The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Retno Lanceng Kermata, 2020-07-26 01:56:06

Sejarah Masjid Jamik Sumenep

Modul Sejarah New

KATA PENGENTAR

Segala puji bagi Allah Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat bagi penulis sehingga “E-modul
Pembelajaran” ini dapat selesai dengan baik. Tidak lupa
penulis penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak
Najib Jauhari, S.Pd, M.Hum sebagai dosen pembimbing dan
juga orang tua yang senantiasa mendukung penulis sehingga
penulisan e-modul ini tidak menemui kendala yang berarti.
Tanpa kehadiran mereka, mungkin pembuatan e-modul ini
tidak akan terselesaikan dengan lancar.

Penulis berharap dengan dibuatnya e-modul ini, akan
memberikan manfaat kepada masyarakat pada umumnya dan
kepada kepada penulis khususnya. Dengan e-modul ini
diharapkan guru, dosen, pengajar dan bahkan siswa yang
berminat untuk membaca e-modul sehingga pembelajaran
dapat terbantu.

Namun penulis juga seorang insan biasa yang tak luput
dari kesalahan baik yang disengaja atau tidak disengaja.
Untuk itulah, jika dalam pembuatan e-modul pembelajaran
ini terdapat banyak kesalahan dan kekeliruan, mohon
pembaca meberikan kritik yang membangun bagi penulis.
Demikian pengantar dari penulis, selamat membaca.

Malang, 04 July 2020

Penulis

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page i

DAFTAR ISI

Kata pengantar ................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................. ii
Pendahuluan....................................................................................... iii
Tujuan pembelajaran......................................................................... v
Indikator keberhasilan ...................................................................... vi

MATERI PEMBELAJARAN 1 MASJID SEBAGAI MEDIA 1
DAKWAH 8
A. Teori Masuk Islam ke Indonesia.................................................. 11
B. Pengertian Masjid......................................................................... 13
C. Fungsi masjid ................................................................................
D. Evaluasi.......................................................................................... 15
MATERI PEMBELAJARAN 2 ASAL USUL MASJID JAMI‟ 18
SUMENEP 20
A. Letak Geografis Masjid Jami‟ Sumenep .....................................
B. Sejarah berdirinya Masjid Jami‟ Sumenep ................................ 28
C. Evaluasi......................................................................................... 34
MATERI PEMBALAJARAN 3 ARSITEKTUR MASJID JAMI‟ 38
SUMENEP 39
47
A. Arsitektur Masjid di Dunia dan Indonesia ................................
B. Arsitektur Masjid Jami‟ Sumenep...............................................
C. Makna Filosofi Arsitektur Masjid Jami‟ Sumenep.....................
D. Evaluasi.........................................................................................
Daftar Pustaka ....................................................................................

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page ii

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Makalah ini berisikan tentang pengembangan e-modul
pembelajaran, dimana dalan suatu proses belajar mengajar
memerlukan sebuah alat/media, metode dan model yang
baik, agar tercipta suasana belajar yang interaktif,
menyenangkan dan harapannya bias berhasil, mampu
membuat siswa paham dan suasana kelas menjadi hidup.
Pembelajaran menjadi suatu masalah yang dihadapi dalam
dunia pendidikan khususnya mata pelajaran sejarah. Hal
demikian disebabkan oleh lemahnya proses pembelajaran
yang terjadi di sekolah. Dalam proses pembelajaran, siswa
kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan
berfikir. Proses pembelajaran didalam kelas lebih banyak
diarahkan kepada kemampuan untuk menghafal informasi,
siswa dipaksa untuk mengingat dan menumpuk berbagai
informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang
diingatnya dan menghubungkannya dengan kehidupan
sehari-hari.
Dengan demikian, salah satu solusi yang ditawarkan untuk
mengatasi lemahnya pembelajaran tersebut adalah dengan
membuat dan mengembangkan e-modul pembelajaran yang
bisa dijadikan sebagai sumber belajar. E-modul ini sangat
praktis karena bisa dibuka dan digunakan dimana saja
tergantung pada penggunaan Smartphone tidak harus
bergantung pada guru (teacher centered). Pembelajaran

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page iii

dengan menggunakan e-modul ini siswa belajar secara
mandiri dan kreatif.

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page iv

TUJUAN
PEMBELAJARAN

Dengan adanya media e-modul pembelajaran ini, siswa
diharapkan:
1. Melalui pembelajaran, siswa diharapkan mampu

menjelaskan dan memahami proses masuk dan
berkembangnya Islam di Indonesia
2. Melalui pembelajaran, siswa diharapkan mampu memahami
fungsi masjid
3. Melalui pembelajaran, siswa diharapkan mampu pengertian
masjid.
4. Melalui pembelajaran dan refleksi, siswa diharapkan
mampu memahami materi.

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page v

INDIKATOR :M
KEBERHASILAN

Siswa dinyatakan berhasil mempelajari e-modul ini apabila
telah mampu menjawab soal-soal latihan dalam e-modul ini,
tanpa melihat atau membuka materi ini dengan nilai minimal
75. Fasilitator sebagai pembimbing, dapat melakukan uji/tes
pada siswa dengan mengacu pada soal-soal yang ada pada e-
modul, mampu mengembangkan soal sendiri namun tetap
mengacu pada materi yang berkaitan yang ada pada e-modul
ini.

Kriteria nilai kelulusan tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:

Tidak = 0 (nol) (tidak lulus)
Ya = 75 s.d 100 (lulus)
Kategori kelulusan
75 s.d 89
90 s.d 100: Diatas rata-rata tanpa bimbingan

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page vi

BAB 1

MATERI PEMBELAJARAN 1 MASJID
SEBAGAI MEDIA DAKWAH

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 1

A. Teori Masuk dan Berkembangnya Agama Islam
Mengenai kedatangan agama Islam ke Indonesia menjadi

diskusi dan perdebatan yang panjang dari para ahli sejarah
mengenai hal-hal pokok Islam seperti asal kedatangan Islam,
para pembawanya dan waktu kedatangannya ke Indonesia.
Perdebatan panjang itu terjadi tak lain karena kurangnya
bukti atau data sebagai landasan penguat dari pemikiran para
ahli sejarah. Kedatangan islam itu sendiri terbagi menjadi tiga
teori masuknya Islam ke Indonesia diantaranya: Teori Gujarat,
Teori Mekkah, dan Teori Persia.
1. Teori Makkah

Teori Makkah ini diajukan oleh Arnold dan para ahli
sejarah lainnya yang menyatakan bahwa agama Islam itu
datang ke tanah Melayu secara langsung dari Arab, pendapat
ini dikarenakan orang-orang Melayu (Indonesia) berpegang
pada Madzhab Syafi‟i yang lahir ditanah Arab. Drewes
didalam buku (Munandar, 2009:70) mengatakan bahwa
seorang ahli lainnya bernama Veth menegaskan bahwa orang
arab Muslim melakukan perkawinan dengan penduduk
setempat dan mereka berperan dalam penyebaran Islam di
wilayah pemukima yang baru.

