Luruhnya Hati
Oleh : Yunita Dwi Astuti, S.Pd.
Teruntuk hati yang ungu
Berselimut jiwa yang rapuh
Ku kayuh bahagia bersamamu
Terkadang terseret ombak berbuih
Aku dan dunia
Bagai destinasi tak bersua
Sesaat beranjak seketika lalu
Wahai jiwa.... rengkuhlah aku.
J e j a k K a k i M i m p i | 45
Terimakasih Kota Istimewa
Oleh : Mutiara Putri Marheni, A.Ma.Pust.
Kota itu…
Dimana tercipta sebuah kedewasaan dengan sendirinya
Terbentuk karakter diri yang mungkin sulit dilalui
Seakan melatih untuk selalu bisa mandiri
Disaat orang-orang pergi menjauhi
Kota itu …
Yang selalu saja bisa menciptakan kerinduan
Ketika menyusuri suasananya
Kenangan demi kenangan mulai terasa
Jika kita perlahan mulai meninggalkannya
Kota itu…
Setiap mereka yang pernah menyinggahinya
Pasti membawa berjuta kenangan
Menceritakan kepada orang-orang di sekitarnya
Penuh dengan rasa gembira
Teruntuk yang selalu kurindukan,
Terimakasih Jogja.
J e j a k K a k i M i m p i | 46
Aku Rindu
Oleh : Wijayani Ikhsan Atmaja, S.Kom.
Saat kulewati jalan tanjakan dan turunan itu
Setahun yang lalu
Setiap pagi harus berpacu dengan waktu
Bersama kamu
Dengan segala kehebohanmu
Tuk melepas bersama teman-teman dan gurumu
Bintang kecilku,
Walau kadang kudengar suara tangismu
Tapi aku rindu itu
J e j a k K a k i M i m p i | 47
Hei Kamu, Bocah Cilikku
Oleh : Umi Fauziah, S.Pd.
Hei bocilku, Sultan Tsani
Tak terasa kalian sudah beranjak gede
Hanya selisih umur 18 bulan kalian tumbuh bersama
Jadi temen main, berantem tapi saling sayang
Rumah ini slalu rame jika kalian ada
Suara bunda yang melengking setiap kalian ribut
Nangis, teriak, baikan lagi dan berulang seperti itu
Warnai hari bunda setiap hari
Sholeh selalu bocilku
Salinglah menyayangi
Salinglah bersaudara sampai kapanpun
Bunda sayang kalian.. Bocilku.
J e j a k K a k i M i m p i | 48
Putri Kecilku
Oleh : Widya Ika Candra Dewi, S.Pd.
Putri Kecilku …
Kehadiranmu adalah anugerah terindah bagiku
Tangisanmu selalu membuatku ingin memelukmu,
menjagamu serta melindungimu.
Putriku …
Kau adalah cahaya dalam hidupku
Penyemangat disetiap langkahku
Dan pelipur laraku.
Disaat kumelihat wajahmu kutemukan kedamaian
Senyummu membangkitkan semangat bekerjaku
Kuingin selalu menjadi panutanmu
Kuingin selalu menjadi kebanggaanmu.
Oh … putri kecilku
Hanya doa terbaik yang bisa ibu berikan untukmu
Demi tercapai semua citamu.
J e j a k K a k i M i m p i | 49
Mamaakkkk
Oleh : Deasy Widya Santi, S.Sos
Mamak…
Kamu salah satu bagian terpenting dalam hidupku
Enam tahun sudah kita bersama dalam suka dan duka
Melewati kebersamaan dengan ketiga jagoanku
Merawatnya penuh dengan rasa kasih sayang
Masa tuamu kamu habiskan dengan anak anakku
Mamak…
Jasamu sungguh luar biasa dalam hidupku
Tak ada daya yang bisa kulakukan untuk membalas
jasamu
Selalu setia bersama disamping anak anakku
Sungguh luar biasa pengorbananmu untuk keluarga
Maaamakkk…
Doa terbaik dariku untuk mengiringi setiap langkahmu.
J e j a k K a k i M i m p i | 50
Yang Terkasih Ayah
Oleh : Miftahuj Jannah, S.Pd.I.
Langkah kakimu tiada lelah
Mengayuh sepeda keliling kota
Raut wajahmu yang selalu sumringah
Seolah tak menunjukkan rasa lelah.
Ayah...
Kesabaranmu yang selalu menenangkanku
Rasa ikhlasmu yang selalu menguatkanku.
Seolah mengajarkan ku untuk tetap bersyukur
Senyummu yang penuh ketulusan
Mengisyaratkanku untuk tetap ikhlas.
J e j a k K a k i M i m p i | 51
Salam Rindu Buat Bapak
Oleh : Fitri Budi Utami, S.Pd.
