Pada 19 Desember 1948, akibat serangan Belanda yang berhasil menguasai Yogyakarta waktu itu dijadikan Ibu Kota NKRI, Sidang Kabinet Republik Indonesia yang dipimpin oleh wakil presiden Mohammad Hatta memutuskan untuk memberikan mandat kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara agar membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), Kabinet Hatta mengeluarkan dua surat Mandat tentang pembentukan pemerintah darurat di Sumatera, satu untuk Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Bukit Tinggi dan satu untuk MR. A.A. Maramis di New Delhi. Berdirinya pemerintah darurat memiliki satu arti penting, yakni Indonesia masih memiliki Eksistensi ketika terjadi penyerangan dan penguasaan yang dilakukan oleh Belanda. Dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia, Belanda terus merongrong kedaualatan Negara Indonesia. setelah beberapa kali terjadi pertempuran dan dilakukan perundingan antara Indonesia dengan Belanda, antara lain : Perjanjian Linggar Jati pada 25 Maret 1947, Perjanjian Renville pada 8 Desember 1947, dan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 23 Agustus 1949 akhirnya Belanda mengakui Kedaulatan Republik Indonesia dengan syarat harus berbentuk Negara Serikat. KMB yang berlangsung di Den Haag pada 23 Agustus sampai 2 November 1949 berhasil mengakhiri konfrontasi antar Indonesia dengan Belanda. Ada 4 hasil penting yang menjadi isi kesepakatan dalam KMB, yaitu : a. Pembentukan Uni Belanda Republik Indonesia Serikat yang dipimpin oleh ratu Belanda secara 99 Sejarah Bangsa Indonesia Ketiga posisi di atas merupakan sebuah kesatuan yang koheren dan saling menyatu. Sehingga Relasi yang terbentuk adalah relasi yang saling topang dan saling menyempurnakan. Akibat dari posisi tersebut maka akan muncul relasi yang sering diistilahkan sebagai hablun mina Allah, hablun minaan-naas dan mu'amalah. Dalam ihtiar untuk mewujudkan perintah Tuhan Yang Maha Kuasa maka ketiga relasi di atas harus selaiu dan selalu berangkat dari sebuah keyakinan IMAN, prinsip ISLAM, dan menuju IHSAN. Inilah yang nantinya akan menjadi acuan dasar bagi setiap warga pergerakan dalam melakukan segala ihtiar dalam segala posisi. F. Pemaknaan dan Arti NDP Secara esensial NDP PMII adalah suatu sublimasi nilai ke-Islam-an dan ke-Indonesia-an dengan kerangkan pemahaman Ahfussunnah waf Jama'ah yang terjiwai oleh berbagai aturan, memberi arah, mendorong sertamenggerakkan apa yang dilakoni PMII sebagai sumber keyakinan dan pembenar mutlak. Islam mendasar dan menginspirasi NDP yang meliputi cakupan Aqidah, Syari'ah dan Akhlaq dalam upaya memperolah kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Dalam kerangka inilah PMII menjadikan Ahussunah wal Jama'ah sebagai Manhaj af-fikr (methodologi mencari) untuk mendekonstruksi bentuk-bentuk pemahaman keagamaan yang benar. G. Fungsi, Peran dan Kedudukan NDP Secara garis besarnya Nilai Dasar Pergerakan (NDP) 36 Nilai Dasar Pergerakan (NDP)
PMII akan berfungsi dan berperan sebagai : Landasan Pijak PMII. Landasan pijak dalam artian bahwa NDP diperankan sebagai landasan pijak bagi setiap gerak dan langkah serta kebijakan yang dilakukan oleh PMII. Landasan Berfikir PMII. Bahwa NDP menjadi landasan pendapat yang dikemukakan terhadap persoalan-persoalan yang akan dan sedang dihadapi oleh PMII. Sumber Motivasi PMII. NDP juga seyogyanya harus menjadi pendorong bagi anggota PMII untuk berbuat dan bergerak sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan dan terkandung didalamnya. Sedangkan kedudukan NDP dalam PMII bisa kita letakkan pada, Pertama; NDP haruslah menjadi rumusan nilai-nilai yang dimuat dan menjadi aspek ideal dal.am berbagai aturan dan kegiatan PMII. Kedua; NDP harus menjadi pemicu dan pegangan bagi dasar pembenar dalam berfikir, bersikap dan berperilaku. H. Rumusan dan Isi NDP Selain itu kita juga harus paham betul tentang isi ataupun rumusan atas Nilai Dasar Pergerakan kita yang dapat kita gambarkan seperti berikut : 1. Ketuhanan atau Tauhid. Pengertian ketuhanan adalah bagaimana kita memaknai ketauhidan kita alas Tuhan. Men-Esa-kan Allah SWT, merupakan nilai paling asasi dalam sejarah agama samawi. Hal ini sesungguhnya mengandung makna, Pertama; Allah adalah Esa dalam segala totalitas, dzat, sifat dan perbuatan37 Nilai Dasar Pergerakan (NDP) Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta dan Mr. Achmad Soebardjo. B. Indonesia Setelah Kemerdekaan 1. Sejarah Konsep Negara Kesatuan dalam UndangUndang Dasar Sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sejarah bangsa Indonesia dimulai dari sejarah menyusun pemerintahan, politik, dan administrasi negara. Landasan yang dijadikan pijakan adalah Konstitusi dan Ideologi. Atas dasar tersebut, pada 18 Agustus 1945, diselenggarakan sidang PPKI yang berhasil menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara dan menetapkan Ir. Soekarno sebagai Presiden dan Drs. Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden. Dalam rapat BPUPKI Yang membahas rancangan UUD, permasalahan bentuk negara menjadi salah satu pembahasan yang diperdebatkan secara serius. Usulan bentuk negara yang muncul pada waktu itu yaitu negara kesatuan dan negara federal. Namun kemudian disepakati bentuk negara Indonesia adalah Negara Kesatuan, sebagaimana tertera dalam Pasal 1 ayat 1 UUD 1945. Pilihan BPUPKI ini tidak lagi dipersoalkan ketika pada 18 Agustus 1945 PPKI menetapkan UUD 1945 sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia pada Tahun 1945. Pada 1946, secara sepihak Belanda kembali masuk ke Indonesia mengatasnamakan sebagai penguasa yang sah karena berhasil mengalahkan Jepang yang sebelumnya mengambil alih kekuasaan Hindia Belanda (Indonesia) dari Belanda. 98 Sejarah Bangsa Indonesia
Pada 29 April 1945, pemerintah Jepang membentuk sebuah Badan yang bertugas menyelidiki kemungkinan Indonesia Merdeka. Badan tersebut bernama Dokuritzu Junbi Choosakai atau BPUPKI yang dilantik pada 28 Mei 1945. BPUPKI melaksanakan persidangan selama dua kali, yaitu pada 29 Mei sampai 1 Juni 1945 dan 10-17 Juli 1945. Selain perjuangan yang di lakukan dalam sidang BPUPKI, pejuang Indonesia juga tetap di lakukan melalui gerakan perlawanan di bawah tanah. Setelah BPUPKI menyelesaikan tugas dan melaporkannya kepada pemerintah Jepang, BPUPKI kemudian di bubarkan dan dengan usul BPUPKI dibentuklah PPKI pada 7 Agustus 1945. Pada 14 Agustus 1945, melalui Radio Suara Amerika, diberitakan bahwa Hirosima dan Nagasaki dibom, dan karena kejadian ini pemerintah Jepang menyerah kepada Sekutu. Bersamaan dengan peristiwa tersebut, tentara Inggris dengan nama South East Asia Command yang bertugas menduduki wilayah Indonesia, menerima penyerahan kekuasaan dari tangan Jepang (Setidjo, Pandji 2009). Ketika terjadi kekosongan kekuasaan karena Jepang telah menyerah dan tentara Sekutu belum mendarat di Indonesia, rakyat Indonesia yang diwakili oleh tokoh pejuang bangsa berhasil menyusun naskah Proklamasi di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda, Jalan Imam Bonjol, Jakarta dan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta. Naskah Proklamasi tersebut disusun oleh 97 Sejarah Bangsa Indonesia perbuatan-Nya. Allah SWT adalah dzat, yang fungsional, dalam artian menciptakan, memberi petunjuk, memerintah dan memelihara alam semesta. Allah SWT juga menanamkan pengetahuan, membimbing, menolong manusia. Kedua; pada saat keyakinan yang pertama kita wujudkan maka keyakinan terhadap sesuatu yang lebih tinggi seperti keyakinan terhadap alam semesta, serta kesadaran' keyakinan kepada yang ghaib merupakan sesuatu hal yang harus dilakukan. Ketiga; dari kedua hal tersebut, maka tauhid merupakan titik puncak. Mendasari, memandu dan menjadi sasaran keimanan yang mencakup keyakinan dalam hati nilai dari ketahuhidan tersebut harus termanifestasikan dan tersosialisasikan ke sekelilingnya lewat pemahaman dan penginternalisasian ahlussunah wal jama'ah sebagai tahapan yang terakhir. 2. Hubungan Manusia dengan Tuhan-Nya (Allah SWT) Pemaknaan hubungan manusia dengan Allah SWT haruslah dimaknai dengan kaffah dan konferehenshif, artinya bahwa Allah SWT adalah sang pencipta yang maha segalanya, termasuk telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya (ahsanut taqwin) dan telah menganugerahkan kedudukan terhormat kepada manusia. Kedudukan tersebut ditandai dengan pemberian daya fikir, kemampuan berkreasi untuk dilakukan memfungsikan alam sebagai modal dasar sekaligus perangkat mewujudkan kemaslahatan. Kesemua aktifitas yang coba tidak pernah terlepas dari sebuah essensi melarutkan dan mengejawantahkan nilai 38 Nilai Dasar Pergerakan (NDP)
