The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

bekal akan Teori dan histori terkait ke PMII-an

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mohamad labib muzhoffar, 2023-10-03 10:05:07

Panduan MAPABA

bekal akan Teori dan histori terkait ke PMII-an

Keywords: buku MAPABA,PMII

Buku Panduan MAPABA Masa Penerimaan Anggota Baru Tim Kaderisasi Komisariat STAI Haji Agus Salim 2017-2018 Note : …………………………………………………………………… …………………………………………………………………… …………………………………………………………………… …………………………………………………………………… …………………………………………………………………… …………………………………………………………………… …………………………………………………………………… …………………………………………………………………… …………………………………………………………………… ………………………………………………......................... ............................................................................... ............................................................................... ............................................................................... ............................................................................... ............................................................................... ............................................................................... ............................................................................... ............................................................................... ............................................................................... 148


Ingat, Tidak ada Hasil yang Mengkhianati Proses 147 Buku Panduan MAPABA Masa Penerimaan Anggota Baru © PK PMII STAI HAS Bekasi 2017 Ukuran : 8.5 x 11 cm; Halaman: i-xiv + 148 Penyusun : Tim Kaderisasi PK PMII STAI Haji Agus Salim Cikarang 2017-2018 Penyunting : M. Harun Al-Rasyid Cover : Ade Maulana Aji Diterbitkan atas kerjasama : Pengurus Komisariat PMII STAI Haji Agus Salim Jl. Jend Urip Sumardjo Cikarang Utara. Kabupaten Bekasi Dan Penerbit (Nama Penerbit dan Tempat) Dilarang mengutip atau memperbanyak buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya dalam bentuk apapun tanpa seijin dari penyusun dan penerbit. Cetakan Pertama, September 2017


“Didedikasikan Kepada Seluruh Warga Pergerakan yang Telah Banyak Memberi untuk Menghidupkan PMII” Sebagai Anggota Mu’takid Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia senantiasa patuh dan taat kepada pimpinan organisasi; bahwa ketidak setiaan kepada pimpinan organisasi, adalah suatu bentuk pengkhianatan kepada organisasi dan pasti akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT Astaghfirullaah al adhiim, Astaghfirullah al adhiim, Astaghfirullaah al adhiim Khasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashiir Laa haula walaa quwwata illa billah…. 146 Lampiran-lampiran


Naskah Bai’at Anggota Baru Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Bismillahirrahmaanirahiim, Asyhadu alla ilaaha illa Allah, Wa Asyahadu anna Muhammadarrasulullah Radhiitubillahirabba, wabil islamidiina, wabimuhammadinnabiya wa rasuula, wabil qur’aani imaama Dengan memohon ridlo, rahmat dan maghfiroh Allah SWT, saya berikrar : Bahwa saya : Menyerahkan diri menjadi Anggota Mu’takid Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Sebagai Anggota Mu’takid Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah, Nilai Dasar Peregrakan, Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Nilai-nilai, Norma-norma dan produk hukum PMII lainnya, serta cinta tanah air dan bangsa Sebagai Anggota Mu’takid Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dalam menjalankan tugas dan kewajiban organisasi pantang berputus asa, pantang menyerah, dan pantang meninggalkan PMII dalam situasi dan kondisi apapun 145 Lampiran-lampiran


Dzikir, Fikir dan Amal Shaleh Taqwa, Intelektualitas dan Profesionalitas Kejujuran, Kebenaran dan Keadilan Citra Diri Ulul Albab 1. Penguasaan dan pemahaman materi yang telah diberikan oleh pembicara yang dituangkan dalam resume 2. Kehadiran dalam seluruh rangkaian kegiatan MAPABA 3. Keaktifan peserta berdiskusi dalam setiap rangkaian kegiatan MAPABA 4. Disiplin dan dedikasi dalam setiap rangkaian kegiatan MAPABA 5. Sikap dan kepemimpinan BAB V PENUTUP Pasal 8 1. Hal-hal yang belum diatur dalam tata tertib, akan diatur kembali sesuai dengan situasi dan kondisi Ditetapkan di : Sekretariat PMII STAI Haji Agus Salim Tanggal : 01 September 2017 Pukul : 20.00 WIB Pimpinan Sidang Sekretaris Sidang Ttd Ttd M. Harun Al Rasyid Rifqi Shauri 144 Lampiran-lampiran


2. Peserta dilarang membawa senjata tajam, senjata api, narkoba dan atau obat terlarang lainya selama kegiatan MAPABA 3. Peserta dilarang merokok selama materi berlangsung 4. Peserta dilarang makan dan berbicara bebas selama materi berlangsung 5. Peserta dilarang melakukan tindakan asusila 6. Semua hal-hal yang diharamkan oleh Agama dan Negara 7. Semua hal-hal yang dapat menggangu kelancaran MAPABA Pasal 6 Sanksi-sanksi 1. Bagi Peserta yang melanggar tata tertib yang telah ditentukan akan dikenakan sanksi sebagai berikut : a. Teguran b. Peringatan c. Hukuman d. Dinyatakan keluar dan tidak boleh mengikuti acara MAPABA 2. Bagi peserta yang keluar dinyatakan tidak lulus dan bukan bagian dari keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia BAB IV PENILAIAN PESERTA Pasal 7 Mekanisme Penilaian Peserta 143 Lampiran-lampiran


Kata Pengantar Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Salam silaturahim teriring doa kami sampaikan semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia kepada kita dalam melaksanakan rutinitas seharihari. Amin. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahi kita akal dan hati untuk menghadapi dinamika medan kehidupan, Shalawat teriring salam terlimpah curahkan kepada baginda besar Nabi Muhammad SAW, yang mana beliau telah membawa kita dari zaman biadab sampai zaman beradab, semoga sentiasa kita sebagai umatnya selalu istiqomah dalam menjalankan sunnahsunnahnya. Didasari akan kebutuhan sebuah media untuk mempermudah pemahaman, mendekatkan, serta menumbuhkan rasa memiliki (Sense Of Belong) di tiap-tiap anggota terhadap PMII, maka buku pegangan ini menjadi kebutuhan yang penting. Di dalamnya terdapat pokok-pokok pengetahuan tentang PMII, historisitas, landasan, maupun peran organisasi. Serta Ideologi Islam Ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) sebagai pijakan dasar dalam bergerak. Buku Panduan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) ini merunjuk ke berbagai sumber referensi buku hasil intelektual muda kader PMII terdahulu yang menuangkan karyanya dalam sebuah tulisan, selain itu Buku Panduan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) juga divii BAB III KEWAJIBAN, HAK, LARANGAN DAN SANKSI PESERTA Pasal 3 Kewajiban Peserta 1. Setiap peserta wajib mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah ditetapkan 2. Setiap peserta wajib membawa Buku Materi MAPABA yang diberikan 3. Setiap peserta wajib mengenakan pakaian Sopan, Rapi dan enak dipandang 4. Setiap peserta wajib hadir 10 menit sebelum acara dimulai 5. Setiap peserta wajib membuat resume atau makalah pada setiap materi yang diberikan Pasal 4 Hak Peserta 1. Setiap peserta berhak untuk meminta keterangan atau petunjuk kepada panitia 2. Setiap peserta berhak mengajukan usulan kepada panitia 3. Setiap peserta berhak mengkritisi rangkaian kegiatan MAPABA beserta saran Pasal 5 Larangan Peserta 1. Peserta dilarang memakai tanda atau atribut organisasi lain selama kegiatan MAPABA berlangsung 142 Lampiran-lampiran


TATA TERTIB MASA PENERIMAAN ANGGOTA BARU PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA STAI HAJI AGUS SALIM CIKARANG BAB I NAMA KEGIATAN Pasal 1 1. Kegiatan ini bernama Masa Penerimaan Anggota Baru, yang disingkat menjadi MAPABA 2. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 15-17 September 2017 bertempat di Aula Balai Rakyat Kecamatan Cikarang Utara BAB II KETERANGAN UMUM Pasal 2 1. Panggilan untuk peserta pria adalah sahabat 2. Panggilan untuk peserta wanita adalah sahabati 3. Perserta MAPABA PMII STAI HAS adalah : a. Mahasiswa/i yang telah memenuhi persyaratan administrasi yang telah ditentukan b. Mahasiswa/i yang mengikuti acara ini, tidak ada paksaan dari pihak manapun c. Utusan dari Fakultas-fakultas dan atau kampuskampus 141 Lampiran-lampiran peruntukan untuk anggota-anggota muda PMII STAI Haji Agus Salim Cikarang sebagai modal keilmuan untuk mengikuti jenjang kaderisasi kedua yaitu Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan juga bisa menjadi bahan re-view untuk mengulas kembali materi yang belum dipahami secara mendalam. Tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabati yang terlibat dalam pembuatan buku ini baik berupa pemikiran, pikiran maupun materi, sehingga buku ini dapat dicetak sesuai harapan kita bersama. Wallahul Muwaaffieq Ilaa Aqwamith Tharieq Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Muhamad Harun Al’Rasyid Ketua Komisariat PMII STAI Haji Agus Salim Masa Khidmat 2017-2018 viii


Daftar Isi Kata Pengantar ............................................................. i Daftar Isi ........................................................................ ii Sejarah dan Makna Filosofis PMII .............................. 1 A. Lahirnya PMII dan Pengembangan Sayap Pergerakan ............................................................ 1 B. Reaksi Terhadap Kelahiran PMII ......................... 7 C. Identitas dan Citra Diri PMII ................................ 9 D. Landasan Teologis dan Filosofis PMII ................ 13 Arti Lambang dan Bendera PMII ................................ 17 A. Lambang PMII ..................................................... 19 B. Bendera PMII ....................................................... 18 Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) ....................... 21 A. Definisi dan Historis ............................................. 23 B. Ahlussunnah Wal Jama’ah versi KH Hasyim Asy’ari .............................................. 24 C. Aspek Aswaja Sebagai Manhaj al-Fikr ................ 27 Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII ........................... 29 A. Terminologi NDP ................................................. 31 B. Fungsi NDP .......................................................... 32 C. Kedudukan NDP .................................................. 33 D. Rumusan NDP ...................................................... 33 E. NDP: Landasan Gerak Berbasis Teologis ............ 35 ix # mereka dirampas haknya Tergusur dan lapar Bunda relakan darah juang kami Tuk membebaskan rakyat (padamu kami berjanji *yg kedua) Kembali ke # Sumpah Mahasiswa Indonesia Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah, Bertanah air satu, Tanah air tanpa penindasan Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah, Berbangsa satu, Bangsa yang gandrung akan keadilan Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah, Berbahasa satu, Bahasa tanpa kebohongan. Revolusi Berbaris dan bersatu Menuju Indonesia baru Singkirkan benalu Singkirkan semua musuh-musuh Rakyat pasti menang melawan penindasan Rakyat kita pasti akan menang Rakyat pasti menang melawan penindasan Rakyat pasti akan menang 140 Lampiran-lampiran


Berjuanglah PMII # Berjuanglah PMII berjuang.. Marilah kita bina persatuan.. > 2X Hancur leburkanlah angkara murka Perkokohlah barisan kita Siap..!! Reff Sinar api Islam kini menyala…!! Tekat bulat jihad kita membara.. !! > 2X Berjuanglah PMII berjuang Menegakkan Kalimat Tuhan. (2X– pada ulangan kedua) (kembali ke # <dibaca 2x>) Darah Juang Disini negeri kami Tempat padi terhampar Samuderanya kaya raya Negeri kami subur Tuhan Dinegeri permai ini Berjuta rakyat bersimbah luka Anak kurus tak sekolah Pemuda desa tak kerja 139 Lampiran-lampiran F. Pemaknaan dan Arti NDP .................................... 36 G. Fungsi, Peran dan Kedudukan NDP .................... 36 H. Rumusan dan Isi NDP .......................................... 37 I. Teologi sebagai Dasar Filosofis Pergerakan ........ 39 Manajemen dan Organisasi .......................................... 41 A. Pengantar ............................................................. 43 B. Keorganisasian ..................................................... 43 C. Administrasi sebagai Total Sistem ....................... 44 Ideologi Gender .............................................................. 49 A. Prawacana ............................................................ 51 B. Pengertian Gender ................................................ 54 C. Perbedaan Sex dan Gender .................................. 56 D. Implikasi Perbedaan Biologis Terhadap Manusia 57 E. Gender dan Marginalisasi Perempuan ................. 58 F. Gender dan Subordinasi ....................................... 60 G. Gender dan Stereotipe .......................................... 61 H. Gender dan Kekerasan ......................................... 62 I. Gender dan Beban Kerja ...................................... 64 J. Perspektif Teori Gender ....................................... 64 K. Kodrat Perempuan dalam Islam ........................... 68 Teknik Persidangan ....................................................... 71 A. Pengertian Persidangan ........................................ 73 B. Peristilah dalam Persidangan ............................... 73 C. Jenis-jenis Sidang ................................................ 74 D. Aturan Sidang ...................................................... 74 x


