Geev' God, dat 'k u haast zal vinden daar, in uw nieuwe plaats,
In groat gena dienszelfden Heer!
leder mensch leidt oak zijn loopbaan zich derwaarts,
Nu schuwt mijn hart den dood niet meer,
'k Geloof ook dat mijn tred zich haast.
Ach in (wee jaren tijd miste 'k mijn beide oudren
Ov'rig broertje was hen voorg'gaan,
Des vaders Jijlc zwijft me nag in de oogen,
G' legt nee r am niet we er te staan!
' k Ben nu van allen beroven!
Ik had er gehoopt, dat dit maar een droom zou wezen,
Een droom in mijn onrust'gen slaap;
Men ig malen wreef ik toen mijne oogen,
Stootte het hoofd met harden klap;
Maar 'k kwam 'r niet aan ' t ander waken.
Van all' dierbaren gescheurd, lijk 'k wei eenen vogel;
Maar - die vogel is altijd krank!
Mijn hart krimpt in; ik lijk maar eenen tortel,
Verbannen op een dorre rank,
Van een boom beroofd van wortel.
Gij hebt me, liefste, een dochtertje nagelaten,
Een wicht twee'n twintig daagjen oud,
Het kan echter mijn rouwig hart niet troosten,
Schoon deze 't als uw beeld beschouwdt,
Zij doet me veelal tranen storten.
Zij leeft nu daar, bij uw geeerden goed'en vader,
En telt nu bijna zes maanden,
Oat zij daar is, is u zeker geen wonder:
Ik heb in hu is geen levenden,
Die zich toon' kan als pleegmoeder.
Een eenig v)eeschlijk zusje heb 'k nag weI bij de hand,
Doch , . . . . . dit doet juist mijn ramp grooter,
Gij wist, een last drukte zich aan haar verstand,
Kart na den dood onzer maeder,
Zij blijft nu nag in dien toestand.
Ach, Heere! wat zijn dit toch voor slagen,
Die mijn hart gestadig doen klagen,
Doen vallen onder rouwig smart!
'k Wenschte weI, overeenkomstig uw behagen,
Wat niet te mijden is, gewillig te dragen;
Maar help! heel, heel mijn verbroken hart!
97
Ach! niets staat 'r nu op dees' aardsche landen,
Oat mijn zwaar verlies kan vergoeden,
oeen mensch kan me helpen, Heer!
o gun me . . . . . . gun me U kinderIijk te bidden!-
Geef me, geef me terug, Heer, mijne beminden,
o zie! zie op mij genadig neer I
In vele lijden der goede stonden
Heb ik veel vreugde ondervonden,
Verschoond van all' droefheid en smart,
'k Vraag me weI, of ik, ook in der tegenheden,
Niet vroolijk, naar 't mij betaamt, moet voorwaarts treden,
Maar zie! hoe afgemat is mijn hart.
En . ..... uw weg, hoor 'k, is altijd wonderlijk,
Uw harte is goed, rechl Goddelijk,
O! uw doen is ook zeker 't best I
Hier, in dees' wereld, 't best geluk is toch tijdlijk,
Maar dMtr, daar is het eeuwig! onvergankelijk! , .
De hoop, d' hoop aileen is mijn troost'res.
Bekassie, den 10 Jan. '82.
III.
Een jaar is er heengevlogen,
Sedert ik een weduwnaar ben!
Nog is mijn hart diepgebogen,
Door een gevoel, dat 'k te voren niet ken.
Oat gevoel schiet nu reeds wortel
In mijn harte, vol van verdriet;
Vermakelijkheden - hoe dartel,
Zij vermaken mij in het geheel niet.
01 mijn vrouw I mijn dierbare vrouw!
Mijn hart wordt ijs in zijn soort,
Door 't gevoel van Iiefde en rouw,
Het druipt dageJijks roode druppel voort.
Bjzorg, den 31 Augt. '82.
98
IV.
Door U te verliezen voel ik in 't hart,
Ontzegd te zijn van vreugde n~ genot;
Daagelijks voel ik niets anders dan smart ....•
O! mijn . . . . mijn . . . . . . . . . . . . *). lot!
Nog blaakt mijn hart hevig van verlangen,
Naar 't aanzijn uw lieflijk wegen, mijn gade!
Nog nooit laat 't zich aan een ander schepsel hangen,
HeimeJijk hoopt 't nog steeds . . . . . 0, Heer! genade 1
15/2/ '85.
$) Ik vind geeu genoegzaam bijv,u, om 't uit te drukken.
99
XII.
SITI AKBARI. ./
Tjerita tentang puteri jang tjantik-djelita,
arif-bidjaksana dan gagah-berani.
ASALNJA.
Pada achir abad jang lalu "Siti Akbari" telah dipertun_
djukan djuga sebagai lakon Wajang-tjerita di-Bogor dan didalam
abad ke-20 ini dibuat sebagai lakon-film oleh sebuah perusahaan-
film di-Djakarta.
Lie Kimhok mengatakan, antara buku2 hasil-kalamnja ia
paling "sajang" (menghargakan) -J.: Siti Akbari" dan :t Malajoe-
Batawi".
~
- --Tidak banjak buku-tjiptaannja mengalami ber-kali2 tjetakan,
seperti .Siti Akbari".
Pada achir abad berselang Arnold Snackey telah mener-
djemahkan "Abdul Muluk" dari bahasa Arab kedalam bahasa
Melaju. Seperangkat komidi-bangsawan dari Malaja memper-
tundjukkan "Abdul Muluk" sebagai lakon-sandiwara, tetapi tidak
banjak orang membandingkan "Siti Akbari" dengan "Abdul
Muluk", hingga tidak banjak pula orang jang menganggap,,, Siti
Akbari" hanja saduran atau se-tidak2nja berpokok-dasar atas
>j JJ Abdul M!llu ."
= Tentang asal-usul "Siti Akbari" di -Bogor ters(ar tjerita
berikut:
Kira2 awal 1873 zendeling S. Cooisma, guru Lie Kimhok,
telah menulis tjerita-Sunda didalam bahasa Sunda, "Siti Rapiah."
Biasanja Cools rna menulis tjepat dan tulisannja sukar dibatja
orang dan biasa ia merninta Lie Kimhok, iang menulis rapi dan
terang, menurunkan tulisannja kekertas lain.
Begitulah telah terdjadi dengan naskah -!,Siti Ra(:liah."
Lie Kimhok menjerahkan kepada gurunja naskah "Siti Rapiah"
jang telah diturunkan (dikope), tetapi menahan naskah asal
tulisan Coolsrna jang disirnpannja sendiri, seperti biasa dengan
tulisan2 lain.
Orang pertjaja, HSiti Rapiah" adalah saduran "Abdul Muluk"
dan Lie Kirnhok menulis II Siti Akbari" berdasar ilham jang
diperolehnja, setelah rnerapikan HSiti Rapiah."
Demikian tjerita jang tersiar di-Bogor.
Oleh karena buku tjerita "Siti Rapiah" tidak dapat diternui
dan mungkin tidak sarnpai diterbitkan mendjadi buku dan sukar
dipertjaja, Lie Kimhok tidak mengenal tjerita "Abdul Muluk",
100
apapula ia eb ~ stab~ baik dengan'Arnold Snackey, 'penterdjemah
tjerita it ilKeCfaiam bafiasa Melaju, tidaklah djauh dari kebenaran
djika dianggap, "Siti Akbari'" ditulis dengan .. Abdul Muluk"
sebagai sumber i1ham . .
Tidak seorang dapat menerangkan, apa kata Lie Kimhok
sendiri didalam hal itu.
Orang berkata, LYe Kimhok telah menulis "Siti Akbari" di-
d alam tempo 7 tahun. Ada kala ia menunda tulisannja itu sehingga
ber-b ulan2 dan ada kala ia melandjutkan pekerdjaannja sede-
mikian giat, hingga tersedar waktu tengahmalam ia berbangkit,
mel andjutkan "Siti Akbari" sampai pagi. Seperti Mozart mengim-
pik an komposisinja, Lie Kimhok mengimpikan "Siti Akbari"nja.
Didalam hal ini keterangan Lie Kimhok sendiri adalah, ia
menul is " Siti Akbari" d idalam tempo 3 tahun setjara ter-tunda2.
"Sit i Akbari" ialah sjair-tjerita, sadjaknja pandjang2 berupa
prosa bersadjak (berijmd proza), lebih banjak berbitjara dari-
pada bernjanji, dalam bahasa - jang ia sendiri menamakannja
Melaju-Djakarta - jang mudah dipahamkan, karena Melaju umum,
sep ert i digunakan untuk "Abdul Muluk" atati .. Bidadasari" ter-
lalu berat untuk pembatjanja seumumnja.
Ben arlah pembatja Melaju-rendah amat memudji "Siti Akbari"
itu , bahkan penulis2 Tionghoa-Melaju tidak kurang jang sangat
meng ha rgakannja.
"Dalam itoe sair-tjerita "Siti Akbari" ada begitoe banjak
berisi oedjar pepatah dan nasehat jang begitoe bagoes, jang
saja blon pernah liat bisa ditiroe oleh pengarang2 djeman
sekarang. Dari masih anak2 saja begitoe katarik oleh itoe
sairan, hingga separoh dari isinja saja soedah fahamken di
loewar kapala."
(Kwee Tek Hoay dalam suratnja 5 Djuni 1923).
Li e Kimhok tidak selamanja mengikuti "Abdul Muluk" untuk
"Sit i Akbari. "
Begitulah antaranja ternjata perbedaan ini:
Siti Rahihf telah menjerahkan bajinja jang dilahirkan dihutan
sambil memesan kepada seorang pertapaan jang dipertjajakan
baji itu, djika anak itu sudah besar, biarlah ia ini diperintah
mentjari ibu-bapaknja, Siti Rahihf dan Sultan Abdul Muluk.
Serupa itu Siti Akbari telah memesan djuga, melainkan kata2nja
ditudjukan kepada baji itu sendiri :
"Hati iboemoe ada mengarap riboe-riboe,
Soepaja, ibarat poehoen, sigra dirimoe toemboe.
Saibarat reboeng, biar lekas kaoe mendjadi bamboe,
Djika soedah besar, angkaoe pergi soesoel iboe."
101
Sesudah anak itu besar, ia men-tjari2 Siti Rahihf dan Abdul
Muluk, tetapi Lie Kimhok tidals membiarkan putera itu m"engum_
bara mentjari ajah-bundanja, hanja ditjari ibu-bapaknja, Sultan
Abdul Mukari dan Siti Akbari, jang meminta, agar Sech Chid-
matolah jang dipertjajakan putera terse but datang kekota .
Ija orang diprintah oleh sri baginda Soeltan,
Soepaja tjari Toewan Sech Chidmatolah di hoetan.
Ija orang misti meminta dengan oendjoek kahormatan,
Soepaja Sech saisi roemah datang dalam Hindoestan.
Lain dari bawa sapoetjoek soerat dari Soeltan Moekari ,
Marika bawa sapoetjoek soerat dari Siti Akbari.
Dalam soerat poetri toetoerkan hal diri sendiri,
Laloe tanjakan poetra jang ditinggal daoeloe had.
Sedikitnja buku sjair-tjerita "Siti Akbari" telah menga lami
tiga kali tjetak. Lie Kimhok merasa ketjewa, tjetakan ketiga te-
lah dilakukan tanpa dibertahukan dahulu kepadanja , tida k ka-
rena telah digunakan setjara diam2 hak-tj iptanja, mel ain ka n ka-
rena banjak kakeliruannja.
I
FRAOMEN. 'I
Tjerita dimulai dengan penuttuan ini:
Pada waktoe boeroeng -boeroeng baroe tinggalkan sara ng,
Jja itoe pada waktoe hari baroe djadi trang,
"Dalam Barbari soedah banjak orang,
Jang berbangkit akan mendjoewal dan membli baran g.
Barbari itu soewatu negri atawa kota,
lang besar dan bagoes serta berbenteng bata;
Kaja dengan tantara . kaja dengan gaman-sendjata ,
Padoedeeknja banjak orang bangsawan, dan berha rla.
Pernahnja kota itoe ada pada tepi daratan,
Tiada djaoeh dari pada pinggir laoetan ;
Dan tida djaoeh dari padanja ada soewatoe hoetan,
Jang loewas sahingga sampe dalam lain karadjaan .
Di sapandjang djalannja, di kanan dan di kid,
Ada banjak sekali toko besar berdiri.
Palaboehannja, sebab bagoes, ada rame sehari-hari,
Kerna banjak kapal dagang datang dari lain negri.
Pada sOfwatoe pagi, sablon tinggi matahari trang,
Di satoe toko di kota itoe ada koempoel banjak orang,
Banjaknja marika itoe doewa poeloeh, ada lebih, tra koerang,
Samoewa ada soedagar, datang hendak bli barang.
102
Marika itoe hendak membJi, ada njata kalihatan,
Kerna semoewa membawa kantong dengan wang kontan.
Di medja dan di tanah ada banjak barang kain Hindoestan,
Seperti sisa dipilih, soedah teroere dari Iipatan.
Tapi heiran seka\i, barang itoe sabrapa adanja,
Semoewa seperti bekas dimakan tikoes roepanja:
Maski baroe kaloewar dari kas dan boengkoesannja,
Sasoewatoe potong ada berpoe\oeh-poe\oeh tjopongnja.
Sega \a orang, jang ada koempoe\ di sitoe,
Samoewa he iran , mengawasi barang itoe,
Apa sebabnja barang djadi roesak bagitoe,
Tid a sa' orang bisa membilang dengan tantoe.
Samoewa bilang, ba rang itoe tantoe roesak dari doeloenja,
Dari sabl on termasoek dalam boengkoes atawa kasnja ;
Ke rna segala kas dan boengkoes, jang djadi tempatnja,
Sa moewa baik, sedikit poen tida ada tjatjatnja.
Salagi marika masih do edoek berkoempoel di sitoe,
Ad alah sa'orang datang, berdiri di depan pintoe.
Dari anta ra jang berkoempoel berd irilah orang jang satoe,
Menga mperi dan berkata pada jang datang baroesan itoe.
"He i, T oewan!" katanja itu: "heiran amat! apalah koerang,
Ro esak soenggoeh adanja ini samoewa barang?
Mari Toewan! tjoba toewan priksa sekarang!
!toe sa moewa ada petjah dan boekan djarang-djarang."
Jang ditegor tra:njahoet, melinkan angkat poendaknja,
Oojang kapala serta besarkan mata doewa-doewanja,
Orang jang tadi soedah berkata kapadanja,
Ada soedagar Barbari, jang soedah b0rong barangnja.
Dija sendiri nachoda dari kapal Hindoestan,
Jang soedah djoewal moeatan kapalnja per konlan;
Datangnja kalamarin, pada waktoe di pihak Wetan
Baroe sedikit sadja tjahaja jang kalihatan.
Perselisihan dihadapkan kepada Sultan Abdul Aidid jang
telah tinggi usianja, jang mempersalahkan soedagar Hindoestan
illl, karena mendjual barang jang rusak.
Nachoda lantas merengoet, memoetar bidjinja mata,
Bedongak memandang kapada Soeltan-makota.
"Timbangan itu," ija berkata. "Radja! tiada rata,
Kerna soedagar ini boekan saorang boeta."
103
Ija sendiri jang alpa, ija poenja salah,
Tiada priksa titi pada tempo bermoela.
Maski ondang-ondang, adat negeri . . . . ach siapalah,
Siapa maoe trima dihoekoem brat sabelah!"
ltoe omong kasar. jang dioetjapkan oleh nachoda,
Ada kedja Soeltan berbarah di dalam dada .
Samantara itoe, pada parasnja sri 8aginda,
Lantas timbul soewatu warna merah-muda .
