KELAS XI
LKPD BAHASA INDOSENESIA
SEMESTER 1
Oleh : Maya Oktavia, S.Pd.
Lembar Kerja
Peserta Didik (LKPD)
Bahasa Indonesia
TEKS PROSEDUR
Oleh: Maya Oktavia, S.Pd.
Kompetensi Dasar
3.1 Mengonstruksi informasi berupa pernyataan-
pernyataan umum dan tahapan-tahapan
dalam teks prosedur
4.1 Merancang pernyataan umum dan tahapan-
tahapan dalam teks prosedur dengan organisasi yang
tepat secara tulis
Tujuan Pembelajaran
Melalui model pembelajaran problem based learning, peserta
didik mampu mengonstruksi informasi berupa pernyataan-
pernyataan umum dan tahapan-tahapan dalam teks prosedur
secara tulis dengan baik dan benar.
PETUNJUK PENGGUNAAN
LKPD
1. Siapkan alat tulis!
2. Bacalah petunjuk kegiatan dengan
cermat!
3. Tuliskan nama dan kelas pada kolom
yang telah tersedia!
4. Kerjakan tugasmu pada lembar atau
kolom yang telah tersedia dengan penuh
tanggung jawab!
5. Periksalah pekerjaanmu sebelum
diserahkan kepada gurumu!
TEKS PROSEDUR
SIMAKLAH VIDEO YANG DITAYANGKAN OLEH GURUMU
DAN PAHAMI MATERI YANG ADA DALAM LKPD.
KEMUDIAN KERJAKAN TUGAS
TEKS PROSEDUR
Teks yang menginformasikan kepada
pembaca mengenai cara memakai alat,
membuat sesuatu, atau melakukan sebuah
pekerjaan.
STRUKTUR
TEKS PROSEDUR
Teks prosedur dibentuk oleh ungkapan tentang
tujuan, langkah-langkah, dan penegasan ulang.
1. Tujuan merupakan pengantar tentang topik yang
akan dijelaskan dalam teks.
2. Langkah-langkah berupa perincian petunjuk yang
disarankan kepada pembaca terkait dengan topik
yang ditentukan.
3. Penegasan ulang berupa harapan ataupun
manfaat apabila petunjuk-petunjuk itu dijalankan
dengan baik.
KAIDAH KEBAHASAAN
TEKS PROSEDUR
Pada umumnya, teks prosedur memiliki ciri-ciri kebahasaan
sebagai berikut.
1. Banyak menggunakan kata-kata kerja perintah (imperatif).
Kata kerja imperatif dibentuk oleh akhiran -kan, -i, dan partikel
-lah
2. Banyak menggunakan kata-kata teknis yang berkaitan dengan
topik yang dibahasnya.
3. Banyak menggunakan konjungsi dan partikel yang bermakna
penambahan.
4. Banyak menggunakan pernyataan persuasif.
5. Apabila prosedur itu berupa resep dan petunjuk penggunaan
alat, akan digunakan gambaran terperinci tentang benda dan
alat yang dipakai, termasuk ukuran, jumlah, dan warna
Perhatikan!
Bersama dengan gurumu, temukanlah pernyataan umum dan langkah-
langkah teks prosedur di bawah ini sebagai bekal untuk mengerjakan
tugas selanjutnya.
Tugas 1
Mengonstruksi informasi berupa pernyataan-pernyataan
umum dan tahapan-tahapan dalam teks prosedur
Tugas dikerjakan secara berkelompok
Perhatikanlah video prosedur yang ditayangkan
oleh gurumu
Analisislah video tersebut secara berkelompok untuk
mengidentifikasi pernyataan umum dan tahapan teks
prosedur
Konstruksilah pernyataan umum dan tahapan-tahapan
dalam video prosedur secara berkelompok
Kerjakan pada lembar yang telah tersedia
Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil
diskusinya
TUGAS MENGONSTRUKSI INFORMASI BERUPA
PERNYATAAN UMUM DAN TAHAPAN-TAHAPAN
TEKS PROSEDUR
Nama: Kelas:
Pernyataan Umum
Tahapan-Tahapan
Bahan Pengayaan
Bacalah teks berikut sebelum mengerjakan soal dari gurumu!
Kiat Wawancara Kerja
Bagi perusahaan, wawancara merupakan kesempatan untuk menggali kualifkasi
calon pegawai secara lebih mendalam, melihat kecocokannya dengan posisi yang
ditawarkan, kebutuhan dan sifat perusahaan. Wawancara pun menjadi ajang tanya
jawab antara pewawancara dengan calon.
Agar mudah dipahami oleh mitra bicara, kita harus berbicara dengan jelas.
Usahakan agar kita tidak berbicara terlalu cepat atau lambat, atur juga suara agar
jelas terdengar. Suara yang terlalu pelan membuat kita terlihat kurang percaya diri,
sementara suara yang terlalu keras membuat kita terlihat agresif. Penggunaan
bahasa yang baik juga menjadi suatu keharusan.
Selain itu, perhatikan betul apa yang disampaikan pewawancara agar kita dapat
memberikan jawaban yang relevan. Tidak ada salahnya menanyakan kembali atau
mencoba mengulangi pertanyaan yang diajukan untuk memastikan bahwa
pemahaman kita sudah benar. Namun, jangan melakukannya terlalu sering karena
justru akan membuat pewawancara mempertanyakan daya tangkap kita.
Bahasa tubuh pun ikut memegang peranan. Gerakan nonverbal seperti
mengangguk atau sikap tubuh yang agak condong ke depan menunjukkan bahwa kita
tertarik pada apa yang disampaikan si pewawancara. Pastikan pula kita menjaga
kontak mata dengan pewawancara karena kontak mata penting dalam proses
komunikasi, termasuk dalam wawancara kerja.
Singkatnya, akan lebih baik jika kita mampu menampilkan sikap yang antusias
secara verbal maupun nonverbal. Oleh karena itu, hindari bahasa tubuh yang dapat
diartikan negatif, seperti menggoyangkan kaki, mengetuk-ngetuk jari, atau
menghindari kontak mata. Cara berbicara yang percaya diri namun tidak terkesan
sombong dapat menarik minat pewawancara.
Pada saat berbicara, hindari uraian yang panjang lebar dan bertele-tele. Cobalah
mengemas kalimat secara singkat dan terfokus, tetapi tetap menarik. Kita
diharapkan mampu menunjukkan bahwa kita adalah orang yang tepat untuk posisi
yang ditawarkan. Ceritakanlah kemampuan atau pengalaman yang relevan dengan
posisi tersebut. Hindari mengkritik atasan atau rekan kerja sebelumnya karena ini
menunjukkan sikap yang tidak profesional.
Selama wawancara berlangsung, jadilah diri sendiri. Ungkapan ini mungkin
terdengar klise, namun jauh lebih baik menjadi diri sendiri dan berbicara dengan jujur,
daripada mencoba mengatakan sesuatu yang menurut kita akan membuat
pewawancara merasa terkesan. Jangan melebih-lebihkan kualifkasi kita, apalagi
mengelabui dengan memberikan data yang tidak benar. Cepat atau lambat,
pewawancara akan menemukan bahwa data tersebut hanyalah karangan. Tunjukkan
bahwa kita mampu mengenali diri kita sendiri dengan tepat. Pewawancara biasanya
memberikan kesempatan kepada kita untuk mengajukan pertanyaan di akhir
wawancara. Gunakanlah kesempatan ini secara elegan dengan cara menunjukkan rasa
ingin tahu kita tentang lingkup dan deskripsi tugas posisi yang dilamar, kesempatan
pengembangan diri, dan sebagainya. Ini wajar karena bersikap pasif dan menyerahkan
segala sesuatu kepada pihak perusahaan tidak akan menambah nilai kita di mata
pewawancara.
