The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

LKPD BAHASA INDONESIA KELAS XI_ MAYA OKTAVIA

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mayaoktavia20, 2022-12-11 02:18:43

LKPD BAHASA INDONESIA KELAS XI_ MAYA OKTAVIA

LKPD BAHASA INDONESIA KELAS XI_ MAYA OKTAVIA

CERPEN 4
Tawa Gadis Padang Sampah

Ahmad Tohari
(Kompas, 21 Agustus 2016)

Korep, Carmi, dan Sopir Dalim adalah tiga di antara banyak manusia yang
sering datang ke padang pembuangan sampah di pinggir kota. Dalim tentu
manusia dewasa, sopir truk sampah berwarna kuning dengan dua awak.
Dia pegawai negeri, suka lepaspakai kacamatanya yang berbingkai tebal.
Carmi sebenarnya masih terlalu muda untuk disebut gadis. Korep anak laki-
laki yang punya noda bekas luka di atas matanya. Keduanya pemulung
paling belia di antara warga padang sampah.
Sopir Dalim sesungguhnya pemulung juga. Dia mengatur kedua
pembantunya agar memulung barangbarang bekas paling baik ketika
sampah masih di atas truk. Perintah itu diberikan terutama ketika truknya
mengangkut sampah dari rumahrumah amat megah di Jalan Anu. Ikat
pinggang kulit yang dipakai Sopir Dalim juga barang pulungan. Katanya,
itu barang buatan Perancis yang dibuang oleh pemiliknya hanya karena ada
sedikit noda goresan. Katanya lagi, kebanyakan penghuni rumahrumah
megah itu hanya mau memakai barangbarang terbaik tanpa noda sekecil apapun.
Ketika Korep dan Carmi memasuki padang sampah bau busuk belum
begitu terasa. Sinar matahari masih terhambat pepohonan di sisi timur
sehingga padang sampah belum terpangpang. Nati menjelang tengah hari
padang sampah akan terjerang dan bau busuk akan menguap memenuhi
udara. Sopir Dalim sering mengingatkan Carmi dan Korep, jangan suka berlama-
lama berada di tengah padang. “Sudah banyak pemulung
meninggal karena sakit, paruparunya membusuk,” katanya. Entahlah,
Sopir Dalim merasa perlu mengingatkan Carmi dan Korep. Dia sendiri tidak
tahu mengapa hatinya dekat dengan kedua anak itu; barangkali karena
Korep dan Carmi adalah dua pemulung paling bocah di padang sampah.
Belasan pemulung sudah berdiri berkerumun di sisi selatan. Mereka sedang
menunggu truk sampah datang. Ada pemulung perempuan memasang
puntung rokok di mulutnya. Lalu bergerak ke sanakemari meminta api.
Ada tangan terjulur ke arah mulutnya. Api menyala dan asap segera


mengepul. Tetapi perempuan itu kemudian berteriak. Rupanya tangan
lelaki pemegang korek api kemudian mencolek pipinya. Dia kejar si lelaki
dan balas mencubit punggungnya. Mereka bergelut. Mendadak muncul
tontonan yang meriah. Korep dan Carmi ikut bersoraksorak. Ada luapan
sukacita dan teriakan-
teriakan yang riuh. Begitu riuh sehingga burung_burung gereja yang sedang cari makan di tan
ah serentak terbang ke udara.
Seekor anjing yang merasa terusik segera menghilang di balik mesin
pengeruk sampah yang telah lama rusak, menjadi sampah juga.
Truk yang dibawa Sopir Dalim masuk. Dan dalam satu detik suasana
berubah. Kerumunan para pemulung buyar. Mereka berlari di belakang
sampai truk berhenti. Pada detik sampah tercurah terjadilah suasana yang
sangat ribut. Belasan pemulung termasuk Korep dan Carmi berubah
layaknya sekandang ayam kelaparan yang ditebari pakan; berebut, saling
desak, saling mendahului, saling dorong. Mereka berebut mengais sampah
mencari apa saja selain popok, kain pembalut atau bangkai tikus.
Korep mendapat dua mangga separuh busuk. Carmi ceritanya lain. Mata
Carmi terpana ketika ada barang jatuh dari bak truk menimpa kepalanya.
Itu satu sepatu sebelah kanan yang bagus ukuran tanggung. Carmi segera
mengambil sepatu itu. O, dia sering bermimpi memakai sepatu seperti itu.
Dalam mimpinya Carmi melihat betisnya amat bersih dan berisi, dan makin
indah karena bersepatu. Carmi sungguhsungguh berdebar. Dia makin keras mengais-
kais tumpukan sampah dengan tangan untuk menemukan
sepatu yang kiri. Keringat membasahi kening dan pipinya, tetapi Carmi
gagal. Maka dia menegakkan punggung dan melihat sekeliling; barangkali
sepatu yang satunya ada di sana. Atau ditemukan oleh pemulung lain.
Gagal juga. Maka Carmi berhenti lalu meninggalkan timbunan sampah. Dia
bahkan membuang kembali tiga gelas plastik bekas air kemasan yang
sudah didapatnya. Di tepi padang sampah dia coba memasang sepatu itu pada kaki kanan.
Hatinya kembali berdebar karena sepatu itu terasa begitu nyaman di
kakinya. Dilepas dan dibersihkan dengan remasan kertas koran. Setelah
agak bersih dipasang lagi. Carmi berdiri, berputar dan mengangkatangkat
kaki kanan agar dapat memandang dengan seksama bagaimana sepatu itu
menghiasi kakinya. Sungguh, dia berharap besok atau kapan sepatu yang


