The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by , 2021-01-12 21:01:54

BUKU TEKNIK AUDIO VIDEO

DARI P4TK BOEL MALANG

Keywords: PPEAV

MODUL
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN

PAKET KEAHLIAN
TEKNIK AUDIO VIDIO
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)

TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN
PENGEMBANGAN SOAL

KELOMPOK KOMPETENSI J

PROFESIONAL
PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN PERALATAN
ELEKTRONIKA AUDIO VIDIO

Penulis:
Drs. Asmuniv, M.T., Hp: 0811362376, email: [email protected]
Penyunting:
Drs. Widiharso, M.T.

PEDAGOGIK:
TINDAKAN REFLEKTIF UNTUK PENINGKATKAN
KUALITAS PEMBELAJARAN

Penulis:
Dr. Muljo Rahardjo; 08123306593; [email protected]
Penelaah:
Prof. Gunadi; [email protected]
Drs. Suryanto, M.Pd.
Penyunting:
Drs. Djandji Purwanto, M.Pd.

Desain Grafis dan Ilustrasi:
Tim Desain Grafis

Copyright © 2017
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang
Otomotif dan Elektronika, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial
tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan

Teknik Audio Vidio KK J

Kata Sambutan

Peran guru profesional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai kunci
keberhasilan belajar siswa. Guru profesional adalah guru yang kompeten
membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan
pendidikan yang berkualitas dan berkarakter prima. Hal tersebut menjadikan guru
sebagai komponen yang menjadi fokus perhatian Pemerintah maupun
Pemerintah Daerah dalam peningkatan mutu pendidikan terutama menyangkut
kompetensi guru.

Pengembangan profesionalitas guru melalui Program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan merupakan upaya Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan dalam
upaya peningkatan kompetensi guru. Sejalan dengan hal tersebut, pemetaan
kompetensi guru telah dilakukan melalui Uji Kompetensi Guru (UKG) untuk
kompetensi pedagogik dan profesional pada akhir tahun 2015. Peta profil hasil
UKG menunjukkan kekuatan dan kelemahan kompetensi guru dalam
penguasaan pengetahuan pedagogik dan profesional. Peta kompetensi guru
tersebut dikelompokkan menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak
lanjut pelaksanaan UKG diwujudkan dalam bentuk pelatihan guru paska UKG
pada tahun 2016 dan akan dilanjutkan pada tahun 2017 ini dengan Program
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru. Tujuannya adalah untuk
meningkatkan kompetensi guru sebagai agen perubahan dan sumber belajar
utama bagi peserta didik. Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
bagi Guru dilaksanakan melalui tiga moda, yaitu: 1) Moda Tatap Muka, 2) Moda
Daring Murni (online), dan 3) Moda Daring Kombinasi (kombinasi antara tatap
muka dengan daring).

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
(PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LP3TK
KPTK) dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah
(LP2KS) merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan iii

Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertanggung jawab dalam
mengembangkan perangkat dan melaksanakan peningkatan kompetensi guru
sesuai bidangnya. Adapun perangkat pembelajaran yang dikembangkan tersebut
adalah modul Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru
moda tatap muka dan moda daring untuk semua mata pelajaran dan kelompok
kompetensi. Dengan modul ini diharapkan program Pengembangan Keprofesian
Berkelanjutan memberikan sumbangan yang sangat besar dalam peningkatan
kualitas kompetensi guru.
Mari kita sukseskan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ini
untuk mewujudkan Guru Mulia Karena Karya.

Jakarta, April 2017
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga
Kependidikan,

Sumarna Surapranata, Ph.D,
NIP 195908011985031002

|iv Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

Kata Pengantar

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala
limpahan rahmat dan karunianya sehingga Pusat Pengembangan dan
Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Otomotif dan
Elektronika (PPPPTK BOE) Malang dapat menyelesaikan revisi modul ini dengan
baik. Revisi modul ini merupakan penyempurnaan dari modul Guru Pembelajar
yang telah disusun pada tahun 2016. Fokus revisi terletak pada pengintegrasian
Penguatan Pendidikan Karakter dan pengembangan soal.

Modul ini disusun sebagai bahan ajar program Peningkatan Keprofesian
Berkelanjutan yang diselenggarakan baik oleh PPPPTK/LPPKS/LPPPTK
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan maupun oleh instansi terkait lainnya.

Peningkatan Keprofesian Berkelanjutan merupakan upaya yang ditempuh untuk
meningkatkan profesionalisme guru melalui peningkatan kompetensi khususnya
kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Melalui modul ini diharapkan
kempetensi guru dapat ditingkatkan baik melalui kegiatan Peningkatan
Keprofesian Berkelanjutan moda Tatap Muka, Daring (Dalam Jaringan), maupun
Daring Kombinasi.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang telah membantu sehingga modul ini dapat diselesaikan dan
kami mohon masukan, saran, dan kritik dari para pembaca demi penyempurnaan
modul ini dimasa mendatang. Selanjutnya kepada para pembaca kami ucapkan
selamat belajar, semoga mendapatkan hasil yang maksimal. Amin.

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan v

|vi Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan vii

MODUL
PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN

PAKET KEAHLIAN
TEKNIK AUDIO VIDIO
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)

TERINTEGRASI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN
PENGEMBANGAN SOAL

KELOMPOK KOMPETENSI J

PROFESIONAL
PEMELIHARAAN DAN PERBAIKAN PERALATAN
ELEKTRONIKA AUDIO VIDIO

Penulis:
Drs. Asmuniv, M.T., Hp: 0811362376, email: [email protected]
Penyunting:
Drs. Widiharso, M.T.

Desain Grafis dan Ilustrasi:
Tim Desain Grafis

Copyright © 2017
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang
Otomotif dan Elektronika, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial
tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan Kebudayaan

|viii Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

Daftar Isi

Hal.
Kata Sambutan.................................................................................................... iii
Kata Pengantar .................................................................................................... v
Daftar Isi .............................................................................................................. ix
Daftar Gambar..................................................................................................... xi
Daftar Tabel....................................................................................................... xiv
Daftar Lampiran ................................................................................................. xv
Pendahuluan ........................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ............................................................................................... 1
B. Tujuan Pembelajaran...................................................................................... 4
C. Peta Kompetensi ............................................................................................ 5
D. Ruang Lingkup ............................................................................................... 6
E. Cara Penggunaan Modul .............................................................................. 11
Kegiatan Pembelajaran 1 Aspek Rasio, Penyapuan, Resolusi Sistem TV..... 19
A. Tujuan .......................................................................................................... 19
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ................................................................ 19
C. Uraian Materi ................................................................................................ 20
D. Aktifitas Pembelajaran .................................................................................. 41
E. Latihan/tugas – Pemahaman Konsep: .......................................................... 42
Lembar Kerja-KB1 ............................................................................................. 42
F. Rangkuman .................................................................................................. 48
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut .................................................................... 49
Kegiatan Pembelajaran 2 Spektrum Warna Cahaya ........................................ 51
A. Tujuan .......................................................................................................... 51
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ................................................................ 51
C. Uraian Materi ................................................................................................ 51
D. Aktifitas Pembelajaran .................................................................................. 63
E. Latihan/Tugas............................................................................................... 63
Lembar Kerja KB-2 - Melengkapi ...................................................................... 64
F. Rangkuman .................................................................................................. 65
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut .................................................................... 66

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan ix

Kegiatan Pembelajaran 3 Sistem Pengkode TV Standar PAL ........................ 67
A. Tujuan .......................................................................................................... 67
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ................................................................ 67
C. Uraian Materi ................................................................................................ 67
D. Aktifitas Pembelajaran ................................................................................ 101
E. Latihan/Tugas............................................................................................. 106
F. Rangkuman ................................................................................................ 112
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut .................................................................. 114
Kegiatan Pembelajaran 4 Kesehatan & Keselamatan Kerja (K3).................. 115
A. Tujuan ........................................................................................................ 115
B. Indikator Pencapaian Kompetensi .............................................................. 115
C. Uraian Materi .............................................................................................. 116
D. Aktifitas Pembelajaran ................................................................................ 133
E. Latihan/Tugas............................................................................................. 133
F. Rangkuman ............................................................................................... 134
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut............................................................... 135
Kegiatan Pembelajaran 5 Metode Pencarian Kerusakan Rangkaian Catu
Daya Sederhana............................................................................................... 137
A. Tujuan ........................................................................................................ 137
B. Indikator Pencapaian Kompetensi .............................................................. 137
C. Uraian Materi .............................................................................................. 138
D. Aktifitas Pembelajaran ................................................................................ 163
E. Latihan/Tugas............................................................................................. 164
Lembar Kerja 5.1:............................................................................................. 164
F. Rangkuman ................................................................................................ 171
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut .................................................................. 172
Kunci Jawaban................................................................................................. 173
Evaluasi ............................................................................................................ 183
Penutup ............................................................................................................ 193
A. Kesimpulan................................................................................................. 193
B. Tindak Lanjut .............................................................................................. 194
Daftar Pustaka.................................................................................................. 199
Glosarium......................................................................................................... 201
Lampiran .......................................................................................................... 203