Bapak
Masih teringat jelas dibenakku
Mencium tanganmu terakhir berpamitan
Dengan nada bergetar dan tersenyum
“Mengko aku balik kok nduk”
Bapak,
Begitu cepat meninggalkan kami semua
Saat Bapak pulang dengan terbujur kaku
Kulihat wajah yang tersenyum dan kelihatan bersinar
Bapak sudah bahagia dan tidak sakit lagi.
Bapak,
Mengapa Tuhan mengambilmu sebelum aku
membahagiakanmu
Pahlawanku,
Terima kasih untuk perjuanganmu buat kami semua
Doaku selalu untukmu setiap saat.
Salam rindu buat Bapak ya Tuhan
Semoga Bapak tenang di tempat yang paling indah
Berada disisiNya
Amiiinn.
J e j a k K a k i M i m p i | 52
Rumah Tua di Ujung Desa
Oleh : Dewi Apriliana, S.Pd.
Jalanan bertata batu itu hampir berujung
Disambut jalan tanah setapak
Bersemak rerumputan
Berhias tinggi pepohonan,
dedaunan singkong yang berkerubung,
dan gerumbulan kacang tanah
Mengapit lambaian pucuk jagung
Di sisi kuburan tua
Matahari belum lama meninggi
Perempuan tua duduk memangku caping
Di bangku kecil kayu mahoni
Depan beranda berlantai tanah kering
sepi sendiri
Harum bunga kacapiring
Menguarkan kerinduannya
Akankah rumah ini kembali penuh tawa
Saat lebaran nanti tiba
Memecah sepanjang tahun yang hening
Di depan rumah kecil berdinding kayu
Tepat ujung jalan sebuah desa
Perempuan tua tetap menunggu
Duduk besenandung kidung lama
Tentang penerimaan, bukan air mata.
J e j a k K a k i M i m p i | 53
Dersik Deru Derana
/de.ra.na/
tahan dan tabah menderita sesuatu (persaan tidak lekas
patah hati dan putus asa)
J e j a k K a k i M i m p i | 54
Paradigma Korona Melanda
Oleh : Sri Suratmi, S.Pd.
Sajakku ingin bicara
Kali ini bukan perihal cinta
Apalagi bahasan tentang bab senja
Namun kali ini sajakku tentang problema dunia
Semua ini tak pernah terjadi sebelumnya
Jalan yang mulanya padat , kini sepi ta kterkira
Perasaan tenang dan nyaman kini hilang
Berubah jadi rasa was was yang tak terkendalikan
Sulit untuk dilogika
Pada siapa aku akan bertanya ?
Aku rasa senja tak akan mengerti
Bulanpun bungkam suara, begitupun dengan matahari
Gambaran situasi saat ini macam logaritma
Yang sulit ditemukan titik terangnya
Bahkan bila dirumuskan
Tak akan menghasilkan sebuah jawaban
Tentara kecil milik Allah…
Yang tak kurang , tambah , bagi , bahkan dikalikan
Mereka tak kasat mata
Tak bisa dihindari layaknya MATEMATIKA
J e j a k K a k i M i m p i | 55
Aku rasa kondisi ini rumit
Lebih rumit dari rumus limit
Situasi yang luar biasa
Hingga memakan banyak korban jiwa
Se elusif inikah realita ?
Yang penuh dengan berbagai problema
Lalu apa yang bisa di perbuat manusia ?
Bila Allah telah tunjukan kuasa -Nya
Apa yang bisa kita perbuat ?
Menghitung dosa dengan rumus belah ketupat ?
Tak perlu penat…
Cukup perkuat iman sebagai ordinat
Harapanku ini segera terselesaikan
Layaknya geometri yang kuajarkan
Harapanku pula ini tak semakin menyebar
Bak metode substitusi alabar
Dan sebagai pungkasan
Aku ingin menyampaikan harapan
Semoga ini semua segera tertuntaskan
Dan kita selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
J e j a k K a k i M i m p i | 56
Makhluk Kecil Bernama Covid
Oleh : Dra. Susanti Rejeki
Mahluk kecil membuat gempar dunia
Kau buat resah manusia sedunia
Wahai mahluk kecil yang tak kasad mata cepat selesaikan
tugasmu
Lalu cepat kau pergi dan jangan datang kembali
Kami rindu suasana seperti dulu
Kembali ke masjid-masjid berjamaah
Dengan barisan shaf serapat dahulu
Kembali bersilaturahmi ke sanak saudara
Bersalaman tanpa jarak seperti lebaran lampau
Seperti sebelum mahluk kecil ini tiba di dunia
Doa-doa kupanjatkan Ramadan ini lebih panjang
Semoga makhluk kecil bernama Covid segera menghilang
Berganti bahagia tanpa air mata berlinang.
