1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf
Nov 29, 2020
10438 words / 65454 characters
Sirajuddin
BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf
Sources Overview
11%
OVERALL SIMILARITY
idoc.pub 4%
1 1%
<1%
INTERNET <1%
<1%
www.scribd.com <1%
2 <1%
<1%
INTERNET <1%
<1%
es.scribd.com <1%
3 <1%
<1%
INTERNET <1%
<1%
dialeksis.com <1%
4 <1%
<1%
INTERNET <1%
<1%
edoc.site <1%
5 <1%
<1%
INTERNET <1%
<1%
padk.kemkes.go.id <1%
6 <1%
INTERNET 1/74
yunipatra05.wordpress.com
7
INTERNET
beautyroom.wordpress.com
8
INTERNET
repo.isi-dps.ac.id
9
INTERNET
123dok.com
10
INTERNET
www.tehrantimes.com
11
INTERNET
University of Queensland on 2019-11-04
12
SUBMITTED WORKS
umi-nadhiroh-vokasi16.web.unair.ac.id
13
INTERNET
repository.usd.ac.id
14
INTERNET
Nasrul Nasrul. "PENGENDALIAN FAKTOR RISIKO STUNTING ANAK BADUTA DI SULAWESI TENGAH", PROMOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat, 2019
15
CROSSREF
The University of Notre Dame on 2019-08-21
16
SUBMITTED WORKS
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta on 2019-07-03
17
SUBMITTED WORKS
archive.org
18
INTERNET
digilib.iain-palangkaraya.ac.id
19
INTERNET
docobook.com
20
INTERNET
student.blog.dinus.ac.id
21
INTERNET
cybermed.cbn.net.id
22
INTERNET
ddfong.blogspot.com
23
INTERNET
eprints.unpam.ac.id
24
INTERNET
gizi.unida.gontor.ac.id
25
INTERNET
jurnal.csdforum.com
26
INTERNET
jurnal.fkip.unila.ac.id
27
INTERNET
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
jurnal.poltekkeskhjogja.ac.id
<1%
28 <1%
<1%
INTERNET <1%
<1%
repository.unpas.ac.id
29
INTERNET
sistempernafasan2018.wordpress.com
30
INTERNET
www.idx.co.id
31
INTERNET
www.slideshare.net
32
INTERNET
Excluded search repositories:
None
Excluded from Similarity Report:
Bibliography
Excluded sources:
None
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 2/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
PRAKTISI DIETISIEN
PEMASARAN SOSIAL
PENCEGAHAN STUNTING
SI RA J UDDI N, SP, M. KES. RD
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 3/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
BUKU AJAR PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING
Penulis : Sirajuddin, SP, M.Kes
ISBN :
Editor : Nursalim, SGz, M.Si
Penyunting : Abdullah Tamrin, DCN, M.Kes
Desain Sampul dan Tata Letak : Sirajuddin, SP, M.Kes
Penerbit :
Pusat Pengembangan Pendidikan Poltekkes Makassar Jl. Wijaya Kusuma
Raya No. 46
Makassar 90222
Telp (0411)869826, fax (0411) 869742
Email : [email protected]
Redaksi :
Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 46 Makassar 90222
Telp (0411)869826, fax (0411) 869742
Distributor Tunggal :
Pusat Pengembangan Pendidikan Poltekkes Makassar9Cetakan Pertama,
,Nopember 2020
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang memperbanyak karya tulisan
dalam bentuk dan dengan apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit.
ii
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 4/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
KATA PENGANTAR
Buku Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting adalah satu satunya buku
yang membahas dimensi stunting dalam bingkai pemasaran social. Alasannya
sederhana yaitu bahwa stunting dikenal sebagai aspek yang berkaitan dengan
biososio kultural, sehingga mengatasinya juga bersifat biososio kultural.
Beralasan sangat logis jika salah satu gerbang besar mengatasi stunting adalah
melalui upaya pemasaran sosial.
Buku ini disusun dengan sistematika tiga komponen penting yaitu
pengantar yang membawa pembaca pada konteks pemasaran secara umum.
Setelah pembaca mulai memahami konteks pemasaran umum, bagian kedua
memasukkan dimensi stunting dalam bingkai pemasaran social. Target pembaca
buku ini tentu adalah tenaga kesehatan dan praktisi kesehatan masyarakat
secara umum, sehingga mereka memerlukan penetrasi ataupun adaptasi konsep
pemasaran dalam upaya pelayanan kesehatan termasuk pencegahan stunting.
Bagian ketiga pembaca diantar untuk menghubungkan potensi
sumberdaya keluarga untuk mengatasi stunting dimana inilah ending dari
pemasaran social.
Luaran primer pemasaran sosial pencegahan stunting adalah diyakininya
konsepn pencegahan stunting oleh setiap keluarga sebagai bagian integral fungsi
keluarga. Pemerintah hanya sebagai fasilitator dalam upaya pencegahan
stunting.
iii
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 5/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
Buku ini memiliki banyak bagian yang harus disempurnakan, sehingga
menunggu masukan dan kritikan yang membangun kelengkapan konseptual dan
praktis pemasaran sosial kepada penulis Sirajuddin, SP, M.Kes, RD
([email protected]).
Ucapan terimakasih 2k6epada Direktur Politeknik Kesehatan Makassar yang
telah memfasilitasi penyusunan buku Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting.
Mudah mudahan buku ini menjadi panduan praktisi gizi masyarakat dan
pemangku kepentingan dalam menjalankan program perbaikan gizi
berkelanjutan.
Makassar, 29-11-2020
Sirajuddin, SP, M.Kes
iv
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 6/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
20
GAMBARAN UMUM RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER
MATA KULIAH : PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING
KODE MATA KULIAH : DT1GK101
BEBAN SKS : 1 (SATU)
LAHAN PRAKTEK : PUSKESMAS
RUANG : MATERNITAS (IBU HAMIL) ATAU KELAS IBU HAMIL
NAMA INSTRUKTUR PENILAI : [1] ...............................................................[2]........................................................