kiri akan sampai juga ke padang sampah ini. Siapa tahu. Ya, siapa tahu.
Bukankah benda apa saja bisa sampai ke sini?
Korep datang dan langsung tertawa melihat ulah temannya. Carmi
merengut. Dia tersinggung tetapi tidak ingin menanggapi ulah Korep. Atau
mata Carmi lebih tertarik kepada dua mangga di tangan Korep. Carmi lega
karena Korep tanggap. Apalagi Korep tidak meneruskan bicara soal sepatu di kaki kanannya.
“Kita makan mangga saja. Ayo.” Ajak Carmi sambil memasukkan sepatu
yang hanya sebelah itu ke kantung plastik kuning. Korep nyengir, tetapi ia
merasa ajakan Carmi menarik juga. Maka Korep dan Carmi bergerak ke sisi
timur. Di sana ada pohon ketapang yang rindang. Korep mengeluarkan
pisau kecil pemberian Sopir Dalim. Satu mangga ada di tangan kiri. Dengan
sekali gerak tersayatlah mangga itu tepat pada batas yang busuk. Carmi
menatap permukaan sayatan yang berwarna kuning segar. Liur Carmi
terbit, tetapi kemudian bergidik karena ada dua belatung muncul di
permukaan sayatan. Korep tertawa, lalu membuat sayatan lagi, lebih ke
dalam. Kali ini bagian mangga yang busuk benarbenar hilang. “Siapa
bilang mangga separuh busuk tidak enak dimakan, iya kan?” Kata Korep
sambil menyodorkan satu iris daging mangga tanpa busuk kepada Carmi.
“Iya, kan?” Carmi hanya tertawa. Korep menatap deretan gigi Carmi yang
memang enak dilihat. Setiap hari Carmi membawabawa kantung plastik kuning berisi sepatu
sebelah kanan. Akhirnya semua orang tahu gadis kecil itu masih menunggu
sepatu yang sebelah kiri. Mereka merasa iba. Itu hampir mustahil. Namun
kepada Carmi semua pemulung berjanji akan membantunya. Sopir Dalim
bahkan punya gagasan yang luar biasa. Dia akan menyuruh kedua awak
truknya mendatangi setiap rumah di Jalan Anu. Keduanya akan disuruh
bertanya kepada pembantu, sopir, atau tukang kebun di sana, apa mereka
tahu di mana sepatu kiri yang sedang ditunggu Carmi.
Tetapi gagasan Sopir Dalim yang cemerlang itu tidak usah dilaksanakan.
Beberapa hari setelah penemuan sepatu kanan oleh Carmi, Sopir Dalim
digoda oleh kedua pembantunya. Saat itu dia tengah mengemudikan truk di jalan raya. Tiba-
tiba di depan matanya, di luar kaca ruang kemudi ada
sepatu kiri yang bergerak turun naik. Pasti sepatu itu diikat dengan tali
panjang dan ujungnya dipegangi oleh pembantunya di bak truk. Dengan serta-
merta Sopir Dalim menginjak pedal rem. Bunyi derit ban menggasak


permukaan aspal. Di atas bak truk kedua pembantu terhuyung dan rubuh ke depan.
Sopir Dalim melompat turun, langsung melepas kacamata. Kedua awak
truk juga turun. Salah satunya menyerahkan sepatu kiri itu kepada Sopir
Dalim yang kemudian tersenyum lebar. Sambil memegangi gagang
kacamata dia mengucapkan pujian kepada Tuhan sampai tiga kali.
“Kamu temukan di mana?”
“Ya di bak sampah depan rumah di Jalan Anu, nomer berapa, lupa.”
“Cukup. Di mana sepatu kiri ini kamu temukan bukan hal yang penting.”
Sopir Dalim berhenti bicara karena mau melepas kacamata dan
memakainya lagi. Kini dia memijitmijit dahi, terkesan sedang berpikir
keras. Perilaku Sopir Dalim membuat dua pembantunya bertanyatanya.
Mikir tentang apa lagi? Bukankah hanya tinggal satu hal: menyerahkan
sepatu kiri ini kepada Carmi?
“Nanti kamu yang menyerahkan sepatu ini kepada Carmi.” Ini perintah
Sopir Dalim kepada pembantu yang bercelana pendek. Yang ditunjuk
mengangkat muka karena agak terkejut. “Sebaiknya Pak Dalim saja.”
“Ya betul, sebaiknya Pak Dalim saja,” kata pembantu yang bercelana
panjang. Dia mendukung temannya. Sopir Dalim mendesah lalu melepas
kacamata. Sebelum memakainya lagi dia berbicara dengan suara tertekan.
“Ah, kalian tidak tahu. Masalahnya, aku tidak sampai hati melihat Carmi
pada detik dia menerima sepatu ini. Carmi mungkin akan melonjaklonjak, tertawa-
tawa, atau bahkan menjeritjerit karena begitu girang. Barangkali matanya akan berbinar-
binar atau sebaliknya, berlinanglinang. Ah, hanya
karena sebuah sepatu bekas yang diambil dari tempat sampah hati Carmi akan berbunga-
bunga. Aku tidak akan tega menyaksikannya. Itu akan
terasa amat pahit di hati. Kalian bisa tega?”
Tanpa menunggu jawaban Sopir Dalim memutuskan lain. Sepatu kiri itu
akan ditaruh di bawah pohon ketapang di sisi timur. Carmi dan Korep biasa
berteduh di sana pada waktu tengah hari. Semua setuju, maka Sopir Dalim
melompat ke ruang kemudi dengan sepatu kiri itu di tangannya. Kedua
pembantu naik ke atas bak dan truk pun bergerak menuju padang sampah.
Saat matahari tepat di atas padang sampah semua pemulung menepi ke
empat sisi. Mereka akan menata hasil pemulungan, memasukkan ke dalam
karung atau mengikatnya dengan tali plastik. Carmi juga menepi. Dia


