besar. Dalam masalah politik, Murji’ah juga bersikap netral. Mereka tidak memihak kepada salah
satu pihak yang bertikai antara Ali bin Abi Talib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Tetapi menurut
beberapa sumber, Murji’ah merupakan aliran bayangan dari dinasti Mu’awiyah. Aliran Khawarij
yang mengkafirkan Mu’awiyah bin Abi Sufyan mendapat tantangan dari Murji’ah yang tidak
menganggap Mu’awiyah sebagai kafir. Aliran Khawarij yang menganggap Mu’awiyah melakukan
dosa besar dan menjadi kafir, sehingga ia merupakan ahli neraka ditentang oleh Murji’ah yang
menganggap Mu’awiyah tetap mukmin dan ia tidak bisa divonis sebagai ahli neraka, sebab semua
ketentuan dan ketetapan seseorang masuk surga atau neraka berada sepenuhnya di tangan Tuhan.
Hanya Dia yang menentukan segalanya, nanti setelah manusia sudah menjalani hari perhitungan
di akhirat. Manusia tidak mempunyai wewenang apapun menentukan seseorang masuk surga atau
neraka seperti yang diklaim Khawarij.71
Diambil dari buku karya Nunu Baharuddin bahwa latar belakang munculnya Murji'ah itu
adalah berawal dari persoalan politik yang dimulai pada masa pemerintahan Utsman bin Affan dan
Ali bin Abi Tholib, yaitu disaat terjadinya pergolakan di kalangan umat Islam menjadi persoalan
krusial (rumit) yang melahirkan aliran Murji'ah. Dalam hal ini, perjuangan politik untuk merebut
kekuasaan selalu dibingkai dengan ajaran agama. Agama menjadi payung pelindung, baik bagi
kelompok yang menang demi untuk mempertahankan kekuasaannya, maupun kelompok yang
kalah untuk menyerang lawan – lawan politiknya. Darisini dapat dikatakan mazhab aliran kalam
dalam Islam lahir dari konflik politik yang terjadi di kalangan umat Islam sendiri, untuk
kepentingan dan mendukung politik masing – masing kelompok. Tidak jarang ulama dari kedua
kelompok itu pun memproduksi hadits – hadits palsu dan menyampaikan fatwa – fatwa
keberpihakan. Adanya keberpihakan kelompok pada pertentangan tentang Ali bin Ali Thalib,
memunculkan kelompok lainnya yang menentang dan beroposisi terhadapnya. Begitu pula
terdapat orang – orang yang netral, baik karena mereka menganggap perang saudara ini sebagai
fitnah (bencana) lalu mereka berdiam diri, atau mereka bimbang untuk menetapkan haq dan
kebenaran pada kelompok yang ini atau itu.
Golongan Murji’ah pertama kali muncul di Damaskus pada penghujung abad pertama
Hijriyah. Murji’ah pernah mengalami kejayaan yang cukup signifikan pada masa Daulah Umayah,
namun setelah runtuhnya daulah tersebut, golongan Murji’ah ikut redup dan berangsur – angsur
ditelan zaman, hingga kini aliran tersebut sudah tidak terdengar lagi. Namun demikian, sebagian
pahamnya masih ada dan diikuti oleh sebagian orang, sekalipun bertentangan dengan Al – Qur’an
dan Sunnah.
Aliran Murji’ah ini muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam
upaya kafir/mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana hal itu
dilakukan oleh aliran Khawarij. Kelompok Murji’ah muncul setelah adanya pertentangan politik
71 Kiswati, Tsuroya.. Ilmu Kalam (Aliran Sekte, Tokoh Pemikiran, dan Analisa Perbandingan) (Surabaya:
IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2013), hal. 48
50
dalam Islam dengan gaya dan corak tersendiri. Mereka bersikap netral, tidak berkomentar dalam
praktik kafir/mengkafirkan bagi golongan yang bertentangan. Mereka menangguhkan penilaian
terhadap orang – orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim itu di hadapan Tuhan. Karena bagi
mereka Tuhan-lah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mukmin yang
melakukan dosa besar itu dianggap tetap mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi
Muhammad sebagai Rasul-Nya.72
II.3 Paham Murji’ah
Secara umum, paham – paham Murji’ah dapat dilihat dari beberapa pendapatnya, sebagai
berikut:
1. Rukun iman73 dua yaitu: Iman kepada Allah dan iman kepada utusan Allah.
2. Orang yang berbuat dosa besar tetap Mukmin selama ia telah beriman, dan bila
meninggal dunia dalam keadaan berdosa, maka segala ketentuannya tergantung Allah
di akhirat kelak.
3. Perbuatan kemaksiatan tidak berdampak apapun terhadap seseorang bila telah
beriman.74 Selama meyakini dua kalimat syahadat, seorang Muslim yang berdosa besar
tak dihukum kafir. Hukuman terhadap perbuatan manusia ditangguhkan, artinya hanya
Allah yang berhak menjatuhkannya di akhirat. Ini berarti dosa sebesar apapun tidak
dapat mempengaruhi keimanan seseorang dan keimanan tidak dapat pula
mempengaruhi dosa.
4. Perbuatan kebajikan tidak berarti apapun apabila dilakukan di saat kafir, ini berarti
perbuatan-perbuatan “ baik” tidak dapat menghapuskan kekafirannya dan bila telah
muslim tidak juga bermanfaat, karena melakukannya sebelum masuk Islam.
5. Golongan Murji’ah tidak mau mengkafirkan orang yang telah masuk Islam, sekalipun
orang tersebut zalim, berbuat maksiat dan lain – lain, sebab mereka mempunyai
keyakinan bahwa perbuatan dosa sebesar apapun tidak mempengaruhi keimanan
seseorang selama orang tersebut masih Muslim, kecuali bila orang tersebut telah keluar
dari Islam (murtad), maka telah berhukum kafir.
6. Aliran Murji’ah juga menganggap bahwa orang yang lahirnya terlihat atau
menampakkan kekufuran, namun bila batinnya tidak, maka orang tersebut tidak dapat
dihukum kafir, sebab penilaian kafir atau tidaknya seseorang itu tidak dilihat dari segi
72 Burhanuddin, Nunu, Ilmu Kalam dari Tauhid Menuju Keadilan (Ilmu Kalam Tematik Klasik, dan
Kontemporer) (Jakarta: Kencana, 2016) hal. 72-73
73 Pengakuan iman cukup hanya dalam hati. menurut pengikut golongan ini. Seseorang tak dituntut
membuktikan keimanan dalam perbuatan sehari-hari, karena iman berada dalam hati. Tentu ini merupakan sesuatu
yang janggal dan sulit diterima oleh ajaran islam yang benar, karena iman dan amal perbuatan dalam Islam merupakan
satu kesatuan.
74 Adapun yang sangat terkenal dikalangan murji'ah adalah “La Tadhurru ma’a al- iman mu’shiyyah, kama
la tanfa’u ma’a al- kufri tha’ah”. artinya kemaksiatan tidak merusak keimanan seseorang, sebagaimana kepatuhan
tidak memberi manfaat bagi orang kafir.
51
lahirnya, namun bergantung pada batinnya. Sebab ketentuan ada pada i’tiqad seseorang
dan bukan segi lahiriyahnya.
II.4 Murji’ah Ekstrem dan Moderat
Secara umum, aliran Murji’ah terbagi menjadi kelompok moderat (dipelopori Hasan bin
Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan beberapa ahli Hadits) dan
kelompok ekstrem (dipelopori Jaham bin Shofwan).
Pertama, paham Jaham bin Shofwan berpendapat bahwa orang Islam yang percaya pada
Tuhan dan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan tidaklah kafir, sebab iman dan kafir
berada di hati. Yang termasuk kelompok Murji'ah Ektrem, yaitu:
1. Aliran Al-Shalihiyyah
Yakni pengikut Abu Al-Hasan Al-Shailihi. Menurut mereka, seseorang yang percaya kepada
Tuhan lalu percaya pada trinitas dan kemudian meninggal, maka orang ini tetap dianggap mukmin,
tidak menjadi kafir. Mereka juga berpendapat bahwa iman adalah mengetahui Tuhan dan kafir
adalah tidak tahu pada Tuhan. Dalam pemahaman mereka, sembahyang tidaklah merupakan
ibadah kepada Allah, sebab pengertian ibadah adalah iman kepada Allah, yakni mengetahui Tuhan.
Dalam kaitan lain Al-Bagdadi menerangkan pendapat Al-Shalihiyyah bahwa sembahyang, zakat,
puasa, dan haji hanya menggambarkan kepatuhan dan bukan merupakan ibadah kepada Allah. Jadi
pengertian ibadah hanyalah iman.
2. Al-Yunusiyah
Pengikut Yunus bin Aun al-Namiri ini berpendapat bahwa iman adalah mengetahui Allah,
tunduh dan tidak sombong kepada-Nya, serta mencintai Allah dengan hati. Oleh karena itu, iblis
adalah makhluk yang mengetahui Allah, meskipun lantaran kesombongannya dipandang kafir.
Jika ada yang melakukan maksiat, maka kemaksiatan itu tidak akan merusak keimanannya.
Bahkan menurut mereka, orang mukmin yang masuk surga adalah bukan karena kepatuhan dan
amalnya, akan tetapi semata-mata karena keimanannya.
Pendapat ini didukung oleh pengikut Ubeid al-Muktaib (Al-Ubaidiyah), menurutnya dosa
apapun selain dosa syirik diampuni oleh Allah begitupun jika ia mati, perbuatan jahatnya tidak
merugikan yang bersangkutan. Sementara itu dalam pandangan Muqatil bin Sulaiman, perbuatan
baik selama ia kafir tidak akan bermanfaat untuk mengubah kedudukannya.
3. Al-Ghassaniyah
Golongan pengikut Ghassan al-Kufi mengatakan bahwa iman adalah mengetahui Allah dan
Rasul-Nya serta mengikrarkan apa yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya secara global dan
tidak terperinci. Menurut mereka iman adalah laa yazid wa laa yanqus (tidak bertambah dan tidak
berkurang). Kemudian jika seseorang mengatakan "saya tahu Tuhan mewajibkan naik haji di
52
Ka'bah, tetapi saya tidak tahu apakah Ka'bah itu di India atau di tempat lain", maka orang yang
demikian masih dipandang mukmin bukan kafir.
