The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Kisah Anak Berbakti Dari Negeri Seribu Syair
kantor Bahasa Provinsi Jambi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by KANTOR BAHASA PROVINSI JAMBI, 2023-09-25 03:11:52

Kisah Anak Berbakti Dari Negeri Seribu Syair

Kisah Anak Berbakti Dari Negeri Seribu Syair
kantor Bahasa Provinsi Jambi

Keywords: Kantor Bahasa Jambi

Kisah Anak Berbakti dari Negeri Seribu Syair KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KANTOR BAHASA JAMBI 2018


KISAH ANAK BERBAKTI DARI NEGERI SERIBU SYAIR Penulis : M. Ali Surakhman Penanggung Jawab : Kepala Kantor Bahasa Jambi Penyunting : Syaiful Bahri Lubis Penilai : 1. Jafar Rasuh 2. Ujang Hariadi 3. Syaiful Bahri Lubis Ilustrator : M. Ali Surakhman Penata Letak : Luthfi Penerbit KANTOR BAHASA JAMBI Jalan Arif Rahman Hakim No. 101, Telanaipura Jambi 36124 Telepon(0741) 669466, Faksimile (0741) 61131 Laman http://balaibahasajambi.kemdikbud.go.id Katalog Dalam Terbitan (KDT) KISAH ANAK BERBAKTI DARI NEGERI SERIBU SYAIR viii + 50 hlm., 14,8 x 21 cm. Cetakan pertama, Desember 2018 Hak cipta dilindungi undang-undang. Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah. Isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis.


iii PENGANTAR KEPALA KANTOR BAHASA JAMBI Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Menulis merupakan aktivitas yang tidak dapat dihindarkan bagi masyarakat terutama di lingkungan pendidikan. Keterampilan menulis dapat membantu kesuksesan dan kelancaran proses pembelajaran bahasa di sekolah. Untuk meningkatkan minat menulis, Kantor Bahasa Jambi memandang perlu memberikan sumbangsih berupa sarana atau media untuk meningkatkan kegemaran masyarakat dalam hal menulis. Menyikapi hal tersebut, Kantor Bahasa Jambi menerbitkan buku yang berjudul Kisah Anak Berbakti dari Negeri Seribu Syair ini. Meskipun buku ini banyak kekurangan, hal itu tidak akan menyurutkan komitmen Kantor Bahasa Jambi sebagai salah satu institusi ‘garda depan’ dalam


iv menggalakkan kegiatan sastra di Provinsi Jambi. Harapan kami, di tahun-tahun yang akan datang, penerbitan buku seperti ini dapat terus terlaksana guna meningkatkan mutu kegiatan berliterasi di Provinsi Jambi. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca tetap kami nantikan demi kesempurnaan buku ini. Kami juga mengucapkan terima kasih yang setulustulusnya kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini, meskipun tidak bisa kami sebutkan satu per satu, terutama bagi rekan-rekan penulis yang telah meluangkan waktu untuk mengirimkan naskahnya. Harapan ke depan, kami bisa menambah lebih banyak lagi jumlah karya yang terpilih agar literasi di Provinsi Jambi semakin berkembang dan semarak. Akhirnya, kami ucapkan selamat membaca buku ini setelah sampai di tangan pembaca. Salam literasi! Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jambi, Desember 2018 Kepala Kantor Bahasa Jambi Syaiful Bahri Lubis


v SEKAPUR SIRIH Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Keberagaman suku dan adat istiadat membuat Indonesia menjadi negeri yang sangat unik dengan latar belakang yang menarik, seperti cerita rakyat yang diyakini oleh masyarakat daerah asalnya, baik dalam jenis mite, legenda, maupun dongeng. Namun, saat ini cerita rakyat kurang diminati oleh masyarakat. Banyaknya jenis cerita dari luar negeri membuat masyarakat, khususnya anak-anak, beralih untuk meminati jenis cerita tersebut. Sebenarnya cerita rakyat Indonesia sendiri, selain memiliki banyak aspek pendidikan, juga mengandung filosofi, manfaat, orisionalitas khas budaya bangsa Indonesia.


vi Melalui tulisan cerita rakyat yang berjudul Kisah Anak Berbakti, penulis berharap dapat menyampaikan pesan yang mendidik. Hal ini sebagai upaya dalam membangun karakter anak bangsa. Penulis


vii DAFTAR ISI PENGANTAR KEPALA KANTOR BAHASA JAMBI..... iii SEKAPUR SIRIH ................................................... v DAFTAR ISI ...................................................... vii Pulau Emas.......................................................... 1 Titah Raja Sribhoga ............................................. 9 Tali Dari Abu ...................................................... 17 Ujung Kayu Pusaka ............................................. 21 Gendang Yang Berbunyi Sendiri........................... 26 Risau Hati Raja Sri Culamaniwarman ................... 31 Singarapi Putih Tiang Tunggal Negeri .................. 42 BIODATA PENULIS............................................. 47


viii


1 Pulau Emas 1 T ersebutlah di seberang samudera luas, ada sebuah pulau besar yang sering digambarkan oleh pengelana dan pelaut saat duduk berlabuh berkumpul di bandar-bandar, sebagai Pulau Perca dan penziarah menyebutnya Swarnadwipa. Pulau tersebut dipenuhi oleh emas dan sungai-sungai besar yang meliukliuk, membelah daratan. Di sepanjang sungai berdiri bangunan-bangunan kokoh nan indah, tersusun oleh bata-bata merah. Di setiap pintu gerbang bangunan diletakkan patung-patung batu yang diukir indah dan dihiasi dengan batu alam berbagai warna sehingga menambah semaraknya kota tersebut. Penduduknya makmur dan ramah. Pasarnya ramai, tempat berkumpul orang dari pelosok negeri.


