatutnaaudcrimaaimansbaeyiitlunaauu---.
dsueRarirtuaapasage-aprukeprktaeinrsayesak,saiuarapmnaegyn.agdearptiastitkearpdkeun.gPaardoaleshukautu, ykaanligdbeenrgdairni
berkata pada ibuku:
p ada suatu jarak, ia aku bisa hidup bebas-merdeka . Tetapi
"Bagiku sendiri
_antknsamtTankIkuuennyekyyyoeejnuuAagcauaU~autksdkgsiat.hkkeyblliyrdu-pBkaArakluiaaeahaiisuruon,unn.rnknjlarJeuRAuaagpugaunemdrmkegdakphktiitpmykaieadeau\uubkOukauknranusrelaajnl?ersgegiljaagetajegtkaujeailAnomiyaskaiugatkdtaamkaapmaptnapabakinuhkaioaanenb-aftgimkuf.datsuanrtuiacPikeaAnb,aybm\ashrrerUeamnsanu.uekiclkiiynmItalehdickutnscaaaelsneaaaeeeyrijp.tmrpctnabtparSeaaaauooekdegkreessdhsfkbllaitjulaeeiuaadWamaaindr.cphukknatiiaambpIaeikk,rritmladristiemiaeumeaksukansdkadjametbtukugusuam?ajeiuesarggdb"prrspesigdpaaiadaeeidiularitnukbnagaaanblkgatpdpaeealm.aeyewaxksianaPanrrlcankeutgaisppa.eung.a.ksigblDaunsknseoKaeotynduylauunmdbaea.anapuajfinorrtuDnglarnaaikittihk.gnk.-tnaeasdDkuapndgWprpebtaakhaiaaraeaaatrpbanldalkantikdaeiudkpagJnsTiuimraatetreuab,Iiuunipptrnroapuhnaanukasrdnieaayhntayntuhgirttiuau--g-gia--.--

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

yang tak terduga-duga atas Pearl Harbour dijawab oleh
negeri-negeri Sekutu termasuk Hindia Belanda dengan pe-
ngumuman perang terhadapnya, hanya beberapa jam setelah
serangan itu.

Orang-orang Jawa kembali menimang-nimang Jangka Ja-
yabaya: Hindia Belanda pasti kalah, dan bangsa kuning itu
pasti akan berkuasa di Jawa selama seumur jagung, tiga se-
tengah bulan. Juga kaum intelektual puncak turun dari tah-
tanya dan kembali pada atavisme ini. Dalam masa tak ada pe-
gangan lagi ini, alam pikiran mereka jadi bengkok-bengkok,
menganggap yang kuno tetap lebih luhur tak terbantahkan
daripada yang baru.

Kemenangan berada dalam tangan Tan Khoen Swie, pener-
bit buku-buku klenik di Kediri. Ia sendiri nampaknya tak ter-
goyahkan dengan adanya perubahan-perubahan bes,h di se-
luruh dunia.

Benteng kolonial jatuh satu per satu di tangan Jepang. Front
ABCD, American-Britisch, Chinese-Dutch, di bawah pimpinan
Jendral Wafel patah. Dengan liciknya Inggris menarik diri dari
persekutuan dengan alasan tak ada koloni Inggris yang perlu
dipertahankan lagi: Malaya dan Singapura telah jatuh. Wafel
menarik kekuatannya ke Birma.

Ayahku memberi komentar:
"Wafel! Wafel! Dasar kue-kue!"
Dengan jatuhnya Singapura Hindia tinggal menunggu gilir-
an. Australia mulai ·terancam dan menurunkan pasukannya.
Sumber-sumber minyak Sumatra dan Kalimantan mulai men-:-
jadi sasaran Jepang. Perang laut di Laut Jawa adalah patahnya
kekuatan terakhir dari Hindia Belanda.
Di lapangan terbang Kemayoran, jago tennis Samodja,
orang Indonesia pertama-tama yang jadi penerbang pesawat
pemburu, sebelum naik ke atas pesawatnya, bilang:
"Akan aku hajar Jepang," dan ia tak kembali untuk selama-
lamanya,.
Indonesia terjatuh ke tangan Jepang. Baik kaum nasionalis
kiri dan korrtunis di bawah tanah, maupun kaum nasionalis
tengah dan kanan tidak berdaya sesuatu.
Instituut Boedi Oetomo disita Jepang. Orang mulai belajar
Jepang. Pada waktu itu baru keketahui dalam rumahku, entah

