The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-BOOK UNTUK JURUSAN S1-ILMU KEOLAHRAGAAN

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by upitupitt, 2022-05-11 09:12:47

KESEHATAN OLAHRAGA

E-BOOK UNTUK JURUSAN S1-ILMU KEOLAHRAGAAN

Keywords: OLAHRAGA

otot-otot agonis berkontraksi. Bersama-sama, sinyal rangsang ke otot agonis
dan sinyal penghambatan ke antagonis disebut sebagai refleks peregangan.
Menghambat otot antagonis diperlukan agar otot agonis dapat menghasilkan
gerakan sendi refleksif tanpa dibatasi oleh kekuatan otot lawan di sisi lain
dari sendi. Refleks peregangan sangat penting dalam mengontrol gerakan dan
mempertahankan postur pada tingkat bawah sadar.

Serat intrafusal sebenarnya adalah kumpulan 4 hingga 20 serabut
otot rangka kecil khusus. Karena kurangnya serat intrafusal yang terletak di
bagian tengah spindel otot, wilayah pusat tidak dapat berkontraksi, itu hanya
dapat direntangkan. Ini adalah wilayah pusat poros otot yang mengirimkan
informasi sensorik ke CNS.

Sebaliknya, setiap ujung spindel otot memiliki serat intrafus yang
lebih terkonsentrasi, yang memungkinkan daerah ujungnya sedikit
memendek. Daerah ujung dari spindel otot dipersarafi oleh? neuron motorik.
Ketika neuron motorik dirangsang untuk menyebabkan kontraksi otot,neuron
motorik juga diaktifkan (disebut alfagamma coactivation), yang
menyebabkan ujung serat intrafusal berkontraksi. Kontraksi sedikit ini
menghasilkan pemeliharaan sensitivitas reseptor peregangan, bahkan saat
serat otot ekstrafusal memendek. Jika tidak untuk pemendekan serat
intrafusal ketika serat extrafusal memendek, spindel akan menjadi kendur.
Pemendekan ujung serat intrafusal menjaga daerah pusat spindel kencang,
mempertahankan sensitivitas spindel sebagai monitor perubahan panjang di
dalam otot.

B. Respon Akut Neuromuskular Pada saat Olahraga
Hingga titik ini dalam diskusi, fokusnya adalah pada menyajikan

50

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

landasan untuk memahami struktur spesifik dari sistem saraf dan bagaimana
mereka berkontribusi pada kontrol motorik. Bagian ini mengeksplorasi
bagaimana sistem neuromuskular merespon selama serangan akut olahraga.
Fokusnya adalah pada kemampuan sistem neuromuskular untuk mengatur
produksi kekuatan untuk tingkat yang diperlukan untuk gerakan dan
partisipasi dalam intensitas kegiatan yang berbeda.

1. Contractile Characteristics of Motor Units
Fungsi unit motor yang membentuk otot rangka adalah
menghasilkan gaya. Unit motor didefinisikan sebagai neuron motorik dan
semua serat otot rangka yang diinfestasi. Karakteristik fungsional dari unit
motor ditentukan oleh jenis serat otot yang dikandungnya. Jenis serat telah
diidentifikasi oleh dua metode umum. Salah satu metode menggunakan
potongan irisan kecil otot yang diperoleh dengan teknik biopsi otot untuk
melakukan pewarnaan histokimia. Metode ini mengklasifikasikan jenis serat
dengan kecepatan kontraksi (atau "kedutan" kecepatan) yang diperkirakan
oleh reaksi myofibrillar-ATPase dalam serat yang berbeda dalam irisan otot.
ATPase adalah enzim yang membagi adenosine triphosphate (ATP) pada
kepala myosin, dan tampaknya ada tingkat yang berbeda dari aktivitas
ATPase dalam berbagai jenis serat. Biasanya, serat tipe I mengandung
ATPase yang membagi ATP pada tingkat yang lebih lambat daripada ATPase
dalam serat tipe II.
Secara umum, semakin cepat ATPase memecah ATP pada kepala
myosin, semakin cepat stroke daya dari siklus jembatan silang dapat terjadi.
Metode kedua menggunakan serat otot tunggal dan proses yang disebut
elektroforesis yang mengidentifikasi protein dari isoform rantai berat myosin
(MHC) yang membentuk filamen tebal dalam serat otot. Penelitian telah

51

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

menunjukkan bahwa kedua metode klasifikasi ini berkorelasi dengan baik, 5
dan sering nama-nama jenis serat dari dua metode ini digunakan secara
bergantian. Atas dasar metode ini mengetik serat, tiga jenis serat otot rangka
umum telah diidentifikasi.

Serat tipe I mengandung isoform MHC yang biasanya terkait dengan
serabut-serabut “lambat kedutan”; mereka cenderung memiliki kecepatan
kontraktil yang lambat yang ditentukan oleh aktivitas ATPase dan
menggunakan karakteristik metabolik oksidatif. Serat tipe IIa mengandung
isoform MHC dari satu subtipe dari serat “kedutan cepat” yang dikenal
memiliki karakteristik kontraktil cepat, aktivitas enzim ATPase cepat, dan
menggunakan kombinasi karakteristik metabolik oksidatif dan glikolitik.
Terakhir, serat tipe IIx mengandung isoform MHC dari subtipe lain dari serat
“kedutan cepat” yang juga memiliki karakteristik kontraktil cepat dengan
aktivitas ATPase yang lebih cepat, tetapi terutama karakteristik metabolik
glikolitik. Sebuah unit motor mungkin memiliki kurang dari 10 hingga lebih
dari 1.000 serat otot yang dipersarafi oleh neuron motorik yang sama. Semua
serat otot dalam unit motor adalah dari jenis serat yang sama; Oleh karena
itu, ketika unit motor diaktifkan untuk berkontraksi, semua serat yang
terkandung di dalamnya akan bereaksi sama dalam hal kecepatan kontraksi
dan kemampuan untuk menghasilkan dan mempertahankan kekuatan.

Unit motor diklasifikasikan berdasarkan jenis serat otot yang
dipersarafi oleh? motor neuron. Karakteristik unit motor yang berbeda
dibahas. Sebagai penyegaran, tipe I atau unit motor kedutan lambat terdiri
dari? neuron motorik dengan tubuh sel yang relatif kecil dan akson
berdiameter kecil. Selain itu, unit motorik tipe I biasanya menginervasi lebih
sedikit serat otot (yaitu,? 300). Sebaliknya, unit motor tipe II atau kedutan

52

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

cepat terdiri dari? neuron motorik dengan sel tubuh yang lebih besar dan
akson berdiameter besar yang mempersarafi 300 serat otot.8 Perbedaan kecil
namun penting diamati antara unit motor tipe IIa dan IIx. Misalnya, neuron
motorik yang mempersarafi serat IIx memiliki tubuh sel yang lebih besar
daripada neuron motorik yang mempersarafi serat IIa, dan diameter akson
neuron motorik ini sedikit lebih besar dalam unit motor IIx. Ukuran unit
motor (serat per motor neuron) bervariasi dalam unit motorik tipe II; namun,
subkategori unit motor dua tipe II dicirikan dengan memiliki lebih banyak
serat per unit motor dibandingkan dengan unit motor tipe I. Pengaturan ini
berarti bahwa ketika unit motor tipe I tunggal dirangsang untuk berkontraksi,
serat otot yang jauh lebih sedikit diaktifkan daripada ketika unit motor
tunggal tipe II dipanggil untuk menjalankan fungsinya.

Perbedaan lain antara jenis unit motor memainkan peran dalam
produksi gaya. Biasanya, serat-serat di unit motor tipe II mencapai tegangan
puncak lebih cepat daripada serat yang ditemukan di unit motor tipe I karena
isoform MHC yang lebih cepat dan aktivitas myosin ATPase yang lebih
cepat. Secara keseluruhan, unit motor tipe II juga mampu menghasilkan gaya
yang lebih kuat daripada unit motorik tipe I terutama karena ada lebih banyak
serat otot di setiap unit motor tipe II daripada di unit motor tipe I yang khas.
Namun, meskipun gaya yang lebih banyak biasanya dihasilkan oleh unit
motor tipe II, unit motor tipe I lebih tahan terhadap lelah; yaitu, tipe I motor
unit mampu mempertahankan kekuatan maksimal untuk jangka waktu yang
lebih lama. Sedikit perbedaan dalam properti yang menghasilkan gaya juga
ada antara tipe IIa dan tipe IIx. Tipe unit motor IIx menghasilkan gaya yang
lebih besar pada kecepatan pemendekan sedikit lebih cepat daripada tipe IIa,
sedangkan serat jenis IIa lebih tahan terhadap lelah dan lebih mudah direkrut

53

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

daripada tipe IIx.
2. Regulation of Force Production
Otot skeletal mampu menghasilkan berbagai macam produksi otot

untuk tugas-tugas mulai dari aktivitas fisik untuk kehidupan sehari-hari
sampai ke partisipasi yang intens dalam kegiatan olahraga. Dua mekanisme
menggambarkan kemampuan otot untuk memvariasikan produksi kekuatan
kontraktilnya. Kedua tugas ini adalah fungsi dari sistem saraf. Pertama, CNS
mengatur produksi gaya dengan menentukan jumlah dan ukuran unit motor
yang diaktifkan untuk berpartisipasi dalam produksi gaya di dalam otot. Ini
disebut sebagai perekrutan unit motor. Kedua, setelah direkrut, laju
pembakaran yang turun motor neuron ke serat-serat di dalam unit motor dapat
disesuaikan oleh CNS, yang mengarah ke penyesuaian dalam produksi paksa
dalam unit motor. Fenomena ini disebut sebagai pengkodean tingkat.
Bersama-sama, perekrutan dan pengkodean tingkat menentukan jumlah
kekuatan yang dapat dihasilkan kontraksi otot (Gambar 4.4).

