ii
KATA PENGANTAR
Buku Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting adalah satu
satunya buku yang membahas dimensi stunting dalam bingkai
pemasaran social. Alasannya sederhana yaitu bahwa stunting
dikenal sebagai aspek yang berkaitan dengan biososio kultural,
sehingga mengatasinya juga bersifat biososio kultural. Beralasan
sangat logis jika salah satu gerbang besar mengatasi stunting
adalah melalui upaya pemasaran social.
Buku ini di susun dengan sistematika tiga komponen
penting yaitu pengantar yang membawa pembaca pada konteks
pemasaran secara umum. Setelah pembaca mulai memahami
konteks pemasaran umum, bagian kedua memasukkan dimensi
stunting dalam bingkai pemasaran social. Target pembaca buku
ini tentu adalah tenaga kesehatan dan praktisi kesehatan
masyarakat secara umum, sehingga mereka memerlukan
penetrasi ataupun adaptasi konsep pemasaran kedalam upaya
pelayanan kesehatan termasuk pencegahan stunting.
iii
Bagian ketiga pembaca diantar untuk menghubungkan
potensi sumberdaya keluarga untuk mengatasi stunting dimana
inilah ending dari pemasaran social.
Luaran primer pemasaran social pencegahan stunting
adalah diyakininya konsepn pencegahan stunting oleh setiap
keluarga sebagai bagian integral fungsi keluarga. Pemerintah
hanya sebagai fasilitator dalam upaya pencegahan stunting.
Buku ini memiliki banyak bagian yang harus
disempurnakan, sehingga menunggu masukan dan kritikan yang
membangun kelengkapan konseptual dan praktis pemasaran
sosiol kepada penulis Sirajuddin, SP, M.Kes, RD
([email protected]).
Ucapan terimakasih kepada Direktur Politeknik Kesehatan
Makassar. Mudah mudahan buku ini menjadi panduan praktisi
gizi masyarakat dan pemangku kepentingan dalam mejalankan
program perbaikan gizi berkelanjutan.
Makassar, 29-11-2020
Sirajuddin, SP, M.Kes
iv
GAMBARAN UMUM RENCA
MATA KULIAH : PEMASA
KODE MATA KULIAH :
BEBAN SKS :
LAHAN PRAKTEK :
RUANG :
NAMA INSTRUKTUR PENILAI :
Kode Aktifitas
penugasan Sangat baik
CPL02/SKD.0 2. Melaku 4
6/RTS.GK/ kan Menerapkan
TGS-12 pemasa konsep promosi
ran untuk
sosial pencegahan
produk stunting di unit
ibu dan anak
ANA PEMBELAJARAN SEMESTER
ARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING
DT1GK101
1 (SATU)
PUSKESMAS
MATERNITAS (IBU HAMIL) ATAU KELAS IBU HAMIL
[1]
Harkat dan peringkat Kurang Sangat
Baik Cukup kurang
3 2 1 0
Menerapkan Menerapkan Menerapkan Tidak ada
konsep promosi konsep promosi konsep promosi
untuk untuk untuk
pencegahan pencegahan pencegahan
stunting di unit stunting di unit stunting di unit
ibu dan anak ibu dan anak ibu dan anak
v
layanan (1) Ada produk
kegizia poster
n stunting
melalui sangat
pendek menarik
atan
konseli (2) Ada Tempat
ng (3) Ada
konseling
stunting
Mengukur Membuat
pengaruh instrumen dan
konseling mengukur
pencegaha pengaruhnya
n stunting mencakup aspek
Pengetahuan
Sikap
Perilaku
(1) Ada (1) Ada (1) Ada Tidak ada
produk produk produk
poster poster poster
stunting, stunting, stunting,
menarik kurang tidak
menarik menarik
(2) Ada
Tempat (2) Ada (2) Ada
Tempat Tempat
(3) Ada
konseling (3) Ada (3) Ada
stunting konseling konseling
, stunting , stunting
Membuat
instrumen dan Membuat Membuat
mengukur instrumen dan instrumen dan
pengaruhnya mengukur mengukur
mencakup pengaruhnya pengaruhnya
aspek mencakup mencakup
Pengetahuan aspek aspek
Sikap Pengetahuan Pengetahuan
Sikap
vi
Dokumen sangat
lengkap
Melakukan Melakukan lobi
lobi kepada kepada
stakeholde stakeholder
r tentang Ada naskah
konseling ringkas
pencegaha Ada berita acara
n stunting Ada pernyataan
komitmen
Melakukan Ada sektor non
advokasi kesehatan dan
kepada lintas program
stekeholde Melakukan
advokasi kepada
stakeholder
Ada naskah
Dokumen Dokumen Dokumen tidak
lengkap
kurang lengkap lengkap
Melakukan lobi Melakukan lobi Melakukan lobi Tidak
kepada kepada kepada ada
stakeholder stakeholder stakeholder
Ada naskah Ada naskah Ada naskah
ringkas ringkas ringkas
Ada berita acara Ada berita acara Ada berita acara
Ada pernyataan Ada pernyataan Ada pernyataan
komitmen komitmen komitmen
Ada lintas
program
Melakukan Melakukan Melakukan Tidak ada
advokasi kepada advokasi kepada advokasi kepada
stakeholder stakeholder stakeholder
Ada naskah Ada naskah Ada naskah
vii
r tentang ringkas
praktek Ada berita acara
layanan Ada pernyataan
kegiatan komitmen
Ada sektor non
Membuat kesehatan dan
kajian lintas program
ilmiah Membuat manu
pengemba skript pemsos
ngan stunting
praktik Abstrak
dietisien Pendahuluan
Metode
Hasil
Pembahas
Simpulan
Referensi
Lampiran
ringkas ringkas ringkas
Ada berita acara Ada berita acara Ada berita acara
Ada pernyataan Ada pernyataan Ada pernyataan
komitmen komitmen komitmen
Ada lintas
program
Membuat manu Membuat manu Membuat manu Tidak ada
skript pemsos skript pemsos skript pemsos
stunting stunting stunting
Abstrak Abstrak Abstrak
Pendahuluan Pendahuluan Pendahuluan
Metode Metode Metode
Hasil Hasil Hasil
Pembahan Pembahasan Pembahasan
Simpulan Simpulan
Referensi
viii
Melakukan Melakukan
presentase presentase dan
dan perbaikan
perbaikan Berita Acara
naskah Naskah
ilmiah Penguasaan
pengemba materi sangat
ngan baik
praktik Penyajian materi
dietisien sangat baik
Argumentasi
tepat
Diperbaiki sesuai
saran panelis
Menyerahk Menyerahkan
an laporan laporan kepada
kasus lahan dan prodi
Melakukan Melakukan Melakukan Tidak
presentase dan presentase dan presentase dan melakuk
perbaikan perbaikan perbaikan an
Berita Acara Berita Acara Berita Acara presenta
Naskah Naskah Naskah se
Penguasaan Penguasaan Penguasaan
materi sangat materi sangat materi sangat Tidak
baik baik baik ada
Penyajian Penyajian Penyajian
materi sangat materi sangat materi sangat
baik baik baik
Argumentasi Argumentasi Argumentasi
tepat tepat tepat
Diperbaiki Diperbaiki tidak
belum sesuai sesuai saran Menyerahkan
saran panelis panelis laporan kepada
Menyerahkan Menyerahkan lahan dan prodi
laporan kepada laporan kepada
lahan dan prodi lahan dan prodi
ix
asuhan gizi Ditandatangani CI
Jumlah exmplar
cukup
Bukti penyerahan
laporan sebelum
pindah rotasi
Nilai akhir mata kuliah = nilai mata ku
(30%) + nilai sikap profesional (30%
Nilai ujian tulis = nilai skor saat ujian
viginate = 25 nomor (point 4 setiap ja
pengampuh mata kuliah
Nilai mata kuliah praktikum dihitung
Ditandatangani Ditandatangani Ditandatangani
CI CI CI
Jumlah exmplar Sebelum pindah Terlambat
cukup rotasi pindah rotasi
Sebelum pindah
rotasi
uliah praktikum (40%) + nilai ujian tulis
tulis mata kuliah dengan jumlah soal
awaban benar). Soal utul ditulis oleh dosen
x
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................... iii
GAMBARAN UMUM RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER ................................. v
MATA KULIAH : PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING .................... v
BAB I .....................................................................................................................1
