The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by firdaus.3nur, 2023-08-30 09:10:15

SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN

SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN

PERANAN KELOMPOK TANI DAN PENDAPATAN PETANI UBI KAYU DI DESA SISWO BANGUN KECAMATAN SEPUTIH BANYAK KABUPATEN LAMPUNG TENGAH ( Skripsi ) Oleh Haryadi FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2018


ABSTRACT ROLE OF FARMER GROUPS AND CASSAVA FARMING INCOME IN SISWO BANGUN VILLAGE OF SEPUTIH BANYAK DISTRICT CENTRAL LAMPUNG REGENCY By Haryadi The purposes of this study are to examine the role of cassava farmer groups, factors related to the role, the level of cassava farming income and the relationship between the role and the income in Siswo Bangun Village, Seputih Banyak District, Central Lampung Regency. Respondents were 87 cassava farmers involved in 18 farmer groups. This research was conducted in January 2018. This research used a survey method. Data analysis used descriptive analysis and Rank Spearman correlation test. The results showed that the level of the role of farmer groups was classified as moderate. Factors significantly related to the role of cassava farmer groups were the role of extension workers and leadership of farmer group leaders. Cassava farming income in Siswo Bangun Village, Seputih Banyak District, Central Lampung regency was classified as moderate, which was Rp. 21,925,801 per ha per season. There is no significant relationship between the role of farmer groups and the level of cassava farming income Keywords: Cassava, farming income, role of farmer groups.


ABSTRAK PERANAN KELOMPOK TANI DAN PENDAPATAN PETANI UBI KAYU DI DESA SISWO BANGUN KECAMATAN SEPUTIH BANYAK KABUPATEN LAMPUNG TENGAH Oleh Haryadi Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat peranan kelompok tani petani ubi kayu, faktor-faktor yang berhubungan dengan peranan kelompok tani petani ubi kayu, tingkat pendapatan usahatani petani ubi kayu dan mengetahui hubungan antara peranan kelompok tani dengan tingkat pendapatan usahatani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun, Kecamatan Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah. Responden dalam penelitian ini berjumlah 87 orang petani yang tergabung dalam 18 kelompok tani. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2018. Metode penelitian ini menggunakan metode survey. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat peranan kelompok tani dalam peningkatan pendapatan usahatani petani ubi kayu tergolong dalam klasifikasi sedang. Faktor-faktor yang berhubungan nyata dengan peranan kelompok tani petani ubi kayu adalah peran penyuluh dan kepemimpinan ketua kelompok tani, sedangkan yang tidak berhubungan nyata dengan peranan kelompok tani adalah tingkat motivasi petani dan interaksi sosial petani. Peranan kelompok tani tidak berhubungan nyata dengan tingkat pendapatan usahatani petani ubi kayu. Pendapatan usahatani petani ubi kayu tergolong sedang yaitu sebesar Rp. 21.925.801 per ha/per musim. Kata kunci : Pendapatan petani, Peranan kelompok tani, Ubi kayu


PERANAN KELOMPOK TANI DAN PENDAPATAN PETANI UBI KAYU DI DESA SISWO BANGUN KECAMATANSEPUTIH BANYAK KABUPATEN LAMPUNG TENGAH Oleh HARYADI Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN Pada Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2018


RIWAYAT HIDUP Penulis lahir pada tanggal 16 Juli 1994 di Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah. Penulis adalah anak ketujuh dari pasangan Bapak Heryansyah dan Ibu Mutisah. Penulis menyelesaikan pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) di RA MUSLIMAT NU 01 tahun 2000, pendidikan Sekolah Dasar di SDN 03 Tanjung Harapan tahun 2007, pendidikan Sekolah Menengah Pertama di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Seputih Banyak tahun 2010 dan pendidikan Sekolah Menengah Atas Negeri di SMAN 1 Seputih Banyak tahun 2013. Tahun 2013 penulis diterima sebagai mahasiswa di Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Pada tahun 2015 Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 60 hari di Desa Sidodadi, Kecamatan Penawar Tama, Kabupaten Tulang Bawang. Penulis melaksanakan kegiatan Praktik Umum 40 hari di Mitra Tani Parahiyangan Cianjur pada tahun 2016. Selama menjadi mahasiswa, Penulis aktif di Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himaseperta) pada tahun 2015/2016 Penulis menjadi Sekretaris Bidang Minat Bakat dan Kreativitas Himaseperta, tahun 2016/2017 Penulis menjadi Kepala Bidang Minat Bakat dan Kreativitas Himaseperta.


SANWACANA Alhamdulillahirobbilalamiin, segala puji syukur bagi Allah SWT Tuhan Semesta Alam karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Peranan Kelompok Tani dan Pendapatan Petani Ubi Kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Lampung Tengah”. Shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan tauladan dalam setiap sisi kehidupan manusia, semoga kelak kita semua akan mendapatkan syafaatnya. Selama penyelesaian skripsi ini, banyak pihak yang telah memberikan bantuan, nasihat, dorongan semangat, kritik dan saran yang membangun kepada penulis. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala ketulusan dan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. 2. Dr. Teguh Endaryanto, S.P., M.Si., selaku Ketua Jurusan Agribisnis Universitas Lampung. 3. Ir. Indah Nurmayasri, M.Sc., selaku Pembimbing Pertama, atas semua bimbingan, saran, nasihat, dukungan, dan perhatian kepada penulis selama proses penyelesaian skripsi. 4. Ir. Begem Viantimala, M.Si., selaku Pembimbing Kedua, atas semua


bimbingan, saran, nasihat, dukungan, dan perhatian kepada penulis selama proses penyelesaian skripsi 5. Dr. Serly Silviyanti S., S.P., M.Si. selaku Dosen Penguji atas masukan, arahan, dan nasihat yang diberikan. 6. Seluruh Dosen Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung, atas ilmu yang telah diberikan selama penulis menjadi mahasiswa aktif. 7. Kedua orang tuaku tersayang, Bapak Heryansyah dan Ibu Mutisah atas kesabaran, doa, dukungan, semangat dan kasih sayang yang telah diberikan kepada penulis selama ini. 8. Kakak-kakakku: Erwin Robbana, Hendra Putra, Kiki Firmansyah, Enik Fitrianti, Heru Dermawan, dan adik-adikku: Nurul Ismail, Khoirul Syahrudin, Helwa Kurnia Putri, dan seluruh keluarga besar, yang telah memberikan semangat dan doa kepada penulis. 9. Rica Silvia Anggraini yang telah membantu dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan pendidikan. 10. Seluruh sahabat seperjuangan Agribisnis 2013 yang telah lulus terlebih dahulu maupun yang belum lulus, atas segala kebersamaan, canda tawa, dukungan, nasihat serta saran selama ini. Semoga kelak kesuksesan menyertai kita semua. 11. Sahabat-sahabat Pagun Sekelik, Dhanar Yoga Prasetya, S.P., Dwi Ega Prasetio S.P., Doni Pranata, S.P., Febriko Fajar, S.P., Okta Saputra, S.P., M. Nuzul Mubarokah, S.P., M. Reza Azhar, S.P., dan Reki Septian Patra, S.P. atas segala kebersamaan, selama ini. Semoga kelak kesuksesan dan kesehatan selalu menyertai kita. Semoga persahabatan ini takkan lekang oleh waktu.