mendapatkan belasan gelas plastik bekas kemasan air minum, disusun rapi
sehingga mudah dibawa. Di tangan kiri masih ada kantung plastik kuning
berisi sepatu kanan. Beriringan dengan Korep yang membawa seraup
mangga separuh busuk, Carmi bergerak ke sisi timur menuju kerindangan pohon ketapang.
Ketika udara di padang sampah amat panas, tanpa angin, bau busuk
mengembang ke mana-
mana, burung gereja berdatangan, juga anjing_anjing; siapakah yang kemudian mende
ngar Carmi tertawa keras diikuti teriakan hore berkali-
kali? Tawa keras itu terasa sebagai pelampiasan rasa
gembira berlebihan sehingga terdengar memilukan hati?
Yang mendengar tawa Carmi belasan pemulung di padang sampah. Dan
hanya mereka pula yang bisa memaknai dengan tepat serta menghayati
sepenuhnya tawa gadis kecil pemulung itu. Maka lihatlah, para pemulung
berdiri dan tersenyum ketika memandang Carmi dan Korep pergi
memnggalkan padang sampah. Carmi tertawatawa, tentu karena ada
sepasang sepatu di kakinya Tetapi kedua bocah pemulung itu mau ke mana
kiranya? Semua warga padang sampah tahu Carmi dan Korep tak punya
rumah untuk pulang.


CERPEN 5
Mereka Mengeja Larangan Mengemis

Ahmad Tohari, Cerpen, Kompas

Mereka lima anak tanggung dan hanya Gupris yang perempuan.
Kelimanya jarang mandi, dan lebih jarang lagi berganti pakaian.
Di antara mereka, Gupris yang paling banyak bergerak dan usil, juga cerewet.
Hanya Gupris pula yang pernah bersekolah meski hanya sebentar.
Dan sekarang kelima anak itu telah berlompatan ke atas bak truk tak berdinding yang mulai
bergerak meninggatkan pangkalan. Setiap pagi mereka berkumpul di pangkalan truk yang di
kelilingi warung-warung, paling banyak warung nasi. Empat anak laki-
laki memang selalu tidur di situ, di lantai emper warung yang sudah tutup atau di mana saja s
esuka mereka. Di malam hari mereka sudah terbiasa dengan banyaknya nyamuk. Tetapi mer
eka sering tidak bisa tidur ketika perut lapar. Gupris tidak ikut tidur jadi gelandangan di pang
kalan. Dia lain. Dia punya rumah kecil di belakang pangkalan. Ada emak, tapi tidak ada ayah
.
Jam tiga pagi adalah waktu yang paling dibenci Gupris. Dia sering terbangun oleh bau wangi
. Dia sering melihat emaknya dini hari sudah mandi, berdandan, pakai bedak, dan bergincu.
Lalu mengambil keranjang tenteng dan bilang mau belanja ke pasar. Pada mulanya Gupris ti
dak peduli. Tapi kemudian dia jadi benci karena emaknya selalu pulang dengan keranjang k
osong. Menornya sudah berantakan. Gupris benci dan makin benci. Jadi sekarang tiap jam se
tengah tiga pagi dia bangun dan pergi ke pangkalan, bergabung dengan empat teman sebelu
m emaknya pulang.
Gupris dan keempat temannya duduk bersila di atas bak truk kosong yang meluncur menuju
pabrik semen. Truk itu besar sekali, jumlah rodanya empat belas, baknya berlantai baja, tidak
berdinding. Satu anak main gendang kecil, satu anak main kecrek, dan satu lagi main gitar b
utut. Jadi ada panggung dangdut berjalan. Para sopir truk tidak pernah marah meski pun lim
a anak jalanan itu sering bikin berisik dengan memukul-
mukul lantai bak. Gupris biasanya nyanyi dangdutan, tapi kali ini dia lebih suka asyik denga
n
HPnya. Dia sudah suka nonton gambar cabul. Rambut Gupris masih dikucir dua.
Mendekati perempatan Karangasu, Gupris bangkit dan berdiri oleng. Dia mengajak keempat
temannya bersiap turun. Bila mereka beruntung, lampu di perempatan pas menyala merah. T
api kali ini tidak. Maka seorang anak yang tidak sabar terjun lewat sisi samping. Dia terbanti


