terhadap ACTH menurun. Penurunan sekresi ACTH ini akan berdampak pada
penurunan kortisol.
Mekanisme musik dapat didengar tubuh, ketika musik sebagai
gelombang suara di kirim melalui getaran udara berupa bunyi ditangkap oleh
daun telinga dan diteruskan melalui liang dan saluran telinga sampai pada
gendang telinga sehingga gendang telinga ikut bergetar. Getaran pada
gendang telinga diteruskan ke tulang-tulang pendengaran (dari tulang malleus-
incus-stapes). Getaran sanggurdi akan memicu getaran selaput yang disebut
oval window, yang selanjutnya getaran akan dikirim ke koklea.
Setiap perubahan tekanan pada oval window berjalan disepanjang
organ corti sebagai gelombang. Organ corti terdiri dari dua selaput yaitu
basiliar membrane (selaput basiler) dan tektorial membrane (selaput tektorial).
Reflek terhadap organ corti akan menghasilkan shearing force pada sel-sel
rambut. Kekuatan ini menstimulasi sel-sel rambut memicu saraf auditori, yaitu
cabang saraf kranial VIII (saraf auditori vestibular). Getaran cairan koklea
akan disebar oleh jendela bundar (round window). Getaran pada cairan
perilimfe yang melewati saluran vestibule akan getaran merangsang ujung-
ujung saraf pendengaran dan diteruskan menjadi impuls menuju ke pusat
pendengaran di otak besar. Setelah impuls diterima dan diolah otak, maka
100
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
bunyi dapat didengar.
C. Pengaruh Olahraga Terhadap BDNF
Olahraga merupakan stres yang ditandai dengan disekresinya kortisol.
Sekresi kortisol mampu merubah aktivitas elektronikal pada sistem limbik dan
hipokampus. Stres akan mengurangi ekspresi BDNF. Hal ini dijelaskan bahwa
sekresi kortisol dianggap menurukan volume hipokampus. Penurunan volume
hipokampus menandakan adanya sel yang mati sehingga akan berdampak pada
produksi BDNF. Namun jika latihan dilakukan secara teratur, latihan mampu
menurunkan kortisol. Hal ini disebabkan karena latihan tidak lagi menjadi
stressor melainkan sudah menjadi stimulator dan juga sebagai antidepressan
sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan ekspresi BDNF. Peningkatan
BDNF mampu mengembangkan neuronal, plastisitas sinaptik yang mendasari
pembentukan sirkuit dan fungsi kognitif, dan meningkatkan kesehatan otak.
Terciptanya kesehatan otak akan meningkatkan fungsi kognitif. Latihan akan
memberikan dampak positif bagi tubuh dapat dilihat pada gambar 7.1
101
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
Gambar 7.1Mekanisme Latihan dan BDNF terhadap Fungsi Memori dan Kontrol
Motorik
Gambar diatas menjelaskan latihan mampu meningkatkan memori,
kontrol motorik, dan mengurangi stres. Peningkatan ini disebabkan umpan
balik negatif dari stres fisik akibat latihan. Umpan balik negatif menyebabkan
penghambatan sinyal HPA axis sehingga menurunkan produksi CRH di
hipotalmus. CRH yang menurun berdampak pada kortisol yang menurun,
menandakan tidak adanya stres. Penurun stres ini menyebabkan peningkatan
hormon dopamin, IGF, dan BDNF. Peningkatan BDNF juga akan
meningkatkan fungsi memori dan gerak motorik.
102
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
D. Pengaruh Olahraga Dengan Mendengarkan Musik Terhadap BDNF
Latihan merupakan stressor yang berpotensi mengganggu kondisi
seimbang pada internal tubuh (homeostasis) bagi tubuh, namun diharapkan
mampu menjadi stimulator bagi tubuh . Stres ditandai dengan meningkatnya
kortisol akibat dari aktifnya HPA axis. Aktifnya HPA axis mempengaruhi
peningkatan pada Corticotrophin-Releasing Hormone (CRH) dan Arginine
Vasopressin (AVP), sehingga menyebabkan peningkatan sekresi
adenocortropine hormone (ACTH) di kelenjar pituitari. Peningkatan ACTH
menyebabkan kortisol di korteks adrenal meningkat. Peningkatan kortisol
menyebabkan kontradiktif pada BDNF, yaitu BDNF mengalami penurunan
akibat adanya peningkatan kortisol. Hal tersebut dapat menyebabkan dampak
negatif terhadap kognitif.