E. Aturan Ketuk Palu ................................................ 76 F. Interupsi ................................................................ 77 Tipologi Mahasiswa ....................................................... 79 A. Tipe Aktivis .......................................................... 81 B. Tipe Akademis ..................................................... 82 C. Mahasiswa Ideal ................................................... 83 D. Varian Mahasiswa Aktivis ................................... 83 E. Varian Mahasiswa Akademisi .............................. 83 F. Tipologi Mahasiswa Hedonis ............................... 84 G. Ada Apa dengan Pemuda dan Mahasiswa ........... 85 H. Mahasiswa Seperti Apa? ...................................... 86 I. Mahasiswa Muslim Mau Apa? ............................. 90 Sejarah Bangsa Indonesia ............................................. 91 A. Indonesia Sebelum Kemerdekaan ........................ 93 B. Indonesia Sesudah Kemerdekaan ......................... 98 Manajemen Aksi ............................................................ 107 A. Pengertian Manajemen Aksi ................................ 109 B. Aturan Hukum ...................................................... 110 C. Tahapan Aksi ........................................................ 111 Kelembagaan KOPRI ................................................... 115 Daftar Pustaka ................................................................ 131 PK PMII STAI HAS MK 2017-2018 ............................ 135 Lagu-lagu Pergerakan ................................................... 137 Tata Terbib MAPABA ................................................. 141 Naskah Bai’at Anggota PMII ........................................ 145 xi Hymne PMII # Bersemilah, bersemilah tunas PMII..2 X Tumbuh subur.. tumbuh subur.. Kadert PMII.. Masa Depan ditanganmu Untuk meneruskan perjuangan Bersemilah, bersemilah.. Kau harapan bangsa.. (kembali ke # <dibaca 2x>) BURUH TANI Buruh tani, mahasiswa, rakyat miskin, kota Bersatu padu rebut demokrasi Gegap gempita dalam satu suara Demi tugas suci yang mulia Hari-hari esok adalah milik kita Terciptanya masyarakat sejahtera Terbentuknya tatanan masyarakat Indonesia baru tanpa orba Marilah kawan mari kita kabarkan Ditangan kita tergenggam arah bangsa Marilah kawan mari kita nyanyikan Sebuah lagu tentang pembebasan 138 Lampiran-lampiran


Lagu-lagu Pergerakan Mars PMII Inilah kami wahai indonesia Satu barisan dan satu cita Pembela bangsa penegak agama Tangan terkepal dan maju kemuka Habislah sudah masa yang suram Selesai sudah derita yang lama Bangsa yang jaya islam yang benar Bangun tersentak dari bumiku subur Reff Denganmu PMII Pergerakanku Ilmu dan bakti kuberikan Adil dan makmur kuperjuangkan Untukmu satu tanah airku Untukmu satu keyakinanku inilah kami wahai indonesia satu angkatan dan satu jiwa putera bangsa bebas merdeka tangan terkepal dan maju kemuka (kembali ke reff) 137 Lampiran-lampiran xii


Sejarah dan Makna Filosofis PMII xi Koordinator : M Ridwan El-Baasith Anggota : Ahmad Ardiansyah Bidang Eksternal Biro Hubungan Komunikasi Instansi Kampus di Wilayah Koordinator : Andri Surya Permana Anggota : Ibnu Athoillah : Juanda Basyari Biro Komunikasi Organ Gerakan dalam Kampus Koordinator : Abdul Azis Anggota : Ade Maulana Aji Bidang Keagamaan Biro Dakwah dan Kajian Islam Koordinator : Ajat Sudrajat Anggota : Nur Kholishah Badan Semi Otonom Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Ketua : Siti Hapsah Sekretaris : Elma Yuliyanti Bendahara : Aan Anita Biro-biro Biro Internal Koordinator : Mega Wati Anggota : Yeti Pratini Biro Eksternal Koordinator : Sagita Dwiyanti Anggota : Ulfah Fauziah 136 Lampiran-lampiran


Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia STAI Haji Agus Salim Cikarang Masa Khidmat 2017-2018 Badan Pengurus Harian (BPH) Ketua : M Harun Al Rasyid Wakil Ketua I : Jarnuji Kamal Wakil Ketua II : Wisnu Maulana Wakil Ketua III : Muh Nur Al Badar Sekretaris : Rifqi Shauri Wakil Sekretaris I : Ahmad Dailami Wakil Sekretaris II : Ufi Luthfiah Wakil Sekretaris III : Busyaeri Bendahara : Filda Rosfila Wakil Bendahara : Tuti Badriah Biro-Biro Bidang Internal Biro Kaderisasi dan Pembinaan Sumber Daya Anggota Koordinator : Mufti Al-amin Anggota : Imam Hidayat : Annisa Budi Akhlani Biro Pemberdayaan Aparatur dan Potensi Organisasi Koordinator : Iwas Nawasus Anggota : Abdul Halim Biro Keagamaan 135 Lampiran-lampiran


Sejarah dan Makna Filosofis PMII Historisitas PMII P ergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Indonesian Moslem Student Movement) atau yang seringkali disebut PMII, adalah anak cucu NU (Nahdlatul Ulama) yang lahir dari kandungan Departemen Perguruan Tinggi IPNU (Ikatan Pelajar NU), yang juga anak NU. Status anak cucu inipun diabadikan dalam dokumen kenal lahir yang dibikin di Surabaya (tepatnya di Taman Pendidikan Putri Khadijah atau yang sekarang UNSURI), 21 Syawal 1379 H bertepatan dengan tanggal 17 April 1960. A. Lahirnya PMII dan Pengembangan Sayap Pergerakan Lahirnya PMII bukannya berjalan mulus, banyak sekali hambatan dan rintangan. Hasrat mendirikan organisasi NU sudah lama bergolak. namun pihak NU belum memberikan green light. Belum menganggap perluadanya organisasi tersendiri buat mewadahi anak-anak NU yang belajar di perguruan tinggi. melihat fenomena yang ini, kemauan keras anak-anak muda itu tak pernah kendur, bahkan semakin berkobar-kobar saja dari kampus ke kampus. hal ini bisa dimengerti karena, kondisi sosial politik pada dasawarsa 50-an memang sangat memungkinkan untuk lahirnya organisasi 1 Sejarah dan Makna Filosofis PMII


Lampiran-lampiran baru. Banyak organisasi Mahasiswa bermunculan dibawah naungan payung induknya. misalkan saja HMI yang dekat dengan Masyumi, SEMI dengan PSII, KMI dengan PERTI, IMM dengan Muhammadiyah dan Himmah yang bernaung dibawah Al-Washliyah. Wajar saja jika kemudiaan anakanak NU ingin mendirikan wadah tersendiri dan bernaung dibawah panji bintang sembilan, dan benar keinginan itu kemudian diwujudkan dalam bentuk IMANU (Ikatan Mahasiswa Nahdlatul Ulama) pada akhir 1955 yang diprakarsai oleh beberapa tokoh pimpinan pusat IPNU. Namun IMANU tak berumur panjang, dikarenakan PBNU menolak keberadaannya. ini bisa kita pahami kenapa NU bertindak keras. sebab waktu itu, IPNU baru saja lahir pada 24 Februari 1954. Apa jadinya jika organisasi yang baru lahir saja belum terurus sudah menangani yang lain? hal ini logis seakli. Jadi keberatan NU bukan terletak pada prinsip berdirinya IMANU, tetapi lebih pada pertimbangan waktu, pembagian tugas dan efektifitas organisasi. Oleh karenanya, sampai pada kongres IPNU yang ke -2 (awal 1957 di pekalongan) dan ke-3 (akhir 1958 di Cirebon). NU belum memandang perlu adanya wadah tersendiri bagi anak-anak mahasiswa NU. Namun kecenderungan ini sudah mulai diantisipasi dalam bentuk kelonggaran menambah Departemen Baru dalam kestrukturan organisasi IPNU, yang kemudian departemen ini dikenal dengan Departemen Perguruan Tinggi IPNU. Dan baru setelah konferensi Besar IPNU (14-17 Maret 1960 di kaliurang), disepakati untuk mendirikan wa2 Sejarah dan Makna Filosofis PMII


dah tersendiri bagi mahsiswa NU, yang disambut dengan berkumpulnya tokoh-tokoh mahasiswa NU yang tergabung dalam IPNU, dalam sebuah musyawarah selama tiga hari (14 -16 April 1960) di Taman Pendidikan Putri Khadijah (Sekarang UNSURI) Surabaya. Dengan semangat membara, mereka membahas nama dan bentuk organisasi yang telah lama mereka idam-idamkan. Seperti yang telah disebutkan dimuka bahwa pada puncak konferensi besar IPNU pada tanggal 14-17 Maret 1960 di Kaliurang Jogyakarta dicetuskan suatu keputusan perlunya didrikan suatu organisasi mahasiswa yang terlepas dari IPNU baik struktur organisatoris maupun administratif. Kemudian dibentuklah panitia sponsor pendiri organisasi mahasiswa yang terdiri dari 13 orang dengan tugas melaksanakan musyawarah mahasiswa nahdliyin seIndonesia, bertempat di Surabaya dengan limit waktu satu bulan setelah keputusan itu. Adapun 13 sponsor pendiri organisasi mahasiswa itu adalah sebagai berikut : 1. Sahabat Cholid Mawardi (Jakarta) 2. Sahabat Said Budairy (Jakarta) 3. Sahabat M Sobich Ubaid (Jakarta) 4. Sahabat M. Makmun Syukri BA (Bandung) 5. Sahabat Hilman (Bandung) 6. Sahabat H. Ismail Makky (Yogyakarta) 7. Sahabat Munsif Nahrawi (Yogyakarta) 8. Sahabat Nuril Huda Suaidy HA (Surakarta) 9. Sahabat Laily Mansur (Surakarta) 3 Sejarah dan Makna Filosofis PMII https://narsulin.wordpress.com/2012/09/19/manajemen-aksi/ Kansil, C.S.T., Pancasila dan UUD 1945, (Jakarta: PT Pradya Paramita, 2003). Yamin, Mohammad, Pembahasan UUD Republik Indonesia, Jakarta: Yayasan Prapantja,t.t. Hamzah Ya’qub H., Menuju Keberhasilan Manajemen dan Kepemimpinan, Bandung: 1984. Muhtarom, Materi MAPABA PMII, PK PMII UNINDRA Jakarta: 2013. PB KOPRI editor: Asep Sabar, KOPRI Menantang Perubahan, Jakarta: PT. Bumi Selamat, 2000. PB PMII, Hasil-Hasil Kongres XIV, Mukernas dan Pokja Perempuan PB PMII 2003-2005, Jakarta: PB. PMII, 2005. Effendy Choirie dan Choirul Anam, Pemikiran PMII dalam Berbagai Visi dan Persepsi, Aula, Surabaya: 1991. PB PMII, MUSPIMNAS PB PMII, Ambon: PB PMII, 2015. 132