Hidayatullah (2013) menyatakan bahwa, “Teori ini juga
di kemukakan oleh Hamka di dalam pidatonya saat Dies
Natalis PTAIN ke-8 di Yogyakarta pada tahun 1958”. Didalam
pidatonya tersebut Hamka tidak setuju jika Islam masuk ke
Indonesia dari Gujarat dan Hamka juga menentang pendapat

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 2

jika islam masuk Indonesia pada abad ke-13, karena pada
abad itu di Indonesia sudah terdapat politik islam. Hamkapun
menyatakan jika pastilah Islam masuk ke Indonesia pada abad
ke-7 M atau abad pertengahan Hijriyah.
2. Teori Gujarat

Teori Gujarat ini masuk ke Indonesia diperkirakan pada
abad 13 yang berasal dari Gujarat. Drewes mengatakan
didalam buku (Munandar, 2009:68) bahwa,“Orang-orang
Arab yang bermazhab Syafie‟i yang menetap di India itulah
yang kemudian membawa ajaran agama Islam ke Indonesia.”
Teori ini dilanjutakan oleh Snouck Hurgronje yang
memaparkan bahwa Islam menurutnya itu berasal dari India
Selatan, pemaparannya itu ia ambil dari berhasilnya orang
Islam menguasai pelabuhan di India Selatan yang di sana
menetapkan seorang muslim sebagai perantara ajaran Islam.
Hal lain yang membuat Snouck semakin yakin karena orang-
orang Islam di Dhaka sebagai perantara penyebaran agama
Islam dari proses perdagangan antara Timur Tengah dengan
Indonesia.

Selain Snouck Hurgronje terdapat ahli sejarah lain yang
sependapat juga dengan teori Gujarat tentang masuknya
Islam yaitu J.P Moquette. Dasar yang menjadikan Moquette
sependapat karena terdapat persamaan bentuk, bahan dan
ornamen dari batu nisan di Pasai, batu nisan Malik Ibrahim,
dan batu nisan Al-Kazaruni di Cambay, Gujarat (Munandar,
2009:69). Berdasarkan temuan ini batu nisan pada masa itu

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 3

telah mulai diperjual belikan bahkan sampai ke Indonesia
khususnyaSumatra dan Jawa. Dapat kita perkirakan jika batu
nisan telah di perjualkan hingga sampai ke Indonesia tidak
menutup kemungkinan jika orang Indonesia mengambil
ajaran Islam dari wilayah tersebut.
3. Teori Persia

Teori Persia ini mengatakan bahwa proses kedatangan
Islam ke indonesia itu berasal dari Persia atau Iran. Pencetus
dari teori ini adalah Hoesein Djajaningrat seorang sejarawan
dari Banten. Didalam argumentasinya tersebut Hoesein lebih
menitikberatkan pada persamaan Cultur (Budaya) dan tradisi
yang berkembang di antara masyarakat Persia dan Indonesia.
Persamaan ini di jelaskan di dalam buku (Hidayatullah, 2013)
seperti:
a. Peringatan Asyura atau 10 Muharram sebagai peringatan

Syi‟ah atas Syahidnya Husein.
b. Nisan pada Malik Saleh pada tahun 1927 dan pada makam

Malik Ibrahim pada tahun 1419 Gresik dipesan dari
Gujarat.
c. Pengakuan umat Islam di Nusantara mengenai Madzhab
Syafi‟i sebagai Madzhab utama yang digunakan pada
wilayah Malabar.
d. Kesamaan antara ajaran Syekh Siti Jannar dengan ajaran
Sufi Iran al-Hallaj, meskipun al-Hallaj telah meninggal
pada 310 H atau 922 M akan tetapi ajarannya tetap
berkembang dalam bentuk Puisi.

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 4

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut diatas dapat
dijelaskan bahwa tidak mudah memastikan dari mana
pembawa pertama ajaran agama islam ke Indonesia.
Poesponegoro (2010:164) menyatakan bahwa, “Oleh karena
itu, mungkin lebih baik dikatakan bakwa pembawa Islam ke
Indonesai antara abad ke-7 sampai ke-13 adalah orang
muslim dari Arab, Persia, dan India.” Islam datang ke
Indonesia dengan membawa peradaban baru bagi bangsa
Indonesia dengan corak keIslaman yang khusus. Peradaban
itu khususnya kebudayaan berkembang di Indonesia
bersamaan dengan kebudayaan yang telah ada sejak dahulu
dan berkembang beriringan. Serta pada saat penyebaran
Islam juga telah terdapat juru dakwah Islam yang telah
berada di Indonesia khususnya di tanah Jawa yang dikenal
dengan Wali Songo(Wali Sembilan). Pada proses penyebaran
Islam Wali Songo tersebut menggunakan metode dakwah
kesenian yang telah dikenal masyarakat. “Dengan metode
dakwah tersebut Wali Songo tersebut berhasil
mengakulturasikan fenomena budaya lama yang disesuaikan
dengan kebudayaan islam, tanpa dirasakan asing bagi etnis
Jawa” (Munandar, 2009:80).

Adanya beberapa teori tentang masuknya Islam. Islam
berkembang dan menyebar ke seluruh pelosok Indonesia
melalui beberapa faktor. Masyarakat Indonesia cenderung
memiliki sikap yang terbuka dalam menerima kebudayaan
baru dari luar. Sekitar abad ke-7 dan ke-8, Selat Malaka

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 5

sudah mulai dilalui oleh pedagang-pedagang muslim dan
merupakan pusat utama lalu lintas perdagangan dan
pelayaran. Dengan demikian, Malaka menjadi mata rantai
pelayaran yang penting. Perkembangan pelayaran dan
perdagangan yang bersifat internasional mungkin disebabkan
oleh kegiatan kerajaan Islam di bawah Bani Umayyah.
Namun menurut Taufik Abdulah dalam Badri Yatim (2013:
193), belum ada bukti bahwa pribumi Indonesia di tempat-
tempat yang disinggahi oleh para pedagang muslim itu
beragama Islam.

Kedatangan Islam di berbagai wilayah Indonesia tidaklah
bersamaan. Kerajaan-kerajaan dan daerah-daerah yang
didatanginya mempunyai situasi politik dan sosial budaya
yang berbeda. Persoalan tentang cara masyarakat Indonesia
menjelang kedatangan Islam bersifat kompleks. Hidayat,
Samsuddin, Rusmana, dan Hakim (2014: 147-148)
mengemukakan tiga persoalan yaitu sebagai berikut.

Pertama, bahwa daerah-daerah yang mendapat sentuhan
Islam tidak sekaligus, tetapi bertahap karena letak geografis
Indonesia yang terdiri atas beribu-ribu pulau. Dengan
demikian, proses persentuhan dengan Islam antara wilayah di
Indonesia berbeda-beda. Kedua, waktu atau saat menerima
ajaran Islam sangat beragam. Ada wilayah-wilayah yang
menerima sentuhan Islam pada abad VII dan VIII masehi dan
ada pula wilayah-wilayah yang mendapatkan ajaran agama
Islam pada abad ke-11 M. Selain itu, ada yang memperoleh

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 6

Islamisasi pada abad ke-14, 15, dan 16 M. Ketiga, pada saat
Islam masuk dan menembus suatu komunitas masyarakat di
wilayah-wilayah tertentu, kondisi politik di masing-masing
wilayah tidak sama.

Pada zaman-zaman berikutnya, penduduk kepulauan
mulai masuk Islam, bermula dari penduduk pribumi di
koloni-koloni pedagang muslim. Menjalang abad ke-13 M,
masyarakat muslim sudah ada di Samudera Pasai, Perlak, dan
Palembang. Sedangkan di Jawa dan di Trulaya ditemukan
bukti berkembangnya komunitas Islam yang berada di pusat
kekuasaan Hindu Jawa. Badri Yatim (2013: 193)
mengungkapkan perkembangan agama Islam di Indonesia
dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu (1) Singgahnya
pedagang-pedagang Islam di pelabuhan-pelabuhan
Nusantara. Sumbernya adalah berita luar negeri, terutama
Cina; (2) Adanya komunitas-komunitas Islam di berbagai
daerah kepulauan Indonesia. Sumbernya, disamping berita-
berita asing, juga makam-makam Islam; dan (3) Berdirinya
kerajaan-kerajaan Islam.