Dampak negatif akan dicegah oleh tubuh dengan menjaga
keseimbangan internal atau homeostasis dengan merespon dengan umpan
balik negatif sehingga tidak menimbulkan sindroma stres. Tubuh akan
merespon stres dengan General Adaptation Sindrome (GAS). Perlu diingat
bahwa kemampuan orang untuk adaptasi tidak sama untuk masing–masing
individu. Maka dari itu pengontrolan dosis latihan mutlak diperlukan supaya
menyebabkan perubahan dan peningkatan fungsional pada tubuh.
Selain dari umpan balik negatif dari sistem tubuh tersebut, untuk
103
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
mengurangi stres dapat dilakukan dengan memanfatatkan musik. Dengan
mendengarkan musik, kortisol mampu diturunkan. Musik merupakan
stimulator untuk mengurangi stres sehingga menyebabkan menurunnya
kortisol. Penurunan kortisol ini mengakibatkan kenaikan pada BDNF karena
keduanya bekerja secara berlawanan. Kenaikan BDNF dapat menunda
kelelahan dan meningkatkan hasil kerja sehingga fungsi kognitif akan
meningkat. Selain itu peningkatan BDNF mengakibatkan peningkatan
neuroplastisitas, mencegah kematian neuron, dan menurunkan penyakit
jantung. Latihan dengan mendengarkan musik ini juga sebagai salah satu cara
mengurangi penggunaan obat untuk menurunkan stres.
104
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
PUASA DAN OLAHRAGA
8
A. Pengertian Puasa
Puasa ialah pantang dari makan dan minum, hubungan seksual, dan
nafsu selama 11-13 jam. Selain itu secara fisiologis, berpuasa berarti
“meliburkan” organ-organ pencernaan selama 12 jam. Serta menurut
Trepanowski dan Bloomer (2010) puasa didefinisikan sebagai abstain parsial
atau menghindari makan. Dalam agama Islam, dikenal dua jenis puasa, yaitu
puasa wajib (puasa Ramadhan) dan puasa sunnah (misal puasa Senin Kamis,
puasa daud, dan puasa arafah, Puasa tidak makan dan tidak minum selama 12-
19 jam setiap hari tergantung lokasi geografis dan musimnya. Namun
pengertian puasa di agam lain berbeda.
Puasa pada agama Kristen, puasa dilakukan ketika kelahiran,
prapaskan dan paskah, berbeda dengan umat islam, puasa pada agama kristen
dilakukan pada hari rabu-jumat. Sedangkan pengertian puasa pada agama
kristen lain yaitu puasa daniel, puasa tersebut menahan dari daging dan anggur
selama 21 hari, paling lama adalah 40 hari dan paling cepat yaitu 10 hari. Puasa
pada agama Hindu dilakukan selama 36 jam dan dapat dilakukan pada hari
sabtu atau senin tergantung dari penganut ajaran agama Hindu
105
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
B. Respon Tubuh Terhadap Puasa
Puasa yang dilakukan dengan baik dan benar dapat berpengaruh
terhadap tubuh, hal ini akan berdampak pada perubahan fisiologis dan
metabolisme pada tubuh. Perubahan fisologi dan metabolisme dalam tubuh
antara lain perubahan metabolisme energi, perubahan sistem imun, sistem
kardiovaskular dan perubahan metabolisme hormonal. Perubahan
metabolisme dan fisiologi tubuh berdampak positif terhadap kesehatan fisik
dan psikis. Dampak positif puasa antara lain meningkatkan fungsi kognitif,
memori,meningkatnya perasaan senang, dan sistem kekebalan tubuh (imun).
Puasa yang di lakukan menyebabkan perbaikan atau menormalkan
tekanan darah, lemak di dalam darah dan memperbaiki biomarker stres
oksidatif serta insulin, HOMA-IR, dan protein C-reaktif semua diturunkan
sampai batas klinis pada tubuh. Seseorang yang menjalankan puasa dapat
mempengaruhi fisiologis tubuh yang ditandai dengan peningkatan aktifitas
sistem saraf dan sistem endokrin, sehingga akan meningkatkan respon pada
sistem fisiologis atau organ didalam tubuh. Hal ini dikarenakan oleh
ketidakseimbangan terhadap asupan makanan dan minuman, yang berdampak
pada sistem tubuh seperti perubahan pada keseimbangan energi dan cairan.
