KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat bagi penulis sehingga “E-modul Pembelajaran” ini dapat
selesai dengan baik. Tidak lupa penulis penulis mengucapkan
terima kasih kepada Bapak Najib Jauhari, S.Pd, M.Hum sebagai
dosen pembimbing dan juga orang tua yang senantiasa
mendukung penulis sehingga penulisan e-modul ini tidak
menemui kendala yang berarti. Tanpa kehadiran mereka,
mungkin pembuatan e-modul ini tidak akan terselesaikan dengan
lancar.
Penulis berharap dengan dibuatnya e-modul ini, akan
memberikan manfaat kepada masyarakat pada umumnya dan
kepada kepada penulis khususnya. Dengan e-modul ini
diharapkan guru, dosen, pengajar dan bahkan siswa yang
berminat untuk membaca e-modul sehingga pembelajaran dapat
terbantu.
Namun penulis juga seorang insan biasa yang tak luput dari
kesalahan baik yang disengaja atau tidak disengaja. Untuk itulah,
jika dalam pembuatan e-modul pembelajaran ini terdapat banyak
kesalahan dan kekeliruan, mohon pembaca meberikan kritik yang
membangun bagi penulis. Demikian pengantar dari penulis,
selamat membaca.
Malang, 04 July 2020
Penulis
i
DAFTAR ISI
Kata pengantar............................................................................. i
Daftar Isi....................................................................................... ii
Pendahuluan ................................................................................ iii
Tujuan pembelajaran .................................................................. v
Indikator keberhasilan ................................................................ vi
MATERI PEMBELAJARAN 1 MASJID SEBAGAI MEDIA DAKWAH
A. Teori Masuk Islam ke Indonesia ............................................ 2
B. Pengertian Masjid ................................................................... 10
C. Fungsi masjid........................................................................... 12
D. Rangkuman............................................................................. 16
E. Evaluasi ................................................................................... 16
MATERI PEMBELAJARAN 2 ASAL USUL MASJID JAMI‟ SUMENEP
A. Letak Geografis Masjid Jami‟ Sumenep................................ 22
B. Sejarah berdirinya Masjid Jami‟ Sumenep........................... 23
C. Rangkuman............................................................................. 29
D. Evaluasi ................................................................................... 29
MATERI PEMBALAJARAN 3 ARSITEKTUR MASJID JAMI‟ SUMENEP
A. Arsitektur Masjid di Dunia dan Indonesia............................ 35
B. Arsitektur Masjid Jami‟ Sumenep .......................................... 40
C. Makna Filosofi Arsitektur Masjid Jami‟
43
Sumenep................................................................................... 50
D. Rangkuman.............................................................................. 50
E. Evaluasi .................................................................................... 55
Daftar Pustaka...............................................................................
ii
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Makalah ini berisikan tentang pengembangan e-modul
pembelajaran, dimana dalan suatu proses belajar mengajar
memerlukan sebuah alat/media, metode dan model yang baik,
agar tercipta suasana belajar yang interaktif, menyenangkan dan
harapannya bias berhasil, mampu membuat siswa paham dan
suasana kelas menjadi hidup. Pembelajaran menjadi suatu
masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan khususnya mata
pelajaran sejarah. Hal demikian disebabkan oleh lemahnya proses
pembelajaran yang terjadi di sekolah. Dalam proses pembelajaran,
siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan
berfikir. Proses pembelajaran didalam kelas lebih banyak
diarahkan kepada kemampuan untuk menghafal informasi, siswa
dipaksa untuk mengingat dan menumpuk berbagai informasi
tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya dan
menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, salah satu solusi yang ditawarkan untuk
mengatasi lemahnya pembelajaran tersebut adalah dengan
membuat dan mengembangkan e-modul pembelajaran yang bisa
dijadikan sebagai sumber belajar. E-modul ini sangat praktis
karena bisa dibuka dan digunakan dimana saja tergantung pada
penggunaan Smartphone tidak harus bergantung pada guru
(teacher centered). Pembelajaran dengan menggunakan e-modul
ini siswa belajar secara mandiri dan kreatif.
iii
TUJUAN PEMBELAJARAN
Dengan adanya media e-modul pembelajaran ini, siswa
diharapkan:
1. Melalui pembelajaran, siswa diharapkan mampu menjelaskan
dan memahami proses masuk dan berkembangnya Islam di
Indonesia
2. Melalui pembelajaran, siswa diharapkan mampu memahami
fungsi masjid
3. Melalui pembelajaran, siswa diharapkan mampu pengertian
masjid.
4. Melalui pembelajaran dan refleksi, siswa diharapkan mampu
memahami materi.
iv
INDIKATOR KEBERHASILAN
Siswa dinyatakan berhasil mempelajari e-modul ini apabila
telah mampu menjawab soal-soal latihan dalam e-modul ini,
tanpa melihat atau membuka materi ini dengan nilai minimal 75.
Fasilitator sebagai pembimbing, dapat melakukan uji/tes pada
siswa dengan mengacu pada soal-soal yang ada pada e-modul,
mampu mengembangkan soal sendiri namun tetap mengacu pada
materi yang berkaitan yang ada pada e-modul ini.
Kriteria nilai kelulusan tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
Tidak = 0 (nol) (tidak lulus)
Ya = 75 s.d 100 (lulus)
Kategori kelulusan
75 s.d 89
: Memenuhi kriteria minimal tanpa bimbingan
90 s.d 100: Diatas rata-rata tanpa bimbingan
v
BAB 1
MATERI PEMBELAJARAN 1 MASJID SEBAGAI MEDIA
DAKWAH
1
A. Teori Masuk dan Berkembangnya Agama Islam
Mengenai kedatangan agama Islam ke Indonesia menjadi
diskusi dan perdebatan yang panjang dari para ahli sejarah
mengenai hal-hal pokok Islam seperti asal kedatangan Islam, para
pembawanya dan waktu kedatangannya ke Indonesia. Perdebatan
panjang itu terjadi tak lain karena kurangnya bukti atau data
sebagai landasan penguat dari pemikiran para ahli sejarah.
Kedatangan islam itu sendiri terbagi menjadi tiga teori masuknya
Islam ke Indonesia diantaranya: Teori Gujarat, Teori Mekkah, dan
Teori Persia.
1.Teori Makkah
Teori Makkah ini diajukan oleh Arnold dan para ahli sejarah
lainnya yang menyatakan bahwa agama Islam itu datang ke tanah
Melayu secara langsung dari Arab, pendapat ini dikarenakan
orang-orang Melayu (Indonesia) berpegang pada Madzhab Syafi‟i
yang lahir ditanah Arab. Drewes didalam buku (Munandar,
2009:70) mengatakan bahwa seorang ahli lainnya bernama Veth
menegaskan bahwa orang arab Muslim melakukan perkawinan
dengan penduduk setempat dan mereka berperan dalam
penyebaran Islam di wilayah pemukima yang baru.
Hidayatullah (2013) menyatakan bahwa, “Teori ini juga di
kemukakan oleh Hamka di dalam pidatonya saat Dies Natalis
PTAIN ke-8 di Yogyakarta pada tahun 1958”. Didalam pidatonya
tersebut Hamka tidak setuju jika Islam masuk ke Indonesia dari
Gujarat dan Hamka juga menentang pendapat jika islam masuk
Indonesia pada abad ke-13, karena pada abad itu di Indonesia
sudah terdapat politik islam. Hamkapun menyatakan jika pastilah
2
Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M atau abad
pertengahan Hijriyah.