Calon yang ingin bertanya dalam porsi yang tepat menunjukkan kesungguhan
minatnya pada posisi yang ditawarkan dan juga pada perusahaan. Di sesi ini biasanya
muncul pula pembicaraan mengenai gaji dan tunjangan. Pewawancara sangat
menghargai kandidat yang mampu menentukan nominal gaji yang ia harapkan karena
dianggap dapat melakukan penilaian atas kemampuannya dan tugas-tugas yang akan
dilakukan. Tentu saja angkanya harus logis sambil tetap membuka kesempatan untuk
negosiasi. Dengan persiapan matang dan unjuk diri yang baik saat wawancara, kita
telah meninggalkan kesan yang layak untuk dipertimbangkan oleh perusahaan.
(Sumber: “Unjuk Diri yang Baik dalam Wawancara Kerja” dalam Kompas dengan pengubahan)
Tugas Mandiri
Simpulkanlah teks prosedur di atas berdasarkan isi,
pernyataan umum, dan langkah-langkahnya secara
individu!
Isi
Pernyataan Umum
Langkah-langkah
Tikus dan Manusia
karangan Jakob Sumardjo
Entah bagaimana caranya tikus itu memasuki rumah kami tetap sebuah misteri. Tikus berpikir
secara tikus dan manusia berpikir secara manusia, hanya manusia-tikus yang mampu
membongkar misteri ini. Semua lubang di seluruh rumah kami tutup rapat (sepanjang yang
kami temukan), namun tikus itu tetap masuk rumah. Rumah kami dikelilingi kebun kosong
yang luas milik tetangga. Kami menduga tikus itu adalah tikus kebun. Tubuhnya cukup besar
dan bulunya hitam legam.
Pertama kali kami menyadari kehadiran penghuni rumah yang tak diundang, dan tak kami
ingini itu, ketika saya tengah menonton film. Tiba-tiba kaki saya diterjang benda dingin yang
meluncur ke arah televisi, dan saya lihat tikus hitam besar itu berlari kencang bersembunyi di
balik rak buku. Jantung saya nyaris copot, darah naik ke kepala akibat terkejut, dan otomatis
kedua kaki saya angkat ke atas.
Baru kemudian muncul kemarahan dan dendam saya. Saya mencari semacam tongkat di dapur,
dan hanya saya temukan sapu ijuk. Sapu itu saya balik memegangnya dan menuju ke arah balik
rak buku.Tangan saya amat kebelet memukul habis itu tikus. Namun, tak saya lihat wujud
benda apa pun di sana. Mungkin begejil item telah masuk rak bagian bawah di mana terdapat
lubang untuk memasukkan kabel-kabel pada televisi. Untuk memeriksanya, saya harus
mematikan televisi dulu. Saya takut kalau tikus keparat itu menyerang saya tiba-tiba.
Imigran gelap rumah itu, saya biarkan selamat dahulu.
Saya tidak pernah menceritakan keberadaan tikus itu kepada istri saya yang pembenci tikus,
sampai pada suatu hari istri saya yang justru memberitahukan kepada saya adanya tikus
tersebut. Berita itu begitu pentingnya melebihi kegawatan masuknya teroris di kampung kami.
“Pak, rumah kita kemasukan tikus lagi! Besar sekali! Item!”
“Di mana Mamah lihat?”
“Di dapur, lari dari rak piring menuju belakang kulkas!” Istri saya cemas luar biasa, menahan
napas, sambil mengacung-acungkan pisau dapur ke arah kulkas di dapur.
“Sudah satu tahun enggak ada tikus. Rumah sudah bersih. Mengapa tikus masuk rumah kita?
Tetangga jauh. Dari mana tikus itu?”
“Itu tikus kebun, Mah,” jawab saya santai sambil mengembalikan buku ke rak buku.
“Jangan santai-santai saja Pah, cepat lihat kolong kulkas!”
Wah, situasi semakin gawat. Saya memenuhi perintah istri saya dengan menyalakan senter ke
bagian kolong kulkas. Tidak ada apa pun. Tikus keparat! Ke mana dia menghilang?
Sejak itu istri saya amat ketat menjaga kebersihan. Semua piring di rak dibungkus kain, juga
tempat sendok. Tudung saji diberati dengan ulekan agar tikus tidak bisa menerobos masuk
untuk menggasak makanan sisa. Gelas bekas saya minum malam hari harus ditutup rapat.
Tempat sampah ditutupi pengki penadah sampah sambil diberati batu. Strategi kami adalah
semua tempat makanan ditutup rapat-rapat sehingga tikus tak akan bisa menerobos.
Istri saya memesan dibelikan lem tikus paling andal. Selembar kertas minyak tebal dilumuri
lem tikus oleh istri saya dan di tengah-tengah lumuran lem itu ditaruh ampela ayam bagian
makan malam saya. Jebakan lem tikus ditaruh di kaki kulkas. Pada malam itu, ketika istri saya
tengah asyik menonton sinetron, istri saya tiba-tiba berteriak memanggil saya yang sedang
mengulangi membaca di kamar kerja, bahwa si tikus terperangkap.
Saya segera menutup buku dan lari ke dapur menyusul istri. Benar, seekor tikus hitam sedang
meronta-ronta melepaskan diri dari kertas yang berlem itu.
“Mana pukul besi?!” saya panik mencari pukul besi yang entah disimpan di mana di dapur itu.
“Jangan dipukul Pah!”
“Lalu bagaimana?” Saya menjawab mendongkol.
“Selimuti dengan kertas koran. Bungkus rapat-rapat. Digulung supaya seluruh lem lengket ke
badannya.”
“Lalu diapakan?” Saya semakin dongkol.
“Buang di tempat sampah!”
“Aah, mana pukul besi?”Kedongkolan memuncak.
“Nanti darahnya ke mana-mana! Bungkus saja rapat-rapat!”
Saya mengalah. Ketika tikus itu akan saya tutupi kertas koran, matanya kuyu penuh ketakutan
memandang saya. Ah, persetan! Saya menekan rasa belas kasihan saya. Tikus saya bungkus
rapat-rapat, lalu saya buang di tong sampah di depan rumah, sambil tak lupa memenuhi
perintah istri saya agar penutupnya diberati batu.
Siang harinya sepulang dari mengajar, istri saya terbata-bata memberi tahu saya bahwa tikus
itu lepas ketika Mang Maman tukang sampah mau menuangkan sampah ke gerobaknya. Cerita
Mang Maman, ada tikus meloncat dari gerobak sampahnya dan lari ke kebun sebelah dengan
terbungkus kertas coklat. Cerita lepasnya tikus ini beberapa hari kemudian diperkuat oleh Bi
Nyai, pembantu kami, bahwa dia melihat tikus hitam yang belang-belang kulitnya. Geram juga
saya, dan diam-diam saya membeli dua jebakan tikus. Ketika mau saya pasang malam harinya,
istri saya keberatan.