• Nachoda!" kata Soeltan; "kaoe ini ada orang Hind oes tan,
Jang tiada taoe sedikit adat dan kahormatan .
Dari lakoemoe berdagang ada njata kalihatan,
Bahoewa dalam hatimoe ada banjak kadjahatan .
Kaoe dagang barang-barang perniagaan,
Njata sekali, maoe membikin orang dapat karoegian;
Di hadapan Pengadilan kaoe ada kabranian,
Tiada memandang ad at orang karadjaan .
Lain daritoe angkaoe poenja omongan,
Samoewa ada hinakan Pengadilan poenja timbangan.
Sekarang ini kaoe patoet dirante tangan,
Dan diantarkan pada tempat orang boewangan ." .
Nachoda mendengar itoe, tra ganti lagi kit japan mata,
Lantas sadja mendjadi goesar tida terkata;
Dengan terkedjoet ija bangoen sembari tjaboet sindjata ,
Lantas lompat menerdjang pada Baginda Soeltan-makota.
(As I kras soenggoeh adatnja nachoda itu,
Kapada soewatoe radja ija brani bikin bagitoe!)
Benar, Pembatjakoe, adatnja ada kras seperti ba1oe,
Amarahnja banjak dan lekas berkoempoel djadi satoe.
Tapi baroe sadja nachoda angkat gamannja,
Badoewanda tjepat melompat, tangkap tangannja;
Hoeloebalang dan mantri, berpoeloeh-poeloeh banjaknja,
Dari kanan dan kiri lantas menoebroek samoewanja.
Sakoetika marika roesoeh, lantas datang djaga-djaga,
Jang membawa sarentjeng rante tembaga.
Nachoda beronlak sahabis-habis tenaga,
Tapi tiada oeroeng kena dirante djoega.
Satelah tangannja ada dalam ikatan,
Toewan nachoda brenti kasih oendjoek kakoewatan,
Tapi moeloetnja - seperti ija kamasoekan setan
Tiada brenti memaki-maki baginda Soeltan.
104
Ka dalam S:ltoe pendjara ija lantas dilimparkan
Dalam mana tiada brenti ija amoek-amoekan '
Sabidji nasi, satetes ajer ija tra maoe makan:
Melinkan dirinja sendiri ija banting-bantingkan.
Ija ada dalam pendjara baroe toetoep saharian
Salapoet badannja lantas sakit sekalian ; ,
Pada katiga harinja lantas datang kamatian,
Jang lepaskan dija dari dalam kasangsaraan.
Bagimana nachoda dapat tjilaka, sampe meninggal doenja,
Pembatjakoe soedah taoe dari pada moelanja,
Tapi dalam sepandjang tjerita dari pada halnja,
Blon ada tersebut trang, diia itoe siapa adanja.
Nachoda itoe, Pembatjakoe, ada satoe orang bangsawan
Ada toeroenan dari orang, jang memangkoe karadjaan, '
Oalam kota Hindoestan, di tanah Hindoe atawa Hindian,
Roemah-tangganja ada di dalam karatoean.
Maskipoen ija itoe ada djadi satoe nachoda,
Jja ada Soeltan Hindia poenja mamanda,
Namanja Safi Oed in, dan adatnja sadari moeda,
Oengan adat radja-radja ada sangat beda.
Sarna hal negri, sedikit djoega ija tra perdoeli,
Kerdjanja melinkan bersoeka-soeka serta djoewal-bli.
Ija taoe mendapat pangkat, tapi ija kasih kombali,
Kerna ija poenja ingatan: memangkoe pangkat ada berkoeli.
Oi dalam kota Hindoestan/ di tengah pasar,
Ija ada memboeka soewatoe toko jang besar.
Tapi soenggoe berdagang, adatnja ada kasar,
Seperti kita soedah melihat, ija lekas djadi goesar.
Lain dari berdagallg, ija soeka koelilingan,
Malantjong ka negri-negri, pergi tjari kasenangall.
Djika melantjong, ija membawa djoega dagangan,
Soepaja sambil bersoeka-soeka, dapat djoega kaoentoengan.
Tempo ija datang di dalam karadjaan Barbari,
Ija soedah berlajar dengan kapalnja sendiri.
Seperti soedah ditjeritakan, lantaran dapat setoeri,
.·Ija dapat tjilaka meninggal doenja di itoe negri.
Tempo ija blon terdjatoh dalam tangan kamatian,
Hamba-hambanja ada l11inta poelallg ka negri Hindian.
Maksoed marika itoe hendak atoer pengadoean,
Pada Baginda Soeltan Hindoe jang dipertoewan.
105
Tapi tra djadi, kerna Safi Oedin melarang,
Katanja, nanti, djangan kaoe poelang sekarang.
Apa sebab ija bagitoe, itoe tida kataoean trang,
Kerna ija soedah tiada bilangin orang.
Sasoedahnja Safi Oedin meninggal doenja,
Dikoeboerkanlah ija oleh hamba-hambanja.-
Sasoedahnja se!eseh koeboer majit toewannja ,
Hamba-hamba itoe lantas poelang ka negrinja.
Sultan Bahar Udin dari Hindustan, jang terkenal gagah-
perkasa, masih muda (30 tahun), djarang tandingan , karadjaannja
besar, rakjatnja berdjuta -djuta dan .banjak jang kaja-raja, telah
mendjadi marah besar.
Terlebih pula dua saudara Sultan keradjaan besar dan kuat
itu, Sami Udin dan Kasan Udin jang berangasan :
Blon sampe poe(oes soedara itoe mendengar warta,
Doewa-doewa lantas goesar dan menjapoe ajer- mata .
• Hatikoe panas", kata 'Mi Udin; "tida terkata,
Sakitnja ada merasa seperti loeka dengan sindjata".
"Soeltan Barbari itoe ampoenja barang perboewatan,
Soenggoeh-soenggoeh, hinain amat tachta Hindoestan,
Sekarang ini, akan kitaorang poenja kahormatan,
Karadjaan Barbari itoe misti dibikin djadi laoetan I ~"
"Hatikoe djoega," sahoet Soeltan, "panas tida terbilang,
Sakitnja ada menjerap dalam soemsoem di toelang.
Kakanda rasa, sebab sakit boekan kepalang,
Djika blon membalashoekoem, tida nanti bisa hilang.
Niatankoe ada telap, tiada dapat lagi dilarang,
Dengan Bubari maoe memoesoeh, sampe bikin prang!
Akan tetapi, pada ini masa sekarang,
Blon boleh kita pergi djalan menjerang.
Kerna maski betoel - boeat berlakoe dalam paprangan
Kita tida sedikit ada poenja kakoerangan-
Segala koewasa, jang terpegang dalarn tangan,
Dengan koewasa orang Barbari blon sampe bertandingan.
Abdoel Aidid ada saorang jang boleh diseboet sakti,
Kerna ilmoe adjaib ada banjak ia mengarti.
Ija saorang ada sarna dengan orang saketi,
Tambah mantri-mantrinja samoewa gagah dan satia hati.
106
Daritoe adalah kakanda ampoenja rasa,
Barbari itoe tiada gampang dibikin binasa.
Sekarang ini srahkan sadja pada Toehan Maha Koewasa,
Kitaorang harap sadja pada hari esok-nusa."
Putera Sultan Aidid dari Barbari hanja satu, iaJah Abdul
Mulan, dan Sultan Aidid mengukut Bida Undara, anak perem-
poean satu2nja dari adiknja, sedjak anak itu berusia 3 tahun
dan tel all ditinggalkan mati oleh kedua orang-tuanja.
Sekarang Siti Oendara itoe soedah roemadja-poetri,
Soedah sedang mendjadi orang ampoenja istri.
Roepanja eilok sekali, hingga orang di itoe negri,
Laki -Iaki dan prampoewan namai dija Kembang Barbari.
Pengawakannja Oendara itoe ada sedang tingginja,
Dan ada segar sekali serta ringkas potongannja.
Ija ampoenja moeka ada sedikit boendar bangoennja,
Terhias dengan mata boelat dan bentik-bentik boeloenja.
Koelil ·moekanja ada poetih, djidatnja sedikit lebar,
Dan pada itoe samoewa tiada ada boeloe kalong salem bar.
Ajer moekanja ada trang, wataknja ada amat sabar,
Dan di bawah bibir jang merah, djanggoetnja ada kembar.
Ija ampoenja adat, bagitoe djoega kalakoean,
Ada haloes, menoeroet betoel watak prampoewan.
Bahasanja ada terseboet manis dan akoean,
Hingga siapa jang kenaI padanja, sering merasa rawan.
Banjak sekali orang besar soedah lamar ini poetri,
Tapi oleh Soeltan Aidid tida satoe orang dibri;
Kerna Soeltan soedah niat dari daoeloe hari,
Poetri itoe hendak diboewat mantoe sendiri.
Poetra Soeltan, jang terseboet Abdoel Moelan namanja,'
Ada satoe anak gagah dan tjakap amat romannja:
Tampang moekanja ada trang, potongan tel or bangoennja,
Ditaboer dengan mala tjeli jang itam warnanja.
Dahinja ada lebar dan negla hingga dikira,
Bahoewa ija bolch pintar dalam banjak perkarci.
Di blakang bibir jang tipis, jang enteng akan bitjara,
Ada berbaris giginja seperti pagar moetiara.
Pengawakannja ada ramping, rata timbang potongannja,
Hingga sikapnja senantiasa pesat kalihatannja.
Kalakoeannja, bagitoe djoega boedi dan bahasanja,
Segala orang seboetkan, ada manis salamanja.
107
Pranginja poetra-makota ini ada tedoeh, tida asaran,
Tida gampang djadi goesar; tida panas-baran;
Sadari ija masih ketjil, hanja penoeh kasabaran,
Dan ada soeka sekali sarna segala peladjaran.
Maksoed Seeltan Aidid tertjapai, Abdul Mulan kawin dengan
Siti Bida Undara. Selama 40 hari Barbari bersuka-ria.
Satelah sampe pada kaampat poeloeh hari,
Poetra-makota dihiasi bersama-sama Kembang Barbari,
Sasoedahnja dihiasi, pada waktoe sablon tengari,
Marika lantas diarak ka mesdjid besar dalam negri.
Orang jang non lon, datang dari negri-negri dan desa,
Laki-Iaki dan prampoewan, banjaknja ada berlaksa;
Sebab bagitoe, di tengah djalan ampir tra saorang bisa,
Ampir tra saorang boleh melenggang dengan laloewasa.
Pada tempat rame itoe ada djoega bangsat gelandangan,
Hingga ada banjak djoega jang kamalingan.
Di antara orang-orang, jang tjiJaka katjolongan,
Ada djoega saorang Sech toewa jang kahilangan.
Toewal1 Sech jang toewa ini ada sangat terkedjoetnja,
Dan ada goegoep sekali tingkah atawa kalakoeannja ;
Kerna karpoes, jang ada di kapalanja . . . . . .
Ija sendiri tida taoe, ka mana perginja.
Roepanja Sech ini, Pembatjakoe, ada seperti roepa orang,
Jang tida boleh diseboet berajer moeka trang.
Djanggoetnja pandjang terlaloe, gigi soedah banjak koerang,
Dan dibawah hidoeng manljoeng ada koemis jang djarang.
Ija poenja kapala ada goendoel dan ada sereba salah:
Bangoennja terlaloe lantjip dan ada botak sabelah.
Jang lihat botaknja itoe, ampir samoea kata "Iailah!"
Keena litjin sel<ali serta berkilap sampe menjalah.
"Astagafaroelah!" kata Sech kila: "hei, mengafalah -
Ach, tjelakha beloel - bangsat terkoetoeh Allah! -
Ia khira mentjoeri hitoe tiada salah?
Ija nanti dibakhar dalam narakha, afi manjalah!
Kaloe dafat ake fegang bangsat hitoe,
Ake katokh kafalanja dingan batoe.
Jja aoerang djahat, ija ada anakh hantoe,
Maka ija mantjoeri kofea aoerang bachitoe.
108 .
Bangsat tjelakha! - ija langgar larangan torat,
Ija langgar farintah nabi Moesa foenja soerat!
Ija nanti dihokhoem dalam achirat,
Ija nanthi dihokhoem dingan siksa jang brat!"
Sambari memaki bagitoe, Sech itoe mengepal tangan,
Seperti tingkahnja orang jang maoe lawan tandingan.
Akan tetapi sebab tiada ija dapat katrangan,
Lantas sadja ija poelang dengan oering-oeringan.
Tidak lama kemudian Sultan Abdoel Aidid wafat, digantikan
oleh Abdul Mulan jang segera dud uk ditahta-keradjaan sebagai
Soeltan Mukari.
Tidak lama kemudian pula, ibu-suri pun wafat.
Menuruti saran manteri2nja, untuk menghibur hati terluka
karena kemati:m ajah dan ibu, Sultan Mukari pergi pesiar, a.1.
dikundjungi negeri Ban, jang indah pandangan alamnja seumpama
pigura . Dan Sultan negeri Ban mempunjai seorang puteri jang
amat elok, arif-bidjaksana dan gagah berani.
Pada waktoe dilahirkan poetra-istri jang terseboet,
Negri Ban mendadak kadatangan klam-kaboet:
Mata'ri goeram, hoedjan toeroen berikoet angin- riboet,
Hingga roemah banjak roeboeh, poehoen banjak tertjaboet.
Hoedjan itoe toeroen teroes sampe toedjoe hari lamanja,
Siang dan malam bagi pantjoeran sadja ngoetjoernja.
Saisi tanah Ban djadi heiran samoewanja,
Kerna baroe mendapat dalam saoemoer hidoepnja.
Toedjoe hari toedjoe malam hoedjan foeroen bagai pantjoeran,
Akan di Ban, itoe soenggoeh membikin heiran,
Kerna di tanah itoe hoedjan bagitoe boekan atoeran:
Biasanja hoedjan ada haloes dan sabentaran.
Samoewa orang djadi bingoeng dan takoet amat,
Kerna marika kira, ada datang hari kiamat,
Segal a imam dan santri, samoea batja doa slamat,
Dan teroes-teroes sadja, seperti tra bisa tamat.
Putri itu ialah Siti Akbari, jang tjantiknja:
Di negri Ban ada banjak anak orang dan istri,
Jang boleh diseboet perhiasan dari negri,
Akan tetapi, djika ditjampoer sama sang Poetri,
Samoewa poetjat bagai bintang dekat pada mata- hari.
109
Oitaman-sari Sultan Ban benarlah. Sultan A.bdul Mukari
melihat beberapa gadis elok sedang berdJalan kepemandian;
Oi antara itoe orang-orang prampoewan,
Jang sedang memetik kembang di dekatnja pemandian,
Adalah saorang, jang mempoenjai satoe roepa kamoeljaan,
Jang sangat bedakan dirinja dari ternan sekalian .
Maski ija tida katoedjoe dengan sinar mata-hari,
Moekanja amat trang dan rame berseri serio
Antara kawannja samoea ija ada moelja sendiri,
Seperti boenga roos antara daon-daon d'an doeri.
Prampoewan itoe tra lain orang, hanja Poetri-rnakota,
Anak dari Soeltan Ban jang sekarang masih bertachta;
Namanja Siti Akbari alias Boekit Permata,"
Ija jang diseboet mantri Barbari dalam tjerita.
Fragmen2 diatas sekedar mengemukakan tjaranja tjerita diatur
dan sjair2 disusun, seb3gai permulaan tjerita itu, j3ng pandjang
dan penuh emosi, menawan hati dari awal sehingga achir.
Suatu tjerita-peperangan tertjampur pertjintaan sutji-murnih
dan perbuatan2 pendekar, terutama dari pemuda Bahara, nama-
samaran Siti Akbari jang menjamar laki2 .