|x Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

Daftar Gambar

Hal.
Gambar 0. 1. Ilustrasi peta kompetensi Modul Perawatan & Perbaikan Peralatan
Elektronika menurut Taksonomi Bloom................................................................ 6
Gambar 0. 2. Model piramida kompetens ............................................................ 7
Gambar 0. 3. Alur model pembelajaran ............................................................ 11
Gambar 0. 4. Alur pembelajaran ........................................................................ 12
Gambar 0. 5. kegiatan pembelajaran ................................................................. 14
Gambar 1. 1. Pengiriman gambar secara berurutan .......................................... 20
Gambar 1. 2. Penguraian Gambar dengan Jumlah Titik yang Berbeda ............. 20
Gambar 1. 3. Daya urai mata............................................................................. 21
Gambar 1. 4. Penjelasan sederhana penyapuan gambar .................................. 23
Gambar 1. 5. Tegangan garis scan ditransmisikan secara serial ....................... 23
Gambar 1. 6. Penyapuan................................................................................... 25
Gambar 1. 7. Hubungan pembelok horisontal dan vertical................................. 25
Gambar 1. 8. Hubungan waktu TH dan TV .......................................................... 26
Gambar 1. 9. Hubungan arus pembelok ............................................................ 27
Gambar 1. 10 Pulsa sinkronisasi digunakan untuk menjaga pada saat
penyapuan sinyal gambar tepat tersinkronisasi anatar penerima dengan
pemancar........................................................................................................... 27
Gambar 1. 11. Sinyal Composite ....................................................................... 28
Gambar 1. 12. Sinyal Composite dengan skala abu-abu ................................... 29
Gambar 1. 13. Hubungan secara waktu antara pulsa sinkron dan ..................... 30
Gambar 1. 14. Fungsi Bahu pada Pulsa Sinkron ............................................... 31
Gambar 1. 15. Pulsa Sinkronisasi...................................................................... 32
Gambar 1. 16. Proses tegangan sebuah baris dengan titik gambar hitam dan
putih................................................................................................................... 33
Gambar 1. 17. Lebar frekuensi yang diperlukan sebuah kanal televisi............... 34
Gambar 1. 18. Spektrum frekuensi sebuah kanal televisi dengan pembawa
gambar (PS) dan suara (PS) dan kanal tetangga pada band I/III dan IV/V ........ 34
Gambar 1. 19. Spektrum frekuensi sebuah kanal televisi................................... 35

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan xi

Gambar 1. 20. Blok Pemancar Televisi Hitam Putih........................................... 39
Gambar 1. 21. Blok Penerima Televisi Hitam Putih............................................ 40
Gambar 2.1. Spektrum-Radiasi Gelombang Elektromagnetik ............................ 52
Gambar 2.2. Susunan Mata Manusia Keseluruhan............................................ 53
Gambar 2.3. Bagian filter cahaya mata manusia................................................ 53
Gambar 2.4. Spektrum sensitivitas CONE mata manusia .................................. 54
Gambar 2.5. Spektrum Sensitivitas RODS Mata Manusia ................................. 54
Gambar 2.6. Ruang tiga dimensi model warna adiktif RGB................................ 57
Gambar 2.7. Model warna RGB......................................................................... 58
Gambar 2.8. Ruang Tiga Dimensi Model Warna Subtraktif CMY ....................... 59
Gambar 2.9. Model warna CMYK ...................................................................... 60
Gambar 2.10.Model warna YIQ dengan Komponen Y, I dan Q.......................... 62
Gambar 3.1. PAL CODER Standar NTSC ......................................................... 68
Gambar 3.2. Spektrum warna ............................................................................ 70
Gambar 3.3. Kurva sensitifitas warna ................................................................ 70
Gambar 3.4. Diagram kromatisitas dan warna-warna dasar............................... 70
Gambar 3.5. Pencampuran warna dasar additif ................................................. 71
Gambar 3.6. Pola lajur (Bars) Sinyal Luminansi................................................. 72
Gambar 3.7. Matrik Luminansi Y........................................................................ 73
Gambar 3.8. Rangkaian Blok Sinyal Perbedaan Warna Primer (R-Y) dan (B-Y) 74
Gambar 3.9. Pola lajur Sinyal Perbedaan Warna (R-Y) dan (B-Y) ..................... 74
Gambar 3.10. Diagram Koordinat/Vektor Lajur Warna dan Tingkat Luminansi... 75
Gambar 3.11. Hubungan fasa dari subcarrierwarna........................................... 77
Gambar 3.12. Perbedaan Waktu Stabil Sinyal Luminansi Y dan Perbedaan
Warna................................................................................................................ 78
Gambar 3.13. Permasalahan modulasi 100% dari Sinyal Video Negatif ............ 79
Gambar 3.14. Reduksi Quadrature Amplitude Modulation (QUAM) standar PAL88
Gambar 3.15. Sinyal Video Setelah Direduksi ................................................... 89
Gambar 3.16. Konversi Aksis I dan Q terhadap (R-Y) dan (B-Y......................... 90
Gambar 3.17. Lebar Pita Frekuensi Sinyal Perbedaan Warna I dan Q sistem
NTSC................................................................................................................. 91
Gambar 3.18. Lebar Pita Frekuensi Sinyal Perbedaan Warna (R-Y) dan (B-Y)
sistem PAL ........................................................................................................ 91

|xii Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

Gambar 3.19. Konversi Sinyal Perbedaan warna I dan Q terhadap (R-Y)’ dan (B-
Y)’...................................................................................................................... 95
Gambar 3.20. Koordinat warna I dan Q terhadap aksis (R-Y) dan (B-Y) ............ 96
Gambar 3.21. Rangkaian Penjumlah ................................................................. 97
Gambar 3.22. Blok Pemencar NTSC ................................................................. 98
Gambar 3.23. Blok Skema Pemancar Standar PAL........................................... 99
Gambar 3.24. Blok Matrik Luminan dan Perbedaan Warna ............................... 99
Gambar 3.25. Rangkaian Matrik Luminan dan Perbedaan Warna ................... 100
Gambar 4.1. Kesehatan Kerja saat Menyolder ................................................ 116
Gambar 4.2. Sumber radiasi sinar X ................................................................ 118
Gambar 4.3. Auto Transformator ..................................................................... 119
Gambar 4.4. LCR Meter Digital........................................................................ 120
Gambar 4.5. Komponen induktor dan rangkaian pengganti ............................. 120
Gambar 4.6. Rangkaian ekivalen resonator sebuah kapasitor ......................... 121
Gambar 4.7. Diagram fasor sebuah kapasitor.................................................. 122
Gambar 4.8. Pengujian menggunakan trafo pemisah ...................................... 123
Gambar 4.9. Uji Kontak dengan multimeter standar......................................... 124
Gambar 4.10. Blue Ring Tester ....................................................................... 124
Gambar 4.11. Contact Cleaner Oil................................................................... 125
Gambar 4.12. Pengukuran transistor dengan dioda damper ............................ 125
Gambar 4.13. Uji Kebocoran Transistor dengan Multimeter Digital .................. 126
Gambar 4.14. Pengukuran tahahan isolasi sisi sekunder................................. 127
Gambar 4.15. Pengukuran Arus Bocor ............................................................ 128
Gambar 4.16. Gangguan EMI pada rangkaian switching ................................. 129
Gambar 4.17. Gangguan EMI Tidak Simetris Dengan Kompensasi Kapasitor CY
........................................................................................................................ 130
Gambar 4.18. (a) Induktor kompensasi arus dan ............................................. 131
Gambar 4.19. Rangkaian kompensasi tegangan pulsa pada gangguan simetris
........................................................................................................................ 132
Gambar 4.20. Rangkaian EMI gangguan simetris dan tidak ............................ 133
Gambar 5.1. Bias Dioda................................................................................... 138
Gambar 5.2.Pengujian Dioda........................................................................... 141
Gambar 5.3.Power supply ............................................................................... 143
Gambar 5.4. Metode Belah Tengah Kondisi Kapasitor Filter Terbuka.............. 146

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan xiii

Gambar 5.5. Metode Belah Tengah Kondisi Kapasitor Filter Terbuka.............. 146
Gambar 5.6. Pengujian dan pengukuran keandalan unit pencatu daya ........... 152
Gambar 5.7. Grafik regulasi beban yang khas untuk unit daya ........................ 155
Gambar 5.8. Kerusakan Penyearah Setengah Gelombang ............................. 157
Gambar 5.9. Kerusakan Penyearah Gelombang Penuh CT............................. 157
Gambar 5.10. Kerusakan Penyearah Gelombang Penuh Jembatan ................ 159
Gambar 5.11. Kerusakan Kapasitor filter Penyearah Gelombang Penuh ......... 160