Kedua, Murji'ah Moderat yaitu golongan yang berpendapat bahwa orang yang berdosa
besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka. Bagi kaum Murji'ah, pendosa tidak kekal di
neraka dan mungkin Allah akan mengampuni dosa walaupun mereka mengatakan bahwa pendosa
itu akan disiksa sesuai dengan ukuran tertentu. Itulah sebabnya golongan Mu'tazilah menerapkan
sifat Murji'ah kepada beberapa imam mazhab dalam bidang Fiqih dan Hadis. Tokoh dari golongan
ini antara lain Al-Hasan ibn Muhammad ibn Ali Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan
beberapa ahli Hadits.Imam Abu Hanifah, salah seorang pemimpin mazhab Fikih Arba'ah,
mendefinisikan bahwa iman adalah pengetahuan dan pengakuan tentang Tuhan dan RasulNya
serta segala yang di turunkanNya. Dapat dipahami bahwa iman menurut Abu Hanifah adalah
keimanan yang sama bagi umat Islam tanpa melihat yang melakukan dosa besar atau patuh pada
perintahNya.
Pemahaman tersebut boleh muncul dari pemimpin mazhab fiqih yang berpegang pada
logika (Abu Hanifah). Artinya, suatu perbuatan tidak perlu di bandingkan dengan keimanan.
Hanya saja menishbahkan pendapat beliau tentang "perbuatan atau amal sebagai tidak penting"
adalah tindakan tergesa-gesa dan tidak bijak. Kata al-Syahrastani, bagaimana mungkin seorang
yang dididik beramal seperti Abu Hanifah dalam menganjurkan orang untuk meninggalkan amal?
Ajaran kaum Murji'ah moderat di atas memiliki kesamaan dengan pendapat Ahli Sunnah
wal Jama'ah dalam Islam. Imam Al-Asyari berpendapat, iman adalah pengakuan dalam hati
tentang keesaan Tuhan dan tentang kebenaran RasulNya serta apa yang mereka bawa. Sebagai
cabang dari iman adalah mengucapkan dengan lisan dan mengerjakan rukun-rukun Islam. Bagi
orang yang telah menyatakan imanNya melalui pembenaran lewat hati lalu ia melakukan dosa
besar, lalu ia meninggal tanpa sempat bertaubat, maka nasibnya terletak ditangan Tuhan.
Kemungkinan Tuhan tidak mengampuninya dan akan menyiksanya sesuai dengan dosa-dosanya
setelah itu di masukkan ke dalam surga karena seorang mukmin tidak akan kekal di neraka.
Keidentikan pendapat dari aliran Murji'ah dan Ahlus Sunnah dapat dilihat dari
pendapatnya tentang pembagian iman. Pertama, iman yang membuat orang keluar dari golongan
kafir dan tidak kekal dalam neraka, yaitu keyakinan sesuai syari'at seperti kepada Allah, Rasul,
kitab, qadar dll. Kedua, iman yang mewajibkan adanya keadilan dan melenyapkan nama fasik dari
seseorang serta melepaskannya dari neraka, yaitu iman yang disertai pelaksanaan segala yang
wajib menjauhi segala dosa besar.75
Selanjutnya, Al-Syahrastani juga mengemukakan pandangan berbagai golongan Murji’ah
dalam persoalan iman dan kufur sebagai berikut:
75 Burhanuddin, Nunu, Ilmu Kalam dari Tauhid Menuju Keadilan (Ilmu Kalam Tematik Klasik, dan
Kontemporer) (Jakarta: Kencana, 2016) hal. 74-78
53
1. Al-Yunusiyyah: yang dipelopori oleh Yunus ibn ‘Aun al-Namiri, berpendapat bahwa iman
adalah ma’rifah kepada Allah dengan menaatinya, mencintai dengan sepenuh hati,
meninggalkan takabbur. Menurutnya, iblis termasuk makhluk arif billah, namun ia
dikatakan kafir karena ketakabburannya kepada Allah.
2. Al-Ubaidiyyah: yang dipelopori oleh ‘Ubaid al-Mukta’ib berpendapat bahwa selain
perbuatan syirik akan diampuni Allah. Seorang yang meninggal dunia dalam keadaan
masih punya tauhid tidak akan binasa oleh kejahatan dan dosa besar yang diperbuatnya.
3. Al-Ghassaniyyah: dipelopori oleh Ghassan Al-Kafi berpendapat bahwa iman adalah
pengetahuan (ma’rifah kepada Allah dan Rasul, mengakui dengan lisan akan kebenaran
yang diturunkan oleh Allah, namun secara global tidak perlu secara rinci. Iman menurutnya
bersifat statis, tidak bertambah dan berkurang.
4. Ats-Tsaubaniyyah: dipelopori oleh Abu Tsauban al-Murji’i berpendapat bahwa iman
adalah mengenal dan mengakui (ma’rifah dan ikrar) terhadap Allah dan rasulnya.
Melakukan apa-apa yang tidak pantas menurut akal atau meninggalkan apa yang pantas
menurut akal, tidak disebut iman. Iman lebih dahulu daripada amal.
Harun Nasution membagi Murji’ah secara global ke dalam dua golongan besar, yaitu
golongan Murji’ah Moderat dan golongan Murji’ah Ekstrim. Golongan Murji’ah Moderat
berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal dalam neraka, akan
tetapi akan dihukum dalam neraka sesuai dengan besarnya dosa yang dilakukannya, dan ada
kemungkinan bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya dan oleh karena itu ia tidak akan masuk
neraka sama sekali.Yang termasuk golongan moderat antara lain adalah al-Hasan ibnu
Muuhammad ibn ‘Aly ibn Abi Talib, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli hadist.
Murji'ah Ekstrim mengatakan, bahwa iman hanya pengakuan atau pembenaran dalam hati
(tasdiq bi al-qalb). Artinya, mengakui dengan hati bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan
Muhammad Rasul-Nya. Berangkat dari konsep ini, Murji'ah berpendapat bahwa seseorang tidak
menjadi kafir karena melakukan dosa besar, bahkan mengatakan kekufurannya secara lisan. Oleh
karena itu, jika seseorang telah beriman dalam hatinya, ia tetap dipandang sebagai seorang mukmin
sekalipun menampakkan tingkah laku seperti Yahudi atau Nasrani.76
II.5 Hubungan Makna Iman dan Politik
Dari pemaknaan iman yang digagas kaum Murji'ah yang tidak memasukkan amal sebagai
bagian dari iman dan hanya cukup dengan hati dan lisan saja maka konsep ini berimplikasi kepada
teori politik mereka yang cenderung akomodatif dengan para penguasa. Tidak mengherankan
apabila konsep politik kaum murji'ah sangat disukai oleh para penguasa dan banyak para ulama
yang merapat serta mem-back-up penguasa itu.
76 Zuhri, Achmad Muhibbin, Kajian Aqidah Ilmu Kalam (Surabaya: digilib.uinsby.ac.id, 2013), hal. 49-51
54
Para ulama (baca: peneliti mazhab Kalam) mengistilahkan mazhab Muji’ah sebagai agama
(keyakinan) yang disukai para raja. Menurut madzhab ini para penguasa tetaplah Muslim mereka
waliyyul amr (pemegang urusan kita) yang berhak ditaati walaupun mereka merampas harta dan
mencambuk punggung kita. Umat ini tetap harus berkata “Kami ridha.” Ya, mereka tetap Muslim
walaupun mengambil harta rakyat dan mencambuk punggung.
Fuqoha kerajaan itu lebih melonggarkan lagi kepada mereka dengan tambahan, walaupun
para penguasa melecehkan harga diri dan menumpahkan darah kita, walau mereka berteriak
dengan kata dan perbuatan seperti para pendahulunya sesumbar, “Dan Fir’aun berseru kepada
kaumnya (seraya) berkata, “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan
(bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku, maka apakah kamu tidak melihat(nya)?”
rakyat harus tetap ridha kepada para penguasa itu.
Sekalipun para penguasa tersebut terang-terangan mengatakan ketidakcocokan dengan
hukum Syariah, atau mereka mengangkat pelindung dari musuh-musuh Allah. Walau mereka
berperang dan memberangkatkan tentara untuk berperang di bawah panji-panji Yahudi dan
Nasrani untuk membunuh Muslimin.
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa ada tiga aliran kalam yang memiliki
kaitan erat dengan konsep politik yakni Khawarij, Syi’ah, dan Murji'ah. Adapun pembagiannya
sebagai berikut:
a. Khawarij
1. Kelompok yang melakukan perbuatan makar dengan keluar dari kepemimpinan yang
sah dan kemudian melakukan beberapa kegiatan makar dengan mengatasnamakan Al-
Qur’an.
2. Dengan serampangan menafsirkan Al-Qur’an demi mencapai kepentingan umum.
3. Dipandang memiliki pemahaman keagamaan yang dangkal dan mengedepankan nafsu
Untuk menafsirkan Alquran
b. Syi’ah
1. Kelompok yang menjadi antitesis dari kelompok Khawarij.
2. Pandangan politiknya mengusung kecintaan kepada Ahli Al-Bayt sebagai landasan
epistemologisnya (pijakan dasar) mereka adalah “pembelaan” kepada keluarga Nabi
SAW.
3. Dengan landasan di atas, membangun kerajaan politik dengan berbagai versi seperti
kerajaan politik dengan 12 imam.
c. Murji’ah
1. Menunjukkan keterlibatan politik akomodatif
2. Memaknai iman dengan “tidak memasukkan amal sebagai bagian dari iman dan hanya
cukup dengan hati dan lisan saja”. Konsep Iman seperti ini berimplikasi kepada doktrin
politik mereka yang cenderung akomodatif dengan para penguasa.