54

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

Gambar 4.4. Latihan Squat Punggung.

yang berat membutuhkan sistem saraf pusat untuk meningkatkan perekrutan
unit motorik di otot pinggul dan lutut dan menyesuaikan laju impuls melalui
pengkodean laju untuk meningkatkan pengembangan kekuatan.

A. Motor Unit Recruitment
Perekrutan unit motor membutuhkan soma (atau badan sel) dari
neuron motorik di sumsum tulang belakang untuk menerima stimulus
ambang. Rangsangan pada soma neuron motorik mungkin berasal dari pusat
otak yang lebih tinggi yang menstimulasi gerakan sukarela, tetapi mungkin
juga menerima rangsangan dari reseptor yang berbeda di otot (yaitu, spindel
otot dan GTO) yang mungkin bersifat rangsang atau penghambatan. Potensi
aksi dari neuron rangsang harus melebihi pengaruh neuron penghambatan
untuk mencapai ambang dan, sebagai hasilnya, menstimulasi soma neuron
motorik.

55

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

Perekrutan unit motor membutuhkan soma (atau badan sel) dari
neuron motorik di sumsum tulang belakang untuk menerima stimulus
ambang. Rangsangan pada soma neuron motorik mungkin berasal dari pusat
otak yang lebih tinggi yang menstimulasi gerakan sukarela, tetapi mungkin
juga menerima rangsangan dari reseptor yang berbeda di otot (yaitu, spindel
otot dan GTO) yang mungkin bersifat rangsang atau penghambatan. Potensi
aksi dari neuron rangsang harus melebihi pengaruh neuron penghambatan
untuk mencapai ambang dan, sebagai hasilnya, menstimulasi soma neuron
motorik.

Seperti disebutkan sebelumnya, beberapa jenis motor yang berbeda
ukurannya berbeda (tipe I <tipe IIa <tipe IIx). Ukuran mengacu pada
diameter, luas permukaan, dan kapasitansi dari soma? motor neuron. Banyak
peneliti percaya bahwa urutan di mana unit-unit motor di dalam sebuah pool
unit motor direkrut bergantung pada kebutuhan kekuatan dan terkait dengan
ukuran soma dari motor neuron. Ini disebut sebagai prinsip ukuran rekrutmen
unit motor. Karena unit motor tipe I memiliki somas terkecil, lebih mudah
untuk mencapai ambang dan mereka dianggap sebagai unit motor “ambang
rendah”.

Unit motorik tipe II yang besar memiliki somas yang relatif besar
dan dianggap sebagai unit motor "ambang tinggi", dengan IIx memiliki
somas yang lebih besar daripada IIa. Oleh karena itu, unit motor tipe IIx
memiliki ambang tertinggi dan membutuhkan stimulus terbesar untuk
perekrutan unit motor ini. Untuk memahami diskusi berikut, harus disebutkan
bahwa, di dalam sistem saraf, ketika intensitas stimulus meningkat, laju
penembakan neuron meningkat. Ini berarti bahwa gelombang potensial aksi
dengan interval waktu yang panjang antara mewakili stimulus cahaya, dan

56

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

gelombang potensial aksi dengan interval waktu yang lebih pendek
menghasilkan respons yang kuat.

Jalur motorik menurun di sumsum tulang belakang menentukan
tingkat stimulasi ke soma dari setiap neuron motorik dalam unit motorik
kolam ke otot. Akibatnya, pada tingkat stimulasi rendah, unit motor ambang
rendah direkrut, tetapi hanya tingkat stimulasi tercepat yang akan
memungkinkan penjumlahan impuls ke neuron motorik untuk mencapai
ambang di neuron motor yang mengaktifkan unit motor ambang tertinggi.

Tingkat stimulasi di antara akan merekrut unit motor yang responsif
terhadap tingkat stimulasi. Ketika tingkat stimulasi berubah, unit motor
dikeluarkan dalam urutan yang dapat diprediksi, unit motor yang direkrut
terakhir ketika gaya perlu ditingkatkan adalah unit pertama yang
dinonaktifkan ketika gaya mulai berkurang. Ketika suatu aktivitas
membutuhkan peningkatan jumlah produksi kekuatan dari otot yang bekerja,
semakin banyak unit motor dirangsang. Ketika sedikit tenaga diperlukan,
hanya beberapa unit motor yang diaktifkan. Akibatnya, mengikuti prinsip
ukuran, kontraksi otot rangka melibatkan perekrutan progresif tipe I dan
kemudian tipe II serat otot selama kegiatan yang memerlukan tuntutan
kekuatan yang meningkat. Secara khusus, unit motor direkrut dalam urutan
sebagai berikut: Tipe I, tipe IIa, dan tipe Iix.

B. Rate Coding
Ketika stimulus tunggal, ambang diterima, unit motor direkrut dan
merespon dengan menghasilkan respons yang disebut kedutan sederhana.
Segera setelah stimulus, ada fase laten pendek yang berlangsung beberapa
milidetik yang memungkinkan untuk proses eksitasi (dari kopling eksitasi-
kontraksi) terjadi. Fase kedua kedutan adalah fase kontraksi dimana

57

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

penyambungan lintas jembatan dan pemendekan sarkomer menciptakan
ketegangan pada serabut otot. Jika tidak ada stimulus lebih lanjut yang
diterima, fase relaksasi kedutan terjadi saat jembatan silang dilepas dan
ketegangan berkurang kembali ke tingkat istirahat. Biasanya, ketika unit
motor distimulasi melalui motor neuron, ia menerima gelombang potensial
aksi yang berurutan (atau impuls saraf). Jika potensi aksi diterima sebelum
fase relaksasi stimulus sebelumnya selesai, ketegangan yang dihasilkan oleh
kedutan berturut-turut membangun satu sama lain (proses yang disebut
penjumlahan).

Peningkatan bertahap dalam tingkat pelepasan potensial aksi ke
motor neuron menghasilkan peningkatan linier dalam produksi gaya. Tingkat
debit maksimum berbeda di semua unit motor dan tergantung pada kebutuhan
kekuatan tugas yang sedang dilakukan. Dalam aktivitas yang memerlukan
peningkatan gaya secara bertahap, tingkat pelepasan maksimal berkisar dari
20 hingga 60 pulsa per detik (pps), sedangkan tingkat pelepasan maksimal
dapat mencapai hingga 100 pps selama kontraksi singkat yang cepat. Tingkat
tumpang tindih antara kedutan berturut-turut ditentukan oleh tingkat di mana
potensial aksi dihasilkan. Pengkodean tarif adalah istilah yang
menggambarkan pengaturan kontrol sistem saraf atas tingkat di mana motor
melepaskan aksi potensial neuron. Untuk penjelasan lebih rinci tentang
pengkodean tarif

Dengan meningkatnya kekuatan otot, kekuatan rangsangan
meningkat (tingkat pengkodean meningkat); sebagai akibatnya, memaksa
produksi dalam unit motor meningkat karena kedutan-kedutan ini
berangkulan dengan laju pengaktifan yang lebih cepat dan lebih cepat, hingga
mencapai titik tertentu. Semua unit motor memiliki tingkat pembakaran

58

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

maksimal di mana tidak ada potensi aksi pengiriman yang lebih cepat akan
menghasilkan produksi kekuatan yang lebih besar. Ketika berkedut-kedut
merangkum ke titik produksi kekuatan maksimal, otot mengalami tetanus.
Untuk banyak unit motorik di dalam otot, ketika unit motor diaktifkan pada
80 hingga 100 pps, mereka biasanya mencapai produksi kekuatan maksimal.
Ketika unit motor dirangsang dengan laju pembakaran lebih cepat daripada
tingkat tetanic, tidak ada kekuatan yang lebih besar yang biasanya dihasilkan;
Namun, peningkatan laju pengembangan gaya terjadi, sehingga kekuatan
maksimal tercapai lebih cepat setelah stimulus awal. coding menentukan
produksi gaya otot. Kedua proses saraf ini bekerja bersamaan untuk
memastikan pencapaian gerakan tubuh selama aktivitas fisik. Para peneliti
telah menentukan bahwa kecepatan kontraksi dikontrol untuk sebagian besar
oleh tingkat pengkodean, sedangkan kekuatan yang dihasilkan selama
kontraksi otot lebih terkait dengan perekrutan unit motor.

C. Respon Kronik Adaptasi Neuromuskular Pada Saat Olahraga
Sampai saat ini, penyesuaian akut dari sistem neuromuskular

sebagai respons terhadap serangan fisik tunggal telah didiskusikan. Sisa bab
ini berfokus pada adaptasi sistem neuromuskular terhadap stres yang terkait
dengan aktivitas fisik jangka panjang

1. Kekuatan Otot
Dua faktor utama yang dikaitkan dengan perubahan kekuatan
kontraktil adalah ukuran otot dan sifat-sifat saraf. Sekitar 50% dari perbedaan
kekuatan di antara individu dapat dipertanggungjawabkan oleh ukuran otot,
seperti bahwa serat otot dengan luas permukaan terbesar mampu
menghasilkan kekuatan yang paling besar. Meskipun ukuran otot merupakan

59

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

penyumbang signifikan untuk memaksa produksi, ada disosiasi antara
peningkatan kekuatan dan peningkatan ukuran otot, terutama pada tahap awal
pengondisian otot. Penelitian telah menunjukkan bahwa pada tahap awal
program pelatihan resistensi, peningkatan kekuatan otot mendahului
hipertrofi otot. Dengan demikian, adalah mungkin untuk mencapai
peningkatan kekuatan tanpa peningkatan mencolok di area cross-sectional di
otot. Keuntungan awal dalam kekuatan otot tanpa peningkatan luas
penampang berhubungan dengan adaptasi saraf.