J e j a k K a k i M i m p i | 57
Resah Covid 19
Oleh : Tarmo, S.Pd. M.Pd.
Sejak kehadirannya di tahun 2019
Di kota Wuhan
Covid 19 namanya
Telah menggemparkan dunia
Semua negara mengerahkan daya upaya
Tuk menangkalnya
Hingga melenyapkan dana triliunan rupiah
Habis sudah anggaran
Hingga rakyat terdampak
Membawa perubahan kehidupan
Manusia kehilangan pekerjaan
Menambah kemiskinan dan kesengsaraan
Banyak kegiatan dihentikan
Termasuk pendidikan
Belajar dari rumah
Semua resah
Tentang karakter anak
Juga kompetensinya
Setahun lebih
Belum juga pergi
Namun semua ini
Agar kita introspeksi diri
Bahwa itu kuasa illahi
Atau Alloh sedang menguji
Keimanan anak negeri
J e j a k K a k i M i m p i | 58
Mungkin juga hukuman buat kami
Atas dosa dosa yang kami jalani
Setidaknya kami bisa menyadari
Tuk hidup bersih
Tangan sering dicuci
Dengan air mengalir
Masker dipakai
Jaga jarak ditepati
Kerumunan dihindari
Apakah itu hukuman atau ujian
Kami terima dengan iklas dan pasrah
Ya Alloh....
Kami mohon kepadaMu
Ya Alloh...
Segera lenyapkan corona dari dunia
Dengan harapan
Habis gelap terbitlah terang.
Wonogiri, 27 April 2021
J e j a k K a k i M i m p i | 59
Pandemi
Oleh : Hendri Pujatmo, SE
Setahun sudah kau merebut kebebasan kami
Setahun sudah kau menghalangi keakraban kami
Oh.....pandemi sampai kapan kau disini
Anak-anak kami rindu pada guru-gurunya
Rindu dengan teman teman sekelasnya
Mereka butuh panutan guru dan interaksi sesamanya
Bukan hanya sekedar pelajaran online semata
Oh.....pandemi segerah kau pergi
Aku lelah dengan semua ini
Sampai kapan ketidak pastian ini
Mereka disana hanya buat aturan tanpa solusi
Ya rabb..ini fakta atau konspirasi
Swab, rapid ataukah vaksinasi
Ya..Rabb hanya kepadaMu aku menghadap
Dan hanya kepada-Mulah aku berharap.
J e j a k K a k i M i m p i | 60
Duka Negeriku
Oleh : Ilham Galih Pambudi, S.Pd.
Negeriku,
Membentang dari sabang sampai merauke
Dari Miangas Sampai Pulau Rote
Kau kinik tampak sakit, baik dari geografismu
Maupun sebagian manusia yang tinggal di atas mu.
Negeriku
Kini musibah terjadi dimana-mana
Baik musibah bencana alam maupun kecelakaan
Tak luput pula sekolah para anak-anak yang terkendala
Cepatlah sembuh negeriku.
J e j a k K a k i M i m p i | 61
Bias Corona
Oleh : Muhammad Anis, S.Pd.
Namanya indah
Tapi tak seindah efeknya
Ia sudah meremukkan sebuah bangsa
Menihilkan kuasa
Merobek robek logika
Ada yg jujur soal corona
Tapi ada yg gemar menungganginya
Sakitnya mungkin biasa
Tapi mendadak bisa dianggap corona
Rakyat hanya bisa menerima
Saat simpang siur berita
Corona jadi komoditas penguasa
Dipakai politik dengan jumawa
Saatnya kembali sehat
Adil sejak dalam pikiran
Karena adzab sangatlah berat
Bagi mereka yang melanggengkan kezaliman
J e j a k K a k i M i m p i | 62
Penjahat
Oleh : Yosidha Mayawati, S.Pd.
Lihatlah....
Dinding-dinding itu,
Begitu megah,
Begitu indah,
Tapi tak berguna.
Lihatlah....
Bangku-bangku itu,
Tertata rapi,
Begitu bersih,
Begitu banyak,
Tapi tak bermakna.
Dengarlah....
Tak ada lagi canda tawa anak-anak,
Tak ada lagi suara lantang menggema,
Memenuhi tiap sudut ruangan,
Dimana nasihat itu,
Dimana petuah itu.
Sialan !
Sungguh tega!
Sungguh jahat !
Siapa lakukan itu !
J e j a k K a k i M i m p i | 63
Penjahat itu...
Yang lakukan ini,
Dia tak terlihat,
Dia tak kasat mata,
Dia bergerak cepat,
Menghujam tajam,
Tepat sasaran,
Penjahat itu
Covid-19.
J e j a k K a k i M i m p i | 64
Tak Ingin Bersamamu
Oleh : Darwi, S.Pd.