“Darahnya ke mana-mana,” katanya.
“Ah, gampang, urusan saya. Kalau kena lantai, saya akan pel pakai karbol,” jawabku.
Istri saya mengalah, dan rupanya merasa punya andil bersalah juga. Coba kalau tikus itu dulu
kupukul kepalanya, tentu beres.
Pada waktu subuh istri membangunkan saya.
“Tikusnya kena, Pah!”
Memang benar, seekor tikus hitam terjepit jebakan persis pada lehernya. Darah tak banyak
keluar. Ketika saya amati dari dekat, ternyata bukan tikus yang kulitnya sudah belang-gundul.
“Ini bukan tikus yang lepas itu, Mah!”
“Masa?”Ia mendekat mengamati.
“Kalau begitu ada tikus lain.”
“Mungkin ini istrinya,” celetekku.
Ketika mau saya lepas dari jebakan, istri saya melarangnya.
“Buang saja ke tempat sampah dengan jebakannya.”
Rasa tidak aman masih menggantung di rumah kami.Tikus belang itu masih hidup. Dendam
kami belum terbalas. Berhari-hari kemudian kami memasang lagi lem tikus dengan
bergantiganti umpan, seperti sate ayam, sate kambing, ikan jambal kegemaran saya, sosis,
namun tak pernah berhasil menangkap si belang.
Bibi mengusulkan agar dikasih umpan ayam bakar. Saya membeli sepotong ayam bakar di
restoran padang yang paling ramai dikunjungi orang. Sepotong kecil paha ayam itu dipasang
istri saya di tengah lumuran lem Fox, sisanya saya pakai lauk makan malam.
Gagasan Bi Nyai ternyata ampuh. Seekor tikus menggeliat-geliat melepaskan diri dari karton
tebal yang dilumuri lem.Tikus itu benar-benar musuh istri saya, di beberapa bagian badannya
sudah tidak berbulu. Kasihan juga melihat sorot matanya yang memelas seolah minta ampun.
“Mah, cepat ambil pukul besinya.”
Istri saya mengambil pukul besi di dapur dan diberikan kepada saya. Ketika mau saya hantam
kepalanya, istri saya melarang sambil berteriak.
“Tunggu dulu! Pukul besinya dibungkus koran dulu. Kepala tikus juga dibungkus koran.
Darahnya bisa enggak ke mana-mana!”
Begitu jengkelnya saya kepada istri yang tidak pernah belajar bahwa tikus yang meronta-ronta
itu bisa lepas lagi.
“Cepat sana. Cari koran!” bentakku jengkel.
“Kenapa sih marah-marah saja?” sahut istri saya dongkol juga. Saya diam saja, tetapi cukup
tegang mengawasi tikus yang meronta-ronta semakin hebat itu. Kalau dulu berpengalaman
lepas, tentu dia bisa lepas juga sekarang.
Akhirnya tikus hitam itu saya hantam tiga kali pada kepalanya. Bangkainya dibuang bibi di
tempat sampah.
Beberapa hari setelah itu istri saya mulai kendur ketegangannya. Kalau saya lupa menutup kopi
nescafe, biasanya dia marah-marah kalau bekas kopi susu itu dijilati tikus, tetapi sekarang tidak
mendengar lagi sewotnya. Begitulah kedamaian rumah kami mulai nampak, sampai pada suatu
pagi istri saya mendengar sayup-sayup cicit-cicit bunyi bayi tikus! Inilah gejala perang
baratayuda akan dimulai lagi di rumah kami.
“Harus kita temukan sarangnya! Bayi-bayi tikus itu kelaparan ditinggal kedua orangtuanya.
Kalau mati bagaimana? Kalau mereka hidup, rumah kita menjadi rumah tikus!” kata istri.
Lalu kami melakukan pencarian besar-besaran. Bagian-bagian tersembunyi di rumah kami
obrak-abrik, namun bayi-bayi tikus tidak ketemu. Bayi-bayi itu juga tidak kedengaran
tangisnya lagi. “Mungkin ada di para-para. Tapi bagaimana naiknya?” kata saya.
“Nunggu Mang Maman kalau ambil sampah siang,” kata istri. Ketika Mang Maman mau
mengambil sampah di depan rumah, bibi minta kepadanya untuk naik ke para-para mencari
bayi-bayi tikus.
“Di sebelah mana, Bu?” tanya Mang Maman.
“Tadi hanya terdengar di dapur saja. Mungkin di atas dapur ini atau dekat-dekat sekitar situ,”
sahut istri saya.
Sekitar setengah jam kemudian Mang Mamang berteriak dari para-para bahwa bayi-bayi tikus
itu ditemukan. Mang Maman membawa bayi-bayi itu di kedua genggaman tangannya sambil
menuruni tangga.
“Ini Bu ada lima. Satu bayi telah mati, yang lain sudah lemas. Lihat, napas mereka sudah
tersengal-sengal.”
Istri saya bergidik menyaksikan bayi-bayi tikus merah itu.
“Bunuh dan buang ke tempat sampah, Mang” kata istri saya.
“Ah, jangan Bu, mau saya bawa pulang.”
“Mau memelihara tikus?” tanya istri saya heran.
“Ah ya tidak Bu. Bayi-bayi tikus ini dapat dijadikan obat kuat,” jawab Mang Maman sambil
meringis.
“Obat kuat? Bagaimana memakannya?”
“Ya ditelan begitu saja. Bisa juga dicelupkan ke kecap lebih dulu.”
Setelah memberi upah sepuluh ribu rupiah, istri saya masih terbengong-bengong menyaksikan
Mang Maman memasukkan keempat bayi tikus itu ke kedua kantong celananya, sedangkan
yang seekor dijinjing dengan jari dan dilemparkan ke gerobak sampahnya.
Tikus-tikus tak terpisahkan dari hidup manusia. Tikus selalu mengikuti manusia dan memakan
makanan manusia juga. Meskipun bagi sementara orang, terutama perempuan, tikus-tikus amat
menjijikkan, mereka sulit dimusnahkan. Perang melawan tikus ini tidak akan pernah
berakhir.Saya masih menunggu, pada suatu hari istri saya akan terdengar teriakannya lagi oleh
penampakan tikus-tikus yang baru.
Sumber: https://www.ruangguru.com/blog/apa-itu-cerpen
CERPEN 1
PAMAN KLUNGSU DAN KUASA PLUITNYA
Ahmad Tohari
Di sekitar jalan simpang tiga dekat pasar, nama Paman Klungsu sudah lama mapan. Dia
adalah sosok yang punya kuasa di tempat itu. Dengan andalan lengking peluitnya, Paman
Klungsu bisa mengatasi kemacetan lalu lintas, terutama di pagi hari. Pada saat itu, para
pedagang laki-laki dan perempuan seperti beradu cepat mencapai pasar. Mereka naik sepeda
atau motor dengan dua keranjang di bagian belakang. Puluhan anak SMP dan SMA dengan
motor yang knalpotnya dibobok juga berebut keluar dari jalan kampung ke jalan raya. Tanpa
helm, tanpa SIM. Tetapi mereka kelihatan tak peduli dan amat percaya diri. Guru-guru SD,
beberapa di antaranya sudah bermobil ikut menambah kepadatan lalu lintas di simpang tiga
itu. Maka, orang bilang, untung ada Paman Klungsu yang dengan lengking peluitnya bisa
memuat semua menjadi lancar.