2 Di tengah Pulau Swarnadwipa itu berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Sribhoga yang diperintah oleh Raja Sri Culamaniwarman dan digelari “penguasa aliran sungai”. Gelar Raja Sri Culamaniwarman ini diperoleh karena di daerah kekuasaannya di sepanjang sungai Pulau Swarnadwipa, sang Raja sangat ditakuti dan disegani oleh rakyatnya. Kerajaan Sribhoga juga memiliki peraturan yang sangat aneh dan bertentangan dengan kemanusiaan. Sang Raja mengharuskan semua orang yang sudah tua dan tidak dapat bekerja lagi dibuang ke puncak gunung tinggi. Alasannya, karena orang tua tidak berguna dan menghabiskan makanan saja. Suatu ketika Kerajaan Sribhoga dilanda musim panas yang panjang. Sawah-sawah kekeringan


3 mengakibatkan persediaan padi dalam lumbung rakyat tidak ada lagi; sungai-sungai mengering sehingga ikan-ikan banyak yang mati; ladang-ladang rakyat tidak bisa ditanami dan habis terbakar akibat panas yang sangat terik. Keadaan tersebut mengakibatkan Kerajaan Sribhoga mengalami musim paceklik yang panjang. Syahdan cerita terdapat dusun terpencil di tengah Pulau Swarnadwipa. Dusun ini persis di pinggir danau yang berada di kaki Gunung Merapi Kerajaan Sribhoga. Danau inilah yang menjadi sumber mata air yang mengairi sungai-sungai di Kerajaan Sribhoga. Danau ini diberi nama Danau Gunung Tujuh karena


4 dikelilingi oleh enam gunung kecil dan satu gunung tertinggi di Pulau Swarnadwipa. Dusun tersebut bernama Dusun Pandan Menggurai, yang dikelilingi alam nan asri dengan kicauan burung kecumba paruh merah serta siamang bersorakan, dan sesekali auman harimau memecah kesunyian pagi, seolah irama alam serta syair yang syahdu. Dari kejauhan, jalan setapak berbatu yang tersusun rapi buatan alam, tampak berjalan seorang pemuda bernama Jang Hansi. Ia memudik pinggiran sungai kecil sambil bersenandung, bak irama anak dagang pulang kampung. “Burung tiung pandai berkata Kasih burung bawalah terbang Lubuk hati tepian mata Ingat dikau Puti Senang Pucuh pauh kemanga-manga Pucuk puding terentak muda Awaklah jauh ke mana-mana Maksud hendak bertemu juga Orang Hiang berburu napuh Napuh terhambur ke Tebing


5 Tinggi hutan bermambang hendak kutempuh Mencari hikmah ke mana pergi Tiada hikmah sejati hanya pada Ayah dan Ibu,….” Jang Hansi baru saja pulang dari berburu di hutan, tampak di jangki-nya seekor napu hasil jeratnya kemarin. Jangki adalah semacam tas ransel yang terbuat dari rotan dengan dianyam dan napu adalah hewan sejenis kancil hutan. Jang Hansi tinggal hanya berdua dengan ayahnya, yang sudah tua dan sakit-sakitan. Sejak ibu Jang Hansi meninggal dunia, kondisi ayahnya semakin memburuk namun Jang Hansi tetap tabah mengurus ayahnya. Setiap hari ia melayani dan merawat ayahnya dengan setia. Kasih sayang kepada ayahnya sangat luar biasa, begitu juga sebaliknya. Apalagi di dusun tersebut, gubuk mereka jauh dari rumah penduduk lain. Gubuk tua beratap ijuk itu terletak di pinggir dusun, dekat dengan pintu rimba. Dalam kesederhanaan hidup mereka berdua, terpancar kelapangan dan kebahagian yang luar biasa. Jang Hansi adalah anak yang patuh, rajin, dan tangkas. Dia belajar berburu dari ayahnya. Selain berburu, mereka juga bercocok tanam di


6 halaman sebelah gubuk untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kala malam hari, ayahnya mengajarkan banyak tentang ketuhanan, Sang Pencipta Alam Semesta, dan Jang Hansi selalu tekun mendengarkan ayahnya. Di sela-sela itu ayahnya juga banyak memberi petuah hidup buat Jang Hansi. Walau sudah lemah dan sakitsakitan, ayah Jang Hansi mengajarkan ilmu silat tuo kepada anaknya. Silat tuo ialah ilmu beladiri yang sangat langka, yang gerakan-gerakannya diambil dari kehidupan di alam semesta, seperti gerakan harimau menangkap mangsa, siamang di rimba, bangau, dan titik air jatuh di daun keladi. Ayah Jang Hansi sebenarnya bukanlah penduduk dusun tersebut namun dia orang perantau dan pengembara di masa mudanya. Ia tinggal di Dusun Pandan Menggurai karena menikah dengan ibu Jang Hansi. Ayahnya jarang bercerita tentang masa mudanya pada Jang Hansi. Saat ditanya oleh anaknya, raut wajahnya berubah menjadi sedih dan langsung diam. Namun, sekali ayahnya pernah bercerita bahwa ia berasal dari negeri jauh di kaki gunung yang dinamai orang Gunung Singgalang, dan di kaki gunung ini ada dusun kecil terpencil yang bernama Dusun Tuo Koto


7 Limau Manis. Hanya itu yang diceritakan oleh ayahnya dan Jang Hansi tidak pernah bertanya lagi, takut ia akan membuat hati ayahnya sedih. Setiap pelajaran yang diberikan ayahnya, selalu diingatnya, dan Jang Hansi adalah anak yang sangat cerdas walau hidup serba kekurangan. Ia selalu berlapang dada dan bahagia dengan kehidupannya. Dalam bergaul dengan teman sebaya, ia juga sering mengalah dan sangat disenangi oleh teman-temannya karena sangat pandai bergaul. Dengan penduduk dusun lainnya, Jang Hansi juga disenangi karena suka membantu dan menolong pekerjaan mereka. Suatu ketika Jang Hansi pagi-pagi sekali sudah bangun tidur dan langsung membereskan ruang gubuk mereka. Setelah itu, ia ke dapur hendak menanak nasi dan memasak air untuk ayahnya. Saat ingin mengambil beras di gentong tembikar besar yang terbuat dari tanah liat, ia melihat beras tinggal sedikit. Dalam hati ia bergumam, “Ah, beras hampir habis, hanya tinggal untuk hari ini. Aku harus ke pasar, mencari beras.” Biasanya Jang Hansi membantu Pak Langgun dan ia biasanya diberi upah serta beras oleh Pak Langgun yang berjualan kain di pasar dusun.