ng dan langsung mengaduh. Gupris lari ke depan untuk memukul-
mukul atap kabin truk. Akhirnya truk berhenti setelah menyeberang perempatan. Sopirnya
melongok ke belakang, tapi tidak marah. Empat anak melompat turun. Mereka mau menolon
g teman yang duduk kesakitan, tapi kendaraan sangat
ramai. Gupris bertindak, bergerak ke tengah jalan. Dia mengangkat tangan tinggi-
tinggi dan minta peluang untuk menyeberang. Panas matahari mulai menyengat.
Lima anak tanggung yang jarang mandi itu berjalan menyingkir dari perempatan. Yang satu
dituntun menuju tempat yang terlindung dan ditinggal sendiri di sana. Gupris mengajak tiga t
eman kembali ke sudut perempatan. Gendang dari pipa pralon dengan membran karet ban m
ulai berdebam. Kecrek dan gitar butut mulai berbunyi. Gupris siap dangdutan. Tetapi tiba-
tiba dia berhenti bergerak. Dia melihat sesuatu; ada yang berubah di sudut perempatan itu. D
i dekat mereka telah terpancang sebuah papan pengumuman. Tulisannya hitam di atas papan
kayu bercat putih. Berbeda dengan teman-
temannya yang tidak tertarik karena tidak bisa membaca, Gupris lain. Dia ingin membaca tul
isan itu. Dia mulai mengeja. Teman-
temannya mendekat dan berdiri di belakangnya untuk menguping. “Barang siapa menge-
mis dan mengamen… dipidana… kurung_an…”.
Gupris berhenti, lalu berbalik menghadap temanteman.
“Dipidana itu apa? Dipidana kurungan artinya apa?” tanyanya. Keempat anak laki-
laki itu nyengir lalu bergantian menggeleng. Semua tidak tahu. Mereka hanya saling pandan
g. Gupris kesal dan jadi merasa percuma. Maka Gupris mengajak teman-
temannya pergi. Tetapi mereka mendadak berhenti. “Nah, baca itu! Kalian anak-
anak liar yang kerjanya keluyuran, harus baca itu. Harus!” Gupris dan teman-
temannya serentak menoleh ke samping. Ada seorang hansip keluar dari warung nasi sambil
membersihkan mulut dengan punggung tangan. Di atas saku kanan bajunya tersulam jelas na
ma Karidun. Dia bergerak setengah berlari. Dan berhenti, pasang gaya. Suara kerasnya men
gatasi bunyi mobil dan motor. Masih ada remah nasi atau ampas kelapa di sudut bibirnya. Sis
a makanan terus berjoget mengikuti gerak mulut ketika hansip itu bicara. Itu pemandangan y
ang membuat Gupris menahan tawa.
“Teruskan baca. Harus!” kata hansip Karidun. Tangannya menunjuk ke papan di sana denga
n gaya komandan. “Aku petugas keamanan, eh, sekuriti dari Dinas Sosial. Aku yang memasa
ng papan itu tadi pagi. Untuk orang-
orang semacam kalian. Tahu? Ingat, aku sekuriti dari Dinas Sosial, tahu?”


Lengang, Gupris berhenti, wajahnya buntu. Lalu menoleh ke belakang ke arah teman-
temannya.
“He, kenapa berhenti. Baca terus. Aku ini sekuriti. Dan menyuruh kamu membaca. Ayo teru
s,” seru hansip Karidun, kali ini dengan suara lebih keras. “Dipida-
na, itu artinya apa, Pak?” tanya Gupris dengan gaya yang biasa saja. Meskipun masih gadis k
ecil yang jarang mandi, Gupris berani cengar_cengir kepada hansip Karidun yang maunya dis
ebut sekuriti.
Lengang lagi. Hansip Karidun kelihatan tidak siap menjawab pertanyaan Gupris.
Wajahnya berubah-
ubah. Seperti orang gagap, bingung, tapi alisnya mengeras. Kemudian memutar badan sampi
l mengusap-
usap kening. Akhirnya dia kembali tegak menghadap kelima anak jalanan itu. Dia juga men
ggagahgagahkan diri. “Aku ini petugas sekuriti. Iya, kan?” “Ya!” jawab Gupris cepat sekali.
“Jadi, menurut saya, dipidana pasti tidak sama dengan diberi dana. Dipidana mungkin sama
dengan dihukum. Ya. Dipidana kurungan sama dengan dihukum kurung, dibui, dipenjara. Ta
hu? Itulah, maka kalian jangan ngemis dan ngamen terus. Seharusnya kalian bersekolah. Jadi

kalian bisa seperti saya yang sekuriti dan tahu dipidana itu artinya apa.”
Gupris diam sejenak. Lalu berbalik lagi menghadap teman-
teman. “Kalian dengar, kita seharusnya sekolah.”
“Sekolah dapat uang apa tidak?” potong seorang anak.
“Ah, dasar! Sekolah, ya, tidak dapat uang, malah bayar,” jawab Gupris.
“Wah, susah kalau begitu? Tidak dapat uang? Lalu kita beli makan pakai apa? Enakan ngam
en terus, ngemis terus, bisa makan terus.”
“Hai, apa?” seru hansip Karidun dengan muka dibuat galak. “Kamu sudah saya kasih tahu, m
engemis dan mengamen dipidana kurungan. Dipidana kuru-
ngan 30 hari dan didenda 50 juta rupiah! Kamu dengar itu?”
Wajah Gupris ciut. Tapi kemudian tersenyum samar karena melihat sisa makanan di sudut bi
bir Karidun berjogetjoget lagi.
Mengapa bisa begitu?” tanggap Gupris lagi. “Mengemis bukan nyopet atau mencuri, kan?”
“Ya, tapi melanggar larangan. Siapa saja yang melanggar larangan pasti dipidana, ya dihuku
m.” “Mengapa bisa begitu? Siapa yang membuat larangan?”
“Nah, saya sekuriti. Maka saya tahu siapa yang membuat larangan mengemis itu: Bapak Wal
i Kota dan para dewan.” “Wali Kota itu apa?”
“Dasar anak liar. Wali Kota adalah pejabat penting.” “Para dewan itu orang juga?”