2.Teori Gujarat
Teori Gujarat ini masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad
13 yang berasal dari Gujarat. Drewes mengatakan didalam buku
(Munandar, 2009:68) bahwa,“Orang-orang Arab yang
bermazhab Syafie‟i yang menetap di India itulah yang kemudian
membawa ajaran agama Islam ke Indonesia.” Teori ini
dilanjutakan oleh Snouck Hurgronje yang memaparkan bahwa
Islam menurutnya itu berasal dari India Selatan, pemaparannya
itu ia ambil dari berhasilnya orang Islam menguasai pelabuhan di
India Selatan yang di sana menetapkan seorang muslim sebagai
perantara ajaran Islam. Hal lain yang membuat Snouck semakin
yakin karena orang-orang Islam di Dhaka sebagai perantara
penyebaran agama Islam dari proses perdagangan antara Timur
Tengah dengan Indonesia.
Selain Snouck Hurgronje terdapat ahli sejarah lain yang
sependapat juga dengan teori Gujarat tentang masuknya Islam
yaitu J.P Moquette. Dasar yang menjadikan Moquette sependapat
karena terdapat persamaan bentuk, bahan dan ornamen dari batu
nisan di Pasai, batu nisan Malik Ibrahim, dan batu nisan Al-
Kazaruni di Cambay, Gujarat (Munandar, 2009:69). Berdasarkan
temuan ini batu nisan pada masa itu telah mulai diperjual belikan
bahkan sampai ke Indonesia khususnyaSumatra dan Jawa. Dapat
kita perkirakan jika batu nisan telah di perjualkan hingga sampai
ke Indonesia tidak menutup kemungkinan jika orang Indonesia
mengambil ajaran Islam dari wilayah tersebut.
3
3.Teori Persia
Teori Persia ini mengatakan bahwa proses kedatangan Islam
ke indonesia itu berasal dari Persia atau Iran. Pencetus dari teori
ini adalah Hoesein Djajaningrat seorang sejarawan dari Banten.
Didalam argumentasinya tersebut Hoesein lebih menitikberatkan
pada persamaan Cultur (Budaya) dan tradisi yang berkembang di
antara masyarakat Persia dan Indonesia. Persamaan ini di jelaskan
di dalam buku (Hidayatullah, 2013) seperti:
a. Peringatan Asyura atau 10 Muharram sebagai peringatan Syi‟ah
atas Syahidnya Husein.
b. Nisan pada Malik Saleh pada tahun 1927 dan pada makam
Malik Ibrahim pada tahun 1419 Gresik dipesan dari Gujarat.
c. Pengakuan umat Islam di Nusantara mengenai Madzhab Syafi‟i
sebagai Madzhab utama yang digunakan pada wilayah
Malabar.
d. Kesamaan antara ajaran Syekh Siti Jannar dengan ajaran Sufi
Iran al-Hallaj, meskipun al-Hallaj telah meninggal pada 310 H
atau 922 M akan tetapi ajarannya tetap berkembang dalam
bentuk Puisi.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut diatas dapat
dijelaskan bahwa tidak mudah memastikan dari mana pembawa
pertama ajaran agama islam ke Indonesia. Poesponegoro
(2010:164) menyatakan bahwa, “Oleh karena itu, mungkin lebih
baik dikatakan bakwa pembawa Islam ke Indonesai antara abad
ke-7 sampai ke-13 adalah orang muslim dari Arab, Persia, dan
India.” Islam datang ke Indonesia dengan membawa peradaban
4
baru bagi bangsa Indonesia dengan corak keIslaman yang khusus.
Peradaban itu khususnya kebudayaan berkembang di Indonesia
bersamaan dengan kebudayaan yang telah ada sejak dahulu dan
berkembang beriringan. Serta pada saat penyebaran Islam juga
telah terdapat juru dakwah Islam yang telah berada di Indonesia
khususnya di tanah Jawa yang dikenal dengan Wali Songo(Wali
Sembilan). Pada proses penyebaran Islam Wali Songo tersebut
menggunakan metode dakwah kesenian yang telah dikenal
masyarakat. “Dengan metode dakwah tersebut Wali Songo
tersebut berhasil mengakulturasikan fenomena budaya lama yang
disesuaikan dengan kebudayaan islam, tanpa dirasakan asing bagi
etnis Jawa” (Munandar, 2009:80).
Adanya beberapa teori tentang masuknya Islam. Islam
berkembang dan menyebar ke seluruh pelosok Indonesia melalui
beberapa faktor. Masyarakat Indonesia cenderung memiliki sikap
yang terbuka dalam menerima kebudayaan baru dari luar. Sekitar
abad ke-7 dan ke-8, Selat Malaka sudah mulai dilalui oleh
pedagang-pedagang muslim dan merupakan pusat utama lalu
lintas perdagangan dan pelayaran. Dengan demikian, Malaka
menjadi mata rantai pelayaran yang penting. Perkembangan
pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional mungkin
disebabkan oleh kegiatan kerajaan Islam di bawah Bani Umayyah.
Namun menurut Taufik Abdulah dalam Badri Yatim (2013: 193),
belum ada bukti bahwa pribumi Indonesia di tempat-tempat yang
disinggahi oleh para pedagang muslim itu beragama Islam.
5
Kedatangan Islam di berbagai wilayah Indonesia tidaklah
bersamaan. Kerajaan-kerajaan dan daerah-daerah yang
didatanginya mempunyai situasi politik dan sosial budaya yang
berbeda. Persoalan tentang cara masyarakat Indonesia menjelang
kedatangan Islam bersifat kompleks. Hidayat, Samsuddin,
Rusmana, dan Hakim (2014: 147-148) mengemukakan tiga
persoalan yaitu sebagai berikut.
Pertama, bahwa daerah-daerah yang mendapat sentuhan
Islam tidak sekaligus, tetapi bertahap karena letak geografis
Indonesia yang terdiri atas beribu-ribu pulau. Dengan demikian,
proses persentuhan dengan Islam antara wilayah di Indonesia
berbeda-beda. Kedua, waktu atau saat menerima ajaran Islam
sangat beragam. Ada wilayah-wilayah yang menerima sentuhan
Islam pada abad VII dan VIII masehi dan ada pula wilayah-
wilayah yang mendapatkan ajaran agama Islam pada abad ke-11
M. Selain itu, ada yang memperoleh Islamisasi pada abad ke-14,
15, dan 16 M. Ketiga, pada saat Islam masuk dan menembus
suatu komunitas masyarakat di wilayah-wilayah tertentu, kondisi
politik di masing-masing wilayah tidak sama.
Pada zaman-zaman berikutnya, penduduk kepulauan mulai
masuk Islam, bermula dari penduduk pribumi di koloni-koloni
pedagang muslim. Menjalang abad ke-13 M, masyarakat muslim
sudah ada di Samudera Pasai, Perlak, dan Palembang. Sedangkan
di Jawa dan di Trulaya ditemukan bukti berkembangnya
komunitas Islam yang berada di pusat kekuasaan Hindu Jawa.
Badri Yatim (2013: 193) mengungkapkan perkembangan agama
6
Islam di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu (1)
Singgahnya pedagang-pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan
Nusantara. Sumbernya adalah berita luar negeri, terutama Cina;
(2) Adanya komunitas-komunitas Islam di berbagai daerah
kepulauan Indonesia. Sumbernya, disamping berita-berita asing,
juga makam-makam Islam; dan (3) Berdirinya kerajaan-kerajaan
Islam.
Masuk dan meluasnya Islam ke Indonesia berjalan secara
damai dan penuh toleransi. Salah satu sebabnya adalah karena
pedagang-pedagang yang menyebarkan agama Islam di Indonesia
adalah pedagang-pedagang dari Gujarat India yang tidak fanatik
sifatnya. Islam telah memperlihatkan sifat-sifatnya yang penuh
toleransi. Dengan demikian, agama Islam mudah diterima oleh
bangsa Indonesia dan dengan sifat bangsa Indonesia sendiri yang
ramah dan sangat toleran menyebabkan masuk dan
berkembangnya Islam di Indonesia berjalan secara lancar dan
damai (Daliman, 2012:39).
