The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Annisa Nur Azizah - X IPA 4 E BOOK BATIK

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by annisanurazizah250606, 2021-10-10 01:10:22

Annisa Nur Azizah - X IPA 4 E BOOK BATIK

Annisa Nur Azizah - X IPA 4 E BOOK BATIK

E-BOOK BATIK

Disusun Oleh :
Nama : Annisa Nur Azizah

Kelas : X IPA 4
PROGAM STUDI MUATAN LOKAL MEMBATIK

SMA 1 BONTANG
TAHUN AJARAN 2021/2021

i.

Kata Pengantar

Alhamdulillah Puji syukur penulis panjatkan dengan menyebut Asma Allah yang
Maha Besar & Maha Penyayang, dengan Bimbingan Karunia & Rahmat Nya, penulis
berhasil menyelesaikan tugas e - book batik ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan penulisan dari e - book batik adalah untuk memenuhi tugas Ibu Anita
Sari dalam menyelesaikan tugas mata pelajaran Muatan Lokal Batik (MLK). Selain
itu, e - book ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang batik bagi para
pembaca dan juga bagi penulis.
Saya mengucapkan terima kasih kepada selaku Ibu Anita Sari yang telah
memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai
saya mengenai batik.
Dengan selesainya e - book batik, penulis berharap agar Novel ini bisa menjadi
suatu pelajaran bagi kita semua dalam bersikap baik kepada semua makhluk hidup
Penulis menyadari bahwa e - book batik yang telah disusun ini, masih mempunyai
banyak kekurangan, baik dalam gaya bahasa ataupun teknik penulisan. Oleh karena
itu, penulis sangat senang agar para pembaca mau memberikan kritik & saran, agar
karya tulis ini dapat diperbaiki dengan sempurna
Bontang, 09 Oktober 2021

Penulis
Annisa Nur Azizah

ii.

Daftar Isi

Halaman Judul …………………………………………………………...………… i

Kata Pengantar ………………………………………………………...…………… ii

Daftar Isi ………………………………………………………...……………iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………...………… 1

Latar Belakang ……………………………………………………………...………….1

BAB II PEMBAHASAN ……………………….…………...……………...…………. 2

Batik Berdasarkan Sejarahnya …..…..……………………………….…………...... 2

Batik Berdasarkan Motifnya ……..……………………………………………...….... 8

Batik Berdasarkan Proses Pembuatannya ………………………….…………..… 43

BAB III PENUTUP………….………………………….………..……………………..49

A. Kesimpulan ………………….……………………….…………..……………...49

B. Saran …………………………………………….……………..………..……....49

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………….……..….….......50

iii.

BAB I PENDAHULUAN

 Latar Belakang

Batik merupakan warisan budaya peninggalan nenek moyang yang masih
berkembang di Indonesia. Kain batik dikenakan sebagai ciri khas pakaian di
Indonesia yang digunakan semua kalangan. Diketahui zaman dahulu batik
merupakan pakaian yang dikenakan keluarga keraton kerajaan dan pantang dipakai
rakyat biasa, beberapa motif batik hanya boleh dikenakan kalangan tertentu karena
memiliki nilai-nilai filosofis dan dipakai dalam upacara-upacara adat. Batik bagian
dari karya budaya asli Nusantara yang banyak dikagumi oleh khalayak dari berbagai
penjuru dunia.

Ada dua makna besar batik bagi masyarakat Indonesia :
1. batik merupakan warisan kebudayaan dari nenek moyang bangsa Indonesia.
2. sebagai sebuah karya industri, batik merupakan mata pencaharian atau
lapangan kerja bagi masyarakat yang terlibat di dalamnya.

Atas dasar itu, batik perlu dilestarikan, dilindungi dan didukung pengembangannya
sebagai suatu kebudayaan tradisional yang telah berlangsung secara turun
temurun.
Secara etimologi kata batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu ”tik” yang berarti titik /
matik kemudian berkembang menjadi istilah ”batik”. Batik mempunyai pengertian
yang berhubungan dengan membuat titik atau meneteskan malam pada kain mori.
Menurut KRT.DR. HC. Kalinggo Hanggopuro (2002, 1-2) dalam buku Bathik
sebagai Busana Tatanan dan Tuntunan menuliskan bahwa, para penulis terdahulu
menggunakan istilah batik yang sebenarnya tidak ditulis dengan kata”Batik” akan
tetapi seharusnya ”Bathik”.
Hal ini mengacu pada huruf Jawa ”tha” bukan ”ta”. Berdasarkan etimologi tersebut
sebenarnya batik identik dikaitkan dengan suatu teknik dari mulai penggambaran
motif hingga pelorodan. Salah satu yang menjadi ciri khas dari batik adalah cara
pengambaran motif pada kain ialah melalui proses pemalaman yaitu mengoreskan
cairan lilin yang ditempatkan pada wadah yang bernama canting dan cap.

1.

BAB II PEMBAHASAN

A. Batik Berdasarkan Sejarah

Batik di Indonesia kemungkinan diperkenalkan dari Sri Langka / India pada abad ke
6 dan ke 7. Batik menjadi biasa di masyarakat sejak kerajaan Majapahit abad ke-17.
Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan erat dengan perkembangan kerajaan
Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Pengembangan batik pada
masa : kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.
Dahulu, motif batik ditulis di daun lontar dan papan rumah adat Jawa, di dominasi
gambar flora atau fauna. Penulisan batik menggunakan kain putih / kain berwarna
terang yang ditenun, karena lebih tahan lama dan dapat dimanfaatkan lebih banyak.
Pewarna dibuat sendiri dari tumbuhan asli Indonesia : daun jati, mengkudu, tinggi,
pohon nila, dan soga. Bahan sodanya, para pembatik menggunakan soda abu dan
tanah lumpur. Batik menyebar luas di Indonesia. Akhirnya para pembesar kerajaan
dijawa : Mataram, Majapahit, Demak, dll, menjadikan batik sebagai simbol budaya.
Meluasnya batik menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa, akhir
abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan adalah batik tulis sampai
awal abad ke-XX dan batik cap setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun
1920. Keterkaitan batik dengan penyebaran ajaran Islam, menjadi alat perjungan
ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.
Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi
kebudayaan keluaga raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik hanya dalam kraton
saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Karena
banyak dari pengikut raja tinggalnya diluar keraton, maka kesenian batik dibawa
oleh mereka keluar keraton dan dikerjakan ditempat masing-masing. Lama-lama
kesenian batik ditiru oleh rakyat terdekat dan meluas menjadi pekerjaan kaum
wanita rumah tangga untuk mengisi waktu senggang. Sehingga, batik yang tadinya
hanya pakaian keluarga keraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari.

2.

B. Jaman Majapahit

Batik kebudayaan di kerajaan Majapahit dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan
Tulung Agung. Mojokerto adalah daerah yang memiliki hubungan erat dengan
kerajaan Majapahit dan asal nama Mojokerto ada hubungannya dengan Majapahit.
Perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat
perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman
kerajaan Majapahit. Dahulu, daerah Tulungagung sebagian terdiri dari rawa-rawa,
dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, pada saat bekembangnya
kerajaan Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang,
dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan, bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahit, Adipati
Kalang tewas dalam pertempuran, disekitar desa bernama Kalangbret. Maka
petugas - petugas tentara dan keluarga kerajaan Majapahit yang menetap dan
tinggal diwilayah Tulungagung juga membawa kesenian batik. Daerah pembatikan
sekarang di Mojokerto terdapat di Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo. Diluar
daerah Kabupaten Mojokerto ialah di Jombang. Akhir abad ke-XIX ada beberapa
kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai kain putih dan
obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan lainnya. Obat-obat
luar negeri dikenal sesudah perang dunia ke satu, dijual oleh pedagang-pedagang
Cina di Mojokerto.

Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri.
Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya
dipasar Porong Sidoarjo, Pasar Porong sebelum krisis ekonomi dikenal sebagai
pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkir dan Jetis
Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojokerto ikut
lumpuh, karena pengusaha-pengusaha kebanyakan pengusaha kecil. Sesudah
krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan
saat pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan
muncul sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan. Ciri
khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto hampir sama dengan batik - batik
Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua.

Dikenal sejak lebih dari seabad, tempat pembatikan didesa Majan dan Simo. Desa
ini mempunyai riwayat peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro.
Pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun, perkembangan batik mulai
menyebar pesat didaerah Jawa Tengah Surakarta dan Yogyakata. Hal tersebut
terlihat dari perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung, berikutnya lebih
dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta. Desa Sembung merupakan salah satu
sentra batik yang terkenal pada masa itu, para pengusaha batik kebanyakan berasal
dari Sala yang datang di Tulungagung pada akhir abad ke-XIX. Sekarang masih
terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Sala menetap didaerah Sembung.
Selain dari tempat-tempat tesebut, terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan
beberapa di Kediri, tetapi sifat pembatikan sebagian kerajinan rumah tangga dan
berbentuk batik tulis.

3.

C. Jaman Penyebaran Islam

Pembatikan daerah Jawa Timur berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam adalah
di Ponorogo. Seni batik daerah Ponorogo erat hubungannya dengan perkembangan
agama Islam dan kerajaan-kerajaan dahulu. Konon, di daerah Batoro Katong, ada
seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong adik dari
Raden Patah. Batoro Katong ini yang membawa agama Islam ke Ponorogo dan
petilasan yang sekarang ialah sebuah mesjid didaerah Patihan Wetan. Selanjutnya,
di Ponorogo, di daerah Tegalsari ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan
Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari
selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu
perang dan kesusasteraan.

Seorang murid yang terkenal dari Tegalsari dibidang sastra ialah Raden
Ronggowarsito. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Keraton
Solo. Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan keraton. Oleh karena putri
keraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti
oleh pengiring-pengiringnya. disamping itu banyak pula keluarga kraton Solo belajar
dipesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju
ke Ponorogo. Pemuda-pemudi yang dididik di Tegalsari kalau sudah keluar, dalam
masyarakat akan menyumbangkan dharma bakti dalam bidang-bidang kepamongan
dan agama. Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang ialah daerah
Kauman yaitu Kepatihan Wetan dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo,
Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten,
Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut.

Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan adalah buatan dalam negeri
sendiri dari kayu - kayuan antara lain : pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Bahan
kain putih juga memakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih import
dikenal di Indonesia akhir abad ke-19. Pembuatan batik cap di Ponorogo dikenal
setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng
dari Banyumas.

Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal dalam pewarnaan nila yang tidak luntur
dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak
memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat
dikenalnya batik cap maka produksi batik Ponorogo setelah perang dunia 1 sampai
pecahnya perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori
biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal di seluruh Indonesia.

D. Zaman Penjajahan Belanda dan Jepang

a) Pendudukan Belanda

Saat berkecamuknya perang antara tentara kolonial Belanda dengan pasukan-
pasukan pangeran Diponegoro maka. sebagian dari pasukan-pasukan Kyai Mojo
mengundurkan diri kearah timur dan daerah tersebut sampai sekarang bernama
Majan.

4.

Sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan, desa Majan
berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan kepala desanya seorang kyai yang
statusnya turun-temurun. Pembuatan batik Majan ini merupakan peninggalan dari
zaman perang Diponegoro.

Ciri khas batik majan dan Simo yaitu memiliki warna yang sangat unik karena
berwarna merah menyala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnya dari tom. Pada
masa penjajahan Belanda terjadi perpaduan kebudayaan batik. Akulturasi budaya itu
memunculkan perpaduan motif batik yang unik dan sangat menarik. Dapat dikatakan
bahwa batik yang tercipta pada masa pendudukan Belanda merupakan batik
Indonesia yang motifnya dipengaruhi oleh kebudayaan Belanda. Motif batik Belanda
ini merupakan karya dari wanita Indo-Eropa yang dikembangkan antara tahun 1840-
1940. Pada masa penjajahan Belanda, warga keturunan Belanda di Indonesia
banyak yang tertarik dan mencintai batik Indonesia.

Salah satu sejarah yang ditinggalkan ada sebuah pabrik batik di solo, sampai
sekarang memproduksi kain batik. Meskipun mereka menyukai batik Indonesia
tetapi, orang belanda menginginkan corak batik yang berbeda dari batik Indonesia.
Mereka memodifikasi batik Indonesia dengan warna dan motif yang sesuai dengan
budaya Belanda atau Eropa. Dari akulturasi budaya ini, terciptalah batik dengan
motif bunga dan warnawarna yang lebih ceria dibandingkan batik Indonesia. Batik
motif baru ini kemudian dikenal dengan istilah batik Belanda atau Dutch Batik.

Ciri - ciri motif belanda adalah bunga-bunga dengan warna cerah, dikenal dengan
istilah Batik Buketan. Istilah buketan berasal dari kata bouquet yang berarti bunga.
Batik Belanda berisi aneka bunga khas Belanda dengan hiasan burung. Batik
Belanda yang dikenal sebagai Batik Buketan, jika dilihat dari sejarahnya merupakan
perpaduan dua kebudayaan, Yaitu budaya Belanda dan Indonesia. Selain Batik
Buketan, berkembang juga batik Belanda dengan warna dasar putih atau biru.
Ragam hiasnya berupa gambar-gambar yang berkaitan erat dengan kehidupan
sosial budaya orang Belanda di Indonesia. Pada jenis batik Belanda ini dapat
dijumpai ragam hias berupa kapal perang, meriam, parasut, dan tentara Belanda.
Pada masa penjajahan Belanda, selain batik dengan motif diatas berkembang juga
jenis batik yang disebut Batik Kompeni. Jenis batik ini berwarna pastel dengan motif
yang mengangkat tokoh dari cerita anak atau dongeng-dongeng yang populer di
Eropa. Pada jenis batik ini dapat ditemukan gambar seperti taman ria, bidadari,
Cinderella, si topi merah dengan serigala, dan cerita cerita yang lainnya.

b) Pendudukan jepang

Jepang berkedudukan di Indonesia antara tahun 1942 hingga 1945, pada masa
pendudukan jepang batik kembali mengalami penyesuaian. Pada masa ini batik
mengalami perubahan, baik akibat akulturasi budaya maupun akibat kelangkaan
kain. Pada masa penjajahan Jepang, masyarakat memang mengalami kekurangan
bahan. Untuk mengatasi keadaan tersebut, diciptakanlah batik yang disebut Batik
Pagi-Sore, yang memiliki arti, dalam satu kain batik diciptakan dua corak yang
berbeda sehingga dapat dikenakan untuk saat yang berbeda.

5.

Jenis batik ini kemudian dikenal dengan nama Batik Jawa Hokokai, nama batik ini
diambil dari sebuah organisasi bentukan pemerintah militer Jepang, yaitu Jawa
Hokokai yang berarti Himpunan Kebaktian Jawa. Walaupun diberi nama dalam
bahasa Jepang dan diciptakan pada masa pendudukan Jepang, namun Batik Jawa
Hokokai tidak dibuat untuk memenuhi keperluan orang Jepang. Jenis batik ini dibuat
untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Indonesia sendiri. Jenis batik ini awalnya
dipesan oleh orang dari lembaga Jawa Hokokai, kemudian batik ini diberikan kepada
orang-orang Indonesia yang dianggap berjasa dalam propaganda atau membantu
kepentingan jepang.

Batik Jawa Hokokai menjadi mode dan orang-orang Indonesia ikut membeli batik
dengan motif tersebut. Batik Jawa Hokokai adalah batik yang dibuat oleh orang
Tionghoa untuk keperluan penyesuaian orang- orang Tionghoa di Indonesia
terhadap kekuasaan Jepang. Motif dan warna batik ini dipengaruhi budaya Jepang
yang dikembangkan dari motif batik keraton. Ragam hias Batik Jawa Hokokai :
bunga sakura, krisan, dahlia, dan anggrek dalam bentuk buketan atau lung-lungan.
Selain itu, batik ini kadang ditambahkan ragam hias seperti kupu-kupu dan burung
merak yang memiliki arti keindahan dan keagungan.

Batik Jawa Hokokai berkembang terutama di daerah Pekalongan hingga akhir tahun
1945. Setelah Perang Dunia Kedua usai Jepang takluk dan angkat kaki dari
Indonesia. Akibatnya, produksi Batik Jawa Hokokai mengalami penurunan.
Meskipun setelah kepergian jepang batik hokokai mengalami penurunan namun,
motif-motif batik terus berkembang mengikuti dinamika masyarakat. Kemudian
muncul istilah batik baru seperti Batik Nasional dan Batik Jawa Baru.

Batik Jawa Baru merupakan perubahan dari Batik Jawa Hokokai. Pada tahun
1950an, Batik Jawa Baru masih menunjukkan pengaruh Batik Jawa Hokokai. motif
Batik Jawa Baru sama dengan Batik Jawa Hokokai, yang membedakan adalah
isenisennya tidak serapat Batik Jawa Hokokai. Perkembangan selanjutnya, Batik
Jawa Baru menggunakan motif Jlamprang dan Tirtareja, serta Parang sebagai isen
latar yang dipadu dengan warna sesuai dengan selera orang Indonesia.

E. Perkembangan Batik di Wilayah Lain

Selain berkembang diwilayah Solo dan Yogyakarta, batik juga berkembang di
wilayah lain, seperti di Banyumas, berpusat di daerah Sokaraja. Perkembangannya
dimulai pada Pada tahun 1830 setelah perang Diponegoro. batik dibawa oleh
pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro yang sebagian besar menetap di daerah
Banyumas, kemudian mereka kembangkan sebagai kain Batik. Perkembangannya
sampai saat ini, batik Banyumas dikenal dengan motif dan warna khusus dan
dikenal dengan batik Banyumas. Selain di Banyumas, batik juga berkembang
didaerah pekalongan, yang kemudian terkenal dengan istilah batik pantai karena
pengikut Pangeran Diponegoro kala itu juga ada yang menetap di Pekalongan, yaitu
di daerah Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo. Batik Pekalongan mengalami
perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Batik Pekalongan menjadi
sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil.

6.

Puluhan tahun silam hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik
Pekalongan dikerjakan di rumah - rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat
dengan kehidupan masyarakat. Batik Pekalongan berkembang dibeberapa wilayah.
Perkembangan ini terjadi karena masyarakat dari Jawa Tengah pergi merantau ke
beberapa kota seperti Ciamis dan Tasikmalaya, kemudian mengembangkan batik
diwilayah masing-masing, seperti di Tasikmala yaitu wilayah Wurug, Sukapura,
Mangunraja dan Manonjaya. Di daerah Cirebon batik mulai berkembang dari keraton
dan mempunyai ciri khas tersendiri, yang berbeda dengan wilayah asalnya. Pada
akhirnya batik tidak hanya berkembang di pulau jawa saja tetapi batik juga
berkembang ke seluruh wilayah nusantara dari sabang sampai merauke.

F. Batik Indonesia Mulai Mendunia

Sejarah batik pertama kali muncul saat Sir Thomas Stamford Raffles yang menjabat
gubernur pada masa pemerintahan Inggris di Indonesia pada tahun 1817
menuliskan bukunya History of Java terbitan London. Kemudian pada sekitar tahun
1873 juga diketahui seorang pedagang asal Belanda yaitu Van Rijekevorsel pernah
mengunjungi Nusantara. Saat itu ia membawa selembar kain batik dari Indonesia.
Kemudian dia menyumbangkan kain batik itu ke Museum Etnik yang ada di kota
Rotterdam, Belanda. Sejak saat itu, hingga kini, batik Indonesia mulai dikenal dunia.
Meski sempat diklaim sebagai kebudayaan milik negeri jiran, karena bukti yang kuat
perjuangan dari berbagai pihak, batik diakui milik Indonesia oleh UNESCO, dengan
memasukkan batik Indonesia ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya
Takbenda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage
of Humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (Fourth Session of the
Intergovernmental Committee) tentang Warisan Budaya Tak-benda di Abu Dhabi.
Dengan demikian kuatlah bukti bahwa batik adalah milik Indonesia.

