Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Hati Tiga Segi
Biru jubah baru ayah dijahit langit
jernih tabir wajahnya ditekat embun
“Ayah sudah pulang!”
(ada pembunuh sembunyi di saku
ada kematian bertenggek di bahu)
“Anak, usah datang!”
(tersentak - langkah seribu terkedu
terjarak - tangis rindu menjadi pilu)
Ayah membujuk hatiku
dan melipat hatinya tiga segi
satu penjuru dituju untukku
satu penjuru pula buat ibu
satu lagi untuk pertiwi
satu pun tiada untuknya sendiri
dibahagi seluruhnya demi Ilahi
Ibu mengutip manik mataku
bercampur manik matanya
bertabur di atas permaidani
dibotolkan menjadi susu
membancuh hati, sebati
dan hangat pelukan ayah
diganti selimut mimpi
lalu kucup ibu berbisik:
“besar nanti biar sihat, tidak sesakit bumi.”
Nukilan:
Mohd Istajib bin Mokhtar
51
38
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Digentus Biar Putus
Rantaian ini bisa amat berbisa,
Teraba-raba meneroka selumbar apa membikin dunia terseksa,
Menyusur dalam diam, menggigit dalam cengkam tanpa suara,
Memisah jasad bernyawa menjerut halkum tanpa rasa.
Tali ini sinambungnya pijar membakar,
Ditarik pantas menyala, terbelit juga panas
membara, Hangus rentung segenap jurus hidup,
Pandemik kronik mengoyak rabik hingga
tercarik, Layar sedar kian menggegar susuk sedar,
Rebah digugah, ranap punah bahtera ini.
Dari penjara ini, pancaindera hanya bisa bersaksi gusar,
Setiap figura diunjurkan menyelinap bimbang gusar,
Terjajah sekali lagi jasad ini tanpa sedar,
Hingga roda bumi seakan henti berputar,
Runtuh, lumpuh di ufuk subuh berlabuh.
Lantas, fitrah alami memaut kembali temali
insani, Tatkala mahligai ibadah disorok hilang
kuncinya, Arus berliku selekoh itu terhalang sekat,
Gedung terkatup kejap menuju bankrap,
Pitis meluput nilai, hilang pemburu di semua penjuru.
Covid-19, bukan seteru biasa-biasa,
Direntap rahmat yang diutus.
Hari ini, teguh tembok padu mari kita ikat,
Teraju lantang menyeru, mari kita pintal utuh muafakat, Wabak itu,
harus kita gentus sampai putus.
Nukilan:
Cikgu Bakri Talib
52
39
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Cinta
Biarlah kita berjauh begini
Berasing dalam penjarakan
Selamatkanlah diri dari bencana
Tapi janganlah cinta menjauh pergi
Kita memerlukan antara lain
Kepada tuhan kita berserah
Ampunkahlah khilaf dan salah
Barangkali besar kesombongan kita
Begitu menebal keangkuhan diri
Turunlah musuh yang tidak kelihatan
Kerdilnya kita di ujian Ilahi
Agar kita kembali semula
Ke jalan lurus pedoman Islam
Di tengah wabak dan sunyi menara
Tuhan kirimkan insan mulia
Mereka yang bertarung menyelamatkan nyawa
Mereka yang mengawal di panas hujan
Mereka yang berjalan membawa sedekah
Mereka yang mulia menghulur pertolongan
Begitu cinta dalam kehidupan
Menyarung batin menguatkan semangat
Bersama berjuang menghadapi wabak
Nukilan:
Arazmi Seman
53
40
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Corona
Sesekali corona tidak akan menyesal
untuk membunuh tanpa ehsan kerana
nyawa begitu murahan dan mampu
dikutip di kaki lima.
Lagi pun
manusia semakin tidak berasa takut
pada pesan-memesan tentang keselamatan
dan kesihatan diri tentang covid-19 yang akut
ingkar pada perintah kawalan pergerakan
kerana kematian itu di tangan Tuhan.
Corona masih lagi menular
meskipun angka-angka kematian
kian nyata tersebar
dan barisan depan bekerja keras
seolah-olah cuba memagar
dan segalanya lunyai ke dada mereka yang ingkar
mulut jahat yang celupar dan kedegilan tegar
memutuskan rantaian langkah percegahan
masih berada di tahap yang samar.
Nukilan:
Ismail bin Hashim
57
42
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Corona Virus
Corona Virus senyap-senyap menyusup pori-pori
tanpa disedari sesiapapun, cukup seni
bersama keberangan dan tingkahnya
memang di luar nalar
merenggut tangkai nyawa banyak orang
di segenap pelosok buana ini
Dengan munculnya wabak Corona Virus
manusia-manusia yang menganut kealpaan dan kesombongan
kiranya terus tersentak bangun untuk Tuhan
yang sekian lama diperbiar
sebab sibuk bergelut dengan pencarian
seolah-olah di sinilah segala-galanya
Tuhan, kami akui telah banyak menggarap dosa di ladang kelmarin
dengan pelbagai benih keingkaran dan tak segan-segannya
mendustai-Mu
maka ampunilah atas segala keterlanjuran kami di bumi
kami minta penuh pengharapan
Engkau ambillah kembali Corona Virus
biar kami bisa hidup bahagia
yang tidak akan jauh dari-Mu
Nukilan:
Mohd Adid Ab Rahman
58
43
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Tentera Tanpa Senjata
Sekonyong-konyong kau datang
tanpa ucapan salam
tanpa jasad kelihatan
tanpa senjata perang
serangan hendap kau lancarkan
mematikan pergerakan mematahkan setiap sendi.
Seluruh dunia terbelenggu
perisai kebal di muka hadapan
ratusan terluka terkorban angkara durjana Corona
umpama senjata kimia
meresap perlahan membunuh senyap.