-nilai ke-tauhid-an dengan berpijak wahyu dan seluruh ciptaan-Nya. I. Teologi sebagai Dasar Filosofi Pergerakan Internalisasi dari nilai-nilai teologis tersebut menumbuhkan filosofi gerak PMII yang disandarkan pada dua nilai yang sangaf fundamental yakni liberasi dan independensi. Liberasi merupakan kepercayaan dan komitmen kepada pentinya (dengan epistemologi gerak-paradigma) untuk mencapai kebebasan tiap-tiap individu. Praktek dan pemikian liberasi mempunyai dua tema pokok. Pertama; tidak menyetujui adanya otoritas penuh yang melingkupi otoritas masyarakat. Kedua; menentang segala bentuk ekspansi dan hegemoni Negara (kekuasaan) terhadap keinginan keinginan bebas individu dan masyarakat dalam berkreasi, berekspresi, mengeluarkan pendapat, berserikat dan lain sebagainya. Liberasi didasarkan oleh adanya kemampuan (syakilah) dan kekuatan (wus'a) yang ada dalam setiap individu. Dengan bahasa lain setiap individu mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk mengembangkan dirinya. Tanpa harus terkungkung oleh pemikiran, kultur dan struktur yang ada disekitarnya, sehingga pada akhirnya akan melahirkan apa yang namnya keadilan (al-adalah), persamaan (al- musawah), dan demokrasi (as-syura). Kebebasan dalam arti yang umum mempuntai dua makna, yakni kebebasan dari (fredom from) dan kebebasan untuk (fredom for). Kebebasan dari merupakan kebebasan dari belenggu alam 39 Nilai Dasar Pergerakan (NDP) di bawah pimpinan K.H. Ahmad Dahlan. Setelah itu pada 1915 berdiri Indische Party yang di dirikan oleh tiga serangkai, yaiti dr. Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, dan Douwes Dekker. Pada 1920 Indische Sosial Demokratische Partij atau ISDP dan bagian dari Serikat Islam berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Selanjutnya pada 1926 di kalangan ulama Nusantara lahirlah Jamiyah Nahdlatul Ulama di bawah pimpinan K.H. Hasyim Asy’ari di Surabaya. Pada 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia (PNI) yang di pimpin oler Ir. Soekarno dengan tujuan untuk Indonesia Merdeka. Pada 1928, lahirlah Sumpah Pemuda yaitu golongan pemuda yang menghendaki persatuan, bertujuan mencanangkan cita-cita kemerdekaan dan memperjuangkan indonesia merdeka. Melalui kongresnya yang ke 2 pada 27 dan 28 Oktober 1928 di Jakarta, yang di hadiri 750 orang dari masing-masing perwakilan organisasi PPPI, Jong Java, Jong Islamiten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Batak, dan Pemuda Kaum Betawi, lahirlah Sumpah Pemuda. Pencetus Sumpah Pemuda adalah Perhimpunan Indonesia Nederland, Partai Nasional Indonesia dan Pemuda Indonesia. Pada saat perang II Dunia berlangsung, pada 1942, Jepang mendarat di Indonesia melalui Tarakan, Minahasa dan Sulawesi, Balikpapan, Ambon, Batavia, dan Bandung. Belanda menyerah pada tentara Jepang pada 9 Maret 1942. Sejak itulah bangsa Indonesia terus melakukan perlawanan terhadap Jepang dan perlawanan tetap berlanjut sampai tentara Jepang terdesak oleh Sekutu pada 1944-1945. 96 Sejarah Bangsa Indonesia
“Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 ia mendirikan sebuah Biro Pers dengan nama Indonesische Persbureau. 2. Masa Penjajahan Sejak berakhirnya masa kerajaan di Indonesia masuklah bangsa Barat seperti Portugis dan Spanyol yang disusul oleh bangsa Belanda pada abad XVI tepatnya tahun 1596. Belanda cukup berhasil menguasai Indonesia, mereka mengeruk keuntungan sebesar-besarnya sememntara rakyat Indonesia mengalami penderitaan lahir dan batin. Kondisi masyarakat yang semakin parah akibat penjajahan tersebut membangkitkan perlawanan yang dipimpin oleh para tokoh perjuangan diantaranya Sultan Ageng Tirtayasa, Cik Dik Tiro, Teuku Umar, Sultan Hasanuddin, Imam Bonjol, Panglima Polim, dan Pangeran Diponogoro. Namun, perlawanan-perlawanan tersebut mengalami kegagalan karena pada waktu itu belum terpupuk kesadaran nasional dan perjuangan yang di lakukan masih bersifat kedaerahan (Setidjo,Pandji,2009). Pada 20 Mei 1908 di Jakarta berdirilah Boedi Oetomo yang di dirikan oleh dr. Soetomo dan kawan-kawan dengan ketuanya Dr. Wahidin Sudiro Husodo. Selanjutnya, tahun 1909 Serikat Dagang Islam berdiri dan dipimpin oleh H. Samanhudi yang kemudian pada 1911 berubah menjadi Serikat Islam di bawah pimpinan HOS Tjokroaminoto. Pada 1912 berdiri organisasi Islam Muhammadiyah di Yogyakarta 95 Sejarah Bangsa Indonesia dan manusia. Sedangkan kebebasan untuk bermakna bebas untuk berbuat sesuatu yang pada dasarnya sebagai fungsi untuk mencapai tingkat kesejahteraan seluruh manusiadi muka bumi. Dalam kaitan ini makasesungguhnya capaian yang harus memuat pada Usulul al-Khamsah (lima prinsip dasar) yang meliputi; Hifdz al-nasl wa al-irdh, hifdzul al- 'aql, hifdzul ai-nasi, dan hifdz al-mal. 40 Nilai Dasar Pergerakan (NDP)
Manajemen Organisasi Australian Nation (pada karakteristik terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia, dan Melayu-Polinesia). Dalam artikelnya Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya penduduk kepulauan Hindia atau Melayu mempunyai nama khas, karena nama Hindia tidaklah tepat dan rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl menyatakan memilih nama Malayunesia (kepulauan melayu) dari pada Indunesia (kepulauan hindia) sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu. Dalam JIAEA volume IV itu juga halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology Of The Indian Archipelago (etnologi dari kepulauan Hindia). Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan bahwa memang perlu nama khas untuk kepulauan tanah air kita, Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang Earl dan huruf “U” di gantinya dengan huruf “O” agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah INDONESIA. Ketika mengusulkan nama Indonesia nampaknya Logan tidak menyadari bahwa dikemudian hari nama itu akan menjadi resmi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di universitas Berlin Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesian Order Die Inselndes Malayischen Melayu) sebanyak lima volume yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara di kepulauan itu pada tahun 1864-1880. Buku Bastian inilah yang mempopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda sehingga sempat timbul anggapan bahwa kata Indonesia adalah ciptaan Bastian. Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah 94 Sejarah Bangsa Indonesia
Sejarah Bangsa Indonesia A. Indonesia Sebelum Kemerdekaan 1. Sejarah Nama Indonesia B angsa Indonesia lahir dan bangkit melalui sejarah perjuangan masyarakat bangsa yang pernah dijajah oleh Belanda dan Jepang. Akibat penjajahan bangsa Indonesia sangat menderita, tertindas lahir dan batin, mental dan materiil, mengalami kehancuran di bidang ekonomi, politik, spsial, budaya, dan pertahanan keamanan hingga sisa-sisa kemegahan dan kejayaan Nusantara seperti Sriwijaya dan Majapahit yang dimiliki rakyat di bumi pertiwi, sirna dan hancur tanpa sisa. Di dalam pelajaran Ilmu Alamiah Dasar/Ilmu Biologi Dasar/Ilmu Sosial Dasar yang disampaikan oleh Yono Hartono, M.Pd.I selaku dosen Mata Kuliah tersebut, disampaikan bahwa pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah tahunan, Journal Of The Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA, BI : “Jurnal Kepulauan Hindia dan Asia Timur”) yang di kelola oleh James Richardson Logan (1819-1869) seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Pada tahun 1849 seorang ahli etnologi Inggris, Geoege Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA. Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On The Leading Characteristics Of The Papuan 93 Sejarah Bangsa Indonesia
Manajemen Organisasi A. Pengantar D alam hidup manusia akan memperoleh kebahagiaan jika di dasarkan pada keselarasan dan keseimbangan hidup pribadi, dalam hubungan dengan masyarakat, bangsa, alam maupun dengan Tuhannya. Dengan demikian kekuatan manusia itu tidak hanya terletak pada fisiknya semata, juga kemampuan untuk bekerjasama dengan sesama manusia lainnya. Untuk mencapai tujuan bersama, manusia butuh untuk bersama yang lain, berkelompok dalam rangka bekerjasama menggapai tujuan yang disepakati. Betapa pentingnya mengorganisir banyak orang yang lebih dari dua, yang tentunya pula dalam satu pandangan dan tujuan untuk berbagi peran dan penghasilan. Misalnya pekerjaan itu adalah membuat bangunan maka tidak semua orang sama-sama menggergaji kayu, atau sama-sama mengaduk semen, namun harus ada yang bertugas sebagai arsitek, tukang, kuli dan lainlain. Dari sini timbul permasalahan yang harus dijawab, apakah hanya dengan kemampuan mengorganisir kita bisa mengembangkan organisasi menjadi lembaga profitable? Atau apkah hanya dengan modal besar kita akan bisa menjadi survive? B. Keorganisasian Secara sederhana organisasi dapat diberi pengertian 43 Manajemen Organisasi