G. Sejarah Hari Batik Nasional

Sebelumnya batik pernah diklaim oleh malaysia sebagai hak milik, ini sebabnya
pada tanggal 3 September 2009 Indonesia mengikutsertakan batik dalam proses
nominasi UNISCO sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan
nonbendawi. Pada tanggal 2 Oktober 2009 UNISCO menetapkan batik sebagai
warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi. Alasan UNESCO
mengangkat batik karen batik Indonesia dinilai memiliki banyak simbol yang
berkaitan erat dengan kebudayaan lokal, setatus sosial, alam dan sejarah.
Pemerintah lalu menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional melalui
keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009.

7.

Batik Berdasarkan Motifnya

1. Batik Motif Klasik
Batik Klasik dihasilkan melalui proses menghias kain dengan malam atau lilin
sebagai perintang warna untuk membentuk motif menggunakan canting. Batik Klasik
bernilai seni tinggi dan tidak lekang tergerus oleh perkembangan zaman, karena di
dalamnya sarat makna filosofi tinggi sebagai ajaran hidup, khususnya bagi
masyarakat jawa. Batik Klasik mempunyai dua macam keindahan, yaitu keindahan
visual dan keindahan filosofi.
Berikut beberapa contoh motif klasik :

a. Motif lereng atau liris

Ditemukan oleh Pakubuwana III ketika bertapa dan berendam di sungai, tiba-tiba
angin dan hujan bertiup adalah awal mula motif ini dibuat. Dalam bahasa Jawa
berarti hujan gerimis, artinya agar hujan gerimis diharapkan dapat menyejukkan hati
untuk pemakainya atau arti manusia diharapkan siap menghadapi cobaan hidup.
Motif batik ini adalah gabungan beberapa motif batik secara mikro seperti motif
Parang Motif ini hanya dipakai oleh keluarga Keraton.

b. Motif ceplok

Batik dengan motif bentuk dasar geometri, seperti persegi, dan bintang lalu disusun
8.

melingkar menyerupai bunga dengan pola simetris. Bentuk utama geometris diisi
atau disebut isen-isen. Batik ceplok menggambarkan suratan takdir dan keteraturan
kehidupan, bawah dalam kehidupan ada aturan dan garisnya. Sehingga diharapkan
pemakai batik menjalani hidup secara teratur. Dahulu, batik ceplok digunakan aparat
pemerintah, diharapkan bertugas dengan benar dan jujur.

c. Motif isen cecek sawut

Motif ini hanya ada di Indonesia terdiri atas titik dan garis pendek. Cecek berarti titik,
sedangkan sawut berarti serabut atau garis-garis berjajar. Motif isen terdiri dari
ornamen utama dan ornamen pengisi berupa titik-titik, garis-garis, gabungan titik dan
garis yang berfungsi untuk ornamen-ornamen dari motif diantara ornamen-ornamen
tersebut. Motif isen ada bermacam-macam dan sekarang masih berkembang,
seperti cecek, cecek pitu, sisik melik, cecek sawut, cecek sawu daun, sisik
gringsing, galaran, rambutan, sirapan, cacah gori, dan sebagainya.

d. Motif tritik (titik-titik)

Tritik adalah cara menghias kain putih dengan menjahit jelujur lalu ditarik kemudian
dicelup dan motif terbentuk setelah benang dilepaskan. Digunakan untuk membuat
sasirangan, kain tradisional Kalimantan Selatan, Indonesia. Proses menjahit tritik
dikerjakan tradisional tanpa ketentuan jelas, sehingga pengembangan desain motif
belum maksimal. Dengan metode eksperimen didapat mengenai aturan jahitan
yang diaplikasikan pada pembuatan pola geometris. Penggunaan pola geometris
menghasilkan motif lebih teratur sebagai ciri khas tritik. Pewarnaan bertahap dan
pengaturan jarak menghasilkan efek ilusi optic (kedalaman, arah, dan gerak).

9.

e. Motif kawung
Motif kawung menyerupai buah aren dipotong melintang maka nampak 4 biji aren.
Makna batik kawung sangat dalam, yakni kemurnian, kesempurnaan, dan kesucian.
Jika dikaitkan dengan kata suwung yang berarti kosong, maka motif batik kawung
dapat ditafsirkan sebagai pengendalian diri yang sempurna atas hasrat duniawi. Ada
beberapa jenis batik kawung yaitu berdasarkan ukuran dan berdasarkan desainnya.
Motif Batik Kawung Berdasarkan Ukuran :

 Batik Kawung Picis

Motif batik kawung tersusun oleh bulatan berukuran kecil. Penamaannya dari uang
10 sen berukuran kecil. Motifnya melambangkan empat penjuru (pemimpin berperan
sebagai pengendali perbuatan baik), dan hati nurani sebagai pusat pengendali
nafsu terdapat pada diri manusia, sehingga keseimbangan pada diri manusia.

 Batik Kawung Bribil

Motif Kawung Bribil berbentuk lebih besar daripada kawung Picis. Hal ini sesuai
dengan nama bribil, mata uang yang bentuknya lebih besar daripada picis. Bribil
berarti setengah sen. Sumber lain menyatakan motif bribil atau gidril adalah nama
mata uang yang terbuat dari nekel, nilainya sama dengan 5 / 25 sen

 Batik Kawung Sen
Batik Kawung Sen adalah kawung yang bentuknya bulat-lonjong lebih besar dari
Kawung Bribil, sesuai dengan koin 1 sen zaman kolonial yang lebih besar dari bribil.

10.

Meskipun demikian, Kawung Sen, Kawung Bribil dan Kawung Gidril adalah motif
yang sama, terinspirasi dari koin sen, sementara motif kawung Picis tidak.

 Batik Kawung Kemplong

Batik kawung kemplong memiliki motif terbesar daripada jenis batik kawung lainnya.
Motif Batik Kawung Berdasarkan Desain :

 Batik Kawung Beton

Bentuk motif Kawung beton berhias 4 bulatan dengan dua buah titik segi empat. Di
antara 4 bulatan terdapat empat bagian yang dibatasi garis silang. Pengertian Beton
berasal dari nama biji buah nangka dalam bahasa Jawa, buah nangka berada di
dalam memiliki makna simbol tentang perbuatan baik tidak selalu ditampilkan di luar.

11.

 Batik Kawung Geger

Kawung Geger adalah motif kawung besar-besar dan diisi dengan motif kawung
yang lebih kecil di dalamnya. Batik ini dianggap sakral dan hanya boleh dipakai oleh
raja-raja beserta keluarga dekatnya. Hal Ini berhubungan dengan peristiwa sejarah,
yaitu perjanjian Ponorogo 1813 yang memecah kasultanan menjadi Kasultanan
Ngayogyakarto Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman.

 Batik Kawung Kopi

Ornamen utama berbentuk bulatan lonjong, dan pada setiap motif diberi bentuk garis
membelah menjadi dua bagian menyerupai bentuk buah kopi pecah. Sehingga
disebut dengan Kawung Kopi. Ornamen utama terdiri dari empat bulatan lonjong
disusun berdasarkan garis miring yang silang atau garis diagonal miring, disusun
dengan bentuk garis lurus horizontal maupun vertikal. Komposisi warna pada motif
kawung terdiri dari warna putih,putih kekuningan, merah soga sebagai warna kontur,
sedangkan warna hitam untuk memberi warna latar dalam motif Kawung kopi.

 Batik Kawung Sekar Ageng

12.

Terdiri dari unsur ornamen utama berbentuk empat bulatan lonjong yang telah
mengalami perubahan menjadi bentuk agak persegi atau bujur sangkar. Pada setiap
ornamen utamanya terdapat tiga buah garis (sawut) serta diikuti tiga buah titik
(cecek). Bentuk tersebut dalam istilah batik sering disebut dengan istilah cecek
sawut. Unsur motif kawung ini juga terdapat isen motif berupa empat bentuk belah
ketupat kecil sebagai variasi dalam komposisi bentuk visualnya. Sedangkan
komposisi warna terdiri dari warna putih, putih kekuningan sebagai warna pada
ornamen utama, merah soga untuk memberi warna kontur motif dan isen motif, serta
warna hitam merupakan latar pada motif Kawung SekarAgeng.

 Batik Kawung Semar

Terdiri dari unsur ornamen utama yang berbentuk empat bulatan lonjong dengan
ukuran besar seperti pada Kawung Beton, tetapi di dalam ornamen utamanya
terdapat bentuk bulatan lonjong dengan ukuran yang lebih kecil. Isen motif pada
Kawung Semar terdiri dari bentuk cecek (titik) yang terdapat pada lingkaran di dalam
bulatan Kawungnya. Di tengah-tengah ornamen utama terdapat isen motif yang
berbentuk belah ketupat yang diisi dengan cecekcecek (titik-titik) serta beberapa titik
berbentuk sederetan yang melingkar.

 Batik kawung cacah gori

Batik kawung bermotif yang memiliki isen isen cacah gori.

13.

f. Motif sidomukti
Motif batik khas yang dimiliki Solo adalah motif batik Sidomukti. Pada zaman dahulu,
motif Sidomukti hanya boleh dikenakan pengantin keraton yang akan
melangsungkan pernikahan. Makna batik Sidomukti adalah adanya harapan agar
kedua pengantin dapat memperoleh kesejahteraan dan kemuliaan dalam
mengarungi bahtera rumah tangga. Namun di zaman modern ini, motif Sidomukti
telah banyak digunakan oleh siapa saja, bukan hanya pengantin saja melainkan
semua kalangan pun dapat mengenakannya. Berikut beberapa motif sidomukti :

 Sidomukti Garuda

Batik sidomukti garuda merupakan gabungan antara unsur tumbuhan dan unsur
burung garuda. Tumbuhan khususnya bunga memiliki filosofi yang dalam, yakni
sebagai lambang kecantikan dan sumber kehidupan. Dalam bahasa Jawa garuda
disebut dengan Lar, dan sering dipakai untuk motif-motif batik. Sedangkan garuda
melambangkan kegagahan dan kewibawaan.

 Motif Sidomukti Isen Ukel

Motif sidomukti ini memiliki ciri khas terdapat ukel di tengah - tengah berwarna putih.
Ukel merupakan motif melungker-lungker atau mengeriting seperti dahan pada
daun yang lentur. Motif ini dibuat pertama kali oleh Sri Sultan Pakubuwono IV pada
era Mataram Kartasura.

14.

