The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini adalah buku pertama yang membahas pemasaran sosial pencegahan stunting. Berguna untuk memahami konteks dan mekanisme pemasaran sosial untuk meningkatkan partisipasi masyarakat pada upaya pencegahan stunting

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by SIRAJUDDIN SIRA, 2020-12-05 05:44:31

Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting

Buku ini adalah buku pertama yang membahas pemasaran sosial pencegahan stunting. Berguna untuk memahami konteks dan mekanisme pemasaran sosial untuk meningkatkan partisipasi masyarakat pada upaya pencegahan stunting

E. Cakram Konseling
3. Tidak semua bentuk pelayanan kesehatan dapat dimasukkan

kedalam produk pemasaran social. Apa syaratnya produk
tersebut agar dapat dimasukkan dalam produk pemasaran
social?
A. Karakter kuat
B. Produknya nyata
C. Dapat diperjualbelikan
D. Dapat ditawar
E. Ada sponsor
4. Tempat (Place) dalam pemasaran social adalah lokasi dimana
produk dipajang, melekat pada peristiwa di ruang dan waktu yang
berbeda. Dimanakah tempat dimaksud?
A. Ruang
B. Waktu
C. Peristiwa
D. Figure
E. Tokoh

32

5. Tidak semua sosok dapat ditempati sebagai wadah atau driver
produk pemasaran social tetapi hanya sosok atau peristiwa yang
menyita bahnya pemirsa. Apakah istilah yang sepadan dengan
konteks diatas?
A. Pasar
B. Bauran
C. Segmentasi
D. Afiliasi
E. vehicle

33

BAB III
MENGUKUR PENGARUH PEMASARAN SOSIAL PENCEHAGAN

STUNTING
A. Pendahuluan

Pertanyaan kritis yang harus dijawab adalah apakah
pemasaran social pencegahan stunting dapat diukur efeknya?
Jawaban atas pertanyaan ini memerlukan penjelasan yang
panjang dan sistematis. Pertama harus dipahami bahwa cara
kerja pemasaran social berbeda dengan pemasaran komersil
karena siftanya yang abstrak. Sifat ini juga berkaitan dengan
sulitnya mengukur dampak perubahan yang ditimbulkannya
karena ranahnya adalah pada alam persepsi dan sikap
pengadopsi.

Kedua bahwa dampak yang dapat diukur secara kuantitas
adalah ada pada perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku
target sasaran. Pada tahap awal akan melakukan penetrasi
pada sisi pengetahuan, kemudian sikap dan terakhir pada
perubahan perilaku. Berdasarkan cara kerja yang demikian jelas

34

bahwa mengukur perubahan akibat pemasaran social adalah
harus menggunakan pendekatan adopsi inovasi. Salah satu
konsep yang paling popular adalah AIETA.

Awarness adalah sadar bahwa sesuatu yang baru telah
ada, namun belum ada minat untuk memperhatikannya apalagi
memakai atau menganutnya. Interest adalah rasa tertarik bahwa
sesuatu yang baru lebih baik daripada yang sudah ada. Ini
muncul setelah berulang kali terpapar informasi produk atau
karena memang produk lama tidak lagi mampu menjalankan
fungsinya dengan baik.

Evaluasi adalah seseorang mulai menilai kelemahan dan
kelebihan produk baru dibanding produk lama. Perhatikan
bahwa dalam konteks ini produk kita adalah produk social
pencegahan stunting. Tentu tidak mudah memperkenalkan
slogan gizi tinggi prestasi.

Trial adalah target sasaran sudah mulai menerima
konsep baru dalam tahap uji coba. Pada konteks produk social
maksudnya sasaran sudah mulai sepakat dan sepemahaman

35

bahwa konsep baru tentang stunting adalah benar apa adanya
dan perlu di dukung dan disebarluaskan kepada masyarakat luas
pada berbagai kesempatan. Sampai pada batas batas tertentu
keyakinan ini dapat membaik atau bahkan sebaliknya apabila
pemasar gagal membuktikannya.

Adopsi adalah target pemasar sudah secara sadar tanpa
paksaan melakukan dan atau menerima ide baru. Jarak antara
saat pertama mengenal konsep (awerness) hingga adopsi adalah
berbeda beda setiap orang dan atau setiap kelompok sasaran.
Semakin baik tingkat pemahaman dan kesepahaman antara ide
baru dengan latar social pemakai sasaran maka akan semakin
dekat jarak antara tahap awal hingga tahap adopsi. Apapun
alasannya tidak ada adopsi yang dapat dicapai dalam waktu
singkat harian, dan mingguan atau bahkan bulanan dan tahunan.