Masuk dan meluasnya Islam ke Indonesia berjalan secara
damai dan penuh toleransi. Salah satu sebabnya adalah
karena pedagang-pedagang yang menyebarkan agama Islam
di Indonesia adalah pedagang-pedagang dari Gujarat India
yang tidak fanatik sifatnya. Islam telah memperlihatkan sifat-
sifatnya yang penuh toleransi. Dengan demikian, agama Islam
mudah diterima oleh bangsa Indonesia dan dengan sifat

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 7

bangsa Indonesia sendiri yang ramah dan sangat toleran
menyebabkan masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia
berjalan secara lancar dan damai (Daliman, 2012:39).

Proses Islamisasi memang tidak berhenti sampai
berdirinya kerajaan-kerajaan Islam. Tetapi terus berlangsung
intensif dengan berbagai cara dan saluran. Menurut Uka
Tjandrasasmita dalam Badri Yatim (2013:201-204), saluran-
saluran islamisasi yang berkembang ada enam, yaitu:
1. Saluran Perdagangan

Saluran Islamisasi melalui perdagangan ini sangat
menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta
dalam kegiatan perdagangan. Di beberapa tempat, penguasa-
penguasa Jawa, yang menjabat sebagai bupati-bupati
Majapahit yang ditempatkan di pesisir utara Jawa banyak
yang masuk islam, karena faktor hubungan ekonomi dengan
pedagang-pedagang Muslim.
2. Saluran Perkawinan

Penduduk pribumi, terutama putri-putri bangsawan,
tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar Muslim.
Sebelum menikah, mereka diislamkan terlebih dahulu. Setelah
mereka mempunyai keturunan , lingkungan mereka makin
luas. Akhirnya, timbul kampung-kampung, daerah-daerah,
dan kerajaan-kerajaan muslim.
3. Saluran Tasawuf

Dengan tasawuf, “bentuk” Islam yang diajarkan kepada
pendudukpribumi mempunyai persamaan dengan alam

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 8

pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu,
sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima.
4. Saluran Pendidikan

Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik
pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-
guru agama, kiai-kiai, dan ulama-ulama. Di pesantren atau
pondok itu, calon ulama, guru dan kiai mendapatkan
pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka
pulang ke kampung masing-masing kemudian berdakwah ke
tempat tertentu mengajarkan islam.
5. Saluran Kesenian

Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal
adalah pertunjukan wayang. Sebagian besar cerita wayang
masih dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapi
di dalam cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama
pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan alat
Islamisasi, seperti sastra (hikayat dan babad), seni bangunan,
dan seni ukir.
6. Saluran Politik

Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat
masuk Islam setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu.
Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam.
Sedangkan di Sumatera, Jawa,dan Indonesia bagian Timur,
demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam
memerangi kerajaan-kerajaan non-Islam. Kemenangan Islam

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 9

secara politisbanyak menarik penduduk kerajan non-Islam
masuk agama Islam.

Perkembangan agama Islam sejak abad ke-13 makin
lama makin cepat meluas di Kepulauan Nusantara, terutama
berkat usaha penyiar ajaran mistis Islam (sufi). Kontak
budaya antara pusat-pusat penyebaran agama Islam dengan
kota-kota pelabuhan di Indonesia telah membawa gagasan-
gagasan para ahli mistik ternama ke Sumatera Utara dan ke
Semenanjung Malaka. Dalam abad ke-14 hingga abad ke-16
gagasan-gagasan mistik tersebut sudah sampai di Pulau Jawa
(Daliman, 2012: 40).

Peningkatan usaha menyiarkan agama islam dalam abad
ke-15 dan ke-16 lebih didorong oleh motivasi untuk berpacu
dengan penyiaran agama Kristen (Nasrani). Kini penyiaran
agama Islam bergerak ke arah Timur. Kota Malaka tumbuh
sebagai pusat perdagnagan dan pusat penyiaran agama Islam
Sementara itu di daerah Majapahit tumbuh pula Kota Demak
dan di Indonesia bagian timur timbul Kota Ternate yang juga
menjadi pusat kegiatan Islam. Dari ketiga pusat inilah agama
Islam menyebar dan meluas memasuki seluruh pelosok
Kepulauan Indonesia (Daliman, 2012: 40).

Dari Malaka, Islam berkembang ke seluruh
semenanjung. Dari Aceh, agama Islam meluas sampai
Minangabau dan Bengkulu. Penyebaran Islam ke sebagian
besar Pulau Jawa dimulai dari Demak. Bantenpun diIslamkan
oleh Demak. Kemudian Banten meluaskan agama Islam ke

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 10

Sumatera Selatan. Dalam abad ke-16, di Kalimantan
tumbuhlah kerajaan Islam Brunei. Dari ternate, islam meluas
ke seluruh Kepulauan Maluku dan daerah pantai timur
Sulawesi. Dalam abad ke-16, di Sulawesi Selatan muncullah
Kerajaan Gowa. Orang-orang Bugis mempunyai peranan
penting dalam mengislamkan Kalimantan Timur dan Sulawesi
Tenggara, sedangkan Sulawesi Utara diislamkan dari Selatan
dan dari ternate (Daliman, 2012: 41).

Demikianlah maka pada akhir abad ke-16 dapat
dikatakan bahwa Islam telah tersebar dan mulai meresapkan
akar-akarnya di seluruh Nusantara. Sementara itu Bali dan
sekitarnya masih mempertahankan agama lamanya dan terus
melanjutkan kehidupan dan kebudayaan yang bercorak
Hindu (Daliman, 2012: 41-42).
B. Pengertian Masjid

Bangunan yang di khususkan untuk melaksanakan
sholat dinamakan masjid, yang artinya “tempat bersujud”
perkataan masjid sujudan, mendapat awalan ma, sehingga
menyebabkan perubahan bentuk sajadah, menjadi
masjidu, masjid (Gazalba, 1962: 112). Dalam pengertian
sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat shalat
kaum muslim. Karena kata masjid berasal dari katanya
yang mengandung tunduk dan patuh, hakikat masjid
adalah tempat melakukan segala aktivitas yang
mengandung kepatuhan pada Tuhan semata.

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 11

Kata “Masjid” menurut lidah dan dialek Indonesia
kemudian berubah menjadi “masjid”. Kemudian dibeberapa
daerah sebutan itupun beraneka ragam sesuai dari bahasa
dan dialek daerah masing tersebut. Misalnya di Jawa banyak
orang menyebutnya “mesigit”, di Sunda “masigit”, di Aceh
“meuseugit” dan “mesigi” di Sulawesi Selatan
(Tjandrasasmita, 1975: 35). Secara terminology diartikan
sebagai tempat berobadah umat Islam, khususnya dalam
menegakkan shalat. Masjid sering disebut sebagai Baitullah
(rumah Allah SWT), yaitu bangunan yang didirikan sebagai
sarana mengabdi kepada Allah SWT.