 Sidomukti Ornamen Meru

Ornamen meru merupakan perlambang kemegahan, oleh karena itu diharapkan
adanya kehidupan rumah tangga yang bahagia dan berkecukupan lahir dan batin.
Di dalam isen-isen lain juga terdapat motif kawung dan motif rambat.

 Sidomukti Singgasana Truntum

Motif singgasana melambangkan kekuasaan. Memiliki harapan bahwa kedua
mempelai pengantin hidup seperti raja yang berwibawa. Dengan wibawanya
diharapkan memiliki martabat dan kehormatan di dalam masyarakat. Motif truntum
merupakan motif tambahan. Motif truntum mengisahkan tentang kesepian.

 Sidomukti Motif Sogan Colet Burung

15.

Motif batik dari Solo. Tatanan motif yang geometris dengan burung garuda sebagai
ornamennya. Sayap burung garuda tertutup menggambarkan perwatakan yang
tegar dan kuat. Untuk isian motifnya dipenuhi dengan ukel dan cecek.

 Sidomukti Kreasi Modern

Ciri khas dari kreasi modern motif sidomukti ini adalah sudah adanya warna cerah
khas batik pesisir di dalamnya. Dalam gambar di atas, motif khas sidomukti sudah
berkolaborasi dengan motif bunga khas pesisir dengan warna cerahnya. Kreasi
motif tersebut juga memiliki kemiripan dengan motif sidomulyo yang identik dengan
lengkungannya.

 Sidomulyo Sogan Klasik

Nampaknya motif yang satu ini sudah merakyat karena sangkin populernya sebagai
salah satu motif klasik batik sidomulyo. Ciri khasnya sudah tentu pada petakan yang
membentuk belah ketupat serta isen atau isian di dalamnya yang terkadang sulit
ditebak. Sedangkan warna sogan memang banyak dijumpai pada batik Solo dan
Yogyakarta. Tidak seperti warna-warna cerah yang dimiliki batik-batik pesisir.

16.

 Sidomukti Baron

Ciri khas utama dari sidomukti baron adalah ornamen Lar dan ornamen tambahan
lainnya. Lar merupakan perlambang ketabahan dalam menghadapi cobaan hidup
yang akan dihadapi setiap pasangan yang sudah menikah.

 Sidomukti Kupu-Kupu

Ornamen kupu-kupu merupakan ornamen khas sidomukti. Kupu-kupu sebagai
lambang kebebasan dan kesempurnaan mengajarkan bahwa untuk mencapai
kebahagiaan hidup diperlukan sebuah proses yang terkadang menyakitkan. Hal
tersebut didasari pada metamorfosis kupu-kupu yang sangat sempurna dan
tentunya waktunya panjang hingga mencapai kupu-kupu yang indah.

 Sidomukti dan Sidomulyo Garis Ketupat

17.

Motif sidomukti yang satu ini merupakan motif klasik yang menjadi ciri khas motif
sidomukti. Batik ini merupakan pengembangan dari batik sidomukti dengan unsur-
unsur khas sebagai isen-isen. Gabungan kedua batik yang mirip ini
menjadi sebuah harmoni yang sangat indah dilihat.

 Motif Sidomukti Sidomulyo Modern

Menurut sejarah, batik sidoluhur memiliki dasaran warna putih yang
membedakannya dengan batik sidomukti. Namun di zaman modern ini dasaran
putih banyak divariasikan dengan warna lain, seperti hitam dan coklat.

 Sidomukti Motif Simetris

Sidomukti simetris, salah satu motif sidomukti yang banyak dijumpai dan merupakan
motif klasik batik sidomukti. Isen-isen penuh di dalam kotak merupakan ciri khas
yang dimilikinya. Warnanya coklat sogan khas batik Solo dan Jogja.

 Sidomukti Singgasana

18.

Unsur singgasana merupakan salah satu unsur utama di dalam isen sidomukti.
Unsur singgasana memiliki harapan bahwa nantinya seseorang yang memakainya
akan mendapat derajat yang tinggi serta kehormatan di mata masyarakat.

 Sidomukti Lukis

Motif sidomukti ini terjun bebas dan meninggalkan ciri khasnya yang biasanya
berada di dalam garis ketupat atau petak petak. Warnanya lebih cerah dari warna
sogan biasanya. Pada motif ini banyak dijumpai unsur floral dalam motifnya. Selain
itu ornamen burung juga sering ditemukan dalam beberapa motif.

 Sidomulyo Coklat Tua

Motif ini merupakan pengembangan dari motif sidomulyo yang kebanyakan
berwarna putih dan coklat terang. Meski warnanya coklat gelap, motif ini masih bisa
dilihat antara isen-isen yang satu dengan yang lainnya. Kain batik dengan motif ini
sering dipakai untuk bawahan kebaya pengantin dalam adat Jawa.

 Sidomulyo

19.

Batik sidomulyo masih serumpun dengan motif batik sido lainnya, seperti sidoluhur
dan sidomukti. Batik sido merupakan batik yang dipercaya melambangkan sebuah
doa maupun harapan. Nama motif batik ini berasal dari kata sida dan mulya. Kata
sida merupakan bahasa Jawa yang memiliki arti jadi atau menjadi. Sedangkan
mulya merupakan kata dalam bahasa Jawa yang artinya mulia atau makmur.

g. Motif semen atau gunung
Motif berbentuk dasar gunung. Motif dilengkapi motif meru, garuda, pohon, dan
candi. Motif ini adalah motif batik khusus Indonesia. Semen berasal dari kata semi
artinya tumbuh, diartikan “kehidupan yang semi” (kehidupan yang berkembang /
makmur). Ornamen motif semen terdiri dari 3 bagian. Pertama, ornamen yang
berhubungan dengan daratan, seperti tumbuh tumbuhan atau binatang berkaki
empat. Kedua adalah ornament yang berhubungan dengan udara, seperti garuda,
burung dan mega mendung. Sedangkan yang ketiga adalah ornamen yang
berhubungan dengan laut atau air, seperti ular, ikan dan katak.

Ada hubungannya dengan paham Triloka atau Tribawana. Paham ajaran tentang
tiga dunia; dunia tengah tempat manusia hidup, dunia atas tempat para dewa dan
para suci, dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya dipenuhi angkara murka.
Ragam Motif Semen :

a) Semen Gurdo, digunakan untuk pesta. Makna yang terkandung yakni agar si
pemakai mendapatkan berkah dan terlihat berwibawa.

b) Semen Romo, Motif Semen Rama sendiri seringkali dihubungkan dengan
cerita Ramayana yang sarat dengan ajaran Hastha Brata atau ajaran
keutamaan melalui delapan jalan. Ajaran ini adalah wejangan keutamaan
dari Ramawijaya kepada Wibisana ketika dinobatkan menjadi raja Alengka.
Jadi “Semen Romo” mengandung ajaran sifat-sifat utama yang harus dimiliki
oleh seorang raja atau pemimpin rakyat. Nasihat tersebut termaktub di dalam
asta brata (delapan keutamaan bagi seorang pemimpin)

20.

c) Semen Mentul, digunakan untuk pakaian sehari-hari. Orang menggunakan
motif ini umumnya tidak memiliki keinginan yang pasti.

d) Semen Rante, rante berarti rantai yang melambangkan ikatan. Jadi motif ini
memiliki arti ikatan cinta yang terus tumbuh bersemi antara kedua mempelai.

e) Semen Kuncoro, digunakan kegiatan sehari-hari di kraton. Mengandung
makna bahwa sang pemakai akan memancarkan kebahagiaan.

f) Semen Kakrasana, motif berasal dari Surakarta. Dibuat ketika Paku Buwono
IX, setelah abad ke 19, menggambarkan keteguhan hati, berjiwa kumawulo
(merakyat). Bisa digunakan oleh masyarakat umum.

g) Semen Naga Raja, dibuat ketika Paku Buwono IV, akhir abad ke 18, sebagai
lambang ketentraman dalam menjalankan pemerintahan, memberikan
perlindungan rakyat atas dasar cinta kasih.. Digunakan oleh abdi dalem
keraton setingkat bupati ke atas.

h) Semen Kingkin, bermakna menunjukkan suasana prihatin dalam kehidupan,
dan permohonan supaya diberi jalan yang terang. Khusus untuk orang yang
sudah berkeluarga, bukan lajang.

i) Semen Kipas, berarti memberikan kesegaran. Motif ini termasuk motif muda.
Dipakai untuk siapa saja dalam suasana apa saja.

j) Semen Kukila, bermakna manusia bertutur kata hendaknya tidak membuat
sakit hati orang lain, seharusnya menyenangkan orang lain. Dipakai untuk
siapa saja dalam suasana apa saja.

k) Semen Sida-Raja, bermakna harapan terlaksananya cita cita yang tinggi.
Digunakan oleh Bupati keatas, atau masyarakat pada saat upacara resmi.

l) Semen Remeng, bermakna mengingatkan bahwa kehidupan selalu ada dua
hal yang berpasangan, misalnya masa senang dan masa susah, baik dan
buruk, dsb.

m) Semen Candra, dibuat ketika Paku Buwono IX, pertengahan abad ke 19,
berisi petunjuk bahwa seorang mempunyai kedudukan tinggi harus
memberikan pengayoman kepada yang berada dibawahnya, menunjukkan
sikap merakyat dan tidak sok berkuasa. Digunakan oleh masyarakat umum.

n) Semen Gendhong, dibuat ketika Paku Buwono IX, akhir abad ke 19, berarti
menjunjung tinggi derajat keluarganya. Digunakan masyarakat umum. Pola
motif terdiri dari sembilan motif utama. Posisi pohon hayat di samping kanan-
kiri atas sepanjang motif-motif garuda. Di samping kanan-kiri bawah terdapat
motif binatang berkaki empat, di bawah pohon hayat terdapat motif garuda,
dan bawahnya empat pasang motif ayam. Di atas pohon hayat terdapat motif
meru, kemudian di samping kanan-kiri atas terdapat motif baito, di atas
meru juga terdapat motif sepasang burung dan sepasang motif ikan.

Secara keseluruhan motif pohon hayat di atasnya motif meru dikelilingi oleh motif
binatang darat, air, dan udara seolah menjaga keberadaan pohon hayat.

21.

