[Year]
Windows User
[Company name]
[Date]
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur senantiasa kami panjatkan kepada Allah SWT. Karena atas rahmat,
taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Ciri – Ciri Bahasa
Karya Tulis Ilmiah”. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW,
yang telah banyak mengajarkan kebajikan dan menyebarkan ilmunya kepada seluruh umatnya.
Dalam penulisan makalah ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Yunia
Kusminarsih selaku dosen mata kuliah karya tulis ilmiah.
Dengan menyadari pentingnya makalah ini, kami persembahkan kepada pembaca semoga
bermanfaat, serta dapat dijadikan perbandingan untuk penyusunan makalah yang akan datang.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, baik
dalam segi kata maupun penyusunan. Saran dan kritik yang membangun terhadap makalah ini
sangat kami harapkan demi perbaikan selanjutnya.
1
DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................................................1
Daftar Isi .........................................................................................................................................2
Memahami Ilmu Kalam ...................................................................................................................3
Aliran Asy’ariyah...........................................................................................................................14
Aliran Jabariyah .............................................................................................................................25
Aliran Khawarij .............................................................................................................................32
Aliran Maturidiyah.........................................................................................................................42
Aliran Murji’ah ..............................................................................................................................49
Aliran Mu’tazilah...........................................................................................................................57
Aliran Qadariyah............................................................................................................................64
Aliran Salafi ..................................................................................................................................67
Aliran Syi’ah..................................................................................................................................78
2
MEMAHAMI ILMU KALAM
A. Kebutuhan Umat Islam Terhadap Ilmu Kalam
Beberapa teori disini dapat menjelaskan tentang kebutuhan umat islam terhadap Ilmu
Kalam. Sebagai disiplin ilmu, Munculnya Ilmu Kalam di permukaan ini tak lain ialah untuk
menjawab berbagai persoalan yang dibutuhkan oleh umat pada zamannya.
1) Munculnya Ilmu Kalam menjadi sebuah advokasi keagamaan terhadap kesenjangan sosial atau
teologi sebagai sebuah axiology yang berkembang pada masanya. Untuk kepentingan ini,
doktrin keagamaan secara rasional telah diinterpretasikan, sehingga teologis itu dapat dijadikan
argumen untuk mendukung pemikiran dan gagasan yang substansinya menentang ketimpangan
sosial yang sedang terjadi. Dari sisi ini, dapat dipungkiri jika Ilmu Kalam lahir di dunia Islam
sebagai bentuk respons terhadap persoalan sosial yang berkembang seiring berjalannya waktu.
Phlip Bob, menyatakan bahwa teologi merupakan suatu upaya memahami keyakinan,
perbuatan, dan pengalaman keagamaan secara rasional. Pada masa masa berikutnya, barulah
teologi berkembang menjadi sebuah disiplin ilmu. Di dunia islam, teologi Islam berkembang
sejak Abu Hasyim1 dan kawannya Imam al- Hasan bin Muhammad bin Hanafiah, dari kalangan
Mu’tazilah. Adapun orang pertama yang membentakan pemikiran Ilmu Kalam secara lebih baik
lewat logikanya yaitu Imam Al- Asy’ari,2 seorang tokoh Ilmu Kalam Sunni.
2) Setelah advokasi ini telah menjadi bagian dari permasalahan sosial, berikutnya perkembangan
ini ditandai dengan penegasan rujukan teks tentang kalam. Hal ini tampak seiring
berkembangnya istilah seperti teologi feminisme, teologi gender, teologi kemiskinan, teologi
kaum tertindas, teologi transformatif, teologi pembebasan, dan berbagai macam istilah lain.
Pada dasarnya semua peristilahan itu merupakan sebuah kajian ilmiah yang di dalamnya itu
berbicara mengenai ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya sebagai sumber primer dalam
keagamaan Islam yang secara tematik mengadvokasi hal-hal yang berkait dengan ketimpangan
sosial. Pendekatan dari teologi itupun telah mengalami perkembangan. Artinya, teologi ini
bukan menggunakan pendekatan teologi lagi, tetapi sudah merambah dengan menggunakan
pendekatan empiris berupa sains dan filsafat nya.
3) Ada teori lainnya menyebutkan bahwa pada semua kehidupan agama, dari kesadaran beragama
ini rupanya terdapat ketegangan. Pernyataan tentang kesadaran agama itu sendiri, sejalan
dengan garis pemisah antara Zat yang disembah (Tuhan) dengan manusia yang menyembah-
1 Abu Hasyim ibn Muhammad ibn Ali ibn Abu Thalib a.s mengarang sebuah kitab di bidang Ilmu Kalam. Ia
bisa dikatakan sebagai tokoh Syi’ah dan diakui sebagai peletak Ilmu Kalam. Beberapa saat sebelum wafatnya, ia
menyerahkan kitab-kitabnya kepada Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas; seorang tabi’in dari Abi Hasyim.
Sejak itu kaum Syi’ah merujuk kepadanya, sebagaimana yang dicatat oleh Ibnu Qutaibah di dalam Al-Ma’arif.
2 Al-Asy’ari lahir tahun 260 H/873 M dan wafat pada tahun 324 H/935 M. Kitabnya yang terkenal ada tiga;
Maqalat al- Islamiyyin; Al-Ibanah’an Ushulid Diniyah; dan Al-Luma. Lihat, Ahmad Hanafi, Teologi Islam, Jakarta;
Bulan Bintang, 2001, hlm.65.
3
Nya, antara perasaan suci dan perasaan berdosa3. Semua agama mengajarkan bahwa Tuhan itu
berbeda dengan sesuatu yang lain. Untuk memahami seseorang dalam keyakinan agamanya,
dalam Islam lahirlah Ilmu Kalam, di mana para Mutakalimin disini berusaha mencari
harmonisasi dari ketegangan itu.
4) Lahirnya Ilmu Kalam itu didorong oleh faktor yang mempengaruhinya dari luar. 4Dalam hal ini
ketika perluasan wilayah Islam telah berkembang, dimulai masa Khalifah ‘Umar bin al- Khattab
(13-23 H= 634- 644 M), dan berlanjut pada masa al- khulafa al- Rasyidin berikutnya dan
berkelanjutan pula pada masa Khilafah bani Umayyah ( 40-132 H = 660-750 M), umat Islam
mulai berhubungan dengan tokoh-tokoh agama lain, yang di kemudian hari sebagian dari
mereka itu ada yang memeluk agama Islam. Setelah pikiran mereka tenang dan tenteram dengan
Islam sebagai agama baru baginya, mereka mulai memikirkan sejarah dari ajaran-ajaran agama
itu dan mengkajinya dengan corak baru ke- Islaman. Orang-orang mu’tazilah telah melakukan
studi filsafat Yunani, untuk membela Islam dari serangan pihak yang berusaha
menghancurkannya. Karena itu golongan Mu’tazilah dapat dikatakan sebagai pencetus Ilmu
Kalam.5
5) Diceritakan bahwa pada 148 Hijriah Khalifah Abu Ja’far al- Mansur dari bani Abbas menderita
sakit, semua dokter pribadinya tidak ada yang mampu menyembuhkannya. Lalu salah satu
menterinya memberi saran untuk mendatangkan dokter yang terkenal, atas saran dari
menterinya didatangkanlah dokter yang terkenal itu yang bernama George Buktishu, dan
akhirnya berhasil mengobati penyakit khalifah. Khalifah kemudian memintanya untuk menjadi
dokter pribadi di istananya. Buktishu adalah seorang ilmuan yang luas pengetahuannya dan
banyak menulis tentang ilmu kedokteran. Dari Buktishu inilah pihak istana mengenal perguruan
Jundishapur dan Khalifah tertarik mendatangkan ahli filsafat dari Jundishapur ke Bagdad dan
menerjemahkan beberapa buku ilmu pengetahuan Yunani.
Usaha penerjemahan buku-buku Yunani (baca: naskah kimia, kedokteran, logika, filsafat,
dan lain-lain) secara intensif dilakukan pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah. Khalifah
Harun Ar- Rasyid pernah mengirim delegasi ke Byzantium untuk membeli manuskrip ilmu
kedokteran dan ilmu pengetahuan filsafat Yunani. Pada 217 Hijriah, Khalifah Al-Ma’mun
mendirikan Baitul Hikmah yang merupakan perpustakaan, pusat peterjemahan, pusat studi dan
pembahasan ilmu filsafat. Dalam usaha penerjemahan dilakukan oleh para penterjemah, Hunain
bin Ishak, pemimpin Darul Hikmah yang menerjemahkan 20 buku karya Galen ke dalam bahasa
Siria; Ishak bin Hunain menerjemahkan karya Plato dan Aristoteles; dan Sabit bin Qurra
menerjemahkan Fisika Aristoteles. Setelah era penerjemahan karya-karya Yunani, dunia Islam
dapat bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran Yunani. Sebagian ulama Kaum Muslimin
menimba pola pikir rasional yang dikembangkan di Yunani, terutama bagian logika. Dari metode
rasional tersebut kemudian dipergunakan oleh para ulama Islam untuk membentengi akidah
mereka dari serangan luar. Dari metode rasional Yunani inilah lahirlah model pemaduan melalui
3 Gibb, H.A.R.Modern Trends In Islam, Chicago: The University of Chicago Press, 1950,17.
4 Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, hlm. 10-19.
5 Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, hlm.229.
4
analisis teks Kitab Suci, yang kemudian disebut Ilmu Kalam. Selain teori-teori diatas, faktor
kebutuhan umat terhadap konstruksi Ilmu Kalam untuk menopang permasalahan sosial tampaknya
menjadi acuan penting dan signifikan. Sejarah mencatat, Ilmu Kalam tidak tumbuh sekaligus, akan
tetapi melalui berbagai fase, yang pertumbuhannya berasal dari pertengahan kedua dari abad
pertama Hijriah.
B. Pengertian Ilmu Kalam
Setidaknya ada tiga istilah yang popular tentang Ilmu Kalam, yaitu Ilmu Kalam, Ilmu
Tauhid, dan Teologi. Dari ketiga istilah ini diperingatkan muncul karena perbedaan perspektif
dalam melihat persoalam Ilmu Kalam. Dari ketiga istilah ini kemudian muncul beberapa definisi
atau pengertian tentang Ilmu Kalam.
1) Ilmu Kalam. Dalam bahasa Arab “Kalam” biasa diartikan dengan “kata-kata”, yakni sabda
Tuhan atau kata-kata manusia. Di sini Ilmu Kalam dimaknai dengan Ilmu Pembicaraan,
karena dengan pembicaraanlah pengetahuan ini dapat dijelaskan, dan dengan pembicaraan
yang tepat, kepercayaan yang benar dapat ditanamkan. Disebut “Ilmu Kalam” karena yang
dibahas adalah Kalam Tuhan dan Kalam manusia. Jika yang dimaksud dengan Kalam adalah
“firman Tuhan”, maka Kalam Tuhan (baca: Al-Qur’an) pernah menimbulkan perdebatan
sengit di kalangan umat Islam pada abad kedua dan ketiga Hijriah. Salah satu perdebatan itu
adalah tentang apakah Kalam Allah baru atau qadim? Karena firman Tuhan pernah
diperdebatkan, maka dinamakan Ilmu Kalam. Jika yang dimaksud Kalam adalah kata-kata
manusia, maka kaum teologi dalam Islam selalu menggunakan dalil logika untuk
mempertahankan pendapat dan pendirian masing-masing. Kaum teologi dalam Islam memang
dinamakan Mutakalimin, karena mereka ahli debat yang pintar memainkan kata-kata.6
2) Ilmu Kalam adalah ilmu yang dikaitkan dengan Allah, perbuatan dan sifat-sifat-Nya. Oleh
sebab itu Ilmu Kalam biasa disebutkan juga Ilmu Ushuluddin atau Ilmu Tawhid, yakni ilmu
yang membahas tentang penetapan aqaid diniyah dengan dalil (petunjuk) yang kongkret.
Maka, Ilmu Kalam adalah rangkaian argumentasi rasional yang disusun secara sistematik
untuk memperkukuh kebenaran akidah agama Islam.
3) Ada pula definisi Ilmu Kalam seperti yang diajukan oleh Al-Farabi dan Ibnu Khaldun. Al-
Farabi, misalnya, menyebut Ilmu Kalam sebagai disiplin Ilmu yang membahas Dzat dan sifat
Allah beserta eksistensi semua yang mungkin, mulai yang berkenaan dengan masalah dunia
samoai masalah sesudah mati yang berlandaskan doktrin Islam. Sedangkan Ibnu Khaldun
mendefinisikan Ilmu Kalam sebagai disiplin Ilmu yang mengandung berbagai argumentasi
tentang akidah iman yang diperkuat dalil-dalil rasional. Dari kedua pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa Ilmu Kalam adalah Ilmu yang membahas berbagai masalah ketuhanan
dengan menggunakan argumen logis maupun filosofis.
6 Harun Nasution, Teologi Islam, Jakarta: UI Press, 1972, hlm.ix.
5
4) Istilah Kalam juga disini dapat digunakan untuk menunjukan keahlian dalam menguasai
cabang Ilmu tertentu, sehingga orang yang menguasai ilmu itu disebut Mutakallim, Ashhab
al--Kalam al- Tabi’i (ahli fisika), begitu juga ashhab al- Kalam al-Ilahi atau al-Mutakallimun
fi al-Ilahi (teolog). Namun pada perkembangan selanjutnya istilah “Kalam” dalam Islam lebih
dititik tekankan pada aliran teologi, seperti Mu’tazilah dan Asy’ariyah.
5) Kalam juga diistilahkan oleh para pakar dengan beragam nama, antara lain: Abu Hanifah (150
H/ 767 M) memberinya nama dengan istilah “ilmu Fiqih al-Akbar. Kemudian Imam Asy-
Syafi’i (204 H/ 819 M), Imam Malik (179 H/ 795 M), dan Imam Ja’far al-Sadiq ( 148 H/ 765
M) memberinya nama dengan istilah ‘Ilmu Kalam.
6) Kalam sebagai teologi. Rumusan lain dikemukakan oleh Harry Austryn Wolfson 7yang
berpendapat bahwa istilah Kalam adalah terjemahan dari karya-karya filosof Yunani,
“Theos” (Tuhan) dan “logos” (kata atau argumen). Sehingga teologi dapat diartikan dengan
Ilmu atau argumen tentang Tuhan. Belakangan ini Istilah tersebut sebenarnya merupakan
transformasi dari pemikiran teologi atau (‘Ilmu al-Lahut) yang telah berkembang di dunia
Barat pada masa sebelumnya. Maka tidak heran jika kemudian muncul pakar yang
mendefinisikan Ilmu Kalam sebagai “Ilmu al-Lahut”, yakni diskursus atau pemikiran tentang
Tuhan. Bahkan dengan mengutip istilah yang diberikan oleh William Ockham, L Reese
menyatakan bahwa Teologi merupakan sebuah disiplin Ilmu yang meletakkan kebenaran
wahyu, lewat argumen filsafat dan ilmu pengetahuan independen. Rumusan William Ockham
tentang teologi tampaknya ada kemiripan dengan pendapat Ibnu khaldun, seperti dikutip oleh
Musthafa Abdul Raziq, yakni mendefinisiakn Ilmu Kalam sebagai “Ilmu al-Kalam huwa
‘Ilmun yatadlammanu al-hujjaja ‘an ‘aqaidi al-Imaniyyah bi al-adillah al-’aqliyyah (Ilmu
Kalam yaitu sebuah disiplin Ilmu berkaitan dengan keimanan yang diperkuat dengan
menggunakan argumentasi rasional).
Beberapa istilah di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa Ilmu Kalam merupakan
disiplin keilmuan dalam agama Islam terkait berbagai argumentasi tentang akidah iman yang
diperkuat dalil-dalil rasional. Istilah tersebut juga memberi ruang bagi perkembangan konten Ilmu
Kalam ke arah yang lebih dinamis.
C. Dasar-Dasar Epistemologi Ilmu Kalam
Kita tidak akan dapat memahami persoalan Ilmu Kalam apabila tidak mempelajari dasar-dasar
epistemologis yang melandasi timbulnya Ilmu Kalam. Dasar-dasar epistemologis yang dimaksud
disini adalah dasar-dasar atau pijakan-pijakan dalam agama Islam yang mendorong lahirnya
persoalan-persoalan Kalam. Beberapa pijakan dasar antara lain sebagai berikut.
1) Al-Qur’an memberi pijakan bagi umat Islam agar beriman kepada Allah. Banyak ayat Al-
Qur’an yang memberikan pijakan tauhid dan wahdaniyatullah sebagai pijakan yang benar.
Dalam ayat lain, keimanan kepada Allah serta merta dikaitkan dengan konsep keimanan kepada
7 Harry Austryn Wolfson (1887-1974) menulis beberapa buku tentang Kalam dan Filsafat, antara lain Foundations
of Religius Philosophy in Judaism, Christianity, and Islam (1947), The Philosophy of the Kalam (1976), Repercussions
of the Kalam in Jewish Philosophy (1979).
6
Rasul-Nya. Di samping tentunya Al-Qur’an menyinggung golongan yang tidak percaya akan
diutusnya para Nabi, dan tidak memercayai kehidupan di akhirat nanti, sebagaimana dinyatakan
dalam firman-Nya:
َو َما َمنَ َع النَّا َس اَ ْن ُّي ْؤ ِمنُ ْوا اِ ْذ َجا َء ُه ُم ا ْل ُهدَى اََِّّلاَ ْن قَالُوا اَبَعَ َث َّلَّلاُ بَ َش ًرا َّر ُس ْوًَّل
“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang
kepadanya, selain perkataan mereka, “Mengapa Allah mengutus seorang manusia menjadi
Rasul?” (Q.S Al-Isra’:94)
َي ْو َم َن ْط ِوى ا َّس َما َء َك َطيِ ال ِس ِج ِل ل ْل ُكتُ ِب َك َما بَدَأْ َنا ا َّو َل َخ ْل ٍق ُّن ِع ْيدُهُ َو ْعدًا َع َل ْي َنا اِنَّا ُكنَّا َف ِع ِل ْي َن
“(Ingatlah) pada hari langit kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas.
Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah kami akan mengulanginya
lagi. (Suatu) janji yang pasti kami tepati; sungguh, kami akan melaksanakannya.(Q.S Al-
Anbiya’:104)
2) Al-Qur’an menyinggung golongan-golongan dan agama-agama yang ada pada masa Nabi dan
mempunyai kepercayaan-kepercayaan yang tidak benar. Di antara golongan atau kepercayaan
yang keliru itu antara lain golongan yang mengingkari agama dan adanya Tuhan, dan mereka
mengatakan bahwa yang menyebabkan kebinasaan dan kerusakan adalah waktu saja.
فَ ِا ْن يَّص ِب ُر ْوا َفا ل َنّا ُر َمثْ ًوى َّل ُه ْم َو ِا ْن يَّ ْستَ ْعتِبُ ْوا فَ َما ُه ْم ِم َن ا ْل َخ ِس ِر ْي َن
“Meskipun mereka bersabar (atas azab neraka) maka nerakalah tempat tinggal mereka dan
jika mereka minta belas kasihan, maka mereka itu tidak termasuk orang yang pantas
dikasihani.
Kemudian kaum Musyrik, yang menyembah bintang-bintang, bulan, matahari
dilumpuhkan oleh kekuatan argumen rasional Nabi Ibrahim a.s.
Dalam ayat lain disebutkan tentang bantahan Nabi Isa terhadap orang-orang yang
mempertuhankan dirinya dan ibunya, Maryam, sebagaimana berikut:
َو ِاذْ َقا َل َّلَّلاُ يَ ِع َسى ا ْب َن َم ْريَ َم َءاَ ْن َت قُ ْل َت ِل َّنا ِس ات ِخذُ ْو ِني َواُ ِم َي اِلَ َه ْي ِن ِم ْن دُ ْو ِن َّللا قَا َل ُس ْب َح َن َك َما َي ُك ْو ُن ِلي اَ ْن اَقُ ْو َل َما لَ ْي َس ِلي
ِب َح ٍق اِ ْن ُك ْن ُت قُ ْلتًهُ َف َقدْ َع ِل ْمتَهُ تَ ْعلَ ُم َما ِفي َن ْف ِسي َوََّل اَ ْع َل ُم َما فِي َن ْف ِس َك اِنَّ َك اَ ْن َت َعََّّل ُم ا ْلغُيُ ْو ِب
“Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Engkaukah yang
mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain
Allah?”(Isa) menjawab, “Maha suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan
hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah engkau telah mengetahuinya. Engkau
mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriku dan
aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah yang Yang Maha
Mengetahui segala yang Ghaib.” (Q.S Al-Maa’idah:116)
7
Beberapa ayat Al-Qur’an di atas merupakan landasan epistemologis. Dan masih banyak
ayat lainnya lagi yang membahas munculnya persoalan-persoalan Ilmu Kalam. Dan demikian,
munculnya Ilmu Kalam merupakan tuntutan dan “keharusan” berdasar pada perspektif dan
logika Al-Qur’an. Selain terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an, masalah-masalah Ilmu Kalam
juga disebutkan dalam beberapa Hadis Nabi, di antaranya Hadis yang menjelaskan tentang
iman, Islam dan ihsan yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar r.a.
Dalam Hadis yang diriwayatkan Ibnu ‘Umar r.a., jibril membedakan antara Islam dan Iman
dalam dua pertanyaannya yang terpisah. Nabi pun menjawab dua pertanyaan jibril dengan dua
jawaban yang berbeda. Secara urutan, memang kata “Iman” disebut lebih dahulu ketimbang
“Islam” sebagaimana diuraikan dalam Hadis Jibril. Dapat dimaklumi karena keimanan
merupakan entitas yang menjadi kekuatan pendorong untuk menangkal segala sesuatu yang
tidak sejalan dengan keyakinan yang benar, sekaligus sebagai kekuatan motivator bagi
terlaksananya perintah-perintah agama. Pada titik inilah sesungguhnya Ilmu Kalam
memberikan motivasi kuat bagi pelaksanaan perintah-perintah agama.
D. Sejarah Ilmu Kalam, Pertumbuhan dan Perkembangannya
Pada masa Rasulullah dan sahabat masih belum mengenal ilmu kalam. Ketika nabi
Muhammad SAW mulai menyiarkan ajaran-ajaran islam yang beliau terima dari Allah SWT di
Mekkah, Kota ini menjadi kota dagang dan kota yang kayaraya yang saat itu dipegang oleh
Suku Quraisy. Suku quraisy adalah suku yang paling berpengaruh termasuk dari segi
pemerintahan. Solidaritas mereka juga sangat kuat untuk menjaga kepentingan-kepentingan
termasuk dalam hal melawan dakwah Nabi Muhammad SAW, sehingga Rasulullah hijrah ke
Madianah.
Di Madinah, Rasulullah bukan hanya menjadi pemuka agama namun juga menjadi
pemimpin negara. Islam sendiri juga disamping merupakan sistem agama juga merupakan
sistem politik. Jadi wajar keytika Rasulullah wafat, umat islam sibuk mencari pengganti
Rasulullah sebagai kepala negara. Dengan berbagai permusyawarahan dipilihlah Abu Bakar
Ash-Shiddiq (632-634 M) sebagai pengganti Rasulullah. Setelah beliau wafat, kemudian
digantikan oleh Umar bin Khattab (634-644 M), dan selanjutnya digantikan oleh Usman bin
‘Affan (644-656 M).
Masalah teologi atau ilmu kalam ini diawali dengan adanya peristiwa terbunuhnya
Khalifah Usman bin ‘Affan. Usman berasal dari keluarga yang mempunyai pengetahuan
tentang administrasi dalam memimpin administrasi daerah-daerah di luar semenanjung Arabia
yang bertambah banyak masuk ke bawah kekuasaan islam. Oleh karena itu, Usman mengganti
semua gubernur yang telah diangkat oleh Umar bin Khattab dengan keluarganya. Tindakan
yang beliau lakukan ini, mendapat banyak tantangan dari berbagai kalangan, termasuk
golongan dari Mesir, sehingga golongan dari Mesir inilah yang akhirnya membunuh beliau.
Setelah Usman wafat, ‘Ali menggantikan dan menjadi khalifah keempat, meskipun ada
saja sebagian golongan yang tidak setuju dengan pengangkatan ‘Ali bin abi Thalib (656-661
8
M) baik semenjak pemba’iatan ataupun setelah menjalankan pemerintahan. Salah satu
penyebabnya adalah karena adanya penundaan Qishas terhadap pembunuh Usman bin Affan.
Diantara golongan yang menentang ‘Ali yaitu Aisyah, Thalhah dan Zubair, sehingga terjadi
perang jamal yang di menangkan oleh Ali, kemudian pertentangan juga dilakukan oleh
Muawiyah bin Abi Sufyan yang merupakan kerabat Khalifah Usman dan juga gubernur
Damaskus, sehingga terjadi perang Shiffin yang hampir dimenangkan oleh Ali. Ketika Ali
hampir menang, ‘Amr bin ‘Ash dari pihak Muawiyah meminta melakukan perdamaian
(arbitrase), dan Ali pun nmenerimanya atas desakan dari pihak Qurra’.
Akhirnya pada hari yang ditentukan, mereka kedua pihak sepakat untuk mengirim utusan,
yakni di pihak Ali yaitu Abu Musa Al’Asy’ari, dan di pihak Muawiyah yaitu ‘Amr bin ‘Ash
untuk melakukan arbitrase tersebut. Dalam kesepakatan dikatakan bahwa kedua belah pihak
meletakkan jabatannya dan kemudian langsung dipilih oleh umat Islam siapa yang paling
berhak menjadi khalifah. Tapi karena kelicikan ‘Amr bin ‘Ash, Abu Musa Al-‘Asy’ari
dipersilahkan untuk memulai duluan karena usianya lebih tua untuk mengumumkan peletakan
jabatan Ali bin Abi Thalib. Tapi kemudian ‘Amr bin ‘Ash tidak menjalankan arbitrase itu sesuai
kesepakatan, dia menolak peletakan jabatan Muawiyah bin Abi Sufyan, dan dengan begitu
Muawiyah pun menjadi khalifah secara ilegal.
Setelah peristiwa ini, banyak orang Islam yang terbagi menjadi beberapa golongan. Di
antaranya orang yang tidak puas dengan keputusan Ali untuk melakukan arbitrase yang
dinamakan kaum Khawarij, kemudian mereka yang tetap mendukung Ali dinamakan kaum
Syi’ah, dan mereka yang tetap menjadi pengikut Muawiyah. Setelah arbitrase ini, kaum
Khawarij memandang bahwa Ali dan juga Muawiyah adalah orang yang bersalah dan berbuat
dosa, sehingga mereka berusaha untuk membunuh keduanya. Namun, usaha untuk membunuh
Muawiyah tidak berhasil dan usaha membunuh Khalifah Ali berhasil. Khalifah Ali terbunuh
oleh Abdurrahman ibn Muljam. Dan setelah itu dengan beberapa proses akhirnya Muawiyah
mendapat pengakuan umat Islam sebagai Khalifah.
Hal-hal yang terjadi pada masa sahabat ini sangat berpengaruh pada perkembangan tauhid,
terutama lahir dan tumbuhnya aliran-aliran teologi dalam Islam. Aliran-aliran inilah yang pada
akhirnya membicarakan beberapa persoalan teologis yaitu status dan nasib pelaku dosa besar,
perbuatan manusia dan kaitannya dengan perbuatan tuhan, sifat-sifat tuhan, dan lain
sebagainya. Persoalan-persoalan inilah yang dikemudian hari menjadi materi atau pembahasan
dalam Ilmu Kalam dan aliran-aliran teologi yang lahir dalam Islam merupakan paham yang
timbul akibat perbedaan cara memahami materi atau pembahasan tersebut8
8 Taufiq Rahman, Tauhid-ilmu-kalam, (Bandung : Pustaka setia 2013), hal 166
9
E. Plus Minus Ilmu Kalam
Ilmu kalam al-Asy’ari tumbuh dan berkembang menjadi ilmu kalam yang paling
berpengaruh dalam Islam hingga sekarang, yang dipelopori oleh seorang Ulama yang bernama
Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (260-324 H/873-935 M). seorang pemikir lain yang mendapat
pengakuan yang sama adalah Abu Mansur Al- Turidi, meskipun ada sedikit perbedaan dengan
Al-Asy’ari, namun Al-Maturidi dianggap sebagai pahlawan Sunni.
Kehormatan besar yang diterima oleh Al-Asy’ari adalah karena solusi yang ditawarkannya
mengenal pertikaian klasik antara kaum “liberal” dari golongan Mu’tazilah dan kaum
“konservatif” Hadist. Selain itu, Al-Asy’ari juga menengahi dua teori yang bertolak belakang
yaitu Jabariyah dan Qadariyah dengan menerapkan Kasb (usaha). Dalam kaitan ini manusia
tetap dibebani kewajiban melakukan kasb melalui ikhtiarnya, meski harus ia ketahui bahwa
usaha atau kasb itu tidak akan berpengaruh apa – apa terhadap kegiatannya. Karena kewajiban
usaha atau kasb itu maka manusia bukanlah dalam keadaan tak berdaya seperti kaum jabari,
dan sebaliknya karena usahanya tidak berpengaruh apa – apa kepada kegiatannya maka ia pun
bukan makhluk bebas yang menentukan sendiri kegiatannya seperti pendapat kaum qadari. Dan
jika Allah memberi pahala (masuk surga), maka itu hanyalah karena kemurahan-Nya (bukan
karena amal kita), dan jika Allah menyiksa kita (masuk neraka) maka itu hanyalah karena
keadilan-Nya (juga karena semata perbuatan kita). Namun dalam teori ini banyak juga yang
tidak sepaham, karena teori tersebut lebih menejrumus kepada paham jabariyah bukan jalan
tengah dari keduanya.
Banyak sekali paham-paham dalam ilmu kalam yang bermanfaat dalam kehidupan
manusia. Paham Jabariyah misalnya, dalam keadaan sulit atau susah, kita memunculkan rasa
ridha dan menerima. Dengan begitu, kita tidak akan mudah galau stress atau putus asa, atau
mungkin bunuh diri. Sebaliknya, dalam keadaan mengejar cita – cita, melakukan suatu usaha
dan ikhtiar, maka paham Qadariyah menjadi kemestian untuk dipegang dan dihayati. Dalam
kondisi ikhtiar ini sikap optimisme sangat penting dimunculkan, seolah-olah tuhan tidak ikut
campur dan hanya merestui apa yang kita usahakan. Dengan demikian, Ilmu Kalam nyatanya
dapat memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan dan keseimbangan hidup manusia.
F. Kontroversi dan pembelaan tentang ilmu kalam
Ajaran Islam menuntut agar setiap Muslim mempunyai keyakinan (akidah) tertentu dalam
masalah ketuhanan sebab hal itu termasuk masalah yang sangat pokok dalam sistem ajaran Islam
yang tidak boleh diabaikan. Al – Qur’an, sumber keagamaan dan moral yang utama dalam Islam
seringkali melontarkan ide agar terciptanya masyarakat yang terdiri atas individu-individu yang
saleh, dengan kesadaran religius yang tinggi serta memiliki keyakinan (akidah) yang benar dan
murni tentang Tuhan. Al – Qur’an sebagaimana diketahui juga memberikan bimbingan dalam
rangka berhubunngan dengan Tuhan. Dari ide Al –Qur’an tersebut pakar muslim yang tergolong
10
dalam kelompok Mutakallimin, menciptakan dan mengembangkan sebuah ilmu tentang ketuhanan
yang kemudian dikenal dengan sebutan Ilmu Kalam.
Secara historis dapat diketahui bahwa kaum Hanbaliyah melihat problematika Ilmu Kalam
pada metode argumentasinya yang tidak sesuai dengan tuntutan Al – Qur’an dan Sunah karena
menggunakan metode dialektis dan rasional, yang pada dasarnya pinjaman dari luar, khususnya
filsafat Yunani. Pandangan ini disanggah oleh kaum Mutakallimin, terutama oleh Al-Asy’ari.
Menurut Al-Asy’ari, Nabi Muhammad memang tidak merumuskan Ilmu Kalam, tetapi dasar –
dasar pemikiran dalam Ilmu Kalam yang dikembangkan kaum Mutakallimin secara jelas terdapat
dalam Al – Qur’an dan Sunah.
Kaum Mutakallimin mempunyai pandangan bahwa metode dan teori rasional dapat
menghasilkan pengetahuan yang benar, dan karena itu mempelajarinya merupakan suatu
keharusan (wajib). Pandangan ini memunculkan klaim bahwa metode Kalam yang mereka
sodorkan adalah satu-satunya metode yang absah, tepat untuk menjelaskan ushul al-din, sehingga
menempati posisi penting dalam sistem ajaran Islam.
Di sisi lain, Ibn Taimiyah menuduh kaum Mutakallimin telah mengabaikan metodologi
yang ditawarkan Al – Qur’an dalam menjelaskan persoalan yang berkaitan dengan ushul al-din.
Tuduhan ini erat kaitannya dengan kepercayaannya bahwa Al – Qur’an meskipun tidak pantas
disebut selain sebagai “Kalam”, mengandung ajaran yang sesungguhnya pantas disebut ushul al-
din itu. Al – Qur’an dan Sunah, menurutnya mengajukan bukti-bukti dalam berbagai bentuk dan
cara, sesuai dengan kebutuhan manusia. Al – Qur’an mengajukan bukti dalam bentuk berita
(ikhbar) sederhana, peringatan (tanbih), bimbingan (irsyad), dan dalam bentuk argumen rasional
yang bersifat badihi. Sehubungan dengan itu, Ibn Taimiyah mengatakan bahwa tidak seorang pun
mendapat petunjuk kecuali orang-orang yang ditunjuki oleh Tuhan dengan wahyu-Nya.
Ibn Taimiyah setuju dengan sikap Imam Syafi’i terhadap Kalam dan Mutakallimin. Imam
Syafi’i pernah mengatakan bahwa ahlul kalam haruslah disingkirkan dan dijadikan momok karena
mereka telah terbukti membawa hasil kerja nalar mereka, dan berbahaya bagi umat. Ulama lain
yang mempunyai sikap anti kalam yang cukup ekstrem adalah Fakhr al-Din al-Razi. Ilmu Kalam,
menurutnya lebih banyak memberikan keraguan daripada kepastian. Al-Razi ini pernah
mengatakan bahwa ia telah lama melakukan perenungan yang mendalam tentang metodologi
Kalam dan prosedur-prosedur yang dilalui filsafat, dan ia menemukan bahwa keduanya tidak
pernah dapat menyembuhkan penyakit sebagaimana keduanya tidak pernah dapat melepaskan
lapar dan dahaga iman. Metodologi yang terbaik menurutnya adalah apa yang disodorkan oleh Al
– Qur’an.
Meskipun ulama-ulama yang di atas tampak begitu begitu keras mengkritik dan menolak
Ilmu Kalam, namun bukan berarti mereka sama sekali meninggalkan pembahasan Ilmu Kalam
dalam kerja intelektual keagamaan mereka. Dalam kaitan ini, kritik yang dilontarkan ulama-ulama
tersebut lebih tertuju kepada persoalan metodologis yang dipergunakan Mutakallimin dalam
11
merumuskan Ilmu Kalam formal yang hasil bersihnya adalah berupa rumusan-rumusan mengenai
ushul al-din.