Sejarah Bangsa Indonesia sebagai suatu system yang saling berpengaruh antar orang dalam kelompok yang bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Lengkapnya dapat dinyatakan sebagai suatu kesatuan sosial dari sekelompok manusia yang saling berinteraksi menurut pola tertentu, sehingga setiap anggotanya memiliki fungsi dan tugas masing-masing, utamanya lagi kesatuan tersebut mampunyai batas-batas yang jelas sehingga dapat dipisahkan secara tegas dari lingkungannya (Lubis dan Martin, 1989). C. Administrasi sebagai Total Sistem Biasanya administrasi didefinisikan sebagai keseluruhan proses kegiatan pelaksanaan usaha bersama yang dilakukan dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya secara efektif dan efisien atau bisa juga ditambah secara ekonomis dan produktif. Dari konsep tersebut maka administrasi harus terdesain oleh kerangka dasar yakni manajemen, leadership, pengambilan keputusan, human relations, manusia dan sarana kerja (SP. Siagian, 74). Secara khusus ilmu manajemen didefinisikan sebagai yang mempelajari bagaimana cara menapai tujuan, fungsi apa saja yang harus dilakukan dengan menggunakan alat, tenaga orang, ide, dan system secara efektif dan efisien. Manajemen, sebagai komponen dari administrasi dapat di tinjau dari tiga segi : 44 Manajemen Organisasi
Kepemimpinan, tidak dimaksudkan melakukan sendiri kegiatan-kegiatan operasional akan tetapi menjamin orang lain mengerjakan hal-hal yang sesuai dengan kebijaksanaan, keputusan, dan pedoman yang telah diberikan. kepemimpinan mempunyai dua atribut menurut Mellit yaitu personal dan institusional, Atribut – atribut personal kepemimpinan mencakup intelegensi, keberanian, integritas kekuatan, kesiapan fisik, determinasi, ketekunan, kerja keras, kecerdikan dan bahkan terkadang kebingisan, Sedangkan atribut institusional kepemimpinan mencakup status, kekayaan, posisi, dan kolega atau teman yang mampu, kesempatan atau peluang yang khusus, suatu hubungan tertentu antara harapan atau aspirasi rakyat dengan penampilan kepemimpinan dan lain-lain. Atribut-atribut kepemimpinan, baik personal atau institusional akan sangat menentukan efektif tidaknya kepemimpinan. Dengan demikian seorang pemimpin memang di tuntut mempunyai berbagai kelebihan dari yang dipimpin, seperti keunggulan emosional, keunggulan kecerdasan, keunggulan keterampilan, keunggulan fisik, kekayaan dan lain sebagainya. Pengambilan keputusan, kesuksesan seorang pemimpin bukan hanya dilihat dari banyaknya jabatan atau pangkat saja. Tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana ia memanage organisasi, bersikap dan mengambil keputusan secara cermat, cerdas, dan cepat. Analisa yang dapat digunakan dalam decition making adalah menggunakan instrument analisa SWOT (Strength/kekuatan, Weakness/ kelemahan oprtunity/peluang, Treats/ancaman) 45 Manajemen Organisasi I. Mahasiswa Muslim, mau apa? Sebagai generasi muslim yang menapaki dunia kampus, menancapkan niat saja tidaklah cukup. Setidaknya setelah mengetahui karakter mahasiswa dan tipologinya ada segudang harapan dan keinginan besok ‘aku mau jadi apa?’ Kalau pertanyaan ‘aku mau jadi apa’ sudah terjawab berarti pertanyaan identitas sudah terjawab. Terjawabnya identitas sama dengan menghilangkan sebuah kegamangan untuk mencari kegamangan baru. Apa itu? Kalau kita sudah yakin mau menjadi yang mana, di antara yang ke delapan tadi, kegamangan selanjutnya yang wajib dijawab adalah ‘mau apa?’ Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang memancing visi atau mengarahkan kita untuk berbuat apa besok. Ketidakmampuan kita menjawab pertanyaan inilah yang kelak akan menghilangkan eksistensi diri. Kalau pilihannya adalah ingin menjadi seorang aktivis muslim, lantas mau apa?. 90 Tipologi Mahasiswa
Keenam, tipe hedonis + pasifis (stagnan) = Mahasiswa absurd. Ini adalah model mahasiswa terparah. Karena sudah tidak pernah nongol di kampus ternyata hedonis. Ketujuh, tipe pasifis + soleh = Mahasiswa kuper, tidak kreatif, dan kuli-kuli tinta. Tipe ini adalah mahasiswa yang baik tapi tidak bisa aktif dalam dinamika kampus. Bisa jadi karena dia harus kerja paruh waktu. Atau mungkin memang bawaan sejak dari sono-nya yang inferior dan introvert. Meskipun soleh mahasiswa tipe ini akan menjadi kuper, telmi, dan tidak kreatif. Karena ia tidak kreatif dan tidak aktif dalam kegiatan, apa yang di dapat di kampus adalah yang diajarkan di kelas belaka. Pengetahuannya hanya seputar omongan dosen di kelas. Karena yang diketahuinya hanya itu ia tak ubahnya seperti kuli-kuli tinta. Kedelapan, tipe sholeh + aktivis = Mahasiswa tipe intelektual. Mahasiswa dengan tipe ini rajin dalam segala aktivitas kampus. Untuk yang gemar dalam kegiatan akademik disebut akademisi. Namun untuk yang gemar dalam organisasi dan kegiatan sosial di sebut aktivis. Dalam terminologi Gramsci, tipe ini dikategorikan dengan intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional adalah orang yang cerdas dalam bidang-bidang akademik tertentu namun enggan menjawab problem masyarakat dan sosial. Sehingga mereka diibaratkan berada dalam menara gading. Untuk intelektual organik, adalah kaum cerdik pandai, yang dengan kepandaiannya itu digunakan untuk menjawab problem sosial. 89 Tipologi Mahasiswa Ini merupakan sederetan fungsi-fungsi manajemen tradisional yang dibutuhkan oleh organisasi nirlaba untuk menjamin organisasi yang bersangkutan berjalan baik. Fungsi perencanaan mencakup perumusan tujuan jangka pendek dan jangka panjang organisasi, serta mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Fungsi pengorganisasian adalah memadukan orang-orang dan tugas -tugas mereka dalam suatu struktur yang terencana, bukan semata-mata demi tugas itu sendiri, tetapi juga memuaskan kebutuhan orang-orang yang melaksanakannya. Jika organisasi tumbuh dan semakin menjadi besar, kebutuhan akan pengarahan muncul pula. Oleh sebab itu fungsi pengendalian harus diberlakukan juga. Fungsi pengawasan ini perlu untuk menjaga agar organisasi tetap berjalan pada jalurnya dan untuk mengorek kesalahan yang terjadi. Akhirnya, fungsi evaluasi dibutuhkan untuk menentukan tercapai atau tidaknya tujuan organisasi. Dari kaca mata manajemen ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan : Pertama, Aspek Sumber Daya Manusia merupakan aset penting yang dimiliki oleh suatu organisasi, sehingga sisi manajerial merupakan konsekuensi lebih jauh dalam mencapai efektifitas organisasi. Kedua, Aspek legal formal, kebijakan dan prosedur yang harus ditempuh dalam mencapai tujuan institusional. Ketiga, Kultur; tata nilai yang melatar belakangi perilaku manajerial sesuatu institusi dalam mencapai tujuannya yang dilingkungan perusahaan dikenal dengan istilah Corporate 46 Manajemen Organisasi
Culture. Keempat, Integrasi; Yang memungkinkan timbulnya kebersamaan dalam lingkungan sumberdaya manusia dalam suatu organisasi, sehingga sangat potensial dalam mencapai tujuan organisasi. (Michael Armstrong, 1998). Di dalam menajemen dibutuhkan beberapa persyaratan : 1. Harus ada tujuan/platform 2. Harus ada masyarakat/anggota 3. Harus ada manager/leader 4. Harus ada kerjasama/corporate 5. Harus ada system/mekanisme kerja yang kongkrit. Persoalannya kemudian adalah sejauh mana sistem yang ada diorganisasi kita mampu menciptakan suasana kondusif bagi perkembangan potensi anggotanya. 47 Manajemen Organisasi Keempat, tipe pasifis atau stagnan. Mahasiswa tipe ini adalah tipe mahasiswa malas. Biasannya enggan mengikuti kegiatan kampus, baik yang diadakan kampus maupun organisasi. “Intelektual: Akademisi dan aktivis Bule-bule kampus, buruh-buruh organisasi Mahasiswa kuper, telmi, tidak kreatif, kuli-kuli tinta. Mahasiswa absurd” Dari keempat tipologi utama mahasiswa di atas belumlah mewakili semua tipe mahasiswa. Kita masih temukan lagi varian (model) lainnya, yang itu setidaknya ada empat tipe lagi; Kelima, tipe aktivis + hedonis = bule-bule kampus, dan buruh-buruh organisasi. Tipe ini adalah mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kampus, biasanya yang tidak berbau akademik. Meskipun aktif namun yang dicari hanya nilai having fun-nya saja. Maka dari itu tipe ini disebut bule -bule kampus, karena biasanya penampilannya perlente bak borjuis kecil dan pejabat, penampilannya seronok seperti turis, menor dan ngejreng seperti artis. Dalam organisasi biasanya tipe ini hanya sebagai penggembira saja. Bahkan bisa jadi penghias organisasi biar tidak membosankan (lumayan ada artisnya). Dikatakan sebagai buruh-buruh organisasi karena mereka bereorganisasi tidak tahu tentang visi dan misi organisasi yang harus dicapai. 88 Tipologi Mahasiswa
