Tentang Penulis
J e j a k K a k i M i m p i | 95
Penulis – penulis di dalam buku Antologi Puisi ‘Jejak Kaki
Mimpi’ ini semua adalah warga SMA Negeri 2 Wonogiri.
Mereka dengan semangat telah berpartisipasi dalam kegiatan
Literasi Tulis di sekolah dalam rangka menyemarakkan
Hardiknas dan Hari Kartini tahun 2021.
Sumanto, S.Pd. M.Pd. Kepala SMAN 2 Wonogiri
Ambar Wahyuningsih, S.Pd. Guru Sejarah
Anggie Permatasari, S.Pd. Guru Sejarah
Anggrit Yusnanto, S.Kom. Guru TIK
Ari Wuryanti, S.Pd. Guru Kewirausahaan
Badriati, S.Pd. Guru Biologi
Darwi, S.Pd. Guru PKn
Deasy Widya Santi, S.Sos Guru Sosiologi
Dewi Apriliana, S.Pd. Guru Bhs. Inggris
Diana Muslichatun, S.Pd. Guru Kimia
Drs. Mrih Kuwato, M.Pd. Guru Geografi
Dra. Sri Sunari, M.Pd. Guru Bhs. Inggris
Dra. Bety Setyowati Guru Bhs. Indonesia
Dra. Susanti Rejeki Guru Biologi
Dyah Hayu Novia, S.Pd. Laboran Kimia Fisika
Ely Kustrini Setyowati, S.Pd. Guru Bhs. Inggris
Ema Fasiroka, S.Pd. Guru Olah Raga
Esti Nurjayanti, S.Pd. Guru BK
Fauzi Arsyad, S.Pd. Guru Olah Raga
Fitri Budi Utami, S.Pd. Guru Matematika
Fitri Susanti Karyawan Tata Usaha
FM. Wuri Handayani Karyawan Tata Usaha
Fuad Setiawan, S.Pd. Guru Bhs. Jawa
Hendri Pujatmo, SE Karyawan Tata Usaha
J e j a k K a k i M i m p i | 96
Heny Nurul Fathimah, S.Pd. Guru Bhs. Inggris
Ida Widjajanti TyasWening, S.Pd. Guru Pkn
Ika Noni Sugara, S.Pd. Guru BK
Ilham Galih Pambudi, S.Pd. Guru Sejarah
Joko Waluyo, S.Pd., M.Pd. Guru Kimia/ Wakas
Maryati, S.Pd. Guru Biologi
Miftahuj Jannah, S.Pd.I. Guru Agama Islam
Muhammad Anis, S.Pd. Guru Matematika
Mutiara Putri M, A.Ma.Pust. Pustakawan
Nunung Retno Hidayati, S.Pd. Guru Bhs. Indonesia
Pradhitya Ika Siwi, S.Pd. Karyawan Tata Usaha
Philipus Sujud Turyono, S.Pd. Guru Fisika
Prihatmoyo, S.Pd. Guru BK
Puji Tri Astuti, S.Pd. Karyawan Tata Usaha
Riyanto, S.Pd. Guru Bhs. Inggris/Wakas
Roghibin, S.Pd. Guru Fisika
Ruswitari Haryani, S.PAK. Guru Agama Kristen
Saptiwi Rohayati, S.Pd. Guru Bhs. Inggris
Setiamulat, S.Pd. Guru Geografi
Siti Yuliani, S.Pd. Guru Sosiologi
Sri Pangati, S.H., S.Pd. Guru Bhs. Jawa
Sri Sularmi, S.Pd. Guru Seni
Sri Suratmi, S.Pd. Guru Matematika
Suci Subarni, S.Pd. Guru Bhs. Indonesia
Syarifah, S.Pd.I. Guru Agama Islam
Tarmo, S.Pd. M.Pd. Guru Matematika
Tea Limostin, S.Pd. Guru Sejarah
Titin Adiyanti, S.Pd. M.Pd. Guru Fisika
Tri Winarsih, S.Pd. Guru Kewirausahaan
Uji Saputro, S.Si., M.Si. Guru Kimia
Umi Fauziah, S.Pd. Guru Kewirausahaan
J e j a k K a k i M i m p i | 97
Untung Sudrajad, SE., M.Pd. Guru Ekonomi
Wardoyo, S.Pd. M.Pd. Guru Olah Raga/Wakas
Widya Ika Candra Dewi, S.Pd. Guru Kewirausahaan
Widya Indrakusuma, S.Pd. Guru Olah Raga