Diantara para ulama Kalam yang paling bersemangat menanggapi kritik-kritik terhadap
Ilmu Kalam tersebut adalah Abu Hasan Al-Asy’ari. Pembelaan Al - Asy’ari terhadap kaum Kalam
selain karena ia terlibat dalam merumuskannya, juga karena teologi yang dikembangkannya tidak
terlepas dari sasaran kritik keras, terutama yang datang dari kaum Hanbaliah, walaupun ia sendiri
sebenarnya telah berusaha mendekatkan paham keagamaan nya kepada Hanbalisme. Dalam
penjelasannya, Al-Asy'arī menganggap orang-orang yang tidak menerima kehadiran Ilmu Kalam
sebagai orang-orang yang menjadikan kejahilan sebagai modal, dan oleh karena itulah mereka
merasa berat untuk melakukan pembahasan mengenai ushūl al-din dengan menggunakan metode
rasional (al-nazhr). Al Asy'arī melihat argumen-argumen yang dikemukakan oleh pengkritik
Kalam adalah argumen yang tidak mempunyai dasar sama sekali. Upayanya menolak tuduhan dan
argumen mereka itu dapat dirumuskan sebagai berikut.
Pertama, Jika pengkritik Kalam menganggap Ilmu Kalam yang diciptakan oleh kaum
Mutakalimin sebagai hasil perbuatan bid'ah dan menyesatkan, lantaran Nabi menurut mereka tidak
pernah meng anjurkan untuk membahas ilmu seperti itu, maka Al-Asy'arī menolak dan membantah
argumen ini dengan mengemukakan alasan: Nabi pun tidak pernah berkata: "barang siapa yang
membahas Ilmu Kalam, Jadikanlah ia sebagai pembawa bidah dan kesesatan".
Kedua, Anggapan pengkritik Ilmu Kalam bahwa persoalan-persoalan yang dibahas dalam
Ilmu Kalam bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunah, menurut Al-Asy'ari adalah anggapan yang
keliru sebab nyata sekali bahwa hal-hal yang dibahas di dalam Ilmu Kalam itu, demikian Al-
Asy'ari berargumen, berakar dari Al-Qur'an dan Sunah.
Ketiga, Seluruh persoalan teologis yang dibahas oleh ulama-ulama Kalam itu sebenarnya
bukanlah persoalan yang tidak diketahui oleh Nabi hanya saja dari masa Nabi sampai kepada masa
sahabat, meskipun persoalan-persoalan tersebut ada dasarnya pada Al-Qur'an dan Sunah kebetulan
tidak menjadi bahasan yang sistematis di kalangan sahabat.
Demikianlah pembelaan Al-Asy'ari terhadap Ilmu Kalam yang pada prinsipnya merupakan
sanggahan balik terhadap keberatan kaum Hanbaliah terhadap disiplin ilmu tersebut. Hampir
semua ahli Kalam berpendapat bahwa nalar merupakan jalan untuk membuka pengetahuan,
termasuk pengetahuan tentang ketuhanan. Kaum Mu'tazilah umpamanya, menghargai akal atau
daya nalar tanpa mengabaikan wahyu karena mereka menyadari bahwa keduanya sama-sama
berasal dari Tuhan.
Abu Ma’in dari kubu Ahl al-Sunnah berpendapat bahwa setiap orang yang sudah balligh
harus sanggup membuktikan adanya Tuhan, pencipta alam semesta, melalui argumen rasional.
Kemudian al-Baqi lani mendeskripsikan pandangan al-Asy'arīyah yang mewajibkan seseorang
karena yang demikian itu adalah perintah syara'. Ia menyatakan bahwa yang pertama kali
diwajibkan Allah atas hamba-hamba-Nya, dan berargumen secara rasional dengan bukti
12
kekuasaan-Nya sebab Allah tidak dapat diketahui begitu saja dan tidak dapat dicapai de ngan
pandangan empiris. Imam al-Zarkasyi juga melihat upaya yang dilakukan oleh kaum Mutakalimin
sebagai upaya yang positif. Iame nyatakan dengan tegas bahwa tidak ada argumen dan dalil
pembagian dan pembatasan terhadap semua pengetahuan aqliyyah dan sam'iyah melainkan Al-
Qur'an juga membicarakannya.
Kesimpulannya, memang terdapat perbedaan pandangan ulama sejak dahulu tentang
keperluan disiplin Ilmu Kalam dalam membantu umat untuk mendekati persoalan keagamaan,
terutama yang bersifat keyakinan. Sehingga, dapat di katakan bahwa perbedaan pandangan
tersebut berakar pada perbedaan ulama dalam menilai akurasi pengetahuan yang ditimbulkan oleh
capaian akal atau nalar.
13
ASY’ARIYAH
1. Latar Belakang Munculnya Asy’ariyah
Perlu diketahui sebagai sebuah aliran ilmu kalam terdapat beberapa teori yang
mejelaskan kemunculan dan perkembangan Asy’ariyah,mulai dari awal kemunculannya,
hingga menjadi aliran teologi yang dipercayai dan diikuti oleh mayoritas umat islam di
berbagai belahan dunia hingga saat ini. Berikut beberapa teori yaitu:
Pertama, Diambil dari kisah dan kejadian yaitu kehancuran aliran mu’tazilah karna
memaksakan pemahaman keagamaan masyarakat, para kalangan mu’tazilah melakukan
usaha yang keras dalam menyiarkan mazhabnya, maka dari itu aliran ini sangat
berkembang. Menurut catatan Ibn Al-Murtadha, bahwa Wasil bin atta mengirim murid
muridnya keberbagai tempat, seperti Khurasan, Armenia, Yaman, maroko dan lain lain.
Dan hasilnyasangat berpengaruh lebih dari 30 ribu orang penduduk maroko percaya dan
mengikuti aliran kalam yang dibangun Wasil bin Atta. Mulai tahun 100 H atau 718 M,
puncak dari pencapaian yang dihasilkan para khalifah dinasti Abbasiyah, yang telah
mengakui aliran mu’tazilah dan menjadikan mazhab yang dianut oleh negara dan juga telah
mendapat tempat di masyarakat islam.
Mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran ( amar ma’ruf nahy mungkar)
adalah salah satu prinsipdasar mazhab mu’tazilah. Berbeda dengan ajaran Qadariyah yang
menganjurkan kebebasan manusia dalam berpikirdan berbuat. Para pemuka mu’tazilah
cenderung memakai kekerasandala menyiarkan ajaran ajaran nya contoh ajaran yang
ditonjolkan yaitu paham Al qur’an sebagai tidak Qadim,tetapi baru dan diciptakan,
sedangkan kaum mu’tazilah, berbeda pemahaman yaitu Alur’an Qadim disamping Tuhan
yang memiliki makna menduakan Tuhan yang dapat diartikan sebagai syirik yang berdosa
besar dan tidak akan diampuni Tuhan.
Menurut Khalifah Al ma’mun, seseorang tidak dapat untuk menetapi posisi penting
dalam pemerintahan sat memiliki paham syirik. Dalam sejarah islam dikategorikan sebagai
fitnah kedua setelah fitnah pertama (dalam perang jamal dan siffin) yaitu mihnah
(Inquistion) Serangan dalam bentuk pemikiran, disertai dengan penyiksaan fisik oleh
penguasa dalam bentuk suasana al-mihnah. Banyak tokoh dan ulama yang menjadi
panutan umat menjadi korban gerakan mihnah, mulai dari penyiksaan fisik, pemenjaraan
bahkan sampai pada hukuman mati.
khalifah mengintruksikan kepada para Gubernur untuk mengadakan ujian terhadap
para pejabat, hakim, dan pemuka pemuka agama yang berpengaruh dimasyarakat dari
paham syirik. Konsekuensi dari penerapan dakwah model ini adalah orang yang mengakui
Al qur’an itu Qadim, ia tak bisa diangkat menjadi hakim, dan tidak bisa menjadi saksi
dalam persidangan dimahkamah.
Adapun beberapa tokoh yg di uji yaitu pemuka agama yang sangat populer Imam
Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Nuh tetapi merka tidak menerima paham
14
mu’tazilah dan bersih keras menyatakan pendapat kebalikannya yaitu, Al qur’an sebagai
Qadim. Salah satu dialaog antara Isha bin Ibrahim (Gubernur Irak) dengan Ahmad bin
Hanbal sebagai berikut:
Ishaq : Apa pendapat mu tentang Al qur’an?
Ibn Hanbal : Sabda Tuhan
Ishaq : Apakah ia diciptakan?
Ibn Hanbal : Sabda Tuhan, saya tidak dapat mengatakan lebih dari itu
Ishaq : Apa arti ayat “ Allah Maha Mendengr “ ( al sami’) dan Maha Mendengar
(al – Bashir) ? Dsini Ishaq ingin mengujii paham antropomorfisme
sekaligus.
Ibn Hanbal : Tuhan mwnafsirkan diri- Nya dengan kata kata itu.
Ishaq : Apa artinya?
Iibn Hanbal : “ Tidak tahu, Tuhan adalah sebagaimana Dia sifatkan atas diri Nya.
Dari jawaban tersebut, beliau cenderung tidak mengakui “ Kemakhlukan Al qur’an
“ dan Oleh karena itu dirinya dibelenggu, dipenjarakan dan dihadapkan kepada khalifah Al
Ma’mundi Taurus. Namun, sebelum sesampainya di kota Taurus, Khalifah Al-Ma’mun
meninggal dunia, tetapi Ibn Hanbala tidak dibebaskan. Setelah itu ujian ujian ini tetap
berlanjut di bawah pimpinan Khalifah Al mu’tashim dan al Wasiq ( 842-847), dari kejadian
diatas memicu” pemburuan” bagi yang sepemahaman dengan Ibn Hanbal, dan pemahaman
ini sangat dasyat fitnah nya.
Sebagai akibat dari hal itu, timbul kebencian masyarakat terhadap Mu’tazilah, dan
berkembang menjadi permusuhan. Masyarakat tidak senang dengan hasutan- hasutan
mereka untuk melakukan (mihnah) terhadap setiap imam dan ahli hadis yang bertaqwa. Isu
sentral yang menjadi topik mihnah waktu itu adalah tentang “Alquran sebagai mahluk
bukan kalamullah yang qadîm.8 Maka dari itu pada 848 M akhirnya Al Mutawakkil
membatalkan pemakaian aliran Mu’tazilah sebagai mazhab negara. Sejak saat itu mulailah
awal dari penurunan dan ditinggalkan nya oleh masyarakat pengaruh Mu’tazilah.
Kedua, keredupan dan cenderung ditinggalkan oleh masyarakat kaum Mu’tazilah
juga tidak banyak berpegang teguh pada al-sunnah atau al –hadist. Ini disebabkan mereka
ragu tehadap Originalitas dan bukan karena mereka tidak percaya pada Hadist dan kata
kata para sahabat, maka dari itu mereka tergolong yang tidak berpegang teguh pada sunnah.
Tern Ahl al-sunnah Wa al- jamaah melekat pada aliran Asy’ariyah terjadi karena kaum
Asy’ariyah mengetahui kelemahan Mu’tazilah dengan mengusung sunnah dan tradisi
sahabat secara terang terangan, dari kejadian ini tentunya memunculkan dukungan dari
masyarakat.
Ketiga, Penganut dan kampiun Mu’tazilah yaitu imam Abu al Hasan Al- Asy’ari
meninggalkan aliran Mu’tazilah dan membentuk aliran baru berdasarkan nama beliau yaitu
Al Asy’ariyah. Menurut al- Subki dan Al- Asakir bermimpi bertemu Nabi Muhammad
SAW dan baginda Rasullah mengatakan kepadanya, bahwa mazhab ahli Hadist yang benar,
8 Firdaus, Dadan dan Rohanda. Ilmu Kalam. Halaman 33.
15
dan Mu’tazilah dipandang salah. Dan karna mistis ini memberi garansi kuat bagi bagi
mazhab Al- Asy’ariyah.
Keempat, Perdebatan antara murid (Abu Hasan Al-Asy’ariyah) dan guru nya (
Imam Al- Jubbai) yang didalam perdebatan itu guru tidak bisa menjawab pertanyan murid
nya mengenai nasib anak kecil di akhirat menjadi faktor menaikkan popularitas Asy’ariyah.
Adapun percakapan nya yaitu:
Al-Asy’ari : Bagaimana menurut pendapatmu tentang tiga orang yang meninggal
dalam keadaan berlainan, Mukmin, Kafir, dan anak kecil
Al-Jubbai : Orang Mukmin adalah Ahli Surga, orang kafir masuk neraka, dan anak
kecil selamat dari neraka.
Al-Asy’ari : Apabila anak kecil itu ingin meningkat masuk surga, artinya sesudahnya
meninggalnya dalam keadaan masih kecil, apakah itu mungkin?
Al-Jubbai : Tidak mungkin bahkan dikatakan kepadanya bahwa surga itu dapat dicapai
dengan taat kepada Allah, sedangkan engkau (anak kecil) belum beamal
seperti itu.
Al-Asy’ari : seandainya anak itu menjawab memang aku tidak taat. Seandainya kau
dihidupkan sampai dewasa, tentu aku beramal taat seperti amalnya orang
Al-Jubbai mukmin.
: Allah menjawab: “Aku mengetahui bahwa seandainya engkau sampai
umur dewasa, niscaya engkau bermaksiat dan engkau disiksa. Karena itu
aku menjaga keabikan mu. Aku mematikan sebelum engkau mencapai umur
dewasa.
Al-Asy’ari : Seandainya kafir itu bertanya: “Engkau telah mengetahui keadaan ku
sebagaimanajuga mengetahui keadaan nya, mengapa engkau tidak menjaga
kemaslahatanku, seperti anak kecil tadi? Maka Al-Jubbai diam saja, tidak
meneruskan jawaban nya.
Karena melihat kasus ini Abu Hasan Al-Asy’ari keluar dari aliran Mu’tazilah,
dengan ber uzlah mengasingkan diri, dan kemudian mengproklamirkan aliran baru, bisa
kita lihat dari sisi lain jawaban jawaban kaum Mu’tazilah dipandang tidak lagi memuaskan
dan meyelesaikan masalah yang dihadapi umat saat itu. Peluang ini memberi ruang kepada
aliran lainnya. Seperti Asy’ariyahdan Maturudiyah, dua aliran ini yang bersebrangan
dengan Mu’tazilah.
Adapun alasan lain pasca dibebukannya mazhab Mu’tazilah sebagai mazhab
negara, ini yang meyebabkan lawan lawannya mendapat tempat dan dihormati, salah satu
nya Ibn Hanbal dan tokoh fikih yang kebanyakan tidak bermahzab Mu’tazilah. Pada
akhirnya masyarakat tidak lagi terbebani oleh pemikiran dan manuever kaum Mu’tazilah,
dan meraka berpaling kepada aliran lain, salah satunya adalah Asy’ariyah.
Hal menarik tentang Asy’ariyah ialah menganut mazhab fiqih al-Syafi’ dan secara
kebetulan paham paham Asy’ariyah sesuai pendapat imam Al-Syafi’, sehingga banyak
16
diantara para ulama yang megembangkan paham Asy’ariyah, seperti Al-Baqillani, Ibn
Fauruk, Al- Isfirayini, Al- Qusyairi, Al-Juwaini, dn Al- Ghazali.9
Munculnya teologi asy’ariyah tidak terlepas atau di dukung dengan situasi sosial
politik yang berkembang saat itu. Teologi tandingan Mu’tazilah ialah munculnya teologi
Asy’ariyah yang bercorak rasionil, dan aliran Mu’tazilah mendapat tantangan keras dari
golongan Tradisionil islam terutama teori Hanbali.10
Aliran Al-‘Asy’ariyah dikenal dengan nama Ahlu al-sunnah wa al Jama’ah
diberikan kepada golongan yang lebih mengutamakan Sunnah atau hadis Nabi saw., dari
pada menggunakan pendapat akal fikiran dalam memahami aqidah. Istilah Ahlu al-Sunnah
biasanya dipertentangkan dengan Ahlu Al-Ra’yi, yaitu golongan yang banyak
menggunakan pendapat akal dalam memahami dan menafsirkan ajaran Islam serta dalam
menetapkan hukum dari satu permasalahan yang tidak mereka temui pemecahannya dalam
Alquran. Ahlu al-Sunnah dalam Ilmu Kalam adalah aliran Asy ‘ariyah dan Maturidiyah.11
Selanjutnya dijelaskan, Al-Asy’ari berpandangan bahwa metode rasional
Mu’tazilah akan membawa Islam kepada kehancuran (al-dhimar), dan metode tekstualis
(muhaddisin) dan kawan-kawannya akan membawa Islam menjadi jumud dan mundur. Di
samping itu, hal ini juga telah membuat umat Islam berpecah belah. Maka untuk
kepentingan Islam dan kesatuan umat, alangkah idealnya bila kedua pihak mencari jalan
keluar dan dikompromikan pada suatu mazhab baru yang merupakan jalan tengah
(moderat) yang dapat menyatukan hati, mengembalikan kesatuan umat, dengan
mengapresiasi kedua sumber aqidah secara proporsional yaitu (nas) dan (‘aql) secara
simultan.12
Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi dan Imam Ibn Majah meriwayatkan dari Abu
Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Orang Yahudi aka pecah menjadi 71
golongan, Orang Nasrani akan pecah menjadi 72 golongan dan umatku akan pecah menjadi
73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu golongan. Ditanyakan kepada
Rasulullah, siapakah mereka yang selamat? Rasul menjawab : mereka adalah orang orang
yang seperti aku dan para sahabatku”.
Imam Syihab al-Khofaji rahimahillah ta’ala mengtakan dalam kitabnya Nasil al-
Riyadh: ”Golongan yang selamat adalah golongan Ahlu sunnah wa al-jama’ah. Dan dalam
kitab hasyiyah al-syanwani atas Muskhtashar Ibn Abu Jamrah: Mereka (ahlu al-sunnah
waal-jama’ah) adalah Abu Al Hasan al- Asy’ari dan kelompok nya yang ahlu al-sunnah
dan para pemimpin ulama. Karna Allah menjadikan mereka sebagai bukti/dalil terhadap
9 Burhanuddin, Nunu. (2016). Ilmu Kalam, Dari Tauhid Menuju Keadilan : Ilmu Kalam Tematik, Klasik, dan
Kotemporer. Depok: Prenadamedia Group. halaman 116-117.