Sebenarnya, engkau sangat setia kepadaku
Sebenarnya, engkau tak ingin jauh dari aku
Sebenarnya pula, engkau ingin selalu menemaniku
Berulang kali aku mencoba tuk mengusirmu
Sering aku mencoba tuk menjauh darimu
Namun, kau terus hadir, dan selalu hadir dalam hidupku
Akan tetapi sayang sungguh disayang....
Kehadiranmu,
Membuat aku tersiksa...
Terluka... dan tersakiti.
Karenamu aku menderita
Karenamu aku selalu menangis
Dan karenamulah aku menjadi lemah
Karenamu juga aku kehilangan harapan dan tujuan hidup.
Aku tak mau bersamamu
Aku tak mau hidup denganmu
Aku mohon...Tinggalkan aku,
ijinkan aku untuk bahagia dan mencari jalan hidupku.
Ooohhh.... Komorbid komorbid
Pergilah dariku,
Pergi .. pergi .... dan pergiiiiiii.......
J e j a k K a k i M i m p i | 65
Entah … Lah!!!!
Oleh : Widya Indrakusuma, S.Pd.
Entah...lah!!!
Apa yang sedang terjadi dinegeri ini
Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang menyayat hati
Mulai dari Corona, Banjir, Gempa dan baru saja ini kita
kehilangan putra terbaik bangsa karena gugur
menjaga samudra NKRI
Entah...lah!!!
Bagaimana semua peristiwa ini datang silih berganti
Apakah ibu pertiwi dan Sang Illahi sedang menguji ??
Atau peringatan untuk kita agar lebih mensyukuri dan
selalu dekat dengan Ilahi
Entah...lah!!!
Yang penting sekarang ini harus perbanyak beribadah
Berdoa untuk kebaikan negeri tercinta
Agar dihilangkan semua mala bencana yang melanda
"Allahumma Inni, A'udzubika Min Jahdil-Bala'i, Wa
Darakisy-Syaqa'i, Wa Suu'i-l-Qadha'i, Wa Syamatatil-
A'daa'i."
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari
susahnya bala' (bencana), tertimpa
kesengsaraan, keburukan qadha' (takdir), dan
kegembiraan para musuh.” (Shahih: H.R.Al-Bukhari).
Aamiin ya rabbal 'alamin...
J e j a k K a k i M i m p i | 66
Badai Corona
Oleh : Sri Sularmi, S.Pd.
Kau datang langsung menerjang
Karenamu banyak nyawa melayang
Tak peduli malam pagi atau siang
Keberadaanmu aktivitas kami menghilang
Kucuci bersih tanganku
Kututup masker hidung dan mulutku
Kujaga jarak dengan sekitarku
Kuvaksinasi diriku
Corona engkau badai bagi kami
Corona lekaslah engkau pergi
Corona janganlah datang kembali
Corona biarkan kami menggapai mimpi
J e j a k K a k i M i m p i | 67
Sampai Kapan?
Oleh : Anggrit Yusnanto, S.Kom.
Sepi ….
Hening ….
dan pohon berderit tertiup angin
Daun-daun berguguran mengikuti musim
Melayang dan menari seakan baik-baik saja
Sesekali terdengar gesekan daun
Sesekali terdengar riak air
dan sesekali kicau burung seakan tidak ada lawan
Suara motor yang dulunya ramai
Tawa ceria yang dulu bersahutan
Lorong kantin yang penuh candaan
dan teriak keras sang pendukung di pinggir lapangan
Kini…sunyi
Terlihat buah cokelat yang matang hingga membusuk
Kelas berdebu tanpa penghuni
Dan papan tulis yang tak tersentuh tegasnya jari
Sampai kapan?
Apakah akan berakhir?
Masihkah ada semangat?
Di balik keputusasaan yang menghantui
Pergilah menghilang
Karena kami tidak akan menyerah.
J e j a k K a k i M i m p i | 68
Kelasku Sunyi
Oleh : Ari Wuryanti, S.Pd.
Kelas yang sunyi
Tidak ada siswa lagi
Kelas yang dulu ramai
Sekarang sepi kembali
Papan tulis teronggok sedirian penuh debu
Meja kursi berkeluh pada sunyi yang kelu
Kemanakah akan kucari
Dirimu yang kini tidak di kelas lagi
Pandemi lekaslah pergi
Kembalikan siswaku lagi.
J e j a k K a k i M i m p i | 69
Sirna
Oleh : Yanik Wulandari, S.Pd.