Pertahanan mula digerak
membenteng musuh tanpa bicara
siren perang mula bergema
peperangan ganas tanpa senjata
pertaruhkan nyawa
demi kesejahteraan sejagat.
Wahai insan
sedarlah, bangkitlah
tentera Allah sedang mara
mencari mangsa tanpa mengira bangsa dan agama
masihkah kau lena diulit mimpi ngeri
siapa musuh sebenar yang masih ingkar
kembalilah segera ke landasan
kerana musuh berada di mana-mana
siap membunuh sesiapa.
Nukilan:
Masriyah Misni
59
44
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Langit Muram
Langit terus muram dan sedih menangis
Melihat nyawa terus gugur diragut Covid-19
Manusia gelisah meratap nasib di rumah
Tempiasnya tidak mengira nama dan rupa
Langit negaraku masih gelap dan pudar
Mangsa baru dan kematian terus meningkat
Covid-19 terus menghantui pemikiran hati kita
Bilakah langit akan kembali biru dan tersenyum
Tangisan pilu masih kedengaran di negara ini
Barisan hadapan terus berjuang demi semua
Pelbagai bantuan dihulurkan meringankan beban
Cahaya harapan kini mula menerangi langit biru
Bersama menadah tangan berdoa kepada Tuhan
Agar kita menjuarai memerangi pandemik Covid-19
Dari terus meragut nyawa insan yang kita sayang
Berganding bahu bersama mencarian penawar ajaib
Nukilan:
Mohd Nizam
60
45
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Keranamu Corona
Keranamu Corona
Alam terasa bak disergah
Porak peranda seluruh ummah
Diulit rasa resah gelisah
Mengenang padah bila kan sudah
Keranamu Corona
Meski hadirmu mengundang musibah
Meski hati dirundung gundah
Meski nurani berkeluh kesah
Andai diselam andai digeledah
Pasti tersembunyi sejuta hikmah
Pasti terselit seribu madah
Yang bisa dijadikan ibrah
Keranamu Corona
Engkau mengajar erti tabah
Engkau mengajar pantang menyerah
Usah undur usah mengalah
Usah hanya sekadar pasrah
Redha dengan ketentuan Allah
PadaNya jua doa ditadah
Memohon hajat memohon rahmah
Agar petaka berganti berkah
Keranamu Corona
Kehidupan yang dulu menjadi lumrah
Sekelip mata kini berubah
Nukilan:
Azahar bin Aziz
61
46
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Ketika Hari-hari Kurungan Seorang Guru
Angin menderu
kaca memancar suara azan
aku mengenang
diri yang ada dalam tiada.
Cinta adalah kata-kata yang diam
mencoret segala rasa
melukis segala yang Zat.
Di sisi Pendeta; angin mengirim berita mencermin diri
betapa aku hamba
sendiri mencari diri.
Di bawah lembayung atsarmu
sujud aku
mengamin doa bapaku Ibrahim AS
‘Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang
tetap mendirikan solat, ya
Tuhan kami, perkenankanlah doaku.’
‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan
sekalian orang-orang mukmin
pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”
Covid-19 memberi tanda
takut virus takut Tuhan tentu berbeza
Satu maujud satu maknawi.
Hari-hari kurungan
melambai kita yang alpa
Tuhan tidak pernah lupa
Kitalah yang terleka.
Nukilan:
Kamal M.A
62
47
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Di Belakang Takdir
Musibah apakah Kau timpakan
dunia dan negara gempar
pemimpin dan rakyat menggelepar
Dihimpun segenggam kuasa dan upaya
menangkis musuh tiada kelihatan
menepis tikamannya di dalam samar
yang menyerang ribuan sasaran mangsa
tanpa belas ihsan
nyawa adalah taruhan
Apa salah kami Ya-Tuhan
luluh jiwa berjauhan keluarga
terbujur sepi di katil sengsara
bertarung nyawa menanti penawar
tiada kunjung tiba
sekujur tubuh keperitan
bisa musuh tiada tertahan
menyekat dada yang berombak
bagaikan disumbat sembilu
genangan air mata tiada terseka lagi
ambang maut mula mengintai
menghitung detik diusung pergi
Ampuni kami Ya-Rabbi
kafan kami tidak bersiram
pusara kami tidak berziarah.
Nukilan:
Alizan Arshad
63
48
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Duka Derita
Hari ini genaplah
7 hari perintah berkurung
Ada masjid tapi tidak berpenghuni
Kosong sepi
Tak seorang pun dapat hadiri
Murkakah Kau kepada Kami?
Tiba waktu azan dilaungi
Tak seorang pun dapat jejaki
Sayup sayup kedengaran bunyi
Sedih pilu menyelubungi diri
Murkakah Kau kepada Kami?