10 Al Asy'ariyah jurnal(sejarah Abu Al Hasan Al Asy'ari dan doktrin doktrin teologinya ditulia oleh supriadin
mahasiswa program sarjana konsentrasi pendidikan pps UIN Alaudin Makassar halaman 3.
11 Al Asy'ariyah(Tindakan Manusia menurut faham falsafah kalam dalam islam ditulis oleh Dr.syukri MA.halaman
74.
12 Al Asy'ariyah jurnal (sejarah Abu Al Hasan Al Asy'ari dan doktrin doktrin teologinya ditulia oleh supriadin
mahasiswa program sarjana konsentrasi pendidikan pps UIN Alaudin Makassar halaman 3.
17
makhluknya. Kepada mereka orang orang awam menyandarkan agamanya. Mereka adalah
golongan yang dimaksud oleh Hadist Nabi :” Sesungguhya Allah tidak akan menyesatkan
suatu umatku dalam kesesatan”.
Imam Nashur ibn Thahir al-Tamimi dalam syarah hadist ini, ia berkata : “para
pemilik maqolat (ulama yang ahli dalam memahami ungkapan) telah mengetahui bahwa
Rasulullah tidak menghendaki ( golongan tersebut ) adalah yang dicela yang suka berselisih
pendapat dalam hal furu’iyah fiqih berupa halal dan haram, akan tetapi maksud Nabi
mencelah golongan yang berselisih /menentang terhadap golongan yang benar dalam
pokok pokok masalah tauhid, dalam masalah pokok takdir baik dan buruk, dan dalam
masalah syarat syarat kenabian dan kerasulan, dalam masalah kasih sayang para sahabat
dan hal hal yang berlaku dalam beberapa bab lain. Karena orang orang yang berselisih
pendapat dalam masalah ini akan saling mengkafirkan antara satu sama lainnya. Berbeda
dengan masalah yang pertama, mereka tidak saling mengkafirkan terhadap satu sama lain
dan tidak juga mengfasikkan terhadap yang berbeda dengan nya. Sehingga dalam
menjelaskan makna hadist tersebut berkaitan dengan perpecahan umat manusia dalam
perbedaan pendapat.
Pada waktu akhir kehidupan para sahabat, terjadi perselisihan dengan lahirnya
Qodariyah yang dipimpin oleh Ma’ba al-Junahi beserta pengikutnya. Para sahabat yang
masih hidup saat itu seperti Abdullah bin Umar, sahabat Jabir dan sahabat Anas dan selain
mereka tidak ikut kedalam aliran tersebut, semoga Allah meridhoi kepada mereka semua.
Kemudia setelah itu banyak terjadi perselisihan dan sedikit demi sedikit akhirnya golongan
terpecah genap 73 golongan yang sesat. Akan tetapi golongan ke 73 yang satunya adalah
golongan ahlu al-sunnah wa al-jama’ah, mereka adalah golongan yang selamat.
Kalau di pertanyakan, apakah perpecahan ini diketahui? Maka jawabannya adalah
kami tidak mengetahui perpecahan tersebut disertai dengan sumber sumbernya, karena
sesungguhnya dalam setiap kelompok terbagi kebeberapa golongan, akan tetapi tidak dapat
mencakup nama nama kelompok tersebut beserta mazhab mazhabnya.
Sumber golongan yang terpecah itu adalah golongan al-Haruriyah, al-Qodariyah,
al-Jahmiyah, al-Murji’ah, al-Rafidhah, dan golongan al-Jabbariyah. Sebagian para ahli
ilmu rahimatullah ta’ala mengatakan : Yang menjadi sumber perpecahan adalah kelompok
enam tersebut, kemudia dalam setiap kelompok terbagi mejadi 12 golongan maka menjadi
72 golongan. Imam Ibn Ruslan rahimatullah ta’ala mengatakan : ada yag berpendapat
bahwa perincian golongan tersebut 20 golongan, diantara mereka adalah golongan
Rowafidh, 20 golongan Khowarij, 20 golongan Qodariyah, 20 golongan Murji’ah, 1
golongan Najjariyah, mereka memiliki golongan lebih dari sepuluh tetapi dihitung satu
golongan, yaitu : Kelompok Haruriyah, kelompok Jahimiyah, 3 kelompok Karromiyah,
sehingga jumlahnya menjadi 72 golongan.13
2. Tokoh-Tokoh Al-Asy’ariyah
13 Risalah Al Bid'ah wa Al sunnah penulis K.H Hasyim Asy'ari halaman 43-45.
18
Aliran Asy’ariyah adalah aliran kalam yang di nisbahkan kepada Abu Al hasan Ali
bin Ismail bin Abi Basyar bin Salim bin Ismail Abdullah bin Qais Al Asyari. Ia keturunan
dari Abu Hasan Asy’ari, salah seorang perantara dalam sengketa antara Ali bin Abi Tholib
dan Muawiyah. Al Asy’ari lahir tahun 260 H / 873 M telah wafat pada 324 H / 935 M. Al
Asy’ari lahir di Bashra, namun sebagian besar hidupnya di Bagdad. Ia adalah cucu sahabat
Rasul yang terkenal ,yaitu Abu Musa Al-Asy’ari.14
Pada waktu kecil hingga umur 40 tahun, Al- Asy’ari ia diasuh dan berguru kepada
oleh ayah tirinya seorang Mu’tazilah terkenal, yaitu Al-Jubbai, mempelajari ajaran ajaran
Mu’tazilah dan mandalaminya. Meskipun ia sangat menguasai pamaham Muktazilah dan
ia selalu merasa tidak puas, setelah merenung selama 15 hari pada tahun 912 dia
mengumumkan di atas mimbar bahwa akan keluar dari paham Mu’tazilah dan isi pidato
yang berisi ‘’ Saudara- saudara, setelah saya memilih dalil-dalil yang di gunakan oleh
masing-masing pendapat, ternyata dalil-dalil itu, menurut hemat saya hemat sama kuat nya.
Saya memihin petunjuk kepada Allah swt. Saya sekarang meninggalkan keyakinan-
keyakinan lama dan menganut keyakinan baru. Keyakinan lama saya lepaskan,
sebagaimana saya melepaskan baju yang saya kenakan ini ’’. orang-orang yang mengikuti
dan mendukung paham imam ini dinamakan ‘’Asy’ariyah’’, dinisbatkan kepada nama
imamnya.
Di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim banyak yang mengikuti paham
imam ini, yang di padukan dengan ilmu Tauhid yang di kembangkan okeh imam Abu
mansyur Al- maturidi. Ini terlihat dari metode pengenalan sifat-sifat Allah yang terkenal
dengan nama ‘’ 20 sifat Allah’’, yang banyak di ajarkan di pesantren-pesantren berbasis
Nahdah al-ulama (NU) khususnya, dan sekolah-sekolah formal pada umumnya.
Abu Haan Al-Asy’ari meninggalkan karangan-karangan, kurang lebih sejumlah 90
buah dalam berbagai lapangan. Kitabnya yang terkenal ada tiga : (1). Maqalat al-
Islamiyyin; (2). Al – Banah’an Ushulid Diniyah; (3) Al-Luma. Tulisan-tulisan lainya
banyak menolak pendapat Aristoteles, golongan jahamiyah dan golongan Murji,ah. Akan
tetapi focus kegiatan Al-Asy’ari adalah ditunjukan untuk mengkonter pendapat orang-
orang Mu’tazilah. Seperti Ali Al-Jubai, Abdul Hudzail dan lain-lain.15
3. Paham dan Prinsip Asy’ariyah
Secara umum pandangan kaum Asy’ariyah berlawanan dengan paham Mu’tazilah.
dan pokok-pokok pemikiran Al-Asy’ariyah yang kemudian dijadikan pegagan oleh
pengikutnya antara lain sebagai berikut. 16
A. Sifat Allah
14 Burhanuddin, Nunu. (2016). Ilmu Kalam, Dari Tauhid Menuju Keadilan : Ilmu Kalam Tematik, Klasik, dan
Kotemporer. Depok: Prenadamedia Group. halaman 118-119.
15 Firdaus, Dadan dan Rohanda. Ilmu Kalam. Halaman 34.
16 Burhanuddin, Nunu. (2016). Ilmu Kalam, Dari Tauhid Menuju Keadilan : Ilmu Kalam Tematik, Klasik, dan
Kotemporer. Depok: Prenadamedia Group. halaman 119
19
Menurut Al-asy’ari, jika allah bnar-benar mencipta dan tidak ada yang berserikat
dengannya (dalam penciptaan sesuatu), maka dia menciptakan sesuatu itu dengan
kekuasanya. Inilah sebenarnya makna dari nama Allah SWT. Dan Abu Ishaq Al-Isfahani
berpendapat bahwa karakteristik yang paling patut di berikan kepada Allah adalah
sifatnya yang maha ada ,kun, yang dengan-nya dia menjadi berbeda demgan selain-nya.
Singkatnya, tuhan mempunyai sifat-sifat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,
seperti Allah mengetahui, berkuasa dengan Qudrat-nya, hidup dengan hayatnya. Sifat-
sifat tersebut adalah ajali dan berdiri di atas Tuhan.
Sebagai penentang Mu’tazilah, Imam Abu Hasan Al-Asy’ari melansir paham nya
yang berbeda dengan paham nya guru dan kaum Mu’tazilah. Al-Asy’ari berpendapat,
mustahil tuhan mengetahui dengan dzat nya, karena dengan demikian dzatnya adalah
pengetahuan dengan dzatnya sendiri adalah pengetahuan dan tuhan sendiri adalah
pengetahuan, padahal tuhan bukan pengetahuan (Al-il’m) melainkan yang mengetahui
(Al-alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuan-nya bukan pada zat-
nya.
Demikian juga dengan sifat-sifat lain seperti hidup,berkuasa, mendengar dan
melihat. Salah tokoh Mu’tazilah, Abu Uzzail Al-Allaf, tokoh Mu’tazilah yang di klaim
pendapatpengaruh dari teori-teori filsafat memberi penjelasan tentang tuhan yang
mengetahui dengan dzat-nya dan bukan dengan sifat.
Abu Huzail menulis:‘’sesungguh nya ilmu Allah azza wa-jalla,kekuasaanya
adalah dia, dan hidupnya adalah dia. Dan jika kamu mengatakan Allah adalah maha
mengetahui maka artinya adalah pengetahuan. ( inna ilma allah huwa allah wa qudratuhu
hiya huwa wa hayatuhu hiya huwa. Wa idza qulta inna allah alimun faqad tsabata lillahi
taala ilma‘’.
Pernyataan Abu Huzail ini dibantah oleh AL-Asy’ari bahwa, jika dikatakan ilmu
Allah adalah Allah sendiri, maka kita dapat mengatakan ‘’ya Allah igfirli wa irhammni’’
( wahai pengetahuan, maafkanlah dan kasihanilah aku), tetapi ia (Abu Huzail)menolak
hal itu. Oleh karna itu kata Al-Asy’ari, yang benar adalah mengatakan Allah adalah maha
mengetahui, maha melihat, mendengar, kuasa dan lain-lain dan Allah juga mempunyai
mata, wajah, tangan serta bersemayam di singga sana. Hanya saja, semua ini dicdkatakan
“ la yukayyaf wa la yuhadd” (tanpa diketahui bagaimana cara dan batesanya).
B. Al-Qur’an Qadim
Masalah Qodimnya Al-Qur’an golongan Asy’Ariyah memiliki pandangan
tersendiri. Yaitu Al-Asy’ari mengatakan bahwa Al-Quran terdiri atas kata-kata huruf
dan bunyi, semua itu tidak meletak pada esensi Allah dan karenamya tidak Qadim.17
Pemikiran kalam Asy’ariyah tentang kalam Allah(Al-Qur’an)ini dibedakannya
menjadi dua yaitu:
1. Kalam Nafsi: yakni firman Allah yang bersifat abstrak tidak berbentuk yang ada
pada zat (diri) tuhan,ia bersifat qadim dan azali dan tidak berubah oleh adanya
17 Firdaus, Dadan dan Rohanda. Ilmu Kalam. Halaman 36.
20
perubahan ruang, waktu dan tempat. Maka Al-qur’an sebagai kalam tuhan dalam
artian ini bukan bukanlah makhluk
2. Kalam Lafzi: adalah kalam Allah yang di turunkan kepada Rasul yanhg dalam
bentuk huruf atau kata-kata yang dapat di tulis, dibaca ataupun disuarakan oleh
mahkluk-nya. Maka kalam dalam artian ini adalah bersifat hadist (baru) dan
mahkluk.
Sebagai reaksi atas pandangan nya Mu’tazilah, yang mengatakan bahwa
kalam Allah tidak bersifat kekal tetapi diciptakan bersifat baru dan di ciptakan
Allah, maka Al-Asy’ari berpendapat bahwa kalam Allah tidaklah diciptakan,
sebab kalai di ciptakan bertentanganlah dengan firman Allah QS.Al-Nahl/16:40.
ِإ َّن َما َق ْولُنَا ِل َش ْى ٍء ِإذَآ أَ َر ْد َٰنَهُ أَن نَّقُو َل لَهۥُ ُكن َف َي ُكون
Artinya:
Sesungguhnya terhadap sesuatu apabila kami menghendakinya,”jadilah!’’
maka jadilah sesustu itu.
Menurut Al-Asy’ari,ayat tersebut menegaskan bahwa untuk menciptakan
itu perlu kata ‘’kun”yang lain,begitu seterusnya sehingga terdapat rentetan kata
‘’kun’’ yang tidak berkesudahan. Ini menurut Al-Asy’ariyah tidak mungkin. Oleh
karna itu al-qur’an tidak mungkin diciptakan berdasrkan QS.Al-rum/30:25
َو ِم ْن َءا َٰ َيتِ ِٓۦه أَن تَقُو َم ٱل َّس َمآ ُء َوٱ ْْلَ ْر ُض ِبأَ ْم ِر ِۦه ۚ ثُ َّم إِذَا دَ َعا ُك ْم دَ ْع َوةً ِم َن ٱ ْْلَ ْر ِض إِذَآ أَنتُ ْم تَ ْخ ُر ُجو َن
Artinya: Dan di anantara tanda-tanda (kebesaran)-nya ialah berdirinya langit
dan bumi dengan kehendak-nya.
Dalam ayat tersebut bahwa langit dan bumi terjadi dengan adanya perintah
Allah.perintah dalam wujud perintah kalam. Dengan demikian kata al-
Asyari,perintah Allah adalah kalam allah, dan kalam Allah merupakan sifat, dan
sebagai sifat Allah maka mestilah kekal.18
C. Melihat Allah
Menurut Imam Al-Asy’ari bahwa manusia bisa melihat Allah di Akhirat kelak
dengan kedua mata kepala mereka. Menurut Al-Asy’ari, sifat sifat yang tidak dapat
diberikan kepada arti diciptakannnya Tuhan. Sifat “dapatnya tuhan dilihat “ tidak
membawa kepada arti “ diciptakannya Tuhan”. Jika tuhan dapat dilihat bukan berarti
Tuhan bersifat diciptakan, karena apa yang bisa dilihat tidak selalu dan tidak mesti
memiliki sifat diciptakan.
Adapun pendapat Al Asy’ari tentang melihat tuhan ialah, segala sesuatu yang
ada dapat dilihat, dan Allah itu ada maka dari itu Allah dapat dilihat. Kami juga tau dari
wahyu Nya bahwa kaum mukminin akan melihat Tuhan diakhir nanti. Sebagaimana
firman Allah dalam Al Qur’an surah Al Qiyamah ayat 22-23 :
ٌُو ُج ۡو ٌه َيّ ۡو َم ِٕٮ ٍذ َّنا ِض َرة
18 Al Asy'ariyah Tokoh-tokoh jurnal(sejarah Abu Al Hasan Al Asy'ari dan doktrin doktrin teologinya ditulia oleh
supriadin mahasiswa program sarjana konsentrasi pendidikan pps UIN Alaudin Makassar halaman 71
21
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
ٌِا ٰلى َربِ َها َنا ِظ َرة
Memandang Tuhannya.
Banyak ayat dan Hadist yang mirip dengan itu. Namun Al Asy’ari berpendapat
Dia dilihat oleh manusia itu tidak memerlukan ruang, tempat, arah, bentuk atau saling
tatap muka (seperti kita), sebab itu mustahil.
D. Perbuatan Manusia
Menurut Al-Asy’ariyah perbutan manusia diciptakan tuhan, bukan diciptakan
manusia sendiri.19 contohnya tentang hubungan perbutan manusia dengan kehendak
dan kekusaan mutlak tuhan di kemukakan dalam teorinya yang di sebut al-kasab. Al-
kasab artinya ke aktifan, dan Yang dimaksud al-kasab adalah berbarengannya perbutan
manusia dengan kekuasaan tuhan. Imam Al-asya’ri meluncurkan teori al-kasab sebagai
jalan tengah antara pandangan jabariyah dan qodariyah. Pandangan ini dapat diurai
sebagai berikut:
1. Perbuatan manusia bukan lah diwujudkan oleh manusiansendiri, sebagaimana
dinyatakan Mu’tazialah, melainkan diciptakan oleh tuhan. Argumen yang
dimajukan untuk menggugurkan pendapat mu’tailah adalah bahwa perbutan kufur
adalah perbutan buruk, tetapi orang kafir ini Menghendaki bahwa pebutan kufur ini
menjadi baik. akan tetapi apa yang di inginkan olehorang kafir ini tidak dapat di
wujudkan. Demikian pula, perbutan iman sebagai perbutan baik, akan tetapi berat
untuk dilaksanakan. Orang-orang mukmin tentu menginginkan supaya perbutan
iman itu tidak berat dan sulit di laksanakan, akan tetapi yang dikehendakinya itu
tenyata tidak dapat diwujudkan. Dengan demikian yang mewujudkan perbuatan
kufur itu bukanlah orang kafir sendiri akan tetapi tuhahan lah yang mewujudkan
dan tuhan memamang lah yang berkehendak supaya kufur bersifat buruk.