29

Pramoedya Ananta Toer

JdpptpcblitAKreeaaeiuieuiarmpyhcylnlrdDammaaaaiaatdnaphgajiranhauiagaianlBpgItnndrmaaaiasgeaaeamnanlHynrendans-gaatmamiotipamEkmnnekkyredieleFgd,aaaacmpairkppEishnJhiadaCbeanekyHDsdipiopBtuakkapcaaiolean,aeenealnhmunneln-lrnMdkaugwgpuapteidnao.eaaeahoeneund.nrrrIresyBkddaaabnDApdiDmeeauuymbiatosnlngekeaaedapiupgkdrsatrnaaodwsaaastkondkselaeninne,eeamanusJn-rnhstnaaek.dgWepyuyrpeBDkIaalaanaraankenenet,eithnhisresdbukdtikKgt.peaesbkkiSiurnaAtkabieedauu.mndasmarrkapumiB.saweRnasuatitDenaeaJaratopKbsentpgiakDnrkeeepdh-assaebrdarsaaaainuaoaairbnatgBntnahiprnuangaa,kaipkayyrar,gnryuaakanaamdkkgarkonantk,iaesn,luJengurBesakAgejneelhskalnpeaienuanjdekhtJanburalsjarieenauu~datgirptprtgsgtsuahaaaaaanesk,unnhadlnadymatiirsyugieagttiaunkaiauu,---..,.

pada seorang pejabat:
"Keris Tuan Toer," kataku.
Orang itu tak berani menjamah keris itu. Dipandanginya

aku, berkata terburu-buru:
· "Bawa kembali keris itu."

_·dkdtgknSeaiuauoymjKDmaumuddbayueiiaho,lian,dlkarttsgaKaealeBmadlrrablanmeuriaamsbdeamggaesouiasbiredrkiuduaunatukkemkaiilnendpauhnaragamuathsnkkgasnu.esakPdurDmtlaapaijanshitateehyaiki-nnmt.unaanayTikb.bai.bubeaasusaPdkuhrnuhueakutglaerahu.nkstr,Tabutad2pumais6aaJtlk.0naiaedsK3na,pakadaeSpSnesanmuepeuagtmrmiauyepntrdaaeuduushrrinaisaaahstthsnn,aaaueagarkbbknni,taaadakatsarrieuuyeraanriabnln1k,uahkg9ge~crk4e-be-Jub3ularaehuapkirolaratuhaPlaurkelargnausthritaagaas--i

_bkswnteueagalASrdnIaajauaaenhkjmhhpmuuidubgudmeiscauiraenkuuknn4tyalkaud6aatjk.iitaistdwar-adbusiekhuaaertnaiukalkadagntenayhaar.tyakjpniyahadasajnjkaduanagkunakgdjaisaidbpejkysiaeubtauahruratnknaujagasgumkakarksaieenamaewltyrnaidakabinanna,apynnasJlaataeteaadegkpdprraiaaaaa.alnkkndPikghapyaee,niuakrrdyt:nk.uouaParwanwembgarbieekkmnernatla·ieuawgtnanhgniiyntDaypue_amoaibnhmaabdakiebaetkiuu-r-.,

30

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

bahwa barang siapa meninggal lebih dahulu, yang ditinggal-

kan tidak akan kawin lagi bila tidak diijinkan oleh yang telah

meninggal.

Perkawinan itu mempunyai ikatan mistik. Aku dapat

mengerti, karena ibuku telah mengajariku tentang patiraga.

Dalam pada itu juga diketahui oleh umum akan tingginya asas

moral padanya. Ia tak pernah melakukan sesuat{i yang bersi-

fat melanggar hak seseorang, atau mengurangi kehormatan

pribadinya. Kalau ia punya cacad adalah kesukaannya ber-

main ceki. Ia seorang pemurah yang selalu mengulurkan ta-

ngan pada barang siapa yang memerlukan bantuannya, dan

bila ia mampu memberikan. Ia telah menyekolahkan dan

menghidupi anak-anak orang lain. Ia pernah memberikan se-

buah rumah dan pekarangannya pada seseorang yang sangat

membutuhkan. Ia pernah memberikan sebuah bangunan lum-

bung padai seseorang yang membi tuhkannya, dengan cuma-

cuma. Ia pernah membiayai dan memperlengkapi sebuah

bengkel seseorang, juga dengan cuma-cuma. Ia pernah memo-

dali beberapa orang. Ia telah mendidik banyak calon nasiona-

lis pada masanya. -

Lebih daripada itu, ia adalah seorang pejuang gerakan ke-

merdekaan - suatu hal yang inembuat aku bangga padarrya.