Daftar Pustaka Buku Panduan PKD Karya Nur Sayyid Santoso Kristeva, S.Pd.I., M.A. http://intelegensiaprofetika.blogspot.com/2008/06/tipologimahasiswa-mau-jadi- apa.html. Alfas, Fauzan, PMII dalam Simpul-simpul Sejarah Perjuangan, Jakarta: PB PMII 2015. Buku Panduan MAPABA Karya Nur Sayyid Santoso Kristeva, S.Pd.I., M.A. Munandar Nugraha, Cuma Catatan Kaderisasi, Jakarta: PB PMII 2014-2016. PB PMII, Hasil-hasil Kongres XIX, Palu: PB PMII 2017. Muhammad Falakh, Citra Diri PMII, Jakarta: 1988. https://alfathoni484.blogspot.co.id/2015/05/teknikpersidangan-pmii.html. A Malik Haramain, PMII disimpang Jalan, Jakarta: PB PMII. Hartono, Yono, Ilmu Alamiah Dasar/Ilmu Sosial Dasar/Ilmu Biologi Dasar, 2016. Pimpinan MPR dan Tim kerja Sosialisasi MPR RI Periode 2009-2014. Materi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Sekretariat Jendral MPR RI, Jakarta, 2016. Raharjo Handri, Sistem Hukum Indonesia, Pustaka Yustisia, Yogyakarta: 2016. 131 10. Sahabat Abd. Wahab Jailani (Semarang) 11. Sahabat Hisbullah Huda (Surabaya) 12. Sahabat M. Cholid Narbuko (Malang) 13. Sahabat Ahamd Husain (Makasar) Seperti yang diuraikan oleh Sahabat Chotbul Umam (mantan Rektor PTIQ Jakarta), sebelum melaksanakan musyawarah mahasiswa nahdliyin, terlebih dahulu 3 dari 13 orang sponsor pendiri itu - terdiri dari : 1. Sahabat Hisbullah Huda (Surabaya) 2. Sahabat M. Said Budairy (Jakarta) 3. Sahabat Makmun Syukri BA (Bandung) Pada tanggal 19 Maret 1960 mereka berangkat ke Jakarta menghadap Ketua Umum Partai NU yaitu KH. DR. Idham Khalid untuk meminta nasehat sebagai pegangan pokok dalam musyawarah yang akan dilaksanakan. Dan pada tanggal 24 Maret 1960 mereka diterima oleh ketua partai NU, dalam pertemuan tersebut selain memberikan nasehat sebagai landasan pokok untuk musyawarah, beliau juga menekan hendaknya organisasi yang akan dibentuk itu benar-benar dapat diandalkan sebagai partai NU, dan menjadi mahasiswa yang “berprinsip ilmu untuk diamalkan bagi kepentingan rakyat, bukan ilmu untuk ilmu. Yang penting lagi yaitu menjadi manusia yang cakap serta bertaqwa kepada Allah SWT”. Setelah beliau menyatakan merestui musyawarah mahasiswa nahdliyin yang akan diadakan di Surabaya itu. Disamping latar belakang lahirnya PMII seperti diatas, sebenarnya pada waktu itu anak-anak NU yang ada di 4 Sejarah dan Makna Filosofis PMII


organisasi lain seperti HMI merasa tidak puas atas pola gerak HMI. Menurut mereka (Mahasiswa NU ), bahwa HMI sudah berpihak pada salah satu golongan yang kemudian ditengarai bahwa HMI adalah anderbownya partai Masyumi, sehinggga wajar kalau mahasiswa NU di HMI juga mencari alternatif lain. Hal ini juga diungkap oleh Deliar Nur (1987), beliau mengatakan bahwa PMII merupakan cermin ketidakpuasan sebagian mahasiswa muslim terhadap HMI, yang dianggap bahwa HMI dekat dengan golongan modernis (Muhammadiyah) dan dalam urusan politik lebih dekat dengan Masyumi. Dari paparan diatas bisa ditarik kesimpulan atau pokok-pokok pikiran dari makna dari kelahiran PMII: 1. Bahwa PMII lahir karena ketidakmampuan Departemen Perguruan Tinggi IPNU dalam menampung aspirasi anak muda NU yang ada di Perguruan Tinggi . 2. PMII lahir dari rekayasa politik sekelompok mahasiswa muslim (NU) untuk mengembangkan kelembagaan politik menjadi underbow NU dalam upaya merealisasikan aspirasi politiknya. 3. PMII lahir dalam rangka mengembangkan paham Ahlussunah Waljama’ah dikalangan mahasiswa. 4. Bahwa PMII lahir dari ketidakpuasan mahasiswa NU yang saat itu ada di HMI, karena HMI tidak lagi mempresentasikan paham mereka (Mahasiswa NU) dan HMI ditengarai lebih dekat dengan partai MASYUMI. 5 Sejarah dan Makna Filosofis PMII 130 Kelembagaan KOPRI


2014 KOPRI KOPRI PB PMII menyusun panduan PPK (Penyelenggaraandan Pelaksanaan KOPRI) 2015 KOPRI KOPRI PB PMII mensistematiskan buku tunggal kaderisasi nasional KOPRI 2015 KOPRI KOPRI PB PMII membuat buku dakwah KOPRI sebagai panduan dalam melakukan gerakan kultural KOPRI dalam mengahadapi kencangnya islam transnasional dan arus globalisasi. 2015 KOPRI KOPRI PB PMII membuat buku panduan advokasi sekaligus lembaga LP3A (Lembaga Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan & Anak) 129 Kelembagaan KOPRI 5. Bahwa lahirnya PMII merupakan wujud kebebasan berpikir, artinya sebagai mahasiswa harus menyadari sikap menentukan kehendak sendiri atas dasar pilihan sikap dan idealisme yang dianutnya. Dengan demikian ide dasar pendirian PMII adalah murni dari anak-anak muda NU sendiri Bahwa kemudian harus bernaung dibawah panji NU itu bukan berarti sekedar pertimbangan praktis semata, misalnya karena kondisi pada saat itu yang memang nyaris menciptakan iklim dependensi sebagai suatu kemutlakan. Tetapi, keterikatan PMII kepada NU memang sudah terbentuk dan sengaja dibangun atas dasar kesamaan nilai, kultur, akidah, cita-cita dan bahkan pola berpikir, bertindak dan berperilaku. Kemudian PMII harus mengakui dengan tetap berpegang teguh pada sikap Dependensi timbul berbagai pertimbangan menguntungkan atau tidak dalam bersikap dan berperilaku untuk sebuah kebebasan menentukan nasib sendiri. Oleh karena itu haruslah diakui, bahwa peristiwa besar dalam sejarah PMII adalah ketika dipergunakannya istilah Independent dalam deklarasi Murnajati tanggal 14 Juli 1972 di Malang dalam MUBES III PMII, seolah telah terjadi pembelahan diri anak ragil NU dari induknya. Sejauh pertimbangan-pertimbangan yang terekam dalam dokumen historis, sikap independensi itu tidak lebih dari dari proses pendewasaan. PMII sebagai generasi muda bangsa yang ingin lebih eksis dimata masyarakat bangsanya. Ini terlihat jelas dari tiga butir pertimbangan yang 6 Sejarah dan Makna Filosofis PMII


melatar belakangi sikap independensi PMII tersebut. Pertama, PMII melihat pembangunan dan pembaharuan mutlak memerlukan insan-insan Indonesia yang berbudi luhur, taqwa kepada Allah SWT, berilmu dan cakap serta tanggung jawab, bagi keberhasilan pembangunan yang dapat dinikmati secara merata oleh seluruh rakyat. Kedua, PMII selaku generasi muda indonesia sadar akan perannya untuk ikut serta bertanggungjawab, bagi keberhasilan pembangunan yang dapat dinikmati secar merata oleh seluruh rakyat. Ketiga, bahwa perjuangan PMII yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan idealisme sesuai deklarasi Tawangmangu, menuntut berkembangnya sifatsifat kreatif, keterbukaan dalam sikap, dan pembinaan rasa tanggungjawab. Berdasarkan pertimbangan itulah, PMII menyatakan diri sebagai organisasi Independen, tidak terikat baik sikap maupun tindakan kepada siapapun, dan hanya komitmen terhadap perjuangan organisasi dan cita-cita perjuangan nasional yang berlandaskan Pancasila. B. Reaksi Terhadap Kelahiran PMII Seperti telah disebutkan diatas, bahwa PMII lahir atas inisiatif murni dari mahasiswa-mahasiswa nahdliyin yang tergabung dalam departemen Perguruan Tinggi IPNU, dengan melalui proses yang cukup panjang, sampai pada pelaksanaan Konber I IPNU di Kaliurang yang meutuskan akan adanya organisasi mahasiswa nahdliyin yang terpisah secara struktural dengan IPNU. 7 Sejarah dan Makna Filosofis PMII 29 September 2003 KOPRI Dibentuk kembali keorganisasian wadah perempuan yang bernama KOPRI (Korps PMII Putri) dengan Visi terciptanya masyarakat yang berkeadilan berlandaskan kesetaraan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan Misinya adalah mengideologisasikan gender dan mengkonsolidasikan gerakan perempuan di PMII untuk membangun masyarakat yang berkeadilan gender. 2003-2014 KOPRI KOPRI daerah masingmasing membuat sistem kaderisasi KOPRI (Tidak terkonsentrasi pada modul tunggal kaderisasi KOPRI). 2014 Kongres XVII di Jambi Lahirnya IPO (Ideologi Politik Organisasi) KOPRI 128 Kelembagaan KOPRI


1988 Dibentuk sistem kaderisasi yang sistematis terdiri dari Kurikulum dan Pelaksanaan LKK (Latihan Kader KOPRI) dan LPKK (Latihan Pelatih Kader KOPRI). 28 Oktober 1991 Lahir NKK (Nilai Kader KOPRI) 2000 KOPRI dibubarkan Pembubaran KOPRI pada Kongres XIII tahun 2000 di Medan. 2003 Amanat Pertemuan POKJA Perempuan Kongres XIV di Kutai Kertanegara Kalimantan Timur mengamanatkan membuat pertemuan POKJA Perempuan PMII 26-29 September 2003 Pertemuan POKJA Perempuan Gagasan dilahirkan keorganisasian wadah perempuan. 127 Kelembagaan KOPRI Kendatipun kelahiran PMII itu murni atas inisiatif mahasiswa-mahasiswa nahdliyin, ternyata dikemudian hari masih aja menimbulkan masalah, setidak-tidaknya bagi organisasi mahasiswa yang sudah ada, seperti HMI sempat mengalami kegoncangan internal, sebab para anggotanya yang berasal dari mahasiswa nahdliyin akan keluar dari HMI, kemudian bergabung menjadi anggota PMII. Kegoncangan dalam tubuh HMI itu dapat dilihat pada level pengurus tingkat pusat, diantaranya Ketua Umum PP PMII Mahbub Junaidi, Fahrurrazi dan Darto Wahab di pecat dari keanggotaan HMI. Masalahnya adalah bahwa HMI menganggap organisasinya itu sudah menampung seluruh paham keagamaan, kemudian muncul PMII, maka tidak heran jika HMI menganggap kelahiran PMII itu sebagai sparatis. Walaupun menurut Tolchah Mansoer “Mengapa PMII itu lahir?” karena HMI yang mengklaim dirinya sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa Islam sudah tidak lagi mampu berdiri diatas satu golongan. Walaupun HMI seperti itu, tidak membuat PMII, khususnya Mahbub Junaidi sebagai Ketua Umum PP. PMII harus membalas dendamnya pada saat HMI dari kepunahan. Reaksi lainnya timbul dari kalangan para Kiyai atau mereka yang berpandangan pada tradisi keagamaan di dalam NU. Pandangan itu dalah bahwa antara Putra dan Putri harus dipisahkan, tidak boleh satu wadah, seperti IPNU dan IPPNU. Sedangkan organisasi PMII justru menyatukan putra dan putri. Reaksi itu semakin keras ketika acara resepsi pada 8 Sejarah dan Makna Filosofis PMII