Sekarang kita kembali ke focus utama adalah bagaimana
mengukur efek pemasaran social pada pencegahan stunting?.
Efek itu diukur pada perubahan dimenasi pengetahuan, sikap
dan perilaku. Skala yang digunakan adalah disesuaikan pada

36

komponennya. Jika pengetahuan maka skala ukurnya adalah
persentase pengetahuan, jika sikap maka skala pengukurannya
adalah skala sikap sementara jika perilaku maka juga
menggunakan skala prilaku. Semua ini akan dibahas pada bagian
berikutnya.
B. Tujuan

Tujuan materi ini adalah agar mahasiswa atau pembaca
memahami cara mengukur pengaruh pemasaran social dengan
benar.
C. Materi

1. Aspek Pengetahuan
Mengukur pengetahuan adalah melalui seperangkat

instrument pengetahuan yang disusun secara sistematis sesuai
dengan variabel yang ingin diketahui. Bentuknya tertulis,
ataupun lisan. Ini sama seperti bentuk berbagai soal dalam
rangkaian test.

Perkembangan terbaru tentang dimensi pengetahuan
meliputi dimensi data, informasi, pengetahuan dan wisdom.

37

Data adalah sekumpulan fakta yang digunakan untuk
menggambarkan sesuatu. Data selalu berbentuk jamak yang
artinya selalu muncul berulang kali sehingga dapat diamati.
Informasi adalah sekumpulan keterangan yang berkaitan
dengan data dalam bentuk ukuran kecenderungan. Sekumpulan
keterangan dari data yang memiliki arti dan dapat dipahami. Jika
sekumpulan data tidak diolah maka tidak dapat memberikan
informasi yang penting. Tidak semua kumpulan data dapat
memberikan informasi kecuali ia telah diolah dengan baik dalam
bentuk table, gambar dan grafik atau info grafis lainnya.
Pengetahuan adalah informasi yang saling berhubungan satu
sama lain membentuk narasi yang diketahui oleh seseorang.
Setiap orang akan memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda
tergantung seberapa sering ia terpapar data dan informasi.

38

Gambar 1 Knowledge Management Cognitive Pyramid
Sumber : http://selfmotivator.web.id/2017/apa-itu-data-

information-knowledge-dan-wisdom.html
Wisdom adalah kebijaksanaan, maksudnya adalah
semakin tinggi pengetahuan seseorang maka ia akan semakin
bijaksana. Mengapa demikian? Karena orang yang
berpengatahuan luas memiliki sudut pandang yang juga luas,
sehingga ia tidak terbatas pada logika yang sempit. Hanya saja
untuk urusan bijaksana atau tidak belum banyak dielaborasi
dalam mengukur pengetahuan.

39

2. Aspek Sikap
Pada umumnya skala sikap adalah disebut skala hedonic

atau dalam bidang gizi disebut skala hedonic. Ini biasa digunakan
untuk menilai skala kesukaan terhadap makanan dan minuman.
Namun pada dasarnya skala hedonic merujuk pada tendensi
kesukaan atau ketidaksukaan terhadap sesuatu bukan hanya
kesukaan terhadap makanan.

Pada umumnya skalah yang digunakan adalah skala
ordinal mulai dari ekstrem negative hingga ekstrem positif.
Ekstrem negative artinya sangat tidak suka dan ekstrem positif
artinya sangat suka. Skala jarak yang digunakan ada dua yaitu
ganjil dan genap. Contoh skala ganjil

Gizi Tinggi Prestasi
-2 -1 0 1 2

Selain menggunakan skala ganjil kita juga dapat
menggunakan skala genap, jika populasi atau sasaran yang ingin
digunakan pada umumnya belum memiliki sikap khusus atau

40

lebih memilih netral maka kita sebaiknya menggunakan skala
genap. Contoh skala genap adalah ;

Gizi Tinggi Prestasi
-3 -2 -1 1 2 3

Maksud dari skala diatas adalah apakah sikap responden
terhadap pernyataan gizi tinggi prestasi?. Jika ia suka atau
setuju dengan pernyataan diatas maka ia seharusnya memiliki
nilai positif sesuai dengan skala kesukaan atau kesetujuannya,
demikian juga sebaliknya. Cara ini memudahkan kita untuk
melakukan analisis data sikap khususnya jika kita bekerja dengan
paket pengolah data. Sisa kita masukkan nilai nilainya maka
dapat dengan mudah kita dapatkan hasilnya dalam bentuk table
dan grafik.