12. Keluarga besar Himaseperta, khususnya teman-teman seperjuangan Presidium Himaseperta periode 2015/2016 dan 2016/2017. 13. Terima kasih kepada seluruh teman-teman wanita agribisnis 2013 : Mentari Diasti Putri, S.P., Fitria Kusuma Astuti, S.P., Fitri Yuni Lestari, S.P., Biha Melati Sari, S.P., Hafiza Ayu Rizqi, S.P., Suci Rodian Noer, S.P., Wardiah Nurul Khasanah, S.P., Ochi Ramadhani, S.P., dan seluruh teman-teman seperjuangan Agribisnis 2013. 14. Kanda Yunda 2012, 2011, dan 2010 serta adik-adik 2014, 2015, dan 2016 atas bantuan dan saran kepada penulis selama proses perkuliahan. 15. Seluruh Karyawan Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung yaitu Mbak Ayi, Mbak Iin, Mas Boim, Mbak Tunjung, Mas Bukhori, Atas bantuan dan kemudahan yang diberikan kepada penulis selama melakukan proses administrasi di jurusan. 16. Semua pihak yang telah memberikan dukungan dan membantu penulis hingga selesainya skripsi ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang tepat atas segala bantuan yang telah diberikan. Semoga hasil karya ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Akhir kata penulis meminta maaf atas segala kesalahan dan mohon ampun kepada Allah SWT. Bandar Lampung, Desember 208 Penulis, Haryadi


i DAFTAR ISI DAFTAR ISI.................................................................................................... i DAFTAR TABEL............................................................................................ iii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... vii I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah.............................................................. 1 B. Rumusan Masalah.............................................................................. 10 C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 10 D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 11 II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERNGKA PEMIKIRAN A. Tinjauan Pustaka................................................................................ 12 1. Pengertian Peranan, Peranan Kelompok dan Faktor yang Berhubungan dengan Peranan ............................................ 12 2. Pengertian Kelompok dan Kelompok Tani................................... 18 3. Klasifikasi Kelas Kelompok Tani ................................................. 21 4. Pendapatan Usahatani ................................................................... 23 5. Budidaya Ubi Kayu....................................................................... 24 B. Penelitian Terdahulu .......................................................................... 31 C. Kerangka Pemikiran........................................................................... 35 D. Hipotesis ............................................................................................ 39 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional ........................................... 40


ii 1. Konsep Dasar............................................................................... 40 2. Definisi Operasional ................................................................... 44 B. Lokasi, Waktu Penelitian dan Responden ......................................... 48 C. Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data............................ 50 D. Metode Analisis Data......................................................................... 51 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ................................................. 54 1. Gambaran Umum Kecamatan Seputih Banyak........................... 54 2. Gambaran Umum Desa Siswo Bangun....................................... 59 B. Hasil Penelitian dan Pembahasan ..................................................... 63 1. Keadaan Umum Responden........................................................ 63 2. Deskripsi Faktor – faktor yang Diduga Berhubungan dengan Peranan Kelompok Tani dan pendapatan Petani ........... 67 3. Deskripsi Peranan Kelompok Tani dan Pendapatan Petani Ubi Kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Lampung Tengah ........................... 100 4. Deskripsi Pendapatan Usahatani Petani Ubi Kayu ..................... 106 5. Pengujian Hipotesis..................................................................... 111 V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ........................................................................................ 120 B. Saran .................................................................................................. 121 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 122 LAMPIRAN..................................................................................................... 126


iii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1. Luas lahan, produksi, dan produktivitas ubu kayu per Kabupaten di Provinsi Lampung tahun 2014-2015..........................................................3 2. Luas lahan, produksi, dan produktivitas ubu kayu per Kecamatan di Kabupaten Lampung tengah tahun 2014-2015 ..........................................4 3. Harga ubi kayu di provinsi Lampung tahun 2016......................................5 4. Jumlah kelompok tani per Kampung di Kecamatan Seputih Banyak........7 5. Ringkasan penelitian terdahulu................................................................ 32 6. Jumlah responden setiap kelompok tani di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak ..................................................................... 50 7. Nama Desa dan luas lahan di Kecamatan Seputih Banyak tahun 2017... 55 8. Jumlah kepala rumah tangga, penduduk laki-laki dan perempuan di Kecamatan Seputih Banyak tahun 2017 .................................................. 56 9. Luas wilayah berdasarkan potensi penggunaan lahan di Kecamatan Seputih Banyak tahun 2017 ..................................................................... 57 10. Kelompok tani di wilayah binaan BP3K Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah tahun 2018...................... 58 11. Kelembagaan ekonomi di Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah tahun 2018............................................... 58 12. Jumlah penduduk Desa Siswo Bangun berdasakan jenis kelamin tahun 2017................................................................................................ 60 13. Lembaga pendidikan di Desa Siswo Bangun tahun 2017........................ 60 14. Sebaran responden berdasarkan umur...................................................... 64 15. Keadaan responden petani berdasarkan tingkat pendidikan .................... 65


iv 16. Keadaan responden petani berdasarkan luas lahan .................................. 66 17. Sebaran tingkat peran penyuluh di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah...................... 68 18. Tingkat peranan penyuluh sebagai pembimbing...................................... 69 19. Tingkat peranan penyuluh sebagai organisator dan motivator ................ 70 20. Tingkat peranan penyuluh sebagai konsultan .......................................... 71 21. Tingkat peranan penyuluh sebagai fasilitator .......................................... 72 22. Rekapitulasi tingkat peran penyuluh berdasarkan masing-masing indikator ......................................................................... 73 23. Sebaran tingkat kepemimpinan ketua kelompok berdasarkan data ketua kelompok ................................................................................ 74 24. Sebaran tingkat kepemimpinan ketua kelompok berdasarkan data anggota kelompok ........................................................................... 75 25. Sifat pemimpin ketua kelompok tani berdasarkan data ketua kelompok ........................................................................................ 76 26. Sifat pemimpin ketua kelompok tani berdasarkan data anggota kelompok ................................................................................................. 77 27. Perilaku pemimpin ketua kelompok tani data ketua kelompok ............... 78 28. Perilaku pemimpin ketua kelompok tani data anggota kelompok ........... 79 29. Kekuasaan pemimpin ketua kelompok tani data ketua kelompok........... 80 30. Kekuasaan pemimpin ketua kelompok tani data anggota kelompok ....... 81 31. Rekapitulasi tingkat kepemimpinan ketua berdasarkan masing-masing indikator ................................................................................................... 82 32. Sebaran tingkat motivasi petani dan pendapatan petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah .................................................................. 83 33. Tingkat motivasi petani dalam memenuhi kebutuhan fisiologis ............. 84 34. Tingkat motivasi petani dalam memenuhi kebutuhan ekonomi .............. 86 35. Tingkat motivasi petani dalam memenuhi kebutuhan rasa aman ............ 87 36. Tingkat motivasi petani dalam memenuhi kebutuhan sosial ................... 88 37. Tingkat motivasi petani dalam memenuhi kebutuhan penghargaan ........ 90 38. Tingkat motivasi petani dalam memenuhi kebutuhan aktualisasi diri..... 91