“Iyyya. Nah dengar, saya sekuriti mau menerangkan semua. Dewan itu wakil rakyat, jadi wa
kil kalian juga.”
Alis Gupris merapat. Bingung dia. Tapi setidaknya dia sudah tahu, dewan itu sejenis manusi
a juga. Dan mereka bersama wali kota membuat larangan, siapa mengemis dan mengamen di
pidana kurungan. “Ya, ya. Kami mengemis dan mengamen saban hari. Tapi kami belum pern
ah dihukum.” Gupris nyengir. Empat temannya tertawa.
“O, jadi kalian minta dihukum. ya?” Karidun sibuk mencari HP di sakunya. Mulutnya komat
kamit dan ampas itu belum tanggal juga dari sudut bibirnya. Gupris dan keempat temannya t
ertawa lagi. “Tunggulah, saya akan panggil mobil satpol PP buat menggaruk kalian. Tunggu
saja. Saya sekuriti yang memanggil satpol PP. Jadi mereka akan datang segera.”
“Satpol PP itu apa?” Gupris menatap Karidun. Tapi tak ada jawaban.
Ketika Karidun sibuk berHP. Gupris berbalik menghadap ke teman_temannya. Dia berbisik-
bisik. Empat temannya mengangguk bersamaan. Mereka kemudian melirik ke samping. Lam
pu jalan sedang menyala merah.
Dua truk besar yang kosong dengan bak terbuka dan satu mobil bagus berhenti. Lampu berga
nti menyala kuning, lalu hijau. Gupris bergerak paling cepat, diikuti yang lain. Mereka melo
mpat cekatan seperti munyuk, naik ketika truk besar dengan bak tanpa dinding itu mulai berg
erak. Mereka kemudian ramairamai melambaikan tangan kepada hansip Karidun.
“Hai Pak Hansip, kami mau ke Tegal, terus Cirebon. Terus ke…, terus, terus…. Kalau mau
menghukum, kejar kami ke sana, ya, Pak?” Gupris berseru sekerasnya sambil tertawa tergela
k. Keempat temannya berjoget ria di atas truk yang terus berlari. Suara Gupris terus terdenga
r, tapi makin lama makin samar. Truk pengangkut semen itu menjauh, terus menjauh ke
utara menuju Tegal.
Perempatan Karangasu tetap ramai, tetapi telah ditinggalkan oleh Gupris dan empat orang te
mannya. Kelima anak jalanan yang masih bocah itu telah pergi berkelana. Mereka akan kelu
yuran Tegal, Cirebon, atau entah di mana lagi. Hansip Karidun masih berdiri di sudut perem
patan. Dia lama menatap papan pengumuman larangan mengemis yang baru dipasangnya ta
di pagi. O, begitu dipasang papan berukuran enam puluh kali seratus sentimeter itu langsung
terbukti keampuhannya. Lima anak jalanan telah menyingkir dari perempatan Karangasu. Ha
nsip Karidun bangga karena merasa telah melaksanakan tugas dengan baik. Atau, entahlah.
Karena bayangan wajah Gupris yang imut-
imut dengan dua kepang rambut terus hadir di rongga mata. Suara Gupris ketika mengeja de
ngan suara terbat-bata, “… dipidana
kurungan itu apa?”, juga masih terngiangngiang di dalam telinga.


Satuan Pendidikan : SMKN 1 Bukitkemuning
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/ Semester : XI/ 2 (DUA)
Materi Pokok : Teks Drama

KOMPETENSI DASAR INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI (IPK)
3.18 Mengidentifikasi alur cerita, 3.18.1 Menyebutkan alur cerita, babak demi
babak demi babak dan konflik
dalam drama yang dibaca babak, dan konflik dalam drama yang
dibaca (C1)

3.18.2 Mengidentikasi alur cerita, babak demi
babak, dan konflik dalam drama yang
dibaca (C1)

TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah melakukan kegiatan pembelajaran melalui pendekatan saintifik, model discovery
learning, peserta didik dapat menganalisis alur cerita, babak demi babak, konflik, penokohan
dalam drama yang dibaca dan terampil menyusun tanggapan terhadap drama yang telah
dibaca, dengan rasa ingin tahu, percaya diri, kerja keras, tanggung jawab, bersikap
bersahabat, komunikatif dan kolaboratif selama proses pembelajaran.


Langkah-Langkah Kegiatan

1. Bacalah naskah drama yang berjudul “Epilog”, yang telah diberikan!
2. Naskah drama juga dilampirkan pada LKPD.
3. Analisis alur cerita, babak demi babak, konflik, dan penokohoan dalam naskah yang

berjudul “Epilog” dengan berkolaborasi bersama teman kelompok anda dalam kegiatan
diskusi!
4. Jabarkan hasil diskusi Anda dalam LKPD di bawah ini!
5. Berikan tanggapan atas naskah drama yang telah dibuat!

Materi Ajar

Unsur-unsur drama terdiri atas:

1. Tema, merupakan hal yang mendasari sebuah cerita dalam drama
2. Alur, merupakan jalan cerita dalam drama
3. Latar, merupakan hal yang melatarbelakangi cerita dalam drama
4. Tokoh, merupakan pemeran dalam cerita dalam drama
5. Konflik, merupakan masalah yang terdapat dalam cerita dalam drama
6. Amanat, merupakan pesan yang terdapat dalam drama
7. Dialog, merupakan bentuk penyampaian cerita yang dilakukan oleh para pemain.


TEKS DRAMA

ELOPING
PROLOG
Juleha adalah anak Pak Abdul yang menjadi bunga desa di kampungnyanya. Banyak lelaki
yang menyukai Juleha salah satunya anak seorang konglomerat dari Jakarta yang bernama
Pak Andre. Pak Andre punya anak yang bernama Randy yang orangnya kecil dan dekil lagi.
Randy sangat menyukai Juleha namun Juleha tidak menyukai Randy. Juleha menyukai
seorang pemuda didesanya yang bernama Mang Mudin. Juleha dan Mang Mudin sudah lama
menjalin kasih namun ditentang oleh ayah Juleha yaitu Pak Abdul. Bagaimanakan cara
Juleha dapat mempertahankan jalinan kasihnya dengan Mang Mudin diantara banyaknya
penghalang?.
Saksikan Ceritanya Dalam Drama Berikut ini……

BABAK I
Di pasar yang begitu ramai, Juleha sedang mondar-mandir mencari Mang Mudin yang
sudah dari tadi ditunggunya.