2. Batik pekalongan

Batik Pekalongan termasuk batik pesisiran. Dari sisi motif, sebenarnya batik
Pekalongan mirip dengan batik Solo maupun Yogyakarta. Keunggulan batik
Pekalongan terletak pada penggunaan warna. Sehelai kain batik bisa menggunakan
delapan warna sehingga terlihat lebih indah dan menarik dibanding batik-batik dari
daerah lain. Warna-warna yang digunakan antara lain gradasi merah muda, merah
tua, kuning terang, jingga, cokelat, biru muda, hijau muda, hijau tua, dan ungu.

Motif batik Pekalongan umumnya mengambil inspirasi dari flora dan fauna. Tapi
sebagai wilayah pesisir, Pekalongan juga menjalin kontak dengan banyak pedagang
dari beragam bangsa. Perjumpaan itu mewarnai motif dan tata warna batik
Pekalongan. Budaya yang beragam diserap masyarakat sekitar dan dituangkan
dalam goresan motif batik. Inilah sebabnya Pekalongan punya motif batik yang
beragam dan luwes. Motif jlamprang yang menjadi ciri khas batik Pekalongan,
misalnya, mendapat pengaruh dari India dan Arab. Batik encim dan klengenan
dipengaruhi oleh peranakan Cina.

Motif batik Pekalongan berkembang dinamis mengikuti zaman. Di masa pendudukan
Jepang, muncul batik pagi sore atau motif jawa hokokai yang mirip motif kimono
Jepang. Lalu ada motif tritura yang muncul pada 1960-an. Belakangan muncul motif
tsunami.

Motif batik Pekalongan memakai isen-isen berbentuk titik-titik atau dalam bhs jawa di
kenal dengan arti cecek-cecek. Titik itu bisa berbentuk cecek-garis atau cecek-pitu.
Kreatifitas pemakaian cecek ini terkadang begitu menguasai sampai semuanya garis
yang membuat alur dalam motif batik pekalongan itu juga berbentuk cecek. Satu
diantara contoh batik catat halus karya " Oei Tjow Soen " yang disebut batik
pekalongan yang memakai motif batik penuh cecek yang halus sekali.

Industri batik Pekalongan bertopang pada ratusan industri rumahan yang membuat
batik secara tradisional. Mereka memperkenalkan teknik pewarnaan baru yang
disebut coletan dengan menyapukan larutan zat pewarna dengan kuas sehingga
menghemat waktu dan bahan pewarna.

22.

 Ciri motif batik pekalongan
 Pada beberapa motif batik Pekalongan yang klasik (tua) tergolong motif

semen. Motif ini hampir sama dengan motif-motif klasik semen dari daerah
Jawa Tengah, seperti Solo dan Yogyakarta yang terdapat ornamen bentuk
tumbuhan dan garuda atau sawat. Perbedaannya pada kain klasik ini hampir
tidak ada cecek. Semua pengisian motif berupa garis-garis.
 Warna soga kain dengan motif dari tumbuhan. Pada kain batik klasik
Pekalongan ini motifnya terdapat persamaan dengan kain batik klasik daerah
Solo dan Yogyakarta.
 Motif asli Pekalongan adalah motif jlamprang yaitu suatu motif semacam nitik
yang tergolong geometris.
 Beberapa corak kain yang diproduksi di Pekalongan mempunyai corak atau
gaya Cina seperti adanya ornamen Liong berupa naga
 Kain batik yang dikembangkan atau diproduksi oleh pengusaha batik
keturunan Cina , gambar-gambarnya pada motif berupa bentuk-bentuk riil
(nyata) dan banyak menggunakan cecek-cecek (titik-titik) serta cecek sawut
(titik dan garis). Isen-isen pada ornamen penuh dengan cecek.
 Sifat umum dari penduduk daerah pantai menyukai warna-warna yang cerah,
seperti warna merah, kuning, hijau, biru, violet, dan oranye.
 Motif batik pekalongan selalu berubah, banyak motif baru yang diciptakan,
terutama oleh pengerajin batik cap
 saat ini batik Pekalongan mempunyai corak khusus, yaitu bermotif bentuk
tumbuhan realistis dan jlamprang dengan warna-warna yang cerah.
 Dari segi pewarnaan Pekalongan mempunyai keunggulan dari daerah lain.

 Contoh ornamen dari daerah pekalongan
1. Ornamen Gurda/Sawat

23.

 Susunan dasarnya ada persamaan dengan ornamen dari daerah Solo
dan Yogyakarta terdiri atas dua sayap dan ekor, atau dua/satu sayap saja.

 Bagian-bagian yang menyusun sawat itu sudah berubah bentuknya.
 Jadi garuda atau sawat bentuk Pekalongan ini lebih condong kepada

bentuk dari bagian tumbuhan. Terkadang pada bagian ekor dari sawat itu
berbentuk bagian tumbuhan dan pada pangkalnya berbentuk semacam
bunga tapak dara.
2. Ornamen Tumbuhan

Ornamen berbentuk tumbuhan umum dan memegang peranan pada motif-motif
batik dari Pekalongan. Ragam hias tumbuhan menurut bentuknya dibedakan atas
tiga macam, yaitu bentuk yang tersusun semacam bunga, berbentuk bagian dari
tumbuhan dan berupa pohon.

 Bentuk terdiri atas pusat berupa semacam bunga yang dikelilingi daun bunga
dan daun. Rangkaian susunan ini serupa sawat dan menyerupai rangkaian
bunga yang riil.

 Rangkaian berbentuk tumbuhan, terdiri atas batang, daun dan bunga.
 Rangkaian berupa pohon lengkap, tinggi selebar kain dan terdiri atas

susunan batang, dahan, daun, dan bunga. Rangkaian ini terdapat pada kain
batik corak Van Zuylen.
3. Ornamen Binatang

Ornamen binatang berupa kijang atau menjangan masih terdapat pada beberapa
motif batik dari Pekalongan. Namun bentuknya sudah berubah yang kaki-kakinya
berbentuk seperti daun kecil. Ornamen binatang ini juga terdapat jenis binatang
yang berkaki banyak dan berekor panjang.

24.

4. Ornamen Burung

Ornamen burung pada beberapa motif, berupa motif burung phoenix dan burung
dewata berukuran kecil. Ornamen dikembangkan Pengusaha batik keturunan Cina.
5. Ornamen Naga

Naga adalah ular besar, mempunyai kekuatan luar biasa dan sakti. Naga digambar
dengan bentuk yang aneh, berkepala raksasa dan memakai mahkota, bersayap, dan
berkaki. Naga atau ular terdapat pada motif tergolong cuwiri Pekalongan. Kadang
digambarkan dua naga disusun simetris sehingga menyerupai ornament garuda.
6. Ornamen Meru

25.

Ornamen Meru/Gunung Mahameru terdapat beberapa jenis motif, terutama motif
cuwiri. Meru Pekalongan gemuk dan dirangkaikan dengan bagian tumbuhan, yaitu
daun-daun/bagian dahan tumbuhan. Karena dirangkaikan daun-daun yang sepintas
tidak tampak kalau bentuk tersebut adalah ornamen Meru. Motif cuwiri Pekalongan
mempunyai ornamen sawat, naga, meru, kijang, dan rangkaian tumbuhan. Dalam
penerapannya terjadi perubahan bentuk ornamen disesuaikan dengan selera
dan gaya setempat, yaitu dengan stilasi tumbuhan.
c. Motif Isen Batik Pekalongan

Motif Isen dalam proses pembutan motif batik. Ornamen ini melengkapi motif utama
sebagai hiasan atau yang mempercantik motif batik. Isen dapat diterjemahkan
sebagai “isian“, gambar-gambar yang berfungsi untuk mengisi ornamen pokok
dalam batik. Motif isen terdiri dari ornamen utama dan ornamen pengisi yang berupa
titik-titik, garis-garis, gabungan titik dan garis yang berfungsi untuk ornamen-
ornamen dari motif atau pengisi bidang diantara ornamen-ornamen tersebut. Motif
isen ada bermacam-macam dan sekarang masih berkembang, seperti cecek, cecek
pitu, sisik melik, cecek sawut, cecek sawu daun, sisik gringsing, galaran, rambutan,
sirapan, cacah gori, dan sebagainya. Walaupun sebagai pelengkap isen selalu
disesuaikan dengan motif utamanya agar terlihat padu, nyatu dan pas.

Contoh motif batik pekalongan
1. Motif Jlamprang

26.

Motif Batik Jlamprang adalah suatu motif yang berbentuk semacam nitik dari
Yogyakarta yang disebut juga dengan motif batik geometris biasanya berupa
lingkaran maupun segitiga. Motif Batik Jlamprang Pekalongan mendapatkan
inspirasi motif batik yang berasal dari para pedagang asal Gujarat, India. Motif
tersebut berasal dari kain tenun yang berbahan sutra khas Gujarat yang dibuat
dengan teknik ikat dobel atau patola. Kemudian oleh masyarakat Pekalongan
diadopsi ke dalam motif batik yang serupa motif tenun tersebut. Jadilah Motif
Jlamprang berupa ceplok yang terdiri dari bentuk bujur sangkar dan persegi panjang
yang disusun menyerupai anyaman pada kain tenun patola. Ditambah dengan
warna-warna khas Batik Pesisir Pekalongan, terciptalah motif jlamprang yang indah.
2. Batik Motif semen pekalongan

Motif Semen dimaknai “kehidupan yang semi” (kehidupan yang berkembang atau
makmur). Terdapat beberapa jenis ornamen pokok. Pertama, ornament
berhubungan dengan daratan, seperti tumbuh-tumbuhan atau binatang berkaki
empat. Kedua, ornament yang berhubungan dengan udara, seperti garuda, burung
dan megamendung. Ketiga ornament yang berhubungan dengan laut atau air,
seperti ular, ikan dan katak. Jadi “Semen Romo” mengandung ajaran sifat-sifat
utama yang seharusnya dimiliki seorang raja atau pemimpin rakyat.
3. Motif Liong

Motif liong dipengaruhi kebudayaan Cina. Terkadang bermotif burung phoenix yang
sedikit mirip naga dalam penggambarannya. Dalam mitologi Tionghoa, motif ini
menyimbolkan sumber kebaikan, kesuburan, dan kemakmuran. Diharapkan pemakai
batik akan mendatangkan kemakmuran yang melimpah ruah.

27.