PENDALUAN..........................................................................................................1
A. Latar Belakang .........................................................................................1
B. Tujuan .......................................................................................................8
C. Manfaat.....................................................................................................9
BAB II ..................................................................................................................11
KONSEP PEMASARAN SOSIAL PENCEHAGAN STUNTING.....................................11
A. Pendahuluan ...........................................................................................11
B. Tujuan .....................................................................................................12
C. Materi .....................................................................................................12
1. Produk Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting......................................12
2. Tempat Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting....................................25
3. Harga Produk Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting ...........................27
4. Promosi Produk Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting........................28
D. EVALUASI ................................................................................................31
BAB III .................................................................................................................34
MENGUKUR PENGARUH PEMASARAN SOSIAL PENCEHAGAN STUNTING..........34
A. Pendahuluan ...........................................................................................34
B. Tujuan .....................................................................................................37
xi
C. Materi .....................................................................................................37
1. Aspek Pengetahuan ................................................................................37
2. Aspek Sikap .............................................................................................40
3. Aspek Perilaku.........................................................................................44
D. Evaluasi ...................................................................................................48
BAB IV .................................................................................................................51
LOBI DALAM PEMASARAN SOSIAL PENCEHAGAN STUNTING .............................51
BAB V ..................................................................................................................61
KAJIAN ILMIAH PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING .........................61
Intervensi Konvergensi dan Indikator .............................................................62
Intervensi Sensitif ...........................................................................................64
Intervensi Gizi Spesifik ....................................................................................66
Stunting dan Kemiskinan.................................................................................67
Stunting dan Fortifikasi ...................................................................................70
Stunting dan Mikronutrien..............................................................................72
Stunting dan Ketimpangan Ekonomi...............................................................74
Stunting dan Dukungan Keuangan Negara......................................................78
Stunting dan Konvergensi Level Desa .............................................................80
Stunting dan Indikator Kinerja Pencegahan Stunting......................................81
Stunting Sulsel 2020.......................................................................................83
xii
Gambar 1 Knowledge Management Cognitive Pyramid .................................... 39
Gambar 2. Pain Assessment Tool ...................................................................... 43
Gambar 3. Visual Analog Scale........................................................................... 44
Gambar 4. Kurva Normal Adopsi........................................................................ 45
Gambar 5. Gelombang Kelima Kesmas .............................................................. 47
Gambar 6. Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting......................... 52
Gambar 7. Mind Map......................................................................................... 55
Gambar 8. Contoh Lobi Stunting........................................................................ 56
Gambar 9. Sosialisasi Stunting ........................................................................... 57
Gambar 10. Konseptual Stunting Indonesia....................................................... 63
Gambar 11. Intervensi Sensitif........................................................................... 65
Gambar 12. Intervensi Spesifik .......................................................................... 66
Gambar 13. Prediksi Status Gizi dengan Kemiskinan ......................................... 68
Gambar 14. Alasan Fortifikasi ........................................................................... 70
Gambar 15. Hypothetical Micronutrient............................................................ 72
Gambar 16 Kemiskinan dan Gini Rasio............................................................... 74
Gambar 17. Trend Kemiskinan dan COVID-19.................................................... 75
Gambar 18. Review Stunting Indonesia ............................................................. 77
Gambar 19. Perlindungan Sosial dan COVID-19................................................. 78
Gambar 20. COVID- 19 dan Pencari Nafkah ....................................................... 79
Gambar 21. Konvergensi Stunting di Desa ......................................................... 80
Gambar 22. Indikator Kinerja Pencegahan Stunting .......................................... 81
Gambar 23. IKPS Sulawesi Selatan 2019 ............................................................ 82
Gambar 24. Stunting Sulsel 2020 ....................................................................... 83
xiii
BAB I
PENDALUAN
A. Latar Belakang
Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World
Health Organization (WHO),1 Indonesia termasuk ke dalam
negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional Asia
Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR). Rata-rata prevalensi
balita stunting di Indonesia tahun 2005-2017 adalah 36,4%.