baru masuk dunia kampus, bercita-cita atau menancapkan niat saja sudah salah. Ada lagi yang niat sudah mantap, namun di tengah jalan melihat gemerlap budaya pop, usahanya menyimpang. Ada pula yang niat dan usaha sudah sip, namun karena berbagai hal, bisa jadi jenuh, tidak konsisten, kurang sabar, terjebak jeratan cinta, apa yang diniatkan dan diusahakan runtuh semua. Tarik ulur antara idealita dan realita, niat dan godaan, akhirnya memunculkan berbagai karakter dan kepribadian mahasiswa. Potret berbagai sikap dan karakter itu direkam dalam tulisan ini sebagai tipologi mahasiswa. Setidaknya ada empat tipologi utama mahasiswa; Pertama, tipe hedonis. Tipe hedonis adalah mahasiswa yang niat kuliahnya hanya sekedar mencari trend dunia kampus. Kerjanya adalah fun oriented, mencari kesenangan sejati. Kita pasti tahu kesenangan-kesenangan apa saja itu; pacaran, dugem, shoping, nge-band, dan lainnya yang melupakan tugas utama mahasiswa. Kedua, tipe sholeh. Tipe yang ini adalah mahasiswa baikbaik. Niat ke kampus untuk belajar. Jauh-jauh dari luar Jogja mencari ilmu. Berbakti pada orang tua. Biasanya tipe ini mengurangi jam bermain atau fun oriented, hanya sekedar untuk belajar. Ketiga, tipe aktivis. Adalah tipe mahasiswa yang selalu aktif dengan kegiatan di kampus. Baik itu acara akademik perkuliahan atau acara ekstra yang dilakukan oleh UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) atau organisasi yang ada di kampus. 87 Tipologi Mahasiswa 48 Manajemen Organisasi
Ideologi Gender pemudalah yang menggerakkan bangsa ini. Sebagai bukti Revolusi Indonesia, tanpa roda penggerak pemuda tidak akan pernah terjadi. Siapa yang angkat bedil bergerilya? Tidak lain adalah pemuda. Reformasi 1998, kalau bukan pemuda dan mahasiswa yang turun ke jalan tidak mungkin Soeharto digulingkan. Selain urusan fisik seperti di atas, pemuda juga memiliki pemikiran yang jernih dan cemerlang. Sehingga lebih mudah menyerap perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan. Sebuah bangsa yang pemudanya cerdas, akan mengimpikan kemajuan bagi negaranya. Bagaimana dengan kita? H. Mahasiswa, seperti apa? Mahasiswa adalah eksponen dari pemuda atau kaum muda. Pemuda menunjukkan jenjang umur yang sudah dewasa yang sangat berbeda dari remaja yang masih penuh gejolak kelabilan. Bila disebut mahasiswa sudah tentu bukan hanya menunjukkan kedewasaan, melainkan juga kematangan berpikir karena ia mengenyam pendidikan yang layak di kampus. Menyandang gelar mahasiswa berarti menyandang predikat dewasa, cerdas, dan kreatif. Apakah kita sudah siap menyandang predikat itu? Mahasiswa itu cerdas, dewasa dan kreatif adalah idealitas. Cita-cita semua orang yang memasuki jenjang perkuliahan. Namun kenyataannya, mewujudkannya tidak mudah. Agak sulit, menyatukan yang di hati (niat) dengan sikap atau perbuatan sebagai mahasiswa. Ada orang yang 86 Tipologi Mahasiswa
memerlukan komitmen jangka panjang dan dilakukan secara berkelompok atau bersama-sama. Mereka ingin segera lulus, bahkan tidak sedikit mahasiswa yang tidak segan-segan dengan cara menerabas (nyontek, membuat skripsi "Aspal" dan lain-lain) agar segera lulus. Apakah hal ini merupakan indikator kurangnya dorongan prestatif di kalangan mahasiswa, masih perlu diteliti. G. Ada Apa dengan Pemuda dan Mahasiswa? Di awal-awal revolusi kemerdekaan, Bung Karno, dalam pidatonya pernah mengatakan; “beri aku seribu orang, maka aku akan memindahkan bukit itu, beri aku sepuluh pemuda maka aku akan mengubah Indonesia.” Dari perkataan Bung Karno tadi tersirat makna yang begitu jelas bahwa pemuda adalah tumpuan masa depan bangsa. Pilihan Bung Karno memilih pemuda bukanlah tanpa alasan atau pemanis retorika belaka, melainkan ada beberapa konsekuensi logis; pertama, pemuda adalah pemegang masa depan bangsa. Pohon tua tentu akan digantikan dengan tunas yang baru. Maka pernyataan pemuda adalah pemegang masa depan bangsa cukup logis. Karena para tetua kita tidak selamanya memegang amanah, satu saat nanti amanah itu akan diserahkan kepada kita, kaum muda. Hal ini seirama dengan adagium yang berbunyi, “kemajuan suatu bangsa terletak di tangan kaum mudanya, jika kaum mudanya baik, maka masa depan bangsa akan baik pula.” Kedua, pemuda adalah tulang punggung bangsa. Mengapa bisa dikatakan tulang punggung bangsa? Karena 85 Tipologi Mahasiswa
Ideologi Gender A. Prawacana K onsep penting yang harus dipahami dalam rangka membahas masalah kaum perempuan adalah membedakan antara konsep seks (jenis kelamin) dan konsep gender (konstruksi sosial). Pemahaman terhadap perbedaan antara konsep seks dengan gender sangat diperlukan untuk melakukan analisis dan memahami persoalanpersoalan mengenai ketidakadilan sosial yang menimpa kaum perempuan. Hal ini disebabkan karena adanya kaitan antara perbedaan gender (gender difference) dan ketidakadilan gender (gender inequlities) dengan struktur keadilan masyarakat seeara lebih luas. Pemahaman alas konsep gender sangat diperlukan mengingat dari konsep ini telah melahirkan suatu analisis gender. Analisis gender juga ikut mempertajam analisis kritis yang sudah ada. Misalnya analisis kelas yang dikembangkan oleh Karl Marx ketika melakukan kritik terhadap sistem kapitalisme. Demikian halnya dengan analisis kritis lain seperti analisis hegemoni ideologi dan kultural yang dikembangkan oleh Antonio Gramsci, merupakan kritik terhadap kelas yang dianggap sangat sempit. Dalam bidang epistemologi dan riset misalnya analisis kritis (critical theory) dan penganut mazhab Frankfurt yang memuatkan perhatian kepada perkembangan akhir 51 Ideologi Gender Mahasiswa akademisi juga masih bisa dibagi dua: Aliran substansialis dan ritualis. Aliran substansialis adalah akademisi yang yang menggeluti aktifitas perkuliahan dengan serius sebagaimana disebutkan di atas. Mereka mengerti, memahami, dan menguasai materi perkuliahan. Kecuali itu, mereka juga mempunyai visi misi, dalam arti target ending dari kompetensi keilmuan mereka tidak hanya dunia pragmatis (dunia kerja). Tapi mereka tahu dimana dan bagaiamana harus mengabdikan dan mentransformasikan keilmuan mereka. Sebut saja mereka sebagai akademisi visioner. Sedang akademisi aliran ritualis adalah mereka yang menjalani kuliah sebagai ritual harian saja. Bangun, berangkat kuliah, mengerjakan tugas, ikut UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester), dapat nilai, wisuda, dan cari kerja. Mereka tak punya kecintaan sama sekali dengan konsentrasi kelimuannya. Apalagi punya visi. Mereka mirip anggota DPR masa Orde Baru yang konon kerjanya hanya datang, duduk, dengar. Kuliah hanya sekedar rutinitas untuk melengkapi form lamaran kerja. Mahasiswa tipe inilah yang sebenarnya lebih tepat menyandang gelar “mahasiswa kupu-kupu”;(Kuliah-Pulang – KuliahPulang gitu!) F. Tipologi mahasiswa Hedonisme Kelompok mahasiswa di luar kelompok pemimpin dan aktivis yang jumlahnya paling besar lebih dari 90%. Sesungguhnya cenderung pada hura-hura yaitu kegiatan yang dapat memberikan kepuasan pribadi, tidak 84 Tipologi Mahasiswa
C. Mahasiswa Ideal Seringkali antara kedua tipe mahasiswa, aktifis dan akademisi, didudukkan berhadap-hadapan. Seorang aktifis tak mungkin menjadi akademisi. Begitu juga sebaliknya. Padahal idealnya mahasiswa itu harus mempunyai dua karakter sekaligus; aktifis dan akademisi. Keduanya sama-sama penting. Harus aktif kuliah. Juga harus berorganisasi. Mahasiswa tidak berorganisasi ibarat sayur kurang garam. Pintar saja sekarang tidak cukup. Teori saja tidak memadai. Butuh relasi, butuh informasi, butuh interaksi, butuh eksistensi, dan butuh promosi. Semua kelengakapan ini akan diadapat dalam organisasi. Agak aneh jika mahasiswa tidak tahu-menahu dunia organisasi. Kuliah dan berorganisasi ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisah-pisahkan. Alangkah idealnya jika mahasiswa dapat menjalankan tiga ajaran IMM: tertib ibadah, tertib kuliah, dan tertib organisasi. Inilah jati diri seorang aktifis sejati. HEBBATT! D. Varian mahasiswa aktivis Mahasiswa aktivis bisa dibagi lagi menjadi dua: Aliran struktural dan aliran kultural. Aliran struktural adalah para aktivis yang punya orientasi struktur. Dalam berorganisasi mereka punya kecenderungan untuk menduduki pos-pos kepengurusan. Sedang aliran kultural lebih suka mengisi kantong-kantong diskusi, pengayaan wacana, pengembangan intelektual, dan hal-hal yang bersifat idealisme-konseptual. Idealnya? Ya, kedua-duanya gitu! E. Varian mahasiswa