2. Bahwa yang menciptakan pekerjaan adalah ‘’iman’’ bukanlah orang mukmin (
yang tidak sanggup membuat iman bersifat berat dan sulit), akan tetapi tuhan lh
yang menciptakanya , agar Iman bersifat berat dan berat untuk mengerjakannya.
3. Dalam mewujudkan perbutan manusia mempunyai usaha (al-kasab), hanya saja
daya yang ada pada diri manusia tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap
kegiatanya.karana kewajiban atau kasb itu maka manusia bukanlah dalam keadaan
tak berdaya seperti pendapat kaum jabariyah,tetapi karena usahanya (juga) tidak
berpengaruh apa-apa pada kegitanya maka ia pun bukanla malhkluk bebas yang
membutuhkan sendiri kegitanyya seperti pendapat kaum Qadariyah.
Konsep yang dibangun Al-Asy’ari dengan teori ‘’kasb’’ ini menggambarkan
betapa sulitnya persoalan perbutan manusia ( antara perbuatan tuhan dan perbutan
19 Firdaus, Dadan dan Rohanda. Ilmu Kalam. Halaman 34.
22
manusia itu sendiri).Teori ‘’kasb’’ bahkan menjadi sasaran kritik tajam pada ulama
lain, termasuk ibnu taymiyah yang menganggapnya sebagai keanehan atau absurditas
ilmu kalam.
E. Keadilan Tuhan
Membahas tentang keadilan Tuhan, menurut Al Asy’ari Tuhan berkuasa mutlak
dan tak ada sesuatu pun yang wajib bagi Nya atau Tuhan tidak mmempunyai kewajiban
apapun. Bukti kehendak Tuhan adalah Tuhan dapat memasukkan semua manusia
kedalam surga namun tidak dikatakan tidak adil, dan sebaliknya Tuhan dapat
memasukkan semua manusia ke dalam neraka tanpa dapat dikatakan bahwa Tuhan
dzalim. Itulah Tuhan berbuat sekehendak hendak Nya.20
Dan tidak memberi pahala kepada yang taat dan tidak memberi hukuman kepada
yang berdosa . Tetapi persoalan ini lagi lagi atas kehendak Allah. Apakah Dia mau
memberi pahala atau hukuman kepada orang taat, atau sebaliknya memberikan
hukuman atau ampunan kepada orang yang berdosa.21
Inilah konsep keadilan Tuhan versi Al Asy’ari dan ditegaskan oleh para
pengikutnya, dan ditulis oleh pengarang Kitab Jawharat al- Tauhid, bahwa “Jika Dia (
Allah) memberi pahala kita, maka semata dengan kemurahan Nya. Dan Jika Dia
menyiksa kita maka semata karena adil-Nya.
Maka kesimpulan nya adalah jika Tuhan memberi pahala terhadap perbuatan
baik tesebut, ibarat kata Tuhan bisa memasukkan kedalam surga dan memberi pahala
yang berlipat ganda. Ini semua atas kemurahan Allah ( fadl al-Allah ) dan bukan karna
amal itu sendiri kita masuk surga atau mendapatan pahala yg berlipat ganda. Dan
sebaliknya jika Allah memberi siksaan dan adzab seperti masuk neraka atas perbuatan
buruk nya maka itu adalah keadilan Allah dan bukan hanya karena perbuatan manusia.
Adapun pendapat Imam Al-Haramaini, “pemberian pahala bukanlah merupakan
hak paten dan pembelaan sebagai yang diharuskan, tetapi merupakan karunia dari Allah.
Hukuman pun tidak wajib adanya, hukuman dari Allah merupakan keadilan nya.Janji
Alah untuk memberi pahala atau ancaman untuk memberi hukuman adalah firman-Nya
yang benar dan janji-Nya pun pasti benar.
Al-Ghazali menyebutkan bahwa tidak menjadi persoalan bagi Allah jika
sekirang mengampuni semua orang yang kafir dan menghukum orang mukmin. Hal
semacam itu tidak mustahil bagi-Nya dan tidak bertentangan dengan salah satu sifat
ketuhanan-Nya.
20 Burhanuddin, Nunu. (2016). Ilmu Kalam, Dari Tauhid Menuju Keadilan : Ilmu Kalam Tematik, Klasik, dan
Kotemporer. Depok: Prenadamedia Group. Halaman 121-122.
21 Al Asy'ariyah jurnal(sejarah Abu Al Hasan Al Asy'ari dan doktrin doktrin teologinya ditulia oleh supriadin
mahasiswa program sarjana konsentrasi pendidikan pps UIN Alaudin Makassar halaman 3.
23
Dan inilah beberapa paham Asy’Ariyah yang dikatakan oleh syeikh Al-Asy’ari
yang kemudian Dikembangkan oleh para murid dan penerus nya seperti : Al-Baqilani,
Al-Gazali, dan Al-Juwaini.22
1. Ahli sunnah waljama’ah adalah sebuah aliran teologi yang dibangun oleh Abu> Hasan
al-Asy’ari>, teologi ini sering disapa dengan sebutan “Teologi moderat”. Rumusan
teologi al-Asy’ari selain menggunakan argument tekstual berupa teks-teks suci dari al-
Qur’an dan al-Sunnah seperti yang dilakukan oleh ahli hadits yang ia dukung, juga
menggunakan argument rasional berupa mantik atau logika Aristoteles.
2. Pendekatan yang dipakai al-Asy’ari> dalam teologi ahli sunnah waljamaah’ tergolong
unik, beliau mengambil yang baik dari pendekatan tekstual Salafiyyah, sehingga ia
menggunakan argument akal dan nakal secara kritis, mengeksploitasi akal secara
maksimal tetapi tidak sebebas Mu’tazilah, memegang naql dengan kuat tetapi ia juga
tidak seketat Hanabilah dalam penolakan mereka terhadap argument logika.
Sikap teologi Asy’ariyah terhadap kehidupan kontemporari bersifat terbuka,
realistis, pragmatis, (selektif, kritis, dan akomodatif serta responsif) terhadap kemajuan
sains dan teknologi, oleh yang demikian menyebabkan aliran Ahl al- Sunnah wa al-
Jama’ah tetap eksis dan relevan untuk diterapkan dan dipertahankan dalam kehidupan
kontemporari.
22 Firdaus, Dadan dan Rohanda. Ilmu Kalam. Halaman 36.
24
JABARIYAH
A. Latar Belakang Kelahiran
Secara bahasa Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung pengertian memaksa.
Di dalam kamus Munjid dijelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang
mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu. Salah satu sifat dari Allah
adalah al-Jabbar yang berarti Allah Maha Memaksa. Sedangkan secara istilah Jabariyah adalah
menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah.
Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur).
Menurut Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala
perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah. Maksudnya adalah
bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan kehendak manusia, tapi
diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya, di sini manusia tidak mempunyai kebebasan
dalam berbuat, karena tidak memiliki kemampuan. Ada yang mengistilahlkan
bahwa Jabariyah adalah aliran manusia menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya.
Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelasan yang
sahih. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani
Umayyah. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah Qadar dan kekuasaan manusia
ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan. Adapaun tokoh yang mendirikan aliran ini
menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah Jahm bin Safwan, yang bersamaan dengan munculnya
aliran Qadariyah.
Pendapat yang lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum
agama Islam datang ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir
sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Di tengah bumi yang disinari
terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata dapat tidak
memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman, tapi yang tumbuh
hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta
keringnya udara.
Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat arab tidak melihat
jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan.
Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Artinya mereka banyak
tergantung dengan Alam, sehingga menyebabakan mereka kepada paham fatalisme.
Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini, dalam Alquran sendiri
banyak terdapat ayat-ayat yeng menunjukkan tentang latar belakang lahirnya paham Jabariyah,
diantaranya:
a. QS ash-Shaffat: 96
َوالله َخ َل َق ُك ْم َو َما تَ ْع َملُ ْو َن
Artinya: “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".
25
pemerintah Bani Umaiyah di Khurasan. Ia ditawan dan dibunuh secara politis tanpa
ada kaitannya dengan Agama.
Sebagi seorang penganut dan penyebar Paham jabariyah banyak usaha yang
dilakukan jahm yang tersebar keberbagai tempat,seperti ketirmidz dan balk. Pendapat
Jahm yang berkaitan dengan persoalan teologi adalah sebagai berikut :
1) Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa.Ia tidak mempunyai daya, tidak
mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan.
2) Surga dan neraka tidak dikekal. Tidak kekal selai Tuhan
3) Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati.Dalam hal ini pendapatnya
sama dengan konsep iman yang diajukan kaum Murjiyah.
4) Kalam Tuhan adalah makhluk.Allah maha suci dari segala sifat dan keserupaan
dengan manusia seperti berbicara,mendengar,dan melihat.
5) Begitu pula Tuhan tidak dilihat dengan indra mata diakhirat kelak.
Dengan demikian dalam beberapa hal,pendapat Jahm hampir sama dengan
Murji’ah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah.
b. Ja’d bin dirham
Al-ja’d adalah seorang Maulana bani Hakim, tiggal Di Damaskus. Dia dibesarkan
didalam lingkungan orang Kristen yang senang membicarakan teologi. Semula
dipercaya untuk mengajar di lingkungan pemerintah Bani umaiyah, tetapi setelah
tampak pikiran-pikirannya yang controversial, bani Umaiyah menolaknya.
Kemudian Al-ja’d lari ke kufah dan disana ia bertemu dengan Jahm serta
mentransper pikirannya kepada Jahm untuk dikembangkan dan disebar luaskan.
Dokterin pokok Ja’d secara umum sama dengan pikiran Jahm. Al-Ghuraby
menjelaska sbb:
1) Al- Quran itu adalah Mahkluk. Oleh karena itu, dia baru.Sesuatu yang baru itu
tidak dapat di sefatkan kepada Allah.
2) Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan mahkluk, seperti berbicara,
melihat dan mendengar.
3) Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya.
Berbeda dengan jabariyah Ekstrim, Jabariyah Moderat mengatakan bahwa tuhan
memang menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun perbuatan
baik. Tetapi manusia mempunyai bagian didalamnya. Tenaga yang diciptakan
didalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatanya. Inilah yang
dimaksud dengan Kasab (Acquisitin). Menurut Paham kasab, manusia tidaklah
Majbur ( Dipaksa Oleh Tuhan), tidak seperti Wayang yang dikendalikan Oleh dalang
dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan
yang diciptakan Tuhan. Yang termasuk Tokoh Jabariyah Moderat adalah sebagai
berikut:
1. An- Najjar
30
Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An- Najjar ( Wafat 230 H ). Para
pengikutnya disebut An-Najariyah Al-hasainiyah.Diantara pendapat-pendapatnya
adalah:
a) Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian
atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu.Itulah yang disebut khasab
dalam teori Al-asy’ary. Dengan demikian,Manusia dalam pandangan An-Najjar tidak
lagi seperti wayang yang gerakannya tergantung pada dalang,sebab tenaga yang
diciptakan Tuhan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuata-
perbuatannya.
b) Tuhan tidak dapat dilihat diakhirat . akan tetapi, An-Najjar menyatakan bahwa
tuhan dapat saja memindahkan potensi hati ( Ma’rifat) pada mata sehingga manusia
dapat melihat Tuhan.
2. Adh-Dhirar
Nama lengkapnya adalah Dhirar Bin Amr. Pendapatnya tentang perbuatan manusia
sama dengan husein An-Najjar, yakni bahwa manusia tidak hanya merupakan wayang
yang digerakan dalang.Secara tegas,Dhirar mengatakan bahwa suatu perbuatan dapat
ditimbulkan oleh dua pelaku secara bersamaan, artunya perbuatan manusia,tidak
hanya dilakukan oleh Tuhan, tetapi juga oleh manusia itu sendiri.
Mengenai Ru’yat Tuhan diakhirat, Dirar mengatakan bahwa Tuhan dapat dilihat
diakhirat melalui indra ke enam.Ia juga berpendapat bahwa Hujjah yang dapat diterima
oleh Nabi adalah Ijtihad . Hadis ahad tidak dapat dijadikan sumber dalam menetapkan
Hukum.30
D. Argumen Jabariah
Jabariyah adalah sebuah ideologi dan sekte bidah di dalam akidah yang muncul
pada abad ke-2 hijriah di Khurasan. Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap
manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya.
Tokoh utamanya adalah Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan.
30 Hamim, Ahmad, fajr al-islam, maktabah al-nahddhahbal misriyah, (gahiroh, 1975)
31
KHAWARIJ
A. Pengertian Khawarij
Nama Khawarij dari kata kharaja yang berarti keluar. Nama ini di letakan pihak lain kepada
para pasukan Ali bin Abi Thalib, lalu mereka keluar dari pasukan itu. Awalnya mereka
mendukung Khalifah Ali bin Abi Thalib, tetapi lantaran Khalifah Ali menerima tahkim
(arbitrase) maka kelompok pendukung Ali retak dan sebagiannya keluar dari barisan.
Kelompok yang keluar dari barisan inilah yang disebut Khawarij. Kelompok ini berkumpul
disuatu tempat yang disebut Harurah (satu tempat di daerah Kufah), dan oleh sebab itu mereka
dibuat al-Haruriyah.31
Ada pendapat yang mengatakan bahwa pemberian nama “Khawarij” didasarkan kepada
ayat 100 dari surah an-Nisa, yang didalamnya disebutkan “keluar dari rumah kepada jalan
Allah dan Rasulnya”. Menurut catatan sejarah aliran ini pertama kali muncul pada
pertengahan abad ke-7, terpusat didaerah yang kini ada di Irak Selatan, dan merupakan bentuk
yang berbeda dari Sunni dan Syi’ah. Kaum Khawarij juga menyebut diri mereka dengan
“Syurah”, berasal dari kata “Yasyri” (menjual), sebagaimana disebutkan dalam ayat 207 surat
al-Baqarah, “…Ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah”.
Artinya, Mereka adalah orang yang sedia mengorbankan diri untuk Allah.32 Dari beberapa
rujukannya, maka yang paling popular adalah penyebutan Khawarij disebabkan mereka keluar
dari agama islam dan pemimpin kaum Muslimin saat itu.33
B. Dari Persoalan Politik ke Teologi
Setelah khalifah Utsman bin Affan dibunuh oleh orang-orang Khawarij, kaum Muslimin
mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, setelah beberapa hari kaum Muslimin hidup
tanpa seorang khalifah. Kabar kematian Utsman kemudian terdengar oleh Mu’awiyah, yang
mana beliau masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Utsman bin Affan. Sesuai dengan
syariat Islam, Mu’awiyyah berhak menuntut balas atas kematian Utsman. Mendengar berita
ini orang-orang Khawarij pun ketakutan, kemudian menyusup ke pasukan Ali bin Abi Thalib.
Mu’awiyyah berpendapat bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan Utsman harus
dibunuh sedangkan Ali berpendapat yang dibunuh hanya orang yang membunuh Utsman saja
karena tidak semua yang terlibat pembunuhan diketahui identitasnya.
Akhirnya terjadilah perang Shiffin karena perbedaan dua pendapat tadi. Kemudian masing-
masing pihak mengirim utusan untuk berunding, dan terjadilah perdamaian antara kedua belah
pihak. Melihat hal ini, orang-orang Khawarij pun menunkjukkan jati dirinya dengan keluar dari
pasukan Ali bin Abi Tholib. Mereka (baca; kaum Khawarij) merencanakan untuk membunuh
31Abu Hasan al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyah, Kairo : al-Nahdhah al-Misriyyah, 1950, Volume I, hlm. 156. Lihat juga,
Mu’jam Al-Buldan li Yaqut Al-Hanawu, Volume II :hlm. 245
32Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah dan AnalisisPerbandingan, Jakarta : UIP, 1972, hlm. 11
33Ibn Hajar al- Asqalani, Fath al- Bari fi Syarh Sahih al- Bukhari,t.t al- Maktabah al- Salafiyah, t.th. Volume
XII,hlm.283.
32
Muawiyyah bin Abi Sufyan, Ali bin Abi Tholib, Amr bin ‘Ash, dan Abu Musa al- Asy’ari,
tetapi yang berhasil mereka bunuh hanya Ali bin Abi Tholib. Tentang terbunuhnya Khalifah
Ali bin Abi Tholib, jauh- jauh hari Rashulullah. SAW telah mengabarkan kepada ‘Ali bin Abi
Tholib tentang musibah yang akan menimpanya. Rasullullah SAW: “Orang yang paling binasa
dari umat terdahulu adalah penyembelih unta (dari kaum Nabi Shalih). Dan, manusia yang
paling celaka dari umat ini adalah orang yang membunuhmu, wahai Ali, letakan anggota tubuh
Ali yang terkena tebasan pedang pembunuhnya nanti34
Persoalan politik (Perang Shiffin hingga tahkim) menjadi fase penting untuk melihat
muncul dan berkembangnya orang-orang yang keluar dari barisan Ali bin Abi Tholib. Banyak
pendapat tentang sebutan siapa “mereka” yang keluar itu. Ada yang berpendapat bahwa
mereka adalah mayoritas dari suku Tamim. Ada pendapat lain, bahwa yang “keluar” dari
barisan Ali adalah kelompok yang menekan Ali untuk menerima tahkim, dan khalifah Ali pun
menerima lantaran terpaksa35. Lalu siapa kelompok yang menekan khalifah Ali saat itu?
Jawabannya, boleh jadi mereka berasal dari kelompok Qurra’ (pembaca Al-Quran) yamg
termakan semboyan Khawarij, lalu mereka menyesal, dan kemudian berbalik menyalahkan
khalifah Ali. Boleh jadi kelompok ini merupakan kelompok yang disebutkan oleh Nabi SAW
“sebagai iman mereka tidak melebihi kerongkongan. Mereka terlepas dari agama mereka yang
tidak melebihi kerongkongan. Atau seperti terlepasnya anak busur dari panahnya.