Padamu sang Pencipta
Hinakah kami pada takrifanmu
Terlalu banyak dosa kami pada pandanganmu
Sehingga kami tidak sedar telah menoda segala nikmatmu
Aku bermohon
Padamu yang maha berkuasa
Yang memiliki sekalian alam pencipta
Yang menguasai segala isinya
Berilah kesembuhan pada yang berduka cita
Berilah kekuatan pada baris hadapan
Berilah kehidupan seperti yang Kau inginkan
Agar kami mampu bernafas seperti insan
Yang tau syukuri nikmatmu Tuhan
Nukilan:
AreRidz
67
50
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Puisi Tradisional Pantun 4 Kerat
(Pantun Motivasi Covid 19)
Redup di hutan pipit melayang
Hinggap di batang pohon melati
Dengarlah intan dengarlah sayang
Ujian mendatang rahmat menanti
Hiasan dinding hinggap kelkatu
Dihalau jangan diusik pun bukan
Usah dituding jari yang satu
Tadahlah tangan doa panjatkan
Terang rembulan jadi tawanan
Burung di sangkar di dahan jati
Perintah kawalan itu saranan
Jangan diingkar bersatu hati
Di pohon nangka tenggek kenyalang
Nangka seulas gugur tepian
Lelah mereka bukan kepalang
Moga dibalas syurga impian
Tumbuh melata pepohon kundang
Hinggap tekukur atas perahu
Walau dimata berat memandang
Bahu memikul kita tak tahu
Tumbuh merata tepi berangan
Pohon cemara tidak berbisa
Lelaplah mata berbantal lengan
Demi negara nusa dan bangsa
Nukilan:
Ahmad Sabri Abdullah (sab@AS)
68
51
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Datang Bukan Diundang
Dia datang bukan diundang
Kerana dia habis kita kecundang
Dia datang tatkala sinar benderang
Akhirnya segala laku bagai terlarang
Dia datang memecah hari
Indah hari ini kini hilanglah seri
Dia datang terjah di sana sini
Insan celaru tiada lagi berani
Dia datang persis bermegah-megah
Semua tak tahu bila kan sudah
Dia datang semua dek parah
Manusia seisi alam menerima padah
Dia datang menusuk sungguh berbisa
Pedih luka semua kini kan rasa
Dia datang hari ini esok atau lusa
Ragu runsing bimbang tak tentu masa
Dia datang ke pelusuk bumi kami
Malah ada yang masih kurang memahami
Dia datang penuh berani
Bumi lantas bisu semalam dan kini
Dia datang umpama barah
Manusia gelisah tiada berarah
Dia datang seakan kian parah
Tidak terkata lidah kelu tiada sepatah
Nukilan:
Ahmad Sabri Abdullah (sab@AS)
69
52
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Bukan Untuk Mati
Si halus itu virus
Nan paling halus menembus
Menitip setiap terapan senyap
Manakan nampak
Manakan nak diinjak
Gagahnya tak berjulang
Tenteranya tak terbilang
Merayapnya seluruh dunia digagahnya
Menyentap nyawa-nyawa dalam nyanyian lara hiba
Telah ditimbun pun tetap digerun
Merentap kasih sesiapapun
Aduh malang apa lagi
Andai ia menyinggapi
Tatkala ia membayangi
Sekalian alam menggeruni
Namun sekali-kali tidak
Adanya wira yang tak diajak
Di hatinya tiada gerun yang bertapak
Senjatanya doa, perisainya harapan
Tabahnya menjadi kekuatan
Kesanggupan bukan untuk mati
Namun demi kita, dia berbakti
Mereka, wira pertiwi.
Nukilan:
Aidah @ Umi Kalsum binti Abd.Halim
70
53
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Celik Buta
Cuba lihat dan ambil peduli
esok mungkin tiada lagi
lekas bertindak bukannya tuli
ingat pesan jadikan janji.
Kuatkan semangat satukan hati.
Batukan jiwa usah digubal
untung esok tidak disoal
tangkap muat dirimu kebal
ambil pengajaran sifat resiprokal
Curi masa hirup kehidupan
esakan si kecil menjadi tujuan
lena dibuai kemalasan pendirian
ingin bangkit mengubah masa depan.
Ku anggap kejayaan esok satu impian.
Barisan hadapan tak akan gentar
untuk melawan musuh lutsinar
taring yang tajam nafas berkobar
amalan kebiasaan baru jadikan iktibar
Nukilan:
Aimanuddin bin Ain
71
54
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Kegusaran Menghadapi Wabak Penyakit
Fikiranku gusar
Sedari awal
Tersiarnya wabak ini
Angin bayu yang menampar lembut di pipiku
Tidak berhasil meredakan perasaan ini
Takut, resah, semuanya bergelumang di dalam hati kecilku ini
Meskipun menyedari hakikat bahaya yang mendatang
Ramai yang masih alpa
Tidak diduga akan akibatnya pada masa hadapan
Bersiar-siar telah menjadi satu kebiasaan
Tanpa sedar kini memudaratkan
Setelah keadaan semakin genting
Ku perhatikan semua berpusu-pusu
Mencari pelindung muka dan pembersih tangan
Di segenap kedai yang ada
Tetapi hanya perasaan hampa dan gelengan yang diterima
Kesemuanya lesap sekelip mata
Namun
Perjuangan ini tetap harus diteruskan
Walau hari-hari mendatang tiada siapa yang mampu tentukan
Patuh dan akur kepada pemerintah
Diiringi doa kepada tuhan
Sebagai senjata utama dalam perjuangan
Moga-moga segalanya dipermudahkan
Nukilan:
Aina Sabila binti Abdul Karim
72
55
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Bicara Cucu-Cicitku
Naskhah di sisi
peranti di jari
juadah di meja
konkrit di kiri kanan atas bawah depan belakang lantai 23A
menjemput mual.
Kubuang pandang di celah jendela
jernih biru langit
cerlang buntang matahari
berpesta tari unggas
lengang hitam jalan
bukit setengah berkaki hijau berbadan merah
yang entah bila ada
wah, jelas dipelupuk!
Berita mengajak tangan kubertepuk
kala pengumuman Pak Menteri
seakan mengiya
biarlah mual menjadi tamuku lebih lama
agar nafas harta pinjaman yang kulupa lebih panjang
setelah saudaraku Karl Benz
mencipta lembaga meniup jelaga
menuba dadanya berkurun lama.
Kelak kupulang harta kupinjam
kaurasa apa cucu-cicitku bicara?
Kurasa
“Terima kasih Korona.”