v 39. Rekapitulasi tingkat motiavsi petani berdasarkan masing-masing indikator.......................................................................... 92 40. Sebaran tingkat interaksi Sosial Petani dan pendapatan petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah ................................................................... 93 41. Interaksi anggota kelompok tani dengan tetangga ................................... 94 42. Interaksi anggota kelompok tani dengan anggota kelompok tani............ 96 43. Interaksi kelompok tani dengan penyuluh................................................ 97 44. Interaksi kelompok tani dengan kelompok tani........................................ 98 45. Rekapitulasi tingkat interaksi sosial petani berdasarkan masing-masing indikator .......................................................................... 99 46. Rekapitulasi variabel faktor-faktor yang berhubungan dengan peranan kelompok tani dan pendapatan petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah................................................................... 100 47. Sebaran tingkat peranan kelompok tani dan pendapatan usahatani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah .................................................................. 101 48. Sebaran tingkat peranan kelompok tani sebagai kelas belajar ................ 102 49. Sebaran tingkat peranan kelompok tani sebagai wahana kerjsama ......... 104 50. Sebaran tingkat peranan kelompok tani sebagai unit produksi ............... .105 51. Rekapitulasi tingkat interaksi sosial petani berdasarkan masing-masing indikator ......................................................................... 106 52. Tingkat produksi ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah ..................... 107 53. Biaya produksi ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah ..................... 108 54. Tingkat penerimaan ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah ..................... 109 55. Tingkat pendapatan ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah ..................... 110 56. Hasil analisis faktor-faktor yang diduga berhubungan


vi dengan peranan kelompok tani di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah ..................... 111 57. Hasil analisis hubungan antara peranan kelompok tani dengan pendapatan usahatani petani di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah. .................... 118


DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Kerangka pemikiran ..................................................................................38 2. Struktur organisasi kelompok tani di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah ......................62


1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pertanian di Indonesia hingga saat ini masih memegang peranan penting bagi perekonomian nasiaonal. Hal tersebut didasarkan pada peranannya sebagai penyedia bahan pangan bagi penduduk, bahan baku bagi industri pertanian, sumber pendapatan bagi jutaan petani yang tersebar di seluruh Indonesia, serta sebagai sumber penghasil devisa negara setelah sektor minyak dan gas. Dalam arti luas, konteks pertanian mencakup beberapa subsektor di antaranya perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Salah satu subsektor yang diberi perhatian lebih oleh pemerintah adalah sektor tanaman pangan (Kementan RI, 2013). Tanaman pangan merupakan subsektor pertanian yang menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung kegiatan perekonomian di Indonesia. Salah satu subsektor tanaman pangan yang cukup besar potensinya dalam perekonomian Indonesia adalah ubi kayu. Ubi kayu merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang memegang peranan cukup penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional, selain itu berperan juga dalam mewujudkan pembangunan wilayah, pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, penyedia bahan baku industri, penghematan dan penerimaan


2 devisa negara serta menjadi penarik bagi industri hulu dan pendorong pertumbuhan bagi industri hilir (Ditjen Tanaman Pangan, 2011) Ubi kayu merupakan salah satu bahan pangan pengganti beras yang cukup penting peranaannya dalam menopang ketahanan pangan suatu wilayah. Hal ini dikarenakan peranan ubi kayu sebagai sumber bahan pangan pengganti bahan pangan utama yaitu beras. Dalam pemenuhan kebutuhan karbohidrat, ubi kayu merupakan komoditas tanaman pangan ketiga di Indonesia setelah padi dan jagung (Rahmat, 1997). Ubi kayu umumnya dikembangkan di daerah kering dan menjadi andalan petani di daerah tersebut. Ubi kayu sebagai komoditas bahan pangan masih sering dianggap sebagai usaha sampingan sehingga pengembangannya belum dilakukan secara intensif. Disamping sebagai bahan makanan, ubi kayu juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri dan pakan ternak. Ubi yang dihasilkan mengandung air sekitar 60%, pati 25%-35%, serta protein, mineral, serat, kalsium, dan fosfat. Ubi kayu merupakan sumber energi yang lebih tinggi dibanding padi, jagung, ubi jalar, dan sorgum (Rukmana, 1997). Provinsi Lampung masih cukup berpotensi untuk menjadi penghasil ubi kayu terbesar di Indonesia dilihat dari luas panen dan produksi yang terus meningkat. Perkembangan luas panen, produksi, dan produktivitas tanaman ubi kayu menurut kabupaten/kota di Propinsi Lampung tahun 2014-2015 dapat dilihat pada Tabel 1.


3 Tabel 1. Luas lahan, produksi dan produktivitas ubi kayu per kabupaten di Provinsi Lampung tahun 2014 – 2015 Kabupaten/ Kota Luas Panen Produksi Produktivitas (ha) (ton) (ton/ha) 2014 2015 2014 2015 2014 2015 Lampung Barat 254 246 5.263 5.529 20,72 22,47 Tanggamus 578 439 12.344 10.311 21,35 23,48 Lampung Selatan 6.898 10.398 150.920 248.978 21,87 23,94 Lampung Timur 53.740 48.092 1.433.094 1.224.711 26,66 25,46 Lampung Tengah 97.346 91.906 2.523.230 2.401.090 25,92 26,12 lampung Utara 74.537 54.170 1.999.026 1.526.969 26,81 18,18 Way Kanan 16.402 14.488 400.772 399.810 24,43 27,59 Tulang Bawang 21.774 17.915 600.954 472.557 27,59 26,37 Pesawaran 4.742 4.431 104.072 107.636 21,94 24,29 Pringsewu 873 836 18.039 19.823 20,66 23,71 Mesuji 4.506 3.351 125.947 97,682 27,95 29,15 Tulang Bawang Barat 27.686 27.293 770.367 741.497 27,82 27,16 Bandar Lampung 117 104 2.551 2.937 21,8 25,35 Metro 261 105 5.563 2.958 21,31 28,16 Pesisir Barat 194 123 4.014 2.755 20,69 22,40 Rata - rata 20,30 18,62 160,072 168,215 23,84 17,28 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, 2015 Tabel 1 menunjukkan bahwa dari beberapa kabupaten yang ada di Provinsi Lampung, kabupaten yang memiliki luas lahan dan produksi ubi kayu terbesar adalah Lampung Tengah dengan luas lahan 97.346 ha dan produksi 2.523.230 ton serta produktivitas 25,92 ton/ha pada tahun 2014, sedangkan pada tahun tahun 2015 luas lahan 91.906 ha dan produksi 2.401.090 ton serta produktivitas 26,12 ton/ha. Data tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Lampung Tengah merupakan daerah yang potensial untuk memproduksi ubi


