The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Retno Lanceng Kermata, 2020-07-26 01:56:06

Sejarah Masjid Jamik Sumenep

Modul Sejarah New

Masjid ini dilengkapi minaret yang desain arsitekturnya
dipengaruhi oleh kebudayaan portugis, minaretnya
mempunyai tinggi 50 meter terdapat disebelah barat masjid
yang dibangun pada masa pemerintahan Kanjeng Pangeran
Aria Pratingkusuma. Di kanan dan kiri pagar utama yang
masif juga terdapat bangunan berbentuk kubah. Pada masa
pemerintahan Kanjeng Tumenggung Arya Prabuwinata
pagar utama yang cenderung massif dan tertutup, dimana
semula dimaksidkan untuk menjaga ketenangan jama‟ah
dalam menjalankan ibadah di ubah total menjadi pagar besi.
Untuk halaman masjidnya sendiri terdapat pohon sawo
(bahasa Madura: sabu) dan juga pohon tanjung, dimana
kedua pohon tersebut konon merupakan penghias utama
halaman masjid.

Ukiran Jawa dalam pengaruh berbagai budaya juga turut
menghiasi 10 jendela dan 9 pintu besarnya. Bila
diperhatikan ukiran di pintu masjid ini dipengaruhi budaya
Tiongkok dengan penggunaan warna-warna cerah.
Disamping pintu masjid terdapat jam duduk ukuran besar
dan diatas pintu tersebut terdapat prasasti beraksara Arab
dan Jawa.

Didalam masjid terdapat 13 pilar yang begitu besar yang
menggantikan rukun sholat. Bagian luar tedapat 20 pilar
dan 2 tempat khotbah yang begitu indah dan diatas tempat
khotbah terdapat sebuah pedang yang berasal dari Irak.

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 44

Awalnya pedang tersebut terdapat 2 buah namun salah
satunya hilang dan tak pernah kembali.

Video Pembelajaran :

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 45

C. Makna Filosofi Arsitektur Masjid Jami‟ Sumenep
Setiap bangunan diseluruh Indonesia pasti memiliki

makna filosofi tersendiri. Hal ini bergantung pada kondisi
ekonomi, social, budaya masyarakat tersebut. Makna-makna
tersebut dapat dilihat baik secara tersirat maupun tersurat
melalui pengamatan langsung serta pemhaman fungsi
pembangunan, dari masing-masing elemen masjid yang ada.
Maknaa tersebut dapat dikaji melalui bentuk aliran masjid
yang dianut, bentuk atap, elemen apa saya yang berada
dalam masjid, jumlah dan bentuk tiang penyokong dalam
masjid (pilar), dan lain sebagainya.

Pada masjid jamik Sumenep pemaknaan sangat terbatas
mengingat bahwa sumber sejarah masjid tersebut sangat
minim, dan terbatasnya akses untuk mengetahui buku satu-
satunya peninggalan masjid dan pendiri dari masjid itu
sendiri.

Berikut beberapa paparan filosofi bangunan dan makna
prasasti masjid Jami‟ Sumenep:
1. Pintu Gerbang Utama Masjid

(Foto dari Google) Page 46
Sejarah Masjid Jamik Sumenep

Masjid jamik dan sekelilingnya menggunakan tembok
dengan pintu gerbang sebagai pintu masuk utama yang
disubut gapura. Kata gapura berasal dari bahasa Arab
“Hafura” artinya masuk ketempat pengampunan Allah.
Diatas Gapura terdapat dua lubang terbuka yang
mengibaratkan dua mata manusia yang sedang melihat. Lalu
diatas kedua lubang tersebut terdapat ukiran segi lima
memanjang ke atas yang diibaratkan kepada manusia yang
sedang duduk dengan rapi menghadap kearah barat (qiblat)
namun dipisahkan oleh gambar oinru seperti pintu yang ada
dibawahnya pintu masuk/keluar masjid, ini melambangka
bahwa apabila masuk kedalam masjid melakukah shalat
jum‟at harus memakai tatakrama dan harus melihat jangan
sampai memisahkan kedua orang tua yang duduk bersama
dan ketika imam keluar menuju mimbar jangan sampai
berjalan melangkahi leher seseorang.
2. Menara