2Sangat baik Harkat dan peringkat
4
Kode penugasan Aktifitas Baik Cukup Kurang Sanga
Menerapkan 32 1 Tidak a
konsep promosi
CPL02/SKD.06/RTS 1. Melakukan untuk pencegahan Menerapkan Menerapkan Menerapkan
stunting di unit ibu konsep promosi konsep promosi konsep promosi
.GK/ pemasaran sosial dan anak untuk pencegahan untuk pencegahan untuk
(1) Ada produk stunting di unit ibu stunting di unit ibu pencegahan
TGS-12 produk layanan dan anak dan anak stunting di unit
poster (1) Ada produk (1) Ada produk ibu dan anak
kegizian melalui (1) Ada produk
stunting
pendekatan poster
sangat
konseling stunting,
menarik
poster poster tidak
(2) Ada Tempat
stunting, stunting, menarik
(3) Ada konseling
menarik kurang (2) Ada Tempat
(2) Ada Tempat menarik
(3) Ada konseling (2) Ada Tempat
(3) Ada konseling,
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 7/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
stunting stunting stunting (3) Ada
konseling,
stunting
2. Mengukur pengaruh Membuat Membuat Membuat Membuat Tidak a
instrumen dan instrumen dan instrumen dan
konseling mengukur mengukur mengukur instrumen dan
pencegahan stunting pengaruhnya pengaruhnya pengaruhnya mengukur
mencakup aspek mencakup aspek mencakup aspek pengaruhnya
(1) Pengetahuan (4) Pengetahuan (6) Pengetahuan mencakup aspek
(8) Pengetahuan
(2) Sikap (5) Sikap (7) Sikap
Dokumen tidak
(3) Perilaku Dokumen lengkap Dokumen kurang lengkap
Dokumen sangat lengkap
lengkap
3. Melakukan lobi Melakukan lobi Melakukan lobi Melakukan lobi Melakukan lobi Tidak
kepada stakeholder
tentang konseling kepada kepada kepada kepada
pencegahan stunting
stakeholder stakeholder stakeholder stakeholder
(1) Ada naskah (1) Ada naskah (1) Ada naskah (1) Ada naskah
ring ring ring ringkas
kas kas kas (2) Ada berita
(2) Ada berita acara (2) Ada berita acara (2) Ada berita acara ac
(3) Ada pernyataan (3) Ada pernyataan (3) Ada pernyataan ara
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 8/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
komitmen komitmen komitmen (3) Ada
(4) Ada sektor non (4) Ada lintas pernyataan
komitmen
kesehatan dan program
lintas program
5. Melakukan advokasi Melakukan Melakukan Melakukan Melakukan Tidak
kepada stakeholder
tentang praktik advokasi kepada advokasi kepada advokasi kepada advokasi kepada
layanan kegiatan
stakeholder stakeholder stakeholder stakeholder
(5) Ada naskah (5) Ada naskah (4) Ada naskah (4) Ada naskah
ringkas ringkas ringkas ringkas
(6) Ada berita acara (6) Ada berita acara (5) Ada berita acara (5) Ada berita
(7) Ada pernyataan (7) Ada pernyataan (6) Ada pernyataan acara
komitmen komitmen komitmen (6) Ada
(8) Ada sektor non (8) Ada lintas pernyataan
kesehatan dan program komitmen
lintas program
6. Membuat kajian Membuat manu Membuat manu Membuat manu Membuat manu Tidak
ilmiah skript pemsos skript pemsos skript pemsos skript pemsos
pengembangan stunting stunting stunting stunting
praktik dietisien (51) Abstrak (51) Abstrak (51) Abstrak (51) Abstrak
(2) Pendahuluan (2) Pendahuluan (2) Pendahuluan (2) Pendahuluan
(3) Metode (3) Metode (3) Metode (3) Metode
(4) Hasil (4) Hasil (4) Hasil (4) Hasil
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 9/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
(5) Pembahasan (5) Pembahasan (5) Pembahasan (5) Pembahasan
(6) Simpulan (6) Simpulan (6) Simpulan
(7) Referensi (7) Referensi
(8) Lampiran
7. Melakukan Melakukan Melakukan Melakukan Melakukan Tidak
presentasi dan presentasi dan presentasi dan presentasi dan presentase dan melaku
perbaikan naskah perbaikan perbaikan perbaikan perbaikan presen
ilmiah (1) Berita Acara (1) Berita Acara (1) Berita Acara (1) Berita Acara
pengembangan (2) Naskah (2) Naskah (2) Naskah
praktik dietisien (3) Penguasaan (3) Penguasaan (3) Penguasaan (2) Naskah
(3) Penguasaan
materi sangat materi sangat materi sangat
baik baik baik materi sangat
(4) Penyajian (4) Penyajian (4) Penyajian
materi sangat materi sangat materi sangat baik
baik baik baik
(5) Argumentasi (5) Argumentasi (5) Argumentasi (4) Penyajian
tepat tepat tepat materi sangat
(6) Diperbaiki (6) Diperbaiki (6) Diperbaiki
sesuai saran belum sesuai tidak sesuai baik
panelis saran panelis saran panelis
(5) Argumentasi
tepat
2. Menyerahkan Menyerahkan Menyerahkan Menyerahkan Menyerahkan Tidak a
laporan kepada laporan kepada laporan kepada
laporan kasus asuhan laporan kepada
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 10/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
gizi lahan dan prodi lahan dan prodi lahan dan prodi lahan dan prodi
(1) Ditandatangan (1) Ditandatangan (1) Ditandatangan (9) Ditandatanga
i CI i CI i CI ni CI
(2) Jumlah (2) Jumlah Sebelum pindah Terlambat
exemplar exemplar rotasi pindah rotasi
cukup cukup
(3) Bukti Sebelum pindah
penyerahan rotasi
laporan
sebelum
pindah rotasi
Nilai akhir mata kuliah = nilai mata kuliah praktikum (40%) + nilai ujian tulis (30%) + nilai sikap profesional (30%
Nilai ujian tulis = nilai skor saat ujian tulis mata kuliah dengan jumlah soal vignette = 25 nomor (point 4 setiap jawaban benar).
Soal utul ditulis oleh dosen pengampu mata kuliah
Nilai mata kuliah praktikum dihitung
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 11/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................................ii
GAMBARAN UMUM RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER iv
MATA KULIAH : PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING iv
3BAB I 1
PENDALUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 6
C. Manfaat 6
BAB II 8
KONSEP PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 8
A. Pendahuluan 8
B. Tujuan 9
C. Materi 9
1. Produk Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting 9
2. Tempat Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting 18
3. Harga Produk Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting 19
4. Promosi Produk Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting 20
BAB III 22
MENGUKUR PENGARUH PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 22
A. Pendahuluan 22
B. Tujuan 24
C. Materi 24
291. Aspek Pengetahuan 24
2. Aspek Sikap 26
3. Aspek Perilaku 29
vi
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 12/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
BAB IV 32
LOBI DALAM PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 32
BAB VI 37
KAJIAN ILMIAH PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 37
37
Intervensi Konvergensi dan Indikator 39
Intervensi Sensitif 40
Intervensi Gizi Spesifik 42
Stunting dan Kemiskinan 44
Stunting dan Fortifikasi 45
Stunting dan Mikronutrien 46
Stunting dan Ketimpangan Ekonomi 47
Stunting dan COVID-19 48
Stunting dan Dukungan Keuangan Negara 50
Stunting dan Konvergensi Level Desa 51
Stunting dan Indikator Kinerja Pencegahan Stunting 52
Stunting Sulsel 2020
vii
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 13/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Knowledge Management Cognitive Pyramid .................................................26
Gambar 2. Visual Analog Scale.........................................................................................29
Gambar 3. Visual Analog Scale 0-100...............................................................................30
Gambar 4. Kurva Adopsi Ide Baru ....................................................................................31
Gambar 5.Gelombang Kelima Kesmas .............................................................................32
Gambar 6. Strategi Nasional Pencegahan Stunting.........................................................35
Gambar 7. Mind Map.......................................................................................................37
Gambar 8. Lobi Sederhana Pencegahan Stunting ............................................................37
Gambar 9. Intervensi Konvergensi ...................................................................................40
Gambar 10. Intervensi Sensitif .........................................................................................42
Gambar 11. Intervensi Spesifik ........................................................................................43
Gambar 12. Prediksi Kemiskinan dan Stunting ................................................................44
Gambar 13 Alasan Fortifikasi ...........................................................................................46
Gambar 14. Kemiskinan dan Gini Rasio............................................................................48
Gambar 15. Kemiskinan dan COVID-19............................................................................49
Gambar 16. Publikasi Stunting Indonesia.........................................................................50
viii
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 14/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
BAB I
PENDALUAN
A. Latar Belakang
4Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World Health
Organization (WHO),1 Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan
prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR).
Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 2005-2017 adalah 36,4%.