8 Setelah selesai menyiapkan makanan, Jang Hansi membuat minuman kawa untuk ayahnya. Kawa ialah minuman khas penduduk dusun, terbuat dari daun kopi yang dikeringkan dan diseduh di dalam teko dari bambu betung, disajikan di dalam cangkir batok kelapa. Kemudian ia membangunkan ayahnya, “Yah, kawa dan makanannya sudah aku siapkan. Ayo, kita sarapan.” Sambil sarapan mereka mengobrol, “Yah, setelah ini Jang Hansi ingin ke pasar. Beras kita hampir habis. Jang Hansi akan membantu Pak Langgun dulu mengangkut barang dagangannya, ya Yah,” ujar Jang Hansi kepada ayahnya sambil meminta izin. “Ya Anakku, tapi hati-hati di jalan dan baik-baiklah kamu dengan orang-orang di pasar. Sampaikan salam ayah pada Pak Langgun. Sudah lama ayah tidak bertemu dengan dia,” ujar ayahnya. “Iya, Yah,” balas Jang Hansi. Setelah selesai sarapan bersama ayahnya, Jang Hansi bergegas ke pasar dusun yang berada agak jauh dari gubuk mereka. Ia berjalan kaki sekitar hampir kurang satu jam, melewati jalan setapak dan pematang sawah. Namun, karena sudah terbiasa, Jang Hansi bisa cepat berjalan menuju pasar.


9 Sambil bersenandung dan berlari kecil di tengah pematang, ia terus cepat-cepat menuju pasar. “Berderung di Gunung Berapi Mendayu ke Gunung Ledang. Umah Gedang Batanduk Guang Gading Suaso Cukup Genap Sagalo Kebesarannya Batiang Balai Teras Jelatang, Bapasak Gading Tunggal. Bertabuh Pulut-Pulut Bergendang Sijangat Tumo. Raja Naik Jenang pun Naik Namun Tiada Tuah di Atas Bumi Kecuali Terletak pada Redho Orang Tua.” Titah Raja Sribhoga 2


10 Senandung syair yang sangat dalam dan penuh hikmah dilantunkan oleh Jang Hansi. Alam sekitarnya pun seolah ikut tenggelam dalam syair Jang Hansi. Burung cucak hijau kepala hitam yang selalu bersiul setiap pagi, berhenti terdiam mendengar senandung Jang Hansi, dan sorakan siamang yang bersautan dari dalam hutan, berhenti sejenak mendengar senandung Jang Hansi, begitu pula gemericik sungai kecil di pinggir pematang, seolah tidak berbunyi mendengar senandung Jang Hansi. Setiba di pasar, ia langsung menuju lapak Pak Langgun, “Selamat pagi, Pak Langgun,” sapa Jang Hansi. “A…a… sudah datang orang yang aku tunggu. Pagi, Jang Hansi,” ujar Pak Langgun. Jang Hansi menyalami sambil mencium tangan Pak Langgun. “Ya ya, cepatlah kau angkat bungkusan kain yang di gerobak itu, Jang Hansi, dan susun di sini!” kata Pak Langgun. Jang Hansi langsung bergerak dengan cekatan. Ia mengangkat dan menyusun dagangan Pak Langgun. Saat keramaian dan kesibukan orang di pasar, dari kejauhan tampak beberapa orang menunggang kuda dengan pakaian kerajaan. Ternyata, mereka abdi Raja


11 Sribhoga dengan para hulubalangnya. Keramaian di pasar dusun pun berhenti seketika tanpa diperintah. Kemudian abdi Raja Sri Culamaniwarman berkata di tengah kerumunan banyak orang di pasar itu, “Langit biru berbayang payung, perahu belah sidayung-dayung, bumi baru berbayang dulang, wahai para rakyat negeri Sribhoga, dengarlah titah Raja Sri Culamaniwarman. Gaung gung di Sanggaran Agung, tingginya puncak gunung raya, Danau Kerinci ombaknya tenang, titah raja tak boleh tidak dilaksanakan. Hai rakyat sekalian dengarlah, perintah dan aturan Raja Sri Culamaniwarman, Raja Sribhoga Pulau Emas Swarnadwipa.”


12 “Dikarenakan negeri Sribhoga dilanda paceklik sudah tiga musim, dan kerajaan mengalami kesusahan, untuk itu Raja Sri Culamaniwarman mengharuskan membuang orang-orang tua lemah ke puncak gunung yang jauh. Jika tidak mematuhi titah raja maka akan dihukum pancung, tanpa pilih bulu. Demikianlah titah raja ini untuk dipatuhi dan ditaati,” kata abdi kerajaan sambil bergegas memacu kudanya, diikuti oleh para hulubalang. Jang Hansi berubah sangat sedih mendengar peraturan kerajaan ini. Terbayang ayahnya di gubuk yang sudah tua dan sakit-sakitan. Pak Langgun yang melihat kesedihan Jang Hansi berkata, “Jang Hansi, pulanglah, tengoklah ayahmu dulu. Bawalah beras dan ikan asin ini pulang. Cepatlah kau selamatkan ayahmu sebelum hulubalang kerajaan tahu keadaannya,” kata Pak Langgun pada Jang Hansi. “Terima kasih, Pak Langgun,” ujar Jang Hansi sambil bergegas pulang ke gubuknya. Dalam pikirannya tiada lain, Ayahnya di gubuk. Sesampainya di gubuk, ia langsung menemui ayahnya. “Jang Hansi, kenapa cepat sekali kamu pulang? Tidakkah kamu membantu Pak Langgun di pasar, dan kenapa pula wajahmu sangat bersedih