Ia meninggal dalam keadaan damai pada awal kemerde-

kaan negeri tumpah-darah yang dicintai, pada Juni 1950, tan.:.

pa pernah meninggalkan Jawa, belum lagi mengecap hasil

kemerdekaan nasional yang diperjuangkannya.

Penutup dari hidupnya, bukankah telah tergambarkan

dalam Bukan Pasar Malam? Dan aku tidak pernah menyesal

telah pernah menulis dan menerbitkannya, walaupun ada

beberapa orang yang terheran-heran karena aku sampai hati

melakukannya. Tidak, aku tidak menyesal. Pada suatu kali di

sebuah universitas di luar negeri, seorang asisten bangsa

asing, pernah menggunakan kunjunganku ke universitas itu

untuk meminta padaku membacakan tiga halaman dari buku

tersebut. Mereka merekam pengucapan bacaanku. Dan aku

ketahui, sewaktu membaca bagian yang disodorkan itu air-

mataku jatuh berlinang. Itu terjadi pada 1960, sepuluh tahun

setelah meninggalnya.

31

Pramoedya Anantq Toer

Surat kedua yang pernah k\lterima berpusatkan pada satu

baris kata-kata:
Kau adalah anak pertama pembawa kebesarnn bagi ke~

luarga.
Di atasku ada dua mata rantai yang kukenal. Di bawahku
ada dua mata rantai yang belum kukenal, atau lebih tepatnya:
belum alm kenal, sekalipun boleh jadi mereka mengenal sedi-
kit dan samar. Adakah aku sebagai mata rantai dan mata ran-
tai di bawahku masih berkait-kaitan dengan yang di atasku?
tahu. Apakah buah apel itu tedalu jauh jatuh dari
Aku belum
batangnya? Adakah kacang sudah meninggalkan lanjarannya?

Aku tak tahu.
Dan dengan ini telah kuusahakan apa yang aku bisa

usahakan.

13 Februari 1976.

32

2

YangTakkan
Kembali Lagi

M. __ emang banyak yang takkan kembali lagi. Bukan
hanya benda-benda, juga anggapan-anggapan, dan
waktu, Bahkan bagiku sendiri Pandawa takkan lagi

datang padaku dengan Yudistira sebagai anak sulung. Dari-

padaku seor~ng Yudistira akan keluar sebagai anak bungsu

yang memasuki dunia. Dan: tanpa empat saudara lelaki. Kau

anak lelaki tunggal, Yudi.

Kati, dan juga semua saudarimu, dilahirkan di alam kemer-

dekaan. Tak ada penjajahan asing. Kalian dilahirkan sebagai

anak l:,angsa yang merdeka. Lain dari ayahmu, lain juga dari

ibumu.

Waktu kau dan saudari-saudarimu dilahirkan, segera kalian

menjerit. Mata kalian terbuka lebar seperti heran melihat du-

nia yang aneh ini. Tangan dan kaki kalian meronta-ronta dan

datah memerahi wajah kalian. Kemudian kalian hidup dari

dada ibu kalian, tak lain dari dada ibu kalian sampai bebera-

pa hari.

Ayahnm lain lagi. Tentu saja aku tak tahu bagaimana aku

dilahirkan, Tetapi aku dapat melihat dari adik-aq.ikku, mere-

ka yang mendapat giliran lahir setelah aku. Delapan orang

adikku, dilahirka:n berturut. Setiap kulihat mereka lahir sama

saja yang terjadi apakah itu lelaki ataukah perempuan. Bayi,

adikku·itu, tidak seperti kau. Adikku itu, dan begitu juga aku

dulu, belum mampu, :membuka mata. Matanya tetap tertutup

sampai kadang-kadang seminggu. Anggota badannya tidak

boleh bergerak menurut atur8:n dukun bayi, maka hams dibe-

dung. Tangannya diikat pada badan, juga kakinya diikat, dan

nampak seperti kepompong. Orang mengoleskan madu pada

bibirnya. ·

33 '