Determinan faktor masalah gizi adalah multidimensi. 2, 3, 4, 5
Balita Stunting di Indonesia 7berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
Tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 37,2 %. Sumber7data lain
dari hasil Pemantauan Status Gizi Tahun 2016, mencapai 27,5 %. Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan ambang batas minimal stunting adalah <
320%. Hal ini berarti pertumbuhan yang tidak maksimal dialami oleh sekitar 8,9
juta anak Indonesia, atau 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting. Lebih dari
1/3 anak berusia di bawah 5 tahun di Indonesia tingginya berada di bawah rata-
rata. Khusus untuk Provinsi Sulawesi Selatan adalah termasuk dalam urutan ke
empat secara nasional memiliki prevalensi stunting tertinggi. 3H2asil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesda) tahun 2013 dan 2018 stunting di Sulsel adalah 40,9%
dan 35,7%.6–10
Berdasarkan hasil analisis deskriptif diatas maka secara nasional stunting
adalah masalah gizi dan kesehatan yang sangat serius, karena kecenderungannya
meningkat sejak lima tahun terakhir 25,7% menjadi 30,8% antara tahun 2013
1
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 15/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
hingga 2018. Segmen populasi paling berisiko dapat dilihat pada proporsi
terjadinya masalah stunting menurut akses kepemilikan (miskin). Stunting sejak
tahun 2013 telah dipastikan terjadi paling besar proporsinya pada penduduk
dengan akses kepemilikan paling rendah (miskin) sebanyak 48,8% 11.
Faktor penyebab stunting berdasarkan hasil kajian sistematik review
determinan faktor stunting di Indonesia adalah disebabkan oleh berbagai faktor
yaitu Faktor1R5umah Tangga dan Keluarga, Tidak cukupnya makanan pendamping
air susu ibu, Praktek menyusui, Penyakit infeksi, Faktor masyarakat dan faktor
sosial. Hasil kajian untuk kelima faktor diatas didasarkan pada kerangka konsep
penyebab stunting yang diterbitkan WHO Tahun 2013 (Stewar, et.al, 2013).
Faktor rumah tangga dan keluarga mencakup rendahnya kualitas asupan gizi
selama pra konsepsi, kehamilan dan phase menyusui. Selain itu status gizi ibu
selama hamil menentukan status tinggi badan anak yang dilahirkan. Kehamilan
terlalu dini atau usia perkawinan yang mudah memberikan resiko besar untuk
stunting, Tidak cukupnya makanan pendamping air susu ibu, rendahnya
pengetahuan tentang makanan pendamping, praktek menyusui yang tidak
berkualitas, dukungan sosial masyarakat yang rendah pada pelayanan kesehatan
ibu dan anak, perekonomian, inflasi, gini rasio, kesehatan lingkungan, dan
penyakit infeksi.
1Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh stunting dalam jangka
pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan
pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Dalam jangka
2
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 16/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan
kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah
sakit, dan resiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit
jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua.
Kesemuanya itu akan menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia,
produktivitas, dan daya saing bangsa.
Pencegahan stunting adalah melalui Intervensi Gizi Spesifik dan sensitif.
Intervensi spesifik adalah 1intervensi yang ditujukan kepada ibu hamil dan anak
dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh
sektor kesehatan. Intervensi spesifik bersifat jangka pendek, hasilnya dapat
dicatat dalam waktu relatif pendek. Intervensi Gizi Sensitif adalah Intervensi yang
ditujukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan.
Sasarannya adalah masyarakat umum, tidak khusus untuk sasaran 1.000 Hari
Pertama Kehidupan.12–15
Intervensi Gizi Spesifik dengan sasaran1i8bu hamil, anak usia 0-6 bulan,
anak usia 7-23 bulan. 1Intervensi dengan sasaran Ibu Hamil meliputi (1)
Memberikan makanan tambahan pada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan
energi dan protein kronis (2) Mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat (3)
Mengatasi kekurangan yodium (4) Menanggulangi kecacingan pada ibu hamil
dan (5) Melindungi ibu hamil dari Malaria. Intervensi dengan sasaran Ibu
Menyusui dan Anak Usia 0-6 Bulan adalah (1) Mendorong inisiasi menyusui dini
(pemberian ASI jolong/kolostrum), (2) Mendukung pemberian ASI Eksklusif.
3
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 17/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
Intervensi dengan sasaran Ibu Menyusui dan Anak Usia 7-23 bulan adalah (1)
Mendorong penerusan pemberian ASI hingga usia 23 bulan didampingi oleh
pemberian MP-ASI, (2) Menyediakan obat cacing (3) Menyediakan suplementasi
zink (4) Melakukan fortifikasi zat besi ke dalam makanan (5) Memberikan
perlindungan terhadap malaria (6) Memberikan imunisasi lengkap dan (7)
Melakukan pencegahan dan pengobatan diare.16–23
Intervensi Gizi Sensitif adalah secara Ideal dilakukan melalui berbagai
kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70%
Intervensi Stunting. Sasaran dari intervensi gizi spesifik adalah masyarakat secara
umum dan tidak khusus ibu hamil dan balita pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan
(HPK). (1) Menyediakan dan Memastikan Akses pada Air Bersih. (2)
Menyediakan dan Memastikan Akses pada Sanitasi. (3) Melakukan Fortifikasi
Bahan Pangan. (4) Menyediakan Akses kepada Pelayanan Kesehatan dan
Keluarga Berencana (KB). (5) Menyediakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). (6)
Menyediakan Jaminan Persalinan Universal (Jampersal) (7) Memberikan
Pendidikan Pengasuhan pada Orang tua. (8) Memberikan Pendidikan Anak Usia
Dini Universal. (9) Memberikan Pendidikan Gizi Masyarakat. (10) Memberikan
Edukasi Kesehatan Seksual dan Reproduksi, serta Gizi pada Remaja (11)
Menyediakan Bantuan dan Jaminan Sosial bagi Keluarga Miskin (12)
Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Gizi.
Pencegahan stunting jelas merupakan pekerjaan yang sangat rumit,
sehingga dibutuhkan pendekatan sistemik yang dilakukan secara
4
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 18/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
berkesinambungan. Salah satu pendekatan sistemik dan berkelanjutan adalah
pemasaran sosial pencegahan stunting. Pemasaran sosial adalah salah satu
peluang paling baik, karena berbekal kecerdasan komunikasi massa dan berbagai
bentuk komunikasi lainnya dapat mempengaruhi dan atau propaganda positif
tentang cara mencegah stunting.
Masalah yang dihadapi adalah bahwa leading sector dalam pencegahan
stunting tidak cukup dibekali dasar dasar pemasaran sosial. Pemasaran social
memang tidak lahir bersamaan dengan kurikulum pendidikan kesehatan klasik.
Pemasaran sosial harus di insert masuk kedalam sistem berfikir tenaga kesehatan
yang telah lama bekerja secara konvensional mengatasi masalah kesehatan
secara umum dengan driver medis semata mata. Meskipun idealnya masalah
kesehatan haruslah diatasi pada akar penyebabnya.
Masyarakat awam memandang bahwa masalah kesehatan secara umum
haruslah diatasi dengan obat, sehingga korelasi pendirian rumah sakit adalah
positif dengan angka kesakitan dan angka kematian. Idealnya setiap penyakit
bukan dicari obatnya tetapi dicari penyebabnya untuk diatasi. Inilah konsep
pertama pemasaran sosial yang akan banyak dibahas pada bagian bagian penting
berikutnya di buku2ini.