Adaptasi syaraf tampaknya membuat kontribusi terbesar mereka
terhadap penguatan kekuatan dalam 8 sampai 10 minggu pertama
pengkondisian (Gambar 4.5). Setelah sekitar 10 minggu pelatihan ketahanan,
hipertrofi menjadi faktor yang lebih menonjol dalam peningkatan kekuatan.
Meskipun adaptasi saraf spesifik yang bertanggung jawab untuk peningkatan
kekuatan otot tidak diketahui, peningkatan dorongan saraf ke otot
berolahraga, perubahan koordinasi otot yang terlibat dalam tugas, dan
sinkronisasi aktivasi unit motor bisa menjelaskan penguatan kekuatan di
awal.

60

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

Gambar 4.5 Kontribusi Relatif Adaptasi Saraf Dan Otot.
untuk meningkatkan kekuatan dengan pelatihan dari waktu ke waktu.
Kekuatan meningkat sejak awal selama pelatihan karena perbaikan cepat
dalam fungsi neuromuskular dan perbaikan hipertrofi yang sangat bertahap.
Setelah adaptasi saraf dimaksimalkan, peningkatan hipertrofi lebih lanjut
bertanggung jawab untuk perbaikan kekuatan otot dalam jangka panjang.
Kekuatan meningkat secara bertahap dari waktu ke waktu dan mulai menurun
pada periode waktu yang sama sebagai dataran tinggi di hipertrofi. MU = unit
motor; RFD = laju pengembangan kekuatan.

Setelah kinerja berulang dari tugas tertentu, peningkatan aktivasi
otot yang terlatih telah dibuktikan dalam banyak penelitian. Bukti
peningkatan aktivasi mungkin ada sebagai sejumlah cara berbeda dari
adaptasi sistem saraf. Salah satu cara yang lebih dikenal bahwa aktivasi
ditingkatkan adalah kemampuan yang ditingkatkan untuk merekrut unit
motor ambang yang lebih besar, yang mengambil stimulus terbesar untuk

61

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

diaktifkan. Kemampuan untuk merekrut unit motor ambang tinggi penting
untuk pengembangan kekuatan karena unit motor ini mengandung jumlah
terbesar serat otot dan biasanya mengandung jenis serat yang menciptakan
gaya paling kuat, serat jenis IIx.

Peningkatan aktivasi juga dapat muncul sebagai hasil dari
peningkatan laju aksi potensial (rate coding) ke otot setelah unit motor telah
direkrut. Pengkodean laju memungkinkan unit motor untuk memvariasikan
gaya yang dihasilkan, dengan tingkat pembakaran lambat menghasilkan
tingkat daya yang relatif rendah dan tingkat tetanic dari pengkodean laju
menghasilkan jumlah kekuatan yang maksimum. Pelatihan dapat
meningkatkan laju pembakaran secara konsisten cukup tinggi di unit motor
untuk menghasilkan kekuatan maksimal setiap kali direkrut.

Cara ketiga bahwa pelatihan menghasilkan peningkatan aktivasi
saraf juga terkait dengan pengkodean tingkat; Namun, yang satu ini tidak
mengarah pada peningkatan kekuatan, tetapi meningkatkan laju
pengembangan kekuatan. Karena laju penembakan tetanik yang berjalan di
bawah motor neuron ke serat itu innervates menghasilkan kekuatan maksimal
dalam unit motor, ada kemungkinan bahwa tingkat yang lebih cepat
menyebabkan aktivasi yang lebih besar dari otot, Namun, produksi kekuatan
yang lebih besar bukanlah hasilnya. Hasilnya adalah waktu yang lebih
singkat untuk mencapai kekuatan maksimal dalam unit motor itu. Selama
kontraksi balistik (yaitu gerakan otot yang singkat dan dilakukan dengan
kecepatan maksimal), unit motor mulai menembak pada frekuensi yang
sangat tinggi, memungkinkan produksi kekuatan cepat untuk mempercepat
dengan cepat melalui gerakan, seperti melempar atau melompat. Gradasi
kekuatan yang dihasilkan oleh kontraksi balistik telah diusulkan untuk

62

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

diproduksi oleh kombinasi dari perekrutan unit motor tambahan dan dengan
peningkatan laju pembakaran unit motor.

Pengurangan sinyal penghambatan ke unit motor juga telah
diusulkan sebagai adaptasi yang meningkatkan produksi kekuatan setelah
pelatihan resistensi kronis. Pengurangan penghambatan ke unit motor
menyebabkan lebih banyak unit motor diaktifkan dan / atau frekuensi yang
lebih tinggi dari debit unit motor yang terlibat. Sinyal inhibitor ini telah
disarankan untuk datang dari GTOs6 dan / atau jalur atau sirkuit saraf lain
dari motor cortex atau cerebellum yang mengarah pada perekrutan unit motor
yang tidak ada hubungannya dengan tugas motor yang dituju. Pelatihan
kekuatan dapat meningkatkan kinerja dengan mengurangi tingkat aktivasi
kortikal dan, oleh karena itu, aktivasi elemen saraf yang mengganggu
pelaksanaan gerakan optimal.

2. Muscle Fibers Adapatation
Kemampuan sistem saraf untuk merekrut dan mengendalikan pola
pembakaran unit motor yang berbeda selama aktivitas fisik mempengaruhi
baik keterampilan motorik dan jenis pengerahan tenaga yang diperlukan.
Ingat bahwa unit motor tunggal hanya berisi satu jenis serat otot: tipe I atau
tipe II. Prinsip kekhususan terlihat ketika melihat bagaimana jenis pelatihan
tertentu menyebabkan adaptasi pada serat otot. Meskipun diketahui bahwa
latihan resistensi menghasilkan peningkatan luas penampang dari semua
jenis serat, kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa hipertrofi motorik
tipe II ke jumlah relatif lebih besar daripada unit tipe I. Karena "prinsip
ukuran" menunjukkan bahwa semua jenis unit motor direkrut dengan beban
yang relatif berat, hipertrofi yang lebih besar pada serabut tipe II dapat
mencerminkan keterlibatan relatif yang lebih besar dari serat-serat ini untuk

63

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

menghasilkan gaya otot yang diperlukan selama pelatihan. Peningkatan luas
penampang serat otot sebagai respons terhadap pelatihan resistensi dikaitkan
dengan peningkatan jumlah myofibrillar dan area myofibrillar sebagai akibat
penambahan protein aktin dan myosin, meningkatkan jumlah filamen tebal
dan tipis.

Konversi jenis serat dari satu bentuk ke bentuk lainnya yang
dihasilkan dari pelatihan telah dibuktikan. Sampai saat ini, adaptasi jenis serat
diperkirakan hanya berlangsung dari tipe IIx hingga IIa; Namun, perubahan
dari tipe I ke tipe IIa telah diamati menggunakan pelatihan sprint dan
pelatihan ketahanan menggunakan benchpressthrows dan push-up SSC
(stretch shortening cycle).

Studi-studi ini memberikan bukti kemungkinan transformasi dua
arah dari jenis serat dari tipe I dan tipe IIx ke IIa. Namun, beberapa peneliti
menyarankan untuk berhati-hati ketika menafsirkan hasil penelitian di masa
lalu dan sekarang di area ini karena metode histokimia dalam teknik
pengetikan serat telah meningkat. Ada kemungkinan lebih dari tiga jenis serat
yang diterima (tipe I, IIa, dan IIx) dengan kemungkinan isoform MHC
hybrid, yang membuat interpretasi hasil menjadi rumit. Sebaliknya, program
pelatihan daya tahan aerobik menyebabkan tipe I serat untuk meningkatkan
ukuran. Dengan demikian, dengan pelatihan aerobik, serat tipe II tidak
menunjukkan peningkatan ukuran karena mereka biasanya tidak direkrut
pada tingkat yang sama selama kegiatan daya tahan. Dalam beberapa contoh,
latihan jangka panjang (misalnya, program pelatihan ketahanan aerobik
selama 20 minggu) akhirnya dapat merekrut serabut tipe IIa dan bahkan
menyebabkan beberapa jenis serat IIx untuk mengambil karakteristik dari
serat oksida tipe IIa yang lebih oksidatif.

64

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

OLAHRAGA LANSIA
DAN WANITA

5

A. Pentingnya Olahraga untuk Lansia
Menjelaskan serta memberikan pemahaman tentang manfaat yang

terkait dengan olahraga atau aktivitas fisik sangat penting untuk meningkatkan
kesiapan dan kemampuan untuk mempertahankan program olahraga. Penting
untuk membantu orang dewasa tua/lansia untuk mengidentifikasi manfaat
yang mungkin paling penting bagi mereka. Anda mungkin perlu membahas
manfaat yang diberikan, dengan orang dewasa yang lebih tua dan
mendiskusikan bagaimana manfaat ini berkaitan dengannya.