Daftar Tabel

Hal.
Tabel 0.1. lembar kerja ........................................................................................ 16
Tabel 1.1. Pengiriman suara kanal jamak ............... Error! Bookmark not defined.
Tabel 1.2. Norma Televisi Negara-Negara........................................................... 36
Tabel 1.3. Saluran Frekuensi VHF dan UHF........... Error! Bookmark not defined.
Tabel 2.1. Perbandingan anatar Kamera dengan Mata........................................ 55
Tabel 3.1. Prosentase tegangan luminansi (Y) dari tegangan warna primer (VR),
(VG), dan (VB)....................................................................................................... 73
Tabel 3.2. Proses pembentukan sinyal perbedaan warna primer (R-Y) dan (B-Y) 75
Tabel 3.3. Hasil Perhitungan Tegangan Vektor UF dan Sudut Phasa ................ 76
Tabel 3.4. Perbadingan koordinat warna sebelum dan sesudah direduksi ........... 89
Tabel 3.5. Konversi I dan Q terhadap (R-Y)’ dan (B-Y) ........................................ 95
Tabel 3.6. Konversi koordinat warna sistem NTSC terhadap sistem PAL ............ 96
Tabel 5.1. Jenis-Jenis Kerusakan Komponen Elektronik.................................... 150
Tabel 5.2. Jenis-jenis kerusakan yang sering terjadi dalam perangkat daya ...... 156

|xiv Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

Daftar Lampiran

Hal.
Lampiran 1. Kunci Jawaban Evaluasi ................................................................ 203
Lampiran 2. Contoh Diagram Blok SMPS Sisi Primer ........................................ 204
Lampiran 3. Contoh Tegangan Keluaran SMPS Sisi Sekunder.......................... 205
Lampiran 4. Contoh Rangkaian SMPS Sisi Primer ............................................ 206

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan xv

|xvi Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru sebagai salah
satu strategi pembinaan guru dan tenaga kependidikan diharapkan dapat
menjamin guru dan tenaga kependidikan mampu secara terus menerus
memelihara, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensi sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan Program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru akan mengurangi kesenjangan antara
kompetensi yang dimiliki guru dan tenaga kependidikan dengan tuntutan
profesional yang dipersyaratkan.

Guru dan tenaga kependidikan wajib melaksanakan Program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru baik secara mandiri maupun kelompok.
Khusus untuk Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru
dalam bentuk diklat dilakukan oleh lembaga pelatihan sesuai dengan jenis
kegiatan dan kebutuhan guru. Penyelenggaraan diklat Program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru dilaksanakan oleh PPPPTK dan LPPPTK
KPTK atau penyedia layanan diklat lainnya. Pelaksanaan diklat tersebut
memerlukan modul sebagai salah satu sumber belajar bagi peserta diklat. Modul
merupakan bahan ajar yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh
peserta diklat berisi materi, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi
yang disajikan secara sistematis dan menarik untuk mencapai tingkatan
kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya.

Modul diklat Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru ini
merupakan substansi materi pelatihan yang dikemas dalam suatu unit program
pembelajaran yang terencana guna membantu pencapaian peningkatan
kompetensi yang didesain dalam bentuk printed materials (bahan tercetak).
Modul Diklat Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru ini
berbeda dengan handout, buku teks, atau bahan tertulis lainnya yang sering
digunakan dalam kegiatan pelatihan guru, seperti diktat, makalah, atau ringkasan

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 1

Pendahuluan

materi/bahan sajian pelatihan. Modul Diklat Program Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru pada intinya merupakan model bahan
belajar (learning material) yang menuntut peserta pelatihan untuk belajar lebih
mandiri dan aktif.

Guru perlu meningkatkan kompetensi profesionalismenya terkait dengan disiplin
ilmu elektronika, khususnya pada topik Perawatan & Perbaikan Perangkat
Elektronika para guru harus terus dimantapkan, ditingkatkan, dan dikembangkan.
Pemantapan tersebut tidak hanya terkait pengetahuan konseptual dan
prosedural tetapi juga pemantapan kemampuan guru dalam menyelesaikan
proses pembelajaran Perawatan & Perbaikan Perangkat Elektronika di dalam
kelas dan masalah dunia nyata atau kehidupan sehari-hari dengan tidak
meninggalkan penguatan pendidikan karakter (PPK). Hal itu tertuang dalam
Permendiknas No 16 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Guru pada
Kompetensi Profesional pada pasal 1 ayat (1) menyatakan bahwa setiap guru
wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku
secara nasional.

Lebih lanjut, dalam salah satu butir Nawacita Presiden Joko Widodo adalah
memperkuat pendidikan karakter bangsa dengan melakukan Gerakan Nasional
Revolusi Mental (GNRM) yang akan diterapkan di seluruh sendi kehidupan
berbangsa dan bernegara, termasuk di dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu,
Pendidikan karakter perlu digaungkan dan diperkuat menjadi gerakan nasional
pendidikan karakter bangsa melalui program nasional Penguatan Pendidikan
Karakter (PPK) dalam lembaga pendidikan, melalui harmonisasi olah hati (etik),
olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan
dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan
masyarakat yang merupakan bagian dari GNRM. Bagian-bagian itu tidak boleh
dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita.

Implementasi PPK dalam modul ini lebih ditekankan pada aktivitas pembelajaran
yang berupa pemaduan di dalam kelas berupa penambahan dan pengintensifan
kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada pengembangan karakter siswa. Dalam
rangka mendukung kebijakan gerakan PPK, modul ini mengintegrasikan lima
nilai utama karakter bangsa, yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong,

|2 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

dan integritas. Kelima nilai utama tersebut terintegrasi pada kegiatan-kegiatan
pembelajaran yang ada pada modul. Adapun sub nilai religius antara lain: cinta
damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh
pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan,
antibuli dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak,
mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih. Sedangkan sub nilai
nasionalis meliputi: apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya
bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga
lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan
agama. Sub nilai mandiri antara lain: etos kerja (kerja keras), tangguh tahan
banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar
sepanjang hayat. Sub nilai gotong royong antara lain: menghargai, kerja sama,
inklusif, komitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat,
tolongmenolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap
kerelawanan. Terakhir, sub nilai integritas meliputi: kejujuran, cinta pada
kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab,
keteladanan, dan menghargai martabat individu (terutama penyandang
disabilitas).

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka modul ini ditulis dalam rangka
memfasilitasi para guru SMK paket keahlian teknik elektronika audio video untuk
menjadi guru pembelajar sepanjang hayat dan dapat meningkatkan kompetensi
profesionalnya secara berkelanjutan dalam mengkaji materi Perawatan &
Perbaikan Perangkat Elektronika. Dalam modul ini akan dibahas Perawatan &
Perbaikan Perangkat Elektronika disertai contoh aplikasinya dengan
mengimplementasikan PPK dalam aktivitas pembelajaran. Berbagai konsep,
prinsip, dan prosedur serta aktivitas belajar dan latihan ditulis sebagai bentuk
pembinaan bagi para guru dan tenaga kependidikan. Pembinaan ini penting
dilakukan untuk mengurangi kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki guru
dan tenaga kependidikan dengan tuntutan profesional yang disyaratkan. Untuk
itu, sudah seharusnya para guru berkesadaran untuk melakukan upaya dalam
meningkatkan keprofesionalannya secara berkesinambungan dan berkelanjutan.

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 3

Pendahuluan

Setelah mempelajari modul ini, guru diharapkan dapat meningkatkan kompetensi
pedagogik dan professional secara mandiri. Selain itu, guru juga diharapkan
mampu menguatkan karakter para peserta didik melalui tindakan dan tutur
katanya selama proses pembelajaran berdampingan dengan pengembangan
intelektualnya. Pada dasarnya pendidikan di Indonesia bertujuan untuk
mengembangkan potensi-potensi intelektual dan karakter peserta didik.