4 kayu. Luas lahan dan produksi ubi kayu per kecamatan di Kabupaten Lampung Tengah tahun 2014 – 2015 dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Luas lahan, produksi dan produtivitas ubi kayu per kecamatan di Kabupaten Lampung Tengah tahun 2014 - 2015 No Kecamatan Luas Panen Produksi Produktivitas (ha) (ton) (ton/ha) 2014 2015 2014 2015 2014 2015 1 Padang ratu 2.026 4.492 48.700 75.171 23,68 16,73 2 Selagai Lingga 584 557 13.914 10.196 23,63 18,30 3 Pubian 170 511 4.138 8.615 24,27 16,85 4 Anak Tuha 222 3.154 5.243 59.459 23,78 18,85 5 Anak Ratu Aji 1.147 2.345 27.119 46.289 22,70 19,73 6 Kalirejo 165 255 3.908 4.688 24,26 18,38 7 Sendang Agung 126 145 2.978 3.375 24,22 23,27 8 Bangunrejo 304 1.146 7.381 21.593 24,15 18,84 9 GunungSugih 2.802 1.779 66.647 35.829 22,03 20,13 10 Bekri 2.303 1.853 52.300 43.238 22,98 23,33 11 Bumiratu Nuban 720 704 17.471 15.368 24,73 21,82 12 Trimurjo 384 54 9.304 1.271 24,20 23,53 13 Punggur 412 235 9.953 4.138 24,16 17,60 14 Kota Gajah 51 - 1.124 - 25,15 - 15 Spt. Raman 1.001 935 23.009 22.081 25,12 23,61 16 Terb. Besar 5.075 5.556 125.520 130.097 25,50 23,41 17 Seputih Agung 6.154 4.914 148.942 107.897 25,50 21,95 18 Way Pngubuan 3.510 5.665 84.816 140.269 25,40 24,76 19 Terusan Nunyai 13.405 11.693 337.188 268.822 26,10 22,98 20 Seputih Mataram 3.471 4.903 87.218 113.953 25,74 23,24 21 Bandar Mataram 13.199 12.502 336.683 300.588 25,63 24,04 22 Seputih Banyak 3.439 3.199 86.823 87.098 25,24 27,22 23 Way Seputih 2.883 3.075 73.229 82.517 25,85 26,83 24 Rumbia 7.350 7.686 191.886 194.904 23,68 25,35 25 Bumi Nabung 6.699 1.509 172.457 38.489 23,63 25,50 26 Putra Rumbia 5.248 6.069 134.513 164.401 24,27 27,08 27 Seputih Surabaya 7.306 4.675 191.540 117.563 23,78 25,14 28 Bandar Surabaya 3.680 3.751 95.144 97.589 22,70 26,016 Rata - rata 3,28 3,47 85,75 90,11 24,44 21,59 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, Lampung Tengah dalam angka, 2015 Tabel 2 menunjukkan bahwa Kabupaten Lampung Tengah memiliki 28 kecamatan yang masing-masing memiliki hasil produksi ubi kayu yang beragam. Dari 28 kecamatan, kecamatan Seputih Banyak merupakan salah


5 satu sentra penghasil ubi kayu. Kecamatan Seputih Banyak memiliki luas lahan 3.439 ha dan produksi 86.823 ton serta produktivitas 25,24 ton/ha pada tahun 2014, sedangkan pada tahun 2015 luas lahan 3.199 ha dan produksi 87.098 ton serta produktivitas 27,22 ton/ha. Kenaikan produktivitas ubi kayu di Kecamatan Seputih Banyak menunjukkan nilai positif atau selalu bertambah setiap tahunnya. Ironisnya tinggi angka produktivitas berbanding terbalik dengan harga jual ubi kayu di tingkat petani. Daftar harga ubi kayu di Provinsi Lampung tahun 2016 dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Harga ubi kayu di Provinsi Lampung tahun 2016 Keterangan Bulan (Rp/Kg) Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nov Des Tingkat Pabrik 900 875 875 838 775 770 828 738 630 551 650 650 Tingkat Petani 675 657 657 629 582 578 621 554 473 441 520 520 Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Lampung, 2016 Tabel 3 menunjukkan bahwa harga jual ubi kayu tingkat petani sangat rendah, sehingga hal ini mempengaruhi tingkat pendapatan petani ubi kayu. (Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Tengah, 2016). Melihat kondisi tersebut pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus berupaya melakukan berbagai macam startegi dan inovasi demi membantu petani ubi kayu agar lebih baik dan efisien dalam memanajemen kegiatan usahataninya sehingga secara tidak langsung akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani tersebut yang akhirnya dapat memperbaiki


6 kesejahteraan mereka. Melandasi hal tersebut, Kementerian Pertanian mengembangkan berbagai inovasi teknologi untuk membantu para petani. Mengingat jumlah petani yang banyak dan tersebar luas maka melalui rekayasa kelembagaan, yang diharapkan mampu mengkordinir petani secara menyeluruh sehingga dibentuklah sebuah lembaga petani (kelompok petani) yang berfungsi sebagai wadah belajar bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan mempermudah proses transfer teknologi ke petani melalui kelompok tani (Kementan RI, 2013). Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No.82 Tahun 2013, Kelompok tani yang selanjutnya disebut poktan adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan; kesamaan kondisi lingkungan sosial, ekonomi, dan sumberdaya; kesamaan komoditas; dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota (Kementan RI, 2013). Pengembangan dan pendekatan kelompok tani (Poktan) dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan penyuluhan (Kementan RI, 2013). Pengembangan kelompok tani di Kecamatan Seputih Banyak telah dilakukan dari tahun 1975 sampai saat ini. Adapun jumlah kelompok tani di Kecamatan Seputih Banyak dapat dilihat pada Tabel 4.