C. Respon Sistem Saraf dan Sistem Endokrin Selama Puasa
Puasa berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit dalam
tubuh. Hal ini akan menyebabkan tubuh akan melakukan adaptasi terhadap
perubahan dari sumber energi dan cairan di dalam tubuh. Adaptasi yang
berhubungan dengan keseimbangan energi yaitu glikogenolisis, lipolisis dan
glukoneogenesis. Sedangkan adaptasi pada keseimbangan cairan terutama
dilakukan oleh ginjal dengan bantuan aldosterone dan kerja saraf simpatis.
106
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
Oleh sebab itu, terdapat peran penting dari sistem saraf dan endokrin sebagai
mediator dari respon perubahan fisiologis dalam tubuh, Hal tersebut dapat
dilihat pada gambar 8.1
Gambar 8.1 Respon Sistem Saraf dan Sistem Endokrin Sebagai Mediator terhadap
Organ Utama Tubuh pada Saat Puasa.
Gambar diatas menjelaskan puasa dapat memodifikasi neurokimia
pada otak dan mengaktivitasi jaringan saraf dengan cara-cara yang
mengoptimalkan fungsi otak dan metabolisme energi. Empat daerah otak yang
sangat penting dalam respon adaptif terhadap puasa antara lain hippocampus
(proses kognitif), striatum (kontrol gerakan tubuh), hipotalamus (kontrol
107
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
asupan makanan dan suhu tubuh) dan batang otak (kontrol sistem
kardiovaskular dan pencernaan). Otak akan berkomunikasi dengan semua
organ perifer yang terlibat dalam metabolisme energi. Puasa meningkatkan
aktivitas parasimpatis (yang dimediasi oleh neurotransmitter asetilkolin) di
neuron otonom yang akan menginervasi usus, jantung dan arteri, sehingga
meningkatkan motilitas atau gerakan usus dan mengurangi denyut jantung dan
tekanan darah. Dengan glikogen dari sel-sel hati, hasil puasa di lipolisis dan
generasi badan keton menghasilkan penurunan lemak tubuh. puasa
meningkatkan sensitivitas insulin dari sel otot dan hati, dan mengurangi
produksi IGF-1. Level dari stres oksidatif dan peradangan berkurang pada
seluruh tubuh dan otak dalam menanggapi puasa.
D. Efek Puasa Terhadap Sistem Kekebalan tubuh
Puasa dapat menumbuhkan sistem kekebalan tubuh yang berdampak
pada peningkatan kesehatan tubuh itu sendiri. Menurut Khazaei (2014)
menyatakan bahwa puasa dapat menyebabkan penurunkan inflamasi dan
mempengaruhi reaksi imun serta dapat meningkatkan CD4. CD4 merupakan
yang melawan infeksi atau virus serta memiliki peran dalam memeliharan
respon imun. Puasa ramadhan berdampak pada Circulating Immune
Complexes (CICs) dengan menggunakan metode presipitasi polietilen glikol,
chemiluminescence kuantitatif dan terjadi peningkatan sistem kekebalan tubuh
sebelum dan sesudah ramadhan. Selain itu konsentrasi IgG serum menurun
secara signifikan selama ramadhan dibandingkan dengan sebelum puasa, tapi
masih dalam kisaran normal serta konsentrasi IgA juga menurun secara
signifikan, sedangkan tingkat IgM serum tidak berubah.
Puasa berdampak pada tingkat Complement C3, Nitric Oxide Synthase
108
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
(iNOS), Superoxide Dismutase (SOD) dalam serum dan Peripheral Blood
Mononuclear Cell (PBMC) dan menemukan sistem kekebalan tubuh dapat
melawan Mycobacterium tuberkulosis dan mengurangi risiko infeksi
tuberkulosis pada subyek sehat. Selain itu, penelitian yang dilakukan di
University of Southern California menunjukkan bahwa puasa secara rutin
dapat membantu mencegah kerusakan pada sistem kekebalan tubuh dan dapat
menghasilkan sel-sel induk hematopoietik yang menghasilkan sel-sel darah
dan meregenerasi sel-sel kekebalan tubuh.
E. Puasa dan Olahraga
Puasa di bulan suci ramadhan adalah kewajiban bagi umat islam
dengan pantang dari makan minum dimulai sebelum matahari terbit sampai
matahari terbenan, sehingga menyebabkan penurunan aktifitas olahraga
selama puasa, namun perlu ditekankan bahwa puasa yang dikombinasikan
dengan berolahraga berdampak positif terhadap. Oleh karena itu, salah satu
cara untuk tetap dapat berolahraga selama puasa dengan memodifikasi
program olahraga dan waktu olahraga. Sedangkan, olahraga yang dilakukan
harus sesuai dengan dosis yang benar, hal tersebut agar berdampak positif pada
kesehatan dan tidak berpengaruh buruk terhadap puasa yang dijalankan.