Panembahan pertama memberikan petunjuk mengenai
menara yang akan digunakan untuk mengumandangkan
adzan sebagai penanda agar bagi umat Islam yang telah
berkeyakinan penuh rukun iman agar supaya bersegera ke
masjid. Keadaan menara masjid yang berbentuk persegi
enam menandakan bahwa tegaknya rukun iman yang ada
enam. Begitu juga dengan ujung palung atas meruncing
seperti ujung panah yang menunjukkan keberhasilan

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 47

keturunannya harus tetap beriktikad memegang teguh
ajaran agama Islam.

Keberadaan menagar masjid jamik lebih rendah dari
atap masjid (kubah), menurut sesepuh menunjukkan bahwa
setiap rakyat harus taat kepada pemimpinnya,, setiap murid
harus taat pada gurunya, setiap keluarga harus taap pada
pemimpinnya (iman) keluarganya, dan setiap pemimpin dan
yang dipimpin harus saling ramah tamah tidak boleh
melangkahi atau mendahului.
3. 13 pilar dan maknanya

(Foto Pribadi)
Begitu pula petunjuk panembahan Somala kepda juru
arsitek Tiongkok Law Piango, mengatakan bahwa bangunan
masjid di tengah-tengah harus dibuatkan pilar yang
dikelilingi 13 pilar dan jika dilihat dari sebelah utara, barat,
selatan, timur berbentuk persegi empat sebagai suatu
kesatuan dalam melakukan ibadah dan sebagai symbol salat
berjamaah. Seluruh bangunan masjid tersebut memiliki
makna masing-masing dengan menyimak beberapa

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 48

penjelasan akan makna-makna dari sebagian elemen
bangunan yang ada, yakni sebagai berikut:

a. Menara digunakan sebagai tempat adzan memanggil
kaum muslin untuk mengerjakan sholat berjamaah tepat
waktu. Dengan berbentuk menara segi enam
menunjukkan rukun iman itu ada enam dan harus
diyakini.

b. Kelima pintu pada bagian timur masjid ditafsirkan
sebagai peringatan untuk mengerjakan sholat lima
waktu sedangkan dua pintu pada sisi selatan dan utara
ditafsirkan sifat rasul (sidiq, amanah, tabligh, fathonah)
dan jendela sebanyak sepuluh buah ditafsirkan akan
banyaknya malaikat (Mukarram, 2001)

c. Jumlah pilar yang terdapat didalam bangunan berjumlah
13 yang mengartikan rukun shalat (Niat, berdiri bagi
yang mampu, Takbiratul Ikhram, Membaca Al-Fatehah,
Ruku, I‟tidal, Sujud, Duduk diantara dua salam, duduk
pada tasyahud akhir, membaca shalawat nabi, salam,
dan tertib). (Mukarram, 2001)

4. Mihrab ganda dan Masjid
Didalam masjid terdapat 2 mihrab yang memiliki

kegunaan berbeda. Mihrab pertama berfungfi sebagai tempat
imam melaksanakan shalat, sedangkan mihrab kedua sebagai
tempat makmum untuk memperjelas bacaan apabila imam
mengucapkan takbir dan juga mamkmu yang berada di
tempat tersebut (mihrab kedua) diharuskan bersuara lantang

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 49

agar suara bisa tersampaikan keseluruh bagian masjid karena
pada saat itu belum ada pengeras suara.

Begitu juga dengan Mihrab tersebut masing-masing
memiliki tiga susun tangga yang memiliki makna sebagai
berikut:

a. Tangga pertama, artinya ingatlah bahwa semua alim
ulama yang benar-benar alim dan beriktikaf paling
tinggi berhak menjadi imam shalat/ sebagai khatib.

b. Tangga kedua, setiap ulama dan yang paling
menonjol ilmu syariatnya juga berhak menjadi
imam/khatib.

c. Tangga ketiga, artinya diharapkan bagi seluruh
jamaah masjid harus memahami sesempurna
mungkin teori dan praktek kembali kepada Allah
SWT dengan kata seruan rukuk dan sujudlah kamu
kepada Allah SWT.