Determinan faktor masalah gizi adalah multidimensi. 2, 3, 4, 5
Balita Stunting di Indonesia berdasarkan hasil Riset
Kesehatan Dasar Tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia
mencapai 37,2 %. Sumber data lain dari hasil Pemantauan
Status Gizi Tahun 2016, mencapai 27,5 %. Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO) menetapkan ambang batas minimal stunting
adalah < 20%. Hal ini berarti pertumbuhan yang tidak maksimal
dialami oleh sekitar 8,9 juta anak Indonesia, atau 1 dari 3 anak
Indonesia mengalami stunting. Lebih dari 1/3 anak berusia di
bawah 5 tahun di Indonesia tingginya berada di bawah rata-rata.
1
Khusus untuk Provinsi Sulawesi Selatan adalah termasuk dalam
urutan ke empat secara nasional memiliki prevalensi stunting
tertinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) tahun 2013 dan
2018 stunting di Sulsel adalah 40,9% dan 35,7%.6–10
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diatas maka secara
nasional stunting adalah masalah gizi dan kesehatan yang sangat
serius, karena kecenderungannya meningkat sejak lima tahun
terakhir 25,7% menjadi 30,8% antara tahun 2013 hingga 2018.
Segmen populasi paling berisiko dapat dilihat pada proporsi
terjadinya masalah stunting menurut akses kepemilikan (miskin).
Stunting sejak tahun 2013 telah dipastikan terjadi paling besar
proporsinya pada penduduk dengan akses kepemilikan paling
rendah (miskin) sebanyak 48,8% 11.
Faktor penyebab stunting berdasarkan hasil kajian
sistematik review determinan faktor stunting di Indonesia adalah
disebabkan oleh berbagai faktor yaitu Faktor Rumah Tangga dan
Keluarga, Tidak cukupnya makanan pendamping air susu ibu,
Praktek menyusui, Penyakit infeksi, Faktor masyarakat dan
2
faktor sosial. Hasil kajian untuk kelima faktor diatas didasarkan
pada kerangka konsep penyebab stunting yang diterbitkan WHO
Tahun 2013 (Stewar, et.al, 2013). Faktor rumah tangga dan
keluarga mencakup rendahnya kualitas asupan gizi selama pra
konsepsi, kehamilan dan phase menyusui. Selain itu status gizi
ibu selama hamil menentukan status tinggi badan anak yang
dilahirkan. Kehamilan terlalu dini atau usia perkawinan yang
mudah memberikan resiko besar untuk stunting, Tidak cukupnya
makanan pendamping air susu ibu, rendahnya pengetahuan
tentang makanan pendamping, praktek menyusui yang tidak
berkualitas, dukungan sosial masyarakat yang rendah pada
pelayanan kesehatan ibu dan anak, perekonomian, inflasi, gini
rasio, kesehatan lingkungan, dan penyakit infeksi.
Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh stunting
dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak,
kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan
metabolisme dalam tubuh. Dalam jangka panjang akibat buruk
yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan
3
kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh
sehingga mudah sakit, dan resiko tinggi untuk munculnya
penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh
darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua. Kesemuanya
itu akan menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia,
produktivitas, dan daya saing bangsa.
Pencegahan stunting adalah melalui Intervensi Gizi
Spesifik dan sensitif. Intervensi spesifik adalah intervensi yang
ditujukan kepada ibu hamil dan anak dalam 1.000 hari pertama
kehidupan. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh sektor
kesehatan. Intervensi spesifik bersifat jangka pendek, hasilnya
dapat dicatat dalam waktu relatif pendek. Intervensi Gizi Sensitif
adalah Intervensi yang ditujukan melalui berbagai kegiatan
pembangunan di luar sektor kesehatan. Sasarannya adalah
masyarakat umum, tidak khusus untuk sasaran 1.000 Hari
Pertama Kehidupan.12–15
Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran ibu hamil, anak
usia 0-6 bulan, anak usia 7-23 bulan. Intervensi dengan sasaran
4
Ibu Hamil meliputi (1) Memberikan makanan tambahan pada ibu
hamil untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis (2)
Mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat (3) Mengatasi
kekurangan yodium (4) Menanggulangi kecacingan pada ibu
hamil dan (5) Melindungi ibu hamil dari Malaria. Intervensi
dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 0-6 Bulan adalah
(1) Mendorong inisiasi menyusui dini (pemberian ASI
jolong/kolostrum), (2) Mendukung pemberian ASI Eksklusif.