Daftar progam yang diberikan pada bab ini tidak lengkap, sehingga
akan bermanfaat untuk mendiskusikan dengan orang dewasa yang lebih tua
manfaat apa yang dapat diramalkannya sehubungan dengan olahraga. Ini akan
meningkatkan motivasi untuk melakukan program olahraga teratur selain
perubahan gaya hidup. Selalu mengingatkan dan berdiskusi tentang manfaat
olahraga akan membantu menjaga orang dewasa yang lebih tua tetap pada jalur
dengan program latihan.

Terdapat beberapa manfaat potensial yang dapat dicapai seseorang
dengan menjadi aktif secara fisik. Tidak peduli berapa usia Anda, aktif dan
berolahraga dapat memiliki manfaat yang sangat besar. Pastikan Anda
meluangkan waktu bersama orang dewasa yang lebih tua untuk
mengidentifikasi dan mendiskusikan dampak manfaatnya terhadap

65

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

kehidupannya. Manfaat dari beraktivitas fisik dapat mempertahankan sel – sel

pada tubuh agar dapat terus bertahan walaupun usia telah mencapai tahap

lanjut usia. Dengan Aktifitas Fisik hal tersebut dapat menjadi keuntungan

sendiri bagi seseorang di masa tuanya. Manfaat itu bisa terdiri dari segi

kebugaran jasmani/fisik, maupun secara fisiologis, dapat dilihat pada tabel

berikut:

Tabel 5.1 Manfaat Aktifitas Fisik pada Lanjut Usia

No Fisik Fisiologis

1. Membantu mencegah penyakit Meningkatkan mood

kardiovaskular

2. Menurunkan tekanan darah Menurunkan Depresi

3. Meningkatkan metabolisme glukosa dan Meningkatkan fungsi

insulin, yang membantu penyakit seperti kognitif

diabetes

4. Meningkatkan kepadatan tulang, yang Meningkatkan

dapat menyebabkan berkurangnya risiko perasaankontrol pribadi

osteoporosis

5. Meningkatkan komposisi tubuh Meningkatkan kualitas

(mengurangi lemak, meningkatkan massa hidup

otot)

6. Membantu mencegah dan mengurangi rasa Meningkatkan Densitas

sakit yang terkait dengan sindrom nyeri Tulang dan Neuron di

kronis otak

7. Mengurangi risiko cedera dan

meningkatkan fungsi kekebalan tubuh

8. Meningkatkan mobilitas dan gaya berjalan

66

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

B. Rekomendasi Program Aktivitas Fisik untuk Lanjut Usia
1. Olahraga Aerobik

Lansia direkomendasikan melakukan aktivitas fisik setidaknya
selama 30 menit pada intensitas sedang hampir setiap hari dalam seminggu.
Berpartisipasi dalam aktivitas seperti berjalan, berkebun, melakukan
pekerjaan rumah, dan naik turun tangga dapat mencapai tujuan yang
diinginkan.

Lansia dengan usia lebih dari 65 tahun disarankan melakukan
olahraga yang tidak terlalu membebani tulang, seperti berjalan, latihan dalam
air, bersepeda statis, dan dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Bagi
Lansia yang tidak terlatih harus mulai dengan intensitas rendah dan
peningkatan dilakukan secara individual berdasarkan toleransi terhadap
latihan fisik.

Olahraga yang bersifat aerobik adalah olahraga yang membuat
jantung dan paru bekerja lebih keras untuk memenuhi meningkatnya
kebutuhan oksigen, misalnya berjalan, berenang, bersepeda, dan lain-lain.
Latihan fisik dilakukan sekurangnya 30 menit dengan intensitas sedang, 5
hari dalam seminggu atau 20 menit dengan intensitas tinggi, 3 hari dalam
seminggu, atau kombinasi 20 menit intensitas tinggi 2 hari dalam seminggu
dan 30 menit dengan intensitas sedang 2 hari dalam seminggu.

67

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

Gambar 5.1 Berbagai Aktivitas Aerobik

Selain itu, Program aktivitas fisik pada lanjut usia dapat menggunakan
3 tipe latihan, yaitu latihan aerobic, latihan kekuatan, Latihan Fleksibilitas dan
latihan Keseimbangan. 4 Hal tersebut dapat dilakukan dengan intensitas yang
ringan, hal ini bertujuan agar tidak terjadinya beban yang berlebihan untuk
tubuh. Oleh karena itu ada beberapa rekomendasi latihan dari buku Panton dan
Loney (2004), sebagai berikut:

Tabel 5.2 Rekomendasi Olahraga Aerobik serta Intensitas (Panton & Loney, 2004)

68

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

Dari tabel di atas merupakan rekomendasi selama 6 minggu untuk
lansia, bisa di simpulkan bahwa intensitas yang diberikan adalah ringan.
Dalam satu minggu seseorang dapat melakukan olahraga minimal 60 menit-
150 menit. Hal ini dikarenakan intensitas yang di berikan mengacu pada
fisiologis dan fisik dari seseorang lanjut usia,
2. Latihan Kekuatan

Bagi Lansia disarankan untuk menambah latihan penguatan otot
disamping latihan aerobik. Kebugaran otot memungkinkan melakukan
kegiatan sehari-hari secara mandiri. Latihan fisik untuk penguatan otot adalah
aktivitas yang memperkuat dan menyokong otot dan jaringan ikat. Latihan
dirancang supaya otot mampu membentuk kekuatan untuk mengerakkan atau
menahan beban, misalnya aktivitas yang melawan gravitasi seperti gerakan
berdiri dari kursi, ditahan beberapa detik, berulang-ulang atau aktivitas
dengan tahanan tertentu misalnya latihan dengan tali.

Latihan penguatan otot dilakukan setidaknya 2 hari dalam seminggu
dengan istirahat diantara sesi untuk masing-masing kelompok otot. Intensitas
untuk membentuk kekuatan otot menggunakan tahanan atau beban dengan
10-12 repetisi untuk masing-masing latihan. Intensitas latihan meningkat
seiring dengan meningkatnya kemampuan individu. Jumlah repetisi harus
ditingkatkan sebelum beban ditambah. Waktu yang dibutuhkan adalah satu
set latihan dengan 10-15 repetisi.

69

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

Gambar 5.2 Contoh Latihan Kekuatan

selanjutnya rekomendasi latihan kekuatan sebagai berikut:

Tabel 5.3 Rekomendasi Latihan Kekuatan Untuk Lanjut Usia

No. Latihan Kekuatan Tubuh Bagian Atas Latihan Kekuatan Tubuh Bagian Bawah

1. Seated Lateral Raise Leg Extension

2. Biceps Curl Heel Raises

3. Shoulder Shrugs Hamstrings Curl
4. One Arm Triceps Gluteals Extension

5. One Arm Row Body Weight Squat

6. Chest Press -

7. Abdominal Crunch -

Tabel diatas merupakan rekomendaasi jenis latihan yang dapat

dilakukan oleh lanjut usia, namun perlu di garis bawahi, dalam melakukan

latihan tersebut harus dengan intensitas yang ringan yang berarti <40% RM

(Repitis Maksimal).

70

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

3. Latihan Fleksibilitas dan Keseimbangan
Kisaran sendi (ROM) yang memadai pada semua bagian tubuh sangat

penting untuk mempertahankan fungsi muskuloskeletal, keseimbangan dan
kelincahan pada Lansia. Latihan fleksibilitas dirancang dengan melbatkan
setiap sendi-sendi utama (panggul, punggung, bahu, lutut, dan leher).

Latihan fleksibilitas adalah aktivitas untuk membantu
mempertahankan kisaran gerak sendi (ROM), yang diperlukan untuk
melakukan aktivitas fisik dan tugas sehari-hari secara teratur. Latihan
fleksibilitas disarankan dilakukan pada hari- hari dilakukannya latihan
aerobik dan penguatan otot atau 2-3 hari per minggu. Latihan dengan
melibatkan peregangan otot dan sendi. Intensitas latihan dilakukan dengan
memperhatikan rasa tidak nyaman atau nyeri. Peregangan dilakukan 3-4 kali,
untuk masing-masing tarikan dipertahankan 10-30 detik. Peregangan
dilakukan terutama pada kelompok otot-otot besar, dimulai dari otot-otot
kecil. Contoh: latihan Yoga.

Latihan keseimbangan dilakukan untuk membantu mencegah Lansia jatuh.
Latihan keseimbangan dilkakukan setidaknya 3 hari dalam seminggu.
Sebagian besar aktivitas dilakukan pada intensitas rendah. Kegiatan berjalan,
Tai Chi, dan latihan penguatan otot memperlihatkan perbaikan keseimbangan
pada Lansia.

71

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

Gambar 5.3 Contoh Latihan Fleksibilitas

Program latihan untuk Lansia meliputi latihan daya tahan jantung paru
(aerobik), kekuatan (strenght), fleksibilitas, dan keseimbangan dengan cara
progresif dan menyenangkan. Latihan melibatkan kelompok otot utama
dengan gerakan seoptimal mungkin pada ROM yang bebas dari nyeri.
Pembebanan pada tulang, perbaikan postur, melatih gerakan-gerakan
fungsional akan meningkatkan kekuatan, fleksibilitas, dan keseimbangan.
Olahraga dilakukan dengan cara menyenangkan disertai berbagai modifikasi,
termasuk mengkombinasikan beberapa aktivitas sekaligus.