Siti Akbari telah melakukan usaha2 sedemikian, sehi ngga
benarlah ramalan seorang ahlinudjum jang tjoba men erangkan
arti ala mal hudjan besar luar-biasa waktu lahirnja puleri itu:
"Faedahnja hoedjan ini, Toewankoe sri Baginda,
Melinkan bri saloe alamat atawa soeatoe tanda.
Satoe hal amat adjaib, saloe hal tida-tida,
Lantaran sang Poelri, akan mendjadi ada.
110
XIII.
MALAJOE-BATAWI.
Dar i Sri wid j 8 j a k e - D j a k art a.
PERKEMBANGAN BAHASA MELAJOE.
Sekarang kita ti ba pada "Malajoe-Batawi" Lie Kimhok .
.. Semanget zaman menghendaki gerak perubahan senantiasa
daripada bahasa. Zam an diam, berhenti, tidak ada bertemu
didalam perdjalanan riwajat. Begitu pula bahasa Melaju berubah-
Ub3h sepandja ng zaman .'}(Hadji A. Salim, "Sinar Sumatra", 1938).
"Pem eriks aan ketjerdasan bahasa Indonesia menundjukkan
perhubungan sedjarah antara 3 zaman: pertama, bahasa Indonesia
lama, purbakala sampai kira2 tahun 1500; kedua, bahasa Indo-
nes ia pertengahan, 1500-1900, jang dinamai djuga bahasa Melaju-
modern, dan ketiga, bahasa Indonesia baru, jaitu bahasa Indonesia
jang sekarang." (Mr. Muh. Yamin, Kongres pertama Bahasa
Indon es ia, 1938)..
" Banjak orang tiada membajangkan adanja literatuur Melaju
jang luas sekali , jang telah berkembang-biak sebelum sedikitpun
oraFl g Belanda mengimpi dapat data ng di Indonesia. Keraton
Ma la ka, tempat kesusasteraan itu dimadjukan telah ditaklukkan
ol eh orang Portugis, ketika 0rang Belanda baru sadja kenaI
pelajaran di Eropah, Luther masih mendjadi mahaguru I<atholik
dan Karel V baru berusia 14 tahun, dalam tahun 1514." (Dr. .
Hooykaas, .. Locomotief", )937).
"Bahasa Melaju itu asalnja dari bahasa Melaju Polinesia
ata u bahasa Ostronesia, djadjahannja luas sekaJi, di Barat kepulau
Madagaskar, di Timur kepulau-pulau Hawai, Utara kepulau Kyu
Su dan Selatan kepulau New Sealand . Bahasa MeJaju sendiri
daerahnja sebagian besar pulau Sumatera (terutama Palembang,
Riau , Sumatera-Barat dan Sumatera-Timur). Bangsa Indonesia
dari bermatjam-matjam daerah mempergunakan bahasa MeJaju
itu sebagai bahasa persamaan. Lebih2 dipesisir-pesisir dan di-
peJabuhan-pelabuhan bahasa Melaju banjak dipakai oleh bangsa2
jang bermatjam-matjam tjoraknja. Tiap2 bangsa memberikan
tjoraknja pada bahasa Melaju, hingga terdjadilah sematjam bahasa-
tjampuran jang disebut bahasa katjauan, pasaran alau pelabuhan.
Pembagian "Melaju-tinggi" dan "Melaju-rendah" tidak ada."
(.. Medan Bahasa" No. 1 dan 2, 1952).
"Nama "Malaju" untuk pertama kalinja kita djumpai diper-
gunakan sebagai nama sua!u keradjaan jang tua didaerah Djambi,
ditepi sungai Batanghari, tempat kedudukan orang2 Hindu pada
zaman dahulu kala. Kira2 pada pertengahan abad ke-7 MaJaju
III
itu dinaungi oleh Sriwidjaja, jang u~kajtib mtreu~ dugaan
terletak disekitar kota Palembang. SelatnnJa dan keterangan
orang2 Tionghoa jang sangat berharga, masih ada djuga dike-
temukan beberapa suratan diatas batu jang tertulis dalam bahasa
keradjaan Sriwidjaja , jakni Melaju jang tertua jang kita kenaIi
(604, 605 dan 608 tarich Sjaka, 682-686 tahun Masehi). Bahasa
Melaju jan kuno disebut d'u a Mela ·u-D·ohor. Negara Djohor
Jan a n a ada se at Jan sem it diantara ulau Singapore
an semenan a a a idirikan 1516, Setelah lampau zaman
pemu I annja dipergunakan Juga untuk memperluas pengaruhnja
atas kepulauan Riau-Lingga sampai ke-Sumatera ." (Dr. C. A.
Mees, • Tatabahasa Indonesia" , 1950).
,,'3ung uh un okokn'a berasal dari Mela'u- . u akan teta i
bahasa e apt itu sudah ditambah, diubah dan dikurang i m..!.nurut
keperluan zaman dan alam baru." 1RlFtadjar Dewantara , 1935).
"Benarkah Melaju-Riau dipakai di Riau? Bahasa jang di-
pakai dalam naskah2 lama tidak dipakai di Riau. Bahasa-sekolah
tiada pula dipakai disana sehari-hari. Hanja ada dua matjam
bahasa Melaju, jaitu Melaju-kesusasteraan dan Melaju -daerah
(Maleise dialecten). PaJembang, Singapore, Minangkabau , Deli
berlainan bahasanja. Dasar bahasa Indonesia ialah "Melaju-pasar",
jaitu bahasa jang timbul dimana-mana di Indonesia." (Sanoesi
Pane, Pidato di Taman Siswa, Djakarta, 1940).
"Perlu sekali dipeladjari ba'hasa2 daerah untuk memenuhi
kekurangan2 jang terdapat pada bahasa kebangsaan Indonesia."
(Prof. Dr. A. A. Fokker, pidato 10 tahun berdirinja Fakultas
Sastera dan Ilmu Filsafat, Djakarta, Des. 1950). Pendapat ini
serupa pendapat Dr. C. C. Berg.
"Bahasa2 Nusantara tidak ada jang djanggal, !idak ada jang
paling aseli atau jang paling tua; hanja ada sebuah jang dianggap
bahasa persatuan jang resmi. Bahasa itu sebelum tahun 1930
disebut bahasa Melaiu. Bahasa itu banjak mendapat pengaruh
dari bahasa2 jang serumpun, umpamanja bahasa Minangkabau,
bahasa Djawa, bahasa Sunda, bahasa Djakarta d.!.!., maka sudah
selajaknja bahasa itu telah lazim disebut bahasa Indonesia."
(Drs. H. D. Pernis, "Taman Bahasa Indonesia," 1952).
MELAJU-DJAKARTA.
Ibu-kota Djakarta kota tua dan luas, padat penduduknja
rupa2 bangsa. Sedjarah daerah dan bahasa Djakarta djauh lebih
tua dan luas pula daripada perkataan "Djakarta" sendiri. Menurut
Van der Tuuk, bahasa Djakarta jang meluas diseluruh residensi
Djakarta sehingga djauh diluarnja sebenarnja bahasa Bali·rendah,
tetapi oleh Lekkerkerker pendapat itu disangkal kebenarannja.
112
Mungkin "nada Hindia dengan suara pandjang seolah-olah
menjanji dan aksen jang keras membuat Melaju-pasar jang hi-
dup berbunji begitu gurih" (Dr. C. Mees dalam "Tatabahasa
Indonesia") tidak mengenai bahasa Djakarta, tetapi itu mengi-
ngatkan "Melaju-Betawi tulen", bahasa Iisan jang daerahnja
sempit, tetapi typis Djakarta, bahasa jang hidup dan tjukup me-
miliki pengutjap charme dan lagu jang chas untuk mentjermin-
kan perasaan dan kehidupan djiwa.
Si Botoh gergetan betul ama lakinja, si Tongdut (Tong
Gendut), dia menjomel: "Kemane aje silu begitu lame?
Bertjokol nungguin ape gue ngar.tuk! Lu mau ngikut engge;
ngikut ke, engga ke, djangan lu suru gue nongkrong ber-
djem-djem. Mau ikut Iekasan, pungpung masi keburu."
Tongdtlt: .. Djangan gitu, dong! rambutlu masi awut-
awutan kaja pontianak. Ngomong kaga liat orang, kan ada
si Neng ni?! Nanti gua gamplenglu ~"I
Neng: "Buset! Gini pagi uda tjektjok. Masaja abang
kelijengan bebogohan, Toh!"
Tongdut: "Wa, tjialat, tjade! Kaloe gitu gua ditjurigain
ni? Kaga, Toh, gua lagi boke!
Tentu sekali bahasa-Iisan itu bukanlah "bahasa gampang,
Melaju-rendah jang diaku oleh "Jong Java" di Djakarta sebagai
"verenigingstaal" (Dr. A. Teeuw, "Voltooid Voorspel", 1950),
biarpun benar Melaju-Djakarta djuga.
Demikian halnja dengan bahasa-Iisan, demikianpun bahasa
tulis di Djakarta berljorak matjam2. Bahasa Arnold Snacky
("Abdul Muluk"), Soetan (Datoek) Toemenggoeng ("Soeltan Ta-
boerat"), blhasa Stefanoes Sandi man dan Maas Markus (madja-
lah "Bianglal:i") ataupun bahasa Clouckener Brousson dan Abdul
Rivai C, Bintang Hindia'·. jang berdasar atas sjarat2 bahasa Me-
laju, bagi orang-Djakarta terlalu berat. Mereka itu lebih menjukai
bahasa Wiggers (" Njai Isa", dan "Barang rahasia diastana Kon-
stantinopel"), Kommer ("Njai Paina"), Francis ("Njai Dasima"
dan "Nona Glatik") lebih belakang pula Gouw Peng Liang ("Nona
Clara Wildenau") atau Kwee Tek Hoay ("Allah jang palsu").
Tetapi ketika banjak tersiar buku2 dalam Melaju-Djakarta,
terlebih pula terdjemahan tjerita2 Tionghoa dari penulis2 Indo-
Tionghoa, bahasa-tulis Djakarta katjau sekali Misalnja:
Alamat buku: Penerbit : Tahun:
1884
Sie Djin Koei Tjeng Tang Oey Tjay Hin 1884
Kim Kouw Kie Koan G. Kolff &: Co. 1884
Hong Kiauw Lie Tan Ooan Hong &: Co. 1884/1885
Tek Tjeng Ngo Houw Peng See Yap Ooan Ho 1885
Tjeng Tek Koen Joe Kang Lam Ooan Hong &: Co.
113
Bok Sioe Tjay Goan Hong & Co. 1887
1887
Tio Kong In Goan Hong & Co. 1887
1890
Tjan Tong Ngo Tay Oey Tjay Hin 1891
Ban Hoa Lauw Oey Tjay Hin 1893
1894
Gak Hoei Goan Hong & Co . 1894
Hong Kiam Tjoen Tjh ioe Oey Tjay Hin 1894
1894
Ong Tjiauw Koen Goan Hong & Co. 1894
1895
Ma Tjoen Oey Tjay Hill 1896
1896
Hoa Bok Lan Siotjia Oey Tjay Hin 1897
189S
Jo Boen Kong Oey Tjay Hin IS 99
Han Boe Tee Oey Tjay Hin
Tek Tjeng Ngo Houw Peng Lam Oey Tjay Hin
Tan Sha - Go Nio Oey Tjay Hin
Sam Pek - Eng Tay Oey Tjay Hin
Song Lo (sjair) Yap Goan Ho
Tang Yoe Goan Hong & Co.
Lo Tong Goan Hong & Co .
Buku2 itu dilulis tidak menghiraukan bukan sad ja djalan
bahasa, melainkan djuga penempatan tanda-batja dan hu ruf-
besar. Anehnja pembatja menggemarkan sekal i buku2 itu, tida k
dapat merasakan kekatjauannja dan membatja dengan memantas-
kan sendiri. "Oalam salinan tjeritera .,Hay Soei/, jang terdiri
atas 5 djilid Ik. 80 halaman masing2, mulai dari buku pertama
sampai pada buku teraehir hanja didapatkan sa tu hur uf kapital
pada kata pertama dipermulaan buku pertama da n tit ik penutu p
pada kata penghabisan buku kalima , hingga sea ntero tj eri tera
itu dituturkan dalam hanja sebuah kalimat sadja jang pandj ang,
pandjang sekali." (Nio Joe Lan. "Buku Kita" , 1955).
Kwee Hing Tjiat hampir .,takut" membatja buku2 semat jam
itu, jang dlpat "memuluskan napas"; Lie Kimhok lebih su ngkan,
karena dinamakannja hanja "sajur kekurangan garam ."
Didalam keadaan itulah kitab "Malajoe- Betawi" , parama-
sastera satu2nja dalam Melaju-Djakarta, (II Malajoe-Bataw i", ter-
toelis oleh Lie Kimhok, Bogor 1883, tertjetak pada W. Bruining
& Co., Batawi, 1884, ukuran 22,5 X 13,5 em., 116 halaman).
TATABAHASA "MALAJOE-BATAWI."
Setelah mengikuti perkembangan bahasa Melaju dan me-
ngenal masa diterbitkannja -"MalajoeBatawi", dapatlah ditambah-
kan, pada aehir abad ke-19 gempar di Djakarta tersiar berita,
hampir sadja • Malajoe-Batawi" itu dipakai disekolah-sekolah
pemerintah; hanja karena Lie Kimhok berkeberatan pada peru-
bahan2 jang hendak diadakan, maka kesudahannja telah dipakai
• bahasa" (edjaan> Ophuysen.
114
Dengan "Malajoe-Balawi", jang menggunakan Melaju umum,
disesuaikan bahasa-Djakarta, Lie Kimhok melakukan suatu per-
tjobaan pertama (dan penghabisan I) untuk mengatur bahasa-
tulis Djakarta. Sedikit tahun sebelum meninggal, berhasratlah ia
untuk memperbaiki bukunja ilu; maksud itu tidak terljapai, dan
"M alajoe-Batawi" (Qplaag terbanjak 500 buku) tidak pernah me-
ngalami lebih tjetakan pertama. Banjak penulis dan wartawan
T ionghoa-Melaju lelah terpengaruh tidak sedikit oleh "Malajoe-
Bl ta wi" , meskipun pada penulis dan wartawan Tionghoa gene-
rasi leb ih belakang sedikit-banjak kelihatan pengaruh bahasa
Bel and a dan Inggeris, bergantung pada pendidikan-sekolahnja.
Sehin gga pad a awal abad sekarang masih ada penulis dan war-
tawan Tionghoa-Melaju jang tidak pernah duduk dibangku se-
kol ah, apapula sekolah-Melaju.
Me reka , jang menu1is setjara serampangan, sepatutnja
mereka lah jang bertanggung-djawab akan edjekan "bahasa-Ijap-
tjay", jang diberikan pada Melaju- Tionghoa . Sungguh telah di-
und ju k sikap sympa tik oleh ahli bahasa Indonesia, jang mengakui
kedu d ukan Melaju-Tionghoa sebagai bahasa perhubungan.
" Bahasa Melaju -T ionghoa itu telah berdiri dan berpengaruh
di pergaul an Indonesia, itu tiada dapat disangkallagi. Kedudukan
bahasa T ion ghoa-M elaju sebagai bahasa perhubungan disisi ba-
hasa Indon esia harus kita anggap sebagai kedudukan jang sah
ditenga h masj arakat ini" . (Mr. S. Takdir Alisjahbana, "Poedjangga
Baroe" , Okt. 1934) . "Perbedaan antara bahasa Indonesia dengan
Melaju-Tionghoa ilu hanja suatu perbedaan sementara sadja
se lam a ma sjarakat kita belum tumbuh dengan sewadjarnja.