Pramoedya Ananta Toer

Dan aku, sebagai saudara tertua, mendapat kewajiban
menanam tuban yang dimasukkan ke dalam guci tanah ber-
tutup itu di samping kanan rumah. Tuban itu dianggap se-
bagai saudara tua si bayi. Padanya disertakan bunga-bungaan
dan sepucuk surat berisi tulisan abjad Jawa, Latin dan Arab se-
bagus-bagusnya. Katanya biar saudaraku itu nanti dapat
menulis bagus, dalam tiga macam huruf itu.
- Sampai empat puluh malam kuburan tuban yang dilingkari
anyaman bambu itu diberi berpelita. Katanya agar terang

jalannya bila menjenguk saudara mudanya.
Barang tentu tuban yang menyertai kelahiranku dulu diper-

lakukan demikian pula.
Setiap pagi dan sore dukun bayi datang untuk mengurus

ibuku dan memandikan si bayi, juga membedungnya.
Kadang-kadang sebelum dibedung di-dadah, dipijiti, dulu, sam-
pai si bayi yang belum lagi membuka mata itu menangis se-
tengah mati. Dua atau tiga kali sehari si bayi disuapi dengan
hancuran pisang ambon, dipaksa-paksa. Tidak jarang si bayi

sampai terbatuk-batuk.
Semua itu telah termasuk hal-hal ya~g takkan kembali lagi.
Semasa bayimu kau tidak mengalami lagi, dan anak-anakmu
-
kelak lebih tidak lagi.
Masa kecilku adalah masa kekurangan .pengetahuan. Bayi-
bayi itu tak mampu membuka mata untuk beberapa hari se-
telah kelahirannya adalah karena pengetahuan tentang gizi
makanan praktis tidak diketahui. Bayi-bayi lahir dalam
keadaan lemah. Orang hidup dengan kekurangan protein
hewani, bahkan juga nabati. Malah setelah aku remaja masih
dapat kudengar orang bilang: daging menyebabkan orang
cacingan. I<elapa membuat orang jadi cacingan. Orang harus
·mengurangi makan dan tidur supaya mendapat kejernihan
pikiran dan bimbingan dari langit. Orang harus banyak ber-
puasa dan melakukan tarak. Akibatnya orang Jawa semakin
lama semakin kurus, genei-asi demi generasi menjadi semakin

kecil, semakin lemah dan kurang kemampuannya.
Juga semasa kecilku aku melakukan tarak juga. Untuk wak-
tu-waktu tertentu sama sekali tidak makan daging apa pun,
atau hanya makan daun-daunan selama satu ata~ ·dua ming-
gu. Dengan cara demikian diharapkan pikiran jadi terang dan

bisa pandai di .sekolah.

34 -

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

s o nWg .aKk teuniytaut at aakn ,aodraa nyga nmgemmeannggattiadkaaknb: iistaumhearni jyaad iolme boinhgpka no --
dai karena itu. Sebaliknya, pertumbuhan sebagai kanak-kanak
malah terganggu, karena tubuh menderita kekurangan zat-zat

yang dibtituhkan. juga aku be rpuasa p ada hari-hari Senin dan
Kadang-kadang
Kamis. Sama saja, Tuhan takkan membikin orang menjadi le-

bih cerdik dengan jalan itu.
Kemudian dapat kuketahui juga, orang-orang Barat yang
pandai-pandai itu tidak menemptih jalan itu dalam menda-
patkan kepandaiannya. Mereka berlatih, bekerja dan belajar
sekaligus, terus-menerus dan secara teratur. Mereka ber-
senang-senang, bertamasya, bermain-main unt uk_memulih-