72

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

Kombinasi berjalan yang bersifat rekreasi dan senam di air dengan
intensitas yang menantang namun tetap nyaman dilakukan, kombinasi latihan
spesifik untuk memperbaiki kekuatan dan fleksibilitas (latihan beban, circuit
training, latihan dengan musik, menari) bisa dilakukan. Kombinasi latihan
kekuatan, keseimbangan dan fleksibilitas bisa dilakukan dengan
menggunakan alat bola. Latihan difokuskan pada teknik yang menstabilkan
dan meningkatkan kekuatan, keseimbangan dan fleksibilitas, selain itu juga
mengintegrasikan tubuh dan pikiran serta melibatkan teknik pernafasan,
konsentrasi dan kontrol gerakan.

Bagi Lansia yang lemah secara fisik, aktivitas yang dilakukan
dikaitkan dengan kegiatan sehari-hari dan mempertahankan kemandirian,
misalnya teknik mengangkat beban yang benar, berjalan, cara menjaga postur
yang benar, dan sebagainya.

Selanjutnya jenis latihan fleksibilitas dapat dilakukan, dengan catatan
low intensity, hal tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 5.4 Jenis Latihan Fleksibiltas

Dari beberapa rekomendasi jenis latihan dan intensitas yang berikan,
dapat disimpulkan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan oleh orang lanjut usia

73

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

harus dilakukan dengan intensitas yang ringan, hal ini bertujuan untuk agar
tubuh dapat menerima dan berdaptasi dengan latihan yang diberikan, selain itu
dapat mengurangi resiko cedera saat berlatih.

C.Kapasitas Olahraga Wanita
Perbedaan yang nyata antara wanita dan pria jelas nampak dalam

aspek anatomi, tetapi dan sisi fisiologis perbedaannya tidak jelas (lihat dasar
fisiologis olahraga). Perbedaan antomis itulah yang menyebabkan kaum pria
secara urnum lebih mampu melakukan kegiatan fisik yang memerlukan
kekuatan. Namun demikian banyak dari perbedaan tersbut yang dapat diubah
melalui latihan fisik. Keadaan termaksud dapat dilihat dalam kehidupan
sehari-hari ada banyak wanita yang terlatih mampu melampaui parameter
fisiologis kaum pria yang kurang terlatih. Misalanya dalam angkat besi ada
banyak wanita terlatih yang mampu mengakat beban sampai ratusan kilo
gram, sebaliknya banyak pria yang tidak mampu mengangkat beban dalam
ukuran berat yang sama seperti dilakukan kaum wanita di atas.

Pada masa lalu penelitian-penelitian yang dilakukan pada kelompok
wanita kurang terlatih menunjukan bahwa kapasitas kerja mereka memang
buruk, dampaknya kaum wanita menjadi lebih sedikit yang berperan aktif
dalam kegiatan olahraga, khususnya dalam olahraga prestasi. Itulah
kekeliruan pandangan masa lalu. Perbedaan anatomis wanita dan pria
memang nyata dan menjadikan kemampuan kerja wanita secara umum lebih
rendah dari kaum pria, tetapi bukan berarti kemampuan kerja fisik wanita
tidak dapat ditingkatkan. Untuk membutikkanya sangat mudah, bandingkan
tingkat kekuatan seorang atlet angkat besi wanita dan atlet bulu tangkis pria,
katakanlah juara Olypimade, atau seorang pelari 100 meter tidak akan

74

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

mungkin manu mengalahkan pelari maraton wanita. Artinya rentang
parameter fiologik yang pada zaman dahulu secara umum dianggap jauh,
sekarang pandangan tersebut telah bergeser. Kenyataan pada zaman sekarang
menunjukkan bahwa rentang parameter psikologik antara wanita terlatih
dengan pria terlatih menjadi lebih pendek atau menjadi lebih kecil dari
kelompok wanita dan pria yang tidak térlatih.

Keadaan tersebut di atas bila dikaji dari sudut pandang fisiologi,
Santosa Giriwijoyo dan kawan-kawan (2007) menjelaskannva sebagai
berikut:

a.. Diameter dan masa total serubut otot wanita dapat ditingkatkann dengan
latihan yang sistematis, tetapi tidak dapat menyamai kaum pria karena
kadar testoteronnya relatif rendah dari kaum pria.

b. Meningkatnya pada wanita tidak menghasilkan perbaikan metabolisme
lemak pada olahraga daya tahan, misalnya seperti maraton. Lemak tubuh
yang tinggi pada wanita sangat bermanfaat untuk daya apung dan
sekaligus merupakan faktor penunjang keunggulan penampilan perenang-
perenang jarak ultra jauh.

D. Latihan dan Menstruasi
Sekitar 20 tahun yang lalu menstruasi selalu menjadi kendala bagi

kuam wanita Indonesia untuk aktif berolahraga, terutama dilingkungan
pendidikan jasmani. Keadaan tersebut sampai sekarang masih mempengaruhi
sebagian peserta didik, terutama bagi peserta didik yang pengetahuan
olahraga dan kesehatannya minim.

Bagi kaum wanita yang sudah aktif berolahraga, pengetahuan tentang
olahraga dan kesehatan relatif baik, menstruasi sudah bukan lagi menjadi

75

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

kendala, malah sebaliknya. Kegiatan olahraga bagi kaum wanita pada zaman
sekarang justru merupakan salah satu kegiatan yang sangat bermanfaat saat
mereka menderita akibat haid, karena berbagai ganguan; perasaan tidak enak,
sakit (dysmenorrrhoea), rasa tidak enak pada payudara dan kecemasan jadi
berkurang.

Hasil kuisioner pada banyak atlet wanita sejak puluhan tahun lalu
menurut Phul dan Brown yang disajikan oleh Saantosa Girirwijoyo dan
kawan-kawan (2007) menunjukan bahwa mereka mampu tampil sama
baiknya ketika akan dan sedang mentruasi. Kemudian beberapa di antaranya
mampu mencipta rekor-rekor Olympiade.

E. Ganguan Menstruasi dan Osteoporosi
Suatu kenyataan bahwa dikalangan atlet wanita sering terjadi ganguan

siklus mentruasi, gangguan termaksud ada yang jumlah menstruasinya per-
tahun berkurang atau sama sekali tidak ada menstruasi. Kemudian pada
kalangan atlet wanita juga sering terjadi perubahan sikius menstruasi, tetapi
untuk mengetahuinya secara pasti sangat sulit, karena ada banyak vaniabel
yang mempengaruhinya. Di antara sekian banya varibel termaksud yang
sudah disepakati baru dalam tataran difinisi istilah berikut mi.

• Eumenorrhoea yaitu sikius mentruasi teratur dengan interval
perdarahan yang terjadi antara 21-35 hari

• Oligomenorrhoea yaitu mentruasi yang terjadi dengan interval antara 35-
90 hari
Amenorrhoea adalah tidak terjadi menstruasi dalam waktu 3 bulan

berturut-turut. Hasil penelitian beberapa ahli menunjukakan bahwa atlet yang
berusia di bawah 25 tahun lebih besar kemungkinannya mengalami

76

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

amenoerrhoea. Kemudian hasil penelitian para ahkli juga menunjukan bahawa,
faktor-faktor yang secara umum ditemukan pada kelompok atlet yang
mengalami perubahan menstruasi akibat aktivitas olahraganya oleh Santosa
Giriwijoyo dan kawan-kawan (2007) disajikan dalam tabel berikut mi.

Tabel 5.4 Faktor Yang Berhubungan Dengan Menstruasi

1. Mentruasi yang tidak teratur
Hasil penelitian para ahli yang dipapaparkan Santosa Giriwjiyo dkk

(2007) menunjukan bahwa atlet yang mengalami olligo/amenorrhoea lebih
banyak terjadi sebagai akibat dari mentruasi yang memang tidak tenatur
sebelum menjalani latihan yang reguler. Namun demikian Santosa Giriwijo
dkk (2007) juga mencatat hasil penelitian yang dilakukan oleh Bullen dkk
(1985) yang mengatakan, “bahwa awal terjadinya ketidakteraturan menstrasi
dalam hubungannya dengan latihan, yang ditemukan pada hampir seluruh
subjek yang diteltinya, tidak ada kaitannya dengan riwayat menstruasi
sebelumnya”. Kemudian katakan juga bahwa “Pada atlet yang berstatus ibu-
ibu terdapat tanda-tanda bahwa mereka lebih jarang mendapat amenorrhoea
dari kelompok yang belum pernah hamil”.

77

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

2. Penurunan berat badan
Hasil penelitian para ahli tentang perubahan mentruasi yang

dihubungkan dengan berat badan yang rendah, BB menurun akibat latihan
berlebihan, presentase lemak tubuh yang menurun dan tata gizi yang tidak
adekuat, menunjukan adanya suatu kesamaan dalam hal tinggi badan, berat
badan, dan penurunan berat badan antara pelari-pelari yang amenorrhoeic
dengan pelari-pelari yang siklus mentruasinya normal.

3. Latihan intensitas tinggi
Banyak penelitian menunjukan bahwa meningkatnya jarak tempuh

latihan pada pelari wanita mempunyai hubungan yang hampir linier dengan
kejadian amenorrhoea bila jarak tempuh lebih dari 30 km. Selanjutnya hassil
penelitian juga menunjukan adanya korelasi antara tingkat latihan dengan
perubahan menstruasi, diperkirakan intensitas yang terlalu cepat ditingkatkan
adalah sebagai penyebabnya. Kemudian dikatakan juga bahwa bila berat
badan atlet tidak turun, termasuk penari akan mendapatkan kembali
menstruasi selama tidak berlatih karena libur atau istirahat karena cedera.