Nukilan:
Arif Hadri bin Japri
73
56
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Yang Perlu Sahaja
Hutan batu daun berimbun
Senyap sunyi seusai berembun
Jangkitan tidak kenal ubun-ubun
Sesak rabun seksa setimbun
Rumah diam keluarga disisi
Yang jauh dijamin sihat terisi
Usah gusar menangisi rezeki
Ingatlah Allah Maha Pemberi
Dulu jalanan sesak padat
Kini semua tertutup rapat
Sumber maya susur bertingkat
Sejarah dipaku hamparan tersurat
Lebih seorang terus disekat
Arahan dipahat tunduk hormat
Jangan melawan negara berdaulat
Pantang dicabar barisan terkuat
Susuk hadapan pejuang negara
Aku kau 1 meter segera
Maklumat sahih terus disuara
Tiada huru-hara makmur terpelihara
Nukilan:
Azhari Sahamir
74
57
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
2020 Coronavirus
Engkau mahkluk dari langit yang sama
Bertebaran merentasi sempadan dunia
Bertamu seketika dalam diri insan terpilih
Kau hadiahkan kepulangan yang tragis
Tanda meraikan ziarah dan hijrahmu
Dunia terkesima kerana kau cetuskan pendemik
Kami terpenjara di ruang berjeriji terbuka
Menjaga diri dan jarak sesama manusia
Seisi dunia menanggung seksa penuh reda.
Setiap detik waktu kami menadah tangan di langit biru
Mohon keampunan-Nya atas nama seorang pendosa
Moga Dia mengangkatmu pulang untuk selama-lamanya
Sirnalah kau daripada pandangan mata dan hati
Ada hikmah tak terjangka di balik namamu Coronavirus
Mungkin Tuhan mahu kami berehat seketika
Dalam kelelahan mengejar masa mencari harta
Sehingga terlupa bahawa dunia ini sementara cuma
Menjelmakan pejuang barisan hadapan negara
Di medan tempur penuh berani tanpa senjata
Mengejar mimpi mencari rumah abadi di syurga
Nukilan:
Bibi Kamar binti Kasim
75
58
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Hikmah Dari Musibah
Tidak kusangka
Besarnya hikmah yang kuperolehi dari wabak ini
Walau pelajaranku terpaksa ditangguh
Hari-hariku kini senantiasa dipenuhi dengan rasa syukur
Dapat meluangkan masa bersama keluarga
Sudah sekian lama
Aku terlalu sibuk dengan hal-hal pelajaran
Sehingga terpaksa mengorbankan masa bersama yang tersayang
Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata perasaanku ini
Hanya pandangan mata yang mencerminkan segalanya
Betapa masa yang diluangkan bersama
Mengeratkan hubungan yang sudah lama terbiar sepi
Bersama-sama beriadah
Berkongsi suka dan duka
Menyediakan juadah berbuka
Solat berjemaah bersama
Akhirnya dapat kurasai
Setelah sekian lama
Setiap musibah yang berlaku
Ada hikmah yang terselit
Kupanjatkan syukur kehadrat Ilahi
Di atas kurniaan ini
Hanya tuhan yang maha mengetahui segalanya
Nukilan:
Farah Dhia binti Abdul Karim
76
59
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Panji Pengorbanan
Sedetik cuma bertemu
batas waktu kembali menjelma
kelibat resah bermain di wajah
merelakan kasih mesra terpisah
berjauhan keluarga tersayang
demi sebuah pengorbanan
Apalah erti perpisahan ini
jika pengorbanan dilunas
dengan enggan mematuhi larangan
mencuaikan diri kepada jangkitan
meremehkan penjarakan sosial
memenjarakan fakta sejarah diri
Air mata kasih mendoakan pengorbanan
menentang musuh di barisan hadapan
gelombang korona membadai penjuru jiwa
menggoncang hidup sejahtera
Tidak kami dambakan segulung penghargaan
atau di dada sebaris pingat
meski terngiang nyanyian keji di hujung telinga
kami tetap di sini menanggalkan kesakitan
agar kelegaan membenamkan keperitan
agar gembira melupuskan kesedihan
Biarlah kami menanggung segala
di bawah panji pengorbanan.
Nukilan:
Faridah Hanim Hassan
77
60
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Gelap
Bunyi hujan menghentam atap,
lalu jatuh ke muka bumi,
sangat mengasyikkan,
pasti mampu membuai ke alam mimpi,
namun aku tidak.
Aku hanya mampu memejamkan mata,
dan di depan mata hanya kegelapan,
Ramadhan kali ini semacam suram,
tidak dapat bersama ahli keluarga,
sahurnya sendirian,
iftarnya keseorangan,
hanya mampu berhubung di alam maya.
Aku hanya mampu memejamkan mata,
membayangkan hari raya,
tanpa ada sesiapa,
tiada ketupat rendang,
tiada duit raya,
hanya mampu menghantar kata-kata gembira di alam maya,
yang realitinya tidak seindah mana.
Aku hanya mampu memejamkan mata,
membayangkan kematian semakin dekat,
bala ini hanya sebagai asbab,
sedangkan ajal tak pernah lambat.
Nukilan:
Firdaus bin Mohd Salim
78
61
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Kiamat Yang Berlumba Dalam Wabak
Sentuhan pada kertas yang berzat
melekat hingga menjadi rapat
menunggu masa dan hari terdekat
mengilap kesibukan yang padat
tisu berpeluk tubuh di angkat
hingga koyak dibahu mayat
menghidu kabus dalam singkat
menyiram bungkus yang telah terikat
masa kita hampir akhir riwayat
tiada lagi talian hayat
menulis dan mengingat
walau keadaan sudah terlambat
belajarlah dari jiwa-jiwa hebat
yang pernah melalui jerat
ada makna pepohon tersirat
hadirnya wabak petanda niat
kita tunggu kehidupan dirawat
yang cuma sekejap kilat
ini mumur gema kiamat
menghafal warna dunia sebentar nikmat
Nukilan:
Gabriel Kimjuan
79
62
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Mencari Nyawa Sebuah Ilusi
Di luar jendela
menjelang senja; sinar misteri
berbicara bahasa tidak difahami.