. kan teriaganya yang telah berkurang, kemudian berlatih, be-
kerja dan belajar lagi. Dan seterusnya. Memang benar: tak ada

kepandaian didapatkan tanpa usaha sendiri.
Juga sepucuk surat yang disertakan pada tuban yang dita-
nam itu omong kosong belaka. Entah berapa saja tuban adik-
adikku telah kutariam. Ternyata tak ada di antara mereka per-

nah menulis surat dalam tulisan Jawa atau pun Arab._Menulis
surat dalam huruf latin pun lebih banyak dengan mesin tulis.
Aku sering tertawa kalau mengenarig pengal amah masa
kanak-kanak itu. ·Dan .pegitulah anggapan masy arakat pada

waktu itu. Biarpun orang-orangnya sudah tua, pengetahuan-
nya masih rendah dan kekanak-kanakan. Sama halnya dengan
anggapan, untuk dapatpandai mengaji Qur'an anak-anak di-
kanajnuirtkua. nTemtaipnutimdaakirpaanbduakiemrteansgkaijit.abDasnudo.raAnkguyapnegrnmahemlabkeur-i
nasihat semacam itu sama sekali tidak merasa bertanggung-
berbukti. Ia pun tak merasa per-
jawab kalau riasihatnya tidak inerasa diri keliru a tau bersalah
lu untuk minta maaf. Bahkan
pun tidak. Mereka belum mengena) artinya tanggungjawab.
Kalau benar anggapan orang tua-tua semasa kanak-
kanakku tentu tak per~u ada sekolahan lagi. Tak perlu ada
surau. Tak perlu ada buku pelajaran. Tak perlu ada percefak-
an. Tak perlu ada dinas pos yang menyampaikan barang-
barang cetak itu ke seluruh negeri. Orang cukup bertarak atau
berpuasa, dan orang akan pandai dalam segala bidang yang
·
ia inginkan.

35

P~amoedya Ananta Toer

Waktu itu orang yang dianggap sepandai-pandainya adalah

kiai, .dukun dan dokter. Tentang kiai dan dukun tak perlu aku

be:rcerita apa-apa sekarang ini. tentang dokter ada sedikit.

Barangkali kau akan bertanya, bukankah pada waktu itu

sudah ada dokter~· Apa saja yang mereka kerjakan sampai

membiarkan masyarakatnya sebodoh itu?

Pada mulanya para dukun dan kiai itu yang berkuasa, juga

berkuasa atas anggapan umum. Mereka dianggap sebagai

orang-orang yang lebih dekat pada kekuasaan Tuhan. Apa

yang mereka katakan akan dianggap oleh masyarakat sebagai

kebenaran. Dan masyarakat sendiri segan menguji kebenaran

kata-kata mereka. Dokter-dokter belum mampu mengalahkan

keterbelakangan ini. .

Aku masih dapat mengingat, bagaimana takutku waktu

dibawa ke rumah sakit untuk dicabut kuku jari kakiku. W ak-

tu itu aku masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Di antara

teman-temanku, tak ada l<ecualinya, percaya, salep koreng

berwarna putih itu dibuat dari otak manusia. Ayah dan ibuku

tentu sudah tidak percaya, itu sebabnya aku dikirimkan ke

rumah sakit. Waktu kuku itu dicabut badanku dipegangi oleh

dua orang. Aku meronta dan meraung-raung. Seseorang telah .

·menyemprotkan cairan sangat dingin pada jari kaki itu. Dan

waktu kuku dicopot ternyata tak ada perasaan sakit sedikit

pun. Tetapi aku masih juga menangis. Kaki itu diobati, diba-

lut dan aku dibolehkan pulang. Walaupun masih agak berpin-

cang-pincang aku tak terserang demam lagi, dan nyeri pun

makin lama makin berkurang. Beberapa hari kemudian sem-

buh. Kepercayaanku pada dokter lahir karena pengalaman.itu.

W aktu ibuku diopname selama sebulan di rumah sakit ini

juga, setiap sore aku .datang menengok. Makin lama dokter

dan rumah sakit hilang keseramannya. Hanya pekerja-peker-

ja dan pasien yang berbaju putih itu menimbulkan kesan aneh,

seakan-akan mereka bukan sebangsaku, bukan orang-orang di

antara kami, tetapi datang dari dunia lain. Barangkali hal itu

disebabkan karena lingkungan hidup kami bersifat dan ber-

watak tani. Orang lebih suka berpakaian serba hitam atau

warna gelap yang lain.

Ibuku mendapat sebuah kamar untuk dua orang. Dan bila

orang melongok ke jendela, tak begitu jauh dari tempat itu

36

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

terbentang kuburafi yang sangat luas, di sana-sini dipayungi

oleh tajuk pokok jambu mede. Rasa-rasa sakit dan rumah sa-

kit begitu d~katnya dengan maut.