Selain dengan bentuk skala diatas seringkali juga kita
membuat pilihan dengan langsung menulisnya seperti ini:

Bagaimana tanggapan anda tentang pernyataan “ gizi
tinggi prestasi”

1. Sangat tidak setuju

41

2. Agak setuju
3. Tidak tahu
4. Tidak setuju
5. Sangat tidak setuju
Perlu diperhatikan apabila kita menggunakan skala
seperti diatas maka saat kita melakukan analisis data pada
aplikasi pengolah data maka tetap kita harus mendefinisikannya
sesuai dengan nomor nomor kode yang sesuai. Pada contoh
diatas misalnya kode 1 adalah didefinisikan sebagai pernyataan
sangat setuju. Demikian juga dengan skala skala lainnya.
Kelemahan skala diatas adalah tidak dapat dilanjutkan
dengan uji beda rata rata pada analisis data. Mengapa ini
penting? Karena tujuan kita mengukur dampak adalah pengukur
peta perubahan skala pengetahuan, sikap dan perilaku. Tentu
kalau kita ingin mengetahui perubahannya maka kita sebaiknya
menggunakan nilai beda rata rata sebelum dan setelah
dilakukannya pemasaran social.

42

Saat kita ingin melakukannya maka kita butuh skala yang
sesuai. Perkembangan terakhir tentang kuantifikasi skala ordinal
(sikap) ke skala rasio (sikap) adalah dengan menggunakan Visual
Analog Scale (VAS). Skala VAS adalah skala yang ditransformasi
dari ukuran ukuran kualitatif ke ukuran kuantitatif dengan
menggunakan skala ukur dalam satuan centimeter (cm).

Gambar 2. Pain Assessment Tool
Sumber: https://www.iconspng.com/image/58820/pain-scale-
fixed

Skala diatas juga dapat dibuat berlawanan arah sesuai
dengan variabel yang kita ukur. Apabila variabel menghendaki
nilai positif adalah nilai baik maka gambar orang tersenyum
adalah disebalah kanan bukan di kiri, demikian juga sebaliknya.

43

Kita juga dapat memperlebar skalanya, karena semakin lebar
maka variasi hasil pengukuran skala sikap semakin baik.
Perhatikan gambar diawah ini.

Gambar 3. Visual Analog Scale

3. Aspek Perilaku
Sekarang kita membahas cara mengukur perilaku pada

populasi sebagai akibat adanya pengaruh pemasaran social. Kasusnya
adalah kasus pemasaran social pencegahan stunting. Setelah kita
melakukan serangkaian kegiatan pemasaran social baik melalui
kampanye, seminar diskusi, lomba, poster atau spanduk yang berisi
ajakan pencegahan stunting, kita butuh untuk mengukur seberapa
besar ide itu dirasakan atau diterima oleh sasaran. Sampai pada

44

tahap Ini kita butuh serangkaian pengumpulan data baik melalui
sampling ataupun sensus.

Jumlah masyarakat yang telah menerima ide baru akibat
kampanye pemasaran social dinilai berdasarkan kurva normal adopsi
berikut ini:

Gambar 4. Kurva Normal Adopsi
Sumber : http://www.ovicia.com/2019/09/kurva-adopsi-produk-

baru.html
Ada lima kelompok dalam menerima adopsi, innovator
adalah penggagas ide wajar ia adalah pihak pertama yang
menerima perubahan. Pengguna awal adalah orang selain

45

innovator jumlah mereka sekita 13,5%. Mayoritas awal adalah
angka kritis untuk sebuah ide baru. Jika penetrasi mampu
dilakukan dan mampu menembus kelompok ini maka dapat
disebut sebagai sukses dalam kampanye pemasaran social.
Setiap tahapan setelah tahapan innovator dapat saja menjadi
pengadopsi tetap tetapi juga dapat berbalik apabila marketer
tidak berhasil meyakinkan bukti bukti propagandanya.