Juleha : (sambil mondar-mandir dan mencari-cari) “mana sih mang Mudin? adu…lamanya”
Mang Mudin : ( berteriak sambil melambaikan tangan kearah Leha) “Leha…Leha…Leha…”
Juleha : (berteriak dan melambaikan tangan juga) “Mang Mudin…,Mang…Mudin”
Mang Mudin : (berlari kearah Juleha. Kakinya tersangkut dan ia pun terjatuh)”adu…adu..”
Juleha : (menolong Mang Mudin) “adu..Mang Mudin hati-hati dong”
Mang mudin : (sambil duduk) “ngak apa-apako Neng Leha” (tersenyum)
Juleha dan Mang Mudin berdiri bersama sambil bertatapan dan berpegangan tangan
Mang Mudin : (sambil bernyanyi)”pandangan matamu menarik hati” Juleha : (sambil tersipu
malu)
Mang Mudin : (menyanyi lagi) “Oh senyumanmu menarik hati”
Juleha : (sambil memukul lengan Mang Mudin) “ah.. Mang Mudin bisa aja. Leha jadi malu”
Mang Mudin : “Leha… jalan-jalan yu..”
Juleha : “iya.. mumpung babe ngak tau”


Mang Mudin dan Juleha pun jalan-jalan kemudian duduk-duduk dipinggir pematang
sawah

Juleha : “Mang mudin..”

Mang Mudin : “apa..pujaan hatiku…”

Juleha : “Leha mau nanya sesuatu”

Mang Mudin : “Apa itu… sweety ku”

Juleha : “Mang Mudin cinta ngak ama Leha?”

Mang Mudin : “isi hati Mang Mudin tu seperti ini. demi cintaku padamu Neng Leha, pohon
kelapa kan kudaki, sungai kan kusebrangi, dan hati ayam akan ku beri”

Juleha : “a…Mang Mudin lebay de.., Leha serius ni”

Mang mudin : “hehehehe… bercanda ko”(berdiri dan berpuisi untuk Leha) “Neng Leha yang
yang manis semanis madu, senyummu melunturkan imanku, bibirmu bagaikan gantungan
kunci tempat kunci hatiku bergantung, dan tatapan matamu membuat hatiku bisa keluar dari
dadaku”

Juleha : “a….. Mang Mudin

Mang mudin : (duduk didekat Leha)”Mang Mudin serius Neng Leha. Neng Leha dengar
tidak?”

Juleha : “dengar apa?”

Mang mudin : “suara jantung Mang Mudin yang bunyinya dagdigdung dagdigdug”

Juleha : “a.. Mang Mudin bisa aja. trus bagaimana ni Mang Mudin, babekan ngak setuju
dengan hubungan kita”

Mang mudin : “tenang aja Neng Leha, pokoknya klo babe Neng Leha ngak setuju, Mudin
akan menghadap kedepan babe Neng Leha dan bilang, saya akan mundur saja”

Juleha : “lo.. kok mundur sih..?”

Mang mudin : “e..salah-salah, maksud Mang Mudin, Mang Mudin akan tetap
mempertahankan Neng Leha meski si Babon sapi Mang Mudin itu harus ikut dijual buat kita
nikah”

Juleha : (tersipu malu)”Mang Mudin so sweet”

Sementara mereka asik berbicara. Tiba-tiba Pak Abdul babe Juleha datang.

Pak Abdul :(marah dan berteriak) “Leha…”

Juleha dan Mang Mudin terkejut

Pak Abdul : “ternyata kalian ada disini ya.. berdua-duaan”

Juleha : “e……babe”


Pak Abdul : “babe babe, katanya mau kepasar, tak taunya pacaran disini ya sama gembala ini.
Mang mudin : “Maaf be”
Pak Abdul : “maaf.. maaf.., pokoknya saya tidak setuju klo kamu selalu mengganggu Leha” J
uleha : “Mang Mudin ngak ganggu Leha ko..”
Pak Abdul : “sudah…,pokoknya sekarang kamu kembali kerumah” (sambil menyeret Leha)
Mang Mudin : (sambil menarik tangan Leha) “be…babe… dengar dulu, aku serius ma Neng
Leha, aku cinta sama Neng Leha”
Pak Abdul : (berhenti berjalan) “cinta…cinta…, kamu pikir orang bisa kenyang dengan cinta.
sudah, minggir” (mendorong Mang Mudin)
Juleha : “ha….!!!! Mang Mudin…. Mang Mudin….” Mang Mudin : “Neng Leha……Neng
Leha….”

BABAK 2

Di kamar, Juleha sedang menangis meratapi nasibnya.
Juleha : “Huhuhuhu….huhu…. (sambil menangis)
Bu Sari : (duduk dekat Juleha) ”sudah….! babemu memang begitu”
Juleha : “tapi Babe tidak adil bu”
Bu Sari : “babemu Cuma mau yang terbaik buat kamu”
Juleha : “tapi Mang Mudin udah yang terbaik buat Leha.., Mang Mudin tulus mencintai
Leha..”
Bu Sari : “iya.. ibu tau, tapi kamu juga tidak boleh menentang babe kamu. kamu mau
durhaka”
Pak Abdul : (masuk kekamar Juleha) “sudah bu! tidak usah lagi menasehatinya. klo bapak
tidak tegas seperti ini mungkin kita sudah kehilangan anak semata wayang kita. Dan kamu
Leha.., babe akan jodohkan kamu dengan anak seorang pengusaha coklat dari Jakarta”
Juleha : (kaget dan berdiri) “apa…! Leha ngak mau…, Leha hanya cinta sama Mang Mudin”
Pak Abdul : “a…. pokoknya kamu harus mau. selama kamu tidak setuju, babe akan
mengurung kamu didalam kamar”
Juleha : “ apa… babe tidak adil! (memeluk ibu) “bu… bagaimana ini”
Bu Sari : (memeluk Leha) “untuk sementara kamu ikuti kata babe kamu dulu keluarga Pak
Andre pun datang
Pak Andre : “assalamu alaikum”