Intervensi dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 7-23
bulan adalah (1) Mendorong penerusan pemberian ASI hingga
usia 23 bulan didampingi oleh pemberian MP-ASI, (2)
Menyediakan obat cacing (3) Menyediakan suplementasi zink
(4) Melakukan fortifikasi zat besi ke dalam makanan (5)
Memberikan perlindungan terhadap malaria (6) Memberikan
imunisasi lengkap dan (7) Melakukan pencegahan dan
pengobatan diare.16–23
Intervensi Gizi Sensitif adalah secara Ideal dilakukan
melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor
5
kesehatan dan berkontribusi pada 70% Intervensi Stunting.
Sasaran dari intervensi gizi spesifik adalah masyarakat secara
umum dan tidak khusus ibu hamil dan balita pada 1.000 Hari
Pertama Kehidupan (HPK). (1) Menyediakan dan Memastikan
Akses pada Air Bersih. (2) Menyediakan dan Memastikan Akses
pada Sanitasi. (3) Melakukan Fortifikasi Bahan Pangan. (4)
Menyediakan Akses kepada Pelayanan Kesehatan dan Keluarga
Berencana (KB). (5) Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN). (6) Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal)
(7) Memberikan Pendidikan Pengasuhan pada Orang tua. (8)
Memberikan Pendidikan Anak Usia Dini Universal. (9)
Memberikan Pendidikan Gizi Masyarakat. (10) Memberikan
Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi, serta Gizi pada
Remaja (11) Menyediakan Bantuan dan Jaminan Sosial bagi
Keluarga Miskin (12) Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Gizi.
Pencegahan stunting jelas merupakan pekerjaan yang
sangat rumit, sehingga dibutuhkan pendekatan sistemik yang
dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu pendekatan
6
sistemik dan berkelanjutan adalah pemasaran social pencegahan
stunting. Pemasaran social adalah salah satu peluang paling baik,
karena berbekal kecerdasan komunikasi massa dan berbagai
bentuk komunikasi lainnya dapat mempengaruhi dan atau
propaganda positif tentang cara mencegah stunting.
Masalah yang dihadapi adalah bahwa leading sector
dalam pencegahan stunting tidak cukup dibekali dasar dasar
pemasaran social. Pemasaran social memang tidak lahir
bersamaan dengan kurikulum pendidikan kesehatan klasik.
Pemasaran social harus diinsert masuk kedalam sistem berfikir
tenaga kesehatan yang telah lama bekerja secara konvensional
mengatasi masalah kesehatan secara umum dengan driver
medis semata mata. Meskipun idealnya masalah kesehatan
haruslah diatasi pada akar penyebabnya.
Masyarakat awam memandang bahwa masalah
kesehatan secara umum haruslah diatasi dengan obat, sehingga
korelasi pendirian rumah sakit adalah positif dengan angka
kesakitan dan angka kematian. Idealnya setiap penyakit bukan
7
dicari obatnya tetapi dicari penyebabnya untuk diatasi. Inilah
konsep pertama pemasaran social yang akan banyak dibahas
pada bagian bagian penting berikutnya di buku ini.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penyusunan Buku Pemasaran Sosial
Pencegahan Stunting adalah untuk menjelaskan konsep dan
implementasi pemasaran social pada upaya pencegahan
stunting
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penyusunan modul ini adalah
untuk memudahkan tenaga gizi desa;
a. Konsep pemasaran dan pemasaran social
b. Produk pemasaran social pencegahan stunting
c. Tempat pemasaran sosioal pencegahan stunting
d. Promosi pemasaran social pencegahan stunting
e. Mengimplementasikan strategi nasional
pencegahan stunting
8
C. Manfaat
Modul ini memberikan manfaat bagi,
berbagai pihak pihak:
a) Praktisi Gizi Masyarakat dan Profesi
Dietisien
Buku ini dapat digunakan untuk melakukan strategi
komunikasi massa dalam upaya peningkatan partisipasi
masyarakat dalam mencegah stunting
b) Tenaga Gizi Desa
Tenaga gizi, memerlukan pedoman praktis dalam
pemberdayaan keluarga mengatasi masalah kesehatan
masyarakat. Pedoman ini dapat digunakan sebagai
pedoman dalam pemberdayaan keluarga mengatasi gizi
dan kesehatan.
c) Pemerintah Desa
Pemerintah desa adalah institusi paling depan
dalam melayani kepentingan peningkatan kesehatan
9
masyarakat desa. Pedoman ini dapat digunakan untuk
menyusun strategi perbaikan gizi masyarakat desa.
d) Praktisi kesehatan masyarakat
Praktisi kesehatan masyarakat, perlu melakukan
kegiatan inovasi dalam peningkatan derajat kesehatan
masyarakat sesuai dengan fokus masalah kesmas.
Pedoman ini bermanfaat, sebagai salah inovasi
pencegahan stunting secara berkelanjutan.
e) Peneliti
Pedoman ini bermanfaat bagi peneliti tema
pencegahan stunting, sebagai salah satu comparator
intervensi randomized control trial, untuk menguji
hipotesis penelitian yang sesuai. Pembuktian ilmiah
diperlukan untuk menetapkan praktek terbaik dalam
pencegahan stunting di Indonesia pada umumnya dan di
Sulawesi Selatan pada khususnya.