Mereka; warga penghuni katil penderitaan;
berusaha mentafsir alur cerita
dan rasa warna bawaan cahaya itu.
Pilihan tafsirannya;
Gempita bara kesakitan meraung bak relau membakar malam?
Haruman keberkatan mewangi bak kemenyan mengusap
kemurnian?
Terpulang haluannya.
Malam itu; duri bercangkuk ngeri
Sang Wabak hilang bisanya dihembus bayu penyembuhan.
Esok pagi; mentari pemikiran pula
melebur jasad halusnya.
Lusa; tinggal hanya hitam seni jiwanya berlari-lari
mengejar cahaya misteri dikitar terowong takdir.
Begitu sahaja; lenyapnya rasuk pandemik itu?
Diperhatikan mudah; tetapi jika ilusi pengharapan itu belum mati!
Lalu; mereka gigih mencari-cari nyawa ilusi itu
di dalam sabar dan reda yang paling unggul,
mengharapnya hidup semula.
Nukilan:
Haffiz Othman
80
63
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Hati Dan Jiwa
Hati lompong jiwa kosong
Diri bagai terapung-apung
Nasihat kerajaan haruslah akur
Agar diri tidak tersungkur.
Hati lompong jiwa kosong
Seperti jasad tidak bernyawa
Hilai tawa dan gurau senda
Tiada lagi bermaharajalela.
Hati lompong jiwa kosong
Dek teringat ibu di kampung
Apakan daya, langkah terhenti
Supaya wabak tidak menjangkiti.
Hati lompong jiwa kosong
Sering rasa diri terkongkong
Dekatkan diri pada yang Esa
Biar hilang gundah gelana.
Nukilan:
Haliza A. Shukor
81
64
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Debar Menunggu Ajal
Menatap poster hari
yang melelahkan nafas
melintasi laut emosi
gelombang wabak merentasi waktu
seperti terbangun dari mimpi
esok belum tentu berdiri
membaca sebuah kitab hayat
Debar seperti menunggu ajal
raung kota bertukar senyap
karma buruk mengongsi kehidupan
mentari mengantung tubuh
langit menutup pintu
esok berlegar tanpa peduli
di hening damai mengetuk resah
menjemur seperca harapan
merayu Tuhan meranumkan doa
Suratan atau kebetulan
Menyihir alpa di sungai kehidupan
sebahagian yang indah telah mati
memungut sesal dari masa lalu
memunggah simpati masih tersisa
sebelum tertutup semua pintu
Tuhan, kembalikan damai
menggali cinta-Mu di dalam sujud
sesudah berakhir peperangan ini…
Nukilan:
Edin Hud Hud
82
65
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Warna-Warna Kehidupan Covid 19
Covid 19
Hadirmu senyap menyelinap
Membungkam segenap alam
Menebar rasa cemas
Tanpa belas kasihan.
Menerjah maya ini
Kuat menjadi lemah
Gembira bertukar derita
Sihat menjadi sirna
Kau robek2 hati nurani
Umpama layang-layang terputus talinya
Rakus terus menerpa tanpa simpati
Hadirmu mengubah segala
Sapaan mu menusuk kalbu namun kaku umpama batu
Pedih, sedih merintih, berbaur satu
Mata mu yang biru menjadi ungu
Sabarlah wahai insan kerdil kini terasa sepi
Tanpa insan-insan tersayang di sisi
Dijemput ilahi dengan cara tersendiri.
Tuhanku
Peliharalah kami dari petaka ini
Kumohon maaf padamu
Redalah atas ketentuanmu ilahi
Moga ada sinar gemilang meniti hari ke hari
Hanya padamu ku bersujud meratapi mimpi ngeri ini.
Nukilan:
Jamilah JR Melor
83
66
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Cerita Corona Sehingga Hari Ini
Sampai hari ini
semua orang tidak membenci
apatah lagi mencela atau mencerca
walaupun maraknya virus ini
tahap menghiruk-pikukkan dunia.
Sejak bermula
kisah meruntun kalbu ini
jutaan manusia kehilangan jiwa
kepantasan Corona merentas lebar benua
sambil sambar-menyambar manusia
sehingga mengkhayalkan dan ketagihan
perumah baharu dan darah segar
seperti gian penagih dadah tegar.
Sampai detik ini
hanya didengari diminta berlindung
dengan duduk di rumah
kecoh bercakap tentang pencegahan
perintah kawalan pergerakan
penjarakan sosial demi kemaslahatan semua
menjaga kebersihan diri satu kewajipan
daripada dikejari dan ditumpangi
COVID-19.
Begitu istimewanya
virus penyerang nyawa manusia ini
ditampilkan Pencipta Yang Berkehendak
banyak ibrah kehidupan terkandung
menjadi teladan dan sempadan sejarah insan
sebelum terpadam cahaya zaman.
Nukilan:
M Mascitah binti Mansor
84
67
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Bahana COVID 19 Dan Dunia Kini
Dunia sains masih terkapai-kapai
mencari alamatmu.
Betulkah Wuhan?
Saban hari pelbagai fakta dan auta
menghiasi dunia media tanpa sempadan.
Kami,
warga marhean sains
anggap pandemik ini takdir yang Esa.
Bagi kami semuanya tersembunyi hikmah.
Kini manusia sedar, siapa Yang Esa,
erti sebenar kebebasan
tiada lagi kuasa besar atau kecil
kerana dimamah dan dirobek virus kerdil.
Saban hari dunia tertunggu-tunggu
bila kan akhir bala ini
entah esok, entah lusa.
Tiada siapa mampu merungkai misteri maha pelik ini.