5. Makna ukiran pada pintu
Pintu utama masjid ada 5 buah pintu, satu pintu berada

ditengah-tengah dengan ukuran paling besar diantara
keempaat pintu lainnya, sedangkan ukuran pintu lainnya
memiliki ukuran yang relative sama. Kita lihat pintu yang
paling besar yang ada ditengah. Pada dua lembar daun pintu
ada ukiran berbentuk pohon menjalar berbunga dan berbuah
yang biasa disebut dengan relief yang memiliki makna:

a. Pohon menjalar terus berarti syariat Islam dengan ilmu
iktikatnya yakni bahwa orang-orang Islam di Sumenep

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 50

telah bertekad menunjukkan kesempurnaan
keyakinannya kepada Allah serta menunjukkan kekuatan
keyakinan yang terus bertambah seiring berjalannya
waktu.
b. Daun menunjukkan bahwa raja, para alim ulama,
pemimpin dan tokoh masyarakat telah berlindung
dibawah naungan pemimpinnya.
c. Bunga menunjukkan bahwa kekompakan dengan
raja/pemimpin sangat mempengaruhi masyarakat luas
dan mengharumkan masyarakat Sumenep.
d. Buah memberikan bukti bahwa syariat dan iktikad Islam
di Sumenep telah menyebar dengan sempurna pada abag
ke-18.
6. Filosofi pohon Tanjung dan pohon Sawo
Utama halaman masjid terdapat pohon sawo (sabu:
bahasa Madura) dan juga pohon tanjung, dimana kedua
pohon tersebut merupakan penghias utama halaman masjid
karena dipercaya memiliki makna filosofi sebagai berikut:
a. Sabu adalah penyatuan kata ”sa” dan “bu”, sa
mempunya maksut salat dan bu mempunya maksut ja
„bu-ambu (dalam bahasa Madura).

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 51

(Foto Pribadi)
b. Tanjung adalah penyatuan kata “ta” dan “jung”, ta

mempunya maksut tandha, dan jung mempunyai

maksud ajunjhung.

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 52

(Foto Pribadi)
c. Dan masjid sendiri memiliki makna pusat kegiatan

dalam menyiarkan agama Islam.
Jadi apabila dijabarkan kesemuanya mengandung

maksut dan harapan sebagai:
“Shalat ja‟ bu-ambu (jha‟ ga‟ pegga‟), tanda

ajunjhung tenggi kegiatan agama Allah. Maka dalam Bahasa
Indonesia adalah Shalat Lima waktu jangan ditinggal (jangan
putus-putus), sebagai tanda menjunjung tinggi agama Allah.

TUGAS INDIVIDU

Identifikasi Masjid bersejarah didaerah kalian masing-
masing dan berikan bukti peninggalan sejarahnya!

Latihan Soal.
A. Berilah tanda silang(X)pada huruf a,b,c, d dan e

didepan jawaban yang benar!
1. Berikut yang merupakan komponen utama dari

bangunan masjid adalah. . .
a. Mihrab
b. Mimbar
c. Liwan
d. Menara
e. Beduq
2. Tempat luas yang digunakan untuk shalat di dalam

masjid dinakaman. . .
a. Mihrab

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 53

b. Menara
c. Liwan
d. Dikkeh
e. Sahn
3. Tempat yang digunakan oleh Muadzin untuk

mengumandangkan adzan dinamakan. . .
a. Mimbar
b. Menara
c. Suffah
d. Dikkeh
e. Kubah
4. Terdapat dua masjid yang telah dibangun oleh

keluarga keraton di masa pemerintahan dan tempat
yang berbeda. Masjid apa sajakah itu. . .
a. Masjid Jamik dan Masjid Darussalam
b. Masjid Laju dan Masjid Al-Hikmah
c. Masjid Al-Hidayah dan Masjid Nurul Iman
d. Masjid Laju dan Masjid Jamik
e. Masjidil Haram dan Masjid Al Aqsa
5. Alat pendukung yang biasanya digunakan untuk
penanda sebelum dikumandangkannya adzan di
masjid-masjid yang ada di Indonesia adalah. . .
a. Liwan
b. Menara
c. Sahn
d. Riwags