Seakan ditelan badai, dihempas
Ditarik ombak lepas bebas
Rutinitas mengajar di kelas
Tak kubayangkan itu terakhir kali terlintas
Dihempaskan pandemi ganas
Tak jumpa mereka bercanda ria
Lara relung menggelayut sepi hampa
Sanubari menjerit tertohok cemas murka
Mengubur semua mimpi sirna
Lelah menghitung hari karenamu
Bosan menunggu waktu karena ulahmu
Sudah lama dan terlalu lama
Bersabar menjadi yang lebih baik
Bekal untuk nanti perubahan
J e j a k K a k i M i m p i | 70
Pendidikan di Depan Pandemi
Oleh : Fitri Susanti
Bu,
Hape saya dimana?
Pulsanya mau habis
Sederet kalimat dipagi hari
Sederet celoteh menatap cahaya matahari
Bu,
Tugas hari ini apa?
Sampai bab tema apa ya?
Untaian tugas membuka pintu kantor
Untaian kewajiban mengusap gadget
Pak,
Inikah cara mengerjakannya?
Ini buka byte videonya bagaimana?
Sederet untaian kalimat dimalam hari
Sederet sumbangan kata bersama dinginnya bulan
Pak,
Google formnya tak bisa
Media apa yang cocok ya?
Celoteh teman berkeluh kesah
Celoteh sahabat menatap gadget
J e j a k K a k i M i m p i | 71
Iya…
Pandemi mengubah polanya
Pandemi mengajak berlipat merasa
Terbatas di pinggir kemajuan
Menolak tapi berkeinginan maju
Setahun sudah.
Proses belajar kita didepan balok hitam berenergi
Pengembangan bakat kita didepan layar enam inch
Pengubahan sikap tata laku kita bermodal gigabyte
Pendewasaan manusia bermateri kartu
Sampai kapan..
Penuntun kodrat anak anak Indonesia bermodal kuota
Mengubah rasa dan karsa hanya satu jam saja
Sampai kapan…
Kecakapan anak bangsa cukup bermodal kaca ber-inch
Perilaku berubah tanpa tuntunan nyata.
J e j a k K a k i M i m p i | 72
Guru Paket Data
Oleh : Uji Saputro, S.Si., M.Si.
Pesan cinta sang guru
Berburu waktu tuk muridku
Pandemi covid memaksa tak bersatu
Bak bumi dan langit yang berseteru
Tertatih membuka program yang tak semua ku tahu
Laptop... HP...kabel data…setia mendampingiku
Android....Windows… Classroom adalah nafasku
Hanya itu yang kutatap setiap waktu
Matanya tergerai layu terasa pedih
Namun tugas nan berat menanti
Tuk meneruskan langkah pendidikan ini
jangan pernah berhenti hingga ajal menanti
Meski sinar matanya sayu meradang
Terburai radiasi lcd yang nanar
Semakin nampak cahaya mata merah merona
terpendar, terperangkap dalam butiran kornea
Kuserahkan rasa percaya ini padamu wahai paket data
Sampaikan materiku untuk mereka
Berikan tugas ini tuk cerdaskan akalnya
Berfikir kritis tuk bekal masa depan
J e j a k K a k i M i m p i | 73
Paket data berlari kencang bagai memburu mangsa
Jangan kau tersangkut diriuhnya gelombang data
Karna berjuta pelajar menunggumu di sana
Bak pesan cinta istimewa, seorang guru untuk siswa
Cahaya memerah masih tampak samar di ufuk barat
Semakin lama menelan dalam aroma kegelapan
Ku berharap, paket data tak kan pernah sirna
seperti semangatku tuk kalian semua, yang tak pernah
pudar walau di telan masa.
J e j a k K a k i M i m p i | 74
Bias Asa Arunika
/a.ru.ni.ka/
cahaya matahari pagi setelah terbit yang
memberi semangat baru
J e j a k K a k i M i m p i | 75
Jejak Kaki Mimpi
Oleh : Ruswitari Haryani, S.PAK.
Kuikat sepatu yang berdebu
Pijakan demi pijakan telah terlewati
Nasib terasa menarik jiwaku
Langkah kecil mungil ingin menghampiri mimpi
Teringat masa kecilku
Yang bertanya-tanya tentang apa itu mimpi
Seorang dewasa bercakap kepadaku
"Hai, kau adalah anak bangsa yang berjiwa besar”
Perkataannya seakan membuatku ingin menjelajah mimpi
Masa muda, kulengkapi dengan potensi
Mengembangkan bakat dan talenta
Menyalakan semangat mengejar cita
Bagaikan api yang tak kunjung padam
Di negeri ini aku menjelajah tiap pintu ilmu
Tinta dalam pena menjadi saksi bisu perjalananku
Berjalan giat sekuat tenaga demi masa depanku
Karena negara menunggu para anak bangsa berjiwa besar
Maka sampai kini pun, kan kukejar mimpi bersama jejak
kakiku.