Proses Islamisasi memang tidak berhenti sampai berdirinya
kerajaan-kerajaan Islam. Tetapi terus berlangsung intensif dengan
berbagai cara dan saluran. Menurut Uka Tjandrasasmita dalam
Badri Yatim (2013:201-204), saluran-saluran islamisasi yang
berkembang ada enam, yaitu:
1.Saluran Perdagangan
Saluran Islamisasi melalui perdagangan ini sangat
menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta
dalam kegiatan perdagangan. Di beberapa tempat, penguasa-
7
penguasa Jawa, yang menjabat sebagai bupati-bupati Majapahit
yang ditempatkan di pesisir utara Jawa banyak yang masuk islam,
karena faktor hubungan ekonomi dengan pedagang-pedagang
Muslim.
2.Saluran Perkawinan
Penduduk pribumi, terutama putri-putri bangsawan, tertarik
untuk menjadi istri saudagar-saudagar Muslim. Sebelum
menikah, mereka diislamkan terlebih dahulu. Setelah mereka
mempunyai keturunan , lingkungan mereka makin luas.
Akhirnya, timbul kampung-kampung, daerah-daerah, dan
kerajaan-kerajaan muslim.
3.Saluran Tasawuf
Dengan tasawuf, “bentuk” Islam yang diajarkan kepada
pendudukpribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran
mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga
agama baru itu mudah dimengerti dan diterima.
4.Saluran Pendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren
maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama,
kiai-kiai, dan ulama-ulama. Di pesantren atau pondok itu, calon
ulama, guru dan kiai mendapatkan pendidikan agama. Setelah
keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-
masing kemudian berdakwah ke tempat tertentu mengajarkan
islam.
5.Saluran Kesenian
Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal
adalah pertunjukan wayang. Sebagian besar cerita wayang masih
8
dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapi di dalam
cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam.
Kesenian-kesenian lain juga dijadikan alat Islamisasi, seperti
sastra (hikayat dan babad), seni bangunan, dan seni ukir.
6.Saluran Politik
Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk
Islam setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh
politik raja sangat membantu tersebarnya Islam. Sedangkan di
Sumatera, Jawa,dan Indonesia bagian Timur, demi kepentingan
politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan
non-Islam. Kemenangan Islam secara politisbanyak menarik
penduduk kerajan non-Islam masuk agama Islam.
Perkembangan agama Islam sejak abad ke-13 makin lama
makin cepat meluas di Kepulauan Nusantara, terutama berkat
usaha penyiar ajaran mistis Islam (sufi). Kontak budaya antara
pusat-pusat penyebaran agama Islam dengan kota-kota
pelabuhan di Indonesia telah membawa gagasan-gagasan para
ahli mistik ternama ke Sumatera Utara dan ke Semenanjung
Malaka. Dalam abad ke-14 hingga abad ke-16 gagasan-gagasan
mistik tersebut sudah sampai di Pulau Jawa (Daliman, 2012: 40).
Peningkatan usaha menyiarkan agama islam dalam abad ke-
15 dan ke-16 lebih didorong oleh motivasi untuk berpacu dengan
penyiaran agama Kristen (Nasrani). Kini penyiaran agama Islam
bergerak ke arah Timur. Kota Malaka tumbuh sebagai pusat
perdagnagan dan pusat penyiaran agama Islam Sementara itu di
daerah Majapahit tumbuh pula Kota Demak dan di Indonesia
9
bagian timur timbul Kota Ternate yang juga menjadi pusat
kegiatan Islam. Dari ketiga pusat inilah agama Islam menyebar
dan meluas memasuki seluruh pelosok Kepulauan Indonesia
(Daliman, 2012: 40).
Dari Malaka, Islam berkembang ke seluruh semenanjung.
Dari Aceh, agama Islam meluas sampai Minangabau dan
Bengkulu. Penyebaran Islam ke sebagian besar Pulau Jawa dimulai
dari Demak. Bantenpun diIslamkan oleh Demak. Kemudian
Banten meluaskan agama Islam ke Sumatera Selatan. Dalam abad
ke-16, di Kalimantan tumbuhlah kerajaan Islam Brunei. Dari
ternate, islam meluas ke seluruh Kepulauan Maluku dan daerah
pantai timur Sulawesi. Dalam abad ke-16, di Sulawesi Selatan
muncullah Kerajaan Gowa. Orang-orang Bugis mempunyai
peranan penting dalam mengislamkan Kalimantan Timur dan
Sulawesi Tenggara, sedangkan Sulawesi Utara diislamkan dari
Selatan dan dari ternate (Daliman, 2012: 41).
Demikianlah maka pada akhir abad ke-16 dapat dikatakan
bahwa Islam telah tersebar dan mulai meresapkan akar-akarnya
di seluruh Nusantara. Sementara itu Bali dan sekitarnya masih
mempertahankan agama lamanya dan terus melanjutkan
kehidupan dan kebudayaan yang bercorak Hindu (Daliman,
2012: 41-42).
B. Pengertian Masjid
Bangunan yang di khususkan untuk melaksanakan sholat
dinamakan masjid, yang artinya “tempat bersujud” perkataan
masjid sujudan, mendapat awalan ma, sehingga menyebabkan
10
perubahan bentuk sajadah, menjadi masjidu, masjid (Gazalba,
1962: 112). Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan
bangunan tempat shalat kaum muslim. Karena kata masjid
berasal dari katanya yang mengandung tunduk dan patuh,
hakikat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang
mengandung kepatuhan pada Tuhan semata.
Kata “Masjid” menurut lidah dan dialek Indonesia kemudian
berubah menjadi “masjid”. Kemudian dibeberapa daerah sebutan
itupun beraneka ragam sesuai dari bahasa dan dialek daerah
masing tersebut. Misalnya di Jawa banyak orang menyebutnya
“mesigit”, di Sunda “masigit”, di Aceh “meuseugit” dan “mesigi”
di Sulawesi Selatan (Tjandrasasmita, 1975: 35). Secara
terminology diartikan sebagai tempat berobadah umat Islam,
khususnya dalam menegakkan shalat. Masjid sering disebut
sebagai Baitullah (rumah Allah SWT), yaitu bangunan yang
didirikan sebagai sarana mengabdi kepada Allah SWT.
1.Pengertian masjid secara sempit
Masjid dalam arti sempit merupakan tempat yang mulia di
sisi Allah SWT. Karena itu Allah memberikan perhatian yang
khusus terhadap tempat tersebut. Hal itu terbukti dengan
banyaknya jajni yang ditebar oleh Allah SWT terhadap orang-
orang yang mau memelihara dan membangun tempat itu. Salah
satu sekian banyak janji itu adalah bahwa Allah akan
membuatkan rumah di surga bagi orang yang menggunakan
hartanya untuk membangun masjid. Janji ini sesuai dengan
sabda Nabi Muhammad SAW “Barang siapa membangun dari
11
harta yang halal sebuah masjid untuk Allah maka Allah mesti
mebangunkan rumah untuknya di Syurga”
2.Masjid dalam arti luas
Masjid dalam arti yang sangat luas adalah semua bumi Allah
SWT ini. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW “… dan
dijadikan semua bumi ini sebagai masjid dan sebagai sesuatu
yang suci-mensucikan” sebab kapan saja kita hendak melakukan
shalat maka dimana saja di bumi Allah ini asal tempat itu suci
tanpa harus mencari masjid atau mushollah.
Masjid dalam arti umum adalah semua tempat yang
digunakan untuk sujud dibumi ini. Sedangkan masjid dalam arti
khusus adalah tempat atau bangunan yang dibangun khusus
untuk menjalankan ibadah, terutama shalat berjamaah. Masjid
yang digunakan untuk melaksanakan shalat jum‟at disebut
Masjid Jami‟. Karena shalat jum‟at digunakan untuk shalat
jum‟at biasanya disebut masjid Jami‟. Tetapi, jika bangunan yang
digunakan untuk shalat lima waktu, biasa dilakukan
diperkampungan, bisa juga dikantor atau di tempat umum
biasanya disebut Musholla (Tjandrasasmita, 1975: 35).