4. Stress
Harus diakui bahwa untuk mengetahui/menilai peran stress

terhadap ganguan menstruasi memang sulit, namun demikian pengamatan
menunjukan kejadian amenorrhoea lebih tinggi pada kelompok atlet wanita
yang berpartisipasi dalam olahraga berat. Keaadaan tersebut memperkuat
perkiraan adanya kemungkinan fenomena yang berhubungan dengan stress.
Praduga tersebut berdasarkan kenyataan bahwa wanita umunya
mengalami ketidak teraturan menstruasi ketika mengalami stress emosi,

78

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

misalnya kehilangan sesuatu yang bemilai tinggi baginya.

5. Osteoporosis
Beberapa penelitian ahli menunjukan bahwa pada pelari-pelari

ditemukan penurunan mineral tulang dengan amenorrhoea. Penelitian juga
menunjukan bahwa hilangnya mineral tulang spina adalah reversibel bila
menstruasi dan kadar hormon- hormon reproduksi kembali normal, namun
demikian masa puncak tulang (peak bone mass) akan terancam bila terjadi
amenorrhoea yang berkepanjangan.

Gejala klinik yang melaporkan peningkatan fraktur khususnya pada;
spina, pergelangan tangan dan hip joint, kyphosis tulang spina akibat fraktur
kompressi pada vertebara, menimpa satu dari lima wanita yang berusia di atas
60 tahun dan penyebabnya adalah masa tulang yang dicapai lebih rendah dan
kehilangan mineral tulang yang lebih cepat pada masa menopause.

Massa tulang pada setiap individu sangat ditentukan oleh faktor-faktor
ginetik, lingkungan dan hormonal sebagai berikut;

• Faktor ginetik dengan tanda-tanda kecenderungan adanya osteoporosis.
• Faktor lingkungan, berhubungan dengan kegiatan fisik, tata gizi,

pengaruh merokok, kafein dan alkohol.
• Faktor hormonal sulit untuk digunakan menentukan masa tulang,

namun demikan sudah lama diketahui bahwa androgen merupakan
hormon yang bertanggung jawab untuk meningkatkan massa tulang
pada pria, sedangkan oestrogen dan munkin juga progesteron
merupakan faktor penting untuk massa tulang wanita.

79

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

F. Managamen Ganguan Menstruasi Pada Alet
Perubahan menstruasi pada atlet harus selalu mendapat perhatian

serius. Artinya setiap terjadi perubahan menturuasi pada atlet wanita harus
selalu di anggap sebagai kondisi fatologis sampai hal tersebut benar-benar
terbukti dalam pemerikasaan bahwa keadaan amenorrhoea yang terjadi
adalah akibat latihan/olahraga, jadi jangan beranggapan sebagai akibat
kegiatan latihan.

Anamnesa yang dilakukan harus mencakup umur terjadinya
menarche, pola mentruasi sebelumnya dan program latihan. Dalam kaitannya
dengan program latihan yang perlu menjadi perhatian antara lain adalah
intensitas awal latihan, peningkatan intensitas latihan (mungkin terlalu cepat).
Selanjutnya kehilangan bebarat badan dan pembahan tata gizi menjelang
terjadinya awal amenorrhoea, termasuk juga faktor-fktor lain yang
menyebabkan stress, misalnya faktor ketegangan dalam menghadapi suatu
kejuaran atau kehilangan sesuatu yang sangat berharga atau bernilai tinggi.

80

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

CEDERA OLAHRAGA

6

A. Pengertian Cedera Olahraga
Cedera olahraga adalah segala macam cedera yang timbul pada saat

latihan ataupun pada waktu pertandingan ataupun sesudah pertandingan.
Cedera merupakan rusaknya jaringan yang disebabkan adanya kesalahan
teknis, benturan, atau aktivitas fisik yang melebihi batas beban latihan, yang
dapat menimbulkan rasa sakit akibat dari kelebihan latihan melalui
pembebanan latihan yang terlalu berat sehingga otot dan tulang tidak lagi
dalam keadaan anatomis. Cedera tidak hanya terjadi pada saat berolahraga,
namun pada saat pembelajaran Penjasorkes (penjas), cedera akan selalu
membayangi terlebih pada materi yang relatif lebih berat seperti senam lantai.
Paul M Taylor (1997) membagi jenis cedera yang sering dialami menjadi dua
jenis yaitu:

a. Trauma akut yaitu suatu cedera berat yang terjadi secara mendadak,
seperti cedera goresan, robek padaa ligamen, atau patah tulang karena
tejatuh. Cedera akut biasanya memerlukan pertolongan yang profesional
dengan segera.

b. Overuse syndrome adalah sindrom ini bermula dari adanya kekuatan
abnormal dalam level yang rendah atau ringan, namun berlangsung
secara berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama.

81

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

Hardianto Wibowo (1995) mengklasifikasikan cedera olahraga sebagai
berikut:

a. Cedera ringan atau tingkat I, ditandai dengan adanya robekan yang hanya
dapat dilihat menggunakan mikroskop, dengan keluhan minimal dan
hanya sedikit saja atau tidak mengganggu performa olahragawan yang
bersangkutan, misalnya lecet, memar, sprain ringan

b. Cedera sedang atau tingkat II, ditandai dengan kerusakan jaringan yang
nyata, nyeri, bengkak, berwarna kemerahan dan panas, dengan gangguan
fungsi yang nyata dan berpengaruh pada performa atlet yang
bersangkutan, misalnya: melebarnya otot dan robeknya ligamen.

c. Cedera berat atau tingkat III, pada cedera ini terjadi kerobekan lengkap
atau hampir lengkap pada otot, ligamentum dan fraktur pada tulang, yang
memerlukan istirahat total, pengobatannya intensif, bahkan mungkin
operasi.
Sedangkan menurut Giam C. K dan Teh K. C (1993:) membedakan

cedera menjadi tiga tingkatan yaitu:
a. Cedera ringan adalah cedera yang tidak diikuti kerusakan yang berarti pada
jaringan tubuh, misalnya kekuatan otot dan kelelahan. Pada cedera ringan
biasanya tidak memerlukan pengobatan apapun, dan akan sembuh dengan
sendirinya setelah istirahat beberapa waktu.
b. Cedera sedang ialah kerusakan jaringan yang lebih nyata, dan berpengaruh
terhadap performa olahragawan. Keluhan berupa nyeri, bengkak, dan
gangguan fungsi, misalnya lebar otot, strain otot, tendon-tendon, dan
robeknya ligamen (sprain gerak)
c. Cedera berat adalah cedera yang serius, diytandai dengan adanya
kerusakan pada jaringan tubuh, misalnya kerobekan otot hingga putus,

82

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

maupun fraktur tulang yang memerlukan istirahat total, pengobatan
intensif bahkan operasi.
Brad Walker (2007) menjelaskan jenis cedera secara umum menjadi 3 yaitu:
a. Ringan : Cedera olahraga ringan akan menyebabkan rasa sakit dan
pembengkakan yang minimal. Itu tidak akan mempengaruhi kinerja dan
area yang terkena tidak lembut untuk disentuh atau berubah bentuk dengan
cara apa pun.
b. Sedang : Cedera olahraga sedang akan menyebabkan rasa sakit dan
pembengkakan. Ini akan memiliki pengaruh yang membatasi pada kinerja
olahraga dan area yang terkena akan terasa lembut untuk disentuh.
Beberapa perubahan warna di lokasi cedera mungkin juga ada.
c. Berat : Cedera olahraga yang parah akan mengakibatkan peningkatan rasa
sakit dan pembengkakan. Ini tidak hanya akan mempengaruhi kinerja
olahraga, tetapi juga akan mempengaruhi aktivitas normal sehari-hari.
Situs cedera biasanya sangat lembut untuk disentuh dan perubahan warna
dan deformitas sering terjadi

B. Macam-macam Cedera Olahraga
Struktur jaringan didalam tubuh yang sering mengalami cedera

olahraga adalah otot, tendo, tulang, persendian termasuk tulang rawan,
ligamen, dan fasia. Macam-macam cedera yang mungkin terjadi adalah
memar, cedera pada otot atau tendo dan cedera ligamentum, dislokasi, patah
tulang, kram otot dan perdarahan pada kulit. Secara umum cedera yang terjadi
saat olahraga maupun saat pembelajaran Penjasorkes antara lain:
a. Memar (kontusio)

Memar merupakan cedera yang disebabkan oleh benturan benda keras
pada jaringan linak tubuh. Pada memar, jaringan dibawah permukaan kulit

83

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

rusak dan pembuluh darah kecil pecah sehingga darah dan cairan seluler
merembes kejaringan sekitarnya.

Gambar 6.1 Cedera Memar

b. Kram Otot
Kram otot merupakan kontraksi otot tertentu yang berlebihan dan

terjadi secara mendadak dan tanpa disadari. Kram otot terjadi karena letih,
biasanya terjadi saat malam hari atau karena kedinginan, dan dapat pula karena
panas, dehidrasi, trauma pada otot yang bersangkutan atau kekurangan
magnesium.

Gambar 6.2 Mekanisme Kotraksi Otot

84

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kram otot. Pada
saat otot mengalami kelelahan dan secara tiba-tiba meregang, maka otot
tersebut dengan terpaksa akan meregang secara penuh dan ini dapat
mengakibatkan kram.