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 54

e. Beduq
6. Tempat yang dimasa Nabi Muhammad digunakan

sebagai tempat tinggal fakir miskin dan tempat
mengajar agama adalah. . .
a. Riwags/Suffah
b. Dikkeh/ Dikka
c. Maksurah/ Zawiyah
d. Sahn
e. Liawan
7. Gapura berasal dari bahasa arab “Hafura” yang
artinya. . .
a. Masuk ke tempat pengampunan
b. Masuk ke tempat maksiat
c. Masuk ke ruanngan hampa
d. Masuk ke tempat haram
e. Masuk ke tempat jual beli
8. Tempat makmum untuk memperjelas bacaan apabila
imam mengucapkan takbir dinamakan. . .
a. Mimbar pertama
b. Menara
c. Mihrab
d. Mimbar kedua
e. Riwags
9. Tangga pada mihrab yang memiliki arti alim ulama
yang benar-benar alim dan beriktikaf tinggi
berhak menjadi imam shalat adalah tangga. . .

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 55

a. Pertama
b. Kedua
c. Ketiga
d. Keempat
e. Kelima
10. Apakah maksud penyatuan kata “ta” dan “jung”. . .
a. Ja‟ buambu
b. Ajunjhung
c. Ajurukkong
d. Ningga‟
e. Niter
B. Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat, jelas dan

benar!
1. Apa yang dimaksut dengan Arsitektur?
2. Sebutkan komponen utama arsitektur masjid?
3. Apakah yang dimaksu dengan dikka atau dikkeh ?
4. Apakah makna dari kemegahan gapura Masjid Jamik

Sumenep?
5. Masjid Jamik Sumenep memiliki mihrab ganda yang

masing-masing tersebut memiliki anak tangga. Jelaskan
arti dari masing-masing tangga tersebut!
6. Jelaskan makna ukiran yang terdapat di atas pintu!
7. Didalam halaman masjid terdapat pohon sawo dan
pohon tanjung. Jelaskan filosofi yang terdapat pada
kedua pohon tersebut?

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 56

8. Masjid jamik memiliki gapura yang sangat megah.
Jelaskan mengapa panembahan Notokusumo
mendirikan gapura megah tersebut!

9. Seluruh bangunan Masjid Jamik memiliki makna
masing-masing dengan 3 elemen utama. Jelaskan 3
elemen bangunan beserta maknanya?

10. Jelaskan akulturasi budaya dari ornamen Masjid Jamik?

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 57

DAFTAR PUSTAKA
Atthalibi, F.A. Semiotik Arsitektur Masjid Jamik Sumenep-

Madura.
Artikel.https://webcache.googleusercontent.com/search?q=
cache:KgoDOS5H_TAJ:https://www.neliti.com/id/publicati
ons/113983/semiotika-arsitektur-masjid-jamik-sumenep-
madura+&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id Diakses 19 Maret
2020.
Gazalba, S. 1962. “Mesdjid Pusat Ibadah Dan Kebudayaan Islam.
Djakarta: Pustaka Antara.

Mukarram, R.B.ABD. 2001. Sejarah Singkat Masjid Jamik
Sumenep.

Tjandrasasmita, Uka. (1975). Islamic Antiquities of Sendang
Duwur. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Zulkarnain I.,dkk. 2003. “Sejarah Sumenep”. Sumenep: Dinas

Sejarah Masjid Jamik Sumenep Page 58


Click to View FlipBook Version