Mushollah bisanya diberi nama Langgar (Jawa Tengah), tajug
(Jawa Barat), meunasah (Aceh), surau di Minangkabau dan
langgara di Sulawesi Selatan.
C.Fungsi Masjid
Kebangkitan umat Islam tak terlepas dari peran masjid
sebagai tempat untuk mengimpun masa dan strategi.
Kebangkitan ini berawal dari masjid menuju masyarakat luas.
12
Karena itu upaya Akulturasi fungsi dan peran masjid pada abad
lima belas adalah sangat mendesak (Urgent) dilakukan umat
Islam. Sebenearnya inti dari memakmurkan masjid adalah agar
menegakkan shalat berjamaah yang merupakan salah satu cara
syi‟ar Islam terbesar. Shalat berjamaah merupakan indicator
utama keberhasilan dalam proses dakwah dan memakmurkan
masjid. Dalam memakmurkan masjid dapat diukur dari antusias
masyarakat yang dating untuk menegakkan shalat berjama‟ah.
Meskipun fungsi utama dari Masjid sebagai tempat untuk
menegakkan shalat, masjid juga dapat dijadikan sebagai tempat
untuk mengajarkan kebajikan (menuntut ilmu), tepat belajar,
merawat orang sakit menyelesaikan hukumli‟an dan lain-lain.
Adapun fungsi masjid pada zaan Nabi yaitu Masjid Nabawi adalah
sebagai berikut (Thoha, 2002):
1. Tempat Ibadah
2. Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-sosial
dan budaya)
3. Tempat pendidikan
4. Tempat santunan social
5. Tempat latihan militer dan alat-alatnya
6. Tempat pengobatan korban perang
7. Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa
8. Aula dan tempat menerima tamu
9. Tempat menawan tahanan, dan
10. Pusat penerangan atau pembelaan agama.
13
Pada zaman Rasulullah, masjid adalah pusat pengembangan
masyarakat dimana setiap hari masyarakat berjumpa dan
mendengar arahan-arahan dari Rasulullah tentang berbagai hal
seperti prinsip-prinsip keberagaman, tentang system masyaraka
baru, juga ayat-ayat Al-Qur‟an yang baru turun. Didalam masjid
pula terjadi interaksi antar pemikir dan berbagai karakter
manusia. Adzan yang dikumandangkan setiap lima kali sehari
sangat efektif untuk mengumpulkan dan mempertemukan
masyarakat dalam membangun ukhuwah Islamiah.
Dari pernyataan diatas dapat diklasifikasikan bahwa fungsi-
fungsi masjid sebagai berikut:
a. Fungsi Keagamaan
1. Sebagai tempat beribadah
(Foto pribadi)
Sesuai dengan namanya masjid adalah tempat untuk bersujud,
maka fungsi utama dari masjid yakni sebagai tempat ibadah
shalat. Sebagaimana diketahui bahwa makna ibadah di dalam
Islam luas menyangkut segala aktivitas kehidupan yang
ditujukan untuk memperoleh ridha Allah SWT, maka fungsi
utama masjid sebagai tempat ibadah/ shalat.
14
2. Sebagai tempat menuntut ilmu
Masjid juga dapat dipergunakan sebagai tempat untuk
menuntut ilmu agama yang merupakan fardlu‟ain bagi umat
Islam. Selain sebagai tempat untuk menuntut ilmu agama, masjid
juga dapat dijadikan tempat menuntut ilmu social, ilmu alam,
humaniora, keterampilan dan lain sebagainya yang dapat
bermanfaat.
3. Sebagai tempat pembinaan jama‟ah
Dengan adanya Islam, masjid memiliki peran dalam
mengkordinir mereka guna menyatukan potensi dan
kepemimpinan umat. Selain umat yang terkordinir rapi didalam
organisasi Ta‟mir masjid yang didalamnya dibina keimanannya,
ketaqwaannya, ukhuwah imaniyahnya, dan dakwah
islamiyahnya. Sehingga dari masjid menjadi basis yang
menghadirkan umat yang kokoh.
4. Sebagai pusat da‟wah dan kebudayaan Islam
Masjid merupakan jantung kehidupan Islam yang selalu
berdenyut untuk menyebarluaskan da‟wah Islamiyah dan budaya
Islami. Di masjid pula direncanakan organisasi, kajian, dan
dikembangkannya dakwah dan kebudayaan Islam yang
menyahuti kebutuhan masyarakat. Karena itu masjid menjadi
sentra aktivitas dakwah dan kebudayaan.
5. Sebagai pusat kaderisasi umat
Sebagai tempat pembinaan jama‟ah dan kepemimpinan umat,
masjid memerlukan aktivitas yang berjuang menegakkan Islam
secara istiqomah dan berkesinambungan. Karena itu pembinaan
15
kader memerlukan persiapan yang dipusatkan di masjid sejak
mereka masik kecil hingga dewasa.
6. Sebagai basis kebangkitan umat Islam
Masjid sebagai salah satu sarana dakwah yang dapat
memperkokoh umat Islam dan dapat membengkitkan cinta kasih
Islam sehingga menjadi titik pusat kebangkitan Islam.
TUGAS INDIVIDU
Identifikasi fungsi masjid didaerah kalian masing-masing dan berikan
bukti implementasi kegiatannya berupa apa saja!
16
Latihan Soal 1
Berilah tanda didepan jawaban yang benar!
1. Teori yang dikemukakan oleh S. Hurgronje adalah teori…
a. Gujarat
b. Makkah
c. China
d. Persia
e. Turki
2. Teori Makkah mengungkapkan bahwa Islam masuk ke
Indonesia pada abad. . .
a. 7
b. 8
c. 9
d. 11
e. 12
3. Madzab Syafi‟i adalah salah satu Madzab yang menjadi
landasan dan penguat masuknya Islam ke Indonesia. Madzab
ini dijadikan bukti oleh teori. . .
a. India
b. Gujarat
c. Makkah
d. Persia
e. China
4. Didalam teori Persia dijelaskan bahwa Islam masuk berasal
dari Persia dengan dikuatkan oleh persamaan budaya dan
tradisi. Budaya dan tradisi apa yang dimaksut. . .
a. Idul Fitri
17
b. Tahun baru Hijriyah
c. Peringatan Asyura atau 10 Muharram
d. Idul Adha
e. Puasa Ayyamul bidh
5. Siapakah pendakwah yang menyebarkan ajaran Islam di
tanah Jawa. . .
a. Sufi
b. Wali Songo
c. Raja
d. Santri
e. Musafir
6. Islam masuk ke Indonesia dilakukan dengan berbagai
saluran-saluran. Dibawah ini yang bukan bagian dari
saluran Islam adalah. . .
a. Tasawuf
b. Penjajahan
c. Perkawinan
d. Perdagangan
e. Dakwah
7. Akar kata masjid adalah. . .
a. Sajada
b. Sajjadatun
c. Sujudan
d. Sujudun
e. Sajadan
8. Apa yang dimaksud dengan Masjid Jami‟. . .
a. Masjid yang hanya digunakan untuk sholat lima waktu
18
b. Masjid yang berada ditingkat desa
c. Masjid berukuran besar yang digunakan untuk shalat
jum‟at dan biasanya berada di tingkat kodyamadya
d. Masjid yang berkukuran kecil
e. Masjid yang digunakan untuk hari penting Islman saja
9. Istilah musholla yaitu tempat ibadah yang berukuran kecil
dan hanya disunakan untuk sholat lima waktu, didaerah
Sulawesi Selatan lebih dikenal dengan istilah…
a. Langgar
b. Tajug
c. Meunasah
d. Surau
e. Langgara
10. Apakah fungsi utama dari masjid?
a. Tempat penyembelihan hewan qurban
b. Tempat berbuka puasa
c. Tempat melangsungkan pernikahan
d. Melakukan zakat
e. Menegakkan shalat
Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat, jelas dan benar!