1. Pengertian masjid secara sempit
Masjid dalam arti sempit merupakan tempat yang mulia

di sisi Allah SWT. Karena itu Allah memberikan perhatian
yang khusus terhadap tempat tersebut. Hal itu terbukti
dengan banyaknya jajni yang ditebar oleh Allah SWT
terhadap orang-orang yang mau memelihara dan
membangun tempat itu. Salah satu sekian banyak janji itu
adalah bahwa Allah akan membuatkan rumah di surga bagi
orang yang menggunakan hartanya untuk membangun
masjid. Janji ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW
“Barang siapa membangun dari harta yang halal sebuah
masjid untuk Allah maka Allah mesti mebangunkan rumah
untuknya di Syurga”

2. Masjid dalam arti luas

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 12

Masjid dalam arti yang sangat luas adalah semua bumi
Allah SWT ini. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW
“… dan dijadikan semua bumi ini sebagai masjid dan
sebagai sesuatu yang suci-mensucikan” sebab kapan saja
kita hendak melakukan shalat maka dimana saja di bumi
Allah ini asal tempat itu suci tanpa harus mencari masjid
atau mushollah.

Masjid dalam arti umum adalah semua tempat yang
digunakan untuk sujud dibumi ini. Sedangkan masjid dalam
arti khusus adalah tempat atau bangunan yang dibangun
khusus untuk menjalankan ibadah, terutama shalat
berjamaah. Masjid yang digunakan untuk melaksanakan
shalat jum‟at disebut Masjid Jami‟. Karena shalat jum‟at
digunakan untuk shalat jum‟at biasanya disebut masjid
Jami‟. Tetapi, jika bangunan yang digunakan untuk shalat
lima waktu, biasa dilakukan diperkampungan, bisa juga
dikantor atau di tempat umum biasanya disebut Musholla
(Tjandrasasmita, 1975: 35). Mushollah bisanya diberi nama
Langgar (Jawa Tengah), tajug (Jawa Barat), meunasah
(Aceh), surau di Minangkabau dan langgara di Sulawesi
Selatan.
C. Fungsi Masjid

Kebangkitan umat Islam tak terlepas dari peran masjid
sebagai tempat untuk mengimpun masa dan strategi.
Kebangkitan ini berawal dari masjid menuju masyarakat luas.
Karena itu upaya Akulturasi fungsi dan peran masjid pada

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 13

abad lima belas adalah sangat mendesak (Urgent) dilakukan
umat Islam. Sebenearnya inti dari memakmurkan masjid
adalah agar menegakkan shalat berjamaah yang merupakan
salah satu cara syi‟ar Islam terbesar. Shalat berjamaah
merupakan indicator utama keberhasilan dalam proses
dakwah dan memakmurkan masjid. Dalam memakmurkan
masjid dapat diukur dari antusias masyarakat yang dating
untuk menegakkan shalat berjama‟ah.

Meskipun fungsi utama dari Masjid sebagai tempat
untuk menegakkan shalat, masjid juga dapat dijadikan
sebagai tempat untuk mengajarkan kebajikan (menuntut
ilmu), tepat belajar, merawat orang sakit menyelesaikan
hukumli‟an dan lain-lain. Adapun fungsi masjid pada zaan
Nabi yaitu Masjid Nabawi adalah sebagai berikut (Thoha,
2002):

1. Tempat Ibadah
2. Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-

sosial dan budaya)
3. Tempat pendidikan
4. Tempat santunan social
5. Tempat latihan militer dan alat-alatnya
6. Tempat pengobatan korban perang
7. Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa
8. Aula dan tempat menerima tamu
9. Tempat menawan tahanan, dan

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 14

10. Pusat penerangan atau pembelaan agama.
Pada zaman Rasulullah, masjid adalah pusat

pengembangan masyarakat dimana setiap hari masyarakat
berjumpa dan mendengar arahan-arahan dari Rasulullah
tentang berbagai hal seperti prinsip-prinsip keberagaman,
tentang system masyaraka baru, juga ayat-ayat Al-Qur‟an
yang baru turun. Didalam masjid pula terjadi interaksi antar
pemikir dan berbagai karakter manusia. Adzan yang
dikumandangkan setiap lima kali sehari sangat efektif untuk
mengumpulkan dan mempertemukan masyarakat dalam
membangun ukhuwah Islamiah.

Dari pernyataan diatas dapat diklasifikasikan bahwa
fungsi-fungsi masjid sebagai berikut:
a. Fungsi Keagamaan

1. Sebagai tempat beribadah

(Foto pribadi)
Sesuai dengan namanya masjid adalah tempat untuk
bersujud, maka fungsi utama dari masjid yakni sebagai
tempat ibadah shalat. Sebagaimana diketahui bahwa makna
ibadah di dalam Islam luas menyangkut segala aktivitas

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 15

kehidupan yang ditujukan untuk memperoleh ridha Allah
SWT, maka fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah/
shalat.
2. Sebagai tempat menuntut ilmu

Masjid juga dapat dipergunakan sebagai tempat untuk
menuntut ilmu agama yang merupakan fardlu‟ain bagi umat
Islam. Selain sebagai tempat untuk menuntut ilmu agama,
masjid juga dapat dijadikan tempat menuntut ilmu social,
ilmu alam, humaniora, keterampilan dan lain sebagainya
yang dapat bermanfaat.
3. Sebagai tempat pembinaan jama‟ah

Dengan adanya Islam, masjid memiliki peran dalam
mengkordinir mereka guna menyatukan potensi dan
kepemimpinan umat. Selain umat yang terkordinir rapi
didalam organisasi Ta‟mir masjid yang didalamnya dibina
keimanannya, ketaqwaannya, ukhuwah imaniyahnya, dan
dakwah islamiyahnya. Sehingga dari masjid menjadi basis
yang menghadirkan umat yang kokoh.
4. Sebagai pusat da‟wah dan kebudayaan Islam

Masjid merupakan jantung kehidupan Islam yang selalu
berdenyut untuk menyebarluaskan da‟wah Islamiyah dan
budaya Islami. Di masjid pula direncanakan organisasi,
kajian, dan dikembangkannya dakwah dan kebudayaan
Islam yang menyahuti kebutuhan masyarakat. Karena itu
masjid menjadi sentra aktivitas dakwah dan kebudayaan.
5. Sebagai pusat kaderisasi umat

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 16

Sebagai tempat pembinaan jama‟ah dan kepemimpinan
umat, masjid memerlukan aktivitas yang berjuang
menegakkan Islam secara istiqomah dan berkesinambungan.
Karena itu pembinaan kader memerlukan persiapan yang
dipusatkan di masjid sejak mereka masik kecil hingga
dewasa.
6. Sebagai basis kebangkitan umat Islam

Masjid sebagai salah satu sarana dakwah yang dapat
memperkokoh umat Islam dan dapat membengkitkan cinta
kasih Islam sehingga menjadi titik pusat kebangkitan Islam.

TUGAS INDIVIDU

Identifikasi fungsi masjid didaerah kalian masing-masing dan
berikan bukti implementasi kegiatannya berupa apa saja!

Latihan Soal 1
Berilah tanda didepan jawaban yang benar!