J e j a k K a k i M i m p i | 76
Usah Hirau Yang Ragukan
Oleh : Tea Limostin, S.Pd.
Pagi ini terbesit motivasi
Dalam relung
Termenung
Memikirkan sejenak hari kan datang
Kalian Putra Bangsa
Hai...
Jangan takut bermimpi
Upayakan gerak diri
Bangunlah...
Tetap maju pejuang ilmu
Hingga kau panah satu bintang
Raih cita - cita mulia
Usah hirau yang ragukan
Senyumlah
Hari kan datang ceria
Asa tercipta, Siswaku
Jatisrono, 27 April 2021
J e j a k K a k i M i m p i | 77
Corona Pergilah
Oleh : Roghibin, S.Pd.
Seminggu, Dua minggu
Sebulan, Dua bulan
Kini
Setahun..
tepatnya Setahun dua bulan sudah
Corona Menyerang….
Menggigit segala lini kehidupan
Mencabik cabik perekonomian
menghentikan keceriaan seluruh anak negeri
Ruang kelas kosong melompong
Meja kursi bertabur debu nestapa
Entah sampai kapan
Wahai Corona ….Pergilah
Kembalikan keriangan anak anak kami
Lepaskan cemas yang telah lama memasung kami
Wahai Corona…. Pergilah.
Biarkan kami menjemput mimpi.
Biarkan kami kembali
Merdeka belajar sampai mati.
Wonogiri, 29 April 2021
J e j a k K a k i M i m p i | 78
Selamat Pagi
Oleh : Ema Fasiroka, S.Pd.
Ku sambut pagi dengan senyum berseri
Walau lelah tak kunjung pergi
Niat dan ikhlas kujalani
Kiranya kau bisa kembali.
Tak kuasa batinku
Melihat raga terbujur kaku
Terbersit mereka yang merindu
Semoga namamu teringat selalu.
Ada harap lekaslah reda
Wabah yang melanda
Boleh jadi Indonesia
Tak hilang satu lagi putra bangsa.
J e j a k K a k i M i m p i | 79
Lentera Dunia
Oleh : Ika Noni Sugara, S.Pd.
Betapa pekat dan gelap
Dunia terbungkus kebodohan
Jikalau tanpa baik hatimu
Engkau tak nyalakan
Membuka mata jiwa
Engkau tuntun kami
Menuju terang dunia
Walau tak pernah mudah
Angin rintangan
Mencoba padamkan
Nyala semangat api
Namun bahan bakarmu
Tak akan pernah habis
Untuk membara dan berkobar
Berkas serpihan cahayamu
Akan selalu menjadi
Penuntun arah
J e j a k K a k i M i m p i | 80
Berjuta terimakasih
Walau tak akan pernah cukup
Untuk kunyatakan
Atas jasa pengabdianmu
Kini kami ...
Dari seberkas cahayamu
Akan coba menyebarkan
Pada dunia agar
Lebih benderang
Dengan keyakinan dan doa
Bersama kita buat hari esok
Yang lebih cerah.
J e j a k K a k i M i m p i | 81
Sang Pengabdi
Oleh : Siti Yuliani, S.Pd.
Kala ku terima Sepucuk Surat Bermakna atas nama diri
Seakan mengetuk relung hati untuk segera berlari
Menjemput Asa dan Amanah Suci Ibu Pertiwi
Setelah Perjuangan panjang menanti
Ku tak ragu berpacu dengan waktu yang tersisa
Memandu Tunas Muda Harapan Bangsa
Menebar Ilmu menjawab Tantangan Masa
Berjabat tangan Menggenggam Dunia Bersama
Walau Ilalang Melintang,
Dan Seribu Rintangan menghadang
Kakiku kan terus Melangkah Maju
Takkan ada kata Menyerah dalam Jiwaku
Tekadku sekuat baja dan semangatku setajam senjata
para Ksatria
Menuju Dermaga Pengabdian yang Nyata
Semua kujalani dengan Sepenuh Hati
Tak perlu Pujian apalagi Sanjungan Simpati
Karena…
Akulah Sang Pengabdi Sejati
Wujudkan Dedikasi dan Sejuta Inspirasi
J e j a k K a k i M i m p i | 82
Ketika Kau Hadir
Oleh : Sri Pangati, S.H., S.Pd.
Dalam gelapnya arah dan langkah ini
Kau jadi penerang dalam hidupku
Memberikan sinar cahaya untuk semua angan
Kau berikan terangmu, sinari lorong-lorong yang buntu
Berikan kekuatan, yang keluar dari suara dan ucapanmu
Dalam ruang yang tenang
Kutangkap arti kehidupan
Hanya padamu semua asa ditaruhkan
Dan hanya padamu tersirat ketauladanan
Kau yang tentukan nasib bangsamu
Wujudkan generasi emas bangsa yang bersinar dari
kegelapan
Setiap hari kau lakukan kegiatan mulia itu
Rasa sabar juga ikhlas temani hari-harimu
Semua isi dunia tidak bisa balas jasamu
Yang bisa membuat bintang dalam kegelapan
Jasamu teringat selalu disepanjang sejarah hidupku
Tersimpan dalam benakku
Yang tidak lekang dalam putaran waktu
Engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa
Tanpamu semua jadi gelap. . .