Perbed aan jang pent ing sekarang ini antara bahasa Indonesia
d enga n bah asa Melaju -T ionghoa menurut hemat saja hanja terlelak
dalam soal edjaan (d an utjapan). Sekarang pun sudah mulai
kelihatan tanda2 , perlahan-lahan bahasa Indonesia umum akan
melingk ungi dan menelan bahasa Melaju- Tionghoa". (Mr. S. Tak-
dir Alisjahbana. " Pembina Bahasa", Okt. 1948).
"Dipandang dari sudul ilmu bahasa, liadalah diperoleh pim-
pinan jang berguna dari djurnalistik Tionghoa itu, telapi dian-
tara para wartawannja banjak djuga lerdapat orang jang pandai
menerangkan keadaan dengan lepal dan menguatkan kenjataan
setjara menarik hati, kendalipun bahasanja lak sempurna".
(Dr. C. A. Mees, "Tatabahasa Indonesia", 1950).
Terutama pada masa "Malajoe-Batawi" diterbitkan pastilah
keadaan lebih menjedihkan pula. Antara 116 halaman buku itu
telah digunakan tidak kurang 23 halaman hanja untuk mendje-
laskan tentang tanda-batja dan huruf-besar; 23 halaman pula unluk
pemetjahan (uraian) arli kata2, jang terbagi atas 10 djenis ter-
kenai, dan sisanja 70 halaman unluk pemetjahan udjar (kalimat).
115
Lie Kimhok mengartikan 10 djenis kata itu demikian :
1. N a map a a d a (kata-benda). Antara keterangan2
dalam hal ini, mengenai nama paada jang tidak bertubuh (tidak
berwudjut- abstrak) dan jang bertubuh (berwudjut- konkrit),
dituturkannja tentang utjap (kata-achiran,) an .
• Oetjapan an jang berhoeboeng pada nama paada", demi-
kian ditulisnja, .ada bri taoe, bahoewa jang poenja nama itoe
ada barang tiroean. Orang·orangan boekan orang atawa bebrapa
orang, hanja boneka atawa patoeng; Boeroeng-boeroengan jaitoe
boeroeng dari kertas atawa dari lain-lain . Maski perkataan itoe
ada beroeJang, ija tida mengoendjoek Jebih dari satoe pa ada.
Dtdaonan, poepoehoenan, kClkainan (ringkasan dari daon-
daonan, poehoen-poehoenan, kain-kainan) adalah daon roepa-roepa,
poehoen roepa-roepa, kain roepa-roepa (sasowek-sasGwek). Dalam
bahasa pasar perkataan itoe dipake djoega akan menjeboet daon
tiroean, poehoen tiroean, kain tiroean, seperti perkataan oorangan,
aanakan d.1.
Oetjap an jang ada pada perkataan laoetan dan daratan
ada oendjoek kaJoewasan: laoetan = laoet besar.
Jang dihoeboengkan pada nama paada, ada jang merobah
artinja perkataan, Koeli ada lain dengan koelian, penggiling ada
lain dengan penggilingoll .
.Oetjap an jang ada pada perkataan belaloengan, keringatan
=ada sarna dengan perkataan ada poenja. Beiafoengan ada
=poenja beiatoeng atawa ada beiatoengnja; karingatan ada
keringatnja" .
2. Pen g g ant ina m a (kataganti). (Tidak berbeda ba-
njak dengan arti biasa, maka disini tida usah dikutib).
3. Pen era n g (katakeadaan). A. 1.: "Oetjap an jang
ada pada perkataan-penerang seperli ini: keijilan, pandjangan,
besaran atawa lain, ada sarna dengan perkataan lebih: ketjilan =
lebih ketjil. Oetjap WJn dan man jang ada pada perkataan
ini: bangsawan, dermawan, satiawan, boediman dan sebaginja
ada tanda dari perkataan-penerang."
4. P e moe I a (katasandang). "Perkataan pemoeia ada per-
kfltaan akan menandain nama panggilan alawa lain perkataan
jang disamakan dengan nama panggilan. Perkataan itoe melinkan
ada tiga sadja: sf, jang dan sang." (Djadinja Lie Kimhok tidak
menjebutkan: hang, dang, para, kaurn dsb .)
fa menjontohkan: .. Perkataan si dipernahkan depan nama
panggilan, oepama: sf Koetis, si Sernar d.l. dan di depan nama
kaoem atawa depan perkataan penerang, jang dipake djadi gantinja
nama plnggilan atawa misti terpandang seperti nama panggilan :
116
Satoe koki soeroeh satoe baboe tjoetji koewali;
Si baboe meadengar itoe, tapi melaga toeli . .
Si koki Iihat ija berdiam, lantas soeroeh kombali;
Si baboe bangoen, tapi soeroeh koki tjoetji popok di kali.
Satoe andjing itam bakalahi sama andjing belang,
Sebab ija berdoewa mareboet sapotong toelang.
Sf be/ang kalah, lantas berlari poelang,
Si itam maoe moelai makan, tapi toelang 'dah hHang,
Kerna satoe andjing poetih soedah bawa lari tjongklang.
Mana si Oemar? - Ija masih di kamar. - O! si tjoe/as,
si malas I kerdjanja melinkan poelas!
Perkataan jang dipernahkan di depan perkataan penerang
dan di depan perkataa n ini, itoe, mana . Allah membri gandjaran
pada jang benar, tida pada jang djahat; lang ini saja maoe;
Kaoe maoe jang mana?
Perkataan jang dipernahkan di depan perkataan apa, djika
ini perkataan apa ada doedoek di tempatnja perkataan penerang,
oepama : Kaoe maoe jang apa? (jang meralz? jallg idjo 7)
Ojika itoe perkataan apa ada doedoek di temp3tnja nama pang-
gi lan, ija ditoekar dengan si : Kaoe tjari si apa? (si Doe! ?
sf Iran? sf Sidin 7)
Perkata a n sang tidak dipake dalam omong sahari-hari. Dalam
dongen g atawa dalam sair ija dipernahkan di depan nama kaoem,
jang disamakan dengan nama panggilan; oepama: sang poetri,
sang poetra, sang oelar, sang kodok atawa laen:
"Anak-mantoekoe 1" kata Soeltan Ban soewami-istri.
.. Ajah-bondakoe!" kata Moekari dan Siti Akbari.
Ajanda Jantas pelok sang man toe, bonda pelok anak sendiri,
Laloe ajanda pelok sang anak, sang bonda peiok Abdoel
Moekari.
Perkataan sang boleh disamakan dengan perkataan jang
=dfnamain atawa jang diseboet, kerna: sang kodok jang dina-
main kodok (itoe paada jang dinamain kodok);
Bebrapa djam ija rebah di pembaringannja,
Tapi sang poelos tida maoe datang padanja (Tapi itoe paada
jang dinamain poe/as tida maoe datang padanja)."
5. N a m a b i I a n g an (katabilangan). A. I.: "Oetjap an
jang ada pada perkataan banjakan dan sedikitan, ada sarna dengan
perkataan /ebih: banjakall = lebih banjak.
Jang dihoeboengkan pada perkataan pemangkat (poe/oell,
=ralves, riboe, /aksa, keti, joefa), ija ada sarna dengan perkataan
bebrapa .' poeloellan orong bebrapa poeloeh orang."
117
6. N a m a k e r d j a (katakerdja). Seperti biasa, seperti
dalam bahasa2 Barat djuga, katakerdja ini benar menuntut orang
bekerdja keras memeras otak. A. I. Oengarlah, antara lain: "Per-
kataan-perkataan nama kerdja boleh dibagi dalam lima roepa:
nama kerdja dari pengoleh, pelakoe, pembangoen, penerbit dan
pengamb/l.
Nama kerdja pengoleh ada soewatoe nama kerdja jang boleh
terikoet lantas oleh nama paada, oepama I melilzat, membawa,
mendjawab, mengoekir, membli, memoekoel, menggali, melepas,
membri d. I. Kaloe kita melihat, tantoe ada apa-apa jang kita
lihat; kaloe kita melepas, tan toe ada djoega apa-apa jang kita
lepaskan. Nama dari itoe barang, jang kita lihat atawa jang kita
lepaskan, selamanja ada diikoetkan pada nama kerdja; oepama:
melilzat wajang, me/epas boeroeng d. s.
Nama kerdja pelakoe ada nama kerdja jang tida taoe terikoet
lantas oleh nama pzada; oepama: menangls, menginap, melek,
mabok, diam, hidoep d. s.
Nama kerdja pembangoen ada nama kerdja seperti ini:
bekoempoe/, bebaris, melintang, mengoetjoer d. s. Djikaloe kita
bekoempoel, tantoe lantas terbangoen satoe koempoelan. Ini koem-
poelan ada djldi dari kita-orang ; maka kita-orang jang telah
mengadakan atawa membangoen, diseboetlah pembangoen dan
itoe perkataan seperti bekoempoe/ d. s. diseboet nama dari ker-
djanja pembangoen atawa dengan pendek: nama kerdja pem ·
bangoen .
Nama kerdja penerbit ada perkataan2 seperti ini : bekembang,
bedaon, beboedah, bedarah, d. s. Ojikaloe kita bedorahJ tantoe
ada kaloewar atawa terbit sedikit atawa banjak darah. Maka
kita, jang mengaloewarkan atawa menerbitkan, diseboetlah pe-
nerbit, dan perkataan seperti bedarah d. s. itoe diseboet nama
dari kerdjanja penerbit atawa nama kerdja penerbit.
Nama kerdja pengambi I ada nama kerdja seperti ini: be-
pajoeng, bekoeda, beroemah, begoeroe d. s. Ojikaloe kita bepa-
joeng, kita poen ada mengambiJ dan menggoenakan pajoeng.
Kita disebut pengambil. dan perkataan seperti bepajoeng d. s.
diseboet nama kerdja pengambil.
!toe oetjap be jang ada pada perkataan seperti ini: bebalik.
bederek. begoeUng, bekata, be/ompat, bepikir, berontak, besoesoen,
betingkah atawa lain, ada tanda dari nama kerdja. Oetjap itoe
diseboet oetjap awal.
Jang ada pada perkataan seperti ini: bekoeli, beboedjang
ada sarna dengan perkataan mendjadi; bekoeli = mendjadi koeli.
Jang ada pada perkataan bebar/5, besoesoen, bekoempoel
ada sarna dengan perkataan membangoenkan atawa mengada-
kan; besoesoen = mengadakan soesoenan.
118
· Jang ada pada perkataan bekembang, beboewah ada sarna
=dengan perkataan menerbitkan atawa menga{oewarkan; bekem-
bang mengaloewarkan kembang.
Jang ada pad a perkataan bepajoeng, bekoeda ada sarna de-
=ngan perkataan menggoenakan atawa memake; bekoeda me-
make koeda (menoenggang koeda).
=Jang ada pada perkataan beistri, be/aki, ada sarna dengan
perkataan mengambi/; beistri mengambil [stff (menikah).
Jang ada pada perkataan besoedara, besobat ada sarna de-
=nga n perkata an mengakoe (ada akoe); besoedara pada sf Kosim
ada akoe soedara pada si Kasim.
Ojikaloe oetjap be ada kedja koerang baik boenjinja per-
kataan, oetjap itoe dirobah djadi me: melihat, me/epas, me-
main d. 1.
Ojikaloe me ada kedja koerang baik boenjinja perkataan,
ija ditambah dengan hoeroef m atawa n atawa ng,' memboeka,
membela/z, mendakwa, mendjabat, mengomong, menggigit d. I.
Achir-achir kita · orang djadi ada poenja lima roepa oetjap
awal , ija-itoe be, me, mem, men dan meng. Tapi lima oetjap itoe
mis ti dipandang seroepa sadja adanja; ampat jang blakangan
itoe ada boekan lain oetjap, hanja oetjap be djoega; kerna itoe
me ada obahan dari be dan itoe mem, men dan meng ada me
jang ditambahin m, n dan ng. Maka djika me, mem, men atawa
meng itoe ada berarti, artinja itoe ada sarna dengan artinja be.
Pada soewatoe perkataan kita ada dapat oetjap be ditamba-
hin 11 ija-itoe benta/zan (tida maoe menoeroet). Pada satoe di-
tambahin I,' beladjar.
Saloe nama kerdja jang diboewang ija poenja oetjap awal,
diseboet bongkot dari nama kerdja itoe. Maka perkataan balik
diseboet bongkot dari bebalik, koempoel dari bekoempoe/, lihat
dari melilIat, belalI dari membelalI, dakwa dari mendakwa,
omung dari mengomong.
Bongkot perkataan djoega ada jang dirobah, soepaja djadi
baik boenji perkataan.
a. Bongkot perkataan jang biasa dihoeboengin oetjap me,
ada berkepala dengan hoeroef I, m, n atawa dengan ':1 melom-
pat, memufn, merzapas d. I. Ojoega jang berkapala dengan p, k,
t atawa s; tapi it0e
p ditoekar dengan m: (poekoel) memoekoel, (pake) memake;
k" "ng: (kirim) mellgirfm, (korek) mengorek;
t " T lI : (tarik) menarik. (teboes) merzeboes;
s" "nJ: (sapoe) menjapoe, (seboet) menjeboet.
119
Dari antara bongkot-bongkot perkataan jang berkapala hoe-
roef I dan r ada djoega dihoeboengin oetjap be: melompat, be-
lompat; merontak, berontak. Djoega jang berkapala p dan t;
tapi perkataan djadi beda artinja satoe sarna lain: bepeloek ada
lain dengan memeloek i betoekar ada lain dengan menoekar.
b. Jang biasa dihoeboengin mem ada berkapala b: mem-
boewang, memboenoeh, memboewat, membongkar d. I.
c. Jang biasa dihoeboengin men ada berkapala d; men-
dapat, mendjawab, mendedek, mendidih (atawa bedidih), men-
dengar.
Jang berkapala hoeroet t ada djoega jang dihoeboengin men,
tapi sedikit sekali: mentje/os, mentjoeri.
d. Jang biasa dihoeboengin meng ada berkapala a, e, I, 0
atawa g,' mengadjak, mengaoer, mengeret, mengiris, mengintlp,
mengolo, mengomong, menggaroek, menggodah d. I. Ojoega jang
berkapala 11, tapi ini 11 sering kali ditinggalkan; (harap) meng-
Ilarap atawa mengarap, (hormat) mengormat, hilang (mengilang).
Dari an tara jang berkapala dengan gada djoega jang di-
hoeboengin dengan be; tapi perkataan djadi beda artinja:
beganti ada lain dengan mengganti,' begoe/oeng ada lain dengan
menggoeloeng, beladjar ada lain dengan mengadjar. (8e/adjar
= mengambil atawa menoentoet adjaran i mengadjar = menga-
/oewarkan atawa membri adjoran).
Haroes dibri taoe djoega, bahoewa oetjap be sering kali di-
toekar dengan oetjap ber, dan ada lagi ampat roepa oetjap awal
atawa tanda dari perkataan nama kerdja, ija ·itoe ber, dl, ke
atawa ka dan fer.
Oetjap ber ada sarna dengan perkataan ada poenja,' ber-
= =goela ada poenja goela atawa ada goelanja; berdoeri ada
poenja doeri atawa ada doerinja.