Polisi lalu lintas belum pernah datang di sana. Tetapi, Paman Klungsu biasa memakai rompi
lusuh bercap “Poltas Swakarsa” dengan tulisan spidol. Entah siapa penulisnya. Selain rompi
lusuh warna pupus pisang yang berpendar, Paman Klungsu juga melengkapi diri dengan
peluit plastik warna merah. Meskipun kecil, suara peluit itu amat nyaring dan terbukti
wibawanya ditaati oleh para pengendara. Orang-orang sering bertanya mana yang paling
berwibawa di simpang tiga itu; sosok Paman Klungsu atau peluitnya.
Empat-lima tahun yang lalu Paman Klungsu hanya orang lontang-lantung di pasar. Jalannya
pincang. Kaki kirinya kecil dan lebih pendek. Sebatang kara, di malam hari jadi peronda
pasar. Di siang hari jadi kuli angkut yang membawakan barang milik pedagang dari dalam
pasar ke pinggir jalan atau sebaliknya. Para pedagang memberinya seratus atau dua ratus
rupiah. Itu bekal Paman Klungsu untuk pergi ke warung nasi rames milik Yu Binah di
belakang pasar.
Sekarang Paman Klungsu tidak lagi mengangkut-angkut barang milik pedagang. Dia merasa
telah naik pangkat menjadi-dia menyebutnya sendiri-poltas swakarsa, yang amat dia
banggakan. Apalagi Paman Klungsu juga sering mendapat uang receh. Itu pemberian sopir-
sopir yang merasa bersimpati. Mereka menghargai jasa Paman Klungsu yang punya prakarsa
mengatur lalu lintas di simpang tiga.
Pada awalnya Paman Klungsu sering dicibir orang. “Ah, kamu cuma polisi non-batu, polisi-
polisian. Kamu hanya berani mengatur pedagang dan anak sekolah, tapi tidak berkutik bila
yang lewat pejabat atau moge. Kamu juga selalu mengistimewakan Yu Binah. Kalau
perempuan itu lewat selalu kamu bukakan jalan.”
Ketika menerima cibiran itu, Paman Klungsu hanya diam. Namun sebenarnya dia sungguh
tersinggung. Jadi suatu kali dia bergerak cepat ketika ada sebuah mobil bersipongah mau
melanggar aturannya. Dengan langkah terpincang-pincang, Paman Klungsu menghadang
mobil bagus berpelat merah itu. Paman Klungsu berdiri tepat di depan mobil, tangan
kanannya tegak lurus. Tetapi, kaki kirinya bersijingkat karena lebih pendek. Peluitnya
melengking-lengking sekerasnya. Pengendara mobil itu mendengus dan berhenti dengan mata
membulat. Kemarahan muncul penuh di wajahnya. Tetapi, Paman Klungsu bergeming. Dan
di luar dugaan Paman Klungsu semua orang di simpang tiga bertepuk tangan mendukungnya.
Peluit Paman Klungsu melengking makin nyaring dan bertubi-tubi. Tangan kanannya tetap
menjulang ke atas. Orang- orang bersorak makin riuh.
Sejak peristiwa itu, Paman Klungsu makin percaya diri dan merasa lebih gagah. Dia senang
karena ternyata orang-orang berada di pihaknya. Maka, dia mengulangi sikap itu; tidak
mengutamakan siapa saja yang lewat. Juga barisan puluhan moge yang menderu menggila
dari barat pada Jumat dan menggelegar pongah balik dari timur pada Ahad. Maka, Paman
Klungsu dengan peluitnya adalah sosok kekuasaan yang nyata di simpang tiga itu.
Sayangnya, orang-orang juga masih jadi saksi peluit Paman Klungsu tak pernah melengking
nyaring terhadap Yu Binah. Bila dia lewat, Paman Klungsu selalu mendahulukannya, dengan
keramahan yang nyata pula. Terhadap Yu Binah, peluit Paman Klungsu seakan bisu.
Ketika sedang istirahat pada suatu tengah hari di emper toko, ada orang bertanya, “Ah, kamu
ternyata tetap mengutamakan Yu Binah. Ada apa ya? Awas, Yu Binah punya suami; kamu
jangan macam-macam.”
Pertanyaan itu membuat Paman Klungsu ketakutan. Wajahnya mendadak beku. Bibirnya
gemetar. Dia tergagap, dan kata-kata yang kemudian diucapkan terdengar patah-patah.
“Yu Binah? Iya. Dia memang punya suami. Dan saya tidak mengapa-apakan dia.” Paman
Klungsu gugup. Namun, lama-kelamaan bicaranya lebih tertata. Katanya, dia banyak
berutang budi kepada Yu Binah. Penjual nasi itu suka memberinya rames lengkap berapa pun
Paman Klungsu membayarnya. Menyadari uangnya sering tidak cukup, tambahnya, dia biasa
hanya minta nasi dan air putih. Lauknya cukup kecap dan sambal yang memang disediakan
cuma-cuma. Tetapi, Yu Binah tetap memberinya nasi rames lengkap dengan taburan bawang
goreng, tahu atau tempe, bahkan kadang ikan juga.
“Taburan bawang goreng di atas nasi hangat, ditambah sambal dan kecap, wah!”
“Jadi hanya karena bawang goreng, kamu merasa harus mengutamakan Yu Binah?”
Paman Klungsu tersipu, kemudian meneruskan penjelasannya. Katanya, ada sesuatu yang
sangat mengesankan pada Yu Binah, yaitu gerak tubuh, terutama kedua tangannya ketika Yu
Binah menyiduk nasi dari bakul lalu menampungnya dengan piring.
“Itu seperti tangan orang menari, atau apa. Itu pantes banget, perempuan banget. Tidak semua
perempuan bisa seperti itu,” tambah Paman Klungsu.
Orang yang mendengar ucapan Paman Klungsu tertawa.
“Ah, kamu mengada-ada saja. Cuma bawang goreng dan gerak tangan perempuan menyiduk
nasi mengapa kamu begitu terkesan?”
Jawaban Paman Klungsu keluar lagi setelah dia berdiam diri. Dia mengaku dirinya orang
perasa sehingga mudah tersentuh oleh keanggunan yang tampak olehnya. Apalagi,
tambahnya, keanggunan gerak Yu Binah ketika menyiduk nasi selalu disertai ketulusan yang
nyata terlihat di wajahnya.
***
Ini jam 9 pagi, lalu lalang di simpang tiga sudah mereda. Anak-anak sekolah, para guru, dan
pegawai sudah lama sampai ke tempat kerja masing-masing. Yang masih berkendara lewat
simpang tiga hanya orang-orang yang mau pergi atau pulang dari pasar. Udara mulai panas
dan suara lengking peluit buat sementara tak terdengar. Karena tidak padat, arus kendaraan
bisa mengalir lancar meskipun tanpa lengking peluit Paman Klungsu. Ke mana dia?