Kongres II PMII di Yogjakarta tahun 1963, dalam acara itu ditampilkan hiburan group musik dengan para penyanyi perempuan. Peristiwa itu telah membuat tidak senang para Kiai dan hadirin yang berpandangan tradisional. Akhirinya PMII mendapat teguran dari PBNU. Akan tetapi berkat ketulusan dan argumentasi yang baik dari PMII, akhirnya bisa meyakinkan semua pihak, terutama para Kiyai, bahkan Subhan ZE yang menandatangani surat teguran PBNU itu sangat mengerti dan memahami apa yang dikehendaki PMII. Kenyataan itu terus berlanjut sampai sekarang. C. Identitas dan citra diri PMII Apa itu identitas PMII? seperti empat huruf kata PMII yaitu Suatu wadah atau perkumpulan organisasi kemahasiswaan dengan label 'Pergerakan' yang Islam dan Indonesia yang mempunyai tujuan: Terbentuknya Pribadi Muslim Indonesia Yang; Bertaqwa kepada Allah SWT Berbudi Luhur, Berilmu, Cakap dan Bertanggung Jawab dalam Mengamalkan Ilmunya serta Komitmen Memperjuangkan Cita-cita Kemerdekaan Indonesia. (Bab IV Pasal 4 AD PMII) Menuju capaian ideal sebagai mahluk Tuhan, sebagai ummat yang sempurna, yang kamil, yaitu mahluk Ulul Albab. Kata 'Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia' jika diudar lebih lanjut adalah: Pergerakan bisa didefinisikan sebagai 'lalu-lintas gerak', gerak dalam pengertian fisika adalah perpindahan suatu titik 9 Sejarah dan Makna Filosofis PMII Untuk mempermudah mempelajari sejarah gerakan KOPRI, dapat dilihat pada kolom dibawah ini: Periodesasi Bentuk Gerakan Gagasan 1960-1966 Divisi Keputrian Gerakan perempuan PMII lebih fokus memusatkan perhatian menangani masalah -masalah perempuan dan sebatas menjahit, memasak dan mengenai masalah dapur. 16 Februari 1966 Training Kursus Keputrian Panca Norma KOPRI dan menelurkan gagasan pembentukan badan Semi Otonom PMII (KOPRI) 25 November 1967 Dibentuk KOPRI Mengorganisir kekuatan kader perempuan PMII serta menjadi ruang gerak dalam mengeluarkan pendapat dan beraktifitas sebatas emansipasi perempuan dalam bidang sosial dan masyarakat. 126 Kelembagaan KOPRI


berusaha untuk memaksimalkan kader-kader perempuan PMII untuk mampu bersaing dan mandiri dengan membentuk badan semi otonom yaitu KOPRI, tetapi keberadaannya tidak dapat dirasakan oleh kader-kader PMII secara keseluruhan baik itu laki-laki maupun perempuan apalagi masyarakat yang lebih luas, keberadaan KOPRI seperti “Hidup segan mati tak mau”. Masing-masing daerah belum terkonsentrat dalam hal sistem kaderisasi KOPRI karena minimnya pemahaman mengenai KOPRI itu sendiri, padahal pada masa kepemimpinan Sahabati Khofifah sudah dibentuk Latihan Kader KOPRI (LKK) dan Latihan Pelatih Kader KOPRI (LPKK), namun seiring berjalannya waktu, masing-masing daerah membentuk sistem kaderisasi KOPRI sendiri dengan mengikuti perkembangan waktu dan pemahaman dari setiap kader di daerah, seperti di KOPRI PKC Jawa Barat membentuk sistem kaderisasi KOPRI yang dikenal dengan SKK (Sekolah Kader KOPRI) I, SKK II, dan SKK III mengikuti jenjang pendidikan formal di PMII. Kemudian KOPRI PC Kota Malang membentuk sistem kaderisasi KOPRI yang dikenal dengan SKP (Sekolah Kader Putri) I, SKP II dan SKK begitupun KOPRI PC. Kota Malang mengikuti jenjang pendidikan formal di PMII. 125 Kelembagaan KOPRI dari ordinat A ke ordinat B. Jadi 'Pergerakan' melampaui 'gerak' itu sendiri, karena pergerakan berarti dinamis, gerak yang terus-menerus. Ilustrasinya demikian, Misalnya seorang Alexandro Nesta menendang bola, mengarahkannya kepada Zambrotta, itu berarti suatu gerakan bola dari Nesta ke Zambrotta (hanya itu). Bandingkan, Nesta menendang bola ke Zambrotta, lalu mengoperkan bola itu kepada Vieri, dengan trik cantik Vieri menendang bola persis di pojok atas kanan gawang dan …… Itu yang namanya pergerakan bola. Kesimpulannya, pergerakan meniscayakan dinamisasi, tidak boleh stagnan (berhenti beraktivitas) dan beku, beku dalam pengertian kaku, tidak kreatifinovatif. Prasyarat kreatif-inovatif adalah kepekaan dan kekritisan, dan kekritisan butuh kecerdasan. Kenapa 'Pergerakan' bukan 'Perhimpunan'?, kalau berhimpun terus kapan bergeraknya….. Artinya bahwa, 'pergerakan' bukan hanya menerangkan suatu perkumpulan/ organisasi tetapi juga menerangkan sifat dan karakter organisasi itu sendiri. Mahasiswa adalah sebutan orang-orang yang sedang melakukan studi di perguruan tinggi, dengan predikat sebutan yang melekat, mahasiswa sebagai 'wakil' rakyat, agen perubahan, komunitas penekan terhadap kebijaakan penguasa dll. Islam, Agama Islam yang dijadikan basis landasam sekaligus identitas bahwa PMII adalah organisasi mahasiswa yang berlandaskan agama. Karenanya jelas bahwa rujukan PMII adalah kitab suci agama Islam ditambah 10 Sejarah dan Makna Filosofis PMII


dengan rujukan selanjutnya, sunnah nabi dan para sahabat, yang itu terangkum dalam pemahaman jumhur, yaitu ahlussunnah waljama'ah. Jadi Islam ala PMII adalah Islam yang mendasarkan diri pada aswaja --dengan varian didalamnya-- sebagai landasan teologis (keyakinan keberagamaan). Indonesia. Kenapa founding fathers PMII memasukkan kata 'Indonesia' pada organisasi ini, tidak lain untuk menunjukkan sekaligus mengidealkan PMII sebagai organisasi kebangsaan, organisasi mahasiswa yang berpandangan nasionalis, punya tanggung-jawab kebangsaan, kerakyataan dan kemanusiaan. Juga tidak tepat jika PMII hanya dipahami sebagai organisasi keagamaan semata. Jadi keislaman dan keindonesiaan sebagai landasan PMII adalah seimbang. (kalo' mencari organisasi mahasiswa yang nasionalis dan agamis maka pilihan itu jatuh pada PMII) Jadi PMII adalah pergerakan mahasiswa yang Islam dan yang Indonesia, yang mendasarkan pada agama Islam dan sejarah, cita-cita kemerdekan dan laju perjalanan bangsa ini kedepan. Islam-Indonesia (dua kata digabung) juga bisa dimaknai Islam yang bertransformasi ke ranah Nusantara/ Indonesia, Islam Indonesia adalah Islam lokal --bukan Islam Arab secara persis--, tapi nilai universalitas Islam atau prinsip nilai Islam yang 'bersinkretisme' dengan budaya nusantara menjadi Islam Indonesia. Ini adalah karakter Islam PMII yang sejalan dengan ajaran aswaja. Pada paruh kedua abad kemarin dan gaungnya hingga 11 Sejarah dan Makna Filosofis PMII perempuan akan bertahan atau tidak. Ketiga adalah kader putri yang melakukan pembaharuan melalui KOPRI terutama di PB KOPRI dan cabang-cabang PMII yang masih mempertahankan KOPRI. Aktifitas KOPRI melihat bahwa di tubuh PMII kesadaran gender terjadi bersamaan dengan ketimpangan gender yang tercermin dari ketidakjelasan kebijakan PMII terhadap kader perempuan yang jumlahnya melebihi 50% dari kader PMII seluruhnya. Hal ini disebabkan karena PMII merupakan organisasi secara idealitas tidak membedakan kader laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi ditingkat realitas menunjukkan perbedaan peran laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain kader perempuan PMII tidak memiliki landasan konstitusional yang jelas dalam memperjuangkan aspirasi perempuan. Berdasarkan forum musyawarah yang diamanatkan oleh Kongres XIV di Kutai Kertanegara Kalimantan Timur untuk membuat pertemuan POKJA Perempuan PMII pada tanggal 26-29 September 2003 yang menghasilkan ketetapan bahwa dibentuk kembali keorganisasian wadah perempuan yang bernama KOPRI (Korps PMII Putri) yang merupakan bagian integral dengan PMII di Jakarta pada tanggal 29 September 2003 dimana PB KOPRI berpusat di Jakarta. Dengan visi terciptanya masyarakat yang berkeadilan berlandaskan kesetaraan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sedangkan misinya adalah mengidiologisasikan gender dan mengkonsolidasikan gerakan perempuan di PMII untuk membangun masyarakat berkeadilan gender. Ketika PMII 124 Kelembagaan KOPRI


institusionalisasi yang serius ke arah penataan kelembagaan. Sehingga secara institusional yang terjadi bukan memperteguh pemberdayaan kader putri, tetapi meluluh lantakannya kembali ke titik nol. Maka bukan hal yang mustahil manakala ditengah lemahnya mobilitas sosial dan aktualisasi diri akder putri yang secara sosiologis berlatar rural (pedesaan) ada kecurigaan bahwa pembubaran KOPRI adalah “Patriakhal Conspiration”. Ibarat perang, kader putri yang memang “dilemahkan berangkat ke medan konstentasi”. Mengambil pilihan liberal atau kontestasi bebas ditengah kader yang tidak seimbang oleh kondisi sosial yang timpang/serbalaki-laki memang terlihat naif karena dengan begitu akan menimpakan masalah ketimpangan pada perempuan yang sesungguhnya juga adalah korban (Blamming the Victim). Untuk menunjukkan bahwa PMII adalah organisasi pro-demokrasi dan HAM sehingga tidak memandang lakilaki dan perempuan secara dikotomis. Akan tetapi argumentasi kesadaran gender di PMII terjadi bersamaan dengan fenomena-fenomena sebagai berikut: pertama, marginalisasi perempuan di kepengurusan PMII di setiap level kepengurusan. Kedua, munculnya krisis kader perempuan dalam PMII yaitu terjadinya gap antara jumlah anggota perempuan yang aktif dengan jumlah anggota yang pasif. Pada saat dilakukan MAPABA di PMII biasanya separoh atau lebih merupakan kader perempuan. Mayoritas dari mereka hanya sempat mengikuti MAPABA, dan setelah itu seleksi alam akan menentukan apakah seorang kader 123 Kelembagaan KOPRI hari ini (digarahi oleh kelompok intelektual 'kiri' Eropa yang mendasari new-left movement yang terkenal itu, sebut saja; kelompok madhab frankfurt, TW Adorno, Jurgen Habermas bahwa perdebatan mengenai ideologi masih mempunyai ruang, terlebih ideologi menuai kritik dan evaluasi terhadapnya. Kritik itu seputar perannya sebagai 'wadah' atau 'tempat' kebenaraan atau bahkan sebagai 'sumber' kebenaran itu sendiri, yang disatu sisi dinilai sebagai pencerah ummat tetapi disisi lain sebagai alat hegemoni ummat. Ideologi memang dianggaab sebaagaai laandasan kebenaaran yang paling fundaamental (mendasar) makanya tidak terlalu salah bila ddisebut sumber kebenaran sebagai ruh dari operasi praksis kehidupan. Tetapi dalam prosesnya kemudiaan ideologi ada tidak bebas dari kepentingan --prinsip peng-ada-an; sesuatu materi diciptakan/diadakan pasti punya maksud dan tujuan-- , ironisnya kepentingan yang pada awalnya untuk kebaikan sesama tanpa ada pengistemewaan/pengklasifikasian kemudian berubah menjadi milik segolongan tertentu. Hasilnya ideologi menjadi tameng kebenaraan ummat tertentu, digunakan untuk tujuan-tujuan yang tidak selayaknya, tujuaan 'hanya kekuasaan' misalnya. Maka dalam konteks ini ideologi mendapat serangan habis-habisan. Tanpa bermaksud memutus perdebatan sosiologi pengetahuan seperti diatas, Ideologi akan tetap memiliki ummat, ideologi masih memiliki pengikut tatkala ia masih rasional masih kontekstual tidak pilih kasih (diskriminatif) 12 Sejarah dan Makna Filosofis PMII