55
3. Banyak ulama yang merapat serta membackup penguasa saat itu.77
Dalam bidang politik, doktrin al-irja diimplementasikan dengan sikap politik netral atau
nonblok, yang hampir selalu diekspresikan dengan sikap diam, itulah sebabnya Murjiah dikenal
sebagai the queuietits (kelompok bungkam).78
77 Burhanuddin, Nunu, Ilmu Kalam dari Tauhid Menuju Keadilan (Ilmu Kalam Tematik Klasik, dan
Kontemporer) (Jakarta: Kencana, 2016) hal. 79-80
78Rubini, Khawarij Dan Murji’ah Persfektif Ilmu Kalam (Yogyakarta: Jurnal Komunikasi dan Pendidikan
Islam, Volume 7, Nomor 1, 2018), hal. 110
56
MU’TAZILAH
A. Istilah Muktazilah
Secara harfiah muktazilah berasal dari kata I’tazala yang berarti berpisah atau memisahkan diri
yang berarti menjauh. Secara teknis istilah muktazilah dapat menunjuk pada dua golongan yaitu:
1. Muncul sebagai respon politik murni. Pada asalnya golongan jama’ah ini tumbuh sebagai kaum
netral politik,khusunya dalam artian sikap yang lunak dalam menengahi pertentangan antara
Ali bin Abi Thalib dan lawan lawannya terutama dengan muawiyah,Aisyah dan abdullah ibnu
zubair.
2. Muncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembang dikalangan khawarij dan
muktazilah.79
Munculnya aliran Muktazilah yaitu sebagai reaksi atas pertentangan antara aliran Khawarij
dan aliran Murjiah mengenai soal orang mukmin yang berdoasa besar. Menurut orang Khawarij,
orang mukmin yang berdosa besar tidak dapat dikatakan mukmin lagi, melainkan sudah menjadi
kafir. Sementara itu, kaum Murjiah tetap menganggap orang mukmin yang berdosa itu sebagai
mukmin,bukan kafir. Oleh karena di akhirat nanti tidak ada tempat di antara surga dan neraka, maka
orang itu dimasukkan ke dalam neraka, tetapi siksa’an yang diperolehnya leih ringan dari siksa’an
orang kafir.80
Kelompok muktazilah pada awalnya merupakan gerakan atau sikap politik dan beberapa
sahabat gerah terhadap kehidupan politik umat islam terhadap pemerintahan Ali seperti diketahui
setelah utsman terbunuh Ali diangkat menjadi khalifah namun,pengangkatan ini mendapat protes dari
beberapa sahabat lainnya. Dapat dikatakan bahwa awal mula munculnya muktazilah adalah pada awal
abad ke-2 dengan guru besarnya washil bin atha dan umar bin ubeid pada masa pemerintahan bani
umayah (100 H-125 H).
Penulisan lain mengatakan bahwa kaum Mu‟tazilah adalah kaum yang mengasingkan diri dari
keduniaan. Mereka memakai pakaian yang jelek-jelek, memakai kain-kain yang kasar, tidak mewah
bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup pun, mereka meminta-minta (Darawisy).
Pendapat ini pun sangat lemah karena pada kenyataanya, banyak kaum Mu‟tazilah yang
gagah-gagah, memiliki rumah mewah, menggunakan kendaraan mewah, sesuai kedudukan mereka
dihadapan para Khalifah81.
Pihak luar,selain memberi nama muktazilah,juga memberikan nama nama lain kaum
ahlusunnah waljamaah menamakan mereka dengan kaum mu’attilah yakni golongan yang menafikan
sifat tuhan. Mereka berpendapat bahwa tuhan tidak mempunyai sifat sifat yang berdiri sendiri pada
zat.
79 zuhri acmad muhibin,aqidah ilmu kalam,(surabaya:2013),hal.78.
80 Komarudi,didin,Studi Ilmu Kalam,(Bandung:2015),hal.82
81 Andika,Pemikiran Aliran Politik Islam Antara Syiah dan Muktazilah,(Lampung:2019),Hal.80-81.
57
Selain itu,ada pula yang menjuluki dengan istilah kaum Al-Qadariyyah, karena mereka
menganut faham bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan kemampuan berbuat. Selain
itu ada pula yang menamakan Al-Wa’idiyah,karena mereka mengajarkan paham ahwa ancaman
Tuhan terhadap orang-orang yang tidak ta’at pasti berlaku.
Kaum muktazilah sendiri sebenarnya menamakan golongan mereka dengan sebutan”Ahlu Al-
‘adli wa al-tauhid,yakni golongan yang mempertahankan keadilan dan keesaan Tuhan. Sebutan ini
lebih mereka sukai karena bersumber dari dua ajaran pokok yaitu Al-adlu dan Al-tauhid.82
B. Tokoh-Tokoh Muktazilah
Dalam perkembangannya, aliran Muktazilah tidak hanya berpusat di kota Basrah sebagai
kota kelahirannya, tetapi juga berpusat di kota Bagdad, yang merupakan ibu kota pemerintahan.
Karena itu, jika berbicara tentang tokoh pendukungnya maka kita harus melihatnya dari kedua kota
tersebut.
Tokoh-Tokoh yang ada di Basrah:
1. Washil ibn Atha (80-131 H). Ia dilahirkan di madinah dan kemudian menetap di Basrah. Ia
merupakan tokoh pertama yang melahirkan aliran Muktazilah. Karenanya, ia diberi gelar
kehormatan dengan sebutan Syaikh al-Muktazilah wa Qadimuha, yang berarti pimpinan
sekaligus orang tertua dalam Muktazilah.
2. Abu Huzail Muhammad ibn Huzail ibn Ubaidillah ibn Makhul al-Allaf. Ia lahir di Bashrah
tahun 135 dan wafat tahun 235 H. Ia populer dengan panggilan al-Allaf karena rumahnya dekat
dengan tempat penjualan makanan terenak. Gurunya bernama Usman al-Tawil salah seorang
murid Washil ibn Atha.83
3. Al-Jubba’i
Al-Jubba’I adalah guru Abu Hasan al-Asy’ari, pendiri aliran Asya’riah .
Pendapatnya yang mahsyur adalah mengenai kalam Allah SWT, sifat Allah SWT, kewajiban
manusia, dan daya akal. Mengenai sifat Allah SWT, ia menerangkan bahwa Tuhan tidak
mempunyai sifat ; kalau dikatakan Tuhan berkuasa, berkehendak, dan mengetahui, berarti ia
berkuasa, berkehendak, dan mengetahui melalui esensinya, bukan dengan sifatnya.
4. An-Nazzam
An-Nazzam:pendapatnya yang terpenting adalah mengenai keadilan tuhan. Karena tuhan itu
maha adil, Ia tidak berkuasa untuk berlaku zalim. Dalam hal ini berpendapat lebih jauh dari
gurunya, al-Allaf. Kalau al-Allaf mengatakan bahwa tuhan mustahil berbuat zalim kepada
hamba-Nya, maka an-Nazzam menegaskan bahwa hal itu bukanlah hal yang mustahil, bahkan
tuhan tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat zalim. Ia berpendapat bahwa perbuatan zalim
82 Mawardi,Hatta,Aliran Muktazilah dalam lintasan Sejarah Pemikiran Islam(Banjarmasin:2013),hal.90/
83 Mawardi,Hatta,Aliran Muktazilah dalam lintasan Sejarah Pemikiran Islam(Banjarmasin:2013),hal.92
58
hanya dikerjakan oleh orang yang bodoh dan tidak sempurna, sedangkan tuhan itu jauh dari
keadaan yang demikian.
Tokoh-Tokoh Muktazilah Baghdad:
1. Bisyir ibn al-Mu’tamir (wafat 226 H/840 M).
Ia merupakan pendiri Mu‟tazilah di Bagdad. Ajarannya yang penting menyangkut
pertanggung jawaban perbuatan manusia. Anak kecil baginya tidak dimintai
pertanggungjawaban atas perbuatannya di akhirat kelak karena ia belum “mukallaf. Seorang
yang berdosa besar kemudian bertobat, lalu mengulangi lagi berbuat dosa besar, akan
mendapat siksa ganda, meskipun ia telah bertobat atas dosa besarnya yang terdahulu.
2. Abu al-Husain al-Khayyat (wafat 300 H/912 M).
Ia pemuka yang mengarang buku Al-Intishar yang berisi pembelaan terhadap serangan
ibn Al-Rawandy.
3. Jarullah Abul Qasim Muhammad ibn Umar (467-538 H/1075-1144M).
Ia lebih dikenal dengan panggilan al-Zamakhsyari. Ia lahir di Khawarazm (sebelah selatan
lautan Qazwen), Iran. Ia tokoh yang telah menelorkan karya tulis yang monumental yaitu
Tafsir Al-Kasysyaf.
4. Abul Hasan Abdul Jabbar ibn Ahmad ibn Abdullah al-Hamazani al- Asadi. (325-425 H).
Ia lahir di Hamazan Khurasan dan wafat di Ray Teheran. Ia lebih dikenal dengan sebutan
Al-Qadi Abdul Jabbar. Ia hidup pada masa kemunduran Mu‟tazilah. Kendati demikian ia
tetap berusaha mengembangkan dan menghidupkan paham-paham Mu‟tazilah melalui karya
tulisnya yang sangat banyak. Di antaranya yang cukup populer dan berpengaruh adalah
Syarah Ushul al-Khamsah dan Al-Mughni fi Ahwali Wa al-Tauhid.
C. Lima Prinsip Muktazilah
1. Keesaan Tuhan (At-Tauhid)
Al-Quran menurut Muktazilah kedudukannya sebagai pelengkap dari kekuatan akal
manusia, menurut mereka akal mempunyai kekuatan luar biasa yang memungkinkan
melakukan empat hal penting dalam kehidupan meskipun tidak mendapatkan bimbingan
wahyu, yaitu:
1) akal manusia dapat mengetahui Tuhan,
2) akal manusia bisa berterima kasih kepada Tuhan atas apa yang diberikan Tuhan,
3) akal manusia dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk,
4) dengan akal manusia bisa mengerjakan kebaikan dan menjauhi keburukan.84
Imam Al Asy‟ari dalam kitabnya: Maqolat al Islamiyyin, menyebutkan pengertian
Tauhid menurut Muktazilah sebagai berikut : Allah itu Esa, tidak ada yang menyamai-Nya,
84 Khaitunnas Jamal, Peran Muktazilah dalam Menafsirkan Al-Quran, Jurnal An-Nur, Vol.4 No.2, 2015, hal.
241.