1. Teori yang dikemukakan oleh S. Hurgronje adalah
teori…
a. Gujarat
b. Makkah
c. China
d. Persia
e. Turki

2. Teori Makkah mengungkapkan bahwa Islam masuk ke
Indonesia pada abad. . .
a. 7

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 17

b. 8
c. 9
d. 11
e. 12
3. Madzab Syafi‟i adalah salah satu Madzab yang menjadi
landasan dan penguat masuknya Islam ke Indonesia.
Madzab ini dijadikan bukti oleh teori. . .
a. India
b. Gujarat
c. Makkah
d. Persia
e. China
4. Didalam teori Persia dijelaskan bahwa Islam masuk
berasal dari Persia dengan dikuatkan oleh persamaan
budaya dan tradisi. Budaya dan tradisi apa yang
dimaksut. . .
a. Idul Fitri
b. Tahun baru Hijriyah
c. Peringatan Asyura atau 10 Muharram
d. Idul Adha
e. Puasa Ayyamul bidh
5. Siapakah pendakwah yang menyebarkan ajaran Islam di
tanah Jawa. . .
a. Sufi
b. Wali Sanga
c. Raja

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 18

d. Santri
e. Musafir
6. Islam masuk ke Indonesia dilakukan dengan berbagai
saluran-saluran. Dibawah ini yang bukan bagian dari
saluran Islam adalah. . .
a. Tasawuf
b. Penjajahan
c. Perkawinan
d. Perdagangan
e. Dakwah
7. Akar kata masjid adalah. . .
a. Sajada
b. Sajjadatun
c. Sujudan
d. Sujudun
e. Sajadan
8. Apa yang dimaksud dengan Masjid Jami‟. . .
a. Masjid yang hanya digunakan untuk sholat lima

waktu
b. Masjid yang berada ditingkat desa
c. Masjid berukuran besar yang digunakan untuk

shalat jum‟at dan biasanya berada di tingkat
kodyamadya
d. Masjid yang berkukuran kecil
e. Masjid yang digunakan untuk hari penting Islman
saja

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 19

9. Istilah musholla yaitu tempat ibadah yang berukuran
kecil dan hanya disunakan untuk sholat lima waktu,
didaerah Sulawesi Selatan lebih dikenal dengan istilah…
a. Langgar
b. Tajug
c. Meunasah
d. Surau
e. Langgara

10. Apakah fungsi utama dari masjid?
a. Tempat penyembelihan hewan qurban
b. Tempat berbuka puasa
c. Tempat melangsungkan pernikahan
d. Melakukan zakat
e. Menegakkan shalat

 Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat, jelas dan
benar!
1. Jelaskan tentang teori masuknya Islam sesuai
pemahaman kalian?
2. Jelaskan persamaan culture dan tradisi yang
dikemukakan di teori Persia?
3. Sebut dan jelaskan saluran penyebaran Islam di
Indonesia?
4. Apa perbedaan konsep “masjid” dan “ musholla”?
5. Jelaskan artimasjid secara khusus?
6. Sebutkan fungsi masjid di masa Nabi?
7. Sebutkan fungsi masjid masa kini?

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 20

8. Sebutkan fungsi masjid di bidang keagamaan?
9. Apa hubungan antara peranan masjid dengan usaha

kebangkitan umat Islam?
10. Jelaskan peran dan fungsi masjid sebagai pusat

dakwah dan kebudayaan Islam?

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 21

BAB II

MATERI PEMBELAJARAN 2 ASAL
USUL MASJID JAMI’ SUMENEP

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 22

A. Letak Geografis Masjid Jami‟ Sumenep
Kabupaten Sumenep merupakan pusat kebudayaan di

Madura dengan kekayaan karya seni budaya yang
berkembang di lingkungan keraton maupun bangunan
arsitektur tradisional (Zulkarnain, 2003). Budaya yang
terdapat pada Madura merupakan ekor dari budaya Jawa
yang dilihat dari sejarahnya pada tahun 600- 1500 M
Madura dikuasai kerajaa-kerajaan Hindhu di Jawa.
Kabupaten Sumenep merupakan salah satu kawasan
terpenting dalam sejarah Madura karena banyak sekali
ditemukan situs prasejarah, salah satunya Masjid Jamik
(Zulkarnain, 2003). Masjid Jami‟ Sumenep berada di
tengah-tengah Kota (Pusat Kota) Sumenep dan termasuk
dalam kompleks keraton. Masjid Jami‟ dirancang oleh
arsitek yang berkebangsaan Tionghoa yaitu Law Piango.
Letak Masjid Jami‟ berada tepat disebelah barat Alun-alun
Sumenep. Hal ini dimungkinkan untuk berkembangnya
masjid dari segi fungsi social, fungsi keagamaan dan
filosofinya.

Masjid yang digunakan sebagai tempat beribadah
masyarakat Sumenep pada tahun 1639 M yaitu di Masjdi
Laju. Sebelum didirikannya masjid jami‟ oleh Panembahan
Asirudin Notokusumo di tahun 1763 M, masyarakat
melakukan sembahyang di Masjid Lajhu yang berada di
sebelah utara keraton Sumenep. Pembangunan Masjid Jami‟
ini dikarenakan tempat untuk menampung masyarakat di

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 23

Masjid Lajhu sudah sangat sempit keadaannya dan
perkembangan masyarakat yang memeluk Islam dari hari ke
hari semakin banyak. Sehingga para petinggi keraton, para
ulama serta beberapa tokoh masyarakat memiliki inisiatif
untuk membangun Masjid Jami‟ Sumenep sebagai tempat
sholat yang letaknya tepat berada di sebelah barat dari alun-
alun dan keraton, hanya berjarak beberapa meter saja dari
masjid lajhu.
B. Sejarah berdirinya Masjid Jami‟ Sumenep

Sebelum berdirinya Masjid Jami‟ Sumenep terlebih
dahulu telah ada masjid sebagai tempat peribadahan
masyarakat yaitu di Masjid Lajhu. Namum karena
keberadaannya sangat sempit dan jamaah semakin
bertambah maka pada zaman pemerintahan Panembahan I
Raden Aryo Panembahan Asiruddin Notokusumo yang
diangkat sebagai raja/tumenggung di Sumenep serta tokoh
masyarakat yang merencanakan untuk mendirikan sebuah
masjid baru. Beliau mengharapkan bantuan dari mentri,
tenaga atau sumbangsih pemikiran, sebagaimana waktu
pendirian keraton, ditambah lagi masjid ini merupakan
kebutuhan seluruh umat Islam. Sehingga dalam
musyawarah tersebut semua sepakat dan sangat setuju
untuk mendirikan sebuah masjid yang sangat megah sebagai
symbol kejayaan Islam di Sumenep guna dijadikan masjid
Jami‟, sebagai sentral/pusat bagi semua masjid yang berada
di Sumenep. Dengan selesainya pembangunan keraton,

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 24

maka pembangunan masjid langsung dikerjakan pada tahu
1200 sampai 1206 H atau tahun 1763-1769 M.

Sebagai seorang raja yang berpangkat Auliya‟ Allah
Panembahan Asiruddin Notokusumo pasti dan tahu
memisahkan yang mana kepentingan duniawi dengan
kepentingan akhirat. Beliau tidak akan lebih memilih pada
keduniawian dari pada kepentingan agama. Maka
pembangunan Masjid dilakukan dengan menggunakan
nuansa keberagaman yakni memakai Arsitek Cina dengan
corak arsitektur bangunan yang terbaik dan tampak megah
keberadaannya hingga saat ini. Arsitek asal Cina itu adalah
Law Piango sebagai tenaga ahli bangunan utusan dari Cina.