7 Tabel 4. Jumlah kelompok tani per Desa di Kecamatan Seputih Banyak tahun 2015 No Desa Jumlah Kelompok Tani (Kelompok) Anggota (orang) 1 Sumber Bahagia 18 819 2 Sumber Fajar 14 471 3 Sari Bakti 15 601 4 Sri Basuki 20 829 5 Tanjung Harapan 11 375 6 Siswo Bangun 18 771 7 Setia Bumi 22 901 8 Sumber Baru 16 671 9 Swastika Buana 16 546 10 Setia Bakti 20 710 11 Sakti Buana 16 563 12 Sanggar Buana 23 888 13 Tanjung Krajan 12 366 Jumlah 221 8.511 Sumber : Badan Pusat Statistik Kecamatan Seputih Banyak, 2015 Tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah kelompok tani di Kecamatan Seputih Banyak adalah 221 kelompok yang terbagi dalam 13 kampung. Komoditas yang di tanam kelompok tani di Kecamatan Seputih Banyak adalah padi, jagung, dan ubi kay, sedangkan komoditas yang ditanam di Kelompok tani Desa Siswo Bangun adalah ubi kayu. Dibentuknya kelompok tani dimaksudkan agar lebih mempermudah proses pembinaan petani yang dilakukan oleh pemerintah. Pembinaan usahatani melalui kelompok tani tidak lain adalah sebagai upaya percepatan sasaran. Pembinaan kelompok tani perlu dilakukan secara berkesinambungan dan terkoordinasi dengan baik dari pihak petani dengan pemerintah sebagai pembuat kebijakan pertanian, sehingga aktivitas usahatani menjadi lebih baik. Aktivitas usahatani yang lebih baik akan dapat meningkatkan produktivitas usahatani dan pendapatan petani. Hal ini tidak terlepas dari


8 peranan kelompok tani dalam upaya meningkatkan pembangunan pertanian yang lebih maju. Kelompok tani berperan penting menjadi penggerak utama dan pelaku utama untuk mencapai kemajuan pertanian. Peranan adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada ketentuan dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut (Friedman, 1998) Menurut Kementrian Pertanian Republik Indonesia (2013), kelompok tani berperan sebagai kelas belajar bagi petani, wahana kerja sama serta unit produksi, dan setiap petani yang tergabung di dalamnya dituntut untuk berpikir lebih maju. Melalui kelompok tani ini petani akan diberikan pelatihan-pelatihan guna memperbaiki manajemen budidaya usahatani ubi kayu. Setiap kelompok tani akan dibina oleh satu tenaga penyuluh, dengan demikian secara berkala para petani tersebut akan mendapatkan pelatihan dari mulai proses budidaya, seperti cara budidaya yang baik dan efisien, mengatasi hama dan gulma sampai pada pembukuan usahatani. Selain itu, dengan melalui kelompok tani ini akan mempermudah pemberian bantuanbantuan seperti sarana produksi dari pemerintah untuk petani. Menurut Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia (2013) klasifikasi kelompok tani adalah kelas kemampuan kelompok tani, yang terbagi ke dalam empat kategori yang terdiri dari: Kelas Pemula, Kelas Lanjut, Kelas


9 Madya, Kelas Utama. Kelas kemampuan kelompoktani ditetapkan berdasarkan nilai yang dicapai oleh masing-masing kelompok. Penilaian kemampuan kelompoktani dirumuskan dan disusun dengan pendekatan aspek manajemen dan aspek kepemimpinan yang meliputi: perencanan, pengorganisasian, pelakasanaan, pengendalian dan pengembagan kepemimpinan. Hasil observasi di lapangan, Desa Siswo Bangun merupakan salah satu sentra ubi kayu di Kecamatan Seputih Banyak, sehingga sebagian besar petani berusahatani ubi kayu. Hal ini dikarenakan lahan yang ada di Desa Siswo Bangun merupakan lahan kering. Desa Siswo Bangun memiliki 18 kelompok tani dengan total anggota 771 petani. Dari 18 kelompok tani yang ada 11 kelompok tani berada pada kelas pemula dan 7 kelompok tani berada pada kelas lanjut, artinya kelas kelompok tani yang terdapat di Desa Siswo Bangun rata-rata masih berada di klasifikasi kelas kelompok yang terendah, sehingga kelompok tani di Desa Siswo Bangun belum mampu menjalankan perannya dengan baik. Berdasarkan uraian tersebut maka dilakukan penelitian tentang “Peranan kelompok tani dalam peningkatan pendapatan usahatani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah”.


10 B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1) Bagaimanakah tingkat peranan kelompok tani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah? 2) Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan peranan kelompok tani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah? 3) Bagaimanakah tingkat pendapatan usahatani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah? 4) Apakah terdapat hubungan antara peranan kelompok tani dengan tingkat pendapatan usahatani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan pemasalahan yang ada, penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui tingkat peranan kelompok tani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah. 2) Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan peranan kelompok tani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah?


11 3) Mengetahui tingkat pendapatan usahatani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah? 4) Mengetahui hubungan antara peranan kelompok tani dengan tingkat pendapatan usahatani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah? D. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan berguna sebagai : 1. Pertimbangan bagi penentu kebijakan dalam melakukan program yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan produksi ubi kayu. 2. Bahan informasi dan pedoman bagi penelitian sejenis dimasa yang akan datang.


12 II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Peranan, Peranan Kelompok, dan Faktor-faktor yang berhubungan dengan Peranan Menurut Sajogyo dan Sayogyo (1992), peranan adalah seluruh pola kebudayaan yang berhubungan dengan posisi atau kedudukan tertentu yang mencakup nilai dan perilaku seseorang yang diharapkan oleh masyarakat pada kedudukan tertentu. Menurut Soekanto (2002), peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan (status), apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka orang tersebut menjalankan suatu peranan. Peranan mencakup tiga hal : a) Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan. b) Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.