B. Tujuan Pembelajaran

Modul program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ini bertujuan untuk
memfasilitasi peserta dengan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang
dipersyaratkan pada kegiatan pembelajaran. Sikap, pengetahuan dan
keterampilan tersebut merupakan kompetensi-kompetensi profesional yang
mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Sehingga setelah
mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan memiliki kompetensi yang
meningkat dibanding sebelumnya, khususnya terkait hal-hal sebagai berikut:
 Mendeteksi kerusakan, perbaikan dan perawatan macam-macam pesawat

penerima Televisi
 Mendeteksi kerusakan, perbaikan dan perawatan macam-macam peralatan

ukur elektronika
 Mendeteksi kerusakan, perbaikan dan perawatan macam-macam peralatan

elektronika daya
 Mendeteksi kerusakan, perbaikan dan perawatan macam-macam peralatan

elektronika konsumen
Kemampuan ini merupakan bagian dari pengembangan keprofesian
berkelanjutan agar para guru dapat mengembangkan keilmuan yang diampunya
secara kreatif di lingkup pendidikan kejuruan yang akan menyumbang
pengembangan profesi di Paket Keahlian Teknik Elektronika Audio Video.

|4 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

C. Peta Kompetensi

Pokok bahasan pada modul ini meliputi sistem NTSC sebagai dasar sistem PAL
dan dasar sistem penerima TV. NTSC adalah Komite Standar Televisi Nasional,
kelompok yang mengembangkan standar untuk TV analog dan TV warna di
tahun 1950-an. Hal ini juga mencakup TV kabel, TV satelit, dansistem TV digital
baru dan high-definition seperti yang didefinisikan oleh Advanced Komite Standar
Televisi (ATSC).
Modul Perawatan & Perbaikan Peralatan Elektronika Audio Video merupakan
modul Kelompok Kompentesi J merupakan bahan ajar yang digunakan sebagai
bahan ajar dan panduan yang digunakan untuk panduan Uji Kompetensi Guru
Program Keahlian Elektronika Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Modul
Perawatan & Perbaikan Peralatan Elektronika Audio Videomerupakan
kompetensi level tinggi (metakognitif) yang harus dikuasi oleh seorang guru
program keahlian elektronika, paket keahlian elektronika audio video (055).
Perawatan & Perbaikan Peralatan Elektronika Audio Video memuat modul teori
dan atau perbaikan peralatan elektronika yang banyak dipakai konsumen.
Ilustrasi berikut menunjukkan peta kompetensi Modul Perawatan & Perbaikan
Peralatan Elektronika menurut Taksonomi Bloom tujuan belajar digunakan untuk
memetakan seberapa komplek keterampilan atau kompetensi yang dapat
dipelajari atau dikuasai.

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 5

Pendahuluan

Gambar 0. 1. Ilustrasi peta kompetensi Modul Perawatan & Perbaikan Peralatan
Elektronika menurut Taksonomi Bloom

D. Ruang Lingkup
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Karir Keahlian

Untuk sukses di bidang karir keahlian di tempat kerja diperlukan dukungan
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Kompetensi Efektivitas Pribadi
merupakan kompetensi yang berada pada piramida paling dasar, dan
mempengaruhi pencapaian kompetensi akademik dan kompetensi keahlian di
tempat kerja. Kompetensi yang termasuk dalam domain ini merupakan sikap dan
sifat-sifat, serta, interpersonal dan manajemen diri. Kompetensi ini sering disebut
sebagai 'softskills competence' yang diperlukan untuk mencapai sukses dalam
angkatan kerja. Gambar 2 memperlihatkan model piramida kompetensi dan

|6 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

pentingnya posisi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam menunjang
sukses karir pekerjaan.

Gambar 0. 2. Model piramida kompetens

Kompetensi efektifitas pribadi (kepribadian) dapat digunakan sebagai bekal
sukses karir dalam bidang akademik dan sangat dibutuhkan untuk sukses di
bidang pekerjaan (sukses karir). 6 Kompetensi efektifitas pribadi yang diperlukan
untuk sukses karir keahlian adalah:
Keterampilan Interpersonal
Keterampilan interpersonal menunjukkan kemampuan untuk bekerja dan belajar
secara efektif. Keterampilan interpersonal berada pada kompetensi paling dasar
yang diperlukan untuk mendukung suatu pekerjaan dan sangat berpengaruh
terhadap kompetensi lainnya. Penjelasan lebih rinci Keterampilan interpersonal
dapat diuraikan sebagai berikut:

 Berinteraksi secara tepat dan hormat dengan atasan ataupun rekan
kerja

 Bekerja secara efektif dengan orang-orang yang memiliki kepribadian
dan latar belakang

 Menghormati pendapat, perspektif, adat istiadat, dan perbedaan individu
orang lain

 Dalam menjaga alur kerja, gunakan strategi dan solusi yang tepat untuk
menangani konflik dan perbedaan.

 Bersifat fleksibel dan berpikiran terbuka ketika berhadapan dengan
berbagai macam perilaku orang

 Mendengarkan dan mempertimbangkan sudut pandang orang lain

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 7

Pendahuluan

Integritas
 Menampilkan perilaku dapat diterima baik secara sosial maupun
pekerjaan.
 Memperlakukan orang lain dengan kejujuran, keadilan, dan rasa hormat
 Mematuhi standar etika sesuai dengan bidang pekerjaannya
 Memiliki tanggung jawab untuk mencapai sasaran-sasaran kerja dalam
jangka waktu yang dapat diterima
 Menerima tanggung jawab atas keputusan dan tindakan seseorang

Profesional
 Mempertahankan sikap dan diterima secara sosial.
 Menunjukkan kontrol diri, memiliki ketenangan ketika berurusan dalam
situasi dibawah tekanan.
 Menerima kritik dan berusaha untuk belajar dari kesalahan
 Menunjukkan sikap positif terhadap pekerjaan
 Mengikuti aturan, standar berpakaian dan kebersihan pribadi (tidak
jorok)
 Menahan diri dari penyalahgunaan wewenang

Prakarsa
 Menunjukkan kemauan untuk bekerja keras.
 Mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan menyukai tantangan baru
 Mengejar target bekerja dan berusaha untuk menyelesaikan tugas-tugas
dengan tepat waktu dengan hasil yang realistis
 Berusaha untuk melebihi standar dan harapan

Keteguhan dan Kehandalan
 Menampilkan perilaku yang bertanggung jawab selama di tempat kerja.
 Berperilaku secara konsisten (mudah ditebak) dan handal
 Memenuhi kewajiban, kelengkapan tugas dan memenuhi tenggat waktu
 Mengikuti petunjuk secara verbal atau tertulis
 Mematuhi aturan organisasi, kebijakan, dan prosedur

|8 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

Motivasi Belajar (Kolaborasi) Sepanjang Hayat

 Menunjukkan kemauan untuk belajar, menerapkan pengetahuan dan
Keterampilan baru.

 Menunjukkan minat belajar seumur hidup (sepanjang hayat) secara
profesional dan pengembangan diri

 Memperluas pengetahuan dan menerapkan dalam keterampilan
 Menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menyelesaikan

tugas-tugas tertentu
 Belajar secara kolaboratif melalui internet untuk mengikuti

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi baru
 Membekali diri dengan pengetahuan tentang kesadaran teknologi hijau

(kesepahaman agenda abad 21)

Kelompok Kompetensi J: Perawatan & Perbaikan Peralatan
Elektronika

Modul Perawatan & Perbaikan Peralatan Elektronika merupakan bahan ajar
Standar Kompetensi Guru yang dipersiapkan untuk digunakan sebagai panduan
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Program Keahlian Elektronika
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Berdasarkan kedalaman dan keluasan
berfikir, modul Perawatan & Perbaikan Peralatan Elektronika berada pada
kelompok kompetnsi J yang merupakan kompetensi dasar yang harus dikuasi
oleh seorang guru program keahlian elektronika, paket keahlian elektronika audio
video (055).

Jabaran keluasan isi dari modul Perawatan & Perbaikan Peralatan
Elektronika Kelompok Kompetensi J dibatasi atau lebih difokuskan pada
pokok bahasan teori saja, dan dapat digunakan sebagai pengetahuan
pendukung ketrampilan pada sesi diklat tatap muka.

Modul Kelompok Komptensi menjelaskan tentang Perawatan & Perbaikan
Peralatan Elektronika, yang memuat kajian atau teori dalam menganalisis
konsep dasar perangkat penerima dan pemancar televisi standar NTSC,
PAL dan SECAM.

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 9

Pendahuluan

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pada modul diklat program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan ini akan
membahas materi tentang Teknik Listrik untuk Paket Keahlian Teknik Elektronika
Audio Video dikemas dalam 5 kegiatan pembelajaran, meliputi:
1. kegiatan pembelajaran 1 bertujuan agar peserta memiliki kemampuan

menerapkan cara berfikir kritis kreatif dalam mengintegrasikan pengetahuan,
keterampilan untuk membentuk sikap interpersonal, integritas, profesional,
prakarsa, handal & tangguh, motivasi belajar memahami pengetahuan
faktual pokok bahasan ASPEK RASIO, PENYAPUAN, RESOLUSI SISTEM
STANDAR TV,
2. kegiatan pembelajaran 2 bertujuan agar peserta memiliki kemampuan cara
berfikir kritis kreatif dalam mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan
untuk membentuk sikap interpersonal, integritas, profesional, prakarsa,
handal & tangguh, motivasi belajar dalam memahami pengetahuan faktual
pokok bahasan SPEKTRUM WARNA CAHAYA,
3. kegiatan pembelajaran 3 bertujuan agar peserta memiliki kemampuan cara
berfikir kritis kreatif dalam mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan
untuk membentuk sikap interpersonal, integritas, profesional, prakarsa,
handal & tangguh, motivasi belajar dalam memahami pengetahuan
koseptual tentang SISTEM PENGKODE TV STANDAR PAL,
4. kegiatan pembelajaran 4 bertujuan agar peserta memiliki kemampuan cara
berfikir kritis kreatif dalam mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan
untuk membentuk sikap interpersonal, integritas, profesional, prakarsa,
handal & tangguh, motivasi belajar dalam memahami pengetahuan faktual
tentang KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA peralatan elektronika
konsumen.
5. kegiatan pembelajaran 5 bertujuan agar peserta memiliki kemampuan cara
berfikir kritis kreatif dalam mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan
untuk membentuk sikap interpersonal, integritas, profesional, prakarsa,
handal & tangguh, motivasi belajar dalam memahami pengetahuan konsep
PERAWATAN & PERBAIKAN PERALATAN ELEKTRONIKA AUDIO VIDEO.

|10 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

E. Cara Penggunaan Modul

Secara umum, cara penggunaan modul pada setiap Kegiatan Pembelajaran
disesuaikan dengan skenario setiap penyajian mata diklat. Modul ini dapat
digunakan dalam kegiatan pembelajaran guru, baik untuk moda tatap muka
dengan model tatap muka penuh maupun model tatap muka In-On-In. Alur model
pembelajaran secara umum dapat dilihat pada bagan yang diperlihatkan pada
Gambar berikut.