tidak menindas sehingga layak dijadikan sumber kebenaran, ketika peran itu masih melekat niscaya ideologi masih diperlukan. Dibawa dalam ranah PMII, ideologi PMII digali dari sumbernya --yang pada pembicaraan sebelumnya disebut sebagai identitas PMII-- yaitu keislaman dan keindonesiaan. Sublimasi atau perpaduan antara dua unsur diatas menjadi rumusan materi yang terkandung dalam Nilai Dasar Pergerakan PMII, ya semacam qonun azasi di PMII atau itu tadi yang disebut... Ideologi. NDP berisi rumusan ketauhidan, pengyakinan kita terhadap Tuhan. Bentuk pengyakinan itu terletak dari pola relasi/hubungan antar komponen di alam ini, pola hubungan antara mikrokosmos dan makrokosmos, antara Tuhan dan manusia, antar manusia dan antara manusia dengan sekelilingnya. Jadi kesimpulaan yang bisa diambil adalah: Ideologi masih relevan dijadikan sebagai rujukan kebenaran. Ideologi PMII terangkum (terwujud) dalam rumusan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) yang merupakan sublimasi keislaman dan keindonesiaan. D. Landasan Teologis dan Filosofis PMII Landasan filosofis dan teosofis PMII sebenarnya tergali dalam rumusan NDP dan turunannya kebawah. Artinya bahwa NDP dibangun atas dasar dua sublimasi besar yaitu ke -Islaman dan ke-Indonesiaan. Sublimasi ke-Islaman berpijak dari kerangka paradik13 Sejarah dan Makna Filosofis PMII mengakibatkan eksklusifitas perempuan di PMII. Organisasi perempuan sebagai subordinat dari organisasi lain dianggap memberi legitimasi terhadap streotyp perempuan sebagai makhluk subordinat dan kontra produktif terhadap gerakan perempuan untuk penyadaran, kesetaraan, pemberdayaan akses dan advokasi perempuan. Cabang-cabang KOPRI yang membuat keputusan untuk meleburkan diri dengan PMII bereksperimen untuk berkompetisi dengan warga PMII lainnya dengan mengandalkan seleksi alam. Kader KOPRI dilanda syndrome inferior untuk menamakan diri sebagai bagian dari KOPRI. Mereka lebih nyaman menjadi PMII atau menjadi bagian dari wadah lain (asal bukan KOPRI). Disisi lain adalah fenomena kemandegan KOPRI, dimana eksis secara struktur tapi tidak melakukan apa-apa dan beberapa cabang KOPRI yang merasa tidak terganggu dan enjoy menjadi bagian dari PMII dengan alasan adanya sinergitas antara PMII dan KOPRI. Tidak dipungkiri bahwa pembubaran KOPRI pada Kongres XIII di Medan tahun 2000 merupakan salah satu pengaruh dari euforia gerakan kesadaran gender. Selama ini kita merasakan tampak kesenjangan-kesenjangan, tidak hanya antara kader laki-laki dan perempuan, tetapi juga antar daerah. Memang terdapat beberapa eksperimentasi yang dilakukan oleh sebagian kecil daerah (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dengan menafsirkannya dalam bentuk jaringan gender sementara daerah lain menjadi tampak kesulitan. Hal ini karena pembubaran KOPRI tidak dibarengi dengan usaha 122 Kelembagaan KOPRI


Oktober 1991 mengenai Nilai Kader KOPRI dan pada saat itu pula kaderisasi KOPRI telah dibentuk pola pengkaderan yang sistematis yaitu dibentuk sistem kaderisasi yang terdiri dari Kurikulum dan Pedoman Pelaksanaan LKK (Latihan Kader KOPRI) serta petunjuk pelaksana Latihan Pengkaderan KOPRI, dalam hal jenjang pengkaderan KOPRI dibagi menjadi 2 tahap yaitu LKK (Latihan Kader KOPRI) dan LPKK (Latihan Pelatih Kader KOPRI), ini adalah satu bentuk kemajuan kepengurusan KOPRI dari waktu ke waktu. PMII secara institusi selalu selangkah lebih maju dengan rekapitalisasi gerakan. Tidak demikian dengan KOPRI yang dirasakan justru kehilangan orientasi, dan mengalami distorsi paradigma gerakan yang dibangun pada saat itu. Tapi karena hubungan antara KOPRI-PMII baikbaik saja, maka secara personal sahabat-sahabat perempuan KOPRI masih sering diajak berurun-berembug, berdiskusi, atau dilibatkan dalam beberapa kegiatan. Secara struktural KOPRI didalam institusinya berstatus semi otonom atau bagian integral dan tidak terpisahkan dari wadah utamanya yaitu PMII. Lewat semua itu, KOPRI banyak belajar dan menyadari betul tentang perlu adanya seorang pemimpin yang memiliki kemampuan. Dan performance pemimpin sangat mempengaruhi gerak dan aktifitas organisasi. Klaim tentang kesadaran gender pada PMII membangun argumentasi bahwa pembubaran KOPRI merupakan suatu keharusan. Karena KOPRI hanya 121 Kelembagaan KOPRI matik bahwa Islam memiliki kerangka besar yang universal, transendental, trans-historis dan bahkan trans-personal. Universalisme atau variasi-variasi identitas Islam lainnya yang dimaksud bermuara pada satu gagasan besar, bagaimana membangun masyarakat yang berkeadilan. Namun, harus disadari bahwa sungguhpun Islam memiliki universalitas atau yang lainnya, ia juga menampakkan diri sebagai entitas dengan identitas sangat kultural, antropologis, historis, sosiologis dan bahkan politis. Dua gambaran tentang Islam yang paradoks ----atau minimal kontra produktif dan bahkan saling berbinary opposition--- menghadapkan believer pada tingkat minimal untuk melakukan human exercise bagaimana Islam dalam identitas yang ganda itu mampu disandingkan, dan bahkan dileburkan menjadi satu identitas besar, rahmatan lil alamin. Dari sini, mengharuskan PMII untuk mengambil inisiatif dengan menempatkan Islam sebagai salah satu sublimasi identitas kelembagaan. Ini berarti, PMII menempatkan Islam sebagai landasan teologis untuk dengan tetap meyakini universalitas, transhistoris dan bahkan transpersonalnya. Lebih dari itu, Keyakinan teologis tersebut tidak semata-mata ditempatkan sebagai landasan normatifnya, melainkan disertai upaya bagaimana Islam teologis itu mampu menunjukkan dirinya dalam dunia riel. Ini berarti, PMII akan selalu menempatkan Islam sebagai landasan normatif yang akan selalu hadir dalam setiap gerakan-gerakan sosial dan keagaamaan yang dimilikinya. 14 Sejarah dan Makna Filosofis PMII


Selain itu, PMII sebagai konstruksi besar juga begitu menyadari bahwa ia tidaklah hadir dalam ruang hampa, kosong, berada diawang-awang dan jauh dari latar sosial dan bahkan politik. Tetapi, ia justru hadir dan berdiam diri dalam satu ruang identitas besar, Indonesia dengan berbagai kemajemukan watak kulturalnya, sosiologis dan hingga antropologisnya. Oleh karena, identitas diri yang tak terpisahkan dengan identitas besar Indonesia mengharuskan PMII untuk selalu menempatkan identitas besar itu menjadi salah satu sublimasi selain ke-Islaman. Penempataan itu berarti menempatkan PMII sebagai institusi besar yang harus selalu melakukan pembacaan terhadap lingkungan besarnya, "Indonesia". Hal ini dalam rangka membangun aksi-aksi sosial, kemasyarakatan, dan kebangsaan yang selalu relevan, realistik, dan transformatik. Dua penjelasan kaitannya dengan landasan sublimatif PMII diatas, dapat ditarik kedalam satu konstruksi besar bahwa PMII dalam setiap bangunan gerakan dan institusionalnya tetap menghadirkan identitas teologisnya, identitas Islam. Tetapi, lebih dari itu, landasan teologis Islam justru dihadirkan bukan hanya sebatas dalam bentuk pengaminan secara verbal dan normatif, melainkan bagaimana landasan teologis ini menjadi transformable dalam setiap gerakan dan aksi-aksi institusionalnya. Dengan begitu, mau tidak mau PMII harus mempertimbangkan tempat dimana ia lahir, berkembang, dan melakukan eksistensi diri, tepatnya ruang ke-Indonesiaan. Yang berarti, secara kelembagaan PMII harus selalu mem15 Sejarah dan Makna Filosofis PMII adanya Pengurus Besar (PB), di propinsi ada Pengurus Koordinator Cabang (PKC), kabupaten atau kota ada Pengurus Cabang (PC), terus hingga ke Komisariat atau rayon yang dulunya bernama anak cabang, ranting dan sebagainya. Orientasi pemikiran sahabat-sahabat pendiri waktu itu dengan dibentuknya KOPRI sebagai organ otonom PMII adalah merupakan keinginan sahabat-sahabat dan kebulatan tekad yang teguh bahwa kaum perempuan cukup mampu dalam menentukan kebijakan tanpa harus lagi mengekor kepada laki-laki. Hal ini bukan berarti KOPRI terpicu oleh keinginan pragmatis dengan berkaca dari organisasi lainnya. Walaupun KOPRI merupakan bagian dari komunitas NU dan saat itu masih menjadi partai, tetapi tidak ada kaitannya sama sekali. Dengan terbentuknya KOPRI, baik itu alasan politis, kepentingan sesaat, maupun tunggangan ideologi, sekalipun NU merupakan parpol. Pada saat orde baru di bawah kepemimpinan Suharto, trend issu serta suara perempuan pada saat itu turun tensinya dan menuju pada titik kulminasi terendah, sangat melemah. Kondisi saat itu dihisap oleh keberadaan penguasa yang dikenal otoriter serta menghegemoni seluruh kekuatan yang ada di masyarakat. Namun walaupun demikian itu bukanlah masalah yang berarti bagi KOPRI, karena PMII memiliki pola dan karakter gerakan yang massif-agressif, keterpurukan KOPRI itu bisa tertutupi dengan baik. Pada saat kepemimpinan Sahabati Khofifah ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 120 Kelembagaan KOPRI


menunjukkan hubungan yang dianggap problematis. Dengan gagasan otonomisasi di tingkat pusat (Pengurus Besar) sekilas nampak dualisme organisasi, karena KOPRI memiliki program terpisah dan kebijakan yang berbeda dari PMII. Beberapa kalangan menganggap perkembangan ini sebagai suatu yang positif, karena KOPRI telah bergerak dari organisasi dengan pola ketergantungan terhadap PMII menuju organisasi yang mandiri. Sedangkan kalangan lain menanggapi dengan nada minor, karena KOPRI dianggap melakukan pelanggaran konstitusi dan telah menjadi kendaraan politik menuju posisi strategis di PMII. Arus gerakan perempuan pada umumnya sangat memberi warna pada perkembangan yang terjadi dalam KOPRI. Untuk menjelaskan bagaimana realitas kondisi KOPRI, tidak lepas dengan bagaimana paradigma gerakan perempuan di Indonesia. Yang perlu diketahui lagi bahwa historis struktural yang mendorong lahirnya KOPRI sebagai organisasi ekstra kampus yang nota bene merupakan kumpulan intelektual muda, dimana pada perkembangan awalnya perempuan di PMII masih termasuk dalam bidang keputrian. Tapi dengan kebutuhan serta didukung adanya kualitas dan kuantitas yang ada, menimbulkan keinginan yang tidak terbendung untuk mendirikan KOPRI sebagai otonom di PMII. Alasannya adalah sebagai upaya guna peningkatan partisipasi perempuan serta pengembangan wawasan wilayah-wilayah kerja sosial kemasyarakatan. Bentuk dan perkembangan struktur itulah yang kemudian kita mengenal 119 Kelembagaan KOPRI pertimbangkan gambaran utuh konstruksi besar Indonesia dalam membangun setiap aksi-aksi kelembagaanya. Endingnya, proses yang runut transformasi landasan teologis Islam dan konstruksi besar ke-Indonesia-an sebagai medium pembacaan objektifnya, maka akan muncul citra diri kader atau citra diri institusi yang ulil albab. Citra diri yang tidak hanya semata-mata menampilkan diri secara personal sebagai manusia beriman yang normatif dan verbalis, melainkan juga sebagai believer kreatif dan membumikontekstual. Citra diri personal ini secara langsung akan mengujudkan PMII secara kelembagaan sebagai entitas besar yang juga ulil albab. Kesimpulan: Landasan teologis PMII adalah Islam-Keindonesiaan. Identitas filosofis PMII adalah citra diri yang dibangun melalui Islam sebagai teologi transformatif dan Ruang keIndonesia-an sebagai media pembacaan objektif. Tranformasi dua hal, landasan teologis dan identitas filosofis akan berakhir dengan tampilnya identitas personal dan kelembagaan yang ulil albab. 16 Sejarah dan Makna Filosofis PMII