Selain sikap politik yang tidak konsisten dan mudah di sulut, kaum Khawarij umumnya
mereka memiliki pendapat yang berbeda dengan alur mainstream saat itu terkait persoalan
kepemimpinan yang menurut mereka harus dipilih secara bebas oleh umat Islam. Sikap
pemilihan bebas tersebut menggambarkan kedemokratisan kaum Khawarij, yang saat itu
bertentangan dengan sikap politik suku Quraisy yang cenderung elitis. Di sisi lain boleh di catat
bahwa pengikut kaum Khawarij pada umumnya berasal dari kaum Badawi yang tinggal di
padang pasir gersang. Pola hidup mereka yang berpindah- pindah membuat hidup mereka
miskin, sederhana, keras, berani sekaligus merdeka.36
Namun, demikian, sikap tribal democracy ala Khawarij ini kemudian berubah menjadi
kelompok ekstrem dan ekslusif sebagai implikasi dari nilai-nilai Badawi yang tergerus tekanan
politik. Ini terlihat dari legitimasi doktrin- doktrin yang berasal dari Al-Quran, yang mereka
ambil secara lahiriyah sebagai cerminan dari sikap Badawi. Di sisi inilah semboyan-semboyan
mereka ‘La Hukma Illa Lillah” (tiada hukum dan kecuali dari Allah) menjadi teologi mereka
yang sekaligus melandasi sikap keras, ekstream dan ekslusifnya. Maka, kemudian orang- orang
Khawrij menampilkan dirinya sebagai orang-orang yang keras, ekslusif dan ekstrim. Ekslusif
35Al-Syahrastani Muhamad Ibn. al-Karim, Kitab al-Milad wa al-Nihal, (Muhammad Ibn Fath Allah al- Badran (E.d),
Kairo : Mustafa al- Babi al-Halabi, 1967, hlm 65.
36Harun Nasution, TeologiIslam,,hlm 12
33
dan ekstream Khawarij, bahkan mengarah kepada tindakan-tindakan sporadis, Makar dan
menjurus ketindakan teroris.37
C. Sekte- sekte Khawarij
Khawarij terbagi menjadi beberapa firqah, dan dari firqah-firqah besar tersebut masih
terbagi lagi dalam firqah-firqah kecil yang jumlahnya sangat banyak. Di antara firqah-firqah
Khawarij itu adalah;
Al- Muhakkimah, Golongan Khawarij ini asli dan terdiri dari pengikut- pengikut Ali,
disebut golongan Al- muhakkimah. Disebut demikian karena mereka menolak tahkim
(abitrase) antara Ali dan Muawiyah, dan selalu membawakan slogan ‘hukum itu hanya
milik Allah. Dalam paham sekte ini Ali, Muawiyah dan semua orang yang menyetujui
arbitrase di tuduh telah kafir karena telah menyimpang dari ajaran Islam, begitu pula
mereka menganggap kafir orang-orang yang berbuat dosa besar, seperti membunuh tanpa
alasan yang sah dan berzina.38
Al- Azariqoh, Yaitu pengikut pengikut ‘Abd al-Karim bin ‘Ajrad. Aliran ini berasal dari
para pengikut ‘Athiyyah bin al-Aswad, Abd al-Karim semula merupakan anggota dari
kelompok Athiyyah. Athiyyah adalah pengikut Al-Najadat, karena memang Al-Najadat
induknya. Yang membedakan adalah pandangan mereka lebih moderat, orang lain tidak
wajib hijrah ke wilayah mereka, tidak boleh merampas harta dalam peperangan kecuali
harta orang yang mati terbunuh, anak kecil tidak dianggap musyrik, surah Yusuf dipandang
bukan bagian dari Al-Qur’an karena tidak layak memuat cerita-cerita percintaan.
Sebagian golongan Khawarij lain, golongan ‘ajaridah ini juga terpecah belah
menjadi golongan-golongan kecil. Diantara mereka, yaitu golongan al- Maimuniah,
menganut paham qodariyah. Bagi mereka semua perbuatan manusia, baik dan buruk,
timbul dari kemauan dan kekuasaan manusia sendiri. Golongan al- hamziah juga
mempunyai paham yang sama. Tetapi al- Syu’abiah dan al- Hazimiah menganut paham
sebaliknya. Bagi mereka Tuhanlah yang menimbulkan perbuatan- perbuatan manusia.
Manusia tidak dapat menentang kehendak Allah.
Al- Najdad Yaitu pengikut Najdah bin Amir Al- Hanafi. Latar belakang pengangkatannya
adalah ketika Nafi’ bin Al-Azraq mengeluarkan pendapatnya tentang keterlepasan dirinya
dari paham Al-Azariqoh, sekalipun mereka sependapat dengan dia, dan menyebut mereka
orang musyrik serta menghalalkan membunuh anak-anak kecil dan kaum wanita yang
berbeda aliran dengannya. Bagi mereka menyembunyikan identitas keimanannya demi
keselamatan dirinya diperbolehkan. Bagi mereka An-Najadat dosa kecil dapat meningkat
menjadi besar bila dikerjakan terus-menerus.
Al- Ajaridah Yaitu pengikut pengikut ‘Abd al-Karim bin ‘Ajrad. Aliran ini berasal dari
para pengikut ‘Athiyyah bin al-Aswad, Abd al-Karim semula merupakan anggota dari
37Al- Ghurabi, Tarikh Al- Firaq al- Islamiyah waNas’ah ‘Ilm Kalam ‘inda al- Muslimin.( Mesir; MaktabahwaMatba’ah
Muhammad ‘Ali SabihwaAwladuh, 1948. / 1367 H. )hlm, 264. SeterusnyadisebutTarikh Al- Firaq
38Rochima, dk k, Ilmu Kalam, 81
34
kelompok Athiyyah. Athiyyah adalah pengikut Al-Najadat, karena memang Al-Najadat
induknya. Yang membedakan adalah pandangan mereka lebih moderat, orang lain tidak
wajib hijrah ke wilayah mereka, tidak boleh merampas harta dalam peperangan kecuali
harta orang yang mati terbunuh, anak kecil tidak dianggap musyrik, surah Yusuf dipandang
bukan bagian dari Al-Qur’an karena tidak layak memuat cerita-cerita percintaan.
Sebagian golongan Khawarij lain, golongan ‘ajaridah ini juga terpecah belah
menjadi golongan-golongan kecil. Diantara mereka, yaitu golongan al- Maimuniah,
menganut paham qodariyah. Bagi mereka semua perbuatan manusia, baik dan buruk,
timbul dari kemauan dan kekuasaan manusia sendiri. Golongan al- hamziah juga
mempunyai paham yang sama. Tetapi al- Syu’abiah dan al- Hazimiah menganut paham
sebaliknya. Bagi mereka Tuhanlah yang menimbulkan perbuatan- perbuatan manusia.
Manusia tidak dapat menentang kehendak Allah.
Al- Sufriyah Yaitu pengikut Ziad ibn Al-Ashfar, disebut-sebut bahwa Al-Shufriyah
bernisabah kepada seorang laki-laki yang bernama Ubaidah, orang yang berselisih dengan
Najdah pergi dari Yamamah. Al- Baghdadi mengatakan bahwa pandangan-pandangan Al-
Shafariyah mirip dengan pandangan Al-Azariqoh. Pendapat yang penting adalah istilah
kufr atau kafir mengandung dua arti yaitu kufr al-ni’mah (mengingkari nikmat Tuhan) kafir
tidak berarti keluar dari Islam dan kufr bi Alloh (mengingkari Tuhan) Taqiyah hanya boleh
dalam bentuk perkataan, tidak boleh dalam bentuk tindakan kecuali bagi wanita Islam
boleh menikah dengan laki-laki kafir bila terancam keimanan dirinya.
Al-Ibadhiah Yaitu pengikut Abdullah bin Ibadh. Abdullah bin Ibadh hidup pada penggal
kedua abad pertama Hijriyah. Aliran ini paling dekat dengan Aliran Sunni dan
berpandangan jauh lebih toleran dengan Aliran-aliran Khawarij lainnya. Oang yang
berdosa besar tidak disebut mukmin, melainkan muwahhid (kafir nikmat, tidak membuat
pelakunya keluar dari Islam.)39
Perpecahan menjadi firqah- firqah inilah yang membuat Khawarij menjadi lemah dan
mudah sekali dipatahkan dalam berbagai pertempuran menghadapi kekuatan militer bani
Umayyah. Sekalipun Khawarij telah beberapa kali memerangi Ali dan lepaskan diri dari kelompok
Ali, dari mulut mereka masih terdengar kata-kata “haq”. Amirul Mukminin Ali bin Abi thalib
mengatakan, bahwa Khawarij lebih mudah daripada bani Umayyah dalam tujuannya, karena bani
Umayyah telah merampas Khalifah tanpa hak, kemudian mereka telah menjadikan hak warisan.
Hal ini merupakan prinsip yang bertentangan dengan Islam secara nash dan jiwanya. Adapun
khawarij adalah sekelompok manusia yang membela kebenaran aqidah agama, mengimaninya
dengan sungguh-sungguh, sekalipun salah dalam menempuh jalan yang dirintisnya40
39Harun NasutionTeologi Islam Aliran- aliran Sejarah, Analisa perbandingan. Cet 5 Jakarta; Universitas Indonesia
(UI-Press),1986
40Imam Muhammad Abu Zahrah, AliranPolitik dan Aqidahdalam Islam,( Jakarta; Logos, 1996), h. 83-84
35
D. Prinsip -prinsip dan Ciri- ciri Khawarij
Prinsip- prinsip Khawarij
Tentang prinsip yang pertama; Khawarij mengakui sahnya pembaiatan khalifah Abu
Bakar, Umar bin Khattab, dan bahkan mendukung penuh dua khalifah ini, kemudian
terhadap kekhalifahan Ustman bin Affan , Khawarij hanya mendukung selama enam tahun
pertama masa kekhalifannya, dan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib mereka hanya
mengakui sebelum peristiwa tahkim, namun pasca tahkim, mereka membelot bahkan
memvonis kafir kepada Sayyidina Ali. Bagi khawarij tidak ada perbedaan antara maksiat
dan kafir. Maka ketika seseorang melakukan maksiat secara otomatis dia menjadi
kafir.41Oleh sebab itu, mereka mengkafirkan orang-orang yang ada pada perang jamal,
perang shiffin dan dua orang hakim serta Muawiyah beserta para pengikutnya42
Semua perpecahan Khawarij itu berawal bukan ketika dia menarik diri dari
peperangan Shiffin, bukan juga ketika salah dalam memilih Abu Musa sebagai wakil,
namun kesalahan terbesar adalah karena menerima tahkim adalah kekufuran. Menjadikan
manusia seorang hakim adalah kufur, karena itu dikenallah slogan utama mereka (la hukma
illa lillah). “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah”.
Hal ini terkait dengan pemahaman mereka terhadap ayat ini “…Barangsiapa yang
tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang
yang kafir.”43 Jadi, Takfir (pengkafiran) tampak menjadi corak yang khas dari pemikiran
Khawarij, hal itu merangsang sejumlah pergumulan pemikiran tentang definisi ‘kafir’ dan
‘iman’, begitu juga tentangdefinisi-definisi yang lain ‘maksiat’ dan tingkat-tingkatmaksiat,
perbedaan ‘al-Fisqu’(fasiq) dan ‘al-Khatta’ (salah), dan lain sebagainya yang kemudian
mendorong perkembangan pemikiran- pemikiran dalam Islam untuk selanjutnya.44
Dan tentang yang kedua; Inilah yang menjadi kekhasan dari pemikiran Khawarij, yakni
seputar khilafah, syarat-syarat khilafah, bagaimana pelaksanaannya termasuk bagaimana
bersikap jika terdapat penguasa yang lain. Neveen Abdul Khalik membagi pendapat
mereka tentang hal ini menjadi enam pokok; berikut perinciannya secara singkat:
1. Proses pengangkatan khalifah hanya bisa melalui pemilihan bebas yang masyarakat.
Khalifah harus menegakkan keadilan, menjalankan syari’at serta menjauhkan diri dari
kesalahan dan penyelewengan. Jika khalifah menyimpang dari itu, maka ia wajib
diturunkan atau dibunuh .
2. Khawarij ini sangat fleksibel karena pada awalnya mereka menyuarakan bahwa khalifah
merupakan hak setiap arab yang merdeka, namun tatakala banyak orang asing yang
41Neveen Abdul KhalikMusthafa, Opisisi Islam hlm, 258
42ShultanFathoni, Peradaban Islam, ( Jakarta ; Elss 2007 ), h. 33
43Al-Quran ( QS, 5; 44 )
44Dhiyauddin Reis, dalamNeveen Abdul KhalikMusthafa, OposisiIslam..hlm 259
36
bergabung kedalam paham mereka, Khawarij tidak lagi mensyaratkan ‘kearaban’, mereka
hanya mensyaratkan Islam, ilmu dan keadilan.
3. Diantara sekte khawarij, yaitu sekte ‘Nejdat’ yang berpendapat bahwa tidak harus
mengangkat Imam jika manusia telah mampu menegakkan keadilan. Jadi pengangkatan
imam tidak diwajibkan syariat.
4. Takfir (pengkafiran), ini adalah yang terkenal dari pemikiran Khawarij, pengkafiran pada
setiap penentangnya. Khawarij gagal membedakan antara satu dosa dengan dosa lainnya.
Mereka menganggap orang yang salah dalamberpendapatsebagaipendosa. Orang yang
bersalahdalam ijtihad juga mereka keluarkan dari agama dan mengakafirkanya. Prinsip
inilah yang membuat Khawarij selalu memberontak dan berevolusi, baik terhadap umat
Islam maupun terhadap para ulama. Ini sangat terkait dengan cara Khawarij menafsirkan
ayat-ayat al-Qur’an yang menurut ‘selerannya’ sendiri, tanpa memperhatikan sunnah. Oleh
karena itu ketika Sayyidina Ali mengutus Ibnu Abbas berdebat dengan kaum Khawarij, ia
berkata “jangan mendebat mereka dengan al-Qur’an”. Karena Ia tahu bahwa mereka
meletakkan makna ayat-ayat al-Quran dalam kerangka makna yang sudah mereka buat
sebelumnya.45
5. Slogan Khawarij yang terkenal adalah; la hukma illa li Allah ( Tidak ada putusan selain
putusan Allah) yang sedikit sudah dijelaskan sebelumnya.
6. Hijrah, hijrah tampak menjadi tanda yang berkaitan dengan takfir sejak mula pertama
pemikiran Khawarij, yaitu kejadian tahkim. Hal itu terkait dengan khutbah Abdullah bin
Wahab Rasibi (imam dari aliran khawarij) yang mengajak untuk berhijrah, ber’amar
ma’ruf nahi mungkar. Kaum Khawarij memandang bahwa Negara sudah penuh dengan
para pendosa oleh sebab itu mereka harus berhijrah ke Negara dar as- salam, sebagaimana
hijrahnya Nabi SAW. Menuju madinah.46
Keyakinan Khawarij tentang wajibnya amar ma’ruf nahi mungkar inilah yang membuat
mereka konsisten dengan revolusi secara terus menerus, selalu memberontak dan mengangkat
senjata untuk menentang para Imam yang mereka anggap lalim. 22 Menurut mereka revolusi itu
hukumnya wajib dan tidak boleh berhenti kecuali sampai mati dan juga ketika jumlah mereka
kurang dari tiga, maka mereka akan diam dan menyembunyikan akidahnya, Inilah yang disebut
Sayyidina Ali sebagai fenomena kejumudan dan kebekuan berfikir Khawarij tidak berbuat
berdasarkan hati dan logika sehat, begitu juga dalam hal amar ma’ruf nahi mungkar tidak membuat
perhitungan atas realitas masalah, dan logika yang benar.47
Ciri – ciri Kaum Khawarij
1. Mudah mengkafirkan orang yang tidak segolongan dengan mereka, walaupun orang
tersebut adalah penganut agama Islam.
45JalaluddinRakhmat, MenyerapKearifan Al-Quran melalui Tafsir bilMa’tsur, ( Bandung, Mizan, 2012 ) hlm 8
46Lihat Abu Zahra dalamNeveen Abdul Khaliq, OposisiIslam.., h. 264
47Ibid, h. 265
37
2. Islam yang benar adalah Islam yang mereka pahami dan amalkan. Islam sebagaimana
yang dipahami dan diamalkan golongan Islam lain tidak benar.
3. Orang-orang Islam yang tersesat dan telah menjadi kafir itu perlu dibawa kembali ke Islam
yang sebenarnya, yaitu Islam seperti yang mereka pahami dan amalkan.
4. Karena pemerintahan dan ulama yang tidak sepaham dengan mereka adalah sesat, maka
mereka memilih imam dari golongan mereka sendiri. Imam dalam arti pemuka agama dan
pemuka pemerintahan.
5. Mereka bersikap fanatik dalam paham dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan dan
pembunuhan untuk mencapai tujuan mereka.48
E. Aksi Teror Khawarij
Menyimak berbagai aksi terorisme yang belakangan merebak di Timur Tengah dan juga di
Tanah Air, termasuk peristiwa – peristiwa lain yang membuntutinya, maka muncul asumsi
tentang dalang ideologis di balik aksi-aksi tersebut. Tentu saja peristiwa- peristiwa itu
menyisakan banyak efek negatif yang menyedihkan bagi kaum Muslimin. Betapa tidak, kaum
Muslimin yang merupakan uamat yang di cintai damai kemudian tercitrakan menjadi kaum
yang suka melakukan tindakan ekstremisme dan kekerasan.