Kram disebabkan oleh adanya ketidaksempurnaan biomekanik tubuh
karena adanya malalignment (ketidaksejajaran) dari bagian kaki bawah, atau
karena keadaan otot yang terlalu kencang, kekurangan beberapa jenis mineral
tertentu (defisiensi) yang dibutuhkan oleh tubuh juga dapat mempengaruhi
terjadinya kram otot, seperti kekurangan zat sodium, potassium, kalsium, zat
besi, dan fosfor, dan terbatasnya suplai darah yang tersedia pada otot tersebut
sehingga menyebabkan terjadinya kram otot. Pada intinya, kram otot terjadi
karena terjadinya penumpukan asam laktat diotot karena mengalami kelelahan.
c. Lepuh (blisters)

Lepuh merupakan timbulnya benjolan di kulit dan didalamnya terdapat
cairan berwarna bening. Lepuh terjadi akibat penggunaan peralatan yang tidak
pas, peralatan masih baru, atau peralatan yang lama seperti sepatu yang terlalu
kecil.

Gambar 6.3 Lepuh

85

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

d. Perdarahan pada Kulit (lecet)
Perdarahan pada kulit atau perdarahan eksternal adalah perdarahan

yang dapat dilihat berasal dari luka terbuka. Cedera dapat juga merusak dan
menyebabkan perdarahan. Ada tiga jenis yang berhubungan dengan jenis
pembuluh darah yang rusak yaitu:

1) Perdarahan kapiler, berasal dari luka yang terus-menerus tetapi lambat.
Perdarahan ini paling sering terjadi dan paling mudah dikontrol.

2) Perdarahan vena, mengalir terus- menerus karena tekanan rendah
perdarahan vena tidak menyembur dan lebih mudah dikontrol.

3) Perdarahan arteri, menyembur bersamaan dengan denyut jantung, tekanan
yang menyebabkan darah menyembur juga menyebabkan jenis
perdarahan ini sulit dikontrol. Perdarahan arteri merupakan jenis
perdarahan yang paling serius karena banyak darah yang dapat hilang
dalam waktu sangat singkat.
Kartono Mohammad (2003) menjelaskan bahwa perdarahan dikulit

terdiri dari
beberapa jenis yaitu :

1) Abrasi : lapisan atas kulit terkelupas, dengan sedikit kehilangan
darah.(goresan, road rash dan rug burn)

2) Laserasi : kulit yang terpotong dengan pinggir bergerigi. Jenis luka ini
biasanya disebabkan oleh robeknya jaringan kulit secara paksa.

3) Insisi : potongan dengan pinggir rata, seperti potongan pisau atau teriris
kertas.

4) Pungsi : cedera akibat benda tajam (seperti pisau, pemecah es atau peluru).
5) Avulsi : sepotong kulit yang robek lepas dan menggantung pada tubuh.
6) Amputasi : terpotong atau robeknya bagian tubuh

86

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

e. Kehilangan kesadaran atau pingsan (syncope)
“Pingsan adalah keadaan kehilangan kesadaran yang bersifat

sementara dan singkat, disebabkan oleh berkurangnya aliran darah dan oksigen
yang menuju ke otak”. Gejala pertama yang dirasakan oleh seseorang sebelum
pingsan adalah rasa pusing, berkurangnya penglihatan, dan rasa panas.
Selanjutnya, penglihatan orang tersebut akan menjadi gelap dan ia akan jatuh
atau terkulai. Biasanya pingsan terjadi akibat dari

(1) aktivitas fisik yang berat sehingga menyebabkan deposit oksigen
sementara,

(2) pengaliran darah atau tekanan darah yang menurun akibat perdarahan
hebat, dan

(3) karena jatuh dan benturan.

Pingsan mempunyai beberapa jenis, diantaranya:
1) Pingsan biasa (simple fainting)

Pingsan jenis ini sering diderita oleh orang yang memulai aktivitas
tanpa melakukan makan pagi terlebih dahulu, penderita anemia, orang yang
mengalami kelelahan, ketakutan, kesedihan dan kegembiraan.
2) Pingsan karena panas (heat exhaustion)

Pingsan ini terjadi pada orang sehat yang melakukan aktivitas di tempat
yang sangat panas. Biasanya penderita merasakan jantung berdebar, mual,
muntah, sakit kepala dan pingsan. Keringat yang berkucuran pada orang
pingsan di udara yang sangat panas merupakan petunjuk bahwa orang tersebut
mengalami pingsan jenis ini.

87

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

3) Pingsan karena sengatan terik (heat stroke)
Pingsan jenis ini merupakan keadaan yang lebih parah dari heat

exhaustion. Sengatan terik terjadi karena bekerja di udara panas dengan terik
matahari dalam jangka waktu yang lama, sehingga kelenjar keringat menjadi
lemah dan tidak mampu mengeluarkan keringat lagi. Akibatnya panas yang
mengenai tubuh tidak ditahan oleh adanya penguapan keringat. Gejala
sengatan panas biasanya didahului oleh keringat yang mendadak menghilang,
penderita kemudian merasa udara disekitarnya mendadak menjadi sangat
panas. Selain itu penderita merasa lemas, sakit kepala, tidak dapat berjalan
tegap, mengigau dan pingsan. Keringatnya tidak keluar sehingga badan
menjadi kering. Suhu badan meningkat sampai 40-41 derajat celcius, mukanya
memerah dan pernafasannya cepat.

f. Cedera pada Otot Tendo dan Ligamen
Menurut Hardianto Wibowo (1995) strain adalah cedera yang

menyangkut cedera otot dan tendon. Strain dapat dibagi menjadi tiga tingkatan
yaitu:
1) Tingkat I

Strain tingkat ini tidak ada robekan, hanya terdapat kondisi inflamasi
ringan. Meskipun pada tingkat ini tidak ada penurunan kekuatan otot, tetapi
pada kondisi tertentu cukup mengganggu atlet.
2) Tingkat II

Strain pada tingkat ini sudah terdapat kerusakan pada otot atau tendon
sehingga dapat mengurangi kekuatan otot
3) Tingkat III

Strain pada tingkat ini sudah terjadi kerobekan yang parah atau bahkan

88

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

sampai putus sehingga diperlukan tindakan operasi atau bedah dan dilanjutkan
dengan fisioterapi dan rehabilitasi.

Gambar 6.4 Tingkatan Strain

Sprain merupakan cedera yang menyangkut ligamen. Cedera sprain
dapat dibedakan menjadi beberapa tingkatan yaitu:
1) Tingkat I

Pada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamentum dan
hanya beberapa serabut yang putus. Cedera menimbulkan rasa nyeri tekan,
pembengkatan dan rasa sakit pada daerah tersebut. Pada cedera ini tidak perlu
pertolongan/ pengobatan, cedera pada tingkat ini cukut diberikan istirahat saja
karena akan sembuh dengan sendirinya
2) Tingkat II

Pada cedera ini lebih banyak serabut dari ligamentum yang putus, tetapi
lebih separuh serabut ligamentum yang utuh. Cedera menimbulkan rasa sakit,
nyeri tekan, pembengkakan, efusi, (cairan yang keluar) dan biasanya tidak
dapat menggerakkan persendian tersebut. kita harus memberikan tindakan

89

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

imobilisasi (suatu tindakan yang diberikan agar bagian yang cedera tidak dapat
digerakan) dengan cara balut tekan, spalk maupun gibs. Biasanya istirahat
selama 3-6 minggu.
3) Tingkat III

Pada cedera ini seluruh ligamentum putus, sehinnga kedua ujungya
terpisah. Persendian yang bersangkutan merasa sangat sakit, terdapat darah
dalam persendian, pembekakan, tidak dapat bergerak seperti biasa, dan
terdapat gerakan– gerakan yang abnormal. Cedera tingkat ini harus dibawa ke
rumah sakit untuk dioperasi namun harus diberi pertolongan pertama terlebih
dahulu.

Gambar 6.5 Sprain

90

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

g. Dislokasi
Menurut Ronald P. Pfeiffer (2003: 38) dislokasi adalah terlepasnya

sebuah sendi dari tempatnya yang seharusnya “Dislokasi yang sering terjadi
pada olahragawan adalah dislokasi bahu, sendi panggul, karena bergeser dari
tempatnya maka sendi menjadi macet dan terasa nyeri. Sebuah sendi yang
pernah mengalami dislokasi, ligamen akan menjadi kendor. Akibatnya, sendi
itu akan mudah mengalami dislokasi kembali.

Gambar 6.6 Mekanisme Dislokasi

h. Patah tulang (fracture)
“Patah tulang adalah suatu keadaan dimana tulang mengalami

keretakan, pecah, atau patah, baik pada tulang rawan (kartilago) maupun
tulang keras (osteon)” (Alton Thygerson, 2006: 75) . Menurut Mirkin dan
patah tulang digolongkan menjadi dua yaitu: (1) patah tulang komplek, dimana
tulang terputus sama sekali, (2) patah tulang stres, dimana tulang hanya
mengalami keretakan tetapi tidak terpisah.

91

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

Berdasarkan tampak tidaknya jaringan dari luar tubuh, Pembagian
patah tulang menjadi: (1) patah tulang terbuka dimana fragmen atau pecahan
tulang melukai kulit diatasnya dan tulang keluar, (2) patah tulang tertutup
dimana fragmen (pecahan) tulang tidak menembus permukaan kulit. Jadi dapat
disimpulkan fracture atau patah tulang dapat dibedakan menjadi 3 yaitu (1)
patah tulang retak, (2) patah tulang comminuted, dan (3) patah tulang terbuka.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar dibawah ini.