Dengan mengikuti petunjuk dari Panembahan I, petujuk
itu meliputi bentuk bangunan, tata letak, ornamentasi
maupun kaligrafi masjid yang unik serta menarik, indah
dalam bangunan bergaya Eropa, Cina dan Madura. Dalam
memilih dan membangun tidak sembarangan menentukan
material-materialnya, cara menyusun batu temboknya ada
cara tersendiri dan perekatnya tidak menggunakan air biasa
melainkan tanah dan kapurnya dicampurkan terlebih
dahulu dengan air nira(dalam bahasa Madura La‟ang)
sehingga hasil temboknya sekeras batu. Meskipun air nira
sebenarnya sangat sulit dicari dang sukar didapatkan,
namun semua itu diupayakan semaksimal mungkin karena
di Sumenep sendiri banyak bertebaran pohon Siwalan
(tarebung: bahasa Madura). Dengan dibantuan Tuhan Yang

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 25

Maha Esa terhadap hambanya yang memiliki niat
memperjuangkan agamanya pasti mendapatkan rahmat dan
pertolongan-Nya agar mendapat kemudahan.

Pembangunan masjid sendiri membutuhkan waktu 6
tahun yakni sejak 1763-1769 M yang sangat menguras
tenaga dan pikiran. Meskipun demikian Pangeran
Notokusumo (Raja Panembanhan Sumolo) beserta semua
rakyatnya, terlebih yang ikut dalam pembangunan masjid
jami‟ merasa sangat puas.

Setelah masjid berhasil di bangun banyak orang-orang
yang menyebutnya sebagai masjid anyar (Masjid baru),
karena keberadaannya setelah adanya masjid lajhu (masjid
lama). Namun lama kelamaan masjid anyar lebih santer di
sebut masjid Jami‟ Sumenep, karena banyak masyarakat dari
pedesaan maupun perkotaan pergi untuk menunaikan shalat
jum‟at di masjid jami‟. Selain itu, Masjid Jami‟ ini menjadi
pusat dari masjid-masjid lain sebagai titik penentuan hari
pertama di bulan puasa dan hari raya juga termasuk hari-
hari Islam lainnya.

Kemegahan dan keindahan masjid jamik didukung
dengan adanya Gapura besar sehingga disamping Gapura
tersebut terdapat dua bilik kamar yang memiliki fungsi
berbeda. Dibagian utara diisi sebagai tempat peti uang kas
masjid, yang masing-masing peti diberi tiga gembok, sedang
kuncinya di pegang oleh penghulu sebagai Takmir Masjid,
juga dipegang Patih kerajaan , dan yang terakhir dipegang

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 26

oleh Hakim Pengadilan Agama dari petugas hokum. Hal ini
dilakukan agar pengelolaan keuangan masjid bisa
transparan dapat dilihat oleh jama‟ah dan proses kehati-
hatian sangat di perhatikan secara mendetail. Sedangkan di
bagian selatan kamar diisi dengan keranda (Katel dalam
bahasa Madura).

(Foto Pribadi)
Kemegahan masjid Jami‟ memang sangat mengagumkan
ditambah dengan letaknya yang bersampingan dengan alun-
alun kota Sumenep yang juga memiliki filosofi antara
keduanya. Bentuk gapura yang indah menunjukkan bahwa
begitu megah masjid tersebut terbentuk. Kalau dipandang akan
menghadirkan getaran di jiwa, seakan meneraik diri untuk
masuk dan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, ingin
bertaubat, memohon ampunan atas segala dosa-dosanya . Pintu
masjid jami‟ Sumenep berbentuk gapura asal kata bahasa Arab
“Hafura” artinya masuk ketempat pengampunan Allah. Masjid
jami‟ Sumenep dan sekelilingnya memakai pagar tembok dan
pintu gerbang, dimaksutkan agar jamaah lebih berhati-hati

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 27

berkonsentrasi dalam melaksanakn shalat dan mendengarkan
khotbah.

Kedua bangunan yang dibangun oleh Panembahan
Notokusumo yakni Masjid dan Keraton didirikan tepat
disamping barat dan samping timur alun-alun. Antara keraton
dengan masjid terdapat hubungan makna filosofi dengan
pusatnya alun-alun kota Sumenep, yang melambangkan
Habblumminallah, Hablumminannas dan Hablumminal
Alamin, maksutya dari alun-alun menghadap kebarat (masjid)
menandakan hubungan dengan Allah SWT, sedangkan alun-
alun menghadap ketimur (keraton Sumenep) adalah hubungan
dengan sesame manusia, sedangkan alun-alunnya sendiri
adalah hubungan antara manusia dengan alam seisinya.
Orang-orang yangberkumpul di alun-alun (di pusat kota),
bilamana mengadakan Hablumminallah, hablumminannas,
dan Hablumminallaalamin, harus pelan-pelan dan berhati-
hati.

Perancangan bangunan keraton dan masjid ini sendiri
pasti tidak hanya sekedar perancangan yang biasa melainkan
pasti beliau merancang dengan harapan keberkahan dan Allah
selalu bersama hambanya yang meniatkan segala sesuatu
untuk mencari keridhoannya. Sebab jika hanya berdasarkan
pada perencanaan manusia pasti banyak terdapat
kekeurangan, akan tetapi bangunan ini sangat berbeda tata
letak dan makna didalamnya.

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 28

Pangeran Notokusumo medirikan masjid jami‟ yang sangat
megah dan indah kelihatannya sungguh melebihi bangunan
keraton dan pendoponya yang benar-benar lebih
mengutamakan tempat sujud/tempat beribadah (masjid)
daripada tempat yang didiaminya. Karena beliau tidak
mengikuti nafsunya untuk dipuja dan dipuji, disanjung dan
diagungkan, sehingga ciptaannya mengandung dan
menghasilkan karismatik yang sangat kuat, lebih-lebih adanya
dua prasasti (wasiat) yang ditulis dengan bahasa Arab kurang
lebih terjemahannya sebagai berikut:

Yang pertama: Yang membangun masjid ini adalah
Pangeran Natakusuma di negeri/kerajaan
Sumenep dan selesai di bulan Ramadhan
dan dijadikan wakaf atas jalan Allah di
dalam memulai pekerjaan kebajikan untuk
shalat bertujuan taat kepada Allah SWT.

Yang kedua: Masjid ini adalah Baitullah, Pangeran
Natakusuma berkata “ Sesungguhnya
wasiatku kepada orang yang memerintah
(selaku penguasa) dan menegakkan
kebaikan, jika terdapat masjid ini
sesudahku (keadaan) aib, maka
perbaikilah. Sesungguhnya masjid ini
adalah wakaf, jangan diwariskan dan
jangan dijual serta jangan sesekali
merusaknya.

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 29

Raden Asirudin (Panembahan Natakusuma) sebagai raja
yang memiliki gelar Panembahan Natakusuma dan
Panembahan Sumolo adalah seseorang yang berjiwa pejuang
yang suci, berjuang untuk membangun rakyatnya agar
mencapai kemakmuran dan ketentraman dari dunia sampai
akhirat yang dapat dilihat dari hasil-hasil pembangunan
keduniawian dan keagamaannya. Hal ini dapat dilihat di hasil
pembangunan keraton dengan pendopo agungnya dan masjid
jami‟ dengan kemegahan gapuranya yang telah menandakan
rakyatnya merasakan keadilan dan kemakmuran.

TUGAS INDIVIDU

Identivikasi bangunan-banunan serta komponen masjid
didaerah kalian masing-masing!