13 hai, Anakku?” ujar ayahnya pada Jang Hansi. Jang Hansi hanya diam. Berat rasanya memberi tahu ayahnya tentang peraturan yang dibuat oleh Raja Sri Culamaniwarman. “Ya, Ayah, Jang Hansi sudah selesai membantu Pak Langgun dan disuruh pulang cepat,” ujarnya kepada ayahnya. “Namun, kenapa pula wajahmu sangat sedih, apakah kamu berbuat salah dengan Pak Langgun?” ujar ayahnya. “Tidak, Ayah, Jang Hansi sedih karena di pasar tadi abdi raja menyampaikan peraturan baru Kerajaan Sribhoga, yang mengharuskan membuang orang-orang tua lemah ke puncak gunung yang jauh. Jika tidak mematuhi, akan dibunuh oleh hulubalang kerajaan tanpa pilih bulu,” ujar Jang Hansi kepada ayahnya. Dengan sedih, ayahnya berucap, “Kita tidak berdaya melawan sang Raja. Oleh sebab itu, patuhi saja peraturan kerajaan.” Tak selang berapa lama di saat mereka sedang mengobrol, mendadak terdengar suara hentakan kaki kuda. Ternyata, hulubalang kerajaan yang datang menemui mereka berdua. Tanpa basa basi, “Hai Anak muda, kamu harus membuang orang tua lemah dan sakit ini ke puncak gunung! Kalau tidak, kalian berdua akan kami bunuh,” kata hulubalang kerajaan sambil berlalu pergi.


14 Jang Hansi dan ayahnya terdiam sejenak, kemudian Jang Hansi berkata pada ayahnya, “Oii Ayah, dengan berat hati, terpaksalah ayah kuantar ke puncak gunung di rimba sana demi untuk mematuhi perintah tuanku raja.” “Jang Hansi, Anakku. Turutlah perintah raja demi masa depanmu. Aku sudah tua dan lemah, umurku tak akan lama lagi. Kalau begitu ayah sudah ikhlas, besok kita berangkat menuju puncak gunung.” Jang Hansi iba mendengar jawaban ayahnya. Setelah menyiapkan keperluan di perjalanan, Jang Hansi dengan berat hati menggendong ayahnya menuju rimba yang dalam. Ia selama ini belum mengenal keadaan jalan di hutan belantara, apalagi berada di dalam hutan yang beda antara siang dan malam tidak


15 jelas. Sambil menggendong ayahnya menuju puncak gunung, sang Ayah menjatuhkan patahan rantingranting selama mereka berjalan. Sampailah kedua beranak itu di puncak gunung yang jauh dari dusun. Jang Hansi lalu menebang anakanak pohon, membuat sebuah gubuk untuk ayahnya. Selesai memberi atap gubuk dengan daun puar, Jang Hansi mengambil daun-daunan sebagai alas bagian dalam gubuk. Jang Hansi tidak khawatir lagi melihat keadaan gubuk untuk ayahnya. Ia bermalam bersama ayahnya di sana. Esok paginya, Jang Hansi berkemas pulang ke dusun dan akan melapor kepada Raja Sri Culamaniwarman. “Ayah, saya akan pulang ke dusun. Tinggallah Ayah di gubuk ini. Semoga, Tuhan memberi ketenangan untuk Ayah,” sambil mencium kaki ayahnya dengan air mata berlinang. “Pergilah, Nak. Agar kamu tidak tersesat di jalan, ikutilah ranting-ranting yang kujatuhkan. Nah, selamat jalan, Anakku.” Rasanya Jang Hansi tak tega meninggalkan ayahnya seorang diri di puncak gunung yang dingin itu. Beberapa langkah berjalan, ia membalikkan badan kembali memasuki gubuk. Tanpa bertanya, Jang


16 Hansi menggendong ayahnya, lalu menuruni puncak gunung dan kembali ke rumah mereka di dusun. Pemuda itu tahu bahwa ia telah melanggar peraturan kerajaan, tapi ia telah bertekad untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi. Sesampai di dusun, Jang Hansi menyembunyikan ayahnya di belakang rumah. Ia menggali tanah untuk membuat gua tempat persembunyian ayahnya. Gua itu dibuat sedemikian rupa agar bisa berhubungan dengan lantai rumah sehingga memudahkan Jang Hansi menemui ayahnya. Setiap hari ia menyediakan bermacam makanan untuk ayahnya yang berada dalam gua. Hulubalang kerajaan mengira bahwa orang tua Jang Hansi telah dibuang ke puncak gunung dan mungkin sudah meninggal di sana.


17 Pada suatu hari, saat Jang Hansi sibuk menolong Pak Langgun di pasar, datanglah rombongan hulubalang Raja Sri Culamaniwarman yang mengumumkan sayembara kepada seluruh rakyatnya, “Hai rakyat Sribhoga, baginda raja akan mengadakan sayembara, yaitu barang siapa yang dapat membuat tali dari abu, akan diberi hadiah yang berharga.” Setelah pulang dari pasar, Jang Hansi menemui ayahnya di dalam gua dekat rumah mereka. Sambil mengantarkan makanan, kemudian mereka mengobrol, “Yah, tadi di pasar hulubalang kerajaan mengumumkan sayembara, siapa yang bisa membuat tali dari abu, dia akan diberi hadiah yang berharga oleh raja. Mana pula Tali Dari Abu 3


18 ada tali yang terbuat dari abu?” Jang Hansi berguman di hadapan ayahnya. “Nak, mudah itu. Ambillah seutas tali dan bakar di atas papan. Itulah tali yang dikehendaki oleh raja. Maksud raja sebenarnya, gambaran tali yang terbuat dari abu. Perintah sebenarnya, menyuruh rakyat mengatasi kesulitan yang terjadi di kerajaan ini.” “Baiklah, kalau itu maksud ayah. Saya akan coba menghadap raja. Mudah-mudahan raja mau menerima saya,” gumam Jang Hansi dengan wajah gembira mendengar perkataan ayahnya.