10
BAB II
KONSEP PEMASARAN SOSIAL PENCEHAGAN STUNTING
A. Pendahuluan
Pada bagian ini, mahasiswa profesi dietisien melakukan
pendalaman terhadap konsep pemasaran social pencegahan stunting.
Hal ini penting untuk memberikan dasar berfikir yang sistematis dan
terencana tentang bagaimana pemasaran social dilakukan. Pada
bagian awal akan diuraikan tentang komponen pokok pemasaran
social, karena apabila komponen pokok ini dipahami, maka
selanjutnya mahasiswa profesi dietisien akan mampu melakukan
tugasnya sebagai pelaku pemasar produk social dalam pencegahan
stunting. Ada empat komponen yang didalami yaitu produk, price,
place dan promosi.
Secara umum mahasiswa profesi dietisien melakukan kegiatan
dibagian ini adalah dalam bentuk kajian literature dan praktek
membuat produk pemasaran social pencegahan stunting. Pada bagian
akhir dari sesi ini peserta akan diuji kemampuan penyerapannya
terhadap kompetensi pemasaran social pencegahan stunting. Bentuk
11
ujiannya adalah dengan ujian tulis dan naskah akademis pemasaran
social pencegahan stunting.
Pada bagian akhir dari sesi ini peserta menyelesaikan soal soal
latihan secara mandiri, dan setelah menyelesaikan soal latihan dapat
diukur kemampuannya sendiri dengan melihat kunci jawaban yang
disediakan sebelum bagian akhir dari sesi ini. Apabila mahasiswa
masih menemukan banyak kesalahan dalam menjawab maka
sebaiknya membaca ulang naskah hingga tuntas dan paham sebelum
melangkah ke bagian berikutnya.
B. Tujuan
Setelah mahasiswa profesi dietisien selesai mempelajari dan
atau melakukan praktek pemsaran soal pencegahan stunting,
maka diharapkan mampu menjelaskan konsep pemasaran sosial
pencegahan stunting secara tepat.
C. Materi
1. Produk Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting
Produk pemasaran social pencegahan stunting adalah
berbagai bentuk kegiatan yang memiliki daya ungkit paling
besar terhadap upaya pencegahan stunting. Produk ini
12
dibagi dalam dua bentuk yaitu produk barang dan produk
jasa pelayanan social. Produk dalam pemasaran social pada
umumnya adalah produk yang tidak kasat mata (untangible
object). Meskipun produk ini tidak kasat mata namun
kehadirannya dirasakan nyata oleh penerima manfaat.
Contoh sederhana produk pemasaran social adalah konseling
gizi pencegahan stunting. Konseling ini tidak dapat dilihat
sebelum ia mampu dilakukan dalam praktek konseling. Jadi
produk dalam pemasaran social hanya dapat diketahui
setelah melalui prosesnya, karena produknya adalah produk
pelayanan social termasuk didalamnya pelayanan kesehatan.
Underline dari produk ini adalah mampu
membangkitkan hasrat penerima manfaat untuk
menggunakannya. Jika produknya adalah konseling gizi
maka hasrat bagi klien untuk melakukan semua anjuran
selama konseling dianggap sebagai produk yang telah dibeli
atau telah diterima secara sadar tanpa dipaksa bahkan
penerima mafaat dengan suka rela melakukan pemakaian
13
berulang ulang atas produk pemasaran social. Tentu
sebagaiman kaidah kaidah pemasaran modern bahwa setiap
produk haruslah diberi nama, karena ia tidak nyata sebelum
ia diperagakan. Berbeda halnya dengan produk barang,
tanpa diberi nama konsumen memahami apa yang ia lihat
karena ia barang berdimensi atau berwujud. Produk dalam
pemasaran social tidak akan mampu dideskripsikan oleh
penerima mafaat sebelum ia merasakan atau dilibatkan
dalam kegiatan dimaksud. Inilah sebabnya sehingga
kekuatan utama produk pemasaran social adalah pada
dinamika komunikasi saat pelayanan social dilakukan.
Tidak semua bentuk pelayanan kesehatan dapat
dimasukkan kedalam produk pemasaran sosial, kecuali ia
telah memiliki karakter kuat untuk mengubah persepsi
penerima manfaat untuk terus patuh dan tunduk dengan
anjuran anjuran kesehatan secara berkelanjutan. Ini
disebabkan pendekatan persuasi atau propaganda positif
yang menjadi ciri produk social. Jika tujuan yang ingin
14
dicapai untuk pencegahan stunting maka produknya harus
semua upaya pelayanan kesehatan dan gizi yang terbukti
mampu menurunkan stunting.
Berbagai bentuk produk pemasaran social dibagi
menjadi dua bagian :
a. Produk Tangible
b. Produk Untanible
Produk tangible adalah produk yang dapat dilihat
secara kasat mata. Produk ini dapat berupa produk makanan
atau bukan makanan. Khusus produk makanan yang dapat
dikategorikan sebagai produk pemasaran social pencegahan
stunting adalah semua produk makanan yang memiliki
khasiat untuk mencegah stunting melalui serangkaian bukti
bukti penelitian ilmiah. Bentuk produk makanan yang diakui
dunia saat ini yaitu Supplemen Mikronutrien/Makronutrirn
dari berbagai merek (Bubuk Padat Gizi). Banyak produsen
yang mengklaim bahwa produknya dapat menambah tinggi
badan dengan melampirkan bukti bukti hasil studi. Contoh
15
yang telah lama diketahui adalah Taburia, Proten, Kapsul
Kelor, Biskuit MP-ASI, Biskuit Bumil KEK. Bentuk makanan ini
berbeda beda disetiap negara merek dagangannya tetapi
komposisinya mirip dan mengacu pada standar makanan
anak yang berlaku disetiap negara. Cara mengetahuinya
adalah dengan melihat komposisi atau label pada produk.