5
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 19/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penyusunan Buku Pemasaran Sosial Pencegahan
Stunting adalah untuk menjelaskan konsep dan implementasi pemasaran
sosial pada upaya pencegahan stunting
22. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penyusunan modul ini adalah untuk memudahkan
tenaga gizi desa;
a. Konsep pemasaran dan pemasaran social
b. Produk pemasaran sosial pencegahan stunting
c. Tempat pemasaran sosial pencegahan stunting
d. Promosi pemasaran sosial pencegahan stunting
e. Mengimplementasikan strategi nasional pencegahan stunting
C. Manfaat
Modul ini memberikan manfaat bagi, berbagai pihak pihak:
a) Praktisi Gizi Masyarakat dan Profesi Dietisien
Buku ini dapat digunakan untuk melakukan strategi komunikasi massa
dalam upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam mencegah
stunting
6
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 20/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
b) Tenaga Gizi Desa
Tenaga gizi, memerlukan pedoman praktis dalam pemberdayaan keluarga
mengatasi masalah kesehatan masyarakat. Pedoman ini dapat digunakan
sebagai pedoman dalam pemberdayaan keluarga mengatasi gizi dan
kesehatan.
c) Pemerintah Desa
Pemerintah desa adalah institusi paling depan dalam melayani
kepentingan peningkatan kesehatan masyarakat desa. Pedoman ini
dapat digunakan untuk menyusun strategi perbaikan gizi masyarakat
desa.
d) Praktisi kesehatan masyarakat
Praktisi kesehatan masyarakat, perlu melakukan kegiatan inovasi
dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat sesuai dengan fokus
masalah kesmas. Pedoman ini bermanfaat, sebagai salah inovasi
pencegahan stunting secara berkelanjutan.
e) Peneliti
Pedoman ini bermanfaat bagi peneliti tema pencegahan stunting,
sebagai salah satu comparator intervensi randomized control trial, untuk
menguji hipotesis penelitian yang sesuai. Pembuktian ilmiah diperlukan
untuk menetapkan praktek terbaik dalam pencegahan stunting 1d0i
Indonesia pada umumnya dan di Sulawesi Selatan pada khususnya.
7
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 21/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
BAB II
KONSEP PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING
A. Pendahuluan
Pada bagian ini, mahasiswa profesi dietisien melakukan pendalaman terhadap
konsep pemasaran sosial pencegahan stunting. Hal ini penting untuk memberikan dasar
berpikir yang sistematis dan terencana tentang bagaimana pemasaran sosial dilakukan.
Pada bagian awal akan diuraikan tentang komponen pokok pemasaran social, karena
apabila komponen pokok ini dipahami, maka selanjutnya mahasiswa profesi dietisien
akan mampu melakukan tugasnya sebagai pelaku pemasar produk sosial dalam
pencegahan stunting. Ada empat komponen yang didalami yaitu produk, price, place
dan promosi.
Secara umum mahasiswa profesi dietisien melakukan kegiatan di bagian ini
adalah dalam bentuk kajian literatur dan praktek membuat produk pemasaran sosial
pencegahan stunting. Pada bagian akhir dari sesi ini peserta akan diuji kemampuan
penyerapannya terhadap kompetensi pemasaran sosial pencegahan stunting. Bentuk
ujiannya adalah dengan ujian tulis dan naskah akademis pemasaran sosial pencegahan
stunting.
Pada bagian akhir dari sesi ini peserta menyelesaikan soal soal latihan secara
mandiri, dan setelah menyelesaikan soal latihan dapat diukur19kemampuannya sendiri
dengan melihat kunci jawaban yang disediakan sebelum bagian akhir dari sesi ini.
Apabila mahasiswa masih menemukan banyak kesalahan dalam menjawab maka
sebaiknya membaca ulang naskah hingga tuntas dan paham sebelum melangkah ke
bagian berikutnya.
8
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 22/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
B. Tujuan
Setelah mahasiswa profesi dietisien selesai mempelajari dan atau melakukan
praktek pemasaran soal pencegahan stunting, maka diharapkan mampu
menjelaskan konsep pemasaran sosial pencegahan stunting secara tepat.
C. Materi
1. Produk Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting
Produk pemasaran sosial pencegahan stunting adalah berbagai
bentuk kegiatan yang memiliki daya ungkit paling besar terhadap upaya
pencegahan stunting. Produk ini dibagi dalam dua bentuk yaitu produk
barang dan produk jasa pelayanan social. Produk dalam pemasaran sosial
pada umumnya adalah produk yang tidak kasat mata (untangible object).
Meskipun produk ini tidak kasat mata namun kehadirannya dirasakan nyata
oleh penerima manfaat. Contoh sederhana produk pemasaran sosial adalah
konseling gizi pencegahan stunting. Konseling ini tidak dapat dilihat sebelum
ia mampu dilakukan dalam praktek konseling. Jadi produk dalam pemasaran
sosial hanya dapat diketahui setelah melalui prosesnya, karena produknya
adalah produk pelayanan social termasuk didalamnya pelayanan kesehatan.
Underline dari produk ini adalah mampu membangkitkan hasrat
penerima manfaat untuk menggunakannya. Jika produknya adalah konseling
gizi maka hasrat bagi klien untuk melakukan semua anjuran selama konseling
dianggap sebagai produk yang telah dibeli atau telah diterima secara sadar
tanpa dipaksa bahkan penerima manfaat dengan suka rela melakukan
9
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 23/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
pemakaian berulang ulang atas produk pemasaran sosial. Tentu
sebagaimana kaidah kaidah pemasaran modern bahwa setiap produk
haruslah diberi nama, karena ia tidak nyata sebelum ia diperagakan. Berbeda
halnya dengan produk barang, tanpa diberi nama konsumen memahami apa
yang ia lihat karena ia barang berdimensi atau berwujud. Produk dalam
pemasaran sosial tidak akan mampu dideskripsikan oleh penerima manfaat
sebelum ia merasakan atau dilibatkan dalam kegiatan dimaksud. Inilah
sebabnya sehingga kekuatan utama produk pemasaran sosial adalah pada
dinamika komunikasi saat pelayanan social dilakukan.
Tidak semua bentuk pelayanan kesehatan dapat dimasukkan ke
dalam produk pemasaran sosial, kecuali ia telah memiliki karakter kuat untuk
mengubah persepsi penerima manfaat untuk terus patuh dan tunduk
dengan anjuran anjuran kesehatan secara berkelanjutan. Ini disebabkan
pendekatan persuasi atau propaganda positif yang menjadi ciri produk
social. Jika tujuan yang ingin dicapai untuk pencegahan stunting maka
produknya harus semua upaya pelayanan kesehatan dan gizi yang terbukti
mampu menurunkan stunting.
Berbagai bentuk produk pemasaran sosial dibagi menjadi dua bagian :
a. Produk Tangible
b. Produk Untangible
Produk tangible adalah produk yang dapat dilihat secara kasat mata.
Produk ini dapat berupa produk makanan atau bukan makanan. Khusus
10
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 24/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
produk makanan yang dapat dikategorikan sebagai produk pemasaran sosial
pencegahan stunting adalah semua produk makanan yang memiliki khasiat
untuk mencegah stunting melalui serangkaian bukti bukti penelitian ilmiah.
Bentuk produk makanan yang diakui dunia saat ini yaitu Suplemen
Mikronutrien/Makronutrien dari berbagai merek (Bubuk Padat Gizi). Banyak
produsen22yang mengklaim bahwa produknya dapat menambah tinggi badan
dengan melampirkan bukti bukti hasil studi. Contoh yang telah lama
diketahui adalah Taburia, Proten, Kapsul Kelor, Biskuit MP-ASI, Biskuit Bumil
KEK. Bentuk makanan ini berbeda beda disetiap negara merek dagangannya
tetapi komposisinya mirip dan mengacu pada standar makanan anak yang
berlaku disetiap negara. Cara mengetahuinya adalah dengan melihat
komposisi atau label pada produk.
Tentu saja produk yang banyak beredar adalah 3p1roduk yang
dihasilkan oleh industri makanan dan minuman skala besar. Meskipun
underline dari produk makanan sebagai produk pemasaran sosial
pencegahan stunting adalah makanan dengan komposisi gizi yang memadai
untuk menunjang proses 2tumbuh kembang khususnya pada periode 1000
Hari Pertama Kehidupan. Berdasarkan konsep underline inilah maka produk
makanan sebagai produk pemasaran sosial pencegahan stunting adalah juga
produk makanan lokal yang memiliki komposisi gizi lengkap dan cukup sesuai
kebutuhan tumbuh kembang anak.