Gambar 0. 3. Alur model pembelajaran

1. Deskripsi Kegiatan Diklat Tatap Muka Penuh
Kegiatan pembelajaran diklat tatap muka penuh adalah kegiatan fasilitasi
peningkatan kompetensi guru melalui model tatap muka penuh yang
dilaksanakan oleh unit pelaksana teknis di lingkungan Ditjen Guru dan
Tenaga Kependidikan (GTK) maupun lembaga diklat lainnya. Kegiatan tatap
muka penuh ini dilaksanakan secara terstruktur pada suatu waktu yang di
pandu oleh fasilitator.
Moda tatap muka penuh dilaksanakan menggunakan alur pembelajaran
seperti pada gambar di bawah.

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 11

Pendahuluan

Gambar 0. 4. Alur pembelajaran

Kegiatan pembelajaran tatap muka pada model tatap muka penuh dapat
dijelaskan sebagai berikut.
a. Pendahuluan

Pada kegiatan pendahuluan fasilitator memberi kesempatan kepada
peserta diklat untuk mempelajari:
1) latar belakang yang memuat gambaran materi
2) tujuan kegiatan pembelajaran setiap materi
3) kompetensi atau indikator yang akan dicapai melalui modul.
4) ruang lingkup materi kegiatan pembelajaran
5) langkah-langkah penggunaan modul
b. Mengkaji Materi
Pada kegiatan mengkaji materi modul profesional kelompok kompetensi C
(Teknik Listrik), fasilitator memberi kesempatan kepada guru sebagai
peserta untuk mempelajari materi yang diuraikan secara singkat sesuai
dengan indikator pencapaian hasil belajar. Guru sebagai peserta dapat
mempelajari materi secara individual, berpasangan, maupun berkelompok
dan dapat mengkonfirmasi permasalahan kepada fasilitator.
c. Melakukan aktivitas pembelajaran
Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran sesuai
dengan rambu-rambu atau instruksi yang tertera pada modul dan dipandu

|12 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

oleh fasilitator. Kegiatan pembelajaran pada aktivitas pembelajaran ini
akan menggunakan pendekatan yang secara langsung berinteraksi di
kelas pelatihan bersama fasilitator dan peserta lainnya, baik itu dengan
menggunakan diskusi tentang materi, melaksanakan praktik, dan latihan
kasus.

Lembar kerja pada pembelajaran tatap muka penuh adalah bagaimana
menerapkan pemahaman materi-materi yang berada pada kajian materi.
Pada aktivitas pembelajaran materi ini juga peserta secara aktif menggali
informasi, mengumpulkan dan mengolah data sampai pada peserta dapat
membuat kesimpulan kegiatan pembelajaran.
d. Presentasi dan Konfirmasi
Pada kegiatan ini peserta melakukan presentasi hasil kegiatan sedangkan
fasilitator melakukan konfirmasi terhadap materi dan dibahas bersama.
Pada bagian ini, peserta dan penyaji me-review materi berdasarkan
seluruh kegiatan pembelajaran
e. Refleksi
Pada bagian ini peserta dan penyaji me-review atau melakukan refleksi
materi berdasarkan seluruh kegiatan pembelajaran, kemudian didampingi
oleh panitia menginformasikan tes akhir yang akan dilakukan oleh seluruh
peserta yang dinyatakan layak tes akhir.

2. Deskripsi Kegiatan Diklat Tatap Muka In-On-In
Kegiatan diklat tatap muka dengan model In-On-In adalah kegiatan fasilitasi
peningkatan kompetensi guru yang menggunakan tiga kegiatan utama, yaitu
In Service Learning 1 (In-1), On the Job Learning (On), dan In Service
Learning 2 (In-2). Secara umum, kegiatan pembelajarannya tergambar pada
alur berikut ini.

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 13

Pendahuluan

Gambar 0. 5. kegiatan pembelajaran

Kegiatan pembelajaran tatap muka pada model In-On-In dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a. Pendahuluan

Pada kegiatan pendahuluan disampaikan bertepatan pada saat
pelaksanaan In service learning 1 fasilitator memberi kesempatan kepada
peserta diklat untuk mempelajari:
• latar belakang yang memuat gambaran materi
• tujuan kegiatan pembelajaran setiap materi
• kompetensi atau indikator yang akan dicapai melalui modul
• ruang lingkup materi kegiatan pembelajaran
• langkah-langkah penggunaan modul.
b. In Service Learning 1 (IN-1)
• Mengkaji Materi

Pada kegiatan mengkaji materi modul kelompok kompetensi C. Teknik
Listrik, fasilitator memberi kesempatan kepada guru sebagai peserta
untuk mempelajari materi yang diuraikan secara singkat sesuai dengan

|14 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

indikator pencapaian hasil belajar. Guru sebagai peserta dapat
mempelajari materi secara individual maupun berkelompok dan dapat
mengkonfirmasi permasalahan kepada fasilitator.
• Melakukan aktivitas pembelajaran
Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran sesuai
dengan rambu-rambu atau instruksi yang tertera pada modul dan
dipandu oleh fasilitator. Kegiatan pembelajaran pada aktivitas
pembelajaran ini akan menggunakan pendekatan/metode yang secara
langsung berinteraksi di kelas pelatihan, baik itu dengan menggunakan
metode berfikir reflektif, diskusi, brainstorming, simulasi, maupun studi
kasus yang kesemuanya dapat melalui Lembar Kerja yang telah
disusun sesuai dengan kegiatan pada IN1.
Pada aktivitas pembelajaran materi ini peserta secara aktif menggali
informasi, mengumpulkan dan mempersiapkan rencana pembelajaran
pada on the job learning.
c. On the Job Learning (ON)
• Mengkaji Materi
Pada kegiatan mengkaji materi modul kelompok kompetensi C. Teknik
Listrik, guru sebagai peserta akan mempelajari materi yang telah
diuraikan pada in service learning 1 (IN1). Guru sebagai peserta dapat
membuka dan mempelajari kembali materi sebagai bahan dalam
mengerjakan tugas-tugas yang ditagihkan kepada peserta.
• Melakukan aktivitas pembelajaran
Pada kegiatan ini peserta melakukan kegiatan pembelajaran di
sekolah maupun di kelompok kerja berbasis pada rencana yang telah
disusun pada IN1 dan sesuai dengan rambu-rambu atau instruksi yang
tertera pada modul. Kegiatan pembelajaran pada aktivitas
pembelajaran ini akan menggunakan pendekatan/metode praktik,
eksperimen, sosialisasi, implementasi, peer discussion yang secara
langsung di dilakukan di sekolah maupun kelompok kerja melalui
tagihan berupa Lembar Kerja yang telah disusun sesuai dengan
kegiatan pada ON.

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 15

Pendahuluan

Pada aktivitas pembelajaran materi pada ON, peserta secara aktif
menggali informasi, mengumpulkan dan mengolah data dengan
melakukan pekerjaan dan menyelesaikan tagihan pada on the job
learning.
d. In Service Learning 2 (IN-2)
Pada kegiatan ini peserta melakukan presentasi produk-produk tagihan
ON yang akan di konfirmasi oleh fasilitator dan dibahas bersama.
e. Refleksi
Pada bagian ini peserta dan penyaji me-review atau melakukan refleksi
materi berdasarkan seluruh kegiatan pembelajaran, kemudian didampingi
oleh panitia menginformasikan tes akhir yang akan dilakukan oleh seluruh
peserta yang dinyatakan layak tes akhir.

3. Lembar Kerja

Modul pembinaan karir guru kelompok kompetensi C. Teknik Listrik terdiri
dari beberapa kegiatan pembelajaran yang didalamnya terdapat ativitas-
aktivitas pembelajaran sebagai pendalaman dan penguatan pemkahaman
materi yang dipelajari. kerjakan oleh peserta, lembar kerja tersebut dapat
terlihat pada tabel berikut.