59
bukan jisim (benda) bukan pribadi (syahs), bukan jauhar (substansi), bukan aradl (non
essential property), tidak berlaku padanya masa. Tiada tempat baginya, tiada bisa disifati
dengan sifat-sifat yang ada pada makhluk yang menunjukkan ketidak azaliannya, tiada
batas bagi-Nya, tiada melahirkan dan tiada dilahirkan, tidak dapat dilihat dengan mata
kepala dan tidak bisa digambarkan dengan akal pikiran. Ia Maha mengetahui, Yang
Berkuasa dan Yang Hidup. Hanya Ia sendiri Yang Qodim, tiada yang Qodim selain- Nya,
tiada pembantu bagi-Nya dalam menciptakan.85
Dari pengertian di atas, nampak jelas bahwa pikiran-pikiran Muktazilah mengambil
istilah-istilah filsafat seperti syahs, jauhar, aradl, teladan (contah/idea) dan sebagainya.
Prinsip Tauhid ini dipertahankan dan diberi argumentasi sedemikian rupa, sehingga betul
betul murni. Pemahaman Tauhid di atas juga berimplkasi pada pernyataan kemakhlukan
Al-Quran sebagai konsekuensi peniadaan tajsim dan nafyus shifat karena dianggap
mengotori keesaan Allah. Beberapa contoh pendapat Mu‟tazilah terkait konsep Tauhid
pendapat Muktazilah tentang ayat yang menunjukkan Tuhan punya tangan, tangan di sini
diartikan kekuasaan dan dalam ayat yang menunjukkan Tuhan bertempat dalam Arsy‟
diartikan bahwa Tuhan menguasai dan sebagainya. Alasan Muktazilah menta‟wilkan ayat-
ayat tersebut, karena apabila diartikan secara harfiah tidak masuk akal dan bertentangan
dengan ayat yang lain serta akan mengurangi kesucian Tuhan sendiri. oleh sebab itu di
dalam menjabarkan Tuhan Yang Maha Esa ini mensifatinya dengan sifat-sifat salbiyah
(negatif) seperti tidak berjisim, tidak berarah, tidak berupa, tidak dan sebagainya yang pada
prinsipnya tidak sama dengan sifat makhluk.
Contoh lainnya dalam masalah melihat Tuhan. dikatakan bahwa Tuhan tidak
berjisim, maka juga tidak berarah. Jika Tuhan tidak berarah, maka manusia tidak dapat
melihat-Nya karena setiap sesuatu yang dapat dilihat itu pasti berada pada suatu tempat
atau arah, disamping dibutuhkan beberapa syarat seperti adanya cahaya, warna dan
sebagainya, dan yang demikian itu mustahil bagi Allah.86
2. Keadilan Tuhan (Al-Adl)
Keadilan Tuhan bagi Muktazilah erat hubungannya dengan keesaan Tuhan (At-
Tauhid). Kalau At-Tauhid adalah mensucikan Tuhan dari adanya persamaan dengan
makhluk, maka Al-Adl adalah mensucikan Tuhan dari perbuatan dhalim. Keadilan Tuhan
adalah salah satu sendi pokok setalah keesaan Tuhan dalam pokok ajaran Muktazilah.
Mereka bangga menamakan diri sebagai ahlul ‘adl wat tauhid. Meskipun seluruh kaum
muslimin mengakui bahwa Allah adalah Maha Adil, namun Muktazilah memberi
penekanan khusus pada keadilan Tuhan.
85 Imam Al-Asy‟ari, Maqalatul Islamiyyin wa Ikhtilaful Mushalliin, (Dar Faraznir, 1980, cet.3), hal.156
86 29 Analiansyah, Peran Akal dan Kebebasan Bertindak dalam Filsafat Ketuhanan Muktazilah, Jurnal
Substantia, Vol.15 No.1, April, 2013, hal. 92
60
Ada tiga hal pokok yang menjadi penekanan Muktazilah sehubungan dengan
prinsip keadilan yaitu: Pertama, Allah mengarahkan makhluknya kepada suatu tujuan dan
bahwa Allah menghendaki yang terbaik bagi hamba-Nya. Kedua, Allah tidak menghendaki
keburukan, maka dari itu tidak memerintahkan yang buruk. Ketiga, Allah tidak
menciptakan perbuatan hamba-Nya yang baik maupun yang buruk; manusia itu bebas dan
ia menciptakan perbuatannya dan itu menjadi dasar adanya pahala dan hukuman.
Menurut Muktazilah, Tuhan yang Maha Bijaksana tidak akan bertindak secara
semena-mena, akan tetapi dalam tindakan-Nya itu terkandung kebijaksanaan dan tujuan.
Orang bijak mungkin berbuat untuk kepentingan dirinya atau untuk kepentingan orang lain,
akan tetapi Tuhan mustahil berbuat untuk kepentingan diri-Nya sendiri karena mengejar
kepentingan diri sendiri adalah pertanda kekurangan. Oleh karena itu pastilah Tuhan
berbuat baik untuk kepentingan orang lain dalam hal ini makhluk-Nya. Maka kebaikan dan
kemaslahatan makhluk adalah tujuan yang terkandung dalam perbuatan Tuhan. Demi
keadilan-Nya Allah tidak akan pernah berbuat buruk atau dzalim terhadap makluk-Nya.
Bahkan menurut suatu pandangan Muktazilah, Tuhan wajib melakukan yang terbaik bagi
hamba-Nya.87
Konsekuensi lanjut dari keadilan menurut Muktazilah bahwa manusia menciptakan
perbuatannya. Penegasan ini untuk menjelaskan arti tanggung jawab manusia. Menurut
mereka, tidak adil jika manusia tidak menciptakan perbuatannya sehingga Tuhan
menghukumnya atas sesuatu yang ia tidak berdaya apa apa terhadapnya. Konsekuensi
selanjutnya Muktazilah memberikan penghargaam yang tinggi kepada kemampuan
manusia dan kompetensi akalnya untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Menurut
Muktazilah baik dan buruk itu bersifat dzati (objektif), padanya terdapat suatu kualitas
yang dapat dipatoki untuk menentukan baik dan buruk.88
3. Janji dan Ancaman (Al-Wa’du dan Al-Wa’id)
Janji dan ancaman merupakan kelanjutan dari prinsip keadilan. Mereka yakin
bahwa janji Tuhan akan memberikan pahala berupa syurga dan ancaman akan menjatuhkan
siksa yaitu neraka sebagai yang disebutkan di dalam AlQur‟an, pasti dilaksanakan karena
Tuhan sendiri sudah menjanjikan hal yang demikian itu. Siapa yang berbuat baik akan
dibalas kebaikan dan siapa yang akan berbuat jahat akan dibalas pula dengan kejahatan.
Siapa yang keluar dari dunia penuh dengan ketaatan dan taubat, ia berhak akan pahala dan
mendapatkan tempat di syurga..Sebaliknya siapa yang keluar dari dunia sebelum taubat
dari dosa besar yang pernah dibuatnya, maka ia akan diabadikan di dalam neraka. Namun
87 Drs. H. Achmad Ghalib, M.A, Rekonstruksi Pemikiran Islam, UIN Jakarta Press, Ciputat, hal. 48
88 Syamsul Anwar, Tiga Aliran Epistemologi Hukum Islam, Jurnal Al-Mawarid Edisi Pertama, September-
Desember 1993, hal. 13
61
demikian menurut Muktazilah, siksa yang diterimanya akan lebih ringan jika dibandingkan
dengan yang kafir sama sekali.
4. Posisi antara dua posisi (Al-Manzilah bainal Manzilatain)
Al-Manzilah baina al-Manzilatain merupakan ajaran dasar pertama yang lahir di
kalangan Muktazilah. Ini adalah satu istilah khusus yang digunakan oleh kaum Mu‟tazilah
untuk merespon fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat pada masa
pemerintahan Amirul Mukmini Ali bin Abi Thalib. Yakni ketika terjadi selisih paham
antara kaum khawarij dan Murjiah menyangkut perkara kafir dan mengkafirkan orang
muslim yang kedapatan telah melakukan dosa besar (fasik). Bagi kaum khawarij, mereka
yang fasik itu (para pendosa) bisa digolongkan kedalam orang-orang yang kufur, oleh
karena itu mereka sama saja dengan orang kafir. Atau tegasnya, menurut kaum khawarij
mereka itu adalah kafir. Sebaliknya, menurut kelompok murjiah, sepanjang imannya masih
utuh walaupun seseorang telah melakukan kejahatan dan berdosa besar maka dia masih
tetap dianggap orang muslim. Alasan kelompok ini sederhana, bahwa urusan hati siapa
yang tahu. Dan iman adalah urusan hati. Jadi sepanjang hatinya masih beriman maka dia
adalah tetap orang muslim. Kaum Mu‟tazilah tampil ditengah-tengah mereka dengan
mengatakan bahwa untuk perkara seperti itu maka manzilah wal manziltain- lah dia. Orang
yang melakukan perbuatan dosa besar itu adalah ada diantara dua posisi, yakni antara kafir
dan muslim. Orang yang melakukan perbuatan fasik itu bukanlah termasuk kedalam
golongan kaum muslimin dan bukan pula termasuk kedalam golongan kafir, mereka ada
diantara dua posisi itu. Doktrin inilah yang kemudian melahirkan aliran Mu‟tazilah yang
digagas oleh Washil ibn Atha. Wasil memutuskan bahwa orang yang berbuat dosa besar
selain syirik, tidak mukmin tidak pula kafir, tetapi fasik. Jadi kefasikan adalah suatu hal
yang berdiri sendiri antara iman dan kafir. Tingkatan orang fasik di bawah orang mukmin
dan di atas orang kafir. jalan tengah ini diambilnya dari:
1. Ayat-ayat Quran dan hadis-hadis yang menganjurkan kita mengambil jalan
tengah dalam segala sesuatu.
2. Pikiran-pikiran Aristoteles yang mengatakan bahwa ke-utamaan (fadilah)
ialah jalan tengah antara dua jalan yang berlebih-lebihan.
3. Plato yang mengatakan bahwa ada suatu tempat diantara baik dan buruk.
5. Amar Makruf Nahi Mungkar
Ajaran ini berhubungan dengan pembinaan moral, dimana dalam membina moral
umat, Muktazilah berpendapat bahwa amar ma‟ruf nahi mungkar sebagai suatu bentuk dari
kontrol sosial wajib dijalankan. Kalau dapat cukup dengan seruan, tetapi kalau terpaksa
dengan kekerasan.