Arti Lambang dan Bendera PMII perempuan untuk memiliki ruang sendiri dalam beraktifitas, sehingga mereka dapat bebas mengeluarkan pendapat atau apapun. Keinginan tersebut didukung sepenuhnya oleh kaum laki-laki saat itu. Corps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Poetri (COPRI) lahir pada tanggal 25 November 1967 di Semarang, dengan status semi otonom yang sebelumnya merupakan follow up atas dilaksanakannya Training Kursus keputrian di Jakarta pada tanggal 16 Februari 1966 yang melahirkan Panca Norma KOPRI. Disisi lain, kondisi gerakan perempuan pada saat berdirinya KOPRI baru sebatas emansipasi perempuan dalam bidang sosial dan kemasyarakatan. Misalnya di NU, kita mengenal Muslimat yang hanya mengadakan kegiatan pengabdian sosial kemasyarakatan. Dalam tahap awal berdirinya, KOPRI banyak mengadopsi dan melakukan kerjasama dengan Muslimat, serta beberapa organisasi perempuan lain yang sudah lebih dahulu ada saat itu, seperti Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) maupun Korp HMIWati (KOHATI). Pada saat pertama kali berdiri, sebagaimana organisasi perempuan yang ada pada waktu itu, KOPRI hanya semata-mata sebagai wadah mobilisasi perempuan. Alasan mengapa ada KOPRI tak lain karena dirasa perlu untuk mengorganisir kekuatan perempuan PMII untuk bisa menopang organisasi yang menaunginya (PMII). Hal ini seperti juga terjadi di organisasi-organisasi lain baik organisasi mahasiswa, ormas keagamaan, dan organisasi politik. Akan tetapi ada pada perkembangan selanjutnya 118 Kelembagaan KOPRI


Kelembagaan KOPRI Historitas KOPRI P ada saat PMII didirikan KOPRI memang belum ada. Yang ada hanya divisi keputrian. Hal ini bukan lantaran peran perempuan sangat kecil, melainkan lebih dikarenakn kepraktisan semata. Maksudnya dalam divisi keputrian ini dikalangan perempuan PMII bisa lebih fokus memusatkan perhatiannya menangani masalahmasalah yang berkaitan dengan dunianya. Sayang, saat itu dunia perempuan hanya sebatas menjahit, memasak dan dapur. Dalam divisi keputrian tadi, yang menangani semua permasalahan didalamnya tentu saja harus perempuan. Namun walau demikian tidak menutup kemungkinan perempuan menempati posisi di struktur PMII. Tapi lagi-lagi karena kesiapan SDM dan profesionalitas perempuan yang kurang menyebabkan jumlah mereka secara kuantitias masih sedikit. Dimaklumi, karena waktu itu memang sangat sedikit kaum perempuan yang dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Kondisi yang terjadi saat itu antara laki-laki dan perempuan saling bahu-membahu (guyub) dalam menutupi kekurangan di organisasi. Termasuk pula guyub dalam pengambilan keputusan serta beberapa hal yang mengharuskan mereka bekerja sama mempertaruhkan nama organisasi. Lahirnya KOPRI berawal dari keinginan kaum 117 Kelembagaan KOPRI


Arti Lambang dan Bendera PMII A. Lambang PMII Pencipta lambang PMII : H. Said Budairy Makna lambang PMII 1. Bentuk : Perisai berarti ketahanan dan keampuhan mahasiswa Islam terhadap berbagai tantangan dan pengaruh dari luar. Bintang adalah perlambang ketinggian dan semangat citacita yang selalu memancar. 5 (lima) bintang sebelah atas melambangkan Rasulullah dengan empat sahabat terkemuka (khulafaurrasyidin). 4 (empat) bintang sebelah bawah menggambarkan empat mazhab yang berhadluan Ahlussunah Wal Jama’ah. 9 (sembilan) bintang secara keseluruhan dapat berarti : Rasulullah dengan empat orang sahabatnya serta empat orang imam mazhab itu laksana bintang yang selalu bersinar cemerlang, mempunyai kedudukan yang tinggi dan penerang umat manusia. Sembilan bintang juga menggambarkan sembilan orang pemuka penyebar agama islam di Indonesia yang disebut dengan Wali Songo 2. Warna : Biru, sebagaimana tulisan PMII, berarti kedalaman ilmu pengetahuan yang harus dimiliki dan harus digali oleh warga 19 Arti Lambang dan Bendera PMII


Kelembagaan KOPRI pergerakan, biru juga menggambarkan lautan Indonesia dan merupakan kesatuan Wawasan Nusantara Biru muda, sebagaimana dasar perisai sebelah bawah berarti ketinggian ilmu pengetahuan, budi pekerti dan taqwa. Kuning, sebagaimana perisai sebelah atas berarti identitas mahasiswa yang menjadi sifat dasar pergerakan, lambang kebesaran dan semangat yang selalu menyala serta penuh harapan menyongsong masa depan 3. Penggunaan : Lambang PMII digunakan pada papan nama, bendera, kop surat, stempel, badge, jaket, kartu anggota, dan benda atau tempat lain yang tujuannya untuk menunjukkan identitas organisasi. Ukuran lambang PMII disesuaikan dengan wadah penggunaanya. B. Bendera PMII Pencipta Bendera PMII : Shaimory Ukuran Bendera PMII : Panjang dan lebar (90 cm : 60 cm ) Warna dasar bendera PMII : Kuning Emas Isi bendera PMII : Lambang PMII terletak di bagian tengah Tulisan PMII terletak di sebelah kiri lambang membujur ke bawah. Penggunaan bendera PMII, digunakan pada upacara -upacara resmi organisasi baik intern maupun ekstern dan upacara nasional dan penempatan bendera PMII diletakkan didepan tempat upacara dan disebelah kiri bendera kebangsaan Indonesia. 20 Arti Lambang dan Bendera PMII


Ahlussunnah Wal Jama’ah pun yang jago dalam beraudiensi. e. Pembacaan press release. Hal ini biasanya dilakukan pada akhir aksi dan diharapkan dapat diliput media agar pesan yang kita bawa dapat tersampaikan kepada khalayak luas. 3. Pasca Aksi Absensi, sebagai pemastian terhadap jumlah peserta aksi yang terlibat selama pelaksanan aksi. Evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan dari aksi Rekomendasi, dari hasil-hasil yang telah dicapai melalui aksi dapat dikerangkakan menjadi sebuah masukan untuk gerakan yang akan dilaksanakan selanjutnya. Peranan kelembagaan organisasi di lingkungan yang dihadapi menjadi mutlak untuk dipersiapkan. Pikiran tanpa praktek hanya akan melahirkan mimpi saja, sedangkan praktek tindakan tanpa pikiran hanya akan melahirkan ugalugalan atau anarki gerakan sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Bung Karno bahwa gerakan harus Massa Aksi (Massa yang sadar akan pikiran dan perbuatannya) bukan Aksi Massa (Aksi yang gemerlap tampilannya saja atau hanya ikut-ikutan). Program perjuangan organisasi pergerakan yang dipraktekkan dalam Manajemen Aksi dan Propaganda harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. 114 Manajemen Aksi


i. Mempersiapkan perangkat/ kelengkapan aksi, (spanduk, bendera, press release,perangkat dokumentasi, poster, , pengeras suara seperti TOA dan mobil sound system, dan identitas peserta aksi, dan failitas teatrical.). j. Skenario dan pembagian peran. k. Menghubungi pihak kepolisian untuk perizinan. 2. Aksi Dalam tahapan inilah peran, fungsi dari perangkat aksi diaplikasikan sesuai dengan tugas masing-masing, komunikasi serta koordinasi antar perangkat aksi tidak boleh terputus karena perubahan situasi di lapangan sangatlah cepat, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan dalam suatu aksi dapat dihindari, misalnya : Provokasi, Infiltran, Represif aparat, Chaos. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan aksi yakni : a. Membagikan pesan yang telah dibuat, seperti pamflet dan leaflet. b. Berorasi dalam perjalanan dan di tempat tujuan akhir, orasi adalah bagian dari penyampaian pesan aksi kepada masyarakat luas. c. Yel-yel dan menyanyikan lagu. Sebagai penyemangat massa aksi dan mendominasi/ menguasai suasana/ keadaan (situasi dan kondisi). d. Audiensi ke pihak yang dituju, dilakukan oleh perangkat aksi yang telah ditunjuk, negosiator mau113 Manajemen Aksi


Ahlussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) A. Definisi dan Historis A SWAJA adalah kepanjangan kata dari “ Ahlussunnah waljamaah”. Ahlussunnah berarti orang-orang yang menganut atau mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, dan waljamaah berarti mayoritas umat atau mayoritas sahabat Nabi Muhammad SAW. Jadi definisi Ahlussunnah waljamaah yaitu; “ Orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dan mayoritas sahabat (maa ana alaihi wa ashhabi), baik di dalam syariat (hukum Islam) maupun akidah dan tasawuf”. Penggunaan istilah ahlussunnah waljamaah semakin popular setelah munculnya Abu Hasan Al-Asy’ari (260- 324H/873-935M) dan Abu Manshur Al-Maturidi (w. 944 M), yang melahirkan aliran “Al-Asy’aryah dan AlMaturidyah” di bidang teologi. Sebagai ‘perlawanan’ terhadap aliran mu’tazilah yang menjadi aliran resmi pemerintah waktu itu. Teori Asy’ariyah lebih mendahulukan naqli (teks qur’an hadits) dari pada aqli (penalaran rasional). Dengan demikian bila dikatakan ahlussunnah waljamaah pada waktu itu, maka yang dimaksudkan adalah penganut paham asy’ariyah atau al-Maturidyah dibidang teologi. Dalam hubungan ini ahlussunnah waljamaah dibedakan dari 23 Ahlussunnah Wal Jama’ah Orator Orator adalah orang yang bertugas menyampaikan tuntutan-tuntutan massa aksi dalam bahasa orasi, serta menjadi agitator yang membakar semangat massa. Humas Perangkat aksi yang bertugas menyebarkan seluasluasnya perihal massa aksi kepada pihak-pihak berkepentingan, terutama pers. Negosiator Negosiator berfungsi sesuai dengan target dan sasaran aksi. Misalnya pendudukan gedung DPR/DPRD sementara target tersebut tidak dapat tercapai karena dihalangi aparat keamanan, maka negosiator dapat mendatangi komandannya dan melakukan negosiasi agar target aksi dapat tercapai. Karenanya seorang negosiator hendaknya memiliki kemampuan diplomasi, diantaranya : a. Kurir (menjembatani komunikasi antara massa aksi dengan massa aksi lain) Advokasi (memberi perlindungan hukum apabila terjadi chaos) b. Asisten teritorial/keamanan/sweaper/dinamisator lapangan/intelejen. c. Logistic dan medical rescue. d. Dokumentasi. e. Tim kreatif. f. Membuat press release (Berisikan pesan dan tuntutan dari isu yang telah dibahas). g. Mengumpulkan massa (estimasi). h. Menghubungi media. 112 Manajemen Aksi


m), Instalasi militer dan obyek vital nasional (Radius 500 m) dari pagar luar. 2. Dilarang membawa benda-benda yang membahayakan keselamatan umum (Sajam, Molotov, dll) 3. Menyampaikan laporan atau pemberitahuan tertulis kepada pihak kepolisian setempat. 4. Surat pemberitahuan memuat tentang tujuan dan maksud aksi, waktu dan acara, rute, jumlah massa, penanggung jawab aksi dimana dalam UU ini 100 massa 1 orang penanggung jawab. C. Tahapan Aksi Dalam melaksanakan aksi, harus mempertimbangkan beberapa hal penting. baik perangkat yang mesti dipersiapkan maupun tahapan-tahapan yang harus dilalui bersama. Aksi memiliki beberapa tahapan yang harus dilalui, antar lain: 1. Pra Aksi a. Persiapan dan pematangan issue b. Menyusun Tim Aksi Perangkat aksi adalah bagian kerja partisipan massa aksi. Perangkat massa aksi disesuaikan dengan kebutuhan, biasanya diperlukan perangkat sebagai berikut: Koordinator lapangan. Korlap bertugas memimpin aksi di lapangan, berhak memberikan instruksi kepada peserta aksi/massa. Keputusan untuk memulai ataupun membubarkan /mengakhiri massa aksi ditentukan oleh korlap. 111 Manajemen Aksi Mu’tazilah, Qadariyah, Syiah, Khawarij, dan aliran-aliran lain. Dari aliran ahlussunnah waljamaah atau disebut aliran sunni dibidang teologi kemudian juga berkembang dalam bidang lain yang menjadi cirri khas aliran ini, baik dibidang fiqh dan tasawuf. sehingga menjadi istilah, jika disebut akidah sunni (ahlussunnah waljamaah) yang dimaksud adalah pengikut Asy’aryah dan Maturidyah. Atau Fiqh Sunni, yaitu pengikut madzhab yang empat ( Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali). Yang menggunakan rujukan alqur’an, al-hadits, ijma’ dan qiyas. Atau juga Tasawuf Sunni, yang dimaksud adalah pengikut metode tasawuf Abu Qashim Abdul Karim al-Qusyairi, Imam Al-Hawi, Imam Al -Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi. Yang memadukan antara syari’at, hakikat dan makrifaat. B. Ahlussunnah Waljamaah versi KH. Hasyim Asy’ari KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama’ memberikan tashawur (gambaran) tentang ahlussunnah waljamaah sebagaimana ditegaskan dalam al-qanun al-asasi, bahwa faham ahlussunnah waljamaah versi Nahdlatul Ulama’ yaitu mengikuti Abu Hasan al-asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi secara teologis, mengikuti salah satu empat madzhab fiqh ( Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali) secara fiqhiyah, dan bertashawuf sebagaimana yang difahami oleh Imam al-Ghazali atau Imam Junaid al-Baghdadi. Penjelasan KH. Hasyim Asy’ari tentang ahlussunnah waljamaah versi Nahdlatul Ulama’ dapat difahami se24 Ahlussunnah Wal Jama’ah