Tabel 0.1. lembar kerja Keterangan

Nama LK TM, IN1,ON
No Kode LK Modul ini mempersiapkan lembar kerja yang TM, IN1, ON
TM, IN1, ON
nantinya akan di TM, IN1, ON
TM, IN1, ON
1 LK-01 ASPEK RASIO, PENYAPUAN, RESOLUSI SISTEM
TV

2 LK-02 SPEKTRUM WARNA CAHAYA
3 LK-03 SISTEM PENGKODE TV STANDAR PAL
4 LK-04 KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA (K3)
5 LK-05 METODE PENCARIAN KERUSAKAN RANGKAIAN

CATU DAYA SEDERHANA

Keterangan.
TM : Digunakan pada Tatap Muka Penuh
IN1 : Digunakan pada In service learning 1

|16 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J
ON : Digunakan pada on the job learning
Untuk membantu peserta diklat dalam menguasai modul secara optimal, maka
hendaklah melakukan evaluasi secara mandiri dan jujur serta mencocokkan
dengan kuncinya apabila sudah selesai. Apabila nilai latihan mencapai lebih dari
75%, maka peserta diklat dapat melanjutkan ke kegiatan pembelajaran
berikutnya. Apabila nilai latihan belum mencapai 75%, maka pelajari kembali
materinya dengan penuh semangat dan tidak mudah putus asa. Jika masih
menemui kesulitan diskusikan dengan teman sejawat. Setelah itu, peserta diklat
kerjakan kembali latihannya secara mandiri.
Selamat belajar, semoga kesuksesan selalu menyertai Anda.

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 17

Pendahuluan

|18 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

Kegiatan Pembelajaran 1
Aspek Rasio, Penyapuan, Resolusi Sistem TV

A. Tujuan

Setelah mempelajari modul kegiatan belajar 1 diharapkan peserta PKB dapat :
 menerapkan proses berfikir secara Konseptual untuk mengintegrasikan
pengetahuan ″Faktual″ pokok bahasan aspek rasio, metode penyapuan
(scanning), dan Resolusi sistem TV
 mengembangkan cara berfikir kritis kreatif, pemecahan masalah, bekerja
dalam tim untuk mengalami dan mengeksplorasi relevansi permasalahan
dunia nyata berkenaan dengan pertanyaan, masalah, dan tantangan yang
belum terjawab, dan kemudian membagikan pengalaman apa yang telah
mereka pelajari (think-pair-share).

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

 Menjelaskan dan menuliskan spesifikasi untuk sinyal TV secara lengkap
termasuk semua komponen individu.

 Menjelaskan proses yang digunakan oleh kamera TV untuk mengkonversi
adegan visual untuk sinyal video.

 Menggambarkan diagram blok sederhana, menunjukkan komponen
utama, dari pemancar TV, penerima TV dan aliran sinyal.

 Menggambarkan diagram blok dari sistem TV kabel.
 Memberikan nama semua unsur dan menjelaskan operasi sistem TV

kabel.
 Menjelaskan operasi dari sebuah penerima DBS TV.
 Menentukan TV digital (DTV) dan TV definisi tinggi (HDTV), dan

menyatakan spesifikasi dasar penerima HDTV.

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 19

Kegiatan Pembelajaran 1

C. Uraian Materi
1. Prinsip Pengiriman Gambar

Penguraian Gambar dan Penyusunan Gambar: Dengan mata, kita dapat
melihat sebuah gambar dalam sekali pandang. Dalam pesawat televisi, sebagai
media gambar, sebuah gambar disapukan secara titik dari titik satu ke titik yang
berikutnya, Gambar pada sisi pemancar, gambar dibagi dalam titik-titik gambar
kecil-kecil dan banyak. Keadaan titik-titik kecil tadi (terang dan gelap) diubah
dalam sinyal listrik. Dan dalam waktu yang berurutan satu sama lain dikirimkan
(gambar 1.1).

Gambar 1. 1. Pengiriman gambar secara berurutan

Supaya tidak terapat kesalahan dalam mereproduksi gambar, maka harus ada
kesinkronan antara perpindahan titik satu ke titik berikutnya pada sisi pemancar
dengan pada sisi penerima. Titik gambar no 1 di pemancar harus
menyalakan/mematikan pada titik no 1 pada layar penerima, demikian
seterusnya.

Gambar 1. 2. Penguraian Gambar dengan Jumlah Titik yang Berbeda

Dari gambar 1.2 dapat dilihat, semakin banyak garis (berarti titik gambar semakin
banyak) gambar yang diuraikan juga semakin baik. Perhatikan gambar disebelah
kanan foto yang ditampilkan lebih halus.

|20 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

Pada jarak 2 meter dari layar gambar, mata manusia mempunyai daya urai optis
sebesar 1/40 pada sudut pandang 12. Sehingga jumlah baris paling sedikit :
12/(1/40) = 12 x 40 = 480 baris.
Sehingga garis-garis pada layar tidak nampak oleh mata. Pada norma televisi
yang digunakan (CCIR: komite konsultasi internasional radio komunikasi) telah
ditetapkan jumlah baris sebanyak 625 baris. Pada jumlah yang semakin tinggi
akan menghasilkan penguraian yang lebih baik, tetapi diperlukan lebar band
yang semakin lebar.

Gambar 1. 3. Daya urai mata

Berdasar sifat mata, untuk menampilkan gambar bergerak yang halus maka
pergantian gambar antara 20 sampai dengan 30 gambar tiap detik, pada televisi
ditetapkan 25 gambar tiap detiknya (gambar 1.3).
2. Raster Gambar
Lembaran tampilan (display) dari permukaan peka cahaya atau lebih dikenal
sebagai perangkat pick-up terdiri dari array ratusan ribu foto dioda silikon dengan
bias terbalik (reverse biased) dipasang pada chip, biasanya 7mm diagonal, yang
diatur dalam arah baris dan kolom. Selama periode bidang aktif, setiap fotodioda
bertindak sebagai kapasitor, dan memperoleh muatan listrik sebanding dengan
jumlah cahaya yang jatuh di atasnya. Gambar akan tajam dan fokus pada
lembaran tampilan (display) yang bertindak sebagai sensor dengan sistem lensa
optik. Setiap diode bekerja secara bergantian oleh berkas elektron yang
dikendalikan secara individual oleh rangkaian pendorong sensor sehingga
(seperti yang dilihat dari depan) muatan pada baris atas dari foto dioda

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 21

Kegiatan Pembelajaran 1

dibacakan pertama, dari kiri ke kanan. Setiap baris dibacakan pada gilirannya,
kemudian bergeser maju ke bawah, sampai akhir garis bawah tercapai.

3. Prinsip Penyapuan
Penyapuan adalah teknik membagi adegan gambar dimensi persegi panjang ke
garis individu. Dimensi adegan TV standar memiliki aspek rasio 4: 3; yaitu,
adegan 4 unit lebar untuk setiap 3 unit tinggi. Untuk membuat gambar, adegan
dibagi menjadi banyak garis horizontal halus disebut garis-garis penyapuan.
Seiapbaris penyapuan mewakili porsi yang sangat sempit variasi cahaya dalam
adegan. Semakin besar jumlah baris scan, semakin tinggi resolusinya dan
semakin besar detail yang dapat diamati. Standar TV Amerika Serikat penyapuan
baris gambar untuk satu adegan,maksimaldibagi menjadi 525 garis horizontal.
Gambar 1.4 adalah gambar yang disederhanakan dari prosespenyapuan
(scanning). Dalam contoh ini, adegan adalah sebuah huruf kapital Fdengan
tingkat luminan hitam danpada latar belakang putih. Tugas kamera TV adalah
untuk mengkonversi adegan ini ke sinyal listrik. Kamera menyelesaikan adegan
ini diperlukan tegangan transmisi 1V untuk hitam dan 0V untuk putih. Adegan ini
dibagi menjadi 15 scan lines dengan nomor 0 sampai 14. Adegan difokuskan
pada daerah sensitif cahaya dari tabung vidicon atau pencitraan CCD yang dapat
memindai adegan satu baris pada satu waktu, transmisi variasi cahaya di
sepanjang garis sebagai level tegangan. Gambar 1.4 menunjukkan variasi
cahaya di sepanjang beberapa baris. Dimanalatar belakang putih sedang terjadi
proses penyapuan, level tegangan 0V ditransmisikan. Dan ketika cahaya
penyapuan berada tepat pada elemen gambar luminan hitam, maka tingkat
tegangan 1V ditransmisikan. Sinyal-sinyal listrikyang berasaldari masing-masing
garis scan yang disebut sebagai sinyal video.

|22 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

Gambar 1. 4. Penjelasan sederhana penyapuan gambar

Sinyal video ditransmisikan secara serial satu demi satu sampai seluruh adegan
telah selesai dikirim (lihat gambar 1.5). Proses ini adalah persis bagaimana
gambar TV standar dikembangkan dan ditransmisikan.