Pak Abdul : “waalaikummussalam wr.wb”
Pak Andre : “Pak Abdul…”
Pak Abdul : “Pak Andre” (sambil berpelukan) “silahkan duduk , mari silahkan duduk bu, nak
Randy
Pak Andre : “iya terima kasih pak”
Pak Abdul : “bu…. Pak Andre dan keluarganya sudah datang”
Bu Sari : “iya… sebentar” Pak Andre : “bagaimana kabarnya keluarga disini”
Pak Abdul : “baik-baik saja”
Bu Sinta : “klo nak Lehanya bagaimana kabarnya”
Pak Abdul : “o… baik juga bu”
Bu Sinta : “nak Lehanya mana?”
Pak Abdul : “sebentar saya panggilkan. bu… Leha mana?
Bu Sari : (keluar dari kamar) “o… dia sedang bersih-bersih dikamarnya”
Pak Abdul : ”maaf ya bu,pak mungkin Leha nya malu ketemu sama nak Randy”
Pak Andre : “tidak apa-apa kok pak. na.. pak perkenalkan, ini anak saya Randy”
Randy : “perkenalkan nama saya randi” (gagap dan sekali-kali membuka tai hidungnya)
Pak Abdul : “o.. iya nak”
Randy : “Lehanya mana pak…?” (gagap)
Bu Sari : “sebentar saya panggilkan”
Pak Abdul : “sebentar ya nak Randy” Juleha dan Bu Sari keluar dari kamar
Pak Abdul : “na..Leha, ini nak Randy,ayo kenal” Randy dan Leha bersalaman
Randy : “saya Randy” (gagap)
Juleha : “Leha…” (judes)
Randy : “Neng Leha.. cantik banget…, mau ngga jadi istri mas Randy?”
Juleha : “ih…amit-amit deh O..G..aaaaa”
Randy : “Neng Leha kok gitu sih….”
Pak Abdul : “iya kok kamu gitu Leha”


Juleha : “Leha ngak mau dijodohin sama orang ini yang udah gagap, jorok, kecil,dekik,
hidup lagi….! pokoknya Leha ngak mau” (sambil berlari kekamarnya)
Pak Abdul : “Leha..! maaf ya Pak,Bu, Nak Randy”
Pak Andre : “ngak papa ko pak.mungkin nak Leha sedang syok

BABAK 3

Di kamar Juleha sedang meratapi nasibnya, tiba-tiba ada suara Mang Mudin.
Mang Mudin : “Neng Leha…Neng Leha..”
Juleha : (kaget) “siapa itu”
Mang Mudin : “ini aku Neng Leha, Mang Mudin”
Juleha : “ha… Mang Mudin?” (langsung membuka jendela kamarnya) “Mang Mudin”
(berteriak)
Mang Mudin : “sttt.. jangan ribut, nanti babe dengar lagi”
Juleha : “o.. iya iya..”
Mang Mudin : “Neng Leha, si babon belum berhasil mang jual jadi…Mang Mudin belum
berani melamar Neng Leha”
Juleha : “a… pokoknya Leha ngak mau tahu pokoknya kita lari aja”
Mang Mudin : “ayo..” (memegang tangan Leha sambil lari-lari ditempat)
Juleha : “Mang Mudin kenapa?”
Mang Mudin : “lo… katanya mau lari..”
Juleha : “adu.. maksud Leha tu lari.., melarikan diri. klo perlu kita kawin lari aja”
Mang Mudin : “apa…, jangan Neng Leha.itu kan dosa,bisa durhaka sama orang tua”
Juleha : “memangnya Mang Mudin mau klo Leha dijodohkan ama orang lain?”
Mang Mudin : “dijodohkan….”
Juleha : “iyaa… yang lebih parahnya lagi orangnya gagap,jorok, kecil, dan dekil lagi”
Mang Mudin : “hahahaha…”
Juleha : “Mang Mudin kok ketawa sih…! ayo cepat kita lari aja supaya si Randi itu nyaho.. dia
kejar aku dia pun tertipu. ayo kita lari”
Mang Mudin : “iya…iya.. (bergegas lari) eh.. tapi tunggu dulu. dosanya kita tanggung bareng-
bareng ya neng.”
Juleha : “iya…”


Juleha pun lari dari rumah bersama Mang Mudin…. sementara itu Bu Sari masuk
kekamar Leha.

Bu Sari : “Leha…Leha…!” (sambil mencari-cari Leha) “pak…..Leha ngak ada”
Pak Abdul : “kenapa bu kenapa”
Bu Sari : “Leha ngak ada pak mungkin dia lari” Pak Abdul : “apa…. Leha……” (berteriak)

SELESAI


SOAL TUGAS KELOMPOK

Nama Kelompok : ....................................
Anggota : ....................................
: ....................................
Kelas : ....................................
: ....................................
: ....................................
: ....................................

Berdasarkan naskah drama yang berjudul “Epilog” di atas, kerjakanlah soal-soal
berikut!

1. Analisislah alur cerita, babak demi babak, konflik, dan tokoh yang terdapat dalam naskah
drama tersebut!

No BAGIAN YANG DIANALISIS BAGIAN DALAM CERITA
1 ALUR CERITA

2 BABAK DEMI BABAK

3 KONFLIK
4 TOKOH


2. Susunlah tanggapan atas naskah drama “Epilog” di atas, dengan mengisi tabel pertanyaan
berikut!

NO HAL YANG DIPERTANYAKAN TANGGAPAN
1 Naskah drama “Eloping”

merupakan naskah drama yang
bergenre apa?