bagai berikut: 1. Penjelasan aswaja KH Hasyim Asy’ari, jangan dilihat dari pandangan ta’rif menurut ilmu Manthiq yang harus jami’ wa mani’ tapi itu merupakan gambaran yang akan lebih mudah kepada masyarakat untuk bisa mendaptkan pembenaran dan pemahaman secara jelas, karena secara definitif tentang ahlussunnah waljamaah para ulama berbeda secara redaksional tapi muaranya sama yaitu maa ana alaihi wa ashabii. 2. Penjelasan aswaja versi KH. Hasyim Asy’ari, merupakan implimentasi dari sejarah berdirinya kelompok ahlussunnah waljamaah sejak masa pemerintahan Abbasiyah yang kemudian terakumulasi menjadi firqah yang berteologi Asy’ariyah dan Maturidiyah, berfiqh madzhab yang empat dan bertasawuf alGhazali dan Junai al-Baghdadi. 3. Merupakan “Perlawanan” terhadap gerakan ‘wahabiyah’ (islam modernis) di Indonesia waktu itu yang mengumandangkan konsep kembali kepada Alquran dan As-sunnah, dalam arti anti madzhab, anti taqlid, dan anti TBC (tahayyul, bid’ah dan khurafaat). Sehingga dari penjelasan aswaja versi NU dapat difahami bahwa untuk memahami Al-qur’an dan Assunnah perlu penafsiran para Ulama yang memang ahlinya. Karena sedikit sekali kaum m uslimin mampu berijtihad, bahkan kebanyakan mereka itu muqallid atau muttabi’ baik mengakui atau tidak. Secara historis, ahlussunnah waljamaah menjadi nama se25 Ahlussunnah Wal Jama’ah Aksi umumnya dilatarbelakangi oleh matinya jalur penyampaian aspirasi atau buntunya metode dialog.. Dalam trias politika, aspirasi rakyat diwakili oleh anggota legislatif. Namun dalam kondisi pemerintahan yang korup, para legislator tak dapat memainkan perannya, sehingga rakyat langsung mengambil ‘jalan pintas’ dalam bentuk aksi. Aksi juga dilakukan dalam rangka pembentukan opini atau mencari dukungan publik. Dengan demikian isu yang digulirkan harapannya dapat menjadi snowball. Salah satu bentuk penyampaian aspirasi kepada pemerintah serta penyampaian pesan kepada masyarakat adalah dengan melakukan aksi massa. Dalam negara yang berdemokrasi, aksi menjadi cara yang dilegalkan, oleh karena itu lembaga pendidikan seperti universitas juga harus berperan sebagai guardian of value dari pemerintah serta masyarakat. Mengapa cara yang dipilih adalah aksi ? karena aksi berdampak pada dua sisi, yakni sisi ketersampaian pesan kepada pihak yang diinginkan serta penyadaran masyarakat atas sebuah isu. Sehingga aksi masih menjadi cara yang relevan untuk dilakukan. B. Aturan Hukum UU. No. 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. Beberapa hal; penting dalam undang-undang ini : 1. Penyampaian pendapat dimuka umum tidak boleh dilaksanakan ditempat tertentu, antara lain Istana Presiden (Radius 100 m), tempat ibadah (Radius 150 110 Manajemen Aksi


Manajemen Aksi A. Pengertian Manajemen Aksi 1. Etimologi Manajemen P erkataan “manage” berasal dari bahasa italia “managgio” dan dari bahasa latin “maneggiare” yang diambil dari kata “manus” yang berarti : tangan. Manage secara etimologis diartikan rumah tangga, melatih kuda agar menghentak-hentakan kakinya, memimpin dan mengawasi. Dari arti yang bersifat etimologis ini, kemudian secara popular dimaksudkan “the act or art of managing, conduct, direction, and control” (tindakan dan seni pengurusan, pengaturan, pengarahan dan pengawasan). 2. Etimologi Aksi Aksi berasal dari kata “Action” yang bermakna “ Gerak”, Gerakan adalah berpindahnya energi, volume, tempat dan waktu dari kondisi semula menuju kondisi kemudian. Aksi di dalam dunia organisasi pergerakan dapat diterjemahkan sebagai segala pikiran dan perbuatan/tindakan yang mengarah pada capaian-capaian terhadap tujuan perjuangan itu sendiri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa manajemen aksi merupakan suatu cara yang digunakan untuk mengatur suatu massa aksi agar tetap terkoordinir dan sesuai dengan rencana dan target awal hingga mencapai hasil yang diinginkan. 109 Manajemen Aksi buah firqah pada masa pemerintahan abbasiah, akibat dari pergolakan pemikiran antara mu’tazilah dan kelompok lain. Dalam pandangan ini ahlussunnah waljamaah adalah sebuah “al-manhaj al-fikri”. Pengklasifikasian firqah islam menjadi 73 adalah sebuah prediksi Rasulullah sesuai system berfikir yang akan berkembang di masa yang akan datang dalam memahami ajaran islam. Tapi semua kelompok itu masih dalam bingkai umat Nabi Muhammad dan tidak sampai keluar dari din alislam. Kelompok yang selamat adalah sebuah prilaku dari perorangan atau kelompok yang mengikuti sunnah Nabi dan para sahabatnya. Lintas organisasi, partai, madzhab, negara, generasi, tokoh atau lainnya. Nahdlatul Ulama’ mengaku sebagai kelompok ahlussunnah waljamaah tapi aswaja tidak hanya NU. Bisa saja orang mengaku NU tapi dalam pemahamannya tentang islam tidak sesuai dengan konsep aswaja. Jadi bisa saja seorang berada di golongan yang bukan NU tapi keyakinannya sesuai dengan konsep ASWAJA. Reinterpretasi sebuah konsep aswaja adalah kembali kepada pemahaman as-salaf as-sholih yang paling dekat dengan system hidup Rasulullah dan sahabatnya. Dan upaya mencari kebenaran adalah dengan menggunakan pisau analisis para mujtahidin yang diakui kemampuan dan keikhlasannya dalam memahami islam. Bukan hanya dengan sebuah wacana yang dikembangkan oleh orientalis yang berusaha membius pemikir muslim dan menghancur26 Ahlussunnah Wal Jama’ah


kan islam dari dalam. C. Aspek Aswaja sebagai Manhaj al-Fikr. Dalam tradisi yang dikembangkan oleh NU, penganut Aswaja biasanya didefinisikan sebagai orang yang mengikuti salah satu madzab empat (Hanafi, maliki, Syafi'i dan Hambali) dalam bidang Fiqih, mengikuti Imam al-Asy’ari dan Maturidi dalam bidang Aqidah dan mengikuti al-Junaidi dan alGhozali dalam bidang tasawuf, dalam sejarahnya definisi semacam ini dirumuskan oleh Hadratus Syaikh Kiai Hasyim Asy'ari sebagaimana tertuang dalam Qonun Asasi NU. Dalam prespektif pendekatan Aswaja. sebagai Manhaj bisa dilakukan dengan cara bagaimana melihat Aswaja dalam Setting sosialpolitik dan kultural saat doktrin tersebut lahir atau dikumandangkan. Dengan demikian dalam konteks Fikih misalnya, yang harus dijadikan bahan pertimbangan bukanlah produknya melainkan bagaimana kondisi sosial politik dan budaya ketika Imam hanafi, Imam Syafi'i, Imam Malik dan Imam Hambali melahirkan pemikiran Fiqih-nya. Dalam pemahaman theologi dan tassawuf juga seharusnya demikian. Berangkat dari pola pendekatan pemahaman Aswaja perspektif msnhaj Al-Fikr yang paling penting dalam memahami Aswaja adalah menangkap makna dari latar belakang yang mendasari tingkah laku dalam ber-Islam, Bernegara dan bermasyarakat. Dalam karakter yang demikian inilah KH. Ahmad Sidiq (Al-Magfurlah) telah merumuskan karakter Aswaja kedalam tiga sikap, yakni; Tawasut, I’tidal dan Tawazun (Pertengahan, Tegak Lurus dan 27 Ahlussunnah Wal Jama’ah


Manajemen Aksi Keseimbangan). Ketiga inilah yang menjadi landasan atas kerangka mensikapi permasalahan-permasalahan keagamaan, politik dan yang lainnya. 28 Ahlussunnah Wal Jama’ah


Nilai Dasar Pergerakan PMII 106 Sejarah Bangsa Indonesia


kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tujuan tersebut bisa dicapai hanyalah dengan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, sehingga dalam alenia keempat ini secara tegas diproklamirkan, disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam satu UndangUndang Dasar Negara Repulik Indonesia Tahun 1945, yang berbentuk dalam satu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasr kepada Pancasila. Dengan menyadari sepenuhnya bahwa dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan dasar dalam berdirinya bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan, dan Pembukaan tersebut tetap dipertahankan dan dijadikan pedoman. 105 Sejarah Bangsa Indonesia


Nilai Dasar Pergerakan (NDP) A. Terminologi NDP N ilai Dasar Pergerakan (NDP) adalah nilai-nilai yang secara mendasar merupakan sublimasi nilainilai ke-Islaman, seperti kemerdekaan (alhurriyyah), persamaan (al-musawa), keadilan ('adalah), toleran (tasamuh), damai (al-shuth), dan ke Indonesiaan (pluralisme suku, agama, ras, pulau, persilangan budaya) dengan kerangka paham ahlussunah wal jama' ah yang menjadi acuan dasar pembuatan aturan dan kerangka pergerakan organisasi. NDP merupakan pemberi keyakinan dan pembenar mutlak, Islam mendasari dan memberi spirit serta elan vital pergerakan yang meliputi iman (aspek aqidah), Islam (aspeksyariah), ihsan (aspek etika, akhlaq dan tasawuf) dalam rangka memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akherat. Dalam upaya memahami, menghayati dan mengamalkan Islam tersebut, PMII menjadikan ahlussunah wal jama'ah sebagai manhaj al-fikr sekaligus manhaj al-taghayyur alijtima'i (perubahan sosial) untuk mendekonstruksi dan merekonstruksi bentuk-bentuk pemahaman dan aktualisasi ajaran-ajaran agama yang toleran, humanis, anti-kekerasan, dan kritis transformatif. 31 Nilai Dasar Pergerakan (NDP) NKRI sebagai bentuk final negara bagi bangsa Indonesia. Kesepakatan untuk tetap mempertahankan bentuk negara kesatuan didasari pertimbangan bahwa negara kesatuan adalah bentuk yang ditetapkan sejak awal berdirinya negara Indonesia dan dipandang paling tepat untuk mewadahi ide persatuan sebuah bangsa yang majemuk ditinjau dari berbagai latar belakang. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 secara nyata mengandung semangat agar Indonesia ini bersatu, baik yang tercantum dalam pembukaan maupun pasal-pasal Undang-Undang Dasar yang langsung menyebutkan tentang NKRI dalam lima pasal, yaitu : Pasal 1 ayat 1, pasal 18 ayat 1, pasal 18B ayat 2, pasal 25A dan pasal 37 ayat 5 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta rumusan pasal-pasal yang mengukuhkan NKRI dan keberadaan lembaga-lembaga dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Prinsip kesatuan dalam NKRI dipertegas dalam alenia keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam upaya membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Pembentukan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia itu bertujuan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan 104 Sejarah Bangsa Indonesia