4. Batik Tujuh Rupa

Batik Tujuh Rupa sendiri merupakan batik dengan motif nuansa alam. Biasanya
mengandung motif tumbuhan atau hewan. Motif ini mengadopsi pada motif
tumbuhan yang ada pada keramik dari Tiongkok. Motif tumbuhan tersebut
dipadukan dengan ragam binatang seperti kupu-kupu, naga, burung merah dan
berbagai jenis burung lainnya. Ragam motif tersebut dipoles dengan warna warni
yang cerah yang membuat batik tujuh rupa ini begitu memukau.
5. Batik Terang Bulan

Batik Terang Bulan dikembangkan Ibu Soed sebagai visi Presiden Soekarno di
tahun 1950-an untuk menciptakan batik yang melintasi batas budaya dengan pesan
persatuan Indonesia. Motif ini digambarkan seperti suasana bulan purnama di langit
pekat disambut oleh bunga-bunga bermekaran dan tarian binatang-binatang
menikmati cahaya rembulan. Dari batik ini kita belajar bagaimana pesan Tuhan dan
para pendahulu kita untuk terus melanjutkan perjuangan dengan menciptakan
generasi yang menjunjung tinggi persatuan dan berkolaborasi untuk kemajuan.
6. Batik Tiga Negeri Pekalongan
Motif batik Tiga Negeri merupakan gabungan batik Lasem, Pekalongan dan Solo.
Maka dibuatlah batik tradisional ini di masing-masing daerah. Pertama, kain batik ini
dibuat di Lasem dengan warna merah yang khas, seperti merah darah.

28.

Setelah itu kain batik tersebut dibawa ke Pekalongan dan dibatik dengan warna biru,
dan terakhir kain diwarna coklat sogan yang khas di kota Solo. Mengingat sarana
transportasi dahulu tidak sebaik sekarang, maka kain Batik Tiga Negeri ini
dikatakan sebagai masterpiece batik. Hal karena proses pembuatan dan motifnya
merupakan penggabungan dari 3 wilayah atau negeri yaitu: Lasem, Pekalongan,
dan Solo; oleh karenanya disebut Batik Tiga Negeri. Batik Tiga Negeri yang dibuat di
Lasem mengandung ragam hias khas Lasem dalam lembaran kainnya. Batik Lasem
umumnya diselesaikan dengan warna merah mengkudu dan dasarnya kuning-tipis.

Pada dasarnya batik corak Lasem ini adalah suatu corak batik yang mempunyai 3
dasar pengaruh pada motif serta coraknya, yaitu:
- Pengaruh budaya Tiongkok, karena pengusaha batik adalah keturunan Tiongkok
(Tionghoa).
- Pengaruh gaya batik Jawa-Tengah (Sala-Yogya) yaitu pusat seni batik yang
semula mempunyai nilai filosofis,seperti kawung. Pengaruh selera pantai Utara
Jawa, yaitu pemakaian warna-warna yang cerah seperti warna merah, biru, kuning,
dan hijau disamping warna soga coklat.
7. Batik Sogan Pekalongan

29.

Jenis batik bernuansa klasik dengan warna dominan variasi dari warna coklat.
Dinamakan batik sogan karena proses pewarnaan batik ini menggunakan pewarna
alami yang diambil dari batang kayu pohon soga tingi. Batik Sogan jenis batik yang
identik dengan daerah keraton Jawa yaitu Yogyakarta dan Solo, motifnya pun
biasanya mengikuti pakem motif-motif klasik keraton. Sogan Yogya dan Solo juga
dapat dibedakan dari warnanya. Biasanya sogan Yogya dominan berwarna coklat
tua-kehitaman dan putih, sedangkan sogan Solo berwarna coklat-oranye dan coklat.
Batik sogan yang klasik ini memang selalu banyak peminatnya dan langgeng tanpa
mengenal musim, selalu ada pecinta jenis batik ini. Walaupun ada batik pesisiran
yang lebih dinamis baik warna maupun motifnya yang kontemporer dan eksotis.

3. Batik monokromatik

Monokromatik berasal dari kata mono dan chrom. Mono artinya satu atau tunggal,
chrom artinya warna. Jadi monokromatik berarti memiliki warna tunggal atau satu
warna. Oleh karena itu batik monokromatik hanya mempunyai satu jenis warna. Yang
termasuk batik monokromatik adalah batik kelengan dan batik putihan.
Batik monokromatik menggunakan dua atau lebih warna yang sejenis. Misalnya biru
dan biru tua, hijau muda dan hijau tua, merah muda dan merah tua.

Ada 2 jenis batik monokromatik yaitu :
1. Batik dengan warna putih pada bagian motif dan warna pada bagian luar motif.
2. Batik tua dan muda yang sejenis, yaitu batik dengan warna muda pada bagian
motif dan warna tua pada bagian luar motif.

4. Batik simbut
Batik simbut merupakan batik kuno yang ditemukan di daerah Banten. Motif Simbut
berasal dari suku Badui pedalaman di Sunda, kental dengan peradaban lama.
Perintangnya bubur ketan karena kemungkinan saat batik simbut ditemukan belum
dikenal lilin malam. Teknik ini mempunyai kelemahan karena perintang tidak bisa
menembus kain mori dan warna bisa merembes ke kain yang dilapisi perintang.
Percobaan perintangan menggunakan bahan bubur kanji kental atau pasta semen.
Seiring berjalannya waktu, penduduk badui menerima modernitas mengembangkan
batik di daerah pesisir Banten. Sehingga batik motif Simbut dikenal batik Banten.

30.

Pada mulanya, hasil dari penggambaran tersebut hanya diterapkan pada bangunan.
Namun, lambat laun motif tersebut juga diaplikasikan pada selimut yang dikenal
oleh orang Belanda dengan nama Brooven Rim Rood atau Selimut Van Bantam
(SIMBUT). Hamper seluruh motif yang ada berkaitan erat dengan benda kuno pada
masa Kesultanan Banten.

Benda kuno hasil ekskavasi arkeolog tahun 1976 disebut artefak Terwengkal
menjadi inspirasi pola dasar desain batik khas Banten. Keunikan lainnya pada
warna batik, warna batik khas Banten cenderung berwarna abu-abu muda. Warna ini
menunjukkan karakter orang Banten yang berkemauan keras, memiliki banyak ide
dan cita-cita, temperamental, dan sederhana.

Motif batik khas Banten sebagian besar berasal dari benda-benda purbakala dan
bangunan arkeologis pada masa kejayaan Sultan Maulana Hassanudin. Sultan
Maulana Hassanudin dikenal sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana.

Motif batik banten memiliki filosofi tertentu. Sebagian motif berkaitan dengan sejarah
Banten dan diambil dari bahasa ilmiah mengenai nama suatu tempat, arti,
penggunaan, dan tipologi. Kemunculan batik ini bermula dari penemuan puing
gerabah peninggalan kerajaan abad ke-17 di kawasan Banten Girang dan Banten
Lama. Menariknya, gerabah memiliki 75 ragam hias, kemudian diaplikasikan pada
sebuah kain. Kain ini disebut sebagai Batik khas Banten.

Kondisi geografis Banten strategis, intensitas tatap muka penduduk lokal dengan
awak kapal dari Eropa dan Asia, turut membawa pengaruh budaya dan ragam
kehidupan di Banten. Meskipun seperti itu, ragam hias tersebut tidak lepas dari
rambu - rambu keislaman yang melarang penggambaran motif mahluk hidup secara
nyata sehingga dialihkan dengan motif abstrak sesuai karakteristik masyarakat
Banten.

Dari segi filosofi, nama batik khas Banten diambil dari gelar bangsawan, nama
sultan atau pangeran, ruang di Kesultanan Banten, dan nama desa di wilayah
Banten.

31.

Beberapa ciri khas dari batik banten, di antaranya :
a. Warna batik cerah, tetapi tidak mencolok (lembut).
b. Motifnya berukuran besar.
c. Bergaris tebal.
d. Isen-isen kasar.
e. Menggunakan metode cap.
f. Pola yang digunakan adalah pengulangan.
g. Corak berkaitan dengan Kesultanan Banten.
h. contoh motif batik Khas Banten

Berikut ini adalah beberapa contoh motif dari Banten :
 Datulaya

Motif batik Banten pertama berupa dataluya memiliki motif dasar belah ketupat
berbentuk bunga dan lingkaran dalam pigura sulur daun. Di dalam booh motif
dasarnya berupa topeng manusia yang sudah distelir. Unsur warna biru pada motif
dasarnya, yakni pigura sulur daun berwarna abu-abu, dasar kain berwarna kuning
dan pada booh berwarna biru. Nama datulaya diambil dari nama tempat tinggal
pangeran yang berasal dari kata “Datu”artinya pangeran dan “Laya” artinya residen.

 Pamaranggen

32.

Pamaranggen berbentuk belah ketupat dengan hiasan bunga di bagian tengah
menyerupai sayap kupu-kupu. Motif batik Banten berupa pamarenggen ini
mendapatkan inspirasi dari nama tempat dimana para Pengrajin Keris dan
aksesoris keris di lingkungan Kesultanan Banten.

 Srimanganti

Motif ini berbentuk tumpal bergerigi ganda dengan ceplok lingkaran setengah bulat
di dalam satu lingkaran. Ada juga tambahan lain berupa pigura segi empat yang
pada sudut-sudutnya berbentuk setengah lingkaran ada cecep dan booh dengan
motif dasar segitiga daun. Unsur warna yang digunakan pada motif ini lebih
dominan berupa cokelat. Sedangkan nama srimanganti sendiri diambil dari nama
ruangan di keraton (Sri= raja, Manganti =menanti). jadi maksudnya adalah pintu
gerbang yang berapat menghubungkan keraton.

 Pasepen

Pasepen bermotif dasar booh tumpal, lingkaran polos sejajar empat buah, dan segi
empat bentuk bunga. serta ada tambahan tumpal. Unsur warna pada motif ini
biasanya kuning muda, abu-abu untuk dasar kain,. dan biru pada bagian booh.

33.

 Pejantren

Motif dasar Pejantren adalah bunga cengkeh yang terdapat di dalam lingkaran pola
bunga berukuran setengah lingkaran motif dasar. Unsur warnanya berupa biru untuk
kain dasar dan merah tua pada motif booh. Nama pejantren sendiri diambil dari
nama pemukiman masyarakat Banten yang berpofesi sebagai penenun.