1. Jelaskan tentang teori masuknya Islam sesuai pemahaman
kalian?
2. Jelaskan persamaan culture dan tradisi yang dikemukakan
di teori Persia?
3. Sebut dan jelaskan saluran penyebaran Islam di Indonesia?
4. Apa perbedaan konsep “masjid” dan “ musholla”?
5. Jelaskan artimasjid secara khusus?
19
6. Sebutkan fungsi masjid di masa Nabi?
7. Sebutkan fungsi masjid masa kini?
8. Sebutkan fungsi masjid di bidang keagamaan?
9. Apa hubungan antara peranan masjid dengan usaha
kebangkitan umat Islam?
10. Jelaskan peran dan fungsi masjid sebagai pusat dakwah
dan kebudayaan Islam?
20
BAB II
MATERI PEMBELAJARAN 2 ASAL USUL MASJID JAMI‟
SUMENEP
21
A. Letak Geografis Masjid Jami‟ Sumenep
Kabupaten Sumenep merupakan pusat kebudayaan di
Madura dengan kekayaan karya seni budaya yang berkembang
di lingkungan keraton maupun bangunan arsitektur tradisional
(Zulkarnain, 2003). Budaya yang terdapat pada Madura
merupakan ekor dari budaya Jawa yang dilihat dari sejarahnya
pada tahun 600- 1500 M Madura dikuasai kerajaa-kerajaan
Hindhu di Jawa. Kabupaten Sumenep merupakan salah satu
kawasan terpenting dalam sejarah Madura karena banyak sekali
ditemukan situs prasejarah, salah satunya Masjid Jamik
(Zulkarnain, 2003). Masjid Jami‟ Sumenep berada di tengah-
tengah Kota (Pusat Kota) Sumenep dan termasuk dalam kompleks
keraton. Masjid Jami‟ dirancang oleh arsitek yang berkebangsaan
Tionghoa yaitu Law Piango. Letak Masjid Jami‟ berada tepat
disebelah barat Alun-alun Sumenep. Hal ini dimungkinkan
untuk berkembangnya masjid dari segi fungsi social, fungsi
keagamaan dan filosofinya.
Masjid yang digunakan sebagai tempat beribadah masyarakat
Sumenep pada tahun 1639 M yaitu di Masjdi Laju. Sebelum
didirikannya masjid jami‟ oleh Panembahan Asirudin
Notokusumo di tahun 1763 M, masyarakat melakukan
sembahyang di Masjid Lajhu yang berada di sebelah utara
keraton Sumenep. Pembangunan Masjid Jami‟ ini dikarenakan
tempat untuk menampung masyarakat di Masjid Lajhu sudah
sangat sempit keadaannya dan perkembangan masyarakat yang
memeluk Islam dari hari ke hari semakin banyak. Sehingga para
petinggi keraton, para ulama serta beberapa tokoh masyarakat
22
memiliki inisiatif untuk membangun Masjid Jami‟ Sumenep
sebagai tempat sholat yang letaknya tepat berada di sebelah barat
dari alun-alun dan keraton, hanya berjarak beberapa meter saja
dari masjid lajhu.
B. Sejarah berdirinya Masjid Jami‟ Sumenep
Sebelum berdirinya Masjid Jami‟ Sumenep terlebih dahulu
telah ada masjid sebagai tempat peribadahan masyarakat yaitu di
Masjid Lajhu. Namum karena keberadaannya sangat sempit dan
jamaah semakin bertambah maka pada zaman pemerintahan
Panembahan I Raden Aryo Panembahan Asiruddin Notokusumo
yang diangkat sebagai raja/tumenggung di Sumenep serta tokoh
masyarakat yang merencanakan untuk mendirikan sebuah
masjid baru. Beliau mengharapkan bantuan dari mentri, tenaga
atau sumbangsih pemikiran, sebagaimana waktu pendirian
keraton, ditambah lagi masjid ini merupakan kebutuhan seluruh
umat Islam. Sehingga dalam musyawarah tersebut semua sepakat
dan sangat setuju untuk mendirikan sebuah masjid yang sangat
megah sebagai symbol kejayaan Islam di Sumenep guna
dijadikan masjid Jami‟, sebagai sentral/pusat bagi semua masjid
yang berada di Sumenep. Dengan selesainya pembangunan
keraton, maka pembangunan masjid langsung dikerjakan pada
tahu 1200 sampai 1206 H atau tahun 1763-1769 M.
Sebagai seorang raja yang berpangkat Auliya‟ Allah
Panembahan Asiruddin Notokusumo pasti dan tahu memisahkan
yang mana kepentingan duniawi dengan kepentingan akhirat.
Beliau tidak akan lebih memilih pada keduniawian dari pada
kepentingan agama. Maka pembangunan Masjid dilakukan
23
dengan menggunakan nuansa keberagaman yakni memakai
Arsitek Cina dengan corak arsitektur bangunan yang terbaik dan
tampak megah keberadaannya hingga saat ini. Arsitek asal Cina
itu adalah Law Piango sebagai tenaga ahli bangunan utusan dari
Cina.
Dengan mengikuti petunjuk dari Panembahan I, petujuk itu
meliputi bentuk bangunan, tata letak, ornamentasi maupun
kaligrafi masjid yang unik serta menarik, indah dalam bangunan
bergaya Eropa, Cina dan Madura. Dalam memilih dan
membangun tidak sembarangan menentukan material-
materialnya, cara menyusun batu temboknya ada cara tersendiri
dan perekatnya tidak menggunakan air biasa melainkan tanah
dan kapurnya dicampurkan terlebih dahulu dengan air
nira(dalam bahasa Madura La‟ang) sehingga hasil temboknya
sekeras batu. Meskipun air nira sebenarnya sangat sulit dicari
dang sukar didapatkan, namun semua itu diupayakan
semaksimal mungkin karena di Sumenep sendiri banyak
bertebaran pohon Siwalan (tarebung: bahasa Madura). Dengan
dibantuan Tuhan Yang Maha Esa terhadap hambanya yang
memiliki niat memperjuangkan agamanya pasti mendapatkan
rahmat dan pertolongan-Nya agar mendapat kemudahan.
Pembangunan masjid sendiri membutuhkan waktu 6 tahun
yakni sejak 1763-1769 M yang sangat menguras tenaga dan
pikiran. Meskipun demikian Pangeran Notokusumo (Raja
Panembanhan Sumolo) beserta semua rakyatnya, terlebih yang
ikut dalam pembangunan masjid jami‟ merasa sangat puas.
24
Setelah masjid berhasil di bangun banyak orang-orang yang
menyebutnya sebagai masjid anyar (Masjid baru), karena
keberadaannya setelah adanya masjid lajhu (masjid lama).
Namun lama kelamaan masjid anyar lebih santer di sebut masjid
Jami‟ Sumenep, karena banyak masyarakat dari pedesaan
maupun perkotaan pergi untuk menunaikan shalat jum‟at di
masjid jami‟. Selain itu, Masjid Jami‟ ini menjadi pusat dari
masjid-masjid lain sebagai titik penentuan hari pertama di bulan
puasa dan hari raya juga termasuk hari-hari Islam lainnya.
Kemegahan dan keindahan masjid jamik didukung dengan
adanya Gapura besar sehingga disamping Gapura tersebut
terdapat dua bilik kamar yang memiliki fungsi berbeda. Dibagian
utara diisi sebagai tempat peti uang kas masjid, yang masing-
masing peti diberi tiga gembok, sedang kuncinya di pegang oleh
penghulu sebagai Takmir Masjid, juga dipegang Patih kerajaan ,
dan yang terakhir dipegang oleh Hakim Pengadilan Agama dari
petugas hokum. Hal ini dilakukan agar pengelolaan keuangan
masjid bisa transparan dapat dilihat oleh jama‟ah dan proses
kehati-hatian sangat di perhatikan secara mendetail. Sedangkan
di bagian selatan kamar diisi dengan keranda (Katel dalam
bahasa Madura).