NKRI dan tidak sedikitpun mengubah NKRI menjadi federal. Pasal-pasal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mendorong pelaksanaan otonomi daerah untuk lebih memperkokoh NKRI dan meningkatkan proses pembangunan di daerah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat di daerah. Oleh karena itu, diperlukan adanya peraturan perundang-undangan yang komprehensif untuk pelaksanaan otonomi daerah sehingga dapat dilaksanakan sesuai dengan hakikat pembangunan nasional. Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang merupakan naskah asli mengandung prinsip bahwa ''Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik''. Pasal yang dirumuskan PPKI tersebut merupakan tekad bangsa Indonesia yang menjadi sumpah anak bangsa pada 1928 yang dikenal dengan Sumpah Pemuda, yaitu satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air yaitu Indonesia. Penghargaan terhadap cita-cita luhur pendiri bangsa yang menginginkan Indonesia sebagai negara bangsa yang satu merupakan bagian dari pedoman dasar bagi MPR 1999-2004 dalam melakukan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Wujud NKRI semakin kukuh setelah dilakukan perubahan, yang dimulai dari adanya kesepakatan MPR yang salah satunya adalah mengubah Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tetap mempertahankan 103 Sejarah Bangsa Indonesia B. Fungsi NDP NDP memiliki beberapa fungsi, pertama, Kerangka Refleksi. Sebagai kerangka refleksi NDP bergerak dalam pertarungan ide-ide, paradigma, nilai-nilai yang akan memperkuat level kebenaran-kebenaran ideal. Subtansi ideal tersebut menjadi suatu yang mengikat, absolut, total, universal berlaku menembus ruang dan waktu (muhlamul qat’i) kerangka refleksi ini menjadi moralitas gerakan sekaligus sebagai tujuan absolut dalam mencapai nilai-nilai kebenaran, kemerdekaan, kemanusiaan. Kedua, Kerangka Aksi. Sebagai kerangka aksi NDP bergerak dalam pertarungan aksi, kerja-kerja nyata, aktualisasi diri, analisis sosial untuk mencapai kebenaran faktual. Kebenaran sosial ini senantiasa bersentuhan dengan pengalaman historis, ruang dan waktu yang berbeda dan berubah. Kerangka aksi ini memungkinkan warga pergerakan menguji, memperkuat dan bahkan memperbaharui rumusan kebenaran historisitas atau dinamika sosial yang senantiasa berubah. Ketiga, Kerangka Ideologis. Kerangka ideologis menjadi rumusanyang mampu memberikan proses ideologisasi disetiap kader, sekaligus memberikan dialektika antara konsep dan realita yang mendorong proses progressif dalam perubahan sosial. Kerangka ideologis juga menjadi landasan pola pikir dan tindakan dalam mengawal perubahan sosial yang memberikan tempat pada demokratisasi dan Hak Asasi Manusia (HAM). 32 Nilai Dasar Pergerakan (NDP)


C. Kedudukan NDP Pertama, NDP menjadi sumber kekuatan ideal-moral dari aktivitas pergerakan. Kedua, NDP menjadi pusat argumentasi dan pengikat kebenaran dari kebebasan berfikir, berucap, bertindak dalam aktivitas pergerakan. D. Rumusan NDP 1. Tauhid Mengesakan Allah SWT merupakan nilai paling asasi dalam sejarah agama samawi. Didalamnya terkandung hakikat kebenaran manusia. (Al-Ikhlas, AI-Mukmin: 25, AIBaqarah: 130-131). Subtansi tauhid; a. Allah adalah Esa dalam Dzat, sifat dan perbuatanNya, b. Tauhid merupakan keyakinan atas sesuatu yang lebih tinggi dari alam semesta, serta merupakan manifestasi dati kesadaran dan keyakian kepada haI yang ghaib (AI-Baqarah: 3, Muhammad: 14- 15, AI-Alaq: 4, A l-Isra: 7). c. Tauhid merupakan titik puncak keyakinan dalam hati, penegasan lewat lisan dan perwujudan nyata lewat tindakan, d. Dalam memaharni dan mewujudkannya pergerakan telah memilih ahlussunah wal jama' ah sebagai metode pemahaman dan keyakinan itu. 2. Hubungan Manusia dengan Allah. Allah SWT adalah pencipta segala sesuatu. Dia mencipta manusia sebaik-baik kejadian dan menempatkan pada 33 Nilai Dasar Pergerakan (NDP) Negara Kesatuan Republik Indonesia masih terjadi, yang ditandai dengan terjadinya beberapa pemberontakan dalam kurun waktu 1950 sampai dengan 1958 antara lain Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil di Bandung pada tanggal 23 Januari 1950, Pemberontakan Andi Azis di Makasar pada tanggal 5 April 1950, Pemberontakan Republik Maluku Selatan di Ambon tanggal 25 April 1950, Pemberontakan Ibnu Hajar di Kalimantan Selatan tanggal 10 Oktober 1950 dll. Serangkaian pemberontakan tersebut menyebabkan adanya ketidaksesuaian penyelenggaraan pemerintah oleh aparat negara, terjadi hubungan yang tidak harmonis antara legislatif dan eksekutif, dan sebagian anggota konstituante ada yang menyatakan tidak bersedia lagi menghadiri sidang pleno konstituante. Keadaan ini yang mendorong presiden Soekarno menyatakan kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 pada 5 Juli 1959 yang dikenal dengan istilah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dekrit Presiden tersebut, meneguhkan kembali bahwa pilihan bentuk negara kesatuan adalah pilihan tepat yang mampu mewadahi keanekaragaman wilayah Indonesia. 2. Konsep Negara Kesatuan Menurut UUD 1945 Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengukuhkan keberadaan Indonesia sebagai Negara Kesatuan dan menghilangkan keraguan terhadap pecahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.Pasal-pasal Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah memperkukuh prinsip 102 Sejarah Bangsa Indonesia


dorongan secara eksplisit untuk membentuk negara kesatuan, bahkan Natsir sendiri mengatakan bahwa mosi tersebut tak ada kaitannya dengan permasalahan unitarisme (negara kesatuan) dan federalisme (negara federal). Yang digunakan dalam mosi ini adalah istilah “Integral” dalam arti penyelesaian secara menyeluruh dan komprehensif. Mosi Integral Natsir tertanggal 3 April 1950 merupakan monumen sejarah yang mengantarkan Indonesia kembali menjadi negara Kesatuan setelah sempat dicabikcabik dengan bentuk negara federal. Mosi integral Natsir sebenarnya netral dari kontroversi antara kehendak kembali ke negara kesatuan atau melanggengkan negara federal. Natsir mengatakan bahwa maksud mosi yang diajukannya tidak terkait dengan soal bentuk negara kesatuan dan federalisme melainkan menyangkut masalah yang lebih besar dari itu, yaitu “persatuan” untuk keselamatan Negara Republik Indonesia. Tentang persatuan sikap batin atau kejiwaan ini, sejak awal Bung Karno sebagai founding fathers mengajak bangsa Indonesia untuk memahami dan menyelami konsep yang dibangun oleh Renan seorang pakar dari Prancis yang mengatakan bahwa bangsa adalah segerombolan atau sekumpulan manusia yang memiliki solidaritas yang tinggi karena adanya kesatuan jiwa yang ingin bersatu dan bersama. Pada tanggal 17 Agustus 1950, Indonesia resmi kembali ke negara kesatuan dengan konstitusi UUDS 1950. Meskipun sudah menganut kembali bentuk negara kesatuan, namun upaya-upaya untuk memisahkan diri dari 101 Sejarah Bangsa Indonesia kedudukan yang mulia. Kemuliaan manusia antara lain terletak pada kemampuan berkreasi, berfikir dan memiliki kesadaran moral. Potensi itulah yang menempatkan posisi manusia sebagai khalifah & hamba Allah (AI-Anam: 165, Yunus: 14.) 3. Hubungan Manusia dengan Manusia. Allah meniupkan ruh dasar pada materi manusia. Tidak ada yang lebih utama antara yang satu dengan yang lainnya kecuali ketaqwaannya (AI-Hujurat: 13). Pengembangan berbagai aspek budaya dan tradisi dalam kehidupan manusia dilaksanakan sesuai dengan nilai dari semangat yang dijiwai oleh sikap kritis dalam kerangka religiusitas. Hubungan antara muslim dan non-muslim dilakukan guna membina kehidupan manusia tanpa mengorbankan keyakinan terhadap kebenaran universalitas Islam. 4. Hubungan Manusia dengan Alam. Alam semesta adalah ciptaan Allah. Allah menunjukkan tanda-tanda keberadaan, sifat dan perbuatan Allah. Berarti juga tauhid meliputi hubungan manusia dengan alam (As-Syura: 20) Perlakukan manusia dengan alam dimaksudkan untuk memakmurkan kehidupan dunia dan akherat. Jadi manusia harus mentransendentasikan segala aspek kehidupan manusia. NDP yang digunakan PMII dipergunakan sebagai landasan teologis, normatif dan etis dalam pola pikir dan perilaku. Dati dasar-dasar pergerakan tersebut muaranya adalah untuk mewujudkan pribadi muslim yang berakhlaq dan berbudi luhur, dan memiliki konstruksi ber34 Nilai Dasar Pergerakan (NDP)


fikir kritis dan progressif. E. NDP: Landasan Gerak Berbasis Teologis NDP adalah sebuah kerangka gerak, ikatan nilai atau landasan pijak. Didalam PMII maka kita akan kenal dengan istilah NDP (Nilai Dasar Pergerakan). NDP adalah sebuah landasan fundamental bagi kader PMII dalam segala aktivitas baik-vertikal maupun horizontal. NDP sesungguhnya kita atau PMII akan mencoba berbicara tentang posisi dan relasi yang terkait dengan apa yang akan kita gerakkan. PMII berusaha menggali sumber nilai dan potensi insane warga pergerakan untuk kemudian dimodifikasi didalam tatanan nilai baku yang kemudian menjadi citra diri yang diberi nama Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII. Hal ini dibutuhkan untuk memberi kerangka, arti motifasl, wawasan pergerakan dan sekaligus memberikan dasar pembenar terhadap apa saja yang akan mesti dilakukan untuk mencapai cita-cita perjuangan. Insaf dan sadar bahwa semua ini adalah keharusan bagi setiap kader PMII untuk memahami dan menginternalisasikan nilai dasar PMII tersebut, baik secara personal maupun secara bersama-sama, sehingga kader PMII diharapkan akan paham betul tentang posisi dan relasi tersebut. Posisi dalam arti, diri kita sebagai manusia ada peran yang harus kita lakukan dalam satu waktu sebagai sebuah konsekuensi logis akan adanya kita. Peran yang dimaksud adalah diri kita sebagai hamba, diri kita sebagai makhluq, dan diri kita sebagai manusia. 35 Nilai Dasar Pergerakan (NDP) simbolis b. Soekarno dan Moh Hatta menjabat sebagai presiden dan wakil presiden RIS untuk periode 1949-1950, dengan Moh Hatta merangkap sebagai Perdana Menteri. c. Irian Barat masih dikuasai Belanda dan tidak dimasukkan kedalam RIS sampai dilakukan perundingan lebih lanjut. d. Pemerintah Indonesia harus menanggung hutang negeri Hindia Belanda sebesar 4,3 milliar gulden (Natsir, Mohammad, 2008). Disisi lain hasil KMB dinilai baik karena Belanda Menyerahkan dan Mengakui Kedaulatan Indonesia, tapi disisi lain permasalahan bagi negara Indonesia adalah bentuk negara federal yaitu RIS adalah produk rekayasa Van Mook yang suatu saat dijadikan strategi untuk merebut kembali indonesia melalui politik devide et impera.. Di dalam negeri sendiri juga muncul pergolakan, demonstrasi-demonstrasi dan berbagai mosi di Parlemen menyusul hasil KMB dan perubahan bentuk negara dari kesatuan menjadi federal tersebut. Pemerintah lebih banyak diam dan mengambil sikap pasif dengan berlindung dibawah semboyan “semua terserah pada kehendak rakyat”. Dalam situasi seperti ini, Moh Natsir tampil dengan mosi yang meminta pemerintah dan seluruh elemen bangsa segera menyelesaikan permasalahan tersebut secara integral, mosi tersebut terkenal sebagai “Mosi Integral Natsir”. Dalam mosi tersebut, sesungguhnya tidak ada 100 Sejarah Bangsa Indonesia


Click to View FlipBook Version