akademisi 83 Tipologi Mahasiswa masyarakat kapitalisme dan dominasi epistemologi positivisme terutama kurang mendasar justru karena tidak ada pertanyaan tentang gender dalam kritiknya. Lahirnya epistemologi feminis dan riset feminis adalah penyempumaan dari kritis mazhab Frankfurt dengan adanya pertanyaan gender. Demikian pula analisis diskursus (discourse analysis) yang berangkat dari pemikiran Foucault dan Althusser yaitu merupakan kritik atas semangat reduksionisme dan anti pluralisme dari keseluruhan analisis di bawah pengaruh zaman modernisme. Perbedaan anatomi biologis utara laki-laki dan perempuan cukup jelas, akan telapi efek yang timbul akibat perbedaan jenis kelamin inilah menimbulkan perdebatan, karena ternyata perbedaan jenis kelamin secara biologi (seks) melahirkan seperangkat konsep budaya. Interpretasi budaya terhadap jenis kelamin inilah yang disebut gender. Sesugguhnya atribut dan beban gender tidak mesti ditentukan oleh analisis biologis. Jadi dapat dibedakanantara pemilikan penis dan vagina sebagai peristiwa sosial budaya dan pemilikan penis dan vagina sebagai peristiwa biologis. Yang pertama dapat disebut alat kelamin biologi (physical genital) dan yang kedua dapal disebut alat kelamin budaya (cultural genital). Secara biologis, alat kelamin adalah kontruksi biologis karena bagian anatomi tubuh seseorang, yang tidak langsung terkait dengan keadaan sosial budaya masyarakat (gender less). Akan tetapi seeara budaya, alat jenis kelamin menjadi faktor paling penting dalam melegitimasikan atribut 52 Ideologi Gender
gender Seseorang. Begitu atribut jenis kelamin kelihatan, maka pada saat itu kontruksi badaya mulai terbentuk. Atribut ini juga senantiasa digunakan untuk menentukan hubungan relasi gender, seperti pembagian fungsi, peran dan stalus dalam masyarakat. Aksesori yang membedakan antara bayi laki -Iaki dan perempuan adalah atribut gender (gender atribute). Jika atribut gender sudah jelas, misalnya seorang anak mempunyai penis, maka ia dikonsepsikan sebagai anak lakilaki. Ia diberikan pakaian dengan motif dan bentuk sebagaimana layaknya anak laki--laki lain. Jika mempunyai vagina, maka ia dikonsepsikan sebagai anak perempuan. Ia diberikan pakaian dengan motif dan bentuk sebagaimana layaknya anak perempuan lain. Kekhususan inilah yang melekat kepada diri anak tersebut yang kemudian disebut dengan identitas gender (gender identity). Begitu anak dilahirkan bukan saja dijemput dengan idenlitas budaya tetapi juga nilai budaya, antara laki-laki dan perempuan memiliki peran badaya yang berbeda dalam masyarakat. Perbedaan peran budaya ini ini biasanya diistilahkan dengan beban gender (gender Assignment). Pola pembenar beban gender dalam lintsan budaya masyarakal (cross cultural society) lebih banyak mengacu pada jenis kelamin (sex). Di dalam suatu negara yang masyarakatnya kental dengan nilai-nilai budaya dan teratama nilai-nilai ajaran agama Islam, merupakan suatu konsekuensi logis, apabila nilainilai tersebut menjadi sumber dari pembuatan berbagai produk hukum atau peraturan perundang-undangan. Hal ini juga berlaku terhadap nilai pembagian peran aturan laki-laki 53 Ideologi Gender ung untuk tidak lekas lulus, sebab perlu mencari pengalaman yang cukup melalui kegiatan dan organisasi kemahasiswaan. B. Tipe akademisi Aktifitas utama: concern mengurusi kuliah saja. Kelebihan mahasiswa tipe akademisi adalah mereka menonjol dalam hal perkuliahan. Mereka rajin masuk, bahkan tak pernah terlambat, rajin ke perpus, rajin baca buku, dan tak pernah ketinggalan tugas. Mereka biasanya juga lebih dekat dengan aparatur kampus terutama para dosennya. Namun sisi kekurangannya mereka kurang progresif dan kurang peka terhadap fenomena sosial, kurang peduli terhadap orang lain (individualistis), dan miskin relasi. Target mereka kuliah cepat selesai, predikat cumlaude, dan cepat dapat kerja (nikah deh! Ops! Bukan! Nerusin kuliah sampai ke luar negeri).. Mahasiswa yang mengaku pernah aktif turut dalam gerakan atau aksi protes mahasiswa di kampusnya beberapa kali (lebih dari satu kali). Mereka merasa menyenangi kegiatan tersebut, untuk mencari pengalaman dan solider dengan teman-temannya. Mahasiswa dari kelompok aktivis ini, juga cenderung tidak ingin cepat lulus, namun tidak ingin terlalu lama. Mereka tidak terlalu memersepsikan diri sebagai leader tomorrow namun pengalaman hidup perlu dicari di luar studi formalnya. Sudah barang tentu jumlah mereka itu lebih banyak daripada kelompok pemimpin. 82 Tipologi Mahasiswa
Tipologi Mahasiswa A. Tipe aktivis A ktifitas utama: kuliah dan berorganisasi. Kelebihan mahasiswa aktifis mereka relatif terlatih dalam hal kepemimpinan (leadership), pandai mengorganisir sesuatu (skill managerial), pandai menyusun planning (perencanaan), mempunyai kepekaan sosial, tanggap realitas, dan lebih peduli terhadap sesama. Hal ini disebabkan oleh aktifitas keseharian mereka yang hampir seluruhnya dihadapkan dengan dunia praksis. Tugas-tugas kepengurusan dan kepanitiaan serta beberapa tugas organisasi yang dibebankan membuat mereka terlatih untuk menghadapi berbagai problematika hidup. Intensitas pertemuan mereka dengan orang lain membuat mereka mawas diri dan belajar banyak hal dari berbagai watak manusia yang berbeda-beda sekaligus dapat menipiskan sifat egoisme mereka. Mahasiswa aktifis juga biasanya lebih kaya jaringan/relasi yang membuat mereka banyak mendapatkan berbagai informasi yang dibutuhkan. Target utama aktifis adalah kematangan pribadi. Individu mahasiswa yang mengaku pernah memprakarsai, mengorganisasikan, dan mempergerakan aksi protes mahasiswa di perguruan tingginya. Mereka itu umumnya memersepsikan mahasiswa sebagai kontrol sosial, moral force dan dirinya leader tomorrow. Mereka cender81 Tipologi Mahasiswa dan perempuan (baca: suami dan istri). Di dalam hukum Indonesia, kita mengenal sebuah undang--undang yang sangat strategis mengantar masalah pembagian peran ini, yakni undang-undang perkawinan nomor 1 tahun 1974, yang dalam pasalnya, antara lain pasal 31 dan 34 disebutkan, pria adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu ramah tangga. Selanjutnya, suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala kemampuannya, sementara istri wajib mengantar ramah tangga sebaik baiknya. Jadi ketimpangan antara laki-laki dan perempuan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya bisa ditinjau dari aspek sosial budaya, agama, polilik, hukum, dan aspek lain yang melingkupi sendi kehidupan manusia. Keberadaan budaya masyarakat inilah yang harus dinetralisisir dari segala bentuk kekerasan, sub-ordinasi dan marginalisasi terhadap hak asasi dan kehendak perempuan. Sehingga nantinya dalam proses transformasi sosial outputnya akan terwujud masyarakat yang adi1 dan berperikemanusiaan. B. Pengertian Gender Kata "Gender" berasal dari bahasa Inggris "gender" berarti "jenis kelamin". Dalam Webter New World Dictionary, gender diartikan sebagai "perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku". Di dalam Women Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membu54 Ideologi Gender
at pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Hilany M. Lips dalam bukunya yang terkenal Sex and Gender, an Introduction mengatakan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (cultural ecpectations for women and men), Pendapat ini sejalan dengan pendapat umumnya kaum feminis seperli Linda L. Lindsey, yang menganggap semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-Iaki atau perempuan adalah termasuk bidang kajian gender (what A given society difines as masculine or feminine is a component of gender). HT. Wilson dalam Sex and Gender mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-Iaki dan perempuan pada laki-laki dan perempuan. Elaine Showalter mengartikan gender lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial budaya. Ia menekankannya sebagai konsep analisis (analytic concept) yang dapat digunakan untuk menunjukkan sesuatu. Kantor Menteri Urusan Peranan Wanita dengan ejaan "gender". Gender diartikan sebagai "interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Gender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian karya yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan. Dari berbagli definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk 55 Ideologi Gender