Kondisi ini diperparah dengan munculnya narasumber-narasumber dadakan. Di antara
mereka ada yang membenarkan “aksiheroik” para teroris ini. Sedangkan yang lain
beranggapan bahwa semua orang yang berpenampilan mengikuti sunnah sebagai orang yang
sekomplotan dengan para teroris tersebut. Takayal, Sebagian orang yang bercelana di atas mata
kaki pun jadi sasaran kecurigaan, di tambah dengan cambangnya yang lebat dan istrinya yang
bercadar. Padahal, bisa jadi hati kecil orang yang berpenampilan mengikuti sunnah tersebut
shahih dalam syariat. Oleh karena itu, untuk sedikit memberikan penjelasan masalah ini
mengingat betapa jeleknya akibat dari aksi- aksi tersebut telah memakan banyak korban, baik
jiwa maupun harta benda, sesuatu yang tak tersamarkan bagi kita semua.
Persoalannya, dari manakah teror fisik ini muncul, sehingga berakibat sesuatu yang begitu
kejam dan selalu mengancam? Tak lain teror fisik ini hanyalah buah dari sebuah teror dari
pemikiran yang senantiasa bercokol pada otak para aktor teror tersebut, yang akan terus
membuahkan kegiatan selama teror pemikiran tersebut belum hilang. Apa yang dimaksud
dengan teror pemikiran? Tidak lain, keyakinan bahwa Sebagian kaum muslimin telah murtad
menjadi kafir, khususnya para penguasa. Bahkan diantara penganut keyakinan ini ada yang
memperluas radius pengkafiran itu tidak semata pada para penguasa, baik pengkafiran itu
dengan alasan “telah berloyal kepada orang kafir”. Demikian mengerikan pemikiran dan
48Harun Nasution, Islam Rasional;Gagasan dan Pemikiran, ( Bandung: PenerbitMizanAnggota IKPAI, cetakan V,
1998), hlm 124-125
38
keyakinan ini sehingga pantaslah disebut sebagai terror pemikiran. Keyakinan semacam ini di
masa lalu di junjung tinggi oleh kelompok Khawarij.49
Dengan demikian, teror pemikiran inilah yang banyak memakan korban. Dan ketahuilah,
korban pertama sebelum orang lain adalah justru para pelaku bom bunuh diri tersebut. Mereka
terjerat paham yang jahat dan berbahaya ini, sehingga mereka menjadi martir yang siap
menerima perintah dari komandannya dalam rangka memerangi “musuh” (versi mereka).
Lebih parah lagi, mereka menganggapnya sebagai jihad yang menjanjikan sambutan bidadari
sejak saat kematiannya. Keyakinan semacam inilah yang memompa mereka untuk siap
menanggung segala resiko dengan penuh suka cita.
Benarkah mereka disambut bidadari setelah meledaknya tubuh mereka hancur berkeping-
keping dengan operasi bom bunuh diri tersebut? Jauh panggung dari api! Bagaimana dikatakan
syahid, sementara ia melakukan suatu dosa besar yaitu bunuh diri! Kita tidak mendahului
keputusan Allah. Kita hanya menghukumnya secara dzahir ( lahir ) berdasarkan kaidah hukum,
tidak boleh bagi kita memastikan bahwa seseorang itu syahid dengan segala konsekuensinya.
Perhatikan firman Allah berikut ini, “Dan tiap-tiap manusia akan datang kepada Allah pada
hari kiamat dengan sendiri-sendiri”. Bahkan, berbagai Hadits Nabi mencela Khawarij dan
mengecam bunuh diri lebih tepat diterapkan kepada mereka. Oleh karena itulah, mereka adalah
korban pertama kejahatan paham Khawarij sebelum orang lain.
A. New Khawarij
Khawarij merupakan sebuah kelompok sempalan yang menyempal dari Ash-Shirathul
Mustaqim jalan yang lurus) dengan beberapa ciri khas ideologi mereka. Lalu, penyebutan kata
“ideologi” dalam kajian ini, lantaran mereka memiliki sebuah keyakinan yang hakikatnya
bersumber dari sebuah ide. Yaitu sebuah penafsiran akal pikiran yang keliru terhadap nash
(teks) Al-Qur’an atau Al-hadis. Dari sinilah kemudian mereka menyempal. Sekali lagi hal ini
terjadi akibat penafsiran yang salah terhadap Al-Qur’an dan Al-hadis, bukan akibat penafsiran
yang apa adanya, yang menurut sebagian orang kaku atau “saklek”, dan tidak panatas
dikatakan sebagai salah satu bentuk ijtihad dalam penafsiran Al-Qur’an maupun Al-hadis.
Sehingga, ideologi mereka sama sekali tidak bisa disandarkan kepada Islam yang benar.
Demikian pula aksi-aksi teror mereka sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan ajaran Islam
yang muliah nan indah ini.50
Sebaliknya Islam justru sangat mengecam tindakan kekerasan berbau teror dan intimidasi,
dimana Rasulullah menyebut mereka sebagai anjing-anjing penghuni neraka seperti dalam
49Qomar ZA, MenyikapiTeror- terorKhawarij, http;//www.assyariah.com/syariah/kajian-khusus/552-menyikapi-
aksi-aksi teroris-Khawarij-kajian-khusus-edisi-54.html
50 Ris’an Rusli, Teologi Islam Telaah Sejarah dan Pemikiran Tokoh-tokohnya, ( Jakarta: Prenadamedia group 2014),
h. 11
39
Hadis berikut ini. “(Mereka) adalah anjing-anjing penghuni neraka. Sebaik-baik korban
adalah orang yang mereka bunuh.”
Para teroris Khawarij yang ada sekarang ini adalah salah satu mata rantai dari kaum
Khawarij yang muncul sepeninggalan Nabi. Ketika waktu itu para sahabat masih hidup.
Merekalah orang-orang yang memberontak kepada Khaliafah Utsman bin affan dan
membunuhnya. Mereka jugalah yang membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Sekte ini terus
lanjut, turun temurun diwarisi oleh anak cucu penyandan ideologi Khawarij sampai pada masa
ini. Secara umum, Menurut Dr. Nashir bin abdul karim al-Aql Fenomena neo Khawarij ini ada
pada sebagian kecil dari para pemuda Islam, dan bukan pada satu negra ataupun pada
sekelompok atau jama’ah tertentu saja. Akan tetapi menurutnya juga, kadang-kadang neo
Khawarij terdapat banayak pada suatu jama’ah atau satu kelompok atau satu negeri, bahkan
bisa juga sebagaian kecil darinya ada pada kelompok-kelompok yang menyebut dirinya salafi
dan ahlus sunnah wal jama’ah.51 Paham ini sangat berbahaya bagi umat Islam karena mereka
ada di dalam umat Islam sendiri.Mereka muncul sebagai pembela Islam, membawa panji-panji
Islam, namun sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsunya dan membajak Islam
untuk keepentigan politik mereka. Boleh jadi dia disekitar kita dan sangat dekat dengan kita.
Apabila tidak berhati-hati, kita pun bisa terpedaya dan terperangkap masuk dalam pengaruh
paham ini. Untuk menhindarinya, tentu kita harus memahami seperti apa ciri-ciri penganut
paham ini.
Didalam jurnal IAI Tribakti Kediri yang disusun oleh Aly Masyhar Di katakan neo
Khawarij adalah mereka yang suka melakukan pengkafiran, pembid’ahan, pensyirikan,
pengharaman, dan kekerasan kepada orang atau kelompok yang berbeda dengan mereka. Dan
juga karena konsekuinsi logis dari beberapa karakter tersebut, mereka juga sering menyebut
istilah jihad dan taubat. Kelompok yang bisa dikategorikan kepada neo Khawarij diantaranya
adalah al muhajiraoun,al qaeda (Quintan Wiktorowicz, Wahabi, salafi (Hisyam al-kabbani),
jamaah al islamiyah Hizbut tahrir, DII/ TII pimpinan kartosuwiryo, LDII dan kelompok-
kelompok lain yang mempunyai karakter sebagaimana disebutkan diatas. Jika dilihat dari
karakter-karakter ini maka neo Khawarij memang mempunyai kesamaan dengan Khawarij,
terutama yaitu tentang suka mengkafirkan kelompok yang berbeda dengan mereka, suka
kekerasan dan literalis atau menafsirkan nash secara lahiriyah.52
Kemudian terkait konsep politik neo Khawarij, karena banyak sekali kelompok-kelompok
yang bisa dimasukan kedalam kategori neo Khawarij, untuk memermudah bahasa penulis akan
memfokuskan kepada konsep politik Hizbut Tahrir. Sebab kelompok ini dibanding dengan
51 Muhammad Adnan Abdullah, Neo Khawarij, (Surabaya: Cv Garuda Sejahtera, 2016), h. 48
22 Aly Masyhar, Khawarij dan Neo Khawarij, Jurnal IAI Tribakti Kediri, Volume 25 No, 1 Januari 2014, h. 83.
40
kelompok-kelompok kontemporer lainnya, nampak lebih kelihatan dalam bergerak diwilayah
politik. Bagi HT semua hal yang ada di dunia ini semua sudah diatur oleh semua Al-Qur’an
dan al-hadis, maka dengan demikan semua hal selain dari Al-Qur’an dan Al-hadis adalah salah
satu haram diikuti atau bahkan disebut istilahnya oleh umat muslim, termasuk didalamnya
adalah sistem demokrasi. Demokrasi bagi mereka adalah sistem kufur. Bagi HT Islam
menyatakan demokrasi bagi mereka kufur. Bagi HT islam menyatakan bahwa kekuasaan
memang berada di tangan rakyat sebagaiman yang didalam demokrasi, namun tidak untuk
kedaulatn, sebab yang disebut terakhir ini bagi HT berada pada syara; dengan demikian maka
tiada hukum selain dari syara’ yang tidak lain adalah Allah SWT. Ini sama persis dengan
statemen awal Khawarij, yakni laa hukma illa lillah.
41
MATURIDIYAH
1. Sejarah Aliran Maturidiyah
Sebagaimana aliran Asy’ariyah, nama aliran Maturidiyah juga diambil dari nama
tokoh pertama yang mengusung pemikiran – pemikiran sendiri, yakni Abu Manshur
Muhammad Al – Maturidi (w.332 H). Beliau lahir di Samarkand pada pertengahan abad
kedua dan meninggal pada tahun 944 M, dan di beri gelar Imam Al – Huda dan Imam
Mutakallimin, sebagai pengakuan terhadap keluasan ilmu pengetahuannya di bidang
teologi (dan mengakui jasa – jasanya yang berharga bagi Ahl al – Sunnah wa’l – Jama’ah).
Mahmud al – Kufawi menyebutkan sebagai “Imam al - Huda, teladan kaum Sunni,
pengibar panji Ahli Sunnah wal – Jama’ah, penyelamat kaum tersesat dari kekacauan dan
kebid’ahan, tokoh kaum skolastik dan pemerkuat akidah ujat Islam”.53 Nama al – Maturidi
adalah nisbah kepada Maturid, yakni nama kampung beliau di Samarkand. Beberapa
penulis mengemukakan bahwa, beliau berasal dari keluarga terkemuka yakni keluarga Abu
Ayyub al – Anshari di Madinah54. Hal ini diperkuat dengan adanya beberapa keluarga Arab
yang dari Madinah menetap di Samarkand55, dan bahwa putri al – Maturdi dinikahkan
dengan al – Hasan al – Asy’ari, ayahnya adalah Imam Abu al – Hasan ‘Ali al – ‘Asy’ari,
dan ayah al – Asy’ari ini adalah keturunan dari Abu Ayyub al – Anshari di Madinah.
Beliau menimba ilmu kepada beberapa gurunya yakni Syaikh Abu Bakr Ahmad bin
Ishaq, Abu Nashr Ahmad bin al – ‘Abbas yang dikenal dengan al – Faqih al – Samarkandi,
Nuhsair bin Yahya al – Balkhi (w. 268/881) , dan Muhammad bin Muqatil al – Razi (w.
248/862), Qadhi di Rayy. Mereka semua adalah murid Imam Abu Hanifah (w. 150/767).56
Beliau menuntut ilmu di sepertiga akhir abad ke tiga Hijriyah, dimana aliran Muktazilah
telah mengalami kemundurannya. Dari gurunya ini, beliau belajar madzhab Hanafi dan
ilmu kalam. Saat itu, negeri Samarkand menjadi tempat diskusi terutama bagi para
pengikut madzhab Hanafi dan madzhab Syafi’i, dalam ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih.57 Tidak
banyak diketahui mengenai riwayat kehidupan beliau.
Al - Maturidi dan al – Asy’ari, hidup pada satu masa. Meskipun tidak ada
keterangan sejarah bahwa mereka pernah bertemu atau membaca buku satu sama lain,
namun pemikiran mereka hampir sama, tentu sebelum al – Asy’ari beralih pada paham
salaf shalih. Berdeda dengan al – Asy’ari yang merupakan pengikut madzhab fikih
Syafi’iyah, al – Maturidi adalah pengikut madzhab fikih Hanafiah.58 Seperti yang kita
ketahui, sebelum memasuki bidang fiqih, Abu Hanifah dikenal sebagai pemikir teologi.
53 Kata’ib A’lam al – Akhyar, hal. 129
54 Kitab al – Tauhid, fol. 1, catatan kaki; Syarh Ihya’ vol. II, hal.5
55 Al – Fawa’id al – Bahiyyah, hal. 23
56 Isyarat al – Maram, hal. 23; Syarh Ihya’, vol. II, hal. 5
57 Ilmu Kalam dari Tauhid Menuju Keadilan: Ilmu Kalam Tematik, Klasik, dan Kontemporer,
hlm. 128
58Studi Ilmu Kalam, hlm. 167
42
Sehingga banyak memakai rasio dalam keagamaan. Pengikut madzhab Abu Hanifah
berpendapat bahwa pemikiran Maturidi dalam bidang aqidah, sama dengan pendapat Imam
Abu Hanifah, Al – Maturidi lebih menggunakan akal dalam pemikiran teologinya, tanpa
berlebih – lebihan atau melampaui batas. Yakni dengan tetap berpegang pada keputusan
akal pikiran dalam yang tidak bertentangan dengan syara’. Adapun jika bertentangan
dengan syara’, maka akal harus tunduk terhadap keputusan syara’. Karena keseimbangan
dalam akal dan naql ini, aliran ini menjustifikasi dirinya sebagai Ahl al – Sunnah wa al –
Jamaa’ah.
Kendati demikian seperti dikatakan oleh Al – Zubaidi, yang di klaim Ahl al –
Sunnah wa al – Jamaa’ah oleh Asy’ariyah dan Maturidiyah, bahwa jika disebut Ahl al –
Sunnah wa al – Jamaa’ah, yang dimaksud adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah.
“Ketahuilah bahwa pokok semua aqaid Ahlu Sunnah wal Jama’ah atas dasar ucapan dua
kutub, yakni Abul Hasan al – Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al – Maturidi”, kata penulis
Ar – Raudhatul Bahiyyah.59 Hassan Ayyub mengatakan bahwa Ahlus Sunnah adalah Abu
Hasan Asy’ari, Abu Manshur Al – Maturidi dan orang orang yang mengikuti jalan mereka
berdua. Mereka berjalan di atas petunjuk Salafus Shalih dalam memahami aqaid.60 Dilihat
dari latar belakang sosial dan pemikirannya, dapat dipahami bahwa pemikiran Al –
Maturidi berintikan dan merupakan perluasan pemikiran dari Abu Hanifah.
Al – Maturidi, lahir dan hidup di lingkungan keagamaan yang penuh dengan
perbedaan pendapat antara Muktazilah (aliran teologi yang sangat mementingkan akal
dalam memahami ajaran agama), dan Asy’ariyah (aliran yang menerima rasional dan dalil
wahyu). Maka dari itu, Al – Maturidi melibatkan diri dalam mengajukan pemikirannya
sendiri. Al Maturidi sebagaimana al – Asy’ari, tampil sebagai reaksi terhadap pemikiran
Muktazilah dan Hanabilah, dalam upaya memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat
menyelamatkan diri dari ekstremitas kaum rasionalis Muktazilah, maupun dari ekstremitas
kaum tekstualis Hanabilah (para pengikut Imam Ahmad bin Hanbal). Meskipun memang
aliran Asy’ariyah tampil terlebih dahulu dalam menentang pemikiran dari aliran
Muktazilah, pemikiran teologi al – Asy’ariyah sangat benyak menggunakan makna teks
nash agama (Al Qur’an dan Sunnah), sedangkan al – Maturidiyah dengan latar belakang
madzhab Hanafi yang diikutinya, banyak menggunakan akal dan takwil dalam pemikiran
teologinya. Sehingga, meskipun dikatakan al – Maturidiyah banyak menyerang pemikiran
Muktazilah, pemikiran teologi yang dibawa oleh Maturidi lebih dekat kepada aliran
Muktazilah. Para ahli memandang Asy’ariyah lebih kepada aliran yang mengambil jalan
tengah antara Muktazilah dan Ahl a – Hadits, sedangkan Maturidiyah lebih kepada aliran
yang mengambil jalan tengah antara Asy’ariyah dan Mutktazilah.61
59 Ilmu Kalam dari Tauhid Menuju Keadilan: Ilmu Kalam Tematik, Klasik, dan Kontemporer,
hlm. 127
60 At – Tahmhid, hlm 2.
61 Tarikh al – Madzahib al – Islamiyyah fi al – Siyasah wa al –‘Aqaid. Juz I., hlm. 119
43
Rekan sezaman al – Maturidi yakni Abu al – Qasim Abd Allah al – Ka’bi (w.
317/929) merupakan tokoh Muktazilah Baghdad.62 Dalam karyanya yang masih menjadi
manuskrip, Kitab al -Tauhid, dan tiga karyanya yang lain, al – Maturidi membantai doktrin
– doktrin al -Ka’bi. Atas dasar ini, bisa di simpulkan bahwa di Timur, al – Maturidi
memerangi paham Muktazilah secara umum dan terutama aliran Baghdad, sementara itu
di Iraq al -Asy’ari memerangi Muktazilah Bashrah. Namun ada kemungkinan al – Maturidi
tampil mendahului al -Asy’ari, dan besar kemungkinan di saat itu al – Asy’ari masih
menganut paham Muktazilah.