Tentu saja produk yang banyak beredar adalah
produk yang dihasilkan oleh industri makanan dan minuman
skala besar. Meskipun underline dari produk makanan
sebagai produk pemasaran social pencegahan stunting
adalah makanan dengan komposisi gizi yang memadai untuk
menunjang proses tumbuh kembang khususnya pada
periode 1000 Hari Pertama Kehidupan. Berdasarkan konsep
underline inilah maka produk makanan sebagai produk
pemasaran social pencegahan stunting adalah juga produk
makanan lokal yang memiliki komposisi gizi lengkap dan
cukup sesuai kebutuhan tumbuh kembang anak.
16
Produk untangible adalah semua produk berbentuk
jasa pelayanan yang diberikan kepada setiap konsumen.
Konsumen disini adalah masyarakat yang memanfaatkan
pelayanan kesehatan. Produk untangible adalah bersifat
personal maupun institusional. Produk yang berfita
personal adalah karakter yang melekat pada setiap person
pemberi layanan. Misalnya dalam bidang gizi masyarakat,
seorang ahli gizi yang sedang melayani konsultasi gizi pasien
rawat jalan memiliki kompetensi social dan cara cara
berkomunikasi yang baik dan menyenangkan klien maka
kompetensi social dan kemampuan komunikasinya adalah
produk untangible. Tidak dapat dipegang seperti benda
tetapi dapat dirasakan manfaat dan pengaruhnya selama
proses pelayanan diberikan. Produk untangible ini tidak
banyak dipahami oleh tenaga kesehatan diberbagai pusat
pelayanan sehingga terkesan produk layanan hanyalah
resep, jarum suntik, obat dan berbagai alata bantu layanan
kesehatan lainnya.
17
Produk untangible dan tangible seringkali harus
sebagai dua sisi mata uang yang tidak boleh saling lepas.
Jika ada produk nyata maka harus diikuti oleh bentuk
layanan pemakaian yang ramah dan bersahabat saat ia di
operasionalkan. Salah satu contoh seorang tenaga gizi ingin
melakukan pengukuran tinggi badan pada seorang remaja
putri yang pendek. Secara social remaja yang pendek tidak
ingin diukur tinggi badannya di depan umum, meskipun
dengan alat ukur yang canggih sekalipun. Pada posisi seperti
ini ahli gizi sudah memiliki alat antropometri berupa
microtoice digital, namun masih harus didukung oleh
kemampuan untangible yaitu persuasi yang cukup kepada
remaja putri untuk dapat diukur tinggi badannya tentu
dengan cara yang tepat dan waktu yang tepat. Kemampuan
komunikasi bukanlah benda bewujud nyata tetapi abstrak
dan tidak dapat dilakukan tanpa kemampuan khusus yang
dilatih.
18
Produk untangible inilah yang menjadi kekuatan
dalam pemasaran social, karena pemasaran social tentu
tidak ingin memaksakan kehendak untuk diikuti tetapi
membuat setiap orang merasa butuh bahwa merekalah yang
paling membutuhkan produk itu. Mereka akan mencari
produk untangible secara aktif bukan pasif. Ini memerlukan
upaya pemasaran social yang handal.
Bagaimana memastikan bahwa sebuah produk
pemasaran sosial sudah handal? Jika pengadopsi atau
pemakainya sudah mampu menembus >30% populasi target.
Apa dasarnya angka 30%? Ini didasarkan pada kurva adopsi
ide baru. Bahwa setiap ide baru diawalnya hanya akan
diadopsi oleh < 30% populasi namun setelah ia dapat
bertahan dan tetap bertahan maka ia akan mampu
menembus > 30% populasi setelah waktu minimal 3 bulan.
Tentu ini bukanlah angka pasti tetapi angka yang dapat diraih
dan diestimasi sesuai dengan besarnya space pemasaran
yang dilakukan.
19
Berikut Berbagai Contoh Produk Pemasaran Sosial
Pencegahan Stunting
No Gambar Sumber/Link
Tangible
http://www.p2ptm.kemkes
1 .go.id/kegiatan-
p2ptm/subdit-penyakit-
diabetes-melitus-dan-
gangguan-
metabolik/cegah-stunting-
dengan-perbaikan-pola-
makan-pola-asuh-dan-
sanitasi
https://health.grid.id/read
/352024440/gridhealth-
2 talk-faktor-utama-angka-
stunting-masih-tinggi-di-
indonesia?page=all
http://indonesiabaik.id/eb
3 ook/bersama-perangi-
stunting
20
https://katadata.co.id/aria
yudhistira/infografik/5e9a5
4 60cb6376/1-dari-3-balita-
indonesia-derita-stunting
Berdasarkan gambar diatas agar dapat dipahami bahwa produk
pemasaran social tidak hanya bahan yang dapat dimakan, tetapi yang
lebih penting produk yang dapat menyebabkan setiap orang
mengalami proses belajar untuk mengambil keputusan terkait dengan
stunting. Jika awalnya sasaran memandang bahwa stunting bukan
masalah kesehatan maka sebaiknya ditampilkan pesan pesan yang
dapat merubah persepsi sasaran yang salah. Inilah kunci pemasaran
social. Perhatikan gambar berikut ini. Gambar berikut ini ditujukan
untuk merubah persepsi klien bahwa stunting bukan masalah
kesehatan, berubah menjadi persepsi masalah kesehatan.