Dengan bekal uang seribu lima ratus pemberian tiga sopir yang menyadari perut siapa pun
harus diisi nasi, Paman Klungsu masuk ke warung Yu Binah. Di depan pintu warung lelaki
pincang itu berpapasan dengan dua pedagang yang baru selasai makan nasi rames. Paman
Klungsu duduk sendiri, meletakkan peluitnya di atas meja, lalu menyulut rokok. Yu Binah
menyambutnya dengan senyum. Ah, Paman Klungsu tidak akan melepaskan peluang
menikmati keanggunan gerak Yu Binah ketika perempuan itu sedang menyiapkan nasi rames.
Atau, barangkali Paman Klungsu sulit menjawab bila ditanya, mana yang lebih dia sukai,
keanggunan gerak Yu Binah atau nasi ramesnya.
“Yu, uangku cuma seribu lima ratus.”
“Ya, tidak apa. Ah, sejak pagi kamu kerja keras tiup-tiup peluit di simpang tiga. Jadi perutmu
tentu lapar. Sekarang makanlah sampai kenyang.”
“Dengan uang seribu lima ratus ya, Yu?”
“Ya, itu kan biasa. Kamu jangan terlalu perasa. Kamu sudah lama mengenal aku, kan?”
Yu Binah memutar badan, mengambil satu piring lalu bergeser ke dekat wadah nasi,
mengangkat ciduk. Paman Klungsu menatapnya dari samping dengan mata tanpa kedip.
Rokoknya dibiarkan tak tersentuh di atas asbak dengan asap terus mengepul. “Itu betul
sebuah lenggang yang pantes banget, dan aku tidak akan bosan melihatnya,” ujar Paman
Klungsu dalam hati. Dan kemudian hatinya merasa sejuk seperti diguyur air ketika Yu Binah
menyorongkan piring itu. Isinya penuh; nasi putih dengan taburan bawang goreng dan sayur
buncis. Wadah sambal, botol kecap, dan segelas air putih disorongkan juga.
“Ayo makan. Kamu tentu sudah lapar.”
Suara itu terasa seperti dendang alam di telinga Paman Klungsu. Ketika sekejap menengadah,
Paman Klungsu juga melihat wajah tulus itu. Mata yang jernih, senyuman yang polos,
sederhana. Paman Klungsu menunduk, memperhatikan rokok di asbak yang hampir habis
tanpa diisap. Menarik napas panjang, lalu menarik piring lebih dekat. Aroma bawang goreng
membangkitkan seleranya. Dan Paman Klungsu sadar, harga nasi rames yang sedang
dimakan pasti di atas seribu lima ratus.
Selesai makan, Paman Klungsu minta diri dengan cara orang yang amat mengerti berterima
kasih. Meskipun tahu dari jam sembilan sampai jam satu lalu lintas di simpang tiga tidak
ramai, Paman Klungsu tidak mau terlalu lama meninggalkan tempat itu. Namun, sampai di
depan pasar Paman Klungsu harus berhenti. Yu Binah memanggil-manggilnya dari belakang.
Yu Binah berjalan tergesa-gesa, tangan kirinya menjimpit sesuatu dengan ibu jari dan
telunjuk. Menahan rasa jijik. Tangan kanannya menutup hidung dan mulut.
“He, ini, peluitmu tertinggal. Idih, ampun! Baunya busuk sekali,” kata Yu Binah dengan
suara teredam oleh bungkaman tangan sendiri. “Peluitmu selalu kena ludah tapi tidak pernah
kamu cuci ya? Idih, minta ampun busuknya!”
“Begitu ya, Yu? Tetapi, peluitku amat penting. Bunyinya berkuasa mengatur simpang tiga,”
jawab Paman Klungsu sambil berusaha menangkap peluit yang dilemparkan Yu Binah ke
arahnya.
“Iya, lah, aku tahu. Namun, mengapa peluitmu yang punya kuasa itu harus bau busuk? Ah,
cucilah barang busuk itu. He, dengar. Kamu jangan ke warungku sebelum peluit itu kamu
cuci. Benar ya?”
Paman Klungsu mengangguk dan tersenyum. Setelah Yu Binah berbalik, Paman Klungsu
termangu sejenak. Mendadak dia tergoda untuk mencoba merasakan sendiri bau peluitnya.
Maka lubang pada barang kecil itu didekatkan ke hidungnya. O, Paman Klungsu mendadak
tersentak dan berkali-kali bergidik, lalu cuh! Kemudian Paman Klungsu berjalan terpincang-
pincang sambil menunduk, pulang ke simpang tiga. Panas matahari menyengat kepalanya.
Dan peluit sakti yang bau busuk itu tetap dalam genggaman.
CERPEN 2
AH, JAKARTA
Karya Ahmad Tohari
Kedatangannya pada suatu malam di rumahku memang mengejutkan.
Sudah lama aku tidak melihatnya. Lama sekali, mungkin tiga tahun ataulebih. Selama itu, aku
hanya mengetahui keadaannya lewat cerita teman
yang sering melihatnya di Jakarta. Dari cerita teman itulah aku mengerti
bagaimana kehidupannya di Ibukota. Bahwa dia tidak lagi menjadi sopir
sebuah keluarga di Jalan Cim Menteng. Tidak juga berkumpul dengan
orang tuanya di Lampung. Dia sudah lain. Malam itu dia datang. Jalannya terpincang-
pincang. Lima jari kaki kanannya luka. Perbannya sudah kumal. Maka pertama-
tama aku membantunya mengganti perban itu. Baru kemudian aku mengajaknya
ngobrol. Hatihati, sebab wajah temanku itu jelas gelap.
“Aku mau lihat koran kemarin, atau hari ini,” pintanya. “Ada apa?” “Nanti kuceritakan.”
“Ceritakan dulu. Kamu harus memulai pertemuan ini dengan keterbukaan.
Ingat siapa aku dan siapa kamu.”
Matanya menatapku sebentar. Lalu menunduk. Lehernya kelihatan kecil.
Masih ada sisa kebagusan wajahnya yang kukenal sejak kami masih kanak-
kanak. Dia mulai cerita. Sedan yang disewanya menabrak tiang
listrik di Jalan Matraman. Tiga temannya tidak bisa bangun, mungkin mati.
Dia duduk di jok belakang ketika itu. Karena bekas sopir, dia tahu suasana
kritis dalam kendaraan. Ketika mobil mulai gontai karena slip dia
meringkuk seperti trenggiling. Benturan dengan tiang listrik begitu hebat.
Tidak ada secuil pun dia cedera. Luka di kaki karena tergores kaca
belakang ketika dia berusaha lolos keluar. Orangorang berdatangan. Dan
dia menyelinap lalu menjauh. Dia tidak mungkin lama di situ. Di dalam
mobilnya ada golok, ada gunting kawat buat melumpuhkan kunci gembok
sebesar apa pun, dan ada clurit. “Kami baru berangkat operasi.”
“Oh, jadi begitulah kamu sekarang. Mengapa ?” “Ah, Jakarta.”
“Ya, tapi mengapa justru kamu?” “Ah, mana koran kemarin?”
Kuberikan koran yang diminta, dibukanya langsung halaman tiga.
Tidak ada. Diambilnya koran hari berikut. Ada. Dia membaca dengan kening
berkerut. Lalu koran itu dilemparkannya kepadaku. “Ini, baca sendiri.”
Dia tidak bohong. Apa yang telah diceritakannya termuat sepenuhnya.