11
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 25/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
Produk untangible adalah semua produk berbentuk jasa pelayanan
yang diberikan kepada setiap konsumen. Konsumen disini adalah masyarakat
yang memanfaatkan pelayanan kesehatan. Produk untangible adalah
bersifat personal maupun institusional. Produk yang bersifat personal
adalah karakter yang melekat pada setiap person pemberi layanan. Misalnya
dalam bidang gizi masyarakat, seorang ahli gizi yang sedang melayani
konsultasi gizi pasien rawat jalan memiliki kompetensi sosial dan cara cara
berkomunikasi yang baik dan menyenangkan klien maka kompetensi sosial
dan kemampuan komunikasinya adalah produk untangible. Tidak dapat
dipegang seperti benda tetapi dapat dirasakan manfaat dan pengaruhnya
selama proses pelayanan diberikan. Produk untangible ini tidak banyak
dipahami oleh tenaga kesehatan di berbagai pusat pelayanan sehingga
terkesan produk layanan hanyalah resep, jarum suntik, obat dan berbagai
alat bantu layanan kesehatan lainnya.
Produk untangible dan tangible seringkali harus sebagai dua sisi mata
uang yang tidak boleh saling lepas. Jika ada produk nyata maka harus diikuti
oleh bentuk layanan pemakaian yang ramah dan bersahabat saat ia
dioperasionalkan. Salah satu contoh seorang tenaga gizi ingin melakukan
pengukuran tinggi badan pada seorang remaja putri yang pendek. Secara
social remaja yang pendek tidak ingin diukur tinggi badannya di depan
umum, meskipun dengan alat ukur yang canggih sekalipun. Pada posisi
seperti ini ahli gizi sudah memiliki alat antropometri berupa microtoise
12
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 26/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
digital, namun masih harus didukung oleh kemampuan untangible yaitu
persuasi yang cukup kepada remaja putri untuk dapat diukur tinggi badannya
tentu 2dengan cara yang tepat dan waktu yang tepat. Kemampuan
komunikasi bukanlah benda berwujud nyata tetapi abstrak dan tidak dapat
dilakukan tanpa kemampuan khusus yang dilatih.
Produk untangible inilah yang menjadi kekuatan dalam pemasaran
sosial, karena pemasaran social tentu tidak ingin memaksakan kehendak
untuk diikuti tetapi membuat setiap orang merasa butuh bahwa merekalah
yang paling membutuhkan produk itu. Mereka akan mencari produk
untangible secara aktif bukan pasif. Ini memerlukan upaya pemasaran sosial
yang handal.
Bagaimana memastikan bahwa sebuah produk pemasaran sosial
sudah handal? Jika pengadopsi atau pemakainya sudah mampu menembus
>30% populasi target. Apa dasarnya angka 30%? Ini didasarkan pada kurva
adopsi ide baru. Bahwa setiap ide baru di awalnya hanya akan diadopsi oleh
< 30% populasi namun setelah ia dapat bertahan dan tetap bertahan maka ia
akan mampu menembus > 30% populasi setelah waktu minimal 3 bulan.
Tentu ini bukanlah angka pasti tetapi angka yang dapat diraih dan diestimasi
sesuai dengan besarnya space pemasaran yang dilakukan.
Berikut Berbagai Contoh Produk Pemasaran Sosial Pencegahan
Stunting
13
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 27/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
No Gambar Sumber/Link
Tangible
8http://www.p2ptm.kemkes.go.id/kegiat
1 an-p2ptm/subdit-penyakit-diabetes-
melitus-dan-gangguan-
2 metabolik/cegah-stunting-dengan-
perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-
sanitasi
https://health.grid.id/read/352024440/
gridhealth-talk-faktor-utama-angka-
stunting-masih-tinggi-di-
indonesia?page=all
http://indonesiabaik.id/ebook/bersama
3 -perangi-stunting
https://katadata.co.id/ariayudhistira/inf
4 ografik/5e9a560cb6376/1-dari-3-balita-
indonesia-derita-stunting
14
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 28/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
Berdasarkan gambar diatas agar dapat dipahami bahwa produk pemasaran sosial tidak
hanya bahan yang dapat dimakan, tetapi yang lebih penting produk yang dapat
menyebabkan setiap orang mengalami proses belajar untuk mengambil keputusan
terkait dengan stunting. Jika awalnya sasaran memandang bahwa stunting bukan
masalah kesehatan maka sebaiknya ditampilkan pesan pesan yang dapat merubah
persepsi sasaran yang salah. Inilah kunci pemasaran social. Perhatikan gambar berikut
ini. Gambar berikut ini ditujukan untuk merubah persepsi klien bahwa stunting bukan
masalah kesehatan, berubah menjadi persepsi masalah kesehatan.
No Gambar Sumber/Link
Tangible
https://twitter.com/datagoid/status/10
1 89859000286380032/photo/1
3h0 ttp://www.p2ptm.kemkes.go.id/artikel
2 -sehat/stunting-ancam-bonus-
demografi
15
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 29/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
http://gizi.unida.gontor.ac.id/2019/09/1
32/i5bu-cerdas-sadar-gizi-cegah-stunting-
3 sejak-dini/
Berdasarkan gambar pada tabel diatas jelas diketahui bahwa produk pemasaran
sosial sangat luas namun tetap fokus pada isu stunting. Kalau produk produk makanan
itu sudah jelas dapat dengan mudah dipahami dan produk makanan biasanya jalur
pemasarannya bukan pada pemasaran social tetapi pemasarannya melalui jalur
pemasaran komersial melalui iklan oleh produsen. Perbedaan inilah yang juga menjadi
perhatian penting bahwa pemasaran sosial biasanya di endorse oleh lembaga sosial
atau lembaga pemerintah yang tidak sedang berdagang dengan rakyatnya.
Pemasaran social seringkali tidak dirasakan sebagai produk oleh penerima
manfaat kecuali oleh aktor dibalik kegiatan pemasaran sosial dimaksud. Salah satu
contoh klasik pemasaran sosial yang sukses di Indonesia adalah Dua Anak Cukup oleh
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Dua anak cukup sebagai
produk pemasaran sosial keluarga berencana sukses berkelanjutan. Bukti nyata di
berbagai daerah jumlah murid sekolah dasar jauh berkurang dibanding awal periode
kemerdekaan RI.
Khusus untuk kasus pencegahan stunting salah satu produk sosial yang menjadi
ikon adalah gizi tinggi prestasi.
16
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 30/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
4 https://twitter.com/gizitinggi
Ini adalah salah satu contoh produk pemasaran sosial pencegahan stunting.
Hanya saja, saat ini di Indonesia tidak satu pesan yang unggul yang menjadi bahasa
umum di kalangan masyarakat, seperti hanya pesan Empat Sehat Lima Sempurna.
1h4 ttp://infonutrisidankesehatan.blogspot
5 .com/2013/10/apa-itu-4-sehat-5-
sempurna.html
Sebagai konsep lama, tentu 4 sehat 5 Sempurna tidak dapat dipakai lagi saat ini
karena berbagai alasan. Namun pada konteks produk pemasaran sosial produk
untangible ini masih merajalela saat ini di alam bawah sadar penduduk Indonesia. Inilah
keunikan dari produk pemasaran sosial yang berhasil ditanamkan pada alam pikiran
bawah sadar. Tentu ini tidaklah mudah tetapi melalui cara cara yang sangat terstruktur
dan terukur. Pesan singkat dan mudah dipahami menyebabkan pesan sosial ini memiliki
kemampuan penetrasi yang kuat. Selain itu inheren kata 45 di dalamnya yang menunjuk
pada ingatan bangsa kita pada tahun kemerdekaan. Konsep driving diterapkan dengan
baik pada semboyang empat sehat lima sempurna.
17
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 31/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
Sekarang bagaimana dengan produk pemasaran sosial pencegahan stunting?