Latihan Soal.
A. Berilah tanda silang(X) pada huruf a,b,c, d dan e

didepan jawaban yang benar!
1. Masjid pertama kali yang telah ada di Sumenep di

bangun oleh. . .
a. Panembahan Notokusomo
b. Pangeran Anggadipa
c. Pangeran Pakunataningrat
d. Sultan Abdurrachman
e. Pangeran Aria Pranataningkusuma

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 30

2. Pada tahun berapa masjid yang dibangun oleh
Pangeran Anggadipa di bangun. . .
a. 1639
b. 1640
c. 1641
d. 1642
e. 1643

3. Dimanakah letak masjid laju. . .
a. Sebelah selatan keraton Sumenep
b. Sebelah utara keraton Sumenep
c. Sebelah barat keraton Sumenep
d. Sebelah tenggara keraton Sumenep
e. Sebelah timur keraton Sumenep

4. Pembangunan Masjid Jamik Sumenep berlangsung
selama. . .
a. 4 tahun
b. 5 tahun
c. 6 tahun
d. 7 tahun
e. 8 tahun

5. Pada masa pemerintahan siapa masjid jamik
dibangun. . .
a. Pangeran Joko Tole
b. Panembahan Notokusumo
c. Aria Wiraraja
d. Pangeran Anggadipa

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 31

e. Pangeran Joharsari
6. Tahun berapakah masjid jami‟ di bangun. . .

a. 1761-1666 M
b. 1763-1769 M
c. 1764-1770 M
d. 1765-1771 M
e. 1766-1772 M
7. Siapakah arsitek pembangunan Masjid Jami‟. . .
a. Panembahan Notokusumo
b. Law Piango
c. Penembahan Anggadipa
d. Joko Tole
e. Panembahan Sumolo
8. Apakah maksut dari “masjid anyar”. . .
a. Masjid Modern
b. Masjid Lama
c. Masjid Baru
d. Masjid Kuno
e. Masjid Gaul
9. Apakah yang dimaksut Masjid Laju. . .
a. Masjid Baru
b. Masjid Lama
c. Masjid Modern
d. Masjid Unik
e. Masjid Kuno
10. Dimanakah letak dari Masjid Jamik. . .

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 32

a. Sebelah barat alun-alun
b. Sebelah timur alun-alun
c. Sebelah selatan alun-alun
d. Sebelah utara alun-alun
e. Sebelah tenggara alun-alun
B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat, jelas dan
benar!
1. Jelaskan secara singkat sejarah berdirinya Masjid
Jamik Sumenep ?
2. Mengapa sekeliling masjid jamik memakai pagar
tembok?
3. Jelaskan perpaduan komponen arsitektur dan
ornament yang melengkapi pembangunan masjid
jami‟ Sumenep?
4. Jelaskan maksut dari istilah masjid anyar dan masjid
laju?
5. Apakah yang dimaksud dengan “Hafur”?
6. Jelaskan kegunaan dari masing-masing kamar yang
ada di gapura?
7. Apakah hubungan antara masjid dengan usaha
dalam memakmurkan masyarakat Sumenep?
8. Apakah isi dari prasasti kedua dan jelaskan
menurut pemahaman kalian!
9. Panembahan Notokusumo mendirikan bangunan
keraton dan masjid jamik di samping barat dan
timur alun-alun. Jelaskan hubungan filosofi dari

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 33

kedua bangunan yang berpusat di alun-alun kota
Sumenep?
10. Mengapa masjid jamik lebih indah dan megah jika
dibandingkan dengan keraton Sumenep?

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 34

BAB III

MATERI PEMBALAJARAN 3
ARSITEKTUR MASJID JAMI’ SUMENEP

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 35

A. Arsitektur Masjid di Dunia dan Indonesia
1. Struktur ruang masjid
Arsitektur merupakan hasil atau proses rancangan

dalam menyususun suatu bantuk bangunan dalam
memenuhi kebutuhan ruangan untuk melakukan aktivitas
tertentu (Juliadi, 2007:41). Berdasarkan pada definisi diatas
serta batasan yang dimaksut dengan masjid adalah
bangunan yang diperuntukkan untuk bersembahyang
bersama (berjamaah) pada hari jum‟at dan ibadah umay
Islam lainnya dengan fungsi ganda dan majemuk sesuai
perkembangannya, budaya serta kondisi tempat suatu
masyarakat.

Masjid selain sebagai tempat untuk beribadah juga dapat
menjadi tempat untuk mendengarkan ceramah agama
(khutbah). Masjid didalamnya memiliki ruangan sebagai
tempat untuk shalat (liwan), masjid juga dilengkapi dengan
mimbar, mihrab dan beberapa elemen lainnya yang
memiliki fungsi masing-masing. Seiring dengan
perkembangannya, terdapat keanekaragaman dalam wujud
dan bentuknya, namun kemudian pada umumnya bagian-
bagian atau arsitektur bangunan tidak banyak berubah.
Adapun bagian-bagian yang dimaksut antara lain (Juliadi:
2007:13):
a. Mihrab

Mihrap merupakan salah satu bagian dari masjid yang
bentuknya berupa ceruk atau ruangan relative kecil yang

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 36

menjorok masuk kedalam dinding yang biasanya dijadikan
sebagai petanda arah kiblat. Mihrab biasanya berbentuk
persegi panjang yang digunakan sebagai tempat imam
memimpin shalat.
b. Mimbar

Mimbar berasal dari kata mimbar yang berarti kursi,
singgasana atau tahta, umumnya terbuat dari kayu yang
dihias atau diukir. Mimbar merupakan kursi tinggi yang
untuk mendudukinya harus menaiki beberapa anak tangga.
Mimbar biasanya digunakan untuk tempat berkhutbah atau
berceramah sebelum melakukan shalat jum‟at yang berisi
unsur amaliah dan muamalah. Biasanya mimbar
bersampingan dengan mihran di sebelah kanannya. Dimasa
lalu mimbar juga digunakan oleh pemimpin di daerah
setempat sebagai tempat untuk menyampaikan masalah atau
persoalan yang lebih luas yang tidak terbatas pada agama
saja.
c. Liwan

Liwan merupakan ruangan luas tempat para jamaah
melaksanakan shalat dan duduk mendengarkan khuybah.
Didalam liwan terdapat beberapa ruangan atau elemen
masjid lainnya seperti mihrab, mimbar, makzurah dan
zawiyyah dan dikkah.

d. Sahn
Sahn merupakam bagian dari masjid yang berupa

lapangan terbuka (tanpa atap) dalam halaman masjid. Di

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 37

tempat ini dibangun kolam atau pancuran air sebagai sarana
bersuci (bewudhu). Saat ini Sahn sudah jarang dijumpai
karena tempat pengambilan air wudhu ditempatkan
dibagian luar bangunan atau ditepi bangunan masjid.

e. Maksurah dan Zawiyah
Maksurah adalah bilik yang berbentuk kotak, berdinding

pagar atau terali sehingga tembus pandang. Maksurah
dipergunakan khusus untuk para pembesar negeri pada
waktu shalat. Keberadaan maksurah ini pertama kali dibuat
pada masa Dinasti Ummayah (661-750) guna menjaga
keamanan dan kenyamanan dari khalifah dan gubernurnya
dari serangan tiba-tiba dari pihak musuh.
f. Dikkeh

Dikkeh atau dikka atau dakka kadang juga dijumpai
dalam ruangan liwan atau mughata. Dikka biasanya dibuat
dari kayu atau tembok berbentuk panggung kecil yang
digunakan sebagai tempat wakil dari imam untuk
mengulang ucapan-ucapan imam disaat-saat tertentu,
seperti Allahu Akbar. Dikka biasanya juga digunakan oleh
Muadzzin untuk mengumandangkan adzan kedua (yang
pertama dimenara) dan iqamah.