 Pasulaman

Motif dasar belah ketupat / segi empat dalam lingkaran. Kombinasi motif berbentuk
lingkaran segi empat, variasi garis berombak dan ilumunisasi sulur daun pada pigura
segi empat dan motif dasar berupa ranting. Unsur warna dasar adalah merah,
pigura berwarna abu-abu dan pada booh berwarna hijau. Nama pasulaman diambil
dari nama pemukiman masyarakat Banten yang berprofesi sebagai penyulun.

 Mandalikan

34.

Mendalikan berbentuk belah ketupat dengan bunga yang berada dalam sebuah
bintang. Variasi motif bintang dalam kotak rantai dan booh motif dasarnya
berbentuk segitiga bergerigi lapis tiga. Sedangkan untuk unsur warna menggunakan
tiga warna yakni kren sebagai warna dasar, abu-abu pada motif bintang, dan warna
cokelat tua pada rantai dan booh. Nama mandalikan sendiri diambil dari
gelar nama salah satu pangeran Banten, yakni Pangeran Mandalikan.

 Kapurban

Kapurban berbentuk ketupat dengan hiasan berupa bunga, variasi motif berupa
pigura berbentuk spiral dan booh segitiga berbentuk bunga. variasi motif berbentuk
pigura spiral dan booh segitiga berbentuk bunga. Untuk bagian warna pada
pinggiran motif dasar pigura hitam dan jingga, sementara booh berwarna hitam.
Nama kapurban sendiri diambil dari nama gelar pangeran Banten, yakni Pangeran
Purba.

 Kawangsan

35.

Motif Kawangsan berupa bunga bergerigi dengan variasi pola daun, lingkaran, atau
bentuk buah. motif dasarnya berupa belah ketupat dan lingkaran polos. Untuk unsur
warna yang digunakan pada motif ini antara lain biru sebagai warna dasar, cokelat
pada motif daun dan cokelat tua pada booh.

 Pancaniti

Pancaniti berbentuk ketupat dengan bunga dan lingkaran polos di tengah bunga
matahari. Ragam hias motif bunga matahari berbentuk segi delapan berornamen
daun dan sulur-sulur daun, sementara motif dasar booh berbentuk ranting.
Kombinasi warna pada motif dasar berupa biru, pada motif bunga matahari abu-abu
dan biru, serta ornamen pada daun berwarna merah dan di sulur-sulur daun
berwarna biru. Untuk nama pancaniti sendiri diambil dari nama tata ruang keraton
dalam lingkungan istana tempat raja menyaksikan pelatihan para prajurit.

 Sebakingking

Motif dasar Sebakiking adalah segi empat tumpulan dengan sisi berbulu variasi tiga
warna. Kombinasi warna tersebut berupa cokelat pada daun bersegi empat, biru
untuk dasar kain dan booh. Nama sabakingking sendiri diambil dari gelar
Panembahan Sultan Maulana Hasanudin, raja pertama Kesultanan Banten.

36.

 Surosowan

Batik Banten motif surosowan memiliki corak dasar tumpul bergerigi dengan
ditambah hiasan bunga. Kombinasi motif berupa daun dan motif dasar booh
berbentuk belah ketupat dan lingkaran polos. Sementara pada motif dasarnya lain
berwarna biru pada booh berwarna kuning. Nama surosowan sendiri diambil dari
nama Keraton Kesultanan Banten, yakni Keraton Surosorwan yang berasal dari
kata Suro (Pa) Sowan yang artinya tempat untuk menghadap.

 Batik Kaibonan

Motif batik Banten ini mendapatkan inspirasi corak dari sebuah bangunan berupa
pagar yang mengelilingi Keraton Istana Banten.

 Batik Kasatriaan

Motif kesatriaan batik Banten ini diambil dari sebuah perkampungan tempat belajar
agama di pesantren lingkungan Kesultanan Banten.

37.

 Batik Memoloan

Motif memoloan sendiri mendapatkan inspirasi motif dari sebuah kontruksi
bangunan atap menara masjid dan pendopo Kesultanan Banten.

5. Batik jumputan

Batik jumputan berasal dari Tiongkok. Perkenalan Batik Jumputan menalui
perdagangan. Penyebabnya, hasil batik beragam dengan rangkaian warna-warna.
Karena disebarkan oleh saudagar India, maka batik ini diterima baik di banyak
daerah. Daerah pengembangkan Batik Jumputan ialah Solo, Yogyakarta, dan
Pekalongan. Meski dari Tiongkok, dalam perkambangan dipengaruhi kondisi daerah
masing-masing. Dahulu, batik ini diwarnai menggunakan pewarna alam. Namun
seiring perkembangannya menggunakan pewarna sintetis.
Batik jumputan termasuk jenis batik baru atau modern. Jumputan dari Bahasa Jawa
berarti mengambil / memungut menggunakan semua ujung jari tangan. Pembaruan
pada batik modern tidak hanya pada urutan pengerjaan, tetapi pemakaian warna
dan ragam hiasnya. teknik jumputan tidak menggunakan lilin malam sebagai bahan
perintang.

38.

Pada pembuatan batik jumputan teknik yang digunakan ada 2 macam yaitu
dengan mencelupkan kain pada pewarna dan dengan cara menguaskan
kain pewarna pada kain :
1. Pewarnaan dengan teknik celupan
menjumput kain/ mengambil kain lalu diisi biji-bijian sesuai motif yang akan
diciptakan. Kemudian kain diikat lalu dicelupkan ke dalam bahan pewarna. Sangat
sederhana memang pembuatannya, hasilnya tak kalah dengan jenis batik yang lain.
2. Pewarnaan dengan teknik kuasan
Teknik ini menggunakan tali-tali sebagai penolak warna. Bagian bagian kain
dijumput dan diikat dengan kuat menggunakan karet gelang atau tali rafia. Setelah
itu kain diwarnai dengan cara dikuaskan. Jadi teknik ini tidak menggunakan
celupan. Hal ini dilakukan untuk menghindari zat warna terlalu banyak
dan merembes ke bagian ikatan. Setelah dikuas warna, tali-tali dibuka dan kain
dijemur. Motif yang dihasilkan adalah pada bagian kain yang dijumput tidak terkena
warna sehingga menyisakan warna kain. Batas antara warna dengan bagian kain
yang dijumput berbentuk gelombang abstrak. Kain jumputan lebih cocok dibuat
dengan bahan kain yang tipis, seperti sutera, atau sutra buatan, Kain jumputan
sering disebut pula dengan kain pelangi.
Teknik jumputan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Siapkan kain tipis
dengan bahan dari katun
2. Buatlah ikatan-ikatan dibeberapa bagian kain dengan karet gelang atau tali rafia
dengan ikatan yang kuat.
3. Setelah seluruh ikatan (jumputan) selesai kain diberi warna dengan kuas, untuk
pekerjaan ini tidak dicelup agar hasilnya lebih baik. Agar terlihat bervariasi bagian
ujung ikatan dapat diolesi dengan warna yang berbeda.
4. Setelah pewarnaan selesai kain ditiriskan sambil ikatan-ikatannya dilepaskan.
5. Kain dijemur di tempat yang panas

6. Batik formika

39.

Batik formika merupakan contoh batik modern yang pembuatannya dengan cara
menempelkan warna pada kain. Motif yang dihasilkan adalah motif abstrak. Teknik
ini digunakan dalam tekstil di daerah Pekalongan pada tahun 1973.
Alat dan bahan yang diperlukan antara lain sebagai berikut :
1. Bak yang memiliki permukaan luas
2. Cat minyak (cat kayu) dengan berbagai warna
3. Terpentin (minyak pengencer cat)
4. Air bersih
5. Kain mori
Proses pembuatan batik formika :

 Siapkan selembar kain mori putih sesuai ukuran yang dibutuhkan Isi bak
dengan air sampai penuh (2 cm dibawah mulut bak) Encerkan cat minyak
dengan terpentin. Pilih cat yang memiliki warna cerah dengan kualitas yang
baik.

 Ciprat-cipratkan cat secara acak ke permukaan air dalam bak. Untuk
membantu penyebaran warna digunakan kipas angin. Bentangkan dan
tempelkan permukaan kain yang akan diberi warna ke atas permukaan cat
dalam bak.

7. Batik lukis

Batik lukis adalah proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada
kain putih.

40.

Batik lukis di Indonesia dapat menarik wisatawan mancanegara dan akan tetap
dilirik, bahkan sempat menjadi intrik dengan negara lain yang ikut merasa bahwa
batik telah menjadi milik mereka. Bagaimanapun, hasil kreasi anak bangsa Indonesia
yang sudah turun-menurun serta merupakan salah satu harta warisan yang tak
ternilai harganya ini, sudah sepantasnya kita pertahankan keberadaannya.

Teknik Gambar Batikan

Pada prinsipnya gambar batikan adalah gambar kerajinan yang dikerjakan seperti
dalam pembuatan kain batik, yaitu dengan membuat pola-pola hias dengan bahan
yang tidak tertembus pewarna, tentunya dalam pembuatan batik lukis juga
menggunakan pola-pola hias seperti pembuatan batik tulis. Karena itu dalam
pembuatan gambar batikan ini juga digunakan berbagai bahan yang tidak sama
sifat-sifatnya untuk menggambar pola dan untuk mewarna secara dipadukan atau
dicampur, dalam istilah asingnya disebut mixed media. bahan yang digunakan ialah:
lilin lampu, pastel, dan cat air.

Cara mengerjakan gambar batikan :

1. Pertama kali membuat goresan-goresan motif pada kertas gambar dengan
menggunakan lilin lampu. goresan-goresan ini dapat dikombinasikan dengan
goresan berwarna menggunakan pastel. sebaiknya goresan ini dengan warna
muda atau warna cemerlang.

2. Kertas yang telah digambari motif atau pola-pola tadi kemudian dilabur atau
dikuas dengan cat air warna tua atau pekat. karena goresan lilin dan pastel
tidak ditembus cat air, maka warna asli pastel dan warna putih lilin muncul
diatas warna-warna cat air, jika kain ingin diberi warna, dan kemudian
langsung dilukis sesuai dengan keinginan motifnya dan juga mengikuti jalur-
jalur pola yang sudah dibuat.