Hingga saat ini belum ada upaya yang sistematis menetapkan semboyang atau pesan
singkat yang dipahami dan menyatu dengan komunitas. Gizi tinggi prestasi memang
kalimat yang singkat tetapi ini belum membumi pada setiap peristiwa social. Butuh
usaha yang terus menerus dilakukan oleh pemerintah dan seluruh masyarakat untuk
mengucapkan berulang ulang slogan gizi tinggi prestasi.
2. Tempat Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting
Tempat (Place) dalam pemasaran adalah lokasi dimana produk dipajang. Pada
pemasaran sosial konsep yang sama juga demikian. Tempat pada produk pemasaran
sosial melekat pada peristiwa di ruang dan waktu yang berbeda. Peristiwa yang
melibatkan pada tokoh, pemimpin, public figure disitulah produk social itu dipajang. Ini
artinya slogan pencegahan stunting harus diucapkan berulang ulang oleh para tokoh,
pemimpin dan public figure setiap ia berbicara dengan pengikutnya ataupun
penggemarnya. Jadi tempat produk pemasaran sosial lebih terkait dengan personal
yang memiliki pengaruh kuat sebagai kelompok referensi.
Tidak semua sosok dapat ditempati sebagai wadah atau driver produk
pemasaran sosial tetapi hanya sosok atau peristiwa yang menyita banyak pemirsa .
Segmentasi sasaran sangat dibutuhkan untuk merumuskan tempat memajang produk
pemasaran sosial ini. Perhatikan gambar 6 di bawah ini. Ini adalah contoh tempat
produk pemasaran sosial pencegahan stunting di Indonesia, dimana Bapak Presiden dan
Bank Dunia menjadi driver (tempat) issue stunting di share ke public.
18
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 32/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
https://nasional.tempo.co/read/110352
6 0/lawan-stunting-jokowi-dan-presiden-
bank-dunia-blusukan-di-bogor
3. Harga Produk Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting
Harga produk pemasaran sosial dibagi menjadi dua yaitu harga nyata dan harga
social. Harganya nyata adalah berhubungan dengan banyaknya biaya yang dikeluarkan
untuk mempromosikan suatu produk pemasaran sosial. Harga ini sama dengan
menghitung biaya produksi dan margine keuntungan. Namun margin keuntungan dalam
harga pemasaran social tidaklah keuntungan berlipat ganda tetapi keuntungan pada sisi
neraca anggaran berkelanjutan.
Jika kita membutuhkan driver produk pemasaran sosial pencegahan stunting
pada public figure pemerintah maka harganya tidaklah semahal kalau kita menggunakan
public figure swasta yang tersohor karena prestasi pribadinya. Pemain sepak bola,
pemain bulu tangkis dan berbagai pemain atau atlet berprestasi lainnya juga dapat
menjadi mitra sebagai tempat memasang produk sekaligus menghitung besarnya biaya
yang dibutuhkan sebagai imbalan timbal balik antara pemasaran dengan pihak yang
diajak kerjasama.
Tidak ada standar harga yang baku untuk pemasaran produk social, karena ini
biasanya berkaitan dengan program kemanusiaan yang dilakukan oleh lembaga negara
19
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 33/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
atau lembaga sosial atas alasan kemanusiaan. Salah satu contohnya produk social
pencegahan stunting, tidak ada lembaga komersial yang mau berinvestasi di bidang ini
karena manfaat langsungnya tidak akan mereka dapatkan secara langsung. Namun
sebagai bangsa yang ingin rakyatnya sejahtera maka Negara haruslah membiaya
produk social pencegahan stunting melalui pembiayaan kampanye pemasaran sosial di
berbagai media.
4. Promosi Produk Pemasaran Sosial Pencegahan Stunting
Promosi secara sederhana dimaknai bujukan halus dan memikat hati.
Promotor adalah orang yang melakukan promosi. Promotor jelas merupakan
orang yang memahami karakter produk yang akan dipromosikan. Pada kasus
produk komersial sangat sederhana dan mudah memahami konteks produk
karena dapat lihat dengan mata diraba dengan tangan dan dipelajari karakternya
melalui buku katalog produk. Buku katalog produk sifatnya statis selama tidak
ada b varian baru. Jadi promotor cukup memahami kelebihan dan keunggulan
produk yang statis maka selesai tugasnya sebagai promotor produk.
Kemampuan berikutnya adalah kemampuan membujuk dan atau memikat hati
calon pembeli.
Promosi pada produk social seperti pencegahan stunting relatif lebih sulit
karena sifatnya dinamis. Promotor harus mengikuti dinamika sosial yang
membungkus issu pokoknya seperti itu stunting. Stunting berbeda latar social
berbeda persepsi komunitas terhadapnya. Ini membutuhkan pengetahuan
20
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 34/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
sosiologi dan disiplin ilmu ilmu lain yang terkait dengan manusia dan alam
sekitarnya.
Berbagai bukti keberhasilan pemasaran sosial dalam pelayanan
kesehatan masyarakat adalah sebagai berikut;
Aya Pastrana (2020) menyatakan bahwa pemasaran social sudah dapat
digunakan untuk gerakan pencegahan penyakit degeneratif. Antara tahun 1971-2017
insiden penyakit ini sangat meningkat dengan tajam sehingga memaksa semua pihak
untuk memilih satu gerakan massal dalam pemasaran sosial pencegahan penyakit ini. Ini
adalah salah satu contoh pemasaran social digunakan pada pencegahan penyakit
termasuk stunting. Pendekatan ini telah tercatat sebagai upaya yang sukses melalui
upaya pendidikan kesehatan dan peningkatan kapasitas kepada semua pihak terkait
dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular.
Goethals L (2020) melaporkan bahwa penekanan angka kesakitan pada
kelompok lansia > 65 tahun juga sukses dengan pendekatan social marketing. Bentuk
kegiatan yang dipromosikan adalah promosi aktivitas fisik antara tahun 2008 – 2019.
Mah CL et al (2019) melakukan studi social marketing pada kepatuhan diet melalui
lingkungan makan yang baik. Konsumen yang mengunjungi tempat makan di edukasi
tentang pentingnya makan sehat dan ini juga berhasil setelah dilaporkan dari berbagai
laporan hasil studi. Noy S (2019) melakukan pemasaran sosial peningkatan konsumsi
sayur dan buah dan hasilnya disimpulkan bahwa pemasaran social konsumsi sayur dan
buah berhasil setelah dilakukan sekian lama dengan melibatkan berbagai pemangku
kepentingan khususnya dilaporkan dari semua studi di negara berkembang.
Berdasarkan berbagai bukti diatas maka upaya pencegahan stunting sangat
beralasan untuk diatasi dengan pendekatan pemasaran sosial pencegahan stunting.
21
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 35/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
Indonesia butuh akselerasi percepatan penurunan persentase stunting, untuk
memastikan bahwa generasi bangsa unggul dan mampu berkompetisi dengan berbagai
bangsa di dunia.
22
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 36/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
BAB III
MENGUKUR PENGARUH PEMASARAN SOSIAL PENCEHAGAN STUNTING
A. Pendahuluan
Pertanyaan kritis yang harus dijawab adalah apakah pemasaran sosial
pencegahan stunting dapat diukur efeknya? Jawaban atas pertanyaan ini
memerlukan penjelasan yang panjang dan sistematis. Pertama harus dipahami
bahwa cara kerja pemasaran sosial berbeda dengan pemasaran komersial karena
sifatnya yang abstrak. Sifat ini juga berkaitan dengan sulitnya mengukur dampak
perubahan yang ditimbulkannya karena ranahnya adalah pada alam persepsi dan
sikap pengadopsi.
Kedua bahwa dampak yang dapat diukur secara kuantitas adalah ada
pada perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku target sasaran. Pada tahap
awal akan melakukan penetrasi pada sisi pengetahuan, kemudian sikap dan
terakhir pada perubahan perilaku. Berdasarkan cara kerja yang demikian jelas
bahwa mengukur perubahan akibat pemasaran sosial adalah harus
menggunakan pendekatan adopsi inovasi. Salah satu konsep yang paling populer
adalah AIETA.