g. Riwags
Riwags adalah semacam serambi, selasar atau koridor

yang mengelilingi sahn, biasanya tidak berdinding penuh
atau hanya dibatasi oleh tiang-tiang saja.pada masa Nabi
Muhammad SAW, bagian riwags di Masjid Nabawi, dikenal

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 38

dengan suffah, tempat tinggal para fakir miskin dan tempat
Nabi memberikan ajaran-ajaran agama.
h. Kubah

Kubah merupakan bagian atas masjid, bentuknya seperti
bola terpancang yang dijadikan atap. Pembuatan kubah
pertama kali dilakukan dimasjid Al-Sakhra atau masjid
Umar di Yerussalem pada masa khalifak Abdul Malik (685-
688) dari Dinasti Umayyah. Dari sini muncullah berbagai
macam bentuk kubah.

i. Menara
Menara adalah bangunan tinggi ramping tempat

mengumandangkan adzan sebagai panggilan untuk
menunaikan ibadah shalat. Adzan dilakukan oleh Muadzin
diruangan paling atas dari menara agar dapat terdengan
jauh. Penggunaan menara tidak dapat diketahui secara pasti
digunakan dan dibangun kapan. Sekarang masjid telah
banyak menggunakan menara yang diberikan pengeras
suara, sedangkan muadzinnya cukup melakukan adzan
didalam masjid dan iqomah di dalam masjid pula.

Secara garis besar komponen-komponen di masjid
terdapat 9 komponen yang ada sejak dahulu sampai
berkembangnya Islam di Timur Tengah hingga bisa sampai
ke Indonesia. Namun komponen tersebut tidal semuanya di
bangun pada area masjid, hanya beberapa yang dikira
dibutuhkan oleh masjid tersebut. Didalam proses
perkembangan pembangunan masjid berbagai arsitektur

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 39

masjid banyak mengalami perkembangan. Hal ini dilakukan
dengan memasukkan unsur kelokalan dari daerah tersebut
sehingga memunculkan masjid yang bernuansa
daerah/local. Namun itu semua tidak terlepas dari pengaruh
bentuk dan konsep yang telah ada dimasa sebelumnya.

Seiring dengan perkembangan zaman banyak
pencampuran budaya pada arsitektur masjid masa kini serta
kemajuan dari aspek komunikasi dan teknologi semakin
memberikan nuansa yang megah. Semakin banyaknya
komunikasi terjalin maka semakin banyak pula informasi
yang didapat, sehingga memungkinkan akulturasi budaya
semakin banyak mempengaruhi bangunan masjid di
belahan dunia.

2. Arsitektur masjid kuno Indonesia
Bentuk-bentuk dari masjid yang ada di Indonesiatidak

terlepas dari pengaruh arsitektur dunia Islam yang
dipadukan dengan kondisi budaya local yang ada saat itu,
serta akulturasi dengan agama yang ada pada masa itu
sehingga nuansa keberagaman bisa dilihat di masjid-masjid
awal abad 15an. Proses akulturasi budaya ini untuk menarik
masyarakat dan tetap menghargai dari adat dan
kepercayaan dari masing-masing orang tanpa menimbulkan
problematika dalam proses penyebaran Islam masa itu.
1) Pada tahun 1935, seorang arkeolog Belanda bernama

WF Stutterheim dalam bukunya yang berjudul Leerboek
der Indesche Cultuurgeschiendenis, vol 3 menyebutkan

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 40

bahwa masjid jawa jawa itu ditueunkan dari bentuk
bangunan besar yang ia sebut dengan hanenklopbaan
seperti kalau di Bali disebut dengan wantilan atau
tempat sabung ayam (Budi, 2006). WF. Stutterheim
mengatakan bahwa ruang-ruang kecil dan sempit pada
candi tidak mungkin dapat dijadikan model pengalihan
fungsi sebuah masjid yang memerlukan ruang besar
guna keperluan shalat berjamaah.
2) Teori tetang arsitektur masjid kuno di Indonesia lebih
detail diuraikan oleh G.F Pijper (1987:24) mengatakan
behwa arsitektur masjid kuno Indonesia memiliki ciri
khas yang membedakannya dengan bentuk-bentuk
masjid di Negara lainnya. Berikut ciri-ciri type masjid di
Indonesia:
a. Denahnya berbentuk segi empat
b. Pondasi bangunan berbentuk persegi yang agak tinggi
c. Atap masjid berbentuk tumpang, terdiri dari dua

sampai lima yang semakin keatas semakin
mengerucut
d. Disisi barat atau barat lau terdapat bangunan yang
menonjol sebagai mihrab
e. Dibagian depan dan kadang-kadang dikedua sisinya
ada serambi yang terbuka atau tertutup
f. Halaman sekitar masjid dikelilingi dengan satu atau
dua pintu gerbang
g. Dibangun di sebelah barat alun-alun

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 41

h. Arah mihrab tidak tepat kiblat
i. Dibangun dari bahan yang mudah rusak
j. Terdapat parit air yang mengelilingi atau di depan

masjid
k. Awalnya dibangun tanpa serambi
l. Dibangun diatas tiang kolong
B. Arsitektur Masjid Jami‟ Sumenep

(Foto dari Google)
Masjid jamik sumenep adalah masjid yang berada di

Sumenep Madura. Berdiri menghadap alun-alun kota

Sumenep. Masjid Agung Sumenep yang dulunya disebut

masjid jami‟ yang menjadi salah satu penanda kota

Sumenep. Masjid Panembahan Somala atau lebih dikenal

dengan sebutan masjid jamik Sumenep merupakan salah

satu bangunan 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur

yang khas di Nusantara. Masjid jamik Sumenep saat ini telah

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 42

menjadi salah satu landmark di Pulau Madura. Dibangun
pada pemerintahan Panembahan Somala [1], penguasa
Negeri Sumenep XXXI, dibangun setelah pembangunan
kompleks keraton Sumenep, dengan arsitek yang sama yakni
Law Piango.

Menurut catatan sejarah Sumenep, pembangunan masjid
jamik dimulai pada tahun 1763-1769 M. bangunan ini
merupakan salah satu bangunan pendukung keraton
Sumenep, yakni sebagai tempat ibadah bagi keluarga
keraton dan masyarakat. Masjid jamik merupakan masjid
kedua yang dibangun oleh keluarga keraton, dimana
kompleks masjid pertama yang dibangun berada tepat
dibelakang keraton yang lebih dikenal dengan nama masjid
laju (bahasa Madura) yang dibangun oleh Kanjeng R.
Tumenggung Ario Anggadipa penguasa negeri Sumenep
XXI.

Arsitektur bangunan masjidnya sendiri, secara garis
besar banyak dipengaruhi oleh unsur kebudayaan Tiongkok,
Eropa, Jawa dan Madura, salah satunya pada gerbang pintu
masuk utama masjid yang corak arsitekturnya bernuansa
kebudayaan Tiongkok. Untuk bangunan utama masjid
secara keseluruhan dipengaruhi oleh unsur budaya Jawa
pada bagian atapnya dan budaya Madurapada pewarnaan
pintu utama dan jendela masjid. Sedangkan interior masjid
lebih cenderung bernuansa kebudayaan Tiongkok pada
bagian Mihrab.

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 43


Click to View FlipBook Version