Gambar 1. 5. Tegangan garis scan ditransmisikan secara serial

Selama adegan sinyal gambar mengandung warna, maka ada berbagai tingkat
cahaya di sepanjang setiap baris penyapuan. Informasi ini ditransmisikan
sebagai berbagai nuansa berada pada tingkat abu-abu antara hitam dan putih.
Warna abu-abu yang diwakili oleh beberapa level teganganantara 0V dan 1V
ekstrem, dan dapat diwakili oleh warna putih dan hitam. Sinyal yang dihasilkan

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 23

Kegiatan Pembelajaran 1

dikenal sebagai kecerahan, atau luminan (pencahayaan), sinyal luminan
biasanya dapat diwakili oleh huruf Y.

Sebuah ilustrasi yang lebih rinci dari proses scanning diberikan pada gambar 1.6.
Adegan video dipindai/disapu dua kali. Salah satu pemindaian/penyapuan
lengkap adegan gambar disebut bidang dan berisi 3121/2 baris. Seluruh bidang
dipindai di 1/50s untuk tingkat bidang 50 Hz. Standar TV warna PAL tingkat
bidang disapu pada frekuensi 50Hz. Kemudian adegan dipindai untuk kedua
kalinya, dengan menggunakan 312 1/2 garis. Bidang kedua dipindai sedemikian
rupa, bahwa garis-garis scan jatuh diantara bidang pertama. Proses penyapuan
ini menghasilkan apa yang dikenal sebagai penyapuan bertautan (interlaced
scanning), dengan total 1/2 garis. Dalam prakteknya, hanya sekitar 625 baris
yang dapat ditampilkan pada layar tabung gambar secara penuh.Dua bidang
bertautan menghasilkan kerangka lengkap video. Dengan tingkat bidang menjadi
1/50s, dua bidang menghasilkan frame rate 1/25s, atau 25 Hz. Frame rate di TV
warna adalah setengah bidang, adalah25Hz. Pemindaian interlaced digunakan
untuk mengurangi kedipan, yang dapat mengganggu penglihatan mata.
Frekuensi 30Hz juga cukup cepat untuk mata manusia, dimana mata tidak dapat
mendeteksi garis scan individual dan yang terlihat adalah gambar yang stabil.

Kecepatan terjadinya garis scan horizontal adalah sebesar 15.625 Hz untuk
monokrom, atau hitam dan putih, dan sama untuk TV warna. Oleh karena itu
kecepatan penyapuan garis scan horisontal TV dibutuhkan sekitar 1/15.625 s.

Interlaced : Dalam pemindaian (penyapuan) bertautan (terjalin), semua baris
ganjil diseluruh frame-scan dipindai pertama, dan kemudian garis genap. Proses
ini menghasilkan dua gambar yang berbeda per frame, yang mewakili dua
sampel yang berbeda dari urutan gambar di berbagai titik dalam waktu.
Himpunan garisganjil merupakan bidang yang pertama yang harus dipindai
pertama kali, dan garis-garis genap membuat bahkan lapangan. Semua sistem
televisi saat ini menggunakan pemindaian bertautan. Salah satu manfaat utama
dari pemindaian bertautan adalah untuk mengurangi tingkat scan (atau
bandwidth). Hal ini dilakukan dengan tingkat lapangan yang relatif tinggi (tingkat
lapangan yang lebih rendah akan menyebabkan kedipan), dengan tetap
mempertahankan jumlah tinggi scan lines dalam bingkai (angka yang lebih

|24 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

rendah dari barisper frame akan mengurangi resolusi gambar statis). Penyapuan
terjalin mempertahankan informasi visual tinggi rinci dan, pada saat yang sama,
menghindari terlihat besar daerah kedipan di layar karena posting sementara
penyaringan oleh mata manusia
Pada penyapuan (scanning) dimulai atas ke bawah, pada saat sinar harus
kembali ke atas lagi diperlukan waktu yang cukup lama, maka akan terdapat saat
gelap. Sehingga akan terlihat berkedip. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan
dengan menaikkan pergantian gambar menjadi 50 gambar per detik, hanya saja
ini mengakibatkan lebar band pemancar akan sangat tinggi. Untuk mengatasi hal
ini dilakukan dengan cara interlace, penyapuan secara bergantian, pada
setengah gambar pertama disapukan garis ganjil setelah selesai ganti disapukan
garis genap. Ilustrasi penyapuan seperti gambar 1.6.

Gambar 1. 6. Penyapuan

Dalam contoh diatas, sebuah layar dengan secara keseluruhan memiliki 13 baris,
pada penyapuan setenngah gambar pertama disapukan baris 1, 3, 5, 7, 9, 11, 13
lalu pada setengah gambar kedua disapukan garis 2, 4, 6, 8, 10 dan 12.

Gambar 1. 7. Hubungan pembelok horisontal dan vertical

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 25

Kegiatan Pembelajaran 1

Untuk penyapuan muatan gambar pada tabung pengambil gambar dan untuk
penyusunan titik-titik nyala diatas layar gambar, televisi selain diperlukan
pembelokan sinar elektron dari kiri ke kanan juga pembelokan dari atas ke
bawah.
Pembelokan sinar ini dicapai secara magnetis, karena untuk tabung gambar
yang menggunakan pembelok elektrostatik menghasilkan pembelokan yang kecil
pada bahan yang sama. Maka diletakkan kumparan pembelok pada leher tabung
gambar . Raster terjadi karena pembelokan mendatar (horisontal) lebih cepat dari
pada pembelokan tegak (vertikal). Waktu jalan sinar mendatar TH tujuh kali lebih
pendek (lebih cepat) dari pada waktu jalan sinar tegak TV (vertikal). Jadi sinar
bergeser ke bawah sekitar seper tujuh dari geseran tegak keseluruhan (gambar
atas kanan), jika baris pertama selesai. Baris-baris yang tersusun satu sama lain
disebut raster gambar. Hubungan waktu TH dan TVseperti gambar 1.8.

Gambar 1. 8. Hubungan waktu TH dan TV

Dari contoh sebuah gambar dengan raster 7 baris berlaku TV/TH=7, atau lama
periode arus pembelok horisontal hanya 1/7 x TV Juga dapat dikatakan, bahwa
raster gambar keseluruhan dengan TV/TH=7 terdiri tujuh baris.

|26 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

Gambar 1. 9. Hubungan arus pembelok

Jika pada norma televisi yang digunakan telah ditetapkan TV/TH = 625, artinya
bahwa didalam waktu periode tegak ( vertikal ) disapukan 625 baris, jadi raster
gambarnya terdiri dari 625 baris. Hubungan arus pembelok seperti gambar 1.9 di
atas.
4. Sinyal Gambar
Pada penerima TV tabung gambar, untuk mereproduksi sinyal gambar secara
akurat, maka sinyal gambar harus dipindai pada langkah yang sama dengan
pemancar. Untuk memastikan bahwa penerima tetap persis tersinkronisasi
dengan pemancar, untuk itu diperlukan pulsa sinkronisasi khusus untuk
horisontal dan vertikal,dan ditambahkan ke dan ditransmisikan dengan sinyal
video (lihat gambar 1.10). Setelah satu baris telah dipindai, horizontal blanking
pulsa datang. Pada penerima, pulsa blanking digunakan untuk memotong berkas
elektron dalam tabung gambar selama berkas sinar harus disapu kembali dari
kanan ke kiri, dan kemudian bersiap-siap untuk garis scan berikutnya kiri-ke-
kanan.

Gambar 1. 10 Pulsa sinkronisasi digunakan untuk menjaga pada saat penyapuan sinyal
gambar tepat tersinkronisasi anatar penerima dengan pemancar.

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 27

Kegiatan Pembelajaran 1

Sinyal Televisi harus memuat tiga informasi seperti berikut ini:
1. Isi Gambar; tegangan yang besarnya proporsional terhadap nilai kecerahan

sebuah gambar yang diambil.
2. Pulsa Sinkron; untuk menyerempakkan pembelok sinar pada pemancar

dengan penerima.
3. Pulsa Blanking; yang membuat tabung gambar gelap saat sinyal balik.
Secara keseluruhan sinyal televisi ini disebut sebagai sinyal Composite, dalam
istilah dalam bahasa jerman disebut dengan sinyal BAS (Bild Austast dan
Synchronisiersignal = sinyal Gambar, Blanking dan Sinkron).
Gambar 1.11 memperlihatkan sinyal Composite sesuai norma CCIR (Komite
Konsultatif Internasional dari Radio Komunikasi) dalam satu baris dengan
gambar balok tegak hitam-putih (gambar 1.11) dan satu baris dengan balok
tangga abu-abu (gambar 1.12).