19 Jang Hansi segera melaksanakan nasihat ayahnya. Ia menyiapkan bahan yang diperlukan, yakni seutas tali, damar, dan papan. Kemudian ia membuat lilitan tali di atas permukaan papan dan membakar tali itu dengan damar. Selesai membakar, terbentuklah tali dari abu di atas papan tersebut. Kemudian Jang Hansi membawa tali abu ke hadapan raja di istana. Baginda sangat senang menerima tali dari abu. “Ha ha ha, kamu benar, anak pintar Jang Hansi, dapat membuat seutas tali dan abu. Kamu juga tahu maksudku. Sayembara ini sebenarnya sebuah tekateki sejauh mana tingkat pengetahuan rakyatku,” Raja Sri Culamaniwarman tertawa terbahak-bahak sambil menerima tali abu dari tangan Jang Hansi. “Ampun, Tuanku, saya harap-harap cemas. Apa benar ini tali abu yang Tuanku maksud, atau mungkin saya akan menerima hukuman dari Baginda karena tidak sesuai dengan kehendak Baginda.” “Sudahlah, Jang Hansi. Terimalah hadiah yang kujanjikan. Hei hulubalang, bawalah hadiah itu untuk Jang Hansi!” Raja Sri Culamaniwarman memberikan bermacammacam hadiah yang sangat berharga untuk Jang


20 Hansi. Baginda kemudian memperkenankan Jang Hansi kembali ke dusunnya yang cukup jauh dari istana kerajaan. Sesampai di rumah, Jang Hansi memperlihatkan hadiah yang diberi raja kepada ayahnya. Kedua beranak itu amat gembira oleh keberhasilan menebak maksud raja. Semalaman Jang Hansi mendengar pituah-pituah bijaksana dari ayahnya. Sekalipun tubuh orang tua itu lemah. tapi banyak memiliki ilmu hikmah.


21 Sebulan telah berlalu, Raja Sri Culamaniwarman memiliki sebuah kayu bulat pusaka kerajaan. Kayu itu sudah berumur ratusan tahun. Raja Sri Culamaniwarman ingin mengetahui di mana letak ujung pangkal kayu. Baginda memerintahkan hulubalang memanggil Jang Hansi karena menganggap anak itu seorang yang pintar. “Hei Jang Hansi, coba kau tentukan kayu pusaka kerajaan ini, mana yang pangkal dan mana pula ujungnya! Ini penting untuk menentukan tua-mudanya silsilah kita. Kalau pangkal dekat dengan akar, berarti orang asal yang pertama kali mendirikan negeri ini. Jika ujung suku kita dan orang-orang pendatang ke negeri ini,” Raja Sri Culamaniwarman menerangkan maksudnya kepada Jang Hansi. Ujung Kayu Pusaka 3


22 “Ampun, Baginda, berilah hamba kesempatan berpikir sehari. Besok hamba akan datang ke hadapan Baginda, menguji pusaka kerajaan mana yang pangkal, mana pula yang ujungnya,” sembah Jang Hansi.


23 “Baiklah kalau begitu. Besok datanglah kamu ke mari. Semua abdi kerajaan menjadi saksi apa yang akan kamu perbuat nanti. Jika berbohong, kamu akan saya hukum dengan hukuman yang berat.” Gemetar juga Jang Hansi mendengar ancaman raja. Ia pamit pulang ke rumah dengan perasaan tak karuan. Hatinva gundah teringat ancaman raja Sri Culamaniwarman yang garang itu. Sesampai di rumah, Jang Hansi menceritakan kepada ayahnya tentang sebatang kayu bulat pusaka kerajaan yang harus ditentukan mana ujung dan mana pangkalnya. Selaku orang tua yang berpengalaman, ayah Jang Hansi memberi nasihat dan petunjuk. “Ambil sebuah bak yang sesuai dengan ukuran kayu itu, lalu isi dengan air sampai penuh. Kemudian pelan-pelan masukkan kayu itu ke dalam bak air. Maka, kita dapat melihat bagian yang cenderung mengapung adalah ujungnya, sedang bagian yang tenggelam adalah pangkal dari kayu itu,” ayah Jang Hansi menjelaskan sifat pohon itu. “Kalau demikian adanya, Jang Hansi besok akan menghadap raja di istana. Doakan Ananda, semoga selamat dari hukuman raja.”


24 “Ayah doakan, mudah-mudahan kamu berhasil menentukan ujung pangkal kayu pusaka kerajaan itu,” ayah Jang Hansi mengusap kepala anaknya. Esoknya Jang Hansi pergi ke istana. Di dalam balairung istana telah berkumpul semua abdi kerajaan serta hulubalang bersenjata. Gentar juga hati Jang Hansi melihat suasana itu. Di hadapan Raja Sri Culamaniwarman, tampak kayu pusaka kerajaan yang warnanya sudah menghitam. Sepintas memang sulit menentukan, mana pangkal dan mana pula ujungnya. “Ampun, Tuanku. Hamba telah siap melaksanakan perintah Baginda,” Jang Hansi mengatur sembah kepada Raja Sri Culamaniwarman. “Jang Hansi, kita mulai saja. Apa permintaanmu, katakan!” “Baginda Raja yang mulia, ambilkan saya sebuah bak berisi air sepenuhnya dan letakkan di hadapan hamba,” Jang Hansi memohon kepada raja. Sebuah bak berisi air disediakan oleh hulubalang. Dengan hati-hati, Jang Hansi mengambil kayu pusaka kerajaan. Ia memasukkan kayu itu ke dalam bak pelanpelan. Terlihat perbedaan garis lurus kayu dengan permukaan air dalam bak. Kemudian Jang Hansi


25 menerangkan kepada raja, ujung pangkal kayu yang sebenarnya. “Ampun, Baginda. Baginda sendiri telah melihatnya. Ujung kayu ini adalah bagian yang mengapung, sedangkan bagian yang terbenam adalah pangkal kayu,” Jang Hansi menjelaskan kepada raja. “Kamu benar-benar anak pintar, Jang Hansi. Terimalah hadiah ini,” raja memberi emas kepada Jang Hansi.