Wijayani Ikhsan Atmaja, S.Kom. Karyawan Tata Usaha
Yanik Wulandari, S.Pd. Guru Bhs. Indonesia
Yayah Nur Rohayati,S.Pd., M.Pd. Guru Bhs. Inggris
Yunita Dwi Astuti, S.Pd. Guru Sejarah
Yoga Purnama Sari , S.Sn. Guru Seni
Yoshida Mayawati, S.Pd. Guru Ekonomi
J e j a k K a k i M i m p i | 98
Bonus Track:
BUKAN GAJI BUTA
Pagi belum lama beranjak. Masih ada semburat oranye di
tepi cakrawala, tampak kontras dengan lambaian pucuk-pucuk
daun jagung yang mulai meninggi. Seperti ribuan pagi
sebelumnya, Desa Taliwangsul tak mau terus larut dalam
mimpi. Desa kecil di kaki Gunung Gandul itu mulai
menggeliat. Demikian juga suasana di sebuah rumah kayu
asri yang ada di salah satu sudut desa itu.
‘Srak..srek.’ Tampak seorang ibu menjelang paruh baya
menyapu gogrokan daun ketapang di samping rumah. Tak
jauh, di pelataran dekat gerbang muka rumah, tampak
suaminya sedang menyiapkan selang untuk mencuci sepeda
motor. Rumah itu terletak di pertigaan jalan ujung desa yang
salah satunya mengarah ke area persawahan dan tegalan.
Banyak warga desa yang melewati jalan itu saat menuju
sawah ladang mereka.
“Monggo Pak Guru Wi,” sapa mbah petani tua sambil
memanggul cangkulnya.
“Sugeng enjang. Mbah Tomo, Sajake pun ajeng matun.”
Laki-laki yang dipanggil Pak Wi itu membalas sapa yang
kemudian berlanjut menjadi percakapan hangat barang
semenit dua menit. Begitulah suasana paseduluran di
pedesaan, hal-hal kecil pun dapat menjadi bahan
perbincangan yang menghangatkan hari. Sepeninggal Mbah
Tomo yang melanjutkan perjalanannya ke sawah, Pak Wi
menyalakan kran air. Ditemani cemruwit suara burung
prenjak, ia melanjutkan mencuci sepeda motor
kesayangannya.
“Toeet..Toeet.. Yuuur.. Sayuuur!” Tiba-tiba terdengar
suara lantang si Mas bakul sayur keliling memeriahkan pagi.
Sebuah pos kamling yang ada di depan rumah pak Wi sudah
lama menjadi tempat mangkal sepeda motor penjual sayur.
J e j a k K a k i M i m p i | 99
Beberapa ibu di sekitaran situ akan segera mendekati penjual
sayur langganan. Demikian juga Bu Wi.
Bu Wi tidak memerlukan waktu lama untuk berbelanja.
Dia ingat, Pak Kades beberapa kali memperingatkan warga
desa memakai masker dan tidak berkerumun terlalu lama.
Pagi itu terlihat ibu-ibu sudah tertib mengenakan masker,
tetapi untuk urusan ‘sebentar’, itu sesuatu yang kadang sulit
diterapkan. Beberapa ibu masih asyik mengobrol sambil
memilih sayuran.
“Jadi guru sekarang ini penak yo, Dik Watik?” celetuk Yu
Minuk sambil mencomot bungkusan teri kering, matanya
sekilas terlihat melirik ke arah Pak Wi, “Hampir tiap hari
tengak-tenguk di rumah saja, tapi gajinya penuh setiap
bulan.”