13 c) Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu-individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat. Berry (1995), peranan sebagai seperangkat harapan- harapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu. Selanjutnya ia juga mengemukakan tentang konsep harapan- harapan (role expectation) yang terangkum dalam dua macam harapan yaitu a) Harapan dari masyarakat terhadap pemegang peran atau kewajiban dari pemegang peran. b) Harapan dari pemegang peran terhadap masyarakat atau terhadap orang- orang yang berhubungan dengannya dalam menjalankan perannya. Roucek dan Warren (1984), mengemukakan bahwa peranan adalah pola tingkah laku yang dilakonkan individu pada saat berinteraksi berdasarkan pada pengalamannya terdahulu dan derajat persetujuannya terhadap apa yang dianggapnya sebagai jangkauan orang lain. Wirutomo dalam Berry (1995) mengemukakan bahwa dalam peranan yang berhubungan dengan pekerjaan, seseorang diharapkan menjalankan tugas dan fungsi yang berhubungan dengan peranan yang dipegangnya. Peranan didefinisikan sebagai seperangkat harapan-harapan yang dikenakan kepada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu. Peranan ditentukan oleh norma-norma dalam masyarakat, maksudnya kita diwajibkan untuk melakukan hal-hal yang diharapkan masyarakat di


14 dalam pekerjaan kita, di dalam keluarga dan di dalam peranan-peranan yang lain. Menurut Friedman (1998) Peranan adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada ketentuan dan harapan peran yang menerangkan apa yang individuindividu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut. Menurut Kementrian Pertanian Republik Indonesia (2013), peranan kelompok tani adalah sebagai berikut: a) Kelas belajar, yaitu kelompok dapat berfungsi menjadi media untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap anggota. b) Unit produksi, yaitu kelompok dapat berfungsi sebagai satu unit produksi untuk dapat mencapai skala ekonomi yang efisien dalam memproduksi hasil usahataninya. c) Wahana kerja sama, yaitu kelompok dapat berfungsi sebagai wahana kerja sama diantara sesama anggota, kerja sama dengan kelompok dan atau pihak lain sehingga produktivitas kelompok dan masingmasing anggota meningkat. Pengembangan kelompok tani diarahkan pada (a) penguatan kelompok tani menjadi kelembagaan petani yang kuat dan mandiri; (b) peningkatan


15 kemampuan anggota dalam pengembangan agribisnis; dan (c) peningkatan kemampuan kelompok tani dalam menjalankan fungsinya. Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999) terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan peranan kelompok tani di antaranya: a) Faktor yang berasal dari dalam kelompok (Internal) terdiri dari: Kepemimpinan, Motivasi, dan Interaksi Sosial. 1) Kepemimpinan merupakan suatu proses mengenai pengarahan dan usaha untuk mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan anggota kelompok. kepemimpinan berperan sebagai orang yang dapat mempengaruhi, mengarahkan, menggerakkan dan mengelola kelompok guna mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Keefektifan kepemimpinan erat kaitannya dengan keberlanjutan kelompok dalam mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan dibutuhkan dalam proses pemberdayaan karena memiliki pengaruh yang kuat terhadap anggotanya guna mencapai tujuan bersama Andrew dan Dubrin (2006) juga mengungkapkan bahwa kepemimpinan diartikan sebagai kekuatan yang dinamis dalam memotivasi dan mengkoordinasi anggota kelompoknya. Untuk itu, dukungan kepemimpinan dalam tercapainya mencapai tujuan sangat dibutuhkan baik oleh kelompok taninya maupun oleh anggota kelompok taninya. Kepemimpinan juga memiliki andil dalam mempengaruhi sukses tidaknya kegiatan pemberdayaan terhadap anggota kelompok tani.


16 2) Menurut Samsudin (2005) Motivasi merupakan dorongan yang timbul pada diri seseorang untuk melakukan sesuatu tindakan dengan tujuan tertentu, bisa dikatakan juga bahwa motivasi merupakan usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu bergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki atau mendapat kepuasan dengan perbuatan. Widayatun (1999) menyatakan ada dua faktor yang mempengaruhi motivasi yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi fisik, proses mental keinginan dalam diri sendiri, kematangan usia sedangkan faktor eksternal meliputi, dukungan sosial, fasilitas dan media. 3) Menurut Soekanto (2002) Interaksi Sosial merupakan suatu fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat. Jika hanya fisik yang saling berhadapan antara satu sama lain, tidak dapat menghasilkan suatu bentuk kelompok sosial yang dapat saling berinteraksi. Syarat terjadinya interaksi sosial terdiri atas kontak sosial dan komunikasi sosial. Kontak sosial tidak hanya dengan bersentuhan fisik. Dengan perkembangan tehnologi manusia dapat berhubungan tanpa bersentuhan, misalnya melalui telepon, telegrap dan lain-lain. Komunikasi dapat diartikan jika seseorang dapat memberi arti pada perilaku orang lain atau perasaan-perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.


17 b) Faktor yang berasal dari luar kelompok (Eksternal) adalah: 1) Peran penyuluh adalah membantu petani membentuk pendapat yang sehat dan membuat keputusan yang baik dengan cara berkomunikasi dan memberikan informasi yang petani butuhkan. Fungsi penyuluhan menurut Setiana (2005) adalah untuk menjembatani kesenjangan antara praktik yang biasa dijalankan oleh para petani dengan pengetahuan dan teknologi yang selalu berkembang menjadi kebutuhan petani. Penyuluh dengan para penyuluhnya merupakan penghubung yang sifatnya dua arah (two way traffic) antara: pengetahuan yang dibutuhkan petani dan pengalaman yang biasa dilakukan oleh petani; pengalaman baru yang terjadi pada pihak para ahli dan kondisi yang nyata dialami petani. Tujuan dari penyuluhan pertanian jangka panjang adalah terjadinya peningkatan taraf hidup masyarakat. Menurut Suhardiyono (1988), seorang penyuluh membantu para petani didalam usaha mereka meningkatkan produksi dan mutu hasil produksinya guna meningkatkan kesejahteraan mereka. Oleh karena itu, penyuluh mempunyai peran, antara lain: 1) Sebagai pembimbing petani Seorang penyuluh adalah pembimbing dan guru petani dalam pendidikan nonformal. Penyuluh harus mampu memberikan praktik demonstrasi tentang suatu cara atau metode budidaya praktik tanaman, membantu petani menempatkan atau


18 menggunakan sarana produksi dan peralatan yang sesuai dalam pengembangan usahataninya. 2) Sebagai organisator dan dinamisator petani Pada pelaksanan kegiatan penyuluhan, para penyuluh tidak mungkin mampu untuk melakukan kunjungan kepada masingmasing petani,sehingga petani harus diajak untuk membentuk kelompok-kelompok tani dan mengembangkanya menjadi suatu lembaga ekonomi dan sosial yang mempunyai peran dalam mengembangkan masyarakat disekitarnya. 3) Sebagai teknisi Seorang penyuluh harus memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis yang baik, tanpa adanya pengetahuan dan keterampilan teknis maka akan sulit baginya dalam memberikan pelayanan jasa konsultasi yang diminta petani. 4) Sebagai fasilitator Seorang penyuluh senantiasa memberikan jalan keluar dan kemudahan-kemudahan, baik dalam proses penyuluhan, belajar mengajar maupun fasilitas dalam memajukan usahatani petani. Dalam hal penyuluhan penyuluh memfasilitasi dalam hal: kemitraan usaha, berakses ke pasar, permodalan. 2. Pengetian Kelompok dan Kelompok Tani Menurut Mardikanto (1998), kelompok adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih orang-orang yang mengadakan interaksi secara