(Foto Pribadi)
25
Kemegahan masjid Jami‟ memang sangat mengagumkan
ditambah dengan letaknya yang bersampingan dengan alun-alun
kota Sumenep yang juga memiliki filosofi antara keduanya. Bentuk
gapura yang indah menunjukkan bahwa begitu megah masjid
tersebut terbentuk. Kalau dipandang akan menghadirkan getaran
di jiwa, seakan meneraik diri untuk masuk dan berbakti kepada
Tuhan Yang Maha Esa, ingin bertaubat, memohon ampunan atas
segala dosa-dosanya . Pintu masjid jami‟ Sumenep berbentuk
gapura asal kata bahasa Arab “Hafura” artinya masuk ketempat
pengampunan Allah. Masjid jami‟ Sumenep dan sekelilingnya
memakai pagar tembok dan pintu gerbang, dimaksutkan agar
jamaah lebih berhati-hati berkonsentrasi dalam melaksanakn
shalat dan mendengarkan khotbah.
Kedua bangunan yang dibangun oleh Panembahan Notokusumo
yakni Masjid dan Keraton didirikan tepat disamping barat dan
samping timur alun-alun. Antara keraton dengan masjid terdapat
hubungan makna filosofi dengan pusatnya alun-alun kota
Sumenep, yang melambangkan Habblumminallah,
Hablumminannas dan Hablumminal Alamin, maksutya dari alun-
alun menghadap kebarat (masjid) menandakan hubungan dengan
Allah SWT, sedangkan alun-alun menghadap ketimur (keraton
Sumenep) adalah hubungan dengan sesame manusia, sedangkan
alun-alunnya sendiri adalah hubungan antara manusia dengan
alam seisinya. Orang-orang yangberkumpul di alun-alun (di pusat
kota), bilamana mengadakan Hablumminallah, hablumminannas,
dan Hablumminallaalamin, harus pelan-pelan dan berhati-hati.
26
Perancangan bangunan keraton dan masjid ini sendiri pasti
tidak hanya sekedar perancangan yang biasa melainkan pasti
beliau merancang dengan harapan keberkahan dan Allah selalu
bersama hambanya yang meniatkan segala sesuatu untuk mencari
keridhoannya. Sebab jika hanya berdasarkan pada perencanaan
manusia pasti banyak terdapat kekeurangan, akan tetapi bangunan
ini sangat berbeda tata letak dan makna didalamnya.
Pangeran Notokusumo medirikan masjid jami‟ yang sangat
megah dan indah kelihatannya sungguh melebihi bangunan
keraton dan pendoponya yang benar-benar lebih mengutamakan
tempat sujud/tempat beribadah (masjid) daripada tempat yang
didiaminya. Karena beliau tidak mengikuti nafsunya untuk dipuja
dan dipuji, disanjung dan diagungkan, sehingga ciptaannya
mengandung dan menghasilkan karismatik yang sangat kuat,
lebih-lebih adanya dua prasasti (wasiat) yang ditulis dengan
bahasa Arab kurang lebih terjemahannya sebagai berikut:
Yang pertama: Yang membangun masjid ini adalah Pangeran
Natakusuma di negeri/kerajaan Sumenep dan
selesai di bulan Ramadhan dan dijadikan wakaf
atas jalan Allah di dalam memulai pekerjaan
kebajikan untuk shalat bertujuan taat kepada
Allah SWT.
Yang kedua: Masjid ini adalah Baitullah, Pangeran Natakusuma
berkata “ Sesungguhnya wasiatku kepada orang
yang memerintah (selaku penguasa) dan
menegakkan kebaikan, jika terdapat masjid ini
27
sesudahku (keadaan) aib, maka perbaikilah.
Sesungguhnya masjid ini adalah wakaf, jangan
diwariskan dan jangan dijual serta jangan sesekali
merusaknya.
Raden Asirudin (Panembahan Natakusuma) sebagai raja yang
memiliki gelar Panembahan Natakusuma dan Panembahan Sumolo
adalah seorang yang berjiwa pejuang yang suci, berjuang untuk
membangun rakyatnya agar mencapai kemakmuran dan
ketentraman dari dunia sampai akhirat yang dapat dilihat dari
hasil-hasil pembangunan keduniawian dan keagamaannya. Hal ini
dapat dilihat dihasil pembangunan keraton dengan pendopo
agungnya dan masjid jamik dengan kemegahan gapuranya yang
telah menandakan rakyatnya merasakan keadilan dan kemakmuran.
28
TUGAS INDIVIDU
Identivikasi bangunan-banunan serta komponen masjid didaerah
kalian masing-masing!
29
Latihan soal
A. Berilah tanda silang(X) pada huruf a,b,c, d dan e didepan
jawaban yang benar!
1. Masjid pertama kali yang telah ada di Sumenep di
bangun oleh. . .
a. Panembahan Notokusomo
b. Pangeran Anggadipa
c. Pangeran Pakunataningrat
d. Sultan Abdurrachman
e. Pangeran Aria Pranataningkusuma
2. Pada tahun berapa masjid yang dibangun oleh Pangeran
Anggadipa di bangun. . .
a. 1639
b. 1640
c. 1641
d. 1642
e. 1643
3. Dimanakah letak masjid laju. . .
a. Sebelah selatan keraton Sumenep
b. Sebelah utara keraton Sumenep
c. Sebelah barat keraton Sumenep
d. Sebelah tenggara keraton Sumenep
e. Sebelah timur keraton Sumenep
4. Pembangunan Masjid Jamik Sumenep berlangsung
selama. . .
a. 4 tahun
b. 5 tahun
30
c. 6 tahun
d. 7 tahun
e. 8 tahun
5. Pada masa pemerintahan siapa masjid jamik dibangun. . .
a. Pangeran Joko Tole
b. Panembahan Notokusumo
c. Aria Wiraraja
d. Pangeran Anggadipa
e. Pangeran Joharsari
6. Tahun berapakah masjid jami‟ di bangun. . .
a. 1761-1666 M
b. 1763-1769 M
c. 1764-1770 M
d. 1765-1771 M
e. 1766-1772 M
7. Siapakah arsitek pembangunan Masjid Jami‟. . .
a. Panembahan Notokusumo
b. Law Piango
c. Penembahan Anggadipa
d. Joko Tole
e. Panembahan Sumolo
8. Apakah maksut dari “masjid anyar”. . .
a. Masjid Modern
b. Masjid Lama
c. Masjid Baru
d. Masjid Kuno
e. Masjid Gaul
31
9. Apakah yang dimaksut Masjid Laju. . .
a. Masjid Baru
b. Masjid Lama
c. Masjid Modern
d. Masjid Unik
e. Masjid Kuno
10.Dimanakah letak dari Masjid Jamik. . .
a. Sebelah barat alun-alun
b. Sebelah timur alun-alun
c. Sebelah selatan alun-alun
d. Sebelah utara alun-alun
e. Sebelah tenggara alun-alun
B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat, jelas dan
benar!
1. Jelaskan secara singkat sejarah berdirinya Masjid Jamik
Sumenep ?
2. Mengapa sekeliling masjid jamik memakai pagar
tembok?
3. Jelaskan perpaduan komponen arsitektur dan ornament
yang melengkapi pembangunan masjid jami‟ Sumenep?
4. Jelaskan maksut dari istilah masjid anyar dan masjid laju?
5. Apakah yang dimaksud dengan “Hafur”?
6. Jelaskan kegunaan dari masing-masing kamar yang ada
di gapura?
7. Apakah hubungan antara masjid dengan usaha dalam
memakmurkan masyarakat Sumenep?
32
8. Apakah isi dari prasasti kedua dan jelaskan menurut
pemahaman kalian!