Gambar 1. 11. Sinyal Composite

Pulsa sinkronisasi dipancarkan oleh pemancar dengan daya penuh. Sehingga
memiliki amplitudo terbesar. Untuk mengirimkan level hitam 73% dari maksimum
amplitudo tegangan modulasi, dan level blanking ditetapkan pada 75%.
Perbedaan sebesar 2% dinamakan juga sebagai “pengangkatan hitam”.
Tegangan terkecil ditandai dengan level putih yang ditetapkan sebesar 10% dari

|28 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

maksimum amplitudo tegangan modulasi. Nilai ini tidak boleh terlampaui, karena
dengan menghilangnya tegangan pembawa menyebabkan tidak dapat
diterimanya sinyal suara.
Pada proses intercarrier atau differentsound getaran frekuensi IF suara 5,5MHz
dibangkitkan oleh percampuran getaran pembawa gambar dengan getaran
pembawa suara. Dengan demikian nilai putih tidak boleh dibawah 10% dari
amplitudo pembawa gambar, karena menyebabkan getaran pembawa gambar
tidak ada, dan akan menyebabkan suara tidak terbangkitkan.
Tingkatan nilai abu-abu akan terletak antara 73% dan 10% dari amplitudo
terbesar.Sinyal Composite dengan skala abu-abu seperti gambar 1.12.

Gambar 1. 12. Sinyal Composite dengan skala abu-abu

5. Pulsa Sinkronisasi
Pada setiap akhir sebuah baris diberikan pulsa sinkronisasi baris, ini dapat dilihat
pada gambar 1.11, Frekuensi baris 15.625 Hz pada jumlah baris 625 dan 25
gambar penuh tiap detiknya. Lama waktu tiap baris termasuk pulsa sinkron
sebesar TH=1/fH=1/15.625 Hz = 64 s.Pada waktu ini terdiri waktu maju tH dan
waktu balik tR. Karena hanya dalam masa maju saja akan terbentuk gambar,
maka arah balik dibuat sependek mungkin. Secara praktik untuk arah balik
diperlukan hanya 1/10 arah maju.

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 29

Kegiatan Pembelajaran 1

Gambar 1. 13. Hubungan secara waktu antara pulsa sinkron dan
arus pembelokan pada sebuah baris

Supaya semasa arah balik tidak terlihat mengganggu, maka pada tabung
pengambilan gambar dan tabung reproduksi gambar dilkukan penekanan. Untuk
ini waktu blanking dibuat sedikit lebih besar dibandingkan waktu arah balik. Pulsa
sinkronisasi seperti gambar 1.13, terdapat bahu hitam di depan dan belakang
pulsa sinkronisasi. Bahu hitam di depan sekitar 0,02 TH 1s dari arah maju pada
akhir baris. Ini untuk pemisahan antara isi baris dengan pulsa sinkronisasi
dengan baik. Sedang bahu hitam dibelakang pulsa sekitar 0,092 TH 6s dari
arah maju pada awal baris berikutnya. Hal ini untuk menutupi osilasi awal arah
maju yang disebabkan oleh cepatnya arah balik.

Lama saat blanking untuk pergantian baris:

bahu hitam depan + pulsa sinkron + bahu hitam belakang = tR

0,023 TH + 0,073 TH + 0,9 TH = 0,186 TH

1,5s + 4,7s + 5,8s = 12 s

Sehingga sisa untuk arah maju adalah tH 52s yang akan digunakan untuk
menampilkan gambar.

|30 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

Gambar 1. 14. Fungsi Bahu pada Pulsa Sinkron

Pada sebelum dan setelah pulsa sinkron terdapat level tegangan sebesar 73%
dan naik ke 75% pada pulsa sinkron, level ini disebut dengan bahu pulsa. Fungsi
dari bahu ini diperlihatkan gambar 1.14. Pada gambar kiri memperlihatkan jika
tanpa bahu hitam, misalkan isi gambar berlevel putih dengan levvel 10%, untuk
mencapai pulsa sinkron maka level sinyal naik ke 75% memerlukan waktu. Maka
saat mancapai level pulsa sinkron, pulsa akan bergeser. Untuk waktu yang tepat
maka sebelum pulsa sinkron diberi bahu hitam.
6. Sinkronisasi Gambar
Pulsa sinkronisasi gambar untuk menandai akhir sebuah setengah gambar dan
sekaligus untuk mengantarkan arah balik sinar elektron dari sisi layar gambar
bawah ke sisi layar gambar atas. Untuk pulsa ganti gambar besarnya antara
75% sampai 100% dari amplitudo maksimum, untuk membedakan antara pulsa
horisontal (baris) dengan pulsa vertikal (gambar). Untuk membedakan pulsa
sinkronisasi gambar dengan pulsa sinkronisasi baris, digunakan pulsa tebal yang
terbuat dari lima pulsa berurutan. Masing-masing memiliki waktu 0,42TH27s.
Diantaranya terdapat lubang dengan lebar 0,08TH5s. Ini untuk menjaga
selama sinkronisasi gambar, tetap berlangsung sinkronisasi baris. (gambar 1.15).

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 31

Kegiatan Pembelajaran 1

Gambar 1. 15. Pulsa Sinkronisasi

Lebar pulsa sinkronisasi dalam sinyal video :5 (27s+5s) = 160 s atau 2,5
baris. Lubang sinkron dimulai 2,5 baris sebelum dimulainya pergantian gambar
dan berakhir setelah 2,5 baris setelah pulsa ganti gambar. Dari 5 lima pulsa
sinkronisasi gambar yang lebar, harus terdapat sinyal yang jelas untuk
membangkitkan arah balik sinar vertikal. Maka dari itu diberikan 5 pulsa penyama
yang tipis di depan dan belakangnya. Sinyal ini dalam literatur berbahasa Jerman
disebut “Vortrabanten dan Nachtrabanten” dalam jarak setengah baris. Tanpa
pulsa ini dari 5 pulsa ganti gambar pada tiap setengah gambar dibangkitkan
tegangnan sinkronisasi yang berbeda. Fungsi utamanya adalah dibebaskannya
dari lompatan baris, bahwa pada kedua setengah gambar dari generator
mengirimkan dengan nilai tegangan yang sama untuk membalik tanpa waktu
tunda, sehingga terbentuk pasangan baris, maksudnya jarak baris tidak sama
besar. Dalam normanya ditetapkan, bahwa waktu balik vertikal hanya 5% dari
waktu maju maka:

tR0,05·tH=0,05·20ms.
tR1ms atau sekitar 15baris.
Supaya arah balik dan proses osilasi awal tidak terlihat, maka sinar elektron
harus dibuat gelap ketika arah balik. Maka proses blanking vertikal ditetapkan

|32 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

Teknik Audio Vidio KK J

sekitar 1,28ms atau 20 baris. Pemancar mengirimkan keseluruhan pulsa sinkron
gambar sekitar 3·2,5·TH=480s atau 7,5 baris selain itu masih terdapat waktu
t=1280s-480s=800s atau 12,5 baris tanpa isi gambar. Waktu balik sinar
elektron harus selalu sekitar 1,2ms.Sinyal blanking hanya akan terlihat pada
layar, jika pengatur frekuensi gambar diatur sehingga gambar “lari”(rolling).
7. Lebar Band
Untuk mentransmisikan gambar lebar band yang diperlukan dapat dihitung
secara pendekatan, jika dihitung dengan penguraian vertikal dan horisontal yang
sama. Maksudnya, layar di bagi secara titik gambar kuadratis. Dengan norma
perbandingan sisi layar vertikal banding horisontal 3 : 4 dan dengan jumlah baris
horisontal 625 maka terdapat:
625 · 4/3 =833 titik gambar kuadratis tiap baris.
Misalkan titik gambar ini berganti-ganti hitam putih, maka tabung gambar
dikendalikan oleh tegangan kotak (gambar 1.16).
Frekuensi getaran kotak dapat dihitung dari jumlah hitam dan putih dan jumlah
baris tiap detik maka :

fatas= (833/2) · (1/baris) · 625baris · 25 1/s = 6.507.812,5Hz
 6,5 MHz.

Gambar 1. 16. Proses tegangan sebuah baris dengan titik gambar hitam dan putih

|Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan 33

Kegiatan Pembelajaran 1

Ketajaman pada arah vertikal karena pembagian pada baris yang sedikit maka
penguraian arah horisontal juga sedikit. Sehingga dalam praktiknya dari frekuensi
batas atas yang 6,5MHz sudah dapat diperoleh gambar yang berkualitas baik
hanya dengan 5MHz.

Gambar 1. 17. Lebar frekuensi yang diperlukan sebuah kanal televisi

Jika pada televisi, seperti pada radio AM, digunakan modulasi AM (dua sisi
band), maka diperlukan lebar band secara total 11MHz (gambar 1.17). Pada
lebar band yang sedemikian besar tidak cukup pemancar dalam daerah frekuensi
yang ada. Maka digunakan modulasi sisi tunggal ( single side band )
Karena sinyal frekuensi video akan diturunkan hingga nol dan sinyal video
memiliki karakter pulsa, maka pemotongan band sisi secara penuh pada
pembawa tidak dimungkinkan. Maka digunakanlah proses band sisi sisa (rest
side band).

Gambar 1. 18. Spektrum frekuensi sebuah kanal televisi dengan pembawa gambar (PS)
dan suara (PS) dan kanal tetangga pada band I/III dan IV/V

|34 Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


Click to View FlipBook Version