“Lha piye meneh,Yu. Murid-murid sekolahan kan masih
belajar dari rumah,” perempuan yang dipanggil Dik Watik
menimpali dengan nada yang lebih pengertian, “Katanya baru
minggu depan mau dimulai sekolah tenanan.”
“Ooo.. jenenge PTMT kui, Dik. Gur pertemuan tatap
muka terbatas. Paling seminggu sekali atau dua kali ke
sekolahan. Gurunya ya masih santuyy.” Yu Minuk berseru
menirukan gaya anak muda untuk mengatakan ‘santai’.
Maskernya sampai mencas-mencos saking semangatnya
berbicara.
“Lha itu kan namanya .. anu.. opo kae, Dik? Istilah yang
pakai kata ‘buta’ gitu lho,” tambahnya. Prasangka memang
seperti api di semak kering, cukup sedikit bara, apinya bisa
segera menjalar ke mana-mana.
“Cinta buta?!” seru Dik Watik mencoba membantu.
Yu Minuk melempar terong yang baru dipegangnya ke
arah Dik Watik tanda tidak setuju.
“Si buta dari goa hantu?” Dik Watik semakin ngawur
memberi rekomendasi.
“Itu lho…Maksudnya orang itu terima gaji tapi tidak
banyak kerjanya,” kata Yu Minuk semakin gemas. Kata itu
seperti sudah di ujung lidah tapi lupa pengucapannya.
J e j a k K a k i M i m p i | 100
“Woalaah.. Makan gaji buta itu namanya,” jawab Dik
Watik yakin kali ini.
“Naa.. itulah maksutku. Kalau di sineteron Azab ngeri lho,
Dek. Barangsiapa makan gaji buta nanti saat mati, mayitnya
akan ngglundhung ke kali gedhe!” Hiih, bergidik Yu Minuk
menceritakannya.
“Sereem banget, Yu!” seru Dik Watik dan Mas bakul
sayur kompak. Obrolan pun makin kemripik bagai peyek teri
yang baru matang.
Pak Wi hanya senyum simpul saja. Memang suara
obrolan ngalor ngidul itu bisa didengarnya dengan jelas dari
tempatnya mencuci sepeda motor yang kini sudah hampir
selesai. Lalu Pak Wi bergegas masuk ke dalam rumah,
teringat ada yang harus dikerjakannya hari ini. Disambarnya
setelan batik yang dicantolkan di pinggir lemari. Sebuah tas
kerja kecil tak lupa dibawa. Matahari sudah mulai meninggi.
‘Werrr…Grek..Werr ewer!” Sepeda motor tua Pak Wi
akhirnya menyala setelah diengkol tujuh kali. Stater
otomatisnya sudah lama aus.
Yu Minuk agak kaget mendengarnya, “Lihat saja,
sebentar lagi sepeda motor Alfa itu pasti akan berganti jadi
Alphard!”
“Alphard kiy apo to, Yu?” tanya Dik Watik tak kunjung
paham.
“Itu lho , mobil uapiik yang dipakai mbak Anlin di sinetron
Lilitan Cinta. Mahaal itu. Tapi katanya gaji guru sekarang
makin besar, cukup untuk beli Alphard,” jawab Yu Minuk
meyakinkan.
Pak Wi tersenyum saat berlalu di atas sepeda motornya
sambil menyapa mereka.
“Lihat saja, Pak Guru nanti pasti akan berbelok di
perempatan arah kuburan. Pokokmen, setiap Senin dan Sabtu
dia pasti dolan ke rumah bercat ungu. Rumah paling pinggir
yang mepet kuburan itu,” berentetan kata Yu Minuk membuat
semua mata mengarah ke laju sepeda motor Pak Wi. Dan
J e j a k K a k i M i m p i | 101
benar saja, motor Alfa itu dengan pelan tapi pasti terlihat
meliuk belok ke arah kuburan di sisi selatan desa.
“Rumah ungu yang ada di daerah sana itu kan
kepunyaan Bu Merry, janda cantik yang pekerjaannya sinden
itu. Suaminya meninggal karena Covid lima bulan lalu.