9. Panembahan Notokusumo mendirikan bangunan keraton
dan masjid jamik di samping barat dan timur alun-alun.
Jelaskan hubungan filosofi dari kedua bangunan yang
berpusat di alun-alun kota Sumenep?
10. Mengapa masjid jamik lebih indah dan megah jika
dibandingkan dengan keraton Sumenep?
33
BAB III
MATERI PEMBALAJARAN 3 ARSITEKTUR MASJID JAMI‟
SUMENEP
34
A. Arsitektur Masjid di Dunia dan Indonesia
1.Struktur ruang masjid
Arsitektur merupakan hasil atau proses rancangan dalam
menyususun suatu bantuk bangunan dalam memenuhi
kebutuhan ruangan untuk melakukan aktivitas tertentu (Juliadi,
2007:41). Berdasarkan pada definisi diatas serta batasan yang
dimaksut dengan masjid adalah bangunan yang diperuntukkan
untuk bersembahyang bersama (berjamaah) pada hari jum‟at
dan ibadah umay Islam lainnya dengan fungsi ganda dan
majemuk sesuai perkembangannya, budaya serta kondisi tempat
suatu masyarakat.
Masjid selain sebagai tempat untuk beribadah juga dapat
menjadi tempat untuk mendengarkan ceramah agama
(khutbah). Masjid didalamnya memiliki ruangan sebagai tempat
untuk shalat (liwan), masjid juga dilengkapi dengan mimbar,
mihrab dan beberapa elemen lainnya yang memiliki fungsi
masing-masing. Seiring dengan perkembangannya, terdapat
keanekaragaman dalam wujud dan bentuknya, namun kemudian
pada umumnya bagian-bagian atau arsitektur bangunan tidak
banyak berubah. Adapun bagian-bagian yang dimaksut antara
lain (Juliadi: 2007:13):
a. Mihrab
Mihrap merupakan salah satu bagian dari masjid yang
bentuknya berupa ceruk atau ruangan relative kecil yang
menjorok masuk kedalam dinding yang biasanya dijadikan
sebagai petanda arah kiblat. Mihrab biasanya berbentuk persegi
panjang yang digunakan sebagai tempat imam memimpin shalat.
35
b. Mimbar
Mimbar berasal dari kata mimbar yang berarti kursi,
singgasana atau tahta, umumnya terbuat dari kayu yang dihias
atau diukir. Mimbar merupakan kursi tinggi yang untuk
mendudukinya harus menaiki beberapa anak tangga. Mimbar
biasanya digunakan untuk tempat berkhutbah atau berceramah
sebelum melakukan shalat jum‟at yang berisi unsur amaliah dan
muamalah. Biasanya mimbar bersampingan dengan mihran di
sebelah kanannya. Dimasa lalu mimbar juga digunakan oleh
pemimpin di daerah setempat sebagai tempat untuk
menyampaikan masalah atau persoalan yang lebih luas yang
tidak terbatas pada agama saja.
c. Liwan
Liwan merupakan ruangan luas tempat para jamaah
melaksanakan shalat dan duduk mendengarkan khuybah.
Didalam liwan terdapat beberapa ruangan atau elemen masjid
lainnya seperti mihrab, mimbar, makzurah dan zawiyyah dan
dikkah.
d. Sahn
Sahn merupakam bagian dari masjid yang berupa lapangan
terbuka (tanpa atap) dalam halaman masjid. Di tempat ini
dibangun kolam atau pancuran air sebagai sarana bersuci
(bewudhu). Saat ini Sahn sudah jarang dijumpai karena tempat
pengambilan air wudhu ditempatkan dibagian luar bangunan
atau ditepi bangunan masjid.
e. Maksurah dan Zawiyah
36
Maksurah adalah bilik yang berbentuk kotak, berdinding
pagar atau terali sehingga tembus pandang. Maksurah
dipergunakan khusus untuk para pembesar negeri pada waktu
shalat. Keberadaan maksurah ini pertama kali dibuat pada masa
Dinasti Ummayah (661-750) guna menjaga keamanan dan
kenyamanan dari khalifah dan gubernurnya dari serangan tiba-
tiba dari pihak musuh.
f. Dikkeh
Dikkeh atau dikka atau dakka kadang juga dijumpai dalam
ruangan liwan atau mughata. Dikka biasanya dibuat dari kayu
atau tembok berbentuk panggung kecil yang digunakan sebagai
tempat wakil dari imam untuk mengulang ucapan-ucapan imam
disaat-saat tertentu, seperti Allahu Akbar. Dikka biasanya juga
digunakan oleh Muadzzin untuk mengumandangkan adzan
kedua (yang pertama dimenara) dan iqamah.
g. Riwags
Riwags adalah semacam serambi, selasar atau koridor yang
mengelilingi sahn, biasanya tidak berdinding penuh atau hanya
dibatasi oleh tiang-tiang saja.pada masa Nabi Muhammad SAW,
bagian riwags di Masjid Nabawi, dikenal dengan suffah, tempat
tinggal para fakir miskin dan tempat Nabi memberikan ajaran-
ajaran agama.
h. Kubah
Kubah merupakan bagian atas masjid, bentuknya seperti bola
terpancang yang dijadikan atap. Pembuatan kubah pertama kali
dilakukan dimasjid Al-Sakhra atau masjid Umar di Yerussalem
37
pada masa khalifak Abdul Malik (685-688) dari Dinasti
Umayyah. Dari sini muncullah berbagai macam bentuk kubah.
i. Menara
Menara adalah bangunan tinggi ramping tempat
mengumandangkan adzan sebagai panggilan untuk menunaikan
ibadah shalat. Adzan dilakukan oleh Muadzin diruangan paling
atas dari menara agar dapat terdengan jauh. Penggunaan
menara tidak dapat diketahui secara pasti digunakan dan
dibangun kapan. Sekarang masjid telah banyak menggunakan
menara yang diberikan pengeras suara, sedangkan muadzinnya
cukup melakukan adzan didalam masjid dan iqomah di dalam
masjid pula.
Secara garis besar komponen-komponen di masjid terdapat 9
komponen yang ada sejak dahulu sampai berkembangnya Islam
di Timur Tengah hingga bisa sampai ke Indonesia. Namun
komponen tersebut tidal semuanya di bangun pada area masjid,
hanya beberapa yang dikira dibutuhkan oleh masjid tersebut.
Didalam proses perkembangan pembangunan masjid berbagai
arsitektur masjid banyak mengalami perkembangan. Hal ini
dilakukan dengan memasukkan unsur kelokalan dari daerah
tersebut sehingga memunculkan masjid yang bernuansa
daerah/local. Namun itu semua tidak terlepas dari pengaruh
bentuk dan konsep yang telah ada dimasa sebelumnya.
Seiring dengan perkembangan zaman banyak pencampuran
budaya pada arsitektur masjid masa kini serta kemajuan dari
aspek komunikasi dan teknologi semakin memberikan nuansa
yang megah. Semakin banyaknya komunikasi terjalin maka
38
semakin banyak pula informasi yang didapat, sehingga
memungkinkan akulturasi budaya semakin banyak
mempengaruhi bangunan masjid di belahan dunia.
2.Arsitektur masjid kuno Indonesia
Bentuk-bentuk dari masjid yang ada di Indonesiatidak
terlepas dari pengaruh arsitektur dunia Islam yang dipadukan
dengan kondisi budaya local yang ada saat itu, serta akulturasi
dengan agama yang ada pada masa itu sehingga nuansa
keberagaman bisa dilihat di masjid-masjid awal abad 15an.
Proses akulturasi budaya ini untuk menarik masyarakat dan
tetap menghargai dari adat dan kepercayaan dari masing-
masing orang tanpa menimbulkan problematika dalam proses
penyebaran Islam masa itu.