Puasa yang dikombinasikan dengan olahraga lebih baik dilakukan pada
saat sebelum iftar atau maghrib, karena pada sore hari tingkat koordinasi
motorik dan fisik menjadi lebih tinggi. Olahraga yang dilakukan selama puasa
akan menyebabkan rasa lapar akibat berpuasa dipindahkan dijalankan. Hal
tersebut dapat dikarenakan aktivitas beberapa hormon seperti peningkatan
hormon serotonin, hormon dopamine maupun katekolamin. Sehingga,
olahraga yang dilakukan selama puasa berdampak positif terhadap kesehatan
109
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
psikis, fisik, maupun secara religi.
Olahraga dapat menimbulkan adaptasi sistem fisiologis tubuh, akan
bereaksi adaptasi hanya akan timbul apabila beban latihan yang diberikan
intensitasnya cukup memadai dan berlangsung cukup lama. Olahraga dapat
berdampak positif pada psikis, seperti meningkatnya mental maupun rasa
senang, rasa senang dapat dilihat dari hormon serotonin. Olahraga dapat
memodulasi sekresi dari hormon serotonin (5-HT), sekresi serotonin di
pengaruhi oleh jumlah triptofan, triptofan merupakan asam amino yang
mensintesis serotonin. Olahraga yang dilakukan dengan intensitas sedang
(moderat) dapat merangsang parameter yang terkait dengan sekresi serotonin,
sehingga dapat terjadi perubahan kadar hormon seorotonin. Pada gambar (8.2)
menjelaskan efek olahraga dengan intensitas moderat, efek olahraga di awali
dengan meningkatkan aktifitas CNS (Central Nervous System), yang di tandai
dengan penurunan HPA Axis dan menurunnya sekresi kortisol, setelah itu CNS
akan meningkatkan sekresi BDNF (Brain Derived-Neuro Factor), serotonin,
dopamin dan beta endorpin.
Gambar 8.2 Efek Fisiologis Olahraga Moderat (Sanchez dkk, 2016:31)
110
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
Olahraga merupakan stresor bagi tubuh yang memiliki potensi terhadap
gangguan homeostatis, dan dapat menyebabkan stres fisik, kimia, fisiologis
serta psikologis. Olahraga moderat dapat menimbulkan stress, namun masih
dapat diterima oleh tubuh.Stress tersebut akan direspon hipotalamus,
hipotalamus menerima masukan mengenai stresor fisik dan psikologis dari
seluruh tubuh, hal tersebut mengaktifkan dan meningkatan aktivitas sistem
saraf simpatis, sebagai antisipasi terhadap stress.
Stres oleh tubuh direspon dengan mengaktifkan sistem kardiorespirasi,
sistem locus ceruleus (LC/norepinephrin (NE), sistem metabolisme dan HPA
axis (Mastorakas & Pavlatou, 2005). Aktifnya hipotalamus–puitutary–adrenal
axis (HPA), menimbulkan conditioning stimuli pada alur limbic–hipotalamus–
puitutary-adrenal Axis (LHPA axis), kemudian merangsang hipotalamus dan
menyebabkan disekresinya hormon corticotrophin relesing hormone (CRH),
merangsang hipotalamus untuk sekresi ACTH. Peningkatan sekresi ACTH,
menyebabkan meningkatnya sekresi, kortisol. Peningkatan kortisol pada saat
berolahraga sangat penting untuk mengontrol dan berperan dalam regulasi
metabolisme energi. Sekresi kortisol meningkatkan glukoneogensis,
meningkatkan memobilisasi lemak dan protein yang dapat dilihat pada gambar
8.3
111
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
Gambar 8.3 HPA Axis dan Respon Stress (Guilliams & Edwards, 2010:3)
Peningkatan mobilisasi protein dapat meningkatkan sintesis dari
hormon serotonin melalui triptofan, triptofan merupakan penentu dari sintesis
hormon serotonin. Olahraga dapat menimbulkan peningkatan konsentrasi
serum nonesterified fatty acid (NEFA), yang memisahkan triptofan dari
albumin dalam darah dan meningkatkan serum triptofan di dalam darah.
triptofan selain di dalam darah juga menuju otak, hal tersebut akan
menyebabkan terjadi sekresi hormon serotonin pada otak dan dalam darah
selama olahraga. Oleh karena itu, olahraga dapat menjadi strategi yang baik
dalam meningkatkan serotonin di dalam tubuh. Sekresi serotonin
meningkatkan perasaan senang.