Jarak awalnya memisahkan kedua aliran ini (Asy’ariyah dan Maturidiyah),
Asy’ariyah berada di Iraq dan Syam (Suriah) kemudian meluas ke Mesir, sedangkan
Maturidiyah berada di Samarkand dan daerah – daerah di seberang sungai Oxus. Kedua
aliran ini dapat hidup dalam lingkungan yang kompleks dan membentuk satu madzhab.
Sehingga tampak jelas bahwa perbedaan sudut pandang mengenai masalah – masalah fikih
kedua aliran ini merupakan faktor pendorong untuk berlomba dan survive. Orang – orang
Hanafiah (para pengikut Imam Hanafi) membentengi aliran Maturidiyah, dan para
pengikut Imam al – Syafi’i dan Imam al – Malik mendukung kaum Asy’ariyah.63
Pada 333 H, al – Maturidi wafat di negeri yang juga merupakan tempat
kelahirannya, yakni Samarkand dan di makamkan disana. Setelah beliau wafat, pemikiran
dan ajaran beliau di teruskan oleh murid dan orang – orang yang mengikutinya, yang
selanjutnya merekalah yang membentuk aliran kalam pertama kali di Samarkand. Mereka
banyak menyebarkan pemikiran syeikh – syeikh mereka, dan mulai menuliskan buku –
buku berisi pemikiran al – Maturidi yang laku di sana. Hal itu terbantu berkat kesamaan
dalam madzhab fikih, yakni madzhab Hanafi.
Salah seorang murid al – Maturidi yang bernama Abu Muhammad Abdul Karim
bin Musa bin Isa al-Bazdawi (w.390 H), nantinya memiliki cucu yang bernama Abu al –
Yusr Muhammad al – Bazdawi (421 – 439 H), yang memiliki julukan al-Qadhi ash-Shadr,
Syaikh madzhab Hanafi di Bazdawah pada masanya. Al – Bazdawi ini adalah salah satu
murid terpenting al – Maturidi. Ia mengetahui ajaran – ajaran al – Maturidi dari orang
tuanya, yang turun termurun dari kakeknya, karena kakeknya adalah salah satu murid al –
Maturidi. Al – Bazdawi banyak membaca kitab – kitab filsafat karya al – Kindi, dan yang
lainnya. Ia juga membaca buku – buku karya al – Asy’ari dan al – Maturidi. Meskipun
konsep pemikiran al – Bazdawi berasal dari al – Maturidi, terdapat pemikiran al – Bazdawi
yang tidak sepaham dengan al – Maturidi. Hal inilah yang menyebabkan aliran Maturidiyah
terbagi menjadi dua golongan, yang pertama golongan Samarkand yang merupakan
pengikut dari al – Maturidi sendiri, dan yang kedua adalah golongan Bukhara yang
merupakan pengikut al – Bazdawi.
Pada tahun 493 H, al – Bazdawi wafat di Bukhara dan meninggalkan banyak murid.
Salah satu murid yang paling masyhur yakni Abu Hafsh Najmuddin Umar bin Muhammad
62 Al – Milal, Azhar, vol. 1, hal. 116 – 11; Kitab al – Farq bain al – Firaq, hal. 108 - 109
63Aliran dan Teori Filsafat Islam, hlm, 80.
44
bin Ahmad bin Ismail al-Hanafi an-Nasafi, nisbat kepada Nasaf, sebuah kota di antara
Jaihun dan Samarkand. Julukannya adalah Najmuddin. Najmuddin lahir di Nasaf pada
tahun 462 H. Ia terkenal dengan syeikh – syeikhnya yang banyak dengan jumlah lima ratus
orang, salah satu syeikh yang termasyhur adalah al – Bazdawi. Najmuddin merupakan
pelopor dalam karya tulis karena banyak menuangkan dasar dasar pemikiran akidah
Maturidiyah ke dalam buku bukunya, salah satu buku tentang akidah yang terkenal dengan
al-Aqidah an-Nasafiyah. Buku – bukunya banyak menjadi buku induk dalam mempelajari
pemikiran Maturidiyah. Najmuddin Umar an-Nasafi wafat di Samarkand pada malam
Kamis, 12 Jumadil Ula 537 H.
Maturidiyah mengalami perkembangan yang cukup pesat setelah masa
Najmuddin, karena mendapat perhatian dari Sultan Daulah Utsmaniyyah yang saat itu
berpusat di Turki. Karena hal ini pula para sultan mendukung aliran ini, yang lalu pengaruh
ini menyebar ke negeri – negeri yang dijangkau oleh Daulah Ustmaniyyah. Pada masa ini
muncul al-Kamal bin al-Hammam penulis al-Muyasarah fi al-Aqa’id al-Munjiyah fi al-
Akhirah yang pada saat ini masih dijadikan sebagai buku wajib di sebagian universitas. Pun
di masa kini, pemikiran Maturidiyah masih banyak dianut di beberapa negeri kaum
muslimin khususnya di Turki, Pakistan, India, Afghanistan dan sekitarnya.
2. Pembagian Maturidiyah
Aliran kalam Maturidiyah terbagi menjadi dua golongan. Yakni Samarkand dan
Bukhara. Maturidiyah Samarkand adalah yang berasal dari pemikiran al – Maturidi, dan
pemikiran golongan ini agak dekat dengan Muktazilah. Sedangkan Maturidiyah Bukhara
adalah yang berasal dari al – Bazdawi, dan pemikiran golongan ini lebih dekat dengan
Asy’ariyah.64 Perbedaan Maturidiyah Samarkand dan Bukhara ini bukan menyagkut
masalah prinsip, melainkan hanya berbeda kecenderungan.
Berikut perbedaan Maturdiyah Samarkand dan Bukhara :
Pertama, mengenai pelaku dosa besar. Aliran Maturidiyah, baik Samarkand
maupun Bukhara, sepakat menyatakan bahwa pelaku dosa besar tetap menjadi Mukmin,
jikalau masih ada keimanan dalam dirinya. Adapun balasan yang akan di terima di akhirat,
bergantung kepada perbuatan yang telah dilakukan di dunia. Jikalau tidak bertaubat
sebelum kematiannya, maka keputusannya diserahkan kepada Allah SWT. Bila Allah
SWT., berkehendak memasukkannya ke dalam neraka, maka mereka tidak akan kekal di
dalamnya. Ini sesuai dengan firman Allah di Q.S. an – Nisa [4]:48
ِإ هن ٱَّهل َل ََل يَ ْغ ِف ُر أَن يُ ْش َر َك بِ ِهۦ َويَ ْغ ِف ُر َما ُدو َن َذ ِل َك ِل َمن يَ َشآٰ ُء ۚ َو َمن يُ ْش ِر ْك بِٱَّهل ِل فَقَ ِد ٱ ْفتَ َر ٰٓى ِإثْ ًما
َع ِظي ًما
64 Teologi Islam: Aliran – aliran, Sejarah, Analisis Perbandingan, hlm. 78
45
Arti : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni
segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang
mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang lebih besar”.
Kedua, mengenai iman dan kufur. Maturidiyah Samarkand berpendapat bahwa
iman tidak hanya sebatas diikrarkan di lisan, tetapi juga di benarkan dalam hati. Mereka
berargumentasi menggunakan Q.S. al – Hujurat [49]: 14
قَالَ ِت ٱ ْْلَ ْع َرا ُب َءا َمنَّا ۖ قُل لَّ ْم تُ ْؤ ِمنُو ۟ا َو َٰلَ ِكن قُولُ ٓو ۟ا أَ ْسلَ ْمنَا َولَ َّما يَ ْد ُخ ِل ٱ ْْ ِلي َٰ َم ُن فِى قُلُوبِ ُك ْم ۖ َو ِإن تُ ِطيعُو ۟ا
ٱََّّل َل َو َر ُسولَهُۥ ََل يَ ِلتْ ُكم ِم ْن أَ ْع َٰ َم ِل ُك ْم َش ْيـًٔا ۚ إِ َّن ٱََّّل َل َغفُو ٌر َّر ِحي ٌم
Arti : Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah:
"Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk
ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan
mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang".
Ayat ini dipahami oleh mereka sebagai artian bahwa keimanan tidak cukup di lisan,
tetapi juga harus di hati. Jikalau hati tidak membenarkan keimanan ini, maka keimanan
tersebut batal. Adapun Maturdiyah Bukhara berpendapat bahwa, iman tidak bisa berkurang
ataupun bertambah hanya karena ibadah yang dilakukan. Ia membuat analogi bahwa
ibadah itu ibarat bayangan, dari iman. Jikalau bayangan tersebut hilang, esensi iman
tidaklah hilang. Namun, dengan kehadiran bayangan (ibadah), iman justru semakin
bertambah.
Ketiga, mengenai perbuatan Tuhan. Maturidiyah Samarkand berpendapat bahwa
perbuatan Tuhan hanya menyangkut hal yang sifatnya baik saja. Begitu halnya dengan
pengiriman nabi dan Rasul, mereka menganggap itu sudah kewajiban Tuhan. Sedangkan
menurut Maturidiyah Bukhara, mereka sepakat dengan pandangan Asy’ariyah yang
menganggap Tuhan tidak memiliki kewajiban. Sebagaimana dikatakan oleh al – Bazdawi,
Tuhan pasti menepati janjinya, seperti memberi ganjaran kepada orang yang berbuat baik.
Meskipun Tuhan mungkin saja membatalkan ancaman bagi orang yang berdosa besar.
Tetapi, untuk pengiriman nabi dan Rasul, itu merupakan kehendak tuhan dan tidak bersifat
kewajiban.
Keempat, perbuatan manusia. Menurut Maturidiyah Samarkand, apa yang
diperbuat manusia adalah makna yang sebenarnya bukan arti kiasan. Manusia melakukan
sesuatu tidak diatur sebelumnya, tapi berbarengan dengan kehendak manusia itu
melakukan hal yang diinginkan. Sedangkan menurut Maturidiyah Bukhara, manusia tidak
mempunyai daya dalam berbuat, hanya Tuhan lah yang mempunyai daya itu. Sehingga apa
– apa yang dilakukan manusia, sejatinya telah diciptakan oleh Tuhan.
Kelima, sifat – sifat Tuhan. Maturdiyah Bukhara berpendapat bahwa Tuhan
tidaklah memiliki sifat jasmani, oleh karena itu setiap ayat yang menggambarkan adanya
sifat itu, harus di beri ta’wil. Adapun menurut Maturidiyah Samarkand, sifat jasmani Tuhan
bukanlah Tuhan, tetapi merupakan sesuatu yang tak lain dari tuhan. untuk menghadapi sifat
46
yang ditunjukkan sebagai sifat jasmani ini, al – Maturidi berpendapat bahwa yang
dimaksud dengan tangan, muka, mata dan kaki tidak lain merupakan kekuasaan dari Allah.
Keenam, kehendak mutlak dan keadilan Tuhan. Menurut Maturidiyah Samarkand,
kehendak mutlak tuhan dibatasi oleh keadilan Tuhan. Keadilan Tuhan yang dimaksud
adalah, segala hal yang di lakukan Tuhan adalah bersifat baik, tidak ada yang buruk, serta
tidak mengabaikan kewajibanNya terhadap manusia. Adapun menurut Maturidiyah
Bukhara, kekuasaan tuhan bersifat mutlak. Tuhan bisa berbuat apa saja sesuai
kehendakNya. Tidak boleh ada yang menentang ataupun melarang.65
3. Ajaran Aliran Maturidiyah
a. Sifat – Sifat Allah SWT.
Al – Maturdi berbeda pendapat dengan al – Asy’ariyah yang mengatakan
bahwa sifat – sifat Allah Sama’, Bashar, Kalam, Qodiro, dan seperti yang
tercantum di Al – Qur’an; ‘Alim (Maha Mengetahui), Hakim (Maha Bijaksana),
adalah sifat yang berada luar Dzat – Nya. Menurut al – Maturidiyah, sifat – sifat itu
tidaklah terlepas dari Dzat – Nya, namun tidak juga berdiri pada Dzat – Nya. Al –
Maturidi menerima segala sifat yang disifatkan kepadaNya, namun untuk ayat –
ayat yang mengandung sifat jasmani Allah SWT. seperti tangan, kaki, mata, Ia
berpendapat bahwa ayat ayat tersebut harus di takwil. Dalam hal pemberian sifat
kepada Allah SWT. ini sebenarnya manusia tidak memiliki istilah apa pun untuk
menjelaskan sifat – sifat Tuhan dan Hakikat Tuhan yang bebas dari kemiripan dan
persamaan (perbandingan) dengan makhluk – Nya. Sifat – sifat dan nama – nama
yang disematkan kepada Allah SWT. itu memang sudah merupakan keperluan bagi
manusia. Tuhan mempunyai nama – nama indah dan sangat sia – sia bila itu tidak
mengandung makna. Jika di katakaan bahwa Tuhan itu Bijaksana maka itu berarti
Tuhan memiliki sifat kebijaksanaan.66
b. Melihat Allah SWT.
Al – Maturidi berpendapat bahwa orang – orang mukmin nantinya di alam
akhirat kita dapat melihat Allah. Hal ini merupakan salah satu kenikmatan spiritual
dan intelektual yang paling tinggi dan pahala termulia untuk orang – orang yang
beriman; ini merupakan dasar akidah yang dilandasi al – Qur’an dan Sunnah serta
ditopang oleh akal. Jadi, terimalah begitu tidak usah berbelit.67 Ini berkenaan
dengan firman Allah SWT. di Q.S. al – Qiyamah [75]: 22 – 23
ٌُو ُجوهٌ يَ ْو َم ِئ ٍذ نها ِض َرة
Arti: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri”. Q.S. al –
Qiyamah [75]: 22
65Ilmu Kalam, dari Tauhid Menuju Keadilan : Ilmu Kalam Tematik, Klasik, dan Kontemporer,
hlm. 133
66 Aliran – Aliran Filsafat Islam; Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, Thahawiyah, Zhahiriyyah,
Ihwan al – Shafa, hlm. 116
67 Kitab al – Tawhid, hal. 37 – 41, Surah vi: 103; Surah vii: 143; Surat x: 26; lxxv: 22 - 23
47
ٌِإلَى َربِ َها نَا ِظ َرة
Arti: “Kepada Tuhannya lah mereka melihat” Q.S. al – Qiyamah [75]: 23
c. Pelaku Dosa Besar
Al – Maturidi mengatakan bahwa orang Mukmin akan mendapat balasan di
akhirat sesuai dengan apa yang diusahakannya di dunia. Orang – orang Mukmin
yang disiksa di neraka tidak akan selamanya di sana, jikalau masih ada sedikit
keimanan pada dirinya. Adapun untuk diampuninya suatu dosa, itu merupakan hak
prerogatif Allah SWT. 68
68 Ilmu Kalam, dari Tauhid Menuju Keadilan : Ilmu Kalam Tematik, Klasik, dan Kontemporer,
hlm. 129 – 130
48
MURJI’AH
1 Pengertian Murji’ah
Kata Murji’ah berasal dari suku kata bahasa arab “Raja`a” yang berarti “kembali”, dan
mashdar-nya adalah “al-irja”. Kata “al-irja” memiliki dua pengertian, yaitu “al-ta’khir”
(mengakhirkan) dan “i’tho’ Al-Raja” (memberikan harapan). Pengertian yang disebut pertama
memiliki korelasi dengan kondisi aliran Murji'ah dimana mereka adalah orang-orang yang
mengakhirkan tindakan atau amal dari niat dan akad. Demikian juga pengertian yang disebut
belakangan (i’tho al-Roja) dipandang sesuai dengan paham mereka yang menganggap
“kemaksiatan tidak merusak keimanan seseorang, sebagaimana kepatuhan tidak memberi manfaat
bagi orang kafir ".
Aliran Murji'ah adalah aliran dalam Islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham
dengan Khawarij. ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan Khawarij. sehingga
pengertian Murji'ah adalah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di
pengadilan Allah SWT kelak. Jadi, mereka tidak mengkafirkan seorang muslim yang berdosa
besar, sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah,
sehingga seorang Muslim, sekalipun berdosa besar, dalam kelompok ini tetap diakui sebagai
Muslim dan punya harapan untuk bertobat. Begitu juga, aliran Murji'ah merupakan aliran yang
tidak sepaham dengan Syiah, Sebab, bagi kalangan Murji'ah artinya “mengakhirkan Ali bin Abi
Thalib dari tingkatan pertama ke tingkatan keempat” dilihat dari keutamaan para sahabat yang
empat.69
Jadi kelompok Murji’ah adalah kelompok dalam Islam yang berkeyakinan bahwa kemaksiatan
tidak akan mempengaruhi keimanan seorang Muslim, sebagaimana kekafiran tidak akan
mempengaruhi ketaatan. Ibnu Taimiyyah menukil perkataan Imam Ahmad mengenai Murji’ah
bahwasanya mereka adalah kelompok yang mengatakan amalan (ibadah) bukan bagian dari
keimanan.70
II.2 Sejarah Singkat yang Menjadi Latar Belakang Munculnya Murji’ah
Aliran Murji’ah merupakan aliran kedua yang muncul setelah Khawarij. Aliran ini muncul
sebagai antitesa dari Khawarij yang berbicara masalah seorang mukmin yang melakukan dosa
69 Burhanuddin, Nunu, Ilmu Kalam dari Tauhid Menuju Keadilan (Ilmu Kalam Tematik Klasik,
dan Kontemporer) (Jakarta: Kencana, 2016) hal. 71
70 Syandri, Al Khawarij dan Al Murjiah Sejarah dan Pokok Ajarannya (Makassar: Nukhbatul ‘Ulum (Jurnal
Bidang Kajian Islam), 2017), hal. 57
49