26 Suatu hari, raja tampaknya belum puas dengan persoalan. Raja memerintah hulubalang memanggil Jang Hansi. Jang Hansi diminta oleh raja untuk membuat gendang yang dapat berbunyi dengan sendirinya tanpa ditabuh. Kembali Macu menemui ayahnya, menceritakan permintaan raja untuk membuat gendang yang dapat berbunyi tanpa ditabuh. “Ayah, bagaimana membuat sebuah gendang yang dapat berbunyi dengan sendirinya tanpa ditabuh?” Jang Hansi bertanya kepada ayahnya. “Nak, jangan kau risaukan cara membuatnya. Carilah selembar kulit kambing yang lebar, lalu jahitlah pinggirnya sehingga membentuk bulat seperti Gendang Yang Berbunyi Sendiri 4


27 gendang. Kemudian kau cari sarang lebah dan bungkus lebah itu dengan kulit kambing tadi.” “Ini pekerjaan berat dan berbahaya, Yah,” Jang Hansi merasa gentar mendengar keterangan ayahnya. “Kau tak usah takut, Jang Hansi. Ayah akan mengajarimu mantra penawar bisa dan penjinak lebah,” sang Ayah memberi semangat kepada Jang Hansi dan mengajari anaknya mantra penjinak lebah. Jang Hansi mencari selembar kulit kambing. Kebetulan ada penduduk dusun murah hati yang


28 bersedia memberi kulit kambingnya. Setelah membuat kulit kambing menjadi berbentuk gendang, Jang Hansi pergi ke hutan tak berapa jauh dari dusunya. Ia dapat menemukan lebah yang berkumpul tenang pada sarangnya. Jang Hansi merapal mantra yang diajarkan ayah. Dengan tenang, ia memasukkan sarang lebah itu ke dalam gendang kulit kambing. Selesai membungkus rapi sarang lebah itu, dengan gembira Jang Hansi berangkat menuju istana raja. “Ampun, Tuanku, hamba sedikit terlambat. Membuat gendang seperti itu agak istimewa,” Jang Hansi menghaturkan sembah kepada Raja Sri Culamaniwarman. “Hei Jang Hansi, barang apa pula yang kau pikul itu? Coba kulihat, gendang seperti ini rasanya tidak ada di kerajaan kita.” “Inilah gendang yang Tuanku maksud,” Jang Hansi menyerahkan gendang kulit kambingnya. Ketika Raja Sri Culamaniwarman menyentuh gendang itu, lebah yang berada dalam gendang terkejut. Mereka beterbangan menabrak kulit kambing yang membungkusnya sehingga menimbulkan bunyi rebut, seperti tabuhan gendang. Raja juga tak


29 kalah terkejut. Baginda melepaskan benda itu hingga berguling di lantai istana. “Kendung dang dang, kendung dang dang, kendung dang dang….!” Bunyi ribut gendang tak hentinya dalam istana, membuat abdi kerajaan melongo melihat gendang itu. Tanpa ditabuh, gendang berbunyi dengan sendirinya. Raja Sri Culamaniwarman mengangguk keheranan. “Hei Jang Hangsi, hentikan bunyi gendangmu!” perintah raja. “Baik, Tuanku,” Jang Hansi menghampiri gendangnya dan membelai dengan sentuhan lembut. Gendang itu berhenti berbunyi. “Jang Hansi, kau benar anak yang pintar di kerajaan ini. Kau dapat memecahkan semua persoalan yang sulit,” raja memuji Jang Hansi. “Sekarang apa permintaanmu, pasti kukabulkan.” “Ampun, Baginda raja. Permintaan hamba cuma satu, mohon Baginda membebaskan hukuman ayah hamba yang sudah tua dan lemah.” Jang Hansi menceritakan semua yang dialaminya selama ini. Ia merasa tak tega membuang ayahnya ke


30 puncak gunung dan menyembunyikan ayahnya dalam gua di belakang rumah agar selamat dari hulubalang dan hukuman raja. Air mata Jang Hansi berlinang karena sangat menyayangi ayahnya yang sudah tua lagi lemah. Raja Sri Culamaniwarman tertegun mendengar semua cerita Jang Hansi. Selama ini ia telah berbuat semena-mena kepada rakyat, terutama orang-orang tua yang tidak berdosa dengan menjatuhkan hukuman buang kepada mereka ke puncak gunung. “Sekarang kuingat pituah raja pendahuluku, buruk baik orang ada gunanya, tidak ada yang terbuang. Yang buta pengembus lesung, yang buruk pelawan gawe, yang pekak pemasang meriam, yang lumpuh penunggu rumah, yang elok pelawan dune, yang hulubalang pemagar negeri, yang kaya penabing malu, yang cerdik penyambung lidah, yang ahli tempat bertanya,” Raja Sri Culamaniwarman menjadi insaf akan perbuatannya. Sejak saat itu, Raja Sri Culamaniwarman mencabut aturan untuk membuang orang tua yang lemah ke puncak gunung. Sejak saat itu pula orang-orang tua hidup bahagia bersama orang muda dalam kerajaan.