1) Pada tahun 1935, seorang arkeolog Belanda bernama WF
Stutterheim dalam bukunya yang berjudul Leerboek der
Indesche Cultuurgeschiendenis, vol 3 menyebutkan bahwa
masjid jawa jawa itu ditueunkan dari bentuk bangunan besar
yang ia sebut dengan hanenklopbaan seperti kalau di Bali
disebut dengan wantilan atau tempat sabung ayam (Budi,
2006). WF. Stutterheim mengatakan bahwa ruang-ruang
kecil dan sempit pada candi tidak mungkin dapat dijadikan
model pengalihan fungsi sebuah masjid yang memerlukan
ruang besar guna keperluan shalat berjamaah.
2) Teori tetang arsitektur masjid kuno di Indonesia lebih detail
diuraikan oleh G.F Pijper (1987:24) mengatakan behwa
arsitektur masjid kuno Indonesia memiliki ciri khas yang
39
membedakannya dengan bentuk-bentuk masjid di Negara
lainnya. Berikut ciri-ciri type masjid di Indonesia:
a. Denahnya berbentuk segi empat
b. Pondasi bangunan berbentuk persegi yang agak tinggi
c. Atap masjid berbentuk tumpang, terdiri dari dua sampai
lima yang semakin keatas semakin mengerucut
d. Disisi barat atau barat lau terdapat bangunan yang
menonjol sebagai mihrab
e. Dibagian depan dan kadang-kadang dikedua sisinya ada
serambi yang terbuka atau tertutup
f. Halaman sekitar masjid dikelilingi dengan satu atau dua
pintu gerbang
g. Dibangun di sebelah barat alun-alun
h. Arah mihrab tidak tepat kiblat
i. Dibangun dari bahan yang mudah rusak
j. Terdapat parit air yang mengelilingi atau di depan masjid
k. Awalnya dibangun tanpa serambi
l. Dibangun diatas tiang kolong
B. Arsitektur Masjid Jami‟ Sumenep
40
(Foto dari Google)
Masjid jamik sumenep adalah masjid yang berada di Sumenep
Madura. Berdiri menghadap alun-alun kota Sumenep. Masjid
Agung Sumenep yang dulunya disebut masjid jami‟ yang menjadi
salah satu penanda kota Sumenep. Masjid Panembahan Somala
atau lebih dikenal dengan sebutan masjid jamik Sumenep
merupakan salah satu bangunan 10 masjid tertua dan
mempunyai arsitektur yang khas di Nusantara. Masjid jamik
Sumenep saat ini telah menjadi salah satu landmark di Pulau
Madura. Dibangun pada pemerintahan Panembahan Somala [1],
penguasa Negeri Sumenep XXXI, dibangun setelah
pembangunan kompleks keraton Sumenep, dengan arsitek yang
sama yakni Law Piango.
Menurut catatan sejarah Sumenep, pembangunan masjid
jamik dimulai pada tahun 1763-1769 M. bangunan ini
merupakan salah satu bangunan pendukung keraton Sumenep,
yakni sebagai tempat ibadah bagi keluarga keraton dan
41
masyarakat. Masjid jamik merupakan masjid kedua yang
dibangun oleh keluarga keraton, dimana kompleks masjid
pertama yang dibangun berada tepat dibelakang keraton yang
lebih dikenal dengan nama masjid laju (bahasa Madura) yang
dibangun oleh Kanjeng R. Tumenggung Ario Anggadipa
penguasa negeri Sumenep XXI.
Arsitektur bangunan masjidnya sendiri, secara garis besar
banyak dipengaruhi oleh unsur kebudayaan Tiongkok, Eropa,
Jawa dan Madura, salah satunya pada gerbang pintu masuk
utama masjid yang corak arsitekturnya bernuansa kebudayaan
Tiongkok. Untuk bangunan utama masjid secara keseluruhan
dipengaruhi oleh unsur budaya Jawa pada bagian atapnya dan
budaya Madurapada pewarnaan pintu utama dan jendela masjid.
Sedangkan interior masjid lebih cenderung bernuansa
kebudayaan Tiongkok pada bagian Mihrab.
Masjid ini dilengkapi minaret yang desain arsitekturnya
dipengaruhi oleh kebudayaan portugis, minaretnya mempunyai
tinggi 50 meter terdapat disebelah barat masjid yang dibangun
pada masa pemerintahan Kanjeng Pangeran Aria Pratingkusuma.
Di kanan dan kiri pagar utama yang masif juga terdapat
bangunan berbentuk kubah. Pada masa pemerintahan Kanjeng
Tumenggung Arya Prabuwinata pagar utama yang cenderung
massif dan tertutup, dimana semula dimaksidkan untuk menjaga
ketenangan jama‟ah dalam menjalankan ibadah di ubah total
menjadi pagar besi. Untuk halaman masjidnya sendiri terdapat
pohon sawo (bahasa Madura: sabu) dan juga pohon tanjung,
42
dimana kedua pohon tersebut konon merupakan penghias utama
halaman masjid.
Ukiran Jawa dalam pengaruh berbagai budaya juga turut
menghiasi 10 jendela dan 9 pintu besarnya. Bila diperhatikan
ukiran di pintu masjid ini dipengaruhi budaya Tiongkok dengan
penggunaan warna-warna cerah. Disamping pintu masjid
terdapat jam duduk ukuran besar dan diatas pintu tersebut
terdapat prasasti beraksara Arab dan Jawa.
Didalam masjid terdapat 13 pilar yang begitu besar yang
menggantikan rukun sholat. Bagian luar tedapat 20 pilar dan 2
tempat khotbah yang begitu indah dan diatas tempat khotbah
terdapat sebuah pedang yang berasal dari Irak. Awalnya pedang
tersebut terdapat 2 buah namun salah satunya hilang dan tak
pernah kembali.
C.Makna Filosofi Arsitektur Masjid Jami‟ Sumenep
Setiap bangunan diseluruh Indonesia pasti memiliki makna
filosofi tersendiri. Hal ini bergantung pada kondisi ekonomi,
social, budaya masyarakat tersebut. Makna-makna tersebut
dapat dilihat baik secara tersirat maupun tersurat melalui
pengamatan langsung serta pemhaman fungsi pembangunan,
dari masing-masing elemen masjid yang ada. Maknaa tersebut
dapat dikaji melalui bentuk aliran masjid yang dianut, bentuk
atap, elemen apa saya yang berada dalam masjid, jumlah dan
bentuk tiang penyokong dalam masjid (pilar), dan lain
sebagainya.
Pada masjid jamik Sumenep pemaknaan sangat terbatas
mengingat bahwa sumber sejarah masjid tersebut sangat minim,
43
dan terbatasnya akses untuk mengetahui buku satu-satunya
peninggalan masjid dan pendiri dari masjid itu sendiri.
Berikut beberapa paparan filosofi bangunan dan makna
prasasti masjid Jami‟ Sumenep:
1. Pintu Gerbang Utama Masjid
(Foto dari Google)
Masjid jamik dan sekelilingnya menggunakan tembok dengan
pintu gerbang sebagai pintu masuk utama yang disubut gapura.
Kata gapura berasal dari bahasa Arab “Hafura” artinya masuk
ketempat pengampunan Allah. Diatas Gapura terdapat dua
lubang terbuka yang mengibaratkan dua mata manusia yang
sedang melihat. Lalu diatas kedua lubang tersebut terdapat
ukiran segi lima memanjang ke atas yang diibaratkan kepada
manusia yang sedang duduk dengan rapi menghadap kearah
barat (qiblat) namun dipisahkan oleh gambar oinru seperti pintu
yang ada dibawahnya pintu masuk/keluar masjid, ini
melambangka bahwa apabila masuk kedalam masjid melakukah
shalat jum‟at harus memakai tatakrama dan harus melihat
jangan sampai memisahkan kedua orang tua yang duduk
bersama dan ketika imam keluar menuju mimbar jangan sampai
berjalan melangkahi leher seseorang.
2. Menara
44