Sejarah mencatat, Muktazilah pernah memakai kekerasan dalam menyiarkan
ajarannya yang menyangkut seorang ulama besar, yakni Ahmad ibn Hambal terpaksa
62
masuk penjara karena berbeda pendapatnya mengenai status AlQur‟an, dalam peristiwa
“Mihnah”, semacam ujian monoloyalitas bagi pejabatpejabat negara.89
89 Drs. H. Achmad Ghalib, M.A, Rekonstruksi Pemikiran Islam, UIN Jakarta
Press, Ciputat, hal. 49
63
QADARIYAH
A. Istilah Qodariyah
Dalam bahasa arab qadariyah disebut sebagai qadara yang berarti “kuasa atau
mampu, memuliakan atau mulia, ketentuan atau ukuran dan menyempitkan”.
Sedangkan menurut istilah,”qadariyah adalah kelompok orang yang menolak qadar
(ketetapan tuhan).” Hal tersebut berarti bahwa qadariyah merupakan golongan atau
kumpulan orang yang merasa bebas untuk menentukan tindakan dan nasibnya sendiri.
Berdasarkan Tarikhu al-Fikri al-Falsafi fi al-Islam bahwa yang dimaksud
dengan aliran qodariyah adalah kelompok yang menganut paham kebebasan,
menentukan tindakannya sendiri dan dalam kehendaknya mereka merasa merdeka90.
Sedangkan menurut buku Ilmu Kalam karya Dr. H. Muhammad Hasbi kata
Qadariyah mempunyai dua arti, yaitu menentukan serta kekuatan dan kekuasaan. Dari
arti menentukan itulah yang merujuk pada kata taqdir yaitu hal-hal yang sudah menjadi
ketetapan Allah. Pada arti kedua yaitu kekuatan dan kekuasaan yang kemudian menjadi
hal yang menunjuk pada golongan qodariyah dimana manusia dipandang mampu untuk
menentukan nasibnya sendiri91.
Menurut Harun Nasution bahwa paham dalam paham ini manusia memiliki
kekuatan untuk melakukan apa saja yang dikehendakinya. Paham qadariyah ini
berbeda dari pengertian yang menyatkan bahwa manusia patuh kepada qadar atau
ketentuan Tuhan92.
B. Latar Belakang Munculnya Qodariyah
Terdapat banyak perbedaan mengenai latar belakang munculnya aliran
ini. Menurut beberapa tokoh latar belakang tersebut antara lain:
1. Menurut Harun Nasution, munculnya aliran ini berhubungan dengan
perbuatan manusia. Yang dimaksud dengan perbuatan manusia disini
adalah bahwa mereka berhak menentukan jalan hidupnya secara bebas
dan merdeka.
2. Berdasarkan Ibnu Taimiyah aliran ini ada sebelum aliran jabariyah
muncul, yaitu pada masa terakhir sahabat dimana muncul perbedaan
pendapat tentang qadar.
90 Burhanuddin, Nunu.(2016).Ilmu Kalam dari Tauhid menuju Keadilan. Depok: penerbit PRENADAMEDIA GROUP.
91 Hasbi, Muhammad.(2015).Ilmu Kalam: Memotret Berbagai Aliran Teologi Dalam Islam. Yogyakarta: penerbit
trustmedia publishing.
92 Yusuf, Yunan.(2014). Alam Pikiran Islam Pemikiran Kalam. Jakarta: Penerbit KENCANA.
64
3. Menurut Ibnu Nabatah, terdapat ahli penulis kitab syahral ‘uyun
mengatakan bahwa aliran ini pertama kali dikembangkan oleh orang Irak.
Orang tersebut awalnya beragama Nasrani. Ia masuk islam dan namun
kemudian ia kembali kepada agamanya. Selanjutnya, Ma’bad al-Juhani
dan Ghailan al-Dimasyqiy menganut paham aliran qadariyah yang
dibawa oleh orang asal Irak tersebut.
4. Dari Abu Zahrah, tidak ada rincian tentang perkembangan aliran ini.
Namun pendapat umum yang dapat dijadikan pedoman adalah bahwa
tempat berkembangnya paham aliran ini adalah berasal dari kota Basrah
dan Irak.
5. Para ahli sejarah menyatakan bahwa dari kalangan kaum muslimin orang
yang pertama kali menyampaikan aliran qodariyah pada periode akhir
masa sahabat adalah Ma’bad al-Juhani.93
6. Dalam buku Alam Pemikiran Islam Pemikiran Kalam yang ditulis oleh
Prof. Dr. M. Yunan Yusuf adalah orang yang menyatakan paham
qadariyah ini pertama kali adalah Ma’bad al-Juhani. Namun Ma’bad tidak
sendirian, tetapi terdapat juga tokoh lain yang turut menyebarkan paham
tersebut yaitu bernama Ghailan al-Dimasyqiy94.
C. Relasi Qodariyah dengan Mu’tazilah
Relasi antara paham qadariyah dan mu’tazilah adalah bahwa paham qadariyah
merupakan bagian dari paham mu’tazilah. Hal itu dapat dilihat dari imam yang berasal
dari paham mu’tzilah. Yang membedakan antara paham qadariyah dan mu’tazilah
sendiri adalah paham qadariyah memiliki pembahasan tersendiri yang cukup luas.
Sedangkan relasi persamaan dari kedua paham ini adalah terletak pada inti pembahasan
dimana kedua paham ini sama-sama membahas tentang tindakan manusia yang
menafikkan kekuasaan Tuhan.
Paham mu’tazilah menonjolkan inti dari paham qadariyah yaitu semua yang
dilakukan oleh manusia adalah kehendak dari mereka sendiri, bukan dari Tuhannya,
Didalam hal ini Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang dilakukan oleh
manusia, karena Tuhan hanya menyaksikan apa yang dilakukan oleh manusia dan
kodrat-Nya juga sudah diberikan kepada manusia. Paham qadariyah juga dipandang
sebagai paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, karena inti dari ajaran
qadariyah sendiri berbeda dengan ajaran islam pada saat itu. Selain itu menurut Harun
Nasution paham qadariyah adalah merupakan Majusi dalam tubuh umat Islam95.
93 Burhanuddin, Nunu.(2016).Ilmu Kalam dari Tauhid menuju Keadilan. Depok: penerbit PRENADAMEDIA GROUP.
94 Yusuf, Yunan.(2014). Alam Pikiran Islam Pemikiran Kalam. Jakarta: Penerbit KENCANA.
95 Burhanuddin, Nunu. (2016).Ilmu Kalam dari Tauhid menuju Keadilan. Depok: penerbit PRENADAMEDIA GROUP.
65
D. Paham Qodariyah dan Argumennya
Menurut paham qadariyah, manusia memiliki kewenangan atas tindakan-
tindakan yang dilakukannya. Setiap perbuatan buruk ataupun perbuatan baiknya adalah
pilihan masing-masing manusia. Kesimpulan dari paham ini adalah bahwa setiap
manusia memiliki wewenang atas dirinya sendiri dalam melakukan sesuatu yang
dikehendakinya, untuk setiap perbuatan baik maka akan memperoleh pahala dan bagi
setiap perbuatan buruk akan mendapatkan balasan96.
Dijelaskan juga didalam buku Tarikh al-Firaq al-Islamiyah yang ditulis oleh
Ali Musthafa al-Ghurabi bahwa paham ini mengutamakan kemerdekaan tingkah laku
manusia sendiri. Kemerdekaan yang dilakukan manusia tersebut meliputi perbuatan
baik, dan perbuatan buruk. Masing-masing perbuatan tersebut dipilih atas kemauan dan
kehendak masing-masing manusia. Surga akan menjadi balasan bagi manusia yang
memilih untuk berbuat baik, dan sebaliknya yang melakukan perbuatan buruk akan
mendapat balasan neraka kelak, dimana hal tersebut merupakan akibat dari perbuatan
masing-masing manusia diluar darin kehendak Tuhan97.
Dalam buku karya Dr. Suryan A. Jamrah disebutkan juga bahwa paham ini
menganut pemikiran tentang adanya kekuasaan penuh manusia terhadap tindakannya
sendiri, oleh karena itu disebut dengan paham qadariyah. Qadariyah sendiri juga
mempunyai arti yaitu “kekuasaan” diambil dari kata bahasa arab yaitu qadara. Maka
dari itu paham ini disebut paham yang sepenuhnya berpegang pada kekuasaan yang
dimiliki oleh manusia98.
96 Ibid. Hal 91-92
97 Yusuf, Yunan.(2014). Alam Pikiran Islam Pemikiran Kalam. Jakarta: Penerbit KENCANA.
98 Jamrah, Suryan.(2015).Studi Ilmu Kalam. Jakarta: Penerbit KENCANA.
66
SALAFI
A. Latar belakang salafi
Latar belakang munculnya kelompok Salafi Pada tahun 1980-an banyak gerakan yang
muncul di Indonesia, salah satu kelompok gerakan Islam yang muncul adalah kelompok yang
disebut sebagai gerakan dakwah salafi. Gerakan ini mengusung ide yang disandarkan pada
diskursus salaf. Secara bahasa, kata salaf memiliki arti “telah lalu”, sedangkan secara istilah salaf
adalah “sifat yang dikhususkan kepada para shahabat (generasi awal Islam), dan juga selain
mereka, ikut serta dalam makna ini yaitu orang-orang pada generasi selanjutnya yang mengikuti
mereka” (Jawas 2008:14). Jadi, salafi berarti kata yang merujuk kepada pemikiran keagamaan
yang disandarkan pada orang-orang pada periode awal Islam—yakni saat Nabi masih hidup—yang
merupakan sumber paling otentik sebagai panduan Islam.
Gerakan ini kemudian berkembang pesat terutama sejak lengsernya kepemimpinan
Soeharto. Pertumbuhan salafi menandai kecenderungan baru dalam aktivisme Islam di Indonesia,
meski memperlihatkan identitas yang berbeda dan ambisi untuk kembali kepada apa yang mereka
sebut “Islam murni”, sebagaimana dipraktikan oleh salaf ash-shalih (para pendahulu yang saleh).