Maski ini oetjap ber ada berarti lain sekali dengan be, se-
perti soedah dibilang di atas ini - ija sering dipake menoekar
oetjap be. Akan dapat sebabnja hal itoe. biarlah kita ingat sarna
perkataan-perkataan ini:
=bekembang mengaloewarkan kembang,
=berkembang ada poenja kembang;
beistri == mengambil isfri (menikall),
beristri ada poenja islri;
dan Jantas ingat bagini:
Djika kita misti bilang, oepama: Itoe poelloen bton bekem-
bang, dan kita bilang begini: Itoe poelloen b/on berkembang-
orang jang mendengar tida nanti salah mengarti sarna maksoed
kila. Kerna, djika poehoen blon mellga!oewarkan kembang, ija
poen tan toe blon ada poenja kembang djoega. Bagitoe djoega,
120
djikaloe kita bilang /}a soedah beristri di tempatnja /ja soedah
beistri; kerna djika orang soedah menikah, tantoe ija soedah
ada poenja isfri; djikaloe orang soedah ada poenja istri, tantoe
soedah menikalz djoega. lnilah brangkali jang telah mendjadi
sebab, maka oetjap be boleh ditoekar dengan ber.
Oetjap ber jang ada pada perkataan ber/ari, ber/omba, ber-
=koeli, berkoeda dan sebaginja boekan oetjap ber ada paenja,
hanj a oetjap be jang ditambahin r, sebagimana ditambah / dalam
perkataan be/adjar, dengan n dalam perkataan benfahan . Lantaran
= =ad a hal demikian, dj adilah kita ada poenja doewa roepa oetjap
ber: I. ber ada poenja, 2. ber be.
Oi dal am bahasa pasar oetjap ber tida dipake; dalam kitab2
oetjap be djarang terdapat.
Oetjap di, ke atawa ka dan fer, tiga2 ada lawannja oetjap be.
Akan mendapat kalljataan, tjara bagirnana oetjap di berlawan
pada oetjap be, biarlah kita lihat perbandingan di bawah ini,
jang diambil akan djadi ibarat:
Menampeling = menga/oewarkan atawa membri tarnpeling;
Ditumpeling = menerima tampeling (kena tampeling jang
dika loewarkan).
Ojika kita memanggiI, nanti datang sa toe orang jang kita
panggil ;
Ojika kita dipanggil, kita misti datang pada orang jang
memanggil.
Oetjap ke atawa ka ada iingkasan dari perkataan kena lian-
taran menggenggam satoe oetjap di) ija ada ampir sarna saaja
dengan oetjap di. Bedanja melinkan ini: oetjap di ada oendjoek
hal denga n sengadja , oetjap ka oendjoek hal tid a dengan sengadja.
Maka djika leila maoe bilang, si A. kena tampeling dan jang
menampeling padanja soedah menampeling dengan sengadja,
Idta bilangl ah : si A ditampeling; djika jang menampeling itoe
telah menampeling tida dengan sengadja, kita bilang: sf A.
katampeling.
Oetjap ler ada sarna dengan oetjap di atawa dengan kena df-.
Djikaloe perkataan jang ada poenja fer itoe, diikoet oIeh per-
=kataan dari , oetjap itoe ada sama dengan di: tergali dari tanah
digdli darf tanal1; djikaloe perkataan itoe diikoet oleh perkataan
oleh, oetjap fer itoe sama dengan kena di-: fer/oelis = kena di-
=toeliskan (oleh penoelis); terseboel kena diseboetkan (oleh
penoetoer); terdjatoh=kena didiatolllean (oleh . . . . lcatjilakaan);
terpoekoel pakoe = kena dipoekoelin (dipantekin) pakoe (oleh jang
memakoein).
Djikaloe satoe nama kerdja ada poenja oetjap ber (oepama
perkataan berboewat) dan perkataan itoe dikapa\ain dengan oetjap
di, ijapoenja oetjap ber itoe ditoekar dengan per, atawa diting-
121
galkan: (berboewat) diperboewat atawa diboewat (dibikin);
=(berlindoeng) diperlindoengkan atawa dilindoengkan; disembalz-
kan dipersembahkan, dimoeljakan = dipermoeljakan, diasingkan
= diperasingkan d. s.
Perkataanper (terambil dari perkataan WoJanda voor = boewaf,
vaar = di moeka) sering kali terselip di dalam perkataan, hingga
=ija djadi sarna dengan per terseboet di at3S. Dipertoewan di-
boewat toewan o(a~i·tj diakoe atawa didjoendjoeng seperti taewan
(madjikan); sapertiga = sotoe boewat tiga (ija-itoe satoe dibagi
=tiga alawa satoe dari jang tiga; membli ieri per !coetjing
=membli feri boewat koetjing; satoe per satoe satoe di moeka
satoc (ija-itoe satoe di moeka jang lain).
Oetjap kan atawa ken, i atawa in, jang dapat ditambahkan
pada perkataan2, diseboet oetjap aehir.
Itoe kan atawa ken boleh dipandang seperti sarna dengan ini:
a. dengan kedja atawa kedja - be: mengoendoerkan = kedja
oendoer; mendjalankan perintah = kedja perintah ber-
djalan;
b. dengan kedja - djadi: benarkan kalakoean = kedja ka/akoean
djadi benar;
c. dengan kedja - fer: limparkan batoe = kedja baloe terlimpar ;
d. " kedja - diterima : goedangkan pagi = kedja padi di-
trima oleh goedang.
Oetjap i atawa in boleh dipandang seperti sarna dengan ini:
a. dengan kedja - menerima atawa biar - menerima: goe/ain
=tepoeng = ktd/a tepoeng menerimo goela; ambilin
saja opi kedja saja menerimcz api jang diambil atawa
ambil api biar saja terima.
b. " kedja - terseboet: menjeritain orang = kedja orang
terseboet da/am tjerita; djahatin orang = kedja orang
terseboet djahat; memboesoeklfl orang = kedja orang
terseboet boesoek atawa dopat noma boesoek;
c. " menoedjoe: lja djalon moedikin (mengoedikin) = ija
djalan menoed/oe oedik;
=d. dengan kedja - melihat: soekaln orang kedja orang melihat
lakoe bersoeka (bertjinta) atawa merasa soeka kepada
orang; ija liwatin watas= lja kedja watas lihat lja liwat.
Pada beberapa perkataan oetjap in itoe ada bri taoe, bahoe-
wa soewatoe kerdja ada dilakoekan bebrapa kali atawa diteroes-
kan sedikit lama. Sf B. tendangln orang = si B. telah men en-
dang lebih dari satoe kali; Ija lihatin soja, sampe saja merasa
maloe = lja Hhat saja bagitoe lama, sampe saja merasa maloe.
122
Dalam bahasa pasar oeljap kan tida dipake; segaJa oetjap
kan d itoekar atawa diadakan sadja dengan in. Lantarannja hal
itoe setaoe dari sebab ada sedik it soesah memilih antara kan
dan in , setaoe dari sebab begini:
Kaloe kita kedja padi diterima oleh goedung (ija-itoe meng-
goedangkan pad i), padi nanti ada di dalam goedang; kaloe
kila kedja padi meflerima goedang (ija-itoe menggoedangin padi),
padi poen nanti ada djoega di dalam goedang.
To ero et be narnja, orang misti bilang menggoedangkan padi;
ker na padi jang ditrima oleh goedang, boekan goedang diterima
ol eh pad i.
Goedangkan padi ada sama dengan padiin goedang.
Di dalam kitab djoega sering oetjap in ditaro di tampatnja
kan , oe pama: Meflgapa kaoe ratain? - Kaloe in ditoekar de-
=ngan /can , perbilangan lantas djadi tiada benar: Jja /ompatkan
s%kan Jja kedja solokan melompat."
Demikianlah sebagian keterangan Lie Kimhok tentang kata-
ke rd ja .
7. Pen e ra n g a n (kataketerangan), jang diterangkannja
adalah "segala perkataan jang mendjadi katerangannja soewatoe
kerdja at awa soewatoe bilangan, djoega katerangannja soewatoe
penerang atawa penerangan lain".
Ia membagi penerangan dalam 9 matjam : .jang oendjoek
tjara bagimana soewatoe kerdja dilakoekan; jang oendjoek ka-
madjoean, jang oendjoek tempat, jang oendjoek tempo, jang
mengoeroengkan, jang menetapkan, jang oendjoek hal koerang
pertjaja, dan jang mengoeboengkan ."
8. Pen g 0 end joe k (katadepan) adalah "perkataan
jang salamanja mengambil tampat di depan nama paada,
nama kerdja, nama tampat, nama tempo atawa di depan
perkataan penerangan , seperti: di, ka, pada, sarna, dengan, oleh,
dari , poenja, sembari, sampe atawa sampakan, akan atawa boe-
wat, koeIiling. "
Diterangkannja untuk bagian katakerdja, dipegang, ditulis,
dikerdjakan ds. ditulis mendjadi satu; tetapi dibagian katadepan
ini didjelaskan, seperli "Ija pergi ka Bogor", "Kaoe menanja
pada siapa ?", "Ija djalan sarna kaoe ?", "Orang memegang
dengan tangan", "Ija djalan koeliling negri" dsb, kata ka dan
Bogor terpisah, kala pada dan siapa lerpisah dsb , demikianpun
kata di atas, di sana, di media dsb ., dipisahkan antara di de-
ngan atas, di dengan sana, di dengan medja terpisah djuga.
123
9. Pen go e b 0 eng (katasambung) dan 10. 0 e t j a p
s e roe (kataseru) bolehlah tidak usah dikemukakan disini.
Oikitab itu Lie Kil11hok menerangkan djoega tentang tata-
bahasa Me\aju - Djakarta, kalau tidak salah menu rut Arnold
Snackey, didalarn bahasa Melaju tida ada perkataan jang ber-
kapa\a dengan hoerod h.
Selandjutnja buku "Malajoe-Batawi" menerangkan tentang
pernetjahan udjar (uraian kalirnat), mulai dengan kalimat2 jang
sederhana sekali sehingga kalimat2 ber-susun2.
124
DJANGAN SOMBONG!
Pudjian seorang suami.
SINDIRAN?
"Orang Prampoewan" terdiri atas hanja 24 buah sjair, ber-
bentuk brosir dan didjual f 0 .10 sedjilid. Tjetakan pertama 1885
dan tjetakan kedua 1889. Kemudian baberapa tjetakan lain di-
terbitkan tidak setilhu pengarangnja, antara lain oleh sebuah
perusahan pupur di Bandung jang menjiarkan itu tjuma2 untuk
propaganda pupurnja.
Rupallja "Orang Prampoewan" ditulis didalam suatu ke-
adaan jang berbeda sekali dengan keadaan waktu .. Mijn hart"
ditulis, biarpun dalam tahun jang sarna (1881). Mungkin .. Orang
Prampoewan" telah ditulis pada awal tahun dan "Mijn hart"
(bagian pertama) pada hampir achir tahun. Dengan kata lain,
jang pertama ditulis ketika Lie Kimhok merasakan hidup ber-
bah agia bersama isterinja, sedangkan jang kedoea ketika baru
sadja isteri itu meninggal-dunia.
Dimata Lie Kimhok kedudukan suami-isteri sarna-rata.
Duduk sama rendah, berdiri sarna tinggi. Keduanja ber-sama2
bermakota . la mendjundjung tinggi kaum wanita, mentjintai isteri-
nja sebagai suami jang bail< dan sebagai anak tidak mengurangi
ketjintaan dan kewadjibannja kepada ajah-bundanja. Ia ingin,
agar w anita menghargakan kebahagiaan rumah-tangga, seperti
perija jang baik menghargakan itu.
"Ojika bapa doerhaka,
Anak tan toe tjilaka.
Laki dojan soeka-soeka,
Sang istri beroleh doeka."
(Lie Kimhok, "Prampoean jang terdjoewal.")
"Raymond merasa, jang sekarang Suzanna telah terhilang
akan salamanja: ija poen tida nanti bisa djadi beristri pada
nona itoe.
Pri kaadaan poen sekarang ini soedah djadi terbalik betoel.
Kapan hari Suzanna tida maoe djadi istrinja Raymond,
sebab ia ada rasa, sedang diri sendiri boekan anaknja
orang baik2, bagimanalah brani djadi istrinja saorang baik.
Raymond ada merasa tiada brani djadi soewaminja
Suzanna, sebab iboe sendiri saorang djahat adanja.
Raymond rasa ija ada mengadapi waktoe, di mana ija
nanti terpaksa akan membri pada Suzanna katerangan jang
mendoekai. Melinkall elmaoet sadja bisa meIepaskan dia
125
dari kawadjiban akan membrikan katerangan itoe. Dan ija
faoe berkata pada Julia, jang ija bisa mengarti, mengapa
ada orang jang maoe memboenoeh diri sendiri."
(lie Kimhok, "Roger Laroque.")
Begitoelah anggapannja ten tang seorang perija dan suami
jang baik.
ORANG PRAMPOEWAN.
Kaoe taoe dirimoe apa, Nona-nona?
Kaoe sendiri tiada kira, tiada njana!
Di doenja ini, maski di mana,
Pangkatmoe besar dari di djaman koena.
Kaoe diseboet "bangsa prampoewan",
Dan "Iemah lemboet" barang kalakoean,
Tapi besar sekali kaoe poenja pekerdjaan,
Dan beratnja poen tida dapat dilaw'an.
Saban beranak "bergantoeng di ramboet salembar,"
Bahaja poen besar tiada tel chabar ;
Tapi tra loepoet di ini doenja jang .Iebar,
Joeta- joeta anakmoe ada tersebar.
Orang besar dan moelja, jang berkian-kian,
Hoe djoega ada anak-anakmoe sakalian;
Soenggoeh, Nona! kaoe poenja bangsa prampoewan,
Dijalah haroes diseboet bangsa "bangsawan."
Sa'ande bangsamoe 'dah Iinjap di daoeloe hari,
Tantoelah sekarang alam doenja soedah lari!
Di manalah ada kota, di mana ada negri,
Boemi tantoe katoetoep alang-alang dan doeri.
Soenggoeh-soenggoeh di ini doenja jang fana,
Bangsamoe teramat amat bergoena!
Djika sekarang bangsamoe Iinjap, Nona!
Lagi sara toes tahon doenja poen moesna.
Kaloe sekarang alam doenja blon berhenti,
Itoelah djadi, kerna bangsamoe blon mati;
Tapi, Nona, angkaoe biar mengarti,
Djangan kaoe djadi angkoeh di hali.
126
Pangkatmoe besar atawa tinggi,
Hoe soedah traoesah diseboet lagi;
Akan tetapi (djanganlah kira saja menagi),
Hoe pangkat di doenja, Nona! soedah dibagi.
Kaloe sekarang alam doenja blon moesna,
!toe terang sebab bangsamoe, Nona!
Tapi djika tida lelaki, maski bagimana,
Kaoe poenja kemampoehan tida bergoena
Dari sitoe ada djadi ama! Iljata ,
Prampoewan sarna lelaki pangkatnja rata:
Djika prampoean diseboet "bermakota",
Lelaki haroes diseboet djoega "bertachta."
Dan lagi, Nona! kaoe poenja bangsa prampoewan,
Lemah lemboet iapoenja kalakoean,
ltoe limboelken rasa hari jang rawan,
Adatmoe haloes, terbitken hormat dan katjint3an.
Parasmoe manis, meniroe boenga dikarang,
Menerbitk an rasa sedap di hatinja orang;
Ajer moekamoe jang rame bersri terang,
Senangkan pikir, timboelkan girang.
Soewaramoe masoek di koeping kanan-kiri,
Manis merdoe lebih dari soeling nafiri:
Maski kaoe boekan satoe poetri,
Nona! kaoe terhitoeng bangsa si bidadari!
Dari sebab kaadaanmoe demikiall,
8angsa lelaki djadilah merasa rawan;
8anjak jang bersobat sarna prampoewan,
Jja soeka menoempallkan katjintaan.
Prampoean poen bangsa baik sekali,
Kaloe ditjinta, ija tjinta kombali.