31 Suatu ketika Raja Sri Culamaniwarman duduk termenung, wajahnya gundah gulana. Para abdi kerajaan dan para menteri pun diam, mau bertanya takut salah. Beberapa saat dalam suasana hening, Mangkubumi yang merupakan penasihat kerajaan memberanikan diri untuk bersuara, “Mohon maaf, Baginda. Izinkan hamba bertanya, sedari tadi hamba lihat Baginda diam dan bermuram durja saja. Adakah kesusahan yang Baginda pikirkan? Musim paceklik yang melanda negeri telah lewat, lumbung padi rakyat sudah terisi penuh, sungai-sungai telah memberi ikan yang banyak buat para nelayan di negeri kita, dan Risau Hati Raja Sri Culamaniwarman 5


32 pajak serta upeti buat kerajaan selalu lancar dan telah membuat kerajaan menjadi makmur. Lalu apa yang membuat Baginda bersusah hati dan bermuram durja?” ujar Mangkubumi.


33 Raja tersentak dari menung dan diamnya, “Wahai Mangkubumi, dalam kerajaan ini Engkaulah orang yang aku tuakan, tempat aku bertanya dan meminta nasihat. Namun, kali ini aku sangat berat mengatakannya. Akan tetapi, demi kelangsungan kerajaan kita, baiklah aku akan mengatakan alasan mengapa aku bermuram durja. Pulai batingkat naik meninggalkan ruas dengan bukunyo. Manusio batingkat turun meninggalkan adat dengan sekonyo. Patah tumbuh ilang bagenti, pusako lamo idak berubah sebaris bapantang ilang, setitik bapantang lupo, tanda ada negeri ada beraja, bagaimana aku tidak gundah, wahai Mangkubumi? Aku tidak punya anak keturunan yang akan melanjutkan waris dari kerajaan ini, sementara umurku sudah mulai tua,” kata Raja Sri Culamaniwarman kepada Mangkubumi. Suasana dalam ruang kerajaan berubah senyap dan para abdi kerajaan serta para menteri tertunduk diam. Kemudian Raja Sri Culamaniwarman berkata, “Bagaimana pendapat dan nasihatmu, Mangkubumi?” Mangkubumi diam sejenak lalu berkata, “Wahai, Baginda, ini sebenarnya sudah lama jadi pikaran hamba namun hamba tidak berani mengatakan dan menanyakan kepada Baginda. Menurut hamba, ada


34 baiknya Baginda mengangkat seorang putra namun ia haruslah orang yang cerdas, punya sifat baik, dan mempunyai pengetahuan yang luas. Sebab, itu dasar utama untuk menjadi raja,” kata Mangkubumi. Para abdi dan menteri kerajaan mengangguk-angguk diam. “Lalu kira-kira siapa hai, Mangkubumi, yang pantas kuangkat menjadi putra mahkota kerajaan ini?” ujar Raja Sri Culamaniwarman. “Hamba rasa, yang memenuhi syarat tersebut dan kita sudah melihat dengan sendirinya saat Baginda membuat sayembara adalah si Jang Hangsi. Ia pun sangat kasih dan hormat kepada orang tua,” ujar Mangkubumi. “Mmm, betul katamu, Mangkubumi. Tidak salah aku meminta nasihat kepadamu, orang arif juga bijaksana,” kata Raja Sri Culamaniwarman. “Namun, begini, Baginda. Pulai batingkat naik meninggalkan ruas dengan bukunyo, manusio batingkat turun meninggalkan adat dengan sekonyo, patah tumbuh ilang bagenti, pusako lamo idak berubah sebaris bapantang ilang, setitik bapantang lupo. Menurut tradisi kerajaan kita, Sribhoga, kalau ingin mengangkat putra mahkota maka ia harus bisa mencabut keris pusaka kerajaan, yaitu keris Malila Manikam Batu dari tanjapannya di batu manikam di depan balairung istana kita,” kata Mangkubumi.


35 “Betul katamu, wahai Mangkubumi. Itu adat dan tradisi kita yang tidak berubah. Wahai Hulubalang, jemputlah Jang Hansi dan ayahnya ke sini, segera mungkin! Hal ini tidak bisa kita tunda-tunda!” perintah Raja Sri Culamaniwarman kepada hulubalang kerajaan. Dengan bergegas, hulubalang segera berlalu, menjemput Jang Hansi dan ayahnya. Setiba di depan gubuk Jang Hansi, “Wahai Jang Hansi, segera kamu dengan ayahmu menghadap Raja Sri Culamaniwarman, sekarang juga!” perintah hulubalang sambil terengahengah karena ia memacu kudanya dengan kencang sekali menuju tempat Jang Hansi untuk melaksanakan perintah raja. Jang Hansi dan ayahnya terkejut. Ada apa pula Raja Sri Culamaniwarman memanggil mereka, dan apa salah mereka? Pertanyaan itu muncul di pikiran Jang Hansi dan ayahnya. Namun, mereka segera beranjak, “Ya Hulubalang, bisa kami berkemas sebentar?” ujar ayah Jang Hansi. “Tidak perlu! Sekarang juga kalian berdua berangkat dengan saya. Naiklah ke atas, kereta kuda di belakang!” perintah hulubalang. Jang Hangsi dan ayahnya segera naik ke dalam kereta kuda dan hulubalang segera berputar memacu kudanya. Di