Tipologi Mahasiswa mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial budaya. Gender dalam arti ini mendefinisikan laki-laki dan perempuan dari sudut non biologis. Konsep gender yakni suatu hal yang melekat pada kaum lakilaki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural sejarah perbedaan gender (gender difference) antara manum jenis laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. Oleh karena itu, terbentuknya perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan,diperkuat bahkan dikonstruksi secara sosial dan kultural melalui ajaran keagamaan maupun negara. C. Perbedaan Sex dan Gender Gender secara umum digunakan unttuk mengidentikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya. Sedangkan sex secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis. Istilah sex berkonsentrasi pada aspek biologis seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainnya. Sementara gender lebih banyak berkonsentrasi pada aspek sosial budaya, psikologis dan aspek-aspek non biologis lainnya. Secara fisik biologis, laki -laki dan perempuan tidak saja dibedakan oleh identitas jenis kelamin, bentuk dan anatomi biologi lainnya, melainkan juga komposisi kimia dalam tubuh. Perbedaan yang terakhir ini menimbulkan akibat fisik biologis seperti laki-laki 56 Ideologi Gender
yang mempunyai suara lebih besar, berkumis, berjenggot, pinggul lebih ramping dan dada yang datar. Sementara perempuan mempunyai suara lebih bening, buah dada menonjol, pinggul umumnya lebih besar dan organ reproduksi yang amat berbeda dengan laki-laki. D. Implikasi Perbedaan Biologis Terhadap Manusia Anatomi biologis dan kompotisi kimia tubuh manusia memiliki beberapa keunggulan sebagaimana dapat dilihat dalam perilaku manusia. Potensi keunggulan ini menjadikan manusia sebagai penguasa di kaumi (khalifah fil Ard). Perbedaan anatomi biologis dan komposisi kimia dalam tubuh oleh sejumlah ilmuwan dianggap berpengaruh pada perkembangan emosional dan kapasitas intelektual masing-masing urgen, misalnya, mengidentifikasi perbedaan emosional dan intelektual antara laki-laki dan perempuan yaitu: Kalangan feminis dan ilmuwan Marxis menolak anggapan diatas dan menyebutnya hanya sebagai bentuk stereotipe gender. Mereka membantah adanya skematisasi perilaku manusia berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Perbedaan Laki-Iaki (Masculine) Perempuan (Feminine) Sangat agresif Obyektif Lebih logis Kompetitif Mendunia Tidak selalu agresif Subyektif Kurang logis Kurang kompetitif Konsentrasi dirumah 57 Ideologi Gender yang butuh klarifikasi, agar tidak terjadi pendangkapan bias ketika seseorang memberikan tanggapan atau sebuah penegasan terhadap suatu pernyataan. c. nterruption Point of Information, dilakukan untuk menyampaiakan informasi tambahan yang dianggap membantu maupun informasi yang sifatnya teknis. d. Interruption Point of Personal Previllage, dilakukan jika terdapat pendapat yang terlalu menyudutkan pihak tertentu diluar substansi permasalahan. e. Interruption of Explanation, dilakukan untuk menjelaskan suatu pernyataan agar tidak ditanggapi keliru. 2. Pelaksanaan Interupsi a. Interupsi dilaksanakan dengan mengangkat tangan terlebih dahulu, dan berbicara setelah minta izin dari presidium sidang. b. Interupsi di atas hanya berlaku selama tidak menggangu persidangan. Apabila dalam persidangan, Presidium Sidang tidak mampu menguasai dan mengendalikan jalannya persidangan, maka panitia pengarah (SC) diberikan wewenang untuk mengambil alih jalannya persidangan, atas permintaan Presidium Sidang dan/atau Peserta Sidang. 78 Teknik Persidangan
3. Tiga Kali Ketukan a. Membuka atau menutup sidang secara resmi b. Mengesahkan putusan final atau akhir sidang. 4. Ketukan Berulang-ulang Menenangkan peserta sidang atau forum. Contoh kalimat pengucapannya: a. Membuka Sidang, “Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, sidang saya nyatakan dibuka, tok…tok…tok…..” b. Menutup Sidang, “Dengan mengucapkan alhamdulillahirabbilalamin, sidang saya nyatakan ditutup, tok…tok…tok….” c. Mengalihkan Pimpinan Sidang, “Dengan ini pimpinan sidang yang lama saya alihkan kepada pimpinan sidang yang baru, tok…” d. Menskorsing Sidang, “Dengan ini saya skorsing sidang selama lima belas menit, tok….tok…” e. Memberi peringatan kepada peserta sidang “tok…., peserta sidang harap tenang” F. Interupsi 1. Macam-Macam Interupsi (Interruption) a. Interruption Point of Order, Dilakukan untuk meminta penjelasan atau memberikan masukan yang berkaitan dengan jalannya pesidangan. (jika pembahasan melebar atau tidak konsisten. b. Interruption Point of Clarification, dilakukan jika terdapat penyampaian pendapat atau informasi 77 Teknik Persidangan anatomi tubuh dan genetika antara laki-laki dan perempuan didominisir dan dipolitisir terlalu jauh sehingga seolah-olah secara subtansial perempuan lebih rendah dari pada lakilaki. Anggapan bahwa laki-laki 1ebih kuat, lebih cerdas, dan emosional, lebih stabil, sementara perempuan lemah, kurang cerdas dan emosinal, kurang stabil hanyalah stereotipe gender. Para feminis menunjuk beberapa faktor yang dianggap sebagai agen pemasyarakatan (“agent of civilization”) stereotip gender, antara lain penganut bahwa susana keluarga, kehidupan ekonomi dan Susana sosial politik. Namun yang menjadi persoalan ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan gender (gender inequelities) bagi kaum laki-laki terutama terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan yakni: marginnalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotip atau dalam pelabelan negatif kekerasan (violence), beban kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden), serta sosialisasi ideologi nilai peran gender. Uraian berikut membahas secara lebih rinci masing-masing ketidakadilan gender (gender inequalities), sbb: E. Gender dan Marginalisasi Perempuan Proses marginalisasi yang mengakibatkan kemiskinan. Sesungguhnya banyak sekali terjadi dalam masyarakat dan negara yang menimpa kaum laki-laki dan perempuan 58 Ideologi Gender
yang disebabkan oleh berbagai kejadian, misalnya; penggusuran, bencana alam atau proses eksploitasi, namun adalah satu bentuk pemiskinan, disebabkan oleh gender. Ada beberapa perbedaan jenis dan bentuk, tempat dan waktu serta mekanisme protes marginalisasi kaum perempuan karena perbedaan gender tersebut. Dari segi sumbernya bisa berasal dari kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsir agama, keyakinan tradisi dan kebiasaan atau bahkan asumsi ilmu pengetahuan. Banyak studi telah dilakukan dalam rangka membahas program pembangunan pemerintah yang menjadi penyebab kemiskinan kaum perempuan. Misalnya program adaya pangan atau revolusi hijau (green revolution) secara otonomi telah menyingkirkan kaum perempuan dan pekerjaannya sehingga memiaskinkan mereka. Di Jawa misalnya, program revolusi hijau dengan memperkenatkan jenil padi unggul yang timbul lebih rendah, dan pendekatan panen dengan sistem tebang menggunakan bibit tidak lagi memungkinkan pemanenan menggunakan ani-ani padahal alat tersebut melekat dan digunakan oleh kaum perempuan. Akibatnya banyak kaum perempuan miskin di dan termarginalkan yakni semakin miskin dan tersingkir karena tidak mendapatkan pekerjaan disawah padi musim panen. Berarti program revolusi hijau dirancang tanpa mempertimbankan aspek gender. Marginalisasi kaum perempuan tidak saja terjadi di tempat pekerjaan, tetapi rugi dalam rumah tangga, masyarakat atau kultur atau bahkan bangsa. Marginalisasi terhadap 59 Ideologi Gender Permusyawaratan melalui Sidang Pleno yang dipandu oleh Panitia Pengarah (Steering Committee). b. Presidium Sidang bertugas untuk memimpin dan mengatur jalannya sidang seperti aturan yang disepakati bersama. c. Presidium Sidang berkuasa untuk memimpin dan menjalankan tata tertib persidangan. E Aturan Ketuk Palu Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan penggunaan palu sidang berkaitan dengan jumlah ketukannya.. 1. Satu Kali Ketukan. a. Menerima dan menyerahkan pimpinan siding, b. Mengesahkan keputusan poin perpoin (keputusan sementara), c. Menskorsing dan mencabut kembali skorsing yang waktunya tidak terlalu lama, sehingga peserta tidak perlu meninggalkan tempat siding, d. Mencabut kembali/membatalkan ketukan terdahulu yang dianggap keliru. e. Memberi peringatan kepada peserta sidang. 2. Dua Kali Ketukan Menskorsing atau mencabut kembali skorsing dalam waktu yang cukup lama, misalnya untuk lobbying, istrahat dan sebagainya yang waktunya 2 x 15 menit, dan sebagainya. 76 Teknik Persidangan