Weladalaah!” Dik Watik semakin memanas larut dalam api
prasangka. Lalu tercetusah ide bahwa demi kesetiakawanan
antar wanita, mereka sepakat untuk memberitahukan Bu Wi
tentang suaminya dan rumah ungu itu.
Sudah menjelang magrib ketika Yu Minuk dan Dik Watik
sampai di beranda rumah Bu Wi. Mereka memilih waktu ini
dengan asumsi bahwa Pak Wi biasanya menengok ladangnya
pada jam segitu. Saat hendak mengetuk pintu yang sedikit
terbuka, terdengar suara Pak Wi nembang Dandhanggulo dari
balik pintu. Yu Minuk dan Dik Watik terhenyak, segera balik
kanan, membatalkan niat untuk menemui Bu Wi. Tetapi naas.
Saking terburu-burunya, Yu Minuk tersandung gembor yang
tergeletak di lantai.
“Klonthaang..” suaranya mengagetkan semua orang. Yu
Minuk segera bangkit dan siap berlari diikuti Dik Watik, tapi
terlambat, Bu Wi terlanjur melihat mereka.
“Wah, ono tamu agung to iki tibake,” sambut Bu Wi
sambil membukakan pintu lebar-lebar.
Dik Watik mendelik memandang Yu Minuk, seolah
memberi kode,” Jangan bilang-bilang soal rumah ungu!”
Bukan Yu Minuk namanya kalau tidak pinter ngeles,“
Anuu.. ini tadi kita penasaran kok mendengar ada suara
merdu dari rumah ini. Rupanya Pak Wi sedang nembang.
Nopo sakniki Pak Wi seneng sinden?”
“Huuussh!”seru Yu Watik yang semakin mendelik,
tangan kirinya siap melemparkan sandal ke arah rekannya itu.
“Eh, maksud saya, apa Pak Wi sekarang suka lagu-lagu
yang dinyanyikan para sinden itu?” sahut Yu Minuk meralat
ucapan dari mulutnya yang memang kadang sering sulit
direm.
J e j a k K a k i M i m p i | 102
Bu Wi tersenyum memberi penjelasan, “Pak Wi ini sedang
membuat video pembelajaran untuk muridnya. Ini tadi
tripodnya rusak, saya bantu pegangi hp yang untuk merekam
video. Anakmu Viola kan juga muridnya Pak Wi di SMP 7 to,
Yu?”
Yu Minuk mengangguk mengiyakan. Belum sampai
pembicaraan mereka berlanjut, dari gerbang tampak seorang
gadis berlari mendekat. Rupanya itu si Gendhuk Raviola
Purnamasari, putrinya Yu Minuk.
“Buuuk, gawaat. Ini baru saja ada telepon, katanya mbah
Uti dibawa ke ICU isolasi RSUD. Kena Covid. Katanya harus
segera dicarikan plasma. Golongan darah AB habis di PMI,”
kata Gendhuk Raviola panik.
Yu Minuk terduduk lemas di kursi. Dua hari yang lalu
memang dia telah dikabari kalau simboknya yang ada di ujung
desa sakit panas dan kadang sesak nafas. Dia belum sempat
menengoknya.
“Ayo, Yu, kita ke PMI yang di samping RSUD selepas
magrib. Saya bisa donor plasma. Saya dua bulan lalu kena
covid dan golongan darah saya juga AB. Mudah-mudahan
cocok.” Pak Wi mencoba membantu.
Malam itu di ruang tunggu kantor PMI, Yu Minuk tak bisa
lepas dari rasa gelisah. Sudah beberapa saat Pak Wi masuk ke
ruang pemeriksaan ditemani Pak Carik Maryoto yang bertugas
sebagai ketua satgas Covid desa. Di tangannya ada HP milik
Pak Wi yang dititipkan padanya sebelum masuk ruangan. Pak
Wi berpesan untuk menjawab jika ada telepon dari Bu Wi.