COVID 19, keganasanmu merentasi sempadan,
tidak memilih darjat,
memusnahkan ego, menyebabkan manusia
merenung, mencongak sama ada dunia akan kiamat
atau ada sinar di penghujung jihad
menentang virus tak kenal darjat ini.
Nukilan:
Mathiazakan Ramasamy
85
68
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Pandemik
Saat ini,
Tiada lagi peluang dan ruang untuk kita,
Menghirup udara segar,
Menikmati keindahan alam,
Mendengar merdunya kicauan burung,
Memerhati indahnya tarian pepohon nan lembut
ditiup bayu petang.
Saat ini,
Kita baru mengerti,
Peritnya rasa,
Parahnya derita,
Musnahnya harapan,
Tatkala kita sendiri berteleku di rumah sendiri,
Memerangi musuh yang tidak bisa terlihat dek anak mata,
Tidak bisa dirasa kehadirannya.
Apakah yang boleh kita lakukan saat ini?
Medan perang ini bukan untuk mereka yang punya harta dan darjat,
Medan perang ini bukan untuk mereka yang penuh ilmu didada,
Medan perang ini bukan untuk mereka bergelar panglima gagah
menghunus senjata,
Tapi medan perang ini untuk kita semua,
Untuk kita semua marhean biasa yang tak punya apa-apa,
Untuk bersatu, untuk berpadu, untuk seia sekata sehati sejiwa,
Demi negara yang tercinta, demi kesejahteraan kita bersama.
Nukilan:
Aiman Abdullah
86
69
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Covid-19 Satu Pengalaman
Covid-19… Namanya sudah menghadir takut hingga ngeri bila
disebut,
Pabila diumum siaran langsung, ada yang risau ada yang terkejut,
Angka yang dijangkiti mula meningkat, yang positif pula diambil
diangkut,
Dikhabar orang, seksanya bagai nyawa ingin dicabut,
Sakitnya kepalang hingga nafas sukar disedut,
Keluarga tidak dibenar meneman, tidak diizin menziarah
Hanya kekuatan diri sahaja yang mampu menggagah,
Lantas dihampar tikar sejadah, menunai solat bersama maghfirah,
Menutur doa sambil tangan bersungguh menadah,
Mengharap kasih sayang serta belas ihsan Allah,
Tuhan yang Maha Penyayang lagi Maha Pemurah.
Covid-19 mengajar kita apa erti ukhuwwah, lebih daripada dunia
yang asyik direbut,
Semuanya berganding bahu memberi bantu apa sahaja yang patut,
Para pemimpin menghulur insentif kepada insan yang hilang tempat
berpaut,
Frontliners Negara berkorban jasa hingga sanggup menghadap
maut,
Tabung bantuan segera diwujud hingga sekalian rakyat tiada yang
merungut,
Tiada yang susah, tiada yang gundah atau berkeroncong laparnya
perut.
Covid-19 satu pengalaman ngeri, seolah segala nikmat habis diragut,
Semoga ujian ini segera diangkat atau mengalir lesu elok
menghanyut,
Semoga wabak ini akan pudar lusuh melemah, kuatnya diri segera
mereput,
Semoga ujian dan dugaan ini menambah iman, amal berselang
bersama tahajud,
Serta semoga segala aman sihat sejahtera kembali dijemput, walau
pedih luka berparut.
Nukilan:
Mohamad Amirul Nasrullah bin Ramli
87
70
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Hari Ini
Dari kelmarin ke semalam
Banyak yang tenggelam diterpa ombak kehidupan
Dilambung badai ujian bagai tiada ihsan
Ada yang dahulu mulutnya lancang kini bungkam
Ada yang dahulu badannya kekar bak pendekar kini sejuk terkulai
Oh Tuhan, adakah dunia bakal melabuhkan tirai?
Tetapi sejak kehadiran mereka ku dapati
Syukurku lebih bermakna
Cita ini terus bernafas, bernyawa
Cinta ini kembali mekar berbunga
Melihat adi wira yang datang tidak di dendang
Menyelamat pada yang rawan memijak bara
Dek wabah yang dijelma
Oleh yang Maha Kuasa.
Siapa sangka siapa menduga
Derita insan menongkah cerita
Matinya insan malah menghidupkan
Jiwa gersang yang lama kontang
Ditimpa musibah tidakkan runtuh
Di laut kasih beralun mawaddah
Usah di ragu rahmat Yang Esa
Pasti ada sinar di akhirnya.
Nukilan:
Asrin Matnin
88
71
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Catatan Sepi Di Jendela Waktu
Catatan sepiku di jendelamu
waktu hitam sejarah.
Sepi dan tangisan
menjadi teman
buat bunga bangsaku.
Insan tidak henti memanah langit
kirim doa pada-Nya.
Resah kian himpit
di gedung waktu tanpa segan sesalan.
Detik waktu itu
umpama mati ditelan sang penakluk.
Doa dan harapan
menjadi bekal buat kita hamba-Nya.
Nukilan:
Mohamad Mohsin bin Amiruddin
89
72
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Barisan Hadapan Yang Menjaga Sekatan Jalanraya Itu
Barisan hadapan yang menjaga sekatan jalanraya itu
kurus, berisi, kadangkala kekar penampilanmu
berseragam biru, celoreng hijau dan lain-lain
hanya papan tanda sekatan jadi temanmu
namun tanganmu petah menahan kenderaan yang lalu
umpama kanvas dihadapanmu
barisan hadapan yang menjaga sekatan jalanraya itu
sesekali kau menegur dengan lembut sekali
sedangkan kami memaki hamun ketika sekatan
sesekali kau mempercepatkan sekatan
sedangkan kami melanggarmu dan mencederakanmu
sesekali kau memberikan nasihat
sedangkan kami memecut laju mengingkari sekatan
sesekali kau membantu warga emas
sedangkan kami sengaja melanggar lopak berair mengotorkanmu
sesekali kau memberi makan kucing sewaktu sekatan
sedangkan kami tidak peduli haiwan yang kelaparan
barisan hadapan yang menjaga sekatan jalanraya itu
seringkali kau melafazkan kata syukur
sedangkan kami tidak cukup dengan roti yang diborong
barisan hadapan yang menjaga sekatan jalanraya itu
terima kasih atas curahan bakti
izinkan kami membalas budi
dengan duduk diam-diam sahaja di sini.