21
No Gambar Sumber/Link
Tangible
https://twitter.com/datago
1 id/status/10898590002863
80032/photo/1
http://www.p2ptm.kemkes
.go.id/artikel-
2 sehat/stunting-ancam-
bonus-demografi
http://gizi.unida.gontor.ac.
id/2019/09/13/ibu-cerdas-
3 sadar-gizi-cegah-stunting-
sejak-dini/
22
Berdasarkan gambar pada table diatas jelas diketahui bahwa
produk pemasaran social sangat luas namun tetap focus pada issu
stunting. Kalau produk produk makanan itu sudah jelas dapat dengan
mudah dipahami dan produk makanan biasanya jalur pemasarannya
bukan pada pemasaran social tetapi pemasarannya melalui jalur
pemasaran komersial melalui iklan oleh produsen. Perbedaan inilah
yang juga menjadi perhatian penting bahwa pemasaran social
biasanya di endorse oleh lembaga social atau lembaga pemerintah
yang tidak sedang berdagang dengan rakyatnya.
Pemasaran social seringkali tidak dirasakan sebagai produk
oleh penerima manfaat kecuali oleh actor dibalik kegiatan pemasaran
social dimaksud. Salah satu contoh klasik pemasaran social yang
sukses di Indonesia adalah Dua Anak Cukup oleh Badan Koordinasi
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Dua anak cukup sebagai
produk pemasaran social keluarga berencana sukses berkelanjutan.
Bukti nyata di berbagai daerah jumlah murid sekolah dasar jauh
berkurang dibanding awal periode kemerdekaan RI.
Khusus untuk kasus pencegahan stunting salah satu produk
social yang menjadi ikon adalah gizi tinggi prestasi.
23
https://twitter.com/gizi
4 tinggi
Ini adalah salah satu contoh produk pemasaran social
pencegahan stunting. Hanya saja, saat ini di Indonesia tidak satu
pesan yang unggul yang menjadi bahasa umum dikalangan
masyarakat, seperti hanya pesan Empat Sehat Lima Sempurna.
http://infonutrisidank
esehatan.blogspot.co
5 m/2013/10/apa-itu-4-
sehat-5-
sempurna.html
Sebagai konsep lama, tentu 4 sehat 5 Sempurna tidak dapat
dipakai lagi saat ini karena berbagai alasan. Namun pada konteks
produk pemasaran social produk untangible ini masih merajalela saat
ini dialam bawah sadar penduduk Indonesia. Inilah keunikan dari
produk pemasaran social yang berhasil ditanamkan pada alam fikiran
bawah sadar. Tentu ini tidaklah mudah tetapi melalui cara cara yang
24
sangat terstruktur dan terukur. Pesan singkat dan mudah dipahami
menyebabkan pesan social ini memiliki kemampuan penetrasi yang
kuat. Selain itu inheren kata 45 di dalamnya yang menunjuk pada
ingatan bangsa kita pada tahun kemerdekaan. Konsep driving
diterapkan dengan baik pada semboyang empat sehat lima sempurna.
Sekarang bagaimana dengan produk pemasaran social
pencegahan stunting? Hingga saat ini belum ada upaya yang
sistematis menetapkan semboyang atau pesan singkat yang dipahami
dan menyatu dengan komunitas. Gizi tinggi prestasi memang kalimat
yang singkat tetapi ini belum membumi pada setiap peristiwa social.
Butuh usaha yang terus menerus dilakukan oleh pemerintah dan
seluruh masyarakat untuk mengucapkan berulang ulang slogan gizi
tinggi prestasi.
2. Tempat Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting
Tempat (Place) dalam pemasaran adalah lokasi dimana produk
dipajang. Pada pemasaran social konsep yang sama juga demikian.
Tempat pada produk pemasaran social melekat pada peristiwa di
ruang dan waktu yang berbeda. Peristiwa yang melibatkan pada
tokoh, pemimpin, public figure disitulah produk social itu dipajang. Ini
artinya slogan pencegahan stunting harus diucapkan berulang ulang
25
oleh para tokoh, pemimpin dan public figure setiap ia berbicara
dengan pengikutnya ataupun penggemaranya. Jadi tempat produk
pemasaran social lebih terkait dengan personal yang memiliki
pengaruh kuat sebagai kelompok referensi.
Tidak semua sosok dapat ditempati sebagai wadah atau driver
produk pemasaran social tetapi hanya sosok atau peristiwa yang
menyita bahnya pemirsa . Segmentasi sasaran sangat dibutuhkan
untuk merumuskan tempat memajang produk pemasaran sosial ini.
Perhatikan gambar 6 di bawah ini. Ini adalah contoh tempat produk
pemasaran social pencegahan stunting di Indonesia, dimana Bapak
Presiden dan Bank Dunia menjadi driver (tempat) issu stunting dishare
ke public.
https://nasional.tempo
.co/read/1103520/lawa
6 n-stunting-jokowi-dan-
presiden-bank-dunia-
blusukan-di-bogor
26
3. Harga Produk Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting
Harga produk pemasaran social dibagi menjadi dua yaitu harga
nyata dan harga social. Harnya nyata adalah berhubungan dengan
banyaknya biaya yang dikeluarkan untuk mempromosikan satu
produk pemasaran social. Harga ini sama dengan menghitung biaya
produksi dan margine keuntungan. Namun margin keuntungan dalam
harga pemasaran social tidaklah keuntungan berlipat ganda tetapi
keuntungan pada sisi neraca anggaran berkelanjutan.