3. Hasil gambar yang menyerupai kain batik ini kemudian dikeringkan dengan
cara diangin-anginkan.

 Teknik membuat Batik Lukis

Begitu pula cara melukiskan batik dalam kain, berikut langkah sederhana dalam
membuat batik lukis/ lukisan batik:

1. Sketsa, Selembar kain putih di buat sketsa lukisan menggunakan pensil
sesuai keinginan. Motif yang digunakan bisa bebas sesuai ekspresi, misalnya
pemandangan, abstrak, wayang, dan lain-lain.

2. Pencantingan, Kain putih yang selesai di buat sketsa, mulai dilakukan
pencantingan. Media canting, bisa digunakan media kuas, pelepah pisang,
sapu lidi, kapas, dll untuk melukis tergantung ekspresi pelukis.

3. Pewarnaan, Pewarnaan bisa dilakukan dengan proses pencelupan dan colet.
Atau bisa dengan penggabungan kedua proses ini. Pewarnaan sintetis
umumnya menggunakan naphtol, indigosol dan remazol. Tiap-tiap pewarna
sintetis mempunyai pengunci tersendiri, gunanya untuk mengunci warna agar

41.

tidak mudah luntur nantinya. Misalnya remazol, penguncinya adalah dengan
waterglass, kemudaian Proses ke-2 dan 3 bisa dilakukan berulang-ulang.
4. Pelorotan, Setelah kain selesai dimalam dan diwarna juga di kunci, kain
dimasukkan ke dalam air mendidih sebagai proses penghilangan malam.
Setelah kain dikeringkan, maka jadilah sebuah lukisan batik yang indah
Contoh motif batik lukis :

42.

C. Batik berdasarkan teknik pembuatannya

Berdasarkan teknik atau cara pembuatannya terdapat 5 jenis cara atau teknik
pembuatan batik yaitu batik tulis, batik cap, batik cap kombinasi tulis, celup ikat dan
batik printing. Dari masing-masing teknik tersebut mempunyai tingkat kesulitan yang
berbeda dan menghasilkan batik yang berbeda pula. Berikut akan dibahas masing-
masing teknik pembuatan batik :

1. Batik canting tulis

Teknik pembuatan batik paling tua adalah batik tulis dimana proses pembuatan batik
menggunakan alat canting tradisional yang diisi dengan lilin panas kemudian
digoreskan di atas kain membentuk ragam pola batik yang indah. Setelah semua
pola yang diinginkan telah tertutupi lilin, barulah kain kemudian diwarnai dan lilin di-
”lorot” atau dilepaskan dari kain dan terbentuklah gambar motif batik yang indah.
Batik tulis merupakan jenis batik spesial dan mahal dibanding batik lain, karena
pembuatan batik ini sangat diperlukan keahlian serta pengalaman, ketelitian,
kesabaran, dan juga waktu yang lama untuk menyelesaikan sebuah batik tulis.
Proses pembuatan batik tulis yang masih sangat tradisional ini membuat pengerjaan
batik tulis dapat memakan waktu yang sangat lama. Sebuah batik tulis paling cepat
dapat diselesaikan selama dua minggu oleh seorang pembatik, itupun dikarenakan
cuaca yang cerah dan desain motif yang biasa dan juga tidak terlalu rumit. Namun,
dibalik proses panjang inilah batik tulis memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Jadi,
jangan heran jika batik tulis kerap dijual dengan harga yang cukup mahal dan
fantastis.Teknik membatik yang satu ini butuh jiwa seniman dan ketelitian tinggi
untuk membuatnya. Karena cara pembuatannya yang sangat sulit, perlu sangat teliti,
dan dikerjakan secara manual, karena itulah harga batik canting sangat mahal.
Cara membatik dengan teknik tulis: Pola Digambar pada permukaan kain Setelah itu
kain dicelupkan kedalam larutan pewarna. Nah bagian yang tertutupi lilin/malam
inilah yang akan membentuk pola.
Membatik dengan teknik ini memiliki Kelebihan dan kekurangan yaitu:
a. Kelebihan Teknik Batik Tulis adalah:
1. Motifnya dapat timbul dikedua sisi kain.

43.

2. Hasil batik lebih natural dan rapi.
3. Teknik Tulis ini dilakukan secara manual dengan menggunakan tangan.
4. Unik dan bernilai seni tinggi.
b. Kekurangan teknik batik tulis :
1. Proses pembuatannya lama
2. Harganya relative lebih mahal

2. Batik cap

Pada awal abad ke-20, dikenal teknik pembuatan batik lainnya, menggunakan cap.
Batik teknik ini dikenal batik cap. Sama-sama menggunakan lilin “malam”,
perbedaan teknik batik cap dan tulis adalah pengaplikasian lilin tidak menggunakan
canting, melainkan cap yang terbuat dari tembaga dengan ukuran sekitar 20×20 cm.
Secara sederhana, proses pembuatan batik ini seperti menggunakan stempel.
Teknik batik cap merupakan teknik membatik yang dilakukan dengan menggunakan
alat canting cap. Canting cap tersebut akan dicelupkan pada cairan malam
kemudian dicapkan di atas kain mori, Cap akan meninggalkan motif yang dikenal
dengan klise . Berikut cara membatik dengan Teknik tulis: Kain diletakkan di media
seperti meja/alas yang teah disediakan. Cap motif kemudian ditekankan pada
permukaan kain tersebut. Ukuran plat biasanya kecil sehingga pola pada plat
biasanya berulang dan proses pengecapan dilakukan dengan menyambung gambar
gambar pola sehingga media penuh dengan gambar yang diinginkan. Cara
pembuatan batik ini juga memiliki Kelebihan dan kekurangan seperti berikut ini:
1. Kelebihan Teknik Batik Cap :
a. Bentuk rapi karena dengan bantuan alat
b. Proses pembuatan yang cepat
c. Dapat di produksi dalam jumlah banyak
d. Harga batik Terjangkau

44.

2. Kekurangan Teknik Batik Cap :
a. Umumnya hanya satu sisi motifnya yang timbul
b. Motif banyak yang sama

3. Batik cap kombinasi tulis

Pada batik kombinasi metode pembuatannya tentu mengadopsi dari kedua teknik
tulis dan cap. Teknik cap digunakan sebagai motif utama sedangkan teknik tulis
untuk melengkapi runga jeda antar motif cap satu dengan yang lain. Motif untuk
mengisi bagian yang kosong tersebut (isenisen) dapat berupa titik-titik (cecek),
bunga atau motif lainnya. Selanjutnya teknik pewarnaan serta peluruhan malam
sama seperti pada teknik pembuatan batik lainnya. Kelebihan dan kekurangan yaitu:
a. Kelebihan Teknik Batik cap kombinasi Tulis adalah:
1. Hasil batik natural dan rapi.
2. Dapat di produksi dalam jumlah banyak
3. Motif lebih detail
4. Unik dan bernilai seni tinggi.
b. Kekurangan Teknik Batik cap kombinasi Tulis :
1. Umumnya hanya satu sisi motifnya yang timbul
2. Motif banyak yang sama
3. Waktu yang digunakan lebih lama daripada batik cap

45.

4. Batik celup ikat

Jika teknik canting tulis merupakan sebuah teknik membatik yang sangat sulit, maka
teknik ikat celup merupakan teknik membatik yang sangat mudah. Teknik ikat
merupakan salah satu Teknik batik yang cukup unik karena proses pembuatannya
yang berbeda, Teknik ini tidak menggunakan canting ataupun cap tapi
menggunakan karet/tali raffia dan kelereng. Pembuatan motif pada kain batik
dengan teknik ikat celup dilakukan dengan mengikat sebagian kain kemudian
dicelupkan ke dalam cairan pewarna. Setelahnya ikatan dibuka, kemudian kain yang
terikat bisa menghasilkan corak tertentu sesuai lipatan ikatannya karena kain yang
terikat tidak akan terkena cairan pewarna. Teknik membatik ikat celup ini juga
dikenal dengan istilah menjumput. Hasilnya disebut sebagai batik teknik jumputan.
Dalam teknik ini juga memiliki Kelebihan dan kekurangan yaitu:
1. Kelebihan Teknik Batik Celup adalah:
a. Bentuk Unik/abstrakdan natural
b. Proses pembuatan yang cepat
2. Kekurangan Teknik Batik Celup adalah Motif tidak bisa disesuaikan

46.

5. Batik Printing

Teknik pembuatan batik yang lebih modern adalah batik printing, terdapat dua
proses pembuatan batik printing yaitu secara manual dan digital atau dilakukan oleh
mesin. Kain batik yang dihasilkan dengan teknik printing ini bisa memiliki motif lebih
detail dan juga rapi namun dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan batik-
batik yang dibuat dengan teknik serta metode pembuatan yang lebih tradisional.
Meski telah berkembang menjadi jauh lebih modern, teknik serta metode pembuatan
batik tradisional di Indonesia masih terus dipertahankan karena keeratannya pada
adat dan budaya yang ada di Indonesia. dalam pembuatan batik ini menggunakan
alat sablon manual dan ada yang menggunakan mesin printing. Proses
pewarnaannya sendiri hanya diwarnai pada satu bagian sisi kain batik saja.
Sehingga proses produksinya akan sangat efisien. Proses membatik dengan printing
juga sangat cepat karena itu batik printing biasanya digunakan oleh perusahaan,
harga batik printing juga jauh lebih murah dibandingkan batik tulis yang memang
butuh ketelitian dan kreativitas seni tinggi untuk membuatnya. Waktu pembuatan
batik dengan metode printing juga sangat cepat. mesin printing menjadi sebuah alat
membatik modern.
Berikut Kelebihan dan kekurangan membatik dengan Teknik Printing
1. Kelebihan Teknik Batik Printing adalah :
a. Harganya murah
b. Cocok digunakan pakaian sehari hari
c. Bisa digunakan oleh siapa saja
2. Kekurangan Teknik Batik Printing adalah :
a. Motif sangat umum digunakan
b. Kualitas batiknya biasa dan tidak istimewa
c. Sedikit menghilangkan nilai seni dan tradisional

47.


Click to View FlipBook Version