Gambar 6.6 Jenis Fracture

C. Faktor Penyebab Terjadinya Cedera dalam Pembelajaran Penjas
Pembelajaran pada penjas merupakan proses pendidikan yang

bertujuan untuk memperbaiki kinerja dan meningkatkan perkembangan
manusia dengan menggunakan media aktivitas jasmani yang terpilih untuk
merealisasikannya. Namun, dalam kenyataannya, proses pembelajaran
Penjasorkes sangat sering terjadi kasus cedera yang disebabkan oleh
bermacam-macam sebab. Penyebab cedera, yaitu faktor dari dalam (intern)
seperti kelelahan, kelalaian, ketrampilan yang kurang, dan kurangnya
pemanasan dan peregangan saat akan melakukan olahraga atau pembelajaran.

92

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

Kemudian faktor dari luar (ekstern) seperti alat dan fasilitas yang kurang baik,
cuaca yang buruk, dan pemberian materi oleh guru yang salah. Salah satu
faktor ekstern yang sering dilupakan oleh seorang guru adalah cuaca, yaitu
suhu lingkungan. Suhu di Indonesia umumnya berkisar antara 28-34 ℃.

Kurangnya pengetahuan tentang latihan dan penambahan beban secara
tepat, sikap tubuh yang salah pada waktu mengangkat, dan lemahnya otot perut
perupakan penyebab terjadinya cedera pada anak anak dalam aktivitas
olahraga. Penyebab terjadinya cedera antara lain:
a. Faktor Individu
1) Umur

Faktor umur sangat menentukan karena sangat mempengaruhi
kekuatan serta kekenyalan jaringan.
2) Faktor pribadi

Kematangan seorang olahraga akan lebih mudah dan lebih sering
mengalami cedera dibandingkan dengan olahragawan yang telah
berpengalaman.
3) Pengalaman

Bagi atlet yang baru terjun akan lebih mudah terkena cedera
dibandingkan dengan olahragawan/atlet yang telah berpengalaman.
4) Tingkat latihan

Pemberian beban awal saat latihan merupakan hal yang sangat penting
guna menghindari cedera. Namun pemberian beban yang berlebihan bisa
mengakibatkan cedera.
5) Teknik

Setiap melakukan gerakan harus menggunakan teknik yang benar guna
menghindari cedera. Namun dalam beberapa kasus terdapat pelaksanaan

93

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

teknik yang tidak sesuai sehingga terjadi cedera.
6) Pemanasan

Pemanasan yang kurang dapat menyebabkan terjadinya cedera karena
otot belum siap untuk menerima beban yang berat.
7) Istirahat

Memberikan waktu istirahat sangat penting bagi para atlet maupun
siswa ketika melakukan aktivitas fisik. Istirahat berfungsi untuk
mengembalikan kondisi fisik agar kembali prima. Dengan demikian potensi
terjadinya cedera bisa diminimalisasi.
8) Kondisi tubuh

Kondisi tubuh yang kurang sehat dapat menyebabkan terjadinya cedera
karena semua jaringan juga mengalami penurunan kemampuan dari kondisi
normal sehingga memperbesar potensi terjadinya cedera.
9) Gizi

Gizi harus terpenuhi secara cukup karena tubuh membutuhkan banyak
kalori untuk melakukan aktivitas fisik.

b. Faktor Alat, Fasilitas dan Cuaca
1) Peralatan

Peralatan untuk pembelajaran olahraga harus dirawat dengan baik
karena peralatan yang tidak terawat akan mudah mengalami kerusakan dan
sangat berpotensi mendatangkan cedera pada siswa yang memakai.
2) Fasilitas

Fasilitas olahraga biasanya berhubungan dengan lingkungan yang
digunakan ketika proses pembelajaran seperti lapangan dan gedung olahraga.
3) Cuaca

94

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

Cuaca yang terik atau panas akan menyebabkan seseorang mengalami
keadaan kehilangan kesadaran atau pingsan sedangkan hujan yang deras juga
bisa menyebabkan tergelincir ketika melakukan aktivitas diluar lapangan.
4) Faktor karakter pada olahraga dan materi pelajaran

Karakter atau jenis materi pembelajaran Penjasorkes juga
mempengaruhi potensi terjadinya cedera. Misalnya olahraga beladiri
mempunyai potensi yang lebih besar untuk terjadi cedera daripada permainan
net seperti tenis meja dan voli.

95

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

MUSIK DAN OLAHRAGA

7

A. Pengertian Musik
Musik diartikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai seni yang

menyusun nada suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk
menghasilkan komposisi suara yang mempunyai kesatuan dan keseimbangan.
Musik diartikan sebagai seni yang menggunakan rangkaian nada irama, mode,
genre, tempo yang mampu mempengaruhi psikologi dan motivasi. Musik
merupakan bentuk kesenian berupa instrumental atau nada vokal secara
terstruktur dan berkesinambungan, dan telah banyak digunakan dalam latihan.

Musik menjadi bagian penting dalam kehidupan kebanyakan orang
didunia dan sering dimanfaatkan sebagai upaya mengurangi stres, mengurangi
kecemasan, meningkatkan mood, meningkatkan ekspresi emosional, dan
meningkatkan kualitas hidup. Pada penelitian para ahli sebelumnya
menjelaskan mendengarkan musik dapat memperbaiki kecemasan dan depresi
secara signifikan pada penderita penyakit Alzheimer tingkat ringan dan

96

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

sedang. Selain itu musik mampu memberikan efek positif seperti rasa
senang, percaya diri, kinerja, dan motivasi pada atlet.

Musik dapat dikelompokkan berdasarkan irama, jenis dan temponya.
Penjelasan sebagai berikut:
A. Irama Musik

Irama adalah suara periodik pola yang berisi variasi dan
pengulangan.Irama didefinisikan sebagai organisasi suara yang berhubungan
dengan waktu. Sedangkan menurut KBBI irama dijelaskan sebagai gerakan
berturut–turut secara teratur; turun naik lagu (bunyi) yang beraturan.
B. Jenis Musik

Musik berdasarkan jenisnya dikelompokkan menjadi musik rohani,
klasik, impresionis, jazz, pop rock, campursari, reggae, ska. Pada penelitian ini
jenis musik yang digunakan yaitu jenis musik pop rock. Musik pop rock
merupakan salah satu jenis musik yang paling sering didengarkan. Musik ini
memiliki ciri – ciri adanya gitar listrik, gitar bass dan drum yang mempunyai
rhythm section dan jenis vokal lebih beat. Musik pop rock juga mempunyai
backbeat yang konsisten, mencolok serta adanya melody yang menarik.
Dengan pertimbangan tersebut peneliti memilih menggunakan jenis pop-rock
yang dinyanyikan netral dengan judul “Bendera” dari band coklat.

97

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

C. Tempo Musik
Tempo musik dapat diartikan sebagai kecepatan dari, yang tunjukkan

dengan beats per menit (bpm). Terdapat tempo musik dan dikelompokkan
menjadi 3, yaitu:
a. Musik Tempo Cepat

Musik tempo cepat dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
1. Agak cepat (allegreto) yaitu musik tempo agak cepat (allegreto) adalah

musik dengan tempo 108 beats/min.
2. Cepat (allegro) yaitu musik tempo cepat (allegro) adalah musik dengan

tempo 160 beats/min. Menurut Sugiharto (2009:122) tempo cepat
adalah musik yang memiliki tempo 150-170 bpm.
3. Cepat sekali (presto) musik tempo cepat sekali (presto) adalah musik
dengan tempo 200 beats/min.
b. Musik Tempo Sedang
Musik tempo sedang dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1. Sedang seperti orang berjalan biasa (andante) yaitu musik tempo
sedang seperti orang berjalan biasa (andante) adalah musik dengan 72
beats/min
2. Sedang (moderato) yaitu musik tempo sedang (moderato) adalah musik
dengan 92 beats/min

98

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang

c. Musik Tempo Lambat
Musik tempo lambat dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

1. Lambat khidmat (largo) 48 beats/min yaitu musik tempo lambat
khidmat (largo) adalah musik dengan 48 beats/min.

2. Lambat manis (lento) 54 beats/min yaitu musik tempo lambat manis
(lento) adalah musik dengan 54 beats/min.

3. Perlahan-lahan (adagio) 58 beats/min yaitu musik tempo perlahan-
lahan (adagio) adalah musik dengan 58 beats/min.

Peneliti memilih jenis musik pop rock dengan tempo cepat 160 beats
per menit untuk diteliti, karena berdasarkan penelitian terdahulu musik dapat
memberikan dampak positif terhadap olahraga dengan tempo cepat.

B. Pengaruh Mendengarkan Musik Terhadap Tubuh Selama Olahraga
Latihan dengan mendengarkan musik mampu meningkatkan semangat

sehingga memiliki dampak positif pada performa dan kinerja serta peningkatan
daya tahan. Sesuai dalam penelitian sebelumnya bahwa mendengarkan musik
menghambat sekresi kortisol. Hal ini karena musik memicu munculnya rasa
nyaman sehingga mampu menghambat sekresi dari HPA axis. Terhambatnya
sekresi HPA axis akan menurunkan sekresi CRH sehingga rangsangan

99

Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang


Click to View FlipBook Version