Dan karena hadirmu hidup jadi lebih berarti
J e j a k K a k i M i m p i | 83
Kini Waktumu, Kartini Muda
Oleh : Ely Kustrini Setyowati, S.Pd.
Kinilah waktumu, Kartini Muda
Memeluk mentari, mentransfer hangatnya kepada semesta
Kini waktumu, Kartini Muda
Menghela kekang memacu kudamu
Terbang menuju impian , menerjang penghalang
Mendobrak pintu – pintu ilmu
Membangun generasi baru,
Membangun peradaban baru
Menata kembali negeri yang porak poranda ini dengan
kelembuatanmu
Kinilah waktumu, Kartini Muda
Memutar dunia
Menjadi nahkoda bahtera handal
Akan pasang surutnya samudera problematika dunia
Kinilah waktumu, Kartini Muda
Mengukir maha karya , menebarkan wangimu
Kinilah waktumu, Kartini Muda
Dunia dalam genggamanmu
Wonogiri, 29 April 2021
J e j a k K a k i M i m p i | 84
Dari Satu Retak Yang Lain
Oleh : Ely Kustrini Setyowati, S.Pd.
Dan tersibak sudah semua yang hitam
Dan terbias sudah asa – asa dan anganku
Takkan lagi kubiarkan datang
Takkan lagi kubiarkan masuk dalam lingkar nafasku
Bila sudah hadir satu yang pasti
Maka berlalu sudah kutak mau terpaku
Pada dinding retak di ruang kalbu
Lepaskan sayapku
Biarkan ku melintas di langit yang luas
Dan bias hitam itu….
Aku tak hendak berpaling
Satukan haluan yang terlanjur terbelah
Biarkan saja detik – detik berlaju apa adanya
Dan danau hatiku,
Masih tak ter- riak oleh tangan – tangan hitam
Dan cermin-Mu masih memantulkan bayang bias lalu
Masih ada keyakinanku untuk menggapai surga-Mu
(Renungan peristiwa Mei 1994)
J e j a k K a k i M i m p i | 85
Berbahagialah Kawan!
Oleh : Saptiwi Rohayati, S.Pd.
Kelok jalan itu masih saja sama
Beribu kali aku melewatinya
Dalam pagi berselimut kabut
Hingga pulang saat gelap bertaut
Entah cerah, gerimis pun panas meradang
Bermuka masam atau ceria menawan
Meja, kursi, buku-buku tertata rapi
Saksi bisu keriuhan para penghuni
Canda tawa para sahabat
Atau celotehan nyinyir sejawat
Jari-jari beradu dengan layar gawai
Semua sibuk atau pura-pura sibuk
Ada yg bermuka masam atau ceria menawan
Cerita yang sama terulang setiap hari
Seperti rekaman diputar kembali
Waktu yang sama, tempat yang sama
Lirih hati membisikkan tanya
Bahagiakah kamu menjalaninya
Tanya itu terus bergema tanpa suara
Sungguh penat terasa
Hingga akhirnya jawabnya kutemukan
Dari kisah yang kubaca; bahagia adalah pilihan
Semudah untuk memutuskan
Bermuka masam atau ceria menawan
Maka, berbahagialah kawan!
J e j a k K a k i M i m p i | 86
Sujud
Oleh : Dyah Hayu Novia, S.Pd.
Diatas sajadah usang, di sepertiga malam itu,
Hening,
Syahdu,
Tursuruk harapan berujung kecewa
Pada asa yang hampir terputus
Lantunan Istighfar dan tasbih berhamburan
Bergulir bercampur derai air mata
Sepenuh hati dibisikkan lirih ke bumi
Bersimpuh,
Berserah,
Berpasrah,
Berharap doa dimengerti Langit,
Memohon Ampunan Illahi Rabbi..
Ngb, 28/4/21
J e j a k K a k i M i m p i | 87
Doa Kami
Oleh : Esti Nurjayanti, S.Pd.
Kapan kami bisa sekolah lagi
Kapan kami bisa menghirup udara segar lagi
Tanpa terhalang oleh balutan masker lagi
Kapan pandemi ini berakhir.
Ya Rabb, ampuni kami
Ampuni atas dosa-dosa kami
Angkatlah virus covid ini
Agar kami dapat beraktivitas seperti dulu lagi.