Mereka mengusung pendirian yang disebut “kesunyian apolitis” (Hasan 2008:32), yaitu pendirian
yang mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pemurnian tauhid dan beberapa isu lain yang
berkaitan dengan pembaruan praktik keagamaan. Pertumbuhan gerakan ini ditopang oleh keadaan
politik pada era reformasi yang terbuka lebar, sehingga menjamin kebebasan berekpresi bagi
individu maupun kelompok. Pada era ini, organisasi massa dari segala elemen mulai muncul,
termasuk partai politik. Hasan (2008) mencatat fenomena reformasi menjadi momentum lahirnya
organisasiorganisasi massa. Dan kebanyakan di antaranya berbasis Islam, seperti Front Pembela
Islam (FPI), Laskar Jihad, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),
dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Menurut Dady Hidayat, gerakan
dakwah salafi berkembang cukup pesat terutama sejak reformasi bergulir di Indonesia. Keruntuhan
rezimotoriter Soeharto menciptakan kondisi politik yang demokratis, sehingga membuka
kesempatan bagi gerakan dakwah salafi untuk tampil dan muncul ke permukaan. Pada era ini,
perkembangan salafi sangat terlihat mulai dari banyaknya pengajian-pengajian, pesantren-
pesantren, dan buku-buku terbitan yang menyampaikan ide-ide salafi. Era reformasi merupakan
sebuah bagian dari struktur kesempatan politik bagi gerakan dakwah salafi untuk muncul dan
berkembang serta bisa dengan bebas menyebarkan pandangan-pandangannya kepada masyarakat.
Pandanganpandangan yang disebarkan tersebut haruslah dikemas dengan baik. Keterbukaan
sistem politik untuk bisa menyampaikan gagasan saja tidak cukup karena diperlukan adanya
sebuah pengemasan nilai-nilai dan ideologi. Inilah sebuah proses yang dikenal sebagai framing
dalam setiap gerakan sosial. Hal ini bertujuan agar segala pandangan dan ideologi gerakan dakwah
salafi bisa diterima oleh para pengikutnya. Dan framing secara tidak langsung mendorong
partisipasi orang untuk terlibat dalam aktivitas gerakan. Selain itu, gerakan dakwah salafi juga
mendapat dukungan sumber daya (resources) dari negara-negara di Kawasan Teluk, khususnya
Arab Saudi. Hal ini disebabkan salafi tidak bisa dipisahkan dari kampanye global Arab Saudi yang
67
sangat ambisius mendorong wahhabi-sasi umat Islam (Hasan 2008:32). Arab Saudi juga
berkepentingan untuk mengantisipasi meluasnya pengaruh syi’ah pasca Revolusi Iran tahun 1979.
Untuk itu, Arab Saudi melakukan beragam upaya menyebarkan ajaran wahhabi, di antaranya
dengan memberikan bantuan pendidikan dan dana untuk pengembangan kegiatan dakwah salafi di
Indonesia (Rahmat 2005:127).2
Salafi sebagai sebuah gerakan sosial memiliki framing dalam pengemasan ideologinya.
Framing juga sekaligus menjadi penanda bagi aktivitas-aktivitas para aktor gerakan dakwah salafi.
Penulis mencoba menjelaskan tahapan framing dari gerakan dakwah salafi di Indonesia. Dalam
hal diagnosic framing, bagi gerakan dakwah salafi, umat Islam saat ini tengah mengalami
kemunduran setelah masa kejayaan di zaman Nabi dan generasi Sahabat. Bagi mereka, saat ini
orang-orang kafir selalu berkumpul dan mengajak untuk senantiasa membuat konspirasi jahat
terhadap Islam. Orang-orang kafir berusaha menguasai tanah-tanah kaum muslimin yang penuh
dengan kebaikan dan keberkahan. Mereka memakan, mencuri, dan meraup kekayaan kaum
muslimin dengan rakus tanpa ada yang bisa mencegahnya. Hal ini menunjukkan bangsa-bangsa
kafir tidak takut lagi kepada kaum muslimin karena kaum muslimin telah hilang wibawanya dan
sudah terjangkiti penyakit al wahn (Jawas 2008:3-5). Pangkal yang menjadi penyebab runtuhnya
kewibawaan dan hinggapnya penyakit al wahn ialah telah jauhnya umat Islam dari pemahaman
Islam dalam Alquran dan Sunnah yang sejalan dengan pemahaman para Sahabat. Kondisi ini
tercermin dari banyaknya kaum muslimin yang menyimpang dari akidah yang benar, terjerumus
pada aliran-aliran sesat yang membuat mereka terpecahbelah, dan menyimpang dari Sunnah
(melakukan bid’ah). Hal-hal tersebutlah yang menjadi sumber dari masalah-masalah yang dialami
umat Islam atau kemunduran-kemunduran yang menempatkan Islam dalam posisinya yang
terpuruk pada zaman ini. Keadaan inilah yang menjadi titik-tolak semangat dakwah salafi. Setelah
mengartikulasikan kondisi-kondisi kekinian yang dialami oleh umat Islam, gerakan dakwah salafi
merumuskan solusi untuk mengembalikan kejayaan umat. Hal itu dirumuskan dengan sangat
sederhana, yakni kembali kepada AlQuran dan Sunnah yang sesuai dengan pemahaman para
sahabat. Jalan menuju.
“Jalan menuju keselamatan dan keajayaan umat Islam adalah telah dijelaskan di dalam
Alquran dan Sunnah yaitu dengan menauhidkan Allah, menjauhkan syirik, melaksanakan dan
menghidupkan Sunnah dan menjauhkan bid’ah, melaksanakan ketaatan keapada Allah dan Rasul-
Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”
Solusi utama yang diberikan oleh gerakan dakwah salafi adalah menegakkan kalimat
tauhid. Kemuduran dan keterpurukan umat Islam harus dicarikan solusinya. Al-Quran dan Sunnah
Nabi telah memberikan jawaban tersebut. Kaum salafi meyakini bahwa dengan kembali kepada
tauhid yang lurus, maka Islam akan menggapai kejayaan seperti yang pernah dicapai oleh para
pendahulu mereka, yakni umat Islam pada generasi setelah Muhammad: para Sahabat. Bagi salafi,
masa keemasan dan kejayaan Islam adalah generasi para sahabat4. Pada masa tersebut Islam tegak
di muka bumi dan menguasai hampir dua per tiga dunia. Kemakmuran dan keadilan pun tegak
bersama tegaknya harga diri dan kewibawaan. Oleh karena itu, gerakan dakwah salafi
68
menyebutkan pentingnya menyandarkan pemahaman tentang Alquran dan Sunnah kepada
pemahaman para sahabat. Salah satu kunci kejayaan adalah memahami Islam sesuai dengan apa
yang dipahami para Sahabat. Inilah yang disebut sebagai prognostic framing, upaya artikulasi
solusi bagi permasalahan yang ada. William Gamson (1988) menyatakan bahawa bagi sebuah
gerakan sosial, ideologi menyediakan sebuah pandangan dunia yang berfungsi sebagai dasar untuk
menjalankan gerakan. Pandangan dunia inilah yang berperan sebagai kerangka utama (master
frame) gerakan yang sedang dijalankan. Dari master frame inilah gagasan-gagasan lain yang lebih
bersifat khas dan operatif yang berfungsi sebagai pendukung kerangka gerakan (motivational
framing) bagi kerangka utama yang digunakan sebagai agenda gerakan muncul (Gerhards dan
Rucht, 1992).3
B. Pengajaran Yang Terkandung Dalam Gerakan
Salafi Orang-orang salafi dikenal sebagai kelompok yang sangat keras dan tidak mau
berkompromi dalam memegang prinsip doktrin salafi. Mereka tidak segan untuk mengkritik dan
memandang sesat kumpulan lain yang dipandang tidak mengamalkan ajaran agama sesuai dengan
kaedah dasar mereka. Sebutan ahli bid‘ah adalah salah satu tuduhan yang sering dikeluarkan
mereka untuk menyerang kelompok lain. Tuduhan ini tidak hanya ditujukan bagi kumpulan yang
dipandang sebagai kumpulan Islam moderat atau bahkan Islam liberal, tetapi juga kepada beberapa
kelompok Islam fundamentalis muslimin lain seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Al-Qaeda
dan Jama‘ah Islam (JI) (al-Husaini, t.t.; Baabduh, 2005; Zulfidar Akaha, 2006; As-Sewed, 2006)4.
Tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada beberapa gerakan tersebut di atas, mempunyai
hubungan erat dengan sikap eksklusif kelompok salafi dalam memegang dan memandang doktrin
Islam. Kaum salafi mengklaim diri mereka sebagai satu-satunya kelompok ahlussunnah, pengamal
Islam sejati berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul dengan sesuai dengan praktik yang
dilaksanakan oleh Rasulullah dan para Sahabat, serta generasi awal umat Islam (al-salaf al-shalih).
Generasi awal Islam ini yang harus dirujuk sebagai contoh dalam mengamalkan agama.
1. Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Salah satu inti dakwah salafi adalah ajakan kembali
untuk berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Segala amalan keagamaan harus
disandarkan kepada sumber utama ajaran Islam tersebut. Jika tidak demikian, maka amalan
keagamaan tersebut menyimpang dan sesat. Generasi Muslim pertama, Nabi, Sahabat, Tabi‘in dan
Tabi‘at-tabi‘in, adalah contoh ideal bagi mereka. Dalam pandangan mereka, generasi muslim
pertama ini adalah generasi terbaik, Salaf As-Shalih, yang telah mengamalkan agama sesuai
dengan yang digariskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka adalah orang-orang pilihan yang
selalu berserah diri terhadap kebenaran sesuai dengan yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah (al-
Albani, 1995; Al-Husaini, t.t.). Alasan mengapa perlu mencontoh mereka karena merekalah
generasi terbaik umat Islam. Mereka adalah orang-orang yang sentiasa menjalankan agama sesuai
dengan bimbingan Rasulullah, dan Rasulullah sendiri dalam hadits menjamin mereka sebagai
generasi terbaik, demikian agar selamat dari kesesatan. Perlunya mencontoh praktik keagamaan
generasi Salaf As-Shalih ini karena umat Islam telah banyak mempraktikkan ajaran agama yang
telah tercampur dengan berbagai bentuk bid‘ah dan khurafat. Salah satu penyebab utamanya
69
karena umat Islam tidak lagi menjaga amalan keagamaan seperti Salaf As-Shalih. Kembali kepada
ajaran Al-Qur’an dan Sunnah adalah satu-satunya cara untuk memelihara manusia daripada segala
kesilapan dan dosa dalam mengamalkan agama (al-Hilali, 1995). Dalam usahanya mengajak
kembali untuk mencontoh Salaf AsShalih ini, orang-orang salafi menggunakan hadis sebagai
sumber ajaran yang sangat penting. Hadis merupakan dokumentasi dari Sunnah Nabi. Sedangkan
sunnah Nabi merupakan amalan nyata ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu,
Sunnah Nabi harus digunakan sebagai pedoman untuk melaksanakan ajaran Islam sehingga umat
Islam terhindar dari segala amalan yang menyimpang dan menyeleweng. Dengan demikian,
menghidupkan kembali sunnah Nabi sangat penting untuk menjalankan ajaran Islam untuk
menjadi orang-orang sukses (al-firqat an-najiyah) dan mendapat pertolongan (at-ta’ifat al-
mansurah) dalam beragama. Keterikatan yang kuat terhadap Sunnah ini menjadikan orang-orang
salafi menganggap diri mereka sendiri sebagai ahl al-hadis (pengikut hadis Nabi)
yang secara konsisten berpegang teguh kepada sunnah Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk
menguatkan keyakinan kaum salafi sebagai golongan ahlussunnah dan golongan anti bid‘ah,
mereka menisbatkan segala amalan keagamaan mereka kepada ulama-ulama yang mereka anggap
otoritatif, yaitu ulama yang dapat menghubungkan amalan keagamaan mereka kepada amalan
yang dijalankan oleh generasi awal umat Islam sebagai rujukan mereka. 12 Tokoh-tokoh Islam
seperti Muhammad bin Abdul Wahhab alWushobi, Nashiruddin al-Albani, Abdul Aziz bin Baz,
Muhammad bin Shalih al-Uthaimin, Muqbil bin Hadi al-Wadhi‘i adalah sebagian ulama yang oleh
kaum salafi dipandang otoritatif. Dari mereka inilah ajaran keagamaan yang mereka amalkan
dinisbatkan sampai kepada Muhammad bin Abdul Wahhab, peopor gerakan Wahhabi. Muhammad
ibn Abdul Wahhab menyandarkan pemikirannya kepada tokoh-tokoh sebelumnya terutama Ibnu
Qayyim al-Jawziyyah dan gurunya Ibnu Taimiyyah, tokoh utama dari aliran fiqh Hambali. Dengan
cara seperti inilah mereka memelihara tradisi amalan keagamaan yang mereka yakini sebagai
tradisi salaf as-salih dan mereka yakini sesuai dengan ajaran dan amalan yang dilakukan oleh
Rasulullah dan para Sahabatnya.
2. Anti Hizbiyyah Islam puritan merupakan agenda dan tujuan utama daripada orangorang salafi
dalam berdakwah. Untuk mendukung ideologi ini, mereka mendakwahkan beberapa doktrin
seperti kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis dan faham ahlussunnah wal jama’ah. Pemberian
sebutan buruk bagi gerakan lain adalah salah satu cara yang dilakukan oleh gerakan dakwah salafi
ini untuk mendukung keutamaan ideology yang mereka usung. Ahlu bid’ah adalah istilah yang
telah biasa disuarakan oleh kelompok ini untuk menyebut beberapa kelompok gerakan yang tidak
sejalan dengan gagasan dan ideologi puritan mereka. Selain tuduhan ahlu bid‘ah, beberapa gerakan
Islam lain juga dituduh sebagai kumpulan gerakan hizbiyyah. Kata ini dituduhkan kepada
kelompok gerakan Islam politis. Kata hizbiyyah berasal dari akar kata hizb yang berarti kelompok
atau partai. Kaum salafi menggunakan kata tersebut untuk menyebut gerakan-gerakan dakwah
Islam yang menggunakan politik sebagai salah satu media atau bahkan tujuan berdakwah, bukan
pemurnian kembali ajaran agama Islam seperti yang telah dilakukan oleh Muhammad bin Abdul
Wahhab. Abdul Mu‘thi, salah seorang penulis dari kaum salafi, sebagaimana yang dikutip oleh
70
Noorhaidi (2005) mendefinasikan da‘wah hizbiyyah dengan: dakwah politik yang fanatik terhadap
kelompok tertentu dan sama sekali tidak menggunakan manhaj salafi. Oleh karena itu, dakwah
hizbiyah ini sangat bertentangan dengan da‘wah salafi karena (1) tidak sesuai dan menyimpang
dari sabil almu‘minin (jalan orang-orang yang beriman); (2) para pemimpin dakwah hizbiyah
sangat dekat dengan dosa karena berbuat bid‘ah; (3) anggota gerakan memahami konsep al-wala
wa al-bara dengan dasar kesetiaan terhadap pemimpin, bukan loyalitas terhadap Al-Qur’an dan
Sunnah Nabi; dan (4) mengajarkan fanatisme golongan (Abdul Mu‘thi, 1996: 16-19; alHusaini,
t.t.; Noorhaidi, 2005: 343-344).
3. Anti Barat Sikap anti Barat (Amerika dan Eropah) adalah salah satu ciri utama bagi gerakan-
gerakan Islam radikal. Gerakan-gerakan Islam radikal dikenal sebagai kumpulan gerakan Islam
yang mempuyai semangat pengingkaran yang tinggi terhadap nilai-nilai dari Barat. Sebagaimana
Islam radikal lainnya, gerakan dakwah salafi ini juga dikenal sebagai gerakan Islam yang anti
Barat. Mereka tidak mahu mengamalkan segala bentuk ide dan gagasan yang ada kaitan ideologis
dengan Barat, terutama demokrasi. Dalam pandangan mereka, ide-ide Barat merupakan bentuk
nyata dari upaya penyelewengan dan penyimpangan ajaran agama Islam yang sebenar. Ideide
Barat merupakan ide yang berasal dari musuh-musuh Islam, utamanya Yahudi dan Kristen untuk
menghancurkan Islam (Baabduh, 2006). Salah satu gagasan Barat yang mendapat kritik tajam
kaum salafi adalah demokrasi. Mereka tidak mau mengamalkan demokrasi. Dalam sistem
demokrasi pemilihan pemimpin dilakukan oleh setiap individu dalam masyarakat sehingga
pemimpin merupakan wakil suara mayoritas. Menurut mereka, cara seperti ini bertentangan
dengan ajaran Islam. Dalam Islam kekuasaan adalah milik Allah dan pemerintahan dalam Islam
harus diasaskan kepada keyakinan tersebut. Muslim dilarang untuk menyerahkan kekuasaannya
kepada kaum majoritas masyarakat karena tidak ada jaminan kaum mayoritas tidak berbuat
kesalahan dan kesesatan. Mayoritas juga belum tentu berjuang untuk kejayaan Islam (Yunanto,
2003: 86-87; Noorhaidi, 2005: 149). Oleh karena itu, demokrasi bukan jalan yang tepat untuk
memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh umat Islam sekarang. Bahkan system ini
membuka peluang untuk menciptakan kesesatan dan kerusakan (Yunanto, 2003)
C. Tentang Tokoh Yang Menjadi Rujukan
1. Imam Ahmad Bin Hanbal5 Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin
Asad bin Idris bin Abdullah bin Hasan As-Syaibany. Yang masih merupakan keturunan dengan
Rasulullah S.A.W, pada Mazin bin Mu’ad bin ‘Adnan. Nama Hanbal sebetulnya ialah nama
datuknya / kakeknya dan menjadi panggilannya karena dalam rangka menghormati keturunannya.
Beliau dilahirkan di Baghdad pada bulan Robiu’l Awal Tahun 164 H. Ketika beliau masih kecil,
ayahnya meninggal dunia dengan hanya meninggalkan sedikit harta untuk kehidupan keluarganya.
Semenjak kematian ayahnya ibunya tidak menikah lagi. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar ia
bisa memfokuskan perhatian kepada Ahmad sehingga bisatumbuh sebagaimana yang ia harapkan.
Ibu beliau bernama Safiyyah binti Maimunah binti Abdul Malik as Syaibany. Sejak kecil beliau
71
memang menunjukkan minat yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan, hal ini dapat terlihat
dari kebiasaan beliau yakni selalu membawa tinta dan kertas kemana saja beliau pergi, untuk
menulis sesuatu yang dirasakan bermanfaat baginya. Pada saat itu, Baghdad merupakan kota pusat
ilmu pengetahuan, sehingga beliau tidak melewatkan kesempatan tersebut dengan memperdalam
ilmu pengetahuan, beliau memulai dengan belajar menghafal alQuran, kemudian belajar bahasa
Arab, dan hadith. Imam Ahmad bertubuh tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek serta berkulit
sawo matang. Beliau mulai belajar hadith pada tahun 179 H ketika berusia 16 tahun, dan untuk
pertama kalinya beliau belajar hadith pada Abu Yusuf.
Abu Yusuf adalah seorang ahl al-ra’yi dan salah satu sahabat Abu Hanifah. Abu Yusuf
juga seorang hakim agung pada pemerintahan Bani Abbasiyah. Untuk memperdalam ilmu, beliau
pergi ke Basrah untuk beberapa kali, disanalah beliau bertemu dengan Imam Syafi’i, kemudian
beliau pergi menuntut ilmu ke Kufah, Bashrah, Yaman, Syam, Mesir, Makkah dan Madinah.
Diantara guru-guru beliau adalah Sufyan bin Uyainah, Yusuf al-Hasan Bin Ziad, Husyaim, Umair,
Ibnu Humam, Ibnu Abbas, Hammam Bin Kholid, Ismail Bin Aliyyah, Muzaffar Bin Mudrik,
Walid Bin Muslim, Muktamar Bin Sulaiman, Abu Yusuf Al-Qodhi, Yahya Bin Zaidah, Ibrahim
Bin Said, Muhammad Bin Idris As-Syafii, Abdurrozaq Bin Humam dan Musa Bin Thoriq, dari
guru-gurunya inilah beliau belajar Ilmu Fiqh, Hadith, Tafsir, Kalam, Ushul, dan bahasa Arab.