Dadaku menyesak. Di hadapanku kini duduk seorang karib yang pasti
buronan. Aku langsung teringat konsekuensi hukum bagi orang yang
menyimpan oknum yang sedang dicari polisi. Tapi detik itu juga
kuputuskan, menerima karibku seperti biasa. Aku tak ingin kehilangan
rasa persahabatan. Tidak ingin menyilakannya pergi, apalagi
melaporkannya kepada ketua RT.
Kami bertatapan. Aku tahu dia sedang menyelidik sikapku, apakah
kedatangannya tidak membuatku susah. Sedangkan aku melihatnya untuk
melihat masa lampau ketika aku dan dia samasama telanjang bulat dan
berlarian di pematang sawah. Kami suka mencari telur burung hahayaman,
membalutnya dengan tanah lempung kemudian membakarnya. Enak, tak
ubahnya seperti telur rebus. Kami suka menyelam di lubuk mencari udang
batu. Membenamnya dalam pasir panas di tepi kali sampai warnanta jadi
merah, kemudian mengunyahnya. Enak, gurih, dan manis.
Ah, ya. Kami suka mencari belut dalam suatu permainan yang kami
namakan rebut pati. Bila seekor belut keluar, kami akan
memperebutkannya. Kami akan bergulat, adu ketangkasan di atas lumpur.
Siapa yang menerkam belut itu harus secepat mungkin memukulnya
sampai mati. Bila masih terlihat gerakannya, permainan harus berlanjut.
Acapkali belut berpindah-
pindah tangan beberapa kali sebelum dia benar_benar mati. Dan karibku yang buronan itu lici
k. Dulu dia selalu menggigit
belutnya agar aku tidak bisa merebutnya lagi. Mulut yang penuh lumpur
dan belut berdarah di antara giginya Bagaimana pula aku harus melupakan kenangan itu.
“ Nah, silakan mandi. Kamu harus menginap di sini.” Kataku.
Dia menatapku. Sinar matanya berbicara banyak. Rasanya akan terjadi
suasana cengeng. Maka akau segera tersenyum, bahkan tertawa.
“Nanti dulu. Aku masih payah. Kita ngobrol dulu.”
Istriku keluar membawa kopi dan rebus pisang ambon nangka. Dia minum
dan makan lahap. Ah, aku salah. Mestinya aku memberinya makan lebih
dulu. Kukira dia lapar. Sayang, terlambat.
“Untung kamu tidak mati seperti ketiga temanmu itu.”
“Sudah mati, ya matilah. Aku hanya teringat yang masih hidup.” “Siapa? Anak dan istrimu?”
“Ah, kenapa mereka. Istriku sudah pulang ke rumah orang tuanya.” “Cerai?”
“Dia mengangguk.” “Anakmu?” “Mereka bersama ibunya. Aku tak perlu susah-
susah mengingatnya karena mereka aman. Tetapi si Jabri!” “Jabri?”
“Dia yang kusewa mobilnya. Mobil majikannya maksudku. Kasihan, dia
harus menghadapi tuntutan ganti rugi. Kasihan dia. Soalnya dia langganan
dan temanku yang baik.”
Suasana yang makin cair membuat karibku itu makin lancar bercerita.
Sebuah pengakuan yang lengkap yang pasti disukai oleh para penyidik.
Kelompoknya memulai beroperasi dengan pengintaian yang bermula dari
toko elektronik. Bila ada orang membeli TV warna atau video dia akan
dibuntuti sampai rumahnya. Sekalian diselidiki apakah calon korban
memelihara anjing. Anjing lebih rewel dari pada hansip, katanya. Pada saat
yang ditentukan, perampokan dilaksanakan. Tidak harus malam hari. Pintu
halaman gampang diterobos dengan gunting kawat. Pintu utama rumah,
yang berdaun tunggal atau rangkap sudah dikuasai ilmunya.
Hanya diperlukan jepit kuku buatan Taiwan untuk mendobrak jendela
nako. Dia memperagakan pada jendela nako di rumahku. Setelah salah
satu daun kaca tercongkel dari luar maka kisikisi ditekan ke dalam dengan
dorongan kaki. Agar tidak melenting kedua ujung kisi dipegang. Bila
sebuah kisi jebol semuanya beres.
“Kebanyakan orang kaya tidak banyak cincong bila barangbarangnya kami
ambil,” katanya. “Kukira bukan karena mereka takut. Tapi apalah artinya
video atau TV warna bagi mereka. Keesokan hari mereka bisa membeli lagi
segudang banyaknya.” “Jadi begitu?”
“Pernah kami masuk ke rumah orang kaya di kebayoran. Yang punya
rumah bangun dan menjemput kami di ruang tengah dengan pistol di
tangan. Kami siap berkelahi. Tapi tuan rumah justru menawarkan barang_barangnya. Hanya
satu permintaannya, agar kami tidak ributribut. Di
kemudian hari kami tahu bahwa yang kami tidak beributribut.
Di kemudian hari kami tahu bahwa yang kami rampok adalah seorang pejabat
penting. Di rumah itu dia sedang ngendon dengan istri muda. Daripada
heboh masuk koran maka dia ambil jalan yang bagi kami amat bijak.”
Dia tertawa lepas. ”Yah, Jakarta!”
Tengah malam ketika karibku itu sudah nyenyak dalam kamar yang
kusediakan, istriku bertanya banyak tentang dia.
“Dia anak sini asli, teman sepermainanku dulu.” “Ceritanya mengesankan. Gali ya?”
“Seperti yang kamu dengar sendiri.”
“Nah, awas kamu. Aku tidak ingin ada bangkai manusia yang pernah
menginap di rumah ini. Kau tahu orangorang macam dia yang kini
mayatnya tercampak di manamana?”
Aku menutup mata dengan bantal. Istriku masih menyerocos. Tetapi
akhirnya dia mengalah, diam setelah berkalikali mendesah panjang. Pagi-
pagi setelah subuh kubuka pintu kamar karibku. Dia sudah lenyap.
Hanya ada tulisan diatas bekas bungkus rokok:”Terima kasih. Aku segera
pergi supaya tidak merepotkan kamu.” *
Entahlah, sejak saat itu aku jadi senang pergi ke pasar. Di depan pasar
kecil di kotaku yang kecil ada terminal colt. Berita pertama tentang
penemuan mayat kebanyakan berasal dari terminal itu. Bila ada berita aku
segera menceknya. Aku sungguh berharap setiap kali melihat mayat maka
dia bukan mayat karibku. Mogamoga dia sudah kembali ke Jakarta,
bersembunyi di sana atau di tempat lain. Mudahmudahan dia sudah
menyerahkan diri secara baikbaik dan diadili secara baik pula.
Dalam seminggu sudah banyak mayat yang kuperiksa. Syukur tak satu
pun ternyata mayat karibku. Tapi akhirnya yang kukhawatirkan tak urung
terjadi juga. Karibku mengapung di kelokan kali Serayu di bawah jalan
raya. Dia sudah mengembung, wajahnya tak keruan. Puluhan orang yang
berkerumun tak seorang pun mengenalinya. Aku pun nyaris demikian bila
tidak karena simpul perban di kaki karibku. Ah, jakarta. Ucap karibku terngiang kembali.