Ibuku tidak takut padp dokter. Ia tidak pernah bilang, ia

tidak takut. Kenyataan yang diperlihatkannya membikin aku

menjadi tidak takut juga.-

Tetapi keseraman rumah sakit itu tak juga bisa dihilangkan.

Di sore hari, bila matari hampir tenggelam, dan kami harus

tinggalkan ibu seorang diri di dekat kuburan itu, melalui door-

loop telah kedengaran .orang menyanyi bersama. Dan di tern-

pat pengobatan umum ke~ihatan ruangan itu penuh dengart

laki-perempuan berbaju putih-putih. Mereka itulah yang me-

nyanyi. Pada waktu it¥ aku belum mengerti kalau mereka se-

dang menjalani kebak~an menurut agamanya: Kristen. Pada

orang-orang yang lewb.t, tua dan muda, seseorang membagi-

bagikan selembar ker~as tercetak, berbahasa Jawa. Isinya: fir-

man Tuhan dan ke~rangannya dengan gambar-gambar

malaikat atau nabi. Dtn sejak itu rumah sakit atau pun dok-

ter, juru rawat ataupu pekerja-pekerja apotik di dalam kom-

pleks rumah sakit itu , agiku terasa senyawa dengan penger-

tian Kristen. :· .

Walaupun kami tid~k dididik sepatutnya di dalam keaga-

maan, kami adalah Islam. Dukun dan kiai adalah Islam. Ru-

mah sakit dan dokter adalah Kristen. Perbedaan kep~rcayaan

dan perbedaan titik tolak itu saja sudah membikin masyarakat

Islam tidak bersimpati pada dokter.

Dokter merupakan:noktah terlalu kecil di tengah-tengah

masyarakat Islam. Tidak punya pengaruh berarti. Dukun-

dukun. masih tetap memegang hegemoni. Namun ilmu dan

pengetahuan, tanpa mantra dan tanpa intrik, dengan berbuk-

tikan kenyataan, maki:nlama makin tak dapat ditolak, meram-

bat pel~n-pelan ke dafam tubuh masyarakat untuk kemudian

menguasainya sama sekali.

Lihatlah. Teman-tetj:lanku bermain, anak-anak sebaya; kare-

na gizi yang tidak dikenal itu, semuanya saja mengidap se-

suatu penyakit. Maks~dku teman-teman bermain, bukan te-

man-teman sekolah. :Pada umumnya mereka menderitakan

frambosia dan ulcus. P6da musim-musim tertentu semua men-
1•

derita sakit mata. Bila qatang musim tanam padi satu demi

37

Prnmoedya Ananta Toer

satu terguling di ambinnya masing-masing karena· malaria.

Memang tak ada di antara kami serumah terkena frambosia

atau ulcus. Aku sendiri sekali pernah kena malaria. Tetapi se-

mua anak-anak sebaya denganku menderita gangguan cacing

parasit, setidak-tidaknya cacing askaris. Semua itu menggang-

gu pertumbuhan kaini sebagai kanak-kanak.

Kau dalam masa kanak~kanakmu barangkali tidak pernah

melihat frambosia. Tetapi begitu teman-temanku. Kakinya,

mulut, hidung yang terkena, diobati secara kampung dengan

prusi, sehingga badannya belang-bonteng dengan warna hijau

.prusi. Bjla telah sembuh tertinggalah bekas Iuka yang takkan

hilang untuk selama-lamanya. Kalau kami di pasar atau pasar

·malam·selalu akan mendapatkan dua atau tiga orang yang tak

punya hidung, ada bersuara sengau. Itulah mereka yang hi-

dungnya termakan oleh frambosia. ·

Setiap setahun sekali pegawai-pegawai kesehatan datang ke

sekolah-sekolah desa untuk membrantas frambosia. Mereka

disuntik salvarsan: Sebelum disuntik, beberapa hari sebelum-

nya, dianjurkan pada teman-temanku itu untuk makan dag-

ing kambing sekenyang-kenyangnya. Percaya pada kemu-

jaraban suntik orangtua teman-temanku memerlukan mencari

biaya untuk membeli daging kambing itu dan semua dimasak

untuk anaknya yang menderita frambosia. Kadang-kadang

tiga hari berturut-turut. Begitu terkena salvarsan Iuka-Iuka itu,

yang berbulan, bahkan bertahun dideritakannya, dalam bebe-

rapa hari mulai mengering dan rontok, dan meninggalkan be-

kas untuk seumur hidup.