Lelaki poen . . . . . ija mandah djadi koeli,
Tjintanja si sobat djoega hendak dibli.
Sobat jang paling baik di doenja ini,
Hoe po en laki sendiri atawa bini:
8ertjinla-tjinta tida dengan semboeni,
Jang saloe bersalah, jang lain mengampoeni.
127
Sebab memang beradat satija mat.i,
Ka mana si laki pergi, bini ikoeti;
Salahnja laki si bini tra simf)an di hati,
Biar saJahnja njata, ija meJaga salah mengarti.
B@ektinja si bini ada berhati tjinta,
Dalam segaJa hal ija poen maoe beserta;
Djikaloe si laki berdoeka tjita,
Bini poen soesoet ajernja mata.
MembaJas tjinta ada hal jang pertama,
Kadoewa, ija membeJa selama-Jama;
Bagini atawa bagitoe ija poen menerima,
Melarat poen ija toeroe! bersama sarna.
Peningnja laki dan makan-pake ija rawati,
Sampe di waktoe datang sang adjal mati;
Jang diharapi olehnja dengan pasti,
Sang laki poenja tjinta hati.
Ma-bapanja laki boekanlah iboe- bapanja,
Itoe poen ija djoendjoeng sebagi orang toewanja ;
Djika si toewa itoe meninggal doenja,
Nona poen berkaboeng toeroet lakinja.
Djika si bini itoe beranak,
Laki poen djadi ikoet nada poenja anak" ;
Sanak soedara poen toeroet merasa enak,
Apakata tam bah saorang sanak.
Ojika si anak baik tida bertjilaka,
Si laki-bini itoe bersama-sama bersoeka;
Sabaliknja, djika si anak berkalakoean doerhaka,
Si laki bini bersama-sama djoega berdoeka.
Apakah ada di doenja ini,
Sobat jang baik sabagini?
Mengakoe, pembatja! traoesah semboeni,
Anak dan soedara tida lebih dari bini!
Lie KimholC
Bog@r, 1881.
128
xv.
POL E M I K.
Mel i hat b u a h, men g e n a] po h 0 n.
I.
ANAK DAN TJUTJU MURID.
Didalam kitab .. Hikajat Nabi Khong Hoe Tjoe" dan dalam
surat-kiriman T. H. H. K. - Djakarta jang disiarkan di surat2- kabar
dan berupa brosir, Lie Kimhok menulis bagini:
"Toewan de Lanessan, saorang Prasman jang kenaI baik
adat-Iembaga bangsa Annam dan Tionghoa, mengarang
satoe kitab, di mana ija menjatakan, bahoewa peraturan adat
dari doewa bangsa itoe ada berti mbang sama atoeran adat
bangsa Europa; maka djika saorang menoeroet betoel pada
pengadjarannja Khonghoetjoe dan goeroe ini poenja moerid
jang bernama 8engtjoe, boekanlah sadja orang itoe diindahi
dan dihormati di Shanghai atawa lain2 tempat di Tiongkok,
hanja nanti diindahi dan dihormati djoega di London dan
di Paris."
Perkataan2 ,,8engtjoe moerid Khongtjoe" menjebabkan be-
berapa penulis dalam '" Bintang Betawi" merasa perlu akan
menerangkan, itoelah tidak benar.
Penulis "Bwee Soe Boen" (Tan Tjhan Hie), (redactur "Ho
Po" ) . menulis, menurut kitab Tay Hak Tiong Yang terdjemahan
Tan Oing Tiong (redactur "Li Po"), 8engtju bukan murid Khongtju,
hanja murid Tju Su (Khong Kip), sedang Tju Su ini murid
Tjeng Tju. Dalam polemik ini ikutserta penulis2 "Kong To
Lang" dari Bogor (Ielnan Thio Sian Lok), "Hoeloe Balang Maeda"
(Thung Teng Kim), "Koan Seng Tjoe" dari Mr. Cornelis, "B.
Oenem" dari Bogar, .. Tjoen Oji Kauw" dari Solo, "Sam Keh
Tjie Tong", .. Si Bantong Toelen" d.!.L, sabagian besar mengambil
pihak Tan Tjhan Hie.
Siapa mengetahui halnja perbantahan-kalam pada masa itu,
patutlah segera akan menjangka, kata2 melampaui batas kesopanan
sukar ditjegah, kalau polemik telah berdjalan seramai itu.
Benarlah ada kemungkinan besar terdjadi demil<ian, Icalau pihak
jang diserang melajani.
Tetapi jang diserang itu ' Lie Kimhok. la ini membalas
demikian: *)
.) "Bintang Betawi' 2 Des. 1!lOO.
129
.. Dari sebAb Beng Tjoe boekan telah bergoeroe pada Khong
Hoe Tjoe, hanja telah bergoeroe pada Khong Hoe Tjoe poenja
tjoetjoe jang bernama Tjoe Soe, maka perkataannja Toewan de
Lannessan dipersalahkan ada bersalahan sama boekti.
Apa Toewan de Lannessan tida taoe, jang Beng Tjoe boe-
kan moeridnja Khong Hoe Tjoe, hanja moeridnja Tjoe Soe ?
Saja rasa moestahil am at ija tida taoe itoe, sedang ia
ada mengenal baik pada kitab2 Tionghoa.
Kaloe ija taoe, mengapatah ija katakan Khong Tjoe itoe
moerid Khong Hoe Tjoe?
Toeroet doegaan saja brangkali baginilah sebabnja itoe :
Toewan de Lannessan poedji pengadjarannja Khon g Hoe
Tjoe dan soepaja (orang tiada sangka, jang ija ada poedji
pengadjaran doewa goeroe jang berbeda maksoednja satoe dah
lain, maka perloe ija bri njata, bahoewa pengadjaran nja Beng
Tjoe ada berpoko pada pengadjarannja Khong Hoe Tio e.
Boewat njatakan dengan baik, bahoewa pengad jarannja
Beng Tjoe ada berpoko pada pengadjarannja Kh ong Hoe
Tjoe, tan toe sekali Toewan de Lan nessan perloe bri taoe ,
bahoewa Khong Hoe Tjoe telah membri adjaran pad a Tje ng
Tjoe; ini Tjeng Tjoe telah bri adjaran pada Tjoe Soe, dan Tjoe
Soe telah bri adjaran pada Beng Tjoe .
Dengan mengatakan Beng Tjoe itoe moerid KhonR Hoe
Tioe Toewan de Lannessan dapat menjatakan dengan ring.kas
pokonja adjaran Beng Tjoe.
Djoega, djika saja tida kaliroe, artinja perkataan "mgerid"
jaitoe "orang jang menerima pengadjaran." Dari sebab Beng
Tjoe ada mendjoendjoeng atawa menoeroet pengadjarannja
Khong Hoe Tjoe, saja rasa boleh djoega ija dikatakan ..orang
fihak Khong Hoe Tjoe" atawa "moerid Khong Hoe Tjoe",
jaitoelah dengan membri arti jang lebar pada perkataan
"moerid."
Dari sebab saja ada ingat bagitoe, maka tempo saja
menoeliskan "Hikajat (hong Hoe Tjoe," saja rasa, tida perloe
saja robahkan perkataannja Toewan de Lannessan jang saja
poengoet.
DjiKaloe saja poengoet atawa seboetkan perkataan orang,
saja rasa wadjiblah saja seboetkan itoe dengan betoel aib~s
mana adanja.
Tempo bestuur pakoempoelan T. H. H. K. maoe njatakan
di dalam soerat-kirimannja , bahoewa pengadjarannja Khong
Hoe Tjoe boekan sadja ada dipoedji oleh bangsa Tionghoa,
hanja ada dipoedji oleh orang bangsa Europa, ijapoen soedah
poengoet perkataannja Toewan de Lannessan sabagimana
wadjibnja orang meilloengoet perkataan orang lain.
130
Sasoedah saja membri ini katerangan, sedang saja ada
djadi lid dari bestuur T.H.H .K., saja rasa Sianseng Bwee Soe
Boen soeka trima dengan enak hati, kaloe saja bilang, jang
sekarang bestuur T. H. H. K. tida perloe membri katerangan
apa2 lagi akan samboeti permintaannja.
LIE KIMHOK.
"Roea Malaka. 2 Des. 1900."
Keterangan Lie Kimhok tidak dapat diterima baik, a. I.
ternjata dari balasannja "Hoeloe Balang Moeda" didalam .. Bintang
Betawi" djoega:
"Sajang sekali boewat saorang sebagi Toewan de Lan-
nessan jang soedah mengenal baik kitab2 Tionghoa soedah
djadi mahiwal pengatahoeannja, hingga babah Lie Kimhok
djoega, sa toe pengarang jang paling agoeng dan amat gapah,
soedah toeroet tjeritakan omongannja Toewan de Lannessan
itoe di dalam kitab Khong Hoe Tioe."
Ternjata dari tulisannja, penlllis "Hoeloe Balang Moeda",
beg itupun "Bwee Soe Boen" d .I.I., tetap berpendapat, de Lan..
ne ssan dan Lie Kim Hok tidak mengetahui, Beng Tjoe bukan
murid Khong Hoe Tjoe, hanja murid Tjoe Soe, ketika Lie Kim-
hok menul is "Hikajat Khong Hoe Tjoe" dan menulis surat-
·kiriman atas nama pengllrus T. H. H . K. - Batavia.
Untuk kedua dan penghabisan kali, dalam "Bintang Betawi"
9 Des. 1900 Lie Kimhok menulis didalam hal ini:
"Oleh kerna saja soedah poengoet omongannja Toewan
de Lannessan jang seboet "Beng Tjoe moeridnja Khong Hoe
Tjoe," saja djadi berboewat salah.
Njatalah jang "H.B.M." hendak membilang, bahoewa di
tempo saja menoelis "Hikajat Khong Hoe Tjoe", saja blon
taoe, jang omongannja Toewan de Lannessan ada bersalahan
sarna boekti.
Saja menoelis ini soerat boekan sekali akan berbantah,
hanja akan bri katerangan sadja.
S3ja boekan saorang jang kenai baik kitab2 Tionghoa;
maka saja ada perloe lain kasaksian akan menerangkan
soewatoe perkara.
Djikaloe babah Tan Kie Lam, jang sekarang masih hidoep
di Bogar, ada ingat sarna bitjaranja pada daoel?e hari, a~
tantoe boleh bersaksi, bahoewa pada soewatoe han, sedang l]a
membitjaral<an pladjaran orang Tionghoa, ija ada bilang
djoega pada saja, jang Beng Tjoe itoe moeridnja K. H. T.
poenja tjoetjoe.
131
Hendaklah ditimbang hal ini:
I. Ada banjak atoeran jang kita boleh pake boewat toetoer-
kan soewatoe perkara . Akan tetapi kaloe saorang boediman ada
bilang saloe apa dan kita maoe pake bitjaranja itoe akan
djadi kasaksian atas sa toe perkara, tantoe sekali kita lebih
soeka poengoet perkataan orang itoe, boekan? Inilah sebabnja
maka saja soedah poengoet omongannja Toewan de L. ;
2. Djikaloe saja poengoet omongannja Toean de L., tapi
saja robah perkataannja, tanloe sekali omongan itoe tiada dj adi
omongannja Toean de L. lagi. Dari sebab itoelah [iada laj ik
saja robah omongan orang jang saja poengoet, hinga dj ika loe
saja poengoet itoe wadjiblah saja poengoet dengan betoe!
sabagimana adanja ;
3. Saja telah pikir, moestah il amat Toewan de .~ Hoe tia da
taoe, bahoewa Beng Tjoe moeridnja Tjoe Soe. Maka masl<ip oe n
ija katakall, Beng ' Tjoe moerid K.H.T. di dalam omongann ja
jang saja kapingin poengoet akan djadi kasaks ia n atas sato e
perkara, saja tiada brani anggap, jang ija ada kalir oe, hanj a
saja soedah anggap, jang ia ada bri arti jang lebar pad a ija
poenja perkataan nmoerid" dengan maksoed ak an oendjo ek
pokonja pengadjaran Beng Tjoe,
Bagitoelah telah terdjad i.
Ada lebih baik, djikaloe saja tiad a poengoet omon ga nnja
Toewan boediman itoe. Tapi perkara jang soed ah terd ja di,
tiada dapat dioeroengkan dan sekarang tida ada daja lain,
melinkan saja misti bri sadja katerangan atas hal apa jang
telah terdjadi.
Dad hal saja soedah bisa dapat ingatan boewat mengang-
gap jang· Toewan de L. ada bri arti jang lebar pada perkata an
"moerid", itoelah boekan soewatoe perkara jang aneh, kerna
menoeroet pengataoean saja, di dalam omongan2 sering djoega
perkataan jang dibri arti lain dari artinja jang biasa. Oepama
saorang beriman berkata bagini : "Segala mahloek jang hidoep
di doenia ini, Toehan Allah jang piara; malah salem bar
roempoet mendapat djoega satetes emboen."
Maskipoen tida samoewa orang, tida oeroeng ada banjak
j~gaod jang merasa moefakat sarna omongan itoe; sedang
bagltoe, omongan itoe ada bersalahan sarna boekti , kerna
Allah blon sekali taoe datang membri makanan pada orang
atawa heiwan.
Di dalarn "Bintang Betawi" jang terbit pad a tanggal 7 ini
boelan, Toewan Redacteur sendiri ada menoelis bagini :
tjab,~em eon~t masih ingat namanja Jjap Goan Thay,
bapan]a kornedle Stamboel. Orang tjerita ia soedah kena
soempanja anak2 komedie Stamboel." '
132
Njatalah omongan itoe ada bersalahan sarna boekti ; tapi
toch dengan membri arti lain sedikit pada itoe perkataan
"bapanja" dan pada perkataan "anak", sekalian Pembatja
dapat mengarti apa jang maoe dibilang oleh Toewan Redacteur
dan samoewa boleh trima perbaik itoe omongan2 jang
bersalahan sarna boekti.
Tapi saja ini dari sebab soedah membri atawa soedah
toeroet membri arti jang lebar pada Toewan de L. poenja
perkataa n "moerid", saja soedah djadi terbawa berboewat
salah.
Apa boleh boewat! Pribahasa bilang: Hidoep sampe
toewa, beladjar sampe toewa. *)
Sablon saja toetoep ini soerat, saja bri taoe pada sekalian
Pembatja, jang pada sablon terbit perbantahan dengan
perkataan jang koerang pantas, saja poetoeskan saja poenja
toelisan atas hal ini, hingga s aja tida nanti menoelis lagi apa2
atas ini perkara ."
II.
KHONGKAU DAN KRISTEN.
Selama lebih 30 tahun Lie Kimhok menulis di-surat2-kabar,
seb egitu djauh dapat ditilik, ia telah melakukan hanja dua
polemik. Jang pertama ialah tentang "Anak dan tjutju murid"
diatas ini, mengenai diri dan namanja sendiri, dan jang kedua
adalah ten tang Khongkau dan Keristen, mengenai gerakan T. H.
H. K. - Djakarta dan umum.
Didalam polemik jang kedua itu ia - bermula sebagai
anggauta-komisi T. H. H. K. - Djakarta, kemudian. perseorangan
atas nama sendiri - berhadapan dengan L. Tiemersma, seorang
pendeta jang telah menerbitkan dan mengemudikan antara lain
madjalah2 Keristen, sepelti "Bentara Hindia" jang menulut kata2
dan edjaan pendeta itoe "dikarangkan saminggoe sakali" (Batavia,
1900-1925) dan bulanan "Penaboer" (Kediri, 1925). la penulis
buku2 djuga, seperti "GoJgothar bebrapa riwajat pada masa raja
kemalian Toehan ]oesoes (Batavia, 1894), "Kitab pembatjaan bagi
anak2 sekolah jang dipindahkan kapada baha<;a Melajoe" (Batavia,
1899), .. Sobat anak2" (Batavia, 1901), "I(asoekaran masa raja
Jahir Toehan ]oesoes", "Hal kadjadian Langit dan Boemi",
"Hikajat segala Nabi" d. I. I.