Pada seluruh rangkaian proses adopsi sikap baru selalu
memiliki dinamika yang berbeda antar kelompok populasi dan
kecepatan inovasi untuk melakukan penetrasi sangat ditentukan oleh
banyak factor baik pada factor produk, price, place ataupun
promotion. Inilah yang menjadi kunci pemasaran social. Jadi dengan
demikian dinamika social masyarakat menjadi factor atau media yang
harus dapat dipahami. ‘

Pintu untuk memahami dinamika social masyarakat adalah
melakukan serangkaian adaptasi lalu penetrasi social. Ini adalah satu
satunya jalan yang harus dilakukan jika pemasaran social pencegahan
stunting dilakukan. Stunting tentu bukan semata mata masalah
kesehatan dan gizi tetapi terkait dan berakar langsung pada dinamika

46

social budaya. Satu sisi memang sudah diakui bahwa pendekatan
budaya dalam intervensi kesehatan harus didahukukan karena subjek
dan objek pemanfaat layanan kesehatan adalah manusia sebagai
mahluk social. Perhatikan gambar berikut ini?

Gambar 5. Gelombang Kelima Kesmas
https://slideplayer.com/slide/12686953/
Jadi pada awalnya gelombang pertama kesehatan
masyarakat adalah tentang pembangunan infrastruktur air
bersih dan sanitasi. Urusan kesehatan masyarakat banyak terkait
dengan urusan sanitasi. Kalau hingga saat ini urusan sanitasi

47

belum selesai artinya kita belum keluar dari masalah dasar
kesehatan masyarakat. Gelombang kedua adalah usurusan
biomedik, antibiotic dan vaksin. Gelombang ke tiga adalah
urusan klinik dengan menekankan pada intervensi gaya hidup
dan penyakit. Gelombang ke empat adalah urusan determinan
social sebagai factor yang perlu dikendalikan. Pada phase akhir
adalah urusan budaya. Kesimpulannya saat ini kalau ada orang
sakit, jangan mencari obat tetapi mencari tahu apa latar
penyebabnya pada sisi budaya.

D. Evaluasi
6. Aspek ini adalah kondisi sadar bahwa sesuatu yang baru telah

ada, namun belum ada minat untuk memperhatikannya apalagi
memakai atau menganutnya. Apakah aspek dimaksud diatas?
A. Awarness
B. Interest
C. Evaluasi
D. Trial

48

E. Adopsi
7. Aspek ini adalah rasa tertarik bahwa sesuatu yang baru lebih

baik daripada yang sudah ada. Ini muncul setelah berulang
kali terpapar informasi produk atau karena memang produk
lama tidak lagi mampu menjalankan fungsinya dengan baik.
Apakah aspek dimaksud diatas?
A. Awarness
B. Interest
C. Evaluasi
D. Trial
E. Adopsi

8. Aspek ini adalah seseorang mulai menilai kelemahan dan
kelebihan produk baru dibanding produk lama. Apakah aspek
dimaksud diatas?
A. Awarness
B. Interest
C. Evaluasi

49

D. Trial
E. Adopsi
9. Aspek ini adalah target sasaran sudah mulai menerima
konsep baru dalam tahap uji coba. Apakah aspek dimaksud
diatas?
A. Awarness
B. Interest
C. Evaluasi
D. Trial
E. Adopsi
10. Aspek ini adalah target pemasar sudah secara sadar tanpa
paksaan melakukan dan atau menerima ide baru. Apakah
aspek dimaksud diatas?
A. Awarness
B. Interest
C. Evaluasi
D. Trial
E. Adopsi

50

BAB IV
LOBI DALAM PEMASARAN SOSIAL PENCEHAGAN STUNTING
A. Pendahuluan

Stunting sudah diyakini sebagai jalan panjang menuju
masyarakat sejahtera. Ini sesuai dengan bukti bukti ilmiah yang
terbaru dan diyakini oleh berbagai negara dan komunitas
International. Masalahnya adalah cara untuk mengatasinya
tidak semuda membalikkan telapak tangan. Hambatan dapat
berasal dari dimensi politik, masyarakat dan dimenasi pelaksana
program. Pada dimensi politik harus ada arus kuat dari badan
badan yang mengurus tata kelola negara berpihak pada upaya
pencegahan stunting. Jika komitmen politik tidak ada atau
bahkan rendah maka stunting lambat diatasi.