Nukilan:
Sufian AM
90
73
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Tenang Sebentar
Tenang sebentar,
Tiap insan yang tersayang,
Kerana segalanya belum reda,
Masih berlegar dalam radar,
Megah bebas wabak menyebar,
Angkuh sombong derita berlegar.
Tenang sebentar,
Tiap hati yang tercalar,
Tiap qalbu yang terbiar,
Kerana parut juga punya lakar,
Kerana indah juga punya cakar,
Bila jiwa tersedar.
Abadikanlah tiap rehat ini,
Menjadi satu memori,
Memori yang menyatukan hati,
Hati dari sanubari yang suci,
Percayalah,
Esok masih ada hari,
Mataharikan bersinar lagi.
Nukilan:
Mohd Hakimi Md Baharudin
91
74
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Atas Dasar Cinta
Bila jenayah berleluasa
Bila dosa dianggap biasa
Bila bahagia dirampas segala
Atas dasar cinta
Maka penguasa arahkan semua
Penderhaka durjana dikurung belaka
Agar bahagia kekal selamanya
Bila anakanda berbuat dosa
Ayahanda bonda bermuram durja
Anakanda pula buat selamba
Atas dasar cinta
Perintah berkurung dibilik diwarta
Semoga sedar kesilapan anakanda
Bila adinda tersasar cinta dan bahagia tiada dirasa
Bila cinta kanda mula dicuriga
Atas dasar cinta
Kanda kurung hati adinda,dalam sangkar cinta kita
Ulang semula memori kisah cinta kita
Agar bahagia hingga ke syurga
Untuk kekal bahagia
Jaga nyawa, jaga jiwa, jaga keluarga
Apa salahnya dikurung ‘PKP’ dirumah kita
Semoga terus kekal ceria
Kerana semuanya atas dasar cinta
Agar kita sentiasa ada masa untuk cinta.
Nukilan:
Mohd Hamry bin Ismail
92
75
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Harapan Sang Setia
Merenung tiap perilaku,
Pernah terjadi dahulu,
Tertitis air mata sendu,
Menyesali satu per satu.
Waktu itu terus berlalu,
Meninggalkan warna-warna kelabu,
Kadang tersingkap garis-garis sayu,
Putih atau hitam,
Tersimpan kaku dalam buku.
Hari ini,
Ada jiwa yang bertangis sendu,
Ada insan yang berinding pilu,
Ada raga yang memohon rayu,
Ada kasih yang tak menyatu,
Ada hati yang runtun merayu.
Untuk itu,
Bulatkan tiap kesempatan ini,
Untuk lebih mengerti makna diri,
Leraikan tiap kesempitan ini,
Untuk sujud kepada Ilahi,
Memohon makmur damai bumi ini.
Nukilan:
Mohd Norhafifi Zolkiaply
93
76
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Mengurung Jiwa
Kerana satu cela
Yang diturunkan Maha Esa
Seluruh dunia diduga
Merintih tiada daya
Jika yang terkurung itu jiwa
Ia pasti rindukan kebebasan
Jika yang dikurung itu akal
Ia pasti inginkan jawapan
Jika yang dikurung itu hati
Ia pasti merindu tanpa henti
Masa yang dirantai itu
Lebih dari sekadar merenung kelebihan
Lebih dari sekadar menyesali kegagalan
Ianya untuk tunduk akur menerima keadaan
Tatkala nafas adalah racun
Jarak adalah musuh
Hanya doa mampu untuk terus dibibir
Dan mimpi yang hanya mampu dipangku
Demi Tuhan yang tiada ganti
Jika dahulu aku adalah raga bernoktah hitam
Pimpinlah aku
Menjadi cukup sekadar malaikat tidak bersayap
Nukilan:
Mohd Yusof Zaki bin Yaacob
94
77
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Demi Sifar Jangkitan Virus (Covid 19)
Hati ini….
Kadang kala kita berasa marah dengan pihak berkuasa,
kadang kala kita sering mempertikai keputusan pihak kerajaan,
kadang kala juga jiwa ini ingin memberontak setiap masa,
kita lebih memikirkan diri sendiri dalam membuat keputusan,
walau nyawa rakyat Malaysia tergadai.
Adakah kita dapat berfikir secara waras,
barisan hadapan sedaya upaya memutuskan rantaian virus ini,
mereka sanggup berkorban masa dan tenaga,
mereka sanggup berjauhan dengan keluarga,
demi menjaga rakyat malaysia yang penuh kerenah,
daripada terus dijangkiti virus yang bahaya ini.
Ketegasan mereka membuat kita semakin membenci,
nasihat mereka diambil ringan,
malah peraturan yang diperkenalkan kerajaan sering kita langgar,
Mengapa……?
Adakah kita tidak sedar mengenai virus ini,
mencari mangsa tanpa mengenal siapa kita,
kerana sifatnya yang terkenal dengan jangkitan maut.
Keluhan barisan hadapan sering di dengari,
kerana kerenah rakyat yang sangat membebankan.
Tetapi demi tugas dan amanah yang diberi,
mereka sanggup mengambil risiko,
walaupun mereka tahu,
bahaya sentiasa menanti di hadapan.