Pendeta Tiemersma mulai lebih dahulu di-"Bentara Hindia",
berhubung dengan tulisan2 Tan Liong Houw, Tan Han Soey,
Tan Ging Tiong d . 1. I. dalam "Li Po" (awal 1902), kemudian
*) Pribahasa Tionghoa : to tao lao, hsueh tao lao (membatja sampai tU3,
betadjar sampai tua).
133
melandjutkan polemik, berhubung dengan djawaban T. H. H. K.-
Djakarta atas pertanjaan2 tentang Agama Tionghoa dari Lauw
Tjiang Seng, Tangerang (achir 1902). DiJajani beberapa penuJis
Tionghoa, terutama komisi T. H. H. K. - Djakarta jang istimewa
diangkat untuk membaJas kritik2 Tiemersma, pendeta ini penulis
"Pembalasan" tiap minggu ber-turut2 sangat lama (sehin gga
achir 1903), biarpun komisi T. H. H. K. dan Lie Kimhok telah
berhenti menulis. Dan L. Tiemersma tidak sadja menggunakan
halaman If Bentara Hindia" , melainkan djuga halaman "Li Po"
dan "Loen Boen," sedangkan penulis2 T ionghoa dan komisi
T. H. H. K. hanja menuJis di- "Li Po" sadja .
Tidak dimaksud mengutib seluruh polemik ilu , ja ng da pat
berupa sebuah buku tebal , hanja akan dikemukakan sadj a dis ini
tjaranja Lie Kimhok berpolemik. Tetapi sebagai pendj elasan
terpaksa dikutib sebagian kritik2 pendefa L. Tiemersma, lag i
disingkatkan sesingkat mUllgkin, sebagai berikut:
"Sekarang ini bangsa Tjina terlebih tersesat dari pad a zam an
Khong Hoe Tjoe.. . . . . . . ."
"Bahoea orang jang maoe djadi selamet doenj a achera t
lantaran agama Khong Hoe Tjoe jaitoe sebagai orang jang mao e
pasang soeloeh j:lng bah asa atawa sebagai orang jang meno enggo e
emboen di tengahari. . . . . . . ."
"Agama Kristen dan agama Tjina dibandingkan satoe sam a
lain, makin njata djaoeh bedanja. . . . . .. ."
"Bahoea djaoeh bedanja agama Kristen dengan agama ka pir,
doewa2 tida dapat disamakan . Bagimana sembahjang akan oran g-
nja jang mati dapat disamakan dengan semhahjang akan Allah
jang hidoep . . ... . .."
"Kabedaan agama Kristen dengan agama Tjina tiada dapat
dikoerangkan. Doewa agama itoe tiada dapat didekatkan satoe
sarna lain. Oleh djalan bagitoe itoe tidak boleh djadi per-
dameian . . . . . . . ."
"Pasan petasan djoega mendjadi tanda, bah oea agama Tjina
menakoeti orang Tjina.. . . . . . ."
. "Orang Tjina membikin roemahnja seperti boei, jaitoe sebab-
nja ag.ama tniem~ko dia .. Tiada brani ija membikin banjak pintoe
dan. djandela dl moeka djalan besar, sebab takoet rohnja orang
matt smoa~k roemah akan mengganggoe isi roemahnja. . . ." *).
Komisi T. H. H. K. - Batavia dalam .Katerangan"· nja a.1.
menulis sebagai berikut: **).
* ) ,,8elltara H india," "Loe Boell" d an "li Po" Mei 1902-Sept. 1902.
$*) "Lie Po" 18 April 1903.
134
"Oi dalam toewan L. Tiemersma poenja toelisan jang ka-
doewa dengan beralamat "Agama Tjina", dan ada termoewat
djoega di dalam "Li Po" No. 103, toewan itoe ada bitjarakan
kita poenja oedjar jang demikian boenjinja:
"Seperti pericataan2 di dalam satoe bahasa bisa djadi ber-
tam bah dengan lantaran dipoengoetnja perkataan2 dari lain
bah asa , ad at- istiadat poen ada kalihatan bisa djoega bertambah,
dengan lantaran bangsa jang ampoenja adat-istiadat itoe, ada
bertambah pengataoean atawa mendapat pikiran baroe."
Biarlah sekarang ini lebih doeloe kita menjatakan di sini
ma kso ednj a oedjar kita itoe, dengan titi bagian2- nja satoe per sa{oe.
Ada doewa perkara jang diseboet di oedjar itoe:
1. ada diseboet: perkataan di dalam satoe bahasa bisa djadi
bertambah ;
2. ada diseboet: adat-istiadat poen ada kalihatan bisa djadi
berta m bah.
Ooewa perkara jang terseboet itoe, ada dihoeboengkan satoe
sarn a lain dengan kal irnat "seperti," jang didjadikan awalnja oedjar.
Mal<a pokonja oed jar kita itoe ada bagini:
"Seperti perkata an2 di dalarn satoe bahasa bisa djadi ber-
tam ba h, adat-istiadat po en ada kalihatan bisa bertambah."
T egasnja oedjar jang poko itoe, bagin i :
" Seperti perkataa n2 di dalam satoe bahasa ada kalihatan
bis a bertambah , adat-ist iadatpoen ada kalihatan bisa bertambah."
Njatalah jang 'i!oe kalimat "seperti" ada berhoeboeng sarna
kalirnat " fl da kalih aian ." Maka njatalah djoega jang kita ada
se pert ikan do ewa perkara itoe satoe sarna lain di dalam halnja
ada kalihatan bisa bertambah .
Tentang .bertambahnja perkataan dan bertambahnja adat-istia-
dat, itoelah ada lantarannja sendiri2, jang berbeda satoedari lain.
Ooewa2-nja "lantaran" poen ada diseboet di dalam kita
poenja oedjar, sebagimana ternjata di bawah ini:
1. Perkataan2 bisa djadi bertambah, dengan lantaran di-
poengoetnjt1 perkataan2 daTi lain bahasa.
(Adat-istiadat bisa bertambah, boekan dengan lantaran di-
poengoetnja perkataan2 dari lain bahasa, hanja bagini :)
2. Adat-istiadat bisa bertambah, dengan lantaran bangsa
jang ampoenja adat-istiadat itoe, ada bertambah pengataoean
atawa mendapat pikiran baroe.
Tetapi maskipoen ada terang sekali maksoednja kita poenja
omongan. toewan L. Tiemersma membilang djoega bagini:
"Oepama jang terpake oleh Commissie itoe memang terpake
salah. Commissie itoe bilang: Seperti perkataan2 sawat0e bahasa
bisa djadi bertam bah dengan dipoengoetnja perkataan2 dari lain
bahasa, bagitoe djoega agama ."
135
Hoe tiga perkataan: ,.bagitoe djoega agarna," ada tegasnja
bagini: agama djoega bisa djadi bertambah dengan !tmtaran
dipoengoetnja perkatatin2 dari lain bahasa.
Tjobalah Liat Wi Sian Seng Pembatja toeloeng lihat dengan
baik. Apa kita ada bilang bagitoe?
LihatJah oepamaan ini:
Saande Liat Wi Sian Seng ada berkata bagini:
Seperti kidang soeka kenjangka/l peroetnja dengan roempoet,
rnatjan soeka kenjangkan peroetnja dengan daging heiwan.
Maka njatalah jang Liat Wi Sian Seng ada bilang, bahoewa
kidang soeka kenjanf!kan peroetnja dan mat jan poen soeka ke-
njangkan peroetnja. Oi dalam hal itoelah sang matjan ada seperti
kidang: sama2 soeka kenjangkan peroet. Tapi kasamaannja itoe
melinkan di dalam hal itoe sadja, tiada di dalam segaJa haillja;
kerna barang jang dipake kenjangkan peroet oleh doewa binatang
itoe, adalah doewa roepa, dan doewa2 ada diseboet dengan nj ata
di dalam oedjar.
Sedang bagitoe ada lain orang membilang, bahoewa Liat
Wi Sian Seng telah berkata bagini:
"Seperti kidang soeka kenjangkan peroetnja dengan roemp oe t,
bagitoe djoega matjan. (Tegasnja: matjan djoega soeka kenjang-
kan peroetnja dengan roempoet) .
Kaloe bagitoe, apa haroes dibilang, bitjaranja orang iloe
ada benar?
Jja masoekan perkataan ,.bagifoe djoega" ka dalam Liat
Wi Sian Seng poenja oedjar, sedang 6 perkataan jang pal ing
belakang, diboewangkan olehnja.
Oemikianlah telah terdjadi dengan toewan L. Tiemersma .
Ija masoekan perkataan "bagitoe djoegalJ ka dalam kita poenja
oedjar, sedang kita poenja 15 perkataan jang paling belakang,
diboewang olehnja.
Satoe oedjar jang dirobah dengan ilmoe bagitoe, soedah
tantoe djadi tiada benar boenjinja.
Oi sinilah kita merasa ada dapat melihat toewan L. T. ada
poenja i1moe jang aneh; kaloe ija hendak salahi omongan orang,
ija robah doeloe omongan itoe dengan menoeroet soekanja hati
sendiri.
Toewan L. T. ada berkata djoega bagini:
"Betoel seperti Commissie jang berampat orang itoe bilang
agama Tjina ada tjampoeran. Tapi sajang sekali Commissie tida
periksa sebabnja djadi bagitoe."
Doewa perkara kita misti terangkan atas omongan jang ter-
seboet di atas ini:
1. Kita tiada sekali bilang, bahoewa agama Tjina agama
tjampoeran. Kita melinkan ada bilang, jang di dalam hal me-
136
noeroet pada bebrapa agama, bangsa Tjina tida menoeroet dengan
sampoerna, hanja menoeroet ka sana-sini sed ikit, hingga djadi
melakoekan agama tjampoeran.
Itoe "agama tjampoeran," maskipoen ija dilakoekan oleh
orang2 Tjina ija tida djadi agama Tjina, kerna jang terakoe
agama Tjina, Khong Tjoe-Kao sendiri sadja, dari sebab Khong
Hoe Tjoe sendiri ada diakoe Nabi oleh bangsa Tjina. Agama
Kristen poen, kaloe dilakoekan oleh orang2 Tjina, ija tiada
nanti dinamai "agama Tjina."
2 , Toewan L. T. soedah tiada batja dengan baik kita poenja
soerat jang teralamat pada Sian Seng Lauw Tjiang Seng dan
ada terletak dalam nLi Po" pada saatasan kita poenja rentjana
agama Tjina.
Pada soerat itoe ada ternjata, jang kita berampat orang ada
dip erintahkan sadja kasih penjahoetan atas Sian Seng L. T. S.
poe nja 5 pertanjaa n.
Kita tida diperilltahkan tjari taoe, apa sebabnja orang2 Tjina
soedah djadi melakoekan agama tjampoeran; kerna atsilnja hal
tj a ri taoe perkara itoe tida nanti ada banjak faedahnja. Sekalipoen
kita d iperintahkan tjari taoe perkara itoe, maka kita poenja
rap p ort dari kasoedahan tjari taoe, tantoe sekali tiada akan ber-
s a toedjoe s a rna doega2annja toewan L. T. Maka djanganlah
toewan " sajang" , jang kita soedah tida tjari taoe itoe perkara.
Halnja orang2 Tj ina soedah djadi melakoekan agama tjam-
p oe ra n, itoepoen tiada soesah ditoetoerkan .
Li Lo Tjoe, kapa/a To-Kao, ada hidoep di daJam djaman
Khon g Hoe Tjoe , dan sedang K. H , T . membrikan pengadjarannja,
L. L. T . poen ada membrikan pengadjaran sendiri. Soedah tantoe
adalah orang2 jang menoeroet pengadjaran K. H. T. dan ada
djoega orang2 jang melakoekan pengadjaran L. L. T. Tapi maski
demikian adanja hal, baik K. H.T . sarna L.L.T., baikpoen moerid2
marika itoe tida sekali ada bermoesoehan satoe sarna lain,
seperti orang2 Jahoedi dan Roem sarna orang2 Kristen. Kalihatan
jang orang2 Tjina ada merasa, bahoewa hal agama ada ber-
hoeboeng sarna hal achirat, dan dari sebab achirat amat gaib
adanja, maka adalah dirasa, bahoewa tentang agama baiklah
masing2 orang pikir sendiri apa jang baik akan dirinja. Maka
oleh kerna masing2 orang ada merdika betoel akan toeroet pi-
kiran sendiri ten tang hal agama, sigralah djoega ada terdapat
orang2 jang menoeroet pada L, L. T. sambi! menoeroet djoega
pada K. H. T. Dernikianlah djoega halnja orang2 Tjina, tatkala
agama di dalam negri djadi tertambah dengan agama Hoet,
Hal bagitoe soedah bisa djadi loemrah an tara orang2 Tjina,
dari sebab antara marika itoe ada lebih banjak orang jang tida
mengenal betoel pengadjarannja K. H. T., daripada jang mengenal
137
betoel pengadjaran itoe. Dan dari sebab orang2 Khong Tjoe-Kao,
orang2 To-Kao dan orang2 Hoet-Kao tiada membentji satoe
sarna lain, maka banjaklah orang2 dari agama jang satoenja,
menikah sarna orang2 dari agama2 jang lain itoe . Antara toe-
roenan-toeroenannja orang itoe djadilah lebih loemrah lagi hal
melakoekan agama tjampoeran.
Orang2 Tjina jang doeloe hari datang dari tanah Tjina ka
tanah sini, samoewa poen tida ada bawa istri , dan ada banjak
jang kawin sama prampoean bcemi-poetra sini. LihatJah tjara
bagimana laki-istri itoe merajakan hal kawinan anaknja . Sedan g
si bapa melakoekan kabiasaan bangsa Tjina , si iboe melako ekan
kabiasaan menoeroet agama Islam. Toeroenan2 marika itoe me-
noeroet sadja toeladannja si leloehoer. Maka hal inilah ad a dj adi
katerangan jang njata, tentang awalnja orang2 Tjina mela koe kan
agama tjampoeran.
Sekarang tjobalah kita lihat, tjara bagimana Hoet-Kao soedah
datang di tanah Tjina .
Toewan L. T. ada bilang, bahoewa Hoet-Kao bo eka n datang
di negri Tjina oleh maoenja orang Hindoestan, hanj a soed ah
datang di sana, oleh kerna keizer Ming Ti soedah oenda ng pan -
dita Hoet jang misti mengadjar agamanja. Komoedian toewan
L. T. lantas katakan doega2annja bagini: "Roepanja keizer itoe
sarna bangsanja rasa dalam hatinja, bahoewa Khong Tj oe-K ao
tiada tjoekoep bakal orang manoesia."
Sajang toewan L. T. tida seboetkan, bropa orang banjakn ja
bangsanja keizer jang soedah toeroet baginda rasa bagito e.
Boewat dibilang "keizer Ming Ti sama samoewa ora ng ban gsa-
nja" ada rasa bagitoe, itoelah tida bisa djadi benar ; kern a
tempo maoe oendang pandita Hoet, ke izer tida membitjarakan
doeloe halnja Khong Tjoe-Kao, dan tida membikin lebi doeloe
vergadering besar sarna rahajatnja, hanja ija toeroet sadja ka-
hendak hati sendiri.
Menoeroet kata kitab hikajat, keizer Ming Ti (rian Beng Te)
telah mengimpi, jang saorang berbadan emas ada datang di
karaton baginda.