Upaya untuk mengatasi konstrain politik adalah lobi
kepada pengambil kebijakan public agar mau berpihak kepada
upaya pencegahan stunting. Idealnya semua negara anggota
Organisasi Kesehatan Dunia, telah terpapar dan meratifikasi
upaya percepatan pencegahan stunting (Scaling Up Nutrition).

51

Indonesia jelas menjadi salah satu negara yang tergabung
dalam gerakan SUN. Jadi pada dimensi pemerintah pusat
Indonesia sudah cukup mengadopsi kebijakan public
pencegahan stunting. Pembentukan Tim Percepatan
Pencegahan Stunting di Indonesia adalah bukti kuat komitmen
pemerintah dalam upaya pencegahan stunting.

Gambar 6. Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting
http://tnp2k.go.id/filemanager/files/Rakornis%202018/Stranas%

20Percepatan%20Pencegahan%20Anak%20Kerdil.pdf
52

Indonesia memiliki komitmen kuat untuk mencegah stunting,
dapat dibaca pada buku diatas. Tugas setiap kita adalah
melakukan lobi kepada pemerintah level Kabupaten/Kecamatan
dan bahkan level pemerintah Desa untuk berpihak pada semua
kebijakan pencegahan stunting.
B. Tujuan

Tujuan materi ini adalah untuk meningkatkan
pemahaman mahasiswa profesi dietisien dalam melakukan lobi
kepada pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan
stunting

C. Materi
1. Definisi Lobi
Lobi adalah persuasi atau ajakan untuk melakukan

tindakan menguntungkan kedua belah pihak. Perhatikan
gambar dibawah ini;

53

https://slideplayer.info/slide/13336975/

Tentu dalam proses komunikasi ini adalah penetrasi ide
kepada sasaran agar memahami apa tujuan kita berdiskusi atau
berdialog dengan pihak lain. Membaca peta konsep atau mind
map adalah inti dari lobi. Jika seorang negosiator telah
melakukan dialog intensif dengan pihak lain maka diharapkan ia
sudah memiliki peta konsep yang utuh sehingga mampu
melakukan perumusan kesepahaman bersama yang saling
menguntungkan. Keuntungan bukan hanya dalam urusan uang
tetapi dalam urusan yang lebih luas.

54

Gambar 7. Mind Map
https://www.tehrantimes.com/news/451235/How-to-
determine-a-good-online-mind-mapping-software
Setiap lobi harus direncanakan dalam berbagai scenario
ide. Jika ide A tidak diterima maka harus ada opsi ide B, C dan
D. Seorang negosiator ulung memiliki segudang idea yang
menguntungkan kedua belah pihak. Ini dapat dilakukan hanya
jika kita mampu mendeskripsikan peta konsep lawan diskusi.

55

2. Bentuk Lobi Sederhana untuk Pemasaran Sosial
Pencegahan Stunting

Gambar 8. Contoh Lobi Stunting
http://dinkes.kukarkab.go.id/baca-berita-239-rembuk-stunting-

tahun-2020.html
Salah satu bentuk lobi sederhana pencegahan stunting
adalah rembuk stunting yang dilakukan pemerintah desa.
Tentu pelaku lobi adalah pelaksana program tingkat desa agar
semua pihak atau pemangku kepentingan melakukan langkah
yang sama mengeluarkan anggaran biaya dan tenaga untuk
upaya pencegahan stunting. Kenapa demikian? Pemerintah

56

desa diberi kewenangan untuk mengatur kebijakan
pencegahan stunting. Perhatikan gambar berikut ini:

Gambar 9. Sosialisasi Stunting
https://portal.tanahlautkab.go.id/sosialisasi-stunting--

permendes
Landasan hukumnya adalah Undang Undang Nomor 11
Tahun 2019 yang mengatur tentang upaya pencegahan
stunting dengan dukungan dana desa. Setiap tenaga dietisien
tidak hanya paham soal karbohidrat, protein, lemak, vitamin
mineral dan penyakit tetapi juga harus memahai legal aspek
yang memayungi seluruh upaya perbaikan gizi.