1. Peserta Peserta dalam proses persidangan dibagi menjadi dua, yaitu peserta penuh dan peserta peninjau. Peserta penuh adalah pengurus atau anggota penuh dalam suatu organisasi, sedangkan peserta peninjau adalah orang-orang yang diundang, atau pihak-pihak yang bukan anggota penuh namun hadir dalam persidangan. a. Hak suara penuh 1) Hak Bicara, yaitu hak untuk bertanya, mengeluarkan pendapat, mengajukan usulan kepada pimpinan sidang, baik secara lisan maupun secara tulisan. 2) Hak Suara, yaitu hak untuk ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan. 3) Hak Memilih, yaitu hak untuk menentukan pilihan dalam proses pemilihan. 4) Hak Dipilih, yaitu hak untuk dipilih dalam proses pemilihan. b. Hak suara peninjau 1) Hak yang dimiliki oleh peserta peninjau hanyalah hak bicara. C. Kewajiban peserta penuh dan peninjau 1) Menaati tata tertib persidangan/ permusyawaratan. 2) Menjaga ketenangan persidangan. 2. Presidium siding a. Presidium sidang dipilih dari dan oleh peserta 75 Teknik Persidangan perempuan sudah terjadi sejak di rumah tangga dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga yang laki-laki dan perempuan. Marginalisasi juga diperkuat oleh adat-istiadat maupun tafsir keagamaan misalnya banyak di antara sukusuku di Indonesia yang tidak memberi hak kepada perempuan untuk mendapatkan waris sama sekali. Sebagian tafsir keagamaan memberi hak waris setengah dari hak waris lakilaki terhadap kaum perempuan. F. Gender dan Subordinasi Pandangan gender ternyata bisa menimbulkan subordinasi terhadap perempuan. Anggapan bahwa perempuan itu irrasional atau emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Subordinasi karena gender tersebut terjadi dalam segala macam bentuk yang berbeda dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu. Di Jawa, dulu ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya akan ke dapur juga. Bahkan pemerintah pernah memiliki peraturan bahwa jika suami akan pergi belajar (jauh dari keluarga), dia bisa mengambil keputusan sendiri. Sedangkan bagi istri yang hendak tugas belajar ke luar negeri harus seizin suami. Dalam rumah tangga, masih sering terdengar jika keuangan keluarga sangat terbatas, dan harus mengambil kepulusan untuk menyekolahkan anak-anaknya, maka anak-anak laki akan mendapatkan prioritas utama. Praktis/ perbuatan seper60 Ideologi Gender
ti itu sesungguhnya berangkat dari kesadaran gender yang tidak adil. G. Gender dan Stereotipe Secara umum stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Celakanya, stereotipe aelalu merugikan dan menimbulkan kelidakadilan. Stereotipe yang diberikan kepada suatu suku bangsa tertentu misalnya Yahudi di Barat, Cina dan Asia Tenggara, telah merugikan suku bangsa tersebut. Salah satu garis stereotipe itu adalah yang bersumber dari pandangan gender. Banyak sekali ketidakadilan jenis kelamin tertentu, umumnya perempuan yang bersumber dari penandaan (stereotipe) yang dilakukan pada mereka. Misalnya penandaan yang berawal dari asumsi bahwa perempuan bersolek adalah dalam rangka memancing perhatian lawan jenisnya, maka tiap ada kasus kekerasan atau pelecehan seksual selalu dikaitkan dengan stereotipe ini. Bahkan jika ada pemerkosaan yang dialami oleh perempuan, masyarakat berkecenderungan menyalahkan korbannya. Masyarakat memiliki anggapan bahwa tugas utama kaum perempuan adalah melayani suami. Stereotipe ini berakibat wajar sekali bila pendidikan kaum perempuan dinomorduakan. Stereotipe terhadap kaum perempuan ini terjadi di mana-mana. Banyak peraturan pemerintah, aturan keagamaan, kultur dan kebiasan masyarakat yang dikembangkan karena stereotipe tersebut. 61 Ideologi Gender agar keputusan dapat dianggap sah. 8. Interupsi, yaitu memotong pembicaraan orang lain. 9. Prosidang, yaitu hasil ketetapan sidang/musyawarah yang telah dibukukan (tertulis). 10. Konsideran, yaitu proses menimbang dalam menetapkan putusan sidang. C. Jenis-jenis Sidang 1. Sidang Pleno a. Sidang pleno diikuti oleh seluruh peserta dan peninjau permusyawaratan, b. Sidang Pleno dipimpin oleh Presidium Sidang, c. Sidang Pleno membahas dan memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan permusyawaratan. 2. Sidang Komisi a. Sidang Komisi diikuti oleh anggota masingmasing komisi. b. Anggota masing-masing komisi adalah peserta penuh dan peserta peninjau yang ditentukan oleh Sidang Pleno, c. Sidang Komisi dipimpin oleh seorang pimpinan dibantu oleh Sekretaris Sidang Komisi. d. Pimpinan Sidang Komisi dipilih dari dan oleh anggota komisi dalam komisi tersebut. e. Sidang Komisi membahas materi-materi yang menjadi tugas dari komisi yang bersangkutan. D. Aturan Sidang 74 Teknik Persidangan
Teknik Persidangan A. Pengertian Persidangan S idang merupakan forum formal suatu organisasi guna membahas masalah tertentu dalam upaya menghasilkan keputusan, yang akan menjadi sebuah ketetapan. Keputusan dari persidangan ini akan mengikat seluruh elemen organisasi selama belum diadakan perubahan. Keputusan ini sifatnya final, sehingga berlaku bagi pihak yang setuju maupun tidak setuju, hadir atau tidak hadir dalam persidangan. B. Peristilah dalam Persidangan 1. Pending, yaitu menghentikan sidang sejenak dikarenakan terdapat kendala tekhnis atau prinsip. 2. Skorsing, yaitu menghentikan sidang sejenak untuk melakukan lobying, dikarenakan sulitnya mencapai kesepakatan antarpeserta sidang yang berseteru. 3. Lobying, yaitu proses diskusi antarpeserta sidang di luar pengaturan pimpinan sidang. 4. Pencerahan, yaitu upaya peserta sidang untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi antara peserta sidang yang lain. 5. Voting, yaitu proses pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak setelah jalan musywarah mengalami kebuntuan. 7. Quorum, yaitu syarat jumlah peserta sidang dimulai, 73 Teknik Persidangan H. Gender dan Kekerasan Kekerasan (violence) adalah serangan atau invansi (assault) terhadap fisik maupun integritas mental pslikologis seseorang. Kekerasan terhadap sesama manusia pada dasarya berawal dari berbagai sumber, namun jelas satu kekerasan terhadap satu jenis ke1amin tertentu yang disebabkan oleh bias gender ini. Kekerasan yang disebabkan oleh bias gender ini disebut gender related violence. Pada dasarnya, kekerasan gender disebabkan oleh ketidaksetaraan kekuatan yang ada dalam masyarakat. Banyak maestrim dan bentuk kejahatan yang bila dikategorikan sebagai kekerasan gender, diantaranya: Pertama, bentuk pemerkosaan terhadap perempuan, termasuk dalam perkawinan. Perkosaan terjadi jika seseorang melakukan paksaan untuk mendapatkan pelayanan seksual tanpa kerelaan yang bersangkutan. Kedua, tindakan pemukulan dan serangan fisik yang terjadi di rumah tangga (domestic violence), termasuk tindak kekerasan dalam bentuk penyiksaan terhadap anak-anak (cild abuse). Ketiga, bentuk penyiksaan yang mengarah pada organ alat kelamin (genital mutilation), misalnya penyunatan terhadap anak perempuan. Keempat, kekerasan dalam bentuk pelacuran (prostitution). Pelacuran merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan yang diselenggerakan oleh suatu mekanisme ekonomi yang merugikan kaum perempuan. Kelima, kekerasan dalam bentuk propaganda pornografi adalah jenis kekerasan lain terhadap perempuan. Jenis kekerasan ini termasuk jenis kekerasan non-fisik, yakni pelecehan terhadap kaum perempuan di62 Ideologi Gender
mana tubuh perempuan dijadikan obyek demikian juga dengan seseorang. Keenam, kekerasan dalam bentuk sterilisasi dalam Keluarga berencana (enforced sterilization). Keluarga berencana di banyak tempat ternyata telah menjadi sumber kekerasan terhadap perempuan. Ketujuh, adalah jenis kekerasan terselubung (molestion), yakni memegang atau menyentuh bagian tertentu dari tubuh perempuan dari berbagai cara dan kesempatan tanpa kerelaan si pemilik tubuh. Jenis kekerasan seperti ini sering terjadi di tempat pekerjaan ataupun di tempat umum, seperti dalam bus. Kedelapan, tindakan kejahatan terhadap perempuan yang paling umum dilakukan di masyarakat yakni yang dikenal dengan pelecehan seksual atau sexual and emotional harrasment. Ada beberapa bentuk yang bisa dikategorikan pelecehan seksual, diantaranya adalah: 1. Menyampaikan lelucon jorok secara vulgar kepada seseorang dengan cara dirasakan dengan sangat sensitif. 2. Menyakiti atau membuat malu seseorang dengan omongan kotor. 3. Menginterogasi seseorang tentang kehidupan atau kegiatan seksualnya atau kehidupan pribadinya. 4. Meminta imbalan seksual dalam rangka janji untuk mendapatkan kerja atau untuk mendapatkan promosi atau janji-janji lainnya. 5. Menyentuh atau menyenggol bagian tubuh tanpa ada minat atau tanpa seizin dari yang bersangkutan. 63 Ideologi Gender