Komoedian keizer tanjakan pada mantri2nja, apa maknanja
impian itoe.
Sa toe antara mantri2 itoe, Pouw Oe namanja, membilang
pada keizer, bahoewa orang berbadan emas itoe, artinja orang
soelji jang diseboet Hoet dan ada di negri Hindoe.
Mantri Pouw Oe itoe tida ternama noedjoem atawa toekang
artikan impian, dan tida ada poenja ilmoe seperti Joesoep, jang
soedah bisa artikan impiannja Farao di Mitsir. Maka djikaloe
mantri itoe soedah bisa membilang bagitoe, tan toe sekali dari
138
seba b ija soedah faoe, jang di tanah Hindoe ada orang jang di-
anggap soetji dan ada djadi kapala dari satoe agama, dan oleh
orang2 Tjina diseboet "Hoet" (Boedha).
Dengan sabenarnja djoega mantri itoe soedah taoe hal itoe, ker-
na lama pada sabelonnja djeman Ming Ti, jaitoe pad a djeman keizer
Tjioe Bok Ong, agama Hoet soedah datang di tanah Tjina, tida
dengan dioendang, malah tida ada orang jang maoe perhatikan .
Sasoedah agama Hoet (Hoet- Kao) itoe terkenan oleh l<eizer
Ming Ti, baroelah ada orang2 Tjina jang toeroet pengadjarannja
pandita Hoet. Hal inilah traoesah diboewat heiran; l<erna apa
jang diperboewat oleh radja, itoelah sigra diperboewat djoega
oleh rahajatnja radja itoe. Ada banjak boekti dari hal demikian.
Oi djaman sekarang po en masih ada bagitoe. Kaloe Gou-
vern eur Generaal soeka datang di gredja, malta banjaklah orang2
Europa soeka datallg di gredja, leb ih lagi ambtenaar2. Tempo
keize r Duitsch W ilhelm 11 roba potongan koemisnja, lantaslah
djoega ada banjak orang antara rahajatnja jang bikin koemis
samatjam koemis baginda itoe.
Ma ka kaloe agama Hoet soedah djadi berlakoe di negri
Tji na, itoelah boekan sekali dari sebab keizer Tjina dan raha-
jatnja ada rasa jang Khong Tjoe-Kao tiada tjoekoep akan ma-
noesia , hanja melinkan dari sebab tachajoelnja keizer Ming Ti
saora ng .
Sian Seng Yoe T jai Siang Sia *), saorang Kristen; dan toewan
L. T .. sendiri telah menoedoeh, bahoewa Yoe Sian Seng itoe
hendak tjampoerkan agama Kristen sama agama Khong Hoe Tjoe.
Sa ande sekarang kahendaknja Yoe Sian Seng - sabagimana
toedoehannja to ewan LT., - bisa terdjadi , apa toew2n L. T.
maoe mengakoe, bahoewa agama Kristen tida tjoekoep akan
manoesia , dari sebab perboewatannja Yoe Sian Seng s :!Orang. jang
ambil Khong Tjoe · Kao akan ditjampoerkan pada agamanja sendiri?
Dengan memandang toedoehannja toewan L. T. kita merasa
ing in berkata, bahoewa sajang sekali Yoe Sian Seng tida ber-
oentoeng seperti Luther, jang soedah dapat robah agama Kristen,
hingga terbit Kristen Protestant. Saande Yoe Sian Seng beroen-
toeng sabagitoe, brangkali djoega boleh dibilang, jang agama
Kristen tida tjoekoep boewilt manoesia, hingga dengan lantaran
bagitoe soedah djadi terbit Kristen Rangkepan.
Kita blon pikir dan djoega blon ada niatan akan pikir,
apa sebabnja maka agama Kristen soedah djadi terpetjah ka
dalam Kaoem Kristen Griek dan Kaoem Kristen Latijn, dan di
belakang itoe tempo, dengan lantaran saorang bernama Luther
dapat pikiran baroe, dalam Kao em Kristen Roem dan Kaoem
*) Salah seorang redactur "U Po". Oelar "Sia" biasa diberikan kepada anak2
laki2 opsir-Tiollghoa, seperti "Ja" kepada saudara2 ll1 ki2 opsir2 itoe.
139
Kristen Protestant, dan pada komoedian hari Kristen Protestant
djoega djadi terpetjah ka dalam Kristen Hervormde dan Kristen
Gereformeerde dan lain2, dengan lantaran pikiran baroe ada
datang pada Zwingli, Calvijn dan lain2 orang, malah sampe di
djeman ini poen, masih ada djoega orang rasa, bahoewa agama
Kristen ada perloe dirobah poela atawa dirangkep sarna l( hong
Tjoe-Kao.
Dengan pengharapan jang diperbanjak-banjak kifa me moe-
hoenkan, soepaja Katerangan kita ini dapat dimoewatkan djoega
dalam halaman soerat kabar "Bantara Hindia" dan "Loen Boen."
Dengan nama Commissie jang didirikan oJeh
T. H. H. K. akan sahoeti pertanjaannja
Sian Seng Lauw Tjiang Seng,
LIE KIMHOK."
Dalam p0lemik itoe Tiemersma mengaku:
"Baba Lie Kimhok laoe pikir tadjam. Dan hati orang ja ng
pikir tadjam tiada lekas lerpoewas." ("Li Po" 11 Juli 1903).
Rupanja untuk memuaskan baba Lie Kimhok, hingga ber-
bulan2 seperti tidak akan ada achirnja pendeta Tiemersma
melandjutkan "pembalasannja", sedang komisi - T. H. H. K. telah
lama tidak membalas lagi!
Komisi itu tidak undjuk tanda apa2, tetapi banjak pembatja
"Li Po" agaknja merasa djemu dan mendesak kepada redaksi
mingguan itu, agar tulisan2 demikian tidak dimuat lagi.
Redaksi dan administrasi "Li Po" tidak segera mengambil
putusan, hanja memadjukan pertanjaan kepada komisi-T.H.H.K.,
apakan keterangan2 pendeta Tiemersma sudak tjukup?!
Komisi - T. H. H. K. membalas sebagai berikut:
"Seperti lid2 bestuur dari T. H. H. K. dan dengan taoenja
kita poenja president, kita berampat (Khoe Siauw Eng, Dei Khoen
Ie, Tan Chong Long dan Lie Kimhok, karena komisi- T.H.H.K.
soedah dibubarkan) bermohon, soepaja diteroeskan sadja membri
tempat di dalam "Li Po" toelisan2nja toewan L. Tiemersma
jang mendjadi penjahutan atas segala pertanjaan Komisi. Hal
menerangkan boenjinja fatsal2 Kitab Soetji Kristen itoe benar
boekan tempatnja di dalam minggoean "Li Po."
Kita membiJang banjak trima kasih pada toewan L. T.,
kerna dengan lantaran ija saorang. sekarang ini ada kalihatan,
jang T. H. H. K. terlepas dari satoe toedoehan salah, jang di-
toedoehkan padanja.
140
Di dalam roemah T.H.H.K. !ida diadakan Toapekkong atawa
lain pamoedjaan. maski apa djoega namanja; kerna Toapekkong
dan sebaginja itoe lajik dipandang seperti djangkar dari segala
kapertjajaan tachajoel - jang masi tida tetap adanja - tida dapat
dilaloekan oleh ombak dan angin, sebab terpegang oleh si djangkar.
Dari se bab T . H . H . K. tida memalihara Toapekkong, banjak
orang Tionghoa ada berkata: "T. H. H. K. itoe satoe koempoelan
Kristen jang bertopeng Khong Hoe Tjoe.
Sedari Commissie T. H. H . K. telah toelis · menoelis di dalam
courant dengan bertentangan sarna toewan L. T., jang soedah
moelai lebih doeloe, toedoehan itoe moelai hilang, dan T.H.H.K.
dapat tam bah banjak lid baroe.
Kita harap, jang dengan lantaran karangan2nja toewan
L. T. gredja Kristen poen nanti dapat tam bah banjak anggota."
(" Li Po" 10 Oct. 1903).
141
PEN U T U P.
Demikianlah hal-ihwal Lie Kimhok setjara kronologis dan
sesingkat mungkin.
Tidak salah, · tiap zaman memiliki tokoh didalam keadaan
tempat, suasana dan iklim ma sing2.
Banjak kekurangan didalam buku ini tidal< sadja karena
singkatnja penuturan, melainkan banjak tjatatan telah lenjap-
terhilang didalam waktu pendudukan Ojepang.
Kata "tuan" dimuka semua nama sengadja tidak digunakan.
Tidak ada kehormatan dan perindahan lebih besar dapat
diberikan kepada pemakai2 nama2 itu oleh siapapun djuga,
melebihi nama2 itu sendiri.
Besarlah terima kasih saja kepada sekalian, jang telah
membantu dengan keterangan2, jang tidak selalu dapat diperoleh
daripada buku2, surat2-kabar, madjalah2 dan tjatatan2 tua ,
hingga dapatlah saja menjadjikan penuturan ini tentang siapakah
Lie Kimhok itu.
142
lSI BUKU.
PENDAHULUAN. Halaman
Siapakah Lie Kimhok itu? . 3- 5
I. LALU-LINTAS ABAD KE-19.
Grote Postweg. - Kendaraan. - Passenstel-
sel. - Perdjalanan - Kereta-api. . . . . . 6 - 13
II. PERANAKAN TIONGHOA DAN PENDIDIKANNJA.
Tjiandjur. - Pendidi kan dirumah. - Peladjaran
disekolah . - Anak jang baik dan kesenangannja. 14 - 23
III. BOGOR 1853 - 1873.
Oelapan Bogor. - Dari "Kerkhof" ke-" Buiten-
hof". - Dari "Ojarum" ke-. Residensi lux."-
"Bazaar." - Kampung Tengah. - Pertjaja atau
tidak. - Tahun Baru Tionghoa. . . . 24 - 31
IV. SUMBER-AIR DIPADANG-PASIR.
Onderwijs di Bogor. - Sedikit, tetapi banjak. -
Berdirikan sekolah sendiri. - Penabur bunga
tidak terkenal. - Perintis2 . . . . . . . 32 - 40
V. DJIWA MATANG DALAM TANOISAN.
Djiwa seni. - Wang-Tjerita dan "Kesedjukan-
ku." - Malang tak boleh ditolak, mudjur tak
boIeh diraih. - Penderitaan sebagai udjian. 41 - 48
VI. PERS MASA PERMULAANNJA.
Dari buku ke - suratkabar:l'- Ratu-Bumi dan
najlitek.s~u "Pemberita Betawi." - Persa-
tuan wartawan pertama. 49 - 56
VII. PANDANGAN HIDUP.
Hidup sopan dan beraturan. - Menolak dan
menerima. - Ada sesuatu jang memuaskan. 57 - 62
VIII. TIONG HOA HWEE KOAN PERTAMA. V
Pusat Kaum-Muda Tionghoa. - Maksudnja. -
Tiga anggapan. - Satu pidato. - Tiga golongan.
- Tiga golongan lain.. . 63 - 71
IX. ADJAL DAN ACHIR.
Hasil-kalam. - Tjerita2 Tionghoa. - Tjaranja
menerangkan sesuatu. - Tjerita " pendek dan
lelutjon. - Berita d u k a . . . 72 - 83
X. WARISAN.
Daftar-buku tidak lengkap. - "Bapak" Melaju-
Tionghoa. - Penulis, manusia dan pemimpin.
- Tak ada gading jang tak retak. - Haktong
dan H. C. S. . . . . . . . 84 94
XI. "HATIKU". . . . . . . . 95 -
Naskah jang tidak tersiar
99
XII. SITl AKBARI. 100 - 110
Asalnja. - Fragmen . . .
XIII. MALAJOE-BATAWI.
Perkembangan bahasa MeJaju. - Melaju-Dja-
karta. - Tatabahasa "MaJajoe-Batawi" . . . 111 - 124
XIV. DJANGAN SOMBONG! 125 - 128
Sindiran. - Orang prampoewan.
XV. POLEMIK.
I. Anak dan tjutju-murid. - II. Khongkau dan
Keristen. . . . . . . . . . .. 129 - 141
PENUTUP . . . 142
R A LAT.
Halaman 4 paling bawah: beladjar sendiri ada autodidact,
mestinja: beJadjar sendiri adalah
autodidact.
H alaman 6 garis 10 dari atas: urusan keJuarga akan pekerdjaan,
H alaman 6 garis 15 dari atas: mestinja: urusan keluarga atau pe-
kerdjaan.
antara - benua, mestinja: antar-
benua .
Halaman 9 garis 12 dari al,as: ada pula suatu, mestinja : ada pula
sesuatu.
Hal aman 9 garis 14 dari atas menjambung garis ke-15: jang
dipersamahanan dengan, mestinja :
jang dipersamakan dengan.
Halaman 9 garis 16 dari atas: kerlaku sehingga 1920, mestinja:
H alaman 16 'garis 6 dari atas: berlaku sehingga 1920.
Halaman 17 garis 3 dari atas: ketjuali nanma dan hiolonja, mesti-
nja: ketjuali nama dan hiolonja.
berpolall, mestinja: bupola.
H alaman 20 garis 12 dari bawah: Tidak dapat menjahut, mestinja:
Tidak dapat ia menjahut,
Halaman 22 gari s 7 dari bawah: Coolsma dak Van der Linden, mes-
tinja: Coolsma dan Van der Linden.
Halaman 24 garis 7 dari atas: 72° c., j~:tmnies
77,2 F.
Halaman 25 garis 18 dari atas : Van Lambergen, mestinja: Van
Lansbergell.
Halaman 51 garis 6 dari atas : "Soerat Kabar Melajoe", mestinja:
,.Soerat Kabar Bahasa Melajoe."
Halaman 53 - 54 - 55 Tentang" Pem berita Betawi"terdapat
kekatjauan dan mestinja: Nomor
tjontoh Cnomor pertama) sebenar-
nja 27 Des 1884; pertjetakan di-
pindahkan kepada Albrecht 2 Maret
1885; nama W. Meulenhoff mulai
tertjantum sebagai penerbit 8 Djuni
1885; Kieffer digantikan Meulen-
hoff 1 Sept. 1885; Lie Kimhok mu-
lai menljetak "Pemberita Betawi"
1 Djuni 1886; koran itu didjual
hak· penerbitannja kepada Karsse-
boom 15 Okt. 1886; pemberitaan
tenlang uang lan~g dan iklan
harus dikirim kepada Karsseboom
disiarkan oleh .. Pemherita Betawi"
16 Okt. 1886.
Halaman 55 garis 23 dari atas: menggulung badju, mestinja : meng-
gulung lengan-badju.
Halaman 60 garis 21 dari at as : dalam banjak ia berpikir, mestinja :
dalam banjak hal ia berpikir.
Halaman 63 garis 15 dari bawah: penulis komisi, mestinja: penulis
semeniora merangkap anggouta-
komisL
Halaman 70 garis 9 dari bawah: (1908), mestinja: (1906).
Halaman 76 garis 6 dari alas: abad ke-28, mestinja: abad ke-20 .
Halaman 76 garis 15 dari atas: djaran, rnestinja: djalan.
Halaman 98 garis 10 dari alas: der tegenheden , mestinja : de te gen-
heden .
Halaman 114 garis 12 dari bawah: Didalam keadaan itulah kit ab
"Malajoe - Batawi", mestinj a: Di-
dalam keadaan itul ah diterbitkan
kitab "Malajoe-BalawL"
Akan kekeliruan tjetak dalam edjaan tulisan Lie Kimh ok,
,misalnja "pakerdjaan" tertjetak "pekerdjaan", "ija" tertjetak
"ia·", "timboelkan" tertjetak "timboelken" dsb., pun harap pem-
batja suka maafkan.
-