“Ini mayat karibku,” kataku kepada dua orang polisi yang sedang mencatat_catat. Keduanya t
erbelalak. Orangorang pun terbelalak. “Betul?” tanya polisi “Ya, pak. “
“Nah, siapa namanya?” Ku sebut nama seenak perutku. Kuberi alamat jakarta sekenanya.
“Pekerjaan calo. Kemudian kusebut nama ngawur untukku. Alamat,
kampung anu. Untung polisi tidak tanya KTP, suatu kecerobohan yang memalukan.
“Baiklah, kami sudah selesai dengan urusan kami. Sekarang bagaimana
saudara?” tanya polisi. Aku tergagap. Orang-
orang bergumam mungkin menatapku dengan keji.
Mereka sedang memperhatikan karib seorang gali, aku.
“Pak, aku akan menunggu di sini. Mungkin nanti ada saudaraku yang lewat
sehingga aku ada teman buat mengurus mayat ini.”
Polisi pergi, kelihatan dengan wajah puas. Orangorang pun mulai pergi.
Soal mayat tercampak sudah sering mereka lihat. Akhirnya hanya aku dan
karibku yang tinggal. Sekali pun aku sama sekali tidak cengeng, namun
terasa air mataku meleleh. Ada dua orang anak pencari rumput. Tetapi
mereka menghilang ketika kumintai bantuan mengurus mayat karibku.
Lama aku berdiri bingung tak tahu harus berbuat apa. Mayat karibku
teronggok hanya dengan cawat cassanova. Ah, Jakarta. Ucapan itu lagilagi
terngiang. Aku masih bingung. Bila bukan karena sebuah tempurung yang
tergeletak di tempat itu mungkin aku masih diam. Tetapi karena
tempurung itu, aku bisa berbuat sesuatu. Mayat karibku kusirami. Aku
memandikannya. Lalat beterbangan. Kemudian dengan tempurung itu pula
aku menggali pasir membujur keutara. Dia kutarik dan ku masukkan ke
dalam lubang pasir sedalam lutut. Kusembahyangkan kemudian
kumiringkan kebarat. Daundaun jati kututupkan, lalu pasir kutimbunkan.
Sebuah batu sebesar kepala kubuat nisan.
Ketika kutinggalkan tepian kali serayu yang berjarak dua puluh kilo dari
rumahku itu, ternyata ada beberapa orang yang menonton. Dua di
antaranya adalah anak pencari rumput. Entahlah. Boleh jadi mereka heran
ada yang berani berterus terang mengaku karib seorang gali, mengurus
mayatnya yang kupacu berbunyi, ah, Jakarrta. Mengapa bila diucapkan
dengan tekanan tertentu kata-
kata itu menampakkan sisi compang_camping dan belepotan. Karibku ikut belepot
an. Dan kini aku tidak
berguna menyalahkannya. Apalagi sebentar lagi kali Serayu akan banjir.
Kubur karibku akan tersapu air bah. Belulangnya akan jadi antah berantah.
CERPEN 3
Lelaki yang Menderita bila Dipuji
Ahmad Tohari Cerpen Kompas
(7 Oktober 2018)
Mardanu seperti kebanyakan lelaki, senang bila dipuji. Tetapi akhirakhir
ini dia merasa risi bahkan seperti terbebani. Pujian yang menurut Mardanu
kurang beralasan sering diterimanya. Ketika bertemu temanteman untuk
mengambil uang pensiun, ada saja yang bilang, “Ini Mardanu, satusatunya
teman kita yang uangnya diterima utuh karena tak punya utang.” Pujian
itu sering diiringi acungan jempol. Ketika berolahraga jalan kaki pagi hari
mengelilingi alunalun, orang pun memujinya, “Pak Mardanu memang
hebat. Usianya tujuh puluh lima tahun, tetapi badan tampak masih segar.
Berjalan tegak, dan kedua kaki tetap kekar.”
Kedua anak Mardanu, yang satu jadi pemilik kios kelontong dan satunya
lagi jadi sopir truk semen, juga jadi bahan pujian, “Pak Mardanu telah
tuntas mengangkat anakanak hingga semua jadi orang mandiri.” Malah
seekor burung kutilang yang dipelihara Mardanu tak luput jadi bahan
pujian. “Kalau bukan Pak Mardanu yang memelihara, burung kutilang itu
tak akan demikian lincah dan cerewet kicaunya.”
Mardanu tidak mengerti mengapa hanya karena uang pensiun yang utuh,
badan yang sehat, anak yang mapan, bahkan burung piaraan membuat
orang sering memujinya. Bukankah itu hal biasa yang semua orang bisa
melakukannya bila mau? Bagi Mardanu, pujian hanya pantas diberikan
kepada orang yang telah melakukan pekerjaan luar biasa dan berharga
dalam kehidupan. Mardanu merasa belum pemah melakukan pekerjaan
seperti itu. Dari sejak muda sampai menjadi kakekkakek dia belum
berbuat jasa apa pun. Ini yang membuatnya menderita karena pujian itu seperti menyindir-
nyindirnya. Enam puluh tahun yang lalu ketika bersekolah, dinding ruang kelasnya
digantungi gambar para pahlawan. Juga para tokoh bangsa. Tentu saja
mereka telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi bangsanya. Mardanu
juga tahu dari cerita orangorang, pamannya sendiri adalah seorang
pejuang yang gugur di medan perang kemerdekaan. Orangorang sering
memuji mendiang paman. Cerita tentang sang paman kemudian
dikembangkan sendiri oleh Mardanu menjadi bayangan kepahlawanan;
seorang pejuang muda dengan bedil bersangkur, ikat kepala pita merah_putih, maju dengan g
agah menyerang musuh, lalu roboh ke tanah dan gugur sambil memeluk bumi pertiwi.
Mardanu amat terkesan oleh kisah kepahlawanan itu. Maka Mardanu
kemudian mendaftarkan diri masuk tentara pada usia sembilan belas.
Ijazahnya hanya SMP, dan dia diterima sebagai prajurit tamtama.
Kegembiraannya meluapluap ketika dia terpilih dan mendapat tugas
sebagai penembak artileri pertahanan udara. Dia berdebardebar dan
melelehkan air mata ketika untuk kali pertama dilatih menembakkan
senjatanya. Sepuluh peluru besar akan menghambur ke langit dalam waktu
satu detik. “Pesawat musuh pasti akan meledak kemudian rontok bila
terkena tembakan senjata yang hebat ini,” selalu demikian yang
dibayangkan Mardanu.
Bayangan itu sering terbawa ke alam mimpi. Suatu malam dalam tidurnya
Mardanu mendapat perintah siaga tempur. Persiapan hanya setengah
menit. Pesawat musuh akan datang dari utara. Mardanu melompat dan
meraih senjata artilerinya. Tangannya berkeringat, jarinya lekat pada tuas
pelatuk. Matanya menatap tajam ke langit utara. Terdengar derum pesawat
yang segera muncul sambil menabur tentara payung. Mardanu menarik
tuas pelatuk dan ratusan peluru menghambur ke angkasa dalam hitungan
detik. Ya Tuhan, pesawat musuh itu mendadak oleng dan mengeluarkan
api. Terbakar. Menukik dan terus menukik. Tentara payung masih
berloncatan dari perut pesawat dan Mardanu mengarahkan tembakannya ke sana.