Biarkan doa kami membumbung tinggi
Bersama harapan-harapan baru
Bahwa pandemi ini pasti berlalu
Berganti masa depan secerah pelangi.
J e j a k K a k i M i m p i | 88
Manusia Berguna
Oleh : Fauzi Arsyad, S.Pd.
Aku ingin jadi elang putih
Terbang di langit yang damai
Bernyanyi tentang masa depan
Aku ingin jadi matahari
Hangat menyinari bumi
Membawa cahaya kehidupan
Aku ingin jadi manusia teladan
Saling berbagi rasa
Tanpa belenggu kekerasan
Bagiku asa itu masih ada
Meski belenggu pandemi nyata
Aku,
Kamu,
Dan kita semua
Bisa menjadi manusia berguna.
J e j a k K a k i M i m p i | 89
Semburat Pemikiran
Oleh : Diana Muslichatun, S.Pd.
Berjalan setapak demi setapak
Membaca setiap pergerakan yang mungkin bisa
Mencari setiap sudut pemikiran manusia
Berpikir menjadikan kita maju
Aku ingin kita melangkah bersatu
Menjadikan kita berdaya walau rapuh
Mengaktualisasikan diri demi bangsa
Mendobrak setiap kesulitan yang menerpa
Membuat hidup manusia menjadi bermakna
J e j a k K a k i M i m p i | 90
Bertahan
Oleh : Yanik Wulandari, S.Pd.
Tuhan, kini aku berjalan dengan letih
Serasa rumput erat mengikat urat kaki lemah
dan semua keterbatasanku semua dengan payah
Diamku sebenarnya teriak dan butiran air mata darah
yang terus mengalir saling bertabrakan, hendak pasrah
Pasrah ta..pi tidak boleh menyerah
Kutahu itu...
Tapi..hatiku bolehkah patah
Tapi mataku bolehkah basah
Tapi aku ingat katamu
Jangan sampai menyerah
Ketika aku menangis
Tanpa bersuara
Beban ..
Kulalui dengan tertatih dan lelah kurasa
Dan tidak ada tempat untuk minta tolong
Selain diriku dan Tuhan
Terkadang aku ingin lari
Dari sisi gelap dunia ini
Begitu aku tahu hanya semu dan putih
Lagi lagi itu katamu...
Sementara melihat proses perjuangan hidup
Kutersadar mereka yang menyayangiku
Ingin ku menangis sejadi jadinya
J e j a k K a k i M i m p i | 91
Sabar itu pahit
Pasrah itu pahit
Tapi aku percaya pahit itu
obatnya menjadi semangat
Engkau menyapaku hangat sinarmu
Menangkis embun penutup auraku
Kepada diriku sendiri?
Siap bertahan..
Jika hari ini aku mulai lupa
Tentang bagaimana caranya untuk mengeluh
Berarti hari ini aku mulai ingat tentang sebenarnya
Arti penting dari kata bersyukur
J e j a k K a k i M i m p i | 92
Kidung Arunika Menanti Sandyakala
Oleh : Yanik Wulandari, S.Pd.
Renjana Arunika tak lelah demi kami
Arunika tak lengah mengabadikan sadyakala
Sang Arunika mengawali paginya berseri
Menyinari pertiwi, menghangatkan pertiwi
Mengajarkan pertiwii apa arti ilmu, budi pekerti
Sandyakala telah mentranfer ilmu-ilmu kepada pertiwi
Langkah tegap bumi pulang di pelukan bulan
Bulan seakan yakin bumi aman dalam arunika
Bulan mengerti bumi, bumi membutuhkan arunika
Bulan percaya dan tenang, tak ada keraguan
Pertiwiku dari gersang sekarang hijau
Pertiwiku yang tidak sehat karena pengaruh polusi
Dari arunikalah pertiwi terus berbenah menjadi yang
terbaik
Badai itu datang menghujam pertiwi dan arunika
Bulan pun diterkam imbasnya, badai itu tak seperti yang
kubayangkan
Dia kecil tapi bencana bagi semua
Dia membuat pandemi yang berkepanjangan
Melumpuhkan bulan, pertiwi pun lesu, tapi tak untuk
arunika
J e j a k K a k i M i m p i | 93
Arunika menolak menyerah, dedikasi arunika tetaplah
Arunika percaya sabitah akan menjadi pertanda bintang
penunjuk arah
Menyinari pertiwi, dengan hangatnyalah
pandemi itu musnah
Arunika sekali lagi menolak menyerah, arunika menolak
apapun yang telah
jadi ancaman untuk pertiwi, bahagialah
Agar kita bisa memerangi pandemi
Dengan karsaNya
Lalu sandyakala hadir pertanda pandemi musnah
Menghadirkan swastamita....
J e j a k K a k i M i m p i | 94