Pengorbanan mereka tidak terbalas,
setiap peluh yang mengalir sangat bernilai,
harapan mereka kepada rakyat hanyalah satu,
duduklah diam -diam di rumah,
demi sifar jangkitan virus ini,
Nukilan: 95
Muhammad Arif bin Mohd Rozib
78
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Warkah Duka Negaraku
Layar takdir berkisah nestapa
igauan semalam bukan lagi mainan
Negaraku nan makmur diserang kekacauan
seluruh warganya dicengkam ketakutan
tentera halimunan rakus memburu korban
tanpa senjata tanpa kata pengenalan
nyawa direntap tinggal tangisan.
Detik ini mengundang kelainan
tatkala manusia tidak lagi berjabat tangan
hanya sapaan di dada menghampar penghormatan
jarak dicipta bukan sebagai tugu kesombongan
tetapi benteng waja buat menghindar ancaman
saparuh wajah terlitup bukan menutup ketakutan
itulah secebis ikhtiar yang dapat insan kerdil lakukan
taman permainan, masjid, gereja dihuni kesunyian
apabila manusia mengunci diri demi keselamatan
demikian terpapar keresahan dalam jiwa insan.
Di luar jendela
celoreng hijau dan biru berjabat tangan
beriringan memacu misi demi sejahtera watan
barisan hadapan teguh memacak tiang keyakinan
menganyam kepakaran menggerakkan percaturan
membasmi wabak meski denyut nadi jadi taruhan
sementara pemimpin menghimpun segala kebijaksanaan
meringankan beban warga demi kelangsungan masa depan.
Ayuh adiwangsa
bersama kita kumpul segenap kekuatan
berpimpin tangan menongkah keangkuhan
moga terhapus musuh-musuh tidak kelihatan
dengan gema doa dan dedikasi barisan hadapan
kedaulatan Negara harus kita pertahan!
Nukilan: 96
Muhammad Azri bin Store Pipe
79
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Kita Akan Menang
Dihadapanmu sekarang merupakan perjuangan
Kita bertarung dengan musuh halimunan
Taringnya seni, tapi membinasakan
Corak tempurnya handal, tangkas, berbisa
Bermula ia tidak tahu punca, berakhir ia entah bila
Medan tempur bukan hanya di sini, tapi seluruh penghuni dunia
Dihadapanmu sekarang merupakan perjuangan
Musuh ini kebal, serangannya bertali arus
Cendekiawan di medan mencari penawar
Hulubalang di medan menjaga keamanan
Adipati di medan menghulur bantuan
Rakyat di medan mengasing diri
Dihadapanmu sekarang merupakan perjuangan
Masing-masing punya tugasan
Masing-masing tidak bisa alpa
Kita bertarung bukan untuk kita
Kita berjuang untuk semua
Inilah barisan kita, pemutus rantaian
Nukilan:
Muhammad Badiuzaman bin Mohd Sangit
97
80
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Aku Kan Pergi Selamanya Virus Covid 19
Namaku Covid 19,
Aku juga makhluk Allah seperti kalian,
Kalian jangan risau aku cuma singgah sebentar sahaja,
Aku tahu kekasihmu ramadhan akan tiba,
Rumah Allah perlu dibuka,
Kenapa kalian takut padaku,
Takutlah hanya pada Allah,
Tubuhku sangat kecil dan sangat lemah,
Sedangkan Allah itu maha besar dan maha perkasa,
Tetapi aku sangat cepat membiak,
Kalian bisa saja membunuhku,
Cuma dengan menjaga kebersihan,
Menjaga pemakanan,
Menjaga pergaulan,
Menjaga sembahyang,
Sebelum aku berumah di dalam dadamu,
Usirlah diriku dengan menjaga PH alkali,
Tubuhmu,
Jika aku pergi nanti,
Silalah mengerti,
Masjid harus dipenuhi,
Keluarga harus diperhati,
Perbelanjaan harus menepati,
Pergaulan harus dibatasi,
Kebersihan harus diteliti,
Aku tinggalkan semua ini sebagai guru,
Untuk kalian pelajari,
Nilai hidup dan mati.
Nukilan:
Muhammad Hamidee bin Redzuan
98
81
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Cubaan Oleh Virus Durjana (Covid-19)
Kehadiranmu menggegar seluruh dunia,
Tidak kau kira apa bangsa atau negara,
Jutaan jiwa merana menderita,
Tanpa tawa, bertemankan air mata,
Mimpi buruk kini menjadi nyata.
Rutin hidup manusia kau ubah,
Tertutup segala pintu rezeki dan sekolah,
Desak kerajaan mengeluarkan perintah,
Ekonomi yang gah terus jatuh rebah,
Segala rancangan hancur musnah.
Barisan hadapan berhempas pulas,
Berperang agar tidak tertewas,
Halang wabak yang makin meluas,
Dengan berbekal hati tulus ikhlas,
Tuhan sahaja mampu membalas.
Hari demi hari kian berlalu,
Mengharap kemenangan yang ditunggu,
Sabar dan tabah amatlah diperlu,
Untuk melihat sinar hidup baharu.
Nukilan:
Muhammad Luqman Nurhakim
99
82
Antologi Puisi Menghadapi Covid-19
Bayi Musim Covid-19
Tangisan bayi ini
nyaring seperti biasa
diazan atau iqamat
dalam suasana sepi
Walaupun tanpa upacara
aqiqah dan selawat
dia pun membesar
tanpa mengetahui dilahir
zaman bencana dan bahana
Ibu bapa, tulislah sekelumit sejarah
atau bercerita bahawa pandemik ini
membunuh bukan saja nyawa
tetapi memasung persahabatan
dalam masa yang panjang
Didik mereka menjadi satu sosok
yang mengenal erti kemanusiaan
bukan menghafal sekadar dunia
tetapi menyedari
umur dunia hanya sementara
Nukilan:
Mukhtar Mustafa
100
83