57

D. Evaluasi
11. Persuasi atau ajakan untuk melakukan tindakan

menguntungkan kedua belah pihak. Apakah yang
berkesesuaian dengan pernyataan diatas?
A. Definisi Lobi
B. Tujuan Lobi
C. Cara Lobi
D. Materi Lobi
E. Susunan Lobi
12. Jika seorang negosiator telah melakukan dialog intensif
dengan pihak lain maka diharapkan ia sudah memiliki peta
konsep yang utuh. Apakah padanan kata peta konsep pada
kasus diatas
A. Mind
B. Map
C. Mind Map
D. Mind Concept
E. Map Concept

58

13. Seorang negosiator ulung memiliki segudang idea yang
menguntungkan kedua belah pihak. Apakah syarat utama
negosiator?
A. Paham peta konsep
B. Paham masalah
C. Paham peta konsep lawan bicara
D. Integritas
E. Negosiasi bertahap

14. Aspek yang paling penting di diskusikan dengan pemangku
kepentingan adalah biaya. Apakah makna biaya pada
pencegahan stunting?
A. Biaya Variabel
B. Biaya Fix
C. Biaya Konsumtif
D. Biaya Investasi
E. Biaya tidak terduga

59

15. Salah satu bentuk lobi sederhana pencegahan stunting
adalah rembuk stunting. Dimanakah rembuk stunting tahap
pertama di lakukan?
A. Pemerintah Pusat
B. Pemerintah Provinsi
C. Pemerintah Kabupaten
D. Pemerintah Kecamatan
E. Pemerintah Desa

60

BAB V
KAJIAN ILMIAH PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING
A. Pendahuluan

Kajian ilmiah pemasaran social pencegahan stunting
adalah sekumpulan bukti bukti ilmiah yang dapat dipakai sebagai
bahan komunikasi informasi dan edukasi kepada semua pihak
yang terlibat langsung ataupun tidak langsung dengan upaya
pencegahan stunting. Bahan bahannya dikumpulkan dari materi
seminar dan atau kongres baik nasional maupun internasional,
jurnal dan bentuk publikasi lain khususnya yang berkaitan
langsung dengan kondisi terkini di Indonesia. Materi pada bagian
ini diambil dari berbagai sumber dan sifatnya akses terbuka
sebagai bahan konsumsi pengetahuan public.
B. Tujuan

Tujuan materi kajian ilmiah pemasaran social
pencegahan stunting adalah untuk memberikan data dan
informasi update terkait upaya pencegahan stunting di
Indonesia

61

C. Materi

Intervensi Konvergensi dan Indikator
Intervensi stunting secara nasional telah mengadopsi

pendekatan multidisiplin, karena faktor risiko stunting adalah
rumit dan memerlukan keterpaduan berbagai sektor
pembangunan dalam pencegahannya. Keterpaduan berbagai
sektor ini dalam satu koordinasi kegiatan di tingkat nasional
disebut intervensi konvergensi. Lima pilar intervensi
konvergensi yaitu (1) Komitmen dan visi kepemimpinan (2)
Kampanye nasional dan perubahan perilaku (3) Konvergensi
program Pusat. Daerah dan Desa (4) Ketahanan pangan dan gizi
(5) Pemantauan dan evaluasi 24

Kelima pilar intervensi konvergensi, kemudian
diimplementasikan dalam intervensi sensitif dan spesifik. Output
yang dapat diukur dari kedua jenis intervensi tersebut selama
periode 1000 HPK adalah perbaikan konsumsi gizi, perbaikan
pola asuh, pelayanan kesehatan dan kesehatan Lingkungan.

62

Output ini dapat diukur dalam jangka pendek yang juga dikenal
sebagai sekunder indikator.

Gambar 10. Konseptual Stunting Indonesia
Indikator antara (intermediate outcome) dari program
pencegahan stunting adalah indikator yang sangat dekat dengan
indikator primer. Jika sejumlah indikator intermedia dapat
diketahui sudah dicapai maka, diyakini indikator primer atau
dampak dari program intervensi adalah sangat feasible atau
mudah dicapai. Indikator dampak adalah penurunan prevalensi
stunting dalam jangka panjang. Berbagai pola intervensi

63

pencegahan stunting idealnya tidak menetapkan indikator
dampak sebagai indikator sekunder atau pun indikator
intermediate, karena ini akan menurunkan objektivitas
pelaksana program dalam menilai kinerja proyek.
Intervensi Sensitif

Intervensi sensitif terdiri dari empat jenis intervensi yaitu
(1) Peningkatan penyediaan air bersih (2) peningkatan akses
kualitas pelayanan gizi dan kesehatan (3) Peningkatan kesadaran
komitmen dan praktik pengasuhan gizi ibu dan anak dan (4)
peningkatan akses pangan dan gizi. Secara lengkap dapat dilihat
pada gambar berikut:

Disebut sebagai intervensi sensitive karena diyakini kalau
komponen kegiatan ini dilakukan taat azas maka penurunan
stunting akan sangat peka. Ia melingkupi 15 komponen kegiatan.
Semakin banyak dilakukan bersamaan semakin baik, tetapi biaya
yang dibutuhkan juga semakin banyak. Pada sisi lain biaya
penanggulangan stunting tidak hanya satu atau dua tahun tetapi
tidak berbatas waktu hingga stunting mampu diturunkan < 20%.