Ya Tuhan, tiga parasut yang sudah mengembang mendadak kuncup lagi
kena terjangan peluru Mardanu. Tiga prajurit musuh meluncur bebas jatuh
ke bumi. Tubuh mereka pasti akan luluhlantak begitu terbanting ke tanah.
Mardanu hampir bersorak namun tertahan oleh kedatangan pesawat
musuh yang kedua. Mardanu memberondongnya lagi. Kena. Namun
pesawat itu sempat menembakkan peluru kendali yang meledak hanya tiga
meter di sampingnya. Tubuh Mardanu terlempar ke udara oleh kekuatan
ledak peluru itu dan jatuh ke lantai kamar tidur sambil mencengkeram bantal.
Ketika tersadar Mardanu kecewa berat; mengapa pertempuran hebat itu
hanya ada dalam mimpi. Andaikata itu peristiwa nyata, maka dia telah
melakukan pekerjaan besar dan luar biasa. Bila demikian Mardanu mau
dipuji, mau juga menerima penghargaan. Meski demikian, Mardanu selalu
mengenang dan mengawetkan mimpi itu dalam ingatannya. Apalagi sampai
Mardanu dipindahtugaskan ke bidang administrasi teritorial lima tahun
kemudian, perang dan serangan udara musuh tidak pernah terjadi.
Pekerjaan administrasi adalah hal biasa yang begitu datar dan tak ada nilai
istimewanya. Untung Mardanu hanya empat tahun menjalankan tugas itu,
lalu tanpa terasa masa persiapan pensiun datang. Mardanu mendapat
tugas baru menjadi anggota Komando Rayon Militer di kecamatannya. Di
desa tempat dia tinggal, Mardanu juga bertugas menjadi Bintara Pembina
Desa. Selama menjalani tugas teritorial ini pun Mardanu tidak pernah
menemukan kesempatan melakukan sesuatu yang penting dan bermakna
sampai dia pada umur lima puluh tahun.
Pagi ini Mardanu berada di becak langganannya yang sedang meluncur ke
kantor pos. Dia mau ambil uang pensiun. Kosim si abang becak sudah
ubanan, pipinya mulai lekuk ke dalam. Selama mengayuh becak napasnya terdengar megap-
megap. Namun seperti biasa dia mengajak Mardanu bercakapcakap.
“Pak Mardanu mah senang ya, tiap bulan tinggal ambil uang banyak di
kantor pos,” kata Si Kosim di antara tarikan napasnya yang berat. Ini juga
pujian yang terasa membawa beban. Dia jadi ingat selama hidup belum
pernah melakukan apaapa; selama jadi tentara belum pemah terlibat
perang, bahkan belum juga pernah bekerja sekeras tukang becak di
belakangnya. Sementara Kosim pernah bilang, dirinya sudah beruntung
bila sehari mendapat lima belas ribu rupiah. Beruntung, karena dia sering
mengalami dalam sehari tidak mendapatkan serupiah pun.
Masih bersama Kosim, pulang dari kantor pos Mardanu singgah ke pasar
untuk membeli pakan burung kutilangnya. Sampai di rumah, Kosim
diberinya upah yang membuat tukang becak itu tertawa. Kemudian
terdengar kicau kutilang di kurungan yang tergantung di kaso emper
rumah. Burung itu selalu bertingkah bila didekati majikannya. Mardanu
belum menaruh pakan ke wadahnya di sisi kurungan. Dia ingin lebih lama
menikmati tingkah burungnya; mencecet, mengibaskan sayap dan
merentang ekor sambil melompatlompat. Mata Mardanu tidak berkedip
menatap piaraannya. Namun mendadak dia harus menengok ke bawah
karena ada sepasang tangan mungil memegangi kakinya. Itu tangan Manik,
cucu perempuan yang masih duduk di Taman Kanakkanak.
“Itu burung apa, Kek?” tanya Manik. Rasa ingin tahu terpancar di wajahnya yang sejati.
“Namanya burung kutilang. Bagus, kan?”
Manik diam. Dia tetap menengadah, matanya terus menatap ke dalam kurungan.
“O, jadi itu burung kutilang, Kek? Aku sudah lama tahu burungnya, tapi
baru sekarang tahu namanya. Kek, aku bisa nyanyi. Nyanyi burung kutilang.”
“Wah, itu bagus. Baiklah cucuku, cobalah menyanyi, Kakek ingin dengar.”
Manik berdiri diam. Barangkali anak TK itu sedang mengingat cara
bagaimana guru mengajarinya menyanyi.
Di pucuk pohon cempaka, burung kutilang bernyanyi… Manik menyanyi
sambil menari dan bertepuktepuk tangan. Gerakannya lucu dan
menggemaskan. Citra dunia anakanak yang amat menawan. Mardanu
terpesona, dan terpesona. Nyanyian cucu terasa merasuk dan mengendap
dalam hatinya. Tangannya gemetar. Manik terus menari dan menyanyi.
Selesai menari dan menyanyi, Mardanu merengkuh Manik, dipeluk dan
direngkuh ke dadanya. Ditimangtimang, lalu diantar ke ibunya di kios
seberang jalan. Kembali dari sana Mardanu duduk di bangku agak di
bawah kurungan kutilangnya. Dia lama terdiam. Berkalikali ditatapnya
kutilang dalam kurungan dengan mata redup. Mardanu gelisah. Bangun
dan duduk lagi. Bangun, masuk ke rumah dan keluar lagi. Dalam telinga terulang-
ulang suara cucunya; Di pucuk pohon cempaka, burung kutilang bernyanyi….
Wajah Mardanu menegang, kemudian mengendur lagi. Lalu perlahanlahan
dia berdiri mendekati kurungan kutilang. Dengan tangan masih gemetar dia
membuka pintunya. Kutilang itu seperti biasa, bertingkah elok bila didekati
oleh pemeliharanya. Tetapi setelah Mardanu pergi, kutilang itu
menjulurkan kepala keluar pintu kurungan yang sudah menganga. Dia
seperti bingung berhadapan dengan udara bebas, tetapi akhirnya burung
itu terbang ke arah pepohonan.
Ketika Manik datang lagi ke rumah Mardanu beberapa hari kemudian, dia
menemukan kurungan itu sudah kosong.
“Kek, di mana burung kutilang itu?” tanya Manik dengan mata membulat.
“Sudah kakek lepas. Mungkin sekarang kutilang itu sedang bersama
temannya di pepohonan.” “Kek, kenapa kutilang itu dilepas?” Mata Manik masih membulat.
“Yah, supaya kutilang itu bisa bernyanyi di pucuk pohon cempaka, seperti nyanyianmu.”
Mata Manik makin membulat. Bibirnya bergerakgerak, namun belum ada
satu kata pun yang keluar.
“Biar kutilang itu bisa bernyanyi di pucuk pohon cempaka? Wah, itu luar
biasa. Kakek hebat, hebat banget. Aku suka Kakek.” Manik melompat_lompat gembira.
Mardanu terkesima oleh pujian cucunya. Itu pujian pertama yang paling
enak didengar dan tidak membuatnya menderita. Manik kembali berlenggang-
lenggok dan bertepuktepuk tangan. Dari
mulutnya yang mungil terulang nyanyian kegemarannya. Mardanu
mengiringi tarian cucunya dengan tepuk tangan berirama. Entahlah,
Mardanu merasa amat lega. Plong