19 intensif dan teratur, sehingga diantara mereka terdapat pembagian tugas, struktur, serta norma-norma tertentu yang khas bagi kesatuan tersebut. Salah satu ciri terpenting kelompok adalah kesatuan sosial yang memiliki kepentingan bersama dan tujuan bersama, serta tujuan tersebut dicapai melalui pola interaksi yang mantap dan masing-masing individu memiliki perannya sendiri-sendiri. Kartono (2006), mengartikan kelompok adalah kumpulan yang terdiri dari 2 (dua) atau lebih individu, dan kehadiran masing-masing individu mempunyai arti serta nilai bagi orang lain, dan ada dalam situasi mempengaruhi. Pada setiap anggota-anggota tadi selalu terdapat aksiaksi dan reaksi-reaksi yang timbal balik. Menurut Mills (1967), kelompok adalah satu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih yang bekerja sama atau melakukan kontak untuk mencapai satu tujuan dan mempertimbangkan kerjasama di antara kelompok sebagai satu yang berarti. Menurut Soekanto (2002), kelompok adalah himpunan atau kesatuan– kesatuan manusia yang bersama, oleh karena adanya hubungan mereka. Hubungan tersebut antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling menolong antar sesama manusia. Menurut Kementrian Pertanian Republik Indonesia (2013), kelompok tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar


20 kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, dan sumberdaya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha petani maupun anggotanya. Ciri-ciri kelompok tani adalah: 1. Kelompok dibentuk oleh, dari, dan untuk petani. 2. Merupakan kumpulan petani yang berperan sebagai pengelola usahatani baik pria/wanita dewasa maupun pria/wanita muda. 3. Bersifat non formal dalam arti tidak berbadan hukum, akan tetapi mempunyai pembagian tugas dan tanggung jawab atas dasar kesepakatan bersama, baik tertulis maupun tidak. 4. Mempunyai kepentingan bersama dalam berusahatani. 5. Sesama anggota saling mengenal, akrab, dan percaya mempercayai. Kementrian Pertanian Republik Indonesia (2013), menerangkan bahwa kelompok tani perlu ditingkatkan kemampuannya sehingga dapat lebih berperan meningkatkan produktivitas dan pendapatan usahatani yang berdampak pada kesejahtraan anggotanya. Peningkatan kemampuan kelompok tani dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan pembinaan, sehingga mampu berperan sebagai pelaku agribisnis yang tangguh. Dibentuknya kelompok tani bermaksud untuk membantu para petani agar mau dan mampu menolong serta mengorganisasikan dirinya dalam mengakses teknologi, permodalan, pasar dan sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi


21 lingkungan hidup. Mekanisme terbentuknya kelompok tani ini adalah melalui interaksi antara para petani dan penyuluh pertanian, yang mendapat dukungan dari tokoh formal maupun informal masyarakat desa setempat. Dalam proses terbentuknya kelompok tani, peranan penyuluh dan kontak tani sangat penting, karena minat untuk bergabung dalam kelompok tani tergantung dari kepemimpinan dan contoh dari kontak tani serta penyuluh tersebut (Deptan,2013) 3. Klasifikasi Kelas Kelompok Tani Menurut Kementrian Pertanian Republik Indonesia (2011) Klasifikasi kemampuan kelompoktani adalah pemeringkatan kemampuan kelompoktani ke dalam 4 (empat) kategori yang terdiri dari kelas pemula, kelas lanjut, kelas madya dan kelas utama yang penilaiannya berdasarkan kemampuan kelompoktani. Penilaian Kelas Kelompok tani merupakan salah satu bentuk pembinaan untuk memotivasi petani agar lebih berprestasi dalam mencapai kelas kemampuan yang lebih tinggi. Disamping itu dengan penilaian akan diketahui kelemahan-kelemahan kelompok tani yang dinilai sehingga memudahkan untuk melakukan pembinaan. Penilaian kemampuan kelompoktani dirumuskan dan disusun dengan pendekatan aspek manajemen dan aspek kepemimpinan yang meliputi: a) Perencanaan b) Pengorganisasian


22 c) Pelaksanaan d) Pengendalian dan pelaporan e) Pengembangan kepemimpinan kelompoktani Ciri-ciri kelas kelompok tani 1) Kelompok pemula a. Kontak tani belum aktif b. taraf pembentukan kelompok tani c. pemimpin formal aktif d. kegunaan kelompok bersifat informatif 2) Kelompk Lanjut a. Kelompok inti menyelenggarakan denfarm dan gerakn-gerakan terbatas b. Kegiatan kelompok dalam perncanaan (walau terbatas) c. Pemimpin formal aktif d. Kontak tani mampu memimpin gerakan kerjasma kelompok tani 3) Kelompok Madya a. Kelompok tani menyelanggarakan kerjasama UT sehamparan b. Pemimpin formal kurang menonjol c. Kontak tani dan kelompok tani bertindak sebagai pemimpin kerja sama UT sehamparan d. Berlatih mengembangkan program sendiri 4) Kelompok Utama a. Memiliki hubungan melembaga dengan KUD


23 b. Perencnanaan program tahunan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan c. Program UT terpadu d. Program diusahakan e. Pemupukan modal 4. Pendapatan Usahatani Ubi Kayu Menurut Soekartawi (1995) Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan yang diperoleh dari usahatani dengan semua biaya yang dikeluarkan oleh usahatani tersebut. Pendapatan usahatani dapat dibagi menjadi dua pengertian,yaitu: Pendapatan atau keuntungan usahatani adalah selisih antara penerimaan dengan semua biaya produksi. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut : π = TR – TC = Y . Py – (X .Px) – BTT Keterangan : π = Keuntungan (pendapatan) TR = Total penerimaan TC = Total biaya Y = Produksi Py = Harga satuan produksi X = Faktor produksi Px = Harga faktor produksi BTT = Biaya tetap total


24 5. Budidaya Tanaman Ubi Kayu Menurut Rahmat (1997), pada dasarnya untuk usahatani dan budidaya ubi kayu melalui kegiatan yaitu : A. Syarat Tumbuh 1. Iklim a) Curah hujan yang sesuai untuk tanaman ketela pohon / singkong antara 1.000 – 2.500 mm / tahun. b) Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela pohon/singkong sekitar 10 derajat C. c) Bila suhunya dibawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna. d) Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon/singkong antara 60 – 65%. e) Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon / singkong sekitar 10 jam /hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya. B. Media Tanam 1. Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon / singkong adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah.