112
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
F. Pengaruh Puasa dan Olahraga Terhadap Hormon Serotonin, IGF dan
Melatonin
Olahraga yang dilakukan dengan berpuasa berdampak positif terhadap
tubuh, dan menyebabkan meningkatkan metabolisme hormonal. Peningkatan
metabolisme hormonal salah satunya ialah hormon serotonin, peningkatan
hormon serotonin terjadi dikarenakan tubuh merespon puasa dan olahraga
yang dilakukan. Respon tubuh selama puasa disebabkan peningkatan hormon
glukagon. Sedangkan pada saat berolahraga terjadi respon tubuh dengan
meningkatkan sistem saraf simpatik untuk merangsang peningkatan hormon
epinefrin.
Peningkatan hormon glukagon akan merangsang aktivitas
glikogenolisis untuk memenuhi kadar glukosa darah, peningkatan tersebut
menyebabkan peningkatan mobilisasi protein sehingga menyebabkan asam
amino triptopan menjadi meningkat. Selain itu, pada saat olahraga peningkatan
hormon epinefrin akan merangsang metabolisme lemak (lipolisis) dan protein
(proteinosis), peningkatan tersebut juga menyebabkan peningkatan asam
amino triptopan, yang merupakan bahan utama dari hormon serotonin. Oleh
karena itu, puasa yang dikombinasikan dengan berolahraga akan
meningkatkan sekresi serotonin yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas
hormon glukagon dan epinefrin, sehingga puasa yang dikombinasikan dengan
berolahraga berdampak positif terhadap kesehatan fisik dan psikis.
Puasa mempunyai dampak baik terhadap peningkatan kesehatan
seseorang baik secara fisik maupun secara psikis. Peningkatan secara fisik
ditandai dengan peningkatan pertumbuhan, yang diperantarai oleh IGF-1.
Aktifnya IGF-1 merupakan hasil dari aktifnya growth hormone (GH) (seperti
dijelaskan gambar 2.3), aktifnya GH merupakan respon terhadap rangsangan
113
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
metabolisme energi selama puasa.
Metabolisme energi selama puasa memengaruhi aktifnya GH, aktifnya
GH akan meningkatkan kepekaan jaringan adiposa terhadap efek mobilisasi
lemak (lipolisis), yang menyebabkan pembebasan asam lemak dan gliserol
kedalam darah untuk di metabolisme di hati.
Gambar 8.4 Menjelaskan pengeluaran IGF-
1 akibat berbagai faktor, salah satunya
dalam keadaan puasa ditandai dengan
rendahnya kadar glukosa dalam darah.
114
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang
DAFTAR PUSTAKA
Blankenship. (2008). The Psychology of Teaching Physical Education.
Holcomb Hahtway, Publishers, inc.
Brotzman, S. B., & Manske, R. C. (2011). Clinical Orthopaedic Rehabilitation
E-Book: An Evidence-Based Approach-Expert Consult. Elsevier
Health Sciences.
Giriwijoyo, S., & Sidik, D. Z. (2012). Ilmu kesehatan olahraga. PT Remaja
Rosdakarya.
Kennedy, E., & Markula, P. (Eds.). (2011). Women and exercise: The body,
health and consumerism (Vol. 5). Routledge.
Manaba, F. (2013). anatomi fisiologi. Jakarta: buku Kedokteran EGC
McGinnis, P. M. (2013). Biomechanics of sport and exercise. Human Kinetics.
Sharlin, J & Edekstein, S. (2011). Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta:Buku
kedokteran EGC.
Soetjiningsih, D & Ranuh, G. (2012). Tumbuh kembang anak edisi 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Waddington, I., & Smith, A. (2013). Sport, health and drugs: A critical
sociological perspective. Routledge.
Walton-Fisette, & Wuest . (2018). Foundations of physical education, exercise
science, and sport (19 edition). McGraw-Hill Education: (New
York).
Wiarto, G. (2013). Fisiologi dan olahraga. Yogyakarta: Graha Ilmu.
115
Moch. Nasmay Lupita, S.Or / Pascasarjana / Universitas Negeri Malang