Teknik Persidangan I. Gender dan Beban Kerja (Double Burden) Adanya anggapan bahwa kaum perempuan memiliki sifat memelihara dan rajin serta tidak cocok untuk menjadi kepala rumah tangga, berakibat bahwa semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi tanggung jawab perempuan. Manifestasi ketidakadilan gender dalam bentuk marginalisasi ekonomi, subordinasi, kekerasan, stereotipe dan beban kerja tersebut terjadi di berbagai tingkatan. Pertama, manifestasi ketidakadilan gender tersebut teljadi di tingkat negara. Kedua, manifestasi ketidakadilan gender terjadi di tempat kerja, organisasi, maupun dunia pendidikan. Ketiga, manifestasi ketidakadilan gender juga terjadi pada adaptistiadat, masyarakat di banyak kelompok etnik, dalam kultur suku-suku atau dalam tradisi keagamaan. J. Perpektif Teori Gender Dalam studi gender dikenal beberapa teori yang cukup berpengaruh dalam menjelaskan latar belakang perbedaan dan persamaan peran gender laki-laki dan perempuan, antara lain sebagai berikut: 1. Teori Psikoanalisa/ Identifikasi Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Teori ini mengungkapkan bahwa perilaku dan kepribadian laki-laki dan perempuan sejak awal ditentukan oleh perkembangan seksualitas. Freud menjelaskan kepribadian seseorang tersusun atu tiga struktur. 64 Ideologi Gender
Pertama, id, sebagai pembawaan sifat-sifat fisik biologis seseorang sejak lahir, termasuk nafau seksual dan insting yang cenderung selalu agresif. Kedua, ego, bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya menjinakkan keinginan agresif dari id. Ego berusaha mengatur antara keinginan subyektif individual dan tuntutan obyektif realitas sosia. Ketiga, super ego, berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan kesempurnaan hidup, lebih dari sekedar mencari kesenangan dan kepuasan. 2. Teori Fungsionalis Struktural Teori ini berangkat dariuumsi bahwa suatu masyarakat terdiri atas berbagai bagian yang saling mempengaruhi. Teori ini mencari unsur-unsur mendasar yang berpengaruh di dalam suatu masyarakat, mengidentifikasi fungsi setiap unsur, dan menerangkan bagaimana fungsi unsur-unsur tersebut didalam masyarakat. Sebenarnya teori struktura1is dan teori fangsionalis dibedakan oleh beberapa ah1i, seperti Hilany M. Lips dan SA. Shield. Teori strukturalis lebih condong ke persoalan sosiologis, sedangkan teori fungsionalis lebih condong ke persoalan psikologis. R. Dahrendolf, salah seorang pendukung teori ini, meringkaskan prinsip-prinsip teori ini sebagai berikut: 1. Suatu masyarakat adalah suatu kesatuan dari berbagai bagian. 2. Sistem-sistem sosial senantiesa terpelihara karena mempunyai perangkat mekanisme kontrol. 3. Ada bagian-bagian yang tidak berfungsi tetapi 65 Ideologi Gender Hak-Hak Dalam Bidang Politik. Tidak ditemukan ayat/hadits yang melarang kaum perempuan untuk andil dalam dunia polilik. Hal ini terdapat dalam QS. &I-Taubah (9): 71, QS. al-Mumtahanah (160): 12. 2. Hak-hak dalam Memilih Pekerjaan. Memilih pekerjaan bagi perempuan juga tak ada larangan baik itu di dalam atau di luar rumah, baik secara mandiri atau secara kolektif, baik di lembaga pemerintah atau swasta. Selama pekerjaan tersebut dilakukan dalam suasana terhormat, sopan dan tetap memelihara agamanya, serta tetap menghindari dampak negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya. 3. Hak memperoleh pekerjaan. Kalimat pertama yang diturunkan daIam Al-Qur'an adalah kalimat perintah, yaitu perintah untuk membaca (iqra'). Perintah untuk menuntut ilmu pengetahuan tidak hanya bagi kaum laki-Iaki lelapi juga perempuan "menuntut ilmu pengetahuan difardlukan kepada kaum Muslim lakiIaki dan perempuan". 70 Ideologi Gender
perlakuan seks kaum laki-Iaki dan dianggap sebagai bebandalam strata sosial. Itulah sebabnya, dalam budaya masyarakat Arab ketika itu bukan sesuatu yang naif untuk "menyingkirkan" perempuan dalam kehidupan dan pergaulan mereka. Tidak segan-segan mereka membunuh, bahkan mengubur anak perempuan mereka. AI-Qur'an sendiri secara langsung menyinggung hal ini dan menyindir mereka yang berpikiran picik yang menganggap anak, khususnya perempuan, hanya sebagai beban sosial dan ekonomi. QS. Al-An'am (16): 151: … Dan janganlah kamu membubuh anakanak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dam kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yag tampak diataranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membubuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahaminya”. Islam mengakui adanya perbedaan (distintion) antara laki-Iaki dan perempuan, bukan pembedaan (discrimination). Perbedaan tersebut didasarkan atas kondisi fisik biologis perempuan yang ditakdirkan berbeda dengan laki-laki., namun perbedaan itu tidak dimaksudkan untuk memuliakan yang satu dan merendahkan yang lainnya. Dalam Islam, kaum perempuan juga memperoleh berbagai hak sebagaimana halnya kawan laki-laki, diantaranya : 69 Ideologi Gender bagian-bagian itu dapat dipelihara dengan sendirinya atau hal itu melembaga dalam waktu yang cukup lama. 4. Perubahan terjadi secara berangsur-angsur. 5. Integrasi sosial dicapai melalui persepakatan mayoritas anggota masyarakat terhadap seperangkat nilai. Sistem nilai adalah bagian yang paling stabil di dalam suatu sistem masyarakat. 3. Teori Konflik Dalam soal gender, teori konflik diidentikkan dengan teoti Marx karena begitu kuat pengaruh Karl Marx di dalamnya. Teon ini berangkat dari asusmsi bahwa dalam susunan di dalam suatu masyarakat terdapat beberapa kelas yang saling memperebutkan pengaruh dan kekuasaan. Siapa yang memiliki dan menguaai sumber-sumber produksi dan distribusi merekalah yang memiliki peluang untuk memainkan peran utama di dalamnya. Marx yang kemudian dilengkapi oleh Friedrich Engels mengemukakan satu gagasan menarik bahwa perbedaan dan ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan, tidak disebabkan oleh perbedaan sosioiogis, tetapi merupakan bagian dari penindasan, dari kelas yang berkumpil dalam relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga (family). Hubungan suami dan istri tidak ubahnya dengan hubungan proletar dan borjuis, hamba dan tuan, pemeras dan yang diperas. Dengan kata lain, ketimpangan gender 66 Ideologi Gender
dalam masyarakat bukan karena faktor biologis atau pemberian Tuhan (divine creation), tetapi karena konstruksi masyarakat (social contribution). 4. Teori-teori Feminis Pandangan feminis terhadap perbedaan peran gender laki-laki dan perempuan secara umum dapat dikategorikan kepada tiga kelompok sebagai berikut: Feminisme Liberal Tokoh aliran ini antara lain Margaret Faller (1810-1850), Harrief Martineau (1802-1876), Anglina Grimke (1792- 1873), dan Susan Anthony (1820-1906). Dasar pemikiran kelompok ini adalah semua manusia laki-laki dan perempuan, diterapkan seimbang dan serari dan mestinya tidak terjadi penindasan antara satu dengan lainnya. Feminisme Marxis-Solialis Aliran ini mulai berkembang di Jerman dan Rusia dengan menampilkan beberapa tokohnya, seperti Clara Zefkir (1857- 1933) dan Rosa Luxemburg (1871-1919). Berdasarkan jenis kelamin dengan melontarkan isu bahwa ketimpangan peran antara kedua jenis kelamin ini sesunggubnya lebih disebabkan oleh faktor budaya alam. Feminisme Radikal Aliran ini mulai muncul di awal abad ke-19 dengan mengangkat isu besar, menggugat semua lembaga yang dianggap merugikan perempuan, karena term ini jelas-jelas menguntungkan laki-laki Lebih dari itu, di antara kaum feminis radikal ada yang lebih ekstrim, tidak hanya menuntut per67 Ideologi Gender samaan hak dengan laki-laki tetapi juga persamaan seksual, dalam arti kepuasan seksual juga diperoleh dari sesama perempuan sehingga mentolelir praktek lesbian. 5. Teori Sosio-Biologis Teori ini dikembangkan oleh Pierre Van Den Berghe, Lionel Tiger dan Robin Fox dan intinya bahwa semua pengaman peran jenis kelamin tercermin dari “biogram” dasar yang diwarnai manusia modern dari nenek moyang primat dan hominid mereka. Integritas keunggulan laki-Iaki tidak saja ditentukan oleh faktor biologis tetapi juga elaborasi kebudayaan atau biogram manusia. Teori ini disebut “bio-sosial” karena melibatkan faktor biologis dan sosiaI dalam menjelaskan relasi gender. K. Kodrat Perempuan dalam Islam Kodrat berasaI dari bahasa Arab qadara/qadira,- yaqduru/ yaqdiru - qudratan, Da1am kamus Munjid fi allughah Wal al-A'Iam, kata ini diartikan dengan qawiyyun 'ala as-syai (kuasa mengerjakan senatu), ja’alajhu 'ala miqdarih (membagi sesuatu menurut porsinya), atau qashshara (memendekkan/membatasi). Dari akar kata qadara/ qadira ini juga lahir kata taqdir (qaddra-yuqaddira - taqdir). Bagaimana sesungguhnya pandangan Islam (aQur'an dan Hadits) dalam menempatkan perbedan jenis kelamin daIam konsep pranata sosial. Catatan sejarah tentang kedudukan dalam struktur sosial, khususnya masyarakat Arab pra-Islam sangat memprihatinkan. Perempuan dipandang tidak lebih dari "obyek", 68 Ideologi Gender