Awareness adalah sadar bahwa sesuatu yang baru telah ada, namun
belum ada minat untuk memperhatikannya apalagi memakai atau menganutnya.
Interest adalah rasa tertarik bahwa sesuatu yang baru lebih baik daripada yang
sudah ada. Ini muncul setelah berulang kali terpapar informasi produk atau
23
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 37/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
karena memang produk lama tidak lagi mampu menjalankan fungsinya dengan
baik.
Evaluasi adalah seseorang mulai menilai kelemahan dan kelebihan
produk baru dibanding produk lama. Perhatikan bahwa dalam konteks ini produk
kita adalah produk social pencegahan stunting. Tentu tidak mudah
memperkenalkan slogan gizi tinggi prestasi.
Trial adalah target sasaran sudah mulai menerima konsep baru dalam
tahap uji coba. Pada konteks produk sosial maksudnya sasaran sudah mulai
sepakat dan sepemahaman bahwa konsep baru tentang stunting adalah benar
apa adanya dan perlu di dukung dan disebarluaskan kepada masyarakat luas
pada berbagai kesempatan. Sampai pada batas batas tertentu keyakinan ini
dapat membaik atau bahkan sebaliknya apabila pemasar gagal membuktikannya.
Adopsi adalah target pemasar sudah secara sadar tanpa paksaan
melakukan dan atau menerima ide baru. Jarak antara saat pertama mengenal
konsep (awareness) hingga adopsi adalah berbeda beda setiap orang dan atau
setiap kelompok sasaran. Semakin baik tingkat pemahaman dan kesepahaman
antara ide baru dengan latar social pemakai sasaran maka akan semakin dekat
jarak antara tahap awal hingga tahap adopsi. Apapun alasannya tidak ada adopsi
yang dapat dicapai dalam waktu singkat harian, dan mingguan atau bahkan
bulanan dan tahunan.
Sekarang kita kembali ke fokus utama adalah bagaimana mengukur efek
pemasaran sosial pada pencegahan stunting?. Efek itu diukur pada perubahan
24
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 38/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
dimensi pengetahuan, sikap dan perilaku. Skala yang digunakan adalah
disesuaikan pada komponennya. Jika pengetahuan maka skala ukurnya adalah
persentase pengetahuan, jika sikap maka skala pengukurannya adalah skala sikap
sementara jika perilaku maka juga menggunakan skala perilaku. Semua ini akan
dibahas pada bagian berikutnya.
B. Tujuan
Tujuan materi ini adalah agar mahasiswa atau pembaca memahami cara
mengukur pengaruh pemasaran sosial dengan benar.
C. Materi
1. Aspek Pengetahuan
Mengukur pengetahuan adalah melalui seperangkat instrumen
pengetahuan yang disusun secara sistematis sesuai dengan variabel yang ingin
diketahui. Bentuknya tertulis, ataupun lisan. Ini sama seperti bentuk berbagai
soal dalam rangkaian test.
Perkembangan terbaru tentang dimensi pengetahuan meliputi dimensi
data, informasi, pengetahuan dan wisdom. Data adalah sekumpulan fakta yang
digunakan untuk menggambarkan sesuatu. Data selalu berbentuk jamak yang
artinya selalu muncul berulang kali sehingga dapat diamati. Informasi adalah
sekumpulan keterangan yang berkaitan dengan data dalam bentuk ukuran
kecenderungan. Sekumpulan keterangan dari data yang memiliki arti dan dapat
dipahami. Jika sekumpulan data tidak diolah maka tidak dapat memberikan
informasi yang penting. Tidak semua kumpulan data dapat memberikan
25
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 39/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
informasi kecuali ia telah diolah 2d4engan baik dalam bentuk tabel, gambar dan
grafik atau infografis lainnya. Pengetahuan adalah informasi yang saling
berhubungan satu sama lain membentuk narasi yang diketahui oleh seseorang.
Setiap orang akan memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda tergantung
seberapa sering ia terpapar data dan informasi.
Gambar 1. Knowledge Management Cognitive1P3 yramid
http://selfmotivator.web.id/2017/apa-itu-data-information-knowledge-dan-wisdom.html
Wisdom adalah kebijaksanaan, maksudnya adalah 23semakin tinggi
pengetahuan seseorang maka ia akan semakin bijaksana. Mengapa demikian?
Karena orang yang berpengetahuan luas memiliki sudut pandang yang juga luas,
sehingga ia tidak terbatas pada logika yang sempit. Hanya saja untuk urusan
bijaksana atau tidak belum banyak elaborasi dalam mengukur pengetahuan.
26
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 40/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
2. Aspek Sikap
Pada umumnya skala sikap adalah disebut skala hedonic atau dalam
bidang gizi disebut skala hedonic. Ini biasa digunakan untuk menilai skala
kesukaan terhadap makanan dan minuman. Namun pada dasarnya skala
hedonic merujuk pada tendensi kesukaan atau ketidaksukaan terhadap sesuatu
bukan hanya kesukaan terhadap makanan.
Pada umumnya skala yang digunakan adalah skala ordinal mulai dari
ekstrem negative hingga ekstrem positif. Ekstrem negatif artinya sangat tidak
suka dan ekstrem positif artinya sangat suka. Skala jarak yang digunakan ada
dua yaitu ganjil dan genap. Contoh skala ganjil
Gizi Tinggi Prestasi
-2 -1 0 1 2
Selain menggunakan skala ganjil kita juga dapat menggunakan skala
genap, jika populasi atau sasaran yang ingin digunakan pada umumnya belum
memiliki sikap khusus atau lebih memilih netral maka kita sebaiknya
menggunakan skala genap. Contoh skala genap adalah ;
Gizi Tinggi Prestasi
-3 -2 -1 1 2 3
Maksud dari skala diatas adalah apakah sikap responden terhadap
pernyataan gizi tinggi prestasi?. Jika ia suka atau setuju dengan pernyataan
diatas maka ia seharusnya memiliki nilai positif sesuai dengan skala kesukaan
atau kesetujuannya, demikian juga sebaliknya. Cara ini memudahkan kita untuk
27
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 41/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
melakukan analisis data sikap khususnya jika kita bekerja dengan paket pengolah
data. Sisa kita masukkan nilai nilainya maka dapat dengan mudah kita dapatkan
hasilnya dalam bentuk tabel dan grafik.
Selain dengan bentuk skala diatas seringkali juga kita membuat pilihan
dengan langsung menulisnya seperti ini:
Bagaimana tanggapan anda tentang pernyataan “ gizi tinggi prestasi”
21. Sangat tidak setuju
2. Agak setuju
3. Tidak tahu
4. Tidak setuju
5. Sangat tidak setuju
Perlu diperhatikan apabila kita menggunakan skala seperti diatas maka
saat kita melakukan analisis data pada aplikasi pengolah data maka tetap kita
harus mendefinisikannya sesuai dengan nomor nomor kode yang sesuai. Pada
contoh diatas misalnya kode 1 adalah didefinisikan sebagai pernyataan sangat
setuju. Demikian juga dengan skala skala lainnya.
Kelemahan skala diatas adalah tidak27dapat dilanjutkan dengan uji beda
rata rata pada analisis data. Mengapa ini penting? Karena tujuan kita mengukur
dampak adalah pengukur peta perubahan skala pengetahuan, sikap dan perilaku.
Tentu kalau kita ingin mengetahui perubahannya maka kita sebaiknya
menggunakan nilai beda rata rata sebelum dan setelah dilakukannya pemasaran
social.
28
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 42/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
Saat kita ingin melakukannya maka kita butuh skala yang sesuai.