Kondisi kehidupan yang sejak awal sangat sederhana, menjadi salah satu pendorong bagi Ahmad
untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Beliau mempunyai obsesi untuk bisa segera mengurangi
beban sang ibu. Ahmad menikah dan memiliki dua orang putera yang terkenal dalam bidang
hadits, yaitu Shalih dan Abdullah. Kedua puteranya banyak menerima hadits dari ayahnya. Beliau
memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap umat Islam, diantara adalah; Beliau
mengumpulkan dan menyusun hadith secara rapi dan sempurna mengikutkan nama-nama sahabat
Nabi Muhammad SAW yang meriwayatkannya satu persatu dalam kitab Musnadnya. Sifat
ketelitian dan kesungguhan Imam Ahmad bin Hanbal menyelidiki hadith-hadith Nabi Muhammad
SAW dapat membersihkan hadith-hadith dari pemalsuan. Usaha ini juga menjadikan hadith dan
sunah Rasulullah terpelihara dan terhimpun dengan sempurna. Dalam bidang fiqh, beliau
mengemukakan hujjah menolak pendapat yang berdasarkan pemikiran sendiri dan yang tidak
sesuai dengan al Quran dan as sunnah. Aliran ini dikenali dengan nama Madzhab Hambali. Imam
Hanbali pun menekankan semangat anti ar ra’yu (pemikiran atau filsafat dengan landasan logik).
Dalam memandang al Quran dan as sunnah sebagai sumber hukum Islam, Imam Ahmad bin
Hanbal sependapat dengan gurunya yakni Imam Syafi’i, Imam Ahmad memandang as sunnah
memiliki kedudukan yang sama kuat disamping alQuran, sehingga tidak jarang beliau
menyebutkan bahwa sumber hukum Islam itu adalah Nash, tanpa menyebutkan al Quran dahulu
ataupun as sunnah dahulu, tetapi yang dimaksud olehnya sebagai Nash adalah al Quran dan as
sunnah. Dalam penafsiran terhadap al Quran, Imam Ahmad benar-benar mementingkan penafsiran
yang datangnya dari as sunnah. Adapun sikap beliau dapat diklasifikasikan menjadi tiga; (a)
Sesungguhnya dzahir al-Quran tidak mendahulukan as sunnah, (b) Hanya Rosulullah SAW saja
yang berhak untuk menafsirkan al-Quran, maka tidak ada seorangpun yang berhak untuk
menafsirkannya atau mentakwilkannya karena as sunnah telah banyak menafsirkan dan
72
menjelaskan al-Quran, (c) Jika tidak ditemukan penafsiran dari Nabi SAW, (maksudnya adalah as
sunnah), maka beliau memakai penafsiran para sahabat, karena merekalah yang menyaksikan
turunnya al-Quran dan mendengarkan takwilnya dari Rosulullah. Selain itu, para sahabat dinilai
lebih mengetahui as sunnah yang mereka gunakan sebagai penafsir al-Quran. Dalam hal
penerimaan terhadap hadith ahad sebagai sumber hukum Islam, Imam Ahmad bin Hanbal dan
ulama Hanafiyah menerima hadis ahad sebagai sumber hukum tanpa mensyaratkan sesuatupun,
kecuali harus shohih sanadnya sebagaimana Asy-Syafi’i. Bahkan beliau juga menerima hadis
mursal, namun lebih mendahulukan fatwa sahabat daripada hadis doif. Dalam bidang teologi,
pemikiran Ahmad bin Hanbal tentang ayat-ayat mutasyabihat, lebih suka menerapkan pendekatan
lafdzi / tekstual daripada pendekatan ta’wil, terutama yang berkaitan dengan sifat-sifat Tuhan dan
ayat-ayat mutasyabihat. Hal itu terbukti ketika suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal
dihadapkan dengan makna hadith Nuzul (yakni Tuhan turun ke langit dunia), rukyah (orang yang
beriman melihat tuhan di akhirat) dan hadis tentang telapak kaki Tuhan, Ibnu Hanbal menjawab :
نؤمن هبا ونصدقها والكيف وال معىن
“Kita mengimani dan membenarkannya tanpa mencari penjelasan cara dan maknanya”.
Dari pernyataan diatas tampaknya jelas bahwa Imam Ahmad bersikap menyerahkan/
tafwidh makna-makna ayat dan hadith Mutasyabihat kepada Allah dan Rosul-Nya, dan
mensucikan-Nya dari keserupaan dengan makhluk, ia sama sekali tidak mentakwilkan pengertian
lahirnya. Salah satu pemikiran yang dilontarkan adalah tentang status al-Quran yang sampai
menghantarkannya ke penjara. Yang mana apakah al-Quran diciptakan (makhluk) yang karenanya
hadith (baru) ataukah tidak diciptakan yang karenanya qodim? Ibnu hambal tidak mau membahas
lanjut tentang status al-Quran, ia hanya mengatakan bahwa al-Quran tidak diciptakan, hal ini
sejalan dengan pola pikirnya yang menyerahkan ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat Allah
kepada Allah dan Rosul-Nya. Dalam beristinbath hukum, imam Ahmad bin Hanbal menggunakan
metode ahlul hadith.6
2. Ibnu Taimiyah7 Ibnu Taimiyah adalah ulama yang menjadi tauladan gerakan Salafi. Nama
lengkapnya adalah Abu Al Abbas Taqiy Ad Din (Taqiyuddin) Ahmad Ibn Abd AlHalim
sebagaimana disebutkan di dalam kitab nya, Minhaj As Sunnah An Nabawiyah di Naqdl Al Kalam
Al Syi'ah wa Al Qadariyah. Ia Masyhur dipanggil Ibnu Taimiyah al-harrani, yang lahir pada
tanggal 10 robiul awal tahun 661 H. Ibnu Taimiyah sebenarnya adalah nama keluarga, menurut
Qomaruddin Khan, keluarga tersebut tidak diketahui asal muasalnya, apakah berasal dari suku
Arab atau non Arab, besar kemungkinan berasal dari suku Kurdi. hal ini dihubungkan dengan
tipologi orang Kurdi yang terkenal dengan sifat pemberani, memiliki integritas moral yang tinggi
dan kecerdasan yang mengagumkan. Imam Taqiy Al Din Ahmad, yang mahsyur dipanggil dengan
sebutan Ibnu Taimiyah, memiliki sifat dan karakter seperti orang Kurdi. Ayah Ibnu Taimiyah
bernama Abd Al Halim (Syihabuddin) Ibn Abd Al Halim Ibn Abd Al Salam, merupakan tokoh
mazhab Hambali, yang pernah menjabat sebagai khatib di masjid Besar kota damaskus, serta
sebagai seorang direktur dan guru besar (allamah : profesor) hadis di madrasah Dar al-hadits Al
73
sukkariyah, dan di berbagai perguruan tinggi terkemuka di Damaskus. Keluarga Ibnu Taimiyah
memang termasuk keluarga yang terdidik, posisi ini kelak sangat menguntungkannya dalam
mempelajari segala macam bidang ilmu pengetahuan. cerita Samy Al Nasyar, memberi gambaran
jelas tentang kondisi pendidikan keluarga Ibnu Taimiyah. kata Al Nasyar :
“Keluarganya pindah mengungsi ke Syam (Syria) karena penyerbuan tentara tartar... ayah
bundanya bersama beberapa orang saudaranya berangkat ke luar kota di waktu malam hari, dan
mereka mengangkat harta kekayaan pusaka dari nenek moyang mereka--berupa sekumpulan
bukubuku--yang mereka bawa dengan pedati (kereta) yang bukan ditarik oleh hewan tetapi oleh
mereka sendiri dengan jalan gotong royong antara mereka sekeluarga. laki-laki maupun wanita.
bersama-sama memutar roda kereta. sedang musuh mengikuti jejak mereka... dan terbenamlah
kereta ke dalam pasir, sedang musuh hampir dapat menangkap mereka...., maka mereka berdoalah
kepada Allah..., hingga Allah melepaskan mereka dari marabahaya"
Cerita di atas menggambarkan kondisi keluarga Ibnu Taimiyah yang memang akrab
dengan buku dan ilmu pengetahuan. sehingga tidak heran bila kelak dia menjadi ulama besar dan
berpengaruh, karena secara kultural, keluarganya memang tergolong sebagai keluarga yang
terdidik. lingkungan yang kondusif ini, sangat menguntungkan aspek pembinaan pendidikan Ibnu
Taimiyah. Di masa kecilnya, Ibnu Taimiyah tergolong anak yang sangat jenius. sudah hafal Al-
Qur’an dalam usia 7 tahun. Alkisah, pernah ada seorang guru yang membacakan sebuah hadis
yang panjangnya kurang lebih 11 matan hadits ; ternyata hadis yang dibaca cuma satu kali itu
langsung dihafal Ibnu Taimiyah di luar kepala. Kecerdasan yang luar biasa itulah, yang kelak
menjadi modal utama dalam melakukan kritik yang tajam terhadap pendapat pendapat yang tidak
sesuai dengan ajaran Islam. Dengan kecerdasan yang luar biasa itu pula, lahir karya-karyanya yang
mengagumkan dalam berbagai bidang keagamaan, seperti tafsir, Hadits, fiqih, siyasah, ekonomi,
dan lain sebagainya, sehingga oleh Muhammad Amin, Ibnu Taimiyah disebut sebagai seorang
mujtahid muthlaq. K.H Firdaus A.N, juga menyebut Ibnu Taimiyah sebagai mujtahid muthlaq.
kata beliau :
"Ibnu Taimiyah terkenal pembawa suara sebagai juru pengubah (pembaharu : pen) yang tidak
senang melihat keadaan umat Islam terbelenggu dan terkungkung oleh paham paham kuno,
walaupun beliau sendiri lahir dari ajaran Hanbali, Tapi beliau tidak Sudi dikatakan orang
pendukung dan penganut mazhab itu. sebab beliau sendiri telah melepaskan belenggu taqlid, telah
menjadi Imam mujtahid mandiri (Mujtahid muthlaq: pen) mempunyai saham pendirian dalam
batas-batas kitab Alquran dan Sunnah Rasul".
Ibnu Taimiyah menggunakan beberapa pendekatan dalam mengkaji konsep iman. Argument
metodologisnya mendasarkan kepada dalil naqli dan dalil aqliyah serta tahiliyah. pokok-pokok
pegangan Ibnu Taimiyah itu adalah sebagai berikut :
74