Klunting.. Yu Minuk melirik sebuah notifikasi pesan masuk
WA di layar ponsel Pak Wi : Pak, ini Agnes murid kelas IX B.
Saya tadi susah sinyal tidak bisa akses Google Classroom.
Bolehkah saya dibantu mengerjakan sekarang?
Klunting .. klunting .. beberapa notikasi lain bermunculan
dari beberapa murid pak Wi. Yu Minuk tidak pernah berfikiran
sedemikian repotnya jadi guru meski PJJ, ini bahkan sudah
menjelang waktu tidur. Yu Minuk dikagetkan dengan
deheman Pak Maryoto yang rupanya sudah keluar dari
J e j a k K a k i M i m p i | 103
ruangan dan berkata, “ Syukurlah, Yu. Plasmanya cocok. Ini
Pak Wi sedang proses donor.”
Yu Minuk jadi agak lega, penuh harap untuk kesembuhan
simboknya.
“Pak Wi itu juga guru yang baik, mau membantu anak
yang kesulitan PJJ karena tidak mempunyai HP. Seperti
putranya Bu Merry sinden itu lho, Yu. Sepeninggal suaminya,
perekonomiannya morat marit, apalagi tidak ada lagi yang
nanggap sinden selama pandemi. Setiap Senin dan Sabtu Pak
Wi mengantarkan fotokopi materi dan tugas anak itu sambil
mengajarinya. Bahkan Pak Wi dan teman-teman gurunya juga
sudah rapat dengan Pak Kades berencana memakai mobil
desa untuk membuat perpustakaan keliling dilengkapi laptop
dan Wifi gratis. Semua demi mengusahakan berbagai sarana
agar anak-anak bisa belajar dengan baik di tengah pandemi
ini” kata Pak Maryoto panjang lebar.
Terhenyak Yu Minuk mendengar penuturan Pak Carik
Maryoto. Runtuh sudah dinding prasangka kecurigaan
terhadap Pak Wi yang meninggi di dalam hatinya. Pak guru
baik hati itu rupanya tidak hanya duduk manis saja makan
gaji buta berbulan-bulan. Yu Minuk belajar bahwa sudah
saatnya dia perlu melihat sisi lain seseorang sebelum
mendalamkan prasangka dalam hatinya.
Tiga hari kemudian, tergopoh-gopoh Yu Minuk membawa
setangkup pisang kepok matang ke arah rumah Pak Wi.
Dengan suka cita Pak Wi dan Bu Wi menyambutnya, apalagi
dengan kabar baik bahwa simbok Yu Minuk sudah membaik.
“Minta tolong Gendhuk saya diajari membuat video untuk
tugas sekolahnya,” Yu Minuk mengutarakan maksudnya,
“Kata Gendhuk upload videone sakniki ngirit, pakai kuota
pendidikan dari Pemerintah. Kalau videonya makin sip, nanti
nilainya makin bagus to, Pak.”
Melihat Yu Minuk semangat, Pak Wi mulai bercanda
riang, “Tetapi belajar membuat video itu harus membayar
mahal lho, Yu. Engko ndak aku raiso tuku Alphard.”
J e j a k K a k i M i m p i | 104
“Yungalaah, Pak Guru niku, saya waktu itu cuma
bercanda lho,” tukas Yu Minuk salah tingkah. Sore itu suasana
paseduluran semakin remaket dengan riang di teras rumah
kayu Pak Wi.
Pandemi bisa saja tak cepat berlalu, tetapi semangat
untuk terus maju dalam belajar tidak boleh cepat pudar. Bunyi
kodok saling bersahutan meramaikan malam yang mulai
gerimis di desa Taliwangsul. Nada indahnya naik turun
menyampaikan penuh harap akan berkah hujan setelah
kemarau yang panjang. Selama terus mau bergerak dengan
sarana apapun, harapan itu akan selalu ada.
(Juara 3 Lomba Guru Menulis Cerpen PGRI Wonogiri 2021)
J e j a k K a k i M i m p i | 105
J e j a k K a k i M i m p i | 106