Perkembangan terakhir tentang kuantifikasi skala ordinal (sikap) ke skala rasio
(sikap) adalah dengan menggunakan Visual Analog Scale (VAS). Skala VAS
adalah skala yang ditransformasi dari ukuran ukuran kualitatif ke ukuran
kuantitatif dengan menggunakan skala ukur dalam satuan centimeter (cm).
Gambar 2. Visual Analog Scale
Sumber:1h6 ttps://www.iconspng.com/image/58820/pain-scale-fixed
Skala diatas juga dapat dibuat berlawanan arah sesuai dengan variabel
yang kita ukur. Apabila variabel menghendaki nilai positif adalah nilai baik maka
gambar orang tersenyum adalah di sebelah kanan bukan di kiri, demikian juga
sebaliknya. Kita juga dapat memperlebar skalanya, karena semakin lebar maka
variasi hasil pengukuran skala sikap semakin baik. Perhatikan gambar dibawah
ini.
29
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 43/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
Gambar 3. Visual Analog Scale 0-100
3. Aspek Perilaku
Sekarang kita membahas cara mengukur perilaku pada populasi sebagai akibat
adanya pengaruh pemasaran social. Kasusnya adalah kasus pemasaran social
pencegahan stunting. Setelah kita melakukan serangkaian kegiatan pemasaran social
baik melalui kampanye, seminar diskusi, lomba, poster atau spanduk yang berisi ajakan
pencegahan stunting, kita butuh untuk mengukur seberapa besar ide itu dirasakan atau
diterima oleh sasaran. Sampai pada tahap Ini kita butuh serangkaian pengumpulan data
baik melalui sampling ataupun sensus.
Jumlah masyarakat yang telah menerima ide baru akibat kampanye pemasaran
sosial dinilai berdasarkan kurva normal adopsi berikut ini:
30
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 44/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
Gambar 4. Kurva Adopsi Ide Baru
Sumber : http://www.ovicia.com/2019/09/kurva-adopsi-produk-baru.html
Ada lima kelompok dalam menerima adopsi, inovator adalah penggagas
ide wajar ia adalah pihak pertama yang menerima perubahan. Pengguna awal
adalah orang selain innovator jumlah mereka sekitar 13,5%. Mayoritas awal
adalah angka kritis untuk sebuah ide baru. Jika penetrasi mampu dilakukan dan
mampu menembus kelompok ini maka dapat disebut sebagai sukses dalam
kampanye pemasaran sosial. Setiap tahapan setelah tahapan innovator dapat
saja menjadi pengadopsi tetap tetapi juga dapat berbalik apabila marketer tidak
berhasil meyakinkan bukti bukti propagandanya.
Pada seluruh rangkaian proses adopsi sikap baru selalu memiliki dinamika yang
berbeda antar kelompok populasi dan kecepatan inovasi untuk melakukan penetrasi
sangat ditentukan oleh banyak faktor baik pada faktor produk, price, place ataupun
31
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 45/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
promotion. Inilah yang menjadi kunci pemasaran social. Jadi dengan demikian dinamika
sosial masyarakat menjadi faktor atau media yang harus dapat dipahami. ‘
Pintu untuk memahami dinamika sosial masyarakat adalah melakukan
serangkaian adaptasi lalu penetrasi social. Ini adalah satu satunya jalan yang harus
dilakukan jika pemasaran sosial pencegahan stunting dilakukan. Stunting tentu bukan
semata mata masalah kesehatan dan gizi tetapi terkait dan berakar langsung pada
dinamika sosial budaya. Satu sisi memang sudah diakui bahwa pendekatan budaya
dalam intervensi kesehatan harus didahulukan karena subjek dan objek pemanfaat
layanan kesehatan adalah manusia sebagai makhluk sosial. Perhatikan gambar berikut
ini?
Gambar 5.Gelombang Kelima Kesmas
https://slideplayer.com/slide/12686953/
32
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 46/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
Jadi pada awalnya gelombang pertama kesehatan masyarakat adalah
tentang pembangunan infrastruktur air bersih dan sanitasi. Urusan kesehatan
masyarakat banyak terkait dengan urusan sanitasi. Kalau hingga saat ini urusan
sanitasi belum selesai artinya kita belum keluar dari masalah dasar kesehatan
masyarakat. Gelombang kedua adalah urusan biomedik, antibiotic dan vaksin.
Gelombang ketiga adalah urusan klinik dengan menekankan pada intervensi gaya
hidup dan penyakit. Gelombang keempat adalah urusan determinan sosial
sebagai faktor yang perlu dikendalikan. Pada phase akhir adalah urusan budaya.
Kesimpulannya saat ini kalau ada orang sakit, jangan mencari obat tetapi
mencari tahu apa latar penyebabnya pada sisi budaya.
33
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 47/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
BAB IV
LOBI DALAM PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING
A. Pendahuluan
Stunting sudah diyakini sebagai jalan panjang menuju masyarakat
sejahtera. Ini sesuai dengan bukti bukti ilmiah yang terbaru dan diyakini oleh
berbagai negara dan komunitas International. Masalahnya adalah cara untuk
mengatasinya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hambatan dapat
berasal dari dimensi politik, masyarakat dan dimensi pelaksana program. Pada
dimensi politik harus ada arus kuat dari badan badan yang mengurus tata kelola
negara berpihak pada upaya pencegahan stunting. Jika komitmen politik tidak
ada atau bahkan rendah maka stunting lambat diatasi.
Upaya untuk mengatasi konstrain politik adalah lobi kepada pengambil
kebijakan public agar mau berpihak kepada upaya pencegahan stunting.
Idealnya semua negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia, telah terpapar dan
meratifikasi upaya percepatan pencegahan stunting (Scaling Up Nutrition).
Indonesia jelas menjadi salah satu negara yang tergabung dalam gerakan SUN.
Jadi pada dimensi pemerintah pusat Indonesia sudah cukup mengadopsi
kebijakan public pencegahan stunting. Pembentukan Tim Percepatan
Pencegahan Stunting di Indonesia adalah bukti kuat komitmen pemerintah
dalam upaya pencegahan stunting.
34
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 48/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
Gambar 6. Strategi Nasional Pencegahan Stunting
1h2 ttp://tnp2k.go.id/filemanager/files/Rakornis%202018/Stranas%20Percepatan%
20Pencegahan%20Anak%20Kerdil.pdf
Indonesia memiliki komitmen kuat untuk mencegah stunting, dapat dibaca pada
buku diatas. Tugas setiap kita adalah melakukan lobi kepada pemerintah level
Kabupaten/Kecamatan dan bahkan level pemerintah Desa untuk berpihak pada
semua kebijakan pencegahan stunting.
B. Tujuan
Tujuan materi ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa
profesi dietisien dalam melakukan lobi kepada pemangku kepentingan dalam
upaya pencegahan stunting
35
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 49/74
1/6/2021 BUKU PEMASARAN SOSIAL PENCEGAHAN STUNTING 2020_SIRAJUDDIN.pdf - Sirajuddin
C. Materi
1. Definisi Lobi
Lobi adalah persuasi atau ajakan untuk melakukan tindakan
menguntungkan kedua belah pihak. Perhatikan gambar dibawah ini;
https://slideplayer.info/slide/13336975/
Tentu dalam proses komunikasi ini adalah penetrasi ide kepada sasaran
agar memahami apa tujuan kita berdiskusi atau berdialog dengan pihak lain.
Membaca peta konsep atau mind map adalah inti dari lobi. Jika seorang
negosiator telah melakukan dialog intensif dengan pihak lain maka diharapkan
ia sudah memiliki peta konsep yang utuh sehingga mampu melakukan
perumusan kesepahaman bersama yang saling menguntungkan. Keuntungan
bukan hanya dalam urusan uang tetapi dalam urusan yang lebih luas.
36
https://poltekkes-mks.turnitin.com/viewer/submissions/oid:26284:4188031/print?locale=en 50/74