64

Gambar 11. Intervensi Sensitif
Penurunan stunting < 20% tahun 2025 adalah target global yang
harus dicapai oleh setiap negara agar mampu menurunkan stunting <
100 juta balita akhir tahun 2030.

65

Intervensi Gizi Spesifik
Intervensi gizi spesifik, terdiri dari Jika dibedakan

berdasarkan tiga jenis intervensi yaitu intervensi gizi prioritas,
pendukung dan prioritas sesuai kondisi tertentu.

Gambar 12. Intervensi Spesifik
Intervensi gizi spesifik ini disebut demikian karena ia sangat
khusus dipahami oleh ahli kesehatan sebagai ahli yang berkaitan

66

langsung dengan dimensi biologis pertumbuhan. Dalam model
UNICEF 1998 juga disebutkan bahwa konsumsi dan infeksi sebagai
factor langsung yang berhubungan dengan status gizi termasuk
stunting. Spesifik ini juga sering diartikan sebagai semua upaya yang
dilakukan oleh sector kesehatan.

Fakta lain adalah bahwa pembagian konsep sensitive dan
spesifik ditujukan untuk mebedah dua kubu intervensi yang harus
saling dikombinasikan. Jika sisi sensitive dapat di kombinasikan
dengan sisi sensitive maka bukti bukti ilmiah mendukung percepatan
penurunan stunting. Lebih banyak kepada upaya pendampingan
keluarga kurang mampu karena risiko keluarga kurang mampu lebih
besar disbanding keluarga mampu. Kemiskinan adalah padanan kata
kurang mampu yang dinilai berdasarkan rendahnya upah harian atau
bulanan disbanding standar kebutuhan minimum.

Stunting dan Kemiskinan
Gambar ini berasal dari Dr Atmarita MPH pada seminar

Nasional bulan Nopember 2020. Diprediksi stunting akan naik tahun
2020 karena COVID-19 menaikkan angka kemiskinan. Stunting sebagai
dimensi social ekonomi akan berkontraksi saat pandemic.

67

Gambar 13. Prediksi Status Gizi dengan Kemiskinan
Berikut digambarkan dalam persamaan linier antara risiko stunting
dan variabel kemiskinan, cuci tangan, akses sanitasi, akses air bersih
dan imunisasi selama pandemic CO VID-19 di Indonesia .

68

Setiap kenaikan angka kemiskinan satu digit akan menaikkan
angka stunting sebesar 0,386%. Jika pada saat yang bersamaan
kebiasaan cuci tangan, akses sanitasi, akses air bersih dan
imunisas tidak berjalan normal maka kontribusinya akan
semakin bertambah.

69

Stunting dan Fortifikasi
Prof Soekirman memiliki konsep bahwa jalan terbaik

untuk cegah stunting adalah fortifikasi. Sederhana alasannya
adalah bahwa kebanyakan stunting terkonsentrasi pada
penduduk miskin dengan akses keragaman pangan yang rendah.
Jika keragaman pangan rendah maka kuantitas dan kualitas
asupan gizi mikro tidak pernah mencukupi. Sementara sisi lain
pemasaran social gizi seimbang sulit dipenuhi pada penduduk
miskin.

Gambar 14. Alasan Fortifikasi
70

Dibutuhkan makanan yang difiortifikasi agar semua
masyarakat terpapar dengan makanan yang sudah diperkaya
tanpa ia harus membayar mahal. Vehicle adalah pada makanan
yang dikonsumsi banyak dan terus menerus, contoh garam,
terigu dan minyak goring. Jika mikronutrien ini mampu
dititipkan (fortifikasi) maka urusan stunting akan nyata teratasi.