Jika kita membutuhkan driver produk pemasaran social
pencegahan stunting pada public figure pemerintah maka harganya
tidaklah semahal kalau kita menggunakan public figure swasta yang
tersohor karena prestasi pribadinya. Pemain sepak bola, pemaian bulu
tangkis dan berbagai pemain atau atlet berprestasi lainnya juga dapat
menjadi mitra sebagai tempat memasang produk sekaligus
menghitung besarnya biaya yang dibutuhkan sebagai imbalan timbal
balik antara pemasaran dengan pihak yang diajak kerjasama.
Tidak ada standar harga yang baku untuk pemasaran produk
social, karena ini biasanya berkaitan dengan program kemanusiaan
yang dilakukan oleh lembaga negara atau lembaga social atas alasan
kemanusiaan. Salah satu contohnya produk social pencegahan
27
stunting, tidak ada lembaga komersil yang mau beinvestasi dibidang
ini karena manfaat langsungnya tidak akan mereka dapatkan secara
langsung. Namun sebagai bangsa yang ingin rakyatnya sejahtera
maka Negara haruslah membiaya produk social pencegahan stunting
melalui pembiayaan kampanye pemasaran social di berbagai media.
4. Promosi Produk Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting
Promosi secara sederhana dimaknai bujukan halus dan
memikat hati. Promotor adalah orang yang melakukan promosi.
Promotor jelas merupakan orang yang memahami karakter
produk yang akan dipromosikan. Pada kasus produk komersial
sangat sederhana dan mudah memahami konteks produk karena
dapat lihat dengan mata diraba dengan tangan dan dipelajari
karakternya melalui buku katalog produk. Buku katalog produk
sifatnya statis selama tidak ada b varian baru. Jadi promotor
cukup memahami kelebihan dan keunggulan produk yang statis
maka selesai tugasnya sebagai promotor produk. Kemampuan
berikutnya adalah kemampuan membujuk dan atau memikat
hati calon pembeli.
28
Promosi pada produk social seperti pencegahan stunting
relative lebih sulit karena sifatnya dinamis. Promotor harus
mengikuti dinamika social yang membungkus issu pokoknya
seperti issu stunting. Stunting berbeda latar social berbeda
persepsi komunitas terhadapnya. Ini membutuhkan
pengetahuan sosiologi dan disiplin ilmu ilmu lain yang terkait
dengan manusia dan alam sekitarnya.
Berbagai bukti keberhasilan pemasaran social dalam
pelayanan kesehatan masyarakat adalah sebagai berikut;
Aya Pastrana (2020) menyatakan bahwa pemasaran social
sudah dapat digunakan untuk gerakan pencegahan penyakit
degenerative. Antara tahun 1971-2017 insiden penyakit ini sangat
meningkat dengan tajam sehingga memaksa semua pihak untuk
memilih satu gerakan massal dalam pemasaran social pencegahan
penyakit ini. Ini adalah salah satu contoh pemasaran social digunakan
pada pencegahan penyakit termasuk stunting. Pendekatan ini telah
tercatat sebagai upaya yang sukses melalui upaya pendidikan
kesehatan dan penigkatan kapasitas kepada semua pihak terkait
dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular.
29
Goethals L (2020) melaporkan bahwa penekanan angka
kesakitan pada kelompok lansia > 65 tahun juga sukses dengan
pendekatan social marketing. Bentuk kegiatan yang dipromosikan
adalah promosi aktifitas fisik antara tahun 2008 – 2019. Mah CL et al
(2019) melakukan studi social marketing pada kepatuhan diet melalui
lingkungan makan yang baik. Konsumen yang mengunjungi tempat
makan diedukasi tentang pentingnya makan sehat dan ini juga
berhasil setelah dilaporkan dari berbagai laporan hasil studi. Noy S
(2019) melakukan pemasaran social peningkatan konsumsi sayur dan
buah dan hasilnya disimpulkan bahwa pemasaran social konsumsi
sayur dan buah berhasil setelah dilakukan sekian lama dengan
melibatkan berbagai pemangku kepentingan khususnya dilaporkan
dari semua studi di negara berkembang.
Berdasarkan berbagai bukti diatas maka upaya pencegahan
stunting sangat beralasan untuk diatasi dengan pendekatan
pemasaran social pencegahan stunting. Indonesia butuh akselerasi
percepatan penurunan persentase stunting, untuk memastikan bahwa
generasi bangsa unggul dan mampu berkompetisi dengan berbagai
bangsa di dunia.
30
D. EVALUASI
Pilihlah jawaban yang paling benar
1. Produk pemasaran social pencegahan stunting adalah
berbagai bentuk kegiatan yang memiliki daya ungkit paling
besar terhadap upaya pencegahan stunting. Ada berapa jenis
produk dimaksu dalam pemasaran social?
A. Satu
B. Dua
C. Tiga
D. Empat
E. Lima
2. Produk dalam pemasaran social pada umumnya adalah
produk yang tidak kasat mata (untangible object). Manakah
diantara produk dimaksud?
A. Konseling
B. Kapsul Kelor
C. PMT Bumil KEK
D. Taburia
31