25 2. Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon / singkong adalah jenis alluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol. 3. Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5 – 8,0 dengan pH ideal 5,8. pada umumnya tanah di Indonesia ber pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0 – 5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon. C. Pembibitan Persyaratan bibit, bibit yang baik untuk bertanam ketela pohon harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1. Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan). 2. Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam. 3. Batang telah berkayu dan berdiameter ± 2,5 cm lurus. 4. Belum tumbuh tunas-tunas baru. Penyiapan bibit ketela pohon meliputi hal-hal sebagai berikut : 1. Bibit berupa stek batang 2. Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai setengah 3. Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara 25 30 batang stek.


26 4. Semua ikatan stek yang dibutuhkan, kemudian diangkut kelokasi penanaman. D. Pengolahan Media Tanam Persiapan, kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah : 1. Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan atau cairan pH tester. 2. Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik. 3. Penetapan jadwal / waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanaman lainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman sejenis. 4. Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga saat panen dan pasar. E. Pembukaan dan Pembersihan Lahan Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar tanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan


27 perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada. F. Pembentukan Bedengan Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti permbersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman. G. Pengapuran Untuk menaikan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat asam / tanah gambut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan adalah 1 – 2,5 ton / hektar. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang ( bila diperlukan). H. Penentuan Pola Tanam Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak tanam yang digunakan pada pola monokultur adalah 100 x 150 cm.


28 I. Cara Penanaman Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon, kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja. Sebelum bibit ditanam disarankan agar bibit direndam terlebih dahulu dengan pupuk hayati BIONIC Plus yang telah dicampur dengan air selama 3-4 jam. Setelah itu baru dilakukan penanaman dilahan hal ini sangat bagus untuk pertumbuhan dari bibit J. Pemeliharaan Tanaman 1. Penyulaman Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda yang mati harus diganti atau disulam. Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas. 2. Penyiangan Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/tanaman liar./ pengganggu (gulma) yang hidup disekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 kali penyiangan. 3. Pembubunan Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah disekitar tanaman dan setelah dibuat seperti gundukan. Waktu


29 pembubunan bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan /ditutup dengan tanah agar akan tidak kelihatan. 4. Perempelan / Pemangkasan Pada tanaman ketela pohon perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3, hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi dimusim tanam mendatang. 5. Pemupukan Sistem pemupukan menggunakan teknologi BIONIC Plus , dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia/anorganik sampai dengan 50%, adapun cara pemupukannya adalah sebagai berikut : a) Berikan pupuk kandang/kompos pada lahan yang akan ditanami bibit kebutuhan untuk 1 hektar sebanyak 5 ton atau 5.000 kg dan kemudian semprot dengan menggunakan Decom Plus 2 Liter dan BIONIC Plus 2 Liter. b) Setelah tanam berikan 2 liter BIONIC Plus per hektar pada titik-titik penanaman dengan campuran setiap 1 liter BIONIC Plus dicampur/dilarutkan dengan air max 100 liter atau 1 tutup botol (10 ml) dicampur/dilarutkan dengan air sebanyak 1 liter disemprotkan pada titik penanaman secara merata.


30 c) 1 bulan setelah tanam berikan campuran pupuk NPK dengan dosis Urea : 40 kg, TSP/SP36 : 64 kg dan KCL : 40 kg pada lahan 1 hektar, pemupukan diberikan dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10 cm. d) Pemberian BIONIC Plus selanjutnya pada saat tanaman singkong berumur 1 bulan setelah tanam : 2 liter, umur 2 bulan setelah tanam : 2 liter, umur 4 bulan setelah tanam : 4 liter. e) Pemberian pupuk kimia selanjutnya adalah pada saat umur tanaman 60-90 hari berupa campuran pupuk N:P:K dengan dosis Urea : 60 kg, dan KCL : 60 kg. Pupuk kimia diberikan dengan cara ditugalkan pada jarak 15 cm dari tanaman dengan kedalaman 10 cm. 6. Pengairan dan Penyiraman Kondisi lahan ketela pohon dari awal tanam sampai umur ± 4-5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. System yang baik digunakan adalah system genangan sehingga air dapat sampai kedaerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan system genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.


31 7. Waktu Penyemprotan Pestisida / Insektisida Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama/penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut mati. K. Panen Ketela pohon / singkong dapat dipanen pada saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang. Warna daun mulai menguning dan banyak rontok. Umur panen tanaman ketela pohon telah mencapai 10 – 12 bulan untuk varietas mekarmanik. Ketela pohon/singkong dipanen dengan cara mencabut batangnya dan umbi yang tertinggal diambil dengan cangkul atau garpu tanah. B. Penelitian Terdahulu Kajian penelitian terdahulu dibutuhkan sebagai bahan refrensi atau rujukan mengenai penelitian yang serupa dan atau dijadikan pembanding untuk mendapatkan hasil yang mengacu pada keadaan yang sebenarnya. Penelitian ini tidak hanya menganalisis pernanan kelompok tani juga menganalisis tingkat pendapatan usahatani yang dilakukan oleh petani baik yang tergabung dalam kelompok tani maupun tidak. Berikut kajian penelitian-penelitian terdahulu disajikan pada Tabel 5.


Tabel 5. Ringkasan Penelitian Terdahulu Nama Peneliti Judul MeMatanari, Salmiah, dan Emalisa (2014) Peranan Kelompok Tani Terhadap Peningkatan Produksi Padi Sawah (Oriza Sativa) Di Desa Hutagugung Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi Metode deskriptMutmainah, dan Sumardjo (2014) Peran Kepemimpinan Kelompok Tani Dan Efektivitas Pemberdayaan Petani Metode pendekakuantitadengan tobservas


32 etode Kesimpulan tif 1. Kelompok tani memiliki peranan yang besar terhadap peningkatan produksi padi sawah di daerah penelitian yaitu desa Hutagugung, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi dilihat dari 5 indikator yakni cara bercocok tanam, cara mengelola kebutuhan air atau irigasi, waktu tanam, pengendalian hama dan penyakit, penentuan bibit unggul yang akan dipakai. 2. Motivasi petani dalam mengikuti kegiatan kelompok tani di Desa Hutagugung Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi adalah tinggi. 3. Penerimaan bantuan sarana produksi yang disalurkan oleh kelompok tani di Desa Hutagugung efektif. atan atif teknik si 1. Semakin tinggi dukungan kepemimpinan terhadap kelompok maka semakin tinggi pendampingan dan tingkat partisipasi petani dalam mengikuti proses pemberdayaan. 2. Tingkat keberdayaan petani dalam penelitian ini diukur dengan melihat kemampuan petani dalam mendapatkan modal dan kemampuan mengelola usaha tani dengan baik dengan meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.


Click to View FlipBook Version