2 Bercerita tentang apakah naskah
drama “Eloping” tersebut?

3 Apakah Bahasa dalam naskah
drama “Eloping” tersebut muda
dipahami?

4 Jika Anda dalam posisi tokoh
utama, apa yang akan Anda
lakukan untuk menyelesaikan
masalah tersebut?

5 Setujuhkah Anda atas perilaku
yang dilakukan tokoh utama?


KUNCI JAWABAN TUGAS KELOMPOK

No BAGIAN YANG DIANALISIS BAGIAN DALAM CERITA
1 ALUR CERITA Alur cerita dalam naskah drama “Epilog” yaitu

alur maju karena setiap adegan dan peristiwanya

dimulai dari awal sampai akhir

2 BABAK DEMI BABAK Babak 1: (Merupakan awal konflik dalam
naskah drama ini terjadi).
Menceritakan tentang pertemuan Juleha dan
Mang Mudin yang diketahui oleh Ayah Juleha
yaitu Pak Abdul. Pak Abdul sangat marah
dengan kelakuan Juleha. Ia kemudian menyeret
Juleha pulang setelah memaki Mang Mudin.
Rasa kesal ayah Juleha pun sampai terbawa ke
rumah. Ia tak segan-segan mengurung Juleha di
kamarnya agar tidak bertemu lagi dengan MAng
Mudin.

Babak 2: (Merupakan bagian dalam drama
yang menggambarkan konflik yang lebih
memanas)
Menceritakan tentang keluarga Pak Andre sang
pengusaha kaya yang datang dari kota untuk
bertemu dengan sahabat lamanya yaitu Pak
Abdul (Ayah Juleha) yang juga mempunyai
maksud untuk menjodohkan Juleha dengan
anaknya yaitu Randi. Rasa kesal ditunujukkan
pula oleh Juleha ketika dikenalkan dengan
seorang lelaki bernama Randi yang ternyata
bertubuh dekil dan gagap. Sontak saja Juleha
tidak menerima perjodohan itu.

Babak 3: (Merupakan bagian puncak
masalah yang berakhir ke ending)
Menceritakan kondisi Juleha yang bersedih
dikamarnya dan tiba-tiba di datangi oleh Mang
Mudin. Meski dalam keadaan bercanda ria untuk
menghibur Juleha. Juleha yang sangat bahagia
Mang Mudin datang menemuinya, akhirnya Ia
mengungkapkan masalah yang dihadapinya dan


NO BAGIAN YANG DIANALISIS BAGIAN DALAM CERITA
3 KONFLIK
4 TOKOH meminta Mang Mudin untuk melarikan diri
bersamanya dan kawin lari juga.Karena rasa
cinta Mang Mudin pada Juleha, akhirnya Ia pun
menuruti keinginan Juleha. Mereka pun
melarikan diri bersama. Ayah dan Ibu Juleha
pun kaget dengan todak ditemukannya lagi
Juleha di kamarnya karena Ia telah melarikan
diri.
Konflik dalam naskah drama “Eloping” ini
berawal ketika seorang anak gadis bernama
Juleha, yang merupakan anak seorang kepala
desa. Ia mencintai seorang pemuda desa yang
miskin bernama Mang Mudin. Namun hubungan
kedua sejoli tersebut ditentang oleh ayah Juleha
yang ingin menikahkan putrinya dengan anak
seorang pengusaha kaya dari kota. Juleha
menentang keinginan ayahnya dan memilih

untuk kawin lari dengan Mang Mudin.

Para tokoh dalam naskah drama “Eloping” ini
yaitu:
1. Juleha

Gadis desa yang cantik jelita, anak seorang
kepala desa yang bernama Pak Abdul dan Bu
Sari
2. Mang Mudin
Pemuda desa yang hidup miskin dan
berpakaian sederhana, serta hidup sebatang
kara
3. Pak Abdul
Ayah Juleha yang juga seorang Kepala Desa
4. Ibu Sari
Ibu dari Juleha, yang juga merupakan istri
dari Pak Abdul
5. Pak Andre
Ayah Randi yang juga seorang pengusaha
kaya dari kota dan merupakan sahabat dari
Pak Abdul (Ayah Juleha)
6. Ibu Sinta
Ibu dari Randi, yang juga merupakan istri
dari Pak Andre
7. Randi
Seorang pemuda yang dekil dan gagap, anak
dari Pak Andre dan Bu Sinta.


2. Susunlah tanggapan atas naskah drama “Epilog” di atas, dengan mengisi table pertanyaan
berikut!

NO HAL YANG DIPERTANYAKAN TANGGAPAN

1 Naskah drama “Eloping” merupakan Naskah drama yang berjudul “Eloping”

naskah drama yang bergenre apa? merupakan naskah drama yang bergenre

komedi. Hal itu terlihat dari jalan ceritanya

yang selalu menampilkan adegan adegan lucu.

2 Bercerita tentang apakah naskah Naskah drama “Eloping” bercerita tentang

drama “Eloping” tersebut? seorang anak gadis bernama Juleha, yang

merupakan anak seorang kepala desa. Ia

mencintai seorang pemuda desa yang miskin

bernama Mang Mudin. Namun hubungan

kedua sejoli tersebut ditentang oleh ayah

Juleha yang ingin menikahkan putrinya

dengan anak seorang pengusaha kaya dari

kota. Juleha menentang keinginan ayahnya

dan memilih untuk kawin lari dengan Mang

Mudin.

3 Apakah Bahasa dalam naskah drama Bahasa dalam naskah drama “Eloping”
“Eloping” tersebut muda dipahami? tersebut muda dipahami karena bahasa yang

digunakan merupakan bahasa sehari-hari

4 Jika Anda dalam posisi tokoh utama,
apa yang akan Anda lakukan untuk Jawaban merupakann kreatifitas siswa
menyelesaikan masalah tersebut?

5 Setujuhkah Anda atas perilaku yang Jawaban merupakann kreatifitas siswa
dilakukan tokoh utama?


Click to View FlipBook Version