71

Stunting dan Mikronutrien
Prof Soekirman (2020) dalam sebuah seminar nasional

stunting menyajikan info grafis berikut ini:

Gambar 15. Hypothetical Micronutrient
Perhatikan fakta diatas bahwa kurva miring kiri artinya
lebih banyak yang defisiensi mikronutrien dan inilah yang
menyulitkan banyak negara keluar dari lingkaran malnutrisi.
Jika saja ada upaya sistematis memastikan bahwa semua anak
yang lahir cukup konsumsi mikronutriennya maka stunting akan
dapat diatasi. Berbeda dengan penduduk dari negara kaya

72

angka stunting akan sangat rendah, karena keragaman
makanannya cukup. Satu satunya hambatan di Indonesia adalah
tidak selalu konsisten mengeluarkan kebijakan untuk fortifikasi
pangan potensial. Masih butuh kerjasama yang luas dengan
dunia industri.

73

Stunting dan Ketimpangan Ekonomi
Prof Abdul Razak Thaha, M.Sc (2020) dalam sebuah seminar

nasional stunting menyajikan info grafis berikut ini:

Gambar 16 Kemiskinan dan Gini Rasio
Pada periode 2013 -2018 adalah periode dengan terjadinya
penurunan angka kemiskinan di Indonesia mencapai 1 digit selama
kita Merdeka. Ini memberi andil besar pada penurunan stunting
antara tahun 2013 ke 2018. Penurunan ini juga dirasakan oleh
kelompok miskin dengan angka ketimpangan yang menuruan yang

74

dikenal dengan gini rasio. Angka gini rasio semakin kecil atau
mendekati Null maka distribusi pendapatan semakin merata demikian
juga sebaliknya.

Stunting akan menurun dengan menurunnnya angka
kemiskinan dan angka ketimpangan.
Stunting dan COVID-19

Stunting dan COVID-19 diantarai oleh variabel kemiskinan.
Naiknya stunting dimasa pandemic bukan karena infeksi tetapi karena
naiknya angka kemiskinan. Perhatikan info grafis berikut ini.

Gambar 17. Trend Kemiskinan dan COVID-19
Sebenarnya fakta bahwa dimensi kemiskinan dan stunting
sudah ditemukan pada sistematik review yang dipublikasikan pada

75

jurnal Internasional bereputasi, khusus Indonesia. Jadi perlu
diperhatikan bahwa dimensi stunting di Indonesia sangat luas
menyangkut banyak dimensi kehidupan. Semua determinan stunting
yang ada di negara berkembang dan negara miskin di dunia, juga ada
di Indonesia. Inilah alasannya mengapa pemerintah Indonesia
bertekad sangat kuat untuk menurunkan stunting 16% tahun 2025

76

Gambar 18. Review Stunting Indonesia
77

Stunting dan Dukungan Keuangan Negara
Indonesia adalah negara berkembang yang masuk dalam

kelompok G20 bersama dengan negara maju di Eropa, bukan
karena kemajuannya tetapi karena potensi pasar dan
kekayaannya. Pemerintah Indonesia mengalokasikan banyak
anggaran pada kementerian dan lembaga untuk pencegahan
stunting.

Gambar 19. Perlindungan Sosial dan COVID-19
78

Ada 12 program yang dirilis pada masa pandemic yang
ditujukan untuk mengamankan gizi masyarakat, khususnya keluarga
miskin. Inilah bukti bahwa kita punya cara dan strategi yang dapat di
tiru negara lain.

Gambar 20. COVID- 19 dan Pencari Nafkah

79

Stunting dan Konvergensi Level Desa
Negara dalam wujud miniature adalah desa. Pemerintah

desa adalah ujung tombak pengimplementasi seluruh kebijakan
kementerian dan lembaga. Pemerintah desa adalah tatanan
norma yang berada paling dekat dengan masyarakat.

Gambar 21. Konvergensi Stunting di Desa
80

Pencegahan stunting melalui konvergensi harus terjadi secara nyata di
tingkat desa. Seperti gambar diatas.
Stunting dan Indikator Kinerja Pencegahan Stunting

Perkembangan terbaru yang berkaitan dengan indicator
kinerja pencegahan stunting adalah IKPS. Apa itu IKPS? Adalah
Indikator Kinerja Pencegahan Stunting. Indikator ini
dikembangkan oleh BPS dengan sumber data dari SUSENAS.
Berikut contoh IKPS Sulawesi Selatan tahun 2019.

Gambar 22. Indikator Kinerja Pencegahan Stunting

81


Click to View FlipBook Version