36 dalam kereta kuda Jang Hansi dan ayahnya terdiam. Di pikiran mereka masing-masing muncul bermacam praduga, apa sebab Raja Sri Culamaniwarman memangil mereka. “Apa pula sebab raja memangil kita, Ayah? Apa kita ada salah hingga Raja Sri Culamaniwarman mengutus hulubalangnya menjemput kita?” ujar Jang Hansi kepada ayahnya. “Entahlah, Nak. Namun, kita jangan berprasangka buruk dulu. Kita serahkan saja kepada Tuhan Sang Pencipta, Dia Yang Maha Mengetauhi segalanya,” jawab ayah Jang Hansi. Sesampai di aula istana, hulubalang menghentikan kereta kudanya. “Ayo turun dan tunggu di sini!” perintah hulubalang kepada mereka berdua sambil berlalu masuk ke dalam istana. “Ampun, Paduka Raja. Perintah Paduka telah hamba laksanakan. Jang Hansi dan ayahnya telah hamba jemput dan sekarang mereka ada di aula istana,” kata hulubalang kepada Raja Sri Culamaniwarman. “Suruh mereka masuk,” perintah raja. “Segera hamba laksanakan, Yang Mulia,” ujar hulubalang sambal berlalu. Di luar Jang Hansi dan ayahnya menunggu diam dan sedikit gelisah. Tak lama berselang, datanglah


37 hulubalang, “Kalian berdua diminta segera masuk dan menghadap baginda raja,” ucap hulubalang. Mereka berdua segera beranjak dari tempatnya dan mengikuti hulubalang masuk ke dalam istana. Sesampai di hadapan Raja Sri Culamaniwarman, Jang Hansi menunduk sambil berkata, “Tabik, Baginda, hamba dan ayah hamba akan mengikuti perintah Baginda, dan apa pula salah hamba serta ayah hamba, hingga hamba disuruh menghadap?” Kemudian raja sambil beranjak dari singgasananya, berjalan menuju mereka berdua, “Jang Hansi, kerajaan kita sedang mengalami masalah serius, yang menyangkut kelangsungan kerajaan ini. Oleh karena itu, kami meminta bantuanmu dan ayahmu untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar Raja Sri Culamaniwarman. Dengan bijaksana, ia tidak mengatakan maksudnya untuk mengangkat Jang Hansi sebagai anak. “Mohon ampun, Baginda, hamba dan ayah hamba hanya rakyat biasa, bagaimana pula kami bisa menyelesaikan masalah besar Kerajaan Sribhoga,” ujar Jang Hangsi. “Saya minta kamu mencabut keris pusaka kerajaan, keris Malila Manikam, batu yang tertancap di batu manikam di depan balairung kerajaan. Kami


38 merasa kamu pantas melakukannya karena telah menyelesaikan beberapa sayembara yang saya buat,” kata Raja Sri Culamaniwarman kepada Jang Hansi. “Ampun, Baginda, hamba akan coba, seandainya hamba mampu mencabutnya,” ujar Jang Hansi. Kemudian Raja Sri Culamaniwarman berjalan diikuti oleh semua abdi kerajaan Sribhoga menuju balairung kerajaan. Setibanya di halaman balairung kerajaan, tampaklah sebilah keris yang tertancap di sebuah batu besar, melintang menghadap utara. Keris tersebut tertancap separoh, hingga tampaklah hulunya berwarna coklat tua kehitam-hitaman, bergambar motif singa duduk. Itulah keris pusaka Kerajaan Sribhoga, yang sudah tertancap sekian puluh tahun di batu tersebut. “Wahai Hulubalang, sebelum Jang Hansi mencabut keris Malila Manikam Batu, silakan kalian mencoba mencabutnya,” perintah Raja Sri Culamaniwarman. Kemudian majulah Panglima Gajah Mungkal, hulubalang tertinggi di Kerajaan Sribhoga. Tubuhnya tegap, ototnya keluar berbongkah-bongkah, dengan rahang segi empat, matanya tajam bagai mata elang. Sesampainya di batu manikam, ia memegang hulu keris dan mencabut sekuat tenaga, namun sedikit pun


39 keris itu tidak bergerak. Hampir satu jam dia mencoba. Keringatnya keluar sebesar biji jagung, tubuhnya basah bermandi keringat, akhirnya dia menyerah, “Ampun, Baginda, hamba tidak sanggup mencabut keris Malila Manikam Batu. Ampuni hamba, ya Baginda,” ujar Panglima Gajah Mungkal, menghadap Raja Sri Culamaniwarman. “Ya, sekarang silakan kamu, hai Jang Hansi, untuk mencabut keris Malila!” ujar raja pada Jang Hansi, “Ampun baginda, sebelum mencabut keris pusaka Kerajaan Sribhoga, izinkan hamba mohon restu pada ayah hamba,” ujar Jang Hansi. “Silakan, Jang Hansi,” balas Raja Sri Culamaniwarman. Kemudian Jang Hansi menuju ayahnya dan langsung bersujud mencium kaki ayahnya, “Ayah, mohon


40 restu ananda, dan doakan ananda bisa mencabut keris pusaka tersebut,” ujar Jang Hansi kepada ayahnya. “Jang Hansi, sebelum kamu mencabut keris tersebut, berdoalah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mohon ampun kepada sang Pencipta, dan doakan arwah ibumu di alam sana. Mohon restunya, yang telah melahirkanmu,” ujar ayahnya dengan mulut terbata-bata. Setelah itu, Jang Hansi berlalu menuju batu manikam. Sebelum memulai mencabut keris Malila Manikam Batu, ia berdoa dan memohon restu kepada arwah ibunya. Kemudian ia memegang ulu keris pusaka tersebut dan mencabutnya. Dengan seizin Yang Kuasa, keris itu tercabut dari batu tersebut, dan Jang Hansi mengangkat keris itu tinggi-tinggi menghadap langit sambil berujar, “Terima kasih, Tuhan, terima kasih, ibu,” tak terasa air matanya keluar. Kemudian ia berjalan menuju Raja Sri Culamaniwarman, “Ampun, Baginda, ini hamba persembahkan keris Malila manikam Batu,” ujar Jang Hansi sambil menunduk, menyerahkan keris pusaka kepada raja. Kemudian Raja Sri Culamaniwarman mengambil keris tersebut, “Ini pusaka leluhur Kerajaan Sribhoga, dan sumpah leluhurku, siapa yang bisa mencabut keris ini maka ia berhak menjadi raja di Kerajaan


Click to View FlipBook Version