Bukankah tak ada di antara teman-temanmu terkena frai;n-

bosia? Duniamu sekarang ini jauh lebih baik daripada dunia-

ku <lulu.

Juga karena tidak mengenal gizi kadang-kadang berjangkit

penyakit buduk. Dalam bahasa Jawa disebut gudig, sedang

buduk dalam bahasa Jawa di tempatku berarti lepra. Pada

umumnya penyakit ini berasal dari pergaulan surau. Malah

seorang sahtri dianggap kurang artinya kalau tidak terkena

budu,k. Seorang menanggungkan penyakit ini sampai berbu-

lan, kadang bertahun, meninggalkan bekas hitam yang lebar

dan tipis. Untuk penyakit demikian orang tidak pergi ke ru-

mah ·sakit, tetapi membiarkannya. Juga dengan frambosia.

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu

Ktukksjksiaaeemuadadmwcrraliueeaakaalnmundachpagektaneannasmpyrkeagygearndiaariit.kknanukpPateg,eamellapanarntdaueuehggadnrmiepmdaajwteaaneaewjtahnhanudkagbudshetkaaaaaukntkrtnpagukii.banttae.kutenTseOkrpesceiosehretireraalrraukbninittnnuoajagaatg,nrnmataph.akthneaaeJetrgrmduagjdsagjaeidpiardakkiimiismroeaka.klstuarameeDauhrstcsbeimi-aeaamsnanlnpeaarakhpkammpokaetselaiaureaantkunnrikhgaregi,kk.gnltgoaaaupgArarrhanaeerttiendayannarpguaanaa-
pkpkbEmmldylboaieeeeueearrheoncEntonalnnnaanitidnpginyggltok,kcaagkegiarmutuat.ktu-ankemrtalHoaKekaciorahrpknnnhiearuamausaiag.rraldnaladanpaKdahkiegnhuragaunaaiya.isdt-ipn.l-smmauoaaeuDKaataryrswiaapkm.aaaeadstu-Mnatvgepukicaotgiabrhikeaedrhsnloitirnraaskkeuatgrieanoaabaiedaankkngnmnuadpymad.,tgapaakaaakteDyhletkelmakaynuaaparmusmaianaeumonantmno-grtlrdptteiagbkeiusdaaakmmiraiapbssllaahal,aeaaeu,nkianamnkrtrmnauud,trhaademki,aemliuekntraakmpmeihbnegririrdipabouegnabd,sedonebnnayieeknlkbaaingamnitalgpiasatagrnizasiausnent,iapeankujakgnstrrendeaamspaildn.erenadmnaajBhagrngn.ePutiiamaegKaraapkmadllunaldaapeatu-angenaatpulmspnaindueeuomkmakaykmnpnrguc-oeaejaeatBaeautmmmmundsannmeakgaan------il
jvsmpdKtaeaiiadnalekKdlmilgnuapaat-yomatuamlilikiaktnaiasahu<udgeks:ut;aklbia.kon-ianakrgyrnIajdiaeuaansinwuknad.ghntaSaku-tlteejpeakcdaaboniukiblilg,hahidmeisn.lehiaep-Mpejanloaaabkaalrnpaianlsmatangrihdn-uieyalsagmnaanrdapeniainamagkahdni-bldtagmeaaipaw.jdkeunaKiamgaddatiamitabtbaalyakuwujuawuakanangsaargkeandkstrmdeoeumdninteataiagjandt,anaukyutlunuaaidsnantldi-uitgyaitnataka,laauikitnkmmreuktutktaaaoaties-i---.
jmniutyupgKaeaakendmtiyaa.alekannuhggtakhsneaa-slmkaaenlpatgaahiikatpunuetadarntaduany1m;ak1nbemgkuaehttleaiirnrnuuysjaai-nwmtioanerngkaeganrnagulatsjkuka-adak-inatpundeaai·njkyea.ajkaAnulgkdta.taniDdbiaataunk-
berpengetahuan itu.

39


Click to View FlipBook Version